Anda di halaman 1dari 25

PENANGGULANGAN KEMISKINAN

MAKALAH
Untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Kuliah
Konsep Dasar IPS







Oleh:
Riksan






UNIVERSITAS TERBUKA
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN S1 PGSD
NOVEMBER 2013


KATA PENGANTAR

Dengan mengucap rasa Syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT.
Hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan
tugas makalah dengan judul Faktor Penyebab Kemiskinan dan Mekanisme
Penanggulangan Kemiskinan di Indonesia dalam penyusunan makalah ini, kami
mencari dari media yang terkait dengan tugas makalah yang telah di berikan.
Selain media kami juga mencari informasi dengan melakukan wawancara dengan
narasumber terkait dengan judul makalah ini.
Makalah ini belum seutuhnya sempurna, masih banyak kekurangan yang
terdapat di dalamnya. Maka dari itu kritik dan saran dari pembaca, karena dengan
adanya kritikan dan saran dari pembaca itu sangat membantu kami dalam hal
penyusunan serta wawasan pengetahuan.
Untuk itu terima kasih kami ucapkan dengan tulus dan sedalam-dalamnya
kepada semua pihak yang telah banyak membantu sehingga penulisan ini selesai.


Penulis


Riksan


DAFTAR ISI

Halaman Sampul.......................................................................................................i
Kata Pengantar.........................................................................................................ii
Daftar Isi...................................................................................................................iii

BAB I Pendahuluan...............................................................................................1
a. Latar Belakang ...................................................................................................1
b. Rumusan Masalah ..............................................................................................2
c. Tujuan Pembahasan ...........................................................................................2

BAB II Pembahasan...............................................................................................3
a. Pengertian Kemiskinan ......................................................................................3
b. Mengukur Kemiskinan ......................................................................................4
c. Penyebab Kemiskinan .......................................................................................5
d. Kemiskinan Di Indonesia ..................................................................................6
e. Prioritas Untuk Pengentasan Kemiskinan ..........................................................8

BAB III KESIMPULAN ......................................................................................11

BAB IV STUDY KASUS......................................................................................13
4.1 Banyak Program, Namun Kemiskinan Tetap Tinggi..................................13
4.2 Pemerintah SBY-JK dan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia .............15
4.3 Ketika Pengentasan Kemiskinan Hanya Komoditas Politik ......................17

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................22


1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kemiskinan menjadi salah satu masalah di Indonesia sejak dulu hingga
sekarang apalagi sejak terhempas dengan pukulan krisis ekonomi dan moneter
yang terjadi sejak tahun 1997. Kemiskinan sering kali dipahami sebagai gejala
rendahnya tingkat kesejahteraan semata padahal kemiskinan merupakan gejala
yang bersifat komplek dan multidimensi. Rendahnya tingkat kehidupan yang
sering sebagai alat ukur kemiskinan pada hakekatnya merupakan salah satu mata
rantai dari munculnya lingkaran kemiskinan.
Sejak tahun 2002, sebuah tim yang terdiri dari para analis Indonesia dan
manca negara, dibawah naungan Program Analisa Kemiskinan di Indonesia
(INDOPOV) di kantor Bank Dunia Jakarta, telah mempelajari karakteristik
kemiskinan di Indonesia. Mereka telah berusaha untuk mengidentifikasikan apa
yang bermanfaat dan tidak bermanfaat dalam upaya
pengentasan kemiskinan, dan untuk memperjelas pilihan-pilihan apa saja
yang tersedia untuk Pemerintah dan lembaga- lembaga non-pemerintah dalam
upaya mereka untuk memperbaiki standar dan kualitas kehidupan masyarakat
miskin
Makalah mencoba untuk menganalisa sifat multi-dimensi dari kemiskinan
di Indonesia pada saat ini melalui pandangan baru yang didasarkan pada
perubahan-perubahan penting yang terjadi di negeri ini selama satu dekade
terakhir. Sebelum ini, Bank Dunia telah menyusun Kajian-Kajian Kemiskinan,
yaitu pada tahun 1993 dan 2001, namun kajian-kajian tersebut tidak membahas
masalah kemiskinan secara mendalam. Kajian ini memaparkan kekayaaan
pengetahuan yang dimiliki oleh Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia dan
penulis berharap bahwa kajian ini akan menjadi sumbangan penting untuk
menghangatkan diskusi kebijakan yang ada dan, pada akhirnya akan membawa
perubahan dalam penyusunan kebijakan dan pelaksanaan upaya-upaya
pengentasan kemiskinan.

2

Indonesia yang sekarang tentu saja sangat berbeda dari Indonesia satu
dekade yang lalu. Maka bukan hal yang mengejutkan apabila strategi-strategi
pengentasan kemiskinan telah berubah seiring dengan perubahan yang telah
dialami oleh Indonesia oleh karena itu dibuatlah makalah yang berjudul
Pengentasan Kemiskinan dan penulis sangat berharap bahwa kajian kemiskinan
ini dapat menjadi sumbangan berarti dalam menghadapi berbagai tantangan.

