Anda di halaman 1dari 8

Saluran Pernapasan

OBAT-OBAT SALURAN PERNAPASAN


Saluran pernapasan bisa terinfeksi pada dua tempat yaitu:
1. Infeksi saluran napas atas (URI) yang meliputi:
- Rhinitis, inflamasi pada mukosa hidung
- Sinusitis, inflamasi pada sinus paranasal
- Nasopharyngitis (common cold) inflamasi nares, faring, hipofaring, uvula dan tonsil
- Laringitis, inflamasi pada laring
2. Infeksi salurn napas bawah (LRI) yang meliputi bronci dan paru yang mengakibatkan
bronkitis dan radang paru-paru (pneumonia)

OBAT-OBAT UNTUK INFEKSI SALURAN NAPAS:
1. PELEGA HIDUNG(NASAL DECONGESTAN)
Kebanyakan obat-obat pelega hidung merupakan senyawa-senyawa adrenergik
(simpatomimetik), biasa digunakan dalam bentuk sediaan obat tetes atau inhalasi, suatu
senyawa yang merangsang reseptor adrenergik pada otot polos vascular yang bisa
mengakibatkan pelegaan pada jalan mengerutkan arteriola mukosa hidung yang mengembang.
Aliran darah ke daerah edema berkurang, lubang hidung yang tersumbat akan terbuka, sekresi
sinus mengering dan penyumbatan hidung berkurang senyawa ini mengobati gejala rinitis,
sinusitis akut, kronik ataupun alergik. Pemakaian dianjurkan berhati-hati karena ada
penggunaan berlebihan akan menyebabkan kembalinya vasodilatasi dan rinitis kimiawi.
Semua obat adrenergik harus dipakai secara brhai-hati terutama pada orang-orang yang
mempunyai tekanan darah tinggi, hipertiroidisme yang berpenyakit arteri koroner, diabetes,
penderita yang menjaani pengoatan dengan antidepresan trisiklik , juga pada penderita yang
menggunakan anhibitor monoamin oksidase
a. Turunan -feniletilamin
Fenilerfin: Neosinefrin, (-) m-hidroksi--[(metilamino)
metil]-benzil alkohol, merupakan vasokonstriktor paling
banyak digunakan dan bekerja lebih lama daripada pinefrin,
pada penggunaan yang terlalu lama akan menyebabkan
terjadinya vasodilatasi kembali
Efedrin : (-) eritro--{{metiamono} etil}-benzil alkohol,
meruakanpelega hidung yang paling tua jarang digunakan karena
bisa menyebabkan kembalinya vasodilatasi dan takfilaksis,
digunakan sebagai brochodilator dalam bentuk kapsul, tablet dan
sirup (efedrin sulfat)
Fenilpropanolamin: () 1-fenil-2-amonipropanol, gugus N-metil
diganti dengan atom hydrogen, perubahan ini menyebabkan
mempunyai efek vasopresor yang lebih besar dan toksisits yang lebih
kecil. Senyawa ini bisa diebrikan secra per oral.

b. TURUNAN AMIN ALIFATIK
Senyawa amin yang banyak dipakai dengan sifat melegakan hidung sebagai zat presor
adalah amin dengan 7 atau 8 karbon dengan satu gugus amin pada posisi 2.
- Siklopentamin: senyawa N, -dimetilsklopentanaetilamin
pada umumnya diberikan topical dalam bentuk sediaan
hidrokloridanya.
- Propilheksedrin : N--dimetilsikloheksanaetilamin,
sediaan hanya dalam bentuk inhaler zat ini dibuat dengan
jalan mereduksi cincin aromatik senyawa metamfetamin
- Tuaminoheptana: senyawa 2-aminoheptana,
merupakan amin primer dan tidak mempunyai initi
siklik, sering dijumpai sebagai inhaler
- Metilheksanamin: 2-amino-4-metilheksana, Forthana,
untuk inhaler

