Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

REAKSI KUALITATIF ANORGANIK




OLEH:
Kelompok : 4
Nama Anggota : 1. Oktaviana Indira Cipta (06111010026)
2. Mutiara Sani Saragih (06111010025)
3. Amalia Agtyana Putri (06111010028)
4. Eko Agustian (06111010027)
5. Eka Purwati (06111010029)
6. Khoirinisak (06111010030)
7. Ericha Elvianti (06111010031)

Dosen Pengasuh : Drs. Rodi Edi, M.Si

PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN MIPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014
I. Nomor Percobaan : III
II. Nama Percobaan : Reaksi Kualitatif Anorganik
III. Tujuan Percobaan :
Mempelajari Reaksi antara ion logam dengan hidroksida dan larutan amoniak
IV. Dasar Teori :
Analisa dapat diartikan sebagai usaha pemisahan suatu kesatuan pengertian
ilmiah atau suatu kesatuan bahan menjadi senyawa-senyawa penyusun yang
kemudian dapat dipakai sebagai data untuk menetapkan komposisi dari bahan
tersebut. Kimia analitik merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari tentang
penentuan atau pemisahan komposisi suatu bahan (analisis kimia), baik yang berupa
senyawa organik maupun senyawa anorganik. Analisis kimia dapat digolongkan
menjadi dua bagian, yaitu analisis kimia kualitatif dan analisis kimia kuantitatif
(Underwood, 1999; 1-2).
Analisis kimia kualitatif adalah analisis kimia untuk menentukan susunan
atau komposisi dari suatu bahan, seperti jenis-jenis unsur, ion (kation dan anion),
radikal, gugus fungsi, atau senyawa-senyawa yang terdapat dalam suatu sampel yang
akan dianalisis. Sedangkan analisis kimia kuantitatif adalah analisis kimia yang
dilakukan untuk mengetahui kuantitatif (jumlah) zat atau kadar komponen penyusun
dari suatu sampel yang dianalisis, yang hasilnya dapat dinyatakan dalam bentuk
persen, normalitas, molaritas, atau bentuk satuan konsentrasi lainnya (Underwood,
1999; 3). Analisis anorganik kualitatif atau analisis kualitatif adalah bidang kimia
analitik yang membahas tentang identifikasi zat-zat, mengenai unsur atau senyawa
apa yang terdapat dalam suatu sampel atau contoh Analisis anorganik kualitatif atau
analisis kualitatif adalah bidang kimia analitik yang membahas tentang identifikasi
zat-zat, mengenai unsur atau senyawa apa yang terdapat dalam suatu sampel atau
contoh. Pada pokoknya tujuan analisis kualitatif adalah memisahkan dan
mengidentifikasi sejumlah unsur. Analisis kuantitatif berurusan dengan penetapan
banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel. Analisis kualitatif diperuntukkan
untuk analisa komponen atau jenis zat yang ada dalam suatu larutan. Analisa
kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk mempelajari kimia dan
unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan
Analasis kualitatif anorganik merupakan salah suatu metode dalam kimia
analitik yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu spesi (baik logam,
ion, maupun senyawa) anorganik tanpa memperhatikan jumlah spesi tersebut.
Analisa kualitatif dapat ditentukan dengan cara pemeriksaan pendahuluan terdiri dari
pemeriksaan organoleptik, pemeriksaan secara kering, dan test pendahuluan untuk
anion dengan menggunakan H
2
SO
4
encer atau pekat, pemeriksaan ion logam (kation)
dalam larutan dan pemeriksaan anion dalam larutan (Underwood, 1999; 3). Setiap
analisis terbagi menjadi beberapa bagian yaitu pemeriksaan pendahuluan, yang
meliputi pemeriksaan dengan uji kering, pemeriksaan hasil-hasil yang mudah
menguap yang diperoleh dengan larutan natrium hidroksida (untuk amonium), dan
dengan asam sulfat encer dan pekat (untuk radikal-radikalasam atau anion). Analisis
lainnya adalah pemeriksaan ion logam (kation) dalam larutan dan pemeriksaan anion
dalam larutan. Zat yang akan dianalisis dapat berupa: padat dan non-logam,
cairan(larutan), logam atau aliase, dan zat tak larut (Svehla II, 1985;422).
Analisa suatu larutan dapat digolongkan menjadi beberapa golongan, yaitu
golongan I asam klorida, golongan II hidrogen [sulfida], golongan III [ammonium
sulfida] dan golongan IV [ammonium klorida] dan golongan V adalah sisa . Dalam
metode analisis kualitatif digunakan beberapa pereaksi diantaranya pereaksi
golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan untuk mengetahui jenis
anion atau kation suatu larutan. Regensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi
kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida,
dan amonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi
dengan reagensia-reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Sedangkan
metode yang digunakan dalam anion tidak sesistematik kation. Namun skema yang
digunakan bukanlah skema yang kaku, karena anion termasuk dalam lebih dari satu
golongan .Golongan I disebut juga dengan golongan asam klorida. Kation golongan
ini membentuk endapan dengan asam klorida encer. Ion golongan ini adalah Pb, Ag,
Hg. (PbCl
2
, HgCl
2
, AgCl).
Regensia golongan yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum
adalah asam klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan amonium karbonat.
Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia-
reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak. Sedangkan metode yang
digunakan dalam anion tidak sesistematik kation. Namun skema yang digunakan
bukanlah skema yang kaku, karena anion termasuk dalam lebih dari satu golongan.
Didalam kation ada beberapa golongan yang memiliki ciri khas tertentu diantaranya :
1. Golongan I : Kation golongan ini membentuk endapan dengan asam klorida
encer. Ion golongan ini adalah Pb, Ag, Hg.
2. Golongan II : Kation golongan ini bereaksi dengan asam klorida, tetapi
membentuk endapan dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral
encer. Ion golongan ini adalah Hg, Bi, Cu, cd, As, Sb, Sn.
3. Golongan III : Kation golongan ini tidak bereaksi dengan asam klorida encer,
ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer. Namun
kation ini membentuk endapan dengan ammonium sulfida dalam suasana netral /
amoniakal. Kation golongan ini Co, Fe, Al, Cr, Co, Mn, Zn.
4. Golongan IV : Kation golongan ini bereaksi dengan golongan I, II, III. Kation ini
membentuk endapan dengan ammonium karbonat dengan adanya ammonium
klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam. Ion golongan ini adalah Ba, Ca,
Sr.
5. Golongan V : Kation-kation yang umum, yang tidak bereaksi dengan regensia-
regensia golongan sebelumnya, merupakan golongan kation yang terakhir.
Kation golongan ini meliputi : Mg, K, NH4
+
.
Untuk anion dikelompokkan kedalam beberapa kelas diantaranya :
1. Anion sederhana seperti : O
2-
, F
-
, atau CN
-
.
2. Anion okso diskret seperti : NO
3
-
, atau SO
4
2-.