1.2 Rumusan Masalah
Dalam makalah ini penulis akan membahas tentang:
1. Apa pengertian kemiskinan?
2. Bagaimana cara mengukur kemiskinan?
3. Apa saja penyebab kemiskinan?
4. Bagaimana keadaan kemiskinan di Indonesia?
5. Apa saja yang harus diprioritaskan dalam pengentasan kemiskinan?

1.3 Tujuan Pembahasan
Tujuan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian kemiskinan
2. Mengetahui cara mengukur kemiskinan
3. Mengetahui penyebab kemiskinan
4. Mengetahui keadaan kemiskinan di Indonesia
5. Mengetahui apa saja yang harus diprioritaskan dalam pengentasan
kemiskinan.









3

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kemiskinan
Menurut wikipedia Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi
kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan , pakaian , tempat
berlindung dan air minum, hal-hal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup .
Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan
pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan
kehormatan yang layak sebagai warga negara. Kemiskinan merupakan masalah
global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif,
sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang
lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan. Istilah "negara
berkembang" biasanya digunakan untuk merujuk kepada negara-negara yang
"miskin".
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan
sehari-hari, sandang, perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan
dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan
pelayanan dasar.
Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial,
ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam
masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi. Keterkucilan
sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup
masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang
ekonomi.
Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai.
Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian
politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Sedangkan Kepala Badan Pusat Statistik , Rusman Heriawan mengatakan
seseorang dianggap miskin apabila dia tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup

4

minimal. Kebutuhan hidup minimal itu adalah kebutuhan untuk mengkonsumsi
makanan dalam takaran 2100 kilo kalori per orang per hari dan kebutuhan
minimal non makanan seperti perumahan, pendidikan, kesehatan dan transportasi.
"Jadi ada kebutuhan makanan dalam kalori dan kebutuhan non makanan dalam
rupiah. Kalau rupiahnya yang terakhir adalah Rp 182.636 per orang per bulan,"
kata Rusman Heriawan kepada BBC. Dengan definisi itu, jumlah penduduk
miskin di Indonesia tahun 2008 mencapai sekitar 35.000.000 jiwa.
Angka itu merupakan hasil survei sosial ekonomi nasional, Susenas
dengan sampel hanya 68.000 rumah tangga, padahal jumlah rumah tangga di
Indonesia mencapai 55.000.000. Menurut ahli statistik dari Institut Teknologi
Surabaya, Kresnayana Yahya, cara pandang pemerintah terhadap kemiskinan tidak
mencerminkan realitas.
"Ada yang tidak diperhitungkan, perusak-perusak kalori. Orang merokok
bisa enam sampai tujuh batang. Itu sebenarnya negatif. Dia bisa mengatakan
belanjanya sekian, tetapi di dalamnya ada enam-tujuh batang rokok," kata
Kresnayana Yahya.

B. Mengukur Kemiskinan
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu Kemiskinan
absolut dan Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set
standard yang konsisten , tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara.
Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang
makan dibawah jumlah yg cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira
2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolut sebagai hidup dengan
pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan
dibawah $2 per hari, dengan batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1 miliar
orang didunia mengkonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang didunia
mengkonsumsi kurang dari $2/hari."Proporsi penduduk negara berkembang yang
hidup dalam kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21%

5

pada 2001.Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang
hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah berkurang separuh. Tetapi ,
nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.
Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia bekembang, ada
bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju,
kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan
daerah pinggiran kota dan ghetto yang miskin. Kemiskinan dapat dilihat sebagai
kondisi kolektif masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang miskin, dan
dalam pengertian ini keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk
menghindari stigma ini, negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara
berkembang.

C. Penyebab Kemiskinan
Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai
akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan
keluarga;
penyebab sub-budaya ("subcultural"), yang menghubungkan kemiskinan
dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan
sekitar;
penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang
lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan
merupakan hasil dari struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah
sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negera terkaya per
kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai
pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik,
namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.

