Anda di halaman 1dari 13

ANALISIS STABILITAS LERENG MENGGUNAKAN PERKUATAN

GEOGRID
(Studi Kasus Jalan Medan Berastagi, Desa Sugo
Iro Ganda
1
dan Roesyanto
2

Mahasiswa Departement Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No: 1 Kampus USU Medan.
Email : civa_118@yahoo.com
Staf Pengajar Departement Teknik Sipil, Universitas Sumatera Utara, Jl. Perpustakaan No: 1 Kampus USU Medan.
Medan.

ABSTRAK

Kelongsoran tanah merupakan salah satu yang paling sering terjadi pada bidang Geoteknik
akibat meningkatnya tegangan geser suatu massa tanah atau menurunnya kekuatan geser suatu massa
tanah. Dengan kata lain, kekuatan geser dari suatu massa tanah tidak mampu memikul beban kerja
yang terjadi. Gangguan terhadap stabilitas lereng dapat disebabkan oleh berbagai kegiatan manusia
maupun kondisi alam. Lereng yang tidak stabil sangatlah berbahaya terhadap lingkungan sekitarnya,
oleh sebab itu analisis stabilitas lereng sangat diperlukan. Pada kasus ini kondisi jalan Medan
Berastagi mengalami kelongsoran hingga badan jalan.
Tujuan studi ini adalah melakukan analisis stabilitas lereng pada kondisi awal sebelum
menggunakan perkuatan geogrid dan sheetpile, analisis stabilitas lereng setelah perkuatan standart
menggunakan Geogrid dan Sheetpile, dan analisis stabilitas lereng dengan menggunakan perkuatan
alternatif dengan menambahkan beban Counterweight dibelakang Sheet Pile. Adapun metode yang
dilakukan untuk menganalisis perkuatan Sheet pile dan perkuatan Geogrid, digunakan metode elemen
hingga yaitu menggunakan program Plaxis 2D versi 8.2.
Dan pada Tugas Akhir ini didapatkan hasil nilai safety faktor pada kondisi awal sebesar 0,67.
Nilai Safety Faktor pada perkuatan standart yang menggunakan Geogrid dan Sheet pile sebesar 1.18.
Nilai safety faktor dengan menggunakan perkuatan alternatif dengan penambahan Counterweight
dibelakang sheet pile sebesar 1,35. Perhitungan safety faktor teraman adalah pada penambahan beban
Counterweight disamping sheet pile. Dengan kelongsoran kecil.
Kata Kunci : Sheet pile, Geogrid, Counterweight.



ABSTRACT

Soil lanslide is one of the most common in the field of Geotechnical due to increased shear
stress of a soil mass or a decrease in shear strength of the soil mass. In other words, the shear
strength of the soil mass is not able to bear the burden of work going on. Disruption to the stability of
the slope can be caused by various human activities and natural conditions. Unstable slopes is
dangerous to the surrounding environment, therefore slope stability analysis is needed. In this case
the condition of Medan - Berastagi street experience lanslide up the road.
The purpose of this study was to analyze slope stability on the initial conditions before using
geogrid reinforcement and sheetpile, slope stability analysis after standard use Geogrid
reinforcement and Sheetpile, and slope stability analysis using alternative reinforcement by adding
weight behind Counterweight Sheet Pile. The methods for analyzing and retrofitting Geogrid and
Sheet pile, use the finite element method for student.
And in this final value of the safety factor obtained results on the initial conditions of 0,67.
Safety Factor value in strengthening the standards using Geogrid and Sheet pile of 1,18. Value of
safety factor using alternative reinforcement Counterweight with the addition of 1,35 behind the sheet
pile. The calculation of the safety factor is the safest as well as the addition of Counterweight load
sheet pile. With small landslide.
Keywords: Sheet pile, Geogrid, Counterweight