c. TURUNAN IMIDAZOLIN
Turunan imidazolin tidak boleh digunakan sembarangan terutama pada anak kecil, pada
pemakaian yang berkepanjangan dan dalam dosis besar bisa menyebabkan penumbatan
kembali. Orang yang telah resisten terhadap pelega hidung -feiletilamin dan alifatik akan
memberikan respon bila memakai turunan imidazolin ini.
Nafazolin: 2-(1-naftilmetil) 2-imidazolin, Privin, adalah
vasokonstriktor yang efektif tetapi harus hati-hati
pemakaiannya karena adanya pembengkakan kembali dan
efek sistematik yang tak diinginkan, terutama pada
penderita penyakit jantung
Tetrahidrozolin: 2-(1,2,3,4-tetrahidro-1-naftil)-2-imidazolin,
Tizin, digunakan sebagai garam hidroklorianya
Xilometazolin: 2-[(4-tert-butil)-2,6-dimetilbenzil]-2-
imidazolin, Otrivin, senyawa ini tidak mempunyai ini
naftalen melainkan cincin benzen yang lipofil.
Larutannya tidak boleh dignakan dalam atomizer yang
terbuat dari aluminium.
Oksimetazolin: 6-tert-butil-3-(2-imidazolin-2-ilmetil)-
2,4-trimetilfenol, Afrin, berbeda dari xilometazolin
dengan adanya OH fenolat, masa kerjanya lebih laa
daripada turunannya lainnya.

2. BROKODILATOR
Ada dua jenis brokodilator yang dipakai yaitu: B. Adrenergik dan B.Xantin
1. Bronkodilator Adrenergik
Senyawa ini bekerja dengan merangsang reseptor pada otot polos bronkiol sehingga akan
terjadi relaksasi otot polos pad cabang bronkus
Epinefrin: senyawa (-) 3,4 dihidroksi-
[(metilamin)metil] benzil alkohol, dipasaran mempunyai
nama Adrenalin, suatu senyawa hormon yang diisolasi dari
kelenjar adrenal yang kemudian disintesa. Epinefrin
mempunyai kerja bronkodilasi yang pendek dan adalah obat pilihan pada asma sebagai
pencegahan.
Metoksifenamin : senyawa 1-(2-metoksifenil)-2-mil-
aminopropan Ortoksi, efek presornya lebih kecil, juga
mempunyai efek anitihistamin.
Isoproterenol : 3,4-dihidroksi - [(Isopropilamino)metil]
benzil alkohol, Isuprel dengan masuknya N-isopropil
menggantikan N-metil meyebabkan mempunyai efek yang lebih
baru pada peredaran darah, digunakan dalam bentuk sedian
inhaler pada penderita asma, selain sediaan inhaler juga didapat
dalam bentuk injeksi dan tablet.
Metaproterenol : 3,5-dihidroki-
[(isopropilmino)metil] benzil alcohol maka kerjanya
lebih lama dan lebih bronkoselektif.

Protokilol : [( metil -3,4,-
metilendioksifenetilamino)-metil] protoketeknil alcohol
suatu turunan difenetilamin yang efekti secara oral
sebagai bronkodilator, kesembuhan yang dihasilkan
ternyata lebih lmdari pada isoproterenol ataupun
epineprin.

2. Bronkodiltor Xantin
Derivat ini mempunaikerja muskolotropik langsungyang menyebabkan relaksasi otot dan
merangsang saraf pusat.
Teofilin : 1,3-dimetil xantin pada umumnya igunkan dalam bentuk garam yng larut
misalnya aminofilin, difilin, oksitrifilin, tefilin natrium glisinat dan teofilin olamn.
Gabungan teofilin, efedrin HCL dan fenobarbital digunakan sebagai brokkodilator.
Aminofilin: Senyawa teofilin etilendiamin, untuk
bronkospasmus yang resisten terhadap epinefrin, enggunaan
aminofilin ini (digunakancara i.v (intravena)) ternyata sanga
fektif.

