Anda di halaman 1dari 24

OPTIMALISASI PRODUKSI PEMBORAN DAN PELEDAKAN PADA PEMBUATAN TEROWONGAN TAMBANG BAWAH TANAH DI PT. FREEPORT INDONESIA COMPANY

PROPOSAL TUGAS AKHIR

TANAH DI PT. FREEPORT INDONESIA COMPANY PROPOSAL TUGAS AKHIR Oleh : MICHAEL BAWAN 11.2010.1.00253 JURUSAN TEKNIK

Oleh :

MICHAEL BAWAN

11.2010.1.00253

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL DAN KELAUTAN INSTITUT TEKNOLOGI ADHITAMA SURABAYA

2014

OPTIMALISASI PRODUKSI PEMBORAN DAN PELEDAKAN PADA PEMBUATAN TEROWONGAN TAMBANG BAWAH TANAH DI PT. FREEPORT INDONESIA COMPANY

PROPOSAL TUGAS AKHIR Disusun sebagai salah satu syarat dalam melaksanakan Skripsi pada jurusan Teknik Pertambangan

Oleh :

MICHAEL BAWAN

11.2010.1.00253

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI MINERAL DAN KELAUTAN INSTITUT TEKNOLOGI ADHITAMA SURABAYA

2014

OPTIMALISASI PRODUKSI PEMBORAN DAN PELEDAKAN PADA PEMBUATAN TEROWONGAN TAMBANG BAWAH TANAH DI PT. FREEPORT INDONESIA COMPANY

PROPOSAL SKRIPSI Disusun sebagai salah satu syarat dalam melaksanakan Skripsi pada jurusan Teknik Pertambangan

Ketua Jurusan

( Ir. Harry Boediotomo ) Nip. 112080

Oleh :

MICHAEL BAWAN

11.2010.1.00253

Menyetujui :

Koordinator Skripsi

( Ir. I. Putu Somayasa) Nip. 112079

BAB I PENDAHULUAN

A. JUDUL SKRIPSI

OPTIMALISASI PRODUKSI PEMBORAN DAN PELEDAKAN PADA PEMBUATAN TEROWONGAN TAMBANG BAWAH TANAH DI PT. FREEPORT INDONESIA COMPANY.

B. ALASAN PEMILIHAN JUDUL

Cadangan Tembaga dan Emas milik PT. Freeport Indonesia di tambang dengan sistem tambang terbuka (Open Pit) dan tambang dalam (underground). Kegiatan utama pada penambangan dalam adalah pengembangan terowongan melalui endapan mineral bijih (undercutting) kemudian melakukan pengambilan endapan bijih dengan menggunakan metode Block Caving. Metode yang digunakan oleh PT. Freeport Indonesia untuk arah kemajuan dari terowongan adalah dengan cara menggunakan metode Heading yang merupakan cara penggalian yang didahului dengan pembongkaran awal berpenampang oval kecil yang kemudian dilakukan pembongkaran lanjutan Kearah sampingnya. Metode penggalian Heading tergantung pada : Mesin bor yang tersedia, Rock Behavior, dan Diameter penampang Tunnel. Dalam proposal ini dilakukan beberapa kajian teknis Geometri Pengeboran dan peledakan yang digunakan pada metode penggalian Heading guna mengoptimalkan kinerja dan prokduktifitas yang sudah diterapkan oleh PT. Freeport Indonesia. Sebenarnya optimalisasi produksi dari suatu peledakan tidak saja ditinjau dari aspek teknis saja, tetapi harus pula mempertimbangkan aspek ekonominya. Adapun sasaran akhir dari optimalisasi dari operasi peledakan dalam hal ini pembutan terowongan adalah untuk mendapatkan bentuk dari terowongan yang sesuai dengan yang diharapkan dan mendapatkan biaya produksi pada tingkat yang wajar untuk meraih target yang diinginkan perusahaan.

C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dilakukannya penelitian ini dimaksudkan untuk melakukan kajian secara teknis dan ekonomis terhadap rancangan geometri pemboran dan peledakan pada Metode Heading agar hasil peledakan dapat sesuai dengan apa yang diharapkan. Agar hasil peledakan pada dinding arah kemajuan terowongan dapat membentuk terowongan yang sesuai dengan apa yang diharapkan, serta meminimalisasi overbreak dan juga diharapkan mendapatkan biaya produksi pada tingkat yang wajar.

