Anda di halaman 1dari 29

TUGAS AUDIT INVESTIGASI

PREVENTING FRAUD
DOSEN : MASRUL HUDA, SE. M.Si

DISUSUN OLEH :
Kelompok IV

1. Nurliyah
2. Yahya Nuryanto

Semester : VII A PAGI

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI S-1


UNIVERSITAS PAMULANG
2009

KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan
makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun
tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang


AUDIT INVESTIGASI, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber. Makalah ini memuat tentang “PENCEGAHAN FRAUD”. Walaupun
makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas
bagi pembaca.

Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada Dosen Mata Kuliah


Audit Investigasi, yaitu Bapak Masrul Huda, SE, M.Si yang telah membimbing
penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimana cara menyusun Makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.

Pamulang, Nopember 2009

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ......................................................................................... i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI..................................................................................................... iii
BAGAN ALUR PEMBAHASAN .................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN.................................................................... 1
A. Tujuan Pembahasan.............................................................. 1
B. Manfaat Pembahasan............................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Gejala Gunung Es.................................................................
2
B. Pengendalian Intern ............................................................
4
C. Fraud Specific Internal Control...........................................
9
D. Pengendalian Intern Aktif....................................................
9
E. Pengendalian Intern
Pasif....................................................11
F. 14 Pedoman Pencegahan Penipuan Dasar..........................
16
G. Hubungan Antara Komite Audit dan Internal Auditor......18
H. Implementasi dari sasaran Program
Pencegahan Kecurangan.................................................... 20

BAB III CONTOH RIIL KASUS


DAN PEMBAHASAN TEORI............................................ 21

BAB IV KESIMPULAN..................................................................... 23
A. Kesimpulan........................................................................ 23
B. Saran.................................................................................. 24
DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 25

BAGAN ALUR PEMBAHASAN

PREVENTING
FRAUD

PENDAHULUAN BAGAN ALUR


PEMBAHASAN

TUJUAN MANFAAT
PEMBAHASAN PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

GEJALA GUNUNG PENGENDALIAN HUBUNGAN ANTARA


ES INTERN KOMITE AUDIT &
INTERNAL AUDIT

PENGENDALIAN PENGENDALIAN
INTERN AKTIF INTERN PASIF

IMPLEMENTASI

CONTOH RIIL
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Pembahasan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Agar mampu mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya Fraud.
2. Memberikan pemahaman akan pentingnya mencegah Fraud sebagai
bagian dari Good Corporate Governance.
3. Agar memiliki dimensi pemikiran yang lebih luas melalui studi kasus
dan pengembangan teknik.
4. Memahami hal-hal yang menjadi penghambat dalam proses pencegahan
Fraud

B. Manfaat Pembahasan
Manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :
1. mampu mendeteksi secara dini kemungkinan terjadinya Fraud
2. Memahami akan pentingnya mencegah Fraud sebagai bagian dari Good
Corporate Governance.
3. Memiliki dimensi pemikiran yang lebih luas melalui studi kasus dan
pengembangan teknik.
4. Memahami hal-hal yang menjadi penghambat dalam proses pencegahan
Fraud
BAB II
PEMBAHASAN

