Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH


PRODUKSI BENIH LAPANG

OLEH :
NAMA : FRELYTA A. Z.
KELAS : G
NIM : 115040201111290
KELOMPOK : Jumat,11.00
ASISTEN : Dasa Novi

UNIVESITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
MALANG
2013

1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Tanaman kacang hijau (Vigna radiata L.) termasuk suku polong-polongan (fabaceae)
yang memiliki manfaat sebagai sumber bahan pangan berprotein nabati tinggi. Seiring
dengan meningkatnya pertambahan penduduk dan semakin beraneka ragam produk olahan
yang berbahan baku kacang hijau, maka kebutuhan akan kacang hijau akan terus meningkat
dari waktu ke waktu. Terdapat kendala dalam membudidayakan tanaman ini terutama
masalah lahan, padahal untuk mencukupi kebutuhan permintaan kacang hijau dalam negeri
sendiri dibutuhkan dalam jumlah besar. Belum lagi jika terjadi gagal panen, yang berarti
akan menururnkan hasil pertanian pada komoditas tersebut.
Tanaman kacang hijau masih kurang mendapat perhatian petani, meskipun hasil tanaman
ini mempunyai nilai gizi yang tinggi dan harga yang baik. Keterbatasan lahan pertanian pada
komoditas kacang hijau merupakan salah satu masalah dalam upaya peningkatan produksi
Dibanding dengan tanaman kacang-kacangan lain, kacang hijau memiliki kelebihan ditinjau
dari segi agronomi maupun ekonomis seperti: lebih tahan kekeringan, serangan hama
penyakit lebih sedikit, dapat dipanen pada umur 55-60 hari, dapat ditanam pada tanah yang
kurang subur, dan cara budidayanya mudah. Dengan demikian, kacang hijau mempunyai
potensi yang tinggi untuk dikembangkan. Untuk mempercepat perkembangan, ketersediaan
benih yang memadai dari varietas unggul yang sudah dilepas merupakan kunci
keberhasiIan.Hal ini karena melalui varietas yang unggul dapat diperoleh hasil yang baik,
dilihat dari segi kualitas maupun kuantutasnya. Untuk itu pengetahuan mengenai produksi
benih lapang ini akan sangat membantu dalam menghasilkan benih kacang hijau bermutu
tinggi sehingga mampu meningkatkan produksi.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum produksi benih lapang ini adalah:
1. Mengetahui klasifikasi dan morfologi tanaman kacang hijau
2. Mengetahui cara budaya tanaman kacang hijau
3. Mengetahui teknologi produksi benih kacang hijau
4. Mengatahui cara penyimpanan benih kacang hijau setelah pemanenan









II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi dan Morfologi
Dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman kacang hijau meliliki klasifikasi divisio :
Spermatophyta, subdivisi : Angiospermae, kelas : Dicotyledonae, ordo : Rosales, famili :
Papilionaceae, genus : Vigna, spesies : Vigna radiata L. (Soeprapto dan Marzuki, 2004).
Tanaman kacang hijau berakar tunggang. Sistem perakarannya dibagi menjadi dua yaitu
mesophytes dan xerophytes. Mesophytes mempunyai banyak cabang akar pada permukaan
tanah dan tipe pertumbuhannya menyebar, sementara xerophytes memiliki akar cabang lebih
sedikit dan memanjang ke arah bawah Batang tanaman kacang hijau berukuran kecil,
berbulu, berwarna hijau kecokelat-cokelatan atau kemerah-merahan; tumbuh tegak mencapai
ketinggian 30 cm - 110 cm dan bercabang menyebar ke semua arah. Daun tumbuh majemuk,
tiga helai anak daun per tangkai. Helai daun berbentuk oval dengan ujung lancip dan
berwarna hijau (Rukmana, 2004).
Daun tanaman kacang hijau tumbuh majemuk dan terdiri dari tiga helai anak daun
setiap tangkai. Helai daun berbentuk oval dengan bagian ujung lancip dan berwarna hijau
muda hingga hijau tua (Purwono dan Purnamawati, 2009). Tangkai daun lebih panjang
daripada daunnya sendiri. Bunga kacang hijau berkelamin sempurna (hermaprodite),
berbentuk kupu-kupu, dan berwarna kuning. Proses penyerbukan terjadi pada malam hari
sehingga pada pagi harinya bunga akan mekar dan pada sore hari menjadi layu (Rukmana,
2004).
Polong kacang hijau berbentuk silindris dengan panjang antara 6-15 cm dan biasanya
berbulu pendek. Sewaktu muda polong berwarna hijau dan setelah tua berwarna hitam atau
cokelat. Setiap polong berisi 10-15 biji. Biji kacang hijau berbentuk bulat dan ukurannya
lebih kecil dibandingkan biji kacang tanah atau kedelai dengan bobot sekitar 0,5 - 0,8 mg.
Kulitnya hijau berbiji putih. Bijinya sering dibuat kecambah atau taoge (Purwono dan
Hartono, 2008).

