Anda di halaman 1dari 53

13 Universitas Indonesia

BAB 3
LANDASAN TEORI


3.1 Pendahuluan Gelombang Ultrasonik
3.1.1 Pengertian Gelombang Akustik dan Ultrasonik
Gelombang akustik atau gelombang bunyi adalah gelombang yang
dirambatkan sebagai gelombang mekanik yang dapat menjalar dalam medium
padat, cair, dan gas (Sutrisno, 1988). Gelombang bunyi ini merupakan getaran
molekul-molekul zat dan saling beradu satu sama lain namun demikian zat
tersebut terkoordinasi menghasilkan gelombang serta mentransmisikan energi
bahkan tanpa terjadi perpindahan partikel (Resnick dan Halliday, 1978). Apabila
gelombang bunyi merambat mencapai batas permukaan maka gelombang bunyi
tersebut akan mengalami transmisi dan refleksi.
Gelombang ultrasonik merupakan gelombang mekanik dengan frekuensi
di atas 20 kHz. Gelombang ini dapat merambat dalam medium padat, cair dan gas,
hal disebabkan karena gelombang ultrasonik merupakan rambatan energi sebagai
interaksi dengan medium yang dilaluinya (Bueche, 1986).


Gambar 3.1 Pembagian rentang frekuensi gelombang akustik

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



14


Universitas Indonesia

Gelombang ultrasonik ini sering dipergunakan untuk pemeriksaan kualitas
produksi di dalam industri. Di bidang kedokteran, gelombang ultrasonik frekuensi
tinggi digunakan untuk diagnosis, dan pengobatan, karena mempunyai daya
tembus jaringan yang sangat kuat (Cameron and Skofronick, 1978).

3.1.2 Perambatan Gelombang Ultrasonik
Ada dua jenis perambatan gelombang akustik, yaitu gelombang
longitudinal dan gelombang transversal. Pada gelombang longitudinal, getaran
partikel dalam medium sejajar dengan arah rambat. Pada gelombang transversal,
arah getar partikel tegak lurus arah rambatnya. Perambatan gelombang ultrasonik
dalam medium gas, cair, dan tubuh manusia disebabkan oleh getaran bolak-balik
partikel melewati titik keseimbangan searah dengan arah rambat gelombangnya.
Maka, gelombang bunyi lebih dikenal dengan gelombang longitudinal seperti
yang ditunjukkan pada gambar 3.2.


Gambar 3.2 Gelombang longitudinal

Karakteristik gelombang ultrasonik yang melalui medium mengakibatkan
getaran partikel dengan medium amplitudo sejajar dengan arah rambat secara
longitudinal sehingga menyebabkan partikel medium membentuk rapatan (strain)
dan tegangan (stress). Proses kontinu yang menyebabkan terjadinya rapatan dan
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



15


Universitas Indonesia

regangan di dalam medium disebabkan oleh getaran partikel secara periodik
selama gelombang ultrasonik melaluinya (Resnick dan Halliday, 1992).
Dalam kasus ini, masing-masing partikel medium dengan panjang dx
mengalami gaya yang bekerja pada permukaannya seperti yang ditunjukkan pada
gambar 3.3.
dx

Fx

x x+dx
Gambar 3.3 Gaya yang terjadi ketika gelombang suara merambat

Gelombang yang merambat dalam medium mematuhi hukum Newton II,
x
F ma =
(3.1)
dimana : m =massa dan a =percepatan.
x x
x x x
F F
dF F dx F dx
x x


= + =



(3.2)
Selama gelombang suara merambat, elemen akan berpindah seperti digambarkan
pada gambar 3.4.
+d




x x+dx
Gambar 3.4 Pemindahan elemen selama gelombang suara merambat
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



16


Universitas Indonesia

Perubahan panjang elemen karena perambatan gelombang suara dapat dirumuskan
sebagai :

( ) dl d dx
x



= + =

(3.3)
dimana rapatan elemen adalah

dl
dx x


= =

(3.4)
Untuk menghubungkan rapatan dan gaya pada medium elastis, digunakan hukum
Hooke sebagai berikut :
E

=
(3.5)
dimana : E =modulus elastis dan tekanan dapat ditulis sebagai
F
A
=
(3.6)
dimana : F =gaya dan A =luas permukaan.
Kombinasi persamaan (3.4), (3.5), dan (3.6) menghasilkan
F A
E
x
=

(3.7)
Persamaan (3.7) dapat ditulis

x
F AE
x

=

(3.8)
2
2
x
dF AE dx
x

=

(3.9)
Massa dan percepatan elemen dapat ditulis
( ) m Adx =
(3.10)
dan
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



17


Universitas Indonesia


2
2
a
t

=

(3.11)
dimana : =densitas medium dan t =waktu.
Persamaan (3.1) menjadi

2
2
x
dF A
t

(3.12)
Menyamakan persamaan (3.9) dan (3.12) menghasilkan persamaan transmisi
gelombang suara

2 2
2
2 2
c
t x

=

(3.13)
Dimana
E
c

=
(3.14)
dengan c adalah cepat rambat gelombang suara dalam medium
Perambatan ultrasonik dalam medium sebagai gerak harmonik sederhana. Maka
pemindahan partikel dalam medium adalah sebagai berikut :

( ) j t kx
Ae


=
(3.15)
dimana : =frekuensi angular, / k c = , dan A =amplitudo.
Gelombang suara merambat dalam medium dengan panjang gelombang , yang
dapat ditulis

/ (2 ) / c f c = =
(3.16)
dimana f adalah frekuensi.

3.2 Karakteristik Gelombang Ultrasonik
3.2.1 Panjang Gelombang, Frekuensi, dan Kecepatan
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



18


Universitas Indonesia

Panjang gelombang () adalah jarak yang ditempuh gelombang suara
dalam periode satu getaran. Frekuensi (f) adalah banyaknya gelombang yang
bergetar dalam waktu satu detik yang diberi satuan Hertz. Manusia dapat
mendengar gelombang suara antara 20 Hz sampai 20 kHz. Gelombang ultrasonik
merupakan gelombang suara dengan frekuensi di atas 20 kHz. Frekuensi
ultrasonik yang digunakan untuk diagnosis berkisar 1 sampai 10 MHz (Pauly and
Schwan, 1971; Parker, 1983).
Periode adalah waktu yang dibutuhkan gelombang menempuh satu
panjang gelombang dan sebanding dengan 1/f. Kecepatan ultrasonik (v) adalah
jarak yang dilalui oleh gelombang per satuan waktu dan sebanding dengan
panjang gelombang dibagi dengan periode. Karena periode dan frekuensi
berbanding terbalik, maka hubungan antara kecepatan, panjang gelombang, dan
frekuensi untuk gelombang ultrasonik adalah
c = f (3.17)
dimana c (m/s) adalah kecepatan gelombang ultrasonik dalam medium, (m)
adalah panjang gelombang, dan f (Hertz) adalah frekuensi.
Kecepatan gelombang ultrasonik di dalam jaringan tubuh manusia
diberikan dalam tabel 3.1.

Medium Densitas (kg/m
3
) Kecepatan (m/s)
Paru-paru 300 600
Lemak 924 1450
Air 1000 1480
J aringan lunak 1050 1540
Ginjal 1041 1565
Darah 1058 1560
Hati 1061 1555
Otot 1068 1600
Tulang 1912 4080
Tabel 3.1 Densitas dan kecepatan suara dalam berbagai medium

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



19


Universitas Indonesia

Pada tabel 3.1 memperlihatkan kecepatan bunyi melalui beberapa medium,
dimana kecepatan bunyi bergantung kepada kerapatan medium.