1. PENDAHULUAN

Tanah adalah gabungan dari partikel partikel padat, air, dan udara. Ketika tanah berada di
bawah muka air tanah (tidak ada udara), maka tanah tersebut dalam keadaan saturated.
Ukuran partikel pada tanah bervariasi, dan dengan adanya variasi itu tanah dapat
dikategorikan dalam beberapa bagian. Tanah dengan partikel besar (pasir dan kerikil)
dikategorikan dalam tanah tidak kohesif.
Dengan kata lain, air tidak hanya mengisi ruang pori antar partikel tanah, tetapi dapat
mengalir melalui partikel tanah juga. Fakta bahwa air mengalir menurun ketempat yang lebih
rendah berdasarkan gaya grafitasi juga terjadi di rongga tanah. Property pada tanah berkaitan
dengan kemampuan air untuk mengalir melalui ruang pori atau yang biasa disebut
permeability. Semakin kecil ukuran partikel, semakin rendah permeabilitas pada tanah.
Dalam kasus tanah tidak kohesif, ukuran partikel yang relatif besar memungkinkan air
cepat keluar dari bawah beban, dan penurunan biasa terjadi sangat cepat. Tetapi jika tanah
kohesif dengan partikel yang kecil, gerakan air bisa sangat lambat. Terkadang dalam
beberapa bulan atau sampai beberapa tahun.
Bangunan yang dibangun diatas tanah kohesif tidak memiliki permasalahan pada awalnya
tetapi seiring pertambahan waktu penurunan dapat terjadi secara signifikan, mengakibatkan
kerusakan struktur yang serius dan memerlukan perbaikan yang mahal atau mungkin
pembongkaran pada struktur.

2. PERUMUSAN MASALAH
Kelongsoran tanah merupakan salah satu yang paling sering terjadi pada akibat
meningkatnya tegangan geser suatu massa tanah atau menurunnya kekuatan geser suatu
massa tanah. Dengan kata lain, kekuatan geser dari suatu massa tanah tidak mampu memikul
beban kerja yang terjadi. Pada kasus ini kondisi jalan Medan Berastagi mengalami
kelongsoran hingga badan jalan mengalami kelongsoran.

3. METODE PENELITIAN
Metode Pengumpulan Data
Untuk meninjau kembali perhitungan pemasangan geogrid dan sheet pile pada proyek
pemeliharaan jalan Djamin Ginting di Desa Sugo, Medan, penulis memperoleh data dari PT.
Andalas Graha Utama berupa data hasil sondir, hasil SPT, dan hasil investigation soil lab.

Metode Analisis
Dalam perhitungan pemasangan geogrid dan sheet pile ini, penulis memperhitungkan
besarnya safety faktor yang didapat, melalui langkah-langkah berikut :
1. Menghitung besarnya safety faktor pada kondisi awal dengan program Plaxis 2D 8.2.
Dari data sondir.
Dari data Investigation Soil Lab.
2. Menghitung besarnya safety faktor setelah pengerjaan Proyek dengan pemasangan
geogrid dan sheet pile dengan program Plaxis 2D 8.2.
3. Menghitung besarnya safety faktor dengan menambahkan beban timbunan
Counterweight disamping sheet pile dengan program Plaxis 2D 8.2.
GEOGRID
Istilah Geosintetik berasal dari kata geo, yang berarti bumi atau dalam dunia teknik
sipil diartikan sebagai tanah pada umumnya, dan kata synthetic yang berarti bahan buatan,
dalam hal ini adalah bahan polimer. Bahan dasar geosintetik merupakan hasil polimerisasi
dari industri-industri kimia/minyak bumi (Suryolelono, 1988) dengan sifat-sifat yang tahan
terhadap senyawa-senyawa kimia, pelapukan, keausan, sinar ultra violet dan mikro
organisme. Polimer utama yang digunakan untuk pembuatan geosintetik adalah Polyester
(PS), Polyamide (PM), Polypropylene (PP) dan Polyethylene (PE). Jadi istilah geosintetik
secara umum didefinisikan sebagai bahan polimer yang diaplikasikan di tanah.
Geotekstil adalah lembaran sintesis yang tipis, fleksibel, permeable yang digunakan
untuk stabilisasi dan perbaikan tanah dikaitkan dengan pekerjaan teknik sipil. Pemanfaatan
geotekstil merupakan cara moderen dalam usaha untuk perkuatan tanah lunak.
Beberapa fungi dari geotekstil yaitu:
1. Untuk perkuatan tanah lunak.
2. Untuk konstruksi teknik sipil yang mempunyai umur rencana cukup lama dan
mendukung beban yang besar seperti jalan rel dan dinding penahan tanah.
3. Sebagai lapangan pemisah, penyaring, drainase dan sebagai lapisan pelindung.
Geotextile dapat digunakan sebagai perkuatan timbunan tanah pada kasus:
1. Timbunan tanah diatas tanah lunak
2. Timbunan diatas pondasi tiang
3. Timbunan diatas tanah yang rawan subsidence


