Anda di halaman 1dari 15

ACARA V

APLIKASI MINYAK ATSIRI DAN OLEORESIN : EDI BLE ACTI VE


PACKAGI NG

A. TUJUAN
Tujuan dari praktikum acara V Aplikasi Minyak Atsiri dan Oleoresin:
Edible Active Packaging ini adalah:
1. Mengetahui aplikasi minyak atsiri dan oleoresin dalam edible active
packaging.
2. Mengetahui karakteristik adible active packaging yang dibuat meliputi
kenampakan dan kelarutannya.
B. TINJAUAN PUSTAKA
Indonesia memiliki banyak sumber daya alam dalam bidang agrobisnis.
Salah satu sumber daya alam yang potensial adalah jeruk purut. Jeruk purut
termasuk suku Rutaceae yang berasal dari Asia Tenggara yang banyak ditanam
di beberapa negara termasuk Indonesia. Tanaman ini berpotensi sebagai
penghasil minyak atsiri. Daun jeruk purut mengandung sabinena dan limonena
yang berguna untuk kosmetik, aromaterapi, pencuci rambut, antelmintik, obat
sakit kepala, nyeri lambung dan biopestisida. Daunnya juga sering digunakan
sebagai rempah yang berfungsi untuk memberi aroma yang khas pada
masakan. Minyak atsiri banyak digunakan dalam industri sebagai pemberi
aroma dan rasa. Nilai jual dari minyak atsiri sangat ditentukan oleh kualitas
minyak dan kadar komponen utamanya. Minyak atsiri yang berasal dari daun
jeruk purut disebut combava petitgrain (dalam bahasa afrika) yang banyak
digunakan dalam industri makanan, minuman, farmasi, flavor, parfum,
pewarna dan lain-lain. Misalnya dalam industri pangan banyak digunakan
sebagai pemberi cita rasa dalam produk-produk olahan
(Munawaroh dan Prima, 2010).
Oleoresin merupakan campuran resin dan minyak atsiri yang diperoleh
dari ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik. Jahe mengandung resin
yang cukup tinggi sehingga bisa dibuat sebagai oleoresin. Keuntungan dari
oleoresin adalah lebih higenis dan mempunyai kekuatan lebih bila
dibandingkan dengan bahan asalnya. Penggunaan oleoresin dalam industri
lebih disukai karena aromanya lebih tajam dan dapat menghemat biaya
pengolahan. Alat yang digunakan terdiri dari sebuah ekstraktor yang dilengkapi
dengan sebuah pengaduk dan koil pemanas. Sumber panas berasal dari sebuah
ketel uap yang juga digunakan pada ketel suling. Ekstraktor ini juga berfungsi
sebagai alat pemisah yang memisahkan oleoresin dan pelarut (Armando, 2008).
Minyak atsiri merupakan salah satu jenis minyak nabati yang
multimanfaat. Karakteristik fisiknya berupa cairan kental yang dapat disimpan
pada suhu ruang. Bahan baku minyak ini diperoleh dari berbagai bagian
tanaman seperti daun, bunga, buah, biji, kulit biji, batang, akar atau rimpang.
Salah satu ciri utama minyak atsiri yaitu mudah menguap dan beraroma khas.
Karena itu, minyak ini banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
wewngian dan kosmetik (Rusli, 2010).
Minyak atsiri merupakan produk yang saat ini lebih digemari dan
mempunyai nilai jual lebih tinggi daripada bahan mentahnya karena
mempunyai sifat yang lebih menguntungkan antara lain lebih higenis dan lebih
stabil jika disimpan dalam waktu yang relatif lama. Akan tetapi kendala
penggunaan minyak atsiri pada pangan adalah adanya perubahan organoleptik
(aroma maupun rasa) produk yang diaplikasikan. Oleh karena itu untuk
meminimalkan kadar penggunaan minyak atsiri maka terbuka peluang untuk
menggunakan edible coating atau edible film sebagai bahan pembawa
komponen alami tersebut. Edible coating merupakan kemasan aktif yang
berupa lapisan tipis yang dibuat dari bahan yang dapat dimakan, dibentuk di
atas komponen makanan yang berfungsi sebagai penghambat transfer massa
(misalnya kelembaban, oksigen, lemak dan zat terlarut) dan atau sebagai carrier
bahan makanan atau aditif dan atau untuk meningkatkan penanganan makanan.