2.2 Budidaya Tanaman
a. Penyiapan lahan
Kacang hijau biasanya ditanam pada lahan sawah setelah panen padi dan tidak perlu
dilakukan pengolahan tanah (tanpa olah tanah=TOT). Jerami cukup dipotong pendek atau
rata dengan tanah. Sedangkan pada lahan sawah yang sudah agak lama tidak ditanami perlu
dilakukan pengolahan tanah secara sempurna. Untuk menghindari air tergenang pada musim
hujan perlu dibuat saluran drainase dengan lebar dan kedalaman 20-30 cm dan jarak antar
saluran maksimum 4 m.
b. Penanaman
Penanaman dilakukan dengan sistem tugal sebanyak 2-3 biji/lubang dengan
kedalaman 3-5 cm, Kemudian ditutup dengan abu dapur/jerami atau tanah halus atau pupuk
kandang. Kebutuhan benih berkisar 15-20 kg/ha. Jarak tanam bervariasi, yaitu 40x10 cm
(populasi 300.000-400.000 tanaman/ha) pada musim hujan atau 40x15 cm (populasi
400.000-500.000 tanaman/ha) pada musim kemarau. Penyulaman dapat dilakukan umur 7
hari. Biasanya petani melakukan penanaman benih kacang hijau sesudah padi dengan cara
sebar benih yang dilakukan dengan atau tanpa pembabatan jerami, dan benih yang diperlukan
berkisar 50-75 kg/ha.
c. Pemupukan
Biasanya pemupukan jarang dilakukan, terutam apada tanah subur. Sedangkan pada
tanah kurang subur diberikan pupuk sebanyak 45 kg Urea + 45- 90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha.
Pupuk diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan
tanaman. Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15-20 t/ha atau abu dapur/abu
hasil pembakaran jerami sebanyak 5 t/ha sangat baik diaplikasikan untuk menutup lubang
tanam cara ini dapat meningkatkan hasil kacang hijau mencapai 1,5 t/ha.
d. Penggunaan Mulsa Jerami
Penggunaan mulsa jerami yang ditebar pada hamparan pertanaman kacang hijau
secara merata dapat mengurangi serangan hama lalat bibit, menekan pertumbuhan gulma,
dan memperlambat proses penguapan air tanah. Dianjurkan penggunaan jerami dengan
takaran sebanyak 5 t/ha.
e. Penyiangan
Penyiangan dilakukan tergantung dengan pertumbuhan gulma. Penyiangan
dianjurkan umur 10-15 hari setelah tanam (hst) dan 25-30 hst, dengan cara dikored atau
menggunakan cangkul. Pada daerah yang langka tenaga kerja dapat menggunakan herbisida
pra tumbuh non selektif seperti: Lasso, Paraquat, Dowpon, dan Goal dengan takaran 1-2 l/ha
yang diaplikasikan 3-4 hari sebelum tanam.
f. Pengairan
Kacang hijau termasuk tanaman yang toleran terhadap kekurangan air, yang penting
tanah cukup kelembabannya. Namun, bila tanah pertanaman kacang hijau kekeringan
sebaiknya segera diairi terutama pada periode kritis, yaitu: saat tanam, saat berbunga (umur
25 hst), dan saat pengisian polong (umur 45-50 hst). Untuk kacang hijau yang ditanam di
tanah bertekstur ringan (berpasir), umumnya pengairan dilakukan dua kali yaitu umur 21
dan 38 hst, sedangkan pertanaman di tanah bertekstur berat (lempung), biasanya diperlukan
pengairan hanya satu kali.
g. Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama yang paling sering menyerang pertanaman kacang hijau: lalat bibit Ophyomia
phaseoli, ulat jengkal Plusia chalsites, kepik hijau Nezara viridula, kepik coklat Riptortus
linearis, penggerek polong (Maruca testulalis dan Etiella spp.) dan kutu thrips.
Pengendaliannya dapat dilakukan dengan menerapkan konsep Pengendalian Hama Terpadu
(PHT). Penggunaan insektisida merupakan alternatif terakhir bila cara lain tidak mangkus
dalam mengendalikan hama. Insektisida anjuran, antara lain adalah: Confidor, Regent,
Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2-3 ml/l air dan volume semprot
500-600 l/ha. Untuk pengendalian penyakit sendiri, diantaranya adalah bercak daun
Cercospora canescens, busuk batang, embun tepung Erysiphe polygoni, dan penyakit puru
Elsinoe glycines dilakukan dengan penyemprotan fungisida, seperti: Benlate, Dithane M45,
Baycor, Delsene MX200, atau Daconil pada awal serangan dengan takaran 2 g/l air.
Sementara itu penyakit embung tepung juga dapat dikendalikan dengan menggunakan
varietas tahan, seperti: Sriti dan Kutilang (Sunantara, 2000).

