Anda di halaman 1dari 42
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Hipertensi Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding arteri
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Hipertensi
Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding arteri ketika darah
tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah mirip dengan tekanan air
(darah) di dalam pipa (arteri). Makin kuat aliran yang keluar dari keran (jantung)
makin besar tekanan air terhadap dinding pipa. Jika pipa tertekuk atau mengecil
diameternya
(seperti
pada
arterosklerosis),
maka
tekanan
darah
akan
sangat
meningkat. Tekanan darah dapat berubah-ubah sepanjang hari, sesuai dengan situasi.
Tekanan darah akan meningkat dalam keadaan gembira, cemas, atau sewaktu
melakukan aktivitas fisik. Setelah situasi ini berlalu, tekanan darah akan kembali
normal. Apabila tekanan darah tetap tinggi maka disebut tekanan darah tinggi atau
hipertensi (Hull, 1996).
Penyakit hipertensi atau yang lebih dikenal penyakit darah tinggi adalah
penyakit kronik akibat desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada
arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Hipertensi
berkaitan
dengan
meningkatnya
tekanan
pada
arterial
sistemik,
baik
diastolik
maupun sistolik, atau kedua-duanya secara terus-menerus (Hull, 1996). Hipertensi
merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah ≥ 140 mmHg
(tekanan sistolik) dan/atau ≤ 90 mmHg (tekanan diastolic) (Joint National Committee
on Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Pressure VII, 2003).
Tekanan sistolik menunjukkan fase darah yang dipompa oleh jantung dan tekanan
diastolik menunjukkan fase darah kembali ke dalam jantung (Depkes, 2006).

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

2.2 Epidemiologi Hipertensi Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang mengganggu
2.2 Epidemiologi Hipertensi
Hipertensi
adalah
suatu
gangguan
pada
sistem
peredaran
darah
yang
mengganggu kesehatan masayarakat. Umumnya, terjadi pada manusia yang berusia
setengah baya (> 40 tahun). Namun banyak yang tidak menyadari bahwa mereka
menderita
hipertensi
akibat
gejalanya
tidak
nyata.
Pada
stadium
awal,
belum
menimbulkan gangguan
yang serius. Sekitar 1,8% - 28,6% penduduk dewasa
penderita hipertensi. Prevalensi hipertensi di seluruh dunia diperkirakan antara 15-
20% (Depkes, 2006).
Prevalensi hipertensi lebih besar ditemukan pada pria, daerah perkotaan,
daerah pantai dan orang gemuk. Pada usia setengah baya dan muda, hipertensi ini
lebih banyak menyerang pria daripada wanita. Pada golongan umur 55-64 tahun,
penderita hipertensi pada pria dan wanita sama banyak. Pada usia 65 tahun ke atas,
penderita hipertensi wanita lebih banyak daripada pria (Depkes, 2006). Penelitian
epidemiologi membuktikan bahwa tingginya tekanan darah berhubungan erat dengan
kejadian penyakit jantung. Sehingga pengamatan pada populasi menunjukkan bahwa
penurunan tekanan darah dapat menurunkan terjadinya penyakit jantung (Depkes,
2006). Seseorang penderita hipertensi mempunyai resiko terserang penyakit jantung
koroner 5 kali lebih besar (Depkes, 2006).
2.3 Klasifikasi Hipertensi
Tekanan sistolik dan diastolik dapat bervariasi pada tingkat individu. Namun
disepakati bahwa hasil pengukuran tekanan darah yang sama atau lebih besar dari
140/90 mmHg adalah hipertensi (WHO, 1999 dan JNC, 2003). Hipertensi menurut
WHO-ISH tahun 1999 dapat dilihat pada tabel 2.1

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi menurut WHO-ISH tahun 1999 Kategori Tekanan Sistolik (mmHg) Tekanan Diastolik (mmHg)
Tabel 2.1 Klasifikasi hipertensi menurut WHO-ISH tahun 1999
Kategori
Tekanan Sistolik
(mmHg)
Tekanan Diastolik
(mmHg)
Optimal
<120
<80
Normal
<130
<85
Normal tinggi
130-139
85-89
Grade 1 Hypertension
140-159
90-99
Sub group: Borderline
140-149
90-94
Grade 2 Hypertension
160-179
100-109
Grade 3
≥180
≥110
Isolated Systolic Hypertension
≥140
<90
Sub group: Borderline
140-149
<90
Table 2.2 Klasifikasi menurut The Joint national Committee on Detection,
Evaluation, and Treatment of High Blood Preassure (JNC-VI) adalah sebagai berikut
:
Kategori
Tekanan Sistolik
(mmHg)
Tekanan Diastolik
(mmHg)
Normal
<130
< 85
Normal Tinggi
130-139
85-89
Hipertensi
Tingkat I
140-159
90-99
Tingkat 2
160-179
100-109
Tingkat 3
≥ 180
≥ 110
Berdasarkan
hasil
berbagai
studi
eksperimental,
kriteria
operasional
hipertensi yang disepakati oleh para ahli adalah TDS ≥ 140 mmHg atau TDD ≥ 90
mmHg (MacMahon, 1990;WHO, 1996; Brown dan Haydock, 2000). Kriteria ini
digunakan secara luas di seluruh dunia, meskipun TDS (tekanan darah sistolik) 140
mmHg bukanlah nilai batas hipertensi pada semua penderita dewasa. Karena nilai
batas tersebut ternyata dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin secara independen
(Port,
et
al.,
1999).
Studi
Farmingham
menemukan
bahwa
kriteria
hipertensi
meningkat sesuai peningkatan umur dan TDS wanita meningkat lebih cepat daripada
pria (Kodim, 2004).
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dibedakan menjadi 2 golongan,
hipertensi essensial atau primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi esensial (primer),
merupakan tipe paling umum, yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

(idiopatik). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi essensial sedangkan 10% tergolong hipertensi
(idiopatik). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi essensial
sedangkan
10%
tergolong
hipertensi
sekunder.
Sedangkan
hipertensi
sekunder
memiliki atribut patologis. 10% penderita hipertensi adalah hipertensi sekunder.
Penyebab umum hipertensi sekunder adalah kelainan ginjal (penyempitan arteri
ginjal/penyakit parenkim ginjal), kelenjar endokrin, berbagai obat, disfungsi organ,
tumor dan kehamilan hipertensi, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit
kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme) (Depkes, 2006).
2.4 Cara Pengukuran Tekanan Darah
Teknik pengukuran yang tepat dan teliti juga harus diperhatikan. Terdapat
dua cara pengukuran yaitu pengukuran oleh dokter atau petugas kesehatan di sarana
pelayanan kesehatan dan pengukuran sendiri di rumah baik dengan alat konvensional
maupun dengan ambulatory blood pressure monitoring (ABPM). Hipertensi tidak
dapat
didiagnosis
berdasarkan
pengukuran
tunggal.
Penemuan
kenaikan
pada
pembacaan pertama harus dipastikan paling sedikit dua kunjungan berikutnya pada
satu atau beberapa minggu dengan nilai rata-rata tekanan diastolic 90 mmHg dan
sistolik 140 mmHg/lebih (Lubis, 1989 dan Kaplan 1994).
Table 2.3 Rekomendasi Untuk Tindak Lanjut Tekanan Darah Pengukuran Pertama
(JNC VII, 2003)
Tekanan Sistolik
(mmHg)
Tekanan Diastolik
(mmHg)
Pemeriksaan Lanjutan
<130
< 85
Periksa ulang dalam 2 tahun
130-139
85-89
Periksa ulang dalam 1 tahun
140-159
90-99
Periksa dalam 2 bulan
160-179
100-109
Periksa dan obati dalam 1 bulan
≥ 180
≥ 110
Pastikan dan obati dalam 1 minggu
Teknik pengukuran yang direkomendasikan oleh JNC VI adalah sebagai
berikut. Penderita harus duduk dengan penyangga lengan, bersandar dan sejajar

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

dengan letak jantung. Penderita tidak boleh merokok dan minum kopi 30 menit sebelum pengukuran. Pengukuran
dengan letak jantung. Penderita tidak boleh merokok dan minum kopi 30 menit
sebelum pengukuran. Pengukuran dimulai setelah penderita istirahat selama 5 menit.
Ukuran manset harus sesuai dengan lengan penderita yang paling sedikit 80% lebar
manset harus dapat menutupi lingkar lengan. Tekanan sistolik adalah tekanan darah
saat terdengan bunyi pertama (korotkoff I), sedangkan tekanan diastolic adalah
tekanan darah saat bunyi menghilang (korotkoff V). Pembacaan dilakukan 2 kali/
lebih dengan waktu antara 2 menit (JNC VI, 1996).
2.5 Patofisiologi
Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tekanan perifer. Faktor
genetik, aktivasi syaraf simpatis, faktor hemodinamik, metabolisme natrium, faktor
renin, angiotensin, dan aldosteron merupakan faktor-faktor yang telah dibuktikan
mempunyai kaitan dengan peningkatan tekanan darah pada hipertensi (Soeparman et
al., 1994 ; Kaplan, 1990). Pada lanjut usia, perubahan struktural dan fungsional pada
pembuluh perifer bertanggung jawab terhadap perubahan tekanan darah. Perubahan
tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan
dalam relaksasi otot polos pembuluh darah yang pada gilirannya menurunkan
kemampuan distensi dan daya tegang pembuluh darah (Smeltzer S. & Bare B, 2001).
2.6 Diagnosa Hipertensi
Diagnosa hipertensi ditegakkan berdasarkan anamesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang. Anamnesis meliputi keluhan yang sering dialami, lama
hipertensi, ukuran tekanan darah selama ini, riwayat pengobatan dan kepatuhan
berobat, gaya hidup, riwayat penyakit penyerta dan riwayat keluarga. Pemeriksaan

