Anda di halaman 1dari 24

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA


Jl. Terusan Arjuna No 6, Kebon Jeruk. Jakarta Barat

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU KEDOKTERAN JIWA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU JIWA
PANTI BINA SOSIAL





Nomor rekam medis : xxxxxx
Nama pasien : Ny. S
Nama dokter yang merawat :--
Masuk panti pada tanggal : 5/10/2013
Rujukan/ datang sendiri/ keluarga : datang sendiri
Riwayat perawatan :--
1. Pernah tinggal dipanti selama sebulan sebelum pulang ke rumah kira-kira seminggu yang
lalu.
Nama : Joshua Peterson Anak Peter Legi Tanda Tangan
NIM : 11 2012 252
Dr. Pembimbing : dr. Evalina Sp.KJ
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 62 tahun
Tempat/Tanggal Lahir : Sragen, 31/12/1950
Agama : Islam
Bangsa/Suku : Jawa
Status Pernikahan : Janda
Pendidikan : SD kelas 3
Pekerjaan : Tidak ada
Alamat : Jerawi

II. RIWAYAT PSIKIATRI
Autoanamnesis di Panti Bina Insan 7 Oktober 2013

A. Keluhan Utama
Merasa sedih

B. Riwayat Gangguan Sekarang
Pasien datang lagi sendiri ke panti karena merasa sedih setelah dimarah oleh
keponakannya, setelah dia pulang dari panti ini. Pasien mengaku bahwa dirinya dimarah ketika
dia meminta uang dari keponakannya itu. Pasien merasa sangat sedih karena, dia tidak mendapat
bantuan dari ahli keluarganya untuk membiaya hidup dia. Pada waktu yang sama, pasien juga
teringat kembali ke atas pemergian anak perempuannya yang tunggal yang telah meninggal
dunia sejak 3 tahun yang lalu. Pasien mengatakan bahwa segala uang simpanan dan harta telah
digunakan untuk mengobati penyakit anaknya itu. Pasien merasa sangat kecewa karena
walaupun uangnya sudah habis dibelanjakan, namun anaknya tetap tidak dapat disembuhkan dan
meninggal dunia. Sejak dari kejadian itu, pasien merasa bahwa nasibnya sangat malang karena
pasien yang kini hanya sendirian karena suaminya yang telah meninggal dunia sejak 10 tahun
yang lalu dan anak tunggalnya yang meninggal dunia sejak 3 tahun yang lalu. Pasien mempunyai
2 orang anak dari perkahwinan yang lalu, tetapi anak-anak itu tinggal jauh dari dia dan
dibesarkan oleh suaminya setelah mereka bercerai. Hidup pasien sekarang bergantung kepada
adik-adiknya dan beberapa dari ahli keluarganya juga tidak mengasihani nasibnya dan tidak
mahu membantunya walaupun dia sekarang mengalami kesulitan untuk mencari uang karena
sudah tidak dapat bekerja lagi karena sudah tua. Pasien mengaku bahwa dirinya pernah merasa
berputus asa karena mengenang nasibnya yang sangat malang. Pasien juga mengaku bahwa dia
pernah merasa mahu membunuh diri karena tidak tahan lagi dengan kesengsaraan yang dia harus
hadapi selama ini. Pasien juga merasa kurang semangat karena beberapa dari ahli keluarganya
tidak mengasihani dia walaupun terdapat beberapa yang masih mengasihani dan membantu dia.
Pasien juga memberitahunya bahwa sejak baru-baru ini, tidur pasien menjadi kurang karena
sering memikirkan tentang nasibnya yang sangat malang dan merasa sangat kecewa akan sikap
keponakannya yang telah membentak dia beberapa hari yang lalu. Pasien sering terjaga sewaktu
tidur, dan setelah terjaga pasien memikirkan lagi tentang kata-kata dari keponakannya yang
memarahnya dan juga anaknya yang sudah meninggal dunia itu. Oleh itu, karena merasa dirinya
tidak diterima dan tidak dikasihani oleh keluarganya di kampung, pasien akhirnya membuat
keputusan untuk datang kembali ke panti karena merasakan bahwa dirinya lebih tenang ketika
berada di panti ini . Pasien pernah tinggal selama sebulan di panti ini, dan kali pertama datang ke
panti ini dibawa sendiri oleh tetangganya. Kali pertama pasien dibawa ke panti karena pasien
tidak mahu lagi menyusahkan adiknya yang bongsu, karena pasien pernah menumpang di rumah
adiknya itu setelah kematian anaknya.



C. Riwayat Gangguan Sebelumnya
1. Gangguan Psikiatri
Berdasarkan pengakuan pasien, pasien tidak pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya.

2. Gangguan Medik
Riwayat kejang, epilepsy, trauma kepala dan operasi disangkal. Pasien juga tidak pernah dirawat
di rumah sakit akibat penyakit berat dan penyakit kronis. Kelainan cacat bawaan juga disangkal
oleh pasien, pasien hanya berobat jalan ke klinis karena sakit-sakit ringan. Pasien mengaku
mempunyai riwayat darah tinggi sejak 4 tahun yang lalu tetapi tidak berobat secara rutin dan
juga mempunyai riwayat sakit maag yang sudah lama.