Edible coating banyak digunakan untuk pelapis produk daging beku, makanan
semi basah (intermediate moisture foods), produk konfeksionari, ayam beku,
produk hasil laut, sosis, buah-buahan dan obat-obatan terutama untuk pelapis
kapsul (Utami dkk, 2011).
Edible film didefinisikan sebagai lapisan tipis bahan yang dapat
dikonsumsi dan menyediakan penghalang untuk kelembaban, oksigen dan
gerakan zat terlarut untuk makanan. Materi yang bisa menjadi pelapis makanan
lengkap atau dapat dibuang sebagai lapisan kontinyu antara makanan
komponen. Edible film dapat dibentuk sebagai pelapis makanan dan film
berdiri bebas, dan memiliki potensi untuk digunakan dengan makanan sebagai
aroma gas penghalang. Namun, informasi teknis masih diperlukan untuk
mengembangkan film untuk aplikasi makanan. Edible film dan coating telah
menerima perhatian dalam beberapa tahun terakhir karena keuntungan mereka
atas film sintetis. Utama keuntungan dari film dimakan selama sintetis
tradisional adalah bahwa mereka dapat dikonsumsi dengan dikemas produk.
Tidak ada paket untuk membuang bahkan jika film tidak dikonsumsi mereka
masih bisa berkontribusi untuk pengurangan pencemaran lingkungan. Itu film
yang diproduksi secara eksklusif dari terbarukan, bahan yang dapat dimakan
dan oleh karena itu diantisipasi untuk menurunkan lebih mudah daripada bahan
polimer (Bourtoom, 2008).
Meningkatnya permintaan untuk kualitas yang semakin meningkat
untuk produk pangan dengan umur simpan yang panjang memberikan
kontribusi untuk pengembangan teknologi pengolahan baru yang menjamin
kualitas produk. Sifat alami dan penampilan tidak signifikan diubah. Secara
umum, lapisan dimakan terdiri dari lapisan tipis bahan yang terbentuk di
sekitar produk pangan sebagai sebuah film atau yang terbentuk di luar produk
dan ditempatkan pada atau antara perusahaan komponen. Edible coating dapat
diterapkan secara langsung pada permukaan sebagai tambahan perlindungan
untuk menjaga kualitas produk dan stabilitas. Itu persyaratan yang dikenakan
pada lapisan dimakan ditentukan oleh sifat spesifik produk tersebut (seperti
kadar air) dan perubahan dalam properti-properti selama produksi dan
penyimpanan. Dalam produk makanan yang kompleks, potensi penggunaan
dimakan pelapis sebagai penghalang memisahkan berbagai komponen
mungkin terbatas karena efeknya pada nutrisi yang terkandung Berbasis
polimer pelapis dimakan menarik minat yang signifikan karena sifat
lingkungan yang aman dan kemungkinan aplikasi dalam industri kemasan
makanan (Kakoszka and Andezej, 2007).
Ada minat yang tumbuh di lapisan dimakan karena faktor-faktor seperti
masalah lingkungan, teknik penyimpanan baru dan pengembangan pasar untuk
di bawah komoditas pertanian dimanfaatkan. Pelapis Goreng dan film yang
dihasilkan dari polysaccarides, protein dan lipid memiliki berbagai keunggulan
seperti biodegradabilitas, dpt dimakan, biokompatibilitas, penampilan dan sifat
penghalang. Untuk mengontrol kontaminasi makanan dan kehilangan kualitas,
edible coating atau kemasan biodegradable baru-baru ini diperkenalkan dalam
pengolahan makanan. Beberapa aplikasi telah ditinjau dengan penekanan
khusus pada pengurangan kualitas. Kemasan dapat berfungsi sebagai pembawa
untuk antimikroba dan senyawa antioksidan untuk menjaga konsentrasi tinggi
bahan pengawet di permukaan makanan. Kehadiran mereka bisa menghindari
hilangnya kelembaban selama penyimpanan, mengurangi tingkat tengik
menyebabkan oksidasi lipid dan warna coklat, mengurangi beban pembusukan
dan mikroorganisme patogen pada permukaan makanan dan juga, membatasi
volatile hilangnya rasa. Pemilihan agen aktif dimasukkan terbatas pada
senyawa dimakan dan keamanan juga penting (Perez dkk, 2006).