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

fisik terdiri atas pengukuran tekanan darah, pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus organ serta funduskopi (Zulkhair,
fisik terdiri atas pengukuran tekanan darah, pemeriksaan umum dan pemeriksaan
khusus organ serta funduskopi (Zulkhair, 2000).
Peninggian tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya tanda klinis
hipertensi esensial, sehingga diperlukan pengukuran tekanan darah secara akurat.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingginya tekanan darah adalah : faktor
pasien, faktor alat dan tempat pengukuran. Agar didapat pengukuran yang akurat,
sebaiknya pengukuran dilakukan setelah pasien beristirahat dengan cukup, minimal
setelah 5 menit berbaring dan dilakukan pada posisi berbaring, duduk dan berdiri
sebanyak
3-4
kali
pemeriksaan,
dengan
interval
antara
5-10
menit.
Tempat
pemeriksaan dapat pula mempengaruhi hasil pengukuran. Pengukuran di tempat
praktek, biasanya mendapatkan hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
pengukuran di rumah. Hasil pengukuran lebih tinggi di tempat praktek disebut office
hypertension. Mengingat hal tersebut di atas, untuk keperluan follow up pengobatan
sebaiknya dipakai pegangan hasil pengukuran tekanan darah di rumah. Pengukuran
yang pertama kali belum dapat memastikan adanya hipertensi, akan tetapi dapat
merupakan petunjuk untuk dilakukan observasi lebih lanjut (id.novartis.com).
2.7 Gejala Klinis Hipertensi
Sekitar 50% penderita hipertensi tidak menyadari bahwa tekanan darah
mereka meniggi. Selain tidak adanya gejala pada orang tersebut, juga disebabkan
oleh sikap acuh tak acuh dari penderita tersebut. Oleh karena itu amat sulit
memotivasi penderita untuk minum obat, apalagi untuk jangka panjang, sedang
penderita tidak merasakan sesuatu gangguan kesehatan. Gejala baru timbul sesudah
terjadi komplikasi pada organ target seperti ginjal, mata, otak, dan jantung. Gejala

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

klihis dapat berupa rasa lelah, sukar tidur, pusing, sakit kepala, gangguan fungsi ginjal, gangguan penglihatan,
klihis dapat berupa rasa lelah, sukar tidur, pusing, sakit kepala, gangguan fungsi
ginjal, gangguan penglihatan, gangguan serebral atau gejala akibat pendarahan
pembuluh darah otak berupa kelumpuhan, gangguan kesadaran bahkan sampai koma.
Penelitian di klinik hipertensi di Paris pada penderita hipertensi yang tidak diobati
ditemukan gejala sakit kepala (40,5%), palpitasi (28,5%), nokturia (20,4%), migren
(20,8%), dan tinnitus (13,8%) (Kaplan,1994).
Ada gejala klinis yang tidak boleh diabaikan karena berhubungan dengan
organ-organ (Smith, 1991 dalam Wahyuni 2000), yaitu serangan pusing, kekakuan,
kehilangan keseimbangan, sakit kepala pagi hari, penglihatan memburuk yang
semuanya secara bersama-sama menunjukkan ada masalah dengan peredaran darah
di otak, kelumpuhan anggota badan, khususnya sebelah badan atau salah satu bagian
muka atau salah satu bagian tangan, kemampuan bicara menurun dan dapat menjadi
peringatan adanya stroke yang jika diobati dapat dicegah, terengah-engah pada waktu
latihan jasmani, dengan rasa sakit pada dada yang menjalar ke rahang, lengan,
punggung atau perut bagian atas menjadi tanda permulaan angina, susah bernapas,
sehingga merasa lebih mudah bernapas jika tidak berbaring datar, dengan gembung
pada kaki, dapat menjadi tanda lain yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi,
kegagalan jantung, dan sering bangun tiap malam untuk buang air kecil dan lebih
banyak serta sering mengeluarkan urin selama siang hari dapat menjadi tanda
pertama gangguan ginjal.
2.8 Masalah Hipertensi
Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala
yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak) dan penyakit

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung). Dengan target organ di otak yang berupa stroke, hipertensi
jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung). Dengan target organ di otak yang
berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang membawa kematian
yang tinggi (Bustan, 2000). Sekitar 50% penderita hipertensi tidak menyadari adanya
hipertensi
sehingga
penderita
yang
dapat
diobati
dalam
arti
hipertensinya
terkendalikan dengan baik, hanya sekitar 10-12% (Rahardjo, 1991).
Keadaan hipertensi menekankan jantung bekerja lebih berat untuk memompa
darah,
volume
jantung
membesar
dan
dinding
menipis
sehingga
akhirnya
menyebabkan gagal jantung, dan terhadap organ mata menyebabkan pendarahan
pada mata sehingga buta dan gangguan lainnya. Komplikasi lain dari hipertensi yaitu
pendarahan,
infark
cerebral,
pendarahan
pembuluh
darah
otak
yang
berupa
kelumpuhan,
gangguan
kesadaran
bahkan
sampai
koma,
trombosis,
retinopati
hipertensif pada mata, nefrosklerosis pada ginjal dan kegagalan faal ginjal (Sadana,
1994; Sidabutar, et.al, 1990).
Masalah utama hipertensi adalah bahwa > 90% hipertensi termasuk golongan
esensial, yaitu yang tidak atau belum diketahui sebabnya.,75% termasuk hipertensi
ringan (diastolik 90-105 mmHg) dan bila digabung dengan hipertensi sedang (105-
115 mmHg) berjumlah > 90% penderita. Keadaan ini mempunyai kaitan dengan
kebijaksanaan tatalaksana terapinya, karena menyangkut jumlah populasi yang besar
dan beban masyarakat yang berat bila terapi tidak direncanakan dengan sesakma
(Rahardjo, 1991).
2.9 Penyebab Hipertensi
Hipertensi digolongkan sebagai penyakit kultur, yaitu penyakit yang terkait
dengan pola hidup kurang gerak (sedentary life style) dan pola makan siap saji yang

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

mengandung lemak, protein, dan garam tinggi namun rendah serat (dietary fiber) (Nadesul, 2005). Faktor-faktor yang
mengandung lemak, protein, dan garam tinggi namun rendah serat (dietary fiber)
(Nadesul, 2005). Faktor-faktor yang menyebabkan hipertensi terbagi menjadi dua
bagian yaitu faktor yang dapat dikontrol dan faktor yang tidak dapat dikontrol.
Faktor yang dapat dikontrol antara lain obesitas, dislipidemia, stres, aktivitas fisik,
merokok, konsumsi garam yang berlebihan, dietetik, kebiasaan makan, dan konsumsi
alkohol. Faktor yang tidak dapat dikontrol antara lain umur, jenis kelamin, keturunan
(Hull, 1996; Janssen, et.al, 2002; Karyadi 2000; Bustan & Nur 1999; Sadana 1994),
dan pemakaian pil kontrasepsi pada wanita (Bustan & Nur 1999). Faktor-faktor yang
menyebabkan hipertensi lainnya yaitu suku, kebiasaan berolahraga, dan pendidikan
(Sadana, 1994). Kemudian menurut Kamso (2000), hiperensi berhubungan dengan
perubahan komposisi tubuh, asupan makanan, dan
faktor emosi (Kusmana, 1997)
dan
gaya
hidup.
Meningkatnya
kematian
akibat
dari
penyakit
kardiovaskuler
menurut beberapa ahli dan studi sangat berhubungan dengan perubahan pola makan,
gaya hidup dan faktor stres (Suwandono & Ni Ketut, 1998). Sementara Edi S.N
(1996)
mengatakan
bahwa
faktor
yang
berpengaruh
terhadap
berkembangnya
hipertensi
adalah
resultansi
dari
beberapa
faktor
yakni
umur,
jenis
kelamin,
keturunan, obesitas, konsumsi garam, alkohol, pemakaian kontrasepsi, geografik dan
lingkungan
(Azwar,
1999).
Berhubung
lebih
dari
90%
penderita
hipertensi
digolongkan atau disebabkan oleh hipertensi primer, maka secara umum yang
disebut hipertensi adalah hipertensi primer (essensial).
2.10 Faktor-Faktor Resiko Hipertensi
1. Faktor Demografi
a. Umur

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

Pada umumnya tekanan darah naik dengan bertambahnya umur terutama setelah umur 40 tahun (Depkes, 2006).
Pada umumnya tekanan darah naik dengan bertambahnya umur terutama
setelah umur 40 tahun (Depkes, 2006). Sejalan dengan proses pertambahan umur,
resiko seseorang terkena penyakit kardiovaskular meningkat. Hal ini dikarenakan
efisiensi sistem kardiovaskular mengalami penurunan dan masalah-masalah yang
berhubungan dengan fungsi sistem tersebut (Black, 1992; Patel, 1995). Survei
epidemiologi menunjukkan bahwa umur merupakan satu dari prediktor terkuat
terjadinya
penyakit
kardiovaskular termasuk
hipertensi.
Faktor
resiko
penyakit
hipertensi berkembang setelah umur mencapai 45 tahun (Black, 1992).
Tekanan sistole yang cenderung naik seiring pertambahan usia menjadi
penyebab besarnya prevalensi hipertensi pada usia di atas 40 tahun. Peningkatan
tekanan sistolik ini terjadi diawali dengan terjadinya kekakuan pembuluh darah arteri
yang
belum
berbahaya
(Kannel,
1990).
Menurut
Gutewiller
et
al.,
dengan
bertambahnya umur, secara perlahan-lahan akan menghilang kemampuan jaringan
tubuh untuk memperbaiki /mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya, sehingga akan makin banyak timbul distorsi metabolik dan struktural,
yang
disebut
sebagai
penyakit
degeneratif,
termasuk
salah
satunya
hipertensi
(Darmodjo, 1999). Orang dengan tekanan darah normal pada usia 55 tahun, 90 %
akan berkembang menjadi hipertensi pada 25 tahun ke depan (US Departement
Health & Human Services, 2003).
Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan bertambahnya umur,
resiko tekanan hipertensi menjadi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi di
kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar di atas
65 tahun. Pada usia lanjut, hipertensi terutama ditemukan hanya berupa kenaikan
tekanan darah sistolik. Sedangkan menurut WHO memakai tekanan diastolik sebagai