3. Anion polimer okso seperti silikat, borat, atau fosfat terkondensasi
4. Anion kompleks halida seperti TaF
6
dan kompleks anion yang berbasis bangat
seperti oksalat.
Reaksi dalam anion ini akan lebih dipelajari secara sistematis untuk
memudahkan reaksi dari asam-asam organik tertentu dikelompokkan bersama-sama.
Hal ini meliputi asetat, formiat, oksalat, sitrat, salisilat dan benzoat. Analisis
kualitatif menggunakan dua macam uji, yaitu reaksi kering dan reaksi basah. Reaksi
kering dapat digunakan pada zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam larutan.
Kebanyakan reaksi kering yang diuraikan digunakan untuk analisis semimikro
dengan hanya modifikasi kecil. Untuk uji reaksi kering metode yang sering
dilakukan adalah :
1. Reaksi nyala dengan kawat nikrom : Sedikit zat dilarutkan kedalam HCl Pekat.
Diatas kaca arloji kemudian dicelupkan kedalamnya, kawat nikrom yang
bermata kecil yang telah bersih kemudian dibakar diatas nyala oksidasi .
2. Reaksi nyala beilstein : Kawat tembaga yang telah bersih dipijarkan diatas nyala
oksida sampai nyala hijau hilang. Apabila ada halogen maka nyala yang terjadi
berwarna hijau.
3. Reaksi nyala untuk borat : Dengan cawan porselin sedikit zat padat ditambahkan
asam sulfat pekat dan beberapa tetes methanol, kemudian dinyalakan ditempat
gelap. Apabila ada borat akan timbul warna hijau.
Metode untuk mendeteksi anion memang tidak sesistematik seperti yang
digunakan untuk kation. Namun skema klasifikasi pada anion bukanlah skema yang
kaku karena beberapa anion termaksud dalam lebih dari satu golongan.

