Anda di halaman 1dari 43

MASTEKTOMI

LAPORAN PENDAHULUAN MASTEKTOMI





A. LANDASAN TEORITIS MASTEKTOMI
Modified Radical Mastectomy adalah suatu tindakan pembedahan onkologis
pada keganasan payudara yaitu dengan mengangkat seluruh jaringan payudara
yang terdiri dari seluruh stroma dan parenkhim payudara, areola dan puting susu
serta kulit diatas tumornya disertai diseksi kelenjar getah bening aksila ipsilateral
level I, II/III secara en bloc TANPA mengangkat m.pektoralis major dan minor.
Tipe mastektomi dan penanganan kanker payudara bergantung pada beberapa
factor meliputi :
o Usia
o Kesehatan secara menyeluruh
o Status menopause
o Dimensi tumor
o Tahapan tumor dan seberapa luas penyebarannya
o Stadium tumor dan keganasannya
o Status reseptor homon tumor
o Penyebaran tumor telah mencapai simpul limfe atau belum

Tipe pembedahan secara umum dikelompokkan kedalam tiga kategori : mastektomi
radikal, mastektomi total dan prosedur yang lebih terbatas ( contoh segmental,
lumpektomi ).
1. Mastektomi preventif ( preventife mastectomy) disebut juga prophylactic
mastectomy.operasi ini dapat berupa total mastektomi dengan mengangkat seluruh
payudara dan putting atau berupa subcutaneous mastectomy dimana seluruh
payudara diangkat namun putting tetap dipertahankan .
2. Mastektomi total ( sederhana ) mengangkat semua jaringan payudara tetapi semua
atau kebanyakan nodus limfe dan otot dada tetap utuh.
3. Mastektomi radikal modifikasi mengangkat seluruh payudara , beberapa atau semua
nodus limfe dan kadang-kadang otot pektoralis minor.otot dada mayor masih
utuh.Mastektomi radikal ( halsted ) adalah prosedur yang jarang dilakukan yaitu
pengangkatan seluruh payudara, kulit, otot pektoralis mayor dan minor, nodus limfe
ketiak dan kadang-kadang nodus limfe mamari internal atau supra klavikular.
4. Prosedur membatasi ( contoh : lumpektomi ) mungkin dilakukan pada pasien rawat
jalan yang hanya berupa tumor dan beberapa jaringan sekitarnya diangkat.
Lumpektomi dianggap tumor non-metastatik bila kurang dari 5 cm ukurannya yang
tidak melibatkan putting.prosedur meliputi dignostik ( menentukan tipe sel ) dan atau
pengobatan bila dikombinasi dengan terapi radiasi.
Berdasarkan tujuan terapi pembedahan, mastektomi dibedakan menjadi dua
macam yaitu tujuan kuratif dan tujuan paliatif. Prinsip terapi bedah kuratif adalah
pengangkatan seluruh sel kanker tanpa meninggalkan sel kanker secara
mikroskopik. Terapi bedah kuratif ini dilakukan pada kanker payudara stadium
dini(stadium 0, I dan II).
Sedangkan tujuan terapi bedah palliatif adalah untuk mengangat kanker
payudara secara makroskopik dan masih meninggalkan sel kanker secara
mikroskopik. Pengobatan bedah palliatif ini pada umumnya dilakukan untuk
mengurangi keluhan-keluhan penderita seperti perdarahan, patah tulang dan
pengobatan ulkus, dilakukan pada kanker payudara stadium lanjut,yaitu stadium III
dan IV.
Prosedur pengangkatan sel kanker dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut :
1. Mastektomi radikal, yaitu Mengangkat seluruh payudara, kulit, otot mayor dan minor,
nodus limfe aksila dan jaringan lemak disekitarnya.
2. Mastektomi radikal modifikasi, seperti mastektomi radikal tetapi otot pektoralis mayor
dipertahankan.
3. Mastektomi sederhana, Mengangkat payudara dengan mempertahankan otot-otot
yang menyokong.
4. Mastektomi parsial, Mengangkat lesi dan jaringan disekitarnya termasuk nodus limfe.
5. Lumpektomi, Mengangkat lesi dan 3 sampai 5 cm jaringan ditepinya, jaringan
payudara dan kulitnya dipertahankan.

Beberapa tipe mastektomi yang ada pada saat ini
1. Mastektomi Preventif (Preventive Mastectomy)
Mastektomi preventif disebut juga prophylactic mastectomy. Operasi ini dapat
berupa total mastektomi dengan mengangkat seluruh payudara dan puting. Atau
berupa subcutaneous mastectomy, dimana seluruh payudara diangkat namun puting
tetap dipertahankan. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekambuhan kanker
payudara dapat dikurangi hingga 90% atau lebih setelah mastektomi preventif pada
wanita dengan risiko tinggi.

MASTEKTOMI
Gambar payudara seorang wanita 25 tahun. menjalani prophylacyic mastectomy dan
telah mengalami rekonstruksi dengan menutup lubang bekas operasi dengan
dengan jaringan yang diambil dari perutnya.

2. Mastektomi Sederhana atau Total (Simple or Total Mastectomy)
Mastektomi dengan mengangkat payudara berikut kulit dan putingnya, namun
simpul limfe masih dipertahankan. Pada beberapa kasus, sentinel node biopsy
terpisah dilakukan untuk membuang satu sampai tiga simpul limfe pertama.

MASTEKTOMI
Total mastectomy

3. Mastektomi Radikal Termodifikasi (Modified Radical Mastectomy)
Terdapat prosedur yang disebut modified radical mastectomy (MRM)-
mastektomi radikal termodifikasi. MRM memberikan trauma yang lebih ringan
daripada mastektomi radikal, dan ssat ini banyak dilakukan di Amerika. Dengan
MRM, seluruh payudara akan diangkat beserta simpul limfe di bawah ketiak, tetapi
otot pectoral (mayor dan minor) otot penggantung payudara masih tetap
dipertahankan. Kulit dada dapat diangkat dapat pula dipertahankan, Prosedur ini
akan diikuti dengan rekonstruksi payudara yang akan dilakukan oleh dokter bedah
plastik.

MASTEKTOMI
Modified Radical Mastectomy

4. Mastektomi Radikal (Radical Mastectomy)
Mastektomi radikal merupakan pengangkatan payudara komplit, termasuk
puting. Dokter juga akan mengangkat seluruh kulit payudara, otot dibawah
payudara, serta simpul limfe (getah bening). Karena mastektomi radikal ini tidak
lebih efektif namun merupakan bentuk mastektomi yang lebih ekstrim , saat ini
jarang dilakukan.

MASTEKTOMI

4. Mastektomi Parsial atau Segmental (Partial or Segmental Mastectomy)
Dokter dapat melakukan mastektomi parsial kepada wanita dengan kanker
payudara stadium I dan II. Mastektomi parsial merupakan breast-conserving
therapy- terapi penyelamatan payudara yang akan mengangkat bagian payudara
dimana tumor bersarang. Prosedur ini biasanya akan diikuti dengan terapi radiasi
untuk mematikan sel kanker pada jaringan payudara yang tersisa. Sinar X
berkekuatan penuh akan ditembakkan pada beberapa bagian jaringan payudara.
Radiasi akan membunuh kanker dan mencegahnya menyebar ke bagian tubuh yang
lain.

MASTEKTOMI
Partial Mastectomy

5. Quandrantectomy
Tipe lain dari mastektomi parsial disebut quadrantectomy. Pada prosedur ini,
dokter akan mengangkat tumor dan lebih banyak jaringan payudara dibandingkan
dengan lumpektomi.

MASTEKTOMI
Quandrantectomy
Mastektomi tipe ini akan mengangkat seperempat bagian payudara, termasuk kulit
dan jaringan konektif (breast fascia). Cairan berwarna biru disuntikkan untuk
mengidentifikasi simpul limfe yang mengandung sel kanker.

6. Lumpectomy atau sayatan lebar,
Merupakan pembedahan untuk mengangkat tumor payudara dan sedikit
jaringan normal di sekitarnya. Lumpektomi (lumpectomy) hanya mengangkat tumor
dan sedikit area bebas kanker di jaringan payudara di sekitar tumor. Jika sel kanker
ditemukan di kemudian hari, dokter akan mengangkat lebih banyak jaringan.
Prosedur ini disebuat re-excision (terjemahan : pengirisan/penyayatan kembali).


MASTEKTOMI
Lumpectomy

7. Excisional Biopsy
Biopsi dengan sayatan juga mengangkat tumor payudara dan sedikit jaringan
normal di sekitarnya. Kadang, pembedahan lanjutan tidak diperlukan jika biopsy
dengan sayatan ini berhasil mengangkat seluruh tumor.

MASTEKTOMI
Excisional Biopsy

B. INDIKASI OPERASI MASTEKTOMI
Kanker payudara stadium dini (I,II)
Kanker payudara stadium lanjut lokal dengan persyaratan tertentu
Keganasan jaringan lunak pada payudara.

