Anda di halaman 1dari 10

SKENARIO 1

Dokter Keluarga

Tn. M. 50 tahun datang ke klinik Sumber Sehat untuk berobat penyakit diabetes
melitus yang sudah 3 tahun dideritanya. Tn. M. datang ke klinik ini atas saran temannya.
Menurut temannya, klinik Sumber Sehat pelayanannya sangat bagus, baik cara
pendekatannya maupun jenis pelayanan yang tersedia karena dokter yang berpraktik di klinik ini
adalah dokter keluarga yang agak berbeda dengan dokter umum biasa.
Masih menurut temannya dokter keluarga ini tidak hanya mengobati pasien di klinik,
tetapi juga dapat memberikan pelayanan kunjungan rumah, penyuluhan kesehatan dan
memberikan binaan kepada keluarga di sekitar klinik tersebut.


































STEP 1

SASARAN BELAJAR

I. Memahami dan menjelaskan batasan atau terminologi kedokteran keluarga dan
perkembangannya.
I. 1 Batasan atau terminologi dokter keluarga.
I. 2 Latar belakang kelahiran dan perkembangan dokter keluarga.

II. Menjelaskan prinsip dan standar pelayanan dokter keluarga.
II. 1 Prinsip pelayanan dokter keluarga.
II. 2 Standar pelayanan dokter keluarga.

III. Menjelaskan kompetensi dan peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan
primer.
III. 1 Kompetensi dokter keluarga.
III. 2 Peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan primer.





























STEP 3

I. Memahami dan menjelaskan batasan atau terminologi kedokteran keluarga dan
perkembangannya.

I. 1 Batasan atau terminologi dokter keluarga.

Dokter keluarga merupakan dokter yang mengabdikan dirinya dalam bidang profesi dokter
maupun kesehatan yang memiliki pengetahuan, ketrampilan melalui pendidikan khusus di
bidang kedokteran keluarga yang mempunyai wewenang untuk menjalankan praktek dokter
keluarga. ( IKK FKUI 1996 )

Dokter keluarga adalah dokter yang mempunyai tanggung jawab menyelenggarakan
pelayanan kesehatan personal, menyeluruh terpadu, berkesinambungan dan proaktif sesuai
dengan kebutuhan pasiennya sebagai anggota satu unit keluarga, komunitas serta
lingkungannya serta bila menghadapi masalah kesehatan khusus yang tak tertanggulangi
bertindak sebagai coordinator dalam konsultasi dan atau rujukan pada dokter ahli yang
sesuai. ( AAFP, IDI, Singapura )

Dokter Keluarga adalah dokter praktek umum, hanya dalam prakteknya menggunakan
pendekatan kedokteran keluarga. Pendekatan kedokteran keluarga itu prinsip ada 4,
pelayanan yang bersifat personal (invidual) bukan keluarga, pelayanan yang bersifat primer
artinya hanya melayani sebatas dokter pelayanan primer, lalu komprehensif artinya DK
sebagai Dokter praktek umum melayani 4 ranah pelayanan yaitu promotif, preventif,
kuratif, dan rehabilitatif. Lalu yang ke empat adalah kontinyu, ini yang sering dilupakan
para dokter prakter umum padahal hal tersebut sangat penting, the continuity of care atau
kesinambungan pelayanan. Jangan sampai seseorang itu dilayani oleh banyak dokter,
sehingga mengulang pelayanan lagi, pemeriksaan lagi, obatnya jadi double-double dan
seterusnya. ( dr. Sugito Wonodirekso )

Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan primer
yang komprehensif, kontinu, integratif, holistik, koordinatif, dengan mengutamakan
pencegahan, menimbang peran keluarga dan lingkungan serta pekerjaannya. Pelayanan
diberikan kepada semua pasien tanpa memandang jenis kelamin, usia ataupun jenis
penyakitnya. Pelayanan dokter keluarga melibatkan Dokter Keluarga sebagai penyaring
di tingkat primer sebagai bagian suatu jaringan pelayanan kesehatan terpadu yang
melibatkan dokter spesialis di tingkat pelayanan sekunder dan rumah sakit rujukan sebagai
tempat pelayanan rawat inap, diselenggarakan secara komprehensif, kontinu, integratif,
holistik, koordinatif dengan mengutamakan pencegahan, menimbang peran keluarga dan
lingkungannya serta pekerjaannya. Pelayanan diberikan kepada semua pasien tanpa
memilah jenis kelamin, usia serta faktor-faktor lainnya. (The American Academy of Family
Physician, 1969; Geyman, 1971; McWhinney, 1981).
Pengertian dokter keluarga sendiri menurut PDKI (Perhimpunan Dokter Keluarga
Indonesia) adalah tenaga kesehatan tempat kontak pertama pasien di fasilitas/sistem
pelayanan kesehatan primer guna menyelesaikan semua masalah kesehatan yang dihadapi
tanpa memandang jenis penyakit,, usia, dan jenis kelamin yang dapat dilakukan sedini dan
sedapat mungkin, secara paripurna, dengan pendekatan holistik, bersinambung, dan dalam
koordinasi serta kolaborasi dengan profesional kesehatan lainnya, dengan menerapkan
prinsip pelayanan yang efektif dan efisien yang mengutamakan pencegahan, serta
menjunjung tinggi tanggung jawab profesional, hukum, etika dan moral. Layanan yang
diselenggarakannya (wewenang) sebatas kompetensi dasar kedokteran yang diperolehnya
selama pendidikan kedokteran dasar.
Batasan tentang ilmu kedokteran keluarga di antaranya adalah sebagai berikut :

1. Ilmu kedokteran keluarga adalah ilmu yang mencakup seluruh spektrum ilmu
kedokteran yang orientasinya adalah untuk memberikan pelayanan kesehatan tingkat
pertama yang berkesinambungan dan menyeluruh kepada satu kesatuan individu,
keluarga dan masyarakat dengan memperhatikan faktor-faktor lingkungan, ekonomi
dan sosial budaya. (PB IDI, 1983)
2. Ilmu kedokteran keluarga menunjuk pada body of knowledge dari pelayanan dokter
keluarga yang merupakan disiplin baru dari ilmu kedokteran yang dirancang untuk
memenuhi kebutuhan kesehatan khalayak secara lebih responsif dan bertanggung
jawab. (Charmichael, 1973)
3. Ilmu kedokteran keluarga adalah salah satu cabang dari ilmu kedokteran yang ditandai
dengan terdapatnya suatu kelompok pengetahuan kedokteran yang bersifat khusus.
(WONCA, Manila; 1979)
4. Ilmu kedokteran keluarga adalah body of knowledge tentang fenomena yang dihadapi
serta teknik yang dipergunakan oleh para dokter yang menyelenggarakan perawatan
kesehatan perorangan pada tingkat pertama dan berkelanjutan. (Whinney, 1969)
5. Ilmu kedokteran keluarga adalah sebuah pendekatan multidisipliner yang terpadu
menuju perawatan kesehatan yang menyeluruh dari unit keluarga. (Sargent, 1967)

Batasan dokter keluarga :
1. Dokter keluarga adalah dokter yang mengutamakan penyediaan pelayanan
komprehensif bagi semua orang yang mencari pelayanan kedokteran
2. Dokter keluarga adalah dokter yang dapat memberikan pelayanan kesehatan yang
berorientasi komunitas dengan titik berat kepada keluarga, bila perlu aktif mengunjungi
penderita atau keluarganya
3. Dokter keluarga adlaha dokter yang memiliki tanggung jawab menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang menyeluruh yang dibutuhkan oleh semua anggota yang
terdapat dalam satu keluarga dan dapat merujuk ke dokter ahli yang sesuai.
4. Dokter keluarga adalah dokter yang melayani masyarakat sebagai kontak pertama yang
merupakan pintu masuk ke system pelayanan kesehatan.
5. Dokter keluarga adlah dokter yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan personal,
tingkat pertama, menyeluruh dan berkesinambungan kepada pasien yang terkait dengan
keluarga, komunitas, serta lingkungannya.


Batasan pelayanan dokter keluaraga :
1. Pelayanan dokter keluarag adalah pelayanan kedokteran yang menyeluruh yang
memusatkan pelayanannya kepada keluarga sebagai suatu unit, dimana tanggung
ajawab dokter tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis kelamin, organ tubuh atau
jenis penyakit.
2. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas yang dikembangkan
dari berbagai disiplin ilmu terutama ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, ilmu
kebidanan dan kandungan, ilmu bedah, serta ilmu kedokteran jiwa yang secara
keseluruhan membentuk kesatuan yang terpadu
I. 2 Latar belakang kelahiran dan perkembangan dokter keluarga.