Seiring dengan kesadaran manusia akan masalah pangan, maka
dikembangkanlah jenis kemasan dari bahan organik, dan berasal dari bahan-
bahan terbarukan (renewable) dan ekonomis. Salah satu jenis kemasan yang
bersifat ramah lingkungan adalah kemasan edible (edible packaging).
Keuntungan dari edible packaging adalah dapat melindungi produk pangan,
penampakan asli produk dapat dipertahankan dan dapat langsung dimakan
serta aman bagi lingkungan. Edible film adalah lapisan tipis yang dibuat dari
bahan yang dapat dimakan, dibentuk di atas komponen makanan yang
berfungsi sebagai penghambat transfer massa (misalnya kelembaban, oksigen,
lemak dan zat terlarut) dan atau sebagai bahan makanan atau aditif dan atau
untuk meningkatkan penanganan makanan (Kurniawan, 2013).
Ketebalan merupakan sifat fisik edible film yang besarnya dipengaruhi
oleh konsentrasi hidrokoloid pembentuk edible film dan ukuran plat kaca
pencetak. Ketebalan edible film mempengaruhi laju uap air, gas dan senyawa
volatil lainnya. Sebagai kemasan, semakin tebal edible film, maka kemampuan
penahannya akan semakin besar atau semakin sulit dilewati uap air, sehingga
umur simpan produk akan semakin panjang. Kepaduan dari edible film atau
lapisan pada umumnya meningkat secara proporsional dengan ketebalan.
Perubahan warna edible film dipengaruhi oleh jumlah konsentrasi bahan
pembentuk edible film dan suhu pengeringan. Warna edible film akan
mempengaruhi penampakan produk sehingga lebih menarik (Wijoyo, 2013).
Edible film merupakan lapisan tipis dari materi yang dapat diletakkan
diatas permukaan produk makanan untuk menyediakan penghalang bagi uap
air, oksigen dan perpindahan padatan dari makanan tersebut. Sebuah pelapisan
yang ideal didefenisikan sebagai salah satu cara untuk memperpanjang umur
simpan makanan tanpa menyebabkan keadaan anaerobik dan mengurangi
kualitas makanan. Selain itu edible film dapat digunakan untuk mengurangi
kehilangan air. Salah satu fungsi utama dari edible film adalah kemampuan
mereka dalam peranannya sebagai penghalang, baik gas, minyak, atau yang
lebih utama air. Kadar air makanan merupakan titik penting untuk menjaga
kesegaran, mengontrol pertumbuhan mikroba, dan tektur yang baik, edible film
dapat mengontrol Aw (water activity) melalui pelepasan atau penerimaan air
(Rahmawati, 2013).
Secara umum parameter penting karakteristik mekanik yang diukur dan
diamati dari sebuah film kemasan termasuk edible film adalah kuat tarik
(tensile strength), kuat tusuk (puncture srength), persen pemanjangan
(elongation to break) dan elastisitas (elastic modulus/young modulus).
Parameter-parameter tersebut dapat menjelaskan bagaimana karakteristik
mekanik dari bahan film yang berkaitan dengan struktur kimianya.
Karakteristik mekanik menunjukkan inikasi integrasi film pada kondisi tekanan
(stress) yang terjadi selama proses pembentukan film tersebut. Modulus elatis
merupakan kebalikan dari persen pemanjangan, karena akan semakin menurun
seiring meningkatnya jumlah plasisizer dalam film. Modulus elastisitas
menurun berarti fleksibilitas film meningkat. Modulus elastisitas merupakan
ukuran dasar dari kekakuan (stiffness) sebuah film. Sifat-sifat fisik yang
digunakan sebagai parameter mutu edible film adalah ketebalan film, warna,
suhu transisi gelas dan aw (Kusnandar, 2013).
