Anda di halaman 1dari 10

Tugas Makalah

Seminar Manajemen Keuangan


Analisis Rasio keuangan











Dosen: Pak Said
Kelas: A
Kelompok: 8
Dibuat oleh :Vicky Alvian (20110277)
Cindy Florentia (26100497)
Tjoe Albert Junaidi (26110260)

Analisis yang digunakan dalam hal ini menggunakan rasio-rasio keuangan sesuai dengan standar
yang berlaku, yaitu:
1. Rasio likuiditas
2. Rasio solvabilitas
3. Rasio rentabilitas.

Penjelasan

RASIO LIKUIDITAS
Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajiban jangka
pendek. Dengan catatan semakin besar rasio likuiditas maka semakin likuid. Perhitungan rasio
likuiditas dengan cara:
1. Quick Ratio (mengukur kemampuan bank dalam memenuhi kewajibannya pada para
deposan (pemilik giro, tabungan dan deposito) dengan harta yang paling likuid.
Rumus : QR = (Cash asset) / (Total Deposit) x 100%

2. Investing Policy Ratio (mengukur kemampuan bank dalam melunasi kewajibannya
kepada para deposannya dengan cara melikuidasi SB)
Rumus : IPR = (Securities) / (Total deposit) x 100%

3. Banking Ratio (mengukur tingkat likuiditas bank dengan membandingkan jumlah kredit
yang disalurkan dengan jumlah deposit yang dimilki).
Catatan: semakin tinggi rasio ini maka semakin rendah tingkat likuiditas bank.
Rumus : BR = (Total Loans) / (total deposit) x 100%

4. Assets to Loan Ratio ( mengukur jumlah kredit yang disalurkan dengan harta yang
dimiliki bank
Catatan: semakin tinggi rasio ini semakin rendah tingkat likuiditas bank.
Rumus : ALR = (Total Loans) / (Total Assets) x 100%

5. Cash Ratio (mengukur kemampuan bank melunasi kewajiban yang harus segera dibayar
dengan harta likuid bank.
Rumus : CR = (liquid assets) / (short term borrowing) x 100%
6. Loan to Deposit Ratio (mengukur komposisi kredit yang diberikan dibandingkan dengan
jumlah dana masyarakat dan modal sendiri.
Catatan :Besarnya LDR menurut aturan pemerintah maksimum 110%
Rumus : LDR = (total Loans) / (total deposit + equity) x 100%


RASIO SOLVABILITAS
Rasio ini digunakan mengukur kemempuan bank mencari sumber dana untuk membiayai
kegiatan bank atau alat ukur untuk melihat kekayaan bank serta melihat efisiensi pihak
manajemen bank. Perhitungan rasio ini dilakukan dengan cara :
1. Primary Ratio (mengukur permodalan yang dimiliki bank memadai atau sejauh mana
penurunan yang terjadi dalam total asset masuk dapat ditutupi oleh capital equity).
Rumus : PR = (Equity capital) / (total assets) x 100%

2. Risk Assets Ratio (mengukur kemungkinan penurunan risk assets.
Rumus : RAR = (Equity caital) / (total assets cash assets securities) x 100%

3. Secondary Risk Ratio ( Mengukur penurunan asset yang mempunyai resiko lebih tinggi).
Rumus : SRR = (Equity capital) / (Secondary risk assets) 100%

4. Capital Ratio (mengukur permodalan dan cadangan penghapusan dalam menanggung
perkreditan, terutama resiko yang terjadi karena ada kegagalan dalam menagih bunga
bank).
Rumus : CR = (equity capital + reserve for loan losses) / (total loans) x 100%

RASIO SOLVABILITAS
Rasio ini digunakan mengukur kemempuan bank mencari sumber dana untuk membiayai
kegiatan bank atau alat ukur untuk melihat kekayaan bank serta melihat efisiensi pihak
manajemen bank. Perhitungan rasio ini dilakukan dengan cara :
1. Primary Ratio (mengukur permodalan yang dimiliki bank memadai atau sejauh mana
penurunan yang terjadi dalam total asset masuk dapat ditutupi oleh capital equity).
Rumus : PR = (Equity capital) / (total assets) x 100%


