Anda di halaman 1dari 16

TUGAS PENGOLAHAN BAHAN GALIAN

NAMA : JEFRI L. KASI


STB : 01031086


F FA AK KU UL LT TA AS S T TE EK KN NI IK K J JU UR RU US SA AN N T TE EK KN NI IK K P PE ER RT TA AM MB BA AN NG GA AN N U UN NI IV VE ER RS SI IT TA AS S
V VE ET TE ER RA AN N R RE EP PU UB BL LI IK K I IN ND DO ON NE ES SI IA A
M MA AK KA AS SS SA AR R
2 20 01 14 4



Flotasi

Pengertian Flotasi
Flotation (flotasi) berasal dari kata float yang berarti mengapung atau mengambang. Flotalasi
dapat diartikan sebagai suatu pemisahan suatu zat dari zat lainnya pada suatu cairan/larutan
berdasarkan perbedaan sifat permukaan dari zat yang akan dipisahkan, dimana zat yang
bersifat hidrofilik tetap berada fasa air sedangkan zat yang bersifat hidrofobik akan terikat
pada gelembung udara dan akan terbawa ke permukaan larutan dan membentuk buih yang
kemudian dapat dipisahkan dari cairan tersebut. Secara umum flotation melibatkan 3 fase
yaitu cair (sebagai media), padat (partikel yang terkandung dalam cairan) dan gas (gelembung
udara).

Flotasi merupakan suatu cara konsentrasi kimia fisika untuk memisahkan mineral berharga
dari yang tidak berharga, dengan mendasarkan atas sifat permukaan mineral yaitu senang
tidaknya terhadap udara.
Flotasi dilakukan dalam media air sehingga terdapat tiga fase, yaitu :
1. Fase padat
2. Fase cair
3. Fase udara
Flotability adalah sifat kimia darimineral yaitu kekuatan mengapung mineral yang tergantung
pada senang tidaknya terhadap udara. Terdapat dua macam jenis mineral, yaitu :
1. Polar, senang pada air (hydrofillic/aerophobic)
2. Non polar, senang pada udara (hydrophobic/aerofillic)
Dengan mendasarkan sifat mineral tersebut maka mineral yang satu dengan lainnya dapat
dipisahkan dengan gelembung udara.

Persyaratan yang harus dipenuhi dalam flotasi adalah :
1. Diameter partikel harus disesuaikan dengan butiran mineral
2. Persen solid yang baik 25% - 45% (pryor), 15% - 30% (gaudin)
3. Sudut kontak yang baik sekitar 60o 90o, berarti usaha adhesinya besar sehingga udara
dapat menempel pada permukaan mineral yang mengakibatkan mineral dapat mengapung.
Sudut kontak merupakan sudut yan dibentuk antara gelembung udara dengan mineral pada
suatu titik singgung. Sudut kontak mempengaruhi daya kontak antara bijih dengan gelembung
udara. Untuk melepaskan gelembung dan mineral dibutuhkan usaha adhesi (Wum).
4. pH Kritis
pH kritis merupakan pH larutan yang mempengaruhi konsentrasi kolektor yang digunakan
dalam pengapungan mineral. Pada gambar dibawah menunjukkan hubungan antara
konsentrasi sodium diethyl dithiophosphate dan pH kritis. Mineral yang digunakan adalah
pyrite, galena dan chalcophyrite. Konsentrasi kolektor tersebut dapat mengapungkan
chalcophyrite dari galena pada pH 7 9, galena dari pyrite pada pH 4 6 dan chalcophyrite
dari pyrite pada pH 4 9.
Faktor- faktor yang mempengaruhi flotation adalah ukuran partikel, pH larutan , surfaktan,
dan bahan kimia yang lain, misalnya koagulan. Ukuran partikel yang besar membuat partikel
tersebut cenderung untuk mengendap sehingga susah untuk terflotasi. Sedangkan pH yang
tinggi partkel cenderung mengendap. Fungsi surfaktan adalah kolektor yang merupakan
reagen yang memiliki gugus polar dan gugus non polar sekaligus. Kolektor akan mengubah
sifat partikel dari hidrofil menjadi hidrofob. Sedangkan penambahan koagulan dapat
mengakibatkan ukuran partikel-partikel menjadi lebih besar. Factor lain yang mempengaruhi
flotasi adalah laju udara yang berfungsi sebagai pengikat partikel yang memiliki sifat
permukaan hidrofobik, persen padatan, untuk flotasi pada partikel kasar dapat dilakukan
dengan persen padatan yang besar demikian sebaliknya, besar laju pengumpanan yang
berpengaruh terhadap kapasitas dan waktu tinggal. Laju udara pembilasan yang berfungsi
untuk mengalirkan konsentrrat ke dalam lounder. Ketebalan lapisan buih dan ukuran
gelembung udara juga mempengaruhi flotasi.
I.1.2 Langkah-langkah Flotasi
1. Liberasi, analisis pendahuluan
Agar mineral terliberasi maka perlu dilakukan crushing atau grinding yang diteruskan dengan
pengayakan atau classifying. Ini dimaksudkan agar ukuran butir mineral dapat seragam
sehingga proses akan lebih sukses atau berhasil. Analisis pendahuluan dilakukan dengan
menggunakan mikroskop sehingga dapat dilihat derajat liberasinya dan kadar dari mineral
tersebut. Diupayakan dalam tahap ini juga dilakukan desliming, sebab slime akan mengganggu
proses flotasi.