6

D. Kemiskinan Di Indonesia
Pengentasan kemiskinan tetap merupakan salah satu masalah yang paling
mendesak di Indonesia. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup dengan
penghasilan kurang dari AS$2-per hari hampir sama dengan jumlah total
penduduk yang hidup dengan penghasilan kurang dari AS$2- per hari dari semua
negara di kawasan Asia Timur kecuali Cina. Komitmen pemerintah untuk
mengentaskan kemiskinan tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (RPJM) 2005-2009 yang disusun berdasarkan Strategi Nasional
Penanggulangan Kemiskinan (SNPK). Di samping turut menandatangani Tujuan
Pembangunan Milenium (atau Millennium Development Goals) untuk tahun
2015, dalam RPJM-nya pemerintah telah menyusun tujuan-tujuan pokok dalam
pengentasan kemiskinan untuk tahun 2009, termasuk target ambisius untuk
mengurangi angka kemiskinan dari 18,2 persen pada tahun 2002 menjadi 8,2
persen pada tahun 2009. Walaupun angka kemiskinan nasional mendekati kondisi
sebelum krisis, hal ini tetap berarti bahwa sekitar 40 juta orang saat ini hidup di
bawah garis kemiskinan. Lagi pula, walaupun Indonesia sekarang merupakan
negara berpenghasilan menengah, proporsi penduduk yang hidup dengan
penghasilan kurang dari AS$2-per hari sama dengan negara-negara
berpenghasilan rendah di kawasan ini, misalnya Vietnam.
Ada tiga ciri yang menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama,
banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan nasional, yang
setara dengan PPP AS$1,55-per hari, sehingga banyak penduduk yang meskipun
tergolong tidak miskin tetapi rentan terhadap kemiskinan. Kedua, ukuran
kemiskinan didasarkan pada pendapatan, sehingga
tidak menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang
mungkin tidak tergolong (miskin dari segi pendapatan) dapat dikategorikan
sebagai miskin atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar serta
rendahnya indikator-indikator pembangunan manusia. Ketiga, mengingat sangat
luas dan beragamnya wilayah Indonesia, perbedaan
antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia.


7

1. Banyak penduduk Indonesia rentan terhadap kemiskinan. Angka
kemiskinan nasional sejumlah besar penduduk yang hidup sedikit saja di
atas garis kemiskinan nasional. Hampir 42 persen dari seluruh rakyat
2. Kemiskinan dari segi non-pendapatan adalah masalah yang lebih
serius dibandingkan dari kemiskinan dari segi pendapatan. Bidang-bidang
khusus yang patut diwaspadai adalah:
Angka gizi buruk (malnutrisi) yang tinggi dan bahkan meningkat pada
tahun-tahun terakhir: seperempat anak di bawah usia lima tahun
menderita gizi buruk di Indonesia, dengan angka gizi buruk tetap sama
dalam tahun- tahun terakhir kendati telah terjadi penurunan angka
kemiskinan.
Kesehatan ibu yang jauh lebih buruk dibandingkan dengan negara-negara
di kawasan yang sama, angka kematian ibu di Indonesia adalah 307
(untuk 100.000 kelahiran hidup), tiga kali lebih besar dari Vietnam dan
enam kali lebih besar dari Cina dan Malaysia hanya sekitar 72 persen
persalinan dibantu oleh bidan terlatih.
Lemahnya hasil pendidikan. Angka melanjutkan dari sekolah dasar ke
sekolah menengah masih rendah, khususnya di antara penduduk miskin:
di antara kelompok umur 16-18 tahun pada kuintil termiskin, hanya 55
persen yang lulus SMP, sedangkan angka untuk kuintil terkaya adalah 89
persen untuk kohor yang sama.
Rendahnya akses terhadap air bersih, khususnya di antara penduduk
miskin. Untuk kuintil paling rendah, hanya 48 persen yang memiliki
akses air bersih di daerah pedesaan, sedangkan untuk perkotaan, 78
persen.
Akses terhadap sanitasi merupakan masalah sangat penting. Delapan
puluh persen penduduk miskin di pedesaan dan 59 persen penduduk
miskin di perkotaan tidak memiliki akses terhadap tangki septik,
sementara itu hanya kurang dari satu persen dari seluruh penduduk
Indonesia yang terlayani oleh saluran pembuangan kotoran berpipa.


8

3. Perbedaan antar daerah yang besar di bidang kemiskinan. Keragaman antar
daerah merupakan ciri khas Indonesia, di antaranya tercerminkan dengan
adanya perbedaan antara daerah pedesaan dan perkotaan. Di pedesaan,
terdapat sekitar 57 persen dari orang miskin di Indonesia yang juga
seringkali tidak memiliki akses terhadap pelayanan infrastruktur dasar
hanya sekitar 50 persen masyarakat miskin di pedesaan mempunyai akses
terhadap sumber air bersih, dibandingkan dengan 80 persen bagi
masyarakat miskin di perkotaan. Tetapi yang penting, dengan melintasi
kepulauan Indonesia yang sangat luas, akan ditemui perbedaan dalam
kantong-kantong kemiskinan di dalam daerah itu sendiri.

E. Prioritias Untuk Pengentasan Kemiskinan
Strategi pengentasan kemiskinan yang efektif bagi Indonesia terdiri dari
tiga komponen:
Membuat Pertumbuhan Ekonomi Bermanfaat bagi Rakyat Miskin
Membuat Layanan Sosial Bermanfaat bagi Rakyat Miskin.
Membuat Pengeluaran Pemerintah Bermanfaat bagi Rakyat Miskin
Sebagai kesimpulan, masalah kemiskinan Indonesia yang terus ada dan bersifat
khas, digabung dengan prioritas pemerintah dan kemampuan fiskal untuk
menanganinya, Indonesia saat ini berada dalam posisi untuk meraih kemajuan
yang berarti dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Pertanyaannya adalah: dari
mana semua harus dimulai? Berbagai tindakan
diperlukan di beberapa bidang untuk menangani empat butir penting dalam
pengentasan kemiskinan di Indonesia yaitu:
a. mengurangi kemiskinan dari segi pendapatan melalui pertumbuhan
b. memperkuat kemampuan sumber daya manusia
c. mengurangi tingkat kerentanan dan risiko di antara rumah tangga miskin.
d. memperkuat kerangka kelembagaan untuk melakukannya dan membuat
kebijakan publik lebih memihak masyarakat miskin.
Mengingat ke-empat butir tersebut di atas, maka ada 16 tindakan berikut
merupakan prioritas untuk dilakukan dengan segera. Ke 16 tindakan itu yaitu:

9

1) Hapuskan larangan impor beras.
2) Lakukan investasi di bidang pendidikan dengan fokus pada perbaikan
akses dan keterjangkauan sekolah menengah serta pelatihan ketrampilan
bagi masyarakat miskin, sambil terus meningkatkan mutu dan efisiensi
sekolah dasar.
3) Lakukan investasi di bidang kesehatan dengan fokus pada perbaikan mutu
layanan kesehatan dasar (oleh pemerintah dan swasta) dan akses yang
lebih baik ke layanan kesehatan.
4) Suatu upaya khusus diperlukan untuk menangani angka kematian ibu yang
sangat tinggi di Indonesia.
5) Perbaiki mutu air bagi masyarakat miskin dengan menggunakan strategi
berbeda antara daerah pedesaan dengan perkotaan.
6) Tangani krisis sanitasi yang dihadapi Indonesia dan masyarakat
miskinnya.
7) Luncurkan program berskala besar untuk melakukan investasi
pembangunan jalan desa.
8) Perluas (sampai tingkat nasional) pendekatan pembangunan berbasis
masyarakat (CDD) Indonesia yang sukses.
9) Pengembangan secara utuh sistem jaminan sosial komprehensif yang
mampu menangani risiko dan kerentanan yang dihadapi oleh masyarakat
miskin dan hampir miskin.
10) Revitalisasi pertanian melalui investasi di bidang infrastruktur dan
membangun kembali riset dan penyuluhan.
11) Memperlancar sertifikasi tanah dan memanfaatkan kembali tanah gundul
dan tidak subur untuk penggunaan yang produktif.
12) Membuat peraturan ketenagakerjaan yang lebih fleksibel.
13) Perluas jangkauan layanan keuangan bagi masyarakat miskin dan
tingkatkan akses usaha mikro dan kecil ke pinjaman komersial.
14) Perbaiki fokus kepada kemiskinan dalam perencanaan dan penganggaran
di tingkat nasional untuk penyediaan layanan.
15) Jalankan program pengembangan kapasitas untuk meningkatkan

10

kapasitas pemerintah daerah dalam merencanakan, menganggarkan dan
melaksanakan program pengentasan kemiskinan.
16) Perkuat monitoring dan kajian terhadap program kemiskinan.





























11

BAB III
KESIMPULAN

Masalah kemiskinan di manapun adalah masalah yang sangat sulit untuk
diselesaikan. Berikut ada 16 cara yang dapat dilakukan untuk mengentasakan
kemiskinan tersebut yaitu:
1) Hapuskan larangan impor beras.
2) Lakukan investasi di bidang pendidikan dengan fokus pada perbaikan akses
dan keterjangkauan sekolah menengah serta pelatihan ketrampilan bagi
masyarakat miskin, sambil terus meningkatkan mutu dan efisiensi sekolah
dasar.
3) Lakukan investasi di bidang kesehatan dengan fokus pada perbaikan mutu
layanan kesehatan dasar (oleh pemerintah dan swasta) dan akses yang lebih
baik ke layanan kesehatan.
4) Suatu upaya khusus diperlukan untuk menangani angka kematian ibu yang
sangat tinggi di Indonesia.
5) Perbaiki mutu air bagi masyarakat miskin dengan menggunakan strategi
berbeda antara daerah pedesaan dengan perkotaan.
6) Tangani krisis sanitasi yang dihadapi Indonesia dan masyarakat miskinnya.
7) Luncurkan program berskala besar untuk melakukan investasi pembangunan
jalan desa.
8) Perluas (sampai tingkat nasional) pendekatan pembangunan berbasis
masyarakat (CDD) Indonesia yang sukses.
9) Pengembangan secara utuh sistem jaminan sosial komprehensif yang mampu
menangani risiko dan kerentanan yang dihadapi oleh masyarakat miskin dan
hampir miskin.
10) Revitalisasi pertanian melalui investasi di bidang infrastruktur dan
membangun kembali riset dan penyuluhan.
11) Memperlancar sertifikasi tanah dan memanfaatkan kembali tanah gundul dan
tidak subur untuk penggunaan yang produktif.
12) Membuat peraturan ketenagakerjaan yang lebih fleksibel.