C. KONTRA INDIKASI OPERASI MASTEKTOMI
Tumor melekat dinding dada
Edema lengan
Nodul satelit yang luas
Mastitis inflamatoar

D. PERSIAPAN PERIOPERATIF MASTEKTOMI
1. Fase Preoperatif Mastektomi
Fase preoperatif dimulai ketika ada keputusan untuk dilakukan intervensi dan
diakhiri ketika pasien dikirim ke kamar operasi. Lingkup aktivitas keperawatan
selama waktu tersebut dapat mencakup penetapan pengkajian dasar pasien.
Wawancara praoperatif dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan
dalam pembedahan
a. Pengkajian :
Identitas pasien
Tanda-tanad vital
Riwayat penyakit : alergi, penyakit paru (asma, PPOM, TB paru), penggunaan
narkoba, alkoholisme, menggunakan obat seperti kortikosteroid dan obat jantung
Riwayat kesehatan keluarga : DM. Hipertensi
Status nutrisi : BB, puasa, tinggi badan
Keseimbangan cairan dan elektrolit
Ada tidaknya gigi palsu, pemakaian lensa kontak, atau cat kuku dan implan
prosthesis lainnya
Pencukuran daerha operasi
Kolaborasi dengan dokter anestesi tentang pemberian jenis anestesi dan
pemakaian obat anestesi yang akan dilakukan
Pemeriksaan penunjung : rontgen, EKG, pemeriksaan laboratorium (darah lengkap,
faal hepar, faa ginjal, masa pembekuan darah), biopsi, pemeriksaan gula darah
Informed consent
Penentuan status ASA
Diagnosa keperawatan pre operasi Mastektomi
Cemas berhubungan dengan krisis situasional
Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan
Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri biologi

Rencana Keperawatan pre operatif Mastektomi:
DIAGNOSA KEP. NOC NIC
Cemas berhubungan
dengan perubahan
status kesehatan

Setelah dilakukan
asuhan
keperawatan
selama..... pasien
menunjukan anxiety
control dengan
kriteria hasil:
pasien kooperatif
Mampu
mengidentifikasikan
Anxiety reduction :
Tenangkan pasien
Jelaskan seluruh prosedurt tindakan
kepada pasien dan perasaan yang
mungkin muncul pada saat melakukan
tindakan
Berusaha memahami keadaan pasien
Berikan informasi tentang diagnosa,
prognosis dan tindakan
Mendampingi pasien untuk
cemas dengan
bahasa tubuh yang
tenang
Vital sign dbn
mengurangi kecemasan dan
meningkatkan kenyamanan
Dorong pasien untuk menyampaikan
tentang isi perasaannya
Kaji tingkat kecemasan
Dengarkan dengan penuh perhatian
Ciptakan hubungan saling percaya
Bantu pasien menjelaskan keadaan
yang bisa menimbulkan kecemasan
Bantu pasien untuk mengungkapkan
hal hal yang membuat cemas
Ajarkan pasien teknik relaksasi
Berikan obat obat yang mengurangi
cemas

Kurang pengetahuan
tentang penyakit,
perawatan,pengobatan
kurang paparan
terhadap informasi
Setelah dilakukan
asuhan
keperawatan
selama......,
pengetahuan klien
meningkat dengan
kriteria hasil
Klien mampu
menjelaskan
kembali apa yang
dijelaskan
Klien kooperative
saat dilakukan
tindakan


Teaching : Dissease Process
- Kaji tingkat pengetahuan klien dan
keluarga tentang proses penyakit
-Jelaskan tentang patofisiologi penyakit,
tanda dan gejala serta penyebabnya
-Sediakan informasi tentang kondisi klien
-Berikan informasi tentang perkembangan
klien
-Diskusikan perubahan gaya hidup yang
mungkin diperlukan untuk mencegah
komplikasi di masa yang akan datang
dan atau kontrol proses penyakit
-Jelaskan alasan dilaksanakannya
tindakan atau terapi
-Gambarkan komplikasi yang mungkin
terjadi
-Anjurkan klien untuk mencegah efek
samping dari penyakit
-Gali sumber-sumber atau dukungan yang
ada
-Anjurkan klien untuk melaporkan tanda
dan gejala yang muncul pada petugas
kesehatan
Nyeri akut b.d agen
injuri biologi
Setelah dilakukan
asuhan
keperawatan
selama 1x
pertemuan nyeri
klien berkurang
dengan kriteria
hasil:
Nyeri terkontrol
Klien
menggunakan
teknik non
farmakologi untuk
mengurangi nyeri
Tanda vital dalam
rentang normal
Lakukan pengkajian nyeri secara
komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi
Monitor vital sign
Gunakan teknik komunikasi terapeutik
untuk mengetahui pengalaman nyeri
Ajarkan teknik
relaksasi nafas dalam untuk
mengurangi nyeri

2. Fase Intraoperatif Mastektomi
Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindah ke instalasi bedah dan
berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan.
Aktivitas keperawatan yang dilakukan selama tahap intra operatif meliputi 4 hal,
yaitu :
a. Safety Management (Pengaturan posisi pasien)
Faktor penting yang harus diperhatikan ketika mengatur posisi di ruang operasi
adalah: daerah operasi, usia, berat badan pasien, tipe anastesidan nyeri. Posisi
yang diberikan tidak boleh mengganggu sirkulasi, respirasi, tidak melakukan
penekanan yang berlebihan pada kulit dan tidak menutupi daerah atau medan
operasi.
- Kesejajaran fungsional maksudnya adalah memberikan posisi yang tepat selama
operasi. Operasi yang berbeda akan membutuhkan posisi yang berbeda pula
supine
- Pemajanan area pembedahan maksudnya adalah daerah mana yang akan dilakukan
tindakan pembedahan. Dengan pengetahuan tentang hal ini perawat dapat
mempersiapkan daerah operasi dengan teknik drapping
- Mempertahankan posisi sepanjang prosedur operasi
dengan tujuan untuk mempermudah proses pembedahan juga sebagai bentuk
jaminan keselamatan pasien dengan memberikan posisi fisiologis dan mencegah
terjadinya injury.
- Memasang alat grounding ke pasien
- Memberikan dukungan fisik dan psikologis pada klien untuk menenagkan pasien
selama operasi sehingga pasien kooperatif.
- Memastikan bahwa semua peralatan yang dibutuhkan telah siap seperti : cairan
infus, oksigen, jumlah spongs, jarum dan instrumen tepat.
b. Monitoring Fisiologis
- Melakukan balance cairan
- Memantau kondisi cardiopulmonal meliputi fungsi pernafasan, nadi, tekanan darah,
frekuensi denyut jantung, saturasi oksigen, perdarahan dll.
- Pemantauan terhadap perubahan vital sign
c. Monitoring Psikologis
- Memberikan dukungan emosional pada pasien
- Berdiri di dekat klien dan memberikan sentuhan selama prosedur induksi
- Mengkaji status emosional klien
- Mengkomunikasikan status emosional klien kepada tim kesehatan (jika ada
perubahan)
d. Pengaturan dan koordinasi Nursing Care
- Memanage keamanan fisik pasien
- Mempertahankan prinsip dan teknik asepsis
Obat-obat anestesi :
1. Obat-obat premedikasi
SA 0,001-0,002 mg/KgBB
Midazolam 0,1-0,2 mg/KgBB
Fentanyl 1-2 mcg/KgBB
Pethidin 1 mg/KgBB
2. Obat antiemetik
Ondansetron 4mg/2mL
Sotatic 10mg/2 mL
3. Obat induksi
Propofol 1,5-2,5 mg/Kg/BB
4. Obat musculorelaksan
Recorium bromide 0,5-1 mg/Kg/BB
Sucynil Colin 1 mg/KgBB
Roculax 0,5-1 mg/KgBB
5. Obat emergency
Adrenalin injeksi
Epidrin injeksi
Dexamethason injeksi
Aminophilin injeksi
6. Obat analgetik
Ketorolac 30 mg/ 1 mL
Torasix 30mg/1 mL
7. Oat antidotum
Prostigmin dan narkan
8. Cairan yang diperlukan
Kristaloid seperto ringer laktat, aquadest 25 CC untuk larutan obat, assering
Koloid seperti fimahest atau gelofusion