Oksitrifilin : Senyawa teofilin dalam
bentuk garam kolin, dalam bentuk
garam ini gangguan lambung menjadi
lebih kecil.
Natrium kromolin: Dinatrium 1,3-bis-
(2-karboksikromon-5-iloksi)
dihidroksipropan, merupkan zat propilaktik
asma bronkiale yang digunakan dalm bentuk
inhaler, tak boleh dipakai pada erangan asma
yang akut trutam status asmatikus.
3. ANTITUSIF
Antitusif adalah zat yang dapat igunakan untuk mengendalikan batuk, beberap zat melakukan
efek farmakologinya dengan jlan menekan pusat batuk yang terletak di medula, menganestsi
CH2NH2
CH2NH2
ujung saraf rasa saluran napas atau meganestesi reseptor rntang pada paru. Obat batuk pada
umumnya terdiri dari : ntihistamin, pelega hidung, ekspektoran, bronkodilator dan antitusif.

ANTITUSIF NARKOTIK
Zat-zat antitusif narkotk menunjukan efek antitusifnya dengan bekerja secara sentral pada
pusat batuk yang terletak di medulla. Morfin dan alkaloid fenantren lain yang terdapat dalam
opium aktif yang memutar kekiri (levo-orotatori)
Morfin : diperoleh dari opium suatu alkaloida tananman Papaver somniverum yang
kemudian bisa dibuat secara sintetik, merupakan analagesik narkotik yang kuat dan
mempunyai efek antitusif yang kuat, dalam pemakaiannnya mudah skali menimbulkan
ketagihan sehingga harus dilakukan kontrol yang ketat.
Kodein : merupakan derivat metil, kebanyakan dibuat dalam jalan memeilasi gugus
hidroksil fenolat senyawa morfin.
Hidrokodon : Dikenal dengan nama dihidrokodeinon, merupakan derivat dari morfin juga
dimana gugus alkohol sekundernya dioksidasikan menjadi keton dan ikatan rangkap pada
posisi 7 dan 8 telah tereduksi. Senyawa ini merupakan antitusiv yang lebih kuat dari pada
kodein dan bahaya ketagihannya juga lebih besar.
Metadon : () 6-dimetilamino-4,4-difenil-3-heptanon, antitusif narkotik yang kuat dan
juga menyebabkan ketagihan biasanya justru tidak dipakai sebagai penekan batuk.
ANTITUSIF NON NARKOTIK
Obat-obat antitusif non narkotik bisa merupakan senyawa-senyawa turunan asam p.amino
bezoat, difenilpropan, isokinoln dan fenoiazin,
antara lain:
Karbetapentan (Tuclase) : 2-[2-(dietilamino)
etoksi] etil-1-fenilsiklopentana-karoksilat,
mempunyai efektivitas sebagai antitusif yang
kuat.
Klorfendianol: 1-o- klorofenil-1-fenil-3-
dimetilaminopropan-1-ol, Klofenadol secara kimia adalah
turunan antihistamin, zat ini kurang efektif dibandingkan
dengan kodein.
Dekstrometorfan : ( ) 3-metoksi-17-metil 9 ,13 ,
14 morfinan, Romilar, digunakan sebagai garam
hidrobromida.
Levopropoksifen : (-)4- (dimetilamino) -3-metil- 1,2-
difenil-2-butnol propionate, novrad, strukturnya mirip
metadon efek sebagai antiusif kira-kira 3x kuat kodein.