12

13) Perluas jangkauan layanan keuangan bagi masyarakat miskin dan tingkatkan
akses usaha mikro dan kecil ke pinjaman komersial.
14) Perbaiki fokus kepada kemiskinan dalam perencanaan dan penganggaran di
tingkat nasional untuk penyediaan layanan.
15) Jalankan program pengembangan kapasitas untuk meningkatkan kapasitas
pemerintah daerah dalam merencanakan, menganggarkan dan melaksanakan
program pengentasan kemiskinan.
16) Perkuat monitoring dan kajian terhadap program kemiskinan.
























13

BAB IV
STUDY KASUS

4.1 Banyak Program, Namun Kemiskinan Tetap Tinggi
Ketika program subsidi langsung tunai (SLT) berakhir, banyak yang
menduga angka kemiskinan meningkat di 2007. Bank Dunia, misalnya, pada
laporan World Bank East Asia Update yang dilansir November 2006,
memperkirakan angka kemiskinan tahun depan akan meningkat setelah
berakhirnya program SLT.
"Program Subsidi Tunai Bersyarat yang akan dimulai tahun depan akan
terlalu kecil untuk meredam dampak berakhirnya SLT," kata laporan itu.
Kajian Tim Indonesia Bangkit lebih kritis lagi. Gabungan pengamat
ekonomi di tim itu menilai angka kemiskinan pasti meningkat di tahun ini
mengingat daya beli rakyat yang terus merosot. Lalu karena berakhirnya SLT, dan
tak terkendalinya harga kebutuhan pokok seperti kenaikan harga beras dan minyak
goreng serta banjir di beberapa daerah.
"Angka kemiskinan hanya akan turun dengan dua kemungkinan,
melakukan perubahan dan rekayasa metodologi perhitungan. Kedua, melakukan
perubahan atau pembersihan sampel data, yang merupakan cara yang sangat
vulgar dan manipulatif serta sangat memalukan baik secara moral maupun
intelektual," tutur pengamat ekonomi Imam Sugema. Namun, di luar dugaan
angka kemiskinan justru turun 2,13 juta orang dari tahun lalu. Dengan perubahan
garis kemiskinan dari Rp 151.997 per kapita per bulan menjadi Rp 166.697 per
kapita per bulan. Besar kecilnya jumlah penduduk miskin sangat dipengaruhi garis
kemiskinan karena penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata
pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan.
Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, kenaikan pendapatan
masyarakat yang berada di garis kemiskinan itu meningkat dibandingkan kenaikan
harga bahan pokok. Di samping itu, walau harga beras naik, namun diimbangi
dengan digelontorkannya program beras bagi masyarakat miskin. BPS menilai
walau pun SLT berakhir tetapi banyak penduduk miskin yang dapat menggunakan

14

duit yang berasal dari SLT untuk bekerja informal. Terkait kemiskinan ini, analisa
Bank Dunia menunjukkan, perbedaan antara orang miskin dan yang hampir
miskin di Indonesia sangat kecil.
Kerentanan untuk jatuh miskin sangat tinggi di Indonesia. Bank Dunia
menyebutkan, ada tiga ciri menonjol dari kemiskinan di Indonesia. Pertama,
banyak rumah tangga yang berada di sekitar garis kemiskinan yang setara dengan
pendapatan perkapita US$ 1,55 per hari. Sehingga banyak penduduk yang
meskipun tergolong tidak miskin, rentan terhadap kemiskinan.
Kedua, ukuran kemiskinan didasarkan pada pendapatan sehingga tidak
menggambarkan batas kemiskinan yang sebenarnya. Banyak orang yang mungkin
tidak tergolong miskin dari segi pendapatan, tapi dikategorikan sebagai miskin
atas dasar kurangnya akses terhadap pelayanan dasar. Serta rendahnya indikator-
indikator pembangunan manusia.
Ketiga, mengingat sangat luas dan beragamnya wilayah Indonesia,
perbedaan antar daerah merupakan ciri mendasar dari kemiskinan di Indonesia.
Sedangkan dana yang dikucurkan untuk program kemiskinan, dinilai tidak
menyentuh langsung ke permasalahan kemiskinan. Anggaran kemiskinan sebesar
Rp 54 triliun di 2007 dan Rp 62 triliun di 2008, menurut Imam Sugema, dari nilai
Rp 54 triliun itu yang langsung bersentuhan dengan kemiskinan hanya Rp 5
triliun. Meski demikian, walau dari sisi statistik kemiskinan di Indonesia turun,
tetapi kenyataannya, kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan miskin di
Indonesia masih tajam.
Besarnya jumlah penduduk miskin itu, karena masih besarnya angka
pengangguran di Indonesia. Tidak terserapnya angkatan kerja, memang
disebabkan lambatnya laju ekspansi sektor usaha. Data BPS menunjukkan, jumlah
angkatan kerja di Indonesia pada Februari 2007 mencapai 108,13 juta orang atau
bertambah 174 juta orang dibanding angkatan kerja Agustus 2006 yang tercatat
106,39 juta. Dari penambahan angkatan kerja itu, jumlah penduduk Indonesia
yang bekerja pada Februari tahun ini mencapai 97,58 juta orang. Dengan begitu,
jumlah pengangguran di Indonesia masih mencapai 10,55 juta orang hingga
Februari 2007.