MASTEKTOMI
Prosedur Operasi Mastektomi
Secara singkat tekhnik operasi dari mastektomi radikal modifikasi dapat dijelaskan
sebagai berikut:
1. Penderita dalam general anaesthesia, lengan ipsilateral dengan yang dioperasi
diposisikan abduksi 90
0
, pundak ipsilateral dengan yang dioperasi diganjal bantal
tipis.
2. Desinfeksi lapangan operasi, bagian atas sampai dengan pertengahan leher, bagian
bawah sampai dengan umbilikus, bagian medial sampai pertengahan mammma
kontralateral, bagian lateral sampai dengan tepi lateral skapula. Lengan atas
didesinfeksi melingkar sampai dengan siku kemudian dibungkus dengan doek steril
dilanjutkan dengan mempersempit lapangan operasi dengan doek steril
3. Bila didapatkan ulkus pada tumor payudara, maka ulkus harus ditutup dengan kasa
steril tebal ( buick gaas) dan dijahit melingkar.
4. Dilakukan insisi (macam macam insisi adalah Stewart, Orr, Willy Meyer, Halsted,
insisi S) dimana garis insisi paling tidak berjarak 2 cm dari tepi tumor, kemudian
dibuat flap.
5. Flap atas sampai dibawah klavikula, flap medial sampai parasternal ipsilateral, flap
bawah sampai inframammary fold, flap lateral sampai tepi anterior m. Latissimus
dorsi dan mengidentifikasi vasa dan. N. Thoracalis dorsalis
6. Mastektomi dimulai dari bagian medial menuju lateral sambil merawat perdarahan,
terutama cabang pembuluh darah interkostal di daerah parasternal. Pada saat
sampai pada tepi lateral m.pektoralis mayor dengan bantuan haak jaringan maamma
dilepaskan dari m. Pektoralis minor dan serratus anterior (mastektomi simpel). Pada
mastektomi radikal otot pektoralis sudah mulai
7. Diseksi aksila dimulai dengan mencari adanya pembesaran KGB aksila Level I
(lateral m. pektoralis minor), Level II (di belakang m. Pektoralis minor) dan level III (
medial m. pektoralis minor). Diseksi jangan lebih tinggi pada daerah vasa aksilaris,
karena dapat mengakibatkan edema lengan. Vena-vena yang menuju ke jaringan
mamma diligasi. Selanjutnya mengidentifikasi vasa dan n. Thoracalis longus, dan
thoracalis dorsalis, interkostobrachialis. KGB internerural selanjutnya didiseksi dan
akhirnya jaringan mamma dan KGB aksila terlepas sebagai satu kesatuan (en bloc)
8. Lapangan operasi dicuci dengan larutan sublimat dan Nacl 0,9%.
9. Semua alat-alat yang dipakai saat operasi diganti dengan set baru, begitu juga
dengan handschoen operator, asisten dan instrumen serta doek sterilnya.
10. Evaluasi ulang sumber perdarahan
11. Dipasang 2 buah drain, drain yang besar ( redon no. 14) diletakkan dibawah vasa
aksilaris, sedang drain yang lebih kecil ( no.12) diarahkan ke medial.
12. Luka operasi ditutup lapais demi lapis

Komplikasi operasi Mastektomi
Dini :
- pendarahan,
- lesi n. Thoracalis longus wing scapula
- Lesi n. Thoracalis dorsalis.
Lambat : - infeksi
- nekrosis flap
- wound dehiscence
- seroma
- edema lengan
- kekakuan sendi bahu kontraktur
Mortalitas
hampir tidak ada

Diagnosa Keperawatan intra operatis yang sering muncul Mastektomi :
- Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan tekanan inspirasi dan
ekspirasi karena pemberian agent anastesi.
- Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan, prosedur invasif dan truma
jaringan.
- Resiko cidera berhubungan dengan anastesi dan pembedahan.



Rencana Keperawatan intra operatif Mastektomi:
DIAGNOSA KEP. NOC NIC
Pola nafas tidak
efektif berhubungan
dengan penurunan
tekanan inspirasi
dan ekspirasi
karena pemberian
Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama.....
pasien menunjukan
respiration control dengan
kriteria hasil:
Jalan nafas adequat
Airway and breathing management
:
Monitor ventilasi (jalan dan suara
nafas)
Lakukan management ventilasi
dengan head tilt chin leaf / jaw trust
agent anastesi.

Suara nafas vesikuler
Saturasi O2 dbn
positioning
Pasang alat bantu nafas : mouth
airway/orofaringeal tube, ET, LMA
Monitor keakuratan fungsi ET,
LMA
Lakukan assisted respiration
Monitor vital sign dan saturasi O2
secara periodik
Resiko infeksi
berhubungan
dengan
pembedahan,
prosedur invasif dan
truma jaringan.

Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama......,
menunjukkan infection
protection, enviroment,
host and agent control
dengan kriteria hasil
Terkendalinya nfection
control
Luka dan keadaan sekitar
bersih

Infection control management
Kendalikan prosedur masuk
kamar operasi untuk pasien
maupun petugas
Batasi jumlah personil di kamar
operasi
Kendalikan sterilitas ruangan dan
peralatan yang dipakai
Lakukan cuci tangan bedah,
pemakaian jas operasi, pemakaian
sarung tangan dan duk operasi
sesuai prosedur.
Terapkan prosedur septik
aseptik.
Lakukan penutupan luka sesuai
prosedur
Kolaborasi pemberian antibiotik
Environment kontrol
Resiko cidera
berhubungan
dengan anastesi
dan pembedahan.

Setelah dilakukan asuhan
keperawatan selama......
menunjukkan injury
neuromuscular protection
dengan kriteria hasil :
Tidak terjadi luka baru
diluar organ target
Instrument terhitung
lengkap sebelum dan
Injury control management
Anatomis dan imobil position
Pasang groundit kouter dengan
benar
Melakukan tindakan anastesi
sesuai dengan prosedur
Memasang alat bantu pernafasan
sesuai dengan prosedur
sesudah operasi. Hindari manipulasi jaringan
berlebihan
Penggunaan instrument yang
tepat dan benar
Perhitungan jumlah instrument
sebelum dan sesudah operasi yang



MASTEKTOMI
3. Fase Post operastif Mastektomi
a. Fase pasca anesthesia.
Setelah dilakukan mastektomi, penderita dipindah ke ruang pemulihan disertai
dengan oleh ahli anesthesia dan staf profesional lainnya.
1) Mempertahankan ventilasi pulmoner.
Menghindari terjadiya obstruksi pada periode anestesi pada saluran pernafasan,
diakibatkan penyumbatan oleh lidah yang jatuh, kebelakang dan tumpukan sekret,
lendir yang terkumpul dalam faring trakea atau bronkhial ini dapat dicegah dengan
posisi yang tepat dengan posisi miring/setengah telungkup dengan kepala
ditengadahkan bila klien tidak bisa batuk dan mengeluarkan dahak atau lendir, harus
dilakukan penghisapan dengan suction.
2) Mempertahankan sirkulasi
Pada saat klien sadar, baik dan stabil, maka posisi tidur diatur semi fowler untuk
mengurangi oozing venous (keluarnya darah dari pembuluh-pembuluh darah halus)
lengan diangkat untuk meningkatkan sirkulasi dan mencegah terjadinya udema,
semua masalah ini gangguan rasa nyaman (nyeri) akibat dari sayatan luka operasi
merupakan hal yang pailing sering terjadi
3) Masalah psikologis.
Payudara merupakan alat vital seseorang ibu dan wanita, kelainan atau kehilangan
akibat operasi payudara sangat terasa oleh pasien,haknya seperti dirampas sebagai
wanita normal, ada rasa kehilangan tentang hubungannya dengan ssuami, dan
hilangnya daya tarik serta serta pengaruh terhadap anak dari segi menyusui.
4) Mobilisasi fisik.
Pada pasien pasca mastektomi perlu adanya latihan-latihan untuk mencegah atropi
otot-otot kekakuan dan kontraktur sendi bahu, untuk mencegah kelainan bentuk
(diformity) lainnya, maka latihan harus seimbang dengan menggunakan secara
bersamaan.
b. Perawatan post mastektomi
1) Pemasangan plester /hipafik
Dalam hal ini pemasangan plester pada operasi mastektomi hendaknya diperhatikan
arah tarikan-tarikan kulit (langer line) agar tidak melawan gerakkan-gerakkan
alamiah, sehingga pasien dengan rileks menggerakkan sendi bahu tanpa hambatan
dan tidak nyeri untuk itu perlu diperhatikan cara meletakkan kasa pada luka operasi
dan cara melakukan fiksasi plester pada dinding dada.
Plester medial melewati garis midsternal
Plester posterior melewati garis axillaris line/garis ketiak
Plester posterior(belakang) melewati garis axillaris posterior.
Plester superior tidak melewati clavicula
Plester inferior harus melewati lubang drain
Untuk dibawah klavicula ujug hifavik dipotong miring seperti memotong baju dan
dipasang miring dibawah ketiak sehingga tidak mengangu grakkan tangan.
2) Perawatan pada luka eksisi tumor.
Bila dikerjakan tumorektomi,pakai hipafik ukuran 10 cm yang dibuat seperti BH
sehingga menyangga payudara .
3) Klien yang dikerjakan transplantasi kulit kalau kasa penutup luka basah dengan
darah atau serum harus segera diganti, tetapi bola penutup (thiersch) tidak boleh
dibuka.
4) Pemberian injeksi dan pengambilan darah.
5) Pengukuran tensi