3.2.2 Energi dan Intensitas
Daya adalah energi yang ditransfer dan dikespresikan dalam satuan watt.
Intensitas adalah daya yang melewati suatu area tertentu. Intensitas adalah daya
per unit area dan diekspresikan dalam satuan watt per meter kuadrat. Intensitas
menunjukkan kuantitas energi ultrasonik yang diaplikasikan pada permukaan
tertentu dalam tubuh pasien.
J ika gelombang ultrasonik merambat dalam suatu medium, maka partikel
medium mengalami perpindahan energi (Giancoli, 1998). Besarnya energi
gelombang ultrasonik yang dimiliki partikel medium adalah :
E = E
p
+ E
k
(3.18)

dimana E
p
adalah energi potensial (J oule) dan E
k
adalah energi kinetik (J oule).
Untuk menghitung intensitas gelombang ultrasonik perlu mengetahui
energi yang dibawa oleh gelombang ultrasonik. Intensitas gelombang ultrasonik
(I) adalah energi yang melewati luas permukaan medium 1 m/s atau watt/m
(Cameron and Skofronick, 1978). Untuk sebuah permukaan, intensitas gelombang
ultrasonik ( I ) diberikan dalam bentuk persamaan :
2 2
1 1
(2 ) ( )
2 2
I VA f Z A = =

(3.19)
dimana : adalah massa jenis medium/jaringan (Kg/ m
3
), f adalah frekuensi (Hz),
v adalah kecepatan gelombang ultrasonik (m/s ), V adalah volume (m
3
), A adalah
amplitudo maksimum (m), Z adalah impedansi akustik (kg/m.s), dan adalah
frekuensi sudut (rad/s).
Gelombang ultrasonik merambat membawa energi dari satu medium ke
medium lainnya. Energi yang dipindahkan sebagai energi getaran dari partikel ke
partikel pada medium tersebut. Besarnya energi yang dibawa partikel tersebut
adalah :
1
2
E kA =
(3.20)
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



20


Universitas Indonesia

dimana :
k =konstanta =4
2
m/T
2
=4
2
m f
2

T =periode (s)
A =amplitudo geraknya (m)
m =massa partikel pada medium (kg)
Kemudian :
2 2 2
2 E mf A =

(3.21)
jika :
m = V = S l = S v t =massa (kg),
V =volume =luas . tebal = S l (m
3
),
S =luas permukaan penampang lintang yang dilalui gelombang (m ),
l =v t =jarak yang ditempuh gelombang dalam waktu t (m),
v =laju gelombang (m/s),
t =waktu (s),
maka :
2 2 2
2 E rSvtf A =

(3.22)
Dari persamaan di atas diperoleh hasil bahwa energi yang dibawa oleh
gelombang ultrasonik sebanding dengan kuadrat amplitudo. Besarnya daya yang
dibawa gelombang ultrasonik (P) menjadi :

2 2 2
2 P rSvf A =
(3.23)
Intensitas gelombang ultrasonik adalah daya yang dibawa melalui luas
permukaan yang tegak lurus terhadap aliran energi, maka :
2 2 2
2 P rvf A =
(3.24)
Persamaan di atas menyatakan hubungan secara eksplisit bahwa intensitas
gelombang ultrasonik sebanding dengan kuadrat amplitudo (A) dan dengan
kuadrat frekuensi (f).
Gelombang ultrasonik yang keluar dari sumber transduser mengalir ke
semua arah. Gelombang ultrasonik merambat keluar, energi yang dibawanya
tersebar ke permukaan yang makin lama semakin luas. Karena merambat dalam
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



21


Universitas Indonesia

arah tiga dimensi, maka luas permukaan merupakan luasan permukaan bola
dengan radius r adalah 4 r
2
.
Berarti intensitas gelombang ultrasonik menjadi :
P
I Daya Luas
A
= = (3.25)
J ika keluaran daya P dari sumber konstan, maka intensitas berkurang sebagai
kebalikan dari kuadrat jarak dari sumber, sehingga :
2
1
I
r
=
(3.26)
J ika kita ambil dua titik dengan jarak r
1
dan r
2
dari sumber, maka
I
1
=P/4 r
1
2
dan I
2
=P/4 r
2
2
, sehingga :
2
2 1
2
1 2
I r
I r
=
(3.27)
J ika amplitudo gelombang ultrasonik berkurang terhadap jarak, maka
amplitudo gelombang ultrasonik menjadi mengecil sebesar 1/r (Giancoli,
1998) karena intensitas sebanding dengan amplitudo maka akan sebanding dengan
kebalikan dari kuadrat jarak, sehingga :
1
A
r
= (3.28)
J ika kita ambil dua jarak yang berbeda dari sumber trasduser, r
1
dan r
2
maka :
2 1
1 2
A r
A r
=
(3.29)
Ketika gelombang ultrasonik dua kali lipat lebih jauh dari sumber transduser,
maka amplitudo akan menjadi setengahnya (Giancoli, 1998).
Intensitas relatif digambarkan dalam satuan decibel (dB) sebagai
2
1
Re 10log
I
Intensitas latif
I
=
(3.30)

3.3 Interaksi Gelombang Ultrasonik dengan Materi
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



22


Universitas Indonesia

Gelombang ultrasonik mempunyai sifat memantul, diteruskan dan diserap
oleh suatu medium. Interaksi gelombang ultrasonik dengan jaringan
mempengaruhi sinyal yang diterima oleh receiver.

3.3.1 Impedansi akustik
Impedansi akustik suatu materi didefinisikan sebagai perkalian antara
rapat jenis () dan kecepatan gelombang akustik (V)
Z V =
(3.31)
dimana : Z adalah impedansi akustik (kg/ m
2
s), adalah masa jenis (kg/ m
3
) dan
V adalah laju gelombang (m/s).
Ketika medium yang berdekatan memiliki impedansi akustik yang hampir
sama, hanya sedikit energi yang direfleksikan. Impedansi akustik memiliki peran
menetapkan transmisi dan refleksi gelombang di batas antara medium yang
memiliki impedansi akustik yang berbeda seperti yang pada gambar 3.5.


Gambar 3.5 Interaksi ultrasonik dalam dua medium dengan impedansi akustik yang berbeda

3.3.2 Atenuasi
Ketika gelombang suara melewati suatu medium, intensitasnya semakin
berkurang dengan bertambah kedalaman. Hal yang menyebabkan pelemahan
gelombang adalah proses refraksi, hamburan, dan absorbsi. Absorbsi adalah
penyerapan energi suara oleh medium dan diubahnya menjadi energi bentuk lain.
Hal ini menyebabkan pulsa ultrasonik yang bergerak melewati suatu zat akan
mengalami kehilangan energi.
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



23


Universitas Indonesia

Besarnya energi yang diabsorbsi sebanding dengan koefisien pelemahan
dan tebalnya medium yang dilalui. Setiap medium memiliki koefisien pelemahan
yang berbeda-beda. Semakin kecil koefisien pelemahan maka semakin baik
medium itu sebagai media penghantar. Penyerapan energi gelombang ultrasonik
akan mengakibatkan berkurangnya amplitudo gelombang ultrasonik.
Atenuasi berguna untuk menjelaskan fenomena berkurangnya intensitas
gelombang ultrasonik. Besar amplitudo setelah mengalami atenuasi adalah :
0
z
A A e

=
(3.32)
dimana A
0
adalah amplitudo awal. Amplitudo (A) adalah amplitudo yang terrduksi
setelah gelombang berjalan dengan jarak sejauh z. adalah koefisien atenuasi.
Secara umum, atenuasi sebanding dengan kuadrat frekuensi gelombang.

Gambar 3.6 Interaksi ultrasonik dengan medium yang menyebabkan atenuasi

3.3.3 Refraksi
Ketika gelombang ultrasonik melalui dua medium yang berbeda dengan
sudut tertentu maka gelombang ultrasonik mengalami refraksi. Refraksi adalah
perubahan arah gelombang ultrasonik yang ditransmisikan pada batas antara
medium yang berbeda ketika berkas gelombang tidak datang tegak lurus terhadap
batas jaringan. Refraksi terjadi pada dua medium yang memiliki perbedaan
impedansi akustik.
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



24


Universitas Indonesia

Hukum Snell menggambarkan hubungan antara sudut (sudut datang dan
sudut bias) dan kecepatan gelombang. Persamaan hukum Snell menggambarkan
perbandingan antara kecepatan gelombang di medium pertama (V
L1
) dan
kecepatan gelombang di medium 2 (V
L2
) dengan sinus sudut datang (

) dan sinus
sudut bias (
2
).

Gambar 3.7 Refraksi

Untuk sudut yang datang dan transmisi, maka:
1 2
1 2
sin sin
L L
V V

=
(3.33)
Ketika V
L2
>V
L1
, sudut transmisi lebih besar dari pada sudut datang dan
sebaliknya jika V
L2
<V
L1
, tidak ada refraksi yang terjadi ketika kecepatan suara
sama dalam dua medium atau dengan gelombang datang yang tegak lurus. Ketika
refraksi terjadi, dapat menyebabkan artifak.