V. Alat dan Bahan
Tabung reaksi semi mikro Larutan NaOH 0,5 M
Larutan NaOH 2 M Larutan NH3 2 M
Botol Tetes Larutan nitrat 0,1 M, Al
3+
, Ni
2+
, Ag
+
, Zn
2+

Larutan NH
3
2 M / NH4Cl Pipet Pencet
Sentrifuge
Larutan NH
3
2 M
Pipet Pencet

VI. Prosedur Kerja
1. Tempatkan masing-masing 5 ml larutan kation nitrat yang telah disebutkan
diatas, larutan NaOH (0,5 M), larutan NH
3
2 M dan larutan NaOH 2 M
kedalam botol tetes yang telah diberi label larutan-larutan tersebutakan
digunakan sebagai stok larutan untuk percobaan yang akan dilakukan.
2. Kedalam 0,5 ml larutan Al(OH
3
) 0,1 M tambahkan tetes demi tetes (kira-kira
lima tetes) larutan NaOH 0,5 M. Volume NaOH 0,5 M yang digunakan tidak
boleh lebih dari 1 ml
3. Apabila larutan mulai terbentuk, larutan tersebut dibagi 2 bagian dan masing-
masng ditempatkan dalam tabung reaksi semi mikro. Kedua tabung tersebut
diletakkan dala sentifuge dan diputar selama 1 menit. Pindahkan supernatat
dengan pipet penjet
a. Pada tabung pertama, tambahakan larutan NH
3
2 M kedalam endapan
yang terbenuk (volume total jangan lebih dari 1 M)
b. Pada tabung kedua, tambahkan larutan NH
3
2 M kedalam endapan yang
terbenuk (volume total jangan lebih dari 1 M)
4. Ulangi langkah 2 dan seterusnya untu larutan 0,1 M dari kation-kation: Ni
2+
,
Ag
+
, Zn
2+
. Catat hsil pengamatan andah pada table yang terdapat pada lembar
kerja.
5. Catat kation-kation apa saja yang membentuk endapan pada penambahan
NaOH
6. Catat kation-kation apa saja yang membentuk endapan pada penambahan
NaOH tetapi (a) larut pada penambahan larutan NaOH berlebihan, (b) larut
pada penambahan larutan ammonia berlebihan
7. a. Tambahkan larutan Al (NO
3
) 1 M secara perlahan-lahan kedalam 1 ml
larutan NaOH 2 M. Ctat hasil pengamatan anda.
b. Tambahkan larutan AgNO
3
01 M secara perlahan-lahan ke dalam 1 ml
larutan NaOH 2 M. Catat hasil pengamtan anda
c. Ulangi kegiatan (a) dan (b) tetapi urutan penambahn antar reaktan
dibalik. Catat hasl pengamatan anda dan beri alasan mengapa demikian.

VII. Hasil Pengamatan

No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1.
Masing-masing 5 ml larutan
kation nitrat. Larutan NaOH, NH
3
,
Sudah disiapkan oleh kelompok yang piket
dan NaOH tempatkan pada botol
tetes
2.
2.5 ml larutan Al(NO
3
)
3
0.1 M,
tambahkan tetes demi tetes NaOH
(0,5 ml) (tidak lebih dari 1 ml)
Al(NO
3
)
3
(tak berwarna) ditambahkan
dengan NaOH 10 tetes (tak berwarna)
menghasilkan larutan tidak berwarna (tidak
terdapat endapan)
Gambar :

