Anda di halaman 1dari 203

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013

Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang i


KATA PENGANTAR

Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan perlu
didukung data dan informasi lingkungan hidup yang akurat, lengkap dan
berkesinambungan. Informasi tersebut harus menggambarkan keadaan lingkungan
hidup, tekanan yang terjadi terhadap lingkungan hidup dan permasalahan yang timbul,
sehingga pemerintah dapat menentukan kebijakan yang akan diambil dalam
menanggulangi permasalah tersebut.
Laporan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) ini merupakan sarana yang penting
untuk mengkomunikasikan keadaan lingkungan hidup dalam rangka meningkatkan
pemahaman masyarakat tentang keadaan lingkungan serta membantu pengambil
keputusan menentukan tindakan yang diperlukan untuk memperbaiki pengelolaan
lingkungan.
Penyusunan Laporan SLHD ini merupakan hasil pengkajian keadaan lingkungan hidup
guna memberikan gambaran atas dampak kegiatan manusia dan alam yang terjadi
terhadap lingkungan hidup di Kabupaten Ketapang. Laporan SLHD ini selain sebagai
acuan bagi penyelenggaraan pembangunan di daerah juga bermanfaat bagi masyarakat
secara umum, bagi pelaku usaha, peneliti dan pemerhati lingkungan hidup di Kabupaten
Ketapang. Format penyusunan laporan SLHD ini mengikuti sistematika yang terlampir
pada Lampiran II C Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 27 Tahun 2009
dengan dilakukan penyesuaian karakteristik daerah Kabupaten Ketapang.
Atas diterbitkannya Laporan SLHD ini, kami sampaikan ucapan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu memberikan data dan informasi dalam penyusunan
Laporan SLHD ini. Semoga Laporan SLHD ini dapat menjadi bahan masukan yang baik
bagi semua pihak yang memerlukannya.


Ketapang, Oktober 2013




BUPATI KETAPANG






Drs. HENRI KUS, M.Si
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang ii
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------------- i
DAFTAR I SI --------------------------------------------------------------------------- ii
DAFTAR TABEL ---------------------------------------------------------------------- iii
DAFTAR GAMBAR ------------------------------------------------------------------- v
DAFTAR LAMPI RAN ------------------------------------------------------------------ vi


BAB I KONDI SI LI NGKUNGAN HI DUP DAN KECENDERUNGANNYA
A. Lahan dan Hutan ---------------------------------------------------------- 1
B. Keanekaragaman Hayati-------------------------------------------------- 11
C. Air ------------------------------------------------------------------------ 17
D. Udara --------------------------------------------------------------------- 35
E. Laut, Pesisir dan Pantai ------------------------------------------------- 38
F. Iklim ---------------------------------------------------------------------- 47
G. Kebencanaan ------------------------------------------------------------ 48

BAB I I TEKANAN TERHADAP LI NGKUNGAN
A. Kependudukan ----------------------------------------------------------- 53
B. Pemukiman -------------------------------------------------------------- 57
C. Kesehatan ---------------------------------------------------------------- 59
D. Pertanian ----------------------------------------------------------------- 67
E. Industri ------------------------------------------------------------------- 78
F. Pertambangan ------------------------------------------------------------ 81
G. Energi -------------------------------------------------------------------- 87
H. Transportasi -------------------------------------------------------------- 88
I. Pariwisata ---------------------------------------------------------------- 91
J. Limbah B3 ---------------------------------------------------------------- 95

BAB I I I UPAYA PENGELOLAAN LI NGKUNGAN
A. Rehabilitasi Lingkungan ------------------------------------------------- 98
B. Amdal -------------------------------------------------------------------- 101
C. Penegakan Hukum ------------------------------------------------------- 102
D. Peran serta Masyarakat ------------------------------------------------- 103
E. Kelembagaan ------------------------------------------------------------ 104

BAB I V REKOMENDASI ------------------------------------------------------------ 105

DAFTAR PUSTAKA ------------------------------------------------------------------- 108
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang iii
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1.1. Luas Areal Berhutan di Kabupaten Ketapang -------------------------- 2
Tabel 1.2. Luas Kerusakan Lahan Tiap Kecamatan Kabupaten Ketapang -------- 3
Tabel 1.3. Operasi Pengamanan Hutan dan Tindak Lanjut Pengamanan -------- 4
Di Kabupaten Ketapang Kurun Waktu 2006 2010
Tabel 1.4. Jumlah Titik Api dan Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di Kabupaten 6
Ketapang Tahun 2012
Tabel 1.5. Produksi Kayu Bulat Menurut Asal Kayu di Kabupaten Ketapang Tahun 7
2010-2011
Tabel 1.6. Realisasi Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kurun Waktu ------- 8
Tahun 2007 2013
Tabel 1.7. Sasaran Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kurun Waktu -------- 10
Tahun 2014 2016
Tabel 1.8. Sasaran Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan Kurun Waktu -------- 10
Tahun 2012 2026
Tabel 1.9. Sungai Utama di Kabupaten Ketapang --------------------------------- 19
Tabel 1.10. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Laur Tahun 2012 -------------- 22
Tabel 1.11. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Pawan Tahun 2012 ------------ 23
Tabel 1.12. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Keriau Tahun 2012 ------------ 25
Tabel 1.13. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Kendawangan Tahun 2012 --- 27
Tabel 1.14. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Pesaguan Tahun 2012 -------- 28
Tabel 1.15. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Jelai Tahun 2012 -------------- 30
Tabel 1.16. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Matan Tahun 2012 ------------ 31
Tabel 1.17. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Kualan Tahun 2012 ----------- 33
Tabel 1.18. Hasil Pemantauan Kualitas Air Sungai Tayap Tahun 2012 ------------ 34
Tabel 1.19. Hasil Pengukuran Kualitas Udara Ambien ------------------------------- 37
Tabel 1.20. Banyaknya Pulau di Kabupaten Ketapang Menurut Kecamatan ------ 39
Tabel 1.21. Jenis Vegetasi Mangrove Hasil Identifikasi di Kabupaten Ketapang -- 41
Tabel 1.22. Curah Hujan dan Hari Hujan di Stasiun Meteorologi Rahadi Oesman - 47
Ketapang Tahun 2012
Tabel 1.23. Prediksi Kebencanaan di Tiap Kecamatan Kabupaten Ketapang ------ 49
Tabel 2.1. Jumlah Penduduk Kabupaten Ketapang Menurut Kecamatan Tahun 2012 53
Tabel 2.2. Jumlah Penduduk Kabupaten Ketapang Menurut Kelompok Umur --- 54
Tahun 2012
Tabel 2.3. Rumah Tangga Kabupaten Ketapang Menurut Jenis Atap ------------- 57
Tabel 2.4. Rumah Tangga Kabupaten Ketapang Menurut Sumber Air Minum ---- 58
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang iv
Tabel 2.5. Kelompok Umur Kasus Kerjadian HIV AIDS -------------------------- 65
Tabel 2.6. Luas Lahan Sawah dan Bukan Sawah Kabupaten Ketapang Tahun 2012 69
Tabel 2.7. Pemanfaatan Lahan Sawah Kabupaten Ketapang Tahun 2012 ------- 70
Tabel 2.8. Luas Panen, Hasil Panen dan Produksi Tanaman Pangan ------------- 71
Kabupaten Ketapang Tahun 2012
Tabel 2.9. Luas Panen, Hasil Panen dan Produksi Tanaman Hortikultura -------- 72
Kabupaten Ketapang Tahun 2012
Tabel 2.10. Jumlah Populasi Tenak Tiap Kecamatan Kabupaten Ketapang Tahun 2012 73
Tabel 2.11. Daftar Perusahaan Perkebunan Yang Sudah Memiliki IUP Kabupaten 74
Ketapang Hingga Tahun 2013
Tabel 2.12. Hasil Penilaian PROPER Tahun 2012 dan 2013 Kabupaten Ketapang 80
Tabel 2.13. Sebaran Potensi Bahan Tambang dan Galian di Kabupaten Ketapang 81
Tabel 2.14. Lokasi Kegiatan Pertambangan Tanpa Izin Kabupaten Ketapang ----- 85
Hingga Tahun 2013
Tabel 2.15. Jumlah Pelanggan dan Produksi Listrik Tahun 2012 ------------------- 87
Tabel 2.16. Panjang Jalan Menurut Jenis Permukaan dan Status Jalan (Km) ------ 89
Tabel 2.17. Panjang Jalan Menurut Kondisi dan Status Jalan (Km) ---------------- 89
Tabel 2.18. Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis Kendaraan Di ------------ 90
Kabupaten Ketapang Tahun 2010, 2011 dan 2012
Tabel 2.19. Sarana Pelabuhan Laut, Sungai dan Udara Di Kabupaten Ketapang 90
Tabel 2.20. Lokasi Obyek Wisata di Kabupaten Ketapang -------------------------- 92
Tabel 2.21. Nama-Nama Hotel dan Penginapan di Kabupaten Ketapang ---------- 92
Hingga Tahun 2013
Tabel 2.22. Jumlah Kunjungan Wisatawan Macanegara dan Nusatara ------------- 94
Tahun 2010 - 2012
Tabel 2.23. Izin Pengelolaan Limbah B3---------------------------------------------- 96
Tabel 3.1. Kegiatan Usaha Yang Wajib Dokumen UKL dan UPL dan Telah ----------- 101
Memperoleh Rekomendasi Kelayakan Lingkungan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang v
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1.1. Peta Kawasan Hutan dan Perairan Kabupaten Ketapang-------------- 5
Gambar 1.2. Sebaran Hotspot di Kabupaten Ketapang Tahun 2012 ---------------- 7
Gambar 1.3. Beberapa Jenis Keanekaragaman Flora di Kabupaten Ketapang ----- 12
Gambar 1.4. Beberapa Jenis Keanekaragaman Fauna di Kabupaten Ketapang ---- 15
Gambar 1.5. Zonasi Mangrove di Indonesia ----------------------------------------- 40
Gambar 1.6. Jenis-Jenis Mangrove Yang Dapat Ditemui di Kabupaten Ketapang - 42
Gambar 1.7. Jenis-Jenis Terumbu Karang Yang Terdapat di Pulau Bawal, --------- 46
Pulau Cempedak dan Pulau Sawi
Gambar 1.8. Peta Prakiraan Daerah Rawan Bencana di Kabupaten Ketapang ---- 52
Gambar 2.1. Grafik Jumlah Kasus HIV AIDS Kurun Waktu 2006 - 2012 --------- 64
Gambar 2.2. Grafik Kasus HIV AIDS Pada Laki-Laki dan Perempuan ------------- 64
Gambar 2.3. Peta Sebaran Izin Pertambangan di Kabupaten Ketapang ------------ 83
Hingga Tahun 2013
Gambar 2.4. Aktvitas Pertambangan Bauksit ---------------------------------------- 84
Gambar 2.5. Aktvitas Pertambangan Emas Rakyat ---------------------------------- 84
Gambar 2.6. Peta Sebaran Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI)----------------- 86
di Kabupaten Ketapang Hingga Tahun 2013
Gambar 2.7. Diagram Alir Penanganan Limbah B3 ---------------------------------- 97



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang vi
DAFTAR LAMPIRAN


Lampiran 1. Daftar Perusahaan Perkebunan Yang Sudah Memiliki Izin Usaha
Perkebunan (IUP) Hingga Tahun 2013
Lampiran 2. Data Pemegang Izin Usaha Pertambangan ( IUP ) Di Kabupaten Ketapang
Lampiran 3. Data Perusahaan Yang Memiliki Dokumen Lingkungan (AMDAL/UKL-UPL)
Di Kabupaten Ketapang
Lampiran 4. Sebaran kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan KABUPATEN KETAPANG
Tahun 2007 2013
Lampiran 5. Daftar Luas Kawasan Hutan dan Perairan Kabupaten Ketapang
Lampiran 6. Data Potensi Perikanan Budidaya Kabupaten Ketapang Tahun 2013
Lampiran 7. Potensi Kelautan Dan Perikanan Tahun 2013
Lampiran 8. Hasil Identifikasi Jenis - Jenis Mangrove
Lampiran 9. Hasil Identifikasi Fauna Reptil dan Mamalia
Lampiran 10. Hasil Identifikasi Jenis - Jenis Aves






Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 1

KONDISI LINGKUNGANHIDUP DAN
KECENDERUNGANNYA


Kabupaten Ketapang merupakan salah satu kabupaten yang berada di
Provinsi Kalimantan Barat, terletak di antara garis 0 1926,52 - 3 04 16,59
Lintang Selatan dan 109 47 36,55 - 111 21 37,36 Bujur Timur. Kabupaten
ini memiliki luas wilayah 31.588 km. Posisi geografis wilayahnya terletak di
bagian Selatan Provinsi Kalimantan Barat sehingga cukup strategis sebagai pintu
gerbang perdagangan keluar-masuk barang dari maupun ke daerah-daerah lain,
terutama dari kota-kota besar di Pulau Jawa.
Kabupaten Ketapang memiliki Luas Wilayah 31.588 Km
2
atau kurang lebih
21,52 % dari luas wilayah Kalimantan Barat dan merupakan kabupaten terluas
di Kalimantan Barat. Selama tahun 2013, kondisi lingkungan hidup di Kabupaten
Ketapang masih banyak mengalami tekanan. Kondisi lingkungan hidup
Kabupaten Ketapang Tahun 2013 selengkapnya diuraikan pada pokok bahasan
sebagai berikut.
A. Lahan dan Hutan
Di Provinsi Kalimantan Barat secara umum, termasuk di Kabupaten
Ketapang, penunjukan kawasan hutan pada awalnya ditetapkan berdasarkan
Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 757/Kpts/Um/10/1982 tanggal 12
Oktober 1982 tentang Rencana Pengukuhan dan Penatagunaan Hutan
(RPPH) atau Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK). Terbitnya Rencana Tata
Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Kalimantan Barat pada tahun 1995
membawa konsekuensi dilakukannya pemaduserasian antara TGHK dengan
RTRWP yang kemudian ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Kehutanan dan Perkebunan No. 259/Kpts-II/2000 tanggal 23 Agustus 2000
tentang Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan di Provinsi Kalimantan
Barat.
Penataan batas kawasan hutan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam
rangka memberikan kepastian hukum atas status, letak, batas, dan luas
BAB
I
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 2
kawasan hutan. Kegiatan penataan batas kawasan hutan meliputi proyeksi
batas, pemancangan patok batas, pengumuman, inventarisasi dan
penyelesaian hak-hak pihak ketiga, pemasangan pal batas, pengukuran dan
pemetaan, serta pembuatan Berita Acara Tata Batas. Kawasan-kawasan
hutan yang telah dilaksanakan penataan batas tersebut meliputi kawasan
Hutan Lindung (HL), Hutan Produksi (HP), serta Hutan Produksi yang dapat
dikonversi (HPK).
Areal berhutan di Kabupaten Ketapang memiliki luas 1.223.606 hektar atau
sekitar 40,99% dari luas wilayah kabupaten. Areal berhutan tersebut terdiri
dari Hutan Kering Primer, Hutan Kering Sekunder, Hutan Rawa Primer,
Hutan Rawa Sekunder, Hutan Mangrove Primer, Hutan Mangrove Sekunder
dan Hutan Tanaman. Untuk mengetahui luas lahan berhutan di Kabupaten
Ketapang dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1.
Luas Areal Berhutan di Kabupaten Ketapang
Penutupan Lahan
Luas
J umlah ( Ha)
Persen
( % )
Dalam
Kawasan
Luar
Kawasan
Hutan Kering Primer 228.026 132 228.158 7,64
Hutan Kering Sekunder 660.051 70.761 730.812 24,48
Hutan Rawa Primer - - - -
Hutan Rawa Sekunder 197.202 64.385 261.588 8,76
Hutan Mangrove Primer - - - -
Hutan Mangrove
Sekunder
245 2.802 3.048 0,10
Hutan Tanaman - - - -
Non Hutan 821.196 940.346 1.761.543 59,01
Total Luas 1.906.722 1.078.427 2.985.149 100,00
Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang, 2013.

Sedangkan secara khusus untuk luas kawasan hutan dan perairan
Kabupaten Ketapang memiliki luas 3.021.419,57 hektar, dengan rincian
menurut fungsinya sebagai berikut :
(1). Taman Nasional : 21.643,81 Hektar
(2). Cagar Alam : 142.868,03 Hektar
(3). Hutan Lindung : 275.876,44 Hektar
(4). Hutan Lindung Gambut : 21.268,02 Hektar
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 3
(5). Hutan Produksi Terbatas : 688.204,39 Hektar
(6). Hutan Produksi Tetap : 616.858,15 Hektar
(7). Hutan Produksi Konversi : 153.305,46 Hektar
(8). Hutan Kota : 93,20 Hektar
(9). Kawasan Konservasi Bernilai Tinggi : 1.528,40 Hektar
(10). Areal Penggunaan Lain : 1.084.409,21 Hektar
(11). Sungai dan Danau : 15.364,67 Hektar

Kondisi lahan dan hutan yang terdapat di Kabupaten Ketapang sangat
dipengaruhi oleh kebakaran hutan dan lahan serta alih fungsi lahan dan
hutan. Sedangkan khusus untuk kondisi hutan di Kabupaten Ketapang
sangat dipengaruhi oleh aktivitas penebangan liar (illegal logging) dan
perambahan hutan. Untuk mengetahui luas kerusakan lahan di tiap
kecamatan Kabupaten Ketapang dapat dilihat pada Tabel 1.2.
Tabel 1.2.
Luas Kerusakan Lahan Tiap Kecamatan
Kabupaten Ketapang

Kecamatan Luas ( Ha)
Kendawangan 243.760
Manis Mata 18.403
Marau 5.500
Singkup 8.911
Air Upas 8.200
Jelai Hulu 25.000
Tumbang Titi 15.500
Pemahan -
Sungai Melayu Rayak 598
Matan Hilir Selatan 42.300
Benua Kayong -
Matan Hilir Utara 9.850
Delta Pawan -
Muara Pawan 8.500
Nanga Tayap 45.000
Sandai 15.300
Hulu Sungai 75.000
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 4
Kecamatan Luas ( Ha)
Sungai Laur 27.500
Simpang Hulu 98.000
Simpang Dua 57.522
Total Luas 704.844
Sumber : Kabupaten Ketapang Dalam Angka 2012.

Pembalakan Liar ( I llegal Logging)
Pembalakan liar atau penebangan liar (illegal logging) adalah kegiatan
penebangan, pengangkutan dan penjualan kayu yang tidak sah atau tidak
memiliki izin dari otoritas setempat. Kurun waktu 2006 hingga 2010,
kegiatan operasi pengamanan hutan menemukan kayu yang ditenggarai
hasil penembangan secara liar yang tidak dilengkapi dengan dokumen yang
dipersyaratkan. Temuan kayu tersebut kemudian disita dan kemudian
dilakukan pelelangan. Untuk mengetahui Operasi Pengamanan Hutan dan
Tindak Lanjut Pengamanan Di Kabupaten Ketapang Kurun Waktu 2006
2010 dapat dilihat pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3.
Operasi Pengamanan Hutan dan Tindak Lanj ut Pengamanan
Di Kabupaten Ketapang Kurun Waktu 2006 2010
Tahun Barang Bukti ( M ) Hasil Lelang ( Rp)
2006 KO 3.784,8985 4.647.444.000,00
KB 11,03
2007 KO 2.755,7600 2.228.530.480,00
KB -
2008 KO 2.201,4926 1.854.450.000,00
KB -
2009 KO 1.187,9926 1.484.800.000,00
KB -
2010 KO 200,8606 163.000.000,00
KB -
Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 5

Gambar 2.1.
Peta Kawasan Hutan dan Per airan Kabupaten Ketapang
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 6
Kebakaran Hutan dan Lahan
Setiap tahun terutama pada saat musim kemarau sebagian besar wilayah
Kabupaten Ketapang seringkali timbul kabut asap yang berasal dari kegiatan
pembakaran lahan atau kebakaran hutan dan lahan. Kebakaran hutan dan
lahan sangat sulit dihentikan, oleh karena itu upaya yang dilakukan adalah
tindakan pencegahan yang diarahkan untuk mengurangi jumlah titik api,
sehingga tidak berdampak pada kualitas lingkungan di Kabupaten Ketapang.
Data jumlah titik api (hot spot) dan Luas Kebakaran Hutan dan Lahan di
Kabupaten Ketapang disajikan pada Tabel 1.4.
Tabel 1.4.
J umlah Titik Api dan Luas Kebakaran Hutan dan Lahan
di Kabupaten Ketapang Tahun 2012
No Bulan J umlah Titik Api
1 Januari 47
2 Februari 37
3 Maret 27
4 April 19
5 Mei 19
6 Juni 81
7 Juli 85
8 Agustus 685
9 September 879
10 Oktober 33
11 November 3
12 Desember 3
Total Hotspot Tahun 2012 1896
Sumber : Brigdalkarhut Manggala Agni Daops Ketapang,
Tahun 2012.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 7

Gambar 1.2.
Sebaran Hotspot di Kabupaten Ketapang Tahun 2012

Produksi Kayu
Produksi kayu Kabupaten Ketapang dihasilkan dari 4 (empat) sumber kayu
legal antara lain berasal dari Hak Pengusahaan Hutan (HPH), Non HPH, Hak
Pemungutan Hasil Hutan (HPHH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI).
Realisasi pemanenan kayu terbesar kurun waktu 2010 dan 2011 berasal dari
HTI, kemudian diikuti HPH, HPHH dan Non HPH. Untuk mengetahui produksi
kayu yang dihasilkan dari Kabupaten Ketapang dapat dilihat pada Tabel 1.5.
Tabel 1.5.
Produksi Kayu Bulat Menurut Asal Kayu
di Kabupaten Ketapang Tahun 2010 - 2011
Asal Kayu
Tahun 2010 Tahun 2011
Target Realisasi Target Realisasi
Hak Pengusahaan
Hutan (HPH)
134.512,15 74.349,28 133.609,68 99.971,33
Non HPH - - 12.031,60 3.981,92
Hak Pemungutan
Hasil Hutan
14.722,00 9.835,00 3.835,00 7.788,34
Hutan Tanaman 379.769,31 183.272,14 2.085.191,24 196.259,01
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 8
Asal Kayu
Tahun 2010 Tahun 2011
Target Realisasi Target Realisasi
Industri
J umlah 529.003,46 267.484,30 2.234.667,52 308.000,60
Sumber : Kabupaten Ketapang Dalam Angka 2012.

Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Rehabilitasi hutan dan lahan bertujuan untuk memulihkan, mempertahankan
dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung,
produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga
kehidupan tetap terjaga. Program rehabilitasi hutan dan lahan Dinas
Kehutanan Kabupaten Ketapang telah memiliki rencana jangka panjang
hingga Tahun 2026. Perencanaan program yang disusun per 5 tahun, Tahun
2007 2011, Tahun 2012 2016, Tahun 2017 2021 dan tahun 2022
2026. Sasaran program tersebut mulai dari Kawasan Hutan Lindung, Hutan
Produksi, Hutan Lindung APL dan Kawasan Budidaya di APL (Areal
Penggunaan Lain).
Realiasasi kegiatan program rehabilitasi hutan dan lahan kurun waktu 2007
2013 dapat dilihat pada Tabel 1.6. Rencana program program rehabilitasi
hutan dan lahan kurun waktu 2014 2017 dapat dilihat pada Tabel 1.7.
sedangkan perencanaan sasaran program rehabilitasi hutan dan lahan kurun
waktu 2012 2026 dapat dilihat pada Tabel 1.8.
Tabel 1.6.
Realisasi Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Kurun Waktu Tahun 2007 2013
Tahun Kecamatan Luas ( Ha)
2007 Nanga Tayap 1.100
Sungai Melayu Raya 300
Tumbang Titi 300
Sandai 25
Benua Kayong 100
Total 1.825
2008 Manis Mata 55
Nanga Tayap 154
Marau 835
Matan Hilir Selatan 505
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 9
Tahun Kecamatan Luas ( Ha)
Sungai Laur 70
Total 1.619
2009 Hulu Sungai 610
Simpang Hulu 250
Simpang Dua 685
Jelai Hulu 60
Kendawangan 150
Total 1.755
2010 Nanga Tayap 239
Tumbang Titi 40
Total 279
2011 Sungai Laur 18
Nanga Tayap 18
Jelai Hulu 18
Marau 20
Kendawangan 3,3
Benua Kayong 3,3
Total 80,6
2012 Marau 475,51
Nanga Tayap 431,10
Simpang Dua 7,32
Hulu Sungai 298,62
Sungai Laur 31.84
Matan Hilir Selatan 481,29
Kendawangan 1.611,04
Matan Hilir Utara 294,36
Total 4.833,53
2013 Matan Hilir Selatan 94,24
Marau 1996,69
Nanga Tayap 1.011,03
Matan Hilir Utara 1.203,58
Simpang Dua 192,25
Sungai Laur 3,73
Tumbang Titi 22,65
Total 4.476,91
Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 10
Tabel 1.7.
Sasaran Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Kurun Waktu Tahun 2014 2016
Kawasan
J umlah Lokasi
( UTP)
Luas ( Ha)
Tahun 2014
HL 69 4.811,65
HP - -
Lindung APL 18 4.199,56
Budidaya APL - -
Total 87 8.931,22
Tahun 2015
HL 39 2.799,31
HP 4 334,50
Lindung APL 24 2.100,62
Budidaya APL 13 2.373,32
Total 80 7.587,74
Tahun 2016
HL - -
HP 4 142,02
Lindung APL 12 3.158,42
Budidaya APL 13 4.516,93
Total 29 7.817,36
Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang, 2013.
Keterangan : UTP : Unit Terkecil Pengelolaan


Tabel 1.8.
Sasaran Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan
Kurun Waktu Tahun 2012 2026
Kawasan
J umlah Lokasi
( UTP)
Luas ( Ha)
Tahun 2012 - 2016
HL 170 10.694,60
HP 74 4.568,44
Lindung APL 74 11.540,73
Budidaya APL 28 6.943,00
Total 346 33.746,77
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 11
Kawasan
J umlah Lokasi
( UTP)
Luas ( Ha)
Tahun 2017 - 2021
HL - -
HP 145 15.935,01
Lindung APL 41 3.857,92
Budidaya APL 11 1.098,15
Total 197 20.891,07
Tahun 2022 - 2026
HL - -
HP - -
Lindung APL - -
Budidaya APL 85 16.319,78
Total 85 16.319,78
Sumber : Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang, 2013.

B. Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati merupakan bagian dari komponen yang secara
ekologis berperan sebagai penentu keseimbangan ekosistem yang penting
bagi kehidupan, terutama dalam penyediaan jasa lainnya. Dengan demikian
keanekaragaman hayati merupakan salah satu penopang utama
kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia.
Keanekaragaman hayati adalah keadaan beragamnya ekosistem, jenis
variabilitas genetika binatang, tumbuh-tumbuhan dan mikroorganisme yang
hidup. Setiap individu organisme mengandung ribuan gen dengan kombinasi
yang unik, sementara jenis atau spesies terdiri dari banyak organisme.
Ekosistem merupakan kumpulan dari banyak spesies yang berinteraksi satu
sama lainnya dan dengan lingkungan fisik.
Atas dasar itu pelestarian keanekaragaman hayati menjadi penting demi
termanfaatkannya keanekaragaman hayati secara benar dan berkelanjutan.
Kenyataan sekarang pelestarian keanekaragaman hayati masih belum
terlaksana dengan baik, mengingat ancaman yang dihadapi sangat rumit
dan sangat sulit diatasi.
Kabupaten Ketapang sebagai bagian dari Indonesia juga memiliki kekayaan
alam berupa keanekaragaman hayati baik flora maupun fauna yang
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 12
tersimpan dalam hutan hujan tropika basah dan ekosistem lainnya. Potensi
dan keanekaragaman jenis pada dasarnya sangat banyak, akan tetapi
hingga saat ini belum terpetakan dan terdokumentasi secara baik dan rinci.
Untuk keanekaragaman hayati tumbuhan, secara umum Kalimantan memiliki
flora yang terkaya di Kepulauan Sunda, baik jumlah kekayaan maupun
keragaman jenisnya. Lebih dari 3.000 jenis pohon, termasuk 267 jenis
Dipterocarpaceae, yang merupakan kelompok pohon kayu perdagangan
terpenting di kawasan Asia Tenggara; 58% jenis Dipterocarpaceae ini
merupakan jenis endemik. Kalimantan memiliki 2.500-300 jenis anggrek dan
1.000 jenis Pakis, dan merupakan pusat distribusi karnivora kantung semar
(Nepenthes). Tingkat endemisme flora cukup tinggi, yaitu sekitar 34% dari
seluruh tumbuhan, tetapi hanya 59 marga di pulau ini unik (dari 1.500
marga seluruhnya).
Beberapa jenis anggrek dan kantung semar di Kabupaten Ketapang masih
dijumpai diantaranya anggrek alam seperti Phalaenopsis sp, Paphiopedilum
sp, Cymbidium sp, Bulbophylum sp, Grammatophylum sp, Dimorphorchis sp
yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Tanaman anggrek yang merupakan
family Orchidaceae yang merupakan family terbesar dari tanaman berbunga
yang meliputi 850 genus dan 20.000 species, diantaranya 2500 3000 jenis
anggrek terdapat di hutan Kalimantan (Chairani dkk, 2005).



Gambar 1.3.
Beberapa J enis Keanekaragaman Flora di Kabupaten Ketapang

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 13
Fauna Kalimantan menggambarkan sejarah geologi dan hubungannya
dengan daratan purba. Pulau ini kaya akan fauna yang berasal dari Asia,
misalnya, keluarga rusa, sapi liar, babi, kucing, monyet dan kera, tupai, dan
banyak keluarga burung Asia. Banyak fauna Kalimantan yang serupa dengan
fauna daratan Asia dan pulau-pulau Sunda lainnya, tetapi keserupaan
dengan Sulawesi dan pulau-pulau di sebelah timur hanya sedikit, karena
komposisi faunanya agak berbeda.


Babi Hutan (Sus Barbatus) Kelelawar (Pteropus vampyrus)

Kancil (Tragulus napu) Landak (Hystrik brachyura)

Trenggiling (Manis javanicus) Tupai (Rattus spp)

Biawak (Varanus borneensis) Ular Phiton (Phyton raticulatus)
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 14


Burung Kacer (Copsychus saularis) Burung Punai (Treron veman)

Burung Tiung (Gracula religiosa) Kukang (Nycticebus coucang)


Bunglon (Calotes jubatus) Belibis (Thalia delbata)


But-But (Centropus sinensis) Burung Madu (Anthreptes
sirigalensis)


Camar Laut (Larus sp) Burung Gereja (Passer
montanus)
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 15


Kadal (Mabouya multifasciata) Burung Kedidi (Egretta sacra)

Layang-Layang (Hurindo rustica) Raja Udang (Alcedinidae sp)
Gambar 1.4.
Beberapa J enis Keanekaragaman Fauna di Kabupaten Ketapang

Secara umum fauna Kabupaten Ketapang yang paling banyak dikenal adalah
spesies orang utan. WWF 2009, menyebutkan bahwa Kabupaten Ketapang
memiliki 2 (dua) Sub Spesies orang utan yaitu Pongo Pygmaeus Wurmbi dan
Pongo Pygmaus Pygmaeus. Data beberapa jenis fauna yang dilindungi di
Kabupaten Ketapang dapat dijumpai di dalam Kawasan konservasi yang ada
di Kabupaten Ketapang, diantaranya :
1) CAGAR ALAM MUARA KENDAWANGAN, cagar alam dengan Luas :
149,049 Ha yang terletak di Kecamatan Kendawangan Kabupaten
Ketapang (Penunjukan kawasan : Tahun 1982). Cagar Alam Muara
Kendawangan memiliki tipe ekosistem hutan pantai, rawa air tawar dan
tipe hutan dataran rendah. Jenis tumbuhan yang terdapat di dalam
kawasan diantaranya Cemara Laut (Casuarina equistifolia) dan Ketapang
(Terminalia catapa), Bakau-bakauan (Rhizophora spp), Api-apian
(Avisenia spp) dan Brugueira spp, bentangur(Callophyllum spp), Pulai
(Alstonia spp) dan Jelutung (Dyera cosfulata), Ramin (Gonytylus
bancanus), Pohon Gelam (Mellaleuca leucadendron) dan Kawi (Shorea
belangeran) dan Medang (Litsea sp). Pada ekosistem pantai menjadi
tempat bertelurnya Penyu Belimbing (Dermochellelys coriaceae),
beraneka ragam burung pantai dan Kura Gading (Orlitia borneensis).
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 16
Pada tipe hutan rawa air tawar menjadi habitat Bekantan (Nasalis
larvatus) dan beberapa jenis Primata lainnya. Jenis fauna yang dijumpai
di kawasan ini antara lain : Penyu Sisik (Eretmmochelys imbricata),
Penyu Hijau (Celonia mydas), Penyu Belimbing (Dermochellys
coreaceae), Tuntong (Batagurbaska) dan Kura-kura Galling (Orlitia
bornensis), Bekantan (Nasalis larvatus) dan Orang Utan (Pongo
pygmaeus), Kera Ekor panjang (Macaca pascicularis), Rusa Sambar
(Cervus unicolor), Pelanduk Kerangas (Tragulus javanicus), Pecuk Ular
(Anthinga melanogaster), Cikalang Besar (Fregata minor), Cangak Merah
(Ardea purpurea), Kuntul Cina (Egreta eulophotes), Cangak Laut (Ardea
sumatrana), Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis), Kuntul Karang (Egreta sarca),
Bangau Hutan Rawa (Ciconia storms), Bangau Tongtong (Lepfoptilos
javanicus).
2) TAMAN NASI ONAL GUNUNG PALUNG, taman nasional dengan Luas :
90.000 Ha yang terletak di Kabupaten Ketapang (Penunjukan kawasan :
Tahun 1990). Taman Nasional Gunung Palung merupakan kawasan
Taman Nasional pertama di Kabupaten Ketapang. Secara geografis
berada pada 1
o
00' - 1
o
20' Lintang Selatan dan 109
o
00' - 110
o
25' Bujur
Timur. Kekhasan dari Taman Nasional Gunung Palung adalah
keanekaragaman ekosistem hutan yang ada didalamnya, mulai dari
ekosistem pantai hingga ekosistem puncak pegunungan. Sehingga
kawasan tersebut digolongkan sebagai salah satu kawasan yang memiliki
vegetasi terlengkap di dunia. Jenis fauna yang menjadi primadona
kawasan ini adalah dari golongan Primata, terutama jenis Orangutan.
Selain itu terdapat pula beranekaragam jenis burung dan Mamalia besar.
Potensi lainnya yang dimiliki oleh Taman Nasional Gunung Palung adalah
panorama alam dan peninggalan budaya masyarakat sekitar kawasan,
sehingga memungkinkan untuk dijadikan objek kunjungan bagi para
wisatawan disamping berfungsi untuk kawasan pelestarian, pendidikan,
penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Taman Nasional
Gunung Palung memiliki ekosistem terlengkap, mulai dari ekosistem
pantai, hutan payau (Mangrove), rawa air tawar, rawa gambut, alluvial
dataran rendah berpasir, dataran rendah berbatu, dataran tinggi dan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 17
puncak pegunungan (hutan lumut). Didalam tipe-tipe habitat tersebut
terdapat beranekaragam jenis tumbuhan dan satwa liar. Sebagian besar
habitat didominasi oleh jenis-jenis dari family Dipterocarpaceae seperti
Meranti (Shorea spp), Kruing (Dipterocapus spp) dan Kapur
(Dryobalanops spp). Jenis-jenis lainnya juga terdapat berbagai pohon
penghasil buah-buahan yang menjadi sumber makanan berbagai satwa,
diantaranya jenis Durian (Durio carinatus), Rambutan hutan (Nephelium
sp), Pluntan (Arthocarpus sp) dan berbagai jenis Ara (Ficus spp). Jenis
fauna yang dapat dengan mudah dijumpai di dalam kawasan adalah dari
golongan Primata seperti Kera (Macaca fascicularis), Owa (Hylobathes
agilis), Kelasi (Hylobathes frontata) dan Orangutan (Pongo pygmaeus).
Khusus untuk keberadaan Orangutan di Taman Nasional Gunung Palung,
telah dilakukan beberapa penelitian oleh Universitas Harvard Amerika
Serikat di Stasiun Peneliti Cabang Panti. Jenis mamalia darat lainnya,
terdapat jenis Beruang Madu, Rusa, Babi hutan dan berbagai jenis
burung.

C. Air
Sumber daya air merupakan salah satu sumber daya terpenting bagi
kehidupan manusia dalam melakukan berbagai kegiatan yang dilakukannya,
termasuk kegiatan pembangunan. Meningkatnya jumlah penduduk dan
kegiatan pembangunan telah meningkatkan kebutuhan sumber daya air. Di
lain pihak, ketersediaan sumber daya air semakin terbatas, hal ini
disebabkan oleh berbagai faktor seperti pencemaran, penggundulan hutan,
kegiatan pertanian yang mengabaikan kelestarian lingkungan, dan
perubahan fungsi daerah tangkapan air. Di banyak daerah terjadi
kecenderungan penurunan kuantitas dan kualitas air. Walaupun ketersediaan
air dari waktu ke waktu relatif tetap karena mengikuti daur hidrologi,
keadaan dan kualitasnya yang kurang memenuhi syarat menyebabkan
pemakaian dan pemanfaatannya menjadi terbatas. Dalam rangka memenuhi
kebutuhan air untuk berbagai kebutuhan, kelestarian sumber daya air perlu
dijaga. Prinsip dasar yang berkaitan dengan pemanfaatan air yang efisien
juga harus mempertimbangkan aspek daya dukung dan konservasi sumber
daya air.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 18
Melihat kepentingan dan ketergantungan masyarakat akan keberadaan
sungai tersebut peranannya sangat tinggi, namun disisi lain perhatian
terhadap kualitas dan kuantitas sungai beserta anak-anak sungainya kurang
mendapat perhatian dalam pemanfaatannya. Akibatnya dapat menurunkan
kualitas dan kuantitas air sungai tersebut yang pada gilirannya akan
menurunkan nilai dan fungsi strategisnya, dan pada akhirnya akan
menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
Selain itu dalam pemanfaatannya, masyarakat sering melupakan untuk
menjaga kelestarian fungsi badan air sungai, bahkan menjadikan sungai
beserta anak sungainya sebagai tong sampah atau terminal akhir dari
pembuangan limbah domestik dan limbah industri. Disamping itu, berbagai
kegiatan lainnya secara tidak langsung juga mempengaruhi kualitas air
sungai, seperti terjadinya penggundulan hutan, hilangnya tempat-tempat
perlindungan air tanah serta daerah tangkapan air dan kegiatan pertanian
yang menggunakan pestisida dan zat-zat kimia lain ke dalam sungai serta
kegiatan lain yang juga mempengaruhi kualitas dan kuantitas air sungai.
Wilayah Kabupaten Ketapang dialiri 10 sungai utama dan anak sungai,
menyebabkan angkutan sungai dapat menjangkau ke tempat-tempat yang
relatif jauh dari pusat kota. Karena itu pula angkutan sungai sangat penting
peranannya untuk menjamin kelancaran kegiatan ekonomi masyarakat.
Secara umum manfaat sungai bagi masyarakat di Kabupaten Ketapang
antara lain adalah:
1. Sebagai sumber bahan baku air minum
2. Sebagai sumber air bersih bagi keperluan rumah tangga dan industri
3. Sebagai sumber protein hayati (perikanan) dan irigasi pertanian,
pertambangan serta perkebunan
4. Sebagai tempat rekreasi
5. Sebagai sarana transportasi baik oleh penduduk maupun industri.
Transoprtasi sungai bagi masyarakat pedesaan disamping sebagai
alternatif, juga merupakan transportasi utama pada daerah tertentu
(pedalaman).
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 19
Tabel 1.9.
Sungai Utama di Kabupaten Ketapang
SWS Nama Sungai
Luas DPS
( km )
Panj ang
Sungai
( Km)
Lebar
Sungai
( m)
Pawan S. Pawan 13.400 228,50 110
S. Semandang 3.090 103,00 60
S. Tulak 840 51,50 40
S. Pesaguan 2.860 138,00 130
S. Tenger 358 35,50 45
S. Kendawangan 3.380 130,00 120
S. Simbar 630 23,70 50
S. Air Hitam Besar 1.900 95,00 55
S. Air Hitam Kecil 980 25,00 40
S. Jelai 5.840 231,00 120
Sumber : Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Departemen Pekerjaan
Umum, 2010.