3.3.4 Hamburan
Peristiwa hamburan yang terjadi ketika gelombang ultrasonik berinteraksi
dengan batas antara dua medium. J ika batas dua medium relatif rata, maka pulsa
ultrasonik dapat disebut dengan specular reflection (seperti pemantulan pada
cermin) dimana semua pulsa ultrasonik akan dipantulkan ke arah yang sama.
Permukaan yang tidak rata menyebabkan gelombang echo dihamburkan ke segala
arah seperti pada gambar 3.8 (a). Hamburan juga terjadi dalam medium yang
heterogen seperti pada gambar 3.8 (b). Hamburan ke segala arah ini menyebabkan
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



25


Universitas Indonesia

hanya sedikit gelombang echo yang ditangkap kembali oleh tranduser dan akan
berperan dalam menampilkan citra.


(a) (b)
Gambar 3.8 Hamburan : (a) pada batas dua medium ; (b) pada medium heterogen

3.3.5 Refleksi
Apabila gelombang ultrasonik mengenai permukaan antara dua jaringan
yang memiliki perbedaan impedansi akustik (Z), maka sebagian dari gelombang
ultrasonik ini akan direflesikan/dipantulkan dan sebagian lagi akan
ditransmisikan/diteruskan.
Pulsa yang mengenai organ akan direfleksikan dan ditangkap oleh receiver
untuk diolah menjadi citra. Refleksi yang sangat kuat terjadi pada batas organ dan
dapat digunakan untuk mengetahui keabnormalan pada organ. Energi ultrasonik
yang direfleksikan pada perbatasan antara dua jaringan terjadi karena perbedaan
dari impedansi akustik dari kedua.


Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



26


Universitas Indonesia


Gambar 3.9 Transmisi dan refleksi (Cameron and Skofronicck, 1978) :
A
0
adalah amplitudo gelombang ultrasonik mula-mula, R adalah amplitudo gelombang ultrasonik
yang dipantulkan, dan T adalah amplitudo gelombang ultrasonik yang ditransmisikan.

Proses perjalanan gelombang ultrasonik adalah sebagai berikut, mula-mula
gelombang ultrasonik dengan amplitudo tertentu mengenai medium, kemudian
gelombang ultrasonik tersebut akan dipantulkan permukaan jaringan.
Perbandingan amplitudo pantulan (R) terhadap amplitudo datang (Ao) bergantung
pada impedansi akustik (Z) dari dua medium itu. Hubungan pernyataan itu adalah
:
2 1
0 1 2
Z Z R
A Z Z

=
+
(3.34)

dengan Z
1
dan Z
2
adalah impedansi akustik dari kedua medium (kg/m
2
s).
Telah dikemukakan di atas bahwa gelombang ultrasonik sebagian akan
ditransmisikan. Perbandingan antara amplitudo transmisi (T) dan amplitudo
gelombang datang (Ao) adalah :
1
0 1 2
2Z T
A Z Z
=
+
(3.35)
Koefisien intensitas pantulan, R
I
, didefinisikan sebagai perbandingan dari
intensitas pantulan dan intensitas yang datang :
2
2 1
2 1
r
I
i
I Z Z
R
I Z Z


= =

+

(3.36)
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



27


Universitas Indonesia

dan koefisien intensitas transmisi adalah :
1 2
2
1 2
4
( )
I
t
i
I Z Z
T
I Z Z
= =
+
(3.37)

Pada bagian tubuh yang lunak, hanya sebagian kecil pulsa yang
direfleksikan. Untuk medium yang keras seperti tulang, energi yang direfleksikan
sangat besar. Amplitudo pulsa dilemahkan oleh adanya absorbsi medium dan
energi yang direfleksikan. Hal ini menyebabkan gelombang echo yang dikirimkan
kembali ke transduser sangat kecil dibandingkan dengan pulsa awal yang
dihasilkan transduser.

3.4 Prinsip Ultrasonik
3.4.1 Transduser
Transduser adalah sebuah alat yang bila digerakan oleh suatu energi di
dalam sebuah sistem transmisi, akan menyalurkan energi tersebut dalam bentuk
yang sama atau dalam bentuk yang berlainan ke sistem transmisi berikutnya
(William D.C, 1993). Transmisi energi ini bisa berupa listrik, mekanik, kimia,
optik (radiasi), atau thermal (panas). Ultrasonik dihasilkan dan dideteksi oleh
transduser.


Gambar 3.10 Transduser
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



28


Universitas Indonesia


Transduser ultrasonik bekerja berdasarkan prinsip piezoelektrik yang
ditemukan pada tahun 1880. Sifat bahan piezoelektrik adalah menghasilkan
muatan listrik jika diberi perlakuan mekanik. Sebaliknya, jika bahan ini diberi
tegangan listrik maka akan terjadi perubahan ketebalan (mengembang dan
mengkerut). Material yang biasa digunakan sebagai elemen transduser adalah
zirconate titanate (PZT). Elemen piezoelektrik mengubah energi listrik menjadi
energi mekanik untuk menghasilkan ultrasonik dan energi mekanik menjadi
energi listrik untuk mendeteksi ultrasonik. Transduser memiliki dua fungsi yaitu :
a. Menghasilkan pulsa ultrasonik
b. Menerima atau mendeteksi echo yang kembalI
Elemen aktif
Elemen aktif atau dikenal dengan elemen piezoelektrik adalah komponen
fungsional transduser. Piezoelektrik mengubah energi listrik menjadi energi
mekanik ketika mengirim gelombang ultrasonik dan mengubah energi mekanik
menjadi energi listrik ketika menerima gelombang ultrasonik. Energi ultrasonik
dihasilkan melalui transduser yang melibatkan efek atau fenomena piezoelektrik.
Efek piezoelektrik adalah sifat dari kristal tertentu jika diberikan tekanan akan
menghasilkan muatan-muatan elektrik positif dan negatif pada kedua belah
permukaan.


Gambar 3.11 Efek piezoelektrik
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



29


Universitas Indonesia


Ketika tekanan luar memberikan efek tegangan mekanik pada permukaan
piezoelektrik, dipole-dipole akan terganggu dari posisi keseimbangannya. Hal ini
mengakibatkan adanya ketidakseimbangan distribusi muatan. Kemudian akan
mengakibatkan perbedaan potensial dimana satu sisi akan bermuatan positif dan
yang lainnya bermuatan negatif. Elektrode yang berada di permukaan akan segera
mengukur besarnya tegangan tersebut, dimana nilainya akan proporsional dengan
amplitudo mekanik yang timbul.
Begitupun sebaliknya, pemberian tegangan pada permukaan piezoelektrik
akan menyebabkan ekspansi dan kontraksi mekanik dari elemen transduser. Efek
satu dengan yang lainnya (mutually effect) dari kristal akan terjadi jika diberikan
beda potensial pada permukaan kristal maka kristal tersebut akan mengalami
pengecutan atau pengembangan mekanik. Keadaan ini akan menghasilkan tekanan
dalam bentuk energi ultrasonik. Andaikan beda potensial bolak-balik (alternative
voltage) yang diberikan, maka kristal piezoelektrik tersebut akan mengembang
dan mengecut mengikuti besarnya beda potensial yang diberikan, dan proses ini
akan menghasilkan gelombang ultrasonik (Kutruff. 1991) seperti pada gambar
3.11.
Damping Block
Damping block adalah lapisan di belakang elemen piezoelektrik yang akan
menyerap energi ultrasonik yang datang dan melemahkan sinyal ultrasonik yang
merambat pada casing transduser. Komponen ini juga berfungsi mengurangi
vibrasi transduser untuk menghasilkan pulsa ultrasonik dengan lebar pulsa yang
pendek.
Wear Plate
Penggunaan wear platebertujuan untuk melindungi transduser.
Bandwidth
Bandwidth adalah lebar distribusi frekuensi yang dilibatkan pulsa.



Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



30


Universitas Indonesia










Gambar 3.12 Bandwidth

3.4.2 Prinsip Kerja Ultrasonik
Prinsip kerja ultrasonik memanfaatkan hasil pantulan (echo) dari
gelombang ultrasonik apabila ditransmisikan pada jaringan tertentu. Gelombang
suara frekuensi tinggi dikirimkan ke dalam medium dan akan dipantulkan kembali
ketika sampai pada batas medium yang berbeda. Echo dari gelombang tersebut
kemudian dideteksi dengan transduser yang mengubah gelombang akustik ke
sinyal elektronik untuk diolah dan ditampilkan. Ultrasonik bekerja dengan cara
memancarkan gelombang suara frekuensi tinggi ke tubuh pasien melalui
transduser. Gelombang suara ini menembus tubuh dan mengenai batas-batas antar
jaringan, misal antara cairan dan otot, antara otot dan tulang. Sebagian gelombang
suara ini dipantulkan kembali ke transduser, sebagian lain terus menembus bagian
tubuh lainnya sampai kemudian juga dipantulkan seperti pada gambar 3.13.

Gambar 3.13 Sistem pulsa echo ultrasonik
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



31


Universitas Indonesia


Gelombang-gelombang suara pantulan ini ditangkap kembali oleh
transduser dan diteruskan ke mesin ultrasonik, yang akan menghitung berapa jarak
jaringan pemantul dengan probe berdasarkan kecepatan suara di dalam jaringan.
Lalu mesin ultrasonik menampilkan pantulan gelombang suara itu di layar dalam
bentuk sinyal.

3.4.3 A-Mode


Gambar 3.14 A-mode

A-mode display digunakan untuk menggambarkan hubungan amplitudo
pulsa echo dengan kedalaman jaringan tubuh. Posisi sinyal echo di kedalaman
jaringan dipengaruhi oleh interval waktu pulsa yang dikirim dan diterima. Gambar
3.14 menjelaskan proses terbentuknya A-mode, pantulan pertama terjadi sebagai
pulsa yang dikirim oleh transmitter. Pulsa ultrasonik merambat ke dalam jaringan
tubuh sampai pada batas A jaringan yang memiliki impedansi akustik berbeda.
Hal ini menyebabkan sebagian pulsa ultrasonik dipantulkan dan diterima oleh
receiver sehingga menghasilkan echo A. Sebagian pulsa ultrasonik yang telah
melewati batas A akan diteruskan sampai pada batas B sehingga dihasilkan echo
B. Proses yang sama berlanjut hingga dihasilkan echo C.
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008




32 Universitas Indonesia
BAB 4
SIMULASI DAN EKSPERIMEN


4.1 Simulasi Ultrasonik 2 Dimensi
Simulasi adalah teknik penyusunan dari kondisi nyata (sistem) kemudian
melakukan percobaan pada model yang dibuat dari sistem. Simulasi merupakan
alat yang fleksibel dari model. Simulasi cocok diterapkan untuk menganalisa
interaksi masalah yang rumit dari sistem. Simulasi bertujuan untuk
memprediksikan hasil eksperimen (Avissar, et.all., 1982).
Salah satu teknik untuk memodelkan perambatan ultrasonik dalam
medium adalah Finite Element Method yang ditemukan oleh Clough pada tahun
1960. Finite Element Method adalah metode numerik untuk mendapat solusi
permasalahan fisika menggunakan persamaan diferensial. Metode numerik ini
merupakan sistem yang mapan dalam komputasi untuk medium kompleks dan
heterogen serta dapat digunakan oleh banyak kasus fisika dan salah satunya
adalah akustik. Dengan metode ini, medan dari gelombang akan direpresentasikan
berupa serangkaian persamaan diferensial parsial (Partial Differensial Equation).
Konsep dasar yang melandasi finite element method adalah prinsip
diskritisasi. Secara umum, diskritisasi dapat diartikan sebagai upaya untuk
membagi sistem dari problem yang akan diselesaikan (objek) menjadi bagian-
bagian yang lebih kecil sehingga pemodelan menjadi lebih sederhana.
Penggunaan software pada simulasi memberi kemudahan dalam perubahan
berbagai parameter yang akan mempengaruhi hasil sesuai dengan yang
diinginkan. Software yang digunakan untuk memodelkan pancaran gelombang
dalam simulasi ini adalah COMSOL (Computer Solution) Multiphysics 2 dimensi
versi 3.4 untuk mencari solusi permasalahan hamburan ultrasonik dari jaringan
tubuh. Model ini akan digunakan untuk memprediksi hamburan balik ultasonik
dari jaringan untuk karakterisasi sinyal.
Langkah dasar yang dilakukan dalam simulasi dijelaskan pada gambar 4.1
berikut :

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



33


Universitas Indonesia



Gambar 4.1 Langkah simulasi menggunakan COMSOL Multiphysics

4.1.1 Preprocessing
Preprocessing adalah tahap mendefinisikan model simulasi yang akan
dilakukan. Tahap ini meliputi menentukan geometri domain, parameter
subdomain, parameter boundary condition atau kondisi batas, dan parameter
mesh.
1. Geometri Domain
Pada sistem ini dimodelkan sebuah perambatan gelombang ultrasonik
yang ditransmisikan oleh sebuah transmitter transduser linier dalam 2 dimensi.
Model jaringan terdiri dari transduser, jaringan tubuh berukuran yang di dalamnya
terdapat organ hati dan jaringan abnormal. Transduser yang dimodelkan tidak
sesuai dengan bentuk aslinya, namun yang diutamakan adalah posisinya sehingga
sesuai dengan prediksi perambatan gelombang ultrasonik di dalam medium.
Dalam kasus gelombang pulsa, transduser yang digunakan terdiri dari transmitter
(pengirim) dan receiver (penerima) dalam satu lokasi. Gelombang ultrasonik
dikirim, ditunggu selama interval waktu tertentu, kemudian sinyal echo diterima.
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



34


Universitas Indonesia

Dalam simulasi ini frekuensi transduser yang digunakan adalah 1 MHz sampai 6
MHz.
Geometri jaringan tubuh normal ditunjukkan pada gambar 4.2 dan
geometri jaringan tubuh abnormal ditunjukkan pada gambar 4.3. Dari gambar
tersebut terlihat perbedaan antara jaringan normal dan abnormal. Pada jaringan
abnormal terdapat tambahan geometri yang memiliki impedansi akustik berbeda
dengan organ hati.




Gambar 4.2 Geometri jaringan normal




Gambar 4.3 Geometri jaringan abnormal
transduser
jaringan lunak
transduser
jaringan abnormal
jaringan lunak
hati
hati
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



35


Universitas Indonesia


2. Parameter Subdomain
Parameter subdomain menjelaskan mengenai karakteristik fisika pada
domain utama. Domain utama model dibagi ke dalam beberapa subdomain. Pada
subdomain diatur nilai yang menunjukkan karakter tiap jaringan.
Persamaan subdomain pada medium adalah :
(4.1)
Dengan e
a
adalah koefisien masa yang bernilai 1 dan f adalah source term
yang bernilai 0. Nilai c pada persamaan di atas jika dibandingkan dengan
persamaan perambatan gelombang merupakan kuadrat dari kecepatan gelombang
di medium.

1
2
3



Gambar 4.4 Label nomor subdomain
Subdomain medium jaringan lunak berada pada subdomain selection 1
dengan kecepatan gelombang ultrasonik 1540 m/s, subdomain medium hati
berada pada subdomain selection 2 dengan kecepatan gelombang ultrasonik 1555
m/s, dan subdomain jaringan abnormal berada pada subdomain selection 3 dengan
kecepatan gelombang ultrasonik bervariasi dari 1900 m/s sampai 2600 m/s.

3. Parameter Kondisi Batas
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



36


Universitas Indonesia

Kondisi batas yang ditentukan saat pemodelan akan menentukan kondisi
yang menghubungkan geometri model dengan sekelilingnya. Kondisi batas
dimodelkan sebagai karakteristik setiap batas dalam memantulkan dan menyerap
gelombang ultrasonik. Semua batas dimodelkan sebagai kondisi batas Dirichlet
dan kondisi batas Neumann. Kondisi batas Dirichlet adalah kondisi yang
diberikan dalam bentuk nilai fungsi di perbatasan. J ika yang diberi pada suatu
batas adalah turunan fungsinya, maka kondisi batasnya Neumann.
Pemodelan transduser hanya dimodelkan sebuah boundary tambahan
seperti (angka 1) yang berjenis Dirichlet. Kondisi batas lain yang berjenis
Dirichlet (angka 2 dan 5) memiliki karakter memantulkan gelombang ultrasonik.
Dan kondisi batas lain yang berjenis Neumann (angka 3 dan 4) merupakan
potongan sebagai bentuk penyederhanaan geometri tubuh manusia.