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

bagian tekanan yang lebih tepat dipakai dalam menentukan ada tidaknya hipertensi. Tingginya hipertensi sejalan dengan
bagian tekanan yang lebih tepat dipakai dalam menentukan ada tidaknya hipertensi.
Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur, disebabkan oleh perubahan
struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen menjadi lebih sempit dan
dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku, sebagai akibat adalah meningkatnya
takanan darah sistolik (Depkes, 2006).
Prevalensi hipertensi di Indonesia pada golongan umur di bawah 40 tahun
masih berada di bawah 10%, tetapi di atas umur 50 tahun angka tersebut terus
meningkat mencapai 20% hingga 30%, sehingga ini sudah menjadi masalah serius
untuk diperhatikan (Depkes, 2000). Penelitian yang dilakukan di 6 kota besar seperti
Jakarta, Padang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Makasar terhadap usia lanjut
(55-85 tahun), didapatkan prevalensi hipertensi sebesar 52,5% (Kamso, 2000).
Kelleher, (1992) mendapatkan prevalensi hipertensi pada lansia sebesar 40%. Pada
NHANES III (The third national Health and Nutrition Examination Survey), dimana
telah diadakan sebuah penelitian dengan mengambil populasi warga sipil US yang
noninstitusional sebanyak 9901 orang yang berusia 18 tahun keatas atau lebih,
menghasilkan keadaan bahwa prevalen hipertensi meningkat bersamaan dengan
meningkatnya umur dalam setiap jenis kelamin dan ras (He, Jiang and Whelton, Paul
K, 1997).
b. Jenis Kelamin
Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih
banyak yang menderita hipertensi dibandingkan dengan wanita, dengan rasio sekitar
2,29 untuk kenaikan tekanan darah sistolik dan 3,76 untuk kenaikan tekanan darah
diastolik. Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

tekanan darah dibandingkan dengan wanita. Namun, setelah memasuki menopause, prevalensi hipertensi pada wanita tinggi.
tekanan darah dibandingkan dengan wanita. Namun, setelah memasuki menopause,
prevalensi hipertensi pada wanita tinggi. Bahkan setelah usia 65 tahun, terjadinya
hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh
faktor hormonal. Penelitian di Indonesia angka prevalensi yang lebih tinggi terdapat
pada wanita (Depkes, 2006). Laki-laki disebutkan mempunyai resiko menderita
hipertensi lebih besar dari perempuan (Fisher & Williams, 2005). Hal ini disebabkan
karena
pekerjaan
dan
perilaku
perempuan
dianggap
lebih
tidak
beresiko,
dan
berperilaku sehat (Matlin, 1999). Selain itu pria diduga memiliki gaya hidup yang
cenderung dapat meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan wanita (Karyadi,
2002). Selain itu angka istirahat jantung dan indeks kardiak pada pria lebih rendah
dan
tekanan
peripheralnya
lebih
tinggi
jika
dibandingkan
dengan
perempuan
pramonopouse pada level tekanan arteri yang sama. Pria juga merespon suatu latihan
beban
dengan
kenaikan
tekanan
arteri
lebih
besar.
Setelah
manapouse
tidak
ditemukan perbedaan hemodinamik antara perempuan sehingga prevalen hipertensi
tidak jauh berbeda (Masserli, 1997). Hal ini ditunjukkan ketika tekanan darah diukur
melalui ambulatory monitoring selama 24 jam, hasil menunjukkan bahwa tekanan
darah laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, pada kelompok umur yang sama.
Akan tetapi setelah monopouse tekanan darah perempuan akan meningkat, bahkan
jauh
lebih
tinggi
daripada
laki-laki
(http://hyper.ahajornals.org/hypertension–
abstracts reckelhoff 37 (5) 1199.htm). Bahkan setelah usia 65 tahun, terjadinya
hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh
faktor hormonal (Pratiwi, 2004).
Hasil
penelitian
Boedhi
Darmojo,
dkk
tahun
1989
menemukan
bahwa
prevalen hipertensi pada perempuan (16,0%) lebih besar daripada laki-laki (13,6%).

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

Begitu pula di berbagai daerah di Indonesia ditemukan bahwa perempuan mempunyai prevalen hipertensi lebih besar
Begitu
pula
di
berbagai
daerah
di
Indonesia
ditemukan
bahwa
perempuan
mempunyai prevalen hipertensi lebih besar daripada laki-laki (Darmojo, 1994). Para
peneliti
menghubungkan
hal
tersebut
terhadap
penurunan
hormone
estrogen
sepanjang monopouse yang dimulai setelah umur mencapai kira-kira 50 tahun.
Estrogen dihubungkan dengan tingkat HDL yang lebih tinggi dan LDL yang lebih
rendah (Soeharto, 2002).
c. Keturunan
Salah
satu
faktor
hipertensi
esensial
adalah
tingginya
peranan
faktor
keturunan
yang
mempengaruhi.
Ini
dapat
terlihat
antara
lain
dengan
adanya
penggolongan hipertensi berdasarkan pada anggota keluarga derajat pertama (orang
tua,
saudara
sekandung,
anak).
Orang
yang
ada
kejadian
hipertensi
dalam
keluarganya mempunyai resiko untuk mendapat hipertensi lebih besar daripada yang
tidak mempunyai hipertensi dalam keluarganya (Darmojo, 1994). Tentunya faktor
genetik
ini
juga
dipengaruhi
faktor-faktor
lingkungan
lain,
yang
kemudian
menyebabkan sesorang menderita hipertensi. Faktor genetik juga berkaitan dengan
metabolisme pengaturan garam dan renin membran sel (Depkes, 2006). Menurut
Davidson bila kedua orang tuanya menderita hipertensi maka sekitar 45% akan turun
ke anak-anaknya dan bila salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka
sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya (Depkes, 2006).
Dari hasil penelitian, diungkapakan bahwa jika seseorang mempunyai orang
tua yang salah satunya menderita hipertensi maka orang tersebut mempunyai resiko
lebih besar untuk terkena hipertensi daripada orang yang kedua orang tuanya normal
(tidak hipertensi). Kaplan, 1983 menyatakan bahwa kemungkinan untuk menderita

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

hipertensi pada seseorang yang orang tuanya mempunyai riwayat hipertensi sebesar 2 kali lipat dibandingkan dengan
hipertensi pada seseorang yang orang tuanya mempunyai riwayat hipertensi sebesar
2 kali lipat dibandingkan dengan orang lain yang tidak mempunyai riwayat hipertensi
pada orang tuanya. Abdulrochim, 1982 menyatakan bahwa kembar monocygot
menunjukkan korelasi yang tinggi, baik tekanan sistolik maupun diastolik bila
dibandingkan dengan anggota keluarga lain.
Hasil
penelitian
pada
514
individu
yang
berasal
dari
135
keluarga
di
Chuvasha, Rusia menunjukkan bahwa variasi tekanan darah sistolik dan tekanan
darah
diastolik
dipengaruhi
oleh
faktor
genetik
(http://hyper.ahajornals.org/
hypertension – abstracts Livshits and Gerber 37 (3) 928.htm). Berdasarkan penelitian
dr. Daniel S Seidman dari rumah sakit CarmelHaifa-Israel, pada 11.428 anak laki-
laki
dan
perempuan
berusai
17
tahun,
yang
disampaikan
pada
pertemuan
perkumpulan international untuk studi hipertensi pada masa kehamilan di Seatle, AS,
bulan Agustus 2000, didapatkan hasil bahwa anak laki-laki yang ibunya menderita
darah tinggi ketika mengandung, mempunyai hampir dua kali lipat kemungkinan
terkena darah tinggi (http://www.kompas.com/9609/22/IPTEK/hipe.htm).
d. Suku / Golongan Etnik
Berbagai golongan etnik dapat berbeda dalam kebiasaan makan, genetika,
gaya
hidup,
dan
sebagainya
yang
dapat
mengakibatkan
angka
kesakitan
dan
kematian (Sutrisna, 1994). Pada kelompok orang dewasa di Amerika, kenaikan
tekanan darah seiring umur dijumpai lebih banyak pada orang berkulit hitam
daripada orang kulit putih (Kaplan, 1994). Besar variasi antar suku di Indonesia,
Lembah Baliem Jaya (0,6 %), Sukabumi, Jawa Barat (28,6%) (Darmojo, 1994).

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

e. Status Sosial Ekonomi Hipertensi dikenal juga sebagai ”heterogeneous group of disease” karena dapat menyerang
e. Status Sosial Ekonomi
Hipertensi dikenal juga sebagai ”heterogeneous group of disease” karena
dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok umur dan sosial ekonomi
(Astawan, 2005). Menurut Sutrisna (1994), yang dimaksud status sosial ekonomi
yaitu tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan status perkawinan. Hal tersebut dapat
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan, maka
tidak mengherankan jika ada perbedaan-perbedaan dalam angka kesakitan atau
kematian antara berbagai kelas sosial. Status sosial ekonomi seseorang, dapat
mempengaruhi munculnya hipertensi, seperti misalnya pekerjaan, jumlah anggota
dalam keluarga dan kepadatan penduduk (Fisher & Williams, 2005). Sementara
Matlin menambahkan dengan pendidikan, pendapatan, dan kebanggan (prestise)
keluarga. Stress sosial ekonomi merupakan prediktor yang paling baik untuk umur
harapan hidup, kesehatan, dan kesakitan (Matlin, 1999).
Faktor pelayanan kesehatan (pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi serta
faktor perilaku (sikap dan perbuatan, serta adat istiadat) mempengaruhi status
kesehatan masnusia (Blum, 1983). WHO menyebutkan selain melalui perilaku diet,
aktifitas fisik, dan konsumsi alkohol, tingkat sosial ekonomi berpengaruh terhadap
hipertensi melalui akses pada fasilitas kesehatan. Akses pada pelayanan kesehatan
yang meliputi program promosi kesehatan, program pencegahan, dan program
pengobatan berpengaruh secara sinergik terhadap hipertensi. Pemanfaatan fasilitas
pelayanan kesehatan ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, jarak dari jalan raya,
pengalaman sebelumnya, umur, dan jumlah aanggota keluarga (Kodim, 2004).
Kualitas
pelayanan
kesehatan
lebih
sering
terpaku
pada
pembiayaan
pelayanan kesehatan. Di Indonesia biaya pelayanan kesehatan atau biaya pelayanan

