Anda di halaman 1dari 17

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pertusis atau batuk rejan atau batuk 100 hari merupakan salah satu
penyakit menular saluran pernapasan yang sudah diketahui adanya sejak tahun 1500-
an. Penyebab tersering dari pertusis adalah bakteri gram (-) Bordetella pertussis
1
.
Di seluruh dunia insidensi pertussis banyak didapatkan pada bayi dan anak
kurang dari 5 tahun, meskipun anak yang lebih besar dan orang dewasa masih
mungkin terinfeksi oleh B. pertussis. Insidensi terutama didapatkan pada bayi atau
anak yang belum diimunisasi
1
.
Dahulu pertusis adalah penyakit yang sangat epidemic karena menyerang
bukan hanya negara-negara berkembang namun juga beberapa bagian dari negara
maju. Namun setelah digalakkannya vaksinasi untuk pertusis, angka kematian dapat
ditekan, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pertusis
diharapkan tidak ditemukan lagi, meskipun ada kasusnya namun tidak signifikan
1,6
.
Dengan mendiagnosa secara dini kasus pertusis, dari anamnesis,
pemeriksaan fisik, manifestasi klinis, foto rontgen, dan pemeriksaan penunjang
lainnya, diharapkan para klinisi mampu memberikan penanganan yang tepat dan
cepat sehingga derajat penyakit pertusis tidak menimbulkan komplikasi yang lebih
lanjut.
B. Tujuan Penulisan
Untuk mengetahui definisi, etiologi, epidemiologi, patogenesis, manifestasi
klinis, diagnosis, penatalaksanaan, pencegahan, komplikasi dan prognosis pertussis.
C. Manfaat Penulisan
Penulisan referat ini diharapkan dapat menambah pengetahuan mengenai
penyakit pertussis.
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Pertusis (batuk rejan) disebut juga whooping cough, tussis quinta, violent
cough, dan di Cina disebut batuk seratus hari. Sydenham yang pertama kali
menggunakan istilah pertussis (batuk kuat) pada tahun 1670. Istilah ini lebih disukai
dari batuk rejan (whooping cough) karena kebanyakan individu yang terinfeksi tidak
berteriak (whoop artinya berteriak). Pertusis yang berarti batuk yang sangat berat atau
batuk yang intensif, merupakan penyakit infeksi saluran nafas akut yang dapat
menyerang setiap orang yang rentan seperti anak yang belum diimunisasi atau orang
dewasa dengan kekebalan yang menurun
1,2,3
.
Pertusis masih merupakan penyebab terbesar kesakitan dan kematian pada
anak, terutama di negara berkembang. WHO memperkirakan lebih kurang 600.000
kematian disebabkan pertussis setiap tahunnya terutama pada bayi yang tidak
diimunisasi. Dengan kemajuan perkembangan antibiotik dan program imunisasi maka
mortalitas dan morbiditas penyakit ini mulai menurun
4
.

B. Epidemiologi
Pertusis merupakan salah satu penyakit yang paling menular yang dapat
menimbulkan attack rate 80-100% pada penduduk yang rentan. Di seluruh dunia ada
60 juta kasus pertusis setahun dengan lebih dari setengah juta meninggal. Selama
masa pra-vaksin tahun 1922-1948, pertusis adalah penyebab utama kematian dari
penyakit menular pada anak di bawah usia 14 tahun di Amerika Serikat. Dilaporkan
juga bahwa 50 persen adalah bayi kurang dari setahun, 75 persen adalah anak kurang
dari 5 tahun
1,2,3,5,6
.
Pertusis adalah penyakit endemik dengan siklus endemik setiap 3-4 tahun
6
.
Dalam satu keluarga infeksi cepat menjalar kepada anggota keluarga lainnya.
3