2. Conditioning
Yaitu membuat suatu pulp agar nantinya pulp tersebut dapat langsung dilakukan flotasi.
Preparasi ini sebaiknya disesuaikan dengan liberasi dalam proses basah, maka conditioning
juga harus dilakukan pada proses basah.Pada tahap pengkondisian, reagent yang diberikan
adalah modifier, collector dan terakhir frother.
3. Proses flotasi
Proses ini ditandai dengan masuknya gelembung udara ke dalam pulp.
I.1.3 Macam sel flotasi
Sel flotasi berfungsi untuk menerima pulp dan dilakukan proses flotasi. Jenis sel mendasarkan
atas pemasukan udara, adalah :
1. Agitation Cell
Alat ini jarang digunakan, sebab adanya perkembangan dengan diketemukannya sub aeration
cell. Udara masuk ke dalam cell flotasi karena putaran pengaduk.
2. Sub Aeration Cell
udara masuk akibat hisapan putaran pengaduk. Alat ini paling praktis sehingga banyak
digunakan.
3. Pneumatic Cell
Alat ini jarang sekali yang menggunakan, udara langsung dihembuskan ke dalam cell
4. Vacum and Pressure Cell
Udara masuk karena tangki dibuat vakum oleh pompa penghisap dan udara dimasukkan oleh
pompa injeksi.
5. Cascade Cell
Udara masuk karena jatuhnya mineral. Syarat cell adalah :
a. Pulp tidak mengandap (dilengkapi dengan alat agitasi)
b. Ada pengatur tinggi pulp
c. Ada daerah yang relatif tenang sehingga butiran yang menempel gelembung udara mudah
naik ke permukaan
d. Konstruksi dibuat sehingga tidak terjadi short circuit
e. Mempunyai resirkulasi dan pengeluaran middling
f. Harus mempunyai penerimaan pulp dan pengeluaran busa yang menumpuk
g. Mempunyai permukaan bebas untuk gelembung-gelembng yang sudah mengandung
mineral, sehingga tidak mempengaruhi agitasi
h. Harus dilengkapi dengan pengeluaran froth.
Mekanisme dan Prinsip Dasar Flotasi
Flotasi adalah proses konsentrasi mineral berharga berdasarkan perbedaan tegangan
permukaan dari mineral didalam air (aqua) dengan cara mengapungkan mineral ke
permukaan.
Beberapa jenis partikel yang tercampur dapat dipisahkan salah satu jenisnya dari
campurannya atau bila memungkinkan dan dapat terpisah keseluruhan jenis sehingga dapat
terkonsentrasi dari tiap tiap jenis. Pemisahan dari partikel partikel dalam flotasi ini
ditunjukkan oleh penentuan kontak antara tiga fasa, yaitu fasa partikel padat yang akan
diapungkan, larutan aqua elektrolit, dan gas ( biasanya dipakai udara ) hampir semua zat
anorganik dapat dibasahi oleh fasa aqua. Oleh karena iu langkah pertama dalam flotasi adalah
menggantikan sebagian dari antar fasa padat-cair menjadi antara fasa padat-gas. Sebagian
hasilnya didapat bahwa permukaan partikel akan menjadi pobi air (hidropobik). Flotasi dari
mineral mineral umumnya dibagi atas dua bagian yaitu :
flotasi mineral mineral logam (metallic minerals) umumnya mineral mineral sulfida.
fotasi mineral mineral bukan logam ( non metallic minerals ), meliputi logam logam oksida,
silikat, sulfat, karbona, halit dan fosfat , juga felsfar, garnet, muskovit, batu semen, fluosfar
dan lain-lain.
Mekanisme flotasi didasarkan pada adanya pertikel mineral yang dibasahi (hidropilik) dengan
partikel mineral yang tidak dibasahi (hidropobik). Partikel partikel yang basah tidak
mengapung dan cenderung tetap berada dalam fasa air. Di lain pihak partikel perikel
hidropobik (tidak dibasahi) menempel pada gelembung , naik ke permukaan, membentuk buih
yang membentuk partikel dan dipisahkan.
Secara garis besarnya pemisahan dengan cara flotasi dilakukan dengan menggunakan 2 tahap
: yaitu tahap conditioning dan tahap pengapungan mineral (flotasi). Pada tahap conditioning