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

medis makin lama semakin tinggi, dan kenaikan biaya itu akan menjadi baban yang berat selama
medis makin lama semakin tinggi, dan kenaikan biaya itu akan menjadi baban yang
berat selama sistem pembayaran pelayanan medis dibayar oleh pribadi secara tunai
(M.Imam
Basuki
dalam
Wiknjosastro,
1993).
Penelitian
yang
dilakukan
oleh
Moriyana, Krueger dan Stamler (1971) dalam Khairani (2003) menunjukkan bahwa
semakin rendah tingkat pendidikan maka semakin tinggi tekanan darah. Darmojo
(1994) menyatakan bahwa Dyer dkk (1976) dan Marmot (1979) telah melaporkan
bahwa data epidemiologi menunjukkan bahwa tekanan darah mempunyai tendesi
lebih tinggi pada golongan pendidikan sosial ekonomi rendah. Ternyata Kartari dkk
(1988) dalam Darmojo (1994) memang menemukan prevalensi yang tinggi di
kalangan penduduk yang buta huruf (18,9%) tetapi angka yang tertinggi, seperti yang
diharapkan, ditemui pada golongan pekerja administrasi dan manajer (25,0%). Pada
kaum pengangguran ditemukan prevalensi hipertensi sebesar 9,6%.
f. Geografi dan Lingkungan
Pada kebanyakan tempat di dunia dapat dibedakan tiga macam keadaan iklim.
Salah satunya iklim laut dengan sifat khasnya sering terjadi putaran udara karena
kuatnya angin sepanjang pantai yang menyebabkan efek penyejuk pada badan
manusia, dan intensitas yang besar dari sinar radiasi matahari yang terpantul. Sinar
radiasi matahari yang berlebihan dapat menyebabkan kegugupan, hilangnya nafsu
makan, mual, lelah, pusing, dan susah tidur (Slamet, 1998). Terdapat pula perubahan
suhu harian dan musim yang relatif kecil dibandingkan dengan daerah pedalaman,
kelembaban yang lebih besar, dan kadar trace element yang lebih tinggi seperti ozon,
iodium dan megnesium serta kadar renik polusi udara selama angin laut yang kuat
tetap
berhembus
(Karhiwikarta,
1998).
Iklim
pegunungan
(dataran
tinggi)

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

mempunyai kekhususannya pula, yaitu terdapat perbedaan dan lebih intensifnya spektrum radiasi matahari. Di atas 2000
mempunyai kekhususannya pula, yaitu terdapat perbedaan dan lebih intensifnya
spektrum radiasi matahari. Di atas 2000 m bahkan gelombang 278 mµ, yaitu sinar
ultraviolet,
dapat
mencapai
badan
kita.
Radiasi
ultraviolet
yang
kuat,
dapat
menyebabkan bertambahnya sekresi asam lambung, kalsium dan fosfat serum darah.
Cekaman cuaca dingin menyebabkan kenaikan produksi 17 ketosteroid oleh korteks
kelenjar
adrenal
dan
meningginya
daya
resistensi,
sedangkan
cuaca
panas
menyebabkan kadar 17-ketosteroid rendah, dan merendahkan pula resistensi tubuh
(Karhiwikarta, 1998).
Berbagai reaksi fisiologis dan bahkan gejala patologis tubuh dapat terjadi
karena perubahan cuaca. Sehubungan dengan hal ini penting pengaruh cuaca pada
daya tahan setempat (local resistance) maupun umum terhadap penyakit infeksi.
Daya tahan setempat yang berupa resistensi pembuluh darah kapiler misalnya,
menurun (permeabilitas bertambah) setelah adanya aliran udara panas (heat sterss)
dan sebaliknya bertambah setelah adanya aliran dingin. Daya tahan umum yang
berupa perubahan kimia darah kemungkinan ada hubungannya dengan perubahan
pola makanan sesuai dengan musim (Karhiwikarta, 1998). Daya tubuh seseorang
sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi, aktivitas, dan istirahat. Dalam hidup modern
yang penuh kesibukan juga membuat orang kurang berolahraga dan berusaha
mengatasi stresnya dengan merokok, minum alkohol, atau kopi sehingga daya tahan
tubuh menjadi menurun dan memiliki resiko terjadinya penyakit hipertensi.
Kuhnke
(1956)
dalam
Karhiwikarta,
1998.
di
Jerman
telah
mencoba
menghubungkan gejala-gejala tadi dengan keadaan atmosfir beserta perubahan-
perubahannya
di
satu
pihak
dan
situasi
cuaca umumnya
di
pihak
lain.
Pada
kombinasi keadaan atmosfir dan situasi cuaca tertentu secara empiris statistis

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

terdapat gejala yang menonjol dari kelelahan umum dan kelelahan subjektif seperti keluahan penyakit jantung dan
terdapat gejala yang menonjol dari kelelahan umum dan kelelahan subjektif seperti
keluahan penyakit jantung dan peredaran darah, keadaan spasme dan kolik, peristiwa
kematian, infark jantung, peninggian peristiwa ke arah perdarahan, perlambatan
waktu reaksi dan bertambahnya angka kecelakaan Dari hasil-hasil tersebut, terutama
dipandang dari masalah kemampuan kerja, Kuhnke dan Schulze (1962) dalam
Karhiwikarta, 1998 menyimpulkan terdapat tiga jenis situasi cuaca di Eropa Tengah
yaitu salah satunya situasi yang jelas mengakibatkan penurunan fungsi-fungsi tubuh,
yaitu keadaan cuaca yang umumnya disertai dengan pengaruh (adveksi) yang kuat
dari udara tropik. Pada situasi cuaca ini didapat presentase tinggi dari penduduk
merasa lemah dan lelah disertai berkurangnya keinginan kerja dan konsentrasi,
terutama jenis kerja yang memerlukan usaha lama.
Lehman (1964) dalam Karhiwikarta, 1998 menekankan bahwa rendahnya
prestasi kerja penduduk tropis bukanlah suatu hal yang berhubungan dengan bakat
pemalas (indolen), karena dapat pula dialami oleh kaum pendatang yang tinggal lama
di daerah tropis. Sebab primernya adalah menurunnya kebugaran jasmani atau
kapasitas kerja fisik dan daya aklimatisasi (adaptasi) sebagai akibat terbatasnya gerak
atau aktivitas fisik karena pengaruh iklim panas dan lembab. Namun diingatkan pula
bahwa keadaan tersebut dalam jangka waktu lama dapat pula mempengaruhi mental
psikologis, sosial-budaya, dan ekonomis.
Secara
alamiah
manusia
berinteraksi
dengan
lingkungannya.
Manusia
bernapas udara sekitarnya setiap detik. Makanan manusia diambil dari sekitarnya,
demikian
pula minuman,
pakaian,
dan
lain
sebagainya.
Tergantung
dari
taraf
budayanya,
manusia
dapat
sangat
erat
atau
kurang
erat
hubunganya
dengan
lingkungan. Natrium merupakan salah satu parameter kimiawi syarat air minum.

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

Natrium elemental (Na) sangat reaktif, karenanya bila berada di dalam air akan terdapat sebagai suatu
Natrium elemental (Na) sangat reaktif, karenanya bila berada di dalam air akan
terdapat sebagai suatu senyawa. Natrium sendiri bagi tubuh tidak mrupakan benda
asing, tetapi toxixitasnya tergantung pada gugus senyawanya. Seperti NaOH atau
hidrixida Na ini sangat korosif, tetapi NaCl justru dibutuhkan oleh tubuh (Slamet,
2000).
Prevalensi hipertensi pada penduduk di daerah pentai lebih tinggi daripada
penduduk di daerah pegunungan atau pedalaman. Prevalensi hipertensi pada orang-
orang yang melakukan migrasi akan sangat berbeda dengan prevalensi hipertensi di
daerah asalnya (Abdulrochim, 1982; Bustan, 2000). Terdapatnya perbedaan keadaan
geografis,
dimana
daerah
pantai
lebih
berisiko
terjadinya
penyakit
hipertensi
dibading dengan daerah pegunungan, karena daerah pantai lebih banyak terdapat
natrium bersama klorida dalam garam dapur sehingga konsumsi natrium pada
penduduk pantai lebih besar dari pada daerah pegunungan (Slamet, 2000). Garam
sangat berperan dalam patofisiologi hipertensi. Pada penduduk yang mengkonsumsi
garam minimal (< 3 gr/hr) hipertensi hampir tidak pernah ditemukan, sedangkan
pada penduduk yang mengkonsumsi garam antara 5–15 gr/hr prevalensi hipertensi
meningkat menjadi 15-20 %. Dengan demikian dapat dijelaskan kenapa masyarakat
pantai
mempunyai
resiko
yang
lebih
tinggi
terkena
hipertensi
dibandingkan
masyarakat pegunungan (Soeparman,et al., 1994).
2. Faktor Status Kesehatan
a. Kegemukan (Obesitas)
Rasio berat terhadap tinggi badan mengindikasikan berat badan yang terkait
dengan tinggi badan. Rasio ini berguna untuk mengukur gizi lebih dan obesitas

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

dalam populasi orang dewasa. Selanjutnya rasio ini terkadang mengarah pada indikator obesitas (Gibson, 2005). Seseorang
dalam populasi orang dewasa. Selanjutnya rasio ini terkadang mengarah pada
indikator obesitas (Gibson, 2005). Seseorang dikatakan kelebihan berat badan atau
kegemukan apabila berat badanya melebihi 10-20 % dari berat badan normal
(Soeharto, 2004). Obesitas akan menambah beban kerja jantung. Keadaan ini
meningkatkan resiko terjadinya tekanan darah tinggi, kencing manis, dan kolesterol
(Depkes, 2006). Obesitas adalah persentase abnormalitas lemak yang dinyatakan
dalam IMT yaitu perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan dalam meter
kuadrat (Kaplan & Stamler, 1991). Kaitan erat antara kelebihan berat badan dan
kenaikan tekanan darah telah dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan IMT
berkolerasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik.
Kelebihan berat badan dan obesitas adalah problem kesehatan yang paling
sering pada masyarakat maju atau bisa disebut orang yang mampu, namun bukan
berarti
masyarakat
sosial
ekonomi
rendah
terlepas
dari
masalah
ini.
Menurut
penelitian di Australia obesitas mengakibatkan 2/3 penyakit diabetes tipe 2 dan
mengakibatkan 1/3 jumlah penderita hipertensi. Orang obesitas juga diperkirakan
akan meninggal dua kali lebih cepat dari orang dengan berat badan normal (State
Goverment of Victoria, 2004 dalam Depkes RI 2006).
Dari hasil penyelidikan epidemiologi terbukti bahwa obesitas merupakan ciri
khas
pada
populasi
hipertensi
(Soeparman
et.al.,
1994).
Obesitas
mempunyai
hubungan
yang
erat
dengan
prevalens
hipertensi
dan
meningkatnya
insidens
hpertensi ketika berat badan bertambah (Kaplan et al., 1990). Mekanisme pasti yang
menjelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi belum ada, namun pada
beberapa penelitian diperoleh bahwa curah jantung dan sirkulasi hipertensi dengan
berat badan normal. Pada obesitas, tekanan perifer berkurang atau normal, aktivitas

