Anda di halaman 1dari 9

Tugas

HUKUM BISNIS

Honda Karisma VS Tossa Krisma


Kekalahan sang penemu merek

OLEH :

Manik cinderano / 14971

Fakultas Ekonomi
Universitas Atma Jaya Yogyakarta
2009

1
Kasus sengketa Honda Karisma dan Tossa Krisma
Kekalahan sang penemu merek
LATAR BELAKANG

Krisma dan Karisma hampir sama pengucapannya. Tapi, keduanya memiliki


perbedaan. Krisma adalah merek sepeda motor China buatan PT Tossa Sakti, sedangkan
Karisma merek sepeda motor produksi PT Astra Honda Motor.
Sepeda motor merek Krisma belum dikenal oleh masyarakat luas. Peredarannya
masih terbatas di beberapa wilayah saja. Kalaupun ada di Jakarta, jumlahnya relatif
sedikit.
Sepeda motor China itu lebih mudah ditemukakan di beberapa kota di Jawa
Tengah karena basis produksinya memang berada di provinsi itu.
Meskipun masih relatif kecil, produsen sepeda motor itu sudah berani menantang
PT Astra Honda Motor (PT AHM)-yang sudah terkenal sebagai salah satu produsen
sepeda motor terbesar di Tanah Air-soal penggunaan merek dagang Karisma.
"Saya memang pernah melihat sepeda motor merek Krisma di Ibu Kota. Jika
dibandingkan dengan Honda Karisma, memang ada kemiripan bentuknya. Tapi, saya
yakin kualitas Honda Karisma yang sudah digunakan selama dua tahun terakhir ini jauh
lebih baik dibandingkan merek motor China ini,"kata Nurrahman, salah seorang
pengguna KarismaX125D, yang tinggal di Klender, Jakarta Timur.
Menurut dia, jumlah peredaran sepeda motor Krisma relatif sedikit. "Soalnya saya
jarang sekali melihat motor ini di Jakarta," tutur salah satu staf anggota DPR.
Realisasi dan proyeksi penjualan AHM Rata-rata per bulan
Model 2004 2005
Supra Fit 100.000 120.000
Supra X 100cc 25.000 -
Supra X 125cc 0 90.000
Kharisma X 125cc 75.000 20.000
Sport 17.000 20.000

Sumber : AHM, 2005

PERMASALAHAN

2
PT AHM memang tidak bisa dibandingkan dengan Tossa Krisma. Produksi
sepeda motor Karisma PT AHM setiap tahun mencapai 1.000.000 unit. Pemasarannya
pun tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
PT AHM adalah perusahaan joint venture sebagai produsen dan distributor sepeda
motor terbesar di Indonesia. Jumlah karyawannya pun mencapai sekitar 11.000 orang.
Perusahaan patungan itu juga telah memberikan konstribusi besar terhadap perekonomian
Indonesia seperti pembayaran pajak usaha, pajak pendapatan, dan pajak penghasilan.
Bisa dikatakan bahwa perusahaan itu merupakan salah suatu aset nasional.
Masalahnya bukan pada perbandingan skala binis usaha mereka. Tapi,
perseteruan dua produsen sepeda motor itu terletak pada pertikaian hukum soal
kepemilikan merek dagang Karisma.
Dua produsen sepeda motor itu terlibat persengketaan merek dagang Karisma
sejak Februari 2005. Cheng Sen Djiang Gunawan Chandra, pemilik sepeda motor merek
Krisma, melayangkan gugatan kepada PT AHM melalui Pengadilan Niaga Jakarta. Dia
diwakili oleh kuasa hukumnya dari law firm Amroos & Partners.
PT AHM dituding oleh Gunawan menggunakan merek dagang Karisma tidak
sesuai dengan yang terdaftar di Direktorat Merek Ditjen Hak Kekayaan Intelektual
Departemen Hukum dan HAM.
Merek Karisma, Karisma 125 dan Karisma 125 D terdafatar atas nama PT AHM pada
Direktorat Merek Ditjen Hak Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM di
bawah nomor pendaftaran masing-masing 520497, 520150 dan 520496 pada Oktober
2002.
Merek Karisma 125 D terdaftar untuk kelas/jenis barang 12, yang mencakup
perlindungan untuk segala macam peralatan atau kendaraan yang begerak di darat, udara
dan atau air, suku cadang serta asesorisnya yaitu sepeda, sepeda motor dan segala
kendaraan roda dua dan lain-lain. Perlindungan terhadap merek itu baru berakhir pada
2011.

