Anda di halaman 1dari 13

1

Rinitis alergi pada Anak


oleh Thomas Sanford, MD



Thomas Sanford, MD, adalah Asisten
Profesor di Departemen
Otolaryngology-Head dan Bedah Leher di
Saint Louis University School of Medicine
Diagnosis RA bergantung pada anamnesis dan pemeriksaan fisik; uji antigen memastikan
diagnosis dan mengarahkan pada pengobatan
Abstrak
Rhinitis alergi (RA) umum terjadi pada anak-anak. Prevalensi dilaporkan menjadi 20-40 % pada
populasi anak-anak di Dunia.
1
Penyebab dan faktor risiko untuk pengembangan rinitis alergi
tidak sempurna didefinisikan tetapi melibatkan genetik dan unsur lingkungan, meskipun rinitis
alergi jarang parah atau mengancam jiwa, namun dapat memiliki efek serius pada kehidupan
sehari-hari dan perkembangan anak. Rinitis alergi memiliki beberapa komorbiditas dan terkait
erat dengan asma dan dermatitis atopik. Seringkali orang tua anak akan berkonsentrasi pada
penyakit penyerta saja dan tidak menyebutkan atau khawatir terhadap gejala rinitis alergi pada
anak mereka. Diagnosis rhinitis alergi dibuat dengan kombinasi anamnesis dan pemeriksaan
fisik. Alergen penyebab diidentifikasi oleh tes alergi. Tes alergi dilakukan invivo (tes kulit) atau
in vitro (uji kemerahan). Pengobatan rhinitis alergi dapat mencakup penghindaran alergen,
farmakoterapi dan imunoterapi. Ketiga terapi ini efektif dan aman pada anak-anak.
2

Pengantar
Gejala hidung adalah salah satu keluhan yang paling umum pada populasi anak-anak.
Dipekirakan bahwa sekitar 50 % rinitis alergi adalah atopik. Rinitis alergi adalah penyakit
atopik yang palng umum dan salah satu kondisi kronis yang paling sering pada anak-anak,
terutama di negara-negara industri dan Negara-Negara yang belum berkembang. Faktor-faktor
yang menyebabkan ini belum jelas, tapi kemungkinan melibatkan mekanisme genetik dan
lingkungan. Salah satu pendapat mengemukakan hygiene merupakan salah satu faktor
penyebabnya. Pendapat mengenai hygienie berasal dari pengamatan bahwa rinitis alergi dan
penyakit atopik lainnya umum terjadi pada anak-anak dari keluarga besar, di mana mereka lebih
cenderung terkena lebih banyak agen menular dari saudara mereka, dibandingkan seorang anak
dari keluarga kecil. Studi terbaru menemukan bahwa penyakit kekebalan tubuh lainnya seperti
penyakit radang usus, sclerosis dan diabetes tipe I tidak menunjukkan efek perlindungan yang
sama terhadap antigen penyebab.
2
Selain itu, studi klinis telah menunjukkan peningkatan risiko
rinitis terkait dengan pengenalan awal makanan atau formula, tempat penitipan anak, ibu
merokok, paparan antigen seperti hewan dan tungau debu.
3
Sampai saat ini bukan konsensus
tentang penyebab dan faktor risiko untuk pengembangan rinitis alergi. Sebagai pemahaman kita
tentang imunologi yang dan patofisiologi rinitis alergi, serta fisiologi hidung dan saluran napas
bagian atas sehingga meningkatkan paradigma pengobatan kami.

Diagnosa
Kursus klinis dari Atopi dan Rhinitis
Salah satu alasan paling umum untuk seorang anak mengunjungi dokter adalah untuk gejala
saluran napas kronik. Tantangan bagi dokter adalah untuk menemukan dan menggaris bawahi faktor
yang menyebabkan dan terapi bagi anak. Infeksi adalah penyebab paling umum dari rinitis akut pada
anak-anak, antara usia 2-6 anak rata-rata memiliki enam infeksi per tahun masing-masing berlangsung 7-
10 hari, jika diagnosis rinitis alergi bergantung pada sejarah dan pemeriksaan fisik; pengujian antigen
menegaskan diagnosis dan mengarahkan pengobatan.