D. RUMUSAN MASALAH

Permasalahan yang ingin diteliti disini yakni sejauh mana keefektifan pola tersebut terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada area kerja beserta koreksi yang perlu dilakukan. Demikian juga dengan perubahan pemakaian tipe mesin bor yang berbeda. Dari sini diharapkan dapat dihasilkan rancangan pola pemboran dan peledakan yang paling ideal untuk meningkatkan kelancaran produksi. Sehingga hasil dari Pemboran dan peledakan untuk kemajuan terowongan dapat digunakan untuk kelancaran operasional penambangan bijih maupun alat angkut dan muat yang digunakan. Serta mengetahui Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan biaya pemboran dan peledakan untuk pembutan terowongan pada metode penggalian Heading, Sehingga efisien dan mendapatkan biaya produksi pada tingkat yang wajar.

BAB II ANALISIS MASALAH

A. DASAR TEORI

I. FAKTOR TEKNIS

Pada dasarnya pola pengeboran yang digunakan pada tambang bawah tanah ada beberapa macam sesuai dengan karakteristik dari pada batuan dan adanya joint dan bidang lemah, selain itu kemampuan pada operator, peralatan, ukuran peralatan, dan panjang lubang bukaan juga turut mempengaruhi, yang kesemuanya itu dibagi menjadi 4 type utama yaitu :

1) Centre Cut, disebut juga PIRAMID atau DIAMOND CUT. Dimana semua lubang bor ditemukan pada satu titik dengan kedalaman satu titik dari round (permukaan kerja) .

2)

kedalaman satu titik dari round (permukaan kerja) . 2) Depan Samping Widge Cut, kadang disamakan dengan

Depan

kedalaman satu titik dari round (permukaan kerja) . 2) Depan Samping Widge Cut, kadang disamakan dengan

Samping

Widge Cut, kadang disamakan dengan VEE CUT. Dimana semua lubang bor dengan ujung -ujungnya bertemu, tetapi tidak pada titik.

bor dengan ujung -ujungnya bertemu, tetapi tidak pada titik. Depan Samping 3) Draw Cut, hampir sa

Depan

ujung -ujungnya bertemu, tetapi tidak pada titik. Depan Samping 3) Draw Cut, hampir sa ma dengan

Samping

4)

4) Depan Samping Burn Cut, pada tipe ini sesuai untuk batuan keras brittle seperti batu pasir

Depan

4) Depan Samping Burn Cut, pada tipe ini sesuai untuk batuan keras brittle seperti batu pasir

Samping

Burn Cut, pada tipe ini sesuai untuk batuan keras brittle seperti batu pasir atau batu beku tetapi tidak efektif pada batuan yang bersifat pecah.

Depan Samping
Depan
Samping

Metode Heading adalah penggalian Tunnel/ Adit yang selalu diawali atau didahului dengan pembongkaran awal berpenampang oval kecil. Dimana pada metode ini digunakan khusus untuk menggali Tunnel yang berdiameter besar. Pada metode Heading dibagi dalam 4 (empat) macam metode yaitu :

1) Pilot Heading, dimana peledakan awal dilakukan pada terowongan yang sudah ada dengan cara membuat 2 (dua) buah lubang awal pada bagian atas terowongan.

2 (dua) buah lubang awal pada bagian atas terowongan. Depan Samping 2) Top Heading, dimana peledakan

Depan

2 (dua) buah lubang awal pada bagian atas terowongan. Depan Samping 2) Top Heading, dimana peledakan
2 (dua) buah lubang awal pada bagian atas terowongan. Depan Samping 2) Top Heading, dimana peledakan

Samping

3)

4)

3) 4) Depan Samping Central Heading, dimana peledakan awal dilakukan pada terowongan yang sudah ada dengan

Depan

3) 4) Depan Samping Central Heading, dimana peledakan awal dilakukan pada terowongan yang sudah ada dengan
3) 4) Depan Samping Central Heading, dimana peledakan awal dilakukan pada terowongan yang sudah ada dengan

Samping

Central Heading, dimana peledakan awal dilakukan pada terowongan yang sudah ada dengan cara membuat lubang awal pada bagian tengah terowongan.