3. Riwayat Penggunaan Zat Psikoaktif
Riwayat penggunaan obat yang terlarang disangkal.

4. Riwayat gangguan sebelumnya

Sakit


N
September 2013 5 Oktober 2013
Pada bulan September 2013, pasien mengaku bahwa pasien pernah ditemani oleh
tetangganya untuk dibawa ke panti. Pasien mengaku bahwa pasien sendiri yang mahu dibawa ke
Keluhan utama; Merasa sedih
Faktor pencetus: dimarah oleh keponakan
dan beberapa ahli keluarganya karena
meminta uang dari mereka.
panti karena tidak mahu membebani adiknya, yang menumpangkan dia rumahnya. Pasien juga
tidak mahu tinggal bersama lagi dengan adiknya itu karena, adiknya sekarang masih sakit.
Setelah sebulan tinggal di panti, pasien akhirnya mahu kembali untuk bertemu dengan
keluarganya. Pasien kembali lagi ke panti karena merasa beberapa dari ahli keluraganya tidak
menerima kepulangan dia.

D. Riwayat Kehidupan Pribadi

1. Riwayat Perkembangan Fisik
Secara umum, pasien dari kecil sehingga dewasa tidak pernah ada mempunyai masalah kesihatan
yang berat. Pasien menyangkal riwayat kejang, atau trauma kepala sewaktu masih kecil sehingga
dewasa.

2. Riwayat Perkembangan Kepribadian
a. Masa kanak-kanak:
Pasien kurang ingat akan zaman kanak-kanaknya dulu, tetapi mengaku mempunyai teman yang
ramai sewaktu sekolah dahulu.

b. Masa remaja:
Pasien menikah pada usia yang muda. Pada umur 15 tahun, pasien sudah menikah untuk kali
pertama dan mempunyai anak pada usia yang sangat muda.



c. Masa dewasa
Pasien sebelumnya, tidak pernah mengalami kesulitan dalam ekonomi sebelum suaminya
meninggal. Pasien mempunyai simpanan uang yang cukup dan harta yang cukup yang diperoleh
dari hasil jualan makanan bersama dengan suaminya. Pasien juga bergaul dengan baik dengan
tetangga di kampungnya. Setelah suami meninggal, pasien tinggal bersama anak perempuan
yang tunggal. Pasien mengaku menghabiskan banyak uang simpanan dan hartanya untuk
mengobati anaknya sehingga habis segala hartanya. Setelah anaknya meninggal, pasien tinggal
bersama adiknya yang bongsu. Pasien mempunyai masalah dalam hubungan dengan beberapa
ahli keluarganya yang tidak mau membantunya saat dia dalam kesusahan.

3. Riwayat Pendidikan
Pasien hanya sekolah hingga SD kelas 3 karena keluarga tidak mampu membiayai.

4. Riwayat Pekerjaan
Pasien dulu pernah bekerja dengan suaminya menjual makanan seperti sate, pecel. Setelah
suaminya mulai sakit pasien tidak lagi bekerja dan hanya mengharapkan uang simpanan mereka
selama ini. Pasien hanya menjaga suaminya di rumah sewaktu suaminya masih sakit.

5. Kehidupan Beragama
Pasien menganut agama Islam. Pasien mengaku sering sholat dan merasakan hatinya menjadi
lebih tenang setiap kali dia sholat.

6. Kehidupan Sosial dan Perkawinan
Pasien pernah menikah 3 kali. Kali pertama berumur 15 tahun, pasien menikah selama 1 tahun
dan mempunyai seorang anak perempuan. Setelah itu, pasien bercerai karena tidak mahu dimadu
oleh suaminya. Anak itu dibawa oleh pasien. Setelah itu, pasien menikah lagi kali kedua dan
mempunyai 2 orang anak sebelum bercerai lagi setelah 4 tahun perkahwinan. Kedua-dua anak itu
dibawa oleh bekas suaminya itu. Pasien menikah lagi, untuk kali ketiga dan perkahwinan pasien
berkekalan hingga suaminya pasien meninggal dunia. Pasien hanya mempunyai satu anak, yang
merupakan hasil dari pernikahan yang pertama.