bertujuan untuk membuat suatu mineral tertentu bersifat hidropobik dan menpertahankan
mineral lainnya bersifat hidropilik. Pada tahap conditioning ini ini kedalam pulp dimasukkan
beberapa reagen flotasi. Sedangakan pada tahap flotasi atau aerasi adalah tahap pengaliran
udara kedalam pulp secara mekanis baik agitasi maupun injeksi udara.
A. Reagen Flotasi
Agar proses flotasi dapat berlangsung maka diperlukan reagen flotasi. Penggunaan reagen
flotasi ini tidak dimaksudkan untuk mengubah sifat sifat kimia dari partikel tersebut tetapi
hanya mengubah sifat permukaan dengan menyerap ( adsorsi) reagen flotasi tersebut.
Keberhasilan pemisahan mineral secara flotasi ditentukan oleh ketepatan penentuan reagen
kimia yang digunakan. Secara garis besarnya reagen yang digunakan dibagi menjadi tiga
kelompok, yaitu : kolektor, modifier dan frother.
I. Kolektor
Kolektor adalah senyawa organic yang ditambahkan kedalam pulp untuk mengubah
permukaan mineral dari hidropilik menjadi hidropobik dengan proses penyerapan (adsorbsi).
Klasifikasi dari kolektor berdasarkan sifat ionnya, yaitu kationik dan anionic umumnya kolektor
dari golongan ini dipakai pada pekerjaan flotasi sulfide. Tetapi ini juga memungkinkan dipakai
dalam pekerjaan flotasi mineral non sulfida . sedangkan kolektor kationic untuk flotasi non
sulfide. Dalam pemakaian harus diperhatikan mengenai jumlah kolektor. Kolektor yang
digunakan bila digunakan terlalu sedikit tidak dapat mengapungkan mineral secara selektif,
sedangkan bila terlalu banyak akan menghasilkan flotasi yang tidak terlalu baik.
Contoh Kolektor : Xanthate
Asam oleik
Thiokarbanilid pemakaian : 25 100 g/t
2. Modifier
Modifier adalah reagen kimia yang diperlukan dalam proses flotasi untuk mengintensifkan
selektifitas dari pekerjaan kolektor. Efek yang umum dihasilkan adalah menaikaan dan
menurunkan hidropobisitas dari suatu permukaan partikel tertentu. Jenis modifier ini adalah
PH regulator ( pengatur pH), activator, depresan dan dispersan.
pH regulartor adalah media yang digunakan untuk mengatur pH. Pengaturan pH dari pulp ini
dilakukan dengan penabahan kapur, sodium karbonat, sodium hidroksida atau ammonium
untuk menaikkannya dengan penambaahan sulfuric, sulfuros tau asam klorida
Aktivator adalah suatu reagen yang digunakan dalam flotasi untuk meningkatkan kerja
dari kolektor pada permukaan partikel mineral. Ini berarti bahwa reagen activator membantu
untuk mengapungakan mineral pada saat proses flotasi. Depresan juga merupakan reagen
kimia yang dipakai untuk melemahkan kerja dari kolektor terhadap permukaan partikel
mineral dengan cara menyelimuti permukaan partikel sehingga tidak menempel pada
gelembung udara. Dengan kata lain depresan adalah reagen flotasi yang membantu untuk
menenggelamkan partikel mineral.
Contoh Depresan : ZnSO4 untuk menekan ZnS
3. Frother
Frother (pembuih) akan terkonsentrasi pada antar muka udara dan air. Kehadiran froter
pada fasa cair pada larutan reagen kimia yang dipakai dalam flotasi untuk membentuk buih
atau busa. Reagen ini mempunyai permukaan yang aktif dan biasanya pada flotasi berguna
untuk meningkatkan gelembung udara dan menolong supaya gelembung menyebar. Ini
berarti memperbaiki kondisi penempelan partikel mineral dan menaikaan stabilitas
busa. Kontak antar mineral udara dan air dikenal dengan kontak tiga fasa dan sudut yang
terbentuk antara mineral dengan antar muka udara-air yang diukur pada fasa air disebut
dengan sudut kontak. Sudut kontak = 0, berarti permukaan padatan diselimuti air (hidropilik)