cara membuat lubang awal pada bagian tengah terowongan. Depan Samping Bottom Heading, dimana peledakan awal

Depan

membuat lubang awal pada bagian tengah terowongan. Depan Samping Bottom Heading, dimana peledakan awal dilakukan

Samping

Bottom Heading, dimana peledakan awal dilakukan pada terowongan yang sudah ada dengan cara membuat lubang awal pada bagian bawah terowongan.

cara membuat lubang awal pada bagian bawah terowongan. Depan Samping Metode penggalian dan pengeboran pada metode

Depan

cara membuat lubang awal pada bagian bawah terowongan. Depan Samping Metode penggalian dan pengeboran pada metode
cara membuat lubang awal pada bagian bawah terowongan. Depan Samping Metode penggalian dan pengeboran pada metode
cara membuat lubang awal pada bagian bawah terowongan. Depan Samping Metode penggalian dan pengeboran pada metode
cara membuat lubang awal pada bagian bawah terowongan. Depan Samping Metode penggalian dan pengeboran pada metode
cara membuat lubang awal pada bagian bawah terowongan. Depan Samping Metode penggalian dan pengeboran pada metode

Samping

Metode penggalian dan pengeboran pada metode Heading tergantung pada :

a. Mesin Bor yang tersedia yang digunakan sesuai dengan masa batuan pada daerah yang akan dibuat terowongan tersebut.

b. Rock Behavior atau karakteristik batuan tersebut.

c. Diameter penampang terowongan, tergantung seberapa besar luas terowongan yang akan dubuat.

Berdasarkan Teori Langefors yang diutarakan dalam “The Modern Technique Of Rock Blasting”, perhitungan Geometri pemboran adalah sebagai berikut :

1. Konstanta Batuan (Rock Constant)

Adalah Jumlah bahan peledak yang dibutuhkan untuk membongkar 1 m 3 batuan yang dinyatakan dengan kg/m 3 . Nilainya diperoleh dari pengukuran empiris dari peledakan jenjang. Menurut penelitian besarnya adalah 0,3 kg/m 3 untuk “Sandstone” dan o,4 kg/m 3 untuk batuan Granit.

2. Perhitungan Burden dan Jumlah muatan

Jumlah muatan dalam lubang ledak ditentukan oleh berbagai faktor seperti :

Volume batuan yang akan dibongkar

kedalaman lubang tembak

Kemiringan/arah lubang tembak

Diameter lubang tembak

Volume batuan

yang terbongkar dapat dihitung dengan melihat bentuk

geometris keseluruhan dari “Metode Cut”yang digunakan, dimana :

Volume setara

=

“Metode Cut”yang digunakan, dimana : Volume setara = (m 3 /m) Sedangkan parameter lainnya ditentukan oleh

(m 3 /m)

Sedangkan parameter lainnya ditentukan oleh bentuk lubang bukaan dan jarak antar “drill drift” yang ada pada saat ini. Besarnya maksimum Burden 1 dapat dihitung dengan formula :

 

D

B 1 max

= 

33

Keterangan :

P .S  c. f. (S/B)’
P .S

c. f. (S/B)’

B 1 max

: Burden 1 maximum (m)

D

: Diameter Lubang tembak (mm)

S

: “Weight strength” ANFO terhadap LFB dynamite

C

: Konstanta Batuan

C

: Konstanta Batuan terkoreksi

C

= c + 0,05 ; Untuk batuan dengan Burden maks 1,4 15 m

C

= c + 0,07 untuk burden maks <1,4

F

: Faktor Fiksasi (Degree of Fixation)

S/B

: Rasio Spasi Burden

P

: Kerapatan ANFO dalam lubang bor (Packing degree), gr/cm 3

(Berat ANFO / Volume Lubang bor)

Setelah nilai B 1 max diketahui, dihitung nilai Burden maximum terkoreksi terhadap konstanta lubang tembak (BC 1 max) dengan memperhitungkan kemiringan lubang tembak (R1) dan konsatanta koreksi batuan (R2) Dimana, BC 1 max = B1 max x R1 x R2

Kemudian setelah nilai ini diperoleh, maka dapat diketahui Nilai burden praktis

(B1)

 

B1

= BC 1 max E, (m)

Dimana :

E adalah kesalahan pemboran yang dapat dihitung dengan,

o E

= d/1000 + (0,03 x H), m

0,03 x H adalah kesalahan pemboran (Allignment error) , dimana H adalah kedalaman lubang bor.