Pencemaran Air
Undang-Undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan hidup menyatakan bahwa pencemaran lingkungan hidup adalah
masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, hara, dan/atau komponen
lain ke dalam lingkungan idup oleh kegiatan manusia sehingga melampaui
baku mutu lingkungan hidup yang telah ditetapkan. Di dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air didefinisikan bahwa Pencemaran air adalah
masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, hara dan atau
komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehinga kualitas air
turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat
berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
Dari definisi pencemaran air tersebut dapat diuraikan sesuai makna
pokoknya menjadi 3 (tiga) aspek, yaitu aspek kejadian, aspek penyebab
atau pelaku dan aspek akibat. Walaupun fenomena alam seperti gunung
berapi, badai, gempa bumi juga mengakibatkan perubahan yang besar
terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 20
Indikator bahwa air lingkungan telah tercemar adalah ditandai dengan
adanya perubahan atau tanda-tanda yang dapat diamati melalui : (1)
Adanya perubahan suhu air, (2) Adanya perubahan nilai pH atau konsentrasi
ion, (3) Adanya perubahan warna, rasa air, (4) Timbulnya endapan, koloid,
bahan terlarut, (5) Adanya mikroorganisme, dan (6) Meningkatnya
radioaktivitas air lingkungan.
Metode pemantauan kualitas air yang telah ada dapat digunakan untuk
menentukan kualitas air, apakah air bersifat tidak tercemar, tercemar
ringan, tercemar sedang atau tercemar berat. Diantaranya adalah metode
fisik kimia, di mana metode ini merupakan penentuan kualitas air yang
didasarkan pada Dissolved Oxygent (DO), Biologycal Oxygent Demand
(BOD), Chemical Oxygent Demand (COD) dan sebagainya. Selanjutnya
pemantauan kualitas lingkungan dapat menggunakan indeks diversitas
dengan menggunakan kumpulan data makroinvertebrata bentos. Masuknya
bahan pencemar ke dalam air permukaan merubah struktur komunitas yang
hidup di dalamnya.
Indikator atau tanda bahwa air pada lingkungan telah tercemar menurut
Anonim (2008) terdiri dari tiga jenis, yaitu sumber pencemar yang berasal
dari sumber fisik, sumber kimia dan sumber biologis. Sumber fisik berasal
dari kegiatan rumah tangga, pasar jalan dan lain-lain yang biasanya
membuang sampah di sembarang tempat. Sumber kimia berasal dari
kegiatan-kegiatan yang membuang limbah industrinya yang mengandung
bahan-bahan kimia tanpa pengolahan lebih lanjut, atau sudah diolah tetapi
buangannya tidak sesuai dengan Baku Mutu Air Limbah yang ditetapkan
Pemerintah. Sedangkan sumber biologis berasal dari adanya kehidupan
mikroba (jasad renik, mikroorganisme) seperti bakteri, fungi dan algae.
Adanya kehidupan mikroba tersebut di dalam air, banyak menimbulkan
kerugian, walaupun juga banyak mempunyai manfaat dan keuntungan.
Sungai merupakan badan air mengalir (flowing water atau lentik). Lebih
kurang 69% air sungai ini berasal dari ratusan air tanah (base flow) dan
sisanya berasal dari hujan yang mengalir sebagai aliran permukaan (surface
run off). Kondisi kritis sungai dapat dinilai dari parameter kuantitas (debit)
alirannya dan kualitas airnya.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 21
Dampak dari polutan pada sungai sangat tergantung dari sifat alamiah
polutan dan karakteristik dari sungai itu sendiri. Beberapa yang termasuk
karakteristik sungai antara lain volume dan kecepatan air yang mengalir
pada sungai, kedalaman sungai dan jenis dasar sungai. Secara teoritis
transport dan polutan dalam lingkungan perairan dikontrol oleh pergerakan
massa (advection) dan pencampuran atau difusi. Ketika massa bahan kimia
dibuang ke sungai, pusat massa dari bahan kimia tersebut akan mengalir
dengan kecepatan rata-rata aliran sungai. Bahan kimia yang mengalir akan
tersebar dalam badan sungai, akibat difusi turbulen dan kecepatan yang
tidak seragam sepanjang sungai. Kecepatan aliran air pada sungai biasanya
bernilai maksimum di dekat pusat sungai dan di bawah permukaan,
sedangkan air di dekat dasar dan di tepi sungai diperlambat oleh adanya
friksi sehingga pencampuran akan semakin besar.
Hasil Pemantauan Kuali tas Air
Sungai Laur
Sungai Laur merupakan salah satu cabang sungai Pawan, sungai ini
melintasi Kecamatan Sungai Laur dan Kecamatan Sandai, muara sungai Laur
terletak di Desa Penjawaan Kecamatan Sandai. Di daerah aliran sungai laur
terdapat kegiatan perkebunan kelapa sawit antara lain PT. Prakarsa Tani
Sejati (PTS) dan PT. Swadaya Mukti Prakarsa (SMP).
Aktivitas yang berada di sepanjang Sungai Laur selain kegiatan perkebunan
kelapa sawit (yang berada di sekitar Desa Sungai Air Putih), antara lain
adalah aktivitas dermaga, pemukiman penduduk. Keberadaan Sungai Laur
selain untuk sarana transportasi sungai, juga berfungsi sebagai aktivitas
kehidupan sehari-hari bagi masyarakat yang berada di sepanjang sungai
Laur (mencuci, memasak, sanitasi). Pada daerah hulu Sungai Laur terdapat
aktivitas kegiatan penambangan illegal (penambangan emas) Daerah Hulu
dari Sungai Laur.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 22
Tabel 1.10.
Hasil Pemantauan Kualitas Ai r Sungai Laur Tahun 2012
No
Parameter
Uj i
Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
SL- 1 SL- 2 SL- 3 SL- 4 SL- 5 SL- 6 TK- 1 TK- 2 I I I
1 Temperatur C 29,9 30 30 30 30 30 25,3 25,4 3 3
2 TDS mg/L 14,6 14,6 14,7 14,7 14,7 11,4 87,0 63 1000 1000
3 TSS mg/L - - - - - - 7,62 8 50 50
4 pH - 6,63 6,55 6,47 6,5 6,39 6,27 5,94 6,11 6 9 6 9
5 DO mg/L - - - - - - 8,04 8,08 6 4
6 Salinitas
0
/
00
0 0 0 0 0 0 - - - -
7 DHL S/cm 31,8 31,7 31,8 31,9 32 25 - - - -
8 Turbiditas NTU - - - - - - 18,5 18,2 - -
9 BOD mg/L 0,8 0,6 0,7 1,3 0,5 0,4 4,20 2,96 2 3
10 COD mg/L 26 32 37 35 30 51 11,7 14,6 10 25
11 Arsenic (As) mg/L - - - - - - <0,0005 <0,0005 1 1
12 Merkuri (Hg) mg/L - - - - - - 0,0002 <0,0002 0,001 0,002
13 Kadmium (Cd) mg/L <0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051 0,002 0,003 0,01 0,01
14 Timbal (Pb) mg/L <0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051 0,023 0,024 0,03 0,03
15 Tembaga (Cu) mg/L <0,0048 <0,0048 <0,0048 <0,0048 <0,0048 <0,0048 0,012 0,004 0,02 0,02
16 Seng (Zn) mg/L <0,0053 0,01 <0,0053 <0,0053 0,0072 <0,0053 0,022 0,008 0,05 0,05
17 Besi mg/L 0,79 0,81 0,81 0,83 0,84 0,73 1,54 1,10 0,3 -
18 Mangan mg/L - - - - - - 0,028 0,016 0,1 -
19
Amoniak
(NH3-N)
mg/L < 0,02 0,02 0,05 <0,02 <0,02 <0,02 0,019 0,035 0,5 -
20 Nitrit Sebagai N mg/L 0,06 0,06 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 0,006 0,006 0,06 0,06
21 Fenol mg/L 0,18 0,18 0,84 1,02 <0,1 4,87 <0,001 <0,001 1 1
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
TK-1 : Sungai Laur (Kuala Laur/Jembatan Laur) SL-1 : Sungai Laur (Kuala Laur)
SL-2 : Sungai Laur (Kuala Laur) SL-3 : Sungai Laur (Kuala Laur)
SL-4 : Sungai Laur (Kampung Penyengkuang) SL-5 : Sungai Laur (Kampung Penyengkuang)
SL-6 : Sungai Laur (Kampung Penyengkuang) TK-2 : Sungai Laur (Desa Spiso)

Dari hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai Laur dapat diketahui
bahwa sebagian besar parameter masih di bawah ambang batas, kecuali
besi (Fe), COD dan fenol di beberapa titik pengambilan sampel yang
melebihi ambang batas yang ditetapkan. Kadar besi (Fe) di seluruh titik
pengambilan sampel berada di atas ambang batas walaupun selisih antara
kadar yang terdeteksi dengan kadar ambang batas tidak terlalu besar. Besi
(Fe) merupakan unsur kimia yang digolongkan dalam logam berat.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 23
Tingginya unsur-unsur kimia tersebut pada titik-titik pengambilan sampel air
Sungai laur sangat dipengaruhi oleh kondisi alamiah dan kondisi non
alamiah. Adapun Kondisi alamiah dapat berasal dari keadaan alam dimana
keberadaan logam di alam juga dapat berpotensi untuk mempengaruhi
lingkungan. Sedangkan kondisi non alamiah dapat bersumber dari
kegiatan/aktivitas dari individu, kelompok yang berada di sepanjang sungai
yang dapat mencemari lingkungan.
Hal yang perlu diperhatikan adalah keruhnya air sungai laur di beberapa titik
pengambilan sampel diakibatkan adanya aktivitas penambangan emas ilegal
di dalam badan sungai dan anak sungai yang dilakukan oleh masyarakat
setempat dan pendatang yang pada saat pengambilan sampel air masih
ditemukan.
Sedangkan Kadar COD dan fenol dapat disebabkan adanya faktor alamiah
dan non alamiah. Faktor alamiah dapat berasal dari alam akibat adanya
pelapukan tumbuhan dan sejenisnya. Sedangkan faktor nonalamiah dapat
disebabkan adanya akivitas masyarakat disekitar sungai yang berasal dari
adanya aktivitas masyarakat seperti pembukaaan lahan untuk perkebunan
dan pertanian.
Sungai Pawan
Sungai Pawan merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Kabupaten
Ketapang, dimana sungai ini melintasi Kecamatan Delta Pawan, Benua
Kayong, Muara Pawan, Nanga Tayap, Sandai dan Hulu Sungai. Aktivitas
yang berada di daerah aliran sungai Pawan antara lain Perkebunan Kepala
Sawit (PT. Agrolestari Mandiri, PT. Sepanjang Inti Surya Mulia, PT. SMA, PT.
GY Plantation), Logpond PT. Suka Jaya Makmur (Alas Kusuma), pemukiman
penduduk dan pertanian penduduk.
Tabel 1.11.
Hasil Pemantauan Kualitas Ai r Sungai Pawan Tahun 2012
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S. PW- 1 S.PW- 2 I I I
1 Temperatur C 25,6 25,5 3 3
2 TDS mg/L 70 53 1000 1000
3 TSS mg/L 29,5 32,2 50 50
4 pH - 6,13 6,33 6 9 6 9
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 24
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S. PW- 1 S.PW- 2 I I I
5 DO mg/L 7,20 7,48 6 4
6 Salinitas
0
/
00
- - - -
7 DHL S/cm - - - -
8 Turbiditas NTU 37,6 17,9 - -
9 BOD mg/L 2 2,72 2 3
10 COD mg/L 23 16,4 10 25
11 Arsenic (As) mg/L <0,0005 <0,0005 1 1
12 Merkuri (Hg) mg/L <0,0002 <0,0002 0,001 0,002
13 Kadmium (Cd) mg/L <0,001 <0,001 0,01 0,01
14 Timbal (Pb) mg/L 0,005 0,008 0,03 0,03
15 Tembaga (Cu) mg/L 0,006 0,007 0,02 0,02
16 Seng (Zn) mg/L 0,032 <0,001 0,05 0,05
17 Besi mg/L 1,56 1,32 0,3 -
18 Mangan mg/L 0,028 0,029 0,1 -
19 Amoniak (NH3-N) mg/L <0,001 0,017 0,5 -
20 Nitrit Sebagai N mg/L 0,006 0,006 0,06 0,06
21 Fenol mg/L <0,001 0,016 1 1
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
S.PW-01 : Intake PDAM S.PW-02 : Tanjungpura

Dari hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai pawan dapat diketahui
bahwa sebagian besar parameter masih di bawah ambang batas, kecuali
besi (Fe), COD dan fenol di beberapa titik pengambilan sampel yang
melebihi ambang batas yang ditetapkan. Kadar COD dan fenol dapat
disebabkan adanya faktor alamiah dan non alamiah. Faktor alamiah dapat
berasal dari alam akibat adanya pelapukan tumbuhan dan sejenisnya.
Sedangkan faktor nonalamiah dapat disebabkan adanya akivitas masyarakat
disekitar sungai yang berasal dari adanya aktivitas masyarakat seperti
pembukaaan lahan untuk perkebunan dan pertanian.
Sedangkan Kadar besi (Fe) di seluruh titik pengambilan sampel berada di
atas ambang batas walaupun selisih antara kadar yang terdeteksi dengan
kadar ambang batas tidak terlalu besar. Besi (Fe) merupakan unsur kimia
yang digolongkan dalam logam berat. Tingginya unsur-unsur kimia tersebut
pada titik-titik pengambilan sampel air Sungai laur sangat dipengaruhi oleh
kondisi alamiah dan kondisi non alamiah. Adapun Kondisi alamiah dapat
berasal dari keadaan alam dimana keberadaan logam di alam juga dapat
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 25
berpotensi untuk mempengaruhi lingkungan. Sedangkan kondisi non
alamiah dapat bersumber dari kegiatan/aktivitas dari individu, kelompok
yang berada di sepanjang sungai yang dapat mencemari lingkungan.
Sungai Keriau (Pawan Hulu)
Sungai Keriau merupakan hulunya Sungai Pawan yang terletak di
Kecamatan Hulu Sungai. Pada daerah sekitar sungai Keriau masih terdapat
hutan sekunder dan khususnya daerah sempadan sungai sudah banyak
ditanami pohon karet oleh masyarakat setempat. Aktivitas yang berada di
daerah aliran sungai Keriau antara lain : pemukiman dan perkebunan
masyarakat.
Pada beberapa lokasi di Sungai Keriau masih terdapat kegiatan
penambangan emas di dalam aliran sungai Keriau, dengan bentuk ponton
terapung. Menurut informasi masyarakat setempat (masyarakat
Menyumbung, Sandai dan sekitarnya) pada daerah hulu sungai Keriau masih
beroperasi kegiatan penambangan emas ilegal yang dikelola oleh
masyarakat lokal maupun pendatang.
Tabel 1.12.
Hasil Pemantauan Kualitas Ai r Sungai Keriau Tahun 2012
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
HS - 1 HS - 2 HS - 3 HS - 4 HS - 5 HS - 6 HS - 7 HS - 8 I I I
1 Temperatur (T) C
27 27 27 27 26 26 26 26
3 3
2 pH -
- - - - - - -
6 9 6 9
3 DHL S/cm
40,0 33,7 84,7 87,5 28,4 27,5 19,49 18,5
- -
4 TDS mg/L
18,5 15,6 40,0 41,4 13 12,6 8,8 8,4
1000 1000
5 Salinity
0
/
00

0 0 0 0 0 0 0 0
- -
6 BOD mg/L
2,0 1,2 1,1 2,9 2,4 1,3 3,4 2,5
2 3
7 COD NTU
20 24 23 26 23 21 41 33
10 25
8 TC mg/L
5,4 4,6 5,6 5,0 5,3 5,6 7,8 6,3
- -
9 IC mg/L
1,6 1,3 1,0 1,4 2,3 1,3 1,2 1,3
- -
10 TOC mg/L
3,8 3,3 4,2 3,6 3, 4,3 6,6 5,0
- -
11 Besi (Fe) mg/L
0,10 0,05
<
0,0096
<
0,0096
<
0,0096
<
0,0096
0,04 0,02
0,03 -
12 Cadmium (Cd) mg/L
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0048
0,007 0,0082
0,01 0,01
13 Tembaga (Cu) mg/L
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0051
<
0,0048
<0,00
48
0,02 0,02
14 Timbal (Pb) mg/L
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0053
<
0,0051
<0,00
51
0,03 0,03
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 26
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
HS - 1 HS - 2 HS - 3 HS - 4 HS - 5 HS - 6 HS - 7 HS - 8 I I I
15 Seng (Zn) mg/L
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<0,00
53
0,05 0,05
16
Amoniak
(NH3-N)
mg/L
- - - - - - - - - -
17
Nitrit Sebagai N
mg/L
- - - - - - - - - -
18
Fenol
mg/L
- - - - - - - - - -
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
HS-1 : Sungai Keriau (Desa Senduruhan) HS-2 : Sungai Keriau (Desa Menyumbung)
HS-3 : Sungai Biak (Desa Randau Jungkal) HS-4 : Sungai Keriau (Desa Randau Jungkal)
HS-5 : Sungai Keriau (Desa Demit) HS-6 : Sungai Keriau (Desa Patai Patah)
HS-7 : Jembatan Muara Cekak (Sungai Cekak) HS-8 : Exs. PT. Trika Sari (Desa Muara Cekak)

Hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai Keriau menunjukkan bahwa
sungai tersebut dalam keadaan tercemar ringan hal ini terutama dapat
dilihat dari beberapa parameter yang berada diatas baku mutu, walaupun
tidak disemua tititk pemantuan, seperti kadar COD dan besi di sebagian titik
pengambilan sampel yang sudah melebihi ambang batas. Pemantauan yang
dilakukan pada musim penghujan dimana debit dan volume air juga
meningkat yang disebabkan tingginya curah hujan.
Mengingat sungai keriau merupakan hulunya sungai pawan yang mana
melintasi 7 Kecamatan di Kabupaten Ketapang dan digunakan sebagai
bahan baku untuk Perusahaan Air Minum Daerah di Kota Ketapang, maka
perlu adanya tindak lanjut untuk memantau dan mencegah semakin
tercemarnya sungai ini.
Sungai Kendawangan
Sungai Kendawangan yang merupakan tumpuan aktivitas masyarakat yang
berada pinggiran sungai dan masuk dalam 2 (dua) wilayah Kecamatan.
Wilayah yang masuk dalam 2 Kecamatan yaitu Wilayah Kecamatan Marau
dan Kecamatan Kendawangan.
Aktivitas yang berada di sepanjang Sungai Kendawangan, yaitu kegiatan
perkebunan kelapa sawit (Golden Hope Group, Sinar Mas Group), aktivitas
dermaga (pelabuhan CPO Golden Hope, pelabuhan bongkar muat kegiatan
penambangan bauksit PT. Harita Prima Abadi Mineral), penambangan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 27
bauksit (PT. Harita Prima Abadi Mineral), penambangan bijih besi (PT. Putra
Alam Lestari dan PT. Kendawangan Putra Lestari), penambangan pasir
zirkon, pemukiman penduduk. Keberadaan Sungai Kendawangan selain
untuk sarana transportasi sungai, juga berfungsi sebagai aktivitas kehidupan
sehari-hari bagi masyarakat yang berada di sepanjang sungai Kendawangan
(mencuci, memasak, sanitasi). Daerah hulu dari Sungai Kendawangan
berada di Kecamatan Marau.
Tabel 1.13.
Hasil Pemantauan Kualit as Ai r Sungai Kendawangan Tahun 2012
No Parameter Uj i Satuan
Hasi l Uj i Kelas Air
S.KDW - 1 S.KDW - 2 S.KDW - 3 S.KDW - 4 S.KDW - 5 S.KDW - 6 S.KDW- 7 S.KDW- 8 I I I
1 Temperatur C 29 29 29 29 29 29 25,5 25,4 3 3
2 TDS mg/L 46 1582 4 17 4 28 13.140 71 1000 1000
3 TSS mg/L - - - - - - 25,6 26,3 50 50
4 pH - 7,95 6,37 6,24 6,89 7,61 8,09 6,58 6,46 6 9 6 9
5 DO mg/L - - - - - - 6,68 5,96 6 4
6 Salinitas
0
/
00
3,7 1,6 4,1 17,2 3,9 0 - - - -
7 DHL S/cm 69,3 3,09 7,5 28 7,15 44,5 - - - -
8 Turbiditas NTU - - - - - - 19,8 13,9 - -
9 BOD mg/L 0,3 0,2 0,4 0,7 1,2 0,7 4,76 3,24 2 3
10 COD mg/L 4 62 8 69 53 23 71,3 56 10 25
11 Arsenic (As) mg/L - - - - - - <0,0005 <0,0005 1 1
12 Merkuri (Hg) mg/L - - - - - - 0,0002 0,0003 0,001 0,002
13 Kadmium (Cd) mg/L
<0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051 <0,0051
0,010 <0,001 0,01 0,01
14 Timbal (Pb) mg/L
< 0,0048 < 0,0048 < 0,0048 < 0,0048 < 0,0048 < 0,0048
0,096 0,009 0,03 0,03
15 Tembaga (Cu) mg/L
< 0,0051 < 0,0051 < 0,0051 < 0,0051 < 0,0051 < 0,0051
0,025 0,002 0,02 0,02
16 Seng (Zn) mg/L 0,08 0,04 0,04 0,02 0,03 002 0,078 0,008 0,05 0,05
17 Besi mg/L 0,04 <0,0096 <0,0096 <0,0096 <0,0096 <0,0096 0,146 0,748 0,3 -
18 Mangan mg/L - - - - - - 0,014 0,028 0,1 -
19 Amoniak (NH3-N) mg/L < 0,01 0,5 < 0,01 < 0,01 0,08 0,1 0,025 0,019 0,5 -
20 Nitrit Sebagai N mg/L 0,03 0,07 0,03 <0,03 <0,03 <0,03 0,213 0,009 0,06 0,06
21 Fenol mg/L <0,1 0,4 0,1 <0,1 <0,1 2 <0,001 <0,001 1 1
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
S.KDW-1 : Muara Sungai Membuluh S.KDW -2 : Sungai Membuluh
S.KDW-3 : Sebelum Muara Sungai Membuluh S.KDW -4 : Pelabuhan PT. HPAM Kendawangan
S.KDW-5 : Dermaga PT. PAL S.KDW -6 : Pelabuhan PT. HPAM Air Upas
S.KDW-7 : Jembatan Kelampai S.KDW -8 : Dermaga Desa Bakung

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 28
Dari hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai Kendawangan
menunjukkan adanya beberapa parameter yang melebihi ambang batas
yang ditetapkan, yaitu kadar COD, besi dan fenol di sebagian titik
pengambilan sampel. Tercemarnya sungai ini diperkirakan akibat banyaknya
aktivitas perusahaan pertambangan di daerah aliran sungai Kendawangan
dan perkebunan kelapa sawit. Salinitas yang tinggi di beberapa titik
pengamatan terutama di daerah yang dekat muara sungai menunjukkan
bahwa sungai ini mempunyai debit air yang tidak besar sehingga air laut
masuk ke badan sungai.
Sungai Pesaguan
Sungai Pesaguan berada di wilayah administrasi Kecamatan Tumbang Titi,
Kecamatan Matan Hilir Selatan dan Sungai Melayu Rayak. Aktivitas yang
berada di sepanjang Sungai Pesaguan adalah perkebunan dan ladang
(Karet) yang dikelola oleh masyarakat sekitar, perkebunan kelapa sawit
yang dikelola oleh perusahaan (Poliplant Group), dan kegiatan
penambangan (emas, zirkon, maupun timah). Untuk masyarakat yang
berada di daerah muara Sungai Pesaguan aktivitas yang dilakukan
masyarakat.
Daerah sekitar Sungai Pesaguan, sebagian besar kebun karet, semak
belukar, dan hutan skunder. Untuk aktivitas kegiatan perkebunan masih
pada tahap pembersihan lahan (land clearing).
Tabel 1.14.
Hasil Pemantauan Kualit as Ai r Sungai Pesaguan Tahun 2012
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S. PSG-1 S.PSG-2 I I I
1 Temperatur C 26,9 26,8 3 3
2 TDS mg/L 1.200 65 1000 1000
3 TSS mg/L 33 39,2 50 50
4 pH - 5,34 6,58 6 9 6 9
5 DO mg/L 6,76 7,96 6 4
6 Salinitas
0
/
00
- - - -
7 DHL S/cm - - - -
8 Turbiditas NTU 100 46 - -
9 BOD mg/L 1,24 1,28 2 3
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 29
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S. PSG-1 S.PSG-2 I I I
10 COD mg/L 49,8 7,29 10 25
11 Arsenic (As) mg/L <0,0005 <0,0005 1 1
12 Merkuri (Hg) mg/L <0,0002 0,0002 0,001 0,002
13 Kadmium (Cd) mg/L 0,001 <0,001 0,01 0,01
14 Timbal (Pb) mg/L 0,017 <0,002 0,03 0,03
15 Tembaga (Cu) mg/L <0,001 <0,001 0,02 0,02
16 Seng (Zn) mg/L 0,013 0,061 0,05 0,05
17 Besi mg/L 1,29 <0,001 0,3 -
18 Mangan mg/L 0,027 0,011 0,1 -
19
Amoniak
(NH3-N)
mg/L 0,024 0,040 0,5 -
20 Nitrit Sebagai N mg/L 0,045 0,010 0,06 0,06
21 Fenol mg/L <0,001 <0,001 1 1
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
S.PSG-01 : Jembatan Pesaguan S.PSG-02 : Sungai Tapah

Dari hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai Pesaguan adanya
parameter yang melebihi ambang batas sesuai dengan yang dipersyaratkan,
yaitu kadar COD dan besi di seluruh titik pengambilan sampel dan kadar
fenol dibeberapa titik pengambilan sampel.
Kadar fenol yang cukup tinggi dalam air sungai Pesaguan diduga berasal dari
kegiatan masyarakat di tepian sungai yang menggunakannya untuk kegiatan
perkebunan dan pembukaan lahan. Selain itu pelapukan tumbuhan disekitar
sungai juga turut berkontribusi pada peningkatan kadar fenol pada aliran
sungai.
Sungai Jelai
Sungai Jelai yang merupakan tumpuan aktivitas masyarakat yang berada
pinggiran sungai dan masuk dalam 2 (dua) wilayah Kecamatan. Wilayah
yang masuk dalam 2 Kecamatan yaitu Wilayah Kecamatan Jelai Hulu dan
Kecamatan Manis Mata. Sungai Jelai berbatasan langsung dengan Provinsi
Kalimantan Tengah, Hulu Sungai Jelai berada di Provinsi Kalimantan Tengah.
Sedangkan hilir Sungai Jelai berada di Kuala Jelai/Natai Kuini. Daerah
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 30
Sungai Jelai yang berbatasan dengan Kalimantan Tengah yaitu Kabupaten
Sukamara dan wilayah terdekat yang masuk di Kabupaten Ketapang adalah
Sukaramai, yang bersebelahan langsung dengan Sukamara.
Aktivitas yang berada di sepanjang Sungai Jelai di wilayah Kecamatan Manis
Mata adalah kegiatan perkebunan kelapa sawit (PT. Harapan Sawit Lestari,
PT. Harapan Hibrida Kalbar, PT. UAI), aktivitas dermaga (pelabuhan CPO
PT. Harapan Sawit Lestari yang berada di daerah Jambi. Untuk kegiatan
yang berada di wilayah Kecamatan Jelai Hulu yaitu Perkebunan Kelapa Sawit
(PT. Fangiono, di daerah Pangkalan Suka).
Tabel 1.15.
Hasil Pemantauan Kualitas Ai r Sungai J elai Tahun 2012
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
SJ - 01 SJ - 02 I I I
1 Temperatur C 27,4 27,5 3 3
2 TDS mg/L 14 14 1000 1000
3 TSS mg/L 3,25 7,57 50 50
4 pH - 6,14 5,85 6 9 6 9
5 DO mg/L 7,41 7,21 6 4
6 Salinitas
0
/
00
- - - -
7 DHL S/cm - - - -
8 Turbiditas NTU 3,74 6,92 - -
9 BOD mg/L 1,92 1,46 2 3
10 COD mg/L 5,94 3,92 10 25
11 Arsenic (As) mg/L <0,0005 <0,0005 1 1
12 Merkuri (Hg) mg/L <0,0002 <0,0002 0,001 0,002
13 Kadmium (Cd) mg/L <0,001 <0,001 0,01 0,01
14 Timbal (Pb) mg/L <0,002 0,011 0,03 0,03
15 Tembaga (Cu) mg/L 0,002 <0,001 0,02 0,02
16 Seng (Zn) mg/L <0,001 <0,001 0,05 0,05
17 Besi mg/L 0,364 0,725 0,3 -
18 Mangan mg/L <0,001 0,019 0,1 -
19 Amoniak (NH3-N) mg/L 0,146 0,031 0,5 -
20 Nitrit Sebagai N mg/L <0,001 0,001 0,06 0,06
21 Fenol mg/L 0,019 0,024 1 1
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
SJ-01 : Jembatan Lama Tanjung SJ -02 : Jembatan gantung Riam Danau
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 31
Dari hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai Jelai menunjukkan bahwa
kadar besi di seluruh titik pengambilan sampel yang sudah melebihi ambang
batas. Walaupun untuk parameter besi hanya dipersyaratkan untuk baku
mutu kelas I, yaitu untuk peruntukan air baku pengolahan air minum.
Sungai Matan
Sungai Matan yang bermuara di Kabupaten Kayong Utara (Kecamatan
Simpang Hilir), merupakan sungai yang berada di dalam kawasan Taman
Nasional Gunung Palong. Daerah Hulu Sungai Matan di berada di Desa
Legong (Kecamatan Simpang Hulu).
Salah satu anak sungai Matan yang mengalir ke Sungai Matan adalah Sungai
Banjur (Hulu sungai Banjur berada di dalam kawasan Hutan Lindung).
Aktivitas yang berada di Sekitar Sungai Matan adalah perkebunan kelapa
sawit (yang dikelola perusahaan), pemukiman penduduk, perkebunan lokal
yang dikelola oleh masyarakat sekitar.
Tabel 1.16.
Hasil Pemantauan Kualit as Ai r Sungai Matan Tahun 2012
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S.MT- 1 S.MT- 2 S.MT- 3 S.MT- 4 S.MT- 5 S.MT- 6 S.MT- 7 S.MT- 8 I I I
1 Temperatur (T) C
27 27 26 27 26 26 25 25
3 3
2 pH -
6,64 6,45 6,80 6,48 6,44 6,76 6,41 6,62
6 9 6 9
3 DHL S/cm
20,8 21,5 18,1 19,3 19 19,4 20,6 29
- -
4 TDS mg/L
9,4 9,7 8,1 8,7 8,6 8,7 9,3 13,4
1000 1000
5 Salinity
0
/
00

0 0 0 0 0 0 0 0
- -
6 BOD mg/L
1,5 1,1 1,2 0,8 0,3 0,8 0,6 0,7
2 3
7 COD NTU
24 6 9 1 8 12 22 4
10 25
8 TC mg/L
5,8 4,7 4,9 4,1 4 2,8 5,4 3,3
- -
9 IC mg/L
2,4 2,2 2,2 2 2,2 1,5 1,2 1,6
- -
10 TOC mg/L
3,4 2,5 2,7 2,1 1,8 1,3 4,2 1,7
- -
11 Besi (Fe) mg/L
1,1 0,75
<
0,0096
0,6 0,7 0,5 0,9 0,6
0,03 -
12 Cadmium (Cd) mg/L
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0048
0,007 0,0082
0,01 0,01
13 Tembaga (Cu) mg/L
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0051
<
0,0048
<0,004
8
0,02 0,02
14 Timbal (Pb) mg/L
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0053
<
0,0051
<0,005
1
0,03 0,03
15 Seng (Zn) mg/L
0,01 0,02 0,01 0,02 0,02 0,01 0,08 0,05
0,05 0,05
16
Amoniak
(NH3-N)
mg/L
< 0,02 < 0,02 < 0,02 < 0,02 < 0,02 < 0,02 < 0,02 < 0,02
0,5 -
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 32
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S.MT- 1 S.MT- 2 S.MT- 3 S.MT- 4 S.MT- 5 S.MT- 6 S.MT- 7 S.MT- 8 I I I
17
Nitrit Sebagai N
mg/L
0,10 0,07 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 0,03 < 0,01
0,06 0,06
18
Fenol
mg/L
1,92 0,96 0,5 0,82 0,7 0,7 < 0,1 1,28
1 1
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
S.MT-1 : Sungai Gerai (Jembatan Batang Gerai)
S.MT-2 : Sungai Banjur (Desa Semandang Kanan)
S.MT-3 : Sungai Simpang Dua (Desa Semandang Kanan)
S.MT-4 : Sungai Banjur (Selantak)
S.MT-5 : Sungai Banjur (Bukang)
S.MT-6 : Sungai Karab (Bukang)
S.MT-7 : Sungai Banjur (Desa Mekar Raya)
S.MT-8 : Sungai Banjur (Jembatan Desa Mekar Raya)

Dari hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai Matan dapat diketahui
bahwa sebagian besar parameter masih di bawah ambang batas, kecuali
kadar besi di seluruh titik pengambilan sampel yang sudah melebihi ambang
batas dan kadar fenol dibeberapa titik yaitu S.MT-1 dan S.MT-8 juga
melebihi ambang batas yang ditetapkan. Adanya kadar besi ini disebabkan
logam besi merupakan komponen mayor jenis logam yang terdapat dialam
dalam jumlah yang cukup besar sehingga keberadaannya mudah ditemukan
baik diperairan atau didaratan. Melihat dari hasil uji laboratorium tersebut
maka dapat disimpulkan bahwa kualitas air Matan masih cukup baik.
Sungai Kualan
Sungai Kualan yang merupakan sumber aktivitas sehari-hari bagi
masyarakat sekitar Ibu kota Kecamatan Simpang Hulu (Balai Bekuak) dan
masyarakat sepanjang Sungai Kualan antara lain untuk aktivitas kehidupan
sehari-hari seperti mandi, cuci, maupun kebutuhan air bersih. Berdasarkan
informasi masyarakat yang berada di Balai Berkuak, di Sungai Kualan
terdapat kegiatan penambangan emas tanpa izin yang berada di daerah hulu
Sungai Kualan dan berdampak pada pencemaran air.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 33
Tabel 1.17.
Hasil Pemantauan Kualit as Ai r Sungai Kualan Tahun 2012
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S.H- 1 S.H- 2 S.H- 3 S.H- 4 S.H- 5 S.H- 6 S.H- 7 S.H- 8 I I I
1 Temperatur (T) C
26 26 26 27 26 27 27 27
3 3
2 pH -
- - - - - - - -
6 9 6 9
3 DHL S/cm
6,19 382 619 769 905 264 365 343
- -
4 TDS mg/L
300 184 300 375 443 126,7 175,9 165,2
1000 1000
5 Salinity
0
/
00

0,3 0,2 0,3 0,4 0,4 0,1 0,2 0,2
- -
6 BOD mg/L
2,1 2,1 1,3 1,9 2,0 1,5 2,5 2,3
2 3
7 COD NTU
19 20 19 27 20 44 35 24
10 25
8 TC mg/L
6.4 5.7 6.2 5.4 5.6 4.4 5.2 4.2
- -
9 IC mg/L
1,4 1,6 1,5 1,7 1,9 2,0 1,6 2,1
- -
10 TOC mg/L
5,0 4,1 4,7 3,7 3,6 2,5 3,6 2,1
- -
11 Besi (Fe) mg/L
0,93 0,23 0,82 1,4 0,89
<0,00
96
1,13 0,82
0,03 -
12 Cadmium (Cd) mg/L
<0,00
51
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0048
0,007
0,008
2
0,01 0,01
13 Tembaga (Cu) mg/L
<0,00
48
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0051
<
0,0048
<0,00
48
0,02 0,02
14 Timbal (Pb) mg/L
<0,00
51
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0053
<
0,0051
<0,00
51
0,03 0,03
15 Seng (Zn) mg/L
<0,00
53
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<
0,0053
<0,00
53
0,05 0,05
16
Amoniak
(NH3-N)
mg/L
- - - - - - - -
0,5 -
17
Nitrit Sebagai N
mg/L
<
0,01
< 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01
0,06 0,06
18
Fenol
mg/L
- - - - - - - -
1 1
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
S.H-1 : Sungai Kualan S.H-2 : Sungai Kualan
S.H-3 : Sungai Kualan S.H-4 : Sungai Kualan
S.H-5 : Sungai Kualan S.H-6 : Sungai Kualan
S.H-7 : Sungai Kualan S.H-8 : Sungai Kualan

Dari hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai kualan dapat diketahui
bahwa sebagian besar parameter masih di bawah ambang batas, kecuali
kadar besi di hampir seluruh titik pengambilan sampel yang sudah melebihi
ambang batas dan kadar COD dibeberapa titik yaitu S.H-7 dan S.H-8 juga
melebihi ambang batas yang ditetapkan. Adanya kadar besi ini disebabkan
logam besi merupakan komponen mayor jenis logam yang terdapat dialam
dalam jumlah yang cukup besar sehingga keberadaannya mudah ditemukan
baik diperairan atau didaratan. Sedangkan kadar fenol dapat disebabkan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 34
adanya aktivitas masyarakat disekitar sungai seperti perkebunan dan
pertanian.
Sungai Tayap
Kecamatan Nanga Tayap merupakan salah satu kecamatan yang paling
banyak memiliki aktivitas perusahaan di dalam kawasannya. Aktivitas
perusahaan yang berada di wilayah Kecamatan Nanga Tayap antara lain
kegiatan Pemantaan Hasil Hutan Alam (PT. Sukajaya Makmur), Pemanfaatan
Hasil Hutan Tanaman (PT. Wana Hijau Pesaguan), Perkebunan Kelapa Sawit
(PT. Agrolestari Mandiri, PT. Sepanjang Inti Surya Mulia, PT. Sawit Makmur
Abadi, BGA Group, PT. GY Plantation, dll), Kegiatan Pertambangan Bauksit
(PT. Harita Prima Abadi Mineral) dan kegiatan lainnya.
Selain aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut, pada anak-anak sungai
Kayong dan Sungai Tayap yang merupakan sungai terbesar di Kec. Nanga
Tayap sdelai sungai Pawan, banyak terdapat kegiatan penambangan emas
tanpa ijin (PETI) dan penambangan pasir, antara lain terdapat di sungai
Segagap dan Sungai Demit.


Tabel 1.18.
Hasil Pemantauan Kualit as Ai r Sungai Tayap Tahun 2012
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S.TY- 1 S.TY- 2 S.TY- 3 S.TY- 4 S.TY- 5 S.TY- 6 I I I
1 Temperatur (T) C
28 28 30 27 29 30
3 3
2 pH -
7,26 6,05 6,65 6,48 7,26 6,08
6 9 6 9
3 DHL S/cm
17,55 26,7 24,9 19,3 25,4 21,9
- -
4 TDS mg/L
8 12 11 11,5 12 10
1000 1000
5 Salinity
0
/
00

0 0 0 0 0 0
- -
6 BOD mg/L
1,3 1,7 0,4 0,4 0,6 0,3
2 3
7 COD NTU
20 49 23 14 64 4
10 25
8 TC mg/L
5,6 13,7 6,1 5,6 5,3 8,5
- -
9 IC mg/L
2 2,5 2,6 2,7 2,4 2,2
- -
10 TOC mg/L
3,6 11,2 3,5 2,9 2,9 6,3
- -
11 Besi (Fe) mg/L
0,76 2,04 0,87 0,7 0,7 1
0,03 -
12 Cadmium (Cd) mg/L
<
0,0051
0,009 0,01 0,01 0,01 0,01
0,01 0,01
13 Tembaga (Cu) mg/L
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0048
<
0,0051
0,02 0,02
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 35
No Parameter Uj i Satuan
Hasil Uj i Kelas Air
S.TY- 1 S.TY- 2 S.TY- 3 S.TY- 4 S.TY- 5 S.TY- 6 I I I
14 Timbal (Pb) mg/L
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0051
<
0,0053
0,03 0,03
15 Seng (Zn) mg/L
0,019 0,029 0,31 0,20 039 0,34
0,05 0,05
16
Amoniak
(NH3-N)
mg/L
< 0,02 0,13 < 0,02 < 0,02 < 0,02 0,02
0,5 -
17
Nitrit Sebagai N
mg/L
0,03 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01 < 0,01
0,06 0,06
18
Fenol
mg/L
< 0,1 0,2 < 0,1 0,61 0,42 0,51
1 1
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.
Keterangan Kode Sampel
S.TY-1 : Sungai Engkadin
S.TY-2 : Sungai Segagap
S.TY-3 : Jembatan Nanga Tayap
S.TY-4 : Sungai Demit, Tepi Jalan Desa Sekembar
S.TY-5 : Sungai Demit, Jembatan Desa Betenung
S.TY-6 : Muara Sungai Kayung

Dari hasil uji laboratorium pada sampel air Sungai Nanga Tayap dapat
diketahui bahwa sebagian besar parameter masih di bawah ambang batas,
kecuali kadar besi di seluruh titik pengambilan sampel yang sudah melebihi
ambang batas. Sedangkan kadar COD dan fenol dibeberapa titik juga
melebihi ambang batas yang ditetapkan. Kadar COD pada titik S.TY-2 dan
S.TY-5 dan kadar fenol pada titik S.TY-3 s.d S.TY-6. Adanya kadar besi ini
disebabkan logam besi merupakan komponen mayor jenis logam yang
terdapat dialam dalam jumlah yang cukup besar sehingga keberadaannya
mudah ditemukan baik diperairan atau didaratan. Adapun kadar COD dan
fenol dapat disebabkan oleh banyaknya aktivitas perusahaan pertambangan
di daerah aliran sungai Nanga Tayap dan perkebunan kelapa sawit. Serta
adanya pemukiman masyarakat disekitar sungai yang secara tidak langsung
juga dapat memberikan kontribusi.


D. Udara
Udara yang kita hirup merupakan gas yang tidak tampak, tidak berbau,
tidak bewarna maupun berasa. Akan tetapi udara yang benar-benar bersih
sudah sulit diperoleh, terutama di perkotaan yang telah terdapat aktivitas
usaha dan kepadatan lalu lintasnya. Udara yang telah tercemar dapat
merusak lingkungan dan kehidupan manusia. Terjadinya kerusakan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 36
lingkungan berarti berkurangnya daya dukung alam yang selanjutnya akan
mengurangi kualitas hidup manusia.
Pencemaran udara diartikan sebagai adanya bahan-bahan atau zat-zat asing
di dalam udara yang menyebabkan perubahan susunan atau komposisi
udara dari keadaan normalnya. Kehadiran bahan atau zat asing di dalam
udara dalam jumlah tertentu serta berada di udara dalam waktu yang cukup
lama, akan mengaggu kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan.
Udara merupakan campuran beberapa gas yang perbandingannya tidak
tetap, tergantung pada suhu udara, tekanan udara dan lingkungan
sekitarnya. Udara adalah juga atmosfir yang berada di sekeliling bumi yang
fungsinya sangat penting bagi kehidupan di muka bumi. Dalam udara
terdapat Oksigen (O
2
) untuk bernafas, karbondioksida (CO
2
) untuk proses
fotosintesis dan Ozon (O
3
) untuk menahan sinar ultraviolet. Susunan atau
komposisi udara bersih dan kering, antara lain :
Nitrogen (N
2
) : 78,09 %
Oksigen (O
2
) : 21,94 %
Argon (Ar) : 0,93 %
Kabondioksida (CO
2
) : 0,032 %
Kualitas udara ambient diwilayah Kabupaten Ketapang masih tergolong
alami dan belum mengalami pencemaran dari suatu usaha atau kegiatan.
Beberapa parameter kualitas udara ambient penting yang dilakukan
pengukuran antara lain : SO
2
(Sulfur Dioksida), NO
2
(Nitrogen Dioksida), CO
(Carbon Monoksida), Timbal (Pb), Hidrokarbon (HC) dan Debu (TSP/PM-10)
sebagaimana yang diprasyaratkan dan tertera di dalam lampiran Peraturan
Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
Sedangkan tingkat kebisingan telah menjadi peningkatan pada jam-jam
tertentu, karena disebabkan oleh mobilisasi kendaraan roda dua dan roda
empat. Hasil pengukuran selanjutnya dibandingkan dengan Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup No. 48/MENLH/11/1996 tentang Baku Mutu
Kebisingan.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 37
Tabel 1.19.
Hasil Pengukuran Kualitas Udar a Ambien
No Parameter Satuan U1 U2
Baku Mutu
Udara Ambien
1. Sulfur Dioksida (SO
2
) g/m 1,94 0,2 365
2. Carbon Monoksida (CO) g/m 5,33 2,75 10.000
3. Nitrogen Oksid (NO
x
) g/m 0,4 0,3 150
4. Hidrogen Sulfide (H
2
S) g/m 0,00 0,00 0,02
5. Amonia (NH
3
) g/m 0,00 0,00 0,5
6. Partikrel Debu (SPM) g/m 6,258 1,476 230
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Kesehatan Dinkes Provinsi Kalimantan Barat
Pontianak, 2013.
Keterangan Kode Sampel : UI dan U2 diambil di JL. D.I Panjaitan

Kualitas Udara
1. Sulfur Di oksida ( SO
2
)
Gas SO
2
dapat berasal kegiatan pembakaran mesin yang menggunakan
bahan bakar fosil seperti kendaraan bermotor sebesar 3,7%, industri
sebesar 69,4%, dan proses dekomposisi bahan-bahan organik oleh
bakteri serta sumber lainnya (10%). Gas SO
2
merupakan gas tidak
berwarna, bila terjadi kontak dengan udara akan teroksidasi menjadi
sulfur trioksida (kadang-kadang ditulis sebagai SO
x
) yang larut dalam
lembab udara membentuk asam sulfat penyebab hujan asam. Sama
halnya dengan gas NO
x
, menghirup udara yang mengandung gas SO
2

dalam kadar tertentu mengakibatkan sakit tenggorokan, batuk, sulit
bernafas, bronkhitis dan pelumpuhan pernafasan, sedangkan efek pada
tumbuhan merupakan Phytotoxic (keracunan pada tumbuhan) yang
menyebabkan munculnya noda-noda berwarna putih hingga kekuning-
kuningan di pinggir atau pada urat daun sehingga menurunkan
produktifitas tanaman karena terganggunya proses fotosintesa.
2. Karbon Monoksida ( CO)
Gas CO merupakan hasil pembakaran mesin yang tidak sempurna yang
menggunakan bahan bakar fosil. Sumber utama gas CO saat ini ialah
kendaraan bermotor dan industri. Gas CO merupakan gas racun, yang
dapat terserap oleh darah melalui pernafasan membentuk
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 38
carboxyhemoglobin (COHb) yang relatif stabil dan menghalangi
penyerapan oksigen oleh darah sehingga penderita mengalami anoxia,
yaitu kekurangan oksigen dalam darah. Gejala keracunan CO adalah
pusing, koma, dan dapat mengakibatkan kematian bila konsentrasi
mencapai 750 mg/L.
3. Ni trogen Di oksi da ( NO
2
)
Gas NO

dapat berasal dari pembakaran mesin yang menggunakan bahan
bakar fosil. Sumber lainnya adalah dari proses dekomposisi yang
dilakukan oleh bakteri terhadap kandungan bahan-bahan organik yang
mengandung unsur Nitrogen sehingga menghasilkan Nitrat dan Nitrit di
dalam tanah kemudian dilepas ke udara. Sumber utama gas NO
2
saat ini
adalah dari aktivitas transportasi yaitu sebanyak 43% disusul industri
32% dan proses alam 5%.
4. Parti kel Debu ( SPM)
Partikel debu merupakan bahan padat yang melayang-layang di udara
dengan ukuran butir antara 0,002-500 mikron. Partikel debu dengan
ukuran 2,5 10 mikrometer dinamakan partikel dengan SPM
10
. Partikel
yang termasuk kedalam PM
10
antara lain abu, debu dari pabrik, jalan dan
debu yang berasal dari penggalian tanah dan batu.
Sedangkan untuk partikel dengan ukuran < 2,5 mikrometer dinamakan
PM
2,5
antara lain logam berat, hasil pembakaran hutan dan proses industri
logam. Sumber utama partikulat ini dari proses pembakaran diantaranya
dari partikulat hasil proses pengembunan, abu atau partikel-partikel
bahan bakar yang tidak terbakar dan jelaga dari bahan bakar yang
terbakar sebagian. Partikel debu di udara dapat menyebabkan gangguan
pernafasan seperti fibrosis dan abstraksi paru-paru. Sedangkan pengaruh
terhadap tumbuhan yaitu menghambat sinar matahari sehingga dapat
mempengaruhi proses fotosintesis.