A. GEJALA GUNUNG ES
Kecurangan bermula dari yang kecil, kemudian membesar dan pada
akhirnya akan mencelakakan. Untuk itu perlu ada semacam program yang
terstruktur serta tertata baik menekan praktik kecurangan. Tujuan utamanya
mencegah dan mendeteksi kecurangan serta melakukan langkah penyelamatan
dari kerugian yang tidak diinginkan.
The Institute of Internal Auditors (IIA) mendefinisikan kecurangan sbb;
“An array of irregulation and illegal acts characterized by intentional deception. It
can be perpetrated for the benefit of or to the detriment of thr organization and by
persons outside as well as inside organizatioan” (Suatu kesatuan penyimpangan
dan tindalan illegal yang ditandai dengan penipuan yang disengaja, yang dapat
dilakukan oleh dan untuk keuntungan bagi organisasi dan atau individu baik di
dalam maupun di luar organisasi)
Dari definisi ini memperlihatkan bahwa dalam kecurangan ada
penyimpangan dan atau tindakan illegal, penipuan yang disengaja yang
menguntungkan individu maupun organisasi, artinya dibalik itu ada pihak yang
dirugikan, sedangkan pelakunya bisa organisasi atau individu. Artinya ini dapat
dilakukan untuk manfaat dan/atau kerugian organisasi oleh orang di luar atau
orang lain dalam organisasi. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kecurangan
ini adalah suatu penyajian yang palsu atau penyembunyian fakta yang material
yang menyebabkan seseorang memiliki sesuatu secara tidak sah.
Fraud is criminal deception intended to financially benefit the deceiver
(Kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk memberi manfaat
keuntungan pada si penipu) G.Jack Bologna J.Lindquist & Joseph T.Wells dalam
bukunya The Accounting’s Handbook of Fraud and Commercial Crime.
Dia mengartikan kriminal adalah setiap tindakan kesalahan yang serius
yang dilakukan dengan maksud jahat. Namum pengartiannya tidak dilakukan
secara ketat seperti dalam arti hukum. Dengan demikian, meskipun pelaku
kecurangan dapat menghindari tuntuan kriminal pidana, tindakan ini
dipertimbangkan tetap sebagai kriminal.
Meskipun belum ada penelitian mengenai besarnya fraud (termasuk
korupsi) di Indonesia sukar untuk menyebutkan suatu angka yang handal. Tetapi
penelitian yang dilakukan diluar negeri (dengan sampling) mengindikaskan bahwa
fraud yang terungkap, sekalipun secara absolute besar, namun dibandingkan
dengan seluruh fraud yang sebenarnya terjadi, relative kecil.Inilah gejala gunung
es.
Davia et al mengelompokan fraud dalam tiga kelompok sebagai berikut:
1. fraud yang sudah ada tuntutan hukum (prosecution), tanpa memperhatikan
bagaimana keputusan pengadilan.
2. fraud yang ditemukan, tetapi belum ada tuntutan hukum.
3. fraud yang belum ditemukan.
Yang bisa diketahui khalayak ramai adalah fraud dalam kelompok I.
Dengan dibukanya kepada umum laporan-laporan hasil pemeriksaan BPK,
kelimpok II juga bisa diketahui. Namun khusus untuk fraud yang berupa tindak
pidana (korupsi misalnya), hasil pemeriksaan tersebut masih berupa indikasi.
Kalau sudah lebih konkrit sekalipun, itu adalah khusus kasus-kasus yang
berkenaan dengan keuangan Negara.
Fraud dalam kelompok II lebih sulit lagi diketahui karena adanya lembaga
perlindungan hukum yang sering dimanfaatkan tertuduh, yakni pencemaran nama
baik apalagi fraud dalam kelompok III, tertutup rapat, hanya diketahui Tuhan dan
pelakunya. Kelompok I hanyalah 20%,sedangkan kelompok II dan III masing-
masing 40%, kesimpulannya lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang
kita ketahui tentang fraud. Yang lebih gawat lagi, fraud ditemukan secara
kebetulan.
B. PENGENDALIAN INTERN
Davia et al mencatat 4 definisi pengendalian intern, yaitu:
• Definisi 1 (sebelum September 1992)
The condition sought by, and/or resulting from, processes undertaken by
an entity to prevent and deter fraud, terjemahan: kondisi yang diinginkan, atau
merupakan hasil, dari berbagai proses yang dilaksanakan suatu entitas untuk
mencegah dan menimbulkan efek jera terhadap fraud (sebelum definisi
COSO).
• Definisi 2 (sesudah tahun 1992)
A process, effected by an entity’s board of directors, management, and
other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the
achievement of effectiveness and afficiency of operations, reliability of
financial reporting, and compliance with applicable laws and regulations,
terjemahan : suatu proses yang dirancang dan dilaksanakan oleh Dewan,
manajemen dan pegawai untuk memberikan kepastian yang memadai dalam
mencapai kegiatan usaha yang efektif dan efisien, kehandalan laporan
keuangan, dan kepatuhan terhadap undang-undang dan peraturan lainnya yang
relevan. Definisi ini dikenal sebagai definisi COSO (the Committee of
Sponsoring Organizations of the Treaddway Commission) yang merambah ke
spektrum fungsi manajemen yang luas, dan bukan pada fraud semata-mata.
Pertama, definisi COSO langsung menyinggung tujuan bisns yang paling
mendasar yakni pencapaian sasaran-sasaran kinerja dan profitabilitas, dan
pengamanan sumber daya. Kedua, berkenaan dengan pembuatan laporan
keuangan yang handal, termasuk laporan-laporan interim dan pengumuman
kepada khalayak ramai seperti terbitan mengenai laba. Ketiga, definisi ini
menekankan ketaatan kepada ketentuan perundang-undangan. Definisi COSO
sangat luas, ingin mengatur segala-galanya sehingga kehilangan kekhasan,
dalam laporan COSO: Perspektif yang berbeda-beda mengenai pengendalian
intern bukanlah tidak perlu. Pengendalian intern berurusan dengan tujuan
entitas dan kelompok yang berbeda-beda tertarik dengan tujuan-tujuan yang
berbeda dan untuk alasan yang berbeda. Selanjutnya, laporan COSO
menulis: definisi yang mempunyai tujuan khusus. Meskipun suatu entitas
mempertimbangkan efektivitas dari ketiga kelompok tujuan bisnis,ia mungkin
juga ingin memusatkan perhatian pada kegiatan atau tujuan tertentu. Dengan
menentukan dan menjelaskan tujuan-tujuan khusus, definisi pengendalian
intern dengan tujuan yang khas..
• Definisi 3 (AICPA 1988)
For the purposes of an audit of financial statement balances, an entity’s
internal control structure consists of the following three elements:the control
environment,the accounting system,and control procedures.—Statement on
Auditing Standards No.53, April 1988. Terjemahan: untuk tujuan audit saldo
laporan keuangan, struktur pengendalian intern suatu entitas terdiri atas tiga
unsur: lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan prosedur-prosedur
pengendalian. Definisi ini sederhana tetapi menimbulkan kesulitan dalam
pelaksanaannya, terutama bagi anggota AICPA yang mengharapkan adanya
petunjuk.
SAS 53 agaknya memagari penerapan pengendalian intern untuk
mencegah dan mengungkapkan fraud pada fraud yang dilakukan karyawan,
yang nilainya tidak besar: kecurangan oleh karyawan biasanya tidak besar
jumlahnya dan disembunyikan dengan cara yang tidak membuat aktiva bersih
dan laba bersih salah saji. Ketidak beresan semacam ini lebih efisien dan
efektif ditangani dengan struktur pengendalian intern yang berfungsi dan
dengan penutupan asuransi kerugian terhadap karyawan. Selanjutnya SAS
menegaskan bahwa pengendalian intern jangan diharapkan mencegah atau
membuat jera terhadap fraud yang dilakukan manajemen: penyimpangan yang
besar-besar oleh manajemen di eselon atas jarang terjadi dan tidak dapat
dicegah oleh prosedur pengendalian tertentu karena manajemen tingkat tinggi
itu berada diatas pengendalian yang membuat jera pegawai (kecil) atau
manajemen senior dengan mudah mematikan atau mengabaikan pengendalian
tersebut.

• Definisi 4 (khusus untuk mencegah fraud)


A system of “special purpose” processes and procedures designed and
practiced for the primary if not sole purpose of preventing or deterring fraud.
Terjemahan: suatu sistem dengan proses dan prosedur yang bertujuan khusus,
dirancang dan dilaksanakan untuk tujuan utama, kalau bukan satu-satunya
tujuan untuk mencegah dan menghalangi (dengan membuat jera) terjadinya
fraud.
Inilah definisi pengendalian intern yang secara khusus atau spesifik
ditujukan untuk menangani fraud atau fraud-specific internal control yang
akan dipakai dalam pembahasan berikut.
Pengendalian internal menurutnya adalah suatu proses yang dijalankan oleh
Dewan Komisaris, manajemen dan personal lain dari entitas yang didisain untuk
memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian 3 golongan tujuan,
yaitu :
1. Keandalan pelaporan keuangan
2. Efektifitas dan efisiensi operasi
3. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Dalam pengendalian internal, setidaknya terdapat 5 (lima) komponen yang saling
berkaitan, yaitu :
1. Lingkungan pengendalian, hal ini berkaitan dengan corporate culture dan
etos kerja dalam menetapkan corak suatu organisasi.
2. Penaksiran resiko (identifikasi entitas, yang perlu digarisbawahi adalah
resiko selalu ada.
3. Aktifitas pengendalian, yaitu kebijakan yang membantu agar arahan
manajemen
4. Informasi dan komunikasi, baik komunikasi yang bersifat horizontal
maupun vertikal.
5. Pemantauan.