Fungsi Geogrid
Secara umum Geogrid adalah bahan Geosintetik yang berfungsi sebagai Perkuatan
(reinforcement) dan Stabilisasi (stabilization), dengan penjelasan detailnya sebagai berikut :
1. Geogrid Uniaxial
Berfungsi sebagai material perkuatan pada system konstruksi dinding penahan tanah
(Retaining Wall) dan perkuatan lereng (Slope Reinforcement)
2. Geogrid Biaxial
Berfungsi sebagai stabilisasi tanah dasar. Seperti pada tanah dasar lunak (soft clay
maupun tanah gambut). Metode kerjanya adalah interlocking, artinya mengunci agregat
yang ada diatas Geogrid sehingga lapisan agregat tersebut lebih kaku, dan mudah
dilakukan pemadatan.
3. Geogrid Triax
Fungsinya sama dengan Biaxial sebagai material stabilisasi tanah dasar lunak, hanya saja
performanya lebih baik. Hal ini disebabkan bentuk bukaan segitiga lebih kaku sehingga
penyebaran beban menjadi lebih merata.



Jenis jenis geogrid dan kegunaannya :
1. Geogrid Uni Axial
Uni-axial Geogrids adalah lembaran massif dengan celah yang memanjang dengan bahan
dasar HDPE (High Density Polyethelene), banyak digunakan di Indonesia untuk perkuatan
tanah pada DPT (dinding penahan tanah) dan untuk memperbaiki lereng yang longsor
dengan menggunakan tanah setempat/bekas longsoran. Material ini memilki kuat tarik 40
kN/m hingga 190 kN/m. Geogrid jenis ini biasanya dipakai untuk perkuatan dinding
penahan tanah dan perbaikan lereng yang longsor.
Geogrid Uni Axial berfungsi sebagai material perkuatan pada sistem konstruksi dinding
penahan tanah (Retaining Wall) dan perkuatan lereng (Slope reinforcement)




Gambar. Geogrid Uni-Axial

2. Geogrid Bi-Axial
Bi-axial Geogrids dari bahan dasar polypropylene (PP) dan banyak digunakan di Indonesia
sebagai bahan untuk meningkatkan tanah dasar lunak (CBR < 1%). Bi-axial Geogrid adalah
lembaran berbentuk lubang bujursangkar di mana dengan struktur lubang bujursangkar ini
partikel tanah timbunan akan saling terkunci dan kuat geser tanah akan naik dengan
mekanisme penguncian ini. Kuat tarik bervariasi antara 20 kN/m 40 kN/m. Keunggulan
Geogrid Bi-Axial ini antara lain :
Kuat tarik yang bervariasi
Kuat tarik tinggi pada regangan yang kecil
Tahan terhadap sinar ultra violet
Tahan terhadap rekasi kimia tanah vulkanik dan tropis
Tahan hingga 120 tahun
Geogrid Bi-Axial berfungsi sebagai stabilisasi tanah dasar. Seperti pada tanah dasar lunak
(soft clay maupun tanah gambut). Metode kerjanya adalah interlocking, artinya mengunci
agregat yang ada di atas Geogrid sehingga lapisan agregat tersebut lebih kaku, dan mudah
dilakukan pemadatan.




Gambar. Geogrid Bi-Axial



3. Geogrid Triax
Fungsinya sama dengan Bi-axial sebagai material stabilisasi tanah dasar lunak, hanya saja
performance nya lebih baik. Hal ini disebabkan bentuk bukaan segitiga lebih kaku sehingga
penyebaran beban menjadi lebih merata.