E. Laut, Pesisir dan Pantai
Wilayah pesisir dan laut Kabupaten Ketapang memiliki sumberdaya yang
kaya, yang belum tergali secara optimal pemanfaatannya. Dengan garis
pantai yang cukup panjang membentang dari utara sampai ke selatan.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 39
Dengan 42 pulau-pulau kecil di mana 3 di antaranya berpenghuni dan 39
pulau yang tidak berpenghuni. Banyaknya pulau-pulau kecil di perairan
Kabupaten Ketapang memberikan indikasi bahwa perairan di wilayah ini
menjadi habitat bagi berbagai jenis flora dan fauna laut. Terdiri atas
berbagai kawasan yang menyimpan berbagai kekayaan alam hayati dan non
hayati yang sangat potensial dikembangkan bagi kesejahteraan dan
kemakmuran masyarakat.
Pada kawasan perairan umum (termasuk daerah rawa pasang surut) potensi
yang telah dimanfaatkan baru sebesar 3.660 ton/tahun. Sedangkan perairan
laut potensi yang telah dimanfaatkan baru sebesar 22.437,7 ton/tahun. Jadi
masih terbentang peluang pemanfaatan potensi di wilayah perairan umum
dan laut di Kabupaten Ketapang ini.
Tabel 1.20.
Banyaknya Pulau di Kabupaten Ketapang Menurut Kecamatan
No Kecamatan Berpenghuni
Tak
Berpenghuni
J umlah
1 Kendawangan 3 33 36
2 Delta Pawan - 4 4
3 Matan Hilir Utara - 5 5
J umlah 3 42 45
Sumber : Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir Ketapang Tahun 2012.

Mangrove
Ekosistem mangrove adalah salah satu tipe ekosistem hutan yang
ditemukan di sepanjang pantai atau muara muara sungai yang dipengaruhi
oleh pasang surut air laut. Daerah yang sangat ideal tumbuhnya hutan
mangrove adalah daerah muara sungai besar dan daerah delta yang sangat
kaya dengan endapan lumpur dan pasir campur lumpur. Mangrove memiliki
fungsi ekologis, ekonomi dan sosial yang bermanfaat bagi manusia. Secara
sederhana zonasi ekosistem mangrove dapat dibagi ke dalam daerah-daerah
sebagai berikut:
Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir,
sering ditumbuhi oleh api-api (Avicennia sp). Pada zona ini biasa
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 40
berasosiasi bogem/perepat (Sonneratia sp.) yang dominan tumbuh pada
lumpur dalam yang kaya akan bahan organik.
Lebih ke darat, ekosistem mangrove umumnya didominasi oleh bakau
(Rhizophora sp). Dijumpai juga tancang (Bruguiera sp.) dan nyirih/siri
(Xylocarpus sp).
Zona berikutnya didominasi oleh tancang (Bruguiera sp.).
Zona transisi antara ekosistem mangrove dengan hutan dataran rendah,
biasa ditumbuhi oleh nipah (Nypa fruticans), dan beberapa spesies palem
lainnya.


Gambar 1.5. Zonasi Mangrove di I ndonesia

Secara ekologis mangrove berfungsi sebagai daerah pemijahan (spawning
grounds) dan daerah pembesaran (nursery grounds) berbagai jenis ikan,
udang, kerang-kerangan dan species lainnya. Selain itu serasah mangrove
(berupa daun,ranting dan biomassa lainnya yang jatuh ke perairan menjadi
sumber pakan biota perairan dan unsur hara yang sangat menentukan
produktifitas perikanan perairan laut laut didepannya. Lebih jauh, hutan
mangrove juga merupakan habitat (rumah) bagi berbagai jebis burung,
reptilia, mamalia dan jenis-jenis kehidupan lainnya, sehingga hutan
mangrove menyediakan keanekaragaman hayati (biodiversity) dan plasma
nutfah (genetic pool) yang tinggi serta berfungsi sebagai sistem penunjang
kehidupan. Jika mangroves tidak ada, maka produksi laut dan pantai akan
berkurang secara nyata.Dengan sistem perakaran dan canopy yang rapat
serta kokoh, hutan mangrove juga berfungsi sebagai pelindung daratan dari
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 41
gempuran gelombang, tsunami, angin topan, perembesan air laut dan gaya-
gaya kelautan yang ganas lainnya.
Secara ekonomi, hutan mangrove adalah salah satu sumberdaya alam yang
dapat diperbaharui (renewable resources) yang selama ini terlupakan.
Padahal sumberdaya alam mangrove merupakan sumber daya alam yang
dengan mudah dapat merecovery diri setelah dilakukan aktivitas
pemanfaatan, yang sangat potensial untuk menunjang pembangunan
daerah. Bagian hutan mangrove yang dapat diimanfaatkan adalah kayunya
(untuk bahan bangunan, arang (charcoal), dan bahan baku kertas ) dan non
kayu (lebah madu, jasa lingkungan / ekotourisme dan perikanan ). Secara
sosial, hutan mangrove juga merupakan tempat mencari nafkah masyarakat
nelayan, penghasil oksigen, membuka lapangan kerja, dan yang tidak boleh
dilupakan adalah multiplier efek dari seluruh kegiataan yang ada di
dalamnya.
Bedasarkan hasil inventarisasi dan identifikasi Tim Fakultas Kehutanan IPB
pada tahun 1999 total ekosistem mangrove potensial di Kabupaten Ketapang
seluas 109.673,61 Ha (daerah pesisir Kabupaten Ketapang saat ini 2009,
terdiri atas Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara). Dari total
luas tersebut, 23.540,49 hektar merupakan kawasan hutan dan selebihnya
65.345,55 hektar terdapat di luar kawasan hutan.
Tabel 1.21.
J enis Vegetasi Mangrove Hasil I dentifikasi di Kabupaten Ketapang
No Nama Lokal Nama I lmiah Family
1 Jeruju Acanthus ilicifolius Acanthaceae
2 Piai Acrosthicum speciosum Pteridaceae
3 Tanjang Bruguiera cylindrica Rhizophoraceae
4 Tumuk Bruguiera gymnorrhiza Rhizophoraceae
5 Tumuk busung Bruguiera sexangula Rhizophoraceae
6 Buta-buta Excoecaria agallocha Euphorbiaceae
7 Buah akar* Ficus sp1 Moraceae
8 Teruntum Lumnitzera littorea Combretaceae
9 Nipah Nypa fruticans Arecaceae
10 Bakau Rhizophora apiculata Rhizophoraceae
11 Nyirih Xylocarpus granatum Meliaceae
12 Nyirih batu Xylocarpus moluccensis Meliaceae
Sumber : Hasil Identifikasi di Lapangan, 2013.

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 42


Jeruju (Acanthus ilicifolius) Piai (Acrosthicum speciosum)

Tumuk (Bruguiera gymnorrhiza) Buta Buta (Excoecaria agallocha)

Buah Akar (Ficus sp1) Nipah (Nypa fruticans)

Nyirih (Xylocarpus granatum) Nyirih Batu (Xylocarpus moluccensis)
Gambar 1.6.
J enis- J enis Mangrove Yang Dapat Ditemui di Kabupaten Ketapang
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 43
Terumbu Karang
Ekosistem terumbu karang merupakan masyarakat organisme yang
didominasi oleh hewan penyengat berbentuk polyp dimana berbagai jenis
ikan dan biota laut lainnya berasosiasi di dalamnya. Biota terpenting dalam
suatu ekosistem terumbu karang adalah karang batu (stony coral), tergolong
scelactenia dimana kerangkanya terbuat dari kapur yang dihasilkan oleh
polyp karang itu sendiri serta bantuan dari alga berkapur dan organisme lain
yang menghasilkan kapur. Sebagai ekosistem yang khas di daerah tropik,
ekosistem terumbu karang memiliki produktifitas yang sangat tinggi
sehingga keanekaragaman biota yang berasosiasi cukup besar. Ekosistim
terumbu karang ini umumnya terdapat pada perairan yang relatif dangkal
dan jernih serta suhu yang hangat dan memiliki kadar karbonat yang tinggi.
Binatang karang hidup dengan baik pada perairan tropis dan sub tropis serta
jernih karena cahaya matahari harus dapat menembus hingga dasar
perairan. Sinar matahari diperlukan untuk proses fotosintesis, sedangkan
kadar kapur yang tinggi diperlukan untuk membentuk kerangka hewan
penyusun karang dan biota lainnya.
Terumbu karang adalah struktur di dasar laut berupa deposit kalsium
karbonat di laut yang dihasilkan terutama oleh hewan karang. Karang
adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam Filum
Coelenterata (hewan berrongga) atau Cnidaria. Karang (coral) merupakan
individu yang hidup di dasar perairan dan berupa bentukan bahan kapur
(CaCO
3
) yang cukup kuat menahan gaya gelombang laut. Sedangkan
organisme-organisme yang dominan hidup di terumbu karang adalah
binatang-binatang karang yang mempunyai kerangka kapur dan alga yang
banyak diantaranya mengandung kapur seperti organism dari Ordo
scleractinia dan Sub kelas Octocorallia (kelas Anthozoa) maupun kelas
Hydrozoa.
Berdasarkan geomorfologisnya ekosistem karang dibagi menjadi 3 (tiga)
tipe, yaitu :
1. Terumbu karang tepi (fringing reef), yaitu terumbu karang yang terdapat
di sepanjang pantai dan dalamnya tidak lebih dari 40 meter. Terumbu ini
tumbuh ke permukaan dan ke arah laut terbuka.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 44
2. Terumbu karang penghalang (barrier reef), yaitu terumbu karang yang
dipisahkan dari daratan atau berada jauh dari pantai yang dipisahkan oleh
goba (lagoon) dengan kedalaman 4070 meter. Umumnya terumbu
karang ini memanjang menyusuri pantai.
3. Terumbu karang cicin/melingkar (atoll reff), yaitu terumbu karang yang
melingkar atau berbentuk oval yang melingkari goba atau terumbu petak.
Terumbu karang merupakan ekosistem air dangkal tropis yang tumbuh
subur pada suhu 25C s/d 29 C, karena hewan penyusun terumbu karang
memerlukan cahaya yang cukup dan kedalaman air < 30 meter untuk
tumbuh dengan baik. Terumbu karang merupakan ekosistem beraragam,
menunjang kehidupan kehidupan lainnya dari jenis tumbuhan dan hewan.
Terumbu karang yang terdapat di Pulau Bawal, Pulau Cempedak dan Pulau
Sawi pada umumnya terumbu karang pinggiran dan masih dalam kondisi
baik. Produktivitas terumbu karang ini tinggi terutama karena aliran air yang
membawa zat hara, pendaurulangan secara biologis yang effisien dan
kemampuan yang tinggi untuk menyimpan zat hara. Fungsi utama terumbu
karang sangat penting dalam melindungi pantai dari pukulan ombak
merupakan habitat bagi berbagai jenis biota laut untuk berlindung, berpijah,
beruaya dan tempat mencari makanan.
Sebaran terumbu karang di Kabupaten Ketapang dapat ditemui di Pulau
Bawal, Pulau Cempedak dan Pulau Sawi. Kondisi karang dan terumbu karang
di Kabupaten Ketapang secara umum mempunyai daerah penutupan yang
masih bagus sampai sedang. Dibeberapa tempat banyak karang-karang
yang rusak dan hancur akibat terkena bom yang dipakai oleh nelayan untuk
mendapatkan ikan. Pada umumnya karang-karang yang rusak tersebut
terletak agak jauh dengan pemukiman penduduk.
Ekosistem terumbu karang di perairan Kendawangan tersebar dipesisir dan
pulau-pulau kecilnya. Tipe terumbu karang tersebut umumnya terdapat
pada kedalaman 1 5 m. Dilokasi ini pertumbuhan karang cukup baik.
Kualitas tutupan karang mencapai 55,63% dan masih tergolong sangat baik.
Genus karang yang mendominasi adalah Acropora (21,03%) dengan bentuk
Acropora meja (16,63%) dan Acropora sp (4,4%). Sedangkan jenis karang
batu dari non acropora adalah 34,60% yang terdiri dari karang masif
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 45
21,93%, karang menjalar 7,50%, karang sub masif 5,03% dan karang
bentuk daun 0,13%.
Pada Pulau Gelam dapat ditemui spesies karang antara lain Montifera spp,
Porintes spp, Merulina spp, Acropora spp, Favites spp, Favia spp, Euphyllia
spp, Goniastrea spp, dan Symphillia spp.
Di Pulau Cempedak, terumbu karang terdapat di bagian utara dan barat
sedangkan pada bagian selatan hanya berupa gosong yang cukup luas. Pada
bagian timur merupakan hamparan padang lamun. Terumbu karang di Pulau
ini terdapat pada kedalaman 1 3 m, dan pada kedalaman >3 m sangat
sedikit ditemui terumbu karang. Prosesntase tutupan karang hidup di Pulau
Cempedak mencapai 44,57% dan didominasi oleh karang berbentuk daun
(foliose) 23,43%, karang masif 8,80%, karang bercabang 6,57%, karang
menjalar 4,07% dan karang berbentuk menjalar 1,40%. Kemudian didaerah
ini juga banyak terdapat sponges dengan tutupan 16,73%. Kualifikasi
karang di pulau ini termasuk kategori sedang. Beberapa karang batu yang
hidup dan teridentifikasi adalah Stylophora pistillata, Turbinaria spp, Porites
spp, Favites spp, Montasrea spp, Goniastrea spp dan Plathygyra spp.

















Pectina spp
Acropora spp Acropora spp
Acropora spp
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 46









Gambar 1.7.
J enis- J enis Terumbu Kar ang Yang Terdapat di Pulau Bawal,
Pulau Cempedak dan Pulau Sawi

Lamun
Lamun merupakan salah satu produsen yang paling tinggi produktivitasnya
jika dibandingkan dengan karang, mangrove serta ekosistem lainnya di
perairan pesisir dan laut dangkal. Lamun adalah tumbuhan air berbunga
yang hidup dan tumbuh terbenam di lingkungan laut, memilki rimpang
(rhizome), berakar yang berkembang biak dengan generative dan vegetative
yang hidup disubtrat lumpur, pasir dan karang. Umumnya disekitar ekositem
Lamun biasanya ditumbuhi hewan herbivora seperti ikan Baronang dan
Penyu.
Secara umum informasi data yang akurat mengenai kondisi dan luasan
ekosistem Lamun di Kabupaten Ketapang relatif masih terbatas. Beberapa
jenis lamun yang dapat ditemui diperairan Ketapang antara lain Jenis
Thallasia hempreci dan Enchalus acroide. Catatan terakhir Tahun 2006 di
Kabupaten Ketapang memiliki ekosistem Lamun seluas 2.500 Ha.
Program Rehabilitasi Kawasan Pesi sir
Berkaitan dengan terjadinya penurunan kualitas lingkungan di wilayah
pesisir dan laut, kurun waktu 2 tahun terakhir Dinas Perikanan dan Kelautan
Kabupaten Ketapang memiliki program reahbilitasi kawasan pesisir antara
lain :


Acropora spp Soft Coral
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 47
1. Pembangunan rumah ikan /apartemen ikan di Dusun Pulau Cempedak
Kecamatan Kendawangan sebanyak 250 modul di Tahun 2012.
2. Pembangunan rumah ikan /apartemen ikan di Desa Pagar Entimun di
Kecamatan Matan Hilir Sealatan, sebanyak 250 modul di Tahun 2013.
3. Pemasangan Turap Beton di Kecamatan Matan Hilir Sealatan Tahun 2012
4. Pembangunan SPDN (stasiun pengisian BBM untuk Nelayan) di Kecamatan
Matan Hilir Sealatan Tahun 2012.
5. Pemasangan rabat beton di Desa Sukabaru Kecamatan Benua kayong
Tahun 2013.
6. Pemasangan rabat beton di Desa Satong Kecamatan Matan Hilir Utara
Tahun 2013.
7. Perencanaan pembangunan Kawasan Konservasi Laut di Pulau Cempedak
Kecamatran Kendawangan.

F. I klim
Kabupaten Ketapang memiliki iklim tropis dengan temperatur harian
berkisar antara 26,8 C - 30.5 C. Kondisi curah hujan dan hari hujan di
Kabupaten Ketapang sangat bervariasi. Pada tahun 2012, curah hujan
bulanan tertinggi yang tercatat di Stasiun Meteorologi Rahadi Oesman
adalah pada bulan Desember mencapai 633,5 mm, sedangkan terendah
terjadi pada bulan September mencapai 11,2 mm. Demikian juga banyaknya
hari hujan tertinggi dan terendah terjadi di Stasiun Meteorologi Rahadi
Usman yaitu tertinggi pada bulan Desember sebanyak 28 hari dan terendah
terjadi pada bulan September yang tercatat selama 2 hari. Untuk
mengetahui parameter iklim yang terdiri dari curah hujan, hari hujan,
temperatur dan kelembaban dapat dilihat pada Tabel 1.22.

Tabel 1.22.
Curah Huj an dan Hari Huj an di Stasiun Meteorologi Rahadi Oesman
Ketapang Tahun 2012

Bulan
Curah Huj an
( mm)
Hari Huj an
( Hari)
Temperatur
( Rata- Rata)
C
Kelembaban
( Rata- Rata)
%
Januari
Februari
177,3
503,7
17
23
27,4
30,5
82,0
85,0
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 48
Bulan
Curah Huj an
( mm)
Hari Huj an
( Hari)
Temperatur
( Rata- Rata)
C
Kelembaban
( Rata- Rata)
%
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
Nopember
Desember
65,6
289,3
72,4
123,6
58,3
146,0
11,2
256,1
308,2
633,5
13
17
11
5
10
6
2
20
25
28
27,4
27,5
28,2
27,8
26,8
26,9
27,2
27,3
27,5
27,0
83,0
81,0
81,0
81,0
82,0
81,0
81,0
84,0
84,0
87,0
Rata-Rata 2012 220,4 14,8 27,6 82,7
Rata-Rata 2011 245,6 11,8 27,2 82,3
Rata-Rata 2010 292,9 21,0 27,5 85,0
Sumber : Stasiun Meteorologi Rahadi Oesman Ketapang, Tahun 2013.


G. Kebencanaan
Berdasarkan data dan informasi yang tersedia bencana alam di Kabupaten
Ketapang masih dodominasi oleh bencana karena kondisi lingkungan.
Bencana Alam yang didefinisikan bencana yang terjadi secara alamiah atau
bencana yang diakibatkan faktor alam seperti gempa bumi, letusan gunung
berapi maupun tsunami tidak dijumpai di Kabupaten Ketapang. Bencana
alam yang terjadi di Kabupaten Ketapang sebatas bencana yang terkait
dengan anomali cuaca yaitu Angin Puting Beliung/ Angin Ribut. Sedangkan
bencana akibat kerusakan lingkungan seperti banjir, tanah longsor dan
kebakaran hutan dan lahan sering terjadi di Kabupaten Ketapang pada
beberapa tahun terakhir. Untuk mengetahui prediksi kebencanaan di tiap
kecamatan Kabupaten Ketapang dapat dilihat pada Tabel 1.23.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 49
Tabel 1.23.
Prediksi Kebencanaan di Ti ap Kecamatan Kabupaten Ketapang
No Kecamatan Prediksi Bencana
1 Kendawangan Abrasi pantai dan sungai
Angin puting beliung
Banjir
Kekeringan
Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
2 Manis Mata Tanah longsor
Abrasi sungai
Banjir dan kekeringan
Angin puting beliung
Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
3 Marau Tanah longsor
Abrasi sungai
Banjir dan kekeringan
Angin puting beliung
Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
4 Singkup Abrasi sungai
Kekeringan
Angin puting beliung
Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
5 Air Upas Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Abrasi sungai
Kekeringan
Angin puting beliung
6 Jelai Hulu Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Abrasi sungai
Banjir
Tanah longsor
Kekeringan
Angin puting beliung
7 Tumbang Titi Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Abrasi sungai
Kekeringan
Banjir
Tanah longsor
Angin puting beliung
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 50
No Kecamatan Prediksi Bencana
8 Pemahan Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Banjir
Tanah longsor
Angin puting beliung
9 Sungai Melayu Rayak Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Banjir
Angin puting beliung
10 Matan Hilir Selatan Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai dan pantai
Banjir
Angin puting beliung
11 Benua Kayong Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai dan pantai
Banjir
Angin puting beliung
12 Matan Hilir Utara Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai dan pantai
Banjir
Angin puting beliung
13 Delta Pawan Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai dan pantai
Banjir
Angin puting beliung
14 Muara Pawan Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai dan pantai
Banjir
Angin puting beliung
15 Nanga Tayap Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai dan pantai
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 51
No Kecamatan Prediksi Bencana
Banjir
Angin puting beliung
16 Sandai Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai
Banjir
Angin puting beliung
17 Hulu Sungai Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai
Banjir
Angin puting beliung
18 Sungai Laur Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai
Banjir
Angin puting beliung
19 Simpang Hulu Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Banjir
Angin puting beliung
20 Simpang Dua Kebakaran hutan dan lahan serta
kabut asap
Kekeringan
Abrasi sungai
Banjir
Angin puting beliung
Sumber : Kajian Mitigasi Bencana Kabupaten Ketapang, 2011.





Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 52





Gambar 1.8.
Peta Prakiraan Daerah Rawan Bencana di Kabupaten Ketapang

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 53

TEKANAN TERHADAP LINGKUNGAN



A. Kependudukan
Dalam Kabupaten Ketapang Dalam Angka Tahun 2013 disebutkan bahwa
jumlah penduduk Kabupaten Ketapang hingga Tahun 2012 berjumlah
448.779 jiwa, dimana 232.824 jiwa berjenis kelamin laki-laki dan 215.955
jiwa adalah perempuan.
Persebaran penduduk Kabupaten Ketapang tidak merata antar wilayah
kecamatan, desa/kelurahan. Kecamatan dengan tingkat penduduk terpadat
terdapat di Kecamatan Delta Pawan Yaitu dengan kepadatan 1.033 jiwa per
Km
2
, sedangkan kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk terendah
terdapat di Kecamatan Hulu Sungai dengan kepadatan 3 jiwa per Km
2
.
Jumlah pertumbuhan penduduk Kabupaten Ketapang Tahun 2012 dapat di
lihat dalam Table 2.1.
Tabel. 2.1.
J umlah Penduduk Kabupaten Ketapang Menurut Kecamatan Tahun 2012
Kecamatan
Luas
Wilayah
( km )
J umlah
Penduduk
( J iwa)
Kepadatan
( km )
Kendawangan 5.859 33.756 6
Manis Mata 2.912 26.269 9
Marau 1.160 12.550 11
Singkup 227 6.443 28
Air Upas 793 17.397 22
Jelai Hulu 1.358 16.194 12
Tumbang Titi 1.198 24.246 20
Pemahan 326 4.696 14
Sungai Melayu Rayak 122 12.221 100
Matan Hilir Selatan 1.813 31.602 17
Benua Kayong 349 37.069 106
Matan Hilir Utara 720 15.363 21
Delta Pawan 74 76.433 1.033
Muara Pawan 611 13.602 22
BAB
II
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 54
Kecamatan
Luas
Wilayah
( km )
J umlah
Penduduk
( J iwa)
Kepadatan
( km )
Nanga Tayap 1.728 28.521 17
Sandai 1.779 25.760 14
Hulu Sungai 4.685 11.963 3
Sungai Laur 1.651 17.572 11
Simpang Hulu 3.175 29.320 9
Simpang Dua 1.048 7.802 7
J umlah/ total Tahun 2012 31.588 448.779 14
J umlah/ total Tahun 2011 31.588 437.613 14
J umlah/ total Tahun 2010 31.588 427.460 14
Sumber : BPS Kabupaten Ketapang Dalam Angka 2013.


Berdasarkan Kabupaten Ketapang Dalam Angka Tahun 2013, penduduk
Kabupaten Ketapang berumur lima belas (>15) tahun ke atas merupakan
penduduk usia kerja, di mana pada usia ini merupakan sumber tenaga kerja
produktif yang dapat dimanfaatkan sebagai penggerak roda pembangunan.
Lapangan usaha yang paling dominan adalah sektor pertanian yaitu
menyerap sekitar 60 persen dari total angkatan kerja yang bekerja. Jumlah
Angkatan Kerja di Kabupaten Ketapang pada Tahun 2012 sebanyak
269.267 jiwa.

Tabel. 2.2.
J umlah Penduduk Kabupaten Ketapang Menurut Kelompok Umur
Tahun 2012

Kelompok Umur Laki- Laki Perempuan Total
0 - 4 23.854 22.314 46.168
5 - 9 26.380
24.914 51.294
10 - 14 23.497
21.837 45.334
15 - 19 20.207
19.599 39.806
20 - 24 19.671
19.499 39.170
25 - 29 22.601
21.726 44.327
30 - 34 20.781
19.185 39.966
35 - 39 18.775
17.170 35.945
40 - 44 16.236
14.345 30.581
45 - 49 12.986
11.062 24.048
50 - 54 9.807
8.061 17.868
55 - 59 6.470
5.225 11.695
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 55
Kelompok Umur Laki- Laki Perempuan Total
60 - 64 4.583
4.143 8.726
65 - 69 3.160
2.802 5.962
70 - 74 1.857
1.919 3.776
75 + 1.959
2.154 4.113
J umlah / Total 232.824 215.955 448.779
Sumber : BPS Kabupaten Ketapang Dalam Angka 2013

Permasalahan kependudukan yang selalu dihadapi oleh negara maju maupun
berkembang adalah masalah over populasi, angka kelahiran dan kematian
bayi yang masih tinggi, urbanisasi, pengangguran, ketidakmerataan
penyebaran penduduk yang semakin kompleks akan mengimbas kepada
segmen terpenting dalam kehidupan manusia, yaitu kelestarian lingkungan
hidup.
Persoalan kependudukan dan kerusakan lingkungan hidup adalah dua hal
yang saling terkait antara satu dengan lainnya. Terjadinya kerusakan
lingkungan dapat berdampak kepada kehidupan manusia secara makro.
Masalah kependudukan dan kerusakan lingkungan hidup merupakan dua
permasalahan yang kini sedang dihadapi bangsa Indonesia, khususnya
maupun negara-negara lainnya di dunia umumnya. Brown (1992:265-280),
menyatakan bahwa masalah lingkungan hidup dan kependudukan yaitu
masalah pencemaran lingkungan fisik, desertifikasi, deforestasi, overs
eksploitasi terhadap sumber-sumber alam, serta berbagai fenomena
degradasi ekologis semakin hari semakin menujukkan peningkatan yang
signifikan.
Dilihat dari perspektif ekologis bahwa pertumbuhan penduduk yang cepat
dapat berdampak kepada meningkatnya kepadatan penduduk, sehingga
menyebabkan ketidakseimbangan mutu lingkungan secara menyeluruh.
Menurut Soemarwoto (1991:230-250) bahwa secara rinci dampak kepadatan
penduduk sebagai akibat laju pertumbuhan penduduk yang cepat terhadap
kelestarian lingkungan adalah sebagai berikut:
1) Meningkatnya limbah rumah tangga sering disebut dengan limbah
domestik. Dengan naiknya kepadatan penduduk berarti jumlah orang
persatuan luas bertambah. Karena itu jumlah produksi limbah persatuan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 56
luas juga bertambah. Dapat juga dikatakan di daerah dengan kepadatan
penduduk yang tinggi, terjadi konsentrasi produksi limbah.
2) Pertumbuhan penduduk yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan
ekonomi dan teknologi yang melahirkan industri dan sistem transport
modern. Industri dan transport menghasilkan berturut-turut limbah
industri dan limbah transport. Di daerah industri juga terdapat
kepadatan penduduk yang tinggi dan transport yang ramai. Di daerah ini
terdapat produksi limbah domsetik, limbah industri dan limbah transport.
3) Akibat pertambahan penduduk juga mengakibatkan peningkatan
kebutuhan pangan. Kenaikan kebutuhan pangan dapat dipenuhi dengan
intensifikasi lahan pertanian, antara lain dengan mengunakan pupuk
pestisida, yang notebene merupakan sumber pencemaran. Untuk
masyarakat pedesaan yang menggantungkan hidupnya pada lahan
pertanian, maka seiring dengan pertambahan penduduk, kebutuhan
akan lahan pertanian juga akan meningkat. Sehingga ekploitasi hutan
untuk membuka lahan pertanian baru banyak dilakukan. Akibatnya daya
dukung lingkungan menjadi menurun. Bagi mereka para peladang
berpindah, dengan meningkatnya pertumbuhan penduduk yang
sedemikian cepat, berarti menyebabkan tekanan penduduk terhadap
lahan juga meningkat. Akibatnya proses pemulihan lahan mengalami
percepatan. Yang tadinya memakan waktu 25 tahun, tetapi dengan
semakin meningkatnya tekanan penduduk terhadap lahan maka bisa
berkurang menjadi 5 tahun. Saat dimana lahan yang baru ditinggalkan
belum pulih kesuburannya.
4) Makin besar jumlah penduduk, makin besar kebutuhan akan sumber
daya. Untuk penduduk agraris, meningkatnya kebutuhan sumber daya
ini terutama lahan dan air. Dengan berkembangnya teknologi dan
ekonomi, kebutuhan akan sumber daya lain juga meningkat, yaitu bahan
bakar dan bahan mentah untuk industri. Dengan makin meningkatnya
kebutuhan sumber daya itu, terjadilah penyusutan sumber daya.
Penyusutan sumber daya berkaitan erat dengan pencemaran. Makin
besar pencemaran sumber daya, laju penyusunan makin besar dan pada
umumnya makin besar pula pencemaran.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 57
Untuk menghadapi semakin menurunnya kualitas lingkungan sebagai akibat
pertumbuhan penduduk seperti tersebut diatas, diperlukan adanya upaya
kedepan secara bijak guna tetap mempertahan kelestarian dan kualitas
lingkungan yaitu dengan mencegah adanya praktek bad governance dan
menumbuhkan sikap good governance. Sikap good governance adalah sikap
bersama antara pemerintah dan masyarakat yang benar-benar peduli
terhadap keseimbangan antara pertumbuhan penduduk berikut segala
dimensinya dengan kelestarian lingkungan.

B. Pemukiman
Untuk menggambarkan keadaan lingkungan permukiman di Kabupaten
Ketapang, berikut ini disajikan indikator-indikator persentase rumah sehat,
tempat-tempat umum sehat, serta sarana sanitasi dasar seperti air bersih.
Rumah Sehat
Rumah sehat dinilai dengan menggunakan indikator komposit 8 10
indikator tunggal PHBS yaitu : Pertolongan Persalinan nakes, Aktif secara
fisik, Jamban sehat, lantai rumah bukan tanah, ASI eksklusif, Konsumsi
sayur dan Buah, Akses air bersih, Tidak merokok, JPK dan Luas hunian > 9
m2 per orang (Depkes RI, 2005). Suatu rumah tangga dikatakan sehat jika
memenuhi semua indkator PHBS (8-10 indikator).
Tabel 2.3.
Rumah Tangga Kabupaten Ketapang Menurut J enis Atap
No J enis Atap Persentase ( % )
1 Beton 0,00
2 Genteng 9,18
3 Sirap 19,98
4 Seng 59,13
5 Asbes 6,46
6 Ijuk/Rumbia 3,30
7 Lainnya 1,97
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dalam
Kabupaten Ketapang Dalam Angka, 2013


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 58
Tempat- Tempat Umum Sehat
Tempat-tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan (TUPM)
merupakan suatu sarana yang dikunjungi oleh banyak orang sehingga
dikhawatirkan dapat menjadi sumber penyebaran penyakit. Yang termasuk
TUPM antara lain adalah hotel, restoran, pasar dan lain-lain. Adapun TUPM
yang dapat dikategorikan sehat adalah TUPM yang memiliki sarana air
bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan limbah, ventilasi
yang baik serta luas yang sesuai dengan banyaknya pengunjung.

Akses Ai r Minum
sumber air minum yang digunakan di rumah tangga di Kabupaten Ketapang
dibedakan menurut air kemasan bermerk, air isi ulang, leding meteran,
leding eceran, sumur bor/pompa, sumur terlindung, sumur tak terlindung,
mata air terlindung, mata air tak terlindung, air sungai, dan air hujan. Dari
hasil survey sosial ekonomi nasional (susenas) dapat diketahui sebagian
besar rumah tangga di Kabupaten Ketapang masih didominasi dengan
keluarga yang memanfaatkan sumur tak terlindung, sumur terlindung dan
air sungai sebagai sumber air minumnya.
Tabel 2.4.
Rumah Tangga Kabupaten Ketapang Menurut Sumber Air Mi num
Sumber : Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) dalam
Kabupaten Ketapang Dalam Angka, 2013
No Sumber Ai r Minum Persentase ( % )
1 Air kemasan bermerk 1,12
2 Air isi ulang 11,47
3 Leding meteran 4,36
4 Leding eceran 0,25
5 Sumur bor/pompa 2,83
6 Sumur terlindung 19,90
7 Sumur tak terlindung 25,78
8 Mata air terlindung 3,59
9 Mata air tak terlindung 11,62
10 Air sungai 13,03
11 Air hujan 6,05
12 Lainnya 0,00
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 59
Apabila ditinjau dari segi kepemilikan sarana, maka seluruh masyarakat
yang ada di Kabupaten Ketapang dapat dikatakan telah memiliki sarana air
bersih yang cukup memadai. Akan tetapi dari segi kualitas dan kuantitas air,
masih belum dapat dipastikan apakah masyarakat telah mengkonsumsi air
yang memenuhi standar kesehatan. Hal ini disebabkan oleh karena wilayah
Kabupaten Ketapang meskipun banyak sumber air, tetapi sumber air
tersebut belum dapat diolah maksimal sebagai air bersih, apalagi jika musim
kemarau tiba, dimana dengan adanya interupsi air laut ke Sungai Pawan,
menyebabkan air menjadi asin, sehingga air bersih yang didistribusikan ke
masayarakat oleh PDAM pun menjadi payau, sehingga tidak layak untuk
dikonsumsi. Hal lainnya adalah masih banyaknya masyarakat memanfaatkan
air hujan sebagi sumber air bersih. Hal tersebut kemungkinan pula
berdampak terhadap derajat kesehatan masayarakat, oleh karenanya perlu
diuji kelayakan kualitas airnya untuk dikonsumsi.

C. Kesehatan
Untuk menggambarkan keadaan kesahatan masyarakat dan kesehatan
lingkungan di Kabupaten Ketapang dipergunakan beberapa indikator
berdasarkan data-data yang tertuang dalam Profil Kesehatan Kabupaten
Ketapang Tahun 2012.
Mortal itas
1) Angka Kematian Bayi (AKB)
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi antara saat setelah bayi lahir
sampai bayi belum berusia tepat satu tahun. Banyak faktor yang dikaitkan
dengan kematian bayi. Secara garis besar, dari sisi penyebabnya,
kematian bayi ada dua macam yaitu endogen atau yang umum disebut
dengan kematian neonatal : adalah kematian bayi yang terjadi pada bulan
pertama setelah dilahirkan, dan umumnya disebabkan oleh faktor-faktor
yang dibawa anak sejak lahir, yang diperoleh dari orang tuanya pada saat
konsepsi atau didapat selama kehamilan. Dan eksogen atau kematian
post neo-natal : adalah kematian bayi yang terjadi setelah usia satu bulan
sampai menjelang usia satu tahun yang disebabkan oleh faktor-faktor
yang bertalian dengan pengaruh lingkungan luar.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 60
Angka Kematian Bayi (AKB) di Kabupaten Ketapang untuk tahun 2012
berdasarkan data profil kesehatan kabupaten yang masuk di Dinas
Kesehatan Kabupaten Ketapang, terlihat bahwa kasus kematian bayi
adalah sebesar 10 kasus dimana kelahiran hidupnya berjumlah 8.712
sehingga dengan demikan jika dihitung angka kematian bayinya hanya
sebesar 0,01 per seribu kelahiran hidup.
Angka Kematian Bayi menggambarkan keadaan sosial ekonomi
masyarakat dimana angka kematian itu dihitung. Kegunaan Angka
Kematian Bayi untuk pengembangan perencanaan berbeda antara
kematian neo-natal dan kematian bayi yang lain. Karena kematian neo-
natal disebabkan oleh faktor endogen yang berhubungan dengan
kehamilan maka program-program untuk mengurangi angka kematian
neo-natal adalah yang bersangkutan dengan program pelayanan
kesehatan Ibu hamil, misalnya program pemberian pil besi (tablet Fe) dan
suntikan anti tetanus.
Sedangkan Angka Kematian Post-NeoNatal dan Angka Kematian Anak
serta Kematian Balita dapat berguna untuk mengembangkan program
imunisasi, serta program-program pencegahan penyakit menular
terutama pada anak-anak, program penerangan tentang gizi dan
pemberian makanan sehat untuk anak dibawah usia 5 tahun. Berdasarkan
Riset Kesehatan Dasar Depkes 2007, kematian bayi baru lahir (neonatus)
merupakan penyumbang kematian terbesar pada tingginya angka
kematian balita (AKB). Setiap tahun sekitar 20 bayi per 1.000 kelahiran
hidup terenggut nyawanya dalam rentang waktu 0-12 hari pasca
kelahirannya.

2) Angka Kematian Ibu (AKI)
Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian
dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang
lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang
disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan
karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dan lain-lain (Budi,
Utomo. 1985).
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 61
Di Kabupaten Ketapang untuk tahun 2012, Angka Kematian ibu
berdasarkan data profil kesehatan kabupaten tahun 2012, kasus kematian
ibu maternal adalah sebanyak 206 kasus. Sehingga jika dihitung angka
kematian ibu maternal dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 8.506,
maka kematian ibu maternal di Kabupaten Ketapang adalah sebesar 2,36
per 100.000 kelahiran hidup. Informasi mengenai tingginya Angka
Kematian Ibu bermanfaat untuk pengembangan program peningkatan
kesehatan reproduksi, terutama pelayanan kehamilan dan membuat
kehamilan yang aman bebas risiko tinggi (making pregnancy safer),
program peningkatan jumlah kelahiran yang dibantu oleh tenaga
kesehatan, penyiapan sistim rujukan dalam penanganan komplikasi
kehamilan, penyiapan keluarga dan suami siaga dalam menyongsong
kelahiran, yang semuanya bertujuan untuk mengurangi Angka Kematian
Ibu dan meningkatkan derajat kesehatan reproduksi.

3) Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah kematian anak berusia 0-5
tahun (59 Bulan) selama satu tahun tertentu per 1.000 anak umur yang
sama pada pertengahan tahun itu (termasuk kematian bayi). AKABA
menggambarkan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
kesehatan anak Balita seperti gizi, sanitasi, penyakit menular dan
kecelakaan.
AKABA Kabupaten Ketapang berdasarkan hasil Survey Demografi dan
Kesehatan Indonesia (SDKI) berturut-turut mulai tahun 1994 adalah 93
per 1.000 Balita, turun menjadi 88,2 per 1.000 Balita pada tahun 1997,
turun menjadi 63 per 1.000 Balita pada tahun 2003 dan turun menjadi 59
per 1.000 balita pada tahun 2007. Angka ini masih lebih tinggi dari rata-
rata angka kematian balita secara nasional yaitu 51 per 1.000 Balita. Jika
dibandingkan dengan target yang akan dicapai pada tahun 2012 yaitu
sebasar 11 per 1.000 kelahiran hidup, maka AKABA Kabupaten Ketapang
sudah hampir mancapai target. Namun jika dibandingkan dengan target
pada 2015 sesuai dengan Millenium Development Goals (MDGs) yaitu
sebesar 32 per 1.000 kelahiran hidup, maka AKABA Kabupaten Ketapang
sangat rendah. Dengan demikian, meskipun terjadi penurunan angka
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 62
kematian balita di Kabupaten Ketapang dan hasil yang dicapai cukup
menggembirakan, namun masih perlu ditingkatkan kegiatan yang
menunjang penurunan angka kematian Balita.

4) Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (Eo)
Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial
ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan umur harapan
hidup penduduk dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan
melalui Puskesmas, meningkatnya daya beli masyarakat akan
meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan, mampu memenuhi
kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai pendidikan yang lebih baik
sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang memadai,
yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat
dan memperpanjang usia harapan hidupnya.
Angka Umur Harapan Hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerja
pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada
umumnya, dan meningkatkan derajat kesehatan pada khususnya. Angka
Umur Harapan Hidup yang rendah di suatu daerah, harus diikuti dengan
program pembangunan kesehatan dan program sosial lainnya, termasuk
kesehatan lingkungan, kecukupan gizi dan kalori serta program
pemberantasan kemiskinan.
Dilihat dari tahun ke tahun, Umur Harapan Hidup di Kabupaten Ketapang
terjadi peningkatan. Umur Harapan Hidup tahun 2012 berdasarkan Data
Kabupaten Ketapang dalam Angka tahun 2013 yang dikeluarkan oleh BPS
Kabupaten Ketapang yaitu 67.87 tahun, sedikit lebih tinggi jika
dibandingkan tahun sebelumnya 2011 dimana umur harapan hidup 67,66
Tahun. Sedangkan berdsasarkan Indeks pembangunan manusian (IPM)
Umur Harapan Hidup di Kabupaten Ketapang 69,05 tahun.
Meningkatnya Umur Harapan Hidup secara tidak langsung juga memberi
gambaran tentang adanya peningkatan kualitas hidup dan derajat
kesehatan masyarakat serta turut berpengaruh terhadap Index
Pembangunan Manusia (IPM).

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 63
Morbiditas
1) Malaria
Penyakit Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di
Indonesia. Berdasarkan data profil kesehatan Kabupaten Ketapang Tahun
2012 terdapat 9 kasus Malaria per.1000 penduduk, sedangkan jika
dibandingkan dengan target pada Indonesia sehat 2012 sebesar 5 per
1.000 penduduk, maka angka kesakitan malaria di Kabupaten Ketapang
masih tergolong tinggi.
Tingginya angka kesakitan dan kematian malaria disebabkan berbagai
faktor diantaranya adalah perubahan lingkungan, vektor penular, sosial
budaya masyarakat, resistensi obat dan pelayanan kesehatan.

2) TB Paru
Tuberculosis (TBC) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri
Mycobacterium tuberculosis. TBC terutama menyerang paru-paru sebagai
tempat infeksi primer. Selain itu, TBC dapat juga menyerang kulit,
kelenjar limfe, tulang, dan selaput otak. TBC menular melalui droplet
infeksius yang terinhalasi oleh orang sehat. Pada sedikit kasus, TBC juga
ditularkan melalui susu. Pada keadaan yang terakhir ini, bakteri yang
berperan adalah Mycobacterium bovis. Berdasarkan Hasil rekapitulasi
profil kesehatan kabupaten tahun 2012 tercatat TB Paru dengan BTA
Positif (+) sebanyak 493 kasus per 100.000. Jika melihat hasil yang
dicapai, maka angka kesembuhan penderita TB Paru BTA + di Kabupaten
Ketapang sudah mencapai target Indikator Indonesia Sehat 2012 yaitu
sebesar 85%.

3) HIV/AIDS
Perkembangan penyakit HIV/AIDS terus menunjukan kenaikan, meskipun
berbagai upaya pencegahan terus dilakukan. Penyebab meningkatnya HIV
dan AIDS lebih banyak dikarenakan adanya heteroseksual atau bergonta-
ganti pasangan, homoseksual, jarum suntik atau IDU, dan ibu yang
sedang hamil yang mengidap HIV dan AIDS yang mengakibatkan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 64
0
5
10
15
20
25
2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012
3 3
7
9
13
21
19
9
8
9
17
16
8
4
HIV AIDS
LAKI-LAKI PEREMPUAN
29
46
58
13
HIV AIDS
terjadinya penularan terhadap bayi yang dikandungnya, Jumlah kasus
baru AIDS di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang mencatat sampai Desember
2012 menunjukkan grafik peningkatan yang sangat cepat sejak awal
tahun 2006, dan tren ini masih terus terjadi dimana tercatat
sejumlah 19 orang pasien HIV baru dari Januari Desember 2012, atau
menjadi 147 orang secara kumulatif (Komisi Penanggulangan Aids,
2013).






Gambar 2.1.
Grafik J umlah Kasus HI V AI DS Kurun Waktu 2006 - 2012
Dari kejadian kasus tersebut, terlihat adanya perimbangan kasus antara
laki-laki dan perempuan, yang menunjukan faktor resiko antara laki-laki
dan perempuan mempunyai potensi yang sama besar.





Gambar 2.2.
Grafik Kasus HI V AI DS Pada Laki- Laki dan Perempuan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 65
Karakteristik kasus HIV-AIDS jika dilihat dari faktor usia, didominasi oleh
usia remaja. Dari data Kasus yang ada untuk Jumlah Penderita AIDS yang
telah meninggal dari tahun 2006 sampai dengan 2011 yaitu sebanyak 37
orang.
Tabel 2.5.
Kelompok Umur Kasus Kerj adi an HI V AI DS
KELOMPOK
UMUR
LAKI - LAKI PEREMPUAN
TOTAL
HI V AI DS HI V AI DS

< 4

1 0 0 1 2

5-14

2 2 1 0 5

15-19

1 1 12 1 15

20-24

6 10 7 2 25

25-49

52 31 21 9 113

>50

4 5 1 0 10
Sumber : Komisi Penaggulangan Aids, 2013.
4) DBD
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus
akut yang disebabkan oleh virus dengue terutama menyerang anak-anak
dengan ciri-ciri demam tinggi mendadak dengan manivestasi perdarahan
dan bertendensi menimbulkan shock dan kematian. Penyakit DBD ini
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan mungkin juga Aedes
Albopictus. Kedua jenis nyamuk ini terdapat hampir di seluruh pelosok
Indonesia kecuali di ketinggian lebih 1.000 meter diatas permukaan laut.
Masa inkubasi penyakit ini diperkirakan lebih kurang 7 hari. Penyakit DBD
dapat menyerang semua golongan umur. Sampai saat ini penyakit DBD
lebih banyak menyerang anak-anak, tetapi dalam dekade terakhir ini
terlihat adanya kecenderungan kenaikan proporsi penderita Demam
Berdarah Dengue pada orang dewasa (Faziah, 2004). Kasus DBD di
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 66
Kabupaten Ketapang Tahun 2012 terjadi 105 kasus DBD per 100.000
penduduk.