2. Risk Assets Ratio (mengukur kemungkinan penurunan risk assets.
Rumus : RAR = (Equity caital) / (total assets cash assets securities) x 100%

3. Secondary Risk Ratio ( Mengukur penurunan asset yang mempunyai resiko lebih tinggi).
Rumus : SRR = (Equity capital) / (Secondary risk assets) 100%

4. Capital Ratio (mengukur permodalan dan cadangan penghapusan dalam menanggung
perkreditan, terutama resiko yang terjadi karena ada kegagalan dalam menagih bunga
bank).
Rumus : CR = (equity capital + reserve for loan losses) / (total loans) x 100%


RASIO RENTABILITAS (Profitabiitas Usaha)
Rasio ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi usaha dan profitabilitas yang dicapai oleh
bank. Perhitungan rasio ini dilakukan dengan cara :
1. Gross Profit Margin (mengukur presentasi laba dari kegiatan usaha murni bank setelah
dikurangi biaya-biaya)
Rumus : GPM = (operating income operating expense) / (operating income) x 100%

2. Net Profit Margin (mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan net income dari
kegiatan operasi pokok bank)
Rumus : NPM = (net income) / (operating income) x 100%

3. Return Equity Capital atau ROE (mengukur kemampuan manajemen bank dalam
mengeola capital yang ada untuk mendapatkan net income)
Rumus : ROE = (net income) / (equity income) x 100%

4. Return on Total Assets (mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola
assets). Ada 2 cara yang dihitung antara lain:
a. Gross Yield on Total Assets (mengukur kemampuan manajemen bank menghasilkan income
dari pengelolaan asset)
Rumus : GRTA = (operating income) / (total assets) x 100%

b. Net Income Total Assets (mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh
profitabilitas dan manajerial secara overall).
Rumus : NITA = (net income) / (total assets) x 100%

5. Rate Return on Loans (mengukur kamampuan manajemen bank mengelola kredit bank)
Rumus : RRL = (interest income) / (total loans) x 100%

6. Interest Margin on Earning Assets (mengukur kemampuan manajemen bank dalam
mengendalikan biaya-biaya)
Rumus : IMEA = (interest income interest expense) / (earning assets) x 100%

7. Leverage Multiplier (mengukur kemampuan manajemen bank dalam mengelola asetnya,
dalam hal ini adanya biaya-biaya yang dikeluarkan dalam penggunaan aktiva bank)
Rumus : LM = (total Assets) / (total equity)

8. Interest Margin on Loans
Rumus: IML = (Interest income Interest expense) / (total loans) x 100%

9. Assets Utilization ( mengukur sejauh mana kemempuan manajemen bank mengelola
asset dalam rangka menghasilkan operating income dan non-operating income)
Rumus : AU = (operating income + non operating income) / (total asset) x 100%

10. Interest Expense Ratio (mengukur besarnya persentase bunga yang dibayar kepada para
deposan bank dengan total deposit yang ada di bank)
Rumus : IER = (interest expense) / (total deposit) x 100%

11. Cost of Fund (mengukur besarnya biaya yang dikeluarkan bank untuk sejumlah deposit
bank).
Rumus : CF = (interest expense) / (total assets) x 100%