PDKI pada awalnya merupakan sebuah kelompok studi yang bernama Kelompok Studi
Dokter Keluarga (KSDK, 1983), sebuah organisasi dokter seminat di bawah IDI.
Anggotanya beragam, terdiri atas dokter praktik umum dan dokter spesialis.
Pada tahun 1986, menjadi anggota organisasi dokter keluarga sedunia (WONCA).
Pada tahun 1990, setelah Kongres Nasional di Bogor, yang bersamaan dengan Kongres
Dokter Keluarga Asia-Pasifik di Bali, namanya diubah menjadi Kolese Dokter Keluarga
Indonesia (KDKI), namun tetap sebagai organisasi dokter seminat.
Pada tahun 2003, dalam Kogres Nasional di Surabaya, ditasbihkan sebagai perhimpunan
profesi, yang anggotanya terdiri atas dokter praktik umum, dengan nama Perhimpunan
Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), namun saat itu belum mempunyai kolegium yang
berfungsi.
Dalam Kongres Nasional di Makassar 2006 didirikan Kolegium Ilmu Kedokteran
Keluarga (KIKK) dan telah dilaporkan ke IDI dan MKKI.
Dokter Keluarga di Indonesia
Kegiatan untuk mengembalikan pelayanan dokter keluarga di Indonesia telah dimulai sejak
tahun 1981 yakni dengan didirikannya Kelompok Studi Dokter Keluarga. Pada Tahun 1990
melalui kongres yang kedua di Bogor, nama organisasi dirubah menjadi Kolese Dokter
Keluarga Indonesia (KDKI). Sekalipun organisasi ini sejak tahun 1988 telah menjadi
anggota IDI, tapi pelayanan dokter keluarga di Indonesia belum secara resmi mendapat
pengakuan baik dari profesi kedokteran ataupun dari pemerintah.
Untuk lebih meningkatkan program kerja, terutama pada tingkat internasional, maka pada
tahun 1972 didirikanlah organisasi internasional dokter keluarga yang dikenal dengan nama
World of National College and Academic Association of General Practitioners / Family
Physicians (WONCA). Indonesia adalah anggota dari WONCA yang diwakili oleh Kolese
Dokter Keluarga Indonesia. Untuk Indonesia, manfaat pelayanan kedokteran keluarga tidak
hanya untuk mengendalikan biaya dan atau meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, akan
tetapi juga dalam rangka turut mengatasi paling tidak 3 (tiga) masalah pokok pelayanan
kesehatan lain yakni:
Pendayagunaan dokter pasca PTT
Pengembangan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat
Menghadapi era globalisasi
II. Menjelaskan prinsip dan standar pelayanan dokter keluarga.

II. 1 Prinsip pelayanan dokter keluarga.

Prinsip pelayanan atau pendekatan dokter keluarga adalah memberikan :
Pelayanan yang holistic dan kemprehensif
Pelayanan yang berkesinambungan
Pelayanan yang mengutamakan pencegahan
Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif
Pelayanan personal bagi setiap pasien sebagai bagian integral dari keluarganya
Pelayanan yang mempertimbangkan keluarga , lingkungan kerja, dan lingkungan
tempat tinggalnya ( dokter keluarga harus mendiagnosis secara holistic dan mengobati
secara komprehensif ).
Pelayanan yang menjunjung tinggi etika, moral dan hukum ( untuk menghindari
terjadinya penyalahgunaan wewenang dokter )
Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu ( untuk mengendalikan mutu dan biaya
agar tidak berlebih atau kekurangan ).
Dapat diaudit dan dipertangungjawabkan (tidak mengada-ngada dan tidak
menyealahgunakan data)