E. Riwayat Keluarga
Pohon Keluarga








: Laki-laki : Pasien
: Perempuan : meninggal dunia
Keterangan: Pasien adalah anak pertama dari 6 bersaudara. Ayah pasien merupakan petani,
sehingga pasien mengaku bahwa sumber ekonomi keluarga pasien sangat terbatas karena
penghasilan yang sedikit sehingga sulit untuk membiayai kos hidup keluarga mereka yang terdiri
daripada 6 bersaudara dan ibu pasien. Oleh karena itu, pasien hanya sekolah sampai kelas 3 SD.
Namun demikian, orang tua pasien tidak pernah pilih kasih, dan juga menyayangi mereka semua.
Pasien mempunyai hubungan baik dengan adiknya yang nombor dua dan adik bongsunya yang
mengasihani pasien. Keponakan yang memarahi dia merupakan anak kepada adik yang nombor
dua itu. Adiknya yang nombor 4 juga pernah memarahinya karena meminta uang darinya.
Anaknya yang perempuan meninggal dunia 3 tahun yang lalu karena penyakit jantung,
sedangkan suaminya meninggal dunia 10 tahun yang lalu karena penyakit darah tinggi

Situasi Kehidupan Sosial Sekarang
Pasien sebelum datang ke panti tinggal bersama adiknya yang bongsu bersama dengan isterinya
dan 2 orang anaknya. Sumber ekonomi pasien sangat bergantung kepada saudaranya karena
pasien sudah tidak bekerja. Pasien pernah dimarahi oleh ahli keluarganya karena meminta uang
dari mereka.

III. STATUS MENTAL
Didapatkan dari autoanamnesis pada tanggal 7 Oktober jam 10.00 di Panti Bina Insan.

A. Deskripsi Umum
1. Penampilan
Pasien menggunakan baju berwarna abu-abu dengan rapi. Rambut pasien berwarna putih. Wajah
sesuai umur dan kulit sawo matang. Kontak mata pasien selama wawancara baik.

2. Kesadaran
Kesadaran sensorium/neurologis : Compos mentis
Kesadaran psikiatrik : Tampak tidak terganggu

3. Perilaku dan Aktivitas Psikomotor
Sebelum wawancara : Pasien sedang berbual dengan temannya
Selama wawancara : Pasien duduk tenang, kontak mata baik, pasien menjawab pertanyaan
yang diberikan, ekspresi muka tampak sedih dan sering menangis ketika menjawab beberapa
pertanyaan tentang hidupnya.
Sesudah wawancara : Pasien kembali ke ruangnya untuk berbaring.

4. Sikap terhadap Pemeriksa
Pasien cukup kooperatif, setiap pertanyaan dijawab.

5. Pembicaraan
a. Cara Berbicara : Bicara cepat, kosa kata jelas, relevan
b. Gangguan Berbicara : Tidak terdapat gangguan bicara

B. Alam Perasaan
1. Suasana perasaan (mood) : Depresi
2. Afek ekspresi afektif
Arus : Cepat
Stabilitas : Stabil
Kedalaman : Dalam
Skala Diferensiasi : Luas
Keserasian : Serasi
Pengendalian : Cukup
Ekspresi : Wajar
Dramatisasi : Tidak ada
Empati : tidak dapat dinilai

C. Gangguan Persepsi
1. Halusinasi : Tidak ada
2. Ilusi : Tidak ada
3. Depersonalisasi : Tidak ada
4. Derealisasi : Tidak ada

D. Sensorium dan Kognitif (Fungsi Intelektual)
1. Taraf Pendidikan : SD kelas 3
2. Pengetahuan Umum : Baik (dapat menjawab siapa nama Presiden pertama, ibu
kota Indonesia)
3. Kecerdasan : Rata-rata
4. Konsentrasi dan kalkulasi : Baik
5. Orientasi
Waktu : Baik (pasien tahu jam makan dan waktu sholat)
Tempat : Baik (keberadaan di panti)
Orang : Baik (tau dengan siapa sedang berbicara)
6. Daya Ingat
a. Tingkat
- Jangka Panjang : Kurang (pasien kurang ingat kenangan sewaktu masih kecil)
- Jangka pendek : Baik (pasien mengingat apa aktivitasnya tadi pagi)
-Segera : Baik (pasien dapat mengingat nama pemeriksa)
b. Gangguan: tidak terdapat gangguan
7. Pikiran Abstraktif : Baik (pasien tahu cara untuk naik bus ke Panti)
8. Visuospatial : Tidak dinilai
9. Bakat kreatif : Tidak dapat dinilai
10. Kemampuan menolong diri sendiri: Baik (pasien dapat mandi, makan sendiri tanpa bantuan
orang lain)

E. Proses Pikir
1. Arus Pikir
a. Produktifitas :Berpikir cepat, menjawab pertanyaan secara spontan
b. Kontinuitas Pikiran : Koheren
c. Hendaya Berbahasa : Tidak ada

2. Isi Pikir
a. Preokupasi : Tidak ada
b. Waham : Tidak ada
c. Obsesi : Tidak ada
d. Fobia : Tidak ada
e. Gagasan Rujukan : Tidak ada
f. Gagasan Pengaruh : Tidak ada

F. Pengendalian Impuls
Baik, selama wawancara pasien tidak menunjukkan agresifitas motorik serta agresifitas verbal.

G. Daya Nilai
1. Daya Nilai Sosial : Baik (pasien mengatakan perbuatan membunuh diri itu adalah
suatu perbuatan dosa)
2. Uji Daya Nilai : Baik (pasien mengatakan kalau menemukan uang terjatuh dijalan
sebaiknya diambil dan dikembalikan)
3. Daya Nilai Realilitas :Baik karena tidak ada waham atau halusinasi pada pasien ini