Contoh Kasus
Kronologi awal bergulirnya kasus Bank Century
Kasus bank century di mulai dengan jatuhnya bank ini akibat penyalah gunaan dana nasabah
yang di gerakan oleh pemilik bank century serta kluarganya. berawal dari berhembusnya kabar
dana suntikan negara dalam jumlah yang fantastis yaitu 6,7 milyar rupiah. tidak salah lagi respon
pemerintah begitu luar biasa sehingga bersedia melakukan bail out yang mencapai triliyunan
rupiah yang memicu kemarahan publik.
Menurut sri mulyani, mentri keuangan saat itu bail out di lakukan agar menghindari jatuhnya
perbankan indonesia untuk menghindari hilangnya kepercayaan nasabah serta investor kepada
beberapa bank di indonesia. yang membuat upaya bail out tersebut bermasalah adalah status
bank century yang kala itu tidak memiliki likuiditas yang memadai.
Kronologi kasus bank century
2003 awal kasus bank century berawal dari tahun 2003 ketika bank CIC di ketahui mendapat
masalah. masalah yang menimpa bank CIC diindikasikan dengan ditemukannya beberapa surat
valuta asing yang mencapai 2 trilyun rupiah. valuta asing tersebut tidak mempunyai peringkat,
berjangka panjang, bunga rendah, serta tidak mudah dijual. akhirnya bank indonesia memberikan
saran merger guna mengatasi masalah dalam bank tersebut.
2004 sesuai dengan saran bank indonesia bank CIC pun melakukan merger dengan bank pikko
serta bank danpac yang kemudian mengganti nama menjadi bank century. berbagai surat
berharga valuta asing pun terus bercokoldalam neraca bankk century. pada dasarnya bank
indonesia sudah menyarankan agar menjual valuta asing tersebut, tetapi pemegang saham
menolak saran tersebut
pemegang saham lebih memilih menghasilkan sebuah perjanjian agar mengubah surat berharga
valuta asing tersebut menjadi deposito di bank dresdner, swis. ternyata deposito yang ditanam di
bank dresdner ternyata sulit di tagih.
2005 - pada tahun ini bank indonesia berhasil mendeteksi beberapa surat berharga valuta asing di
bank century yang berjumlah sekitar 210 juta dollar amerika
2008 - akhirnya pada tanggal 30 oktober dan 3 november 2008 ditemukan berbagai surat
berharga valuta asingyang sudah jatuh tempo dan gagal bayar hingga mencapai angka 56 juta
dollar amerika. sementara itu bank century mengalami kesulitan likuiditas. akhirnya, posisis
bank century mengalami penurunan pada yanggal 31 oktober hingga 3,53 %.
kasus bank century semakin rumit karena pada tanggal 13 november 2008 dan pada tanggal 17
november 2008 antaboga delta sekuritas milik robert tantular mulai melakukan pembayaran
kepada produk yang telah di jual bank century pada akhir 2007.
kemudian pada tanggal 20 november 2008, bank indonesia memberikan surat kepada mentri
keuangan yang berisikan bahwa bank century merupakan bank gagal yang dapat memberikan
dampak sistemik.
oleh sebab itu BI menyarankan langkah penyelamatan melalui pihak LPS (lembaga penjamin
simpanan). pada hari yang sama, KKSK (komisi kebijakan sektor keuangan) yang terdiri dari
mentri keuangan dan LPS akhirnya memutuskan bahwa salah satu pemegang saham yaitu robert
tantular serta 7 orang pemegang saham lain mengalami pencekalan.
akhirnya lps memutuskan untuk mencairkan dana sebesar 2,2 trilyun untuk mendongkrak CAR
serta menyelamatkan tingkat kesehatan sebuah bank. setelah mendapatkan dana dari LPS bank
century mulai mendapatkan tuntutan dari nasabah sebesar 1,38 trilyun rupiah. dan tidak salah
lagi dana investor itu pun mengalir pada robert tantular. pada tanggal 31 desembeer bank century
tercatat mengalami kerugian 7,8 trilyun rupiah sepanjang tahun 2008. pada tahun 2007 bank
century memiliki aset seharga14,26 trilyun rupiah namun seiring dengan berjalannya waktu aset
tersebut habis hingga menyisakan 5,86 trilyun rupiah.
2009 - untuk menmulihkan kesehatan bank century, LPS kembali menyuntikan dana sebesar 1,5
trilyun pada 3 februari 2009. sayangnya kasus tersebut tidak berhenti sampai disitu sehingga
bank century terlepas dari pengawasan khusus bank indonesia.
pada tanggal 2 juli 2009, parlemen mulai melayangkan gugatan terkait dana penyelamatan bank
century yang terlalu besar. kasus tersebut telah mengantarkan robert tantular dengantuntutan
penjara 8 tahun penjara serta denda 50 milyar. sebelum di vonis pihak manajemen bank century
menggugat robert sebesar 2,2 trilyun rupiah serta meminta pada dpr dan polri untuk mengejar
harta robert tantular sebesar 19,25 milyar dollar amerika.
dan pada tanggal 10 november 2009 robert tantular di jatuhi hukuman 4 tahun penjara serta
denda 50 milyar yang mana lebih ringan dari gugatan parlemen