Gambar 2.4 Geogrid Triax

Kelebihan Pemakaian Geogrid
1. Kekuatan tarik yang tinggi,
2. Pelaksanaan yang cepat,
3. Memungkinkan penggunaan material setempat,
4. Pemasangan yang mudah dan dapat membangun lebih tinggi dan tegak,
5. Tambahan PVC sebagai pelindung terhadap ultraviolet,
6. Pemasangan dan harga geogrid murah dibandingkan beton.
7. Merupakan struktur yang fleksibel sehingga tahan terhadap gaya gempa,
8. Tidak mempunyai resiko yang besar jika terjadi deformasi struktur, dan
9. Tipe elemen penutup lapisan luar dinding penahan dapat dibuat dalam bentuk yang
bermacam-macam, sehingga memungkinkan untuk menciptakan permukaan dinding
yang mempunyai nilai estetika.
10. Biasanya perbaikan tanah dengan perkuatan dilakukan secara horisontal artinya digelar
karena lebih mudah pelaksanaannya ketimbang arah tegak vertikal. Perkuatan horizontal
dapat menerima beban tekan dari permukaan atau tarik dari arah horizontal. Sedangkan
perbaikan tanah arah vertikal lebih utama menerima beban vertikal dari permukaannya
tanpa mempu menerima beban horisontal.

Kekurangan Pemakaian Geogrid
Geogrid tanpa PVC akan mengalami penurunan tingkat kemampuan penahan gaya
tarik. Karena bahan Geogrid sangat peka terhadap naik turunnya temperatur udara, dimana
pemuaian akan sangat mudah terjadi terhadap bahan geogrid pada saat mendapatkan
temperature tinggi. Pemuaian akan membuat Geogrid getas, dan akhirnya akan mengurangi
kuat tarik.





Distribusi Tegangan Horisontal
Perhitungan tegangan horizontal dianggap sama pada tegangan vertikal tersebut di atas. Ada
tiga anggapan mengenai tegangan horisontal untuk perancangan dinding penahan taanh
bertulang :
1. Tegangan horisontal untuk sembarang kedalaman dianggap terbagi rata, yaitu sama dengan
tekanan overburden (Lee, dkk1973) :

2. Tegangan horisontal dihitung berdasarkan metode Meyerhoff (Juran dan Schlosser, 1978)

Ka = koefisien tekanan tanah aktif
z = kedalaman (cm)
= berat isi tanah (g/cm
3
)
L = lebar dinding (cm)
3. Tegangan horisontal sama dengan koefisien tekanan tanah lateral (Ka) dikali dengan
tegangan vertikal maksimum tepat di belakang elemen permukaan (penutup depan). Dalam
persamaan dituliskan :


Persamaan terakhir dapat dipakai untuk menghitung gaya tarik maksimum tulangan.
Tulangan yang berada di bagian bawah, biasanya permukaan bidang longsor adalah lokasi
gaya tarik maksimum.

Dalam hitungan gaya horizontal yang harus didukung oleh tulangan, tekanan tanah lateral
dianggap bervariasi secara linear, mengikuti distribusi Rankine. Karena itu distribusi gaya
tarik tulangan (T) juga akan bervariasi secara linear dengan nilai maksimum pada tulangan
yang paling bawah.















Gambar Potongan Melintang Pemasangan Geogrid dan Sheetpile
KONDISI AWAL LERENG
Seperti diketahui sebelumnya bahwa kondisi pada lereng yang ditinjau memiliki lapisan
tanah yang lunak dan perkuatan tanah yang kurang kuat dengan kedalaman berkisar antara
20m sampai 25m, dengan adanya lapisan lunak ini, ditambah perkuatan tanah yang kurang
mendukung untuk menahan beban yang berjalan diatasnya, maka jika terjadi gangguan atau
beban maksimum terjadi dibagian permukaan tanah lereng, akan dapat menimbulkan
kelongsoran.
Berikut ini akan dibahas kondisi kekuatan asli lereng dengan menggunakan program plaxis
2D :












Gambar. Model Penampang Melintang Lereng.