dan sudut kontak = 1800 udara menutupi padatan. Sudut kontak sering digunakan sebagai
ukuran kehidropobikan permukaan mineral.
Pemakaian frother pada proses flotasi sangat penting dilihat dari fungsinya yaitu :
1. Frother mencegah perpaduan gelembung udara dan menjaga kestabilan gelembung untuk
selama periode waktu yang cukup lama.
2. Lapisan frother pada kulit gelembung udara menaikkan ketahanan gelembung terhadap
bermacam macam ketahanan dari luar.
3. lapisan frother pada gelembung mengurangi kecepatan gelembung didalam pulp, sehingga
kontak gelembung dengan mineral mineral akan menimbulkan kondisi yang lebih baik yang
menguntungkan proses flotasi.
Beberapa karateristik Frother:
1. Suatu substansi organik.
2. Molekulnya heteropolar terdiri dari satu atau lebih gugusan HC yang dihubungkan satu grup
yang polar.
3. Kelarutannya tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil.
4. Tidak ter-ion.
5. Busa atau buih akan segera patah detelah berpindah dari sell flotasi.
6. Mempunyai aktivitas kimia yang lemah.
Contoh Frother : MIBC = Methyl Isobutyl Carbinol
Minyak pinus (kayu putih)
Terpentin
Pemakaian : 5 100 g/t
B. Flotasi Cell
Beberapa variabel yang mempengaruhi hasil flotasi dengan menggunakan flotasi cell adalah
kecepatan pengaliran udara, gelas poros dari alat, densitas dari pulp, ukuran alat ( ketinggian
kolom dari dasar sampai permukaan pulp) dan kondisi dari pulp (PH, adsorbsi, desorbsi).
Dengan kondisi yang tertentu dari kecepatan aliran udara, ukuran atau diameter bukaan (P =
opening) dari gelas poros menghasilkan gelembung udara dengan diameter yang kecil.
Densitas dari pulp, volume dari pulp dan ukuran alat juga merupakan faktor variabel yang
penting. Jika densitasnya terlalu tinggi, tabrakan antar partikel akan lebih besar dan
kemungkinan penempelan partikel-partikel yang mengapung harus diapungkan. Salah satu
faktor penentu dalam proses flotasi yang mempengaruhi kemampuan flotasi dari mineral
mineral adalah mesin flotasi perbaikan dari perencanaan impeller dan bentuk dari pada cell,
dan beberapa harga parameter operasi seperti kecepatan impeller/konsumsi udara dan
tenaga, memegang peranan penting. Setiap perusahaan mempunyai karakteristik tersendiri
dalam merencanakan cell ini. Sebagai contoh ratio kedalaman dan panjang dari tank, jumlah
sudut sudut pada impeller dan ratio dari ketebalan impeller terhadap diameternya
mempuinyai harga harga berlainan.. Flotasi cell (flotation cell) dan flotasi cell mikro (mikro
flotation cell) merupakan contoh dari jenis alat flotasi. Untuk skala laboratorium alat flotasi
yang digunakan adalah mikroself flotasi.
Froth Flotation / Pemisahan pengapungan
Kebanyakan mineral terdiri dari ion yang mempunyai permukaan hidrofil, sehinga partikel tersebut
dapat diikat air. Dengan penambahan zat collector, permukaan mineral yang terikat molekul air akan
terlepas dan akan berubah menjadi hidrofob. Dengan demikian ujung molekul hidrofob dari collector
akan terikat molekul hidrofob dari gelembung, sehingga mineral ( bijih ) dapat diapungkan. Molekul
collector mempunyai struktur yang mirip dengan detergen.
Metoda ini digunakan di beberapa industri pertambangan dengan menggunakan reagen utama
Xanthate sebagai Collector (misalnya : potassium amyl xanthate, C5H11OCS2K), Pine Oil sebagai
Frother dan campuran bahan kimia organik lainnya sebagai pH Modifiers. Reagents yang digunakan
untuk pengapungan pada umumnya tidak beracun, yang berarti bahwa biaya pembuangan limbah /
tailing menjadi rendah.