2.3 Teknologi Produksi Benih
2.3.1 Persyaratan tanah
Dalam pemilihan lokasi kebun kacang hijau adalah tanahnya subur, gembur, banyak
mengandung bahan organik (humus), aerasi dan drainasenya baik, serta mempunyai
kisaran pH 5,8 - 6,5. Untuk tanah yang ber-pH lebih rendah daripada 5,8 perlu
dilakukan pengapuran (liming) (Rukmana, 2004). Tanaman kacang hijau menghendaki
tanah yang tidak terlalu berat. Artinya, tanah tidak terlalu banyak mengandung tanah
liat. Tanah dengan kandungan bahan organik tinggi sangat disukai oleh tanaman kacang
hijau. Tanah berpasir pun dapat digunakan untuk pertumbuhan tanaman kacang hijau,
asalkan kandungan air tanahnya tetap terjaga dengan baik. Kacang hijau menghendaki
tanah dengan kandungan hara (fosfor, kalium, kalsium, magnesium, dan belerang) yang
cukup. Unsur hara ini penting untuk meningkatkan produksinya (Soeprapto
dan,Marzuki 2004).
2.3.2 Isolasi
1. Isolasi Jarak.
Antara tanaman untuk benih dengan tanaman untuk konsumsi atau benih dengan
varietas dari kelas benih berbeda isolasi dengan jalur kosong atau tanaman lain
selebar 3 meter .
2. Isolasi waktu.
Minimum 30 hari, perbedaan tanggal tanam dari 2 varietas yang berbeda dan letaknya
berdampingan harus diatur sedemikian rupa sehingga saat berbunga tidak bersamaan.
Pemilihan penggunaan isolasi tergantung dari kondisi lapangan (Anonymous
a
, 2013).
2.3.3 Roguing
Seleksi vegetatif umur 7-15 hst. Cara : a) membuang tanaman yang berbeda
warna hipokotilnya (hijau,hijau keunguan, ungu dan ungu tua). b) membuang tanaman
yang berbeda bentuk daunnya (bulat runcing, oval runcing dan lain-lain). c) membuang
tanaman yang berbeda bulu daunnya (tidak berbulu, bulunya sangat jarang dan bulunya
lebat). Seleksi generatif yaitu scat berbunga dan setelah keluar polong. a) Membuang
tanaman yang berbeda tipe pertumbuhannya (tegak, semi tegak dan menyebar). b)
Membuang tanaman yang berbeda warna polong, pada saat perubahan warna
polongnya (kuning jerami, coklat kemerahan, coklat kehitaman, hitam dan lain-lain)
(Sunantara, 2000).


2.3.4 Panen dan pascapanen
1) Panen dilakukan apabila polong sudah berwarna hitam atau coklat. Panen dengan
cara dipetik dan polong segera dijemur selama 2 - 3 hari hingga kulit mudah terbuka.
2) Pembijian dilakukan dengan cara dipukul, sebaiknya di dalam kantong plastik atau
kain untuk menghindari kehilangan hasil. Pembersihan biji dari kotoran dengan
menggunakan nyiru (tampah) dan biji dijemur lagi sampai kering simpan yaitu kadar
air mencapai 8 10 % (Sunantara, 2000).