Dalam proses pengendalian internal, tahapan-tahapan yang harus diikuti antara


lain :
1. Identifikasi resiko (resiko pasar, operasional dan kebijakan).
2. Proses bisnis.
3. Menyusun manual/prosedur, memprotect dan mengelola resiko.
4. Pelaksanaan prosedur.
5. Pemantauan pelaksanaan prosedur, yaitu evaluasi pelaksanaan
pengendalian intern.
Sebagai ilustrasi pelaksanaan pengendalian intern, Dapat dicontohkan sebagai
berikut. Sebagai wujud komitmen perusahaan terhadap customer, maka 4 hal
mutlak harus dipenuhi, yaitu mutu produk terpenuhi, jumlah produk terpenuhi
(tidak kurang atau lebih), harga kompetitif dan delivery produk tepat waktu.
Langkah selanjutnya adalah pemeliharaan loyalitas kepada customer. Hal
terakhir yang paling utama adalah menjaga kelangsungan perusahaan dengan cara
meningkatkan corporate value.
Menanggapi pertanyaan mengenai tugas dan tanggung jawab komite audit dan
auditor internal yang dikhawatirkan tumpang tindih, hal tersebut tidak mungkin
terjadi apabila berpegang pada maksud dan tujuan keberadaan komite audit.
Komite audit bertugas untuk melakukan penelaahan secara strategis, sedangkan
auditor internal untuk pengendalian operasional sehari-hari. Yang pasti, komite
audit memiliki wewenang yang lebih luas dari auditor internal.
Dalam kaitannya dengan peran Dewan Direksi dan Komisaris dalam
pengendalian intern, ia memberikan batasan yang jelas. Direksi menurutnya
bertanggung jawab untuk membangun dan memelihara pengendalian intern yang
handal dan efektif, sedangkan Dewan Komisaris dan komite audit wajib
mengawasi pelaksanaan pengendalian intern secara umum termasuk kebijakan
Direksi mengenai pengendalian intern.
Cikal bakal management fraud muncul sekitar tahun 1930-an dimana muncul apa
yang disebut white collar crime. Ia menyebutkan bahwa management fraud
memiliki karakteristik yaitu berbohong atau menyembunyikan sesuatu, tidak
tergantung pada ancaman dan bisa dilakukan sendiri ataupun kelompok. Adapun
tujuannya adalah untuk mendapatkan uang, barang atau jasa serta untuk
menghindari pembayaran atau kehilangan uang.
Fakta yang ditemukan di lapangan selama ini mengenai management fraud adalah
:
1. Selalu dilakukan secara rasional dan dalam keadaan
sadar.
2. Selalu ada keuntungan pribadi.
3. Setiap orang yang melakukan management fraud tidak
merasa sebagai kriminal.
4. Persepsi yang ada mengenai management fraud adalah
tidak ada sanksi berat bagi yang melakukannya.
Temuan hasil riset di Amerika menyebutkan bahwa kerugian dari fraud
mencapai 6% (enam perseratus) dari total revenue perusahaan, yang apabila
dinominalkan menjadi 600 milyar dolar. Temuan lain yang menarik adalah bahwa
individu yang melakukan fraud adalah individu yang sudah berumur dan bergelar
sarjana.
Sebagai salah satu dari pilar penegakan Good Corporate Governance, internal
auditor bergerak dalam lingkungan yang cepat berubah. Ia merupakan bagian
yang tak terpisahkan dan sejajar dengan pilar GCG lainnya.
Beberapa perubahan paradigma terjadi pada audit internal, yaitu dari fokus
audit pada pengendalian internal, kepatuhan dan ketepatan, saat ini sudah berubah
menjadi fokus kepada resiko bisnis. Mengenai respon yang dulu bersifat reaktif,
setelah menemukan fakta, tidak berkelanjutan menjadi respon yang sifatnya
koaktif, real time, dan pengawasan berkelanjutan. Mengenai perannya di
organisasi, paradigma lama auditor internal berfungsi sebagai penilai independen,
sedangkan saat ini sudah berubah peran sebagai pelaku manajemen resiko dan
GCG.
Kecukupan pengawasan internal sepenuhnya menjadi tanggung jawab internal
auditor. Oleh sebab itu dalam proses perencanaan sekalipun, internal auditor harus
dilibatkan dan menjadi bagian dari perencanaan. Sebagai prasyarat utama, internal
auditor harus memiliki integritas dan bersih dari segalanya, dengan kata lain
memiliki etika bisnis.
Ada ungkapan yang secara mudah ingin menjelaskan penyebab atau akar
permasalahan dari fraud. Ungkapan itu adalah: fraud by need,by greed, and by
opportunity. Kata fraud dalam ungkapan itu bisa diganti dengan corruption,
financial crime, dan lain-lain.
Menghilangkan atau menekan need dan greed yang mengawali terjadinya
fraud dilakukan sejak menerima seseorang, meskipun kita tahu bahwa proses itu
bukan jaminan penuh. Ini terus ditanamkan melalui fraud awareness dan contoh-
contoh yang diberikan pimpinan perusahaan atau lembaga.
Karena itu upaya mencegah fraud, dimulai dari pengendalian intern.
Untuk audit investigatif, kita memerlukan pengendalian intern yang khusus
ditujukan untuk mencegah fraud (fraud specific internal control).