Keuntungan lain dari proses pengapungan adalah biaya penggilingan bijih dapat
diminimalkan karena pada umumnya cukup efektif pada bijih dengan ukuran yang cukup kasar,
misalnya :
- Emas, galena = 200 microns ( #65 mesh )
- Pyrite, sphalerite = 3-500 microns ( #48-28 mesh )
- Silicates = 1000 microns ( #10 mesh )
- Coal = 2500 microns ( #8 mesh )
Froth Flotation sering digunakan mengkonsentrasi emas bersama-sama dengan logam lain
seperti tembaga, timah, atau seng. Partikel emas dari batuan oksida biasanya tidak merespon dengan
baik namun efektif terutama bila dikaitkan dengan emas sulfida seperti pyrite.


Dewatering
Dewatering adalah proses penurunan muka air tanah selama Konstruksi berlangsung selain itu
juga diperuntukkan pencegahan kelongsoran akibat adanya aliran tanah pada galian atau bisa
dipaparkan sebagai proses pemisahan antara cairan dengan padatan.
Proses dewatering tidak dapat dilakukan sekaligus, tetapi harus secara bertahap, yaitu dengan
jalan :
1. Thickening, Yaitu merupakan proses pemisahan antara padatan dengan cairan yang
mendasarkan atas kecepatan mengendap partikel atau mineral tersebut dalam suatu pulp
sehingga solid factor yang dicapai sama dengan satu (% solid = 50%)
2. Filtrasi, Adalah merupakan proses pemisahan antara padatan dengan cairan jalan
menyaring (dengan filter) sehingga didapat solid factor sama dengan empat (% solid = 100%).
3. Drying, Adalah proses penghilangan air dari padatan dengan jalan pemanasan,
sehingga padatan itu betul-betul bebas dari cairan atau kering (% solid = 100%).