1 2




3 4



5
Gambar 4.5 Kondisi batas

Sumber gelombang akustik dihasilkan transduser dengan persamaan
sebagai berikut :

2 2
0
( ) cos(2 )exp( 1 4 ( ) ) u t fc A t t = (4.2)
dengan :
ln2
A
bw
=


Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



37


Universitas Indonesia

bw =transducer bandwidth, fc =frekuensi (Hz), dan t
0
=waktu munculnya
puncak pulsa awal (s).
4. Parameter Mesh
Dalam upaya mendapat solusi permasalahan fisika, objek dibagi menjadi
bagian-bagian yang lebih kecil sehingga pemodelan menjadi lebih sederhana.
Proses ini dinamakan diskritisasi. Bagian-bagian kecil hasil diskritisasi dinamakan
mesh. Agar kondisi simulasi cukup stabil, maka ukuran mesh h diatur hingga lebih
kecil dari ukuran panjang gelombang yang merambat pada medium. Ukuran
elemen maksimum mesh =1/6 x =0,855x 10
-5
m dengan jumlah mesh 39.393.
Geometri jaringan setelah dimesh ditampilkan pada gambar 4.6.


Gambar 4.6 Tampilan finite element mesh

4.1.2 Processing
Pada tahap ini, parameter solusi yang digunakan dalam simulasi ini adalah
solusi bergantung waktu (time dependent). Time stepping adalah waktu yang
dibutuhkan gelombang ultrasonik merambat dari dan kembali ke transduser.
Waktu yang digunakan dalam eksperimen ini adalah 110 s dengan t 0.1 s.

4.1.3 Postprocessing
Postprocessing merupakan tahap analisis dari solusi. pada tahap ini dapat
diketahui distribusi tekanan pada medium.
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



38


Universitas Indonesia


4.1.4 Deskripsi Kasus
Permasalahan yang diangkat pada penelitian metode simulasi ini adalah
mengetahui efek dari adanya jaringan abnormal dengan nilai intensitas yang
diterima oleh receiver. J aringan abnormal yang biasa disebut kanker adalah suatu
kondisi dimana sel telah kehilangan pengendalian dan mekanisme normalnya,
sehingga mengalami pertumbuhan yang tidak normal, cepat dan tidak terkendali.
Sel-sel kanker akan terus membelah diri. Sejalan dengan pertumbuhan dan
perkembangbiakannya, sel-sel kanker membentuk jaringan ganas yang semakin
lama ukurannya semakin membesar. Sel kanker terlalu banyak memproduksi
protein. Kian tinggi jumlah protein itu, massa jenis kanker semakin bertambah.
Untuk itu ada beberapa hal yang akan dimodelkan dengan ketentuan
sebagai berikut :
1. Organ tubuh lain di sekitar hati disederhanakan menjadi jaringan lunak
homogen.
2. Dimensi keabnormalan jaringan disederhanakan berupa elips. Dengan
impedansi akustik dan panjang yang bervariasi.
3. Efek penggunaan couplant ditiadakan untuk mengurangi
kekompleksan analisis.
4. Perambatan ultrasonik divariasikan dengan perubahan frekuensi dan
bandwidth transduser.

4.2 Denoising dengan Wavelet
Dalam sistem ultrasonik yang sebenarnya, tidak seluruh echo yang
diperoleh dari jaringan tubuh diterima dengan baik seluruhnya oleh transduser.
Adanya noise mengakibatkan sinyal yang diterima mengalami kecacatan atau
bahkan menghilangkan informasi yang dibawa. Noise dapat diartikan sebagai
sinyal yang tidak diinginkan yang menyertai sinyal informasi dan merusaknya.
Untuk mengurangi noise dapat digunakan berbagai metode pemrosesan sinyal.
Proses untuk mengurangi noise disebut denoising.
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



39


Universitas Indonesia

Salah satu metode pemrosesan sinyal yang dapat digunakan untuk
denoising adalah wavelet. Wavelet memiliki prinsip dasar membagi data menjadi
komponen-komponen frekuensi yang berbeda. Proses ini dinamakan dekomposisi.
Transformasi sinyal menjadi koefisien-koefisien wavelet diperoleh dengan
menapis sinyal menggunakan high pass filter dan low pass filter.

4.3 Eksperimen
4.3.1 Deskripsi Alat dan Bahan
Sistem yang digunakan terdiri dari pulse generator, osiloskop, dan
transduser. Pulse generator adalah rangkaian alat uji elektronik yang digunakan
untuk menghasilkan pulsa (gambar 4.7). Osiloskop adalah alat ukur besaran listrik
yang dapat memetakan sinyal listrik. Osiloskop yang digunakan berjenis
Tektronix TDS 2024 (gambar 4.8). Skala horizontal sebesar 500 mV/div dan
skala vertikal sebesar 10 s/div.
Transduser yang digunakan memiliki frekuensi 5 MHz, berdiameter 1 cm,
dan terdiri atas dua elemen (dual element) (gambar 4.9). Transduser dual element
terdiri dari elemen pemancar (transmitter) dan elemen penerima (receiver)
dioperasikan secara mandiri dalam satu rumah dan dipisahkan oleh penghalang.
Ketika diberikan tegangan, elemen pemancar transduser mengirim ultrasonik ke
dalam objek. Pada batas akhir objek, ultrasonik dipantulkan kembali ke transduser
dan diterima oleh elemen penerima.
Gambar alat-alat yang digunakan dalam eksperimen ditunjukkan pada
gambar 4.7, 4.8, dan 4.9 berikut.

Gambar 4.7 Pulser generator
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



40


Universitas Indonesia



Gambar 4.8 Osiloskop

Gambar 4.9 Transduser

Ada dua jenis medium yang digunakan dalam eksperimen ini. Medium I
terdiri dari agar-agar dan hati sapi. Medium II terdiri dari agar-agar, hati sapi, dan
karet. Agar-agar dimodelkan sebagai jaringan lunak, hati sapi dimodelkan sebagai
organ hati, dan karet diibaratkan sebagai jaringan abnormal yang terdapat pada
organ hati. Susunan medium yang digunakan ditampilkan pada gambar 4.10.


Gambar 4.10 Medium I : agar-agar dan hati sapi

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



41


Universitas Indonesia

Masing-masing bahan penyusun medium memiliki karakteristik sebagai
berikut :
1. Agar-agar yang mewakili jaringan lunak memiliki kecepatan
gelombang ultrasonik sebesar 1500 m/s. Tebal agar-agar pada medium
I adalah 3,8 cm dan pada medium II adalah 2,4 cm.
2. Hati sapi yang mewakili organ hati memiliki kecepatan ultrasonik
sebesar 1550 m/s dan ketebalan 1,1 cm. Hati sapi terletak pada
kedalaman 0,5 cm dari permukaan agar-agar.
3. Karet yang mewakili jaringan abnormal memiliki kecepatan ultrasonik
sebesar 2286 m/s dan ketebalan 0,3 cm. Karet terletak di dalam organ
hati yaitu pada kedalaman 0,9 cm dari permukaan agar-agar.

4.3.2 Metode Pengukuran
Metode pengukuran yang digunakan dalam eksperimen ini adalah metode
Contact scanning. Contact scanning adalah salah satu teknik pulsa echo dimana
transduser menempel langsung dengan objek yang akan diperiksa. Gambar 4.11
menunujukkan teknik contact scanning.