3.
Apabila endapan terbentuk,
larutan hasil no.2 dibagi menjadi
2 bagian masing-masing
ditempatkan dalam tabung reaksi
semimikro dan diletakkan dalam
sentrifuga dan diputar selama 1
menit
a. Tabung 1, larutan ditambah
dengan NaOH (tidak lebih dari
1 ml)
b. Tabung 2, larutan ditambah
NH
3
(tidak lebih dari 1 ml)
Larutan tidak berwarna (tidak terdapat
endapan)





a. Tabung 1, larutan tidak berwarna
ditambah NaOH tetap tidak berwarna
b. Tabung 2, larutan tidak berwarna
ditambah NH
3
tetap tidak berwarna
Gambar :

Tabung 1

Tabung 2
4.
Ulangi langkah 2 dan seterusnya
untuk larutan 0,1 M dari kation-
kation : Ni
2+,
Ag
+
, Zn
2+

Dilakukan hanya Ag
+
dan Zn
2+

Penambahan NaOH
- Ag
+
(tak berwarna) ditambah dengan
NaOH (tak berwarna) mengahsilkan
larutan cokelat bening (terdapat endapan
cokelat tua)
- Ni
2+
(biru tosca) ditambah dengan NaOH
(tak berwarna) menghasilkan larutan tak
berwarna (terdapat endapan biru muda)
Gambar :

Penambahan NH
3

- Ag
+
(tak berwarna) ditambah dengan
NH
3
menghasilkan larutan cokelat
bening (terdapat endapan berwarna putih
kecoklatan)
- Ni
2+
(biru tosca) ditambah dengan NH
3

menghasilkan larutan tak berwarna
(terdapat endapan biru muda)
5.
Kation-kation apa saja yang
membentuk endapan pada
penambahan NaOH
1) Ag
+
(endapan cokelat tua)
2) Ni
2+
(endapan biru tua)
6.
Kation apa saja yang membentuk
endapan tapi :
a. Larut dalam penambahan
NaOH berlebihan

b. Larut dalam penambahan
NH
3
berlebihan


a. Tidak ada yang larut
Ag
+
ada endapan cokelat tua, Ni
2+

ada endapan biru muda
b. Tidak ada yang larut
Ag
+
ada endapan berwarna putih
kecoklatan, Ni
2+
ada endapan
berwarna biru muda
Berdasarkan hasil pengamatan, semakin
banyak NaOH yang ditambahkan semakin
banyak terbentuk endapan

7.
a. Tambahkan larutan Al(NO
3
)
3

0,1 M secara perlahan-lahan ke
dalam 1 ml larutan NaOH 2 M
b. Tambahkan larutan AgNO
3
0,1
M secara perlahan-lahan ke
dalam 1 ml larutan NaOH 2 M

c. Ulangi kegiatan (a) dan (b)
tetapi urutan penambahan
antar reaktan dibalik
a. NaOH (tak berwarna) ditambahkan
dengan Al(NO
3
)
3
(tak berwarna)
menghasilkan larutan tidak berwarna
b. NaOH (tak berwarna) ditambahkan
dengan AgNO
3
(tak berwarna)
mengasilkan larutan cokelat keruh (ada
endapan cokelat tua
c. Urutan Penambahan dibalik,
Al(NO
3
)
3
(tak berwarna ditambahkan
dengan NaOH (tak berwarna)
menghasilkan larutan cokelat bening
AgNO
3
(tak berwarna) ditambahkan
dengan NaOH (tak berwarna)
menghasilkan larutan keruh (ada
endapan coklat tua)
Gambar :


VIII. Persamaan Reaksi
Percobaan no.1
----------------------------------------------------------------------------------
Percobaan no.2
- Al(NO
3
)
3(aq)
+ 3NaOH
(aq)
Al(OH)
3(s)
putih + 3NaNO
3(aq)

Percobaan no.3
-
Al(OH)
3(s)
+ NaOH
(aq)
[Al(OH)
4
]
-
(aq)
+ Na
+
(aq)
- Al(OH)
3(s)
+ 3NH
3(aq)
+ 3H
2
O
(l)
Al(OH)
3(s)
putih + 3NH
4
OH
(aq)

Percobaan no.4
Ag
+

- 2AgNO
3(aq)
+ 2NaOH
(aq)
Ag
2
O
(s)
coklat +2NaNO
3(aq)
+H
2
O
(l)

