Anda di halaman 1dari 28

Kedua mata bergerak secara sinkron dengan tujuan :

mengalihkan fiksasi dari satu titik (obyek) ke titik


(obyek) lain
mempertahankan bayangan (image) obyek di kedua
retina, tepatnya makula lutea saat kepala
bergerak.
Pengaturan gerak bola mata Dari korteks serebri
(terutama frontalis dan oksipitalis), terdapat lintasan
lintasan ke batang otak yang selanjutnya terdapat
sirkuit yg rumit untuk berbagai hubungan antara
nuklei saraf penggerak bola mata (motorik okuler),
yaitu N lll, lV dan Vl. Pada akhirnya gerak bola mata
akan dilakukan oleh otot otot penggerak bola /otot-
otot ekstraokular.
N lll mensarafi 4 otot ekstraokuler :
- m. Rektus superior
- m. Rektus inferior
- m. Rektus medius
- m. Rektus lateralis
dan muskulus levator palpebrae serta membawa
serabut parasimpatis untuk otot intraokuler yaitu
muskulus siliaris dan muskulus sfingter pupil.
N lV menginervasi m. oblikus superior
N Vl menginervasi m. oblikus inferior

6
6
3
3
3 3
3
3
3 3
4 4
Pada saat kita memfiksasi obyek, mata
tampak diam. Tetapi sebenarnya mata terus
bergerak sangat cepat dan pendek-pendek
yang disebut mikrosakade. Dengan gerak ini
memberi kesempatan retina untuk
memperoleh fase gelap dan terang bagi
terselenggaranya siklus rodopsin
Gerak sakade
Gerak pursuit
Gerak vestibulookuler
Gerak vergens
Gerakan sakade : gerakan kedua mata dengan
cepat ( > 40x/dtk 600x/dtk). Kedua mata
bergerak secara konjugat (sama arah)
Gerakan sakade dirangsang oleh stimulus
visual perifer dan stimulus pendengaran.
Pusat gerakan sakade adalah di lapangan
visual frontalis (area8)
Gerak pursuit : berfungsi u/ mengikuti gerak
target(obyek) agar target yang bergerak tadi
tetap difiksasi di fovea.
Pusat gerakan pursuit adalah didaerah jungsi
oksipitoparietalis yang luas.
Gerakan pursuit tergantung pada informasi
visual dari area 17,18,19 & kolikulus superior
Gerak vergens : pemusatan (pemfokusan)
obyek yang bergerak dari pengamat ketempat
jauh atau dari tempat jauh mendekati
pengamat
Saat melihat jauh terjadi divergensi
Saat melihat dekat terjadi konvergensi +
akomodasi + miosis
Gerak vestibular : bekerja untuk
mengkompensasi posisi mata pada adaya
gerakan kepala yang mengganggu fiksasi
visual. Misal apabilakepala miring maka mata
akan mengalami rotasi berlawanan dengan
miringnya kepala.
Kelainan gerak mata dapat terjadi pada
adanya kelainan pada
kelainan otot-otot ekstraokular itu sendiri (pada
strabismus)
pusat pengendalian gerak di korteks frontalis
dan oksipitoparietalis, kelainan alat vestibular (
sentral & perifer), kelainan serebellum kelainan
pusat batang otak kelainan fasikulus
Diplopia (penglihatan dobel) :
Diplopia binokular : tidak sejajarnya axis visual
kedua bola mata akan menyebabkan bayangan jatuh di
kedua retina pada daerah nonkoresponden. Keadaan
ini akan menimbulkan diplopia binokular, artinya kalau
satu mata ditutup maka diplopia hilang.
Diplopia monokular : penglihatan dobel pada satu
mata. Pada : kelainan refraksi astigmatisma; katarak
insipien; dislokasi lensa; iridodialisis
Vertigo. Pasien yang mengalami ketidakseimbangan
vestibular akan mengeluh ketidakseimbangan atau
unsteadiness (bergoyang) dan terutama adalah
vertigo. Vertigo adalah sensasi ilusi gerak pada
dirinya sendiri atau sekitarnya. Gejala ini akan
bersama dengan nistagmus.