Tujuan diadakannya proses dewatering antara lain adalah untuk:
1. Mencegah rembesan
2. Memperbaiki kestabilan tanah
3. Mencegah pengembungan tanah
4. Memperbaiki karakteristik dan kompaksi tanah terutama dasar
5. Pengeringan lubang galian
6. Mengurangi tekanan lateral

Selain itu, terdapat faktor penentu dalam pemilihan dewatering antara lain:
1. Sifat tanah
2. Air tanah
3. Ukuran dan dalam galian
4. Daya dukung tanah
5. Kedalam dan tipe pondasi
6. Design dan fungsi dari struktur
7. Rencana pekerjaan
Keuntungan dan kerugian dilakukannya proses Dewatering:

Keuntungan :
1. Muka air tanah turun
2. Longsor kurang
3. Lereng lebih curam
4. Tekan tanah berkurang

Kerugian :
1. Mata air sekeliling turun
2. Permukaan tanah turun

Jenis dewatering dilihat dari waktu dan kegunaannya dapat dikelompokkan menjadi :
1. Dewatering sementara
2. Dewatering tetap/sementara

Metode dewatering
1. Metode pemompaan terbuka
2. Metode alur dangkal
3. Metode predrainase
4. Metode cut off
5. Metode osmose elektries
Contoh alat Dewatering :



Contoh Dewatering pada batubara



Concentration / Konsentrasi
Proses Concetration
Setelah ukuran bijih diperkecil, proses selanjutnya dilakukan proses konsentrasi / pemekatan
bijih (concentration of ore) dengan memisahkan mineral emas dari materi pengotornya
(ganggue / batureja), sehingga diperoleh kadar bijih tinggi. Pada endapan emas aluvial, bijih
hasil penggalian langsung memasuki tahap ini tanpa tahap kominusi terlebih dahulu.
Pemekatan dapat dilakukan melalui dua teknik pemisahan, yaitu pemisahan secara fisis dan
pemisahan secara kimia :
1. Gravity Separation / Pemisahan gaya berat.
Pemisahan gaya berat ( gravity separation ), adalah proses pemisahan mineral yang
didasarkan atas perbedaan massa jenis antara partikel bijih dan partikel pengotor.
2. Liquation Separation / Pemisahan pencairan
3. Magnetic Separation/ Pemisahan magnetis
4. Froth Flotation / Pemisahan pengapungan.
Pengapungan buih ( froth flotation ) adalah proses pemisahan mineral menjadi bijihdari
pengotor dengan cara mengapungkan bijih ke permukaan melalui pengikatandengan buih.
Hasil pemekatan bijih dari teknik tersebut dibagi dalam 2 (dua) kategori, yaitu :
1. First Concentrate / Total Concentrate,
2. Second Concentrate / Final Concentrate
1. Gravity separation / Pemisahan gaya berat
Konsentrasi / separasi dengan metode gravitasi memanfaatkan perbedaan massa jenis emas (
19.3 ton/m3 ) dengan massa jenis mineral lain dalam batuan ( yang umumnya berkisar 2,6
hingga 2.8 ton/m3 ). Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan
(gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa, karbonat, turmalin, flourpar,
dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan
endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ,
elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur belerang,
antimon, dan selenium. Emas asli mengandungi antara 8% dan 10% perak, tetapi biasanya
kandungan tersebut lebih tinggi. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ, hanya
kandungan perak di dalamnya >20%. Apabila jumlah perak bertambah, warnanya menjadi
lebih putih.
Metode gravitasi akan efektif bila dilakukan pada material dengan diameter yang
sama/seragam, karena pada perbedaan diameter yang besar perilaku material ringan (massa
jenis kecil) akan sama dengan material berat ( massa jenis besar ) dengan diameter kecil. Oleh
karena itu dibutuhkan proses Screening and Classifying :
Grizzlies, non moved screens
Spiral classifier
Pada proses ini menjadi sangat penting untuk dilakukan dengan baik, sebab dengan memilah
ukuran bijih hasil kominusi akan menyeragamkan besaran umpan (feeding size) ke proses
konsentrasi. Sedangkan bijih yang masih belum seragam (lebih besar) hasil pemilahan
dikembalikan ke proses sebelumnya yaitu kominusi.