- 2AgNO
3(aq)
+ 2NH
3(aq)
+ H
2
O
(l)
Ag
2
O
(s)
coklat + 2NH
4
NO
3(aq)

Ni
2+

- Ni(NO
3
)
2(aq)
+ 2NaOH
(aq)
Ni(OH)
2(s)
hijau + 2NaNO
3(aq)

- Ni(NO
3
)
2

(aq)
+ 2NH
3(aq)
+ 2H
2
O
(l)
Ni(OH)
2(s)
hijau + 2NH
4
NO
3(aq)

Percobaan no.5
- Al(NO
3
)
3(aq)
+ 3NaOH
(aq)
Al(OH)
3(s)
putih + 3NaNO
3(aq)

- 2AgNO
3(aq)
+ 2NaOH
(aq)
Ag
2
O
(s)
coklat +2NaNO
3(aq)
+H
2
O
(l)

- Ni(NO
3
)
2(aq)
+ 2NaOH
(aq)
Ni(OH)
2(s)
hijau + 2NaNO
3(aq)




Percobaan no.6
Penambahan NaOH berlebih
Al
3+
(Larut)
- Al(NO
3
)
3(aq)
+ 3NaOH
(aq)
Al(OH)
3(s)
putih + 3NaNO
3(aq)

-
Al(OH)
3(s)
+ NaOH
(aq)
[Al(OH)
4
]
-
(aq)
+ Na
+
(aq)
Ag
+

- 2AgNO
3(aq)
+ 2NaOH
(aq)
Ag
2
O
(s)
coklat +2NaNO
3(aq)
+H
2
O
(l)

- Ag
2
O
(s)
+ 2NaOH Ag
2
O
(s)
+ 2NaOH
(aq)

Ni
2+

- Ni(NO
3
)
2(aq)
+ 2NaOH
(aq)
Ni(OH)
2(s)
hijau + 2NaNO
3(aq)

- Ni(OH)
2(s)
+ 2NaOH
(aq)
Ni(OH)
2
hijau + 2NaOH
(aq)

Penambahan NH
3
berlebih
Al
3+

- Al(NO
3
)
3(s)
+ 3NH
3(aq)
+ 3H
2
O
(l)
Al(OH)
3(s)
putih + 3NH
4
NO
3(aq)

- Al(OH)
3(s)
+ 3NH
3(aq)
+ 3H
2
O
(l)
Al(OH)
3(s)
putih + 3NH
4
OH
(aq)

Ag+ (Larut)
- 2AgNO
3(aq)
+ 2NH
3(aq)
+ H
2
O
(l)
Ag
2
O
(s)
coklat + 2NH
4
NO
3(aq)

- Ag
2
O
(s)
+ 3NH
3(aq)
+ H
2
O
(l)
2[Ag(NH
3
)
3
]
+
(aq)
+ H
2
O
(l)

Ni
2+
- Ni(NO
3
)
2

(aq)
+ 2NH
3(aq)
+ 2H
2
O
(l)
Ni(OH)
2(s)
hijau + 2NH
4
NO
3(aq)

- Ni(OH)
2(s)
+ 2NH
3(aq)
+ 2H
2
O
(l)
[Ni(NH
3
)
2
]
2+
(s)
hijau + 2NH
4
NO
3(aq)

Percobaan 7
- Al(NO
3
)
3(aq)
+ 3NaOH
(aq)
Al(OH)
3(s)
putih + 3NaNO
3(aq)

- 2AgNO
3(aq)
+ 2NH
3(aq)
+ H
2
O
(l)
Ag
2
O
(s)
coklat + 2NH
4
NO
3(aq)

