Anda di halaman 1dari 13

KERANGKA ACUAN KERJ A

KEGIATAN PENGOLAHAN DATA


PETA CITRA SATELITE KOTA BIMA












TAHUN ANGGARAN 2014
BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN KOTA BIMA
PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 1

I. LATAR BELAKANG
Pengaturan dan pengendalian tata ruang merupakan salah satu tugas dan
kewenangan pemerintahan, yang pelaksanaannya dilakukan dengan melibatkan
masyarakat secara aktif sebagaimana yang telah digariskan dalam Undang-
Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dan Peraturan
Pemerintah Nomor 34 Tahun 2009 tentang Pedoman Perencanaan Kawasan
Perkotaan.
Peta merupakan visualisasi ataupun penggambaran dua dimensi dari
suatu daerah atau wilayah. Dengan suatu peta, gambaran dua dimensi yang
berkaitan dengan letak, posisi ataupun keterkaitan ruang suatu objek terhadap
objek lainnya. Dengan demikian pemahaman manusia terhadap suatu ruang
dari suatu daerah ataupun wilayah akan menjadi lebih baik, sedemikian
sehingga kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan ataupun dialokasikan pada
suatu ruang dapat direncanakan terlebih dahulu. Dengan adanya perencanaan
pemanfaatan ataupun pengalokaslan ruang secara baik, maka konflik-konflik
penguasaan ruang dapat dihindari. Dan terlebih dari itu konflik yang mengarah
pada permasalahan yang lebin besar dapat dicegah dan diredam.
Perencanaan Tata Ruang wilayah merupakan suatu upaya mencoba
merumuskan usaha pemanfaatan ruang secara optimal dan efisien serta lestari
bagi kegiatan usaha manusia di wilayahnya yang berupa pembangunan sektoral,
daerah, swasta dalam rangka mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat
yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Penyusunan tata ruang merupakan tugas besar dan melibatkan berbagai
pihak yang dalam menjalankan tugas tidak terlepas dari data spasial. Data
spasial yang dibutuhkan dalam rangka membuat suatu perkiraan kebutuhan
atau pengembangan ruang jangka panjang adalah bervariasi mulai dari data
yang bersifat umum hingga detail. Bentuk data spasial untuk kegiataan
penataan ruang umumnya berupa peta digital dan peta analog yang masing-
masing mempunyai karakteristik dan spesifikasi yang berbeda, dimana jenis
dan ruang lingkup serta kedetailan rencana tata ruang sangat menentukan
Berkaitan dengan kesiapan data spasial untuk mendukung tata ruang, ada
beberapa titik kritis yang perlu mendapatkan perhatian kaitannya dengan
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 2

prosedur kerja antara lain:
1. Belum adanya format data dan skala peta dasar yang baku untuk
penyusunan tata ruang dalam berbagai tingkat. Ada perbedaan format
baku peta dengan format operasional, demikian juga skala peta dikaitkan
dengan jenis data yang harus digunakan dan prosedur pengolahan data.
2. Pengalaman menunjukkan bahwa belum memadainya kesadaran akan
pentingnya penyediaan data spasial yang akurat dari kalangan pengguna.
Data spasial yang akurat tidak dilihat sebagai komoditas yang strategis
untuk kepentingan jangka panjang.
3. Pembuatan atau penyusunan data spasial skala 1 : 50.000 hingga 1 : 1.000
untuk tata ruang detail dilakukan dengan anggapan peta sudah tersedia
dan tidak disediakan alokasi biaya untuk pembuatan peta tersebut.
Dampaknya adalah peta yang digunakan sudah kadaluarsa.
4. Pada berbagai rencana kegiatan, ketelitian peta yang dibutuhkan kadang-
kadang bukan merupakan hal yang utama, yang diutamakan adalah
penyebaran temanya. Informasi lokasi dan batas-batas fisik lebih
diutamakan (bukan kepastian koordinat), sedangkan dalam beberapa hal
misalnya infrastructure management kepastian lokasi harus dicirikan
dengan ketepatan koordinat.
Kelengkapan dan kebenaran (kualitas) input data spasial akan sangat
berpengaruh pada hasil atau keluarannya. Tanpa adanya data spasial yang
memadai dalam arti kualitas planimetris dan informasi kualitatif, maka proses
pengambilan keputusan tidak dapat dilaksanakan secara benar dan
bertanggung jawab.
Lebih lanjut lagi pentingnya peran peta telah diformalkan secara legal,
yaitu melalui UU No 24/1992 maupun UU No. 26/2007. Menurut undang-
undang ini peta dari suatu daerah ataupun wilayah diperlukan untuk mencapai
ketepatan penunjukkan ruang sesuai dengan cita-cita pembangunan nasional.
Peta memiliki peran strategis sebagai media penyaji dan media visualisasi bagi
dokumen-dokumen perencanaan daerah. Dengan demikian peran peta menjadi
sangat strategis untuk menjaga konsistensi perkembangan pembangunan agar
ada keserasian perkembangan dengan wilayah sekitarya secara keseluruhan.
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 3

