Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP DASAR ANASTESI




DI

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ACHMAD MOCHTAR
BUKITTINGGI




O
L
E
H



















ALVIO,S.Kep
09103084105359



PROGAM STUDI PROFESI NERS
STIKES PERINTIS SUMBAR
2013/2014


KONSEP DASAR ANESTESI

1. Memberikan pelayanan anestesi, analgesi dan sedasi yang aman, efektif, manusiawi dan
memuaskan bagi pasien yang menjalani pembedahan, prosedur medik atau trauma yang
menyebabkan nyeri, kecemasan dan stres psikis lainnya.

2. Menunjang fungsi vital tubuh terutama jalan nafas, pernafasan, perdaran darah dan
kesadaran pasien yang mengalami gangguan atau ancaman jiwa karena menjalani
prosedur medik, trauma atau penyakit lain.


3. Melakukan reanimasi dan resusitasi jantung, paru, otak (basic advanced prolonged life
support) pada kegawatan mengancam jiwa dimanapun pasien berada (ruang gawat
darurat, kamar bedah, ruang pulih sadar, ruang intensif / ICU).

4. Menjaga keseimbangan cairan, elektrolit, asam basa dan metabolisme tubuh pasien yang
mengalami gangguan atau ancaman jiwa karena menjalani prosedur medik, trauma atau
penyakit lain.


5. Mengatasi masalah nyeri akut di rumah sakit (nyeri akibat pembedahan, trauma maupun
nyeri persalinan).

6. Menanggulangi masalah nyeri kronik dan nyeri membandel (nyeri kanker dan penyakit
kronik).


7. Menbeikan bantuan terapi pernafasan.



1. PENGERTIAN ANESTESI
Anestesi berasal dari bahasa Yunani a : tanpa, aesthesis : rasa, sensasi (Anestesiologi
FKUI 1989).
Anestesi adalah suatu keadaan narkosis, analgesia, relaksasi dan hilangnya reflek
(Keperawatan medikal bedah, Brunner dan Sudarth edisi 8).
Definisi anestesiologi yang ditegakkan oleh The American Board of Anesthesiology pada
tahun 1089 ialah mencakup semua kegiatan profesi atau praktek yang meliputi :
1. Menilai, merancang, menyiapkan pasien untuk anestesi.
2. Membantu pasien menghilangkan nyeri pada saat pembedahan, persalinan atau pada saat
dilakukan tindakan diagnostik terapeutik.
3. Memantau dan memperbaiki homeostasis pasien perioperatif dan pada pasien dalam keadaan
kritis.
4. Mendiagnosis dan mengobati sindroma nyeri.
5. Mengelola dan mengajarkan resusitasi jantung paru (RJP).
6. Membuat evaluasi fungsi pernafasan dan mengobati gangguan pernafasan.
7. Mengajarkan, memberi supervisi dan mengadakan evaluasi tentang penampilan personil
paramedik dalam bidang anestesi, perawatan pernafasan dan perawatan pasien dalam keadaan
kritis.
8. Mengadakan penelitian tentang ilmu dasar dan ilmu klinik untuk menjelaskan dan
memperbaiki perawatan pasien terutama tentang fungsi fisiologi dan respon terhadap obat.
9. Melibatkan diri dalam administrasi rumah sakit. Pendidikan kedokteran dan fasilitas rawat
jalan yang diperlukan untuk implementasi pertanggung jawaban.

2. RUANG LINGKUP KEPERAWATAN ANESTESI
Ruang lingkup keperawatan anestesi meliputi pelayanan keperawatan anestesi pada pelayanan :
1. Pra anestesi / pembedahan
2. Selama anestesi / pembedahan
3. Pasca anestesi / pembedahan
4. Perawatan gawat darurat
5. Perawatan intensif
6. Semua pelayanan yang memerlukan perawatan anestesi.

3. PERAWATAN PRA ANESTESI
Perawatan pra anestesi dimulai saat pasien berada di ruang perawatan, atau dapat juga
dimulai pada saat pasien diserahterimakan di ruang opersai dan berakhir saat pasien dipindahkan
ke meja operasi.
Tujuan :
1. Menciptakan hubungan yang baik dengan pasien, memberikan penyuluhan tentang tindakan
anestesi.
2. Mengkaji, merencanakan dan memenuhi kebutuhan pasien.
3. Mengetahui akibat tindakan anestesi yang akan dilakukan.
4. Mengantisipasi dan menanggulangi kesulitan yang mungkin timbul.
Dalam menerima pasien yang akan menjalani tindakan anestesi, Perawat anestesi wajib
memeriksa kembali data dan persiapan anestesi, diantaranya:

1. Memeriksa:
- Identitas pasien dan keadaan umum pasien.
- Kelengkapan status / rekam medik.
- Surat persetujuan operasi dari pasien / keluarga.
- Data laboratorium, rontgent, EKG dan lain-lain.
- Gigi palsu, lensa kontak, perhiasan, cat kuku, lipstik dan lain-lain.
2. Mengganti baju pasien.
3. Membantu pasien untuk mengosongkan kandung kemih.
4. Mencatat timbang terima pasien.