BANK NUSA NASIONAL (BNN)
Ketika santer terdengar bakal munculnya tindakan likuidasi, Aburizal Bakrie bergerak cepat.
Pemilik Bank Nusa Nasional ini segera mengumumkan bahwa pihaknya siap menyetorkan dana
untuk memenuhi kewajibannya mengikuti program rekapitalisasi. Pemilik setidaknya harus
menyediakan Rp400 miliar untuk mengejar CAR 4% seperti yang disyaratkan.
Sebelum Aburizal Bakrie membuat pernyataan, BNN memang santer dicurigai sebagai bank
yang bakal terkena likuidasi. Maklum, dalam lampiran hasil sidang DPKEK itu, CAR bank ini
disebut-sebut -210% dan membutuhkan dana Rp5 triliun lebih untuk dapat mencapai CAR 4%.
Bila merujuk rekomendasi anggota Komisi VIII DPR RI, kloplah kecurigaan itu. Namun, dengan
komitmen Ical untuk menyetorkan dana, untuk sementara BNN bisa lolos.
Bank Nusa Nasional sendiri adalah sebuah bank hasil peleburan empat bank milik Grup Bakrie.
Pada 10 Februari 1998 rapat umum pemegang saham luar biasa, PT Bakrie Multifinance (BFC)
menyetujui peleburan saham-saham Bank Nusa Internasional dan Bank Nasional dengan saham
Bank Angkasa dan Bank Nasional Komersil. Hasil merger ini disebut Bank Nusa Nnasional yang
tetap menjadi anak usaha BFC. Bank Nusa Nasional sebenarnya sudah bisa disebut perusahaan
publik. Memang 90% sahamnya dimiliki oleh BFC, tetapi sisanya dimiliki oleh 4.500 pemegang
saham yang sebagian besar berasal dari Sumatra Barat dan Bali. Hanya, saham ini tidak
dicatatkan di bursa efek. Ketika BNN baru lahir, direncanakan modal setor akan mencapai Rp1
triliun dengan total aset konsolidasi sekitar Rp6 triliun. Untuk memenuhi target itu, direksi BNN
kala itu berencana mengundang pihak asing, tanpa harus melepas kepemilikan mayoritas.
Akan tetapi, para analis saat itu masih pesimistis dengan restrukturisasi di BNN. Seperti pernah
diungkapkan oleh Zulfyan Alamsyah ZA, direktur PT Kartika Investindo, keadaan perbankan
nasional untuk jangka pendek masih sangat sulit. "Selain sudah kurang dipercaya oleh
masyarakat, juga karena kondisi perekonomian masih sulit," ungkapnya. Karena itu, dia
mendukung rencana BFC mengurangi kepemilikan di BNN. "Dengan demikian, BFC akan lebih
leluasa," ujarnya. Ternyata perkiraan ini terbukti. BNN makin sulit dan bahkan terancam
dilikuidasi karena sudah dikategorikan di kelompok C dengan kecukupan modal (CAR) minus
diatas 100%. Untungnya, pemegang saham mayoritas (Aburizal Bakrie) telah menyatakan sikap
untuk menyuntikkan dana segar sebesar Rp400 miliar sehingga bank ini masuk kategori B dan
bisa ikut program rekapitalisasi.