Dilaporkan sebagian kasus terjadi dari bulan Juli sampai dengan Oktober. Pertusis
dapat mengenai semua golongan umur. Terbanyak terdapat pada umur 1-5 tahun,
umur penderita termuda ialah 16 hari. Dahulu dikatakan bahwa perempuan terkena
lebih sering daripada laki-laki dengan perbandingan 0.9:1
1,3
. Namun berdasarkan
(Farizo, 1992), perbandingan insidensi antara perempuan dan laki-laki menjadi sama
sampai umur dibawah 14 tahun. Sedangkan proporsi anak belasan tahun dan orang
dewasa yang terinfeksi pertusis naik secara bersama sampai 27%
7
.
Cara penularan ialah kontak dengan dengan penderita pertussis. Imunisasi
sangat mengurangi angka kejadian dan kematian yang disebabkan pertussis oleh
karena itu di negara dimana imunisasi belum merupakan prosedur rutin masih banyak
didapatkan pertusis. Imunitas setelah imunisasi tidak berlangsung lama. Tingkat
infeksi pertussis menurun drastis setelah vaksin pertusis mulai digunakan secara luas,
dan terendah sepanjang kasus yang dilaporkan di Amerika Serikat pada tahun 1976
5
.
Antibodi dari ibu (transplasental) selama kehamilan tidaklah cukup untuk
mencegah bayi baru lahir terhadap pertussis. Pertussis yang berat pada neonatus dapat
ditemukan dari ibu dengan gejala pertussis ringan. Kematian sangat menurun setelah
diketahui bahwa dengan pengobatan eritromicyn dapat menurunkan tingkat penularan
pertussis karena biakan nasofaring akan negatif setelah 5 hari pengobatan. Tanpa
reinfeksi alamiah dengan B.pertussis atau vaksinasi booster berulang, anak yang lebih
tua dan orang dewasa lebih rentan terhadap penyakit ini jika terpajan
1
.

C. Etiologi
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusis. B. pertussis cirinya kecil, tidak
bergerak, cocobacillus gram (-).Bisa didapatkan dengan swab pada daerah nasofaring
penderita pertussis, dan biasanya tumbuh baik pada glycerin-potato-blood agar
media (border-gengou).
Ada enam spesies dari Bordetella yaitu B. parapertussis, B. bronchiseptica,
B. avium, B. hinzii, B. holmesii, dan B. trematum. B. pertusis dan B. parapertussis
adalah dua patogen yang paling umum ditemukan pada manusia
8
.
4

Spesies Bordetella memiliki kesamaan tingkat homologi
DNA yang tinggi pada gen virulen, dan ada kontroversi apakah
cukup ada perbedaan untuk menjamin klasifikasi sebagai spesies
yang berbeda.
Organisme yang didapat umumnya tipe virulen (disebut
fase I). Pasase dalam kultur dapat merangsang pembentukan
varian yang avirulen (fase II, III, dan IV). Strain fase I berperan untuk penularan
penyakit dan menghasilkan vaksin yang efektif.
4

Hanya B. pertussis yang mengeluarkan toksin pertusis (TP), protein virulen
utama. B.pertussis juga menghasilkan beberapa bahan aktif, yang banyak darinya
dimaksudkan untuk memainkan peran dalam penyakit dan imunitas. Aerosol,
hemaglutinin filamentosa (HAF), beberapa aglutinogen (FIM2-FIM3), dan protein
permukaannonfimbria 69-kD yang disebut pertaktin (PRN) penting untuk perlekatan
terhadap sel epitel bersilia saluran pernapasan. Sitotoksin trakea, adenilat siklase, dan
TP menghambat pembersihan organisme. Sitotoksin trakea, factor dermonekrotik dan
adenilat siklase diterima secara dominant menyebabkan cedera epitel local yang
menghasilkan gejala-gejala pernapasan dan mempermudah penyerapan TP.
2,3,4

TP mempunyai 2 sub unit, yaitu A dan B. TP (B) akan berikatan dengan
reseptor pada sel taret dan mengaktivasi TP(A) pada membran sel yang merangsang
pengeluaran enzim. TP akan merangsang pengeluaran Adenosin Diphosphate (ADP)
sehingga akan mempengaruhi fungsi dari leukosit, limfosit, myocardial sehingga
bermanifestasi peradangan saluran napas dengan hyperplasia kelenjar lymph
peribronchial dan meningkatkan produksi mucus yang akan menutupi permukaan
silia. Yang pada akhirnya bias mengarah ke komplikasi bronchopneumonia, infeksi
sekunder bakteri lain (ex: Pneumococcus, Haemophilus influenzae, S.aureus,
S.pyogenes), sianosis karena apnea dan ventilation perfusion mismatch.
2,3