Perawat anestesi juga bertugas memberikan pre-medikasi berdasarkan instruksi tertulis
dari dokter Spesialis Anestesiologi atau dokter lain yang berwenang. Hal-hal yang harus
diperhatikan adalah :
1. Memeriksa kembali nama pasien sebelum memberikan obat.
2. Mengetahui riwayat penyakit yang pernah diderita.
3. Mengetahui riwayat alergi terhadap obat-obatan.
4. Memeriksa fungsi vital (tensi,nadi,suhu,nafas) sebelum memberikan premedikasi dan
sesudahnya.
5. Memberikan obat pre-medikasi sesuai instruksi dokter dan kemudian mencatat nama obat,
dosis obat, cara dan waktu pemberian, tanda tangan dan nama jelas perawat yang memberikan
obat.

4. PERAWATAN SELAMA ANESTESI
Perawatan selama anestesi dimulai sejak pasien berada diatas meja operasi sampai
dengan pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar.

Tujuan :
Mengupayakan fungsi vital pasien selama anestesi berada dalam kondisi optimal agar
pembedahan dapat berjalan lancar dengan baik.
Sebelum dilakukan tindakan anestesi, perawat anestesi wajib :
1. Memeriksa kembali nama pasien, data, diagnosa dan rencana operasi.
2. Mengenalkan pasien kepada dokter spesialis anestesiologi, dokter ahli bedah, dokter asisten
dan perawat instrumen.
3. Memberikan dukungan moril, menjelaskan tindakan induksi yang akan dilakukan dan
menjelaskan fasilitas yang ada di sekitar meja operasi.
4. Memasang alat-alat pemantau (antara lain tensimeter, EKG dan alat lainnya sesuai dengan
kebutuhan).
5. Mengatur posisi pasien bersama-sama perawat bedah sesuai dengan posisi yang dibutuhkan
untuk tindakan pembedahan.
6. Mendokumentasikan semua tindakan yang telah dilakukan.

Selama tindakan anestesi perawat anestesi wajib :
1. Mencatat semua tindakan anestesi.
2. Berespon dan mendokumentasikan semua perubahan fungsi vital tubuh pasien selama
anestesi / pembadahan. Pemantauan meliputi sistem pernafasan, sirkulasi, suhu, keseimbangan
cairan, perdarahan dan produksi urine dan lain-lain.
3. Berespon dan melaporkan pada dokter spesialis anestesiologi bila terdapat tanda-tanda
kegawatan fungsi vital tubuh pasien agar dapat dilakukan tindakan segera.
4. Melaporkan kepada dokter yang melakukan pembedahan tentang perubahan fungsi vital
tubuh pasien dan tindakan yang diberikan selama anestesi.
5. Mengatur dosis obat anestesi atas pelimpahan wewenang dokter.
6. Menanggulangi keadaan gawat darurat.

Pengakhiran anestesi :
1. Memantau tanda-tanda vital secara lebih intensif.
2. Menjaga jalan nafas supaya tetap bebas.
3. menyiapkan alat-alat dan obat-obat untuk pengakhiran anestesi dan atau ekstubasi.
4. Melakukan pengakhiran anestesi dan atau ekstubasi sesuai dengan kewenangan yang
diberikan.

5. PERAWATAN PASCA ANESTESI
Perawatan pasca anestesi / pembedahan dimulai sejak pasien dipindahkan ke ruang pulih sadar
sampai diserahterimakan kembali kepada perawat di ruang rawat inap. Jika kondisi pasien tetap
kritis pasien dipindahkan ke ICU.
Tujuan :
- Mengawasi kemajuan pasien sewaktu masa pulih.
- Mencegah dan segera mengatasi komplikasi yang terjadi.
- Menilai kesadaran dan fungsi vital tubuh pasien untuk menentukan pemindahan /
pemulangan pasien.

6. PERAN DAN FUNGSI PERAWAT ANESTESI
Perawat anestesi dalam pelayanan anestesiologi dan reanimasi mempunyai peran dan fungsi
sebagai berikut :
1. Pengelola asuhan keperawatan anestesi.
2. Mitra kerja dalam pelaksanaan tindakan anestesi.
3. Pengelola asuhan kaparawatan pada keadaan gawat darurat.
4. Mitra kerja / pelaksanaan tindakan medik pasda pasien gawat darurat.
5. Pengelola asuhan keperawatan pasien di Intensif Care.
6. Sebagai pendidik