Tragedi Likuidasi Bank SUMMA
Kasus Bank Summa adalah contoh paling baik dari sisi buruk deregulasi perbankan tahun 1988,
yang kerap disebut Pakto 1988. Industri perbankan menjamur, dan itu dibarengi penyaluran
kredit dalam bilangan "raksasa", yang kadang-kadang mengabaikan prinsip-prinsip bisnis yang
sehat. Tak kurang pula bank membiayai kelompok usahanya sendiri. Puncak semua itu tahun
1992, ketika meledak kasus kredit macet Bank Summa sejumlah Rp 1,4 triliun.
Ketika itu Edward Soeryadjaya, putra sulung Williem Soeryadjaya, pendiri Astra dan orang
nomor dua terkaya di Indonesia saat itu (1992), berniat "membalap" sang ayah. Ia menggunakan
jalur cepat. Edward mulai dengan mendirikan Summa Internasional Bank Ltd. tahun 1979 di Port
Vila, Vanuatu, dengan modal 25 juta dollar AS. Setahun kemudian ia membidik HongKong, dan
dari sana Edward melanglang ke Jerman.
Tiga tahun kemudian, Edward berpatungan dengan pengusaha HongKong melebarkan sayapnya
ke Indonesia, dengan mendirikan Summa International Finance Co. Ltd. (kemudian menjadi
Indover Summa Finance, usaha patungan dengan anak perusahaan Bank Indonesia, Indover).
Bisnis Edward maju pesat. Ia memborong saham sejumlah perusahaan besar, seperti Bank Asia,
yang kemudian namanya menjadi Bank Summa. Selain itu, ia ikut memiliki Bandung Indah
Plaza, Hotel Mirama (Surabaya), Hotel Sabang (Jakarta), dan berbagai macam bisnis properti
dan keuangan. Edward juga dikenal "murah hati" karena memodali bisnis teman-temannya.
Darimana dana Edward itu? Tak sulit ditebak: dari Bank Summa. Banyaknya tak diketahui pasti.
Tapi, yang jelas saat itu diketahui aset Bank Summa mencapai Rp 1,2 triliun.
Akibatnya pasti: kesulitan likuiditas. Tatkala pemerintah memberlakukan kebijakan uang ketat
(1990), makin tercekiklah Bank Summa. Tiga bulan kemudian dikabarkan Summa benar-benar
mengalami krisis keuangan yang hanya bisa diatasi dengan suntikan dana segar. Tapi Williem
Soeryadjaya tidak melakukannya. Dia mengirimkan pasukan penyelamat dari Astra, perusahaan
miliknya. Konon sampai tiga kali ia gonta-ganti tim penyelamat, tapi Bank Summa tetap merana.
Pada Juni 1992, Williem mengambilalih 100 persen saham Bank Summa.
Toh kesehatan Summa tetap memburuk. Kewajibannya ditaksir mencapai Rp 1,7 triliun. Tak
lama kemudian Williem pun menjaminkan seratus juta lembar saham Astra Internasional senilai
Rp 500 miliar kepada Bapindo, Bank Exim, dan Bank Danamon, untuk menyuntik Summa.
Jumlah itu masih ditambah Rp 380 milyar dari BDN dan Bank Universal. Kabarnya Panin Bank
juga menyuntikan sekitar Rp 250 miliar, meski pemilik Panin membantah kabar ini. Sebelum itu,
Bank Indonesia juga sudah memberi pinjaman discount window kepada Bank Summa sebesar Rp
200 miliar lewat Indover.
Tetap saja Summa "terjun ke jurang". Terpaksalah Willem meminta jasa Mumin Ali dari Bank
Panin untuk memberikan konsultasi manajemen. Tapi, sinyal dari pemerintah bahwa Bank
Summa akan dilikuidasi makin jelas terdengar. Williem masih berupaya mempertahankan
dengan segala cara, temasuk menghimpun dana dari aset-aset keluarga. Bahkan, Gubernur BI
