Anda di halaman 1dari 6

4/11/2014 Analisis Kasus Bank Century | M.

Arief Fauzi
http://marieffauzi.wordpress.com/2013/03/22/analisis-kasus-bank-century/ 1/6
Analisis Kasus Bank Century
Posted: March 22, 2013 in Bank
0

1 Vote
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Awal mula terjadinya kasus Bank Century adalah mengalami kalah kliring pada tanggal 18 November 2008. Kalah kliring adalah
suatu terminologi yang dipahami oleh semua masyarakat untuk menggambarkan adanya defisit suatu bank. Sementara kliring
itu sendiri adalah pertukaran data keuangan elektronik antar peserta kliring baik atas nama peserta atau klien yang mereka
peroleh pada waktu tertentu.
Pada tahun 2005, Bank Indonesia menunjuk Bank abad dan melaporkan Bank Century kepada Bapepam-LK. Tetapi itu tidak
pernah ditindak lanjuti oleh Bapepam-LK, dan Bank Century pun masih terus melakukan penjualan reksa dana fiktif.
Kemudian pada tahun 2006, Bank Indonesia melaporkan lagi Bank Century kepada Bapepam -LK tentang catatan transaksi
penjualan reksa dana dan arus kas di Bank Century.
Setelah 13 November 2008, pelanggan Bank Century tidak dapat mengambil atau melakukan transaksi dalam bentuk devisa,
tidak dapat melakukan kliring, bahkan untuk mentransfer pun tidak mampu. Bank hanya dapat melakukan transfer uang ke
tabungan. Jadi uang tidak bisa keluar dari bank. Hal ini terjadi pada semua pelanggan Bank Century.
Nasabah merasa dikhianati dan dirugikan karena mereka banyak menyimpan uang di Bank tersebut. Pelanggan
mengasumsikan bahwa Bank Century memperjualbelikan produk investasi ilegal. Alasannya adalah investasi yang dipasarkan
oleh Bank Century tidak terdapat di Bapepam-LK. Dan manajemen Bank Century pun mengetahui bahwa produk investasi
yang mereka jual adalah ilegal. Hal tersebut menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi nasabah Bank Century, dan uang
para nasabah pun tidak dapat dicairkan.
4/11/2014 Analisis Kasus Bank Century | M. Arief Fauzi
http://marieffauzi.wordpress.com/2013/03/22/analisis-kasus-bank-century/ 2/6
Kasus Bank Century memiliki dampak yang sangat besar terhadap bank-bank lainnya dan mempengaruhi tingkat kepercayaan
masyarakat terhadap sistem perbankan nasional. Kasus yang dialami Bank Century tidak hanya berdampak pada perbankan
Indonesia, tetapi juga berdampak pada perbankan dunia.
BAB II
LANDASAN TEORI

Esensi polemiknya sebenarnya tetap saja bersumber pada pertanyaan, mengapa Century di-bailout pemerintah? Mengapa
tidak ditutup saja? Padahal di Amerika Serikat, raksasa bank investasi Lehman Brothers pun bahkan ditutup tanpa ditolong
pemerintah, meski berisiko sistemik. Mengapa Century perlu diselamatkan?
2.1 Risiko Sistemik
Dari perspektif ekonomi, esensi polemik terjadi pada pertanyaan, apakah Bank Century berisiko sistemik? Apa definisi
systemic risk? Risiko sistemik akan terjadi jika penutupan sebuah bank menimbulkan dampak berantai berupa kegagalan
(default) bank-bank lain, sehingga menyebabkan kerusakan (damage) pada sistem sektor finansial, khususnya industri
perbankan. Masalahnya kemudian, apakah kegagalan Century bisa menimbulkan daya tular dan efek kerusakan bagi sistem
perbankan kita?
Pada titik ini, pendapat terbelah dua. Yang kontra terhadap bailout berargumentasi bahwa penutupan Century tidak
menimbulkan efek menular, karena ini hanya bank kecil. Argumentasi sebaliknya dianut pihak yang pro terhadap bailout
bahwa, meski Century termasuk bank kelas menengah ke bawah, tetap berpotensi sistemik karena ada cukup banyak bank
yang memiliki ukuran (size) dan karakteristik yang mirip Century, sehingga sangat mungkin diserbu nasabah (rush).
BAB III
PEMBAHASAN
4/11/2014 Analisis Kasus Bank Century | M. Arief Fauzi
http://marieffauzi.wordpress.com/2013/03/22/analisis-kasus-bank-century/ 3/6

