Anda di halaman 1dari 4

PLURALISME DAN POTENSI KONFLIK UMAT BERAGAMA

Sudah merupakan kehendak ilahi atau yang dalam ajaran agama disebutkan sebagai sunnatullah
(hukum alam), bahwa Indonesia yang sangat kita cintai ini adalah merupakan salah satu negara
di dunia yang sangat prularis baik dari sisi etnis, bahasa, agama dan lain sebagainya. Kenyataan
itu disadari betul oleh para Founding Fathers negeri ini, sehingga pluralitas tersebut mereka
rumuskan dengan afik dalam bentuk semboyan, Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya sekalipun
berbeda-beda tetapi tetap satu
Masyarakat yang pluralis sudah barang tentu memiliki budaya, aspirasi dan perbedaan-perbedaan
yang beraneka ragam, namun demikian mereka tetap sama, tidak ada yang merasa superior
ataupun inferior dari yang lain. Mereka juga memiliki hak dan kewajiban yang sama baik dalam
bidang sosial maupun politik. Namun sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan tersebut, tidak
menutup kemungkinan atau bahkan sering menimbulkan gesekan-gesekan di antara sesama
mereka, yang pada gilirannya dapat menimbulkan terjadinya konflik baik antar etnis maupun
antar agama.
Di antara sekian elemen-elemen pluralitas tersebut yang paling rawan dan paling mudah
bergejolak di antaranya adalah pluralitas di bidang agama, sebab agama adalah merupakan
sesuatu yang paling asasi dalam diri seseorang dan paling mudah menimbulkan gejolak
emosional. Sejarah mencatat bahwa konflik-konflik yang terjadi di Indonesia pada dasarnya
bukanlah disebabkan oleh agama an sich, melainkan disebabkan oleh faktor-faktor sosial,
ekonomi dan politik, namun agama dijadikan sebagai simbol bahkan sebagai motor penggerak
untuk terjadinya konflik antar ummat beragama.
Kita semua yakin dan percaya bahwa semua agama mengajarkan perdamaian, hidup rukun dan
tentram, dan tidak ada satupun agama di dunia ini menuruh ummat untuk saling membunuh atau
bermusuhan dengan ummat lain. Oleh karena itulah maka kajian-kajian tentang pluralitas agama
dan masalah-masalah yang mengitarinya seperti kerukunan ummat beragama semakin urgen
untuk dilaksanakan, bahkan pembicaraan seputar masalah ini akan tetap aktual di masa
mendatang dan diyakini tidak akan pernah mengalami kedaluarsa, sebab topik ini adalah topik
yang sangat diminati oleh setiap orang yang menghendaki terwujudnya kedamaian di bumi ini.
Kenyataan menunjukkan bahwa di penghujung akhir tahun sembilan puluhan sampai dengan
awal tahun dua ribu, bangsa kita menghadapi tantangan yang cukup besar yang berkaitan dengan
hubungan antar ummat beragama dimana hubungan ummat beragama terusik, bahkan telah juga
menelan korban jiwa dan harta yang cukup banyak. Padahal salah satunya yang sangat
dibanggakan bangsa ini pada masa lalu adalah indah dan harmonisnya hubungan antar ummat
beragama di Indonesia, dan tingginya pengamalan dan syiar agama di Indonesia, sehingga
kitapun tidak ragu mengakui diri sebagai bangsa yang religius dan bangsa yang saling
mengharagai dan bisa hidup berdampingan dengan penganut agama lain.
Pembicaraan seputar pluralisme sangat penting dilakukan dilatar belakangi oleh beberapa hal :
1. Perlunya sosialisasi bahwa pada dasarnya semua agama datang untuk mengajarkan dan
menyebarkan damai dan perdamaian dalam kehidupan ummat manusia.
2. Wacana agama yang pluralis, toleran dan inklusiv merupakan bagian tak terpisahkan dari
ajaran agama itu sendiri, sebab pluralitas apapun termasuk pluralitas agama, semangat toleransi
dan inklusivisme adalah hukum Tuhan atau Sunnatullah yang tidak bisa diubah, dihalang-halangi
dan ditutup-tutupi.
3. Adanya kesenjangan yang jauh antara cita-cita ideal agama-agama dan realitas empirik
kehidupan ummat beragama di tengah masyarakat.
4. Semakin menguatnya kecenderungan inklusivisme dan intoleransi di sebagian ummat
beragama yang pada gilirannya memicu terjadinya konflik dan permusuhan yang berlabel agama.
5. Perlu dicari upaya-upaya untuk mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan kerukunan