Diagnosa keperawatan post operasi yang sering muncul Mastektomi::
- Resiko aspirasi berhubungan dengan status kesadaran, reflek menelan belum
optimal karena pemakaian obat anastesi
- Resiko cidera berhubungan dengan tingkat kesadaran pasien


Rencana intervensi keperawatan post operasi Mastektomi:
DIAGNOSA KEP. NOC NIC
Resiko aspirasi
berhubungan
dengan status
kesadaran, reflek
menelan belum
optimal karena
pemakaian obat
anastesi
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
selama......,
menunjukkan control
dengan kriteria hasil
Airway terkontrol dan
adequat
Reflek menelan efektif

Aspiration Precaution :
Monitor tingkat kesadaran dan reflek
menelan
Monitor status airway dan bebaskan
airway
Lakukan suctioning jika perlu
Posisikan supinasi atau posisi SIM
pada operasi jalan nafas

Resiko cidera
berhubungan
dengan tingkat
kesadaran pasien
Setelah dilakukan
asuhan keperawatan
selama......,
menunjukkan risk
control dengan kriteria
hasil
Pasien terbebas dari
cidera
Pasien komunikatif dan
kooperatif
Environment Management :
Sediakan lingkungan yang aman dan
nyaman
Posisikan tidur sesuai instruksi medis /
anastesi
Memasang side trail tempat tidur
Hindari dari perabot yang berbahaya
Kaji tingkat kesadaran
Dampingi selama pasien belum sadar
penuh
Lindungi arah gerakan dan jangan
lawan gerakan pasien
Rangsang kesadaran pasien ke
Compos Mentis
Alat invasif terkontrol



DAFTAR PUSTAKA

Closkey ,Joane C. Mc, Gloria M. Bulechek.(1996). Nursing Interventions Classification (NIC).
St. Louis :Mosby Year-Book.
Johnson,Marion, dkk. (2000). Nursing Outcome Classifications (NOC). St. Louis :Mosby
Year-Book
Juall,Lynda,Carpenito Moyet. (2003).Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi
10.Jakarta:EGC
Price Sylvia, A (1994), Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Jilid 2 . Edisi 4.
Jakarta. EGC
Sjamsulhidayat, R. dan Wim de Jong. 1998. Buku Ajar Imu Bedah, Edisi revisi. EGC :
Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C. and Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah :
Brunner Suddarth, Vol. 2. EGC : Jakarta.
Sjamsuhidajat. R (1997), Buku ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta
Wiley dan Blacwell. (2009). Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2009-2011,
NANDA.Singapura:Markono print Media Pte Ltd
http://lpkeperawatan.blogspot.com/2014/01/mastektomi.html#.UyqQo4W_7cc
AAAAAAAAAAA
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN MASTEKTOMI
Download ASKEP DISINI atau klik download link:
http://www.ziddu.com/download/16469228/askepmastektomyok.docx.html

BAB I
PENDAHULUAN

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa lima besar kanker di dunia
adalah kanker paru-paru, kanker payudara, kanker usus besar dan kanker lambung dan kanker
hati. Sementara data dari pemeriksaan patologi di Indonesia menyatakan bahwa urutan lima
besar kanker adalah kanker leher rahim, kanker payudara, kelenjar getah bening, kulit dan
kanker nasofaring. Kanker payudara merupakan kanker terbanyak diderita wanita. Angka
kematian akibat kanker payudara mencapai 5 juta pada wanita. Kanker payudara merupakan
penyebab kematian karena kanker tertinggi pada wanita yaitu sekitar 19%. Lima data terakhir
menunjukkan bahwa kematian akibat kanker payudara pada wanita menunjukkan angka ke-2
tertinggi
Kanker payudara adalah yang paling sering diteliti dalam studi tentang kualitas hidup,
studi psikososial terdahulu menekankan bahwa adaptasi terhadap kehilangan payudara
merupakan satu-satunya factor penting bagi seorang wanita, trutama budaya barat. Karenanya
, tidaklah mengejutkan bahwa perhatian penelitian tentang penyesuian diri seorang wanita
terhadap kanker payudara menemukan hasil yang serupa
Ca. Mammae adalah kanker yang relatif sering dijumpai dan merupakan penyebab
kematian utama pada wanita berusia 45 dan 64 tahun.Ca. Mammae merupakan penyakit yang
mengancam atau semua wanita dapat beresiko untuk terkena kanker payudara ini, tidak ada
satupun penyebab spesifik dari kanker payudara sebaliknya faktor genetik, hormonal dan
kemungkinan kejadian lingkungan dapat menunjang terjadinya kanker ini.Bebrapa gambaran
kanker payudara menunjang prognolisnya, secara umum, makin kecil tumor, makin baik
prognosisnya, karsinoma payudara bukan semata-semata keadaan patologis yang terjadi
hanya dalam semalam, tetapi membutuhkan + 2 tahun agar bisa terabaPemberian asuhan
keperawatan pada pasien yang mengalami ca. mammaaae adalah yang spedifik berhubungan
dengan diagnosis, tumor, terlebih tumor yang diduga / dinyatakan ganas, peran perawat
sangat penting dalam meningkatkan merehabititasi dan mengkoordinasikan klien terhadap
keadaan kesehatan





BAB II
PEMBAHASAN

A. LANDASAN TEORITIS KANKER MAMAE
1. PENGERTIAN
Carsinoma mammae adalah neoplasma ganas dengan pertumbuhan jaringan mammae
abnormal yang tidak memandang jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat
bermetastase ( Soeharto Resko Prodjo, 1995).

2. ETIOLOGI
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor resiko pada
pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :
a. Tinggi melebihi 170 cm
b. Masa reproduksi yang relatif panjang.
c. Faktor Genetik
d. Ca Payudara yang terdahulu
e. Keluarga
Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini, dikuatkan bila 3 anggota
keluarga terkena carsinoma mammae.
f. Kelainan payudara ( benigna )
Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah ditunjukkan bahwa wanita
yang menderita / pernah menderita yang porliferatif sedikit meningkat.
g. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain
h. Faktor endokrin dan reproduksi
Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun, Menarche kurang
dari 12 tahun
i. Obat anti konseptiva oral
Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun mempunyai resiko lebih
besar untuk terkena kanker.

3. MANIFESTASI KLINIS
Gejala umum Ca mamae adalah :
Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara
Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai timbul
pembengkakan
Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu, mengkerut
seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara
Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas
Ada cairan yang keluar dari puting susu
Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan terjadi retraksi
Ada rasa sakit
Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium darah meningkat
Ada pembengkakan didaerah lengan
Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.
Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.
Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah diobati, serta
puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam.
Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d' Orange).
Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.
Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain

4. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DAN DIAGNOSTIK
a. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah, LED, Test fal marker (CEA) dalam
serum/plasma, Pemeriksaan sitologis
b. Test diagnostik lain:
Non invasive: Mamografi, Ro thorak, USG, MRI, PET
Invasif : Biopsi, Aspirasi biopsy (FNAB), True cut / Care biopsy, Incisi biopsy, Eksisi
biopsy
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan :
1. Pemeriksaan payudara sendiri
2. Pemeriksaan payudara secara klinis
3. Pemeriksaan manografi
4. Biopsi aspirasi
5. True cut
6. Biopsi terbuka
7. USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy medis, pembedahan,
terapi radiasi dan kemoterapi.

5. PENATALAKSANAAN MEDIS
Ada 2 macam yaitu kuratif (pembedahan) dan paliatif (non pembedahan). Penanganan
kuratif dengan pembedahan yang dilakukan secara mastektomi parsial, mastektomi total,
mastektomi radikal, tergantung dari luas, besar dan penyebaran kanker. Penanganan non
pembedahan dengan penyinaran, kemoterapi dan terapi hormonal.