II. 2 Standar pelayanan dokter keluarga.

Standar pelayanan dokter keluarga ;
1. Standar pemeliharaan kesehatan di klinik
o Standar pelayanan paripurna, pelayanan disediakan sebagai pelayanan strata pertama
untuk semua orang tidak berdasarkan umur atau jenis kelamin. Pelayanan yang
bersifat paripurna yaitu pemeliharaan dan peningkatan kesehatan atau promotif,
pencegahan penyakit dan proteksi khusus atau preventif, pemulihan kesehatan atau
kuratif, pencegahan kecacatan atau disability limitation dan rehabilitasi baik fisik,
mental, maupun sosial setelah sakit dengan memperhatikan kemampuan sosial serta
sesuai dengan medikolegal etika kedokteran.
o Standar pelayanan medik, pelayanan medik yang melaksanakan pelayanan
kedokteran secara lege artis. Berupa anamnesis, pemeriksaan fisik dan penunjang,
penegakkan diagnosis dan diagnosis banding, prognosis, konseling, konsultasi,
rujukan, tindak lanjut, tindakan, pengobatan rasional, dan pembinaan keluarga.
o Standar pelayanan menyeluruh, pelayanan disediakan dalam kedokteran keluarga
yang bersifat menyeluruh yaitu peduli bahwa pasien seorang manusia seutuhnya yang
terdiri dari fisik, mental, sosial, dan spiritual, serta berkehidupan di tengah
lingkungan fisik dan sosialnya.
o Standar pelayyanan terpadu, pelayanan disediakan dalam kedokteran keluarga yang
bersifat terpadu, selaiun berupa kemitraan antara dokter dengan pasiensaat proses
pelaksanaan medic, juga merupakan kemitraan lintas program dengan berbagai
institusi formal maupun informal.
o Standar pelayanan berkesinambungan, merupakan pelayanan berkesinambungan yang
melaksanakan pelayanan kedokteran secra efektif efisien, proaktif, dan terus menerus
demi kesehatan pasien

2. Standar perilaku dalam praktek :
o Standar perilaku terhadap pasien, pelayanan dokter keluarga menyediakan
kesempatan bagi pasien untuk menyampaikan kekhawatiran dan masalah
kesehatannya, serta memberikan kesempatan kepada pasien untuk memperoleh
penjelasan yang dibutuhkan guna dapat memutuskan pemilihan penatalaksanaan yang
akan dilaksanakan.
o Standar perilaku dengan mitra kerja di klinik, seorang doketr keluarga sebagai
pimpinan manajemen untuk mengelola klinik secara professional.
o Standar perilaku dengan sejawat, menghormati dan menghargai pengetahuan
ketrampilan dan kontribusi kolega lain dalam pelayanan kesehatan dan menjaga
hubungan baik secara professional.
o Standar pengembangan ilmu dan ketrampilan praktek, pelayanan dokter keluarga
selalu berusaha mengikuti kegiatan kegiatan ilmiah guna memelihara dan menmabah
ketrampilan praktek serta meluaskan wawasan pengetahuan kedokteran sepanjang
hayatnya.
o Standar partisipasi dalam kegiatan masyarakat di bidang kesehatan, dokter keluarga
selalu berusaha berpartisipasi aktif dalam semua kegiatan peningkatan kesehatan di
sekitarnya dan siap memberikan pendapatnya pada setiap kondisi kesehatan di
daerahnya.

3. Standar pengelolaan praktek, selain dokter keluarga juga terdapat petugas kesehatan
anatara lain perawat, bidan, administrasi klinik serta pegawai lain yang sesuai dengan
latar belakang pendidikan atau pelatihannya.

4. Standar sarana dan prasarana, pelayanan dokter keluarga memiliki fasilitas pelayanan
kesehatan strata pertama yang lengkap serta beberapa fasilitas tambahan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat sekitarnya.

5. Standar manajemen keuangan, pencatatan dan jenis system pembiayaan praktik.

6. Standar manajemen klinik, pembagian kerja, program pelatihan, program kesehatan dan
keselamatan kerja, dan pembahasan administrasi klinik.

7. Standar peralatan klinik, peralatan medis, peralatan penunjang medis dan peralatan non
medis.

8. Standar proses proses penunjang praktik, pengelolaan rekam medic, pengelolaan
pencegahan infeksi, pengelolaan air bersih, pengelolaan obat, dan pengelolaan limbah






III. Menjelaskan kompetensi dan peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan
primer.

III. 1 Kompetensi dokter keluarga.

Dokter keluarga memiliki 7 kompetensi dasar yang harus dimiliki,yaitu :
1. Memiliki kualitas komunikasi dan ketrampilan
2. Memliki ketrampilan dan kompetensi dasara
3. Keterampilan menerapkan dasar-dasar lmu biomedik, ilmu klinik, ilmu perilaku dan
epidemiologi dalam praktek kedokteran keluarga
4. Keterampilan mengelola masalah kesehatan pada individu, keluarga ataupun
masyarakat secara komprehensif, holistik, bersinambung, terkoordinir dan bekerja sama
dalam konteks Pelayanan Kesehatan Primer
5. Berpikiran kritis dan memliki kemampuan management yang baik
6. Mau belajar sepanjang hayat
7. Memiliki etika,prilaku yang baik dan berprilaku professional