2.4 Penyimpanan Benih
Biji yang sudah mencapai kadar air 8-9% ditampi atau diayak untuk memisahkan
benih bogus dan benih jelek. Biji yang sudah disortir dimasukkan dalam kantong kantong
plastik berukuran 5-10 kg, ditutup dengan sistem rapat udara (diikat kuat-kuat). Bila tidak
tersedia kantong plastik dapat juga digunakan blek/kaleng minyak dan ditutup dengan
parafin/lilin Sebelum disimpan dalam blek, benih dicampur dengan abu dapur atau
insektisida. Terdapat pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap viabilitas benih
kacang hijau. Lama penyimpanan berpengaruh nyata terhadap viabilitas benih kacang hijau.
Penyimpanan dalam ruang simpan dengan suhu-70C dan -5C lebih mampu
mempertahankan viabilitas benih selama masa penyimpanan 30 hari dibandingkan benih
yang di simpan pada suhu kamar (26C) dan 3C. (pengaruh suhu dan lama penyimpanan
terhadap viabilitas benih kacang hijau (phaseolus radiatus l.) (Qulsum, 2011).




















III. METODOLOGI

3.1 Alat, Bahan & Fungsi
Alat
Cangkul : untuk mengolah lahan
Tugal : untuk membuat lubang tanam
Timba : untuk mengambil air
Kamera : dokumentasi
Alat tulis : mencatat hasil
Tali rafia : untuk mengukur jarak tanam
Meteran : untuk mengukur jarak tanam
Bahan
Benih kacang hijau : bahan tanam
Air : untuk menyiram tanaman kangkung
Pupuk : untuk memberi kebutuhan unsur hara tanaman
Tanah : sebagai media tumbuh tanaman
3.2 Keterangan Lahan
3.2.1 Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat pada lahan BP Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya adalah 440-667
dpl.
3.2.2 Sejarah Penggunaan Lahan
Sejarah penggunaan lahan pada lahan BP Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
yaitu pernah dijadikan lahan untuk menanam jagung, timun, terong, kacang panjang. Pada
lahan tersebut dilihat bahwa penggunaan lahan sebagian banyak sering digunakan untuk
lahan menanam tanaman sayuran. Tetapi sempat pada lahan tersebut kosong dan tidak
digunakan, sehingga tumbuh rumput-rumput liar dilahan tersebut.
3.3 Waktu Pelaksanaan
Praktikum dilaksanakan pada hari Sabtu mulai tanggal 23 Maret 2013 31 Mei 2013.








IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan (dokumetasi disertakan)
Tabel 1: Pengamatan Tanaman
Parameter
Sampel Tanaman Ke-
1 2 3 4 5
A. Fase Vegetative
- Tinggi Tanaman (cm)
- Jumlah Daun (buah)
- Jumlah Cabang
(buah)

49 55 58 77 55
26 34 37 22 18
5 7 9 5 4


B. Fase Genetarive
- Awal Berbunga (hst)
- Berbunga 50% (hst)
- Berbunga 75% (hst)
- Jumlah bunga per
tanaman
- Jumlah polong per
tanaman
- Produksi buah/biji
per petak
20 18 17 21 20
34 34 32 30 34
43 48 47 47 45
3 3 5 3 2
6 6 9 5 4
42 48 81 30 32

Tabel 2: Pengamatan Roguing
Parameter
Hasil rouguing Jumlah
Tanaman Off
Type
Jumlah Tanaman
Volunter
Bentuk dan warna
daun
Ditemukan 7 jenis
tanaman volunter
:
-Borreria latifolia
-Cyperus rotundus
-Eleusine indica
-Krokot mine
-3 jenis tidak
diketahui
- -Borreria latifolia
-Cyperus rotundus
-Eleusine indica
-Krokot mine
-3 jenis tidak diketahui
Warna bunga
- - -
Bentuk dan warna
buah
- - -
Waktu berbungan - - -