Peralatan konsentrasi yang menggunakan prinsip gravitasi yang umum digunakan pada
pertambangan emas skala kecil antara lain adalah :
Panning (Dulang),
adalah alat konsentrat emas yang menggunakan prinisp gravitasi paling sederhana.

Sluice Box
( Banjar=Palong, Bombana=Kasbok, Aceh=Talang ) lebih banyak digunakan karena mempunyai
effisiensi yang sama dengan peralatan konsentrasi yang lain namun mempunyai konstruksi
yang lebih sedarhana daripada spiral konsentrator, meja goyang dan jig, serta dapat
memproses lebih banyak bijih per hari daripada dulang.


Spiral Concentrator
Alat ini mampu memisahkan logam berat pada kisaran ukuran 3 mm hingga 75 micron ( 6 -
200 mesh ).



Meja goyang ( Shaking Tables )
efektif memisahkan emas dari batuan oksida pada 200 micron, batuan sulfida 400 micron, dan
silika 1.000 micron.

Jigs, merupakan alternatif konsentrator yang mudah dioperasionalkan, Secara umum dapat
berjalan efektif pada ukuran terbesar 2 cm dan yang terkecil 10 mesh.
Hasil dari proses ini berupa konsentrat yang mengandung bijih emas dengan kandungan
yang besar, dan lumpur pencucian yang terdiri atas mineral-mineral pengotor pada bijih
emas. Konsentrat emas selanjutnya diolah dengan proses ekstraksi.
2. Liquation Separation / Pemisahan pencairan
Pemisahan pencairan (liquation separation), adalah proses pemisahan yang dilakukan
dengan cara memanaskan mineral di atas titik leleh logam, sehingga cairan logam akan
terpisahkan dari pengotor.
Yang menjadi dasar untuk proses pemisahan metode ini, yaitu :
Density ( berat jenis )
Melting point ( titik cair )
Contoh : memisahkan emas dan perak

Titik cair emas pada suhu 1064.18
o
C, sedangkan titik cair perak pada suhu 961.78
o
C.
Ini artinya perak akan mencair lebih dulu dari pada emas. Namun untuk benar-benar
terpisah, maka perak harus menunggu emas mencair 100%.

Kemudian bila dilihat dari berat jenisnya, maka berat jenis emas cair sebesar 17.31 gram per
cm
3
sedangkan berat jenis perak sebesar 9.32 gram per cm
3
. Hal ini berarti berat jenis emas
lebih besar dari pada berat jenis perak.

Dari hukum alam fisika, maka bila ada dua jenis zat cair yang berbeda dan memiliki berat
jenis yang berbeda pula, maka zat cair yang memiliki berat jenis lebih kecil dari zat satunya,
ia akan mengapung. Dengan demikian, cairan perak akan terapung diatas lapisan cairan
emas, seperti halnya cairan minyak mengambang diatas lapisan air. Dari sana, perak
dipisahkan dari emas, sampai tidak ada lagi perak yang terapung. Dengan metode akan
dihasilkan Au bullion dan Ag bullion.
3. Magnetic Separation / Pemisahan magnetik
Pemisahan magnetik (magnetic separation), adalah proses pemisahan dengan dasar apabila
mineral memiliki sifat feromagnetik. Teknik kerjanya adalah dengan mengalirkan serbuk mineral
secara vertikal terhadap medan magnet yang bergeraksecara horizontal. Dengan demikian materi
yang tidak tertarik magnet akan terpisahkan dari materi yang memiliki sifat feromagnetik.
Metode ini dalam proses pengolahan emas biasanya dilakukan pada primary concentrate /
first concentrate / total concentrate yang banyak mengandung mineral sulfida utamanya pyrite (FeS
2
).
Setelah dioksidasi dengan metode roasting, pyrite akan berubah menjadi FeO
3
yang bersifat
feromagnetik. Dengan perubahan sifat FeO3 yang bersifat feromagnetik, total concentrate dapat
direduksi kuantitasnya dengan cara memisahkan logam ferriuos dan non-ferrious menggunakan
MAGNETIC Separator, sehingga mempermudah proses metallurgy selanjutnya.