dan perdamaian antar ummat beragama.
Pluralisme adalah merupakan salah satu ajaran Tuhan yang sangat berguna dan bermanfaat bagi
ummat manusia dalam rangka untuk mencapai kehidupan yang damai di muka bumi, hanya saja
prinsip-prinsip pluralisme itu sering tercemari oleh perilaku-perilaku radikalisme, eksklusivisme,
intoleransi dan bahkan fundamentalisme. Hal ini dapat diatasi manakala kita bisa menjadikan
iman dan taqwa berfungsi dalam kehidupan yang nyata dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Bila iman dan taqwa itu telah berfungsi dalam kehidupan individual kita masing-
masing dan agama telah berfungsi dalam kehidupan masyarakat , berbangsa dan bernegara, maka
dapat kita pastikan bahwa sesungguhnya perilaku-perilaku radikalisme, ekseklusivisme,
intoleransi dan fundamentalisme, akan terhindar dari diri ummat beragama dan kita akan
menjalani hidup yang demokratis yang penuh dengan kebersamaan dan persaudaraan
Analisis tentang penyebab terjadinya konflik antar ummat beragama di Indonesia dapat
disimpulkan adalah disebabkan tiga faktor utama yaitu :
1. Faktor ekonomi dan politik.
Faktor ini sangat dominan sebab terjadinya kerusuhan sosial di berbagai daerah di negeri ini
adalah disebabkan ketidakpuasan kalangan masyarakat terhadap terjadinya kesenjangan sosial
yang sangat tajam antara si kaya dengan si miskin, antara pejabat dengan rakyat jelata,
antara ABRI dengan sipil, antara majikan dengan buruh, antara pengusaha besar dengan
pedagang kecil, sebagai akibat dari kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang sosial, politik
dan ekonomi yang tidak memihak kepada masyarakat bawah. Ketidakpuasan tersebut
diwujudkan dalam bentuk protes-protes sosial yang mengakibatkan terjadinya kerusuhan sosial,
ditambah lagi dengan bumbu-bumbu agama yang menopang untuk melegitimasi aksi-aksi
tersebut.
2. Faktor agama itu sendiri yang meliputi :
a. Pendirian Rumah Ibadah yang tidak didirikan atas dasar pertimbangan situasi dan kondisi
ummat beragama serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Penyiaran Agama yang dilakukan secara agitatif dan memaksakan kehendak bahwa
agamanyalah yang paling benar, sedangkan agama orang lain adalah salah. Lebih berbahaya lagi
manakala penyiaran agama itu sasaran utamanya adalah penganut agama tertentu.
c. Bantuan Luar Negeri baik berupa materi maupun berupa tenaga ahli yang tidak mengikuti
ketentuan yang berlaku, apalagi sering terjadi manipulasi bantuan keagamaan dari luar negeri.
d. Perkawinan Berbeda Agama yang sekalipun pada mulanya adalah urusan peribadi dan
keluarga, namun bisa menyeret kelompok ummat beragama dalam satu hubungan yang tidak
harmonis, apalagi jika menyangkut akibat hukum perkawinan, harta benda perkawinan, warisan
dan sebagainya.
e. Perayaan Hari Besar Keagamaan yang kurang memperhatikan situasi, kondisi, toleransi dan
lokasi tempat pelaksanaan perayaan itu. Apalagi perayaan itu dilakukan besar-besaran dan
menyinggung perasaan.
f. Penodaan Agama dalam bentuk pelecehan atau menodai doktrin dan keyakinan suatu agama
tertentu baik dilakukan oleh perorangan maupun kelompok. Penodaan agama ini paling sering
memicu terjadinya konflik antar ummat beragama.
g. Kegiatan Aliran Sempalan, baik dilakukan perorangan maupun oleh kelompok yang
didasarkan atas sebuah keyakinan terhadap agama tertentu namun menyimpang dari ajaran
agama pokoknya.

3. Faktor lokalitas dan etnisitas.
Faktor ini terutama muncul sebagai akibat dari migrasi penduduk, baik dari desa ke kota maupun
antar pulau. Selanjutnya masalah etnisitas, Indonesia memiliki potensi disintegratif yang tinggi
sebab terdiri dari 300 kelompok etnis yang berbeda-beda dan berbicara lebih dari 250 bahasa.
Faktor ini akan menjadi pemicu dengan menguatnya etnisitas seperti penduduk asli atau putra
daerah dan pendatang yang dengan mudah dapat menyulut perbedaan-perbedaan yang tak jarang
berujung pada konflik, bahkan kerusuhan sosial.