Status Gizi
1) Gizi Buruk
Status Gizi merupakan suatu indikator yang sangat penting untuk menilai
status indikator derajat Kesehatan Masyarakat. Di dalam Indikator
Indonesia Sehat 2012, status gizi merupakan salah satu indikator yang
menggambarkan derajat kesehatan masyarakat.
Gizi buruk adalah suatu istilah teknis yang umumnya dipakai oleh
kalangan gizi, kesehatan dan kedokteran. Gizi buruk adalah bentuk
terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Anak balita
sehat atau kurang gizi secara sederhana dapat diketahui dengan
membandingkan antara berat badan menurut umurnya dengan rujukan
(standar) yang telah ditetapkan. Apabila berat badan menurut umur
sesuai dengan standar, anak disebut gizi baik. Kalau sedikit di bawah
standar disebut gizi kurang. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi
buruk. Gizi buruk yang disertai dengan tanda-tanda klinis disebut
marasmus atau kwashiorkor. Sementara itu, pengertian di masyarakat
tentang Busung Lapar adalah tidak tepat. Sebutan Busung Lapar yang
sebenarnya adalah keadaan yang terjadi akibat kekurangan pangan dalam
kurun waktu tertentu pada satu wilayah, sehingga mengakibatkan
kurangnya asupan zat gizi yang diperlukan, yang pada akhirnya
berdampak pada kondisi status gizi menjadi kurang atau buruk dan
keadaan ini terjadi pada semua golongan umur. Tanda-tanda klinis pada
Busung Lapar pada umumnya sama dengan tanda-tanda pada
marasmus dan kwashiorkor. Anak kurang gizi pada tingkat ringan dan
atau sedang tidak selalu diikuti dengan gejala sakit. Dia seperti anak-anak
lain, masih bermain dan sebagainya, tetapi bila diamati dengan seksama
badannya mulai kurus.
Berdasarkan hasil rekapitulasi kasus gizi buruk yang terdapat dalam profil
kesehatan Kabupaten Ketapang Tahun 2012, terdapat sebanyak 0,67%
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 67
kasus gizi buruk dan sekitar 1,85 % gizi kurang dari 93% bayi baru lahir
ditimbang.

2) Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
Secara umum bayi BBLR ini berhubungan dengan usia kehamilan yang
belum cukup bulan (prematur) disamping itu juga disebabkan
dismaturitas, artinya bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan 38 minggu),
tapi berat badan (BB) lahirnya lebih kecil ketimbang masa kehamilannya,
yaitu tidak mencapai 2.500 gram. Berat Badan Lahir Rendah (< 2.500
gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap
kematian perinatal dan nenonatal. Barker dkk dalam Hardiansyah dkk
(2000) mengungkapkan bahwa BBLR mempunyai dampak yang kompleks
sampai usia dewasa antara lain meningkatkan resiko terkena penyakit
jantung koroner, diabetes mellitus, gangguan metabolik dan kekebalan
tubuh serta katahanan fisik yang resultantenya adalah beban ekonomi
individu dan masyarakat. Di Kabupaten Ketapang, berdasarkan
rekapitulasi data profil kesehatan Tahun 2012 terdapat 1,56 % bayi BBLR.

D. Pertanian
Kabupaten Ketapang sangat berkepentingan dan memiliki komitmen yang
tinggi dibidang pembangunan pertanian khususnya dibidang tanaman
pangan dan hortikultura, peternakan dan perkebunan karena sektor
pertanian secara umum masih menjadi tulang punggung pembangunan
perekonomian Kalimantan Barat. Kesadaran terhadap peran tersebut
menyebabkan sebagian besar masyarakat Kalbar masih tetap memelihara
kegiatan pertanian mereka meskipun sektor industri sudah mulai
berkembang di Kalbar.
Perubahan spesifik dari penggunaan lahan untuk pertanian ke pemanfaatan
bagi nonpertanian yang kemudian dikenal dengan istilah alih fungsi
(konversi lahan), setiap tahunnya terus meningkat. Khusus untuk Kabupaten
Ketapang, fenomena ini tentunya dapat mendatangkan permasalahan yang
serius dikemudian hari, jika tidak diantisipasi secara serius. Implikasi, alih
fungsi lahan pertanian yang tidak terkendali dapat mengancam kapasitas
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 68
penyediaan pangan dan bahkan dalam jangka panjang dapat menimbulkan
kerugian sosial.
Dalam beberapa hal alih fungsi lahan pertanian ke penggunaan lainnya
bersifat dilematis. Pertambahan penduduk dan pertumbuhan kegiatan
ekonomi yang pesat di beberapa wilayah memerlukan jumlah lahan non
pertanian yang mencukupi. Namun demikian, pertambahan jumlah
penduduk juga memerlukan supply bahan pangan yang lebih besar, yang
berarti lahan pertanian juga lebih luas, sementara total luas lahan yang ada
berjumlah tetap. Sebagai akibatnya telah terjadi persaingan yang ketat
dalam pemanfaatan lahan yang berakibat pada meningkatnya nilai lahan
(land rent) maka penggunaan lahan untuk pertanian akan selalu dikalahkan
oleh peruntukan lain seperti industri dan perumahan.
Di sisi internal sektor pertanian, berbagai karakteristik dari usahatani sendiri
belum sepenuhnya mendukung ke arah pelaksanaan pelestarian lahan
pertanian yang ada. Sempitnya rata-rata luas lahan yang diusahakan petani
karena proses fragmentasi yang disebabkan sistem waris pecah-bagi makin
memarjinalkan kegiatan usahatani. Sempitnya lahan berakibat pada tidak
tercukupinya hasil kegiatan usaha pertanian untuk menutupi kebutuhan
hidup sehari-hari, apalagi mencukupi mendorong penerapan teknologi baru
untuk peningkatan produktivitas. Yang terjadi kemudian bukan modernisasi
(penerapan teknologi yang up to date) tapi penjualan lahan pertanian untuk
penggunaan lainnya (alih fungsi lahan pertanian). Hal lain yang
memperparah adalah dengan adanya desentralisasi maka daerah berlomba-
lomba untuk meningkatkan pertumbuhan untuk pendapatan daerah yang
lebih besar. Yang terjadi kemudian adalah daerah mengutamakan
pengembangan sarana dan prasarana fisik yang juga berakibat pada
penggunaan lahan sawah secara langsung atau peningkatan nilai lahan
karena penawaran yang lebih baik.

Potensi Sumberdaya Lahan Pertanian
Kabupaten Ketapang memiliki potensi lahan pertanian seluas 1.335.680
Hektar, yang terbagi peruntukkan lahan sawah seluas 83.536 hektar dan
bukan sawah seluas 1.252.144 hektar. Lahan pertanian memiliki luas 36%
dari total luas Kabupaten Ketapang, sedangkan luas lahan sawah memiliki
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 69
luas 6,67% dari total luas lahan pertanian yang tersedia. Untuk mengetahui
luas peruntukkan lahan pertanian setiap kecamatan di Kabupaten Ketapang
dapat dilihat pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6.
Luas Lahan Sawah dan Bukan Sawah Kabupaten Ketapang Tahun 2012
No Kecamatan
Luas Wi layah
( Ha)
Luas Sawah
( Ha)
Lahan Bukan
Sawah ( Ha)
1 Kendawangan 585.910 25.985 353.491
2 Manis Mata 291.220 2.486 199.081
3 Marau 116.010 4.519 81.512
4 Singkup 22.690 1.115 8.695
5 Air Upas 79.280 652 65.016
6 Jelai Hulu 135.850 702 32.516
7 Tumbang Titi 119.780 2.361 35.646
8 Pemahan 32.600 520 32.080
9 S. Melayu R 12.200 1.638 10.562
10 M.H. Selatan 181.310 10.266 89.570
11 Benua Kayong 34.900 4.365 26.953
12 M.H. Utara 72.040 7.530 31.231
13 Delta Pawan 7.400 779 5.426
14 Muara Pawan 61.060 4.694 9.925
15 Nanga Tayap 172.810 6.328 31.925
16 Sandai 177.880 1.899 7.530
17 Hulu Sungai 468.540 760 5.855
18 Sungai Laur 165.070 1.509 34.844
19 Simpang Hulu 317.470 4.845 159.947
20 Simpang Dua 104.790 583 42.378
Total Luas 1.335.680 83.536 1.252.144
Sumber :Dinas Pertanian dan Peternakan, Tahun 2012.

Dari total luas lahan sawah yang diusahakan, dapat dibedakan menjadi
sawah irigasi, sawah tadah hujan, sawah pasang surut dan lebak. Sawah
tadah hujan memiliki luasan terbesar yang mencapai 81% dalam
pemanfaatan lahan sawah, yang kemudian diikuti sawah irigasi 8,0%,
pasang surut 6,3% dan lebak 4,7%. Rincian luasan penggunaan lahan
sawah per kecamatan dapat dilihat pada Tabel 2.7.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 70

Tabel 2.7.
Pemanfaatan Lahan Sawah Kabupaten Ketapang Tahun 2012
No Kecamatan
I rigasi
( Ha)
Tadah
Huj an ( Ha)
Pasang
Surut ( Ha)
Lebak
( Ha)
J umlah
( Ha)
1 Kendawangan - 25.985 - - 25.985
2 Manis Mata 303 958 1.162 63 2.486
3 Marau 535 1.025 1.758 1.201 4.519
4 Singkup 1.115 - - - 1.115
5 Air Upas - 652 - - 652
6 Jelai Hulu 135 502 65 - 702
7 Tumbang Titi 755 1.606 - - 2.361
8 Pemahan 425 345 320 74 1.638
9 S. Melayu R 175 819 - - 994
10 M.H. Selatan - 10.266 - - 10,266
11 Benua Kayong - 3.685 680 - 4.356
12 M.H. Utara 205 7.325 - - 7.530
13 Delta Pawan - - 779 - 779
14 Muara Pawan - 3.851 468 375 4.694
15 Nanga Tayap 1.641 2.450 - 2.237 6.328
16 Sandai 453 1.446 - - 1.899
17 Hulu Sungai - 760 - - 760
18 Sungai Laur - 1.509 - - 1.509
19 Simpang Hulu 1.243 3.602 - - 4.845
20 Simpang Dua - 583 - - 583
Total Luas 6.985 67.369 5.232 3.950 83.536
Sumber :Dinas Pertanian dan Peternakan, Tahun 2012.

Potensi Tanaman Pangan dan Horti kul tura
Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Ketapang
Tahun 2012, produksi padi sebesar 81.098 ton dari luas panen seluas
27.973 hektar, produksi jagung 900 ton pipilan kering dari luas panen 454
hektar dan produksi kedelai sebesar 18 ton biji kering dari luas panen 16
hektar.
Berdasarkan luas panen, total produksi panen per hektar masih tergolong
rendah jika dibandingkan dengan rata-rata produksi nasional. Banyak faktor
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 71
yang menyebabkan produksi belum maksimum antara lain faktor iklim,
cuaca, serangan hama dan penyakit dan daya dukung lahan (sifat fisik dan
kesuburan tanah). Upaya yang telah dilakukan oleh dinas Dinas Pertanian
dan Peternakan Kabupaten Ketapang untuk meningkatkan kapasitas
produksi antara lain melalui kegiatan ekstensifikasi dan intensifikasi
pertanian. Ekstensifikasi melalui kegiatan perluasan areal tanam, sedangkan
intensifikasi melalui kegiatan pengolahan tanah, gerakan tanam serentak,
gerakan pemupukan berimbang, gerakan penerapan teknologi, gerakan
pengendalian organism peganggu tanaman dan gerakan panen serta pasca
panen diikuiti dengan pembangunan dan peningkatan infrastruktur
pertanian.
Tabel 2.8.
Luas Panen, Hasil Panen dan Produksi Tanaman Pangan
Kabupaten Ketapang Tahun 2012
Komoditas Tanam ( Ha) Panen ( Ton)
Produktivitas
Produksi
( Ton)
Padi
- Padi Sawah
- Padi Ladang

23.778
7.092

20.772
7.201

32,01
20,29

66.488
14.610
Jagung 1.215 454 19,82 900
Kedelai 48 16 11,48 18
Kacang Tanah 44 51 11,26 57
Kacang Hijau - - - -
Ubi Kayu 716 839 149,38 12.533
Ubi Jalar 179 196 71,71 1.406
Sumber :Dinas Pertanian dan Peternakan, Tahun 2012.

Selain tanaman pangan, komoditas hortikultura juga memiliki prospek
dikembangkan di Kabupaten Ketapang. Komoditas hortikultura dapat
dikelompokkan menjadi 2, kelompok tanaman buah-buahan dan kelompok
sayuran. Untuk mengetahui luas lahan pengembangan komoditas
hortikultura di Kabupaten Ketapang dapat dilihat pada Tabel 2.9.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 72
Tabel 2.9.
Luas Panen, Hasil Panen dan Produksi Tanaman Hortikultur a
Kabupaten Ketapang Tahun 2012
Komoditas Luas Panen ( Ton)
Produktivitas
( Kw/ Ha)
Produksi ( Ton)
Buah - Buahan
Durian 259 144,48 3.742
Jambu biji 34 39,50 1.343
Jambu air 94 19,24 1.809
Jeruk siam 89 59,52 530
Jeruk besar 16 444,94 712
Mangga 212 54,77 1.161
Manggis 21 26,48 56
Nangka & Cempedak 224 89,10 1.996
Nenas 2 1.671,50 534
Papaya 11 446,55 491
Pisang 190 954,21 18.130
Rambutan 367 60,47 2.219
Semangka 82 10,04 82
Sayur Sayuran
Bawang daun 12 52,42 63
Petsai/sawi 166 20,40 339
Lobak 24 100,33 241
Cabe besar 46 5,67 26
Cabe rawit 521 4,83 251
Tomat 53 3,87 21
Terung 475 9,73 462
Buncis 61 17,61 107
Ketimun 568 20,58 1.169
Labu siam 18 3,44 6
Kangkung 391 18,57 726
Bayam 206 28,66 590
Kacang Panjang 587 13,33 782
Sumber :Dinas Pertanian dan Peternakan, Tahun 2012.

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 73
Potensi Peternakan
Seiring dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya protein hewani
untuk kesehatan dan kecerdasan maka kebutuhan permintaan daging
hewani terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dinas pertanian dan
peternakan memiliki program untuk peningkatan produksi hewan ternak.
Untuk mengetahui jumlah populasi ternak dan sebaran tiap kecamatan dapat
dilihat pada Tabel 2.10.
Tabel 2.10.
J umlah Populasi Tenak Tiap Kecamatan Kabupaten Ketapang Tahun 2012
Kecamatan
J umlah Populasi Ternak
Sapi Kerbau Kambing Babi
Ayam
I tik
Pedaging Petelur Buras
Kendawangan 1.539 - 625 1.478 6.596 20.000 48.535 5.985
Manis Mata 444 - 37 12.694 7.726 - 137.052 7.666
Marau 318 - 59 3.856 2.163 - 2.158 2.784
Singkup 713 - 83 2.475 2.058 - 1.789 3.428
Air Upas 718 - 37 3.166 6.572 - 54.183 860
Jelai Hulu 9.149 - 5.159 24 9.630 - 1.963 12.147
Tumbang Titi 1.684 782 967 474 11.550 - 3.894 1.850
Pemahan 998 - 170 15.156 5.264 - 1.146 2.534
S. Melayu R 1.366 - 68 586 11.691 - 10.754 3.670
M.H. Selatan 343 - 162 685 9.410 - 1.459 1.896
Benua Kayong 760 - 1.346 17.858 4.506 - 7.872 590
M.H. Utara 2.374 - 192 132 7.106 - 9.900 2.818
Delta Pawan 2.348 11 518 62 10.076 - 4.190 3.876
Muara Pawan 8.301 799 716 36 8.814 35.000 7.888 2.592
Nanga Tayap 162 929 16 5.184 2.214 5.000 5.303 5.362
Sandai 178 - 90 697 1.219 - 1.122 1.220
Hulu Sungai 319 - 43 2.103 1.375 - 11.571 718
Sungai Laur 102 - 173 1.178 1.027 - 4.364 488
Simpang Hulu 59 - 16 10.765 967 - 17.484 5.254
Simpang Dua 87 - 12 11.027 1.292 - 18.537 3.296
J umlah 31.926 2.522 10.489 89.636 111.255 60.000 351.166 71.512
Sumber :Dinas Pertanian dan Peternakan, Tahun 2012.

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 74
Potensi Komoditi Perkebunan
Sesuai dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki khususnya
Kabupaten Ketapang, pembangunan sub sektor perkebunan terus meningkat
pesat di daerah ini. Didasari atas potensi sumber daya lahan dan keunggulan
komperatif komoditasnya, beberapa tahun belakangan ini komoditas kelapa
sawit telah merupakan salah satu komoditas andalan dari sub sektor
perkebunan. Komoditas ini merupakan komoditas ekspor yang menjadi
sangat penting dalam menghasilkan devisa bagi Indonesia. Selain itu,
komoditas ini juga penting bagi pemenuhan kebutuhan akan minyak nabati
dalam negeri dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan
kebutuhan minyak nabati berkolesterol rendah.
Besarnya potensi lahan di Kabupaten Ketapang yang belum digarap secara
maksimal untuk pengembangan subsektor perkebunan ini akan mendukung
program pemerintah untuk meningkatkan cadangan devisa non migas dari
sub sektor perkebunan.
Selain komoditas perkebunan tanaman kelapa sawit, tanaman karet telah
menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat selama ini di Kabupaten
ketapang melalui tanaman kebun karet rakyat.
Untuk mengetahui perkembangan perizinan perkebunan kelapa sawit dan
karet melalui perusahaan perkebunan swasta nasional, dapat dilihat pada
Tabel 2.11.
Tabel 2.11.
Daftar Perusahaan Perkebunan Yang Sudah Memiliki I UP
Hingga Tahun 2013
Nama Perusahaan Luas ( Ha) Lokasi/ Kecamatan
PT. Harapan Hibrida Kalbar 4.200 Manis Mata
PT. Kayong Agro Lestari 18.754 Matan Hilir Utara
PT. Mitra Karya Sentosa 15.665 Simpang Dua
PT. Mustika Agung Sentosa 20.000 Simpang Hulu
PT. Cipta Usaha Sejati 20.500 Simpang Dua
PT. Umekah Sari Pratama 16.000 Jelai Hulu, Manis Mata
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 75
Nama Perusahaan Luas ( Ha) Lokasi/ Kecamatan
PT. Fangiona Agro Plantation 16.000 Jelai Hulu
PT. Limpa Sejahtera 19.000 Matan Hilir Selatan
PT. Mulia Bakti Kahuripan 16.500 Sungai Laur
PT. Maya Agro Investama 12.948 Air Upas, Manis Mata
PT. Karya Makmur Langgeng 17.800 Simpang Dua
PT. Penggelawaran Jaya Rubber 2.100 Nanga Tayap
PT. Arrtu Plantation 17.300 Matan Hilir Selatan, Tumbang Titi
PT. Sinar Karya Mandiri 9.668 Muara Pawan
PT. Batu Mas Sejahtera 14.588 Sandai, Sungai Laur
PT. Andes Sawit Mas 12.515 Marau, Jelai Hulu
PT. Sawit Makmur Sejahtera 13.100 Sandai, Hulu Sungai
PT. Pendamar Sawit Mandiri 870 Matan Hilir Selatan
PT. Pranaindah Gemilang 4.600 Matan Hilir Selatan
PT. Agri Plus 6.100 Marau, Jelai Hulu
PT. Lanang Agro Bersatu 13.452 Sandai
PT. AgraJaya Bhaktitama 11.065 Sandai, Hulu Sungai, Sungai Laur
PT. Anugerah Palm Indonesia 7.375 Manis Mata
PT. Mitra Saudara Lestari 11.784 Manis Mata
PT. Mentari Pratama 3.954 Tumbang Titi
PT. Kencana Graha Permai 10.000 Marau, Jelai Hulu
PT. Bangun Nusa Mandiri 18.138 Marau, Jelai Hulu
PT. Ayu Sawit Lestari 5.242 Manis Mata, Air Upas
PT. Harapan Sawit Lestari 2.944 Manis Mata
PT. Cahaya Nusa Gemilang 3.312 Marau
PT. Aditya Agroindo 17.374 Simpang Hulu
PT. Gunajaya Ketapang Sentosa 10.500 Kendawangan
PT. Gunajaya Karya Gemilang 12.600 Kendawangan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 76
Nama Perusahaan Luas ( Ha) Lokasi/ Kecamatan
PT. Karya Bhakti Agro Sejahtera 3.550 Kendawangan, Marau
PT. Berkat Nabati Sejahtera 8.830 Kendawangan
PT. Sukses Karya Sawit 9.580 Kendawangan
PT. Agro Sejahtera Manunggal 7.250 Kendawangan
PT. Usaha Agro Indonesia 9.728 Kendawangan, Manis Mata
PT. Bumi Sawit Sejahtera 10.000 Kendawangan
PT. Kalimantan Prima Agro
Mandiri
20.000 Kendawangan, Manis Mata
PT. Andes Sawit Lestari 14.729 Kendawangan
PT. Andes Agro Investama 12.125 Kendawangan
PT. Mandiri Kapital Jaya 4.372 Kendawangan, Air Upas, Singkup
PT.Gunajaya Harapan Lestari 1.750 Kendawangan
PT. Arrtu Energie Resources 15.690 Nanga Tayap, MHS, MP, B.
Kayong, M. Rayak
PT. Arrtu Borneo Perkebunan 6.947 Nanga Tayap, Pemahan, S.
Melayu Raya
PT. Sepanjang Inti Surya Mulia 19.800 Nanga Tayap, Sandai
PT. Sawit Mitra Abadi 15.800 Nanga Tayap, Sandai
PT. GY Plantation Indonesia 2.821 Nanga Tayap
PT. Agro Lestari Mandiri 17.890 Nanga Tayap
PT. Citra Sawit Cemerlang 19.400 Nanga Tayap, Sandai
PT. Lestari Abadi Perkasa 5.478 Nanga Tayap, Tumbang Titi,
Pemahan
PT. Sandai Makmur Sawit 9.460 Nanga Tayap, Sandai
PT. Permata Sawit Mandiri 15.500 Nanga Tayap
PT. Pertiwi Lenggara Agromas 9.250 Marau
PT. Arrtu Agro Nusantara 11.950 -
PT. Pranaindah Gemilang 7.565 Matan Hilir Selatan
PT. Anugerah Palm Indonesia 5.964 Manis Mata
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 77
Nama Perusahaan Luas ( Ha) Lokasi/ Kecamatan
PT. Ladang Sawit Mas 6.450 Nanga Tayap
PT. Putra Sari Lestari 17.700 Kendawangan, Matan Hilir Selatan
PT. Lestari Gemilang Inti Sawit 11.765 Nanga Tayap
PT. Agro Manunggal Sawitindo 10.400 Pemahan
PT. Prakarsda Tani Sejati 1.258 Sandai, Sungai Laur
PT. Karya Makmur Langgeng 16.700 Simpang Dua
Total Luas I UP 720.305
Sumber : Dinas Perkebunan Kabupaten Ketapang, 2013.

Peningkatan kegiatan agroindustri selain meningkatkan produksi pertanian
juga juga dapat menyebabkan dampak yang merugikan. Erosi dan
kerusakan tanah terjadi akibat budidaya pertanian yang melampaui daya
dukung tanah. Penggunaan bahan-bahan agrokimia yang berlebihan dapat
mencemari lingkungan dan mengganggu kelestarian lahan. Cara-cara budi
daya pertanian yang tidak mengindahkan kaidah-kaidah konservasi lahan
menyebabkan kualitas lahan menurun sejalan dengan hilangnya lapisan
tanah subur akibat erosi dan pencucian hara.
Kerusakan tanah dan lingkungan makin meningkat manakala terjadi
perluasan areal pertanian untuk pengembangan komoditas ekonomis dengan
membuka lahan-lahan baru yang tidak sesuai dengan kemampuan dan kelas
kesesuaian lahan. Kondisi ini makin diperparah bila pembukaan lahan
dilakukan dengan pembakaran, sehingga terjadi pencemaran udara dan
peningkatan konsentrasi CO
2
di atmosfir. Penggunaan bahan-bahan
agrokimia, seperti pupuk dan pestisida yang berlebihan dapat mencemari
tanah, air, tanaman, dan sungai atau badan air.
Pupuk nitrogen (N) yang digunakan dalam budidaya pertanian mengalami
berbagai perubahan di dalam tanah, seperti dalam bentuk ammonium (NH
4
),
nitrat (NO
3
), dan/atau nitrit (NO
2
). Sebagian dari N pupuk (NH
3
/N
2
dan N
2
O)
menguap ke udara (volatilisasi), sebagian lagi hilang melalui pencucian atau
erosi. Di daerah tropis, 40-60% N-urea hilang dalam bentuk NH
3
.
Penggunaan pupuk N dosis tinggi, seperti pada budi daya sayuran, dapat
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 78
mencemari lingkungan, karena sebagian besar N dari pupuk hanyut terbawa
aliran permukaan dan erosi.
Pencemaran dari residu pestisida sangat membahayakan bagi lingkungan
dan kesehatan, sehingga pelu adanya pengendalian dan pembatasan dari
penggunaan pestisida tersebut serta mengurangi pencemaran yang
diakibatkan oleh residu pestisida.
Upaya yang harus dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap
input bahan kimiawi dalam proses produksi pertanian dapat ditempuh
melalui gerakan pertanian organik. Gerakan ini melakukan pembatasan
penggunaan pestisida sintetik yang mengarah pada pemasyarakatan
teknologi bersih (clean technology) yaitu pembatasan penggunaan pestisida
sintetik untuk penanganan produk-produk pertanian terutama komoditi
andalan untuk eksport. Gerakan ini mulai memasyarakat terutama di
negara-negara maju yang masyarakatnya alergi dengan produk bahan
kimia. Langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menciptakan produk
pertanian yang bersih, meliputi :
1. Penggunaan varietas unggul tahan hama penyakit dan tekanan /
hambatan lingkungan,
2. Penerapan teknik budidaya yang mampu mengendalikan OPT dan
penggunaan pupuk organik,
3. Peramalan terhadap serangan hama penyakit,
4. Pengendalian OPT secara biologis,
5. Memacu penggunaan pestisida botani.

E. I ndustri
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau
barang setengah jadi menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk
mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga
resparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa
barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.
Pada tahun 2021 di Kabupaten Ketapang terdapat 597 unit usaha industri
kecil dan menengah formal, jumlah tersebut lebih banyak dibandingkan
tahun 2011. Industri kecil dan menengah formal di Kabupaten Ketapang
mampu menyerap 4.167 orang tenaga kerja yang didominasi oleh pekerja
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 79
laki-laki. Total nilai investasi industri kecil dan menengah formal tahun 2012
adalah sebesar 34,55 miliar rupiah, jumlah ini lebih tinggi jika dibandingkan
nilai investasi tahun 2010. Daerah perkotaan seperti Kecamatan Delta
Pawan dan Benua Kayong menjadi lokasi utama industri kecil dan menengah
formal. Pada tahun 2012 terdapat 14 unit industri besar yang berstatus aktif
di Kabupaten Ketapang dan menyerap 756 pekerja.
Perkembangan industri akan menghasilkan dampak positif maupun negatif.
Salah satu dampak positif dari kegiatan industri adalah semakin banyaknya
tenaga kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan industri. Hal ini dapat
memperluas lahan pekerjaan bagi masyarakat dan meningkatkan
perekonomian daerah. Selain dampak positif kegiatan industri akan diikuti
dengan dampak negatif limbah industri terhadap lingkungan hidup manusia.
Limbah industri yang toksik akan memperburuk kondisi lingkungan dan akan
meningkatkan penyakit pada manusia dan kerusakan pada komponen
lingkungan lainnya.
Untuk meminimalisasi dampak negatif dari limbah industri diperlukan
penanganan yang baik dan serius oleh Pemerintah Daerah maupun pelaku
industri industri. Pemerintah harus mengawasi pembuangan limbah industri
dengan sungguh-sungguh. Pelaku industri harus melakukan cara-cara
pencegahan pencemaran lingkungan dengan melaksanakan teknologi bersih,
memasang alat pencegahan pencemaran, melakukan proses daur ulang dan
yang terpenting harus melakukan pengolahan limbah industri guna
menghilangkan bahan pencemaran atau paling tidak meminimalkan bahan
pencemaran hingga batas yang diperbolehkan. Di samping itu perlu
dilakukan penelitian atau kajian-kajian lebih banyak lagi mengenai dampak
limbah industri yang spesifik (sesuai jenis industrinya) terhadap lingkungan
serta mencari metoda atau teknologi tepat guna untuk pencegahan
masalahnya.
Di Kabupaten Ketapang pengawasan terhadap limbah industri dilakukan oleh
institusi yang membidangi lingkungan hidup. Salah satu institusi tersebut
adalah Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang. Pengawasan yang
dilakukan oleh Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang adalah dengan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 80
memeriksa tempat kegiatan usaha/ industri serta limbah yang sudah diolah
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Berdasarkan hasil pengawasan terhadap kegiatan usaha/industri, ditemukan
banyak kegiatan usaha yang masih belum memproses izin penyimpanan
sementara limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun). Selain itu juga
ditemukan kegiatan usaha/industri yang belum mengelola sampah dengan
baik.
Selain pengawasan, sejak Tahun 2012 Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten
Ketapang juga mengadakan Kegiatan Program Peningkatan Kinerja
Perusahaan (PROPER) yang bekerjsama sama dengan Badan Lingkungan
Hidup Daerah (BLHD) Propinsi Kalimantan Barat serta Menteri Negara
Lingkungan Hidup. PROPER merupakan salah satu bentuk kebijakan
pemerintah, untuk meningkatkan kinerja pengelolaan lingkungan
perusahaan sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam peraturan
perundang-undangan.
Pada saat ini pelaksaan PROPER difokuskan kepada perusahaan yang
memenuhi kriteria antara lain adalah perusahaan yang berdampak besar
terhadap lingkungan hidup, perusahaan yang berorientasi ekspor dan/atau
produknya bersinggungan langsung dengan masyarakat serta perusahaan
publik. Hasil penilaian PROPER Tahun 2012 dan 2013 yang dilakukan oleh
Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang adalah seperti yang
ditampilkan dalam Tabel 2.12.
Tabel 2.12.
Hasil Penilaian PROPER Tahun 2012 dan 2013 Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan J enis Kegiatan
Hasil
Penilaian
Tahun 2012
1 PT. Harapan Sawit Lestari Perkebunan Kelapa Sawit Merah
2 PT. Polyplant Sejahtera Perkebunan Kelapa Sawit Merah
3 PT. Karya Utama Tambang Jaya Tambang Bauksit Merah
Tahun 2013*
1 PT. Harapan Sawit Lestari Perkebunan Kelapa Sawit Merah
2 PT. Polyplant Sejahtera Perkebunan Kelapa Sawit Merah
3 PT. Karya Utama Tambang Jaya Tambang Bauksit Merah
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 81
No Nama Perusahaan J enis Kegiatan
Hasil
Penilaian
4 PT. Agro Lestari Mandiri Perkebunan Kelapa Sawit Merah
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang, 2013.
Catatan : * Penilaian Pada Tahun 2013 Masih Bersifat Sementara
Merah : Upaya pengelolaan lingkungan yang dilakukan belum sesuai dengan persyaratan
sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan dan dalam tahapan
melaksanakan sanksi administrasi.

F. Pertambangan
Potensi pertambangan dan bahan galian di Kabupaten Ketapang cukup
besar, antara lain berupa air raksa, antimony, biji besi, bauksit, emas, timah
hitam, timah putih, pasir zircon, barit, kaolin, pasir kuarsa, talk, andesit,
basal, granit, gambut, batu bara, kecubung dan air terjun. Pontensi tambang
di Kabupaten Ketapang ada yang telah dilakukan kegiatan penambangan
dan sebagian besar diantaranya belum dilakukan penambangan. Potensi
sebaran bahan tambang dan galian tersebut per kecamatan dapat dilihat
pada Tabel 2.13.

Tabel 2.13.
Sebaran Potensi Bahan Tambang dan Galian di Kabupaten Ketapang
J enis Bahan Galian Potensi ( Kecamatan)
Air Raksa (Hg) Matan Hilir Utara
Antimoni (Sb) Kendawangan
Biji Besi (Fe) Jelai Hulu, Manis Mata, Marau, Sungai Laur,
Simpang Hulu, Singkup
Bauksit (AL
2
O
3
) Kendawangan, Marau, Sandai, Simpang Hulu,
Manis Mata, Sungai Laur, Singkup, Jelai Hulu
Emas (Au) Kendawangan, Sandai, Manis Mata, Marau,
Sungai Laur, Simpang Hulu, Singkup, Jelai
Hulu
Timah Hitam (Pb) Kendawangan, Jelai Hulu, Manis Mata, Marau,
Sandai, Sungai Laur
Timah Putih (Sn) Jelai Hulu, Nanga Tayap
Pasir Zircon (Titanium) Sungai Melayu Rayak, Matan Hilir Selatan,
Kendawangan
Barit Kendawangan
Kaolin Matan Hilir Selatan, Tumbang Titi, Sandai,
Kendawangan, Singkup, Marau, Jelai Hulu,
Simpang Hulu
Pasir Kuarsa Kendawangan, Matan Hilir Utara, Matan Hilir
Selatan
Talk Sandai
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 82
J enis Bahan Galian Potensi ( Kecamatan)
Andesit Kendawangan, Tumbang Titi, Sungai Laur
Basal Kendawangan
Granit Kendawangan, Marau, Tumbang Titi,
Simpang Hulu, Sandai
Gambut Kendawangan, Matan Hilir Utara, Matan Hilir
Selatan
Batu Bara Kendawangan, Marau, Sungai Laur, Manis
Mata
Kecubung Manis Mata, Marau, Jelai Hulu, Matan Hilir
Utara
Air Terjun Sungai Laur, Nanga Tayap, Tumbang Titi
Sumber : Kabupaten Ketapang Dalam Angka Tahun 2013.
Hingga tahun 2013 perusahaan yang mengantongi Ijin Usaha Pertambangan
(IUP) Eksplorasi dan IUP Operasi Produksi yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Kabupaten Ketapang sebanyak 141 perizinan. Untuk mengetahui perusahaan
yang memperoleh IUP dapat dilihat pada bagian lampiran.
Perkembangan kegiatan pertambangan akan menghasilkan dampak positif
maupun negatif. Salah satu dampak positif dari kegiatan pertambangan
adalah semakin banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan untuk kegiatan
pertambangan. Hal ini dapat memperluas lahan pekerjaan bagi masyarakat
dan meningkatkan perekonomian daerah. Selain dampak positif kegiatan
pertambangan akan diikuti dengan dampak negatif Kegiatan pertambangan
dapat menyebabkan pencemaran akibat digunakannya zat-zat kimia
berbahaya dan beracun (B3) sewaktu pemisahan bijih tambang. Kerusakan
tanah, erosi, sedimentasi, banjir, dan kekeringan juga sering terjadi akibat
kegiatan ini. Pertambangan sering mengubah atau menghilangkan bentuk
permukaan bumi (landscape). Kegiatan pertambangan yang dilakukan
secara terbuka (opened mining) membuka vegetasi/pohon-pohonan,
menggali tanah di bawahnya, dan meninggalkan lubang-lubang besar di
permukaan bumi. Untuk memperoleh bijih tambang, permukaan tanah
dikupas dan digali menggunakan alat-alat berat seperti buldoser dan
backhoe. Para pengelola pertambangan umumnya meninggalkan areal bekas
tambang tanpa melakukan rehabilitasi dan/atau reklamasi lahan, sehingga
tidak sejalan dengan komitmennya dalam pengendalian dampak lingkungan.

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 83

Gambar 2.3.
Peta Sebaran I zi n Pertambangan di Kabupaten Ketapang Hi ngga Tahun 2013

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 84

Gambar 2.4. Aktvitas Pertambangan Bauksit
Tekanan terhadap lingkungan dari sektor pertambangan juga dikontribusian
dari aktifitas pertambangan tanpa izin (PETI) atau pertambangan emas
rakyat. Kegiatan penambangan emas rakyat menyebar di 11 kecamatan
yang ada di Kabupaten Ketapang. Kondisi ini masih terus berlangsung
hingga saat ini, dengan lokasi yang berbeda dimana lokasi lama yang tidak
lagi menghasilkan ditinggal dan terus mencari lokasi potensial baru.
Dampak yang ditimbulkan akibat PETI ini tidak hanya menyebabkan
kerusakan lahan/ alam diareal penambangan itu sendiri tetapi juga dapat
mengakibatkan pencemaran lingkungan sebagai akibat dari teknik
penambangan yang tidak akrab lingkungan. Akibat kegiatan PETI ini yang
paling dirasakan oleh sebagian masyarakat adalah pencemaran pada Daerah
Aliran Sungai oleh lumpur dari penambangan liar tersebut, seperti terjadinya
pencemaran pada Sungai Kualan, Sungai Laur dan Sungai Pawan.









Gambar 2.5. Aktvitas Pertambangan Emas Rakyat
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 85
Untuk mengetahui sebaran kegiatan pertambangan tanpa izin di setiap
kecamatan di Kabupaten Ketapang dapat dilihat pada Tabel 2.14.
Tabel 2.14.
Lokasi Kegiatan Pertambangan Tanpa I zin Kabupaten Ketapang Hingga
Tahun 2013
Kecamatan Nama Lokasi J umlah Lokasi
Simpang Hulu Sungai Kualan 11 titik
Sandai Desa Serinding, Desa Muara Jekak, Desa
Sandai Kanan, Desa Penjawaan
9 titik
Sungai Laur Dusun Sungai Nibung, Aliran Sungai Laur 2 titik
Hulu Sungai Dusun Sepanggang 1 titik
Matan Hilir Selatan Kemuning, Pondok Natal, Kepulu, Inhutani,
Padang Bunga, Padang Tikar
14 titik
Tumbang Titi Pemuatan Batu, Jungkal, Batu Menangis 6 titik
Kendawangan Bagan Rakit, Batu Titi, Air Hitam,
Pembedilan, Bagan Rakit, Natal Kuini,
Danau Buntar, Bangkal Serai
9 titik
Jelai Hulu Kekura, Air Dua 2 titik
Singkup Pantai Ketikal 2 titik
Benua Kayong Negeri Baru 2 titik
Muara Pawan Aliran Sungai Pawan 1 titik
Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Ketapang, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 86

Gambar 2.6.
Peta Sebaran Pertambangan Emas Tanpa I zin ( PETI ) di Kabupaten Ketapang
Hingga Tahun 2013

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 87
G. Energi
Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan rumah tangga maupun
industri, baik untuk penerangan dan atau penunjang berbagai peralatan
elektronik dan mesin-mesin. Tingkat konsumsi listrik per kapita dapat
menunjukkan sejauh mana tingkat kesejahteraan masyarakat. Produksi
tenaga listrik dewasa ini terus meningkat sejalan dengan peningkatan
permintaan dan konsumsi.
Kebutuhan masyarakat Kabupaten Ketapang terhadap energi listrik setiap
tahun terus meningkat seiring dengan perkembangan perekonomian di
Kabupaten Ketapang. Peningkatan konsumen terlihat dari jumlah pelanggan
yang terus meningkat selama 3 tahun terakhir. Hingga akhir tahun 2012
jumlah pelanggan listrik PLN sebanyak 56.407 pelanggan, dengan total
produksi listrik sebesar 154.144.936 Kwh.
Kecamatan Delta Pawan memiliki pelanggan listrik PLN terbanyak di
Kabupaten Ketapang, sedangkan masih terdapat beberapa kecamatan di
Kabupaten Ketapang yang belum mendapatkan pelayanan listrik PLN seperti
Kecamatan Simpang Dua dan Kecamatan Hulu Sungai.
Sumber listrik di Kabupaten Ketapang berasal dari Pembangkit Listrik
Tenaga Diesel (PLTD). Disinyair pembangkit listrik terpasang relatif kurang
untuk memenuhi peningkatan setiap tahunnya kebutuhan energi listrik bagi
masyarakat, sehingga mendesak diperlukan terobosan baru guna mencari
sumber energi listrik alternatif, yang biaya produksinya lebih murah jika
dihasilkan dari PLTD.

Tabel 2.15.
J umlah Pelanggan dan Produksi Li strik Tahun 2012
Bulan Pelanggan Produksi ( KWH)
Januari 50.878 16.268.170
Februari 51.252 11.434.072
Maret 51.591 12.585.516
April 52.228 12.167.084
Mei 53.483 13.226.066
Juni 54.108 12.651.176
Juli 54.433 13.003.660
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 88
Bulan Pelanggan Produksi ( KWH)
Agustus 54.745 13.222.399
September 54.836 13.109.938
Oktober 55.395 13.344.525
November 55.876 12.986.642
Desember 61.840 14.145.678
Tahun 2012 56.407 154.144.936
Tahun 2011 62.452 133.894.769
Tahun 2010 55.452 118.831.326
Sumber data : Kabupaten Ketapang Dalam Angka Tahun 2013.

H. Transportasi
Sektor transportasi merupakan salah satu sumber tekanan terhadap
lingkungan. Transportasi adalah pengguna energi terbesar ketiga di
Indonesia setelah rumah tangga dan industri. Setiap pergerakan alat
transportasi akan meningkatkan konsumsi bahan bakar yang berdampak
pada meningkatnya emisi gas buang kendaraan bermotor yang dihasilkan.
Pada tahun 2011, panjang jalan di Kabupaten Ketapang dilihat menurut
jenis permukaannya terdapat sekitar 41,1 persen jalan kerikil, jalan dengan
permukaan tanah sekitar 25,7 persen, jalan aspal sekitar 24,6 persen dan
sisanya sekitar 8,5 persen tidak dirinci . Berdasarkan status pemeliharaan
dan pengelolaan jalan, dikelompokkan menjadi 3 jenis, jalan negara, jalan
provinsi dan jalan kabupaten.
Mobilitas masyarakat Ketapang yang semakin meningkat harus diimbangi
dengan sarana transportasi yang memadai. Sarana transportasi darat masih
menjadi pilihan utama masyarakat Ketapang pada umumnya. Hal tersebut
terlihat dari banyaknya jumlah angkutan darat, yaitu terdapat angkutan
roda dua dan angkutan roda empat. Transportasi lokal lainnya yang cukup
populer di Kabupaten Ketapang adalah angkutan sungai dengan motor air
dan speedboat.
Peningkatan volume sarana transportasi sangat dipengaruhi oleh semakin
meningkatnya kondisi jalan. Perkembangan sarana jalan di Kabupaten
Ketapang akan terus dilakukan peningkatan setiap tahunnya. Data
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 89
perkembangan panjang jalan dan permukaannya sejak tahun 2009 hingga
tahun 2011 dapat dilihat pada Tabel 2.16 dan Tabel 2.17.
Tabel 2.16.
Panj ang J alan Menurut J enis Permukaan dan Status J alan ( Km)

J enis
Permukaan
Status J alan ( Km)
Negara Provinsi Kabupaten
Diaspal 153,68 263,15 751,25
Kerikil 51,00 - 614,41
Tanah - 213,65 72,36
Tidak Dirinci - - 36,71
Tahun 2012 204,68 476,80 1.474,74
Tahun 2011 204,68 476,50 1.474,57
Tahun 2010 219,39 440,66 1.474,57
Sumber : Kabupaten Ketapang Dalam Angka, 2013.

Tabel 2.17.
Panj ang J alan Menurut Kondisi dan Status J alan ( Km)

Status
Status J alan ( Km)
Negara Provinsi Kabupaten
Baik 153,68 263,15 751,25
Sedang 51,00 213,35 614,41
Rusak - - 72,36
Rusak Berat - - 36,71
Tahun 2012 204,68 476,50 1.474,74
Tahun 2011 204,68 476,50 1.474,57
Tahun 2010 219,39 440,66 1.474,57
Sumber : Kabupaten Ketapang Dalam Angka, 2013.
Perkembangan jumlah kendaraan bermotor di Kabupaten Ketapang selama
kurun waktu dua tahun terakhir (2011 2012) ada yang mengalami
peningkatan (mobil penumpang dan mobil barang) dan juga ada yang
mengalami penurunan (sepeda motor, bus dan kendaraan khsusus). Hingga
Tahun 2013, Pemerintah Kabupaten Ketapang memiliki 4 (empat) terminal
penumpang, 2 (dua) diantaranya berfungsi dan 2 (dua) lainnya tidak
berfungsi. Terminal yang berfungsi Terminal Giri Kusuma di Desa Payak
Kumang Kecamatan Delta Pawan Kota Ketapang dan Terminal Nanga Tayap
Kecamatan Nanga Tayap, sedangkan yang tidak berfungsi Terminal
Kendawangan Kecamatan Kendawangan dan Terminal Sandai Kecamatan
Sandai. Uraian Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis Kendaraan Di
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 90
Kabupaten Ketapang Tahun 2010, 2011 dan 2012 secara lengkap dapat
dilihat pada Tabel 2.18.