PEMBAHASAN

3
Lubang hukum
Merek Karisma yang terdaftar itu menggunakan karakter huruf balok hitam putih,
berdiri tegak dan hurufnya berdiri sendiri, tidak menyambung satu sama lain. Sedangkan
yang digunakan oleh PT AHM saat ini adalah merek Karisma, yang susunan hurufnya
miring dan warna warni. Ada sentuhan seni dan desain pada karakter hurufnya. Tapi,
justru hal itu menjadi lubang hukum bagi Tossa Krisma untuk menggugat PT AHM.
Setelah melalui beberapa kali sidang, majelis hakim yang diketuai oleh Agoes Soebroto,
hakim Pengadilan Niaga Jakarta pada awal pekan ini akhirnya memutuskan untuk
mengabulkan semua permohonan Gunawan Chandra.
Pertimbangan hakim dalam mengabulkan permohonan Gunawan antara lain PT
AHM tidak menggunakan merek Karisma sesuai dengan yang terdaftar pada Direktorat
Merek Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HaKI) Departemen Hukum dan HAM.
Artinya, merek Karisma yang sudah terdaftar di Direktorat Merk Ditjen HaKI
Departemen Hukum dan HAM atas nama PT AHM harus dihapus dari daftar, sehingga
produsen sepeda motor itu-jika vonis itu sudah memiliki kekuatan hukum tetap-tidak
boleh lagi menggunakan merek Karisma pada sepeda motor Honda.
PT AHM tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya terhadap putusan
pengadilan itu. "Sangat ironis bahwa pihak yang menciptakan desain dan seni lukis justru
tidak dilindungi hukum. Di manakah rasa keadilan hukum kita,"kata Kristanto, head
corporate communication PT AHM..
Menurut Kristanto, putusan hakim yang memenangkan Gunawan Chandra pada sidang
tahap pertama telah mengecewakan PT AHM. "Kami tidak bisa menerima putusan
majelis hakim pengadilan niaga. Kami akan melakukan upaya hukum dengan
mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung."
Putusan hakim pengadilan tingkat pertama itu memang belum final karena PT
AHM masih memiliki hak untuk mengajukan keberatan melalui kasasi ke Mahkamah
Agung. "Kami memandang putusan tersebut belum mempunyai kekuatan hukum tetap
dan kami masih mempunyai perlindungan hukum. Kami akan mengkonsolidasikan
dengan pihak lawyer,"ujarnya.
PT AHM, katanya, berpendapat putusan majelis hakim tersebut akan menjadi
preseden buruk bagi iklim persaingan usaha di Indonesia di mana hal ini akan membuka

4
peluang bagi para penjiplak merek untuk menggunakan pasal 61 dan 63 Undang-Undang
No.15/2002 tentang Merek sebagai sarana untuk melakukan penyelundupan hukum.
Pasal 61 Ayat 2b berbunyi: Penghapusan pendaftaran merek atas prakarsa
Direktorat Jenderal dapat dilakukan jika; merek digunakan untuk jenis barang dan atau
jasa yang tidak sesuai dengan jenis barang atau jasa yang dimohonkan pendaftaran
termasuk pemakaian merek yang tidak sesuai dengan merek yang didaftar.
Pasal 63 berbunyi: Penghapusan pendaftaran merek berdasarkan alasan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 61 ayat 2 huruf a dan b dapat pula diajukan oleh
pihak ketiga dalam bentuk gugatan kepada pengadilan niaga.
Kristanto menambahkan bahwa dalam keputusannya majelis hakim tidak
mempertimbangkan fakta bahwa PT Tossa Shakti diduga merupakan pihak ketiga yang
beritikad tidak baik.
Sebelumnya, katanya, Gunawan Chandra juga sempat menjiplak mentah-mentah
merek Karisma untuk sepeda motornya. Tapi, setelah ditegur, akhirnya dia membuat
surat pernyataan yang antara lain isinya minta maaf dan menarik penggunaan merek itu.
"Sekarang dia [Gunawan Chandra] menggunakan merek dagang Krisma, yang
bunyinya sama dengan Karisma milik Honda. Ini jelas ada itikad tidak baiknya,"kata
Kristanto.
Hakim, lanjut Kristanto, tidak mempertimbangkan segala usaha seperti promosi dll yang
telah dilakukan oleh PT AHM selaku pihak yang menciptakan desain dan dan seni lukis
dari Karisma sebagai merek sepeda motor Honda.

