Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Sinusitis merupakann salah satu penyakit infeksi yang sering dilaporkan dalam praktik
kedokteran Oleh karena dibutuhkan biaya yang besar untuk pengobatannya maka sinusitis termasuk
penyakit yang membebani ekonomi masyrakat. Prevalensi sinusitis meningkat setiap tahunnya,di
Amerika mencapai 14%, sedangkan di Eropa 10% sampai 3%. Tahun 1996 diperkirakan sekitar 16% dari
populasi orang dewasa Amerika Serikat menderita sinusitis. Dari jumlah tersebut, pemerintah Amerika
Serikat mengeluarkan uang untuk perawatan kesehatan sebesar 5,8 juta dollar Amerika (Wald,
1990;Maret, 1998;Cauwenberge, 200). Tahun 1995 dilaporkan oleh bagian rhinologi THT RSUPN Cipto
mangunkusumo Jakarta, bahwa dari penelitian yang dilakukan selama tiga bulan didapatkan pasien baru
sinusitis kronik sebanyak 54 pasien (2,8 % dari seluruh kunjungan di poliklinik THT) (Darmayanti,
1995).
Sinus paranasal adalah rongga di dalam tulang tengkorak, yang merupakan hasil pneumatisasi
dari tulang-tulang tengkorak. Terdapat empat sinus pada manusia yang semuanya bermuara ke rongga
hidung dan merupakan bagian dari sistem pernafasan. Sinusitis didefenisikan sebagai inflamasi mukosa
pada sinus para nasal. Sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut
rhinosinusitis. Etiologi sinusitis adalah infeksi yang berasal dari hidung (sinusitis kausa rhinogen) atau
infeksi yang berasal Dario gigi (sinusitis kausa odontogen). Kuman penyebabnya meliputi bakteri, virus,
dan jamur.
Sinusitis merupakan penyakit yang sangat lazim diderita di seluruh dunia, hampir menimpa
kebanyakan penduduk Asia. Penderita sinusitis bisa dilihat dari ibu jari bagian atas yang kempot.
Sinusitis dapat menyebabkan seseorang menjadi sangat sensitif terhadap beberapa bahan, termasuk
perubahan cuaca (sejuk), pencemaran alam sekitar, dan jangkitan bakteri. Gejala yang mungkin terjadi
pada sinusitis adalah bersin-bersin terutama di waktu pagi, rambut rontok, mata sering gatal, kaki pegal-
pegal, cepat lelah dan asma.
Menurut Lucas seperti yang di kutip Moh. Zaman, etiologi sinusitis sangat kompleks, hanya 25%
disebabkan oleh infeksi, sisanya yang 75% disebabkan oleh alergi dan ketidakseimbangan pada sistim
saraf otonom yang menimbulkan perubahan-perubahan pada mukosa sinus. Suwasono dalam
penelitiannya pada 44 penderita sinusitis maksila kronis mendapatkan 8 di antaranya (18,18%)
memberikan tes kulit positif dan kadar IgE total yang meninggi. Terbanyak pada kelompok umur 21-30
tahun dengan frekuensi antara laki-laki dan perempuan seimbang. Hasil positif pada tes kulit yang
terbanyak adalah debu rumah (87,75%), tungau (62,50%) dan serpihan kulit manusia (50%).
Angka kejadian sinusitis di Indonesia belum diketahui secara pasti. Tetapi diperkirakan cukup
tinggi karena masih tingginya kejadian infeksi saluran napas atas, yang merupakan salah satu penyebab
terbesar terjadinya sinusitis
Sebagian besar kasus sinusitis kronis terjadi pada pasien dengan sinusitis akut yang tidak respon
atau tidak mendapat terapi. Peran bakteri sebagai dalang patogenesis sinusitis kronis saat ini sebenarnya
masih dipertanyakan. Sebaiknya tidak menyepelekan pilek yang terus menerus karena bisa jadi pilek yang
tak kunjung sembuh itu bukan sekadar flu biasa.