C. FRAUD-SPECIFIC INTERNAL CONTROL


Semua pengendalian dapat digolongkan dalam pengendalian intern aktif
dan pengendalian intern pasif. Kata kunci untuk pengendalian intern aktif adalah
to prevent, mencegah. Kata kunci untuk pengendalian intern pasif adalah to deter,
mencegah karena konsekuensinya terlalu besar, membuat jera. Kalau PBB atau
Lembaga Pengawas Atom dunia mengunjungi negara-negara nuklir untuk
inspeksi instalasi nuklir mereka , ini adalah pengawasan aktif, tetapi dua adikuasa
(Amerika Serikat dan Unisoviet )yang berlomba-lomba membuat senjata nuklir
ukuran besar di zaman perang dingin, tidak bermaksud menggunakan senjata itu.
Senjata ini adalah untuk men-deter lawan menggunakannya; konsekuensinya
terlalu besar.
D. PENGENDALIAN INTERN AKTIF
Pengendalian Intern adalah pengendalian intern yang dilakukan secara
aktif. Aktif biasanya merupakan bentuk pengendalian intern yang paling banyak
di terapkan
Sarana–sarana Pengendalian Intern Aktif yang sering di pakai pada
umumnya sudah dikenal dalam sistem akuntansi, meliputi:

 Tandatangan
Tanda tangan merupakan sarana Pengendalian Intern Aktif karena dokumen
yang seharusnya ditandatangani tetapi belum ditandatangani adalah tidak sah.
Asumsinya tanpa tandatangan apa musti dilaksanakan tidak dapat terlaksana
(pembayaran,transfer,dll). Masalahnya adalah bahwa mereka yang perlu
mengetahui benar tidaknya tandatangan (1) bukan ahli membaca tandatangan
atau tulisan tangan; (2) tidak mempunyai kesempatan yang cukup untuk
mempelajari tandatangan yang ada pada dokumen yang bersangkutan; (3)
tidak mempunyai sample tandatangan untuk mengetahui otentik/tidaknya
tandatangan; (4) tandatangannya sendiri tidak mempunyai “titik-titik” yang
memungkinkan analisis tandatangan yang memadai dan (5) tidak mempunyai
pengetahuan mengenai siapa yang berhak menandatangani.
 Tandatangan kaunter (countersigning)
Pembubuhan lebih dari satu tandatangan dianggap lebih aman, khususnya bagi
pihak ketiga atau pihak diluar perusahaan atau lembaga yang berangkutan.
Anggapannya adalah penandatanganan lainnya mengawasi rekannya. Dalam
fraud, memalsu lebih dari satu tandatangan tidak lebih sukar dari memalsukan
satu tandatangan.
 Password dan PIN (Personnel Identification Numbers )
Sarana ini menjadi popular ketika manusia berinteraksi dengan komputer.
Tanpa password atau PIN, seseorang tidak bisa mengakses apa yang
diinginkannya.karena itu password atau PIN dianggap sarana dalam
Pengendalian Intern Aktif. Kuncinya adalah kerahasiaan. Masalahnya, orang
mencatat password atau PIN-nya. Catatan ini “bisa ditemukan” oleh pelaku
fraud. Lebih dari itu ada kecenderungan orang “meminjamkan” password atau
PIN kepada rekannya.
 Pemisahan tugas
Pemisahan tugas menghndari seseorang dapat melaksanakan sendiri seluruh
transaksi. Merupakan bagian dari Pengendalian Intern Aktif karena secara
teoritis pelaku fraud yang bertindak seorang diri tidak dapat melaksanakan
fraudnya. Latar belakang pemikirannya orang-orang yang tugasnya
dipisahkan, tidak bersekongkol.
 Pengendalian asset secara fisik
Pengendalian asset secara fisik pada dasarnya mengatur gerak-gerik barang
(masuk, keluar, dan penyimpanannya) memerlukan otorisasi. Di sini justru
titik lemahnya. Dokumen dan tandatangan mudah dipalsukan.
 Pengendalian persediaan secara real time (Real-time inventory control)
Ini adalah perpetual inventory yang mengikuti pergerakan persediaan secara
on time. Persediaan diberi bar code atau bahkan ditanam dengan radio chip
yang merekam keberadaannya. Keuntungan nyatanya adalah pencatatan
menjadi akurat. Kelemahannya sistem automatisasi juga mudah dimanipulasi.
 Pagar, gembok, dan semua bangunan dan penghalang fisik
Perlindungan melalui pembatasan akses terhadap harta berharga sangat
popular. Harga peralatan canggih yang mahal seringkali memberi rasa aman
yang palsu.
 Pencocokkan dokumen
Pencocokkan antara order pembelian, dokumen penerimaan barang, dan nota
tagihan mencoba menghindari selisih-selisih dan kerugian bagi perusahaan.
 Formulir yang sudah dicetak nomornya (Pre-numbered accountable forms)
Mencegah penggunaan formulis berganda, bahwa formulir digunakan sesuai
urutan dan gagasannya sangat sederhana.