15

Bagaimana pun juga, jika pemerintah masih belum mampu menggerakkan
sektor riil, maka pengangguran masih akan membengkak karena angkatan kerja
terus bermunculan dan jumlah penduduk yang belum bisa diatasi seperti terlihat
pada data periode Maret 2006 populasi penduduk sebesar 221,328 juta orang
menjadi 224,177 juta orang di 2007.
Tugas berat bagi pemerintah saat ini maupun pemerintah yang selanjutnya
memang mengurangi angka kemiskinan dan pengangguran. Tentu kita
mengharapkan, pemimpin-pemimpin negara ini tidak lagi terpecah-pecah dengan
beragam keinginan partai melainkan menjadi satu untuk bersama-sama mengatasi
masalah kemiskinan dan pengangguran ini.

4.2 Pemerintahan SBY-JK dan Pengentasan Kemiskinan di Indonesia
Oleh :Bawono Kumoro 10-Des-2008, 22:23:46 WIB [www.kabarindonesia.com]
KabarIndonesia - Peluang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk
memenangkan pemilihan presiden (pilpres) 2009 belum sepenuhnya aman.
Peluang SBY untuk terpilih kembali akan aman bila kepuasan publik terhadap
kinerjanya berada di atas 60%. Sebaliknya, SBY akan sangat mungkin dikalahkan
jika kepuasan publik atas kinerja pemerintahannya berada di bawah 50%.
Demikian hasil survei terbaru Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang
dilakukan pada tanggal 8-20 September 2008. Survei ini melibatkan 1.239
responden dengan toleransi kesalahan 2,8% pada tingkat kepercayaan 95%. Sulit
dipungkiri bahwa peluang SBY pada pilpres 2009 sangat bergantung pada kinerja
pemerintahannya di bidang ekonomi, terutama soal pengentasan kemiskinan.

Dua Paradigma
Ada semacam kesepakatan luas, jika pengentasan kemiskinan menjadi
motif utama dari kebijakan pembangunan, maka pengadaan dan peningkatan
penghasilan orang miskin menjadi tujuan terpenting seluruh kegiatan. Namun,
dalam kaitan itu, ada dua paradigma berbeda tentang cara pencapaiannya.



16

Pertama, keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah obat paling mujarab
untuk mengentaskan kemiskinan karena akan menyerap banyak tenaga kerja.
Namun, realitas empiris menunjukkan hal yang sebaliknya. Hal itu tak lain
disebabkan oleh maraknya cara berproduksi padat modal dan hemat tenaga kerja.

Kedua, keyakinan bahwa orang miskin harus dibantu untuk mendapatkan
penghasilan. Sektor usaha kecil dan menengah (UKM) pun diyakini sebagai sendi
utama perekonomian rakyat. Asumsinya ialah ketika persamaan kesempatan
dengan usaha padat modal tersedia, maka usaha kecil menengah dipercaya akan
mampu meningkatkan investasi, pengembangan usaha, dan penghasilan.
Sayangnya, sebagimana paradigma pertama, belum ditemukan bukti-bukti empiris
yang menyakinkan guna mendukung kebenaran asumsi tersebut. Berpijak dari
kedua paradigma di atas, agaknya memang tidak ada resep instan yang dapat
dijadikan sebagai sebuah pegangan pasti dalam kebijakan pengentasan
kemiskinan.

Empat Acuan
Meskipun demikian, penulis berpandangan ada beberapa hal yang dapat
dijadikan acuan bagi pemerintahan SBY-JK guna memaksimalkan upaya
pengetasan kemiskinan dalam sisa satu tahun masa pemerintahannya.

Pertama, pengetasan kemiskinan lewat pengadaan lapangan kerja harus sangat
mempertimbangkan tingkat pengembangan industri dan integrasi sebuah negara di
pasar dunia. Negara seperti Indonesia yang tingkat pertumbuhan industrinya
belum maju dan sektor informalnya masih sangat mendominasi, perlu
mempertimbangkan strategi yang pas. Hasrat untuk mampu bersaing dalam pasar
global selayaknya diimbangi dengan berbagai upaya untuk mendukung usaha
kecil sebagai basis industrialisasi.

Kedua, negara berkembang dengan potensi pasar yang luas seperti Indonesia
sangat rentan diintervensi oleh lembaga-lembaga keuangan internasional (baca:
World Trade Organization, International Monetary Fund, dan World Bank) serta

17

negara-negara industri maju untuk membuka pasarnya dan menghilangkan
subsidi. Jika permintaan itu dipenuhi, maka tidak pelak lagi akan berdampak pada
anjloknya tingkat upah pekerja yang selanjutnya potensial berujung pada
meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK). Itu berarti jumlah orang
miskin di Indonesia akan semakin bertambah banyak.