H. Tilikan
Derajat 4 menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan tetapi tidak memahami penyebab sakitnya.

I. Realibilitas
Baik. Pasien tidak berpura-pura sakit karena jawaban pasien konsisten.


IV. STATUS FISIK
A. Status Internus
1. Keadaan Umum : Tampak sakit ringan
2. Kesadaran : Compos mentis
3. Tensi : 140/100 mmHg
4. Nadi : 80 x/menit
5. Suhu : 37C
6. Pernafasan : 18 x/menit
7. Bentuk tubuh : Piknikus
8. Sistem Kardiovaskular : S1, S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
9. Sistem Respiratorius : Suara nafas vesikuler,wheezing(-),ronkhi(-)
10. Sistem Gastrointestinal : Bising usus (+) normal, nyeri tekan epigastrium
11. Sistem Muskuloskeletal : Kifosis (+), simetris, eutropi
12. Sistem Urogenital : Tidak dilakukan pemeriksaan

B. Status Neurologis
1. Saraf cranial : Tidak dilakukan pemeriksaan
2. Gejala rangsang meningeal : Tidak dilakukan pemeriksaan
3. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikteris (-/-)
4. Pupil : Isokor, reflex cahaya (+)
5. Ofthalmoscopy : Tidak dilakukan pemeriksaan
6. Motorik : Tidak ada keterbatasan gerak
7. Sensibilitas : Tidak dilakukan pemeriksaan
8. Sistim saraf vegetative : Tidak dilakukan pemeriksaan
9. Fungsi luhur : Tidak dilakukan pemeriksaan
10. Gangguan khusus : Tidak dilakukan pemeriksaan

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Dianjurkan pemeriksaan EKG karena pasien mempunyai riwayat hipertensi dan sudah berusia 60
tahun. Pemeriksaan endoskopi dianjurkan karena terdapat nyeri tekan pada regio epigastrium dan
riwayat sakit maag yang sudah lama. Pemeriksaan rontgen tulang belakang karena postur tubuh
pasien yang agak bongkok ke depan dan mengeluh sakit-sakit pada belakangnya.

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
Seorang perempuan berumur 62 tahun,beragama Islam,sekolah hingga SD kelas 3 dan
merupakan seorang janda datang sendiri ke panti karena merasa sedih dan kecewa setelah
dimarahi oleh keponakannya dan tidak diterima oleh beberapa ahli keluarganya di kampung.
Pada riwayat gangguan sebelumnya, berdasarkan pengakuan pasien, pasien tidak pernah
mengalami gangguan jiwa sebelumya, riwayat darah tinggi dan sakit maag ada tetapi pasien
menyangkal penggunaan obat-obat terlarang.
Pada riwayat kehidupan peribadi, tidak ditemukan gangguan kepribadian dan pasien mempunyai
teman yang ramai dan senang bergaul dengan orang sekelilingya. Pasien mulai mengalami
kesulitan dalam mencari uang setelah suaminya meninggal dan menghabiskan banyak uangnya
untuk mengobati anak perempuannya.
Pada riwayat keluarga, didapatkan bahwa pasien mempunyai 5 orang adik dan ayahnya
merupakan seorang petani. Pasien sudah menikah dan mempunyai seorang anak, tetapi kedua
suami dan anaknya sudah meninggal dunia. Pasien kurang disenangi oleh keponakan yang
merupakan anak dari adik nomor 2 dan juga adik nomor 4 karena pasien meminta uang dari
mereka.
Pada status mental, pasien dalam kesadaran compos mentis dan kesadaran psikiatrik tampak
tidak terganggu. Alam perasaan pada pasien sekarang adalah dalam suasan perasaan yang
depresif yang dapat dilihat, ketika pasien menjawab pertanyaan tentang hidupnya, pasien sering
kali menangis menceritakan tentang keluhan dan kisah hidupnya. Tidak ditemukan gangguan
persepsi. Gangguan daya ingat jangka panjang terganggu karena pasien kurang ingat akan
peristiwa sewaktu masih kanak-kanak dahulu. Tidak ditemukan juga pada proses pikir.
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan tekanan darah 140/100mmHg, nadi 80kali/menit, nafas 18
kali/menit dan suhu 37
o
C dan pemeriksaan lain dalam batas normal. Pemeriksaaan penunjang
yang dianjurkan pemeriksaan EKG, rontgen tulang belakang dan endoskopi karena terdapat
riwayat hipertensi dan sakit maag dan juga postur badan pasien yang agak membongkok ke
depan yang disertai keluhan sakit-sakit belakang.