Peta yang digunakan sebagai acuan dasar dalam penyusunan rencana
pembangunan daerah sangatlah penting perannya, terutama dalam usaha
menghasilkan dokumen perencanaan yang benar-benar dapat digunakan
sebagai pegangan/operasional (dokumen RTRW, RDTRK, RTBL, RTRK) ataupun
basis pembangunan wilayah, arahan-arahan pembangunan sektoral wilayah,
sehingga peran dan fungsi wilayah dikembangkan sesuai dengan daya dukung
dan kondisi alam, geografis serta segala potensi daya alam yang dikandungnya.
Bima adalah salah satu daerah yang ada di Propinsi Nusa Tenggara Barat
(NTB) tepatnya berada diujung timur Pulau Sumbawa. Bima berbatasan dengan
: sebelah timur berbatasan dengan Selat Sape, disebelah utara berbatasan
dengan Laut Indonesia, sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Dompu,
sebelah Selatan berbatasan dengan Samudra Hindia dan Kota Bima dikelilingi
oleh wilayah Kabupaten Bima. Pada tahun 2002 wajah Bima kembali di
mekarkan sesuai amanat Undang-undang Nomor 13 tahun 2002 melaui
pembentukan wilayah Kota Bima. Hingga sekarang daerah yang terhampar di
ujung timur pulau sumbawa ini terbagi dalam dua wilayah administrasi dan
politik yaitu Pemerintah kota Bima dan Kabupaten Bima. Kota Bima saat ini
telah memliki 5 kecamatan dan 38 kelurahan.
Sebagai sebuah daerah yang baru terbentuk, Kota Bima memiliki
karakteristik perkembangan wilayah yaitu: pembangunan infrastruktur yang
cepat, perkembangan sosial budaya yang dinamis, dan pertumbuhan jumlah
penduduk yang tinggi. Berbagai informasi tentang kondisi dan perkembangan
pemanfaatan ruang yang tersebar diseluruh daerah pada saat ini semakin terasa
diperlukan keakuratannya dengan kondisi terkini. Seiring dengan
perkembangan teknologi di bidang informasi terutama perkembangan di bidang
pemetaan khususnya dengan teknologi pengindaraan jauh (remote sensing).
Pemetaan dari hasil pengolahan citra satelit diperlukan agar perencanaan
pembangunan Kota Bima menjadi lebih baik, karena data yang diperlukan
diolah dengan menggunakan teknologi terkini sehingga proses pengambilan,
editing, updating serta pencarian data yang diperlukan dalam perencanaan
dilakukan dengan lebih cepat, akurat dan dapat dipercaya.
Pada saat ini, pemanfaatan teknologi dalam kegiatan pemetaan sudah
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 4