Tabel 2.18.
J umlah Kendaraan Bermotor Menurut J enis Kendaraan
Di Kabupaten Ketapang Tahun 2010, 2011 dan 2012

No. J enis Kendar aan
Tahun
2010 2011 2012
1. Sepeda Motor 19.769 30.031 26.061
2. Mobil Penumpang 194 227 328
3. Mobil Bus 4 10 9
4. Mobil Barang 33 634 734
5 Kendaraan Khusus 9 7 2
Sumber Data: Data Ranmor Per Samsat Polda Kalbar Tahun
2010, 2011 dan 2012

Arus penumpang yang datang melalui pelabuhan ketapang setiap tahunnya
mengalami kenaikan 3 persen. Perkembangan transportasi udara di
Kabupaten Ketapang juga menunjukkan tren kenaikan selama empat tahun
terakhir.
Tabel 2.19.
Sarana Pelabuhan Laut, Sungai dan Udara Di Kabupaten Ketapang

No Nama Pelabuhan J enis Kegiatan
Peran dan
Fungsi

Laut
1
Suka Bangun Pelabuhan Laut Antar Pulau
2
Bangka Belitung Pelabuhan Laut Antar Pulau

Sungai
1 UPTD ASDP GM Saunan
Kec. Delta Pawan
Pelabuhan Penyeberangan ASDP
2 UPTD ASDP Satong kec.
MHU
Pelabuhan Penyeberangan ASDP
3 UPTD ASDP Sandai kec.
Sandai
Pelabuhan Penyeberangan ASDP
4 UPTD ASDP
Kendawangan kec.
Kendawangan
Pelabuhan Penyeberangan ASDP
5 PPI Sukabangun Kec.
Delta Pawan
Pelabuhan Perikanan Pangkalan
Pendaratan Ikan
6 TPI Rangga Sentap Kec.
Delta Pawan
Pelabuhan Perikanan Tempat
Pendaratan Ikan
7 TPI Pesaguan Kec. Matan
Hilir Selatan
Pelabuhan Perikanan Tempat
Pendaratan Ikan
8 TPI Kendawangan Kec.
Kendawangan
Pelabuhan Perikanan Tempat
Pendaratan Ikan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 91
No Nama Pelabuhan J enis Kegiatan
Peran dan
Fungsi
9 TPI Suka Baru Kec.
Muara Kayong
Pelabuhan Perikanan Tempat
Pendaratan Ikan
10 TPI Satong Kec. Matan
Hilir Utara
Pelabuhan Perikanan Tempat
Pendaratan Ikan
11 TPI Muara Pawan Kec.
Muara Pawan
Pelabuhan Perikanan Tempat
Pendaratan Ikan

Udara
1 Rahadi Usman Ketapang Pelabuhan Udara Penerbangan
Domestik
2 Bandara Perintis Manis
Mata
Pelabuhan Udara (Rencana
Operasional
2014)
Sumber Data : Dinas Perhubungan dan Koimpfo serta Dinas Perikanan
Kelautan Kabupaten Ketapang, 2013.


I . Pariwisata
Selain transportasi sektor yang berkontribusi menimbulkan permasalah
lingkungan adalah pariwisata. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa
yang dimaksud dengan pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan wisata, termasuk di dalamnya pengusahaan obyek dan daya tarik
wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Sedangkan yang
dimasud dengan wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari
kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara
untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Obyek pariwisata yang
dikembangkan di Kabupaten Ketapang, didominasi wisata alam (ekowisata)
baik pantai maupun keindahan alam lainnya. Selain wisata alam, obyek
wisata yang banyak dikembangkan di Kabupaten Ketapang adalah wisata
budaya termasuk wisata sejarahnya. Secara lengkap obyek wisata di
Kabupaten Ketapang dapat dilihat pada Tabel 2.20.
Kegiatan kepariwisataan yang meliputi pengusahaan obyek dan daya tarik
wisata serta usaha-usaha pendukung terkait lainnya, berpotensi
menimbulkan pencemaran lingkungan baik akibat limbah padat maupun
limbah cair. Hotel sebagai salah satu sarana akomodasi penunjang
pariwisata daerah merupakan salah satu sektor penting penyumbang
pencemaran lingkungan baik limbah padat dan limbah cair. Informasi terkait
jasa penginapan sebagai pendukung sektor pariwisata dan kunjungan tamu
dapat dilihat pada Tabel 2.21. dan Tabel 2.22.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 92
Tabel 2.20.
Lokasi Obyek Wi sata di Kabupaten Ketapang

Nama Obyek Wisata
J enis Obyek
Wi sata
Kecamatan
1. Keraton Ketapang Sejarah Delta Pawan
1. Gua Maria Junjung Buih Religius Tumbang Titi
1. Pantai Tanjung Batu
2. Pantai Pagar Mentimun
3. Danau Perendaman
Alam
Alam
Alam
Matan Hilir Selatan
1. Pantai Air Mata Permai
2. Pantai Tanjung
Belandang
3. Pulau Hutan Mangrove
Alam
Alam
Alam
Muara Pawan
1. Pantai Sisik
2. Tanjung Gangse
3. Pulau Sawi
Alam
Alam
Bahari
Kendawangan
1. Inam Kalima Alam Sungai Melayu
Rayak
1. Pantai Celincing
2. Pantai Sungai Kinjil
3. Pantai Sungai Jawi
4. Keraton GM. Sunan
5. Keramat Sembilan
Alam
Alam
Alam
Sejarah
Budaya
Benua Kayong
1. Gua Maria
2. Wisata Bahari
3. Pulau Cempedak
Religius
Alam
Alam
Matan Hilir Utara
1. Hutan Lindung
2. Sungai Beliung
Alam
Alam
Nanga Tayap
1. Wisata Alam Hutan Alam Simpang Dua
Sumber : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga
Kabupaten Ketapang, Tahun 2013.


Tabel 2.21.
Nama- Nama Hotel dan Penginapan di Kabupaten Ketapang
Hingga Tahun 2013

No Nama
Hotel/ Penginapan
Kelas/ Bintang
Kecamatan Kendawangan
1 Penginapan Batang -
2 Penginapan Gerhana -
3 Penginapan Wijaya -
Kecamatan Manis Mata
1 Losmen Bahagia -
2 Losmen Barokah -
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 93
No Nama
Hotel/ Penginapan
Kelas/ Bintang
3 Losmen Yulisa -
4 Hotel Sederhana -
5 Losmen Very -
6 Amesa Ratu -
Kecamatan Mar au
1 Penginapan Prima -
Kecamatan Air Upas
1 Penginapan Bintang Usaha -
2 Losmen Permata -
Kecamatan J elai Hulu
1 Penginapan Haka Pasti
Tanjung
-
2 Penginapan Y Fakansi -
Kecamatan Tumbang Titi
1 Hotel Flamboyan -
2 Losmen Kadariyah -
3 Losmen Berkat -
Kecamatan Delta Pawan
1 Aston City Hotel Bintang 3
2 Hotel Perdana -
3 Hotel Murni -
4 Hotel Putra Tanjung -
5 Hotel Aorta -
6 Hotel Patra Ista -
7 Hotel Augusta -
8 Hotel Anda -
9 Hotel Perdana -
10 Hotel Flamboyan -
11 Hotel Bersaudara -
12 Wisma PGRI -
13 Penginapan Merpati I -
14 Penginapan Merpati II -
15 Penginapan Jasa Ibu -
16 Penginapan Mutiara -
17 Penginapan Bina Usaha -
18 Penginapan Graha Basuki
Rahmat
-
19 Losmen Idola -
20 Losmen Patra -
21 Losmen Pawan -
22 Losmen Yunior -
23 Mess Pemda Lama -
Kecamatan Nanga Tayap
1 Penginapan Mitra Kayung -
2 Penginapan Ujung
Pandang
-
3 Penginapan Putra Jelita -
4 Penginapan Cermai -
Kecamatan Sandai
1 Penginapan Kamayo -
2 Penginapan Rahayu -
3 Penginapan Srikandi -
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 94
No Nama
Hotel/ Penginapan
Kelas/ Bintang
4 Penginapan Krio Darma -
5 Penginapan Impian -
Kecamatan Simpang Hulu
1 Hotel Bekuak -
Kecamatan Simpang Dua
1 Penginapan See Rose -
2 Penginapan Sinar Dawak -
Kecamatan Sungai Laur
1 Penginapan Gayung
Bersambut
-
2 Penginapan Tiga
Bersaudara
-
3 Losmen Keruat -
Kecamatan Sungai Melayu Rayak
1 Penginapan Kepiting Emas -
Sumber : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga
Kabupaten Ketapang, Tahun 2013.


Tabel 2.22.
J umlah Kunj ungan Wisatawan Macanegara dan Nusatara
Tahun 2010 dan 2011

Bulan
Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012
Wi snus Wi sman Wi sman Wi sman Wi sman Wi sman
Januari 1.023 0 939 7 939 7
Februari 890 4 899 11 899 11
Maret 1.066 2 988 19 988 19
April 530 3 989 20 1.017 3
Mei 747 6 990 21 877 34
Juni 834 2 991 22 699 5
Juli 756 22 992 23 826 7
Agustus 470 2 993 24 912 1
September 721 22 944 13 944 13
Oktober 852 22 1.076 24 1.076 24
November 500 32 894 24 894 24
Desember 524 15 1.042 7 1.042 7
J umlah 8.913 132 11.737 215 11.113 155
Sumber : Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten
Ketapang, Tahun 2013.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 95
J . Limbah B3
Bahan Berbahaya Beracun (B3) adalah zat, energi, dan/ atau komponen lain
yang karena sifat, konsentrasi, dan/ atau jumlahnya, baik secara langsung
maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/ atau merusak lingkungan
hidup, kesehatan, serta kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup
lain. Sedangkan limbah Bahan Berbahaya Beracun (limbah B3) adalah sisa
usaha dan/ atau kegiatan yang mengandung B3.
Penjelasan tentang Limbah B3 telah tertuang di dalam izin perlindungan dan
pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana yang terdapat di dalam
Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 2012 tentang Izin Lingkungan, bagian
penjelasan atas Peraturan Pemerintah No 27 Tahun 2012 tentang Izin
Lingkungan Pasal 48 ayat 2, antara lain menyebutkan jenis-jenis izin
perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup antara lain : izin
pembuangan limbah cair, izin pemanfaatan air limbah untuk aplikasi ke
tanah, izin penyimpanan sementara limbah bahan berbahaya dan beracun,
izin pengumpulan limbah bahan berbahaya dan beracun, izin pengangkutan
limbah bahan berbahaya dan beracun, izin pemanfaatan limbah bahan
berbahaya dan beracun, izin pengolahan limbah bahan berbahaya dan
beracun, izin penimbunan limbah bahan berbahaya dan beracun, izin
pembuangan air limbah ke laut, izin dumping, izin reinjeksi ke dalam
formasi, dan/atau izin venting.
Data B3 dan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) di Kabupaten
Ketapang relatif tidak tersedia. Data yang berhasil dihimpun hanya sebagian
kecil, khususnya data tentang jenis limbah B3 yang dihasilkan dari berbagai
kegiatan antara lain : oli bekas, filter oli bekas, aki bekas, majun
terkontaminasi dan jarum suntik. Beberapa perusahaan yang telah
mengajukan tempat penyimpanan sementara limbah B3 (TPS LB3) dapat
dilihat pada Tabel 2.23.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 96
Tabel 2.23.
I zin Pengelolaan Li mbah B3
No
Nama
Perusahaan
Kegiatan Utama J enis I zin LB3
Sumber
Limbah
1 PT. Harapan
Sawit Lestari
Perkebunan Kelapa
Sawit Kecamatan
Manis Mata
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
Bengkel, Klinik
dan Lab
2 PT. Sumber Alam
Sarana Kalbar
Migas/Jober-tangki
BBM Kecamatan Delta
Pawan
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
Bengkel, Tangki
BBM
3 PT. Poliplant
Sejahtera
Perkebunan Kelapa
Sawit Kecamatan
Manis Mata
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
Bengkel, Balai
Pengobatan,
Operasional
Kebun
4 PT. Limpah
Sejahtera
Perkebunan Kelapa
Sawit Kecamatan
Sungai Melayu Rayak
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
-
5 PT. Agro Lestari
Mandiri
Perkebunan Kelapa
Sawit Kecamatan
Nanga Tayap
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
Bengkel, Balai
Pengobatan,
Operasional
Kebun
6 PT. Karya Utama
Tambangjaya
Perkebunan Kelapa
Sawit Kecamatan
Simpang Hulu
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
Bengkel, Lab
7 PT. Sandika Nata
Palma
Perkebunan Kelapa
Sawit Kecamatan
Marau
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
Bengkel,
Operasional
Kebun
8 PT. Asia Tani
Persada
Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu Pada
Hutan Tanaman
Industri Kecamatan
Simpang Hulu
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
-
9 PT. Maya Agro
Investama
Perkebunan Kelapa
Sawit Kecamatan
Manis Mata
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
-
10 PT. Ayu Sawit
Lestari
Perkebunan Kelapa
Sawit Kecamatan
Manis Mata
Tempat
Penyimpanan
Sementara Limbah
B3 (TPS LB3)
-
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang, 2013.

Pengelolaan limbah B3 di Kabupaten Ketapang sebagian besar dilakukan di
luar Kabupaten Ketapang dikarenakan pihak ketiga pengelola limbah B3 di
Kabupaten Ketapang hingga saat ini belum ada, kecuali untuk limbah medis
yang dilakukan penghancuran melalui incenerator rumah sakit yang ada.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 97
Limbah B3 yang dihasilkan dalam rangkaian proses produksi atau sisa dari
proses dari berbagai kegiatan usaha di Kabupaten Ketapang dikelola melalui
berbagai cara, antara lain :
a. Dikirim ke pihak ketiga berizin,
b. Dikirimkan kembali ke pihak suplier,
c. Dimanfaatkan kembali sebagai pelumas internal (khusus untuk oli bekas),
d. Dikirim untuk dimusnahkan dengan incerenator (khusus limbah medik),
e. Di simpan sementara pada gudang limbah B3.










Gambar 2.7.
Di agram Al ir Penanganan Li mbah B3

Limbah B3

Majun terkontaminasi, jarum suntik
Pihak Yang Memiliki
Incenerator
Oli bekas, filter oli bekas, aki bekas
Pengumpul Yang Memilki Izin
Pengelolaan Limbah B3
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 98


UPAYA PENGELOLAANLINGKUNGAN




A. REHABI LI TASI LI NGKUNGAN
1. Lahan dan Tata Ruang
Berkurangnya lahan bervegetasi disebabkan oleh alih fungsi untuk
memenuhi kebutuhan pemukiman, perkantoran, industri/usaha dan
jaringan jalan akibat dari pertambahan penduduk dan investasi yang
signifikan dan kebutuhan pembangunan yang meningkat pesat.
Implementasi tata ruang yang tegas dengan pengawasan dan pengendalian
yang ketat menjadi kunci dari keberhasilan mencegah hilangnya lahan
bervegetasi secara tidak proporsional. Pengawasan dan pengendalian
dapat dimulai sejak dari proses perizinan seperti izin usaha dan izin
mendirikan bangunan.
Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Ketapang untuk
mengatasi permasalahan lahan dan tata ruang adalah:
1. Revitalisasi Kebijakan : penyusunan Masterplan RTH, Revisi RTRW
(kebijakan pemanfaatan ruang kabupaten), penyusunan perda yang
relevan (seperti fasos dan fasum, dll) dan adanya ketegasan di lapangan
mengenai aplikasi kebijakan tersebut.
2. Mempertahankan RTH Publik yang ada serta penambahan RTH Publik.
3. Requirement yang tegas pada Kawasan Perumahan dan Bangunan
dengan total 10% dari luas perumahan untuk fasos fasum dengan lebih
memperbesar ruang terbuka hijau dengan fungsi sosial (di luar jalur
hijau).
4. Penanaman pohon di lahan kritis di dalam dan diluar kawasan hutan.

BAB
III
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 99
2. Air
Kebijakan tentang pengelolaan sumberdaya perairan di Kabupaten
Ketapang secara umum mengikuti kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah pusat dan pemerintah propinsi, misalnya dalam penetapan baku
mutu limbah cair atau tentang pembuangan limbah cair ke badan sungai.
Kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan dalam upaya memperbaiki dan
menjaga kualitas air permukaan adalah :
1) Kegiatan pengendalian pencemaran air terutama untuk mengurangi
pencemaran yang bersumber dan limbah domestik (terutama oleh
bakteri Escerichia coli ).
2) Perlindungan sumber mata air.
3) Peningkatan penghijauan bantaran sungai dan lahan kritis.
4) Pengembangan MCK di daerah tertentu bagi masyarakat yang masih
memanfaatkan air bersih langsung dari badan sungai.
5) Pencegahan pemanfaatan sungai dari pembuangan air limbah rumah
tangga maupun limbah lainnya yang dapat merusak kualitas air sungai.

3. Perbaikan Kualitas Udara
Kebijakan dan upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Ketapang
dalam rangka untuk mengatasi masalah pencemaran udara antara lain
adalah :
1) Mengembangkan kegiatan pemantauan kualitas udara yang
berkesinambungan.
2) Melakukan uji emisi bagi kendaraan angkutan umum perkotaan.

4. Pencemaran Limbah I ndustri
Untuk mengatasi permasalah pencemaran air yang diakibatkan oleh limbah
industri, maka beberapa kegiatan pengelolaan lingkungan yang dilakukan
antara lain :
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 100
1) Melakukan inventarisasi dan pengelompokan semua kegiatan/ usaha
yang berpotensi menghasilkan air limbah berdasarkan jenis kegiatan/
usaha ataupun karakteristik limbah yang dihasilkan.
2) Melaksanakan pemantauan/pengawasan semua industri yang
berpotensi menghasilkan limbah pencemar (polutan) dengan
melakukan pengambilan sampel air limbah untuk kemudian dianalisis di
laboratorium secara berkala.
3) Peningkatan sumber daya manusia (SDM) pelaku usaha/ kegiatan

5. Limbah Domesti k
Untuk mengatasi permasalahan limbah domestik, beberapa kegiatan
pengelolaan yang dilakukan antara lain :
1) Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana pengelolaan
air limbah domestik seperti: sarana penyedot tinja (mobil tanki tinja),
MCK umum, dll.
2) Kegiatan sosialisasi/penyuluhan kepada masyarakat mengenai tata cara
mengelola air limbah domestik secara baik dan benar.

6. Sampah
Untuk mengatasi permasalahan sampah terutama sampah diperkotaan,
beberapa kegiatan pengelolaan lingkungan yang dilakukan antara lain :
1) Kemitraan antara Pemerintah dan Swasta (KPS) dalam pengelolaan
sampah.
2) Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana pengelolaan
sampah seperti:
Sarana pewadahan (tong sampah, TPS, Kontainer dll.).
Sarana pengumpulan (gerobak sampah)
Sarana pengangkutan (truk sampah)
Sarana pengolahan akhir (TPA)
Sarana komposting
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 101
3) Peningkatan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui
kegiatan sosialisasi/ penyuluhan cara pengelolaan sampah yang baik
dan benar melalui teknologi tepat guna dan ramah lingkungan.

B. AMDAL

1. Pelaksanaan pembuatan dokumen lingkungan
Setiap kegiatan atau usaha yang berada di wilayah Kabupaten Ketapang
yang diperkirakan menimbulkan dampak lingkungan diwajibkan menyusun
dokumen lingkungan hidup berupa dokumen AMDAL atau UKL-UPL
berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 5 Tahun
2012 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi Dengan
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Surat Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor B-5362/Dep.I-1/LH/07/2010 tentang daftar Jenis
Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan UKL-UPL.
Untuk pelaksanaan penilaian AMDAL mengingat Kabupaten Ketapang belum
memiliki Tim Komisi Penilai Dokumen AMDAL, Pelaksanaan penilaian AMDAL
di wilayah Kabupaten Ketapang berlangsung di Badan Lingkungan Hidup
Daerah (BLHD) Provinsi Kalimantan Barat.
Sedangkan untuk penilaian dokumen UKL-UPL di wilayah Kabupaten
Ketapang berlangsung di Kantor Lingkungan Hidup. Hingga tahun 2012
telah disahkan 69 dokumen UKL-UPL dari berbagai kegiatan usaha mulai
sejak Tahun 2005 - 2012.
Tabel 3.1.
Kegiatan Usaha Yang Waj ib Dokumen UKL dan UPL dan Telah Memperoleh
Rekomendasi Kel ayakan Li ngkungan

Tahun J umlah Kegi atan Usaha/ Kegiatan
2005 3
2007 8
2008 1
2009 23
2010 14
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 102
Tahun J umlah Kegi atan Usaha/ Kegiatan
2011 16
2012 4
J umlah 69
Sumber : Kantor Lingkungan Hidup Kab. Ketapang, 2013.

2. Pelaksanaan Pemantauan Li ngkungan
Pada tahun 2013 terus berlangsung pemantauan/monitoring pelaksanaan
pengelolaan lingkungan pada beberapa kegiatan/usaha. Pemantauan
lingkungan merupakan tindak lanjut dari rekomendasi pengelolaan dan
pemantauan lingkungan yang tertuang di dalam dokumen dokumen AMDAL
atau UKL-UPL.

C. PENEGAKAN HUKUM
Sosialisasi peraturan dan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup
kepada masyarakat terus dilakukan oleh Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten
Ketapang agar pemahaman dan kesadaran masyarakat serta pelaku usaha
akan pentingnya melestarikan lingkungan hidup semakin tinggi. Upaya
penegakan hukum di bidang lingkungan juga terus dilakukan secara
konsisten dan konsekuen. Dalam hal ini, berbagai kasus sengketa lingkungan
yang terjadi di masyarakat dengan pihak pengusaha ditindaklanjuti dengan
pemeriksaan secara intensif di lapangan, dan apabila dikuatkan dengan
bukti-bukti, maka akan diproses lebih lanjut. Bagi pelaku usaha yang terbukti
bersalah, maka izin operasinya akan dipertimbangkan kembali.
Beberapa program untuk meningkatkan aspek penegakan hukum lingkungan
adalah sebagai berikut:
1. Mendukung kebijakan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup
dengan menerbitkan peraturan daerah yang khusus mengatur mengenai
pengelolaan lingkungan hidup di Kabupaten Ketapang.
2. Menyusun petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan dari setiap kebijakan
yang dilaksanakan.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 103
3. Mengintegrasikan instrumen kebijakan pengelolaan lingkungan hidup pada
setiap kegiatan pembangunan di berbagai sektor.
4. Mewajibkan setiap kegiatan/ usaha yang memberikan dampak terhadap
lingkungan hidup untuk terlebih dahulu membuat kajian lingkungan
seperti AMDAL, UKL-UPL, SPPL dan SOP sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.
5. Setiap kegiatan/ usaha yang telah memiliki AMDAL, UKL-UPL, SPPL dan
SOP diwajibkan untuk melaporkan semua kegiatan pengelolaan dan
pemantauan yang telah dilakukannya sesuai waktu yang telah ditetapkan
ke Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang.
6. Sosialisasi semua produk hukum yang terkait dengan pengelolaan
lingkungan hidup kepada masyarakat dan pelaku usaha secara rutin
setiap tahun.

D. PERAN SERTA MASYARAKAT
Beberapa program kegiatan pengelolaan lingkungan yang dilakukan dalam
rangka untuk memperbaiki lingkungan yang melibatkan partisipasi
masyarakat antara alain adalah :
1) Penanganan Sampah Berbasis Masyarakat.
2) Kegiatan penghijauan.
3) Kampanye lingkungan hidup.
4) Penggerakan massa untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk
(PSN)
5) Sosialisasi sekolah berbudaya lingkungan (green school).

Beberapa program untuk meningkatkan peran aktif masyarakat dalam
pengelolaan maupun pengawasan lingkungan adalah sebagai:
1. Memasukan pendidikan lingkungan pada kurikulum sekolah dasar sampai
dengan Perguran Tinggi.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 104
2. Sosialisasi semua produk kebijakan ataupun program lingkungan hidup
kepada seluruh lapisan masyarakat dengan cara sosialisasi langsung
(temu warga) dan pemasangan iklan.
3. Bekerjasama dengan berbagai stakeholders (Perguruan Tinggi, LSM,
Praktisi Lingkungan) untuk melakukan penyuluhan dan pembinaan
masyarakat tentang pengelolaan lingkungan hidup.
4. Melakukan pembinaan masyarakat tentang tata cara melakukan ekploitasi
sumber daya alam yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan.

E. KELEMBAGAAN
Jumlah sumberdaya manusia Kantor Lingkungan Hidup sebanyak 27 orang
yang terdiri dari 17 orang staff dan selebihnya 10 orang tenaga honorer.
Secara rinci sumberdaya manusia Kantor Lingkungan Hidup sebagai berikut :
Staff
- Pendidikan S2 : 1 Orang
- Pendidikan S1 Teknik Lingkungan : 2 Orang
- Pendidikan S1 Kehutanan/Pertanian : 2 Orang
- Pendidikan S1 MIPA/Kimia : 1 Orang
- Pendidikan S1 Hukum : 2 Orang
- Pendidikan S1 Ekonomi : 2 Orang
- D3 Administrasi : 1 Orang
- SMA : 8 Orang
Honorer
- Pendidikan S1 Analis Laboratorium : 3 Orang
- SMA : 7 Orang

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 105


REKOMENDASI




Berdasarkan melihat kondisi lingkungan hidup dan kecenderungannya serta
tekanan terhadap kondisi lingkungan tersebut hingga pengelolaan lingkungan
yang telah dilakukan, rekomendasi pengelolaan lingkungan antara lain lain :
1. Lahan dan Tata Ruang
Upaya-upaya yang dilakukan dapat untuk mengatasi permasalahan lahan
dan tata ruang adalah :
1. Penyusunan Masterplan Ruang Terbuka Hijau (RTH) setelah Revisi
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Ketapang di sahkan
dan telah di Perdakan.
2. Inventarisasi dan penataan ulang perizinan yang berkaitan
pemanfaatan sumberdaya lahan dan merubah landskap lahan (seperti
izin perkebunan, pertambangan, HTI, HPH dan lain sebagainya).
3. Melakukan perbaikan lahan kritis dan marginal dengan kegiatan
penanaman pohon termasuk komitmen setiap pemegang izin
pertambangan yang telah operasional dalam aplikasi reklamasi lahan
bekas tambang.
4. Rehabilitasi hutan mangrove untuk mengatasi abrasi pantai dan
mempertahankan panjang garis pantai.
5. Perluasan hutan kota sebagai koleksi plasma nutfah/ keanekaragaman
hayati (flora dan fauna teresterial) yang terdapat di Kabupaten
Ketapang.

2. Perbaikan Kualitas Air
Upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan, memperbaiki
dan menjaga kualitas air antara lain :
1) Adanya kebijakan dalam bentuk Perda atau Keputusan Bupati upaya
perlindungan sumber-sumber mata air dan bahan baku air untuk
pemenuhan air bersih.
BAB
IV
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 106
2) Rehabilitasi bantaran sungai dan lahan kritis untuk menekan erosi dan
sedimentasi badan perairan.
3) Pembangunan MCK umum di daerah tertentu bagi masyarakat yang
masih memanfaatkan air bersih langsung dari badan sungai.
4) Sosialisasi secara langsung dan tidak langsung (iklan media cetak dan
elektronik, leaflet, dll) dimasyarakat untuk menginformasikan dan
mengatasi pencemaran air.
5) Pengawasan terhadap industri yang berpotensi menghasilkan cemaran
air limbah dengan tersedianya instalasi pengolahan air limbah (IPAL)
yang standar serta berfungsi dengan baik.

3. Perbaikan Kualitas Udara
Upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan, memperbaiki
kualitas udara antara lain :
1) Kegiatan pemantauan kualitas udara yang berkesinambungan setiap
tahun.
2) Melakukan uji emisi bagi kendaraan angkutan umum perkotaan secara
rutin setiap tahun.
3) Melakukan pengawasan dan pengujian emisi industri yang berpotensi
menghasilkan gas-gas polutan.
4) Penanaman pohon yang berfungsi sebagai penyerap polutan
disepanjang jalan utama terutama di wilayah perkotaan.

4. Penanganan Limbah Domestik
Upaya-upaya yang dilakukan dalam mengatasi permasalahan limbah
domestik, antara lain :
1) Penyediaan sarana penyedot tinja (mobil tanki tinja), MCK umum, dll.
2) Kemitraan kerjasama operasi antara Pemerintah Kabupaten Ketapang
dan Swasta (KSO) dalam penanganan dan pengelolaan sampah.
3) Peningkatan kualitas dan kuantitas prasarana dan sarana pengelolaan
sampah seperti:
Penyediaan sarana tong sampah, TPS, Kontainer, dll.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 107
Penyediaan sarana pengumpulan sampah seperti gerobak sampah,
yang dapat dilakukan swakelola oleh masyarakat
Peningkatan jumlah sarana pengangkutan sampah/truk sampah
Penyediaan sarana pengolahan akhir (TPA) dan dilengkapi sanitasi
lingkungan untuk mengatasi bau, leacheat, vektor penyakit dan lain
sebagainya.
Penyediaan sarana komposting sampah, baik yang dapat dilakukan
swakelola oleh masyarakat dan dilokasi TPA.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang 108
DAFTAR PUSTAKA


Asdak, C. 2012. Kajian Lingkungan Hidup Strategis. Gadjah Mada University Press.
Badan Pusat Statistik Kabupaten Ketapang. 2013. Kabupaten Ketapang Dalam Angka
2013. Ketapang.
Bappeda Kabupaten Ketapang. 2012. Kajian Strategis Pengembangan Sumberdaya
Pesisir dan Laut Kabupaten Ketapang. Ketapang.
Dinas Perkebunan Kabupaten Ketapang. 2012. Analisis Dampak Sosial Kebun Kelapa
Sawit di Kecamatan Nanga Tayap dan Kendawangan Kabupaten Ketapang.
Ketapang.
Dinas Kehutanan Kabupaten Ketapang. 2012. Buku Rencana Pengelolaan Rehabilitasi
Hutan dan Lahan Kabupaten Ketapang Tahun 2012 2016.
Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Ketapang. 2011. Rencana Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Laut Kabupaten Ketapang Tahun 2011.
Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Ketapang. 2012. I dentifikasi Potensi Pulau-
Pulau Kecil di Kawasan Pesisir Kabupaten Ketapang Tahun 2012.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air Bagi Pengelolaan Sumberdaya dan Lingkungan
Perairan. Penerbit : Kanisus.
Kodoatie. R.J; Suharyanto; S. Sangkawati; S. Edhison. 2000. Pengelolaan Sumber Daya
Air Dalam Otonomi Daerah. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Mitchell. B; B. Setiawan dan D.H. Rahmi. 2000. Pengelolaan Sumberdaya Alam dan
Lingkungan. Gadjah Mada University Press.
Notodarmojo. 2005. Pencemaran Tanah dan Air Tanah. Penerbit Institut Teknologi
Bandung. Bandung.
Profil Dinas Pertanian dan Peternakan Tahun 2012. Dinas Pertanian dan Peternakan
Kabupaten Ketapang.
Profil Dinas Kesehatan Tahun 2012. Dinas Kesehatan Kabupaten Ketapang.
Suharno dan Asmadi. 2012. Dasar-Dasar Teknologi Pengolahan Air Limbah. Gosyen
Publishing. Yogyakarta.
Suripin. 2001. Pelestarian Sumber Daya Tanah dan Air. Penerbit Andi. Yogyakarta.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 1
DAFTAR PERUSAHAAN PERKEBUNAN YANG SUDAH MEMILIKI IZIN USAHA PERKEBUNAN (IUP)
HINGGA TAHUN 2013

NAMA PERUSAHAAN LUAS (HA) LOKASI / KECAMATAN
IUP Kebun Kelapa Sawit
PT. Harapan Hibrida Kalbar 4.200 Manis Mata
PT. Kayong Agro Lestari 18.754 Matan Hilir Utara
PT. Mitra Karya Sentosa 15.665 Simpang Dua
PT. Mustika Agung Sentosa 20.000 Simpang Hulu
PT. Cipta Usaha Sejati 20.500 Simpang Dua
PT. Umekah Sari Pratama 16.000 Jelai Hulu, Manis Mata
PT. Fangiona Agro Plantation 16.000 Jelai Hulu
PT. Limpa Sejahtera 19.000 Matan Hilir Selatan
PT. Mulia Bakti Kahuripan 16.500 Sungai Laur
PT. Maya Agro Investama 12.948 Air Upas, Manis Mata
PT. Karya Makmur Langgeng 17.800 Simpang Dua
PT. Arrtu Plantation 17.300 Matan Hilir Selatan, Tumbang Titi
PT. Sinar Karya Mandiri 9.668 Muara Pawan
PT. Batu Mas Sejahtera 14.588 Sandai, Sungai Laur
PT. Andes Sawit Mas 12.515 Marau, Jelai Hulu
PT. Sawit Makmur Sejahtera 13.100 Sandai, Hulu Sungai
PT. Pendamar Sawit Mandiri 870 Matan Hilir Selatan
PT. Pranaindah Gemilang 4.600 Matan Hilir Selatan
PT. Agri Plus 6.100 Marau, Jelai Hulu
PT. Lanang Agro Bersatu 13.452 Sandai
PT. AgraJaya Bhaktitama 11.065 Sandai, Hulu Sungai, Sungai Laur
PT. Anugerah Palm Indonesia 7.375 Manis Mata
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NAMA PERUSAHAAN LUAS (HA) LOKASI / KECAMATAN
PT. Mitra Saudara Lestari 11.784 Manis Mata
PT. Mentari Pratama 3.954 Tumbang Titi
PT. Kencana Graha Permai 10.000 Marau, Jelai Hulu
PT. Bangun Nusa Mandiri 18.138 Marau, Jelai Hulu
PT. Ayu Sawit Lestari 5.242 Manis Mata, Air Upas
PT. Harapan Sawit Lestari 2.944 Manis Mata
PT. Cahaya Nusa Gemilang 3.312 Marau
PT. Aditya Agroindo 17.374 Simpang Hulu
PT. Gunajaya Ketapang Sentosa 10.500 Kendawangan
PT. Gunajaya Karya Gemilang 12.600 Kendawangan
PT. Karya Bhakti Agro Sejahtera 3.550 Kendawangan, Marau
PT. Berkat Nabati Sejahtera 8.830 Kendawangan
PT. Sukses Karya Sawit 9.580 Kendawangan
PT. Agro Sejahtera Manunggal 7.250 Kendawangan
PT. Usaha Agro Indonesia 9.728 Kendawangan, Manis Mata
PT. Bumi Sawit Sejahtera 10.000 Kendawangan
PT. Kalimantan Prima Agro
Mandiri
20.000 Kendawangan, Manis Mata
PT. Andes Sawit Lestari 14.729 Kendawangan
PT. Andes Agro Investama 12.125 Kendawangan
PT. Mandiri Kapital Jaya 4.372 Kendawangan, Air Upas, Singkup
PT.Gunajaya Harapan Lestari 1.750 Kendawangan
PT. Arrtu Energie Resources 15.690 Nanga Tayap, MHS, MP, B. Kayong, M.
Rayak
PT. Arrtu Borneo Perkebunan 6.947 Nanga Tayap, Pemahan, S. Melayu Raya
PT. Sepanjang Inti Surya Mulia 19.800 Nanga Tayap, Sandai
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NAMA PERUSAHAAN LUAS (HA) LOKASI / KECAMATAN
PT. Sawit Mitra Abadi 15.800 Nanga Tayap, Sandai
PT. GY Plantation Indonesia 2.821 Nanga Tayap
PT. Agro Lestari Mandiri 17.890 Nanga Tayap
PT. Citra Sawit Cemerlang 19.400 Nanga Tayap, Sandai
PT. Lestari Abadi Perkasa 5.478 Nanga Tayap, Tumbang Titi, Pemahan
PT. Sandai Makmur Sawit 9.460 Nanga Tayap, Sandai
PT. Permata Sawit Mandiri 15.500 Nanga Tayap
PT. Pertiwi Lenggara Agromas 9.250 Marau
PT. Arrtu Agro Nusantara 11.950 -
PT. Pranaindah Gemilang 7.565 Matan Hilir Selatan
PT. Anugerah Palm Indonesia 5.964 Manis Mata
PT. Ladang Sawit Mas 6.450 Nanga Tayap
PT. Putra Sari Lestari 17.700 Kendawangan, Matan Hilir Selatan
PT. Lestari Gemilang Inti Sawit 11.765 Nanga Tayap
PT. Agro Manunggal Sawitindo 10.400 Pemahan
PT. Prakarsda Tani Sejati 1.258 Sandai, Sungai Laur
PT. Karya Makmur Langgeng 16.700 Simpang Dua
Total Luas IUP Kebun Kelapa
Sawit
718.205
IUP Kebun Karet
PT. Penggelawaran Jaya Rubber 2.100 Nanga Tayap
Total Luas IUP Kebun Karet 2,100
SUMBER : DINAS PERKEBUNAN KABUPATEN KETAPANG, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 2
DATA PEMEGANG IZIN USAHA PERTAMBANGAN ( IUP ) DI KABUPATEN KETAPANG
NO NAMA PERUSAHAAN
LUASAN IUP
( Ha )
KOMODITAS LOKASI TAHAPAN IUP
IZIN USAHA PERTAMABANGAN EKSPLORASI
1 PUTRA ALAM LESTARI, PT 3,500 Bauksit Kec. Matan Hilir Selatan Eksplorasi
2 BUKIT BELAWAN TUJUH, PT 8,960 Emas DMP Kec. Tumbang Titi dan Pemahan Eksplorasi
3 BUKIT BELAWAN TUJUH, PT 6,096 Emas DMP Blok Semayuk Kec. Pamahan dan
Nanga Tayap
Eksplorasi
4 LAHAN MAKMUR SEJAHTERA, PT 1,689 Bauksit Kec. Nanga Tayap Eksplorasi
5 BUKIT BELAWAN TUJUH, PT 3,155 Emas DMP Blok Muara Landau Kec. Tumbang Titi,
Sei Melayu Rayak
Eksplorasi
6 LAHAN MAKMUR SEJAHTERA, PT 2,853 Bauksit Kec. Nanga Tayap Eksplorasi
7 LAHAN MAKMUR SEJAHTERA, PT 16,180 Timah Kec. Nanga Tayap dan Tumbang Titi Eksplorasi
8 BUKIT BETUNG SEJAHTERA, PT 22,570 Bauksit Kec. Marau, Jelai Hulu, Manis Mata Eksplorasi
9 ELANG MATAN AMAN SENTOSA, PT 6,525 Bauksit Blok Bangkal Serai Kec. Kendawangan Eksplorasi
10 ELANG MATAN AMAN SENTOSA, PT 34,550 Timah Blok Bangkal Serai Kec. Kendawangan Eksplorasi
11 ELANG MATAN AMAN SENTOSA, PT 34,550 Bauksit Blok Bangkal Serai Kec. Kendawangan Eksplorasi
12 ELANG MATAN AMAN SENTOSA, PT 6,525 Timah Blok Bangkal Serai Kec. Kendawangan Eksplorasi
13 LANANG BERSATU, PT 5,698 Galena Kec. Marau, Jelai Hulu Eksplorasi
14 LANANG BERSATU, PT 9,202 Galena Kec. Marau, Jelai Hulu Eksplorasi
15 LANANG BERSATU, PT 2,959 Bauksit Kec. Marau, Jelai Hulu Eksplorasi
16 BUDHI DHARMA INTI TAMBANG, PT 37,400 Bauksit Kec. Nanga Tayap & Pemahan Eksplorasi
17 SINAR KALIMANTAN I NTI TAMBANG, PT 10,710 Bauksit Kec. Air Upas & Singkup Eksplorasi
18 CITA MINERAL I NVESTINDO, PT 7,620 Bauksit Kec. Tumbang Titi dan Marau Eksplorasi
19 SINAR MAHAKAM UTAMA MINING, PT