5. FORMULASI DIAGNOSTIK
1. Berdasarkan temuan dalam ikhtisar penemuan bermakna, pasien ini tidak termasuk
gangguan jiwa karena pada pasien ini hanya didapatkan gejala depressi tanpa adanya hendaya
dalam fungsi sehari-hari. Pasien ini masih mampu untuk melakukan tugas seharian seperti biasa
dan masih mampu melakukan kegiatan hidup sehari-hari yang biasa dan diperlukan untuk
perawatan diri dan kelangsungan hidup.
2. Gangguan ini merupakan gangguan mental non organic karena tidak adanya:
gangguan kesadaran ( pasien compos mentis),
gangguan kognitif (orientasi pasien masih baik walaupun memori jangka panjang
terganggu karena faktor usia)
tidak didapatkan kelainan factor organic yang spesik
3. Gangguan jiwa ini termasuk dalam gangguan jiwa non-psikotik karena tidak ada waham,
halusinasi, inkoherensi dan perilaku kacau. Gangguan jiwa ini termasuk dalam gangguan afektif
karena pada pasien ini didapatkan perubahan suasana perasaan ke arah depresif yang disebabkan
oleh pasien yang mengenang hidupnya yang malang dan dimarah oleh keponakannya yang tidak
menerima kedatangannya.
4. Aksis I :
Menurut PPDGJ III pasien ini termasuk episode depresif karena memenuhi criteria:
a. pada pasien ini menunjukan afek depresif
b. kehilangan minat dan kegembiraan
c. kurang energi dan mudah lelah
d. rasa bersalah dan tidak berguna
e. merasa masa depan yang suram
f. tidur terganggu
g. nafsu makan berkurang
h. gagasan membahayakan diri atau bunuh diri

Termasuk episode depresif berat tanpa gejala psikotik
a. Terdapat 3 gejala utama depresi yang ditemukan pada pasien ini sehingga mendukung
diagnosa untuk gejala depressi berat. Pada pasien ini ditemukan suasana perasaan yang
depresif karena dari roman muka pasien terlihat murung. Selain itu, pasien mengaku
bahwa dirinya tidak merasa gembira sejak dimarahi oleh keponakannya. Pasien juga
mengeluh sering merasa kurang tenaga dan kurang bersemangat sejak dia merasa sedih
itu.
b. Terdapat 5 gejala lain depressi yang mendukung untuk diagnosa gejala depressi berat
pada pasien ini. Pada pasien ini, pasien merasakan dirinya tidak berguna karena dia sudah
tua sehingga dia pernah merasa berputus asa dan pernah mencoba untuk membunuh diri.
Selain itu, pasien juga merasakan bahwa masa depannya yang suram karena ahli
keluarganya sudah tidak menerimanya lagi dan dia tidak ada tempat untuk bergantung
lagi. Pikirannya yang sedih dan berputus asa itu menyebabkan tidurnya menjadi kurang
dan nafsu makannya berkurang.

Diagnosis banding
1. F33.2 Gangguan depressif berulang, episode kini berat tanpa gejala psikotik.
Alasan: Pada pasien ini, kemungkinan pernah mengalami episode depresif
sebelumnya sehingga masih mungkin gejala depresi yang dia alami sekarang
merupakan episode berulang. Sebelumnya, pasien pernah merasa sedih ketika
anaknya meninggal dunia tetapi pada saat itu, pasien masih didukung oleh
saudaranya sehingga perasaan sedih pada pasien itu tidak terlalu berat.
Dukungan daripada keluarganya membuat pasien ini masih bersemangat
sehingga, gejala depressi yang timbul tidak terlalu menonjol dan tidak cukup
untuk memenuhi kriteria untuk episode depressi sehingga diagnose ini masih
mungkin untuk disingkirkan untuk saat ini.
2. F34.1 Distimia
Alasan: Pada pasien ini, masih mungkin gejala depresif sudah berlangsung
lama yang merupakan lanjutan daripada episode depresi yang dicetuskan oleh
suatu peristiwa yang menyedihkan pada pasien ini, yaitu kematian anak
perempuannya yang tunggal 3 tahun yang lalu, dan juga pasangan hidupnya
yang sudah meninggal dunia 10 tahun yang lalu. Namun demikian, episode
depresi yang terjadi sekarang tampak lebih berat karena sudah memenuhi
kriteria untuk episode depresi yang berat sehingga diagnose ini dapat
disingkirkan.
3. F 43.20 Gangguan penyesuaian reaksi depresi singkat
Alasan: Pada pasien ini, terdapat gangguan tidur dan nafsu makan yang
berkurang yang dicetuskan oleh kejadian konflik antara pasien dengan
keponakannya sehingga membuat pasien menjadi depressi. Namun demikian,
pasien masih dapat melakukan kegiatan seharian lain untuk perawatan lain
seperti mandi dan menjaga kebersihan diri dengan baik sehingga disabilitas
pada pasien ini tidak terlalu berat. Selain itu, onset dari gangguan tidur
berlaku kurang dari 1 bulan setelah terjadinya kejadian yang stressful
sehingga dengan alasan ini dan disabilitas yang masih ringan memungkinkan
diagnose ini dapat disingkir.
Aksis II : Tidak ditemukan adanya gangguan kepribadian dan retardasi mental
Aksis III : Hipertensi
Aksis IV : 1. Masalah ekonomi
Alasan: Pasien mengaku bahwa dirinya harus bergantung kepada saudaranya
untuk membiayai hidup dia buat masa sekarang karena uang simpanan dia sudah
dihabiskan untuk mengobati anak perempuannya. Pasien juga mengaku bahwa dia
sekarang sudah tidak mampu untuk bekerja dan mengharapkan bantuan dari orang
lain untuk membantu dirinya. Masalah keuangan ini yang menyebabkan pasien
menjadi sedih dan merasa nasibnya sekarang sangat malang karena keluarganya
sudah tidak mahu lagi membantu dia.