6. KOMPLIKASI
Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru,pleura, tulang dan hati.





B. LANDASAN TEORITIS MASEKTOMI
Modified Radical Mastectomy adalah suatu tindakan pembedahan onkologis pada
keganasan payudara yaitu dengan mengangkat seluruh jaringan payudara yang terdiri dari
seluruh stroma dan parenkhim payudara, areola dan puting susu serta kulit diatas tumornya
disertai diseksi kelenjar getah bening aksila ipsilateral level I, II/III secara en bloc TANPA
mengangkat m.pektoralis major dan minor.
Tipe mastektomi dan penanganan kanker payudara bergantung pada beberapa factor meliputi
:
o Usia
o Kesehatan secara menyeluruh
o Status menopause
o Dimensi tumor
o Tahapan tumor dan seberapa luas penyebarannya
o Stadium tumor dan keganasannya
o Status reseptor homon tumor
o Penyebaran tumor telah mencapai simpul limfe atau belum

Tipe pembedahan secara umum dikelompokkan kedalam tiga kategori : mastektomi radikal,
mastektomi total dan prosedur yang lebih terbatas ( contoh segmental, lumpektomi ).
1. Mastektomi preventif ( preventife mastectomy) disebut juga prophylactic mastectomy.operasi
ini dapat berupa total mastektomi dengan mengangkat seluruh payudara dan putting atau
berupa subcutaneous mastectomy dimana seluruh payudara diangkat namun putting tetap
dipertahankan .
2. Mastektomi total ( sederhana ) mengangkat semua jaringan payudara tetapi semua atau
kebanyakan nodus limfe dan otot dada tetap utuh.
3. Mastektomi radikal modifikasi mengangkat seluruh payudara , beberapa atau semua nodus
limfe dan kadang-kadang otot pektoralis minor.otot dada mayor masih utuh.Mastektomi
radikal ( halsted ) adalah prosedur yang jarang dilakukan yaitu pengangkatan seluruh
payudara, kulit, otot pektoralis mayor dan minor, nodus limfe ketiak dan kadang-kadang
nodus limfe mamari internal atau supra klavikular.
4. Prosedur membatasi ( contoh : lumpektomi ) mungkin dilakukan pada pasien rawat jalan
yang hanya berupa tumor dan beberapa jaringan sekitarnya diangkat. Lumpektomi dianggap
tumor non-metastatik bila kurang dari 5 cm ukurannya yang tidak melibatkan
putting.prosedur meliputi dignostik ( menentukan tipe sel ) dan atau pengobatan bila
dikombinasi dengan terapi radiasi.
Berdasarkan tujuan terapi pembedahan, mastektomi dibedakan menjadi dua macam
yaitu tujuan kuratif dan tujuan paliatif. Prinsip terapi bedah kuratif adalah pengangkatan
seluruh sel kanker tanpa meninggalkan sel kanker secara mikroskopik. Terapi bedah kuratif
ini dilakukan pada kanker payudara stadium dini(stadium 0, I dan II).
Sedangkan tujuan terapi bedah palliatif adalah untuk mengangat kanker payudara
secara makroskopik dan masih meninggalkan sel kanker secara mikroskopik. Pengobatan
bedah palliatif ini pada umumnya dilakukan untuk mengurangi keluhan-keluhan penderita
seperti perdarahan, patah tulang dan pengobatan ulkus, dilakukan pada kanker payudara
stadium lanjut,yaitu stadium III dan IV.
Prosedur pengangkatan sel kanker dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Mastektomi radikal, yaitu Mengangkat seluruh payudara, kulit, otot mayor dan minor, nodus
limfe aksila dan jaringan lemak disekitarnya.
2. Mastektomi radikal modifikasi, seperti mastektomi radikal tetapi otot pektoralis mayor
dipertahankan.
3. Mastektomi sederhana, Mengangkat payudara dengan mempertahankan otot-otot yang
menyokong.
4. Mastektomi parsial, Mengangkat lesi dan jaringan disekitarnya termasuk nodus limfe.
5. Lumpektomi, Mengangkat lesi dan 3 sampai 5 cm jaringan ditepinya, jaringan payudara dan
kulitnya dipertahankan.

Beberapa tipe mastektomi yang ada pada saat ini
1. Mastektomi Preventif (Preventive Mastectomy)
Mastektomi preventif disebut juga prophylactic mastectomy. Operasi ini dapat berupa
total mastektomi dengan mengangkat seluruh payudara dan puting. Atau berupa
subcutaneous mastectomy, dimana seluruh payudara diangkat namun puting tetap
dipertahankan. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekambuhan kanker payudara dapat
dikurangi hingga 90% atau lebih setelah mastektomi preventif pada wanita dengan risiko
tinggi.

Gambar payudara seorang wanita 25 tahun. menjalani prophylacyic mastectomy dan telah
mengalami rekonstruksi dengan menutup lubang bekas operasi dengan dengan jaringan yang
diambil dari perutnya.

2. Mastektomi Sederhana atau Total (Simple or Total Mastectomy)
Mastektomi dengan mengangkat payudara berikut kulit dan putingnya, namun simpul
limfe masih dipertahankan. Pada beberapa kasus, sentinel node biopsy terpisah dilakukan
untuk membuang satu sampai tiga simpul limfe pertama.
Total mastectomy


3. Mastektomi Radikal Termodifikasi (Modified Radical Mastectomy)
Terdapat prosedur yang disebut modified radical mastectomy (MRM)-mastektomi
radikal termodifikasi. MRM memberikan trauma yang lebih ringan daripada mastektomi
radikal, dan ssat ini banyak dilakukan di Amerika. Dengan MRM, seluruh payudara akan
diangkat beserta simpul limfe di bawah ketiak, tetapi otot pectoral (mayor dan minor) otot
penggantung payudara masih tetap dipertahankan. Kulit dada dapat diangkat dapat pula
dipertahankan, Prosedur ini akan diikuti dengan rekonstruksi payudara yang akan dilakukan
oleh dokter bedah plastik.
Modified Radical Mastectomy

4. Mastektomi Radikal (Radical Mastectomy)
Mastektomi radikal merupakan pengangkatan payudara komplit, termasuk puting.
Dokter juga akan mengangkat seluruh kulit payudara, otot dibawah payudara, serta simpul
limfe (getah bening). Karena mastektomi radikal ini tidak lebih efektif namun merupakan
bentuk mastektomi yang lebih ekstrim , saat ini jarang dilakukan.


4. Mastektomi Parsial atau Segmental (Partial or Segmental Mastectomy)
Dokter dapat melakukan mastektomi parsial kepada wanita dengan kanker payudara
stadium I dan II. Mastektomi parsial merupakan breast-conserving therapy- terapi
penyelamatan payudara yang akan mengangkat bagian payudara dimana tumor bersarang.
Prosedur ini biasanya akan diikuti dengan terapi radiasi untuk mematikan sel kanker pada
jaringan payudara yang tersisa. Sinar X berkekuatan penuh akan ditembakkan pada beberapa
bagian jaringan payudara. Radiasi akan membunuh kanker dan mencegahnya menyebar ke
bagian tubuh yang lain.
Partial Mastectomy
5. Quandrantectomy
Tipe lain dari mastektomi parsial disebut quadrantectomy. Pada prosedur ini, dokter
akan mengangkat tumor dan lebih banyak jaringan payudara dibandingkan dengan
lumpektomi.
Quandrantectomy
Mastektomi tipe ini akan mengangkat seperempat bagian payudara, termasuk kulit
dan jaringan konektif (breast fascia). Cairan berwarna biru disuntikkan untuk
mengidentifikasi simpul limfe yang mengandung sel kanker.

6. Lumpectomy atau sayatan lebar,
Merupakan pembedahan untuk mengangkat tumor payudara dan sedikit jaringan
normal di sekitarnya. Lumpektomi (lumpectomy) hanya mengangkat tumor dan sedikit area
bebas kanker di jaringan payudara di sekitar tumor. Jika sel kanker ditemukan di kemudian
hari, dokter akan mengangkat lebih banyak jaringan. Prosedur ini disebuat re-excision
(terjemahan : pengirisan/penyayatan kembali).
Lumpectomy
7. Excisional Biopsy
Biopsi dengan sayatan juga mengangkat tumor payudara dan sedikit jaringan normal
di sekitarnya. Kadang, pembedahan lanjutan tidak diperlukan jika biopsy dengan sayatan ini
berhasil mengangkat seluruh tumor.
Excisional Biopsy

c. Indikasi operasi
Kanker payudara stadium dini (I,II)
Kanker payudara stadium lanjut lokal dengan persyaratan tertentu
Keganasan jaringan lunak pada payudara.
d. Kontra indikasi operasi
Tumor melekat dinding dada
Edema lengan
Nodul satelit yang luas
Mastitis inflamatoar