C. METODOLOGI
1. Alat
a. Beaker glass
b. Pengaduk
c. Hot plate
d. Loyang
e. Timbangan analitik
f. Corong
g. Desikator
h. Cabinet dryer
2. Bahan
a. Oleoresin daun jeruk purut
b. Minyak atsiri daun jeruk purut
c. Tepung tapioka
d. Aquades
e. Mika
f. Kertas saring











3. Cara Kerja
a. Pembuatan Edible Film















b. Penentuan Kelarutan Film













5 gram tepung tapioka ditimbang dan dilarutkan dalam 100
ml aquades pada gelas beaker
Dipanaskan hingga tergelatinisasi
Ditambahkan 2 ml gliserol lalu dipanaskan selama 30
menit
Didinginkan dan dicampur dengan oleoresin atau minyak
atsiri, lalu diaduk hingga homogen
Dicetak pada loyang kemudian dikeringkan dalam cabinet
dryer selama 7 jam dengan suhu 60
o
C
Dilepas dari loyang dan siap untuk karakterisasi dan
aplikasi
Berat kertas saring ditentukan setelah pengeringan pada
suhu 105
o
C selama 24 jam
Film dipotong 2 sebanyak buah dengan ukuran 2 x 2 cm
lalu ditimbang
Dicelupkan ke dalam 50 ml aquades dan diaduk secara
terus menerus selama 90 menit
Disaring dengan kertas saring yang telah diketahui beratnya
Kerats saring dikeringkan pada suhu 105
o
C selama 24 jam
lalu ditimbang
Ditentukan kelarutan film
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 5.1 Kenampakan Edible Film
Sampel Film Kelompok Parameter
Aroma Warna Tekstur
Minyak atsriri 1 % 1 ++ ++ ++
2 +++ ++ +++
Minyak atsiri 3 % 3 ++++ ++ ++
4 +++ +++ ++
Minyak oleoresin 0,05 % 5 ++ +++ +++
6 ++ +++ +++
Minyak oleoresin 0,3 % 7 ++ ++ ++
8 ++ ++ ++
Kontrol 9 + + +
10 + + +
11 + + +
12 + + +
Sumber: Laporan Sementara
Keterangan parameter:
Aroma: + sama dengan kontrol
++ sedikit sama dengan kontrol
+++ aroma minyak atsiri mulai tercium
++++ aroma minyak atsiri oleoresin
Warna: + sama dengan kontrol
++ sedikit sama dengan kontrol
+++ hijau/kekuningan
++++ hijau/kuning
Tekstur: + tidak elastis, keras, kaku
++ sedikit elastis, agak keras
+++ elastis, lunak
++++ sangat elastis
Pada praktikum acara V yaitu aplikasi minyak atsiri dan oleoresin
dengan edible active packaging diperoleh hasil kenampakan edible film dan
kelarutan edible film. Secara umum edible film dapat didefenisikan sebagai
lapis tipis yang melapisi suatu bahan pangan dan layak dimakan, digunakan
pada makanan dengan cara pembungkusan atau diletakkan diantara komponen
makanan yang dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas makanan,
memperpanjang masa simpan, meningkatkan efisiensi ekonomis, menghambat
perpindahan uap air (Krochta, 1992). Edible film merupakan lapisan tipis dari
materi yang dapat diletakkan diatas permukaan produk makanan untuk
menyediakan penghalang bagi uap air, oksigen dan perpindahan padatan dari
makanan tersebut. Sebuah pelapisan yang ideal didefenisikan sebagai salah
satu cara untuk memperpanjang umur simpan makanan tanpa menyebabkan
keadaan anaerobik dan mengurangi kualitas makanan. Selain itu edible film
dapat digunakan untuk mengurangi kehilangan air. Menurut Hui (2006) salah
satu fungsi utama dari edible film adalah kemampuan mereka dalam
peranannya sebagai penghalang, baik gas, minyak, atau yang lebih utama air.