TP terbukti mempunyai banyak aktifitas biologis (misal, sensitivitas
histamine, sekresi insulin, disfungsi leukosit), beberapa darinya merupakan
manifestasi sistemik penyakit. TP menyebabkan limfositosis segera pada binatang
5

percobaan dangan pengembalian limfosit agar tetap dalam sirkulasi darah. TP tanpa
memainkan peran sentral tetapi bukan peran tunggal dalam pathogenesis
1
.


D. Patogenenis
Bordetella pertusis setelah ditularkan melalui sekresi udara pernapasan
kemudian melekat pada silia epitel saluran pernapasan. Mekanisme patogenesis
infeksi oleh Bordetella pertusis terjadi melalui empat tingkatan yaitu perlekatan,
perlawanan terhadap mekanisme pertahanan pejamu, kerusakan lokal dan akhirnya
timbul penyakit sistemik
1,9
.
Filamentous Hemaglutinin (FHA), Lymphosithosis Promoting Factor (LPF)/
Pertusis Toxin (PT) dan protein 69-Kd berperan pada perlekatan Bordetella pertusis
pada silia. Setelah terjadi perlekatan, Bordetella pertussis kemudian bermultiplikasi
dan menyebar ke seluruh permukaan epitel saluran napas. Proses ini tidak invasif oleh
karena pada pertusis tidak terjadi bakteremia. Selama pertumbuhan Bordetella
pertusis, maka akan menghasilkan toksin yang akan menyebabkan penyakit yang
dikenal dengan whooping cough
1,9
.
Toksin terpenting yang dapat menyebabkan penyakit disebabkan karena
pertusis toxin. Toksin pertusis mempunyai 2 sub unit yaitu A dan B. Toksin sub unit
B selanjutnya berikatan dengan reseptor sel target kemudian menghasilkan subunit A
yang aktif pada daerah aktivasi enzim membrane sel. Efek LPF menghambat migrasi
limfosit dan makrofag ke daerah infeksi
1,9
.
Toxin mediated adenosine diphosphate (ADP) mempunyai efek mengatur
sintesis protein dalam membrane sitoplasma, berakibat terjadi perubahan fungsi
fisiologis dari sel target termasuk limfosit (menjadi lemah dan mati), meningkatkan
pengeluaran histamine dan serotonin, efek memblokir beta adrenergic dan
meningkatkan aktifitas insulin, sehingga akan menurunkan konsentrasi gula darah
1,9
.
Toksin menyebabkan peradangan ringan dengan hyperplasia jaringan
limfoid peribronkial dan meningkatkan jumlah lendir pada permukaan silia, maka
fungsi silia sebagai pembersih terganggu, sehingga mudah terjadi infeksi sekunder
6

(tersering oleh Streptococcus pneumonia, H. influenzae dan Staphylococcus aureus).
Penumpukan lendir akan menimbulkan plak yang dapat menyebabkan obstruksi dan
kolaps paru
1,9
.
Hipoksemia dan sianosis disebabkan oleh gangguan perukaran oksigenasi
pada saat ventilasi dan timbulnya apnea saat terserang batuk. Terdapat perbedaan
pendapat mengenai kerusakan susunan saraf pusat, apakah akibat pengaruh langsung
toksin ataukah sekunder sebagai akibat anoksia
1
.
Terjadi perubahan fungsi sel yang reversible, pemulihan tampak apabila sel
mengalami regenerasi, hal ini dapat menerangkan mengapa kurangnya efek antibiotik
terhadap proses penyakit. Namun terkadang Bordetella pertusis hanya menyebabkan
infeksi yang ringan, karena tidak menghasilkan toksin pertusis
1
.