sepenuhnya menggunakan citra satelit sebagai sumber datanya. Sejalan dengan
kemajuan teknologi dan dibarengi dengan adanya pertumbuhan penduduk yang
cepat, kondisi tersebut melahirkan adanya berbagai macam keperluan akan
data dasar tata ruang. Kondisi seperti ini terjadi pada masyarakat perkotaan,
masyarakat pedesaan dan masyarakat pesisir. Munculnya berbagai konflik
dalam pemanfaatan ruang, yang akhirnya melahirkan masalah lingkungan yang
cukup serius dan menjadi bagian tugas pemerintah baik di tingkat instansi
pusat maupun di tingkat provinsi dan kabupaten/kota untuk mencarikan
solusinya.
Dalam penyusunan peta ini digunakan metoda yang berorientasi pada
teknologi tinggi (Remote Sensing), dengan maksud agar pelaksanaan kegiatan
dapat dilakukan secara akurat efektif dan efesien serta berkesinambungan.
Untuk itu maka dalam penyusunan peta ini diperlukan citra satelit yang akan
diolah dengan teknologi pengindraan jauh menggunakan perangkat lunak
berbasis Sistem Informasi Geografi.
Pemetaan menggunakan teknologi citra satelit mempunyai keakuratan
yang berbeda-beda sesuai dengan resolusi yang dimiliki oleh satelitnya.
Resolusi citra satelit sangat berhubungan dengan peta-peta yang akan
diproduksi, sebagai contoh citra LANDSAT baik digunakan untuk pemetaan
skala 1 : 50.000 atau lebih kecil, SPOT 5 dengan berbagai resolusi juga
menghasilkan peta dengan berbagai skala, IKONOS dengan resolusi 1 m dapat
memproduksi peta hingga skala 1 : 2500, QUICKBIRD dengan resolusi 0,6 m
dapat memproduksi peta hingga skala 1 : 2000 sampai 1 : 1000.
Geographic Information Systems (GIS) atau Sistem informasi Geografis
(GIS) merupakan suatu sistem komputer untuk memberi kode (coding),
menyimpan (storing), menampilkan (displaying), dan menganalisis (analyzing)
data yang menyangkut ruang di permukaan bumi. Pengertian lain yaitu suatu
kumpulan yang teroganisir dari perangkat keras (hardware), perangkat lunak
(software), data geografis, dan personil, untuk secara efisien mengumpulkan,
menyimpan, memperbaharui, dan menganalisis semua bentuk data/informasi
menyangkut permukaan bumi ((ESRI, 1989). Definisi yang sedikit berbeda
diberikan oleh Federal Interagency Coordinating Committee of the USA (1988)
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 5

yaitu suatu sistem dari perangkat keras, perangkat lunak, dan prosedur yang
didisain untuk membantu mengumpulkan, mengelola, memanipulasikan,
menganalisis, dan menampilkan data yang menyangkut ruang untuk
memecahkan masalah perencanaan dan manajemen yang komplek (Antenucci
et. al, 1991).
Produk perangkat pengolah data (software) perpetaan berbasis IT
(Information Technology) dan GIS (Geograpic Information Systems) telah
banyak mengalami perkembangan dari MapInfo, ArcInfo-ArcView, ER-MAPPER
dan sebagainya sampai dengan gabungan keempatnya oleh ESRI yaitu ArcGIS.
Dengan menggunakan teknologi GIS diharapkan proses pengolahan data
menjadi lebih cepat dan akurat serta menampilkan informasi lebih baik dan
menarik sebagai bahan pengambilan keputusan yang cepat dan akurat pula.
Pemanfaatan data satelit sebagai data masukan untuk pemetaan ini didasari
pertimbangan sebagai berikut:
1. Hasil pengolahan data citra penginderaan jauh (Inderaja) dapat
dimanfaatkan untuk pemenuhan informasi penutup lahan.
2. Keberadaan citra satelit yang multi-resolusi serta ditunjang oieh
kemampuan perangkat keras dan lunak untuk kebutuhan pemetaan
memungkinkan peta diproduksi sesuai dengan waktu perekaman
sehingga akan tergambarkan kondisi penutupan lahan saat itu.
3. Penggunaan teknik Inderaja dinilai lebih murah dibandingkan dengan
teknik pembuatan peta dengan menggunakan survei terestris dan
survei udara fotogrametri.
4. Data citra satelit kemungkinan dipakai untuk analisa time series pada
masa mendatang dengan biaya yang relatif murah.
5. Dengan adanya durasi lintasan satelit dari daerah yang sama kurang
dari satu bulan, maka penyediaan informasi dan rupa bumi dapat
diselesaikan dalam waktu yang singkat.
6. Secara teknik pembaruan peta dengan teknik Inderaja hanya
diperlukan persiapan yang singkat dengan cara meningkatkan SDM
dengan pengadaan peralatan
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 6