Memiliki ilmu dan ketrampilan klinis layanan primer cabang ilmu utama yaitu bedah,
penyakit dalam, kebidanan dan penyakit kandungan, kesehatan anak, THT, mata, kulit dan
kelamin, psikiatri, syaraf, kedokteran komunitas,

Memiliki ketrampilan klinis layanan primer lanjut :
1. Ketrampilan melakukan health screening
2. Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium lanjut
3. Membaca hasil EKG
4. Membaca hasil USG
5. ACLS, ATLS, dan APLS

Standar kompetensi dokter keluarga menurut deklarasi WONCA WHO tahun 2003 :
1. Melaksanakan asuhan bagi pasien dalam kelompok usia tertentu
( bayi baru lahir, bayi, anak, remaja, dewasa, wanita hamil dan menyusui, lansia )
2. Mengintegrasikan komponen asuhan komprehensif
o Memahami epidemiologi penyakit
o Melakukan anamnesis dan pemeriksaan jasmani secara memadai
o Memeahami ragam perbedaan faal dan metabolism obat
o Menafsirkan hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi
o Menyelenggarakan penilaian risiko khusus usia tertentu
o Menyelenggarakan upaya pencegahan, penapisan, dan panduan serta penyuluhan
gizi
o Memahami pokok masalah perkembangan normal
o Menyelenggarakan konseling, psikologi, dan prilaku
o Mengkonsultasikan atau merujuk pasien tepat pada waktunya bila diperlukan
o Menyelenggarakan layanan paliatif
o Menjunjung tinggi aspek pelayanan kedokteran
3. Mengkoordinasikan layanan kesehatan
o Dengan keluarga pasien ( penilaian keluarga, pertemuan keluarga atau pasien,
pembinaan dan konseling keluarga )
o Dengan masyarakat ( penilaian kesehatan masyarakat dan epidemiologi,
pemeriksaan atau penilaian masyarakat, mengenali dan memanfaatkan sumber daya
masyarakat, program pencegahan dan pendidikan bagi masyarakat, advokasi atau
pembelaan kepentingan kesehatan masyarakat )
4. Melayani kesehatan masyarakat yang menonjol
( kelainan alergik, anastesia dan penanganan nyeri, kelainan yang mengancam jiwa,
kelainan kardiovaskular, kelainan kulit, kelainan mata dan telinga, kelainan saluran
cerna, kelainan perkemihan dan kelamin, kelainan obstetric dan ginekologi, penyakit
infeksi, kelainan musculoskeletal, kelainan neoplastik, kelainan neurologi, dan
psikiatri)
5. Melaksanakan profesi dalam tim penyedia kesehatan
( menyusun dan menggerakan tim, kepemimpinan, ketrampilan manajemen praktek,
pemecahan masalah konflik, peningkatan kualitas )

III. 2 Peran dokter keluarga pada pelayanan kesehatan primer.
Dokter keluarga memiliki peranan dan cakupan yang khusus yaitu :
1. Komprehensif dan holistik
2. Kompeten dengan ilmunya
3. Continue ( berkesinambungan)
4. Preventif
5. Kolaboratif dan kordinatif
6. Mempertimbangkan keluarga, lingkungan kerja, dan lingkungan
7. Mempertimbangkan mutu dan biaya
8. Segala tindakan dapat dipertanggung jawabkan
9. Segala tindakan dapat diaudit
10. Bermoral dan beretika yang baik
Sehingga yang ditekankan disini dokter keluarga adalah gate keeper sekelmpok
masyarakat,sebagai system pencegahan atau prventif.Jadi pada dasarnya preventiflah yang
diutamakan daripada tindakan kuratif.Semakin dia melakukan tindakan preventif yang
tepat,dan pasien yang mengalami sakit itu sedikit maka dapat dikatakan bahwa dokter
keluarga tersebut berhasil.










Daftar Pustaka

Azwar A, 1996. Pengantar Pelayanan Dokter Keluarga, Yayasan Penerbit IDI, Cetakan 1.
Danasari, Standar Kompetensi Dokter Keluarga Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia 2008.
Depkes, IDI, Fakultas Kedokteran Seri Pendidikan Kedokteran Bersinambung 2001
Qomariyah, Sekilas Kedokteran Keluarga FK Universitas Yarsi 2011.