E. PENGENDALIAN INTERN PASIF


Dalam Pengendalian Intern Pasif dari permukaan kelihatan tidak ada
pengamanan namun ada peredam yang membuat pelanggar atau pelaku fraud jera.
Peredam ini diumumkan secara luas, dan sistemnya memastikan hal ini.
Perbedaan antara Pengendalian Intern Aktif dan Pengendalian Intern Pasif
adalah:
a. Dalam hal biaya, Pengendalian Intern Aktif jauh lebih mahal dari
Pengendalian Intern Pasif.
b. Pengendalian Intern Aktif kasat mata atau dapat diduga dan dapat
ditembus. Pengendalian Intern Pasif dilain pihak tidak kasat mata dan tidak
dapat diduga (orang yang tertangkap tangan seolah-olah mendapat lotere atau
terkutuk) dan karenanya tidak terelakkan. Dalam Pengendalian Intern Pasif
pertanyaannya adalah seberapa nekadnya si calon pelaku.
Beberapa bentuk lain dari Pengendalian Intern Pasif meliputi :
 Pengendalian yang khas untuk masalah yang dihadapi (Customized Controls)
Sebenarnya customized controls merupakan hasil dari berpikir positif,
ketika Pengendalian Intern Aktif tidak memberikan pemecahan. Contohnya
dari suatu lembaga di Amerika. Secara tidak sengaja terungkap fraud yang
dilakukan suatu kontraktor. Ia hanya mengecat satu kali (satu lapisan cat)
tetapi menagih kepada lembaga ini seolah-olah menagih mengecat dua kali,
karenanya lembaga tersebut mempertimbangkan Pengendalian Intern Aktif
yang mana mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Kegagalan Pengendalian
Intern Aktif memberi solusi, menyebabkan seseorang yang berfikir positif
menemukan jawaban yang brilian. Setiap pengecatan pertama selesai,
kontraktor juga memberi lapisan tipis dengan warna terang lalu melaksanakan
pengecatan kedua dan biayanya tidak seberapa.
Pengendalian Intern Pasif ini Customized untuk masalah yang dihadapi.
 Jejak Audit (Audit Trails)
Sistem yang dikomputerisasi seringkali menggunakan Pengendalian Intern
Pasif, karena ada jejak-jejak atau perubahan dalam catatan, yang ditinggalkan
atau terekam dalam sistem. Ini akan menjadi Pengendalian Intern Pasif yang
efektif apabila jejak-jejak yang berupa fraud dapat menunjuk kepada
pelakunya.
 Audit yang fokus (Focused Audits)
Focused audit adalah audit terhadap hal-hal tertentu yang sangat khusus,
yang berdasarkan pengalaman rawan dan sering dijadikan sasaran fraud.
Mungkin ada petunjuk tentang profile tertentu, apakah dari perbuatannya atau
jenis transaksinya.
Secara psikologis, focused audits juga memberi kesan “jangan coba-coba
lakukan hal itu”, selalu ketahuan deh!
 Pengintaian atas kegiatan kunci (surveillance Of Key Activities)
Pengintaian bisa dilakukan denga bermacam-macam cara, mulai dari
kamera video yang merekam kegiatan di suatu ruangan sampai ruang kaca
dengan cermin satu arah. Surveillance juga dapat dilakukan dalam jaringan
computer, dari waktu ke waktu untuk melihat kegiatan pegawai yang
memanfaatkan fasilitas kantor.
 Pemindahan tugas (Rotation Of Key Personnel)
Rotasi karyawan kunci merupakan Pengendalian Intern Pasif yang efektif
kalau kehadirannya merupakan persyaratan utama dalam melakukan fraud.
Seorang supervisor di bank harus ada di bank kalau ia menyelewengkan uang
pelanggab yang mendapat kesan bahwa itu transaksi bank yang sah. Kalau ia
harus mengambil cuti dan tugasnya diambil alih oleh rekannya, mekanisme
pengawasannya berjalan tanpa biaya tambahan.

Kesimpulan Mengenai Pengendalian Intern Pasif


 Tidak mahal.
 Tidak tergantung kepada manusia karena itu PengendalianIntern
Pasif kebal kepada kelemahan manusia seperti lengah, korupsi, teledor, dll.
 Tidak mempengaruhi produktivitas, tidak memperlamabt
pelayanan.
 Tidak rawan untuk ditembus atau disusupi pelaku fraud.
Setidaknya ada 3 (tiga) jenis fraud, yaitu yang melibatkan :
1. Pihak internal, yaitu pegawai maupun manajemen.
2. Pihak eksternal, yaitu customer dan pihak ketiga lainnya.
3. Kerjasama, yaitu fraud yang dilakukan oleh pihak eksternal dan internal
secara bersama-sama.

Teori GONE (Greed, Opportunity, Needs, Exposures) sebagai 4 (empat)


faktor yang mendorong terjadinya fraud. Menurutnya mustahil terjadi fraud
apabila keempat faktor tersebut tidak muncul pada saat yang bersamaan. Untuk
mengantisipasi terjadinya fraud, penilaian individu sangat penting terutama pada
saat rekrutmen. Oleh sebab itu, Amien sangat menyarankan dilakukannya
background check untuk mencari tahu perilaku orang yang bersangkutan di
tempat kerja terdahulu dan di lingkungannya. Beberapa hal yang perlu dicari tahu
untuk dketahui seperti financial condition, jumlah investasi, besarnya loan yang
dimiliki dan lain sebagainya.
Untuk mengendalikan fraud, tidak bisa dijamin tidak terjadinya fraud dengan
menyewa orang ketiga atau konsultan, karena kendali sepenuhnya dalam
mengeliminir terjadinya fraud justru ada di tangan manajemen. Menurutnya
langkah-langkah mengantisipasi fraud ada 3 (tiga), yaitu :
1. Proactive, yaitu langkah untuk merubah value dan mindset demi mencapai
integritas dan profesionalisme.
2. Preventive, yaitu langkah untuk mendisain dan mengimplementasikan
sistem dan prosedur yang dapat mencegah fraud.
3. Detective, yaitu langkah investigasi. Langkah ini dilakukan setelah
terjadinya fraud.
Hal yang biasanya terjadi dalam mengantisipasi fraud adalah :
1. Kita tidak mengalokasikan sumber daya kita untuk pencegahan, seperti
misalnya asesmen terhadap resiko terjadinya fraud dan memahami dampak
fraud.
2. Yang kita lakukan biasanya adalah setelah fraud baru dilakukan
investigasi.
3. Investigasi dilakukan oleh investigator yang tidak kompeten, sehingga
yang sering terjadi adalah barang atau alat bukti terkontaminasi (sering
terjadi pada barang bukti berupa file dalam computer) dan kasus tidak
cukup kuat menunjukkan bukti terjadinya fraud.
4. Dampak resiko yang sama tetap terjadi secara berkelanjutan.
Untuk menghadapi dan mengantisipasi fraud sebaiknya :
1. Pahami fraud.
2. Bayangkan diri anda sebagai calon pelaku fraud, peluang apa yang ada
yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan fraud.
3. Pahami teknologi dan teknik untuk membuktikan terjadinya fraud.