Kompetensi minimal seorang Perawat Anestesi adalah sebagai berikut :
1. Dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien yang akan menjalani prosedur anestesi
(pra, intra dan pasca ).
2. Dapat melakukan asuhan keperawatan selama tindakan / prosedur anestesi sedang
berlangsung.
3. Dapat melakukan asuhan keperawatan pada pasien dalam keadaan gawat darurat.
4. Dapat melakukan asuhan keperawatan kepada pasien yang membutuhkan perawatan intensif.
5. Dapat melakukan kerja sama antar anggota tim, baik sebagai mitra kaerja ataupun pelaksana
tindakan dalam pelayanan anestesiologi dan reanimasi sesuai dengan peran, fungsi, etika dan
kebijaksanaan atau batas kewenangannya.
(standar umum pelayanan anestesiologi dan reanimasi di rumah sakit, 1999)
MACAM-MACAM ANASTESI
ANASTESI UMUM
Adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan
dapat pulih kembali (reversible). Komponen trias anastesi ideal terdiri dari hipnotik, analgesia dan
relaksasi otot.
Cara pemberian anastesi umum:
a. Parenteral (intramuscular/intravena)
b. Perektal
c. Anastesi Inhalasi


Stadium Anestesi
Guedel (1920) membagi anestesi umum dengan eter dalam 4 stadium (stadium III dibagi
menjadi 4 plana), yaitu:
a. Stadium I
Stadium I (analgesi) dimulai dari saat pemberian zat anestetik sampai hilangnya kesadaran. Pada
stadium ini pasien masih dapat mengikuti perintah dan terdapat analgesi (hilangnya rasa sakit).
Tindakan pembedahan ringan, seperti pencabutan gigi dan biopsi kelenjar dapat dilakukan pada
stadium ini
b. Stadium II
Stadium II (delirium/eksitasi, hiperrefleksi) dimulai dari hilangnya kesadaran dan refleks bulu
mata sampai pernapasan kembali teratur.
c. Stadium III
Stadium III (pembedahan) dimulai dengan tcraturnya pernapasan sampai pernapasan spontan
hilang. Stadium I I I dibagi menjadi 4 plana yaitu:
1) Plana 1 : Pernapasan teratur, spontan, dada dan perut seimbang, terjadi gerakan bola mata
yang tidak menurut kehendak, pupil midriasis, refleks cahaya ada, lakrimasi meningkat, refleks
faring dan muntah tidak ada, dan belum tercapai relaksasi otot lurik yang sempurna. (tonus otot
mulai menurun).
2) Plana 2 : Pernapasan teratur, spontan, perut-dada, volume tidak menurun, frekuensi
meningkat, bola mata tidak bergerak, terfiksasi di tengah, pupil midriasis, refleks cahaya mulai
menurun, relaksasi otot sedang, dan refleks laring hilang sehingga dikerjakan intubasi.
3) Plana 3 : Pernapasan teratur oleh perut karena otot interkostal mulai paralisis, lakrimasi tidak
ada, pupil midriasis dan sentral, refleks laring dan peritoneum tidak ada, relaksasi otot lurik
hampir sempuma (tonus otot semakin menurun).
4) Plana 4 : Pernapasan tidak teratur oleh perut karena otot interkostal paralisis total, pupil
sangat midriasis, refleks cahaya hilang, refleks sfmgter ani dan kelenjar air mata tidak ada,
relaksasi otot lurik sempuma (tonus otot sangat menurun).
d. Stadium IV
Stadium IV (paralisis medula oblongata) dimulai dengan melemahnya pernapasan perut
dibanding stadium III plana 4. pada stadium ini tekanan darah tak dapat diukur, denyut
jantung berhenti, dan akhirnya terjadi kematian. Kelumpuhan pernapasan pada stadium ini tidak
dapat diatasi dengan pernapasan buatan.


Obat-obat anestesi umum
a. Tiopenthal
b. Propofo
c. Ketamin
d. Opioid
ANASTESI LOKAL/REGIONAL
Adalah tindakan menghilangkan nyeri/sakit secara lokal tanpa disertai hilangmya
kesadaran. Pemberian anestetik lokal dapat dengan tekhnik:
a. Anastesi Permukaan
b. Anastesi Infiltrasi
c. Anastesi Blok
























DAFTAR PUSTAKA
Latief, A. Said, dkk. Anestesiology. Jakarta: FKUI. 2009
Ganiswarna, Sulistia. Farmakologi dan Terapi. Jakarta: FKUI. 1995
Tjay, Tan Hoan. Obat-Obat Penting. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. 2002
Arif Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran J ilid I I . Jakarta: Media Aesculapius. 2000
Gainswarna, G Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi. Jakarta : FKUI
Smeltzer, Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol I . Jakarta : EGC. 2001
Staff Pengajar Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif FKUI. 2004. Anestesiologi. Jakarta:
Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Anestesi Spinal. http://anestesi-fkunram.blogspot.com/2009/02/anestesi-spinal.html. Diakses
tanggal 22 Agustus 2009 pukul 09:00 WIB. Visitor: Komang
Anestesiology. http://www.wikipedia.com. Diakses tanggal 22 Agustus 2009 pukul 09:00
WIB. Visitor: Komang