3

Tabel 1
Allergic March
Onset Puncak Regresi
Eksim 1 thn 3 thn 5 thn
Asthm 2-3 thn 5-8 thn 15-20 thn
Alergi 5 thn 15-20 thn rinitis persisten sampai dewasa

Tabel 2
Perbandingan uji alergi
Uji kulit Pengujian serum
Tusukan / intradermal IgE (kemerahan)
Beberapa jarum jarum tunggal
Hasil Segera lambat
kemungkinan anafilaksis tidak ada Anafilaksis
Bekerja pada antigen kompleks kurang sensitif terhadap antigen kompleks
Dipengaruhi oleh kondisi kulit tidak terpengaruh oleh kondisi kulit
Dipengaruhi oleh Antihistamin tidak terpengaruh oleh Antihistamin

Infeksi sekunder bisa bertahan 2-3 minggu.
4
Defisiensi imun dapat meningkatkan jumlah dan
lamanya infeksi rinologik. Struktural penyebab rhinitis harus dievaluasi termasuk benda asing, tidak
adanya koana, polip hidung, tumor hidung, dan deviasi septum. Secara fisiologis yang menyebabkan
rhinitis pada anak-anak termasuk ciliary dyskinesia, refluks, dan cystic fibrosis. Obat dapat
menyebabkan rhinitis pada anak-anak yang paling umum adalah dekongestan topikal. Jika penyebab
rinitis diabaikan maka dokter dapat mempertimbangkan atopi dan rinitis alergi sebagai penyebab gejala
hidung kronis.
Hal ini berguna untuk diingat usia manifestasi terkait rinitis alergi dan atopi pada anak-anak; ini
sering disebut sebagai alergi March. Anak-anak dengan atopi akan sering mengungkapkan penyakit
secara progresif dimulai dengan eksim, asma dan akhirnya rinitis alergi. Sangat jarang pada anak kurang
dari dua tahun menunjukkan rhinitis alergi. Eksim merupakan manifestasi pertama atopi dimulai pada
usia 1 tahun, memuncak pada usia 5 tahun dan menurun selama usia sekolah. Asma juga dimulai awal
dengan puncak kejadian pada usia 8 tahun dan menurun selama masa remaja awal. Rinitis alergi jarang
terjadi pada anak usia dini, tapi meningkat dan puncaknya pada remaja.
4
Tabel 1 adalah manifestasi
atopi pada masa kanak-kanak.
4

Anamnesis
Anamnesis yang lengkap merupakan bagian terpenting dari diagnosis rinitis alergi. Untuk
mendiagnosis rinitis alergi pada anak-anak dokter harus mengevaluasi gejala dan komorbiditas anak.
suara sengau, gejala hidung seperti hidung gatal dan hidung berair, riwayat mimisan dan micronosmia.
batuk dan tenggorokan kering sering menyertai. Gejala Mata termasuk gatal, konjungtiva
edema dan hiperemia. Komorbiditas termasuk asma, eksim, dermatitis atopik, dan otitis. Kumpulan
pertanyaan yang mengarah hal-hal diatas dapat digunakan sebagai alat skrining untuk diagnosis rinitis
alergi.
Anak-anak dengan rinitis sering absen sekolah, memiliki gangguan tidur, kelelahan dan gangguan
konsentrasi. Kemampuan mereka untuk melakukan kegiatan disekolah dan kegiatan ekstrakurikuler juga
dipengaruhi oleh rinitis alergi. Riwayat keluarga juga dapat mendukung diagnosis rinitis alergi. Jika
kedua orang tua terkena penyakit atopik ada 50 % kemungkinan anak akan memiliki rinitis alergi.
risiko meningkat 70 % apabila orang tua memiliki gejala yang sama dan tingkat keparahan yang lebih
besar.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik anak rinitis alergi bisa bervariasi tetapi kadang-kadang sulit diidentifikasi. Anak-
anak dengan rinitis alergi sering membersihkan tenggorokan mereka dan memiliki kebiasaan menggosok
hidung dan mata, suara hyponasal dan serak ringan . allergic salut umum ditemukan, anak sering
menggosok hidungnya dengan telapak tangan menyebabkan lipatan vertikal pada sepertiga distal dari
dorsum hidung. RA dapat menyebabkan kongesti vena dari midface ditemukan pada periorbital;
pembengkakan kelopak mata bawah akan menyebabkan lipatan disebut Dennies lines.
Semakin rendah kelopak mata juga dapat menjadi bengkak dan gelap disebut allergic Shiners.
Anak-anak dengan rinitis alergi sering bernapas lewat mulut, sehingga dapat memudahkan timbulnya
gejala lengkung palatum serta maloklusi. Pemeriksaan hidung anak-anak dengan rinitis alergi sering
menunjukkan konka besar yang menghalangi jalan napas disertai adanya sekret hidung. Pemeriksaan
telinga mungkin menunjukkan bukti tekanan negatif dan efusi kronis. Kulit harus dievaluasi untuk
dermatitis atopik terutama di daerah wajah dan daerah Fleksor lengan dan kaki.