Menurut Dr. Donald R. Cressey yang terkenal dengan teori ‘fraud


triangle‘, seseorang melakukan fraud (kecurangan) karena:
1. mengalami tekanan secara sosial atau finansial
2. adanya kesempatan untuk melakukan fraud tanpa takut ketahuan
3. adanya rasionalisasi atau justifikasi untuk melakukan fraud
Menurut ACFE, pencegahan fraud dalam laporan keuangan sebaiknya difokuskan
fokus pada:
Mengurangi tekanan situasional yang dapat mengarah ke terjadinya fraud
• Tidak membuat target keuangan yang sangat sulit tercapai
• Membuat kebijakan dan prosedur akuntansi yang jelas tanpa adanya
klausul pengecualian
• Menghilangkan kendala operasional yang berdampak pada efektivitas
kinerja keuangan, seperti batasan working capital, volume produksi yang
berlebihan, atau kendala-kendala inventori

Mengurangi timbulnya kesempatan untuk melakukan fraud


• Melakukan pencatatan akuntansi secara akurat dan lengkap
• Melakukan pengawasan atas transaksi bisnis dan hubungan interpersonal
antara supplier, konsumen, karyawan bagian pembelian, bagian penjualan,
dan bagian keuangan
• Membuat sistem keamanan fisik untuk menjaga aset-aset perusahaan
• Memisahkan fungsi (segregation of duties) agar kontrol atas suatu
transaksi tidak terpusat pada satu orang
• Menjaga data karyawan masuk-keluar dengan akurat, termasuk melakukan
background checks terhadap karyawan baru
• Memperkuat fungsi pengawasan untuk memastikan prosedur akuntansi
dilaksanakan dengan tepat
Memperkuat integritas karyawan
• Manajemen harus menunjukkan keteladanan dalam kejujuran
• Kebijakan perusahaan harus memisahkan secara jelas apa saja yang
dianggap perilaku yang benar atau jujur, dan mana yang tidak
• Perusahaan harus mempunyai kebijakan akuntansi yang jelas untuk isu-isu
pencatatan akuntansi yang masih kontroversial
• Perusahaan harus mempunyai dan mengkomunikasikan dengan baik
mengenai kebijakan tertulis mengenai konsekuensi atas setiap pelanggaran
fraud atau korupsi yang terjadi

F. 14 Pedoman Pencegahan Penipuan Dasar


Berdasarkan ¹ Dirty Deeds, oleh Mel Duvall, dan diterbitkan di Pitney
Bowes Magazine, Jan / Februari 2003. 14 Pedoman Pencegahan Penipuan
Dasar :
1. Periksa referensi dari setiap calon karyawan.
2. Setiap biaya, atau tagihan, harus memiliki pesanan pembelian
ditandatangani oleh orang otorisasi pembelian.
3. Tetapkan batas untuk jumlah orang yang dapat mengotorisasi pembelian
4. Tetapkan batas satu dolar dengan jumlah setiap orang dapat otorisasi.
5. Secara pribadi menjaga kontrol atas cek kosong.
6. Gunakan nomor berurutan meninjau pemeriksaan dan pengecekan secara
berkala untuk memastikan tidak ada nomor yang hilang.
7. Hanya Anda atau orang yang berwenang secara khusus dapat
menandatangani cek.
8. Bank telah dikirimkan kepada Anda pada alamat yang berbeda dari kantor
sehingga Anda dapat memeriksa pernyataan sebelum orang lain tidak.
9. Jika pembayaran dilakukan untuk vendor asing, hubungi vendor dan
memverifikasi pembelian.
10. Orang yang menyimpan buku-buku tidak boleh orang yang mendamaikan
pernyataan.
11. Orang yang membuka surat dan menyiapkan tiket deposit tidak boleh
orang yang menyimpan buku-buku.
12. Melakukan audit kejutan kas kecil.
13. Melakukan audit kejutan penggajian mendaftar. Periksa keakuratan tarif
per jam dan jam kerja. Memastikan tidak ada karyawan fiktif.
14. Jika seorang karyawan tidak melakukan penipuan, tekan biaya.

Masalah-masalah seperti banyak terjadi di dalam suatu organisasi, apabila


tidak tertangani secara baik dengan suatu program yang baik akan menjadi
potensi kecurangan terjadi.
Untuk menekan praktik kecurangan seharusnya ada semacam program
yang terstruktur serta tertata baik. Tujuan utamanya adalah mencegah dan
mendeteksi kecurangan serta melakukan langkah penyelamatan dari kerugian
yang tidak diinginkan. Tujuan berikutnya adalah untuk membantu manajemen
untuk mencapai target financial.
Untuk mencapai tujuan ini, diperlukan adanya standar yang harus
dipahami dan dipatuhi oleh segenap manajemen dan karyawan. Standar ini
meliputi adanya ;
a) Organisasi : Adanya aturan, responsibilitas dan akuntabilitas untuk
pencegahan dan mendeteksi kecurangan serta langkah recovery atas
kerugian dan harus jelas didefinisikan serta dikomunikasikan kepada
semuanya level.
b) Policy : Adanya kebijakan dan standar dibuat untuk semua risiko
kecurangan.
c) Perbaikan : Bisnis harus belajar dari kesalahan yang terjadi.
d) Pengetahuan : Adanya transfer dan penyebaran pengetahuan yang
merupakan suatu best practice agar pihak-pihak di bank punya
pemahaman dan pengetahuan bahwa kecurangan itu buruk dan harus
diberantas.
e) Manajemen Risiko: Kelengkapan dan konsitensi dalam proses untuk
mengukur, mengendalikan dan melaporkan risiko-risiko kecurangan
merupakan bagian yang integral dari operasional bisnis perbankan yang
dilakukan.
f) Solusi: Adanya contact point untuk peningkatan dan mendalami issue
kecurangan
g) Kultur: Harus ada upaya peningkatan perhatian terhadap kecurangan
melalui pelatihan, serta adanya penghargaan pada yang berprestasi serta
sanksi pada yang bersalah.
h) Keputusan: Mengidentifikasi risiko untuk memperkirakan keputusan yang
tepat dari tiap tingkatan manajemen