2. Masalah keluarga
Alasan : Pasien sudah ditinggalkan oleh anak perempuannya yang tunggal yang
meninggal dunia 3 tahun yang lalu. Pasien mengaku sebelumnya anaknya itu
sakit, dia sering dibantu oleh anaknya yang menurut pasien sangat baik terhadap
dia. Pasien juga sudah ditinggalkan oleh suaminya 10 tahun yang lalu. Keadaan
ini menyebabkan pasien bergantung dengan ahli keluarganya yang lain sehingga
yang terjadi baru-baru ini, pasien merasa bahwa ahli keluarganya sudah tidak
mengasihani dia lagi. Pasien juga mengaku bahwa dia juga dimarah oleh
keponakannya, sehingga menyebabkan dia merasa sedih karena dimarah oleh
keponakannya itu.
Aksis V : Global Assessment Functional 60-51=gejala sedang (moderate), disabilitas
sedang.

6. EVALUASI MULTIAKSIAL
Aksis I : F32.2 Episode depressif berat tanpa gejala psikotik
Aksis II : Z03.2 Tidak ada diagnosis
Aksis III : Hipertensi
Aksis IV : Masalah ekonomi, masalah keluarga
Aksis V : GAF = 60
7. PROGNOSIS
1. Faktor yang mempengaruhi prognosis:
a. Faktor yang mendukung prognosis baik:
i. kemauan pasien untuk meminum obat
ii. pasien sadar bahwa dia sedang sekarang sakit.
b. Faktor yang mendukung prognosis buruk:
i. Tidak ada dukungan dari keluarga
ii. Keluarga pasien tidak pernah datang untuk menjenguk pasien.
2. Kesimpulan prognosis:
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad Fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam

8. DAFTAR PROBLEM
Organobiologik: hiposerotonin
Psikologi/psikiatrik: terdapat afek depressif
Sosial/keluarga: tidak ada dukungan dari keluarganya.

9. TERAPI
Terapi farmakologi
Pasien ini tidak diberikan obat antidepressan karena usia pasien yang sudah lanjut, sehingga
beberapa dari fungsi organ seperti fungi ginjal dan fungsi hati sudah menurun. Oleh itu, efek
samping obat anti depressan pada pasien ini lebih mudah terjadi karena metabolism obat dan
melambat dan ekskresi obat melambat sehingga menyebabkan efek obat pada pasien ini lebih
kuat. Antara efek samping yang ditakutkan terjadi pada pasien ini adalah seperti efek
antikolinergi dan efek anti-adrenergik alfa yang ada pada obat antidepressan sehingga masih
mungkin terjadi hipotensi ortostatik yang dapat memperberat kondisi pasien sekarang. Jika
masalah tidur pasien masih berlanjutan, maka dianjurkan untuk diberikan obat antidepressan
golongan SSRI yang lebih aman dengan memperhatikan juga tekanan darah pasien dan juga
dosis yang diberikan lebih rendah untuk mengurangi efek samping obat antidepressan tersebut.

a.Psikoterapi suportif
Psikoterapi dapat dilakukan dengan bimbingan serta terapi kelompok seperti grouping, morning
meeting.
1. Ventilasi: memberikan kesempatan kepada pasien untuk menceritakan keluhan dan isi
hati sehingga pasien menjadi lega.
2. Sugesti : menanamkan pada pasien bahwa gejalanya akan hilang, sekirannya pasien tabah
dan sering sholat serta memohon ketabahan dari mahakuasa
3. Reassurance: menyakinkan kembali kemampuan pasien bahwa dia sanggup mengatasi
masalahnya.
4. Bimbingan: memberikan bimbingan yang praktis yang berhubungan dengan masalah
kesehatan jiwa pasien, agar pasien lebih semangat mengatasinya.

b.Psikoterapi redukatif
1. Memberikan informasi dan edukasi mengenai penyakitnya.
2. Memotivasi pasien untuk berobat teratur.