Dampak psikologis
Putusan pengadilan telah menimbulkan dampak psikologis kepada para konsumen
Honda. "Dampak psikologis itu jelas ada, tapi susah diukur. Yang jelas, putusan hakim
itu pasti ada pengaruhnya ke konsumen Honda."
Rahman, salah seorang konsumen sepeda motor merek Honda Karisma mengaku kaget
mengetahui merek Karisma yang dipakai Honda kalah di pengadilan niaga oleh merek
motor Krisma.
Dia menilai persoalan hukum yang tengah dihadapi oleh PT AHM sedikit banyak
akan berpengaruh pada image produk andalan Honda di kelas 125 cc.

5
Namun demikian, menurut Rahman, secara perlahan pasar Karisma memang akan
tergerus oleh produk terbaru yang belum lama ini dirilis PT Astra Honda Motor, yaitu
Honda Supra X125.
Dia menilai motor bebek ini sebenarnya memiliki basis mesin yang sama dengan
Karisma saudara tuanya.
"Saya kira Supra X125 cc ini bagian dari branding yang dilakukan Honda. Tapi
saya juga tidak tahu, apakah produk ini khusus disiapkan untuk mengantisipasi persoalan
hukum yang tengah dihadapi Karisma?" ujarnya bertanya-tanya.
Terlepas dari persoalan hukum yang membelit Karisma, dia memprediksi harga
sepeda motor Karisma seken alias bekas dipastikan akan turun di pasaran. Namun dia
menegaskan hal itu bukan dipicu oleh persoalan hukum dengan motor China Krisma.
"Koreksi harga terhadap Karisma, semata-mata terjadi karena munculnya Honda Supra X
125 yang sama-sama diproduksi Honda,"katanya.
Rahman sempat ragu mengenai nasib motor Karisma yang dia beli dua tahun lalu.
Dia bertanya apakah motor Karisma yang sudah beredar di pasar akan ditarik dari pasar
atau Honda malah akan meghentikan produksi merek motor ini.
Dia agak lega saat diberi tahu masih ada peluang bagi Karisma menang di pengadilan
karena PT AHM telah mengajukan kasasi atas putusan Pengadilan Niaga Jakpus. "Jika
ada rezeki saya berencana akan ganti dengan Supra X yang terbaru," ungkapnya.
Di segmen motor bermesin 125 cc, Honda melalui Karisma X tahun lalu
membukukan angka penjualan rata-rata 57.500 unit per bulan atau dengan pangsa pasar
motor 125cc sebesar 61%. Melalui model terbaru Supra X 125cc yang dipasarkan dengan
harga mulai Rp12,5 juta (on the road), AHM menargetkan peningkatan penguasaan
pangsa pasar di segmen ini menjadi 71%.
Selain kedua merek tersebut, Honda saat ini memasarkan sepeda motor jenis
bebek lain yaitu Supra Fit 100cc. Sementra di segmen sport, Honda memiliki Tiger
200cc, GL Max, dan Mega Pro 160cc. Merek Supra X sebelumnya dikenal masyarakat
untuk motor bebek Honda yang bermesin 100 cc. Namun sejak merilis Supra X125 CC,
Supra X 100 cc tidak lagi diproduksi.

6
PT AHM menunjuk Amris Pulungan, praktisi dari kantor hukum Pulungan
Winston & Partners untuk menangani perkara itu. "Kami keberatan atas putusan hakim
itu dan menyatakan akan mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung,"kata Amris.
Menurut dia, majelis hakim tidak mempertimbangkan semua bukti-bukti yang sudah
diajukan ke muka persidangan. "Saya belum bisa memberikan komentar lebih lanjut
karena akan fokus pada penyusunan memori kasasi,"tambahnya.
Sementara itu Amalia Rooseno, managing partner Amroos & Partners,
mengemukakan bahwa kasus penghapusan merek dagang atas permintaan pihak ketiga
jarang terjadi "Biasanya gugatan penghapusan merek dilakukan oleh Ditjen Hak
Kekayaan Intelektual Departemen Kehakiman dan HAM atau atas pemilik merek
sendiri," katanya kepada Bisnis.

7
KESIMPULAN

Kasus persengketaan merek dagang tersebut patut manjadi cerminan bagi


pengusaha dan sebagai peringatan kepada mereka supaya berhati-hati dengan pendaftaran
merek dagang. Artinya, merek yang didaftarkan haruslah sama dengan yang digunakan.
Sebab, merek kini tidak lagi hanya sebagai pembeda antara produk yang satu
dengan lainnya. Tapi, sudah merupakan aset dan strategi bagi perusahaan untuk bersaing
di pasar.

8
DAFTAR PUSTAKA

Bisnis Indonesia, Perdagangan, Rabu, 22/06/2005.