Gambar 4.11 Contact scanning

4.3.3 Prinsip Kerja
Eksperimen yang dilakukan hanya memvariasikan jaringan normal dan
jaringan abnormal dengan variasi impedansi akustiknya. Ultrasonik
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



42


Universitas Indonesia

ditransmisikan pada medium I (agar-agar dan hati sapi) dan medium II (agar-agar,
hati sapi, dan karet). Ketika eksperimen, transduser menempel pada organ yang
diteliti yang terlebih dahulu diberi bahan couplant yaitu gel. Pemberian gel ini
dimaksudkan untuk menghilangkan ruang udara di antara transduser dan objek.
Transmisi ultrasonik dimodelkan garis hitam dengan ketebalan berbeda
yang mewakili besarnya energi. Pada setiap batas antara jaringan yang memiliki
impedansi akustik berbeda, sebagian ultrasonik ditransmisikan menuju jaringan
berikutnya dan sebagian lagi direfleksikan (dimodelkan oleh garis merah) ke
receiver. Gambaran umum mengenai hubungan kualitatif antara pengaruh
keabnormalan jaringan dengan intensitas yang diterima receiver dapat dijelaskan
melalui gambar berikut :

(a)

(b)
Gambar 4.12 Perambatan gelombang ultrasonik : (a) medium I ; (b) medium II
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



43


Universitas Indonesia


Pada keadaan normal dimana organ hati tidak memiliki jaringan abnormal,
maka sinyal yang ditransmisikan oleh akan dipantulkan pada batas jaringan lunak
- hati, hati - jaringan lunak, dan batas akhir jaringan. Sedangkan ketika adanya
jaringan abnormal, pemantulan sinyal yang ditransmisikan terjadi pada batas
jaringan lunak - hati, hati - jaringan abnormal, jaringan abnormal - hati, hati -
jaringan lunak, dan batas akhir jaringan sehingga echo yang dihasilkan lebih
banyak dibandingkan dengan keadaan normal.
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008




44 Universitas Indonesia
BAB 5
HASIL DAN ANALISIS

5.1 Hasil dan Analisis Simulasi


(a)

(b)
Gambar 5.1 Snapshoot COMSOL : (a) jaringan abnormal ; (b) jaringan normal

5.1.1 Simulasi 1
Simulasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh keabnormalan jaringan
terhadap sinyal. Hasil pengukuran echo jaringan normal dan abnormal dalam
domain waktu ditampilkan pada gambar 5.2.



Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



45


Universitas Indonesia










(a)










(b)
Gambar 5.2 Sinyal : (a) jaringan normal ; (b) jaringan abnormal

Gambar 5.2 (a) merupakan sinyal yang tidak memiliki jaringan abnormal
dan gambar 5.2 (b) merupakan sinyal jaringan abnormal yang memiliki dua buah
echo tambahan. Pada awal sinyal masing-masing gambar terdapat pulsa awal yang
dikirim oleh transduser. Pulsa yang dikirim oleh transduser kemudian memasuki
jaringan tubuh hingga bertemu batas antara jaringan lunak dan hati. Pada batas,
pulsa ada yang direfleksikan dan ada yang ditransmisikan.
J aringan lunak memiliki densitas () sebesar 1050 kg/m
3
dan kecepatan
ultrasonik (v) sebesar 1540 m/s. Hati memiliki densitas () 1061 kg/m
3
dan
Pulsa awal
Pulsa awal
Echo jaringan
abnormal
Echo batas akhir
tubuh
Echo batas akhir
jaringan
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



46


Universitas Indonesia

kecepatan ultrasonik sebesar (v) 1550 m/s. Dari persamaan (3.31) jaringan lunak
dan hati masing-masing memiliki impedansi akustik 1,61x10
6
dan 1,65x10
6
.
Impedansi akustik menentukan energi akustik yang direfleksikan dan
ditransmisikan pada batas antara medium.
Mengacu pada persamaan (3.36) koefisien refleksi antara jaringan lunak
dan hati sebesar 0,0015

dan intensitas yang direfleksikan hanya 0,15 %. Hal ini
menyebabkan pada gambar 5.2 (a) echo yang timbul akibat refleksi batas antara
jaringan lunak dan hati hampir tidak terlihat.
Sebagian besar pulsa ditransmisikan menuju batas kedua antara hati dan
jaringan lunak. Proses terjadi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Pada batas
ini sebagian pulsa direfleksikan dengan intensitas sangat kecil dibanding
intensitas pulsa awal sehingga echo hampir tidak terlihat. Pulsa yang
ditransmisikan setelah melewati batas kedua antara jaringan lunak dan hati
menuju batas akhir tubuh. Pada batas akhir tubuh, pulsa direfleksikan dan diterima
oleh transduser.
Pada gambar 5.2 (b) terdapat dua buah echo yang tidak terdapat pada
gambar 5.2 (a). Echo tersebut merupakan pulsa yang direfleksikan pada batas
antara hati dan jaringan abnormal. J aringan abnormal memiliki impedansi akustik
yang berbeda dengan hati. Mengacu pada persamaan (3.31) impedansi akustik
dipengaruhi oleh kecepatan ultrasonik dalam jaringan.
Intensitas echo hasil refleksi pada batas antara hati dan jaringan abnormal
lebih besar dibandingkan intensitas echo hasil refleksi pada batas antara jaringan
lunak dan hati yang hampir homogen (impedansi akustik hampir sama). Semakin
besar kecepatan ultrasonik, maka semakin besar impedansi akustik medium
tersebut. Hal ini menyebabkan semakin besar pula pulsa yang direfleksikan.


5.1.2 Simulasi 2
Frekuensi gelombang ultrasonik yang digunakan untuk keperluan medis
harus dipilih secara tepat karena akan mempengaruhi informasi diagnosis.
Simulasi ini bertujuan untuk memperoleh frekuensi optimal dalam diagnosis
keabnormalan pada organ hati. Hasil pengukuran echo jaringan abnormal dengan
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



47


Universitas Indonesia

variasi frekuensi 1 sampai 6 MHz dalam domain waktu ditampilkan pada gambar
5.3.

(a) (b)

(c) (d)

(e) (f)
Gambar 5.3 Sinyal jaringan abnormal dengan variasi frekuensi (a) 1 MHz ; (b) 2 MHz ; (c) 3
MHz ; (d) 4 MHz ; (e) 5 MHz ; (f) 6 MHz
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



48


Universitas Indonesia

Gambar 5.3 menunjukkan sinyal jaringan abnormal dengan frekuensi 1
sampai 6 MHz. Mulai dari gambar 5.3 (a) sampai 5.3 (f), panjang gelombang
semakin lama semakin pendek dengan frekuensi yang semakin meningkat.
Mengacu pada persamaan (3.17), panjang gelombang dipengaruhi oleh kecepatan
ultrasonik dan frekuensi.

Persamaan (3.17) menunjukkan hubungan antara frekuensi dan panjang
gelombang. Panjang gelombang echo berbanding terbalik dengan frekuensi
transduser. Ketika diberikan frekuensi 1 dan 2 MHz, jumlah echo yang muncul
tidak begitu jelas terlihat karena panjang gelombangnya cukup besar sehingga
jarak antara echo berdekatan. Hal ini menandakan bahwa semakin kecil frekuensi
maka resolusi sinyal juga semakin rendah.
Ketika diberi frekuensi mulai dari 4 sampai 6 MHz, echo batas akhir
jaringan mengalami penurunan intensitas. Intensitas echo batas akhir jaringan
yang sangat kecil (mendekati nol) pada frekuensi 6 MHz menyebabkan echo ini
tidak terlihat pada gambar 5.3 (f). Semakin besar frekuensi menyebabkan
gelombang ultrasonik semakin banyak mengalami pelemahan sehingga jangkauan
kedalamannya berkurang. Tidak munculnya echo batas akhir tubuh disebabkan
karena gelombang suara frekuensi 6 MHz tidak dapat menjangkau hingga batas
akhir tubuh.

5.1.3 Simulasi 3
Bandwidth merupakan salah satu parameter penting yang mempengaruhi
sinyal ultrasonik. Simulasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh bandwidth
dalam diagnosis keabnormalan pada organ hati. Hasil pengukuran echo jaringan
abnormal dengan variasi bandwidth 1 hingga 3 MHz dalam domain waktu
ditampilkan pada gambar 5.4.