Tekhnik operasi
Secara singkat tekhnik operasi dari mastektomi radikal modifikasi dapat dijelaskan sebagai
berikut:
1. Penderita dalam general anaesthesia, lengan ipsilateral dengan yang dioperasi diposisikan
abduksi 90
0
, pundak ipsilateral dengan yang dioperasi diganjal bantal tipis.
2. Desinfeksi lapangan operasi, bagian atas sampai dengan pertengahan leher, bagian bawah
sampai dengan umbilikus, bagian medial sampai pertengahan mammma kontralateral, bagian
lateral sampai dengan tepi lateral skapula. Lengan atas didesinfeksi melingkar sampai dengan
siku kemudian dibungkus dengan doek steril dilanjutkan dengan mempersempit lapangan
operasi dengan doek steril
3. Bila didapatkan ulkus pada tumor payudara, maka ulkus harus ditutup dengan kasa steril
tebal ( buick gaas) dan dijahit melingkar.
4. Dilakukan insisi (macam macam insisi adalah Stewart, Orr, Willy Meyer, Halsted, insisi S)
dimana garis insisi paling tidak berjarak 2 cm dari tepi tumor, kemudian dibuat flap.
5. Flap atas sampai dibawah klavikula, flap medial sampai parasternal ipsilateral, flap bawah
sampai inframammary fold, flap lateral sampai tepi anterior m. Latissimus dorsi dan
mengidentifikasi vasa dan. N. Thoracalis dorsalis
6. Mastektomi dimulai dari bagian medial menuju lateral sambil merawat perdarahan, terutama
cabang pembuluh darah interkostal di daerah parasternal. Pada saat sampai pada tepi lateral
m.pektoralis mayor dengan bantuan haak jaringan maamma dilepaskan dari m. Pektoralis
minor dan serratus anterior (mastektomi simpel). Pada mastektomi radikal otot pektoralis
sudah mulai
7. Diseksi aksila dimulai dengan mencari adanya pembesaran KGB aksila Level I (lateral m.
pektoralis minor), Level II (di belakang m. Pektoralis minor) dan level III ( medial m.
pektoralis minor). Diseksi jangan lebih tinggi pada daerah vasa aksilaris, karena dapat
mengakibatkan edema lengan. Vena-vena yang menuju ke jaringan mamma diligasi.
Selanjutnya mengidentifikasi vasa dan n. Thoracalis longus, dan thoracalis dorsalis,
interkostobrachialis. KGB internerural selanjutnya didiseksi dan akhirnya jaringan mamma
dan KGB aksila terlepas sebagai satu kesatuan (en bloc)
8. Lapangan operasi dicuci dengan larutan sublimat dan Nacl 0,9%.
9. Semua alat-alat yang dipakai saat operasi diganti dengan set baru, begitu juga dengan
handschoen operator, asisten dan instrumen serta doek sterilnya.
10. Evaluasi ulang sumber perdarahan
11. Dipasang 2 buah drain, drain yang besar ( redon no. 14) diletakkan dibawah vasa aksilaris,
sedang drain yang lebih kecil ( no.12) diarahkan ke medial.
12. Luka operasi ditutup lapais demi lapis

Komplikasi operasi
Dini : pendarahan,
- lesi n. Thoracalis longus wing scapula
- Lesi n. Thoracalis dorsalis.
Lambat : - infeksi
- nekrosis flap
- wound dehiscence
- seroma
- edema lengan
- kekakuan sendi bahu kontraktur

Mortalitas
hampir tidak ada

Perawatan pasca bedah
Pasca bedah penderita dirawat di ruangan dengan mengobservasi produksi drain,
memeriksa Hb pasca bedah. Rehabilitasi dilakukan sesegera mungkin dengan melatih
pergerakan sendi bahu. Drain dilepas bila produksi masing-masing drain < 20 cc/24 jam.
Umumnya drain sebelah medial dilepas lebih awal, karena produksinya lebih sedikit. Jahitan
dilepas umumnya hari ke10 s/d 14.
Follow up
Tahun 1 dan 2 kontrol tiap 2 bulan
Tahun 3 s/d 5 kontrol tiap 3 bulan
Setelah tahun 5 kontrol tiap 6 bulan
Pemeriksaan fisik : tiap kali kontrol
Thorax foto : tiap 6 bulan
Lab. Marker : tiap 2-3 bulan
Mammografi kontralateral : tiap tahun atau ada indikasi
USG abdomen : tiap 6 bulan atau ada indikasi
Bone scanning : tiap 2 tahun atau ada indikasi

C. LANDASAN ASUHAN KEPERAWATAN
Analisa Kasus
Ny. E (44 th), datang ke poliklinik bedah RS. Dr. M. Djamil padang pada tanggal 18
November 2009 dengan keluhan adanya benjolan dan nyeri pada payudara kanan. Tanggal 19
November 2009, Ny E dirawat diruang bedah wanita. Menurut pernyataan Ny E benjolan dan
nyeri dirasakan sejak 3 tahun yang lalu, benjolan awalnya sebesar kelereng, 3 bulan terakhir
ini benjolan dirasakan semakin bertambah besar. Sebelum masuk RS Ny E berobat ke dukun
dan diberikan obat ramuan untuk diminum. Saat pengkajian oleh mahasiswa PSIK, Ny E
merasakan nyeri pada payudara kanan, nyeri bertambah bila mengangkat dan mengerakkan
tangan kanan, sulit tidur dan sering terbangun karena nyeri, dan tidak nafsu makan. Ny E
menanyakan perawatan setelah operasi nanti. Ny E operasi MRM tanggal 20 November
2009.

TD : 120/90 mmHg
Nadi :100x/menit
TB/BB :155 cm/ 58 kg
S : 37,5
0
C
RR : 20 x/menit

Pengkajian post mastektomi pada tanggal 23 November 2009, Ny E menyatakan nyeri
pada daerah post mastektomi, luka operasi 15 cm melintang pada payudara kanan. Luka
jahitan masih lembab, merah, terpasang drain di dada sebelah kanan sebanyak 2 buah
berjarak 2 cm. Klien mengungkapkan saya merasa malu karena salah satu dengan salah
satu kondisi saat ini, apakah suami saya masih menyayangi saya dan mau menerima saya,
apakah setelah pulang nanti saya tidak dijauhi oleh orang lain. Ny E tampak tegang dan
menutup mata ketika balutannya dibuka saat perawat akan merawat lukanya. Ny E tidak mau
bergerak atau mobilisasi karena kawatir jahitannya terlepas, tidak mau makan telur atau ikan
karena takut lukanya gatal dan lama sembuh.

a. PENGKAJIAN
A. Identitas pasien
Pasien (diisi lengkap)
Nama : Ny E
Umur : 44 tahun
Jenis Kelamin : perempuan
Agama :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Alamat :
Tgl Masuk RS : 18 November 2009

Penanggung Jawab (diisi lengkap)



B. Riwayat kesehatan
1. Keluhan utama
(keluhan yang dirasakan pasien saat dilakukan pengkajian)
Preoperasi: Saat pengkajian oleh mahasiswa PSIK, Ny E merasakan nyeri pada
payudara kanan, nyeri bertambah bila mengangkat dan mengerakkan tangan kanan, sulit tidur
dan sering terbangun karena nyeri, dan tidak nafsu makan. Ny E menanyakan perawatan
setelah operasi nanti.
Postoperasi: Ny E menyatakan nyeri pada daerah post mastektomi, luka operasi 15
cm melintang pada payudara kanan. Luka jahitan masih lembab, merah, terpasang drain di
dada sebelah kanan sebanyak 2 buah berjarak 2 cm. Klien mengungkapkan saya merasa
malu karena salah satu dengan salah satu kondisi saat ini, apakah suami saya masih
menyayangi saya dan mau menerima saya, apakah setelah pulang nanti saya tidak dijauhi
oleh orang lain. Ny E tampak tegang dan menutup mata ketika balutannya dibuka saat
perawat akan merawat lukanya. Ny E tidak mau bergerak atau mobilisasi karena kawatir
jahitannya terlepas, tidak mau makan telur atau ikan karena takut lukanya gatal dan lama
sembuh.

2. Riwayat kesehatan sekarang
(riwayat penyakit yang diderita pasien saat masuk rumah sakit)
Ny. E (44 th), datang ke poliklinik bedah RS. Dr. M. Djamil padang pada tanggal 18
November 2009 dengan keluhan adanya benjolan dan nyeri pada payudara kanan. Benjolan
dan nyeri dirasakan sejak 3 tahun yang lalu, benjolan awalnya sebesar kelereng, 3 bulan
terakhir ini benjolan dirasakan semakin bertambah besar. Sebelum masuk RS Ny E berobat
ke dukun dan diberikan obat ramuan untuk diminum.

3. Riwayat kesehatan yang lalu
(riwayat penyakit yang sama atau penyakit lain yang pernah diderita oleh pasien)
Apakah klien ada riwayat pribadi tentang kanker payudara, menarke dini, riwayat
Nulipara dan usia maternal lanjut saat kelahiran anak pertama, menopause pada usia lanjut,
riwayat penyakit tumor payudara jinak, Obesitas. Apakah klien pernah menggunakan terapi
penggantian hormon. Apakah klien juga mengkonsumsi alkohol atau diet tinggi lemak.