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

syaraf simpatis meninggi dan aktivitas renin plasma rendah (Soeparman et al., 1994). Resiko relatif untuk
syaraf simpatis meninggi dan aktivitas renin plasma
rendah (Soeparman et al.,
1994). Resiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih
tinggi dibandingkan dengan seseorang yang berat badannya normal. Sedangkan pada
penderita
hipertensi
ditemukan
sekitar
20-23%
memiliki
berat
badan
lebih
(overweight). Penentuan obesitas pada orang dewasa dapat dilakukan pengukuran
berat badan ideal, pengukuran persentase lemak tubuh dan pengukuran IMT. Pada
studi-studi populasi IMT banyak digunakan untuk mengukur resiko penyakit di
antara orang dewasa (Gibson, 2005). Pengukuran berdasarkan IMT dianjurkan oleh
FAO, WHO, UNU tahun 1985. Nilai IMT dihitung menurut rumus (Depkes, 2006):
IMT = BB dalam kg / TB (dalam m 2 )
Tabel 2.4 Klasifikasi IMT orang dewasa menurut Kriteria WHO (2000)
Klasifikasi
Indeks Massa Tubuh (kg / cm 2 )
Berat Badan Kurang
< 18,5
Normal
18,5 – 24,9
Berat Badan Lebih
25
Pre-Obes
25,0 – 29,9
Obes Tingkat I
30,0 – 34,9
Obes Tingkat II
35,0 – 39,9
Obes Tingkat III
40
Sumber : WHO Technical Series, 2000
Tabel 2.5 Batas ambang IMT di Indonesia
IMT (kg / cm 2 )
Kategori
Keadaan
>17
Kekurangan berat badan tingkat berat
Kurus
17-18,5
Kekurangan berat badan tingkat ringan
Kurus
18,5-25
-
Normal
>25,0->27,0
Kelebihan berat badan tingkat ringan
Gemuk
>27,0
Kelebihan berat badan tingkat berat
Gemuk
Sumber : Dit.Gizi DepKes RI Jakarta, 1994 dalm Depkes, 2006
Tabel batas ambang diatas telah dimodifikasi lagi berdasarkan pengalaman
dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang (Depkes, 2006). Peningkatan
IMT berhubungan dengan peningkatan resiko hipertensi, diabetes mellitus tipe 2,
faktor resiko penyakit kardiovaskular, dan kematian. Tentu saja resiko relative

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

penyakit kardiovaskular beserta factor resikonya menigkat seiring dengan peningkatan level IMT pada semua populasi
penyakit
kardiovaskular
beserta
factor
resikonya
menigkat
seiring
dengan
peningkatan level IMT pada semua populasi (Gibson, 2005). Orang-orang dengan
obesitas mempunyai kelebihan penyimpanan lemak di bawah kulit, dada, dan
abdomen. Lemak merupakan simpanan energi tubuh dan berasal dari makanan yang
mengandung lemak, karbohidrat, dan protein. Jika tubuh tidak membakar kelebihan
kalori, maka tubuh akan menyimpan kelebihan kalori sebagai lemak di dalam tubuh.
Pada orang yang kelebihan berat badan jantung akan bekerja lebih keras untuk
menyuplai darah (Patel, 2005). Jumlah lemak pada laki-laki dewasa rata-rata berkisar
antara 15-20% dari berat badan total dan pada wanita sekitar 20-25 %. Jumlah lemak
pada tubuh seseorang umunya meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, yang
umunya
disebabkan
oleh
semakin
melambatnya
metabolisme
tubuh
dan
berkurangnya aktifitas fisik (Soeharto, 2004).
Kegemukan pada umumnya terjadi karena usia, ketidakseimbangan energi
yang masuk dan yang keluar, genetik, penggunaan pil/injeksi KB, dan psikologis
(Salma & Padri, 2004). Umur memberikan hubungan korelasi positif terhadap indeks
masa tubuh (IMT). Hal ini sejalan dengan penelitian Mawi (2004) dalam Mukhlisa
2007 di Jakarta Utara dan Jakarta Timur yang menunjukkan bahwa setelah usia 50
tahun IMT semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia, baik pada laki-laki
maupun perempuan. Kaplan (2000) menemukan bahwa hanya dengan menurunkan
berat badan, yoga, dan relaksasi otot dapat menurunkan tekanan darah secara
signifikan
Kegemukan adalah faktor resiko hipertensi yang kuat dan independen pada
semua ras dan kelompok sosial ekonomi. Penambahan berat juga memiliki kontribusi
pada banyak peningkatan tekanan darah pada usia lanjut dan kegemukan menjadi

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

salah satu prediksi terbaik resiko dari perkembangan hipertensi. Pada suatu studi kohort didapatkan bahwa responden
salah satu prediksi terbaik resiko dari perkembangan hipertensi. Pada suatu studi
kohort didapatkan bahwa responden dengan kelebihan berat 5 kg, 60% lebih besar
mendapatkan resiko relatif terjadinya hipertensi dibandingkan responden
tidak
mempunyai kelebihan berat badan atau > 2 kg. Pada hasil studi Farmingham,
menunjukkan bahwa kenaikan berat badan 10 kg meningkatakan tekanan darah
sebesar 4,5 mmHg (Kaplan, 2002 dalam Fenida 2003)
b. Diabetes Melitus
Diabetes
mellitus
adalah
penyakit
kronis
karena
tubuh
tidak
dapat
menghasilkan insulin atau hanya sedikit menghasilkan insulin atau menahan insulin
sehingga tidak dapat diproduksi. Akibat dari defisiensi insulin dan kadar gula dalam
darah
meningkat
yang
selanjutnya
dapat
membahayakan
pembuluh
darah.
Sebagaimana diketahui, insulin berfungsi menangkut glukosa ke dalam sel yang
digunakan sebagai sumber energi dan disimpan sebagai glikogen (Patel, 1995;
Andrews; Goldberg; Jonhson, 1996). Insidens diabetes mellitus serupa antara pria
dan wanita serta dapat dijumpai pada segala umur.
Diagnosis DM dapat dipastikan jika terdapat salah satu hasil pemeriksaan
yaitu antara lain apabila terdapat gejala klasik DM dengan kadar glukosa darah
sewaktu e”200 mg/dl, gejala klasisk DM dengan kadar glukosa darah puasa e”126
mg/dl, dan pada tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan hasil pemeriksaan
kadar glukosa darah 2 jam > 200 mg.dl sesudah pemberian beban glukosa 75 g.
Gejala klasik DM yaitu seperti sering kencing, cepat lapar, sering haus, berat badan
menurun cepat tanpa penyebab yang jelas (Depkes, 2006).

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

Perjalanan penyakit diabetes melitus dipengaruhi oleh berbagai faktor resiko yaitu faktor resiko yang tidak dapat
Perjalanan penyakit diabetes melitus dipengaruhi oleh berbagai faktor resiko
yaitu faktor resiko yang tidak dapat diubah (umur, jenis kelamin, keturunan, suku,
dan budaya/adat istiadat), faktor resiko perilaku yang dapat diubah (merokok,
konsumsi alkohol, kurang aktifitas fisik, kurang konsumsi serat, konsumsi lemak
tinggi, dan konsumsi kalori tinggi), faktor resiko lingkungan (kondisi ekonomi
daerah, lingkungan sosial seperti modernisasi, dan status sosial-ekonomi), dan faktor
resiko
fisik
dan
biologi
(obesitas,
hipertensi,
hiperglikemia,
toleransi
glukosa
terganggu, dan dislipidemia) (Depkes, 2006).
Dalam sebuah penelitian kohort prospektif di Dubbo, New South Wales, yang
melibatkan 1233 laki-laki dan 1572 perempuan usia lanjut, diamati dan dilakukan
analisa
survivalnya.
Pada
akhir
penelitan,
peneliti
menyimpulkan
bahwa
berkurangnya waktu survival pada penduduk usia lanjut disebabkan karena merokok,
diabetes, dan hipertensi berat. Hazard rasio diabetes melitus pada laki-laki sebesar
1,61 (95%CI 1,28-2,03) dan pada perempuan sebesar 1,94 (95%CI 1,49-2,53)
(Simon, et.al., 2005). Pada mereka yang berkadar insulin tinggi karena diabetes,
menyulitkan jantung memompa darah karena darah menjadi lebih kental. Akibatnya,
tekanan harus ditingkatkan agar suplai darah tetap terjamin. Lama-lama, jadilah
tekanan darah tinggi permanen. Dallas Heart Disease Prevention Project, yang
dimulai tanggal 1 Juli 2000, telah mewawancara lebih dari 4000 partisipan di kota
Dallas. Dari sejumlah itu, sebanyak 1186 merupakan kasus hipertensi atau tekanan
darah tinggi dan dari sebanyak itu, 417 orang terdiagnosis terkena diabetes. Dari 417
orang itu 73 orang tidak menyadari meningkatnya level
glukosa darah,
yang
menghasilkan penyakit diabetes (Khania, 2002)

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

3. Faktor Perilaku a. Stress Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam,
3. Faktor Perilaku
a. Stress
Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa
lajut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon
adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga
tekanan
darah
meningkat.
Jika
stess
berlangsung
lama,
tubuh
akan
berusaha
mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis.
Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag. Diperkirakan
prevalensi atau kejadian hipertensi pada orang kulit hitam di Amerika Serikat lebih
tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih disebabkan stress atau rasa tidak puas
orang kulit hitam pada nasib mereka (Depkes, 2006).
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya transaksi antara
individu dengan lingkungannya yang mendorong seseorang untuk mempersepsikan
adanya perbedaan antara tuntutan situasi dan sumber daya (biologi, psikologi, sosial)
yang ada pada diri seseorang (Damayanti, 2003). Peningkatan tekanan darah akan
lebih besar pada individu yang mempunyai kecenderungan stress emosional yang
tinggi (Pinzon, 1999). Stress merupakan pengalaman emosional negatif yang dialami
seseorang, yang lebih besar dari kemampuannya untuk beraksi. Stress dapat terjadi
karena adanya bencana atau kehilangan, peristiwa penting dalam hidup atau karena
peristiwa kecil harian (Matlin, 1999). Oleh karena stress, maka tubuh akan bereaksi,
termasuk antara lain berupa ketegangan otot, meningkatnya denyut jantung, dan
menigkatnya tekanan darah. Reaksi ini dipersiapkan tubuh untuk bereaksi secara
cepat, yang apabila tidak digunakan, maka akan dapat menimbulkan penyakit,
termasuk hipertensi (Greenberg, 1999).