G. Hubungan antara Komite Audit dan Internal Auditor


Landasan hukum komite audit, yaitu Kep MenBUMN No. Kep-
103/MBU/2002, dimana tugasnya adalah membantu Dewan Komisaris dalam
fungsi pengawasan terhadap kegiatan direksi mengelola perusahaan. Sedangkan
auditor internal memiliki landasan hukum PP No. 12 dan PP No. 13 tahun 1998
dan bertugas untuk membantu direktur utama dalam fungsi pengawasan
pelaksanaan pemeriksaan keuangan, operasional dan menilai pengendalian intern.
Hubungan antara komite audit dan internal auditor harus diatur secara eksplisit
dalam charter komite audit yang disepakati bersama oleh Dewan Komisaris dan
Direksi. isi dari charter setidaknya terdiri dari maksud dan tujuan, fungsi dan
tugas, tanggung jawab, kewenangan, kode etik dan frekuensi rapat.
Mengenai pernyataan peserta yang menyebutkan bahwa posisi SPI saat ini
berada dibawah dua organ, yaitu Dewan Direksi dan Komisaris, Gunadi
menyatakan bahwa hal tersebut tidak benar. SPI merupakan organ dari Dewan
Direksi dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama, sesuai dengan
Peraturan Pemerintah No. 12 dan 13.
fungsi komite audit sebagai pembina SPI, ia menyatakan bahwa
pembinaan yang dilakukan tidak secara langsung, tetapi misalnya melalui nasehat
(advise) terhadap format laporan keuangan yang sesuai standar.
Dari bidang perbankan Institut Bankir Indonesia telah memberikan suatu
dasar bagi para anggotanya dalam “Kode Etik Bankir Indonesia” yang bisa
menjadi acuan awal dari setiap bank untuk membuat aturan tingkah laku bagi
banknya yang lebih teknis dengan penyesuaian sesuai kultur banknya masing-
masing.
o Patuh dan taat pada ketentuan dan perundang-undangan dan
peraturan yg berlaku
o Melakukan pencatatan yg benar mengenai segala transaksi yang
berkaitan dengan banknya
o Menghindarkan diri dari persaingan yang tidak sehat
o Tidak menyalahgunakan wewenangnya untuk kepentingan pribadi
o Menghindarkan diri dari keterlibatan dalam pengambilan
keputusan dalam hal terdapat pertentangan kepentingan
o Menjaga kerahasiaan nasabah dan banknya
o Memperhitungkan dampak yang merugikan dari setiap kebijakan
yang ditetapkan banknya terhadap keadaan ekonomi, sosial dan lingkungan
o Tidak menerima hadiah atau imbalan yang memperkaya diri
pribadi maupun keluarganya
o Tidak melakukan perbuatan tercela yang dapat merugikan citra
profesinya
Melakukan Program Bantuan Bagi Karyawan (Employee Assistance
Programs). Salah satu elemen dari terjadinya kecurangan adalah adanya tekanan
(pressure). Orang yang tertekan seperti ini bisa terdorong melakukan kecurangan.
Program bantuan bagi karyawan ini utamanya menghadapi masalah
seperti; penyalah gunaannya terhadap minuman keras atau obat-obatan,
perjudian, kesulitan pengaturan keuangan, kesehatan, keluarga dan problem yang
bersifat pribadi.
Standar seperti ini merupakan pondasi untuk membangun program
pencegahan kecurangan yang efektif. Hal kritis yang harus dipahami para manajer
adalah risiko yang paling penting yang ada dihadapannya. Apabila tidak ada
keinginan untuk menggali lebih jauh atau adanya toleransi terhadap kemungkinan
kecurangan, maka hal ini akan memperbesar bank menghadapi risiko yang
potensial. Karenanya hal ini perlu masukan dari direksi, dewan komisaris, Bank
Indonesia, risk manager, compliance dan manager lini dalam bank.

H. Implementasi dari sasaran Program Pencegahan Kecurangan


Pengimplementasian program manajemen risiko kecurangan disarankan
perlu dirumuskan dan dilakukan dengan baik. Memang tidak semua elemen
diperlukan dan mekanisme di setiap unit kerja yang sebenarnya sudah ada
perlindungannya sendiri juga.
Hal yang penting adalah tindakan selanjutnya, bila semua sudah tersedia di
bank untuk mencapai sasarannya, maka dengan pencegahan terhadap terjadinya
kecurangan, ini merupakan perlindungan terhadap uang dan kekayaan bank yang
sangat berharga. Review lanjutannya adalah penilaian dan penyesuaian terhadap
peraturan dan pelaksanaannya yang berjalan agar selalu melindungi bisnis bank
dan harus memberikan manfaat yang kompetitif.
BAB III
CONTOH RIIL KASUS DAN PEMBAHASAN TEORI