7. Pemetaan dengan teknik Inderaja akan lebih singkat dari metoda
konvensional, pembaharuan peta dengan teknik inderaja dan segi
biaya akan sangat lebih murah dibanding dengan cara konvensional.
Dengan latar belakang inilah, Pemerintah Kota Bima melalui Badan
Perencanaan Pembangunan Kota Bima berencana untuk melakukan kegiatan
PENGOLAHAN DATA PETA CITRA SATELIT KOTA BIMA yang akan
diserahkan pelaksanaannya pada pihak ketiga.
II. TUJUAN DAN SASARAN
Tujuan dilaksanaan pengolahan peta citra satelit adalah sebagai berikut :
1. Mengolah Citra Satelit guna mendapatkan data dasar spasial dalam
rangka pengembangan SIG Kota Bima yang lebih baik dan akurat.
2. Tersedianya peta dasar yang bergeoreferensi spasial dalam bentuk
Sistem Informasi Geografis, Baik berupa data Vektor (SHP) maupun
data Raster Citra Satelit QuickBird Real Time.
III. HASIL KEGIATAN
Hasil yang diharapkan dari pekerjaan ini adalah tersedianya peta dasar
(baik berupa data Raster/Citra Satelit ataupun data Vektor/SHP) yang memiliki
tingkat keakuratan spasial dengan kondisi sebenarnya di Kota Bima dalam
kerangka sistem informasi geografis (SIG), yang bergeoreferensi yang disajikan
dalam sistem pengolahan data spasial dasar Kota Bima pada skala 1 : 2.500
sampai skala 1: 1.000.
Melihat Output Skala yang harus dihasilkan maka spesifikasi Citra Satelit
yang harus di gunakan adalah Citra Quickbird atau World View dengan
spesifikasi sebagai berikut :
1. Citra Satelit Quickbird
Quickbird merupakan satelit penginderaan jauh yang diluncurkan pada
tanggal 18 Oktober 2001 di California, U.S.A. Dan mulai memproduksi data
pada bulan Mei 2002. Satelit Quickbird ditempatkan pada ketinggian 450
km di atas permukaan bumi dengan tipe orbit sun-synchronous dan misi
pertama kali satelit ini adalah menampilkan citra dijital resolusi tinggi
untuk kebutuhan komersil yang berisi informasi geografi seperti sumber
daya alam, resolusi citra yang dihasilkan sebesar 0.61 m untuk
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 7

panchromatik dan 2.44 m untuk multispektral (R,G,B, NIR) dengan
cakupan area seluas 16.5 km x 16.5 km untuk single area dan seluas 16.5
km x 165 km untuk strip area.
2. Citra Satelit World View
Worldview-2 merupakan satelit penginderaan jauh komersil yang
diluncurkan pada tanggal 9 Oktober 2009 di California, U.S.A. dan
menempati orbit polar, circular dan sun-synchronous jam 10:30 pagi
dengan ketinggian 770 km. Misi pertama kali satelit ini adalah
mengumpulkan citra dijital resolusi tinggi 0.5 2 meter untuk kebutuhan
komersil yang bisa dibeli oleh publik, image yang ditawarkan dalam mode
panchromatik, multispektral dan 4 band tambahan.
Satelit Worldview-2 dengan bobot sekitar 2800 Kg, mengorbit pada
ketinggian 770 Km dengan periode 100 menit, akan merekam citra
resolusi tinggi dengan ukuran eksposure satu titik wilayah target seluas
16.4 km x 16.4 km atau eksposur secara long-strip seluas 250 km x 16.4
km.
IV. NAMA DAN ORGANISASI PENGGUNA JASA
Nama dan organisasi pengguna jasa adalah Kegiatan Pengolahan Citra
Satelit Kota Bima, Pengguna Anggaran dan Jasa dalam kegiatan Pengolahan
Peta Citra Satelit Kota Bima adalah Badan Perencanaan Dan Pembangunan Kota
Bima.
V. SUMBER PENDANAAN
Pembiayaan untuk pelaksanaan Pekerjaan Pengolahan Peta Citra Satelit
Kota Bima pada APBD Kota Bima Tahun Anggaran 2014 termasuk PPN dan PPh
sebesar Rp. 268.000.000 (dua ratus enam puluh delapan juta rupiah).
VI. LINGKUP PEKERJAAN
1. Lingkup Kegiatan
a. Tahap I : Persiapan
Pada tahap ini dilakukan kegiatan antara lain mobilisasi tenaga ahli dan
peralatan, inventarisasi data dan keberadaannya serta rencana
perolehannya.
b. Tahap II : Kajian Literalur
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 8