Ketiga, kesempatan yang sama harus diberikan dalam persaingan antara usaha
kecil dan menengah padat modal maupun antar usaha kecil itu sendiri. Pemberian
kesempatan yang sama tersebut tentunya harus diimplementasikan lewat berbagai
kebijakan dan regulasi.

Keempat, pemetaan masalah dan potensi sebuah negara serta strategi
pembangunan yang spesifik hanya akan dapat diterima luas jika hal tersebut
dilakukan dengan melibatkan seluruh lapisan sosial ekonomi masyarakat,
terutama kaum tak berpunya. Jadi, tak hanya melibatkan para pengusaha atau
kaum berpunya saja. Dengan mengacu pada empat hal di atas, dalam kaitan
perumusan kebijakan pengetasan kemiskinan, maka Indonesia diharapkan dapat
mencapai salah satu tujuan Millenium Development Goals (MDGs), yaitu
mengurangi separuh jumlah penduduk miskin. MDGs merupakan proyek
kemanusiaan yang dicanangkan oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) selama
kurun waktu lima belas tahun (2000-2015). MDGs disepakati oleh seluruh
anggota PBB, termasuk Indonesia. Dengan demikian hanya tujuh tahun sisa waktu
yang dimiliki oleh Indonesia untuk mengurangi separuh jumlah penduduk miskin.

4.3 Ketika Pengentasan Kemiskinan Hanya Komoditas Politik
Written by Redaksi Web Tuesday, 24 March 2009 14:07 Oleh: Yusnita H SH
Kampanye terbuka Pemilu 2009 akan dimulai pertengahan bulan ini
setelah sejak beberapa bulan lalu hanya bisa dilakukan dengan kampanye terbatas
dalam bentuk pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, media massa cetak dan
elektronik, serta penyebaran bahan kampanye dan alat peraga di tempat umum
(UU No. 10/2008 tentang Pemilu DPR, DPD dan DPRD).

18

Dalam kampanye ini, sebanyak 38 partai yang resmi mengikuti pemilu
secara nasional sudah mulai menawarkan dagangannya, dan salah satu yang
terlaris adalah kemiskinan. (Angka) kemiskinan akan menjadi dagangan, baik itu
untuk memoles lapak sendiri, yakni dengan menawarkan program, janji, tentang
penyelesaian problem kemiskinan. Selain itu, tak lupa menunjuk atau bahkan
menjelekkan dagangan orang lain, dalam rupa mengritik, mengoreksi, dan
mencela rezim sebelumnya serta partai saingan saat ini, dalam hal program
sejenis.

Genealogi Pemberantasan Kemiskinan
Menurut Frances Fox Piven dan Richard A Cloward (Regulating the Poor:
The Functions of Public Welfare, Vintage Books 1993), kemiskinan meliputi tiga
aspek (1) kekurangan materi dan kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar,
yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang, perumahan, dan
pelayanan kesehatan; (2) tidak terpenuhinya kebutuhan sosial, termasuk
keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi
dalam masyarakat, termasuk dalam pendidikan dan informasi; dan (3) kurangnya
penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat
berbeda-beda, tergantung konteks politik dan ekonomi suatu negara
Kemiskinan jamak terjadi di negara berkembang, namun eksis pula di
negara maju dalam bentuk komunitas tunawisma dan ghetto (daerah kumuh). Di
Indonesia sendiri, menurut data Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan
(dibentuk tahun 2005 melalui Perpres Nomor 54, lihat www.tkpkri.org),
Pemerintah telah melaksanakan program penanggulangan kemiskinan sejak tahun
1960-an melalui strategi pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yang tertuang dalam
Pembangunan Nasional Berencana Delapan Tahun (Penasbede). Namun program
tersebut terhenti di tengah jalan akibat krisis politik tahun 1965. Adapun pada era
Orba, melalui Repelita dilakukan strategi khusus menuntaskan masalah
kesenjangan sosial-ekonomi, yang mengerucut menjadi program Inpres Desa
Tertinggal ( IDT). Namun, usaha Orba ini pun gagal akibat krisis ekonomi dan

19

politik tahun 1997.

Selanjutnya, era reformasi menelurkan program Jaring Pengaman Sosial
(JPS) Keppres Nomor 190 Tahun 1998. Berbagai usaha di atas belum
menunjukkan hasil yang memuaskan. Data UNDP menyebutkan, Indeks
Kemiskinan Manusia (Human Poverty Index-HPI) yang memfokuskan
perhatiannya pada proporsi manusia yang berada di bawah ambang batas dimensi
pembangunan manusia yang sama dengan indeks pembangunan manusia-panjang
umur dan hidup sehat, memiliki akses terhadap pendidikan, dan standar hidup
yang layak, menyimpulkan Nilai HP-1 untuk Indonesia, yaitu 18,5, berada di
urutan 41 dari 102 negara berkembang (data tahun 2005). Indeks ini semakin
buruk dalam krisis energi dan pangan saat ini, ketika harga melonjak dan
membuat pemenuhan kebutuhan dasar (pangan, pendidikan, kesehatan) semakin
tak terjangkau