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

Dalam penelitian Framingham dalam Yusida tahun 2001 bahwa bagi wanita berusia 45-64 tahun, jumlah faktor
Dalam penelitian Framingham dalam Yusida tahun 2001 bahwa bagi wanita
berusia
45-64
tahun,
jumlah
faktor
psikososial
seperti
keadaan
tegang,
ketidakcocokan perkawinan, tekanan ekonomi, stress harian, mobilitas pekerjaan,
gejala
ansietas
dan
kemarahan
terpendam
didapatkan
bahwa
hal
tersebut
berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan manifestasi klinik penyakit
kardiovaskuler
apapun.
Studi
eksperimental
pada
laboratorium
animals
telah
membuktikan bahwa faktor psikologis stress merupakan faktor lingkungan sosial
yang penting dalam menyebabkan tekanan darah tinggi, namun stress merupakan
faktor resiko yang sulit diukur secara kuantitatif, bersifat spekulatif dan ini tak
mengherankan karena pengolahan stress dalam etikologi hipertensi pada manusia
sudah kontroversial (Henry & Stephens, 1997 dalam Kamso, 2000).
b. Merokok
Merokok merupakan suatu proses pembakaran yang menimbulkan polusi
udara dan secara sadar dihirup dan diserap oleh tubuh manusia (Hoepoedio, 1988).
Rokok mengandung lebih dari 40000 komponen bahan kimia diantaranya adalah
nikotin dan karbonmonoksida. Nikotin dapat menyebabkan kerusakan lapisan dalam
pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah dan kecanduan. Sedangkan karbon
monoksida dapat mengikat Hb darah sehingga tubuh kekurangan oksigen dan dapat
menyebablan penyumbatan pembuluh darah. Rokok mengandung nikotin, yang
merupakan bahan pemberi kenikmatan pada rokok, yang dapat, meningkatkan denyut
jantung, tekanan darah sistolic dan tekanan darah diastolik. Peningkatan denyut
jantung pada perokok terjadi pada menit pertama merokok dan sesudah 10 menit
peningkatan mencapai 30 %. Menurut Winniford (1990) dalam Hasudungan (2002)

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

lebih jauh mengatakan bahwa efek merokok akan meningkatkan kadar asam bebas lemak dalam plasma yang
lebih jauh mengatakan bahwa efek merokok akan meningkatkan kadar asam bebas
lemak dalam plasma yang dapat mengurangi jumlah kadar lemak HDL. Selain itu
merokok juga akan menghadirkan LDL, yang sebagai kolesterol jahat, yang akan
menyebabkan penyempitan arteri akibat terjadinya penumpukan kolesterol pada
dinding arteri dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipertensi. Pada orang
merokok keadaan jantung juga tidak dapat bekerja dengan efisien. Oleh karena itu
seorang
yang
menderita
hipertensi
yang
disertai
dengan
merokok
dan
hiperkolesteromia akan memiliki resiko terkena penyakit jantung koroner 8 kali
(Kannel, 1990 dalam Hasudungan 2002). Farmingham Heart Study menemukan
bahwa merokok menurunkan kadar kolesterol baik (HDL). Penurunan HDL pada
laki-laki rata-rata 4,5 mg/dl dan pada perempuan 6,5 mg/dl. Penelitan yang dilakukan
oleh Lipid Research Program Prevalence Study menunjukkan bahwa mereka yang
merokok dua puluh batang atau lebih per hari, mengalami penurunan kadar HDL
sekitar 11 % pada laki-laki dan 14 % pada perempuan.
Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap
melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel
pembuluh darah arteri, dan mengakibatkan proses arterosklerosis, dan tekanan darah
tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan
adanya arterosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok juga meningkatkan
denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot jantung. Merokok
pada penderita tekanan darah tinggi semakin meningkatkan resiko kerusakan pada
pembuluh darah arteri (Depkes, 2006). Pada perokok, asap rokok mengandung gas
karbon
monoksida
yang
lebih
cepat
mengikat
hemoglobin
dibanding
oksigen.
Akibatnya suplai oksigen yang seharusnya dibawa darah berkurang. Jantung harus

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

meningkatkan daya tekan agar suplai darah bertambah untuk mengangkut kekurangan oksigen. Tekanan tinggi yang
meningkatkan
daya
tekan
agar
suplai
darah
bertambah
untuk
mengangkut
kekurangan oksigen. Tekanan tinggi yang terus-menerus, menyebabkan dinding
pembuluh darah tidak tahan dan terjadilah kerusakan di mana-mana. Pembuluh darah
menjadi tidak beraturan, tebal, mengeras, sehingga terjadi penyumbatan dan tekanan
darah akan semakin meningkat (http://www.kompas.com/9609/22 /IPTEK/hipe.htm)
Perokok
yang
berhasil
meninggalkan
rokok
menghadapi
masalah
yang
berhubungan dengan peningkatan berat badan. Hal ini terjadi karena peningkatan
nafsu makan. Selain itu, orang yang tidak merokok cenderung “mengemil” (Patel,
1995). Sedangkan menurut Kaplan dan Stemler (1994) berhenti merokok sering
meningkatkan berat badan dan meningkatnya tekanan darah bukan karena nikotin,
tetapi karena bertambahnya berat badan. Merokok dapat menurunkan kesukaan pada
makanan sehingga berat badan berkurang dan dengan berhenti maka berat badan
akan meningkat. Dalam sebuah penelitian kohort prospektif di Dubbo, New South
Wales, yang melibatkan 1233 laki-laki dan 1572 perempuan usia lanjut, diamati dan
dilakukan analisa survivalnya. Pada akhir penelitan, peneliti menyimpulkan bahwa
berkurangnya waktu survival pada penduduk usia lanjut disebabkan karena merokok,
diabetes, dan hipertensi berat. Hazard rasio merokok (current smoker) pada laki-laki
sebesar 1,84 (95%CI 1,44-2,35) dan pada perempuan sebesar 1,63 (95%CI 1,24-
2,15) (Simon, et.al., 2005).
c. Alkohol
Meskipun alkohol mempunyai efek positif yaitu berupa vasodilaor, alkohol
juga berkaitan dengan pengentalan lipoprotein. Meskipun sedikit, alkohol dapat
meningkatkan tekanan darah sedangkan penggunaan alkohol yang terus menerus

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

dalam jumlah yang banyak berakibat keracuanan jantung, sclerosis dan fibrosis dalam arteri kecil yang dapat
dalam jumlah yang banyak berakibat keracuanan jantung, sclerosis dan fibrosis
dalam arteri kecil yang dapat menunjukkan adanya micro infark.(Kaplan, 1990;
Soeparman et al., 1994).
Pengaruh
alkohol
terhadap
kenaikan
tekanan
darah
telah
dibuktikan.
Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun,
diduga peningkatan kadar kortisol, dan peningkatan volume sel darah merah serta
kekentalan
darah
berperan
dalam
menaikan
tekanan
darah.
Beberapa
studi
menunjukkan hubungan langsung antara tekanan darah dan asupan alkohol, dan
diantaranya melaporkan bahwa efek terhadap tekanan darah baru nampak apabila
mengkonsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran standar setiap harinya. Di negara
barat seperti Amerika, konsumsi alkohol yang berlebihan berpengaruh terhadap
terjadinya hipetensi. Sekitar 10 % hipertensi di Amerika disebabkan oleh asupan
alkohol yang berlebihan di kalangan pria separuh baya. Akibatnya, kebiasaan
meminum alkohol ini menyebabkan hipertensi sekunder di kelompok usia ini
(Depkes, 2006).
Wasir (1998) menyatakan bahwa berlebihan mengkonsumsi alkohol (>2 gelas
bir/wine/whiskey/hari) merupakan faktor resiko hipertensi. Menurut suatu penelitian,
diluar
efek
usia
hipertensi
lebih
sering
ditemukan
pada
orang
yang
berkulit
hitam/peminum
alkohol.
Pada
penelitian
ini
diketahui
bahwa
asupan
alkohol
mempunyai hubungan dengan hipertensi (Saputra 1998). Dalam suatu penelitian
yang dilakukan oleh Arthur L Klatsky dkk. 1964 terhadap 83.947 penduduk yang
terdiri dari 3 ras suku bangsa, 83,5% adalah kulit putih, menunjukkan bahwa
konumsi alkohol paling sedikit 3 kali sehari merupakan faktor resiko terjadinya
hipertensi (Saputra, 1998). Resiko terkena hipertensi meninggi apabila meminum

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

alkohol lebih dari 3 kali perhari (Kaplan, 1990; Soeparman et.al., 1994). Menurut Mac Mahon (1987)
alkohol lebih dari 3 kali perhari (Kaplan, 1990; Soeparman et.al., 1994). Menurut
Mac Mahon (1987) yang dikutip dari Kaplan (1990), 10 % hipertensi pada laki-laki
disebabkan
oleh
alkohol.
Pengurangan
konsumsi
alkohol
10-20
gr/hr
dapat
menurunkan tekanan darah.
d. Aktivitas Fisik
Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan
mengeluarkan tenaga dan energi, yang biasa dilakukan atau rutunitas sehari-hari
sesuai profesi atau pekerjaan. Olahraga adalah aktifitas fisik yang terencana dan
terstruktur
yang
memanfaatkan
gerakan
tubuh
yang
berulang
untuk
mencapai
kebugaran. Aktivitas fisik dalam bentuk olahraga merupakan bentuk pemberian
rangsang berulang pada tubuh. Tubuh akan beradaptasi jika diberi rangsangan secara
teratur dengan takaran dan waktu yang tepat. Aktivitas fisik atau olahraga yang
dilakukan secara teratur berdasarkan kaidah tertensu sudah dapat menimbulkan
adaptasi setelah minimal 4-6 minggu. Bila rangsang diberikan sesuai dan tepat maka
akan terjadi adaptasi lengkap yang berdampak terhadap tingkat kebugaran jasmani
(Depkes, 2006).
Pada usia lanjut terjadi penuruanan massa otot serta kekuatannya, laju denyut
nadi maksimal, toleransi latihan, kapasitas aerobik dan terjadinya peningkatan lemak
tubuh ( Hadi et al., 1992; Whiteboard, 1995). Aktivitas fisik dalam bentuk olahraga
secara teratur memberikan banyak keuntungan bagi para lanjut usia. Keuntungan
tersebut antara lain berkurangnya berat badan, tekanan darah, kadar kolesterol serta
penyakit jantung. Olahraga secara teratur juga dapat menunda efek-efek penuaan dan
mengurangi kemungkinan depresi (Pickering,1996). Wackers (1992) mengemukakan