Kajian peta-peta yang sudah ada yang menggambarkan keadaan
Kota Bima, baik peta Citra ataupun peta Vektor lainnya.
Kajian terhadap peta-peta yang pernah dimiliki oleh lembaga-
lembaga terkait berkaitan dengan wilayah Kota Bima pada
khususnya.
Kajian terhadap peta -peta prasarana jalan maupun prasarana
umum lainnya yang pernah ada ataupun yang pernah dibuat
sebelumnya.
Kajian terhadap peta-peta potensi sumber daya alam yang
pernah ada ataupun pernah dibuat sebelumnya.
c. Tahap III : Survey Pengumpulan Data
Kunjungan pada beberapa Lembaga yang berkaitan maupun
berhubungan dengan masalah pemetaan, baik di tingkat Pusat,
Tingkat Propinsi maupun di tingkat Kota. Adapun peta-peta yang
dikumpulkan meliputi peta Tata Ruang Propinsi maupun Peta
RTRW Kota. Selain itu perlu dikumpulkan pula peta Tata Ruang
Sektoral.
Pengumpulan data historis dan teknis dan peta-peta yang
pernah dIbuat untuk kawasan Kota Bima. Peta-peta dimaksud
adalah peta-peta topografi maupun peta-peta dasar. Data
historis dan peta-peta dasar ini dikumpulkan dari Badan
Informasi Geospasial (BIG, red : dulu Bakosurtanal)
Pengadaan Data Citra Satelit
d. Tahap IV : Kajian dan Analisis data
Analisis keakuratan dan ketelitlan dari masing-masing Peta yang
Pernah diproduksi ataupun dibuat pada tahun-tahun terdahulu
oleh lembaga-lembaga pemetaan atau lembaga lainnya
Pengolahan Citra Satelit yang dan citra pendukung lainnya
dengan melakukan rektifikasi Citra dengan langkah secara
umum adalah sebagai berikut :
a) Memilih titik kontrol lapangan (Ground Control Point). GCP
tersebut sedapat mungkin adalah titik-titik atau obyek yang
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 9

tidak mudah berubah dalam jangka waktu lama misalnya
belokan jalan, tugu di persimpangan jalan dan atau sudut-
sudut gedung (bangunan). Hindari menggunakan belokan
sungai atau delta sungai karena mudah berubah dalam jangka
waktu tertentu. GCP juga harus tersebar merata pada citra
yang akan dikoreksi.
b) Membuat persamaan transformasi yang digunakan untuk
melakukan interpolasi spasial. Persamaan ini umumnya
berupa persamaan polinomial baik orde 1,2 maupun 3.
a) Ordo I : disebut juga Affine transformation (diperlukan
minimal 3 GCP) :
b) Ordo II : memerlukan minimal 6 GCP
c) Ordo III : memerlukan minimal 10 GCP
c) Menghitung kesalahan (RMSE, root mean suared error) dari
GCP yang terpilih. Umumnya tidak boleh lebih besar dari 0,5
piksel.
d) Melakukan interpolasi intensitas (nilai kecerahan)
Penyusunan peta dasar digital. Pemrosesan kontruksi peta
digital dengan bantuan perangkat lunak GIS (ArcMap 10.1).
2. Lingkup wilayah pekerjaan
Lingkup wilayah pekerjaan meliputi daerah administrasi Kota Bima untuk
skala 1 : 2.500 yang dipertajam sampai 1 : 1.000
VI. Kebutuhan Tenaga Ahli
Tenaga Ahli yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan adalah sebagai
berikut :
Tenaga Ahli
1. Team Leader (pendidikan S1 Teknik Geodesi/Geografi) dengan
pengalaman kerja minimal 7 tahun
2. Ahli Urban Design yang memahami dan ahli dibidang Remote
Sensing/GIS (pendidikan S1 Teknik Planologi/ Geodesi/ Geografi/
Geomatika) dengan pengalaman kerja minimal 5 tahun.
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 10