Logika Iklan Kampanye vs Marhaenisme
Sebagai sebuah kondisi laten dalam denyut nadi bangsa, kemiskinan akan
tetap menjadi perhatian semua stakeholder, khususnya terkait kampanye Pemilu
2009. Pemahaman terhadap kondisi objektif kemiskinan, ditambah data-data dan
fakta, serta diolah dengan logika-kreatif iklan akan menghasilkan "dagangan"
yang dibungkus indah dalam retorika dan advertensi.
Lihat saja kampanye beberapa tokoh yang sejak beberapa saat lalu sudah
berseliweran di media elektronik. Prabowo misalnya, mewacanakan kemiskinan
untuk disikapi dengan usaha produktif dan pemberdayaan masyarakat kecil
(petani), dengan "mari kita beli bahan pangan bergizi dari petani kita...", sehingga
"macan Asia (Indonesia-pen) akan mengaum kembali". Sedangkan Wiranto,
sempat menimbulkan kegerahan politik dengan kritikan pedasnya terhadap rezim
SBY soal janji tidak akan menaikkan harga BBM. Lagi-lagi anchor point-nya
adalah persoalan kemiskinan, yakni jangan bebani rakyat yang sudah miskin

20

dengan kebijakan yang tidak populer dan memperparah keadaan.
Logika iklan adalah bagaimana menjadikan dagangan laku terjual, dengan
segala cara. Jamak terjadi, iklan mempergunakan data-fakta secara berlebihan dan
melenceng, mengecoh, mengelabui, dan bahkan menipu konsumen. Seperti
diungkap oleh Vilhjalmur Stefansson (Discovery, 1964), "What is the difference
between unethical and ethical advertising? Unethical advertising uses falsehoods
to deceive the public; ethical advertising uses truth to deceive the public", yakni,
setiap iklan akan menggunakan kebenaran ataupun kekeliruan untuk mengelabui
public.
Yang perlu kita waspadai adalah penyesatan publik lewat tema kemiskinan
ini, memoles janji untuk memikat suara rakyat. Padahal, kita sudah kenyang
dengan pengalaman sulitnya menagih janji yang terucap dalam kampanye.
Kepedulian pada orang miskin hanya temporer, dangkal, dan semu.
Belum ada upaya menggodok gagasan pemberantasan kemiskinan ini
menjadi sesuatu yang heroik namun realistis, seperti halnya ketika Sukarno
berjumpa dengan petani miskin Pak Marhaen, yang menghasilkan marhaenisme
yang secara ideologis-praksis digunakan untuk menyemangati rakyat agar
mandiri.

Mengaudit Program Anti-Kemiskinan dan Peran Masyarakat Sipil
Pemilu 2009 akan mengantar berkuasanya sebuah rezim, merupakan
panggung pembuktian janji dan pelaksanaan konsep serta program kerja. Entah
apapun bentuknya, dan lembaga apa yang bakal melaksanakan program pro-
kemiskinan, yang terpenting bagi rakyat adalah transparansi dan audit progress
apa yang telah tercapai. Oleh karenanya, lembaga pelaksana program ini musti
independen (seperti halnya KPK), sehingga bebas dari tekanan pemerintah
maupun oposan, namun merengkuh semua pihak untuk berperan-serta. Berbagai
program tersebut, selain up-bottom, juga meniscayakan gerakan bottom-up yang
memberdayakan masyarakat sipil untuk mengangkat diri sendiri.

21

Terakhir, berikut beberapa entry-point yang bisa menjadi panduan bagi
semua stakeholder dalam program pro-kemiskinan: (1) revitalisasi dan rejuvenasi
program pro-kemiskinan di era lalu yang mempunyai nilai positif, seperti
kelompok tani & nelayan (menggalang kemandirian dan self-learning); (2)
penguatan social security system (Jaring Pengaman Sosial), yakni harus
ditingkatkan hingga jaminan penuh terhadap kebutuhan dasar, dan dilengkapi
dengan penyediaan lapangan kerja dasar (pemberian "kail" dan "umpan"); (3)
kemandirian ekonomi rakyat berupa koperasi yang kuat dan akuntabel; (4) proyek
padat karya, terutama untuk infrastruktur, dengan fokus daerah terpencil dan luar
Jawa, yang dilaksanakan secara terencana dan akuntabel; (5) peran kelas
menengah dan UKMM, yang perlu ditopang dengan kebijakan yang pro-rakyat,
guna menyerap lebih banyak lagi lapangan kerja; (6) gerakan berdikari,
mencukupi sendiri dengan produk dalam negeri, ekspor barang jadi yang bernilai
tambah, dan pendayagunaan local genius secara optimal.














22


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Kemiskinan
http://sofian.staff.ugm.ac.id/
http://www.bbc.co.uk/
http://www.harian-global.com/
http://www.kabarindonesia.com/
http://yuliandriansyah.files.wordpress.com/