Noskapin : narkotin, Longatin, merupakan alkaloid jenis
benzil isokinolin terdapat dalam opium sebanyak 1-9% dan
mudah dipisahkan dengan penyarian eter. Noskapin
mempunyai aktivitas sebagai bronkodilator dan tidak
menyababkan ketagihan.
4. EKSPEKTORANSIA
Ekspektoransia digunakan untuk meningkatkan sekresi pernapasan dan membantu
mnghilagkan cairan mukosa melalui batuk atau kerja ekspektoran. Saluran napas bagian atas
dan bawah dijaga kelembabannya oleh sekresi mukosa yang melapisi daerah ini.
Ada dua macam ekspektoran yaitu :
Ekspekoran perangsang
Beberapa minyak terpen (terpentin, kayu putih, dan adas ) mempunyai kerja ekspektoran.
Terdapat senyawa fenol untk ekspektoran antara lain guaiakol, turunan guaiakol yang
larut dalam air adalah gliseril guaiakolat, sedangan sulfonasi pada guaiakol akan
menghasilkan kalium guaiakolsulfont.
Ekspektoran penenang
Zat-zat nya antara lain ipekakuanha (sebagai sdiaan sirup), asam hidriodat, stibium
kalium tartrat, natrium sitrat, ammonium klorida dan klium iodida, banyak digunakan
dalam campuran obat batuk.



5. ZAT MUKOLITIK
Zat mukoitik ini bekerja dengan cara mngurangi kekentalan mucus.
N-asetilsistein : senyawa ini meningkatkan volume dahak, secara in vitro ternyata bekerja
memutuskan ikatan disulfida pada protein-protein, biasa diberikan dalam bentuk nebuliser
(semprot hidung . Khasiat antibiotika (doksisiklin, amoksisilin dan tiamfenikol)
diperkuatnya, juga sebgai antidotum terhadap intoksikasi parasetamol.
Di dalam hati dirubah menjadi sistein, sistin, dan taurin, ekskresi melalui kemih.
Bromheksin : Bisolvon, Solvax, derivat sikloheksil,
dapat menstimulasi gerakan bulu getar di bronchi serta
meningkatan kadar antibiotika dalam dahak, sediaan
biasanya secar oral atau inhalasi.

Dornase pancreas (Dornavak) senyaw ini adalah enzim yng didapat dari pancreas sapi
yang menurunkan kekentalan dahak dengan cara menghidrolisis deoksiribonukleoprotei,
diberikan dalam bentuk aerosol.

6. STIMULAN PERNAPSAN
Untuk stimulan ini hanya akan dibicarakan beberapa obat analeptic yang merngsang
mekanisme pernapasan.
Etamivan : C
12
H
17
NO
3
, N, N-dietyl-4-hydroxy-3-methoxybenzamide, digunakan secara
i.v untuk mengatasi depresi kibat barbiturat atau pada toksisitas alcohol dan untuk
menyadarkan dari keadaan anesthesia. Tidak boleh diberikan kepada mereka yang sedang
menerima zat-zat adrenergik atau inhibitor monoamin okidase.
Doksapram:1-etil-4-(2-morfolinoetil)-3,3-ifenil-2-
pirolidinon atau dopram. Metabolisme dopram melibatkan
terbukanya cincin morfolin, obat ini digunakan
mempercepat kesadaran pada pemulihan pasca bedah dan
mengatasi depresi akibat barbiturat.
Pentetrazol : C
6
H
10
N
4
, 6,7,8,9,-tetrhydr-H-Tetrazolo
(1,5-a)azepin, Pentylenetrazol, PTZ, juga efekf sebagai
anti epilepsi.