Osilopsia : adalah gerakan ilusi bolak-balik alam
sekitarnya yang bisa horizontal, vertikal, torsional
atau gabungan disebabkan oleh fiksasi yang tidak
stabil. Apabila Osilopsia timbul atau bertambah berat
saat menggerakkan kepala, maka ini disebabkan oleh
gangguan vestibuler
Disebabkan oleh : DM, hipertensi,
arteriosklerosis, hiperkolesterolemia.
kelumpuhan N III total ditandai oleh : bola
mata bergulir ke lateral dan agak kebawah.
Pupil mengalami dilatasi dan tidak bereaksi
terhadap cahaya langsung maupun tidak
langsung. Terjadi kelumpuhan akomodasi,
ptosis, mata tidak bisa bergerak ke atas, ke
bawah dan ke medial.
N IV m.oblik.superior mata dapat
mengadakan intorsi dan bergulir kebawah
Kelumpuhan N IV menyebabkan mata
mengalami ekstorsi dan kelemahan melirik ke
atas lateral

N VI menginervasi m.obliqus inferior
Kelumpuhan N VI menyebabkan gerak mata
kelateral terganggu sehingga terjadi
strabismus konvergen paralitikus (esotropi
paralitik)
Gangguan otot otot ekstraokular yang
disebabkan karena gangguan fungsi tiroid
Sehingga timbul gangguan gerak bola mata,
retraksi palpebra, eksoftalmos, konjungtiva
hiperemi dan edema
Ditandai oleh kelelahan dan kelemahan otot
lurik dalam tubuh.
Gangguan terletak di end plate neuromuskular
Gejala diplopia dan ptosis
Gejala kurang tampak pada pagi hari atau saat
istirahat dan akan tampak sore hari
Gerak mata osilasi yang berirama (ritmis)
Berdasar sifat gerakan dibagi menjadi :
Nistagmus penduler (berayun)
Nistagmus jerki (menghentak)

Arah nistagmus dapat horizontal/ vertikal/ oblik/
rotasi

Nistagmus penduler ditandai oleh osilasi
bilateral dengan kecepatan pada kedua
arah kira2 sama
Nistagmus jerki ditandai oleh osilasi
ritmik dengan gerak kesatu arah lebih
cepat daripada gerak yang berlawanan.
Gerak lambatnya adalah gerak patoologis,
gerak cepatnya adalah gerak koreksi
KLINIS
Nistagmus fisiologis
Nistagmus patologis
Nistagmus end point : terjadi kalau mata
melirik kelateral secara ekstrim dan
dipertahankan agak lama, setelah 30 detik
akan terjadi nistagmus jenis jerki
Nistagmus optokinetik : terjadi karena
usaha fiksasi dan megikuti obyek yang
digerakkan secara cepat dan berurutan
Nistagmus kongenital
Sejak lahir
Karena gangguan fiksasi disertai gangguan
visus yang berat
Jenis penduler
Berkurang saat konvergensi, bertambah
berat saat fiksasi
Nistagmus gaze evoked / gaze paretic
Gerak mata bersama gerak kepala
Biasanya terjadi pada pasien yang sedang
mengalami perbaikan (penyembuhan) dari
gaze palsy sentral
Nistagmus vestibular :
U/ bekerjanya otot ekstraokuler diperlukan
input vestibukar yang seimbang (simetris)
antara kanan dan kiri. Kalo tidak seimbang
terjadi nistagmus vestibular
Disebabkan oleh lesi perifer (aparatus
vestibularis yaitu kanalis semisirkularis) atau
oleh lesi sentral (nukleus vestibularis dibatang
otak
Bersifat jerki biasanya horizontal
Px mengalami vertigo, nause, vomitus
Berkurang saat fiksasi visual