3. Ahli Kartografi/Geodesi/GIS (pendidikan S1 Teknik Geodesi dan
Geomatika atau Geografi) dengan pengalaman kerjan minimal 5 tahun.
Tenaga Pendukung
a. Assisten Geodesi (pendidikan D3 Teknik
Geodesi/Geografi/Geomatika) dengan pengalaman minimal 3 tahun
b. Asisten/Operator GIS dan Remote Sensing (pendidikan D3
Geodesi/Geografi/Geomatika) dengan pengalaman kerja minimal 3
tahun
VII. Jangka waktu pelaksanaan
Jangka waktu untuk menyelesaikan pekerjaan ini dibutuhkan waktu
selama 4 (empat) bulan kalender Setelah Surat Perintah Mulai Kerja Keluar.
IX. Laporan
Laporan yang harus diserahkan kepada pengguna jasa adalah:
1. Laporan Pendahuluan
Laporan harus diserahkan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan sejak
SPMK diterbitkan sebanyak 5 (lima) buku laporan. Muatan laporan ini
terlebih dahulu harus dikonsultasikan kepada Tim Supervisi yang telah
ditunjuk oleh pengguna jasa.
Gambaran umum, permasalahan dan metode pendekatan yang meliputi
proses penyusunan, pelaksanaan pekerjaan, penggunaan model, Program
kerja meliputi struktur organisasi, uraian tugas personil / tenaga ahli,
jadwal pelaksanaan, penyajian produk perencanaan dan tenaga ahli dan
lain sebagainya.
2. Laporan draft Akhir
Draft Laporan Akhir diserahkan paling lambat 90 hari kalender sejak
ditandatanganinya Surat Perintah Kerja yang digandakan sebanyak 5
(lima) buku terdiri dari :
Hasil pekerjaan yang telah dicapai atau proses pekerjaan berupa
garis besar kegiatan konsultan dan mobilisasi karyawan,
schedule pekerjaan permasalahan yang dihadapi.
Printout peta Citra skala 1 : 2.500 sampai 1 ; 1.000
Peta Dasar Digital Kota Bima dalam bentuk Sistem Informasi
Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 11

Geografis (SHP).
3. Laporan Akhir
Laporan Akhir apabila pekerjaan mencapai 100% (120 hari kalender)
laporan sebanyak 5 (lima) buku terdiri dari :
Hasil pekerjaan yang telah dicapai atau proses pekerjaan berupa
garis besar kegiatan konsultan dan mobilisasi karyawan,
schedule pekerjaan konsultan dengan menampilkan kegiatan-
kegiatan yang telah dikerjakan dengan membandingkan dengan
schedule kemajuan pekerjaan
Kejadian yang terjadi selama pelaporan dan beberapa
permasalahan yang dihadapi
Ringkasan hasil pekerjaan yang telah dicapai selama ini sesuai
dengan lingkup pekerjaan yang telah dikerjakan mulai dari awal
dan akhir pekerjaan
Rangkuman dari Laporan Pendahuluan, Draft Laporan Akhir dan
Laporan Akhir) disertai dengan penjelasan dan penyajian yang
rinci dan jelas.
Peta-peta pendukung pekerjaan ukuran A3 sebagai lampiran.
4. Album Peta
Basis Data Spatial Kota Bima skala 1: 2.500 sampai 1:1.000 sebanyak 3
set pada kertas HF Spesial Ukuran A1, berikut dengan indeks dan
rekapnya.


Bima, Mei 2014

Disetujui oleh :
Kepala Bidang Tata Ruang




Mr. Xxxxxxxxx
Penata Tk. I
NIP. 19691217 200003 1 005
Dibuat oleh :
Pejabat Pembuat Komitmen




Mr. zzzzzzzzz
P e n a t a
NIP. 19690112 200003 2 004

Kerangka Acuan Kerja
Halaman | 12

MENGETAHUI :
Kepala BAPPEDA Kota Bima




Mr. yyyyyyyyy
Pembina Utama Muda
NIP. 19571216.199003.1.001