E. Manifestasi Klinis
Masa inkubasi pertusis 6-20 hari, rata-rata 7 hari, sedangkan perjalanan
penyakit ini berlangsung antara 6 8 minggu atau lebih. Gejala timbul dalam waktu
7-10 hari setelah terinfeksi. Bakteri menginfeksi lapisan tenggorokan, trakea dan
saluran udara sehingga pembentukan lendir semakin banyak
1
.
Pada awalnya lendir encer, tetapi kemudian menjadi kental dan lengket.
Infeksi berlangsung selama 6 minggu, dan berkembangan melalui 3 tahapan
1,10
:
1. Tahap Kataral
Mulai terjadi secara bertahap dalam waktu 7-10 hari setelah terinfeksi,
ciri-cirinya menyerupai flu ringan :
Bersin-bersin
Mata berair
Nafsu makan berkurang
Lesu
Batuk (pada awalnya hanya timbul di malam hari kemudian terjadi
sepanjang hari)
2. Tahap Paroksismal
7

Mulai timbul dalam waktu 10-14 hari (setelah timbulnya gejala awal) 5-
15 kali batuk diikuti dengan menghirup nafas dalam dengan pada tinggi. Batuk
bisa disertai pengeluaran sejumlah besar lendir vang biasanya ditelan oleh
bayi/anak-anak atau tampak sebagai gelembung udara di hidungnya).
Muka anak akan merah atau sianosis, mata menonjol, lidah menjulur,
lakrimasi, salivasi dan distensi vena leher selama serangan.
Episode batuk-batuk yang paroksimal dapat terjadi lagi sampai obstruksi
mucous plug pada saluran nafas menghilang.
Pada stadium paroksismal dapat terjadi petekia pada kepala dan leher
atau perdarahan konjungtiva.Batuk atau lendir yang kental sering merangsang
terjadinya muntah. Serangan batuk bisa diakhiri oleh penurunan kesadaran
yang bersifat sementara.

Emesis sesudah batuk dengan paroksimal adalah cukup khas sehingga
anak dicurigai menderita pertussis walaupun tidak ada whoop. Anak akan
terlihat apatis dan berat badan menurun.
Pada bayi, apnea (henti nafas) dan tersedak lebih sering terjadi
dibandingkan dengan tarikan nafas yang bernada tinggi.
3. Tahap Konvalesen
Mulai terjadi dalam waktu 4-6 minggu setelah gejala awal. Batuk
semakin berkurang, muntah juga berkurang, anak tampak merasa lebih baik.
Kadang batuk terjadi selama berbulan-bulan, biasanya akibat iritasi saluran
pernafasan.
8


F. Diagnosis
1. Anamnesis
Dalam anamnesis ditanyakan identitas, keluhan utama serta gejala
klinis pertusis lainnya, faktor resiko, riwayat keluarga, riwayat penyakit
dahulu, dan riwayat imunisasi.
2. Pemeriksaan fisik
Gejala klinis yang didapat pada pemeriksaan fisik tergantung dari
stadium saat pasien diperiksa.
3. Pemeriksaan laboratorium
Pada minggu pertama dapat terjadi leukopenia seperti gambaran infeksi
virus. Pada minggu kedua, hitung limfosit absolut >10.000.
Reaksi lukomoid ditandai dengan peningkatan leukosit 20.000-50/000 /
UI dengan limfositosis absolute khas pada akhir stadium kataral dan selama
stadium paroksismal. Pada bayi jumlah leukosit tidak menolong untuk
diagnosis oleh karena respon limfositosis juga terjadi pada infeksi lain
1,3,10
.
Isolasi B.pertussis dari secret nasofaring dipakai untuk membuat
diagnosis pertussis. Biakan positif pada stadium kataral 95-100%, stadium
paroksismal 94% pada minggu ke-3 dan menurun sampai 20% untuk waktu
berikutnya
1,3,10
.
Tes serologi berguna pada stadium lanjut penyakit dan untuk
menetukan adanya infeksi pada individu dengan biakan. Cara ELISA dapat
dipakai untuk menentukan serum IgM, IgG, dan IgA terhadap FHA PT. Nilai
serum IgM FHA dan PT menggambarkan respon imun primer baik
disebabakan penyakit atau vaksinasi. IgG toksin pertusis merupakan tes yang
paling sensitive dan spesifik untuk mengetahui infeksi dan tidak tampak
setelah pertussis
10,12
.
4. Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan foto toraks dapat memperlihatkan infiltrat perihiler,
atelektasis atau emfisema.
9