IX. PEMBAHASAN
Percobaan ini merupakan percobaan ketiga yang dilakukan yaitu mengenai
Reaksi Kualitatif Anorganik. Dalam percobaan ini akan dipelajari reaksi antara ion
logam dengan ion hidroksida dan larutan amoniak. Seharusnya ion logam yang
digunakan ada empat yaitu Al
3+
, Ni
2+
, Ag
+
dan Zn
2+
. Namun karena keterbatasan
bahan maka ion yang dapat digunakan hanya 3 yaitu Al
3+
, Ni
2+
dan Ag
+
. Identifikasi
kation logam ini dilakukan terhadap ion hidronium dari basa kuat NaOH dan larutan
basa lemah NH
3
. Reagensia ini cocok untuk digunakan karena biasanya kation-kation
logam akan membentuk senyawa kompleks.
Pertama, menyiapkan larutan nitrat dari kation-kation Al
3+
, Ni
2+
dan Ag
+
dan
NaOH serta NH
3
. Penempatan larutan harus disesuaikan dengan karakteristiknya.
Untuk larutan yang tidak berwarna diletakkan pada botol terang, dan larutan yang
berwarna diletakkan dibotol gelap. Hal ini bertujuan agar tidak merusak karakteristik
dari larutan yang disimpan.
Kedua, menambahkan 10 tetes NaOH kedalam larutan Al(NO
3
)
3
.
Penambahannya dilakukan secara perlahan-lahan, tetes demi tetes agar semuaya
bereaksi secara sempurna. Hasil dari percobaan ini yaitu larutan tidak berwarna dan
tidak terdapat endapan. Hasil dari percobaan ini tidak sesuai dengan teori yang ada.
Berdasarkan persamaan reaksi pada buku Vogel, yang dihasilkan berupa endapan
berwarna putih dari Al(OH)
3
dan larutannya yaitu NaNO
3.
Campuran larutan lama
kelamaan berbentuk gel yang idak berwarna. Ini berarti gelatin aluminium hidroksida
Al(OH)
3
, yang larut sedikit pada reagensia erlebih. Kelarutan berkurang dengan
adanya garam-garam amonium, disebabkan oleh efek ion sekutu. Sebagian kecil
endapan masuk ke dalan larutan sebagai aluniniu hidroksida koloid (sol aluminium
hidroksida) : sol ini berkogulasi pada pendidihan atau pada penambahan garam -
garam yang larut (misanlnya, amonium klorida), dngan menghasilkan gelatin
aluminium hidroksida. Untuk menjamin pengendapan yang sempurna dengan larutan
aluminium itu ditambhakan dengan sedikit berlebih, dan campuran didihkan sampai
cairan sedikt berbau amonia. Bila baru diendapkan, ia mudah melarut dalam asam
kuat dan basa kuat, tetapi jika dididihkan ia menjdadi sedikit larut (vogel : 266-267).
Ketiga, larutan tidak berwarna dan tidak terdapat endapan dari percobaan
no.2 dibagi menjadi dua, dan diletakkan pada tabung sentrifuga. Tabung 1
ditambahkan dengan NaOH dan tabung 2 ditambahkan larutan NH
3
. Berdasarkan
hasil percobaan yang telah dilakukan bahwa keduanya memberikan hasil larutan
tidak berwarna dan tidak terdapat endapan. Setelah di guling-gulingkan pada
sentrifuga larutan tetap tidak berwarna dan tidak terdapat endapan. Hasil percobaan
ini tidak sesuai dengan teori yang ada. Berdasarkan persamaan reaksinya, maka pada
penambahan NaOH akan dihasilkan endapan putih Al(OH)
3
dan endapan ini akan
larut dalam penambahan reagen NaOH secara berlebihan membentuk larutan
[Al(OH)
4
]
-
. Namun endapan Al(OH)
3
ini tidak akan larut dengan penambahan NH3
secara berlebihan dan akan kembali membentuk endapan Al(OH)
3
itu sendiri
sehingga endapan yang dihasilkan semakin banyak.
Keempat, mengulangi langkah 2 dan tiga terhadap kation Ag
+
, dan Ni
2+
.
Berdasarkan hasil percobaan, Ag
+
ditambahkan dengan NaOH menghasilkan larutan
cokelat bening dan terdapat endapan coklat tua dan Ag
+
ditambahkan dengan NH3
menghasilkan larutan coklat bening dan terdapat endapan putih kecoklatan. Hal ini
sesuai dengan teori yang ada. Berdasarkan hasil percobaan, Ni
2+
ditambahkan dengan
NaOH menghasilkan larutan tak berwarna terdapat endapan biru muda dan Ni
2+