3.1 Pembahasan
Century adalah bank dengan aset Rp 14,5 triliun pada situasi normal (sebelum kena rush). Memang bukan bank yang besar.
Sebab, jika kita mendefinisikan bank besar adalah yang masuk 10 besar nasional, asetnya di atas Rp 50 triliun. Bank
terbesar saat ini adalah Bank Mandiri (Rp 330 triliun), sedangkan bank-bank swasta terbesar adalah BCA (Rp 250 triliun),
serta Danamon dan CIMB Niaga (sekitar Rp 100 triliun).
Tahun 2008, Bank Century mengalami kesulitan likuiditas karena beberapa nasabah besar Bank Century menarik dananya
seperti Budi Sampoerna akan menarik uangnya yang mencapai Rp 2 triliun. Sedangkan dana yang ada di bank tidak ada
sehingga tidak mampu mengembalikan uang nasabah dan tanggal 30 Oktober dan 3 November sebanyak US$ 56 juta surat-
surat berharga valuta asing jatuh tempo dan gagal bayar.
Pada tanggal 20 November 2008, BI menyatakan Bank Century sebagai Bank Gagal yang ditengarai Berdampak Sistemik.
Pada saat itu, BI datang ke KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) dan meminta keputusan penanganan Bank Century.
KSSK dihadapkan pada dilema: apakah Bank Century adalah Bank Gagal berdampak sistemik atau tidak?
Penetapan bank Century agar segera di Bail-Out adalah karena dapat merembet ke system ekonomi nasional. Mengingat
pada masa krisis moneter 1997 dimulai dari krisis bank kecil yang membuat BI dan pemerintah harus mengeluarkan dana
BLBI sebesar 600 trilyun rupiah.
Dalam penetapan dampak sistemik Bank Century, KSSK telah menggunakan berbagai informasi yang ada, analisis dan
metodologi yang bersifat kualitatif maupun yang bersifat kuantitatif dan pertimbangan yang matang termasuk penggunaan
professional judgment. Penggunaan professional judgment tidak mempunyai konotasi negatif, sebab artinya tidak lain ialah
mempertimbangkan dengan akal sehat semua data dan informasi yang tersedia.
Dalam mempertimbangkan dampak sistemik Bank Century, KSSK menggunakan data, fakta dan informasi tentang keadaan
perbankan yang diberikan sepenuhnya oleh BI sebagai otoritas yang mempunyai kewenangan penuh atas perbankan
4/11/2014 Analisis Kasus Bank Century | M. Arief Fauzi
http://marieffauzi.wordpress.com/2013/03/22/analisis-kasus-bank-century/ 4/6
nasional. Selain itu, KSSK juga menggunakan data, fakta, informasi dan analisis yang bersifat makro tentang perkembangan
situasi dan kondisi krisis keuangan nasional dan dunia.
Pada saat itu sektor finansial masih dalam suasana yang amat tertekan, sebagai dampak kebangkrutan Lehman Brothers pada
15 September 2008. Hingga akhir 2008, perekonomian dunia tercekam. Dana asing di negara-negara emerging market,
termasuk Indonesia, berhamburan kembali (repatriasi) ke New York.
Cadangan devisa Bank Indonesia menurun sekitar US$ 7 miliar. Akibatnya, rupiah melemah ke level terendah 12 ribu per
dolar Amerika Serikat. Waktu itu, hampir semua mata uang dunia melemah (depresiasi) terhadap dolar AS. Kecuali renminbi
dan yen, yang justru menguat terhadap dolar AS, karena cadangan devisa Cina dan Jepang merupakan yang terbesar
pertama dan kedua di dunia (waktu itu US$ 1,97 triliun dan US$ 1 triliun).
Dengan memahami setting kondisi perekonomian makro seperti itu, pilihan menyelamatkan Century menjadi logis.
Momentumnya sangat tidak tepat untuk menutupnya.
Secara umum Bank Century telah memenuhi kualifikasi sebagai Bank Gagal karena pada saat itu Capital Adequacy Ratio
(CAR)-nya adalah negatif 3,53 persen. Sedangkan mengenai dampak sistemik Bank Century, dapat dijelaskan bahwa dalam
kondisi normal, penutupan bank seukuran Bank Century diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak sistemik bagi bank lain
atau sistem perbankan nasional. Namun demikian, dalam kondisi perekonomian yang bergejolak, maka penutupan Bank
Century akan menimbulkan dampak sistemik (contagion effect) yang dapat menyebabkan terjadinya penarikan dana besar-
besaran (rush) terhadap bank-bank lainnya, terutama peer banks atau bank kecil yang setara.
Untuk menyelamatkan Bank Century, BI juga merubah aturan syarat kecukupan modal (CAR), dari 8% menjadi 0%.
Perubahan peraturan termasuk juga memungkinkan deposan-deposan besar diatas Rp 2 milyar yang sebelumnya tidak
dijamin, bisa mendapatkan uangnya kembali. Alasannya adalah Bank Indonesia mengkhawatirkan, bila ini tidak dilakukan,
maka bisa men-trigger pelarian pemilik modal besar secara besar-besaran ke luar negeri, seperti Singapura dan Hongkong.
Sesuai dengan data, fakta, informasi dan analisis BI, pada waktu itu terdapat 23 bank setara atau lebih kecil dari Bank