17,570 Bauksit Kec. Pemahan & Tumbang Titi Eksplorasi
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NO NAMA PERUSAHAAN
LUASAN IUP
( Ha )
KOMODITAS LOKASI TAHAPAN IUP
20 KARYA GEMILANG KALIMANTAN
MINERAL, PT
16,930 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu, Tumbang Titi Eksplorasi
21 GUNAJAYA SEJAHTERA MINERAL, PT 4,064 Bijih Besi Kec. Tumbang Titi, Jelai Hulu Eksplorasi
22 MULTI BUMI MINERAL, PT 17,210 Bijih Besi Kec. Tumbang Titi, Jelai Hulu Eksplorasi
23 KALIMANTAN KILAUAN MINERAL, PT 5,948 Bijih Besi Blok Jelai Hulu Kec. Jelai Hulu Eksplorasi
24 BUDHI INTI KARYA TAMBANG, PT 4,000 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Eksplorasi
25 CAHAYA KALIMANTAN SEJAHTERA, PT 8,465 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Eksplorasi
26 GUNAKARYA INTI TAMBANG, PT 5,701 Bijih Besi Blok Jelai Hulu Kec. Jelai Hulu Eksplorasi
27 CITA MINERAL I NVESTINDO, PT 9,450 Bauksit Kec. Tumbang Titi Eksplorasi
28 KARYA WIJAYA ANEKA MINERAL, PT 3,682 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Eksplorasi
29 KENDAWANGAN PUTRA LESTARI, PT 7,990 Bauksit Kec. Matan Hilir Selatan Eksplorasi
30 KENDAWANGAN PUTRA LESTARI, PT 4,691 Bijih Besi Kec. Kendawangan Eksplorasi
31 MINERAL JAYA UTAMA, PT 21,380 Bauksit Kec. Nanga Tayap Eksplorasi
32 TIGA DAYA UTAMA, PT 4,180 Timah Kec. Matan Hilir Selatan Eksplorasi
33 TIGA DAYA UTAMA, PT 2,958 Timah Kec. Sei Melayu Raya Eksplorasi
34 BUKIT BELAWAN TUJUH, PT 13,740 Emas Kec. Matan Hilir Selatan, Sei Melayu,
B. Kayong, Pemahan
Eksplorasi
35 BUKIT BELAWAN TUJUH, PT 15,280 Emas Kec. Tumbang Titi, Jelai Hulu dan
Pemahan
Eksplorasi
36 GEMA NUSA ABADI MINERAL, PT 12,310 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu & Tumbang Titi Eksplorasi
37 HARITA PRIMA ABADI MINERAL, PT 626.4 Bijih Besi Kec. Kendawangan Eksplorasi
38 RESTU IBU SEJAHTERA, PT 2,361 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Eksplorasi
39 LAMAN MINANG, PT 10,890 Bauksit Kec. Matan Hilir Utara Eksplorasi
40 SINAR KARYA MANDIRI LESTARI, PT 20,300 Bijih Besi Kec. Hulu Sungai Eksplorasi
41 MULTI BUMI MINERAL, PT 18,830 Bijih Besi Kec. Marau Eksplorasi
42 ALAS KUSUMA, PT 67,430 Emas Kec. Hulu Sungai Eksplorasi
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NO NAMA PERUSAHAAN
LUASAN IUP
( Ha )
KOMODITAS LOKASI TAHAPAN IUP
43 KALIMANTAN BERKAH I NTI TAMBANG,
PT
13,720 Bauksit Kec. Air Upas & Singkup Eksplorasi
44
KARYA GEMILANG KALIMANTAN
MINERAL, PT 12,300 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Eksplorasi
45 KARYA PERTIWI UTAMA TAMBANG, PT 5,007 Bijih Besi Kec. Tumbang Titi, Jelai Hulu Eksplorasi
46 CAHAYA KALIMANTAN SEJAHTERA, PT 3,418 Bijih Besi Kec. Tumbang Titi Eksplorasi
47 CITA MINERAL I NVESTINDO, PT 44,860 Bauksit Kec. Sandai & Sungai Laur, Blok
Randau
Eksplorasi
48 KARYA UTAMA TAMBANGJAYA, PT 1,142 Bauksit Kec. Simpang Hulu Eksplorasi
49 KARYA UTAMA TAMBANGJAYA, PT 4,312 Bauksit Kec. Simpang Hulu Eksplorasi
50 KARYA UTAMA TAMBANGJAYA, PT 7,711 Bauksit Kec. Simpang Hulu Eksplorasi
51 BORNEO TAMBANG MAKMUR, PT 845 Bijih Besi Kec. Hulu Sungai & Nanga Tayap Eksplorasi
52 SINAR KARYA MANDIRI LESTARI, PT 623.4 Bijih Besi Kec. Hulu Sungai Eksplorasi
53 BORNEO TAMBANG MAKMUR, PT 3,641 Bijih Besi Kec. Hulu Sungai & Nanga Tayap Eksplorasi
54 BORNEO TAMBANG MAKMUR, PT 11,870 Bijih Besi Kec. Hulu Sungai Eksplorasi
55 KETAPANG PUTRA MANDIRI, PT 12,010 Timah Kec. Matan Hilir Selatan Eksplorasi
56 KETAPANG PUTRA MANDIRI, PT 22,470 Timah Kec. Tumbang Titi, MHS, Sei Melayu Eksplorasi
57 BATU ALAM PANGSUMA, PT 3,601 Timah Kec. Matan Hilir Selatan Eksplorasi
58 MINERAL PERSADA I NDONESIA, PT 5,146 Bijih Besi Blok Riam Kec. Jelai Hulu & Kec.
Marau
Eksplorasi
59 KETAPANG PUTRA MANDIRI, PT 20,730 Timah Kec. Marau, MHS, Singkup,
Kendawangan
Eksplorasi
60 GEMA NUSA ABADI MINERAL, PT 1,079 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Eksplorasi
61 SERINDING SUMBER MAKMUR, PT 10,640 Emas DMP Kec. Sandai Eksplorasi
62 PT. AIR HITAM RESOURCES 352.5 Zircon Blok Bagan Rakit Kec. Kendawangan Eksplorasi
63 PT. AIR HITAM RESOURCES 1,862 Zircon Kec. Kendawangan Eksplorasi
64 PT. SUMBER KALBAR LESTARI 448 Zircon Kec. Kendawangan Eksplorasi
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NO NAMA PERUSAHAAN
LUASAN IUP
( Ha )
KOMODITAS LOKASI TAHAPAN IUP
65 PT. SUMBER KALBAR LESTARI 2,100 Zircon Kec. Kendawangan Eksplorasi
66 PT. KAYONG SEJAHTERA LESTARI 195 Pasir Kec. Muara Pawan & Benua Kayong Eksplorasi
67 PT. KAYONG SEJAHTERA LESTARI 80 Pasir Kec. Muara Pawan Eksplorasi
68 PT. KARYA ALAM MINERAL 2,248 Pasir Kec. Delta Pawan & Muara Pawan Eksplorasi
69 PT. KARYA ALAM MINERAL 1,580 Pasir Kec. Delta Pawan & Benua Pawan Eksplorasi
70 PILAR ANGSANA, CV 1,865 Zircon Kec. Matan Hilir Selatan Eksplorasi
IZIN USAHA PERTAMBANGAN OPERASI PRODUKSI
1 HARITA UTAMA ABADI MINERAL, PT 7,833 Bauksit Kec. Marau - Air Upas Operasi Produksi
2 HARITA UTAMA ABADI MINERAL, PT 5,153 Bauksit Kec. Marau - Air Upas Operasi Produksi
3 LIGAT AKSES, CV 197 Timah Kec. MH. Selatan Operasi Produksi
4 KARYA WIJAYA ANEKA MINERAL, PT 2,060 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Operasi Produksi
5 KARYA WIJAYA ANEKA MINERAL, PT 2,055 Bijih Besi Kec. Marau dan Kendawangan Operasi Produksi
6 HARITA UTAMA ABADI MINERAL, PT 193 Bijih Besi Kec. Kendawangan Operasi Produksi
7 JOPPA CENTRAL JAYA, PT 195.8 Timah Kec. Tumbang Titi Operasi Produksi
8 KARYA UTAMA TAMBANGJAYA, PT 4,440 Bauksit Sekucing Labai Kec. Simpang Hulu Operasi Produksi
9 SUMBER KALBAR LESTARI, PT 196.7 Timah Kec. Tumbang Titi Operasi Produksi
10 HARITA UTAMA ABADI MINERAL, PT 2,382 Bauksit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
11 RESTU IBU SEJAHTERA, PT 197 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Operasi Produksi
12 GEMA NUSA ABADI MINERAL, PT 200 Bijih Besi Kec. Jelai Hulu Operasi Produksi
13 BIUTAK JAYA BERSAMA, PT 192.5 Timah Kec. Tumbang Titi Operasi Produksi
14 ALAM PERDANA ZIRCON, PT 195.8 Timah Kec. Tumbang Titi Operasi Produksi
15 LABAI PERTIWI TAMBANG, PT 16,700 Bauksit Kec. Simpang Hulu Operasi Produksi
16 CITA MINERAL I NVESTINDO, PT 24,900 Bauksit Kec. Simpang Dua Operasi Produksi
17 CAHAYA MANDIRI LESTARI, PT 170 Timah Kec. Matan Hilir Selatan Operasi Produksi
18 HARITA PRIMA ABADI MINERAL, PT 24,090 Bauksit Kec. Marau - Air Upas Operasi Produksi
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NO NAMA PERUSAHAAN
LUASAN IUP
( Ha )
KOMODITAS LOKASI TAHAPAN IUP
19 KARYA UTAMA TAMBANGJAYA, PT 4,438 Bauksit Sekucing Labai Kec. Simpang Hulu Operasi Produksi
20 LANANG BERSATU, PT 1,072 Galena Blok Batu Perak Kec. Marau Operasi Produksi
21 CITA MINERAL I NVESTINDO, PT 24,910 Bauksit Kec. Simpang Hulu, Simpang Dua Operasi Produksi
22 KARYA UTAMA TAMBANGJAYA, PT 8,705 Bauksit Kec. Simpang Hulu Operasi Produksi
23 PUTRA ALAM LESTARI, PT 2,230 Bijih Besi Kec. Kendawangan Operasi Produksi
24 KENDAWANGAN PUTRA LESTARI, PT 8,750 Bijih Besi Kec. Kendawangan Operasi Produksi
25 PUTRA ALAM LESTARI, PT 4,383 Bauksit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
26 PUTRA ALAM LESTARI, PT 1,493 Bijih Besi Kec. Kendawangan, Matan Hilir
Selatan
Operasi Produksi
27 PUTRA ALAM LESTARI, PT 6,705 Bauksit Kec. Kendawangan, Matan Hilir
Selatan
Operasi Produksi
28 PUTRA ALAM LESTARI, PT 2,880 Bauksit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
29 PUTRA ALAM LESTARI, PT 8,271 Bijih Besi Kec. Kendawangan Operasi Produksi
30 PUTRA ALAM LESTARI, PT 946.7 Bijih Besi Kec. Kendawangan Operasi Produksi
31 KENDAWANGAN PUTRA LESTARI, PT 846 Bauksit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
32 KENDAWANGAN PUTRA LESTARI, PT 3,426 Bauksit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
33 PUTRA ALAM LESTARI, PT 608 Bauksit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
34 PUTRA ALAM LESTARI, PT 1,030 Bijih Besi Blok Kelampai Kec. Kendawangan Operasi Produksi
35 PUTRA ALAM LESTARI, PT 667 Bauksit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
36 JOPPA CENTRAL JAYA, PT 182 Timah Kec. Tumbang Titi & Matan Hilir
Selatan
Operasi Produksi
37 KENDAWANGAN PUTRA LESTARI, PT 196.6 Barit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
38 PUTRA ALAM LESTARI, PT 3,743 Bijih Besi Kec. Kendawangan & Matan Hilir
Selatan
Operasi Produksi
39 KENDAWANGAN PUTRA LESTARI, PT 5,117 Bijih Besi Kec. Kendawangan Operasi Produksi
40 PUTRA ALAM LESTARI, PT 1,879 Bauksit Kec. Kendawangan Operasi Produksi
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NO NAMA PERUSAHAAN
LUASAN IUP
( Ha )
KOMODITAS LOKASI TAHAPAN IUP
41 KENDAWANGAN PUTRA LESTARI, PT 2,166 Bijih Besi Kec. Kendawangan Operasi Produksi
42 BIUTAK JAYA BERSAMA, PT 4,974 Timah Kec. Matan Hilir Selatan & Tumbang
Titi
Operasi Produksi
43 PASIR MAS PUTIH, PT 6,855 Bijih Besi Kec. Matan Hilir Selatan, Marau &
Tumbang Titi
Operasi Produksi
44 PASIR MAS PUTIH, PT 2,023 Bijih Besi Kec. Marau Operasi Produksi
45 LAMAN MINING, PT 13,460 Bauksit Kec. Matan Hilir Utara dan Nanga
Tayap
Operasi Produksi
46 SANDAI INTI JAYA TAMBANG, PT 19,280 Bauksit Kec. Sandai & Sungai Laur Operasi Produksi
47 KETAPANG KARYA UTAMA, PT 15,630 Bauksit Kec. Nanga Tayap Operasi Produksi
48 KETAPANG KARYA UTAMA, PT 5,071 Bauksit Kec. Nanga tayap Operasi Produksi
49 SANDAI KARYA UTAMA, PT 24,540 Bauksit Kec. Sandai & Nanga Tayap Operasi Produksi
50 BUMI PALONG, PT 891.5 Timah Kec. Matan Hilir Selatan Operasi Produksi
51 BUMI LIPUTAN TEKNIK, PT 6,855 Timah Kec. Matan Hilir Selatan, Marau &
Tumbang Titi
Operasi Produksi
52 BUMI LIPUTAN TEKNIK, PT 2,023 Timah Kec. Marau Operasi Produksi
53 SULTAN RAFLI MANDIRI, PT 99.90 Emas Kec. Tumbang Titi Operasi Produksi
54 PT. SUMBER KALBAR LESTARI 197.7 Zircon Kec. Kendawangan Operasi Produksi
55 CV. FIRDA JAYATAMA MINING 49.6 Zircon Kec. MH. Selatan Operasi Produksi
56 PT. ALAM PERDANA ZIRCON 1,800 Zircon Kec. Tumbang Titi Operasi Produksi
57 PT. GADJAH MADA PALAPA UTAMA 196.2 Zircon Desa Bangkal Serai Kec.
Kendawangan
Operasi Produksi
58 PT. GADJAH MADA PALAPA UTAMA 196.2 Kaolin Desa Bangkal Serai Kec.
Kendawangan
Operasi Produksi
59 CV. CHINDO DUTA UTAMA 194.6 Kuarsa Desa Bangkal Serai Kec.
Kendawangan
Operasi Produksi
60 CV. CHINDO DUTA UTAMA 194.6 Kaolin Desa Bangkal Serai Kec.
Kendawangan
Operasi Produksi
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NO NAMA PERUSAHAAN
LUASAN IUP
( Ha )
KOMODITAS LOKASI TAHAPAN IUP
61 PT. ALAM PERDANA ZIRCON 196.2 Zircon Kec. Kendawangan Blok Air Hitam Operasi Produksi
62 PT. CAHAYA MANDIRI LESTARI 170 Zircon Kec. Matan Hilir Selatan Operasi Produksi
63 CV. PILAR ANGSANA 191.7 Zircon Kec. Matan Hilir Selatan Operasi Produksi
64 PT. JOPPA CENTRAL JAYA 182 Zircon Kec. Tumbang Titi & Matan Hilir
Selatan
Operasi Produksi
65 CV. CHINDO DUTA UTAMA 2,059 Zircon Blok Kelampal Kec. Kendawangan Operasi Produksi
66 PT. GADJAH MADA PALAPA UTAMA 2,063 Zircon Kec. Kendawangan Operasi Produksi
67 PT. AIR HITAM RESOURCES 194 Zircon Desa Air Hitam Kec. Kendawangan Operasi Produksi
68 CV. LIGAT AKSES 2,082 Zircon Kec. MH. Selatan Operasi Produksi
69 CV. REMAONG PERKASA MANDIRI 1,828 Zircon Kec. Matan Hilir Selatan Operasi Produksi
70 PT. ALAMANDA INDONESIA 197.4 Zircon Desa Sungai Nanjung Kec. MHS Operasi Produksi
71 PT. ALAMANDA INDONESIA 197.4 Zircon Kec. Kendawangan Operasi Produksi
SUMBER : DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI KABUPATEN KETAPANG, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang


LAMPIRAN 3.
DATA PERUSAHAAN YANG MEMILIKI DOKUMEN LINGKUNGAN (AMDAL/UKL-UPL) DI KABUPATEN KETAPANG

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
1.
PT. WAHAKERTA
EKALESTARI
HTI 2006
SK Gubernur Nomor
789 Tahun 2006,
Tanggal 30 Nopember
2006
Kec. Tumbang Titi
dan Kec. Matan Hilir
Selatan
Usaha Pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu pada Hutan
Tanaman ( IUPHHK-HT )Luas
Areal : 25.082 Ha
2.
PT. FANGIONO AGRO
PLANTATION
Perkebunan 2007
SK Gubernur Nomor
889 tahun 2007,
tanggal 23 Oktober
2007
Kec. Jelai Hulu
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas Areal : 20.600 Ha ;
Kapasitas 60 Ton TBS/jam)
3.
PT. ALAM PERDANA
ZIRKON
Pertambangan 2007
SK. Bupati Ketapang
No. 395 Th 2007. tgl.
5-11- 2007
Kec. Tumbang Titi
dan Kec. Melayu
Rayak
Penambangan Zircon Luas:
2.000 Ha
4.
PT. ARRTU
PLANTATION
Perkebunan 2007
SK Gubernur Nomor
996 Tahun 2007,
tanggal 5 Desember
2007
Kec. Matan Hilir
Selatan dan Kec.
Tumbang Titi
Perkebunan dan pembangunan
Pabrik Pengolahan Kelapa
Sawit (Luas areal : 17.800 Ha
kapasitas 60 Ton TBS/jam)
5.
PT.ADITYA
AGROINDO
Perkebunan 2007
SK. Gubernur Nomor
338 Tahun 2007,
Tanggal 5 Juni 2007
Kec. Simpang Hulu
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit (
Luas Bruto : 20.000 Ha :
Luas Netto : 16.000 Ha;
Kapasitas : 60 Ton TBS/ Jam )
6.
PT.LANANG
BERSATU
Pertambangan 2007
SK Gubernur Nomor 23
Tahun 2007, Tanggal
11 Januari 2007
Kec. Marau
Penambangan Bijih Galena-
SphaleriteLuas Areal : 6.779
Ha
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
7.
CV. CHINDO DUTA
UTAMA
Pertambangan 2008
SK. Bupati Ketapang
No. 213 Th 2008 Tgl. 8
Mei 2008
Kec. Kendawangan
Penambangan Zirkon Luas:
2.059 Ha
8. CV. LIGAT AKSES Pertambangan 2008
SK. Bupati Ketapang
No. 211 Th 2008 Tgl. 8
Mei 2008
Kec. Matan Hilir
Selatan
Penambangan Zirkon Luas:
2.014 Ha
9.
CV. REMAONG
PERKASA MANDIRI
Pertambangan 2008
SK. Bupati Ketapang
No.89 Th. 2008. tgl. 19
2 2008
Kec. M.H. Selatan dan
Kec.Melayu Rayak
Penambangan Zirkon Luas:
1.828 Ha
10.
PT. GAJ AH MADA
PALAPA UTAMA
Pertambangan 2008
SK. Bupati Ketapang
No. 214 Th 2008 Tgl. 8
Mei 2008
Kec. Kendawangan
Penambangan Zirkon Luas:
2.059 Ha
11.
PT. HARITA PRIMA
ABADI MINERAL
Pertambangan 2008
SK. Bupati Ketapang
No. 212 Th 2008 tgl. 8
Mei 2008
Kec. Simpang Dua
Penambangan Bouksit Luas:
33.700 Ha
12.
PT. MAS PUTIH
BELITUNG
Pertambangan 2008
SK. Bupati Ketapang
No. 209 Th 2008 tgl. 8
Mei 2008
Kec. Jelai Hulu
Penambangan Bijih Besi Luas:
2.060 Ha
13.
PT. MAS PUTIH
BELITUNG.
Pertambangan 2008
SK. Bupati Ketapang
No. 210 Th 2008 tgl. 8
Mei 2008
Kec. Kendawangan
Penambangan Bijih Besi Luas:
2.055 Ha
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
14.
PT. MULIA BHAKTI
KAHURIPAN
Perkebunan 2008
SK. Gubernur Nomor
425 Tahun 2007,
Tanggal : 11 JUNI 2008
Kec. Laur dan Kec.
Sandai
(Luas Bruto 20.000 Ha : Luas
Netto 12.000 Ha Kapasitas
60 Ton TBS/jam)
15.
PT. SINAR KARYA
MANDIRI
Perkebunan 2008
SK Gubernnur No. 559
Tgl. 24 Juli 2008
Kec. Muara Pawan
Perkebunan Kelapa Sawit
( Luas 26.900 Ha) dan Pabrik
Pengolahan 2 unit (@ 60 Ton
TBS/ jam)
16. PT. AGRIPLUS Perkebunan 2009
SK Gubernur No. 171
Tahun 2009 Tanggal 13
April 2009
Kec. Marau dan Jelai
Hulu
Perkebunan dan pabrik
pengolahan kelapa sawit (Luas
6.100 Ha, Kapasitas pabrik
30 Ton TBS/jam)
17.
PT. AGRO
SEJ AHTERA
MANUNGGAL
Perkebunan 2009
SK Gubernur No. 714
Tahun 2009 Tgl. 8
Desember 2009
Kec. Kendawangan
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas 8.000 Ha, Kapasitas
45Ton TBS/Jam)
18.
PT. ANDES AGRO
INVESTAMA
Perkebunan 2009
Nomor 637 tanggal 2
November 2009
Kec. Kendawangan
dan Singkup
Perkebunan dan pabrik
pengolahan kelapa sawit (Luas
13.400 Ha, Kapasitas pabrik
60 Ton TBS/jam)
19.
PT. ANDES SAWIT
LESTARI
Perkebunan 2009
Nomor 638 tanggal 2
November 2009
Kec. Kendawangan
dan Singkup
Perkebunan dan pabrik
pengolahan kelapa sawit (Luas
15.700 Ha, Kapasitas pabrik
60 Ton TBS/jam)
20.
PT. ANDES SAWIT
MAS
Perkebunan 2009
Nomor 547 tanggal 17
September 2009
Kec. Marau dan Jelai
Hulu
Perkebunan dan pabrik
pengolahan kelapa sawit (Luas
16.100 Ha, Kapasitas pabrik
60 Ton TBS/jam)
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
21.
PT. ANUGERAH
PALM INDONESIA
Perkebunan 2009
SK Gubernur No. 632
Tahun 2009 tanggal 2
November 2009
Kec. Manismata
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas: 9.700 Ha; Kapasitas
60 Ton TBS/jam
22.
PT. ASIA TANI
PERSADA
HTI 2009
Nomor 711 tanggal 8
Desember 2009
Kec. Simpang Hulu IUPHHK-HTI Luas : 20.740 Ha
23.
PT. BATU MAS
SEJ AHTERA
Perkebunan 2009
Nomor 285 tanggal 20
Mei 2009
Kec. Sandai dan Kec.
Sungai Laur
Perkebunan dan Pabrik Kelapa
Sawit (Luas 16.300 Ha,
Kapasitas 60 Ton TBS/Jam)
24.
PT. BERKAT NABATI
SEJ AHTERA
Perkebunan 2009
SK Gubernur Nomor
375/BLHD/2010
Tanggal 12 Agustus
2010
Kec. Kendawangan
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas 13.500 Ha, Kapasitas
45 Ton TBS/Jam)
25.
PT. BUANA
MEGATAMA J AYA
HTI 2009
Nomor 371 tanggal 8
Juni 2009
Kec. Kendawangan
IUPHHK-HTI seluas 42.450
Ha
26.
PT. BUMI SAWIT
SEJ AHTERA (BGA
GROUP)
Perkebunan 2009
SK Gubernur Nomor
714 Tahun 2009
Tanggal 8 Desember
2009
Kec. Kendawangan
Perkebunan (luas: 11.000 ha)
dan Pembangunan Pabrik
Kelapa Sawit (45 Ton TBS/jam)
27.
PT. CAHAYA NUSA
GEMILANG
Perkebunan 2009
SK Gubernur Nomor
755 Tahun 2009
Tanggal 11 Nopember
2009
Kec. Marau
Perkebunan Kelapa Sawit (luas
: 3.444,17 ha)
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
28.
PT. CITRA SAWIT
CEMERLANG
Perkebunan 2009
Kec. Sandai, Hulu
Sungai dan Kec.
Nanga Tayap
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas: 15.119 Ha, Kapasitas
60 Ton TBS/jam)
29.
PT. HIJ AU
NUSANTARA
HTI 2009
Kabupaten Sanggau,
Sekadau dan
Ketapang
IUPHHK-HTI seluas 88.410
Ha
30.
PT. KALIMANTAN
PRIMA AGRO
MANDIRI
Perkebunan 2009
SK Gubernur 716 Tahun
2009 Tanggal 8
Desember 2009
Kec. Kendawangan
dan Kec.Manismata
Perkebunan (luas: 20.000 ha)
dan Pembangunan Pabrik
Kelapa Sawit (45 Ton TBS/jam)
31.
PT. KARYA BAKTI
AGRO SEJ AHTERA
Perkebunan 2009
SK Gubernur 756 Tahun
2009 Tanggal 8
Desember 2010
Kec. Marau
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas 3.550 Ha, Kapasitas
30 Ton TBS/Jam)
32.
PT. KUSUMA ALAM
SARI
Perkebunan 2009
SK Gubernur Nomor
286 Tahun 2009
Tanggal 8 Juni 2009
Kec. Nanga Tayap
dan Pemahan
Perkebunan dan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas 12.350 Ha, Kapasitas
60 Ton TBS/Jam)
33.
PT. MAHKOTA RIMBA
UTAMA
HTI 2009
Nomor 438 tanggal 9
Juli 2009
Kec. Sungai Laur dan
Simpang Dua
IUPHHK-HTI seluas 74.480 Ha
34.
PT. MAYAWANA
PERSADA
HTI 2009
Nomor 542 tanggal 16
Tahun 2009
Kab. Ketapang (Kec
Simpang Hulu & Kec.
Simpang Dua) dan
Kab. Kayong Utara
(Kec. Simpang Hilir
dan Kec. Teluk
Batang)
IUPHHK-HTI seluas 136.710
Ha
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
35.
PT. MEGA ALAM
SENTOSA
HTI 2009
Nomor 739 tanggal 28
Desember 2009
Kabupaten Sintang,
Melawi dan Ketapang
IUPHHK-HTI seluas 191,328
ha
36.
PT. MITRA SAUDARA
LESTARI
Perkebunan 2009
Nomor 738 tanggal 28
Desember 2009
Kec. Manismata
perkebunan (Luas Areal :
13.000 ha) dan pabrik
pengolahan kelapa sawit
(Kapasitas Pabrik : 60 Ton
TBS/jam
37.
PT. PERMATA SAWIT
MANDIRI
Perkebunan 2009
Kec. Sandai, Hulu
Sungai dan Kec.
Nanga Tayap
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas 15.944 Ha, Kapasitas
60 Ton TBS/Jam)
38.
PT. PRIMA BUMI
SENTOSA
HTI 2009
Nomor 45 tanggal 16
Januari 2009
Kec. Simpang Hulu
dan Simpang Dua
IUPHHK-HTI
39.
PT. SAWIT J AYA
MAKMUR
Perkebunan 2009
SK Gubernur Nomor
284 tanggal 20 Mei
2009
Kec. Nanga Tayap
Perkebunan dan Pabrik Kelapa
Sawit (Luas 16.000 Ha,
Kapasitas 60 Ton TBS/Jam)
40.
PT. WANA HIJ AU
PESAGUAN
HTI 2009
SK Kelayakan No 498
Tahun 2009 tanggal 1
september 2009
Kec. Nanga Tayap,
Tumbang Titi, Jelai
Hulu dan Hulu Sungai.
IUPHHK-HTI seluas 104.975
Ha
41.
PT. WANA MUKTI
LESTARI
HTI 2009
SK Kelayakan No 633
Tahun 2009 tanggal 6
November 2009
Kec. Hulu Sungai dan
Kec. Nanga Tayap
UPHHK-HA seluas 46.235
Ha
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
42.
PT. ARRTU AGRO
NUSANTARA
Perkebunan 2010
SK Gubernur No :
396/BLHD/2010 tanggal
31 Agustus 2010
Kec. Marau, Kec.
Singkup dan Kec. Air
Upas
Perkebunan dan Pabrik
Pengolahan luas 13.870 Ha,
Kapasitas Pabrik 45 Ton
TBS/Jam. (Luasan Final yang
akan dibahas hanya pada
areal APL saja seluas
12.819 Ha)
43.
PT. ARRTU BORNEO
PERKEBUNAN
Perkebunan 2010
SK Gubernur No :
395/BLHD/2010 tanggal
31 Agustus 2010
Kec. Nanga Tayap,
Kec. Pemahan, Kec.
Sungai Melayu Rayak,
Kec. Matan Hilir
Selatan dan Kec.
Benua Kayong
Perkebunan dan Pabrik
Pengolahan luas 13.870 Ha,
Kapasitas Pabrik 60 Ton
TBS/Jam. (Luasan Final yang
akan dibahas hanya pada
areal APL saja seluas 7.905
Ha)
44.
PT. ARRTU ENERGIE
RESOURSES
Perkebunan 2010
Kec. Matan Hilir
Utara, Kec. Matan
Hilir Selatan, Kec.
Benua Kayong, Kec.
Sei. Melayu Rayak
dan Kec. Nanga
Tayap
Perkebunan dan Pabrik
Pengolahan luas 16.000 Ha,
Kapasitas Pabrik 60 Ton
TBS/Jam.
45.
PT. DAYA TANI
KALBAR
HTI 2010
Kec. Batu Ampar Kab.
Kubu Raya dan Kec.
Simpang Hulu
Kanalisasi Lahan Gambut
UPHHK-HTI Luas Areal
56.060 Ha
46.
PT. LADANG SAWIT
MAS
Perkebunan 2010
Nomor 49/BLHD/2010
Tgl. 27 Januari 2010
Kec. Nanga Tayap
Perkebunan dan pabrik
pengolahan kelapa sawit (Luas
8.300 Ha, Kapasitas pabrik
35 Ton TBS/jam)
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
47.
PT. LINGGA TEJ A
WANA
HTI 2010
Kec. Sandai Kec. Hulu
Sungai
Usaha pemanfaatan Hasil
Hutan Kayu Pada Hutan
Tanaman I ndustri UPHHK-HTI
Luas Areal 13.600 Ha
48.
PT. PERTIWI
LENGGARA
AGROMASA
Perkebunan 2010
SK Gubernur Nomor :
376/BLHD/2010
Tanggal 12 Agustus
2010
Kec. Marau dan Kec.
Air Upas
Perkebunan dan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit (luas
11.770 Ha, Kapasitas Pabrik
60 Ton TBS/Jam)
49.
PT. SANDAI MAKMUR
SAWIT
Perkebunan 2010
Kec. Sandai dan Kec.
Nanga Tayap
Perkebunan dan Pabrik
Pengolahan luas 10,100 Ha,
Kapasitas Pabrik 60 Ton
TBS/Jam. .
50.
PT. SAWIT MAKMUR
SEJ AHTERA
Perkebunan 2010
SK Gubernur Nomor
262/BLHD/2010 tanggal
24 Mei 2010
Kec. Sandai dan Kec.
Hulu Sungai
Perkebunan dan Pabrik
Pengolahan (luas 14.750 Ha,
Kapasitas Pabrik 60 Ton
TBS/Jam)
51.
PT. SUKSES KARYA
SAWIT
Perkebunan 2010
SK Gubernur Nomor
374/BLHD/2010
Tanggal 12 Agustus
2010
Kec. Kendawangan
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas 13.500 Ha, Kapasitas
45 Ton TBS/Jam)
52.
PT. KAYONG AGRO
LESTARI
Perkebunan 2010
SK Gubernur No. 123
Tahun 2010
Tgl. 1 Maret 2010
Kec. Matan Hilir Utara
Perkebunan kelapa sawit (Luas
: 20.000 Ha) Pabrik
Pengolahan (30 Ton TBS/Jam)
53.
PT. KARYA MAKMUR
LANGGENG
Perkebunan 2010
Nomor 131/BLHD/2010
Tgl. 18 Maret 2010
Kec. Simpang Dua
dan Kec. Simpang
Hulu Kabupaten
Ketapang
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas 18.650 Ha, Kapasitas
45 Ton TBS/Jam)
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
54.
PT. PUTRA SARI
LESTARI
Perkebunan 2010
Nomor 132/BLHD/2010
tanngal 23 Maret 2010
Kecamatan Matan
Hilir Selatan dan
Kendawangan
Kabupaten Ketapang
kebun dan Pabrik Luas :
22.250 Ha Kapasitas : 60 Ton
TBS/jam
55.
PT. LANANG AGRO
BERSATU
Perkebunan 2010
Nomor 308/BLHD/2010
Tgl. 12 April 2010
Kecamatan Sandai
Kabupaten Ketapang
Kebun dan Pabrik Luas :
15.000 Ha Kapasitas : 60 Ton
TBS/jam
56.
PT. ASIA MUKTI
LESTARI
Perkebunan 2010
No 424/BLHD/2010
Tanggal 22 Sept 2010
Kecamatan Simpang
Hulu Kabupaten
Ketapang
kebun dan Pabrik Luas :
7.950 Ha Kapasitas : 30 Ton
TBS/jam
57.
PT. PRANAINDAH
GEMILANG
Perkebunan 2010
Nomor 135/BLHD/2010
Tgl. 22 Maret 2010
Kec. Matan Hilir
Selatan Kab.
Ketapang
Kebun dan Pabrik Pengolahan
Kelapa Sawit ( 5.100 Ha,
Kapasitas 30 Ton TBS/Jam)
58.
PT. SUNGAI PUTRI
AGRO SAWIT
Perkebunan 2010
Kec. Muara Pawan
Kec. Matan Hilir Utara
Kab. Ketapang
Perkebunan dan Pabrik
Pengolahan luas 18,000 Ha,
Kapasitas Pabrik 60 Ton
TBS/Jam (Berdasarkan
telaahan BPKH luasan final
yang akan dibahas adalah
15.357 Ha dan 60 Ton
TBS/Jam)
59.
PT. BUDIDAYA AGRO
LESTARI
Perkebunan 2010
Kecamatan Air Upas
dan Kecamatan
Marau Kab. Ketapang
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas: 11.200 Ha; Kapasitas
60 Ton TBS/jam
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
60.
PT. SANDIKA NATA
PALMA
Perkebunan 2010
Kecamatan Air Upas
dan Kecamatan
Marau Kab. Ketapang
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas: 11.305 Ha; Kapasitas
60Ton TBS/jam

61.
PT. MUSTIKA AGUNG
SENTOSA
Perkebunan 2010
SK Nomor
619/BLHD/2010 Tgl 28
Des 2010
Kec. Simpang Hulu
Kab. Ketapang
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas: 19.800Ha; Kapasitas
60 Ton TBS/jam

62.
PT. MENTARI
PRATAMA
Perkebunan 2011
Kec. Tumbang Titi
Kab. Ketapang
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas: 5.929 Ha; Kapasitas
60 Ton TBS/jam
63.
PT. LESTARI ABADI
PERKASA
Perkebunan 2011
Kec. Nanga Tayap
(Luas: 13.000 Ha;
Kapasitas 60 Ton
TBS/jam Kec.
Tumbang Titi
Perkebunan dan
Pembangunan Pabrik
Pengolahan Kelapa Sawit
(Luas: 13.000 Ha; Kapasitas
60 Ton TBS/jam
64.
PT. BEKATIK
LESTARI
Perkebunan 2011
Kec. Tumbang Titi
dan Kec. Jelai Hulu
Kab. Ketapang
perkebunan dan pabrik
pengolahan kelapa sawit luas
Areal 4.500 Ha kapasitas
pabrik 30 Ton TBS /Jam
65.
PT.MANDIRI KAPITAL
J AYA
Perkebunan 2011
Kec. Singkup, Kec. Air
Upas dan Kec.
Kendawangan Kab.
Ketapang

perkebunan dan pabrik
pengolahan kelapa sawit
4.971 Ha Kapasitas pabrik
45 Ton TBS/jam
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
66.
PT. PASIR MAS
PUTIH
Pertambangan 2010
Nomor 226/BLHD/2010
Tanggal 3 mei 2010
Kecamatan Marau
dan Kendawangan
Kabupaten Ketapang
Pertambangan Bijih Besi (Luas
8.878 Ha)
67. PT. LAMAN MINING Pertambangan 2011
No 191/BLHD/2011 Tgl
22 Maret 2011
Kec. Matan Hilir Utara
Kab. Ketapang
Pertambangan Bauksit (Luas
32. 510 Ha)
68.
PT. GEMA NUSA
ABADI MINERAL
Pertambangan 2011
Kec. Tumbang Titi &
Kec. Jelai Hulu Kab.
Ketapang
Pertambangan Bijih Besi (Luas
13.670 Ha)
69.
PT. KETAPANG
MAKMUR MANDIRI
Pertambangan 2011
Kec. Tumbang Titi &
Kec. Marau Kab.
Ketapang
Pertambangan Timah (Luas
22.480 Ha)
70.
PT. KETAPANG
KARYA UTAMA
Pertambangan 2011
Kec. Sandai dan Kec.
Nanga Tayap Kab.
Ketapang
Pertambangan Bauksit (Luas
22.260 Ha) Produksi/tahun
( 3.000.000 m3/tahun)
71.
PT. SANDAI INTI
J AYA TAMBANG
Pertambangan 2011
Kec. Sandai dan Kec.
Sungai Laur Kab.
Ketapang
Pertambangan Bauksit (Luas
24.095 Ha) Produksi/tahun
( 3.500.000 m3/tahun)
72.
PT. MINERAL J AYA
UTAMA
Pertambangan 2011
No. SK 382/BLHD/2011
21 Juli 2011
Kec. Nanga Tayap
Kab. Ketapang
Pertambangan Bauksit (Luas
21.380 Ha)
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

No Nama Perusahaan
J enis
Kegiatan
Tahun
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Nomor
Izin/Persetujuan
(AMDAL)
Lokasi Kegiatan Deskripsi Kegiatan
73.
PT. SANDAI KARYA
UTAMA
Pertambangan 2011
Kec. Sandai dan
Kec. Nanga Tayap
Kab. Ketapang
Pertambangan Bauksit (Luas
24.393 Ha)
74. PT. BUMI PALONG Pertambangan 2011
Kec. Matan Hilir
Selatan Kab.
Ketapang
Pertambangan Timah (Luas
891,5 Ha) renc. Produksi
539 Ton/tahun
75.
PT. BIUTAK J AYA
BERSATU
Pertambangan 2011
Kec. Matan Hilir
Selatan dan Kec.
Tumbang Titi Kab.
Ketapang
Pertambangan Timah (Luas
IUP eksplorasi 4. 974 Ha,
Luas renc. Produksi 4. 974
Ha, renc. Produksi 846,55 Ton
/ Tahun)
76.
PT. LANANG
BERSATU
Pertambangan 2011
Kec. Marau dan Kec.
Jelai Hulu kab.
Ketapang
Pertambangan Bauksit Luas
renc. Operasi produksi 2.959
Ha Renc. Produksi 950.000
Ton/Tahun
SUMBER ; KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN KETAPANG, 2013.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 4
SEBARAN KEGIATAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN KABUPATEN KETAPANG TAHUN 2007 2013
Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan
2007 Nanga Tayap Dsn Cali Reboisasi HL

100 Ha - Mahoni 42,350 Dalam

Ds Pangkalan Telok Gn. Tarak

- Sungkai 42,350 Kawasan

- Karet 36,300

Ds Betenung Reboisasi HL

100 Ha - Mahoni 42,350


Gn. Barubayan

- Sungkai 42,350


- Karet 36,300

Ds Sembelengan Reboisasi HL

600 Ha - Karet 217,800 Dalam

Gn. Tarak

- Mahoni 217,800 Kawasan

- Sungkai 181,500


- Gaharu 108,900

Ds Tayap Reboisasi HL

300 Ha - Karet 108,900 Dalam

Gn Batu

- Sungkai 108,900 Kawasan

Menangis

- Mahoni 90,750


- Gaharu 54,450

Sungai Ds Sungai Reboisasi HL

300 Ha - Karet 108,900 Dalam

Melayu Raya Melayu Gn. Belaban

- Sungkai 108,900 Kawasan

Tujuh

- Mahoni 90,750


- Gaharu 54,450

Tumbang Titi Ds Sepauhan Raya Reboisasi HL

300 Ha - Karet 108,900 Dalam

Ds Mahawa Bukit Raya

- Sungkai 108,900 Kawasan

- Mahoni 90,750


- Gaharu 54,450

Sandai Ds Penjawaan Pembuatan

25 Ha - Sungkai 4,400 Luar
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan

Hutan Rakyat - Karet Opas 6,600 Kawasan

Benua Ds Suka Baru Pembuatan

100 Ha - Bakau 20,000 Luar

Kayong

Hutan

- Nipah 45,000 Kawasan
Mangrove - Api - Api 45,000
2008 Manis Mata Ds Manis Mata Pembuatan

55 Ha - Mahoni 9,015 Luar

Hutan

- Sungkai 7,045 Kawasan

Rakyat - Karet Opas 8,140

Nanga Tayap Ds Pangkalan Telok Pengkayaan

34 Ha - Sungkai 7,200 Luar

Reboisasi

- Gaharu 7,200 Kawasan

- Karet 6,171

Ds Kayong Hulu Pembuatan

35 Ha - Gaharu 10,780 Luar

Hutan Rakyat - Karet Opas 4,620 Kawasan

Ds Batu Mas Pembuatan

35 Ha - Gaharu 10,780 Luar

Hutan Rakyat - Karet Opas 4,620 Kawasan

Ds Betenung Pembuatan

50 Ha - Gaharu 15,400 Luar

Hutan Rakyat - Karet Opas 6,600 Kawasan

Marau Ds Belaban Reboisasi HL

350 Ha - Karet 84,700 Dalam

Bukit Raya

- Sungkai 169,400 Kawasan

- Mahoni 84,700


- Gaharu 84,700

Ds Belaban Reboisasi HL

350 Ha - Mahoni 166,168 Dalam

Bukit Raya

- Sungkai 184,981 Kawasan

- Meranti 30,000


- Karet 163,350

Ds Runjai Jaya Pembuatan

35 Ha - Mahoni 6,375 Luar
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan

Hutan Rakyat

- Sungkai 4,405 Kawasan

- Karet Opas 4,620

Matan Hilir Ds Pesaguan Pembuatan

50 Ha - Mahoni 6,600 Luar

Selatan Kiri Hutan Rakyat

- Sungkai 6,600 Kawasan
- Karet Opas 8,800

Ds Pesaguan Pembuatan

50 Ha - Mahoni 6,600 Luar

Kanan Hutan Rakyat

- Sungkai 6,600 Kawasan

- Karet Opas 8,800

Dsn Pagar Pembuatan

25 Ha - Mahoni 3,300 Luar

Mentimun Hutan Rakyat

- Sungkai 3,300 Kawasan

ds Sei. Nanjung - Karet Opas 4,400

Ds Sei. Besar Pembuatan

90 Ha - Mahoni 11,800 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 11,800 Kawasan

- Karet Opas 15,840

Ds Sei. Bakau Pembuatan

30 Ha - Mahoni 3,960 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 3,960 Kawasan

- Karet Opas 5,280

Ds Sei. Nanjung Pembuatan

30 Ha - Mahoni 3,960 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 3,960 Kawasan

- Karet Opas 5,280

Dsn Pagar Reboisasi HL

200 Ha - Mahoni 112,932 Dalam

Mentimun Gambut

- Sungkai 56,468 Kawasan

Ds Sei. Nanjung - Karet 75,600

Ds Pematang Pembuatan

30 Ha - Mahoni 3,960 Luar

Gadung Hutan Rakyat

- Sungkai 3,960 Kawasan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan



- Karet Opas 5,280

Sungai Laur Ds Suka Ramai Pembuatan 35 Ha - Mahoni 6,375 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 4,405 Kawasan

- Karet Opas 4,620

Ds Kenyauk Pembuatan

35 Ha - Mahoni 6,375 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 4,405 Kawasan
- Karet Opas 4,620
2009 Hulu Sungai Ds Senduruhan Reboisasi Hl

250 Ha - Mahoni 81,465 Dalam

Gn Lawang

- Meranti 20,000 Kawasan

- Sungkai 110,285


- Karet 90,750

Ds Cinta Manis Pembuatan

60 Ha - Mahoni 7,920 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 7,920 Kawasan

- Karet Opas 10,560

Ds Benua Kerio Reboisasi HL

200 Ha - Mahoni 37,646 Dalam

- Meranti 84,700 Kawasan

- Sungkai 47,054


- Karet 72,600

Ds Menyumbung Reboisasi HL

100 Ha - Mahoni 18,822 Dalam

- Meranti 42,350 Kawasan

- Sungkai 23,528


- Karet 36,300

Simpang Hulu Ds Kualan Hilir Pembuatan

25 Ha - Mahoni 3,300 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 3,300 Kawasan

- Karet Opas 4,400


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan

Ds Semandang Penghijauan 90 Ha - Mahoni 13,200 Luar

Kiri Lingkungan

- Sungkai 13,200 Kawasan

- Meranti 13,200

Ds Paoh Pembuatan

90 Ha - Mahoni 16,394 Luar

Concong Hutan Rakyat

- Sungkai 11,326 Kawasan

- Karet Opas 11,880

Ds Balai Pinang Pembuatan

45 Ha - Mahoni 8,197 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 5,663 Kawasan

- Karet Opas 5,940

Simpang Dua Ds Mekar Raya Reboisasi HL

100 Ha - Mahoni 48,400 Dalam

Gn. Juring

- Sungkai 48,400 Kawasan
- Karet 24,200

Dsn Tunas Pembuatan

35 Ha - Mahoni 6,375 Luar

Kampar Hutan Rakyat

- Sungkai 4,405 Kawasan

Ds Kampar

- Karet Opas 4,620


sebomban

Ds Kampar Pembuatan

50 Ha - Sungkai 15,400 Luar

sebomban Hutan Rakyat - Karet Opas 6,600 Kawasan

Dsn Kembara Reboisasi HL

250 Ha - Mahoni 121,500 Dalam

Ds Mekar Raya Gn. Juring

- Sungkai 121,000 Kawasan

- Meranti 20,000


- Karet 40,000

Dsn Baya Reboisasi HL

250 Ha - Mahoni 121,500 Dalam

Ds Mekar Raya Gn. Juring

- Sungkai 121,000 Kawasan

- Meranti 20,000


- Karet 40,000
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan

Jelai Hulu Ds Kusuma Jaya Pembuatan

60 Ha - Mahoni 7,920 Luar

Hutan Rakyat

- Sungkai 7,920 Kawasan

- Karet Opas 10,560

Kendawangan Ds Mekar Utama Penghijauan 150 Ha - Mahoni 44,000 Luar
Lingkungan - Sungkai 22,000 Kawasan
2010 Nanga Tayap Dsn Sungai Beliung Pembuatan

134 Ha - Gaharu 19,545 Luar

Ds Sepakat Jaya Hutan Rakyat

- Sungkai 19,091 Kawasan

- Karet Opas 14,964

Ds Sepakat Jaya Reboisasi HL

105 Ha - Mahoni 40,425 Dalam

Gn. Lembuding

- Sungkai 40,425 Kawasan

- Karet 34,650

Tumbang Titi Ds Beringin Rayo Reboisasi HL

20 Ha - Mahoni 8,470 Dalam

Gn. Barubayan

- Sungkai 8,470 Kawasan

- Karet 7,260

Ds Sepauhan Reboisasi HL

20 Ha - Mahoni 8,470 Dalam

Raya Bukit Raya

- Sungkai 8,470 Kawasan
- Karet 7,260
2011 Sungai Laur Ds Sungai Daka Reboisasi HL

18 Ha - Mahoni 6,435 Dalam

Gn. Jelayan

- Sungkai 6,435 Kawasan

- Karet 6,929

Nanga Tayap Ds Tayap Reboisasi HL

18 Ha - Mahoni 6,435 Dalam

Bukit Batu

- Sungkai 6,435 Kawasan

Menangis - Karet 6,929

Jelai Hulu Dsn Pakit Reboisasi HL

18 Ha - Mahoni 6,434 Dalam

Ds Tanggerang Bukit Raya

- Sungkai 6,435 Kawasan

- Karet 6,930
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan

Marau Ds Batu Payung Reboisasi HL

20 Ha - Mahoni 7,150 Dalam

Bukit Raya

- Sungkai 7,150 Kawasan

- Karet 7,700

Kendawangan Ds Mekar Utama Pembuatan 3.3 Ha - Bakau 1,818 Luar

Hutan Mangrove - Api - Api 1,818 Kawasan

Benua Kayong Ds Suka Baru Pembuatan 3.3 Ha - Bakau 1,818 Luar
Hutan Mangrove - Api - Api 1,818 Kawasan