5

Tes diagnostik
Pemeriksaan hitung jenis eosinofil total dan kadar IgE total dapat digunakan untuk menunjang
adanya atopi, namun tes ini tidak cukup spesifik untuk diaplikasikan sehari-hari. Jika didapatkan anak
dengan gejala hidung, memiliki riwayat dan pemariksaan fisik, uji dengan penyebab alergi, dokter
memiliki dua pilihan; untuk mengobati secara empiris atau mengevaluasi dengan pengujian dengan
metote in- vitro atau in -vivo. Tes alergi dapat memberikan dua informasi penting yaitu: mengidentifikasi
terhadap antigen anak yang sensitif dan membantu dalam rencana perawatan bagi anak. Tabel 2 daftar
dan membandingkan pengujian umum teknik untuk atopi. Setiap teknik memiliki keuntungan sendiri dan
aplikasi yang bervariasi tergantung pada kebutuhan anak. Sebagai contoh, seorang anak dengan risiko
anafilaksis akibat alergi berat aman diuji dengan teknik serum. Uji kulit dianggap sebagai standar emas.
Uji kulit dilakukan dalam dua bentuk yaitu: tusukan dan intradermal . uji intradermal sering digunakan
dengan beberapa konsentrasi antigen yang dapat berguna ketika merencanakan terapi injeksi. Uji Kulit
dan serum biasanya dilakukan dengan cara skrining dengan satu atau dua antigen. Sejumlah besar antigen
dapat diuji jika terapi injeksi direncanakan atau jika ada indikasi klinis . Perlu diingat bahwa reaksi positif
antigen , kuat atau lemah , dengan baik kulit atau uji serum tidak memprediksi bagaimana seorang anak
akan merespon terapi.
Patofisiologi
Rinitis alergi pada anak diwariskan melalui gen dari kedua orang tuanya . Genotipe hasil anak
rinitis alergi yaitu radang saluran napas bagian atas . Penyebab utama dari peradangan adalah hasil dari
jalur IgE mediated, namun juga kemungkinan bahwa jalur non - IgE.
5
Dengan ditemukannya rinitis
alergi terjadi peningkatan limfosit TH2, sel-sel ini mendukung dan meningkatkan produksi IgE melalui
pelepasan sitokin (IL4, IL3, IL5) dan mediator lainnya. Peningkatan kadar IgE spesifik diproduksi oleh
paparan berulang antigen (debu , serbuk sari, jamur, tungau, dan lain-lain), proses ini disebut sensitisasi.
Setelah seorang anak peka terhadap paparan antigen akan menyebabkan sel mast melepaskan beberapa
faktor yang menyebabkan peradangan.
Respon alergi dibagi menjadi dua tahap yaitu tahap awal dan tahap akhir. Tahap awal dipicu oleh
pengikatan antigen ke Ig E dilapisi sel mast sehingga menyebabkan degranulasi sel Mast. Pelepasan
senyawa degranulasi (histamin, tryptase, chymase, heprin dan lain-lain). Prostoglandin dan leukotrien
juga dihasilkan selama reaksi fase awal. Senyawa fase awal dapat menyebabkan pembengkakan dan
kebocoran, serta iritasi saraf sensorik dengan gejala rinitis alergi. Reaksi tahap akhir terjadi lebih dari
empat jam setelah berikatan dengan antigen. Tahap akhir terdiri dari migrasi sel kedaerah peradangan;
eosinofil, neutrofil, basofil, makrofag dan sel T bermigrasi ke daerah tersebut dan dapat menyebabkan
6