Oleh karena faktor alergi merupakan salah satu penyebab timbulnya sinusitis, salah satu cara
untuk mengujinya adalah dengan tes kulit epidermal berupa tes kulit cukit (Prick test, tes tusuk) di mana
tes ini cepat, simpel, tidak menyakitkan, relatif aman dan jarang menimbulkan reaksi anafilaktik. Uji cukit
(tes kulit tusuk) merupakan pemeriksaan yang paling peka untuk reaksi-reaksi yang diperantarai oleh IgE
dan dengan pemeriksaan ini alergen penyebab dapat ditentukan
Di wilayah kerja Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi, jumlah penderita sinusitis memang
bukanlah yang paling tertinggi , namun berdasarkan observasi awal peneliti pada tangal 20 sampai 22
Maret tahun 2013 bahwa setiap harinya ditemukan pasien sinusitis baru. Dan yang sering ialah
penderita yang telah menderita sinusitis yang kronis. Dan setelah di lakukan wawancara secara dangkal
di lakukan pada dua orang penderita sinusitis , seseorang mengatakan bahwa sudah sering mengalami
kejadian berulang. Dan responden pertama mengatakan bahwa penyakitnya ini sering kambuh pada
cuaca yang dingin. Sedangkan responden kedua mengatakan penyakitnya ini kambuh saat melakukan
perjalanan jauh dengan menggendarai motor tampa menggunakan masker (penutup mulut dan hidung).
Berdasarkan fenomena di atas peneliti tertarik untuk mengangkat permasalhan terkait dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan sinusitis pada pasien sinusitis di Poli THT RumahSakit
Ahmad Mochtar Bukittinggi tahun 2013.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu
Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi terjadinya kekambuhan sinusitis pada pasien sinusitis di
poli THT RumahSakit Ahmad Mochtar Bukittinggi tahun 2013.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahuin faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan sinusitis pada
pasien sinusitis di Poli THT RumahSakit Ahmad Mochtar Bukittinggi tahun 2013.
1.3.2 Tujuan khusus
a. Diketahuinya distribusi frekuensi faktor yang mempengaruhi kekambuhan sinusitis di Poli THT
RumahSakit Ahmad Mochtar Bukittinggi tahun 2013.
b. Diketahuinya distribusi frekuensi pasien sinusitis di Poli THT RumahSakit Ahmad Mochtar
Bukittinggi tahun 2013.
c. Untuk menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan sinusitis pada pasien
sinusitis di Poli THT RumahSakit Ahmad Mochtar Bukittinggi tahun 2013.



1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi peneliti
Proposal penelitian ini berguna untuk menambah wawasan dan sebagai bakal ilmu bagi peneliti
untuk memberikan pengetahuan kepada pasien sinusitis terkait dengan masalah-masalah yang tentunya
berhubungan dengan keadaan pasien sinusitis serta melakukan penelitian selanjutnya tentang faktor-
faktor yang mempengaruhi kekambuhan sinusitis pada penderita sinusitis.
1.4.2 Bagi institusi
Dapat djadikan sebagai acuan bagi institusi pendidikan dalam mengkhususkan pembelajaran
atau praktek lapangan terkait dengan masalah yang peneliti angkat sebagai tinjauan teori dan sumber
informasi untuk tahun berikutnya atau dijadikan sebagai sumber pedoman untuk penelitian selanjutnya.
1.4.3 Bagi lahan penelitian
Dapat dijadikan sebagai acuan bagi tenaga kesehatan untuk merancang dan menjalankan
program untuk pasien THT dan menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan sinusitis
pada pasien sinusitis, sehingga pasien mampu mencegah terjadinya kekambuhan sinusitis , sehingga
sinusitis pada pasien sinusitis dapat diminimalkan.
1.5 Ruang Lingkup
Penelitian yang akan dilakukan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan sinusitis
pada pasien sinusitis, mencakup beberapa hal yang akan di teliti yaitu sebagai variable independent
adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kekambuhan sinusitis dan variable dependent adalah kejadian
sinusitis pada pasien sinusitis. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Mei sampai Juli 2013 di
wilayah kerja Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2013. Peneliti mengangkat judul ini
karena masih banyaknya ditemukan pasien sinusitis dan yang paling banyak ditemui pasien dengan
kejadian berualang. Peneliti ingin mengkaji faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kekambuhan
sinusitis. Dalam penelitian kali ini penelitian mengunakan instrument penelitian berupa wawancara dan
kuesioner.







BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Sinusitis
1) Pengertian
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal. Sesuai anatomi sinus yang terkena , dapat
dibagi menjadi sinuitis maksila, sinusitis etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sphenoid.
Bila mengenai beberapasinus disebut multisinusitis , sedangkan bila mengenai semua sinus
paranasal disebut pansinusitis.
Yang paling sering ditemukan ialah sinusitis maksila dansinusitis etmoid, sinusitis frontal dan
sinusitis sphenoid lebih jarang. Pada anak hanya sinus maksila dan sinus etmoid yang berkembang,
sedangkan suinus frontal dan sinus sphenoid belum.
Sinus maksila disebut juga antrum high-more, merupakan sinus yang sering terinfeksi, oleh
karena (1) merupakan sinus paranasal yang terbesar, (2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar,
sehingga aliran secret (dreanase) dari sinus maksila hanya tergantung daringerakan silia, (3) dasar sinus
maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis
maksila, (4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius, di sekitar hiatus semilunaris yang sempit,
sehingga mudah tersumbat.
2) Patofisiologi
Bila terjadi edema di kompleks ostiomeatal, mukosa yang letaknya berhadapan akan salig
bertemu, sehingga silia tidak dapat bergerak dan lender tidak dapat dialirkan. Maka terjadi gangguan
drenase dan ventilasi di dalam sinus, sehingga silia menjadi kurang aktif dan lender yang diproduksi
mukosa sinus menjadi lebih kental dan merupakan media yang baik untuk tumbuhnya bakteri pathogen.
Bila sumbatan berlangsung terus, akan terjadi hipoksia dan retensi lender, sehingga timbul infeksi oleh
bakteri anaerob. Selanjutnya terjadi prubahan jaringan menjadi hipertrofi, polipoid atau pembentukan
polip dan kista
3) Faktor predisposisi
Obstruksi mekanik , seperti deviasi septum hipertrofi konka media, benda asing di hidung, polip
serta tumor di dalam rongga hidung merupakan faktor predisposisi terjadinya sinusistis. Selain itu
rhinitis kronis serta rhinitis alergi juga menyebabkan obstruksi ostium sinus serta menghasilkan lendir
yang banyak, yang merupakan media untuk tumbuhnya bakteri.

4) Klasifikasi
Secara klinis sinusitis dapat dikategorikan sebagai sinusitis akut bila gejala berlangsung dari
beberapa hari sampai 4 minggu ; sinusitis subakut bila berlangsung dari 4 minggu sampai 3 bulan dan
sinusitis kronis bila berlangsung lebih dari 3 bulan.
Tetapi apabila dilihat dari gejalanya, maka sinusitis dianggap sebagai sinusitis akut bila terdapat
tanda-tanda radang akut. Dikatakan sinusitis subakut bila tanda akut sudah reda dan perubahan
histologik mukosa sinus masih reversible dan disebut sinusitis kronik, bila perubahan histologik sinus
sudah irreversible, misalnya sudah berubah menjadi jaringan granulasi atau polipoid. Sebenarnya
klasifikasi yang tepat ialalah berdasarkan pemeriksaan histopatolgik, akan tetapi pemerkiksaan ini tidak
rutin dikerjakan.
2.1.2 Sinusitis akut
Penyakit ini dimulai dengan penyumbatan daerah kompleks ostiomeatal oleh infeksi , obstruksi
mekanis atau alergi. Selain itu juga dapat merupakan penyebaran dari infeksi gigi.
1) Etiologi
Penyebab sinusitis akut ialah (1) rhinitis akut, (2) infeksi faring atau faringitis, adenoiditis,
tonsillitis akut, (3) infeksi gigi rahang atas, (4) berenang dan menyelam (5) trauma, dapat menyebabkan
perdarahan mukosa sinus paranasal (6) barotraumas dapat menyebabkan nekrosis mukosa.