2012 Nanga Tayap Ds. Pkl Telok Reboisasi HL 75 Ha - Mahoni 18.150 Dalam

Gn Taraj

- Sengon 18.150 Kawasan

- Sungkai 18.150


- Karet 36.300


Seedling



Ds. Tayap Reboisasi HL 75 Ha - Mahoni 18.150 Dalam

Batu Menangis

- Sengon 18.150 Kawasan

- Sungkai 18.150


- Karet 36.300


Seedling



Simpang Dua Ds. Merangin Reboisasi HL 75 Ha - Mahoni 18.150 Dalam

Gn. Juring

- Sengon 18.150 Kawasan

- Sungkai 18.150


- Karet 36.300


Seedling



Sungai Melayu Ds. Sei Miyang Reboisasi HL 75 Ha - Mahoni 18.150 Dalam

Raya

Belaban Tujuh

- Sengon 18.150 Kawasan

- Sungkai 18.150


- Karet 36.300


Seedling

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan


Marau Ds. Batu Payung Reboisasi HL 75 Ha - Mahoni 18.150 Dalam

Bukit Raya

- Sengon 18.150 Kawasan

- Sungkai 18.150


- Karet 36.300


Seedling



Sungai Laur Ds. Sungai Daka Reboisasi HL 50 Ha - Mahoni 18.150 Dalam

Jelayan

- Sengon 18.150 Kawasan

- Sungkai 18.150


- Karet 24.200


Seedling



Hulu Sungai Ds. Menyubung Reboisasi HL 25 Ha - Mahoni 18.150 Dalam

Kebungkau

- Petai 3.000 Kawasan

- Karet 9.100


Seedling



Sandai Ds. Penjawaan Pembuatan Hutan 25 Ha - Gaharu 3.300 Luar

Rakyat

- Jabon 3.300 Kawasan

- Karet Opas 4.400



Ds. Jago Pembuatan Hutan 25 Ha - Gaharu 3.300 Luar

Rakyat

- Jabon 3.300 Kawasan

- Karet Opas 4.400



Muara Pawan Ds. Sungai Awan Kiri Pembuatan Hutan 25 Ha - Gaharu 3.300 Luar

Rakyat

- Jabon 3.300 Kawasan

- Karet Opas 4.400



Ds. Suka Maju Pembuatan Hutan 25 Ha - Gaharu 3.300 Luar

Rakyat

- Jabon 3.300 Kawasan
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan

- Karet Opas 4.400



Ds. Tanjung Pasar Pembuatan Hutan 25 Ha - Gaharu 3.300 Luar

Rakyat

- Jabon 3.300 Kawasan

- Karet Opas 4.400



Matan Hilir Ds. Sungai Jawi Pembuatan Hutan 14 Ha - Bakau 15.246 Luar

Selatan

Mangrove

- Api-Api 1.694 Kawasan


Ds. Sungai Pelang Pembuatan Hutan 14 Ha - Bakau 15.246 Luar

Mangrove

- Api-Api 1.694 Kawasan


Ds. Sungai Besar Pembuatan Hutan 14 Ha - Bakau 15.246 Luar

Mangrove

- Api-Api 1.694 Kawasan


Ds. Sungai Bakau Pembuatan Hutan 14 Ha - Bakau 15.246 Luar

Mangrove

- Api-Api 1.694 Kawasan


Jelai Hulu Ds. Deranuk Pembuatan Hutan 25 Ha - Gaharu 3.300 Luar

Rakyat

- Jabon 3.300 Kawasan

- Karet Opas 4.400

2013 Hulu Sungai Ds. Menyubung Reboisasi HL 50 Ha - Sengon 16.650 Dalam

Kebungkau

- Sungkai 16.550 Kawasan

- Karet 22.200


Seedling



Nanga Tayap Ds. Tayap Reboisasi HL 50 Ha - Sengon 16.650 Dalam

Batu Menangis

- Sungkai 16.550 Kawasan

- Karet 22.200


Seedling


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan


Marau Ds. Runjai Jaya Pembuatan Hutan 20 Ha - Gaharu 5.500 Luar

Rakyat

- Jabon 5.500 Kawasan

- Karet Opas 11.000



Matan Hilir Ds. Sungai Besar Pembuatan Hutan 12 Ha - Gaharu 6.600 Luar

Selatan

Rakyat

- Petai 6.600 Kawasan


Ds. Sunagi Pelang Pembuatan Hutan 10 Ha - Bakau 21.450 Luar

Mangrove

- Api-Api 11.550 Kawasan


Simpang Hulu Ds. Balai Pinang Pembuatan Hutan 9,1 Ha - Gaharu 4.000 Luar

Rakyat

- Petai 2.000 Kawasan

- Karet Opas 4.000



Simpang Dua Ds. Mekar Jaya Reboisasi HL 48 Ha - Sengon 15.840 Dalam

Gn. Juring

- Sungkai 15.840 Kawasan

- Karet 21.120


Seedling



Nanga Tayap Ds. Pangkalan Telok Reboisasi HL 48 Ha - Sengon 15.840 Dalam

Gn. Tarak

- Sungkai 15.840 Kawasan

- Karet 21.120


Seedling



Sandai Ds. Sandai Kanan Pembuatan Hutan 9,1 Ha - Gaharu 4.000 Luar

Rakyat

- Jabon 2.000 Kawasan

- Karet Opas 4.000





Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tahun Kecamatan Dusun/Desa
J enis Kegiatan
Penanaman
Luas
(Ha)
J enis
Tanaman
J umlah
(Btg)
Status
Kawasan


Sungai Melayu Ds. Sei. Miyang Reboisasi HL 60 Ha - Sengon 19.800 Dalam

Rayak

Gn. Belaban Tujuh

- Sungkai 19.800 Kawasan

- Karet 26.400


Seedling



Marau Ds. Batu Payung Reboisasi HL 60 Ha - Meranti 3.960 Dalam

Bukit Raya

- Sengon 15.840 Kawasan

- Sungkai 19.800


- Karet 26.400


Seedling

SUMBER : DINAS KEHUTANAN KABUPATEN KETAPANG, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 5
DAFTAR LUAS KAWASAN HUTAN DAN PERAIRAN KABUPATEN KETAPANG

NAMA KAWASAN LUAS (HA) PERSENTASE (%)
Taman Nasional
- Gunung Palong

21.643,81

0,72
Cagar Alam
- Muara Kendawangan

142.868,03

4,73
Hutan Lindung
- Gunung Juring
- Gunung Tarak
- Gunung Kebungkau
- Gunung Raya
- Gunung Berubayan
- Gunung Burung
- Gunung Lembuding
- Gunung Dangkul
- Gunung Bt Daeyuh
- Gunung Bt Tais
- Gunung Bt Tunggal
- Gunung Bt Jelayan
- Gunung Bt Tetundung
- Gunung Bt Batu Nyambu
- Gunung Bt Belaban Tujuh
- Gunung Bt Menyubung
- Gunung Bt Kerai Kundang
- Gunung Bt Menangis
- Gunung Bt Perai
- Gunung Bt Tukul
- Gunung Bt Itap
- Gunung Bt Pumpai
- Gunung Jelayan
- Gunung Mangkubawa
- Gunung Konar
- Gunung Temenggung
- Gunung Melawi Condong
- Gunung Biwa

13.360,69
23.468,66
6.932,68
14.453,84
6.611,67
85.302,25
1.168,87
1.326,91
618,18
924,82
1.846,86
864,77
4.222,57
22.533,28
2.990,88
15.971,44
42.317,44
11.281,98
9.796,88
995,65
1.452,32
1.115,12
623,49
675,04
656,21
751,89
1.046,14
2.565,92

0,44
0,78
0,23
0,48
0,22
2,82
0,04
0,04
0,02
0,03
0,06
0,03
0,14
0,75
0,10
0,53
1,40
0,37
0,32
0,03
0,05
0,04
0,02
0,02
0,02
0,02
0,03
0,08
Hutan Lindung Gambut
- HL GBT Sungai Tapah
- HL GBT Sungai Jelai

5.000,24
16.267,78

0,17
0,54
Hutan Produksi Terbatas
- HPT Gunung Kedio
- HPT S. Jelai Hulu S. Pawan Hulu
- HPT S. Pumpai DSK

15.915,35
172.143,32
500.145,72

0,53
5,70
16,55
Hutan Produksi Tetap
- HP BT. Pendamaran
- HP D. Manis Mata

20.659,76
162.616,88

0,68
5,38
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NAMA KAWASAN LUAS (HA) PERSENTASE (%)
- HP Durian Sebatang
- HP Batu Lapis
- HP S. Lata
- HP S. Kenyabur
- HP S. Sentap S. Kacang
- HP S. Tengar S. Pesaguan
- HP BT. Bocor
- HP Kelampai
158.791,41
19.170,85
6.276,15
10.545,41
52.163,34
169.130,89
7.178,26
10.325,20
5,26
0,63
0,21
0,35
1,73
5,60
0,24
0,34
Hutan Produksi Konversi
- HPK S. Tengar S. Pesaguan
- HPK S. Tulak
- HPK S. Jelai
- HPK G. Layang
- HPK S. Semandang

34.906,51
30.844,35
52.226,60
17.072,07
18.255,92

1,16
1,02
1,73
0,57
0,60
Hutan Kota
- Hutan Kota

93,20

0,00
Kawasan Konservasi Bernilai Tinggi
- KNKT S. Tembiluk S. Air Mata
- KNKT S. Tengar D. Buaya

504,40
1.024,00

0,02
0,03
Areal Penggunaan Lain

1.084.409,21 35,89
Sungai / Danau 15.354,47 0,51
J umlah 3.021.419,57 100
SUMBER : DINAS KEHUTANAN KABUPATEN KETAPANG, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 6
DATA POTENSI PERIKANAN BUDIDAYA KABUPATEN KETAPANG TAHUN 2013
Potensi (Ha) Kondisi Saat Ini (Ha)
No Kecamatan Air Tawar Air Payau Laut Air Tawar Air Payau Laut
Lahan P. Umum Lahan P. Umum Lahan P. Umum Lahan P. Umum Lahan P. Umum Lahan P. Umum
1 Delta Pawan 16.5 23 50 0 0 0 3 0.01 0.1 0 0 0
2 Muara Pawan 47 55 31 10 0 0 3.5 0.3 4 0 0 0
3 Matan Hilir Utara 20 14 400 10 50 0 1.5 0 24.05 0 0 0
4 Benua Kayong 16 10 65 0 0 5 6.1 0.08 4.5 0 0 0
5 Matan Hilir Selatan 13 16 385 4 0 0 0.18 0 98.5 0 0 0
6 Tumbang Titi 116 43 0 0 0 0 2.25 0 0 0 0 0
7 Pemahan 20 14 0 0 0 0 0.13 0 0 0 0 0
8 Sei. Melayu Rayak 41 5 0 0 0 0 0.9 0 0 0 0 0
9 Kendawangan 27 19 23,030 16 1,800 20 1.5 0 2600 0 0.02 0
10 Simpang Hulu 24 0 0 0 0 0 1.25 0 0 0 0 0
11 Simpang Dua 10 0 0 0 0 0 0.6 0 0 0 0 0
12 Sungai Laur 54 11 0 0 0 0 0.26 0 0 0 0 0
13 Sandai 50 40 0 0 0 0 7.2 0 0 0 0 0
14 Hulu Sungai 55 9 0 0 0 0 0.4 0 0 0 0 0
15 Nanga Tayap 85 30 0 0 0 0 4.22 0 0 0 0 0
16 Marau 47 0 0 0 0 0 0.2 0 0 0 0 0
17 Singkup 39 0 0 0 0 0 0.1 0 0 0 0 0
18 Air Upas 55 0 0 0 0 0 1.85 0 0 0 0 0
19 Jelai Hulu 83 0 0 0 0 0 0.16 0 0 0 0 0
20 Manis Mata 63 32 0 0 0 0 1.76 0 0 0 0 0
J umlah 881.50 321.00

23,961.00 40.00 1,850.00 25.00 37.06 0.39

2,731.15 - 0.02 -
SUMBER : DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN KABUPATEN KETAPANG, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 7
POTENSI KELAUTAN DAN PERIKANAN TAHUN 2013

NO U R A I A N VOLUME SATUAN

1 Umum
a. Luas Wilayah Total 33.988,00 Km 2
- Luas Wilayah Darat 31.588,00 Km 2


- Luas Wilayah Laut

2.400,00

Km 2





b. Jumlah Penduduk 437,613 Jiwa
c. Panjang Garis Pantai 433,71 Km.
d. Jumlah Pulau - Pulau Kecil
- Berpenghuni 3 Bh.


- Tidak Berpenghuni

38

Bh.
e. Luas Ekosistem Mangrove

214,804 Ha.
f. Luas Terumbu Karang 205.08 Ha.


g. Luas Padang Lamun

2,50

Ha.

2 Perikanan Tangkap
a. Produksi Perikanan Tangkap
- Perairan Laut 23,065 Ton / Th.
- Perairan Umum

5,854 Ton / Th.
- Ikan Awetan 13.12 Ton / Th.
b. Jumlah Pangkalan Pendaratan Ikan / PPI 2 Bh.


c. Jumlah Tempat Pelelangan Ikan / TPI

1

Bh.


d. Unit Penangkapan Ikan






- Tanpa Motor

727

Bh.
- Motor Tempel 519 Bh.
- Kapal Motor 1,203 Bh.
e. Jumlah Nelayan 7,557 Orang





3

Perikanan Budidaya






a. Produksi Perikanan Air Payau

985.33

Ton / Th.
b. Produksi Perikanan Keramba 47.56 Ton / Th.
c. Produksi Perikanan Kolam 55.54 Ton / Th.
d. Luas Baku Usaha Budidaya 1,741 Ha.
e. Jumlah Pembudidaya Ikan 632 Orang
f.
Jumlah Balai Benih Ikan / Unit Pembenihan
Rakyat 4 Unit
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

NO U R A I A N VOLUME SATUAN


g. Jumlah Balai Benih Udang

1

Unit

4 Pengawasan


a. Jumlah Pokmaswas

22

Kelompok





5 Pengolahan dan Pemasaran
a. Jumlah Unit Pengolahan 66 Unit
b. Jumlah Produksi Ikan Olahan 5.719,89 Ton / Th.
c. Jumlah Pemasar Ikan 129 Orang


d. Jumlah Pengolah

68

Orang


e. Jumlah Pabrik Es

2

Unit


f. Jumlah Pasar Ikan / Depo

29

Unit
SUMBER : DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN KABUPATEN KETAPANG, 2013.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 8. HASIL IDENTIFIKASI J ENIS - J ENIS MANGROVE

1. Acanthus ilicifolius L. ACANTHACEAE
Nama setempat : Jeruju hitam,
daruyu, darulu.
Deskripsi umum : Herba rendah,
terjurai di permukaan tanah, kuat,
agak berkayu, ketinggian hingga 2
meter. Cabang umumnya tegak tapi
cenderung kurus sesuai dengan
umurnya. Percabangan tidak banyak

dan umumnya muncul dari bagian-bagian yang lebih tua. Akar udara muncul dari
permukaan bawah batang horizontal.

Daun : Dua sayap gagang daun yang berduri terletak pada tangkai. Permukaan
daun halus, tepi daun bervariasi: zigzag/bergerigi besar-besar seperti gergaji atau
agak rata dan secara gradual menyempit menuju pangkal. Unit & letak : sederhana,
berlawanan. Bentuk : lanset lebar. Ujung : meruncing dan berduri tajam. Ukuran :
9-30 x 4-12 cm.

Bunga : Mahkota bunga berwarna biru muda hingga ungu lembayung, kadang agak
putih. Panjang tandan bunga 10-20 cm, sedangkan bunganya sendiri 5-4 cm. Bunga
memiliki satu pinak daun penutup utama dan dua sekunder. Pinak daun tersebut
tetap menempel seumur hidup pohon. Letak : di ujung. Formasi : bulir.

Buah : Warna buah saat masih muda hijau cerah dan permukaannya licin mengkilat.
Bentuk buah bulat lonjong seperti buah melinjo. Ukuran : buah panjang 2,5-3 cm, biji
10 mm.

Ekologi : Biasanya pada atau dekat mangrove, sangat jarang di daratan. Memiliki
kekhasan sebagai herba yang tumbuh rendah dan kuat, yang memiliki kemampuan
untuk menyebar secara vegetatif karena perakarannya yang berasal dari batang
horizontal, sehingga membentuk bagian yang besar dan kukuh. Bunga kemungkinan
diserbuki oleh burung dan serangga. Biji tertiup angin, sampai sejauh 2 meter.

Distribusi : Dari India hingga Australia tropis, Filipina dan Kepulauan Pasifik barat.
Terdapat di seluruh Indonesia.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Kelimpahan : Umum.

Manfaat : Buah ditumbuk dan digunakan untuk pembersih darah serta mengatasi
kulit terbakar. Daun mengobati reumatik. Perasan buah atau akar kadang-kadang
digunakan untuk mengatasi racun gigitan ular atau terkena panah beracun. Biji
konon bisa mengatasi serangan cacing dalam pencernaan. Pohon juga dapat
digunakan sebagai makanan ternak.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

2. Acrostichum speciosum PTERIDACEAE
Nama setempat : Piai lasa
Deskripsi umum : Ferna tanah,
membentuk tandan yang kasar
dengan ketinggian hingga 1,5 m.
Sisik pada akar rimpang panjangnya
hingga 8 mm.
Daun : Sangat mencolok, pada
umumnya panjangnya kurang dari

1 m dan memiliki pinak daun fertil berwarna karat pada bagian ujungnya, tertutup
secara seragam oleh sporangia besar. Pinak daun berukuran kira-kira 28 x 10 cm.
Pinak daun yang steril memiliki ujung lebih kecil dan menyempit. Jenis ini berbeda
dengan A.aureum dalam hal ukuran pinak daunnya yang lebih kecil dan ujungnya
meruncing, permukaan bagian bawah pinak daun yang fertil berwarna coklat tua dan
ditutupi oleh sporangia, serta daun mudanya berwarna hijau-kecoklatan. Peruratan
daun berbentuk jaring. Sisik luas, panjang hingga 1 cm, hanya terdapat di bagian
pangkal daun. Sisik menebal di bagian tengah. Spora besar dan berbentuk
tetrahedral.

Ekologi : Ferna tahunan. Tumbuh pada areal mangrove yang lebih sering tergenang
oleh pasang surut. Khususnya tumbuh pada gundukan lumpur yang dibangun oleh
udang dan kepiting. Biasanya menyukai areal yang terlindung. Daun yang fertile
dihasilkan pada bulan Agustus hingga April. Kecambah (sebenarnya bibit spora)
berlimpah pada bulan Januari hingga April (di Jawa)..

Penyebaran : Asia dan Australia tropis. Di seluruh Indonesia.

Kelimpahan : Melimpah setempat.

Manfaat : Daun digunakan sebagai alas kandang ternak.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

3. Avicennia alba AVICENNIACEAE
Nama setempat : Api-api, mangi-
mangi putih, boak, koak, sia-sia
Deskripsi umum : Belukar atau
pohon yang tumbuh menyebar
dengan ketinggian mencapai 25 m.
Kumpulan pohon membentuk
sistem perakaran horizontal dan
akar nafas yang rumit. Akar nafas
biasanya tipis, berbentuk jari

(atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Kulit kayu luar berwarna keabu-
abuan atau gelap kecoklatan, beberapa ditumbuhi tonjolan kecil, sementara yang
lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Pada bagian batang yang tua,
kadangkadang ditemukan serbuk tipis.

Daun : Permukaan halus, bagian atas hijau mengkilat, bawahnya pucat. Unit &
Letak :sederhana & berlawanan. Bentuk : lanset (seperti daun akasia) kadang elips.
Ujung : meruncing. Ukuran : 16 x 5 cm.

Bunga : Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas
tandan. Letak : di ujung/pada tangkai bunga. Formasi : bulir (ada 10-30 bunga per
tandan). Daun Mahkota : 4, kuning cerah, 3-4 mm. Kelopak Bunga : 5. Benang
sari : 4.

Buah : Seperti kerucut/cabe/mente. Hijau muda kekuningan. Ukuran : 4 x 2 cm.

Ekologi : Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang
terlindung, juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang
dipengaruhi pasang surut, serta di sepanjang garis pantai. Mereka umumnya
menyukai bagian muka teluk. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan
sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Perbungaan terjadi
sepanjang tahun. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar, dimana sebagian buah
berbiak ketika masih menempel di pohon.

Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Dari India sampai Indo Cina, melalui
Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina, PNG dan Australia tropis.

Kelimpahan : Melimpah.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. Getah dapat digunakan
untuk mencegah kehamilan. Buah dapat dimakan.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

4. Bruguiera gymnorrhiza (L.) Lamk. RHIZOPHORACEAE
Nama setempat : Pertut,
taheup, tenggel, putut, tumuk,
tomo, kandeka, tanjang merah,
tanjang, lindur, sala-sala, dau,
tongke, totongkek, mutut besar,
wako, bako, bangko,
mangimangi, sarau.


Deskripsi umum : Pohon yang selalu hijau dengan ketinggian kadang-kadang
mencapai 30 m. Kulit kayu memiliki lentisel, permukaannya halus hingga kasar,
berwarna abu-abu tua sampai coklat (warna berubah-ubah). Akarnya seperti papan
melebar ke samping di bagian pangkal pohon, juga memiliki sejumlah akar lutut.

Daun : Daun berkulit, berwarna hijau pada lapisan atas dan hijau kekuningan pada
bagian bawahnya dengan bercak-bercak hitam (ada juga yang tidak). Unit & Letak :
sederhana & berlawanan. Bentuk : elips sampai elips-lanset. Ujung : meruncing
Ukuran : 4,5-7 x 8,5-22 cm.

Bunga : Bunga bergelantungan dengan panjang tangkai bunga antara 9-25 mm.
Letak : di ketiak daun, menggantung. Formasi : soliter. Daun Mahkota : 10-14;
putih dan coklat jika tua, panjang 13-16 mm. Kelopak Bunga : 10-14; warna merah
muda hingga merah; panjang 30-50.

Buah : Buah melingkar spiral, bundar melintang, panjang 2-2,5 cm. Hipokotil lurus,
tumpul dan berwarna hijau tua keunguan. Ukuran : Hipokotil: panjang 12-30 cm dan
diameter 1,5-2 cm.

Ekologi : Merupakan jenis yang dominan pada hutan mangrove yang tinggi dan
merupakan ciri dari perkembangan tahap akhir dari hutan pantai, serta tahap awal
dalam transisi menjadi tipe vegetasi daratan. Tumbuh di areal dengan salinitas
rendah dan kering, serta tanah yang memiliki aerasi yang baik. Jenis ini toleran
terhadap daerah terlindung maupun yang mendapat sinar matahari langsung.
Mereka juga tumbuh pada tepi daratan dari mangrove, sepanjang tambak serta
sungai pasang surut dan payau. Ditemukan di tepi pantai hanya jika terjadi erosi
pada lahan di hadapannya. Substratnya terdiri dari lumpur, pasir dan kadang-kadang
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

tanah gambut hitam. Kadang-kadang juga ditemukan di pinggir sungai yang kurang
terpengaruh air laut, hal tersebut dimungkinkan karena buahnya terbawa arus air
atau gelombang pasang. Regenerasinya seringkali hanya dalam jumlah terbatas.
Bunga dan buah terdapat sepanjang tahun. Bunga relatif besar, memiliki kelopak
bunga berwarna kemerahan, tergantung, dan mengundang burung untuk melakukan
penyerbukan.

Penyebaran : Dari Afrika Timur dan Madagaskar hingga Sri Lanka, Malaysia dan
Indonesia menuju wilayah Pasifik Barat dan Australia Tropis.

Kelimpahan : Umum dan tersebar luas.

Manfaat : Bagian dalam hipokotil dimakan (manisan kandeka), dicampur dengan
gula. Kayunya yang berwarna merah digunakan sebagai kayu bakar dan untuk
membuat arang.




Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

5. Ceriops cf decandra HIZOPHORACEAE
Nama setempat : Tengal, tengar,
tangar, tingi, tinci, palun, parun,
bido-bido, kenyonyong, luru.
Deskripsi umum : Pohon atau
semak kecil dengan ketinggian
hingga 15 m. Kulit kayu berwarna
coklat, jarang berwarna abu-abu
atau putih kotor, permukaan
halus, rapuh dan
menggelembung di bagian
pangkal.


Daun : Daun hijau mengkilap. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Bentuk:
elipsbulat memanjang. Ujung: membundar. Ukuran: 3-10 x 1-4,5 cm.

Bunga : Bunga mengelompok, menempel dengan gagang yang pendek, tebal dan
bertakik. Letak : di ketiak daun. Formasi : kelompok (2-4 bunga per kelompok).
Daun
Mahkota : 5; putih dan kecoklatan jika tua, panjang 2,5-4mm. Kadang berambut
halus pada tepinya. Kelopak bunga : 5; warna hijau, ada lentisel dan berbintil.
Benang sari : tangkai benang sari pendek, sama atau lebih pendek dari kepala sari.
Buah : Hipokotil berbentuk silinder, ujungnya menggelembung tajam dan berbintil,
warna hijau hingga coklat. Leher kotilodon jadi merah tua jika sudah matang/
dewasa. Ukuran : Hipokotil: panjang 15 cm dan diameter 8-12 mm.

Ekologi : Tumbuh tersebar di sepanjang hutan pasang surut, akan tetapi lebih
umum pada bagian daratan dari perairan pasang surut dan berbatasan dengan
tambak pantai. Menyukai substrat pasir atau lumpur. Perbungaan terjadi sepanjang
tahun.

Penyebaran : Dari India hingga Indocina, Malaysia, Bangka, Jawa, Kalimantan,
Sulawesi, Maluku, Irian Jaya, Papua New Guinea, Filipina dan Australia.

Kelimpahan : Relatif jarang.

Manfaat : Jenis Ceriops memiliki kayu yang paling tahan/kuat diantara jenis-jenis
mangrove lainnya dan digunakan sebagai bahan bangunan, bantalan rel kereta api,
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

serta pegangan berbagai perkakas bangunan. Kulit kayu merupakan sumber yang
bagus untuk tanin serta bahan pewarna.

Catatan : Bentuk dan ukuran daun sangat beragam bergantung kepada kadar
cahaya dan air dimana suatu individu tumbuh.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

6. Excoecaria agallocha L. EUPHORBIACEAE
Nama setempat : Buta-buta,
menengan, madengan, kayu
wuta, sambuta, kalapinrang, mata
huli, makasuta, goro-goro raci,
kalibuda, betuh, warejit, bebutah.
Deskripsi umum : Pohon
merangas kecil dengan
ketinggian mencapai 15 m. Kulit
kayu Berwarna abu-abu, halus,
tetapi memiliki bintil.

Akar menjalar di sepanjang permukaan tanah, seringkali berbentuk kusut dan
ditutupi oleh lentisel. Batang, dahan dan daun memiliki getah (warna putih dan
lengket) yang dapat mengganggu kulit dan mata. Daun : Hijau tua dan akan
berubah menjadi merah bata sebelum rontok, pinggiran bergerigi halus, ada 2
kelenjar pada pangkal daun. Unit & Letak : sederhana, bersilangan. Bentuk : elips.
Ujung : meruncing. Ukuran : 6,5-10,5 x 3,5-5 cm.

Bunga : Memiliki bunga jantan atau betina saja, tidak pernah keduanya. Bunga
jantan (tanpa gagang) lebih kecil dari betina, dan menyebar di sepanjang tandan.
Tandan bunga jantan berbau, tersebar, berwarna hijau dan panjangnya mencapai 11
cm. Letak : di ketiak daun. Formasi : bulir. Daun mahkota : hijau & putih. Kelopak
bunga : hijau kekuningan. Benang sari : 3; kuning.

Buah : Bentuk seperti bola dengan 3 tonjolan, warna hijau, permukaan seperti kulit,
berisi biji berwarna coklat tua. Ukuran : diameter 5-7mm.

Ekologi : Tumbuhan ini sepanjang tahun memerlukan masukan air tawar dalam
jumlah besar. Umumnya ditemukan pada bagian pinggir mangrove di bagian
daratan, atau kadang-kadang di atas batas air pasang. Jenis ini juga ditemukan
tumbuh di sepanjang pinggiran danau asin (90% air laut) di pulau vulkanis Satonda,
sebelah utara Sumbawa. Mereka umum ditemukan sebagai jenis yang tumbuh
kemudian pada beberapa hutan yang telah ditebang, misalnya di Suaka
Margasatwa. Karang-Gading Langkat Timur Laut, dekat Medan, Sumatera Utara.
Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Penyerbukan dilakukan oleh serangga,
khususnya lebah. Hal ini terutama diperkirakan terjadi karena adanya serbuk sari
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

yang tebal serta kehadiran nektar yang memproduksi kelenjar pada ujung pinak daun
di bawah bunga.

Penyebaran : Tumbuh di sebagian besar wilayah Asia Tropis, termasuk di
Indonesia, dan di Australia.

Kelimpahan : Melimpah setempat.

Manfaat : Akar dapat digunakan untuk mengobati sakit gigi dan pembengkakan.
Kayu digunakan untuk bahan ukiran. Kayu tidak bisa digunakan sebagai kayu bakar
karena bau wanginya tidak sedap bagi masakan. Kayu dapat digunakan sebagai
bahan pembuat kertas yang bermutu baik. Getah digunakan untuk membunuh ikan.
Kayunya kadang-kadang dijual karena wanginya, akan tetapi wanginya akan hilang
beberapa tahun kemudian.

Catatan : Getah putihnya beracun dan dapat menyebabkan kebutaan sementara,
sesuai dengan namanya, yaitu buta-buta.




Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

7. Nypa fruticans ARECACEAE
Nama setempat : Nipah, tangkal daon,
buyuk, lipa.
Deskripsi umum : Palma tanpa
batang di permukaan, membentuk
rumpun. Batang terdapat di bawah
tanah, kuat dan menggarpu. Tinggi
dapat mencapai 4-9 m.

Daun : Seperti susunan daun kelapa. Panjang tandan/gagang daun 4 - 9 m.
Terdapat 100 - 120 pinak daun pada setiap tandan daun, berwarna hijau mengkilat
di permukaan atas dan berserbuk di bagian bawah. Bentuk : lanset. Ujung :
meruncing. Ukuran : 60-130 x 5-8 cm.

Bunga : Tandan bunga biseksual tumbuh dari dekat puncak batang pada gagang
sepanjang 1-2 m. Bunga betina membentuk kepala melingkar berdiameter 25-30 cm.
Bunga jantan kuning cerah, terletak di bawah kepala bunganya.

Buah : Buah berbentuk bulat, warna coklat, kaku dan berserat. Pada setiap buah
terdapat satu biji berbentuk telur. Ukuran : diameter kepala buah: sampai 45 cm.
Diameter biji: 4-5 cm.

Ekologi : Tumbuh pada substrat yang halus, pada bagian tepi atas dari jalan air.
Memerlukan masukan air tawar tahunan yang tinggi. Jarang terdapat di luar zona
pantai. Biasanya tumbuh pada tegakan yang berkelompok. Memiliki system
perakaran yang rapat dan kuat yang tersesuaikan lebih baik terhadap perubahan
masukan air, dibandingkan dengan sebagian besar jenis tumbuhan mangrove
lainnya. Serbuk sari lengket dan penyerbukan nampaknya dibantu oleh lalat
Drosophila. Buah yang berserat serta adanya rongga udara pada biji membantu
penyebaran mereka melalui air. Kadang-kadang bersifat vivipar.

Distribusi : Asia Tenggara, Malaysia, seluruh Indonesia, Papua New Guinea,
Filipina, Australia dan Pasifik Barat.

Kelimpahan : Umum, sangat umum setempat.

Manfaat : Sirup manis dalam jumlah yang cukup banyak dapat dibuat dari
batangnya, jika bunga diambil pada saat yang tepat. Digunakan untuk memproduksi
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

alkohol dan gula. Jika dikelola dengan baik, produksi gula yang dihasilkan lebih baik
dibandingkan dengan gula tebu, serta memiliki kandungan sukrosa yang lebih tinggi.
Daun digunakan untuk bahan pembuatan payung, topi, tikar, keranjang dan kertas
rokok. Biji dapat dimakan. Setelah diolah, serat gagang daun juga dapat dibuat tali
dan bulu sikat.

Catatan : Serbuk sari dari jenis ini telah ditemukan sejak jaman Cretaceous atas, 65-
70 juta tahun yang lalu. Nypa telah dikenal di Australia sejak awal jaman Tertiary.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

8. Rhizophora apiculata Bl. RHIZOPHORACEAE
Nama setempat : Bakau minyak,
bakau tandok, bakau akik, bakau
puteh, bakau kacang, bakau leutik,
akik, bangka minyak, donggo akit,
jankar, abat, parai, mangi-mangi,
slengkreng, tinjang, wako.

Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter
batang mencapai 50 cm. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian
5 meter, dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit kayu
berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah.

Daun : Berkulit, warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan
kemerahan di bagian bawah. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya
kemerahan. Unit & Letak : sederhana & berlawanan. Bentuk : elips menyempit.
Ujung : meruncing. Ukuran : 7-19 x 3,5-8 cm.

Bunga : Biseksual, kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran
<14 mm. Letak: Di ketiak daun. Formasi : kelompok (2 bunga per kelompok). Daun
mahkota : 4; kuning-putih, tidak ada rambut, panjangnya 9-11 mm. Kelopak bunga
: 4; kuning kecoklatan, melengkung. Benang sari : 11-12; tak bertangkai.

Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir, warna
coklat, panjang 2-3,5 cm, berisi satu biji fertil. Hipokotil silindris, berbintil, berwarna
hijau jingga. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Ukuran : Hipokotil
panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm.

Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur, halus, dalam dan tergenang pada saat
pasang normal. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan
pasir. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu
lokasi. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar
yang kuat secara permanen. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal
karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Kepiting dapat juga
menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Tumbuh
lambat, tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang


Penyebaran : Sri Lanka, seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis
dan Kepulauan Pasifik.

Kelimpahan : Melimpah di Indonesia, tersebar jarang di Australia.

Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan, kayu bakar dan arang. Kulit
kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). Cabang akar dapat digunakan
sebagai jangkar dengan diberati batu. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak
untuk melindungi pematang. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

9. Xylocarpus granatum Koen MELIACEAE
Nama setempat : Niri, nilih, nyireh,
nyiri, nyuru, jombok gading, buli, bulu
putih, buli hitam, inggili, siri, nyireh
bunga, nyiri udang, nyiri hutan, pohon
kira-kira, jomba, banang-banang, nipa,
niumiri-kara, kabau, mokmof.
Deskripsi umum : Pohon dapat
mencapai ketinggian 10-20 m. Memiliki

akar papan yang melebar ke samping, meliuk-liuk dan membentuk celahan-celahan.
Batang seringkali berlubang, khususnya pada pohon yang lebih tua. Kulit kayu
berwarna coklat muda-kekuningan, tipis dan mengelupas, sementara pada cabang
yang muda, kulit kayu berkeriput.

Daun : Agak tebal, susunan daun berpasangan (umumnya 2 pasang pertangkai) dan
ada pula yang menyendiri. Unit & Letak : majemuk & berlawanan. Bentuk : elips -
bulat telur terbalik. Ujung : membundar. Ukuran : 4,5 - 17 cm x 2,5 - 9 cm.

Bunga : Bunga terdiri dari dua jenis kelamin atau betina saja. Tandan bunga
(panjang 2-7 cm) muncul dari dasar (ketiak) tangkai daun dan tangkai bunga
panjangnya 4-8 mm. Letak : di ketiak. Formasi : gerombol acak (8-20 bunga per
gerombol). Daun mahkota : 4; lonjong, tepinya bundar, putih kehijauan, panjang 5-7
mm. Kelopak bunga : 4 cuping; kuning muda, panjang 3 mm. Benang sari :
berwarna putih krem dan menyatu di dalam tabung.

Buah : Seperti bola (kelapa), berat bisa 1-2 kg, berkulit, warna hijau kecoklatan.
Buahnya bergelantungan pada dahan yang dekat permukaan tanah dan agak
tersembunyi. Di dalam buah terdapat 6-16 biji besar-besar, berkayu dan berbentuk
tetrahedral. Susunan biji di dalam buah membingungkan seperti teka-teki (dalam
bahasa Inggris disebut sebagai puzzle fruit). Buah akan pecah pada saat kering.
Ukuran : buah: diameter 10-20 cm.

Ekologi : Tumbuh di sepanjang pinggiran sungai pasang surut, pinggir daratan dari
mangrove, dan lingkungan payau lainnya yang tidak terlalu asin. Seringkali tumbuh
mengelompok dalam jumlah besar. Individu yang telah tua seringkali ditumbuhi oleh
epifit.
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang


Penyebaran : Di Indonesia tumbuh di Jawa, Madura, Bali, Kepulauan Karimun
Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan, Maluku dan Sumba, Irian Jaya.

Kelimpahan : Melimpah setempat, khususnya pada area bekas tebangan hutan dan
gangguan lainnya.

Manfaat : Kayunya hanya tersedia dalam ukuran kecil, kadang-kadang digunakan
sebagai bahan pembuatan perahu. Kulit kayu dikumpulkan karena kandungan
taninnya yang tinggi (>24% berat kering).


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

10. Ficus sp. MORACEAE
Nama setempat : Buah akar, Kayu Ara

Deskripsi umum : Pohon, Perdu, tumbuhan pemanjat dan pencekik, efifit berkayu
atau tumbuhan menjalar berkayu. Pepagan biasanya abu-abu pucat halus.

Daun : Ranting berlampang penumpu mirip cincin, daun tunggal beseling atau
berhadapan, tepi daun rata bergigi atau bercuping, bertulang 3 di pangkal.

Bunga : Bunga kecil di dalam buah (ara) berdaging biasanya 3 macam, daun
kelopak kecil 3-5, sering berwarna merah anggur atau kelopak memangkup.

Buah : Buah ara mula-mula berwarna hijau, jika masak berubah beraneka warna
dari ketiak daun cabang, batang atau pangkal batang.

Distribusi : Sekitar 200 jenis dari marga picus di laporkan dijumpai di Kalimantan.

Kelimpahan : Umum, sangat umum setempat.

Manfaat : Kayu tidak bernilai niaga, Picus elastica (pohon karet india) sejak dulu di
ambil getahnya beberapa jenis menghasilkan buah yang dapat dimakan.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

11. Sonneratia alba SONNERATIACEAE
Nama setempat : Pedada, perepat,
pidada, bogem, bidada, posi-posi,
wahat, putih, beropak, bangka,
susup, kedada, muntu, sopo,
barapak, pupat, mange-mange.


Deskripsi umum : Pohon selalu hijau, tumbuh tersebar, ketinggian kadang-kadang
hingga 15 m. Kulit kayu berwarna putih tua hingga coklat, dengan celah longitudinal
yang halus. Akar berbentuk kabel di bawah tanah dan muncul kepermukaan sebagai
akar nafas yang berbentuk kerucut tumpul dan tingginya mencapai 25 cm.

Daun : Daun berkulit, memiliki kelenjar yang tidak berkembang pada bagian pangkal
gagang daun. Gagang daun panjangnya 6-15 mm. Unit & Letak : sederhana &
berlawanan. Bentuk : bulat telur terbalik. Ujung : membundar. Ukuran : 5-12,5 x 3-9
cm.

Bunga : Biseksual; gagang bunga tumpul panjangnya 1 cm. Letak : di ujung atau
pada cabang kecil. Formasi : soliter-kelompok (1-3 bunga per kelompok). Daun
mahkota : putih, mudah rontok. Kelopak bunga : 6-8; berkulit, bagian luar hijau, di
dalam kemerahan. Seperti lonceng, panjangnya 2-2,5 cm. Benang sari : banyak,
ujungnya putih dan pangkalnya kuning, mudah rontok.

Buah : Seperti bola, ujungnya bertangkai dan bagian dasarnya terbungkus kelopak
bunga. Buah mengandung banyak biji (150-200 biji) dan tidak akan membuka pada
saat telah matang. Ukuran : buah: diameter 3,5-4,5 cm.

Ekologi : Jenis pionir, tidak toleran terhadap air tawar dalam periode yang lama.
Menyukai tanah yang bercampur lumpur dan pasir, kadang-kadang pada batuan dan
karang. Sering ditemukan di lokasi pesisir yang terlindung dari hempasan
gelombang, juga di muara dan sekitar pulau-pulau lepas pantai. Di lokasi dimana
jenis tumbuhan lain telah ditebang, maka jenis ini dapat membentuk tegakan yang
padat. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Bunga hidup tidak terlalu lama dan
mengembang penuh di malam hari, mungkin diserbuki oleh ngengat, burung dan
kelelawar pemakan buah. Di jalur pesisir yang berkarang mereka tersebar secara
Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

vegetatif. Kunang-kunang sering menempel pada pohon ini dikala malam. Buah
mengapung karena adanya jaringan yang mengandung air pada bijinya. Akar nafas
tidak terdapat pada pohon yang tumbuh pada substrat yang keras.

Penyebaran : Dari Afrika Utara dan Madagaskar hingga Asia Tenggara, seluruh
Indonesia, Malaysia, Filipina, Australia Tropis, Kepulauan Pasifik barat dan Oceania
Barat Daya.

Kelimpahan : Umum. Melimpah setempat.

Manfaat : Buahnya asam dapat dimakan. Di Sulawesi, kayu dibuat untuk perahu dan
bahan bangunan, atau sebagai bahan bakar ketika tidak ada bahan bakar lain. Akar
nafas digunakan oleh orang Irian untuk gabus dan pelampung.

Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 9. HASIL IDENTIFIKASI FAUNA REPTIL DAN MAMALIA

Acrochordus granulatus - Ular Kadut

Ordo : Squamata
Famili : Acrochordidae
Nama Inggris : Acrochordus granulatus
Nama Lokal : Ular Kadut
Ekologi dan Habitat : Hidup di air tawar atau air payau (daerah pertambakan) juga
persawahan. Memangsa Katak, ikan kecil. Nocturnal (aktif di
malam hari)
Distribusi/ sebaran : India, Asia Tenggara, Kep. Solomon


Naja tripudians - Ular Tedung Beras

Ordo : Squamata
Famili : Elapidae
Nama Inggris : The Monocled cobra
Nama Lokal : Tedung Beras
Ekologi dan Habitat : Dapat beradaptasi dengan berbagai habitat, dari alam untuk
lingkungan anthropogenic dampak. Mereka lebih memilih habitat
yang berhubungan dengan air, seperti sawah, rawa, dan
mangrove, tetapi juga dapat ditemukan di padang rumput,
shrublands, dan hutan. Hal ini juga terjadi pada lahan pertanian
dan pemukiman manusia, termasuk kota-kota. Mereka dapat
ditemukan sampai ketinggian 1.000 m (3.300 kaki) di atas
permukaan laut. Paling aktif pada senja dan malam hari.
Distribusi/ sebaran : India bagian barat sampai ke Cina, Vietnam dan Kamboja, juga
terdapat di Semenanjung Melayu dan asli ke Bangladesh, Bhutan,
Myanmar, Laos, Nepal, Thailand, dan Indonesia.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Takydromus sexlineatus - Ular Lidi


Ordo : Squamata
Famili : Lacertidae
Nama Inggris : The Asian grass lizard, six-striped long-tailed lizard, or long-tailed
grass lizard
Nama Lokal : Ular Lidi
Ekologi dan Habitat : Arboreal (hidup di pohon), spesies kadal, diurnal (aktif siang hari).
Panjang ekor biasanya lebih dari tiga kali tubuh (moncong untuk
melampiaskan) panjang dalam spesies ini. memakan serangga
kecil seperti lalat
Distribusi/ sebaran : Sejumlah negara termasuk India, Cina, Thailand, dan Indonesia.