perubahan lokal dan dapat menghasilkan senyawa yang mengakibatkan gejala sistemik seperti kelelahan
dan ketidakmampuan untuk berkonsentrasi.
AR Therapy
Terapi lingkungan
Menghindari alergen adalah terapi utama untuk anak-anak dengan rhinitis alergi. Alergen umum
(serbuk sari, jamur, dan tungau debu) terdapat di mana-mana. Oleh karena itu, sulit untuk menghindari.
selama puncak musim, serbuk sari dan jamur jumlahnya sangat tinggi bahkan jumlah dalam ruangan
menyebabkan kondisi klinis yang signifikan. Bulu kucing ditemukan banyak ditempat umum (bioskop
dan bandara) dalam konsentrasi yang cukup tinggi untuk memicu respon alergi.
Pendekatan umum untuk penghindaran yaitu dengan mendirikan zona aman anak didalam rumah.
Zona aman anak biasanya kamar tidur. Ruangan ini harus memiliki minimal kain dan karpet untuk
mengurangi banyaknya antigen dan meminimalkan habitat debu tungau. Kelembaban ruangan harus di
bawah 50%, tempat tidur dan bantal harus menggunakan penutup. Konsentrasi antigen debu tungau telah
terbukti menurun dengan sering mencuci spray tempat tidur di 130 F, air dan dengan penggunaan
arachnicides. Untuk anak-anak yang sensitif terhadap jamur dan serbuk sari, jendela harus terus tertutup
dan menggunakan AC pada musim panas.
Meskipun ada sejumlah besar studi yang menunjukkan penurunan antigen dan peningkatan asma
oleh teknik penghindaran alergen, namun data tersebut terbatas untuk mendukung langkah-langkah
menghindari rinitis alergi. Dokter harus merekomendasikan perubahan gaya hidup untuk anak-anak
dengan rinitis alergi. Keuntungan sederhana terhadap perubahan gaya hidup seperti membatasi kegiatan
diluar ruangan, hal ini mungkin menyebabkan efek negatif terutama efek psikososial.
Farmakoterapi
Terapi obat pada rinitis alergi cukup efektif. Ada lima kategori utama dari berbagai bentuk obat-
obatan, termasuk antihistamin, steroid intranasal, inhibitor leukotriene, dekongestan, dan stabilisator sel
mast. Obat-obat ini dapat diberikan secara bersamaan dan sering dikombinasikan. Seorang anak dengan
gejala refraktori sering mendapatkan keuntungan terapi. Hal ini berguna untuk meninjau kepada
orang tua obat apa telah diberikan dan obat paling efektif, hal ini dapat membimbing dokter selama
pengobatan modifikasi.
Histamin adalah mediator sentral untuk jalur inflamasi rinitis alergi. Ada banyak reseptor histamin
didistribusikan ke seluruh tubuh termasuk saluran pernapasan, pencernaan dan otak. Pengikatan histamin
pada reseptor akan menyebabkan pembuluh darah dan saraf mengalami perubahan pada lapisan hidung
7