4.2 Pembahasan dibandingkan literatur
4.2.1 Pembahasan
Berdasarkan hasil praktikum lapang ini, kelompok kami belum melakukan
pemanenan, hal ini karena dilihat dari parameter fisiknya yang belum memenuhi syarat
panen, hal ini juga dipengaruhi oleh varietasnya. Varietas adalah klasifikasi tumbuhan di
bawah jenis yang menunjukkan varian jenis dengan perbedaan warna atau habitat yang
morfologinya tanpa mengaitkan masalah distribusinya (Tim Penyusun Kamus PS, 2001).
Warna polong pada pengamatan terakhir masih berwarna hijau, sedangkan untuk
pemanenan seharusnya dilakukan saat polong sudah berwarna coklat kehitaman. Namun
dari hasil yang diperoleh, tanaman kacang hijau tidak semuanya tumbuh dengan baik,
sehingga hal ini juga akan berpengaruh terhadap hasil yang didapatkan seumpaa dilakukan
panen. Selain itu, perlakuan ataun perawatan yang dilakukan juga berpengaruh. Rukmana
(2004) menyebutkan bahwa hal yang penting diperhatikan dalam pemilihan lokasi kebun
kacang hijau adalah tanahnya subur, gembur, banyak mengandung bahan organik (humus),
aerasi dan drainasenya baik, serta mempunyai kisaran pH 5,8 - 6,5. Untuk tanah yang ber-
pH lebih rendah daripada 5,8 perlu dilakukan pengapuran (liming). Pertumbuhan tanaman
dengan baik sangat diperlukan apalagi jika akan dijadikan benih. Hasil yang diperoleh
terutama kualitas benih akan berdampak pada perkecambahan benih nantinya. Sementara
daun belum dapat berfungsi sebagai organ untuk fotosintesa maka pertumbuhan kecambah
sangat bergantung pada persediaan makanan yang ada dalam biji (Sutopo, 2004).
Berdasarkan data roghuing, terdapat 7 jenis voluntir yang ditemukan pada lahan
budidaya. Ketujuh kultivar tersebut adalah Borreria latifolia (kentangan), Cyperus
rotundus (rumput teki), Eleusine indica (rumput belulang), Krokot mine dan 3 jenis tidak
diketahui. Tumbuhan yang ada ini mampu berperan sebagai gulma yang dapat mengganggu
pertumbuhan tanamn kacang hijau. Kerugian yang ditimbulkan dari gulma tidak terbatas
hanya pada produksi tanaman saja, tetapi juga mencakup usaha-usaha manusia lainnya
didalam mencapai tujuan, termasuk nilai-nilai estetika. Tumbuhan yang lazim menjadi
gulma mempunyai beberapa ciri yang khusus yaitu :
Pertumbuhannya cepat
Mempunyai daya bersaing yang kuat dalam perebutan faktor-faktor kebutuhan
hidup.
Mempunyai toleransi yang besar terhadap suasana lingkungan yang ekstrim.
Mempunyai daya berkembang-biak yang besar baik secara generatif, vegetatif
atau kedua-duanya.
Alat perkembang-biakannya mudah tersebar melalui angin, air maupun binatang.
Biji mempunyai sifat dormansi yang memungkinkannya untuk bertahan hidup
dalam kondisi yang tidak menguntungkan. (anonimous
b
, 2013)
Gulma yang ditemukan di lahan memiliki cirri-ciri sebagai berikut: Eleusine
indica (rumput belulang)memiliki bentuk daun meruncing dengan tulang daun sejajar dan
daunnya bewarna hijau. Bunganya berwarna hijau muda dan akan berwarna coklat saat
tua. Sedangkan Borreria latifolia (kentangan) memiliki susunan tulang daun menyirip
berwarna hijau, memiliki buna pada dengan ukuran yang kecil pada daerah pangkal daun
yang berwarna kuning kehijauan. Untuk Cyperus rotundus (rumput teki) memiliki ciri-
ciri yang menyerupai dengan kentangan yaitu memilik bentuk ddaun meruncing dengan
tulang daun sejajar dan daunnya berwarna hijau. Untuk krokot, memiliki bentuk daun
membulat pada ujungnya dan memiliki bunga yang berwarna kuning, terkadang
berwarna-warni tergantung jenisnya. Untuk waktu berbunga, dari data tidak dicantumkan
lapan waktu berbunga 7 vountir ini. Hal ini karena dilakukanya penyiangan dan dan
pengamatan tidak dilakukan setiap hari.
4.2.2 Kondisi Lapang (alasan berhasil / tidak berhasil)
Dari hasi pengamatan yang diperoleh, pada lahan yang dijadikan pertanaman
mengalami pertumbuhan yang kurang maksimal. Hal ini bisa terjadi oleh bberapa faktor
baik faktor internal mauoun faktor eksternal. Berdasarkan literatur yang diperoleh, kondisi
lahan BP yang dijadikan lahan pertanaman dalam praktikum ini sudah memenuhi kriteria
dari syarat tumbuh dari tanaman kacang hijau sehingga faktor-faktor pendukung dari
tanaman kcang hijau. Marzuki dan Soeprapto (2004) mengungkapkan bahwa keberhasilan
praktikum ini bukan hanya ditentukan oleh kondisi lahan saja, namun faktor iklim juga
berpengaruuh. Kondisi iklim yang berubah-ubah di tengah-tengah musim pancaroba ini
mengakibatkan tanaman menjadi tidak stabil. Selain itu, pengairan yang dilakukan juga
menjadi faktor yang menentukan. Pada lahan praktikum, keadaan irigasinya kurang baik.
Hal ini ditunjukkan dengan adanya genangan air pada waktu tertentu yang menyebabkan
tanah menjadi basah dan berarti ada indikasi bahwa tanah sudah jenuh air, sedangkan pada
waktu tertentu juga tanah menjadi snagat kering.