D adalah kesalahan colarring (Colarring error)

3. Powder Factor

“Powder Factor adalah perbandingan jumlah bahan peledak yang dipakai dengan Jumlah batuan yang terbongkar. Biasanya dinyatakan dengan kg bahan peledak per ton batuan.

PF

Dimana :

= W ANFO / W BATUAN ,kg/ton

W ANFO = Hb x Q

Hb

= H Ho

Atau :

W ANFO

= (H Ho) x Q

W BATUAN = Volume Batuan x bobot isi

Keteranagan :

H

: Kedalaman lubang tembak

Q

: Kemampatan ANFO

Hb

: Panjang Kolom bermuatan

Ho

: Panjang Kolom tak bermuatan

Yang besarnya untuk lubang tembak I adalah = 0,3 B1 dan faktor fiksasi untuk lubang berikutnya disesuaikan dengan arah kemiringan lubang bor.

4. Blasting Ratio

“Blasting Ratio” adalah perbandingan berat batuan yang terbongkar dengan berat bahan peledak yang digunakan. Angka ini Bisa dipakai sebagai salah satu parameter untuk menentukan tingkat keekonomisan pemakaian suatu bahan peledak. Blasting Ratio = W BATUAN / W PELEDAK

Menurut GOUR S.SEN, 1995 dalam buku “Blasting Technology For Civil and mining “ perhitungan burden dan spasi peledakan Pada metode Cut Drilling dapat dibuat dengan persamaan :

B =

Pada metode Cut Drilling dapat dibuat dengan persamaan : B = ( Lch / Hb )

(Lch / Hb)x(Qc / q) /1,3

Dimana :

Lch = Hb 0,02 D

Qc

= (ρ x D 2 ) / 1273

Keteranagan :

B

: burden (m)

Lch

: panjang isian bahan peledak (m)

Hb

: panjang rata-rata lubang ledak (m)

D

: diameter isian (mm)

Qc

: densitas bahan peledak pada lubang ledak (kg/m)

q

: powder factor batuan (kg/m 3 )

q

:1,1 untuk kuat tekan uniaksial >250 Mpa ; dan 0,6 untuk kuat tekan uniaksial 100 200 Mpa.

D

: diameter peledak atau diameter lubang ledak (m)

: densitas bahan peledak (gr/cm 3 )

Jarak spasi (m) dihitung berdasarkan nisbah S/B yaitu :

S x B

dimana S = 1,3 B.

= 1,3 B 2

II. FAKTOR EKONOMI

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan biaya pemboran dan peledakan pada pembuatan terowongan adalah :

1. Kondisi Batuan.

Kondisi dari batuan akan mempengaruhi terhadap biaya pemboran dan peledakan, adapun beberapa kondisi yang mempengaruhi antara lain :

a. Kekerasan dan Abrasiveness Biaya terhadap komponen pemboran tinggi pada batuan yang sangat keras dan abrasive. Dan biaya peledakan besar pada batuan yang keras karena perlu bahan peledak dengan strength tinggi

b. Struktur Geologi Dapat mengakibatkan in-aligament pada daerah kontak perlapisan batuan. Pemborosan bahan peledak mungkin terjadi karena pengisian celah retakan, rekahan atau rongga di dalam batuan.

c. Kandungan Mineral dan Tekstur Mineral-mineral berat bertekstur halus, Bj dan kuat tekan tinggi memboroskan bit.

d. Breaking Charac Mempengaruhi distribusi fragmentasi hasil peledakan.

2. Biaya Pemboran

Parameter-parameter yang diperlukan antara lain :

a. Kapasitas Pemboran. Kapasitas jangka pendek adalah kapasitas per daur (cycle) pemboran, biasanya dinyatakan dalam meter/ jam. Kapasitas jangka panjang adalah kapasitas per shift pemboran, biasanya dinyatakan dalam drillmeter / shift (drm / shift), m 3 / shift atau ton / shift.

b. Investasi Alat Bor Meliputi : - Pembelian alat bor

- Periode depresiasi

- Bunga dari modal

Penentuan bunga dan periode depresiasi tergantung pada kebijaksanaan perusahaan yang biasanya dipengaruhi oleh tingkat suku bunga di bank Faktor anuitas (A) adalah faktor yang digunakan untuk menghitung anuitas sepanjang layanan alat.