G. Diagnosis Banding
Diagnosis banding pertusis pada bayi perlu dipikirkan bronkiolitis,
pneumonia bakterial, sistik fibrosis, tuberkulosis dan penyakit lain yang
menyebabkan limfadenopati dengan penekanan diluar trakea dan bronkus.
1. Bronkiolitis (RSV) pada bayi < 6 bulan
2. Asma
3. Obstruksi di trakea, benda asing, penekanan dari kelenjar lkimfe hilus karena
TBC atau tumor mediastinal
4. Pneumonia
5. Leukemia akut (Reaksi lukomoid), pada pertusis terjadi peningkatan limfosit
bukan limfoblas
Pada umumnya pertusis dapat dibedakan dari gejala klinis dan laboratorium.
Benda asing juga dapat menyebabkan batuk paroksismal, tetapi biasanya gejalanya
mendadak dan dapat dibedakan dengan pemeriksaan radiologi dan endoskopi. Infeksi
B. parapertussis, B. bronkiseptika, dan adenovirus dapat menyerupai sindrom klinis
B.pertussis, dapat dibedakan dengan isolasi kuman penyebab
1
.
H. Penatalaksanaan
Tujuan terapi adalah membatasi jumlah paroksismal, untuk mengamati
keparahan batuk, memberi bantuan bila perlu, dan memaksimalkan nutrisi, istirahat,
dan penyembuhan tanpa sekuele. Tujuan rawat inap spesifik, terbatas adalah untuk
menilai kemajuan penyakit dan kemungkinan kejadian yang mengancam jiwa pada
puncak penyakit, mencegah atau mengobati komplikasi, dan mendidik orang tua pada
riwayat alamiah penyakit dan pada perawatan yang akan diberikan di rumah. Untuk
kebanyakan bayi yang tanpa komplikasi, keadaan ini disempurnakan dalam 48-72
jam
1,11
.
Pada kasus ringan, umumnya anak-anak umur 6 bulan, dilakukan
pengobatan rawat jalan. Sedangkan pada anak < 6 bulan perlu dirawat di Rumah
sakit. Selain itu, anak dengan penyulit juga perlu dirawat, misalnya pada anak dengan
10

pneumonia, kejang, dehidrasi, gizi buruk, henti napas lama, atau kebiruan setelah
batuk.
15

Frekuensi jantung, frekuensi pernafasan, dan oksimetri nadi dimonitor terus,
pada keadaan yang membahayakan, sehingga setiap paroksismal disaksikan oleh
personel perawat kesehatan. Rekaman batuk yang rinci dan pencatatan pemberian
makan, muntah, dan perubahan berat memberikan data untuk penilaian keparahan.
Paroksismal khas yang tidak membahayakan mempunyai tanda sebagai berikut
lamanya kurang dari 45 detik, perubahan warna merah tetapi tidak biru, bradikardi,
atau desaturasi oksigen yang secara spontan selesai pada akhir paroksismal, berteriak
atau kekuatan untuk menyelamatkan diri pada akhir paroksismal, mengeluarkan
sumbatan lendir sendiri, kelelahan pasca batuk tetapi bukan tidak berespons
1,11
.
Pengobatan suportif yang bisa dilakukan diantaranya menghindarkan faktor-
faktor yang menimbulkan serangan batuk, mengatur hidrasi dan nutrisi, oksigen dapat
diberikan pada distres pernapasan akut/kronik, dan penghisapan lendir terutama pada
bayi dengan pneumonia dan distres pernapasan. Beberapa agen terapeutik atau
medikamentonsa yang digunakan pada pasien pertussis adalah sebagai berikut
1,11,12
:
1. Agen Antimikroba
Agen antimikroba selalu diberikan bila pertussis dicurigai atau
diperkuat karena kemungkinan manfaat klinis dan membatasi penyebaran
infeksi. Eritromisin, 40-50 mg/kg/24 jam, secara oral dalam dosis terbagi
empat (maksimum 2 g/24 jam) selama 14 hari merupakan pengobatan baku.
Beberapa pakar lebih menyukai preparat estolat tetapi etilsuksinat dan stearat
juga manjur. Penelitian kecil eritromicin etilsuksinat yang diberikan dengan
dosis 50 mg/kg/24 jam dibagi menjadi dua dosis, dengan dosis 60 mg/kg/24
jam dibagi menjadi tiga dosis, dan eritromicin estolat diberikan dengan dosis
40 mg/kg/24 jam dibagi menjadi dua dosis menunjukkan pelenyapan
organisme pada 98% anak. Azitromisin, Claritomisin, Ampisillin, Rifampin,
Trimethoprim-Sulfametoksasol cukup aktif tetapi sefalosporin generasi
pertama dan ke-2 tidak. Pada penelitian klinis, eritromicin lebih unggul
11