A. Peranan Bank Indonesia dalam Pencegahan Internet Fraud


Salah satu tugas pokok Bank Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam
UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah
dengan UU No. 3 Tahun 2004 adalah mengatur dan mengawasi bank. Dalam
rangka pelaksanaan tugas tersebut Bank Indonesia diberikan kewenangan
sbb:
1. Menetapkan peraturan perbankan termasuk ketentuan-ketentuan
perbankan yang memuat prinsip-prinsip kehati-hatian.
2. Memberikan dan mencabut izin atas kelembagaan dan kegiatan usaha
tertentu dari bank, memberikan izin pembukaan, penutupan dan
pemindahan kantor bank, memberikan persetujuan atas kepemilikan dan
kepengurusan bank.
3. Melaksanakan pengawasan bank secara langsung dan tidak langsung.
4. Mengenakan sanksi terhadap bank sesuai dengan ketentuan perundang-
undangan.
Terkait dengan tugas Bank Indonesia mengatur dan mengawasi bank,
salah satu upaya untuk meminimalisasi internet fraud yang dilakukan oleh Bank
Indonesia adalah melalui pendekatan aspek regulasi yakni dengan mengeluarkan
serangkaian Peraturan Bank Indonesia dan Surat Edaran Bank Indonesia yang
harus dipatuhi oleh dunia perbankan antara lain mengenai penerapan manajemen
risiko dalam penyelenggaraan kegiatan internet banking dan penerapan prinsip
Know Your Customer (KYC).
1. Manajemen risiko dalam penyelenggaraan kegiatan internet banking
Peraturan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia terkait dengan
pengelolaan atau manajemen risiko penyelenggaraan kegiatan internet
banking adalah Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tentang
Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum dan Surat Edaran Bank
Indonesia No. 6/18/DPNP, tanggal 20 April 2004 tentang Penerapan
Manajemen Risiko Pada Aktivitas Pelayanan Jasa Bank Melalui Internet
(Internet Banking)
Pokok-pokok pengaturannya antara lain sbb:
o Bank yang menyelenggarakan kegiatan internet banking wajib
menerapkan manajemen risiko pada aktivitas internet banking secara
efektif.
o Penerapan manajemen risiko tersebut wajib dituangkan dalam
suatu kebijakan, prosedur dan pedoman tertulis dengan mengacu pada
Pedoman Penerapan Manajemen Risiko pada Aktivitas Pelayanan Jasa
Bank Melalui Internet (Internet Banking), yang ditetapkan dalam
lampiran dalam Surat Edaran Bank Indonesia tersebut.
o Pokok-pokok penerapan manajemen risiko bagi bank yang
menyelenggarakan kegiatan internet banking adalah:
 Adanya pengawasan aktif komisaris dan direksi bank
 Pengendalian pengamanan (security control)
 Manajemen Risiko Hukum dan Risiko Reputasi
o Penerapan prinsip Know Your Customer (KYC)
Upaya lainnya yang dilakukan oleh Bank Indonesia dalam rangka
meminimalisir terjadinya tindak kejahatan internet fraud adalah pengaturan
kewajiban bagi bank untuk menerapkan prinsip mengenal nasabah atau yang
lebih dikenal dengan prinsip Know Your Customer (KYC). Pengaturan
tentang penerapan prinsip KYC terdapat dalam Peraturan Bank Indonesia No.
3/10/PBI/2001 tentang Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah (Know Your
Customer Principles) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Bank
Indonesia No. 3/23/PBI/2001 dan Surat Edaran Bank Indonesia 6/37/DPNP
tanggal 10 September 2004 tentang Penilaian dan Pengenaan Sanksi atas
Penerapan Prinsip Mengenal Nasabah dan Kewajiban Lain Terkait dengan
Undang-Undang tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

BAB IV
KESIMPULAN
 Kesimpulan
Kecurangan bermula dari yang kecil, kemudian membesar dan pada
akhirnya akan mencelakakan. Untuk itu perlu ada semacam program yang
terstruktur serta tertata baik menekan praktik kecurangan. Tujuan utamanya
mencegah dan mendeteksi kecurangan serta melakukan langkah
penyelamatan dari kerugian yang tidak diinginkan.
Pengendalian Intern adalah suatu sistem dengan proses dan prosedur
yang bertujuan khusus, dirancang dan dilaksanakan untuk tujuan utama, kalau
bukan satu-satunya tujuan untuk mencegah dan menghalangi (dengan
membuat jera) terjadinya fraud.
Pengendalian Intern dibagi 2 yakni :
a. Pengendalian intern aktif
b. Pengendalian intern pasif
Perbedaan antara Pengendalian Intern Aktif dan Pengendalian Intern Pasif :
• Dalam hal biaya, Pengendalian Intern Aktif jauh lebih mahal dari
Pengendalian Intern Pasif.
• Pengendalian Intern Aktif kasat mata atau dapat diduga dan dapat
ditembus. Pengendalian Intern Pasif dilain pihak tidak kasat mata dan
tidak dapat diduga (orang yang tertangkap tangan seolah-olah mendapat
lotere atau terkutuk) dan karenanya tidak terelakkan.
Hubungan antara Komite Audit dan Internal Auditor :
• Landasan hukum komite audit, yaitu Kep MenBUMN No. Kep-
103/MBU/2002, dimana tugasnya adalah membantu Dewan Komisaris
dalam fungsi pengawasan terhadap kegiatan direksi mengelola perusahaan.
Sedangkan auditor internal memiliki landasan hukum PP No. 12 dan PP
No. 13 tahun 1998 dan bertugas untuk membantu direktur utama dalam
fungsi pengawasan pelaksanaan pemeriksaan keuangan, operasional dan
menilai pengendalian intern.
• Hubungan antara komite audit dan internal auditor harus diatur
secara eksplisit dalam charter komite audit yang disepakati bersama oleh
Dewan Komisaris dan Direksi. isi dari charter setidaknya terdiri dari
maksud dan tujuan, fungsi dan tugas, tanggung jawab, kewenangan, kode
etik dan frekuensi rapat

 Saran
• Salah satu cara yang paling efektif untuk mencegah timbulnya fraud
adalah melalui peningkatan sistem pengendalian intern (internal control
system) selain melalui struktur / mekanisme pengendalian intern. Dalam
hal ini, yang paling bertanggung jawab atas pengendalian intern adalah
pihak manajemen suatu organisasi. Dalam rangka pencegahan fraud, maka
berbagai upaya harus dikerahkan untuk membuat para pelaku fraud tidak
berani melakukan fraud. Apabila fraud terjadi, maka dampak (effect) yang
timbul diharapkan dapat diminimalisir. Auditor internal bertanggungjawab
untuk membantu pencegahan fraud dengan jalan melakukan pengujian
(test) atas kecukupan dan kefektivan sistem pengendalian intern, dengan
mengevaluasi seberapa jauh risiko yang potensial (potential risk) telah
diidentifikasi.
• Dalam pelaksanaan audit, auditor harus mengidentifikasi adanya gejala
kecurangan. Hal ini menjadi penting, agar apabila terjadi fraud, maka
auditor lebih mudah melakukan investigasi atas fraud tersebut.
• Auditor internal bertanggung jawab membantu manajemen dalam
pencegahan, pendeteksian dan penginvestigasian fraud yang terjadi di
suatu organisasi. Agar dapat menjalankan tugas yang diemban tersebut
auditor internal perlu meningkatkan pengetahuan (knowledge) & keahlian
(skill) melalui pendidikan profesi berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA

http://mukhsonrofi.wordpress.com/
http://www.mail-archive.com/estika@yahoogroups.com/msg01704.html
http://komiteaudit.org/informasi_displayartikel.asp?idi=62
http://informasi-seminar.com/
http://muhariefeffendi.wordpress.com/
Theodorus M., Tuanakotta. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif.
2006.Jakarta : Lembaga Penerbit FE Universitas Indonesia