Kadar air makanan merupakan titik penting untuk menjaga kesegaran,
mengontrol pertumbuhan mikroba, dan tektur yang baik, edible film dapat
mengontrol Aw (water activity) melalui pelepasan atau penerimaan air.
Edible active packaging merupakan kemasan yang dapat dimakan
karena terbuat dari bahan-bahan yang dapat dimakan seperti pati, protein atau
lemak. Jika dibuang, Edible packaging dapat didegradasi melalui proses
fotokimia atau dengan menggunakan mikroba penghancur (Paramawati, 2001).
Keuntungan dari edible packaging adalah dapat melindungi produk pangan,
penampakan asli produk dapat dipertahankan dan dapat langsung dimakan
serta aman bagi lingkungan. Fungsi edible active packaging yaitu
meningkatkan retensi warna dan aroma, mengurangi kehilangan berat,
mempertahankan kualitas saat pengiriman dan penyimpanan, mengurangi
kerusakan akibat penyimpanan dan memperpanjang umur simpan
(Kurniawan, 2013).
Penambahan oleoresin dan minyak atsiri pada pembuatan edible film
yaitu untuk meningkatkan fleksibilitas dan ekstensibilitas film, menghindarkan
film dari keretakan, meningkatkan permeabilitas terhadap gas, uap air dan zat
terlarut, serta meningkatkan elastisitas film. Komponen penyusun edible film
dapt dibagi menjadi tiga macam yaitu: hidrokoloid, lipida, dan komposit.
Hidrokoloid yang cocok antara lain senyawa polisakarida yaitu selulosa,
modifikasi selulosa, pati, agar, alginat, pektin. Lipida yang biasa digunakan
yaitu kolagen, gelatin, asil gliseroll, dan asam lemak. Sedangkan komposit
merupakan campuran, terdiri dari lipid dan hidrokoloid serta mampu menutupi
kelemahan masing-masing (Dohowe dan fennema, 1994).
Pada tabel 5.1 kenampakan Edible Film yang diperoleh pada masing-
masing sampel film yaitu pada kelompok 1 dan 2 dengan sampel minyak atsiri
1% diperoleh aroma sedikit sama dan aroma minyak atsiri mulai tercium,
warna yang dihasilkan sedikit sama dengan kontrol, tekstur sedikit elastis, agak
lunak dan elastis. Pada kelompok 3 dan 4 dengan sampel 3% diperoleh aroma
aroma minyak atsiri dan aroma mulai tercium, warna yang dihasilkan sedikit
sama dengan kontrol dan hijau kekuningan, tekstur sedikit elastis, agak keras.
Pada kelompok 5 dan 6 dengan sampel oleoresin 0,05% diperoleh aroma
sedikit sama, warna sedikit sama dengan kontrol, tekstur elastis, lunak. Pada
kelompok 7 dan 8 dengan sampel oleoresin 0,3% diperoleh aroma sedikit
sama, warna yang dihasilkan sedikit sama dengan kontrol, tekstur sedikit
elastis, agak keras. Pada kelompok 9, 10, 11 dan 12 dengan sampel kontrol
diperoleh aroma sama dengan kontrol, warna juga sama dengan kontrol dan
tekstur tidak elastis, keras, kaku. Penambahan oleoresin/minyak atsiri tersebut
sangat berpengaruh terhadap penampakan bahan pangan karena dapat
mencegah dan mengurangi kerusakan. Semakin tinggi konsentarsi minyak
atsiri/oleoresin yang ditambahkan maka aroma yang tercium akan semakin
menyengat. Warna edible film akan mempengaruhi penampakan produk
sehingga lebih menarik. Semakin tinggi konsentarsi minyak atsiri/oleoresin
yang ditambahkan maka kenampakan edible film akan semakin buram (tidak
bening). Dari segi tekstur, semakin rendah konsentrasi minyak atsiri/oleoresin
yang ditambahkan maka edible film akan semakin lunak dan elastis.