Langkah-langkah dalam prosedur pengerjaan progam Plaxis :
1. Menggambar Geometrik 2 dimensi struktur proyek yang dihitung.
2. Standart fixities
Digunakan untuk menerapkan batas umum pada model geometri.
3. Memasukkan parameter tanah, Sheet pile, dan Geogrid sesuai data.
4. Perletakan beban dan memasukkan besarnya beban.
5. Interface pada sheet pile.
Aplikasi tipikal dari penggunaan antarmuka adalah untuk memodelkan interaksi
antara dinding turap dan tanah, yang mempunyai kondisi permukaan licin atau kasar.
Tingkat interaksi dimodelkan dengan factor reduksi R
inter
.
6. Update Generate Mesh.
Digunakan untuk membagi-bagi geometri menjadi elemen-elemen untuk perhitungan
elemen hingga.
7. Initial condition.
Setelah model geometrik terbentuk dan jaringan elemen hingga telah selesai disusun,
maka kondisi awal dan konfigurasi awal harus ditentukan terlebih dahulu. Kondisi
awal terdiri dari dua modus : sebuah modus untuk menghitung tekanan air dan sebuah
modus untuk perhitungan tegangan efektif awal di lapangan.
8. Menambahkan muka air tanah (Freatic level) pada struktur tanah.
9. Update Generate water pressure.
Digunakan untuk perhitungan aliran air dalam tanah.
10. Aktifasi Geogrid dan Geotextile pada jendela generate initial stresses.
11. Masuk ke jendela Calculation.
12. Phase 1 aktifasi beban berjalan.
Aktifasi beban melalui jendela parameter, lalu define. Masukkan besarnya beban
sesuai data. Pilih plastic pada jendela calculation type. Pilih stage construction pada
loading input lalu calculate.
13. Phase 2 beban gravitasi.
Perhitungan phase ini digunakan untuk menghitung beban akibat grafitasi. Pilih
plastic pada jendela calculation type. Pilih total multipliers pada loading input lalu
calculate.
14. Phase 3 perhitungan safety faktor.
Perhitungan phase ini digunakan untuk mendapatkan nilai safety faktor. Pilih Phi/c
Reduction pada calculation type. Pada phase ini pilih incremental multipliers pada
loading input lalu calculate.
15. Pilih titik noda.
Digunakan untuk penggambaran kurva beban perpindahan maupun penggambaran
lintasan tegangan.
16. Runningkan perhitungan.
17. Hasil output dari perhitungan di print screen dan dipaste pada Micrsoft word.

Hasil running dar program plaxis 2D, dapat dilihat pada gambar-gambar berikut :











Total diplacements
Extreme total diplacement 51,99*10
-3
m
Gambar. Kondisi displacement lereng asli


Gambar diatas menunjukan displacement yang terjadi pada seluruh bagian lereng. Perbedaan
warna tersebut menunjukan perbedaan displacement yang terjadi, displacement terkecil
ditunjukan oleh bagian tanah yang berwarna biru, sedangkan displacement yang berwarna
kuning merupakan displacement terbesar dalam kondisi awal ini.
Untuk bagian yang berwarna pada kondisi tanah mempunyai displacement yang cukup besar
sehingga bagian tersebut dinyatakan sebagai bidang keruntuhan ( artinya pada bagian inilah
yang mengalami keruntuhan di saat kondisi awal).
Pada kondisi awal ini, faktor keamanan lereng yaitu, 0,6734. Dengan nilai angka keamanan
yang lebih kecil dari 1, maka kondisi asli lereng sangat rawan terhadap kelongsoran.
nilai ini dapat dilihat dari hasil running plaxis pada Gambar 4.4 berikut :









Gambar Faktor keamanan asli lereng.

KONDISI LERENG DENGAN PERKUATAN STANDAR
Perkuatan standar ini menggunakan sheet pile (CCSP W-350) dengan pemasangan
kedalaman yaitu 15m dan pemasangan geogrid dan geotextile. Model dari perkuatan ini
dapat dilihat pada gambar dibawah :












Gambar 4.5 Potongan melintang tipikal perkuatan standar.

ANALISIS DENGAN PERKUATAN ALTERNATIF







Gambar. potongan melintang tipikal perkuatan alternatif

Perkuatan alternatif ini menggunakan counterweight. Jenis tanah yang digunakan pada
counterweight adalah tanah timbunan dari tanah sekitar dengan ketinggian Counterweight
setinggi 3meter dan kondisi tanah adalah undrained. Untuk masukan program plaxis
dibutuhkan data parameter tanah yang digunakan.
Berikut merupakan data-data parameter tanah pada daereah counterweight :

Analisis perkuatan dengan program plaxis 2D :
1. pemodelan geometri tanah, perkuatan dan kondisi batas model.
Model tanah terdiri dari lima lapisan tanah, tanah timbun terdiri dari dua lapisan, dan model
konfigurasi perkuatan geogrid, sheet pile dan geotextile non woven dapat dilihat seperti
Gambar 4.12 dibawah ini :