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

bahwa keuntungan dari aktivitas fisik atau olahraga adalah meningkatkan perlindungan tubuh terhadap penyakit
bahwa
keuntungan
dari
aktivitas
fisik
atau
olahraga
adalah
meningkatkan
perlindungan tubuh terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah. Olahraga teratur
juga membantu seseorang mengontrol faktor resiko lain seperti obesitas, stress,
hipertensi, dan kadar lipid dalam darah.
Olahraga
dapat
mengurangi
tekanan
darah
bukan
hanya
disebabkan
berkurangnya berat badan, tetapi juga disebabkan bagaimana tekanan darah tersebut
dihasilkan.
Tekanan
darah
ditentukan
oleh
dua
hal
yaitu
jumlah
darah
yang
dipompakan jantung per detik dan hambatan yang dihadapi darah dalam melakukan
tugasnya melalui arteri. Olahraga dapat menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah
kaliper yang baru dan jalan darah yang baru. Dengan demikian hal yang menghambat
pengaliran darah dapat dihindarkan atau dikurangi, yang berarti menurunkan tekanan
darah. Walaupun kesanggupan jantung untuk melakukan pekerjaannya bertambah
melalui
olahraga,
pengaruh
dari
berkurangnya
hambatan
tersebut
memberikan
penururnan tekanan darah yang sangat berarti (Kuntaraf & Kuntaraf, 1992).
Aktifitas fisik dengan intensitas rendah sampai sedang (seperti melakukan
pekerjaan rumah tangga, berkebun, olahraga bowling atau golf) yang dilakukan
sekurangnya 21 jam per minggu dilaporkan Grylls (2003) membantu mengontrol
berat badan. Orang dengan skor aktivitas tinggi, dimana aktivitas fisik yang diukur
adalah aktivitas di rumah atau pada waktu bekerja, aktivitas olah raga dan kebiasaan
berjalan kaki, berhubungan dengan indeks masa tubuh yang lebih rendah (Samaras et
al., 1999). Sebuah penelitian di Amerika Serikat yang melibatkan 8.604 responden
berusia lanjut mendapatkan bahwa orang yang mempunyai aktivitas fisik tinggi
mempunyai umur harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang
beraktivitas rendah, baik pada kelompok perokok maupun pada kelompok bukan

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

perokok (Ferrucci, et.al, 1999). Pada fisik yang senantisa aktif, pembuluh darah cenderung lebih elastis, sehingga
perokok (Ferrucci, et.al, 1999). Pada fisik yang senantisa aktif, pembuluh darah
cenderung lebih elastis, sehingga mengurangi tahanan di perifer (Warborton, et.al.,
2006). Sementara itu aliran darah yang meningkat karena aktivitas fisik dapat
menjaga endotel pembuluh darah arteri dengan dihasilkannnya NO (Nitrit Oksida),
suatu bahan yang bersifat vasodilator (Kusmana, 2001).
Penelitian lain oleh Paffenbarger dari Universitas Stanford yang meneliti
15.000
tamatan
Universitas
Harvard
untuk
6-10
tahun.
Selama
penelitian
berlangsung, didapatkan bahwa 681 tamatan harvard tersebut menderita hipertensi
(160/95).
Ternyata
alumni
yang
tidak
terlibat
dalam
olahraga
dan
kegiatan
mempunyai resiko untuk mendapatkan hipertensi 35% lebih besar dari mereka yang
berolahraga. (Kuntaraf & Kuntaraf, 2000). Penelitian dari John Hanson dan William
Nedde dari Universitas Vermot juga menunjukkan bagaimana olahraga mengurangi
tekanan darah. Penelitan tersebut meneliti sekumpulan penderita hipertensi. Untuk
tujuh bulan mereka dibimbing dalam olahraga, yang meliputi lari jauh, senam, dan
bahkan olahraga kompetisi. Pada akhir penelitian tersebut ternyata tekanan darah
rata-rata mereka telah turun dari 162/92 menjadi 134/75 (Kuntaraf & Kuntaraf,
1992). Bukti langsung dari keuntungan olahraga bagi mereka yang telah menderita
tekakan darah tinggi sangat penting, sebab ini menunjukkan bahwa olahraga bukan
hanya menghindarkan tekanan darah tinggi, tetapi juga menurunkan tekanan darah
dari mereka yang telah menderita penyakit tersebut (Kuntaraf & Kuntaraf, 1992).
Berbagai penelitian membuktikan, bahwa ternyata tekanan darah tinggi yang
ringan dapat ditanggulangi tanpa obat, hanya dengan melakukan olahraga secara
teratur.
Tekanan
darah
tinggi
teryata
cukup
responsif
terhadap
latihan-latihan
olahraga. Bahkan tidak jarang penderita tekanan darah tinggi yang akhirnya dapat

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

”lepas obat’ atau tidak minum obat untuk tekanan darah tinggi, karena tekanan darah tinggi telah
”lepas obat’ atau tidak minum obat untuk tekanan darah tinggi, karena tekanan darah
tinggi
telah
teratasi
setelah
melakukan
latihan-latihan
olahraga
secara
teratur.
Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Robert Cade dari Universitas Florida,
bahwa hampir seratus persen dan sejumlah orang yang menderita tekanan darah
tinggi, ternyata tekanan darahnya turun setelah tiga bulan berlatih olahraga secara
teratur, dengan takanan yang cukup. Berdasarkan penelitian ini, tekanan darah dapat
menurun yang berkisar antara 10-50 mm (Anies, 2006)
e. Diet Tinggi Garam
Sodium/natrium adalah mineral yang esensial bagi kesehatan yang mengatur
keseimbangan air dalam sistem pembuluh darah. Konsumsi natrium yang berlebihan
menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraselular meningkat. Untuk
menormalkannya, cairan intraselular ditarik keluar sehingga cairan ekstraselular
meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraselular menyebabkan meningkatanya
volume darah dalam tubuh, dengan demikian jantung harus memompa lebih giat
sehingga tekanan darah menjadi naik (Hull, 1996). Konsumsi garam yang melebihi
ambang batas yang dibutuhkan dapat menyebabkan hipertensi (Kaplan, 1990).
Begitu pula seseorang yang sudah punya bakat hipertensi, potensinya akan
lebih
besar
jika
lingkungan
atau
kebiasaan
sehari-hari
turut
memicu.
Seperti
dikemukakan Prof Jose, bahwa pada masyarakat tradisional (yang tidak terpapar stres
atau garam berlebih) angka hipertensi hanya 0,1 %. Sementara di daerah sibuk
angkanya mendekati 30 %. Contoh lainnya, orang yang hidup di pinggir pantai,
sedari kecil telah terbiasa makan ikan yang diasin. Padahal, kondisi garam berlebihan
dalam tubuh bisa memicu timbulnya hipertensi. Prof Jose mencontohkan bahwa

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

penduduk di Jepang Utara banyak yang terkena stroke akibat konsumsi garam yang tinggi, sementara di
penduduk di Jepang Utara banyak yang terkena stroke akibat konsumsi garam yang
tinggi, sementara di Jepang selatan tidak demikian. Rata-rata konsumsi garam dapur
normalnya adalah 6 gram per hari.
(http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak
/kesehatan/diet-rendah-garam-3.html
oleh
Inda).
Menurut
data
survei
yang
dikumpulkan di daerah pantai (ump. Bondo-Jepara, Karimunjawa, Bungus) terdapat
prevalensi yang lebih tinggi daripada daerah pedalaman dan pegunungan (Darmojo,
1983 dalam Wahyuni 2000). Hal ini juga dilaporkan oleh Awalui dkk (1982) di
Sulawesi Utara dalam Wahyuni 2000 yang mengadakan studi prevalensi hipertensi di
daerah pantai dan pedalaman. Kimura (1973) dalam wahyuni 2000 juga menemukan
prevalensi yang lebih tinggi pada desa nelayan (Ushibuka) daripada desa pertanian
(Taushimaru) yang terletak di pedalaman pulau Kyushu, berturut-turut dengan
prevalensi 22 % dan 15 %.
Analisis data penelitian antara tekanan darah dan konsumsi natrium yang
melibatkan 47000 orang dari 24 1okasi di dunia, menunjukkan bahwa rata-rata
tekanan darah masyarakat di negara maju lebih tinggi daripada rata-rata tekanan
darah masyarakat negara berkembang. Meskipun demikian pengaruh natrium terlihat
sama di kedua populasi tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh
natrium lebih besar daripada yang diperkirakan dan makin bertambah sesuai dengan
bertambahnya usia dan tingkat tekanan darah semula (BMJ 1991;302 : 9115 Cermin
Dunia Kedokteran No. 73, 1991 6).
Berpuluh-puluh tahun penelitan, mulai dari percobaan binatang, observasi
klinik, penelitian epidemiologi dan intervensi telah mengidentifikasi paparan yang
membentuk pola tekanan darah dipopulasi ialah konsumsi garam tinggi, kalium
rendah, ratio natrium terhadap kalium tinggi, kegemukan dan konsumsi alkohol