daripada amoksisilin untuk pelenyapan B. pertussis dan merupakan satu-
satunya agen dengan kemanjuran yang terbukti.
2. Salbutamol
Sejumlah kecil trial klinis dan laporan memberi kesan cukup
pengurangan gejala-gejala dari stimulan 2-adrenergik salbutamol (albuterol).
Tidak ada trial klinis tepat yang telah menunjukkan pengaruh manfaat, satu
penelitian kecil tidak menunjukkan pengaruh. Pengobatan dengan aerosol
memicu paroksismal.
3. Kortikosteroid
Tidak ada trial klinis buta acak cukup besar yang telah dilakukan
untukan mengevaluasi penggunaan kortikosteroid dalam manajemen pertussis.
Penelitian pada binatang menunjukkan pengaruh yang bermanfaat pada
manifestasi penyakit yang tidak mempunyai kesimpulan pada infeksi
pernafasan pada manusia. Pengguanaan klinisnya tidak dibenarkan.

I. Pencegahan
1. Imunisasi aktif :
Dosis total 12 unit protektif vaksin pertussis dalam 3 dosis yang
seimbang dengan jarak 8 minggu. Imunisasi dilakukan dengan menyediakan
toksoid pertussis, difteria dan tetanus (kombinasi). Jika pertusis bersifat
prevalen dalam masyarakat, imunisasi dapat dimulai pada waktu berumur 2
minggu dengan jarak 4 minggu. Anak-anak berumur > 7 tahun tidak rutin
diimunisasi
1,11,13,14
.
Imunitas tidak permanen oleh karena menurunnya proteksi selama
adolesens infeksi pada penderita besar biasanya ringan tetapi berperan sebagai
sumber infeksi B. pertussis pada bayi-bayi non imun. Vaksin pertusis
monovalen (0.25 ml,i.m) telah dipakai untuk mengontrol epidemi diantara
orang dewasa yang terpapar
13,14
.
Efek samping sesudah imunisasi pertussis termasuk manifestasi umum
12

seperti eritema, indurasi, dan rasa sakit pada tempat suntikan dan sering
terjadi panas, mengantuk, dan jarang terjadi kejang, kolaps, hipotonik,
hiporesponsif, ensefalopati, anafilaksis. Resiko terjadinya kejang demam
dapat dikurangi dengan pemberian asetaminofen (15mg/kg BB, per oral) pada
saat imunisasi dan setiap 4-6 jam untuk selama 48-72 jam
1,11,14
.
Imunisasi pertama pertussis ditunda atau dihilangkan jika penyakit
panas, kelainan neurologis yang progresif atau perubahan neurologis, riwayat
kejang. Riwayat keluarga adanya kejang, Sudden Infant Death Syndrome
(SIDS) atau reaksi berat terhadap imunisasi pertussis bukanlah kontra indikasi
untuk imunisasi pertussis. Kontraindikasi untuk pemberian vaksin pertussis
berikutnya termasuk ensefalopati dalam 7 hari sebelum imunisasi, kejang
demam atau kejang tanpa demam dalam 3 hari sebelum imunisasi, menangis 3
jam, high picth cry dalam 2 hari, kolaps atau hipotonik/hiporesponsif dalam
2 hari, suhu yang tidak dapat diterangkan
anafilaksis
1,11,13,14
.
2. Kontak dengan penderita :
Eritromisin efektif untuk pencegahan pertussis pada bayi-bayi baru
lahir dan ibu-ibu dengan pertussis. Eritromisin 50 mg/kg BB/hari dibagi
dalam 4 dosis, peroral selama 14 hari. Anak yang berumur > 7 tahun yang
telah mendapatkan imunisasi juga diberikan eritromisin profilaksis.
Pengobatan eritromisin awal akan mengurangi penyebaran infeksi eliminasi
B. pertussis dari saluran pernafasan dan mengurangi gejala-gejala
penyakit
1,11,12
.
Orang-orang yang kontak dengan penderita pertussis yang belum
mendapat imunisasi sebelumnya, diberikan eritromisin selama 14 hari sesudah
kontak diputuskan. Jika ada kontak tidak dapat diputuskan, eritromisin
diberikan sampai batuk penderita berhenti atau mendapat eritromisin selama 7
hari. Vaksin pertussis monovalen dan eritromisin diberikan pada waktu terjadi
epidemi
1,11,12
.
13