ditambahkan dengan NH
3
juga menghasilkan larutan tidak berwarna terdapat
endapan biru muda. Berdasarkan teori, Ag
+
ditambahkan dengan larutan NaOH
menghasilkan endapan perak oksida yang berwarna coklat dan jika ditambahkan
dengan NH
3
juga akan menghasilkan endapan coklat yaitu Ag
2
O. Sehingga hasil
percobaan sesuai dengan teori yang ada. Berdasarkan teori, Ni
2+
ditambahkan dengan
larutan NaOH juga menghasilkan endapan yaitu endapan hijau, untuk penambahan
NH
3
juga sama menghasilkan endapan hijau yaitu Ni(OH)
2
. Namun endapan yang
teramati adalah biru. Ini dapat dipengaruhi oleh intensitas warna cahaya yang
ditimbulkan selain itu peran praktikan juga berpengaruh dalam mengamati warna ini.
Selain itu sinar radiasi dari matahari juga mempengaruhi penampakan dari warna ini.
Kelima, menentukan kation apa saja yang membentuk endapan dengan
penambahan NaOH. Berdasarkan hasil percobaan, kation yang membentuk endapan
dengan penambahan NaOH adalah Ag
+
dan Ni
2+
. Namun berdasrkan teori yang ada
seharusnya Al
3+
juga membentuk endapan dengan penambahan NaOH yaitu endapan
Al(OH)
3
berwarna putih. Sedangkan Ag
+
membentuk endapan Ag
2
O berwarna
cokelat dan Ni
2+
membentuk endapan berwarna hijau yaitu Ni(OH)
2
. Kekeliruan
hasil percobaan dari Al
3+
dapat dipengaruhi oleh bahan yang digunakan dan
kekeliruan skala dalam menambahkan bahan.
Keenam, ditambahkan secara berlebih larutan NaOH dan NH
3
pada larutan
nitrat kation Ag
+
, Ni
2+
dan Al
3+
. Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan ketiga
kation ini menghasilkan endapan. Hasil praktikum ini tidak sesuai dengan teori yang
sudah ditetapkan. Seharusnya tidak semua kation memberikan hasil endapan. Kation
Al jika ditambahkan dengan NaOH secara berlebihan maka akan menghasilkan
larutan [Al(OH)
4
]
-
. Namun untuk penambahan NaOH secara berlebihan terhadap
larutan kation Ag
+
dan Ni
2+
maka akan menghasilkan endapan Ag
2
O dan Ni(OH)
2
.
Selain itu penambahan NH
3
juga tidak semuanya menghasilkan endapan contohnya
kation Ag
+
dan Ni
2+
akan larut dalam NH
3
berlebihan. Namun Al tidak larut dalam
penambahan NH
3
secara berlebihan dan ada endapan Al(OH)
3
. Jelas ada kekeliruan
dalam melakukan percobaan ini, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa factor yaitu
factor bahan dan praktikan. Jika tidak ada kekeliruan dalam pembuatan bahan, maka
ini bisa disebabkan oleh praktikan yang salah dalam melakukan percobaan seperti
salah prosedur, kurang teliti dalam melihat skala bahan yang akan digunakan dan
cara mencampurkan bahan yang salah. Pengendapan aluminium oleh larutan
hidroksida dan amonia tak akan terjadi bila ada serta asam tartarat, asam sitrat, asam
sulfosalsilat, asam malat, gula dan lain-lain senyawa hidroksi organik. Karena
pembentukan garam-garam kompleks yang larut. Maka zat-zat organik ini harus
diuraikan dengan pemisahan perlahan-lahan atau dengna menguapkan dengan asam
sulfat pekat atau asam nitat pekat sebelum aluminium dapat diendpkan dalam
pengerjaan anaisis kualitatif yang biasa (vogel : 267).
Ketujuh, ditambahkan larutan NaOH kedalam masing-masing kation dan
penambahan NH
3
pada masing-masing kation yaitu Al
3+
dan Ag
+
. Kegiatan dalam
praktikum ini hampir sama dengan yang lainnya. Namun dibedakan dalam
penambahan reagennya. Jika salah satunya yang ditambahkan duluan adalah larutan
kation, dan yang lainnya yang didahulukan yaitu reagennya. Penambahan secara
berlainan ini mempengaruhi hasil larutan yang terbentuk. Berdasarkan hasil
percobaan yang mengalami perbedaan yaitu kation Al
3+
, jika kation yang
didahulukan menghasilkan larutan tidak berwarna, namun jika reagen yang
didahulukan menghasilkan larutan coklat bening. Penambahkan secara berlainan ini
dapat memberikan hasil yang berbeda walaupun berdasarkan reaksi yang terjadi tetap
sama. Beberapa factor yang dapat mempengaruhi yaitu proses oksidasi. Larutan
kation ini jelas dapat mengalami oksidasi jika didiamkan dalam ruangan terbuka.
Karena reagen dahulu ditambahkan dan larutan kation setelahnya, maka
memungkinkan larutan kation itu untuk mengalami reaksi oksidasi. Selain itu tidak
akan terjadi reaksi yang sempurna antara kation dan reagennya.
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, ada beberapa kekeliruan dalam
melakukan percobaan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh Praktikan dan Bahan yang
digunakan.
X. Kesimpulan
1. Penambahan NaOH pada larutan kation Al
3+
akan menghasilkan endapan putih
yaitu Al(OH)
3
dan penambahan NaOH secara berlebihan pada larutan kation
Al
3+
akan melarutkan endapan Al(OH)
3
menghasilkan larutan [Al(OH)4]
-