2. Mesh Generation
Pembentukan mesh pada analisis ini menggambarkan option yang paling halus, sehingga
hasil perhitungan yang diperoleh lebih akurat. Gambar pembentukan mesh dapat dilihat pada
Gambar 4.14 dibawah ini :










Gambar. Pembentukan mesh
3. Water Condition
Water condition digunakan untuk memodelkan kondisi initial active pore pressure.
Pemodelan dapat dilakukan dengan preatic line atau ground water flow. Pada kasus ini
digunakan pemodelan preatic line. Pada gambar 4.15 dibawah ini menunjukan kondisi air
tanah pada lokasi :











Gambar. Kondisi air tanah model
4. Perhitungan Plaxis 2D.


Gambar. Total dispacements.
Gambar diatas menunjukan displacement yang terjadi pada keseluruhan bagian. Perbedaan
warna tersebut menunjukan perbedaan displacement yang terjadi, displacement yang kecil
ditunjkukan oleh bagian tanah yang berwarna biru, dan displacement yang terbesar
ditunjukan dengan warna merah.








Gambar. Shear Strains.


Dari analisis perhitungan plaxis 2D diatas dapat disimpulkan bahwa perkuatan alternatif
menghasilkan kelongsoran yang jarang terjadi. Dimana perkuatan alternatif menambahkan
counterweight yang mengakibatkan nilai safety faktor bertambah.
Nilai keamanan yang cukup (1,2347), nilai angka keamanan yang mendekati 1,25
mengakibatkan tingkat kelongsoran jarang terjadi. Dengan asumsi tidak ada beban tambahan
yang terjadi pada kondisi jalan. Dimana pembebanan yang terjadi disekitar lereng sebesar 20
kN/m.










Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh penulis selama mengerjakan Tugas Akhir ini adalah :
1. Nilai Safety Faktor pada kondisi awal di lokasi sebesar 0,6734. Maka kelongsoran
yang terjadi cukup besar.
2. Nilai Safety Faktor pada perkuatan standard yang menggunakan Geogrid dan Sheet
Pile sebesar 1.1847. Maka daerah tersebut dinyatakan rawan longsor.
3. Nilai Safety Faktor dengan menggunakan perkuatan alternatif dengan penambahan
Counterweight pada sheet pile, memiliki nilai Safety Faktor sebesar 1,2347.
4. Dengan penambahan timbunan dibelakang Sheetpile setinggi 3meter berupa
Counterweight, mengakibatkan kemungkinan terjadinya kelongsoran semakin kecil,
dimana nilai SF yang didapat mendekati 1,25 (Nilai Standard Safety Faktor).
Saran
1. Sebaiknya dilakukan penambahan penambahan beban counterweight disamping
sheetpile, guna mengurangi kemungkinan terjadinya kelongsoran pada lokasi proyek.
2. Untuk permukaan luar berupa blok beton, sebaiknya dilakukan cek juga terhadap
stabilitas local seperti kekuatan sambungan blok beton geogrid.













DAFTAR PUSTAKA
Das, B. M., 1995. Mekanika Tanah dalam Prinsip Prinsip Rekayasa
Geoteknik, Jilid 2. Jakarta : Erlangga.
Lambe, T. W. and Robert V. W., 1969. Soil Mechanics. Massachussetts
Institute of Technology. New Jersey : John Wiley & Sons,Inc.
National Cooperative Highway Research Program Report 290., June
1987..Reinforced of Earth Slopes and Embankments.
Duncan, J. M. and Stephen G. W., 2005. Soil Strength and Slope Stability.
New Jersey : John Wiley & Sons, Inc.
Das, B. M., 2008 Advanced Soil Mechanics, Third Edition. New York :
Taylor & Francis Group.
Sosrodarsono, S dan Kensaku T., 1981. Bendungan Tipe Urugan. Jakarta :
Pradnya Paramita.
U.S. Department of Transportation., January 1995. Geosynthetic Design and
Construction Guidelines.
Bowles, J. E., 1996. Foundation Analysis and Design. 5
th
Edition. Mc Graw
Hill.