J. Komplikasi
Komplikasi dapat terjadi pada berbagai macam sistem, terutama sistem respirasi
dan saraf pusat
1,11
.
1. Pneumonia merupakan komplikasi paling sering. Pada 90% kasus, kematian
pada anak-anak bukan disebabkan karena B. pertussis sendiri tetapi lebih
sering karena bakteria sekunder (H.influenzae, S.Pneumonia, S.auris,
S.piogenes)
1,11
.
2. TBC laten dapat menjadi aktif.
3. Atelektasis dapat timbul sekunder oleh karena ada sumbatan lendir yang
kental. Aspirasi lendir atau muntah dapat menimbulkan pneumonia. Infeksi
sekunder terjadi dan dapat menimbulkan demam tinggi.
4. Batuk dengan tekanan tinggi dapat menimbulkan ruptur alveoli, empisema
interstitiel/subkutan dan pneumotoraks. Bronkiektasia dapat timbul dan
menetap.
5. Sering terjadi otitis media yang sering disebabkan oleh S.pneumonia.
6. Kenaikan tekanan intratoraks dan intra-abdomen selama batuk dapat
menyebabkan perdarahan subkonjungtiva, hematoma, perdarahan epidural,
perdarahan intrakranial, ruptura diafragma, hernia umbikalis, hernia
inguinalis, prolapsus rekti, dehidrasi dan gangguan nutrisi
1,11
.
7. Dapat pula terjadi konvulsi dan koma, merupakan refleksi dari hipoksia
serebral (asfiksia), perdarahan subarachnoid, tetapi kadang-kadang kejang
dapat disebabkan oleh temperatur tinggi
1,10
.
8. Kejang-kejang oleh karena hiponatremia yang sekunder terhadap Syndrome
of Inappropriate Secretion of Antidiuretic Hormone (SIADH)
10
.
K. Prognosis
Angka kematian karena pertussis telah menurun menjadi 10/1000 kasus.
Rasio kasus kematian bayi < 2 bulan adalah 1,8 % selama tahun 2000-2004 di USA.
14

Persentase rawat inap pada dewasa sebesar 3 % (12% dewasa tua). Tingkat
berkembangnya menjadi pneumonia hingga 5 % dan mengalami patah tulang rusuk
sampai 4 %
12
. Kebanyakan kematian disebabkan oleh ensefalopati dan pneumonia
atau komplikasi paru-paru lain
1,12
.


