2. Penambahan NH
3
pada larutan kation Al
3+
akan menghasilkan endapan Al(OH)
3

dan penambahan NH
3
secara berlebihan pada larutan kation Al
3+
tidak akan
melarutkan endapan Al(OH)
3
dan akan membentuk Al(OH)
3
itu sendiri sehingga
endapan yang dihasilkan semakin banyak
3. Penambahan NaOH pada larutan kation Ag
+
akan menghasilkan endapan cokelat
yaitu Ag
2
O dan penambahan NaOH secara berlebihan pada larutan kation Ag
+

tidak akan melarutkan endapan Ag
2
O dan akan membentuk Ag
2
O itu sendiri
sehingga endapan yang dihasilkan semakin banyak
4. Penambahan NH
3
pada larutan kation Ag
+
akan menghasilkan endapan Ag
2
O
dan penambahan NH
3
secara berlebihan pada larutan kation Ag
+
akan
melarutkan endapan Ag
2
O menghasilkan larutan 2[Ag(NH
3
)
3
]
+
(aq)

5. Penambahan NaOH pada larutan kation Ni2+ akan menghasilkan endapan hijau
yaitu Ni(OH)
2
dan penambahan NaOH secara berlebihan pada larutan kation
Ni2+ tidak akan melarutkan endapan Ni(OH)
2
dan akan membentuk Ni(OH)
2
itu
sendiri sehingga endapan yang dihasilkan semakin banyak
6. Penambahan NH
3
pada larutan kation Ni
2+
akan menghasilkan endapan Ni(OH)
2

dan penambahan NH
3
secara berlebihan pada larutan kation Ni(OH)
2
akan
melarutkan endapan Ni(OH)
2
menghasilkan larutan [Ni(NH
3
)
2
]
2+

7. Penambahan reagen yang didahulukan akan memberikan hasil berbeda pada
larutan yang dihasilkan.




XI. Daftar Pustaka
Anonim. 2011. Analisis Kualitatif Anorganik, (Online),
(http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_anorganik_kualitatif,Diakses pada 3
Maret 2014)
Anonim. 2011. Analisis Kation, (Online), (http://blogkita.info/analisis-kation/,
diakses pada 3 Maret 2014)
Anonim. 2011. Analisis Kualitatif, (Online),
(http://prinsipiakimia.blogspot.com/2011/06/analisis-kualitatif-anorganik.html,
diakses pada 3 Maret 2014)
Gulo Fakhili. 2007. Panduan Praktikum Kimia Anorganik 2. Indralaya: FKIP MIPA
Universitas Sriwijaya
Wulandari, Rahayu Ayu. 2011. Reaksi Kualitatif Anorganik, (Online),
(http://fleurazzahra.blogspot.com/2011/12/reaksi-kualitatif-anorganik.html,
diakses pada 3 Maret 2014)
Vogel. 2005. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro
Bagian , edisi ke Lima. Jakarta: PT. Kalman Media Pustaka