2) Gejala subyektif
Gejala subyektif dibagi dalam gejala sistemik dan gejala local. Gejala sistemik ialah demam dan
rasa lesu. Local pada hidung terdapat ingus kental yang kadang-kadang dan dirasakan mengalr ke
nosofaring. Diraskan hidung tersumbat, rasa nyeri di daerah inus yang terkena , serta kadang-kadang
dirasakan juga ditempat lain karena nyeri alih. Pada sinusitis maksila nyeri dibawah kelopak mata dan
kadang-kadang menyebar ke alveolus, sehingga terasa nyeri di gigi. Nyeri alih di rasakan di dahi dan di
depan telingga.
Rasa nyeri pada sinusitis etmoid di pangkal hidung dan kantng medius. Kadang-kadang di
rasakan nyeri di bola mata atau belakangnya, dan nyeri akan bertambah bila bola mata di gerakkan.
Nyeri alih dirasakan di pelipis (parietal).
Pada sinusitis frontal rasa nyeri terlokalisasi di dahi atau dirasakan nyeri di seluruh kepala.
Rasa nyeri pada sinusitis sfhenoid di vertex, oksipital, di belakang bla mata dan di daerah
mastoid.
3) Gejala obyektif
Pada pemeriksaan sinusitis akut akan tampak pembengkakan di daerah muka. Pembengkakan
pada sinusitis maksila terilhat di pipi dan kelopak mata bawa, pada sinusitis frontal di dahi dan kelopak
mata atas, pada sinusitis etmoid jarang timbul pembengkakan, kecuali bila ada komplikasi.
Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila,
sinusitis frontal dan sinusitis etmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius, sedangkan
pada sinusitis etmoid posterior dan sinusits sphenoid nanah tampak keluar dari meatus superior.
Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nosofaring post nasal drip).
4) Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gela. Pemeriksaan
transiluminasi bermakna bila salah satu sisi sinus yang sakit, sehingga tampak lebih suram dibandingkan
dengan sisi yang normal.
Pemeriksaan radiologik yang di buat ialah posisi Waters, PA dan lateral. Akan tampak
perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan-udara (air fluid level) pada sinus yang sakit.
5) Pemeriksaan mikrobiologik
Sebaiknya untuk pemeriksaan mikrobiologik diambil secret dari meatus mdius atau meatus
superior. Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora normal hidung atau
kuman patogen, seperti pneumococus, streptococcus , staphylococcus dan haemophilus influenza.
Selain itu mungkin ditemukan juga virus atau jamur.
6) Terapi
Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotika selama 10-14 hari, meskipun gejala klinik
telah hilang. Antibiotika yang di berikan ialah golongan penisilin. Diberikan juga obat dekongestan local
berupa tetes hidung, untuk memperlancar drenase sinus. Boleh diberikan analgetika untuk
menghilangkan rasa nyeri.
Terapi pembedahan pada sinus akut jarang diberikan, kecuali telah terjadi komplikasike orbita
atau intracranial; atau bila ada nyeri yang hebat karena ada secret tertahan oleh sumbatan.
2.1.3 Sinusitis Kronik
Sinusitis kronis berbeda dari sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan
dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya.
Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan muosa hdung.
Perubahan mukosa hidung dapat juga disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik. Perubahan
mukosa hidung akan mempermudah terjadinya infeksi dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan
pada sinusitis akut tidak sempurna. Adanya infeksi akan menyebabkan edema konka, sehinga drenase
secret akan terganggu. Drenase secret yang terganggu dapat menyebabkan silia rusak dan seterusnya.
1) Gejala subyektif
Gejala subyektif sangat bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari :
Gejala hidung dan nosofaring, berupa secret di hidung dan secret pasca nasal (post nasal drip).
Gejala faring, yaitu rasa tidak nyaman dan gatal pada tenggorok.
Gejala telinga, berupa pendengaran terganggu karena tersumbatnya tuba Eustachius.