Ahaetulla prasina - Ular Hijau

Ordo : Squamata
Famili : Colubridae
Nama Inggris : The Asian vine snake or the oriental whipsnake
Nama Lokal : Ular hijau
Ekologi dan Habitat : Habitatnya di tepi hutan termasuk taman, daerah pemukiman
berhutan dan daerah pertanian pedesaan. Hal ini paling sering
ditemui ketika berjemur pada pertumbuhan sekunder sepanjang
tepi hutan. Bentuk Tubuhnya sangat ramping, meskipun dewasa
sepenuhnya dewasa tampil lebih kuat. Memakan vertebrata,
termasuk burung bersarang kecil, kadal dan katak.
Distribusi/ sebaran : Berkisar dari India ke Cina dan seluruh Asia Tenggara



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Elaphe flavolineata - Ular Kopi


Ordo : Squamata
Famili : Colubridae
Nama Inggris : Black Copper Rat Snake or Yellow striped Snake
Nama Lokal : Ular Kopi, Ular Sapi Hitam
Ekologi dan Habitat : Ular ini ditemukan pada habitat dataran rendah, terutama daerah
yang habitatnya terganggu. Aktifitas di pagi dan siang hari,
kadang di atas pohon. Makanannya mamalia kecil seperti tikus.
Distribusi/ sebaran : Sumatra, Kalimantan, Jawa


Naja bungarus - King Cobra

Ordo : Squamata
Famili : Elapidae
Nama Inggris : King Cobra
Nama Lokal : Ular Anang
Ekologi dan Habitat : Ular anang didapati mulai dari dekat pantai hingga ketinggian
sekurang-kurangnya 1.800 m dpl. Ular ini menghuni aneka
habitat, mulai dari hutan dataran rendah, rawa-rawa, wilayah
semak belukar, hutan pegunungan, lahan pertanian, ladang tua,
perkebunan, persawahan, dan lingkungan pemukiman. Ular yang
lincah dan gesit ini biasa bersembunyi di bawah lindungan semak
yang padat, lubang-lubang di akar atau batang pohon, lubang
tanah, di bawah tumpukan batu, atau di rekahan karang. Ular
anang berburu baik pada siang maupun malam, akan tetapi
jarang terlihat aktif di malam hari.
Distribusi/ sebaran : Di Indonesia ular ini ditemukan di Sumatra, Kep. Mentawai,
Kep. Riau, Bangka, Kalimantan, Jawa,, Bali, dan Sulawesi,



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Boiga dendrophila - Ular Bakau

Ordo : Squamata
Famili : Colubridae
Nama Inggris : Mangrove snake
Nama Lokal : Ular bakau, Tetak Tebu
Ekologi dan Habitat : Memakan mamalia kecil, kadal, katak, ular, ikan. Sebagian
nokturnal. Ini adalah ular berpotensi agresif. Bahkan tawanan
spesimen dibesarkan bisa gugup dan bisa menyerang berulang
kali. Meskipun banyak spesimen akan tenang dan memungkinkan
penanganan dengan peralatan keselamatan yang tepat, mereka
biasanya mudah stres dan mungkin menolak makanan untuk
waktu yang lama jika terganggu. Ironisnya, ular bakau ditemukan
lebih sering pada hutan hujan dataran rendah daripada hutan
bakau.
Distribusi/ sebaran : Pulau Bangka, Belitung, Kalimantan, Java, Sulawesi, Sumatra.

Python reticulatus - Ular Sanca


Ordo : Squamata
Famili : Pythonidae
Nama Inggris : Reticulated python atau kerap disingkat retics.
Nama Lokal : Ular Sanca, Ular Sawa
Ekologi dan Habitat : Ular sanca termasuk berumur panjang, hingga lebih dari 25 tahun.
Bertelur antara 10 hingga sekitar 100 butir. Hidup di hutan-hutan
tropis yang lembap (Mattison, 1999). Ular ini bergantung pada
ketersediaan air, sehingga kerap ditemui tidak jauh dari badan air
seperti sungai, kolam dan rawa. Makanan utamanya
adalah mamalia kecil, burung dan reptilia lain seperti biawak. Ular
yang kecil memangsa kodok, kadal dan ikan. Ular-ular berukuran
besar dilaporkan memangsa anjing, monyet, babi hutan, rusa,
bahkan manusia yang tersesat ke tempatnya menunggu
mangsa. Setelah makan, terutama setelah menelan mangsa yang


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

besar, ular ini akan berpuasa beberapa hari hingga beberapa
bulan hingga ia lapar kembali.
Distribusi/ sebaran : Sanca menyebar di hutan-hutan Asia Tenggara. Mulai dari
Kep. Nikobar, Burma hingga ke Indochina; ke selatan melewati
Semenanjung Malaya hingga ke Sumatra, Kalimantan, Jawa,
Nusa Tenggara, Sulawesi; dan ke utara hingga Filipina.



Bronchocela jubata - Bunglon

Ordo : Sauria
Famili : Agamidae
Nama Inggris : Green crested lizards, Chameleons
Nama Lokal : Bunglon, Londok
Ekologi dan Habitat : Bunglon yang kerap ditemukan di semak, perdu dan pohon-pohon
peneduh di kebun dan pekarangan. Reptil ini memangsa berbagai
macam serangga yang dijumpainya: kupu-
kupu, ngengat, capung, lalat dan lain-lain. Untuk menipu
mangsanya, bunglon ini kerap berdiam diri di pucuk pepohonan
atau bergoyang-goyang pelan seolah tertiup angin. Sering juga
bunglon surai terlihat meniti kabel listrik dekat rumah, untuk
menyeberang dari satu tempat ke tempat lain. Di saat Bunglon
merasa terancam , Ia akan mengubah warna kulitnya menjadi
serupa dengan warna lingkungan sekitarnya, sehingga
keberadaannya tersamarkan.
Distribusi/sebaran : Jawa, Kalimantan, Bali, Singkep, Sulawesi, Karakelang,
Kepulauan Salibabu, dan Filipina.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Takydromus sexlineatus - Kadal Rumput

Ordo : Squamata
Famili : Lacertidae
Nama Inggris : The Asian grass lizard,
six-striped long-tailed lizard,
or long-tailed grass lizard
Nama Lokal : Kadal daun
Ekologi dan Habitat : Arboreal (hidup di pohon), spesies kadal, diurnal (aktif siang hari).
Panjang ekor biasanya lebih dari tiga kali tubuh (moncong untuk
melampiaskan) panjang dalam spesies ini. memakan serangga
kecil seperti lalat
Distribusi/ sebaran : Sejumlah negara termasuk India, Cina, Thailand, dan Indonesia

Mabuya multifasciata Bengkarung

Ordo : Squamata
Famili : Scincidae
Nama Inggris : East Indian Brown Mabuya,
Many-lined Sun Skink atau Common Sun Skink
Nama Lokal : Bengkarung, Kadal Kebun
Ekologi dan Habitat : Kadal yang menyukai tempat bersemak dan berumput, baik di
tempat terbuka maupun yang terlindung oleh pepohonan. Sering
terlihat berjemur di pagi hari di jalan setapak yang terbuka, tepi
parit, atau di pematang sawah. Di malam hari, kadal ini tidur di
bawah lapisan serasah, timbunan kayu atau tumpukan batu.
Bengkarung pandai memanjat pepohonan, tebing batu atau
bahkan dinding tembok yang tegak namun kasar, sampai
ketinggian sekitar 8-10 meter. Makanannya terdiri dari
aneka serangga, cacing, kodok kecil, dan juga reptil yang lain
seperti cecak dan jenis kadal lain yang bertubuh lebih kecil.
Distribusi/ sebaran : Kadal kebun diketahui menyebar luas di Asia bagian tenggara,
mulai dari India (Assam) hingga Cina selatan (Hainan, Yunnan)
hingga Taiwan, Burma, Thailand, Laos, Kamboja, Vietnam,
Singapura, Sumatra, Kalimantan, Jawa, Bali, Filipina, dan Papua.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Draco spp - Cecak Terbang

Ordo : Squamata
Famili : Agamidae
Nama Inggris : Draco volans, or the Flying Dragon
Nama Lokal : Cekibar, Cicak Terbang
Ekologi dan Habitat : Cekibar kampung biasa didapati
pekarangan, kebun, hutan sekunder. Kerap kali hewan ini teramati
sedang berburu serangga di pepagan hingga ke cabang-
cabang pohon. Terkadang cekibar berpindah tempat dengan cara
terbang, yakni meloncat dan melayang dari satu pohon ke lain
pohon.Pada musim kawin, kerap dijumpai beberapa ekor jantan
berkejaran dengan betinanya di satu pohon yang sama.
Menyimpan telur di dalam tanah gembur atau humus di dekat
pangkal pohon; betinanya menggali tanah dengan menggunakan
moncong.
Distribusi/ sebaran : Hewan ini menyebar mulai dari Thailand dan Semenanjung
Malaya dibagian barat; Kepulauan Filipina di Utara Sumatra,
Mentawai, Riau, Natuna, Kalimantan, Jawa, Nusa
Tenggara, Sulawesi, hingga Maluku di timur.

Gekko gecko - Tokek

Ordo : Squamata
Famili : Gekkonidae
Nama Inggris : Tokay gecko
Nama Lokal : Tokek
Ekologi dan Habitat : Hewan ini kebanyakan aktif di saat senja dan malam hari, meski
suara panggilannya kadang-kadang terdengar di siang hari. Tokek
tinggal di lubang pepohonan di hutan atau di rekahan batuan atau
gua; namun sebagian jenisnya juga beradaptasi dengan
lingkungan manusia dan bersifat komensal. Tokek memburu
aneka serangga dan invertebrata lain sebagai makanannya,
walaupun juga tidak segan memangsa vertebrata lain yang lebih
kecil ukurannya.
Distribusi/ sebaran : India, Nepal, Bangladesh, Asia, Philippines, Indonesia.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Durio testudinarium - Kura-kura

Ordo : Testudinata
Famili : -
Nama Inggris : turtles
Ekologi dan Habitat : Kura-kura hidup di berbagai tempat, mulai daerah gurun, padang
rumput, hutan, rawa, sungai dan laut. Sebagian jenisnya hidup
sepenuhnya akuatik, baik di air tawar maupun di lautan. Kura-kura
ada yang bersifat pemakan tumbuhan (herbivora), pemakan
daging (karnivora) atau campuran (omnivora). Kura-kura tidak
memiliki gigi. Akan tetapi perkerasan tulang di moncong kura-kura
sanggup memotong apa saja yang menjadi makanannya.
Distribusi/ sebaran : Menyebar Indonesia dan dunia


Dogania subplana - Labi-Labi

Ordo : Testudinata
Famili : Trionychidae
Nama Inggris : Malayan softshell turtle
Ekologi dan Habitat : Labi labi merupakan sebangsa kura-kura (ordo: Testudinata) yang
terdapat perisai di punggungnya (batok), pada umumnya perisai
kura-kura sangat keras, akan tetapi berbeda dengan labi labi yang
memiliki perisai/cangkang yang lunak sehingga termasuk dalam
keluarga Trionychidae.
Distribusi/ sebaran : Habitat labi labi tersebar luas di kawasan Asia Tenggara. Di
Indonesia, jenis ini dijumpai di Kalimantan, Sumatera, Jawa, Bali,
dan Lombok).



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Macaca nemestrina Beruk

Ordo : Primata
Famili : Cercopithecidae
Nama Inggris : Pig-tailed Macaque
Ekologi dan Habitat : Hidup di hutan primer. Menyukai hutan lebat dan habitat yang
tidak terganggu. Memakan buah-buahan, pucuk daun dan
serangga. Berkelompok antara 15-40 ekor. Rentang hidup
mencapai 26 tahun.
Distribusi/ sebaran : Sumatera dan Kalimantan


Macaca fascicularis - Monyet Ekor Panjang


Ordo : Primata
Famili : Cercopithecidae
Nama Inggris : Long-tailed Macaque, Crab-eating Macaque
Ekologi dan Habitat : Monyet ekor panjang hidup di hutan-hutan daerah pesisir
(mangrove dan pantai), sepanjang sungai, sekitar kebun,
pemukiman dan perkebunan. Hidup di hutan primer, sekunder
dan habitat yang terganggu. Diurnal (aktifitas di siang hari).
Jantan hidup berkelompok terdiri atas 20-30 ekor dan terdaat
hierarki yang ditentukan berdasarkan faktor umur, ukuran tubuh
dan kemampuan bersaing. Mempunyai kemampuan belajar atau
menunjukkan perilaku budaya. Makanan terdiri atas buah-buahan,
serangga, katak, kepiting dan invertebrata lain dipesisir.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Jawa, Kalimantan


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Crocodylus porosus - Buaya Muara

Ordo : Crocodilidea
Famili : Crocodilidae
Nama Inggris : saltwater crocodile
Ekologi dan Habitat : Adalah sejenis buaya yang terutama hidup di sungai-sungai dan di
laut dekat muara. Moncong spesies ini cukup lebar dan tidak
punya sisik lebar pada tengkuknya. Buaya muara dikenal sebagai
buaya terbesar di dunia, jauh lebih besar dari Buaya Nil
(Crocodylus niloticus) dan Alligator Amerika (Alligator
mississipiensis). Panjang tubuh termasuk ekor bisa mencapai 12
meter seperti yang pernah ditemukan di Sangatta, Kalimantan
Timur. Buaya Muara terkenal juga sebagai jenis buaya terganas di
dunia.
Distribusi/ sebaran : Daerah penyebarannya dapat ditemukan di seluruh
perairan Indonesia.


Tomistoma schlegelii-Buaya Senyulong

Ordo : Crocodilidea
Famili : Crocodilidae
Nama Inggris : The false gharial, the Malayan gharial
Ekologi dan Habitat : Habitat yang menjadi favorit buaya ini adalah lubuk-lubuk yang
relatif dalam, rawa-rawa, hingga ke pedalaman. Makanan
utamanya meliputi ikan, udang dan juga monyet. Perbedaan
buaya ini dengan buaya lainnya adalah moncongnya yang sangat
sempit dengan ukuran tubuh yang mencapai 5,6 m.
Distribusi/ sebaran : Persebaran buaya ini meliputi Sumatera, Kalimantan, dan jawa.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Varanus borneensis - Biawak Kalimantan

Ordo : Squamata
Famili : Varanidae
Nama Inggris : Monitor lizard
Ekologi dan Habitat : Biawak umumnya menghuni tepi-tepi sungai atau saluran air,
tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau. Di
perkotaan, biawak kerap pula ditemukan hidup di gorong-gorong
saluran air yang bermuara ke sungai. Biawak memangsa
aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan
kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dancerurut.
Biawak pandai memanjat pohon. Di hutan bakau, biawak kerap
mencuri telur atau memangsa anak burung. Biawak juga
memakan bangkai, telur kura-kura, penyu atau buaya.
Distribusi/ sebaran : Daerah penyebarannya jawa, madura, kalimantan dan beberapa
pulau di Indonesia Timur.


Hystrix brachyura - Landak

Ordo : Rodentia
Famili : Hystricidae
Nama Inggris : Common Porcupine,
Malayan Porcupine
Nama Lokal : Landak
Ekologi dan Habitat : Aktif di malam hari. Tinggal di dalam lubang tanah sepanjang hari.
Landak memakan buha-buahan yang jatuh ke atas, tuna muda
dan akar. Hidup di hutan primer dan perkebunan.
Distribusi/ Sebaran : Kamboja, China, India, Vietnam, Laos, Malaysia, Myanmar,Nepal,
Singapura dan Thailand. Di Indonesia terdapat di Sumatera, dan
Kalimantan.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Lutra lutra - Berang-Berang

Ordo : Carnivora
Famili : Mustelidae
Nama Inggris : Eurasian Otter, Smooth Coated Otter
Nama Lokal : Marang/ bamuruk (Kanaytn / Bekatik)
Pusuh (Kuhoi/ Katingan)
Ekologi dan Habitat : Lutra hidup di kolam dan danau, riam dan sungai. Beraktivitas di
air dan tidur di darat. Berkopulasi dari Februari, Maret dan bulan
Juli. Nocturnal (aktif di malam hari). Soliter (menyendiri/ tidak
berkelompok). Memakan ikan, vertebrata kecil dan crustacea.
Mengkonsumsi makanan 1 kg/ hari.
Distribusi/ Sebaran : Eropa, Asia, Sumatera, Jawa dan Kalimantan


Neofelis nebulosa - Kucing Dahan

Ordo : Carnivora
Famili : Felidae
Nama Inggris : Clouded Leopard
Nama Lokal : Kucing Dahan (Kuhoi/ Katingan)
Ekologi dan Habitat : Hidup di hutan tropis dan sub tropis dengan ketinggian hingga
2000 m dpl. Prilakunya kurang diketahui. Soliter. Nocturnal (aktif di
malam hari), namun kadang aktif di siang hari. Memangsa rusa,
babi, monyet dan mamalia kecil lainnya.
Distribusi/ Sebaran : Sumatera dan Kalimantan



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Lariscus insignis - Tupai

Ordo : Rodentia
Famili : Sciuridae
Nama Inggris : Three-Striped Ground Squirrel
Nama Lokal : Tupai
Ekologi dan Habitat : Hidup di hutan primer dan sekunder. Diurnal (aktif di siang hari).
Memakan buah dan serangga.
Distribusi/ Sebaran : Sumatera, Jawa dan Kalimantan


Pteropus sp Kalong

Ordo : Chiroptera
Famili : Pteropodidae
Nama Inggris : Giant Fruit Bats atau Flying Foxes
Ekologi dan Habitat : Kalong hanya memakan buah-buahan, bunga, nektar, dan serbuk
sari; ini menjelaskan mengapa kalong terbatas penyebarannya di
wilayah tropis. Kalong memiliki mata yang besar sehingga mereka
dapat melihat dengan baik dalam keadaan kurang cahaya. Indra
yang secara utama digunakan untuk navigasi adalah daya
penciumannya yang tajam. Kalong tidak mengandalkan diri pada
daya pendengaran seperti halnya kelelawar pemakan serangga
yang menggunakan ekholokasi. Kalong sering mencari
makanannya sampai jauh, hingga sejauh 40 mil dari tempatnya
tidur.
Distribusi/ sebaran : Kalong menyebar di Asia tropis dan subtropis (termasuk di anak
benua India), Australia, Indonesia, pulau-pulau di lepas pantai
timur Afrika (tetapi tidak di daratan benuanya), serta di sejumlah
kepulauan di Samudra Hindia dan Pasifik.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013



Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Manis javanica -Trenggiling

Ordo : Pholidota
Famili : Manidae
Nama Inggris : Sunda pangolin, Malayan pangolin
Nama Lokal : Trenggiling
Ekologi dan Habitat : Hewan ini memakan serangga dan terutama semut dan rayap.
Trenggiling hidup di hutan hujan tropis dataran rendah. Trenggiling
kadang juga dikenal sebagai anteater. Bentuk tubuhnya
memanjang, dengan lidah yang dapat dijulurkan hingga sepertiga
panjang tubuhnya untuk mencari semut di sarangnya. Rambutnya
termodifikasi menjadi semacam sisik besar yang tersusun
membentuk perisai berlapis sebagai alat perlindungan diri. Jika
diganggu, trenggiling akan menggulungkan badannya seperti bola.
Ia dapat pula mengebatkan ekornya, sehingga "sisik"nya dapat
melukai kulit pengganggunya.
Distribusi/ Sebaran : Asia Tenggara


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

LAMPIRAN 10. HASIL IDENTIFIKASI J ENIS - J ENIS AVES
Ixobrychus cinnamomeus - Bambangan Merah

Ordo : Ciconiiformes
Famili : Ardeidae
Nama Inggris : The Cinnamon Bittern
or Chestnut Bittern
Nama Lokal : Kuntul Kerbau
Ekologi dan Habitat : Bersifat pemalu, hidup menyendiri. Pada siang hari, memburu
mangsa pada rumpun padi atau rumput. Lebih aktif pada malam
hari. Bila terganggu, melompat ke atas dan terbang rendah
dengan kepakan perlahan, tetapi kuat. Bersarang pada rumpun
gelagah atau rumput yang tinggi.
Distribusi/ sebaran : Sub-benua India melalui Asia tenggara ke China timur-laut; juga di
Maldiva, Sri Lanka, Kep. Andaman dan Nikobar; tersebar luas di
Sunda Besar, Sulawesi, Kalimantan dan Filipina.


Centropus sinensis - Bubut Besar

Ordo : Cuculiformes
Famili : Cuculidae
Nama Inggris : The Greater Coucal or
Crow Pheasant
Nama Lokal : Bubut Besar
Ekologi dan Habitat : Burung ini merupakan jenis burung pemakan ulat, belalang,
kumbang, hemiptera, katak, kadal yang memiliki habitat di tepi
hutan, belukar sekunder, semak tepi sungai, hutan mangrove.
tersebar sampai ketinggian 1.200 m dpl.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Kalimantan, Nias, Mentawai, Jawa, Bali.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Tringa hypoleucos - Burung Trinil Pantai

Ordo : Charadriiformes
Famili : Scolopacidae
Nama Inggris : The Common Sandpiper
Nama Lokal : Kuntul Kerbau
Ekologi dan Habitat : Burung ini merupakan jenis burung pemakan krustasea,
serangga, invertebrata lain yang memiliki habitat di habitat luas.
gosong lumpur, beting pasir, pantai, sungai, sawah, tersebar
sampai ketinggian 1.500 m dpl..
Distribusi/ sebaran : Afrika, Erasia. Asia, Asia Tenggara, Australia.


Haliastur Indus - Elang Bondol

Ordo : Falconiformes
Famili : Accipitridae
Nama Inggris : The Red-backed Sea-eagle,
Brahminy Kite
Nama Lokal : Elang Bondol
Ekologi dan Habitat : Biasanya sendirian, tetapi di daerah yang makanannya melimpah
dapat membentuk kelompok sampai 35 individu. Ketika berada di
sekitar sarang, sesekali memperlihatkan perilaku terbang naik
dengan cepat diselingi gerakan menggantung di udara, kemudian
menukik tajam dengan sayap terlipat dan dilakukan secara
berulang-ulang. Terbang rendah di atas permukaan air untuk
berburu makanan, tetapi terkadang juga menunggu mangsa
sambil bertengger di pohon dekat perairan, dan sesekali terlihat
berjalan di permukaan tanah mencari semut dan rayap.
Menyerang burung camar, dara laut, burung air besar, dan burung
pemangsa lain yang lebih kecil untuk mencuri makanan
Distribusi/ sebaran : Daerah sekitar pantai di Asia Tenggara, Cina, dan Australia.
Sedangkan di Indonesia dan India, masih dapat ditemukan di
daerah pedalaman.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Amaurornis phoenicurus - Kareo Padi

Ordo : Gruiformes
Famili : Rallidae
Nama Inggris : The White-breasted Waterhen
Nama Lokal : Kareo Padi
Ekologi dan Habitat : Penetap yang umum setempat dan pengunjung musim dingin
pada habitat yang sesuai dari dataran rendah sampai ketinggian
1.600 m di seluruh Sunda Besar. Umumnya hidup sendirian,
kadang-kadang berdua atau bertiga. Mengendap-endap dalam
semak yang lembab. Tinggal di pinggir danau, tepi sungai, hutan
mengrove, dan sawah bila tempat itu cukup rapat untuk
bersembunyi. Keluar ke tempat terbuka untuk makan, sehingga
lebih terlihat daripada ayam-ayaman lainnya. Juga suka
memanjat-manjat semak dan pohon kecil.
Distribusi/ sebaran : India, Cina selatan, Asia tenggara, Filipina, Sulawesi, dan Sunda
Besar dan Nusa tenggara.

Copshycus saularis - Kucica Kampung

Ordo : Passeriformes
Famili : Muscicapidae
Nama Inggris : Oriental Magpie-robin
Nama Lokal : Kacer, Koci / poci /sekoci
Ekologi dan Habitat : Dapat hidup sampai ketinggian 1500 mdpl. Dulu sangat mudah
ditemukan di pekarangan, desa, hutan sekunder, hutan terbuka,
dan hutan magrove. Saat terbang sangat menarik perhatian.
Bertengger dengan mencolok saat berkicau dan bergaya. Sering
mencari makan di atas permukaan tanah dengan terus-menerus
menurunkan dan membuak ekornya sebelum menetup dan
menegakkannya secara menyentak.
Distribusi/ sebaran : Sumatera (termasuk Pulau Simeulue, Nias, Batu, Belitung,
Bangka), Jawa Bagian Barat dan Kalimantan Barat.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Meiglyptes tristis - Pelatuk

Ordo : Piciformes
Famili : Picidae
Nama Inggris : The Buff-rumped Woodpecker
Nama Lokal : Caladi Batu
Ekologi dan Habitat : Umum di Kalimantan dan Sumatera, tetapi jarang terlihat di Jawa
bagian barat. Lebih menyukai habitat terbuka di pesisir. Secara
diam-diam mencari makan pada tajuk pohon dan cabang kecil, di
hutan primer, hutan sekunder, serta pinggir hutan. Bergabung
dalam kelompok campuran dengan jenis burung lain.
Telur dua butir berwarna putih yang diletakkan pada sarang di
lubang pohon. Tidak ada catatan mengenai musim berbiak di
Jawa.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Kep. Nias, Bangka, Natuna Utara dan Kalimantan.

Lonchura Malacca - Pipit Rawa

Ordo : Passeriformes
Famili : Estrildidae
Nama Inggris : Scaly-breasted Munia
Nama Lokal : Pipit, Bondol
Ekologi dan Habitat : Bondol rawa sering tampak menggerombol dalam jumlah besar,
terbang atau hinggap memakan biji rumput-rumputan. Sesuai
dengan sebutannya, bondol rawa terutama
menghuni paya atau padang rumput berawa, atau di hutan di
sekitar persawahan. Musim kawin terutama berlangsung antara
Juni Oktober. Telur berjumlah 57 butir, putih, disimpan dalam
sarang dari rerumputan kering berbentuk bola, yang dibangun di
semak-semak atau di antara batang-batang rumput tinggi.
Pemakan padi dan biji-bijian
Distribusi/ sebaran : India, Cina, Filiphina, Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Macropygia ruficeps - Tekukur

Ordo : Columbiformes
Famili : Columbidae
Nama Inggris : The Little Cuckoo-Dove
Nama Lokal : Kathik (Yogyakarta)
Ekologi dan Habitat : Mudah dijumpai di daerah terbuka, perkampungan, dan
perkotaan. Hidup bersama manusia di sekitar desa dan sawah.
Mecari makan di atas permukaan tanah. Sering duduk
berpasangan di jalan yang terbuka. Bila terganggu, terbang
rendah di atas tanah dengan kepakan sayap pelan yang khas.
Distribusi/ sebaran : Tersebar luas dan umum terdapat di Asia tenggara sampai di
Nusa Tenggara. Diintroduksi ke tempat lain sampai Australia dan
Los Angeles (AS).

Passer montanus - Burung Gereja

Ordo : Passeriformes
Famili : Passeridae
Nama Inggris : Eurasian Tree Sparrow
Nama Lokal : Gereja
Ekologi dan Habitat : Sangat mudah dijumpai di daerah perkotaan dan pedesaan,
terutama disekitar tempat penggilingan padi, sampai ketinggian
1500 mdpl. Hidup berkelompok di sekitar rumah, gudang, dan
tempat-tempat lain disekitar daerah permukiman manusia.
Mencari makan di tanah dan lahan pertanian, mematuki biji-biji
kecil dan beras.
Distribusi/ sebaran : Erasia, India, Ci na, Asia Tenggara, dan Semenanjung Malaysia.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Halcyon pileata - Cekakak Cina

Ordo : Coraciiformes
Famili : Halcyonidae
Nama Inggris : The Black-capped Kingfisher
Nama Lokal : Pekaka Kopiah Hitam
Ekologi dan Habitat : Berasal dari negara China atau Korea, ia akan terbang ke selatan
pada musim sejuk dan menetap di sepanjang sungai, paya dan
hutan-hutan bakau. Berbanding burung Pekaka spesies lain. Ia
antara keluarga Pekaka yang membesar sehingga 28cm
panjangnya. Paruh merahnya yang kuat dapat
menangkap serangga, ikan dan katak dengan mudah dan
mengorek sarang di tepi sungai.
Distribusi/ sebaran : Semenanjung Malaysia, Sunda Besar, Sulawesi dan Filipina
selatan.

Ictinaetus malayensis - Elang Hitam

Ordo : Accipitriformes
Famili : Accipitridae
Nama Inggris : The Black Eagle
Nama Lokal : Elang Bondol
Ekologi dan Habitat : Burung ini hidup memencar di dataran rendah, hutan perbukitan
hingga wilayah yang bergunung-gunung pada ketinggian sekitar
1.400 m (di Jawa hingga sekitar 3.000 m) dpl. Memangsa aneka
jenis mamalia kecil, kadal, burung dan terutama telur, elang hitam
dikenal sebagai burung perampok sarang. Melayang indah,
burung ini kerap teramati terbang berpasangan di sisi bukit atau
lereng gunung yang berhutan. Dengan tangkas dan mudah elang
ini terbang keluar masuk dan di sela-sela tajuk
pepohonan. Cakarnya yang tajam terspesialisasi untuk
menyambar dan mencengkeram mengsanya dengan efektif.
Sarang berukuran besar terbuat dari ranting-ranting dan
dedaunan yang tersusun tebal, diletakkan pada cabang pohon
yang tinggi di hutan yang lebat. Bertelur satu atau dua butir, bulat
oval, sekitar 65 x 51 mm, berwarna kuning tua bernoda coklat
kemerahan.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Distribusi/ sebaran : Elang hitam menyebar luas mulai dari India, Sri Lanka hingga Asia
Tenggara, Sunda Besar, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku.

Acridotheres cristatellus - Kerak J ambul

Ordo : Passeriformes
Famili : Sturnidae
Nama Inggris : -
Nama Lokal : -
Ekologi dan Habitat : Mudah dijumpai di lahan pertanian dan kota, sampai ketinggian
1.500 mdpl. Hidup dalalam kelompok kecil maupun besar.
Sebagian besar mencari makan di atas tanah, lapangan rumput
dan sawah.
Distribusi/ sebaran : Jawa, Bali dan Kalimantan.

Hirundo tahitica - Layang-layang Batu

Ordo : Passeriformes
Famili : Hirundinidae
Nama Inggris : Pacific Swallow
Nama Lokal : -
Ekologi dan Habitat : Banyak terdapat di daerah terbuka terutama di atas air sampai
ketinggian 1.500 m. Biasanya ditemukan dalam kelompok kecil
yang terpisah-pisah. Mencari makan sendiri-sendiri dalam
lingkaran atau melayang rendah di atas air. Pada musim dingin
sering bergabung dengan walet, tetapi tidak berkumpul dalam
kelompok besar untuk bermalam. Sarang berupa cangkir dari
gumpalan lumpur, menempel di bawah langit-langit, jembatan
atau bergantung di bebatuan. Sarang ini mempunyai jalan
measuk berupa lubang terbuka di bagian atasnya.
Distribusi/ sebaran : India selatan, Asia tenggara , Filipina, Semenanjung Malaysia, dan
Sunda Besar, sampai P. Papua dan Tahiti.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Arachnothera flavigaster - Pijantung Tasmak

Ordo : Passeriformes
Famili : Nectariniidae
Nama Inggris : The Spectacled Spiderhunter
Nama Lokal : -
Ekologi dan Habitat : Burung yang tidak umum di hutan terbuka Sumatra dan
Kalimantan. Juga dapat ditemui di perkebunan kelapa, kebun
pedesaan, dan belukar sampai pada ketinggian 1300 m. Di
Kalimantan masih dapat ditemui sampai pada ketinggian 1800 m.
Secara umum dapat ditemui di hutan sekunder. Sangat agresif
dalam mempertahankan teretori mencari makan.
Distribusi/ sebaran : Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan Kalimantan.


Treron vernans - Punai Gading

Ordo : Columbiformes
Famili : Columbidae
Nama Inggris : The Pink-necked Green Pigeon
Nama Lokal : Kathik (Yogyakarta)
Ekologi dan Habitat : Umum di hutan pantai, hutan magrove, hutan sekunder, hutan
rawa-rawa, perkebunan yang berpohon jarang, di sekitar
pemukiman, tempat-tempat terbuka dan lembah sampai
ketinggian 1200 mdpl. Sepertinya populasinya semakin kecil di
tempat yang semakin tinggi dari permukaan laut.Berkumpul dalam
kelompok kecil, hinggap pada pohon buah-buahan (seperti
beringin dan kersen) untuk mencari makan. Saat terganggu,
terbang berdua atau bertiga dengan kepakan sayap yang keras.
Pada malam dan pagi hari, mengeluarkan suara mendengkur
lembut yang rendah dari tempat bertengger.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Cypsiurus balasiensis - Walet Palem Asia

Ordo : Apodiformes
Famili : Apodidae
Nama Inggris : The Asian Palm Swift
Nama Lokal : Walet
Ekologi dan Habitat : Burung yang cukup umum dijumpai di habitat yang sesuai pada
ketinggian sampai 1500 m. Penyebarannya ditentukan oleh
keberadaan tegakan palem dengan daun berbentuk kipas seperti
palem kipas Livistona, lontar Borassus, pinang Areca atau
gebang Corypha, yang digunakan sebagai tempat bersarang dan
beristirahat. Sarang direkatkan di bawah daun palem.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara.


Bubulcus ibis - Burung Kuntul Kerbau

Ordo : Ciconiiformes
Famili : Ardeidae
Nama Inggris : The Cattle Egret
Nama Lokal : Kuntul Kerbau
Ekologi dan Habitat : Burung ini suka mencari makanan di dekat kerbau atau sapi yang
merumput. Kuntul kerbau suka bergerombol, entah sewaktu
berkembang biak, bertengger, atau makan. Ketika berkembang
biak, mereka senang tinggal di sebuah pohon besar bersama
spesies lain seperti burung cangak atau bangau.
Distribusi/ sebaran : Ada di lima benua.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Orthotomus ruficeps - Cinenen

Ordo : Passeriformes
Famili : Sylviidae
Nama Inggris : Ashy Tailorbird
Nama Lokal : Ciplukan (Kudus), Jerrwit (Melayu), Pipi dan cilang (Sumatera
Barat), Soriti (Deli), Ciblek (Jawa), Cici, cinenen, Pruwayu (Sunda)
Ekologi dan Habitat : Mengunjungi hutan terbuka, pinggir hutan, hutan mangrove,
semak-semak di tepi pantai, kebun, tumbuhan sekunder, dan
rumpun bambu sampai ketinggian 950 mdpl. Aktif di lantai hutan
dan puncak pohon. Merupakan burung pemakan serangga kecil.
Dalam penangkaran biasanya diberikan pakan alami
berupa jangkrik, kroto, dan pelet.
Distribusi/ sebaran : Palawan, Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan, Jawa,
dan pulau-pulau kecil disekitarnya.

Aceros comatus - Enggang J ambul

Ordo : Coraciiformes
Famili : Bucerotidae
Nama Inggris : The White-crowned Hornbill,
The White-crested Hornbill or
Long-crested Hornbill
Nama Lokal : Enggang
Ekologi dan Habitat : Burung hutan yang terdapat di beberapa tempat di perbukitan
dibawah ketinggian 900 mdpl, di 2/3 bagian utara Sumatera dan
1/2 bagian utara Kalimantan. Menghuni tajuk tengah dan tajuk
bawah hutan. Memakan serangga, ular, kadal dan burung kecil,
kadang juga memakan buah-buahan. Burung yang tidak
mencolok, mencari makan di hutan yang rapat. Berbiak secara
kooperatif, dimana betina yang dominan dapat dibantu oleh 2-7
individu burung selama perkembangbiakan dan perawatan anak.
Distribusi/ sebaran : Burung ini tersebar pada wilayah Myanmar dan Thailand selatan,
Semenanjung Malaysia, Sumatera dan Kalimantan.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Rhipidura javanica Kipasan

Ordo : Passeriformes
Famili : Rhipiduridae
Nama Inggris : Pied Fantail
Nama Lokal : -
Ekologi dan Habitat : Bergerak aktif di daerah hutan terbuka, termasuk hutan sekunder,
pekarangan, dan hutan mangrove sampai ketinggian 1.500 mdpl.
Kadang-kadang terlihat sendirian, berpasangan, atau dalam
kelompok keluarga, dan juga bergabung dalam kelompok
campuran. Kadang mengikuti binatang peliharaan atau monyet;
menangkapi serangga yang terganggu. Memakan serangga.
Sarang berbentuk cawan dari bahan tumbuh-tumbuhan yang
halus bercampur dengan jaring laba-laba dan diletakkan pada
dahan yang ramping atau tumbuhan merambat, biasanya tidak
jauh dari permukaan tanah. Telur dua butir berwarna kuning tua
dengan bintik abu-abu mengelilingi kutub yang lebar.
Distribusi/ sebaran : Jawa, Bali dan Lombok, Kalimantan.


Lonchura fuscans - Pipit Kalimantan

Ordo : Passeriformes
Famili : Estrildidae
Nama Inggris : Dusky Munia
Nama Lokal : Pipit, Bondol
Ekologi dan Habitat : Menghuni sawah atau sepanjang sungai, pinggir hutan, semak
sekunder, dan padang rumput di pedalaman sampai ketinggian
500 mdpl. Berperilaku seperti jenis-jenis burung bondol (pipit)
yang lain.
Distribusi/ sebaran : Hanya diketahui hidup di pulau Kalimantan dan pulau-pulau kecil
di sekitarnya.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Pycnonotus goiavier - Merbah Cerukcuk

Ordo : Passeriformes
Famili : Pycnonotidae
Nama Inggris : Yellow-vented Bulbul
Nama Lokal : Biribba, Empuru lelang (Sumatera), Merbah kampung
(Pontianak), Trocokan (Jawa)
Ekologi dan Habitat : Seperti umumnya merbah, makanan burung ini terutama
adalah buah-buahan yang lunak. Selain itu ia juga memangsa
aneka serangga, ulat dan hewan kecil lainnya seperti cacing.
Merbah cerukcuk menyukai tempat-tempat terbuka, semak
belukar, tepi jalan, kebun, dan hutan sekunder. Burung ini sering
berkelompok, baik ketika mencari makanan maupun bertengger,
dengan jenisnya sendiri maupun dengan jenis merbah yang lain,
atau bahkan dengan jenis burung yang lain. Tidur berkelompok
dengan jenisnya, di ranting-ranting perdu atau pohon kecil.
Distribusi/ sebaran : Burung ini menyebar luas di Asia Tenggara, Semenanjung
Malaya dan Filipina. Di Indonesia didapati di Sumatra dan pulau-
pulau di bagian timurnya,Kalimantan, Jawa dan Bali.

Nectarinia sperata - Burung Madu

Ordo : Passeriformes
Famili : Nectariniidae
Nama Inggris : Purple-throated Sunbirb
Nama Lokal : -
Ekologi dan Habitat : Habitat semula jadi burung ini ialah hutan tanah
lembap tropika dan subtropika atau hutan bakau tropika dan
subtropika.
Distribusi/ sebaran : Indonesia, Kamboja, Malaysia



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Collocalia maxima - Walet Sarang Hitam

Ordo : Apodiformes
Famili : Apodidae
Nama Inggris : The Black-nest Swiftlet
Nama Lokal : Walet
Ekologi dan Habitat : Merupakan walet yang paling umum di daerah pegunungan kapur
di Kalimantan. Di Jawa tidak umum di pulau-pulau kecil dan
daerah pesisir, tetapi umum di pegunungan kapur. Memakan
serangga-serangga kecil yang tertangkap ketika terbang.
Membuat sarang dari air ludah putih yang berbaur bulu, melekat
di gua kapur (disebut sarang hitam). Diambil untuk dijual, tetapi
tidak semahal sarang putih, karena memerlukan banyak waktu
untuk menghilangkan bulu dan tempayaknya. Mengeluarkan
suara berderik-derik untuk ekholokasi. Bertelur dua butir yang
berbentuk memanjang berwarna putih. Bersarang secara
musiman, tergantung tempat berada.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara.

Corvus enca - Gagak

Ordo : Passeriformes
Famili : Corvidae
Nama Inggris : The Slender-billed Crow
Nama Lokal : Biribba, Empuru lelang (Sumatera), Gagak (Pontianak), Trocokan
(Jawa)
Ekologi dan Habitat : Burung ini merupakan jenis burung pemakan buah lembut,
mengkudu, Ficus, pepaya, kumbang, serangga, kada yang
memiliki habitat di hutan, tepi hutan, pesisir, tersebar sampai
ketinggian 1.000 m dpl. Hidup berpasangan atau kelompok kecil.
Umumnya pemalu. Suka bertengger di ranting pada pohon besar
dan tinggi. Sarang berukuran besar tidak rapi, dari tumpukan
ranting, pada puncak pohon tinggi. Telur berwarna biru berbintik
hitam, jumlah 3-4 butir. Berbiak bulan November-Mei.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Pycnonotus aurigaster - Cucak Kutilang

Ordo : Passeriformes
Famili : Pycnonotidae
Nama Inggris : Sooty-headed Bulbul
Nama Lokal : -
Ekologi dan Habitat : Cucak kutilang kerap mengunjungi tempat-tempat terbuka, tepi
jalan, kebun, pekarangan, semak belukar dan hutan sekunder,
sampai dengan ketinggian sekitar 1.600 m dpl. Burung kutilang
acapkali berkelompok, baik ketika mencari makanan maupun
bertengger, dengan jenisnya sendiri maupun dengan
jenis merbah yang lain, atau bahkan dengan jenis burung yang
lain. Seperti umumnya merbah, makanan burung ini terutama
adalah buah-buahan yang lunak. Cucak kutilang sering
menjengkelkan petani karena kerap melubangi
buah pepaya dan pisang yang telah masak di kebun. Namun
sebaliknya burung ini menguntungkan petani karena juga
memangsa pelbagai jenis serangga, ulat dan aneka hewan kecil
lainnya yang menjadi hama tanaman.
Distribusi/ sebaran : Tersebar di China Selatan, Asia Tenggara (kecuali Malaysia),
Jawa dan Bali. Juga dapat ditemui di Sumatera, Kalimantan,
Sulawesi dan Papua.

Copshycus malabaricus - Kucica Hutan

Ordo : Passeriformes
Famili : Muscicapidae
Nama Inggris : White-rumped Shama
Nama Lokal : Murai Batu
Ekologi dan Habitat : Pemalu, berdiam di keribuan semak hutan yang lebat. Bernyanyi
secara bergairah di pagi dan petang hari dari tenggeran rendah
dengan sayap menjuntai dan ekor tegak. Berlompatan dari tanah
atau terbang pendek-pendek melalui tumbuhan bawah,
menyentakkan ekornya yang panjang pada waktu mendarat.
Distribusi/ sebaran : Tersebar di seluruh pulau Sumatera, Kalimantan, Semenanjung
Malaysia, dan sebagian pulau Jawa.


Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Pelargopsis capensis - Pekaka Emas

Ordo : Coraciiformes
Famili : Halcyonidae
Nama Inggris : The Stork-billed Kingfisher
Nama Lokal : Raja Udang
Ekologi dan Habitat : Hidup berpasangan, tetapi berburu secara soliter. Mengunjungi
sungai besar, hutan mangrove dan pantai. Duduk pada batang
mati, memantau perairan dan terbang menukik untuk menyelam
dan menyambar mangsa perairan, terutama ikan. Ketika
terganggu, akan terbang sambil mengeluarkan suara tanda
bahaya yang ribut.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Flores


Lonchura punctulata - Pipit Peking

Ordo : Passeriformes
Famili : Estrildidae
Nama Inggris : Scaly-breasted Munia
Nama Lokal : Pipit, Bondol
Ekologi dan Habitat : Mudah dijumpai di lahan budidaya bersemak terbuka, sawah,
kolam ikan, rawa-rawa, tepi jalan, dan di banyak tempat lain yang
sedikit berperdu tinggi atau bekas pohon dan padang rumput.
Dapat ditemukan sampai ketinggian 2300 mdpl. Pemakan padi
dan biji-bijian
Distribusi/ sebaran : India, Cina, Filiphina, Asia Tenggara, Semenanjung Malaysia.



Status Lingkungan Hidup Daerah Kabupaten Ketapang 2013


Kantor Lingkungan Hidup Kabupaten Ketapang

Collocalia fuciphaga - Walet Sarang Putih

Ordo : Apodiformes
Famili : Apodidae
Nama Inggris : The Edible-nest Swiftlet
Nama Lokal : Walet
Ekologi dan Habitat : Sering mencari makan di hutan, pada pohon tinggi (seperti pohon
beringin yang sedang berbuah) dan terdapat banyak tawon.
Mandi dan minum di atas air tawar dengan cara menukik
danmenceburkan diri. Berbiak di retakan batu pantai atau di
dalam gua kapur. Di Jawa juga bersarang di rumah tua atau
gudang yang sengaja dibuat untuk burung ini. Sarang seluruhnya
terbuat dari air ludah yang telah mengeras. Sarang putih yang
bersih tersebut sangat berharga, dikumpulkan dan dijual untuk
dibuat sop sarang burung walet.
Distribusi/ sebaran : Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara.


Phodilus badius - Serak Bukit

Ordo : Strigiformes
Famili : Tytonidae
Nama Inggris : The Oriental Bay Owl
Nama Lokal : Serak Bukit, Burung Hantu
Ekologi dan Habitat : Burung hutan yang jarang terdapat sampai ketinggian 1500 m.
Kebiasaan sedikit diketahui. Burung hutan malam yang pemalu.
Biasa duduk merebah pada siang hari seperti paruh-kodok.
Memakan mamalia kecil, burung, kadal, ular, katak dan serangga
besar. Berburu dari tempat bertengger, dan biasanya menangkap
mangsa di udara. Berburu di bawah kanopi hutan, dimana sayap
yang pendek dan membulat memudahkan burung ini untuk
terbang cepat diantara dahan pohon.
. Distribusi/ sebaran : Semenanjung Malaysia, Sumatera, Kalimantan dan Sunda Besar
(termasuk Nias).