A =

Keterangan :

i

( 1 ( 1 + i ) -n )

A

: Faktor anuitas

i

: Laju suku bunga, %

n

: Periode depresiasi, tahun

c. Biaya Perawatan Biaya perawatan meliputi : - suku cadang - material untuk service

- upah mekanik

biaya perawatan tersebut tergantung pada :

- jenis batuan

- prosedur service

- keterampilan mekanik

- produksi lubang

d. Biaya Komponen Bor faktor-faktor yang berpengaruh adalah :

Jumlah batuan yang dibongkar Sifat abrasi batuan Rock drillability Sirkulasi dari komponen bor Specific drilling
Jumlah batuan yang dibongkar
Sifat abrasi batuan
Rock drillability
Sirkulasi dari komponen bor
Specific drilling
Umur layanan komponen bor
Jumlah meter pemboran
Konsumsi komponen bor

Menghitung konsumsi komponen bor

Persamaan :

Keperluan bit

:

Nb =

Keperluan bit : Nb =

Keperluan batang bor : Nr =

Keperluan batang bor : Nr =

Keperluan kopling

:

Nc =

Keperluan kopling : Nc =

Keperluan shank adpt : Ns =

Keperluan shank adpt : Ns =

keterangan :

Y

A

A

A

A

1

b

r

c

s

: Hasil batuan per meter pemboran, m 3 / drm

: Umur layanan bit, drm

: Umur layanan batang bor, drm

: Umur layanan kopling, drm

: Umur layanan shank adaptor, drm

e. Biaya Bahan Bakar

Faktor-faktor yang mempengaruhi perhitungan biaya untuk bahan bakar alat bor adalah : - efisiensi kerja alat bor

- keadaan tempat kerja

- jenis batuan

- komponen bor yang dipakai

f. Biaya Tenaga Kerja

Biaya Pemboran Total = Investasi + Perawatan + Komponen Bor + Bahan bakar + Tenaga kerja

3. Biaya Peledakan Meliputi biaya-biaya :

- Bahan peledak

- Sistem penembakan

- Alat pengisian

- Tenaga kerja

ESTIMASI BIAYA-BIAYA ALAT BOR

Meliputi :

BIAYA PEMILIKAN

1. Depresiasi

a. Harga pembelian

b. Salvage value

c. Biaya angkutan

d. Biaya bongkar muat

e. Harga sampai dilokasi : (a + b + c + d)

f. Periode operasi, jam / tahun

g.Umur ekonomis, jam

Depresiasi =

operasi, jam / tahun g.Umur ekonomis, jam Depresiasi = 2. Bunga, Pajak, Asuransi dan Sewa Gudang
operasi, jam / tahun g.Umur ekonomis, jam Depresiasi = 2. Bunga, Pajak, Asuransi dan Sewa Gudang

2. Bunga, Pajak, Asuransi dan Sewa Gudang

Pembayaran tetap, %

Laju investasi tahunan rata-rata = (n +1) / 2n

Investasi tahunan rata-rata Pembayaran tahunan tetap

= bunga + pajak + lain-lain

= Harga sampai lokasi x Laju investasi = pembayaran tetap x investasi tahunan rata-rata

Pembayaran tetap per jam =

x investasi tahunan rata-rata Pembayaran tetap per jam = Total Biaya Pemilikan = Depresiasi + Pembayaran

Total Biaya Pemilikan

=

Depresiasi + Pembayaran tetap per jam

BIAYA OPERASI

1. Bahan Habis Pakai

a. Alat bor, US$ / round

b. Mata bor, US$ / round

c. Komponen bor, US$ / round

d. Total biaya habis pakai, US$ / round

Biaya material habis pakai, US$ / jam

pakai, US$ / round Biaya material habis pakai, US$ / jam = 2. Perawatan dan servis

=

pakai, US$ / round Biaya material habis pakai, US$ / jam = 2. Perawatan dan servis