Cuplikan wawancara
Tanggal 7/10/2013 jam 1300 Panti Bina Sosial
D: Selamat siang bu
P: Selamat siang,mas.
D: Bu, perkenalkan saya dokter muda, dr. Joshua. Saya mohon waktu dari ibu untuk ngobrol
sebentara sama ibu. Ibu setuju, klau sya mau nanya beberapa pertanyaan tentang kehidupan ibu?
P: Iya dok. Silakan dok
D: Bu, saya mau berkenalan dengan ibu dulu. Bisa saya tahu nama lengkap ibu sama umur ibu
sekarang
P: Iya, dok nama saya Sarinem. Umur saya 62 tahun, asli Sragen. Ini dok silakan liat sendiri KTP
saya. Di situ ada alamat sama tanggal lahir saya.
D: Iya bu. Terima kasih iya. Bu bisa saya tahu dulu pernah sekolah sampai mana, terus sebelum
ini kerja di mana aja bu.
P: Dok saya asli kampung saya sekolah sampai kelas 3 SD saja gara-gara orang tua saya dulu
susah kerja petani aja. Sayanya dulu pernah kerja sama suami saya jualan sate.
D: Oh, gitu iya bu. Ibu agama sama suku apa? Maaf bu, suaminya masih ada ngak.
P: Saya Islam dok, orang Jawa. Saya janda sekarang suami saya udah meninggal 10 tahun yang
lalu. Saya udah pernah menikah 3 kali. Kali pertama waktu umur saya 15 tahun.
D: Iya bu, silakan ceritakan ke saya tentang perkahwinan ibu.
P: Saya menikah kali pertama 1 tahun setelah itu cerai karena ngak mau dimadu. Punya satu
orang anak perempuan yang saya bawa. Setelah itu menikah lagi 4 tahun, bercerai lagi terus
punya 2 anak 1 laki-laki satunya lagi perempuan. Dua-dua dibawa sama bekas suami saya ke
Kalimantan. Kali ketiga saya menikah sampai suaminya saya meninggal. Semuanya ada 3 dok.
Yang satu yang tinggal sama saya yang di Bogor itu dok. Tapi dianya udah meninggal dok
karena sakit jantung 3 tahun yang lalu (menangis)
D: Bu, terakhir ketemu sama anaknya di Kalimantan kapan?
P: Pernah, dulu saya pernah tinggal di sana sama anak saya selama 1 bulan, 2 tahun yang lalu.
Saya ngak tahan tinggal di sana karena menantu saya garang jadi saya minta untuk pulang ke
kampung saya lagi.
D: Bu, bilang anak ibu yang tinggal sama ibu uda meninggal iya. Sebelum itu, hubungan dia
sama ibu gimana?
P: Dia baik sama saya dok. Setelah suami saya meninggal, dia yang bantu saya dok sampailah
dia sakit dok. Uang, harta saya habis dok, untuk ngobatin penyakitnya dia dok. Tapi semua ngak
berhasil dok. Saya pernah minta ke mahakuasa dok biar aja saya yang mati karena saya udah tua.
(menangis)
D: Bu, kita semua akan mati bu. Tapi semuanya itu Tuhan yang menentukan kapan kita
dipanggil ke sana. Kita masih di sini karena ada hikmahnya ibu. Bu harus bersyukur karena ibu
masih sehat-sehat sekarang walaupun uda 62 tahun. Bu harus semangat bu ngak boleh ngomong
gitu, kalau uda tiba waktunya kita dipanggil ke sana pasti kita akan sana semua bu.
P: Iya dok, saya cuma merasa sedih banget dok, kenapa kok nasib saya malang banget udah uang
saya abis semua dok anaknya saya meninggal dok(menangis). Saya merasa putus asa dok, saya
ngak punya apa-apa lagi.
D: Bu, bisa saya tau kapan anaknya meninggal?
P: 3 tahun yang lalu dok.
D: Tadi ibu bilang putus asa, maaf bu bisa saya tahu apa ibu pernah merasa mau menamatkan
hidup ibu.
P: Iya dok, pernah saya coba minum obat dok, saya sedih banget dok saya ngak tau mau apa lagi
dok. Knapa kok nasib saya malang banget dok (menangis)
D: Bu, ibu jangan coba-coba lagi iya. Ibu tahukan hidup mati kita itu di tangan Tuhan. Kalau
missal ibu ada pikiran begitu lagi ibu harus berdoa ke Mahakuasa minta ketabahan dari Dia bu.
Mungkin ini semua cobaan yang Allah. Kita semua sangat beruntung bu. Kita semua berharga di
hadapan Tuhan. Maka itu, kita harus menghargai nafas kita yang masih diberikan Allah.
P: Iya dok, benar kata dokter. Saya harus tetap semangat dok. Saya janji ngak mau lagi nyoba hal
itu dok. Bunuh diri itu dosa dok. Bantu saya dok, saya mau sembuh dok.
D: Iya bu, saya tetap ketemu dengan ibu. Bu bisa saya tau bu gimana kok bisa tinggal di panti
ini, uda berapa lama di sini.
P: Gini dok, saya dulu pernah tinggal di sini 1 bulan yang lalu. Habis itu saya pulang ke
kampung di Sragen. Waktu saya di sana, saya dimarah sama keponakan saya gara-gara saya
minta uang dari dia. Keponakan saya itu anak saudara saya nomor 2. Saya jadi ngak enak