V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dilahan BP, dapat disimpulkan
bahwa pada pengamatan tanaman, petumbuhaan tanaman tidak merata. Kondisi ini dapat
dilihat dari Fase Vegetative tanaman sendiri yaitu tinggi tanaman, jumlah tanaman dan
jumah cabang. Kemudian dari fase generatifnya yang meliputi awal berbunga berbunga 50%
berbunga 75% jumlah bunga per tanaman, jumlah polong per tanaman, dan produksi
buah/biji per petak
Sedangkan jika dilihat dari segi hasil, hasil yang diperoleh masih kurang maksimal.
Hal ini dikarenakan banyakny akultivar-kultivar yang tumbuh di sekitar pertanaman
sehinggga pertumbuhan tanaman budidaya yaitu kacang hijau terganggu akibat persaingan
unsur hara dengan kutivar tersebut maupun perakaran yang terganggu karena tidak bisa
leluasa memperluas bidang serapnya akibat hambatan dari akar tumbuhan lain. Tumbuhan
tersebut merupakan gulma yang memiliki cirri-ciri : pertumbuhannya cepat, mempunyai
daya bersaing yang kuat dalam perebutan faktor-faktor kebutuhan hidup, mempunyai
toleransi yang besar terhadap suasana lingkungan yang ekstrim, mempunyai daya
berkembang-biak yang besar baik secara generatif, vegetatif atau kedua-duanya, alat
perkembang-biakannya mudah tersebar melalui angin, air maupun binatang, biji
mempunyai sifat dormansi yang memungkinkannya untuk bertahan hidup dalam kondisi
yang tidak menguntungkan.

5.2 Saran
- Untuk praktikum lapang
Untuk praktikum lapang, praktikum berjalan kurang kondusif karena banyaknya
mahasiswa yang masuk ke lahan dan jurtru merusak lahan untuk pertanaman.

- Saran untuk praktikan (bukan asisten)
Diharapkan semua praktikan mengikuti praktikum lapang supaya semua mengerti
tentang langkah kerja di lahan dan mengerti tentang praktikum yang sedang dilakukan






DAFTAR PUSTAKA

Anonnimous
a
, 2013. Pengendalian Gulma. http://puputwawan.wordpress.com/2011/06/25
/pengendalian-gulma-pada-kelapa-sawit/. Diakses tanggal 31 Mei 2013.
Anonymous
b
.2013. Isolasi .http://perbenihan.blogspot.com/2009/02/produksi-benih.html.
Diakses 30 Mei 2013.
Purwono dan H. Purnamawati. 2009. Budidaya 8 Jenis Tanaman Pangan Unggul. Penebar
Swadaya, Jakarta.
Purwono dan R. Hartono. 2008. Kacang Hijau. Penebar Swadaya, Jakarta.
Rukmana, R., 2004. Kacang Hijau: Budidaya dan Pascapanen. Kanisius, Yogyakarta.
Suprapto, H.S., dan Marzuki Rasyid. 2004. Bertanam Kacang Hijau. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sunantara, I.M.M. 2000. Teknik Produksi Benih Kacang Hijau. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Pangan. Denpasar.
Sutopo, L., 2004. Teknologi Benih. PT RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Tim Penyusun Kamus PS. 2001. Kamus Pertanian Umum. Penebar Swadaya, Jakarta.

Qulsum, Umi. 2011. Pengaruh suhu dan lama penyimpanan terhadap Viabilitas benih kacang
hijau (phaseolus radiatus l.). Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim. Malang.












Dokumentasi Hasil Pengamatan
Pengamatan Gambar
Pengamatan pertama

Pengamatan ke-2

Pengamatan ke-3

Pengamatan ke-4

Pengamatan ke-5