Secara umum parameter penting karakteristik mekanik yang diukur dan
diamati dari sebuah film kemasan termasuk edible film adalah kuat tarik
(tensile strength), kuat tusuk (puncture srength), persen pemanjangan
(elongation to break) dan elastisitas (elastic modulus/young modulus).
Parameter-parameter tersebut dapat menjelaskan bagaimana karakteristik
mekanik dari bahan film yang berkaitan dengan struktur kimianya.
Karakteristik mekanik menunjukkan inikasi integrasi film pada kondisi tekanan
(stress) yang terjadi selama proses pembentukan film tersebut. Modulus elatis
merupakan kebalikan dari persen pemanjangan, karena akan semakin menurun
seiring meningkatnya jumlah plasisizer dalam film. Modulus elastisitas
menurun berarti fleksibilitas film meningkat. Modulus elastisitas merupakan
ukuran dasar dari kekakuan (stiffness) sebuah film. Sifat-sifat fisik yang
digunakan sebagai parameter mutu edible film adalah ketebalan film, warna,
suhu transisi gelas dan aw. Perubahan warna edible film dipengaruhi oleh
jumlah konsentrasi bahan pembentuk edible film dan suhu pengeringan. Warna
edible film akan mempengaruhi penampakan produk sehingga lebih menarik
(Anonim, 2013).
Tabel 5.2 Kelarutan Edible Film
Sampel Film Kelompok Berat Film
(gr)
Berat kertas
saring awal
(gr)
Berat kertas
saring akhir
(gr)
%
Kelarutan
Minyak atsriri 1
%
1 0,716 1,099 1,362 63,26
2 0,981 0,924 1,474 43,93
Minyak atsiri 3 % 3 0,892 1,114 1,123 99,002
4 0,766 1,312 1,560 67,62
Minyak oleoresin
0,05 %
5 0,500 1,410 1,382 105,6
6 0,425 1,045 1,113 84
Minyak oleoresin
0,3 %
7 0,513 1,095 1,234 71,15
8 0,492 1,092 1,376 42,28
Kontrol 9 0,758 1,090 1,387 87,20
10 0,615 0,775 1,232 25,69
11 0,671 1,661 1,366 143,96
12 0,633 1,470 1,411 109,32
Sumber: Laporan Sementara
Pada tabel 5.2 kelarutan edible film yang diperoleh dari berat film
dikurangi berat akhir dan berat awal dibagi berat film. Persen kelarutan edible
film adalah persen berat kering dari film yang terlarut setelah dicelupkan di
dalam air selama 24 jam (Gontard, 1993). Pada kelompok 1 dan 2 dengan
sampel minyak atsiri 1% diperoleh hasil 63,26% dan 43,93%. Pada kelompok 3
dan 4 dengan sampel minyak atsiri 3% diperoleh hasil 99,002% dan 67,62%.
Pada kelompok 5 dan 6 dengan sampel minyak oleoresin 0,05% diperoleh hasil
105,6% dan 84,023%. Pada kelompok 7 dan 8 dengan sampel minyak oleoresin
0,3% diperoleh hasil 71,15% dan 42,28%. Pada kelompok 8, 9, 10, 11 dan 12
dengan sampel kontrol diperoleh hasil 87,203%, 25,69%, 143,96% dan
109,32%.
Uji kelarutan digunakan untuk mengetahui sampel dengan penambahan
minyak atsiri dan oleoresin maksimal yang memiliki kelarutan menyerupai
sampel kontrol sehingga layak dijadikan edible active packaging tanpa banyak
mempengaruhi kelarutannya. Menurut Rahmawati (2013) semakin tinggi
konsentrasi bahan pelarut yang ditambahkan maka semakin berpengaruh
terhadap kelarutan. Tetapi terjadi penyimpangan pada sampel kontrol
kelompok 5, 11 dan 12 yaitu 105,6%, 143,96% dan 109,32%. Penyimpangan
tersebut terjadi karena suhu penguapan terlalu tinggi atau terlalu lama,
kesalahan pada saat penyaringan dan kesalahan pada saat penimbangan berat
awal.
E. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil pada praktikum acara V aplikasi
minyak atsiri dan oleoresin: edible avtive packaging yaitu:
1. Edible film merupakan lapisan tipis dari materi yang dapat diletakkan diatas
permukaan produk makanan untuk menyediakan penghalang bagi uap air,
oksigen dan perpindahan padatan dari makanan tersebut.
2. Fungsi dari edible film adalah kemampuan mereka dalam peranannya
sebagai penghalang, baik gas, minyak, atau yang lebih utama air.
3. Edible active packaging merupakan kemasan yang dapat dimakan karena
terbuat dari bahan-bahan yang dapat dimakan seperti pati, protein atau
lemak.
4. Fungsi edible active packaging yaitu meningkatkan retensi warna dan
aroma, mengurangi kehilangan berat, mempertahankan kualitas saat
pengiriman dan penyimpanan, mengurangi kerusakan akibat penyimpanan
dan memperpanjang umur simpan.
5. Penambahan oleoresin/minyak atsiri tersebut sangat berpengaruh terhadap
penampakan bahan pangan karena dapat mencegah dan mengurangi
kerusakan.
6. Warna, aroma dan tekstur edible film akan mempengaruhi penampakan
produk sehingga lebih menarik.
7. Semakin tinggi konsentrasi bahan pelarut yang ditambahkan maka semakin
berpengaruh terhadap kelarutan.
8. Penyimpangan tersebut terjadi karena suhu penguapan terlalu tinggi atau
terlalu lama, kesalahan pada saat penyaringan dan kesalahan pada saat
penimbangan berat awal.


























DAFTAR PUSTAKA

Armando, Rochim. 2008. Memproduksi 15 Minyak Atsiri Berkualitas. Penebar
Swadaya: Jakarta.
Bourtoom, T. 2008. Edible Films and Coating: Characteristics and Properties.
Journal International Food 15 (3).
Kakoszka, Sabina and Andrzej Lenart. 2007. Edible Coatong-Formation,
Characteristics and Use-A Review. Polish Journal of Food and Nutition
Sciences, Vol.57, No.4.
Kurniawan, Taufiq R. 2013. Handout Kemasan edible. www.usu.ac.id. Diakses
Sabtu, 20 April 2013 pukul 17.57 WIB.
Kusnandar, Muhammad. 2013. Kemasan Edible Film. www.thebeatypread.com.
Diakses Minggu, 21 April 2013 pukul 16.00 WIB.
Munawaroh, Safaatul dan Prima Astuti Handayani. 2010. Ekstraksi Minyak Daun
Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C) dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana.
Jurnal Kompetensi Teknik, Vol.2 No.1.
Perez, Regalado Gonzalez, Barbosa Rodriguez and Villasenor Ortega F. 2006.
Incorporation of Antimicrobial Agents in Food Packaging Films and
Coating. Journal Advances in Agricultural and Food Biotechnology.
Rahmawati, Feri. 2013. Sifat-Sifat Fisik Edible. www.scribe.com. Diakses Sabtu,
20 April 2013 pukul 18.36 WIB.
Rusli, Meika Syahbana. 2010. Sukses Memproduksi Minyak Atsiri. Agro Media
Pustaka: Jakarta.
Utami, Rohula, Kawiji dan Edhi Nurhartadhi. 2011. Inkorporasi Minyak Atsiri
Jahe Merah dan Lengkuas Merah pada Edible Film Tapioka. Jurnal
Seminar Nasional IX Pendidikan Biologi FKIP UNS.
Wijoyo, Atmaka. 2013. Edible Bahan Pangan. www.wordpress.com. Diakses
Sabtu, 20 April 2013 pukul 18.47 WIB.








LAMPIRAN

Perhitungan kelompok 6
% Kelarutan Film = berat film (berat kertas saring akhir awal) x 100 %
Berat film
= 0,425 (1,113 1,045) x 100 %
0,425
= 0,425 0,068 x 100 %
0,425
= 84 %