dibentak-bentak sama dia, makanya itu saya datang lagi ke sini dok. Ngak tahan saya dibentak.
Saya gara-gara hal itu, saya teringat lagi anak saya yang uda meninggal itu. Dia ngak pernah gitu
sama saya dok.
D: Jadi ibu, ada berapa saudara semua, bu yang nomor berapa?
P: Saya yang pertama dok ada 5 adik dok 4 laki-laki,1 yang perempuan yang nomor 5, yang
bongsu laki-laki juga dok. Saya dulu pernah tinggal sama dia dok setelah anak saya meninggal
dok. Dia baik sama saya. Yang baik sama saya adik no 2 saya juga dok tapi anaknya yang jahat
yang bentak saya. Yang no 4 itu jahat juga dok ngak mau kasihani saya dok. Yang lain ngak
tinggal di kampung dok punya keluarga masing-masing sekarang.
D: Iya saya ngerti bu, knapa dia bentak bu. Udahlah bu mungkin dia masih dalam masalah bu.
Kita berdoa aja bu semoga dia sadar bu. Bu maafin dia ngak?
P: Iya dok, mungkin waktu itu dia lagi bingung ngurusin tokonya dia dok. Saya maafin dia dok
sekarang. Cuma karena waktu itu aja saya jadi ngak enak dibentak-bentak dok. Saya uda tua dok
ngak enak kalau dibentak dok
D: Iya bu, semua orang punya masalah bu. Mungkin karena masalah itu yang bikin dia jadi gitu
bu. Ya, bu, bu doain aja dia biar hatinya juga jadi tenang juga bu.
P: Iya dok, saya kalau sholat itu hati saya jadi tenang dok. Saya sekarang juga rajin sholat dok,
jadi saya sekarang udah ngak seperti dulu lagi. Saya juga sebelum ini susah tidur dok, makan
saya kurang selera juga dok.
D: Iya bu, itu semua gara-gara pikiran ibu. Habis ini, ibu harus minta ketabahan dari Tuhan biar
semua pikiran itu dijauhi dari bu. Biar ibu habis ini jadi lebih tenang lagi. Bu, ibu kalau waktu
kecil dulu masih ingat ngak? Punya ramai teman ngak?
P: Iya dok, insyaallah saya tenang habis ini dok. Maaf dok saya kurang ingat dok, sekarang saya
jadi lupa hal-hal lama dulu. Tapi ramai teman saya dok.
D: Bu dulu pernah sakit-sakitan sampai dirawat di rumah sakit? Pernah kejang? Pernah cedera
kepala?
P: Ngak dok saya dari kecil sampai sekarang sehat aja. Paling ada maag udah lama dok sama
darah tinggi dok dari 4 tahun yang lalu tapi naik turun dok terakhir sebelum datang ke sini saya
ke puskesmas ada dikasi obat dok.
D: Jadi sekarang ibu masih ada sakit-sakit ngak?
P: Ini, dok kepala saya sakit dok sama belakang saya ini sakit dok. Perut saya juga sakit ini bu.
D: Oh gitu iya, bun anti saya periksa iya. Kapan mulai sakit-sakit ini bu?
P: Ini dok, baru-baru ini sejak saya kepikir tentang nasib saya dok.
D: Nah bu, itu yang bikin sakitnya bu. Bu harus istirahatnya banyak. Pikiran harus tenang bu,
baru ibu ngak ada sakit-sakit lagi. Nanti saya periksa lagi deh. Bu saya mau nanya ni, bu
sekarang dimana? Hari ini tanggal berapa? Ibu sekarang lagi ngobrol sama siapa.
P: Sama dokter Joshua. Hari ini tanggal 7 Oktober 2013. Sekarang saya ada di panti dok.
D: Iya bu, coba saya nanya, tadi pagi ibu makan apa. Bu tau ngak ibu kota Indonesia?
P: Makan nasi sama sayur bayam dok. Ibu kota Indonesia, Jakarta dok
D: Bagus bu, sekarang, saya mau nanya hitung-hitungan, kalau misal 100-7 berapa,..dikurang 7
lagi 5 kali
P: 93,kurang 7 lagi 86 kurang 7 lagi,79 kurang 7 lagi,72 kurang 7 lagi,65
D: Pintar iya bu. Coba saya nanya kalau naik bus ke Jakarta 130 ribu ibu bayar 150 ribu, harus
ibu minta berapa lagi baki uang
P: 20 ribu dok, saya kalau hitung-hitungan masih bisa dok Cuma kadang-kadang itu saya lupa
dok.
D: Ternyata hebat iya bu, wajar lah orang tua lupa-lupa bu. Gini iya bu, minggu ini saya bakal
ketemu terus sama ibu. Ibu misalnya kalau punya masalah ibu cerita aja ke saya jangan
dipendam iya. Tapi ibu, harus janji ibu harus semangat jangan dipikir lagi hal-hal yang sedih, ibu
harus ceria ngak bagus sedih ini bu.
P:Iya dok, saya juga jadi gembira juga ketemu dokter semua. Saya janji dok saya mau tetap
semangat dok, saya ngak mau sedih lagi.
D: Iya bu, ibu istirahatnya cukup iya, makan nya banyak bu. Terima kasih bu, karena mau
ngobrol tentang masalah ibu ke saya. Semoga ibu sehat selalu iya. Kita ketemu lagi besok iya.
P: Terima kasih dok, ngak pa-pa dok saya senang ngobrol sama dokter.