2. Perawatan dan servis

Biaya perawatan dan servis, US$ / jam

3. Biaya Bahan Bakar

a. Tramming, US$ / jam

b. Pemboran, US$ / jam

Biaya pemboran / jam = Pemboran x waktu pemboran

Biaya Bahan Bakar

= Tramming + Biaya pemboran

4. Biaya Tenaga Kerja

Total Biaya Operasi = Biaya material habis pakai + Perawatan dan servis + Bahan Bakar + Tenaga Kerja

TOTAL

UNIT BIAYA, US$ / METER

BIAYA, US$ / JAM

BIAYA PEMILIKAN + BIAYA OPERASI = TOTAL BIAYA / BERAT BATUAN

=

B. DATA PENDUKUNG

Yang dimaksud dengan data pendukung adalah data-data yang dapat mendukung data-data dari lapangan guna menganalisa permasalahan yang ada untuk mencari alternatif penyelesaian masalah. Data pendukung dapat diambil antara lain dari data hasil pengamatan di lapangan, laporan penelitian terdahulu dari perusahaan, brosur--brosur dari perusahaan, data dari instansi yang terkait dan dari literatur-literatur.

C. ANALISIS PENYELESAIAN MASALAH

Permasalahan yang ada di lapangan selanjutnya dipelajari dan dikaji berdasarkan data yang ada, baik data yang dikumpulkan dari hasil penyelidikan maupun data penunjang dan didukung berbagai teori yang menunjang permasalahan tersebut, selanjutnya dicarikan alternatif penyelesaiannnya. Adapun rincian dari kajian teknis terhadap metode Heading yang digunakan untuk kemajuan arah terowongan adalah sebagai berikut :

1. Tahap Persiapan

Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data-data geometri pengeboran dan peledakan yang ada dan yang dipakai pada saat ini dan dasar-dasar teknis penyusunan perancangan yang digunakan, serta target produksi perusahaan untuk kemajuan terowongan, jumlah, harga dan spesifikasi dari alat-alat yang digunakan

untuk pemboran dan peledakan.

2. Tahap Penyelidikan pendahuluan Pengumpulan data-data geologis area kerja yang mempengaruhi dalam perancangan seperti struktur batuan, kekuatan batuan (rock strength), berat jenis dan parameter lainnya.

3. Tahap Penyelidikan Terinci Tahap penyelidikan terinci dimaksudkan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan untuk penyelesaian masalah, adapun data-data yang akan diambil yaitu :

i. Waktu total daur pemboran dari suatu alat bor, baik waktu untuk bergerak kelubang berikutnya, mengatur boom dan feed, membor batang bor, menambah batang bor, melepas batang bor, maupun memasangpenutup (dummy plug) , sehingga didapatkan kapasitas pemboran.

ii. pengukuran terhadap geometri pemboran dan peledakan, berat primer per lubang, berat muatan column.

iii. Efisiensi kerja dari alat dan tenaga kerja.

iv. pengukuran terhadap hasil peledakan yaitu kemajuan terowongan dan ada

tidaknya over break Pengamatan dilapangan untuk mengetahui pelaksanaan pemboran dan peledakan, data dan jumlah bahan peledak yang dipakai setiap peledakan serta masalah- masalah yang dihadapi.

Setelah melalui tahap ini maka dilanjutkan dengan :

a. Analisis terhadap rancangan pola pemboran yang ada saat ini Disini dilakukan perhitungan teoritis hasil yang akan dicapai serta pemaparan masalah yang akan terjadi dengan pola yang digunakan.

b. Perencanaan perubahan terhadap pola pemboran yang perlu dilakukan Penentuan rancangan yang paling sesuai serta perbandingannya terhadap rancangan semula dikaitkan dengan keefektifan pemboran dan hasil peledakan.

c. Perencanaan peledakan terhadap bentuk terowongan yang akan dibuat serta panjang terowongan yang akan dibuat dengan metode Heading. Membandingkan hasil peledakan terowongan dan panjang terowongan dengan metode Heading dilapangan dengan rancangan terowongan yang telah dibuat.