Mepixanox : C
20
H
21
NO
3





Almitrine:C
26
H
29
F
2
N
7
,deivate
diphenylmetylpierazin, sebgai stimulant
pernapasan dengan bekerja sebagai agonist
khemoreseptor perifer.
C
26
H
29
F
2
N
7
Almitrine
ASMA DAN PENGOBATANNYA
Asma bronchia, lebih populer dengan sebutan asma adaah penyakit saluran napas dengan ciri saluran
napas akan manjadi hipersensitif atau hiperaktif terhadap macam-macam rangsangan yang ditandai
adanya penyempitan saluran napas bagian bawah.
Pengobatan :
Adrenergika : 2-simpatomimetika antara lain :
Salbutamol : Ventolin, oral, injeksi, atau inhalasi
Fenoterol : Berotec, inhalasi
Terbutalin : Bricasma, oral, injeksi, atau inhalasi
Procaterol : Meptin, oral, inhalasi
Tretoquinol
Zat-zat ini praktis tidak bekerja pada 1 (stimulasi jantung ), obat-obat dengan efek terhadap dua
reseptor sebaiknya tidak digunakan seperti efedrin, iso prenalin, orsiprenalin, klorprenalin dan
heksoprenalin kecuali adrnalin. Mekanisme kerjanya dengan cara stimulasi terhadap reseptor 2 di
trachea ( batang tenggorok) dan bronchi yang berakibatterjadinya aktivasi dari adenilsiklase, enzim ini
memperkuat pengubahan adeno sintrifosfat (ATP) menjadi adenosine monofosfat (AMP) dengan
pembebasan energi yang digunakan untuk proses-proses dalam sel antara lain bronchodilatasi dan
hambatan pelepasan mediator-mediator oleh mast-cell (mastosit).
*ANTIKOLINERGIK:
- oksifenonium
- Tiazinanium
- Ipratropium
Dalam keadaan normal terdapat keseimbangan antara sistem edrenergik dan kolinergik dalm otot
polos, apabila terjadi sesuatu hal terjadi hambatan pada sistim
2-
reseptor maka sistem adrenergik
akan terhambat menyebabkan sistim kolinergik akan dominan yang berakibat adanya penciutan brochi.
Kombinasi dengan
2
- simpatomimetika akan menghasilkan efek aditif.
Turunan Xantin; daya bonchorelaksinya berdasarkan penghambat enzim fosfodiesterase, pada
penelitian terakhir diperkiarakan bekerja melalui blokad pada reseptor-reseptor adenosin.
Resorpsi terbaik terjadi pada teofilin microfine.
Bronchodilator-bronchodilator: terhindarnya kejang dn terjadinya bronkodilatasi tercapai
dengan merangsang sistem adrenergik dengan adrenergika atau menghambat susunan
kolinergik dan antikolinergik juga dengan teofilin.
Antihistaminika: ketotifen, oksatomida, tiazinanium dan deptrofin. Obat-obat ini memblok
reseptor histamin dengan demikian efek bronkokonstriksi dapat dicegah. Banyak antihistamin
mempunyai daya antikolinergik dan sedatif. Ketotifen dan oksatomida akan menstablisasi
mastcell.
Kortikostreoida: hidrikortison, prednison, deksamtason, betametason, dll. Mekanisme kerja
senyawa-senyawa ini dngan cara mempertinggi kepekatan
2
- reseptor sehingg efeknya
menjadi lebih kuat, juga adanya blokade terhadap enzim fosfolipase- A
2
maka pelepasan asam
arachidonatoleh mstcell akan dirintangi sehingga sintesis leukotrien dan prostaglandin tidak
terjadi. Penggunaanya terutama paa asma akibat infeksi oleh virus, bakteri dan untuk
melawan reaksi peradangan. Sediaan inhalasi bklometason, flunisolida dan budisonida banyak
digunakan terutama karena efek samping sistematik yang keras terjadi dan praktis tidak
diserap dalam darah.
Leukotriene modifier
Montelukast: Singulair, Motelo-10, efektif pada asma sebagai leukotrienereseptor
antagonist (LTRA) , blok terhadap leukotriene D4 pada cysteinil leukotrien reseptor-cysLT1,
mengurangi spasme pada bronchi, juga efektif pada alergi rhinitis dan urticaria.
Beberapa side efek antara lain tekanan darah naik, gangguan gastrointestinal, sakit kepala
Zafirlukast: Accolate, Vanticon,selain dengan mekanisme sebagai LTRA juga
menghambat 5-lipoxygenase
Zileuton: Zyflo, aktif menghambat 5-lipoxygenase dan leukotriene (LTB
4
, LTC
4
, LTD
4
, dan
LTE
4
), tidak diindikasikan untuk spasme bronchidi pada serangan asma akut.









Ekspentoransia: kalium iodida, NH
4
Cl, bromheksin dan asilcytein, obat-obat ini meringankan
sesak napas.