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



49


Universitas Indonesia


(a) (b)


(c) (d)


(e) (f)
Gambar 5.4 Sinyal dengan variasi bandwidth (a) 1 MHz ; (b) 1,4 MHz ; (c) 1,8 MHz ; (d) 2,2 MHz
; (e) 2,6 MHz ; (f) 3 MHz
1
1
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



50


Universitas Indonesia


Bandwidth didefinisikan sebagai wilayah kerja transduser pada daerah
frekuensi. Bandwidth menggambarkan kemampuan maksimum transduser untuk
mentransmisikan ultrasonik per satuan waktu. Hasil sinyal pada gambar 5.3
menunjukkan bahwa bandwidth mempengaruhi panjang pulsa echo yang
dihasilkan.
Gambar 5.4 (a) dan (b) merupakan sinyal dengan bandwitdth sempit, yaitu
1 dan 1,4 MHz. Dari gambar tersebut dapat diamati bahwa jarak antara echo 1 dan
echo 2 sangat sedikit sehingga tampak seperti gelombang kontinu. Hal ini
menunjukkan resolusi bandwidth sempit kurang baik. Apabila dibandingkan echo
1 gambar 5.4 (b) yang diperbesar menjadi gambar 5.5 (a) dengan echo 1 gambar
5.4 (c) yang diperbesar menjadi gambar 5.5 (b), maka dapat dilihat pulsa pada
gambar 5.5 (a) lebih panjang dan jumlah gelombang yang lebih banyak dari pada
pulsa pada gambar 5.5 (b). Hal ini menunjukkan bandwidth yang lebih sempit
akan menghasilkan jumlah gelombang yang lebih banyak.


(a) (b)
Gambar 5.5 Pulsa ultrasonik (a) bandwidth 1,4 MHz ; (b) bandwidth 1,8 MHz

Dari sinyal yang diperoleh dan mengacu pada persamaan (4.2) semakin
lebar bandwidth, maka panjang pulsa yang dibangkitkan transduser berbanding
terbalik dengan bandwidth frekuensi transduser tersebut. Panjang pulsa akan
mempengaruhi resolusi sinyal yang dihasilkan. Pulsa yang panjang menyebabkan
jarak antar echo sedikit sehingga sulit untuk dibedakan.

5.1.4 Simulasi 4
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



51


Universitas Indonesia

Impedansi akustik merupakan parameter penting dalam menetapkan
transmisi dan refleksi gelombang di batas antara jaringan yang memiliki
impedansi akustik yang berbeda. Impedansi akustik suatu medium dipengaruhi
oleh kecepatan ultrasonik merambat dalam medium tersebut. Pada gambar 5.6 (a)
jaringan abnormal yang memiliki kecepatan 1650 m/s sudah dapat dideteksi
dengan adanya echo yang dipantulkan. Untuk mencari hubungan antara impedansi
akustik dengan intensitas ultrasonik yang ditransmisikan oleh transduser, maka
pada simulasi ini dilakukan variasi impedansi akustik jaringan abnormal. Variasi
kecepatan dilakukan dari 1900 hingga 2600 m/s (gambar (b) sampai (i)).

(a)

(b) (c)
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



52


Universitas Indonesia


(d) (e)

(f) (g)

(h) (i)
Gambar 5.6 Sinyal dengan variasi kecepatan ultrasonik jaringan abnormal :(a) 1650 m/s ; (b) 1900
m/s ; (c) 2000 m/s ; (d) 2100 m/s ; (e) 2200 m/s ; (f) 2300 m/s ; (g) 2400 m/s ; (h) 2500 m/s ; (i)
2600 m/s

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



53


Universitas Indonesia

Apabila diperhatikan mulai dari gambar 5.6 (b) sampai dengan 5.6 (i)
intensitas echo semakin lama semakin besar seiring dengan bertambahnya
kecepatan ultrasonik dalam jaringan abnormal. Seperti yang telah dibahas pada
5.1, semakin besar kecepatan ultrasonik maka semakin besar impedansi akustik.
Dengan impedansi akustik yang semakin besar, selisih impedansi akustik hati dan
jaringan abnormal juga semakin besar (ketidakhomogenan semakin besar). Hal ini
yang menyebabkan pulsa yang direfleksikan dan intensitas echo semakin besar.
Hubungan antara kecepatan gelombang ultrasonik dalam jaringan abnormal
dengan intensitas relatif echo ditunjukkan pada grafik 5.1.
Grafik 5.1 menunjukkan hubungan antara kecepatan ultrasonik dalam
jaringan abnormal dan intensitas echo berbanding lurus, artinya semakin besar
kecepatan ultrasonik dalam jaringan abnormal maka semakin besar pula intensitas
echo yang dihasilkan.


Grafik 5.1 Hubungan kecepatan ultrasonik dalam jaringan abnormal dengan intensitas relatif echo

5.1.5 Simulasi 5
Salah satu parameter keganasan jaringan abnormal adalah semakin
membesarnya ukuran. Untuk mencari hubungan antara ukuran jaringan abnormal
dengan intensitas ultrasonik yang ditransmisikan oleh transduser, maka pada
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



54


Universitas Indonesia

simulasi ini dilakukan variasi ukuran jaringan abnormal. Variasi ukuran dilakukan
dengan memvariasikan panjang dari 1 cm hingga 3,8 cm.

(a) (b)

(c) (d)

(e) (f)
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



55


Universitas Indonesia


(g) (h)
Gambar 5.7 Sinyal dengan variasi panjang jaringan abnormal : (a) 1 cm ; (b) 1,4 cm ; (c) 1,8 cm ;
(d) 2,2 cm ; (e) 2,6 cm ; (f) 3 cm ; (g) 3,4 cm ; (h) 3,8 cm

Dapat dilihat mulai dari gambar 5.7 (a) sampai dengan 5.7 (h) intensitas
echo semakin lama semakin besar seiring dengan bertambahnya panjang jaringan
abnormal. Hubungan antara panjang jaringan abnormal dengan intensitas relatif
echo ditunjukkan pada grafik 5.2.


Grafik 5.2 Hubungan panjang jaringan abnormal dengan intensitas relatif echo

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



56


Universitas Indonesia

Grafik 5.2 menunjukkan semakin besar panjang jaringan abnormal, maka semakin
luas daerah yang menghamburkan ultrasonik sehingga intensitas echo semakin
besar.
Perubahan jaringan diawali dari ukuran yang kecil. Simulasi ini memiliki
tujuan untuk mengetahui pengaruh jaringan abnormal yang memiliki ukuran lebih
kecil dari /2 terhadap sinyal yang dihasilkan dengan variasi jumlah yang
menunjukkan konsentrasinya.

Gambar 5.8 Sinyal jaringan abnormal dengan ukuran lebih kecil dari /2


Grafik 5.3 Hubungan jumlah jaringan abnormal berukuran lebih kecil dari /2 dan intensitas echo

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



57


Universitas Indonesia

Pada sinyal gambar 5.8 ukuran jaringan abnormal tidak menghasilkan
echo karena refleksi yang dihasilkan sangat kecil. Namun, jaringan abnormal
tersebut berpengaruh terhadap intensitas echo batas akhir jaringan. Intensitas echo
batas akhir jaringan semakin berkurang dengan bertambahnya jumlah jaringan
abnormal. Hal ini disebabkan pada ukuran jaringan abnormal lebih kecil dari /2
mayoritas interaksi yang terjadi adalah hamburan dan absorbsi sehingga semakin
bertambah jumlah jaringan abnormal maka semakin banyak pula hamburan
absorbsi yang terjadi. Hamburan dan absorbsi menyebabkan gelombang ultrasonik
yang direfleksikan semakin berkurang.

5.1.6 Simulasi 6
Keabnormalan jaringan dapat pula dideteksi dari spektrum yang
dihasilkan. Spektrum dihasilkan dengan mencari Power Spectral Density (PSD)
yang menyatakan intensitas daya pada fungsi frekuensi. PSD menjelaskan
bagaimana kekuatan sinyal atau sebuah rangkaian waktu yang didistribusikan
dengan frekuensi.