BAB III PENELITIAN DI LAPANGAN

A. METODOLOGI PENELITIAN Didalam melaksanakan penelitian permasalahan ini, penulis menggabungkan antara teori dengan data-data lapangan,sehingga dari keduanya didapat pendekatan penyelesaian masalah. Adapun urutan pekerjaan penelitian yaitu :

1. Study literatur, brosur-brosur, laporan penelitian terdahulu dari perusahaan.

2. Pengamatan langsung di lapangan, dilakukan dengan cara peninjauan lapangan untuk melakukan pengamatan langsung terhadap semua kegiatan di daerah yang akan diteliti

3. Pengambilan Data, dengan pengukuran langsung di lapangan maupun penelitian di laboratorium.

4. Akuisisi Data

a. Pengelompokan data

b. Jumlah data

c. Uji realitas

5. Pengolahan data

6. Analisis hasil Pengolahan data

7. Kesimpulan

B. RENCANA JADWAL PENELITIAN

I II III IV V VI VII VIII IX X XI XII 1. STUDI LITERATUR
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
1. STUDI LITERATUR
2. PENGAMATAN
3. PENGAMBILAN DATA
4. PENGOLAHAN DAN
ANALISIS DATA
5. PEMBUATAN
LAPORAN

C. RENCANA DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN

BAB I.

PENDAHULUAN

BAB II.

TINJAUAN UMUM

2.1. Lokasi dan Kesampaian Daerah

2.2. Keadaan Topografi dan Geologi

2.3. Peralatan yang digunakan

2.4. Sistem Penambangan

BAB III.

DASAR TEORI

3.1 Peledakan pada tambang bawah tanah

3.2 Rancangan Metode heading untuk kemajuan terowongan.

3.3 Sifat-sifat batuan yang mempengaruhi peledakan

3.3.

1

Kekuatan Batuan

3.3.

2

Densitas, Porositas dan derajat kejenuhan

3.3.

3

Struktur geologi

3.4 Sistem klasifikasi batuan

3.4.

1

RQD

3.4.

2

Klasifikasi Geomekanik

3.5 Karakteristik bahan peledak untuk rancangan peledakan

3.5.

1

Bobot isi

3.5.

2

Kecepatan detonasi

3.5.

3

Kepekaan

3.5.

4

Ketahanan terhadap air

3.5.

5

Sifat gas beracun

3.6 Mekanisme Pecahnya Batuan

3.7

Geometri pemboran dan peledakan

3.8 Perilaku Gelombang Ledakan

3.9 Estimasi Biaya Pemboran dan Peledakan

BAB IV.

METODE PENELITIHAN 4.1 ………… 4.2 ………… 4.3 …………

BAB V.

HASIL PENELITIHAN 5.1 …………… 5.2 …………… 5.3 ……………

BAB VI.

PEMBAHASAN

6.1 Pemboran

6.2 Peledakan

6.3 Bentuk akhir terowongan hasil peledakan untuk metode Heading

6.4 Penilaian secara teknik terhadap hasil peledakan

6.5 Penilaian secara ekonomi terhadap hasil peledakan

BAB VII. KESIMPULAN DAN SARAN

DAFTAR PUSTAKA

D.

RENCANA DAFTAR PUSTAKA

 

1.

Hemphill b., Gary, “Blasting Operation”, First Edition, Mc. Graw Hill Inc.,New York

2.

Langefors U., and Kihlstrom, B., “The Modern Technique of Rock Blasting”,

Second Edition, A Heelsted Press Book John Willey & Sons,

New York,1973

3.

Moelhim Karthodharmo, Irwandy Arif, Suseno Kramadibrata., “Teknik Peledakan”, Diktat Kuliah Jilid I, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, Institut Teknologi Bandung, 1984

4.

Made Astawa Rai, “Terowongan”, Laboratorium Geoteknik Pusat Antara Universitas Ilmu Rekayasa, Institut Teknologi Bandung, 1987/1988.

5.

Samhudi,

Teknik

Peledakan

“,

Departemen

Pertambangan

dan

Energi,

Direktorat

Jenderal

Pertambangan

Umum,

Pusat

Pengembangan

Tenaga

Pertambangan, 1994.

 

6.

Yanto Indonesianto, M.Sc, “Persiapan Pembukaan Tambang Bawah Tanah”, Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknologi Mineral, UPN “Veteran” Yogyakarta, 1999.

8.

Ir. Edy Purwanto ME. (2002), Diktat Perencanaan Tambang Terbuka, Pusat Pendidikan dan Pelatihan Teknologi Mineral dan Batubara, Ba