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

tinggi (Sjukrudin, 1998). Di Amerika Serikat diusulkan konsumsi garam per orang secara nasional diusahakan hingga
tinggi (Sjukrudin, 1998). Di Amerika Serikat diusulkan konsumsi garam per orang
secara nasional diusahakan hingga ½ konsumsi pada saat ini menjadi 6 gr/hari. Di
Jepang yang konsumsi garamnya pada tahun 1960-an pada penelitian INTERSALT
23 gr/orang pada tahun 1988 menjadi 11 gr/orang. Selain itu konsumsi kalium dapat
dinaikan dengan konsumsi lebih banyak buah-buahan dan sayuran segar. Tekanan
darah dapat diturunkan pula dengan menurunkan berat badan dan meningkatkan
aktivitas fisik. Dari hasil di Jepang dan beberapa penelitian intervensi ada petunjuk
bahwa intervensi nonfarmakologis dan modifikasi gaya hidup semacam diatas dapat
menurunkan tekanan darah dalam waktu panjang (Karhiwikarta 1998).
2.11 Metode Skor Kardiovaskular Jakarta
Skor kardiovaskular Jakarta mengacu pada hasil penelitian Farmingham. Skor
ini lebih sederhana sehingga dapat dipakai oleh masyarakat (Kusmana, 2002).
Berbeda dengan skor Farmingham yang memerlukan pemeriksaan laboratorium
untuk menilai kadar kolesterol darah. Skor kardiovaskular Jakarta memakai aktivitas
fisik sebagai salah satu nilai yang berpengaruh sebagaimana direkomendasikan oleh
WHO (Depkes RI, 2007).
Skor kardiovaskular Jakarta mempunyai sensitifitas (77,9%) dan spesifisitas
(90%) yang tinggi. Skor ini juga memberikan nilai prediksi positif sebesar 92,2% dan
nilai prediski negative sebesar 72,8%. Skor tersebut didasarkan atas jenis kelamin,
umur, tekanan darah (criteria JNC – VI), merokok, diabetes, indeks masa tubuh, dan
aktivitas fisik mingguan. Nilai skor yang dihasilkan antara lain yaitu skor -7 sampai
1 termasuk resiko rendah, skor 2 sampai 4 termasuk resiko sedang, dan skor ≥ 5
termasuk resiko tinggi Berdasarkan skor tersebut setiap orang dapat melakukan

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

upaya pencegahan secara aktif dengan meminimilkan skor yang saat ini dimilikinya (Kusmana, 2002). Kemungkinan
upaya pencegahan secara aktif dengan meminimilkan skor yang saat ini dimilikinya
(Kusmana, 2002).
Kemungkinan berkembangnya penyakit kardiovaskular bergantung pada skor
yang dimiliki. Skor resiko rendah mempunyai presentase kemungkinan sebesar
<
10%. Skor resiko sedang dengan presentase sebesar 10-20% dan skor resiko tinggi
mempunyai presentase kemungkinan sebesar > 20% (Kusmana, 2002).
Skor kardiovaskular Jakarta digunakan dengan tujuan mencegah penyakit
kardiovaskular (jantung dan stroke) pada 10 tahun mendatang. Semakin rendah skor
yang dihasilkan, semakin kecil kemungkinan terkena penyakit kardiovaskular. Hal
sebaliknya terjadi pada skor yang tinggi (Kusmana, 2002).
Upaya yang dilakukan bergantung pada skor yang dimiliki. Upaya yang
dilakukan untuk skor resiko rendah adalah mempertahankan kebiasaan yang baik
atau hidup sehat yang sudah dilakukan saat ini, skor resiko sedang adalah segera
mengubah gaya hidup sehingga faktor resiko yang ada dapat segera diatasi dan skor
menjadi lebih rendah. Upaya terbaik adalah mengupayakan skor menjadi 1. Upaya
yang dilakukan jika mempunyai skor resiko tinggi adalah segera berkonsultasi
dengan dokter, mengatasi faktor resiko kardiovaskular yang ada, dan mengubah gaya
hidup yang tidak sehat. Sasaran yang harus dicapai adalah skor yang rendah
(Kusmana, 2002).

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

Gambar 2.1 Determinan-Determinan Hipertensi Iklim dan Cuaca Geografi Diabetes Melitus Pola Makan Pendidikan Daerah
Gambar 2.1 Determinan-Determinan Hipertensi
Iklim dan Cuaca
Geografi
Diabetes Melitus
Pola Makan
Pendidikan
Daerah Pantai
Umur
Makanan tinggi garam
Pekerjaan
Akses
Jenis Kelamin
Makanan tinggi lemak
Pelayanan Kesehatan
Keturunan
Alkohol
Stress
Merokok
Hormon
Aktivitas Fisik
Obesitas
HIPERTENSI

Sumber: Adopsi Dari Rilantono dkk, 1988 dan gabungan beberapa sumber referensi

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep dalam penelitian
BAB III
KERANGKA KONSEP, HIPOTESIS, DAN DEFINISI OPERASIONAL
3.1 Kerangka Konsep
Kerangka konsep dalam penelitian ini adalah :
Demografi
Umur
Jenis Kelamin
Geografis (Tempat &
daerah Pantai)
Poli Kunjungan
Status Kesehatan
Hipertensi
 Obesitas
 Diabetes Melitus
Perilaku
 Aktifitas Fisik
 Perilaku Merokok
Gambar 3.1. Kerangka Konsep faktor-faktor yang berhubungan
dengan Hipertensi di Jakarta Utara tahun 2007
Berdasarkan
kerangka
konsep,
diketahui
bahwa
variabel
independet
yang
digunakan pada penelitian ini adalah faktor demografi (umur, jenis kelamin, tempat, daerah
pantai, dan poli kunjungan), faktor status kesehatan (obesitas dan diabetes), dan faktor
perilaku (perilaku merokok dan aktivitas fisik). Alasan tidak semua variabel yang ada di
kerangka teori dimasukkan ke dalam kerangka konsep adalah karena data yang digunakan
adalah data sekunder yang di dapat berdasarkan pengukurun di 6 Puskesmas Kecamatan
Wilayah
Jakarta
Utara
yang
diambil
berdasarkan
Skoring
Kardiovaskular
Jakarta.
Sedangkan untuk variabel daerah pantai dan poli kunjungan di dapat dengan melakukan
pengamatan pada peta Jakarta dan keterangan pasien. Selain itu karena terdapatnya

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

keterbatasan data, waktu, dan biaya maka penulis hanya memasukkan delapan variabel yang sudah mencakup tiga
keterbatasan data, waktu, dan biaya maka penulis hanya memasukkan delapan variabel
yang sudah mencakup tiga variabel utama dalam penelitian ini.
3.2 Hipotesis
1. Adanya hubungan faktor demografi (tempat, umur, jenis kelamin, daerah pantai, dan
poli kunjungan) dengan kejadian hipertensi pada pasien Puskesmas di Jakarta Utara
pada tahun 2007.
2. Adanya hubungan status kesehatan (obesitas dan diabetes melitus) dengan kejadian
hipertensi pada pasien Puskesmas di Jakarta Utara pada tahun 2007.
3. Adanya hubungan faktor perilaku (merokok dan aktivitas fisik) dengan kejadian
hipertensi pada pasien Puskesmas di Jakarta Utara pada tahun 2007.

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

3.3 Definisi Operasional

Tabel. 3.1 Definisi Operasional Penelitian

         

Skala

Variabel

Definisi

Cara Ukur

Alat Ukur

 

Hasil Ukur

Ukur

 

Variable Dependent

 

Hipertensi

Peningkatan keadaan tekanan darah sistolik 140 mmHg dan

Berdasarkan data sekunder

Hasil pemeriksaan petugas puskesmas

1. Hipertensi (sistolik 140 dan

Ordinal

 

diastolic 90 mmHg)

tekanan darah diastolik 90 mmHg (Depkes RI, 2006)

   

2. Tidak hipertensi (<140/90 mmHg)

 

Variabel Independet

 

Umur

Jumlah tahun yang dilalui sampel dalam kehidupan berdasarkan ulang tahun terakhir

Berdasarkan data sekunder

Kartu pemeriksaan yang diisi petugas

1. 25-34 tahun

Ordinal

2. 35-39 tahun

   

3. 40-44 tahun

 

4. 45-49 tahun

5. 50-54 tahun

6. 55-59 tahun

7. 60-64 tahun

(Kusmana, 2002)

Jenis

Status gender responden yang

Berdasarkan data

Kartu

pemeriksaan

1.

Pria

Nominal

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

kelamin

dapat diketahui dari penampilan fisik sampel

sekunder

yang diisi petugas

2. Wanita

 

Merokok

Tiap hari menghisap rokok minimal 1 batang rokok

Berdasarkan data sekunder

Kartu pemeriksaan yang diisi petugas

1. Tidak merokok

Ordinal

2. Merokok

     

(Kusmana, 2002)

Aktivitas

Melakukan olahraga minimal jalan kaki 1 jam 3 kali seminggu atau 30 menit 5-6 kali seminggu

Berdasarkan data sekunder

Kartu pemeriksaan yang diisi petugas dengan mengggunakan Panduan Aktivitas Fisik

1.

Tidak

Ordinal

fisik

2.

Ya (Kusmana, 2002)

Obesitas

Presentase abnormalitas lemak yang dinyatakan dalam IMT yaitu perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan kuadrat dalam meter (Kaplan dan Stemler,

Berdasarkan data sekunder

Hasil pemeriksaan petugas puskesmas

1. Tidak obesitas (< 25 kg/m2) 2. Obesitas (30 kg/m2) (Batas IMT Indonesia)

Ordinal

1991)

Diabetes

Peningkatan kadar gula dalam darah melebihi normal yaitu kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dl (Depkes, 2006)

   

1. Tidak Diabetes (<200mg/dl)

Ordinal

mellitus

Berdasarkan data sekunder

Pemeriksaan Lab di Puskesmas oleh petugas

2. Diabetes (200 mg/dl)

Geografis

1.Tempat pengambilan sampel

Berdasarkan data

Kartu

pemeriksaan

1.Tempat

Nominal

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008

1. Tempat

2.Kedekatan tempat dengan laut /

sekunder

yang diisi petugas Mata visual Map of Jakarta

Cilincing

 

2. Daerah

pinggir laut

Observasi peta

Tanjung Priok

Pantai

Jakarta Utara

Penjaringan

 

Pademangan

Kelapa Gading

Koja

2. Dekat/pinggir laut

Ordinal

1. Ya

2. Tidak

Poli

Poli atau klinik pasien dilayani di Puskesmas

Berdasarkan data sekunder

Kartu pemeriksaan yang diisi petugas

1. BP Umum

Nominal

Kunjungan

2. BP Lansia

     

3. BP ASKES/JAMSOSTEK

Prevalensi dan determinasi

,

Anggi Kartikawati, FKM UI, 2008