(a)
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



58


Universitas Indonesia


(b)


(c)
Gambar 5.9 (a) Spektrum jaringan normal ; (b) Spektrum jaringan abnormal ; (c) Spektrum
jaringan abnormal ukuran lebih kecil dari /2

Gambar 5.9 menunjukkan bahwa ada perbedaan spektrum jaringan
abnormal memiliki intensitas daya yang lebih besar dan puncak yang lebih
kompleks dibandingkan dengan spektrum jaringan normal. Intensitas daya yang
lebih besar dan puncak yang lebih kompleks menunjukkan adanya refleksi yang
berasal dari jaringan abnormal. Spektrum ini juga dapat mengindentifikasi adanya
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



59


Universitas Indonesia

jaringan abnormal dengan ukuran yang lebih kecil dari. Pada gambar 5.9 (c)
ditunjukkan bahwa jaringan abnormal memberi pengaruh pada pengurangan
intensitas echo dari batas akhir jaringan akibat interaksi hamburan dan absorbsi.
Hal ini menyebabkan intensitas daya spektrum jaringan abnormal lebih kecil
dibandingkan dengan jaringan normal.

5.1.7 Simulasi 7
Untuk memperoleh sinyal yang mendekati kondisi sebenarnya, maka
gambar 5.10 (a) dan 5.11 (a) yang menunjukkan sinyal jaringan normal dan
abnormal ditambahkan noise sebesar 5 %. Diasumsikan sinyal akustik yang akan
dianalisis adalah :
I =ttk +N (5.1)
Dengan I merupakan sinyal akustik yang memiliki noise, ttk adalah sinyal akustik,
dan N merupakan noise yang ditambahkan.
Simulasi ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh noise terhadap sinyal.
Hasil sinyal yang sudah ditambahkan noise ditunjukkan pada gambar 5.10 (b) dan
5.11 (b).


(a) (b)
Gambar 5.10 Sinyal jaringan normal (a) tanpa noise ; (b) dengan noise
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



60


Universitas Indonesia


(a) (b)
Gambar 5.11 Sinyal jaringan abnormal (a) tanpa noise ; (b) dengan noise

Apabila memperhatikan gambar 5.10 (b) dan 5.11 (b), jumlah echo yang
menjadi sumber informasi diagnosis menjadi tidak terlihat lagi. Hal ini
menandakan bahwa noise mengakibatkan sinyal yang diterima mengalami
kecacatan dan menghilangkan informasi yang dibawa. Oleh karena itu, noise perlu
dikurangi menggunakan wavelet.
Sinyal jaringan normal ditambahkan noise yang ditampilkan pada wavelet
(gambar 5.13 (a)) kemudian dilewatkan pada filter, yaitu low pass filter dan high
pass filter. Proses ini disebut dekomposisi tingkat satu. Keluaran low pass filter
disebut approximation (A) dan keluaran high pass filter disebut detail (D).
Keluaran dari low pass filter dijadikan masukan proses dekomposisi tingkat
berikutnya. Sinyal approximation hasil dekomposisi tingkat satu disebut A1
menjadi masukan dekomposisi tingkat dua yang akan menghasilkan
approximation 2 (A) dan detail 2 (D) seperti yang ditunjukkan pada gambar 5.12.


Gambar 5.12 Proses dekomposisi tingkat 2
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



61


Universitas Indonesia

Proses dekomposisi ini dilakukan hingga tingkat delapan yang hasilnya
ditampilkan pada gambar 5.13 (b). Gabungan keluaran low pass filter dan high
pass filter (A8 dan D8) inilah yang menjadi sinyal hasil denoising pada gambar
5.13 (c).


(a) (b)

(c)
Gambar 5.13 Denoising pada sinyal jaringan normal dengan wavelet : (a) sinyal jaringan normal
dengan noise ; (b) dekomposisi sinyal ; (c) sinyal hasil denoising
Echo batas akhir jaringan
terlihat lagi
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



62


Universitas Indonesia

Proses denoising jaringan abnormal sama seperti yang telah dijelaskan pada
reduksi derau jaringan normal juga melalui tahapan yang ditunjukkan pada
gambar 5.14.


(a) (b)

(c)
Gambar 5.14 Denoising pada sinyal jaringan abnormal dengan wavelet : (a) sinyal jaringan
abnormal dengan noise ; (b) dekomposisi sinyal ; (c) hasil denoising

Echo batas akhir jaringan
terlihat lagi
Echo jaringan abnormal
terlihat lagi
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



63


Universitas Indonesia

Echo yang merupakan informasi diagnosis tidak dapat dilihat karena
pengaruh noise (gambar 5.13 (a) dan 5.14 (a)) menjadi terlihat kembali (gambar
5.13 (c) dan 5.14 (c) setelah denoising menggunakan wavelet.

5.2 Hasil dan Analisis Eksperimen

Gambar 5.15 Sinyal transmisi

Pada osiloskop tampak data dari transduser transmitter pada channel 1
(warna kuning) dan transduser receiver pada channel 2 (warna biru). Eksperimen
yang telah dilakukan adalah perambatan gelombang ultrasonik dalam medium
untuk mengetahui ada atau tidaknya jaringan abnormal.

5.2.1 Pengaruh Jaringan Abnormal

(a) (b)
Gambar 5.16 Sinyal : (a) jaringan normal ; (b) jaringan abnormal
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



64


Universitas Indonesia

Gambar 5.16 (a) merupakan sinyal dari medium I dimana tidak ada
jaringan abnormal. Hasil menunjukkan bahwa kecepatan ultrasonik dalam agar-
agar dan hati hanya memiliki sedikit perbedaan yang menyebabkan selisih
impedansi akustiknya pun menjadi kecil. Sehingga, intensitas yang direfleksikan
antara batas agar-agar dan hati sangat kecil. Hal ini menyebabkan pada gambar
5.16 (a) echo yang timbul akibat refleksi batas antara agar-agar dan hati hampir
tidak terlihat.
Pulsa yang ditransmisikan setelah melewati batas kedua antara jaringan
lunak dan hati menuju batas akhir tubuh. Pada batas akhir tubuh, pulsa
direfleksikan dan diterima oleh transduser menghasilkan pulsa echo dengan
intensitas peak-to-peak 0,6 volt. Waktu tempuh gelombang ultrasonik yang
diperoleh dari eksperimen pada medium I adalah berkisar 50,8 s.
Gambar 5.16 (b) merupakan sinyal dari medium I dimana ada jaringan
abnormal. Hasil menunjukkan terdapat dua buah echo yang tidak terdapat pada
gambar 5.16 (a). Echo tersebut merupakan pulsa yang direfleksikan pada batas
antara hati - karet dan karet - hati. J aringan abnormal memiliki impedansi akustik
yang berbeda dengan hati. Mengacu pada persamaan (3.31) impedansi akustik
dipengaruhi oleh kecepatan ultrasonik dalam medium.
Intensitas peak-to-peak hasil refleksi pada batas antara hati dan jaringan
abnormal pada medium II sebesar 0,4 volt. Intensitas tersebut lebih besar
dibandingkan intensitas echo hasil refleksi pada batas antara jaringan lunak dan
hati yang hampir homogen (impedansi akustik hampir sama). Semakin besar
kecepatan ultrasonik, maka semakin besar impedansi akustik medium tersebut.
Hal ini menyebabkan semakin besar pula pulsa yang direfleksikan.


5.2.2 Perbandingan Hasil Eksperimen dengan Simulasi
Dari segi jumlah echo yang dihasilkan oleh eksperimen dan simulasi tidak
mengalami perbedaan. Sinyal jaringan normal hasil eksperimen maupun simulasi
menunjukkan echo hanya terjadi pada batas akhir objek saja karena jaringan lunak
dan hati hampir homogen. Sinyal jaringan abnormal hasil eksperimen maupun
Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008



65


Universitas Indonesia

simulasi menunjukkan echo berasal dari batas hati-jaringan abnormal, jaringan
abnormal-hati, dan batas akhir jaringan lunak.
Sinyal eksperimen mengandung noise yang cukup besar sehingga echo
terlihat kecil. Oleh karena itu, proses denoising (pengurangan noise) yang telah
dilakukan pada simulasi 7 dibutuhkan agar informasi yang dibawa sinyal untuk
kepentingan diagnosis menjadi optimal.


(a) (b)
Gambar 5.17 Sinyal jaringan normal : (a) hasil eksperimen ; (b) hasil simulasi


(a) (b)
Gambar 5.18 Sinyal jaringan abnormal : (a) hasil eksperimen ; (b) hasil simulasi

Karakterisasi Sinyal..., Neni Wahyuni Yatarif, FMIPA UI, 2008

Beri Nilai