Adrianus Mooy waktu itu ikut turun tangan. Langkah pengamanan lainnya: menyuntikkan lagi
tambahan dana segar sebesar Rp 500 miliar dari Chase Manhattan Bank. Om Williem begitu
pendiri Astra itu dipanggil juga meneken kontrak penyelamatan dengan 30 pengusaha dari
group Prasetya Mulya. Toh dana raksasa itu tetap amblas mengingat banyaknya utang yang
ditinggalkan Edward.
Vonis pun jatuh pada tanggal 14 Desember 1992: Bank Summa dilikuidasi pemerintah
berdasarkan UU Perbankan 1992.
Itu bukan akhir, tapi awal sebuah "bencana" baru bagi keluarga Soeryadjaya. Nasabah yang
sudah hilang kepercayaan menarik seluruh dana yang mereka simpan, walau ada anjuran untuk
meneruskan kegiatan di BCA atau Bank Danamon. Repotnya, dana segar tak tersedia. Willem
sudah menjaminkan 108 juta lembar saham Astra. Dari situ diperoleh sekitar Rp 1 triliun.
Separuhnya, dipakai untuk menutup utang Summa kepada Bank Exim, Bapindo, Danamon.
Sisanya untuk mengembalikan uang para deposan.
Toh urusan makin kusut. Deposan ramai-ramai menuntut haknya. Sementara itu, Prof. Soemitro
Djojohadikusumo yang bersedia menjadi "penengah" di Astra -- yang juga kena imbas kasus
Summa itu -- akhirnya mengundurkan diri. Pak Cum, pangggilan akrab Prof. Soemitro, yang
menjabat Presiden komisaris Astra, merasa ada yang tak beres di sana. Ia tak pernah diajak
berunding sampai akhirnya Prayogo Pangestu, pengusaha grup Barito itu, membeli saham
mayoritas Astra.
Astra yang menjadi andalan Willem untuk membayar kewajiban Summa, membuahkan
demonstrasi besar nasabah yang menuntut haknya. Belum lagi urusan PHK sekitar 2300
karyawan Summa yang tentu membutuhkan dana tak kecil.
Dibentuklah Tim Likuidasi Bank Summa. Dan tim itu menentukan prioritas mana dari kewajiban
Summa yang harus segera diselesaikan. Rupanya, pajak pemerintah menjadi prioritas pertama.
Baru kemudian pesangon karyawan dan para kreditur. Ternyata, kreditur kecil yang punya uang
di Summa sekitar Rp 10 juta, termasuk prioritas paling bawah, padahal jumlah mereka sekitar
9000 orang. Itu pun masih pakai syarat: jika aset Summa terjual hanya 50 persen, maka nasabah
kecil itu hanya akan dibayar 50 persen dari deposito atau tabungannya.
Banyak pihak yang dikabarkan akan membeli aset Summa. Di antaranya penyanyi pop Rinto
Harahap yang "maju" dengan bendera grupnya Siti Hardijanti Rukmana alias Mbak Tutut. Tapi
Rinto belakangan urung membeli Summa. Berbagai pihak yang juga mendekati Summa tak
kunjung membuahkan hasil.
Itulah yang memicu ketidakpuasan. Pada Mei 1993, lima bulan setelah likuidasi, nasabah
membentuk Tim Perwakilan Nasabah. Pada bulan itu juga Om Willem menulis surat. Isinya,
meminta nasabah sabar menunggu pelunasan dari Bank Summa. Sebagai pelipur lara, nasabah
tetap dijanjikan bunga sesuatu yang tak kunjung terjadi pada akhirnya.
Urusan panjang itu sempat mengakibatkan rumah Om Willem didemonstrasi. Para nasabah yang
marah membawa peti mati dan meletakkannya tepat di pintu depan rumah Willem. Urusan baru
usai pada bulan Oktober 1993, itupun nasabah tak mendapatkan uang simpanannya dengan utuh.