Adanya nyeri/sakit kepala.
Gejala mata, oleh karena penjalaran infeksi melalui duktus naso-lakrimalis.
Gejala saluran nafas berupa batuk dan kadang-kadang berupa komplikasi paru, berupa
bronchitis atau bronkiektasis atau asma bronchial, sehingga terjadi penyakit sinobronkitis.
Gejala di saluran cerna, oleh karena mukopus yang tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis,
sering terjadi pada anak.
Kadang-kadang gejala sangat ringan hanya terdapat secret di nosofaring yang mengganggu pasien.
Secret pasca nasal yang terus menerus mengakibatkan batuk kronik.
Nyeri kepala pada sinusitis kronis biasanya terasa pada pagi hari, dan berkurang atau hilang setelah
siang hari. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi munkin karena pada malam hari terjadi
penimbunan ingus dalam rongga hidung dan sinus serta adanya statis vena.
2) Gejala obyektif
Pada sinusitis kronmis, temuan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat
pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan secret kental purulen dari meatus
medius atau meatus superior. Pada rinoskopi posterior tampak secret purulen di nosofaring atau turun
ke tenggorok.
3) Pemeriksaan mikrobiologik
Biasanya merupakan infeksi campuran oleh beberapa mikroba. Seperti kuman aerob S.viridans,
S.aureus, H.influenzae dan fusobakterium.
4) Diagnosis sinusitis kronis
Dibuat berdasarka anamnesis yang cermat, pemeriksaan rinoskopi anterior dan posterior serta
pemeriksaan penunjang berupa transimulasi untuk sinus maksila dan sinus frontal , pemeriksaan
radiologic, pungsi sinus maksila, sinoskopi sinus maksila , pemeriksaan histopatologik dari jaringan yang
diambil pada waktu dilakukan sinoskopi, pemeriksaab meatus medius dan meatus superior dengan
menggunakan naso endoskopi dan pemeriksaan CT Scan.
5) Terapi
Pada sinusistis kronis perlu diberikan antibioyika untuk mengatasi infeksinya dan obat-obatan
simtomatis lainnya. Antibiotika di berikan selama sekurang-kurangnya 2 minggu. Selain itu dapat juga
dibantu dengan diatermi gelombang pendek selama 10 hari di daerah sinus yang sakit.
Tidakan lain yang dapat dilakukan ialah tindakan untuk membantu memperbaiki drenase dan
pembersihan secret dari sinus yang sakit. Untuk sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus,
sedangkan untuk sinusitis etmoid, frontal atau sphenoid dilakukan tindakan pencucian proetz. Irigasi
dan pencucian sinus ini dilakukan 2 kali dalam seminggu, bila setelah 5 atau kali tidak ada perubahan
dan klinis masih tetap banyak secret purulen, berarti mukosa sinus sudah tidak dapat kembali normal,
maka perlu dilakukan operasi radikal.
Untuk mengetahui perubahan mukosa masih reversible atau tidak, dapat juga dilakukan denagn
pemeriksaan sinoskopi, yaitu melihat antrum (sinus maksila) secara langsung dengan menggunakan
endoskop.

6) Komplikasi
Komplikasi sinusitis telah menurun seacara nyata sejak ditemukannya antibiotika. Komplikasi
biasanya terjadi pada sinusitis akut atau sinusitis kronis dengan eksaserbasi akut. Komplikasi yang dapat
terjadi ialah :
Osteomielitis dan abses subperiostal. Paling sering timbulakibat sinusitis frontal dan biasanya
ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral.
Kelainan orbita, disebabkan oleh sinus para nasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang
paling sering ialah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi
melalui tromboflebitis dan perikontuinitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, seluitis
orbita, abses subperiostal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi thrombosis sinus kavernosus.
Kelainan intracranial, dapat berupa meningitis abses ekstradural atau subtradural, abses otak
dan thrombosis sinus kavernosus.
Kelainan paru, seperti bronchitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal
disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronchitis. Selain itu dapat juga timbul asma bronchial.