Century serta sejumlah BPR yang mempunyai masalah likuiditas dan permasalahan lain yang kurang lebih sama dengan Bank
4/11/2014 Analisis Kasus Bank Century | M. Arief Fauzi
http://marieffauzi.wordpress.com/2013/03/22/analisis-kasus-bank-century/ 5/6
Century. Dengan kondisi seperti itu, apabila dilakukan penutupan terhadap Bank Century, maka diyakini secara sistemik akan
mempengaruhi bank-bank lain sehingga eskalasi permasalahan akan secara cepat menjalar ke seluruh sistem perbankan
nasional. Seandainya saja penutupan Century dilakukan pada kondisi normal, pada periode sebelum Lehman Brothers
bangkrut, pasti dampaknya akan lain.
Kondisi seperti ini dikhawatirkan dapat mengganggu kelancaran sistem pembayaran, serta menurunkan kepercayaan
masyarakat terhadap sistem perbankan dan sistem keuangan secara keseluruhan sehingga bukan tidak mungkin berulang
apa yang pernah kita alami pada krisis moneter tahun 1997-1998, yang dampaknya sampai hari ini masih ada, yakni belum
lunasnya utang Pemerintah atas BLBI dan biaya penyertaan modal melalui rekapitalisasi bank-bank.
KSSK sadar bahwa secara tegas dan terang belum pernah ada definisi dan ukuran yang baku mengenai dampak sistemik di
dunia ini karena berbagai pertimbangan dan alasan pada saat pengambilan keputusan, yaitu potensi moral hazard yang
sangat tinggi bagi pihak yang ingin memanfaatkan keadaan. Oleh karena itu, apabila di dalam Perppu JPSK tidak diatur secara
jelas dan tegas mengenai ukuran dan kriteria dampak sistemik tersebut, hal tersebut bukanlah merupakan kelemahan
Perppu, namun semata-mata untuk menghindari moral hazard bagi semua pihak termasuk pengurus dan pemilik bank untuk
mendapatkan keuntungan yang tidak semestinya, dengan sengaja mendorong agar banknya memenuhi kriteria sistemik
untuk sebuah harapan agar diselamatkan.
KSSK juga sadar bahwa kegagalan Bank Century disebabkan oleh pengelolaan bank yang buruk dan indikasi terjadinya
tindakan kejahatan perbankan oleh pemiliknya. Namun demikian, KSSK melihat bahwa prioritas utama adalah menyelamatkan
sistem keuangan dan perbankan, bukan invidual bank (Bank Century). Sementara, kecurangan (fraud) yang terjadi di bank,
harus tetap diproses secara hukum pada tahap berikutnya.
Jika Century ditutup pada November 2008, kerugiannya sekitar Rp 30 triliun. Penutupan Century memang akan
menimbulkan efek berganda (multiplier effects). Kerugiannya tidak akan berhenti pada size Century sekitar Rp 14,5 triliun,
tetapi juga akan menyebar ke bank-bank lain yang selevel dan memiliki hubungan hak dan kewajiban dengan Century. Jadi
dampaknya bisa dua kali lipat, atau dampak multiplier-nya dua kali. Karena itu, estimasi angka kerugian Rp 30 triliun menjadi
masuk akal.
4/11/2014 Analisis Kasus Bank Century | M. Arief Fauzi
http://marieffauzi.wordpress.com/2013/03/22/analisis-kasus-bank-century/ 6/6
Bagaimana dengan analogi bahwa pemerintah Amerika Serikat toh berani menutup Lehman Brothers? Lehman adalah bank
investasi, sehingga dampak penutupannya tidak terlalu langsung berhubungan dengan nasabah retail sebagaimana bank
umum (commercial bank). Lagi pula, sehabis Lehman Brothers tidak di-bailout, sebenarnya pemerintah Amerika juga
menyesal karena dampaknya ke mana-mana.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Secara umum Bank Century telah memenuhi kualifikasi sebagai Bank Gagal karena pada saat itu Capital Adequacy Ratio
(CAR)-nya adalah negatif 3,53 persen. Sedangkan mengenai dampak sistemik Bank Century, dapat dijelaskan bahwa dalam
kondisi normal, penutupan bank seukuran Bank Century diperkirakan tidak akan menimbulkan dampak sistemik bagi bank lain
atau sistem perbankan nasional. Namun demikian, dalam kondisi perekonomian yang bergejolak, maka penutupan Bank
Century akan menimbulkan dampak sistemik (contagion effect) yang dapat menyebabkan terjadinya penarikan dana besar-
besaran (rush) terhadap bank-bank lainnya, terutama peer banks atau bank kecil yang setara.
Setelah menimbang dengan akal sehat dan memperhatikan kondisi perekonomian global dan nasional yang sedang krisis,
serta pengalaman krisis ekonomi Indonesia pada 1998, maka pada 21 November 2008 dini hari, KSSK memutuskan Bank
Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. Hal itu dilakukan bukan untuk kepentingan bank Century, melainkan demi
keselamatan sistem keuangan dan perekonomian nasional. Namun dalam pelaksanaannya, banyak oknum yang
menyelewengkan pemberian dana ke Bank Century. Salah satunya adalah sang pemilik bank, Robert Tantular, yang
membawa lari uang sebesar lebih dari 1 trilyun rupiah.