4. Riwayat kesehatan keluarga
(Adakah riwayat penyakit yang sama diderita oleh anggota keluarga yang lain atau
riwayat penyakit lain baik bersifat genetis maupun tidak)
Apakah klien adalah anak perempuan atau saudara perempuan (hubungan keluarga
langsung) dari wanita dengan kanker payudara. Resikonya meningkat dua kali jika ibunya
terkena kanker sebelum berusia 60 tahun; resiko 4 sampai 6 kali jika kanker payudara terjadi
pada dua orang saudara langsung.

b. ASUHAN KEPERAWATAN PRE OPERASI
i. Pengkajian 11 Fungsional Gordon
1) Pola Persepsi dan Manajemen Kesehatan
Biasanya klien tidak menyadari penyakit yang dideritanya bahkan dia tidak mengetahui
penyakitnya. Ketika telah diketahui sednag menderita penyakit, klien berusaha untuk
mengetahui penyakitnya tersebut. Pada kasus Ny E sudah merasakan benjolan dan nyeri di
payudara sebelah kanan sejak 3 tahun yang lalu, Sebelumnya Ny E hanya berobat ke dukun
saja dan diberikan obat ramuan untuk diminum, namun penyakitnya tidak sembuh
benjolannya semakin membesar sejak 3 bulan terakhir ini. Akhirnya Ny E baru pergi ke RS
untuk berobat. Sebelum dioperasi, Ny E menanyakan bagaimana perawatan setelah dia di
operasi nantinya.

2) Pola Nutrisi Metabolik
Klien mengeluh tidak nafsu makan. Biasanya klien akan mengalami pada nutrisinya
karena adanya hipermetabolik yang berhubungan dengan kanker yang dideritanya. Biasanya
klien juga mengalami ketidakmampuan mengontrol nyeri yang dapat menyebabkan intake
makanan klien tidak adekuat, hilangnya rasa kecap, kehilangan selera, berat badan turun.

3) Pola Eliminasi
Adakah perubahan eliminasi : perubahan detekasi (darah dan pada feses, nyeri detekasi
konsistensi, bising usus) perubahan eliminasi urine (atau) rasa terbakar.

4) Pola Aktivitas Latihan
Kaji bagaimana klien melakukan aktivitasnya sehari-hari sebelum menghadapi
pembedahan, apakah klien dapat melakukannya sendiri atau malah dibantu keluarga, dan
apakah aktivitas terganggu karena perasaan cemas yang dirasakan.
Klien merasakan nyeri pada payudara kanan, nyeri bertambah bila mengangkat dan
mengerakkan tangan kanan. Hal ini membuat klien sulit untuk melakukan aktivitas.

5) Pola Istirahat Tidur
Klien sulit tidur dan sering terbangun karena nyeri. Biasanya tidur klien juga terganggu
karena adanya rasa cemas sebelum melakukan operasi.

6) Pola Kognitif Persepsi
Apakah klien ada mengalami gangguan pada penglihatan, pendengaran, maupun indra
lainnya karena kanker mammae yang dideritanya?

7) Pola Persepsi Konsep Diri
Biasanya klien akan merasa rendah diri dengan penyakitnya. Klien merasa kawatir kalau
setelah di operasi nanti, apakah suami maupun orang lain dapat menerima keadaannya.
Persiapan psikologis bertujuan untuk membantu klien mempersiapkandiri dalam memhadapi
operasi, perawta diharapkan mengetahui informasi dokter kepada pasien maupun keluarga,
tentang macam tindakan yang akn dilakukan manfaat dan akibat yang mungkin muncul dan
terjadi serta memberikan penjelasan tentang prosedur-prosedur yang akan dilakukan sebelum
operasi.

8) Pola Peran Hubungan
Selama dirawat di rumah sakit karena, klien tidak dapat menjalankan perannya dalam
keluraganya maupun di dalam hubungan dengan masyarakat. Persiapan psikologis bertujuan
untuk membantu klien mempersiapkandiri dalam menghadapi operasi, perawat diharapkan
mengetahui informasi dokter kepada pasien maupun keluarga, tentang macam tindakan yang
akn dilakukan manfaat dan akibat yang mungkin muncul dan terjadi serta memberikan
penjelasan tentang prosedur-prosedur yang akan dilakukan sebelum operasi.
Persiapan psikososial di tujukan menghindari adanya gangguan hubungan sosisal dan
interpersonal dan peran dimasyarakat, akibat perubahan kondisi kesehatan dimana klien
seolah-olah klien tidak mampu menerima simpati dariorang lain, meraik diri dari pergaulan
dan merasa canggung dan bersoislaisasi dengan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari

9) Pola Coping Toleransi Stress
Pada pasien preoperasi dapat mengalami berbagai ketakutan . Takut terhadap anestesi,
takut terhadap nyeri atau kematian, takut tentang ketidaktahuan atau takut tentang derformitas
atau ancaman lain terhadap citra tubuh dapat menyebabkan ketidaktenangan atau ansietas
(Smeltzer and Bare, 2002).
Biasanya klien untuk mengatasi stres tersebut akan menanyakan hal-hal yang berkaitan
dengan penyakitnya dan bagaimana kelanjutan perawatannya setelah operasi.

10) Pola Reproduksi Seksualitas
Selama dirawat di rumah sakit klien tidak dapat menjalankan aktivitas seksualitas karena
kondisi penyakit klien

11) Pola Nilai Keyakinan
Biasanya klien selain dengan menjalani pengobatan, akan berdoa kepada Tuhan demi
kesembuhannya.

DIAGNOSA KEPERAWATAN PRE OPERASI
1. Nyeri kronik berhubungan dengan proses penyakit, sulit tidur dan ekspresi nyeri
2. Ansietas berhubungan dengan ancaman kematian, ancaman konsep diri , perubahan
gambaran diri , perubahan status kesehatan
3. Berduka antisipasi berhubungan dengan kehilangan karena payudara seperti hilangnya
payudara, kesehatan, penghasilan, pekerjaan inti, hubungan dan harapan hidup.
4. Takut berhubungan dengan diagnosis kanker payudara, perubahan gambaran payudara atau
kehilangan karena pengobatan dan pronosisi yang tidak pasti.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kanker payudara dan pilihan pengobatan.



ii. NANDA, NOC,NIC
NANDA
1. Nyeri (kronik) b.d proses penyakit (penekanan/kerusakan jaringan syaraf, infiltrasi sistem
suplay syaraf, obstruksi jalur syaraf, inflamasi), , klien sulit tidur, dan ekspresi nyeri.
Domain 12 : Kenyamanan
Kelas 1 : Kenyamanan Fisik
Defenisi : Ketidaknyamanan sensori dan ekspresi emosional akibat gangguan jaringan
actual dan potensial dan dideskribsikan dengan dengan sustu gangguan (IASP) ; serangan
mendadak atau lambat dari berbagai intensitas dari yang ringan hingga hebat , konstan atau
berulang tanpa antisipasi atau prediksi terakhir dan waktunya >6 bulan.
Batasan karakteristik :
Anorexia
Perubahan pola tidur
Fatigue
Gangguan interaksi social
Ekspresi verbal tentang nyeri

NOC 1
Control nyeri p. 326
Defenisi: perilaku individu dalam mengontrol nyeri.
Indicator:
Mengakui factor penyebab
Mengetahui nyeri
Menggunakan obat analgesic
Menjelaskan gejala nyeri
Melaporkan control nyeri yang telah dilakukan


NOC 2
Level nyeri p. 328
Defenisi :
Indicator :
Ekspresi nyeri
Frekuensi nyeri
Ekspresi wajah terhadap nyeri

NIC
Pain management (Manajemen nyeri) p. 412
Aktivitas:
o Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi karakteristik, durasi,
frekuensi, kualitas, dan factor presipitasi
o Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan
o Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
o Kaji budaya yang mempengaruhi respion nyeri
o Determinasi akibat nyeri terhadap kualitas hidup
o Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
o Control ruangan yang dapat mempengaruhi nyeri
o Kurangi factor presipitasi nyeri
o Pilih dan lakukan penanganan nyeri
o Ajarkan pasien untuk memonitor nyeri
o Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
o Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
o Evaluasi keefektifan control nyeri
o Tingkatkan istirahat
o Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil

2. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan pengobatan b.d kurangnya
informasi, misinterpretasi, keterbatasan kognitif ditandai dengan sering bertanya, menyatakan
masalahnya, pernyataan miskonsepsi.
Domain 5 : Persepsi/ Kognitif
Kelas 4 : Kognitif
Defenisi : Kehilangan atau defesiensi informasi kognitif b.d topic spesifik
Batasan Karakteristik :
Prilaku yang berlebihan
Petunjuk yang diikuti tidak akurat
Pengungkapan masalah
Factor yang berhubungan :
Keterbatasan kognitif
Miss interpretasi informasi
Tidak familiar dengan sumber informasi

NOC
Pengetahuan : Proses Penyakit p.262
Defenisi : Pemahaman yang mendalam tentang proses penyakit spesifik
Indicator :
Familiarnya tentang nama penyakit
Deskripsi proses penyakit
Deskripsi factor yang berhubungan dengan penyakit
Deskripsi factor resiko
Deskripsi effek dari penyakit
Deskripsi tanda dan gejala
Deskripsi komplikasi
Deskripsi kewaspadaan untuk mencegah komplikasi

NIC
Pendidikan : Proses Penyakit
Defenisi : Membantu bantuan untuk memahami informasi yang berhubungan dengan proses
penyakit yang spesifik
Aktivitas :
o Menghargai tingkat pengetahuan pasien tentang proses penyakit
o Menjelaskan patofisiologi penyakit dan bagaiman hubungan denagn anatomy dan fisiologi
o Medeskripsikan tanda dan gejala penyakit
o Mendeskripsikan proses penyakit
o Identifikasi factor penyebab
o Menyediakan informasi sesuai dengan kondisi pasien
o Mendiskusikan perubahan gaya hidup yang dibutuhkan untuk mencegah komplikasi lebih
lanjut dan atau konyrol dari proses penyakit
o Mendiskusikan pilihan terapi/pengobatan
o Mendeskripsikan komplikasi kronik yang mungkin terjadi

c. ASUHAN KEPERAWATAN POST OPERASI
i. Pengkajian 11 Fungsional Gordon
1) Pola persepsi kesehatan manajemen kesehatan
Tanyakan pada klien bagaimana pandangannya tentang penyakit yang dideritanya dan
pentingnya kesehatan bagi klien? Bagaimana pandangan klien tentang penyakitnya setelah
pembedahan? Apakah klien merasa lebih baik setelah pembedahan?