15

BAB III
Kesimpulan

Pertusis merupakan salah satu penyakit menular yang menyerang saluran
pernapasan bagian atas, yang disebabkan oleh Bordetella pertussis. Pertusis ditandai
dengan batuk lama dan kadang-kadang terdengar seperti menggonggong (whooping
cough) dan episode diakhir dengan ekspulsi dari secret trakea,silia lepas dan epitel
nekrotik.
Pertusis sering menyerang bayi dan anak-anak kurang dari 5 tahun, terutama
yang belum diimunisasi lebih rentan, demikian juga dengan anak lebih dari 12 tahun
dan orang dewasa.
Stadium penyakit pertusis meliputi 3 stadium yaitu kataral, paroxismal, dan
konvalesen.
Diagnosa pertusis dengan gejala klinis memuncak pada stadium paroksismal,
riwayat kontak dengan penderita pertusis, kultur apus nasofaring, ELISA, foto thorax.
Terapi yang dapat diberikan antibiotic eritromisin 50mg/kgB/hari dibagi 4 dosis
selama 14 hari, dan suportif.
Prognosis baik setelah dilakukan pemberian imunisasi. Kematian biasanya
terjadi karena ensefalopati dan pneumonia atau komplikasi penyakit paru yang
lainnya.









16

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA

1. S. Long, Sarah. (2000). Pertusis. Ilmu Kesehatan Anak Nelson Vol II. Jakarta :
EGC. 181: 960-965.
2. Garna, Harry. Pertusis. Azhali M.S, dkk. (1993). Ilmu Kesehatan Anak Penyakit
Infeksi Tropik. Bandung, Indonesia : FK Unpad : 80-86.
3. Law Barbara J. (1998). Pertussis. Kendigs : Disorders of Respiratory Tract in
Children. WB Saunders. 6th edition. Philadelphia, USA. Chapter 62. h :1018-
1023.
4. Heininger, U. (2010). Update on pertussis in children. Expert review of anti-
infective therapy 8 (2): 16373.
5. Black S. (1997). Epidemiology of pertussis. Pediatr Infect Dis J. Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/9109162. Accessed on May 14th 2014.
6. Cherry JD. (2005). The epidemiology of pertussis: a comparison of the
epidemiology of the disease pertussis with the epidemiology of Bordetella
pertussis infection. Pediatrics : 115:1422-1427. Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15867059. Accessed on May 14th 2014.
7. Farizo KM. (1992). Epidemiological features of pertussis in the United States,
1980-1989. Clin Infect Dis ; 14(3):708-19. Available at
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1562663. Accessed on May 14th 2014.
8. Hewlett EL. (2005). Bordetella species. In: Principles and Practice of Infectious
Diseases, 6th ed, Mandell GL, Bennett JE, Dolin R (Eds), Churchill Livingstone,
Philadelphia. p.2701. Available at
17

http://www.uptodate.com/contents/microbiology-pathogenesis-and-
epidemiology-of-bordetella-pertussis-infection#H3. Accessed on May 13rd 2014.
9. Todar, Kenneth. (2011). Bordetella pertussis and Whooping Cough. Available at
http://textbookofbacteriology.net/pertussis_2.html. Accessed on May 13rd 2014.
10. Shehab, Ziad M. Pertussis. Taussig-Landau : Pediatric Respiratory Medicine.
Missouri, USA. Mosby Inc. 1999. Chapter 42. h: 693-699.
11. Staf pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI. (2005). Pertusis. Staf pengajar
I.K.Anak FKUI : Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta, Indonesia. FKUI,
1997. Jilid 2. h: 564-566.
12. Tejpratap Tiwari. (2005). Recommended Antimicrobial Agents for the Treatment
and Postexposure Prophylaxis of Pertussis. CDC Guideline.
http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/rr5414a1.htm
13. Kretsinger K, Broder KR, Cortese MM, et al. (2006). Preventing tetanus,
diphtheria, and pertussis among adults: use of tetanus toxoid, reduced diphtheria
toxoid and acellular pertussis vaccine. MMWR Recomm Rep. 55(RR-17):1-33.
Available at
https://online.epocrates.com/u/2951682/Pertussis/FollowUp/Overview. Accessed
on May 15th 2014.
14. Update: Vaccine Side Effects, Adverse Reactions, Contraindications, and
Precautions Recommendations of the Advisory Committee on Immunization
Practices. Available at:
http://www.cdc.gov/mmwr/preview/mmwrhtml/00046738.html. Accessed on
May 15th 2014.
15. Pertusis. International Child Health Review Collaboration. Available at
http://www.ichrc.org/47-pertusis. Accessed on May 15th 2014

Anda mungkin juga menyukai