2) Pola nutrisi metabolic
Untuk mempercepat proses penyembuhan dan pemulihan kondisi pasien setelah operasi,
maka klien perlu dianjurkan:
a. Makan makanan bergizi
b. Konsumsi makanan (lauk pauk) berprotein tinggi, seperti : daging, telur, ayam, ikan.
c. Minum sedikitnya 8-10 gelas sehari
Namun pasien tidak mau makan telur atau ikan karena takut lukanya gatal dan lama sembuh.
Maka perawat perlu memberitahukan kepada klien tentang pentingnya konsumsi protein
seperti telur dan ikan untuk penyembuhan luka pasca operasi.

3) Pola eliminasi
Control eliminasi urin klien pasca operasi, baik warna, bau, frekuensi. Lihat apakah
klien kesulitan dalam BAB maupun BAK. Perawat juga harus memperhatikan pemakaian
drain redonm. Drain redonm harus tetap vakum dan diukur jumlah cairan yang tertampung
dalam botol drain tiap pagi, bila drain buntu, misalnya terjadi bekuan darah, bilain drain
dengan PZ 5-10 cc supaya tetap lancar. Pada mastektomi radikal atau radikal modifikasi,
drain umumnya dicabut setelah jumlah cairan dalam 24 jam tidak melebihi 20-30 cc, pada
eksisi tumor mamma tidak melebihi 5 cc.

4) Pola aktivas latihan
Pada pasien pasca mastektomi perlu adanya latihan-latihan untuk mencegah atropi
otot-otot kekakuan dan kontraktur sendi bahu, untuk mencegah kelainan bentuk (diformity)
lainnya, maka latihan harus seimbang dengan menggunakan secara bersamaan.

5) Pola istirahat tidur
Kaji perubahan pola tidur klien selama sehat dan sakit, berapa lama klien tidur dalam
sehari? Biasanya pasien mengalami gangguan tidur karena nyeri pasca operasi.

6) Pola kognitif persepsi
Kaji tingkat kesadaran klien, Kaji apakah ada komplikasi pada kognitif, sensorik,
maupun motorik setelah pembedahan.

7) Pola persepsi diri dan konsep diri
Payudara merupakan alat vital seseorang ibu dan wanita, kelainan atau kehilangan
akibat operasi payudara sangat terasa oleh klien. Klien akan merasa kehilangan haknya
sebagai wanita normal, ada rasa kehilangan tentang hubungannya dengan ssuami, dan
hilangnya daya tarik serta serta pengaruh terhadap anak dari segi menyusui.

8) Pola peran hubungan
Klien merasa malu dalam berhubungan dengan orang lain karena kondisinya saat ini,
hal ini juga tampak pada reaksi Ny E yang tegang dan menutup mata ketika balutannya
dibuka saat perawat akan merawat lukanya. Klien kawatir setelah pulang nanti dia akan
dijauhi oleh orang lain dan apakah suaminya masih menyayangi dan mau menerimanya.

9) Pola reproduksi dan seksualitas
Setelah operasi, akan adanya gangguan pada seksualitas pasien. Hal ini dapat terjadi
karena klien merasa rendah diri ketika berhubungan dengan suaminya karena kondisinya saat
ini.

10) Pola koping dan toleransi stress
Kaji apa yang biasa dilakukan klien saat ada masalah? Apakah klien menggunakan
obat-obatan untuk menghilangkan stres? Diperlukan dukungan keluarga dan orang sekitar
termasuk perawat untuk menghilangkan kecemasan dan rasa rendah diri klien terhadap
keadaan dirinya.

11) Pola nilai dan kepercayaan
Kaji bagaimana pengaruh agama terhadap klien menghadapi penyakitnya? Apakah
ada pantangan agama dalam proses penyembuhan klien? Diperlukan pendekatan agama
supaya klien dapat menerima kondisinya dengan lapang dada.

DIAGNOSA KEPERAWATAN POST OPERASI
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul adalah:
1. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan biofisikal : prosedur bedah
yang mengubah gambaran tubuh, psikososial , masalah tentang ketertarikan seksual
2. Kerusakan integrasi kulit/ jaringan berhubungan dengan pengangkatan bedah kulit/ jaringan ,
perubahan sirkulasi, adanya edema, drainase , perubahan pada elastisitas kulit, sensasi,
dekstrusi jaringan ( radiasi )
3. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur pembedahan ,trauma jaringan , interupsi saraf,
diseksi otot.
4. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan gangguan neuromuscular , nyeri /
ketidaknyamanan , pembentukan edema ditandai dengan :
5. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis ,dan kebutuhan pengobatan berhubungan
dengan kurang terpajan/ mengingat, salah interpretasi/ informasi
6. Perubahan pola seksual berhubungan dengan dampak kehilangan payudara/ kehilangan
gambaran dan atau proses penyakit terhadap hubungan seksual.

NANDA
1. Gangguan citra tubuh b.d kehilangan payudara P.197
Domain 6 : Persepsi/Kognitif
Kelas 3 : Citra Tubuh
Defenisi : Kebingungan tentang gambaran mental fisik pribadi
Batasan karakteristik :
Prilaku menghindar akibat kehilangan salah satu organ tubuh
Respon non verbal akibat perubahan actual tubuh
Respon non verbal terhadap penerimaan perubahan tubuh
Kehilangan organ tubuh
Tidak mau melihat bagian tubuh
Tidak mau menyentuh bagian tubuh

NOC 1
Citra Tubuh p. 123
Defenisi: Persepsi positif terhadap penampilan dan fungsi pribadi tubuh
Indicator:
Gambaran internal tubuh
Keseimbangan antara realita, ideal dan penampilan tubuh
Kepuasan penmapilan tubuh
Pengaturan penampilan fisik tubuh
Pengaturan perubahan fungsi tubuh

NIC 1
Perbaikan Citra Tubuh : 145
Defenisi : Peningkatan persepsi sadar dan ketidaksadarn dan sikap ke depan terhadap
tubuhnya
Aktivitas:
o Menentukan dugaan citra tubuh pasien, sesuai dengan perkembangannya
o Membantu pasien untuk mendiskusikan perubahan yang terjadi akibat penyakit dan
pembedahan
o Membantu pasien memelihara perubahan tubuh
o Membantu pasien untuk membedakan penampilan fisik dari perasaan yang beharga
o Membantu pasien untuk menentukan akibat dari persepsi yang sama penampilan tubuh.
o Monitoring pandangan diri secara berkala
o Monitoring apakah pasien melihat perubahan pada bagian tubuh
o Montoring pernyataan tentang persepsi identitas diri sehubungan denagn bagian tubuh dan
berat badan
o Menentukan apakah perubahan citra tubuh berkontribusi dalam isolasi social
o Membantu pasien dalam mengidentifikasi penampilan yang akan meningkat

2. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan biofisikal : prosedur bedah
yang mengubah gambaran tubuh, psikososial , masalah tentang ketertarikan seksual
Domain 6 : Persepsi-Diri
Kelas 1 : Konsep Diri
Defenisi : ketidakmampuan dalam memelihara persepsi diri yang terintegrasi dan kompleks
Batasan Karakteristik :
Gangguan citra tubuh
Gangguan peran hubungan
Perasaaan kosong
Gender confusion
Koping yang tidak efektif
Penampilan peran yang tidak efektif

NOC
Identitas p. 237
Defenisi : kemampuan untuk membedakan pribadi awal dan akhir dan
mengkarakteristikkannya.
Indicator :
Penguatan secara verbal tentang identitas diri
Penjelasan secara verbal tentang identitas diri
Membedakan diri dengan manusia lainnya
Menampilkan peran social
http://bangeud.blogspot.com/2011/04/asuhan-keperawatan-pasien-dengan_11.html
AAAAAAAAAAa