dan mengarah ke gejala rinitis alergi. Antihistamin mengikat reseptor histamine dan banyak memblok
respon fisiologis terhadap histamin. Tabel 3 daftar antihistamin yang sering digunakan, batas usia FDA
dan dosis.
Antihistamin dapat diberikan secara oral atau topikal. Antihistamin dapat dikategorikan dalam dua
bentuk, yaitu antihistamin generasi pertama dan generasi kedua. Beberapa penulis menetapkan obat
generasi ketiga sebagai obat yang enansiomer atau metabolit obat generasi kedua, yang membedakan
kedua kelompok ini yaitu sifat senyawa lipofilik. Obat-obatan generasi pertama lebih lipofilik sehingga
dapat melewati sawar darah otak dan mengakibatkan gejala SSP seperti sedasi. Obat ini memiliki waktu
paruh pendek 6-12 jam dosis dua kali per hari. Selektivitas obat generasi pertama kurang menyebabkan
efek samping. Oleh karena itu, obat generasi pertama biasanya digunakan dalam terapi jangka pendek
seperti obat tanpa resep.
Antihistamin generasi kedua dan ketiga dipilih sebagai terapi pertama untuk anak-anak dengan
rinitis alergi. Obat ini memiliki keuntungan karena berasal dari halflife dan efek samping minimal.
Karena obat generasi kedua lebih selektif, cenderung mengikat antiserotinergik, antikolinergik, dan alfa
adrenergik. Antihistamin generasi ketiga adalah bentuk enatiomer yang dimurnikan, atau metabolit dari
antihistamin generasi kedua dan memerlukan dosis yang lebih rendah.
Table 3
Antihistamines
Name/Generation Age/Dose Route/Liquid Sedation

Chlorpheniemine/1st 2-6yr 1mg q 6hr Oral/yes yes
6-12yr 2mg q 6hr
>12yr adult dose

Diphenhydramine/1st 3-12yr 5mg/kg/d divided tid /qid Oral/yes yes
>12yr adult dose

Hydroxyzine/1st <6yr 25mg divided tid/qid Oral/yes yes
6-12yr 50mg divided tid/qid
>12yr adult dose

Fexofenadine/2nd 6-12yr 30mg bid Oral/no no
>12yr adult dose
Loradtadine/2nd 2-5yr 5mg q daily Oral/yes no
>5yr adult dose

Desloratadine/3rd >12yr adult dose Oral/yes no

8

Ceterizine/2nd 6-12months 2.5mg q daily Oral/yes some
12-24months 2.5mg q bid
2-5yr 2.5-5mg q bid
>6yr 5-10mg q daily

Levoceterizine/3rd 6-11yrs 2.5mg q daily Oral/no some
> 12 yrs 5 mg q daily
Azelastine/2nd >3yr 1 drop each eye bid Opthalmic some
>12yr adult dose

Azelastine/2nd 5-11yr 1 puff each nostril daily Nasal some
>12yr adult dose


Table 4
I ntranasal Steroids

Steroid Name Dose /Age Dose per Spray Onset Bioavailability

Beclomethasone/ >6yr 168-336g/day bid 42g 3 days 17%
Becanase

Budesonide/ 6-11yr 64-128g/day 32g 24 hour 11%
Rhinocort >12yr 64-256g/day

Mometasone/ 3-11yr 100g/day 50g 12-24 hours <0.1%
Nasonex >12 yr 200g/day

Triamcinolone acetonide/ 6-11 yr 220g/day 55g 24 hours 22%
Nasocort >12 yr 220-440/day

Flunisolide/ 6-14 yr 25--200g/day bid 25g 4-7 day 20-50%
Nasarel >14 yr 200-400g/day bid

Fluticasone propionate/ >4-11 yr 100-200g/day bid 50g 12-24 hour <2%
Flonase >12yr 200-300g/day bid

Fluticasone furoate/ 2-11yr 55g/day 27.5g 24 hours <0.5%
Veramyst >12yr 110g/day

Empat obat dari generasi kedua dan dua obat dari generasi ketiga saat ini tersedia di Amerika
Serikat. Enam obat telah terbukti efektif pada anak-anak dan bekerja terapi jangka panjang.
Desloratadine, Loratadin, dan Fexofenadine adalah nonsedating pada dosis yang direkomendasikan.
Desloratadine dan loratadine dapat berfungsi sebagai penenang pada dosis tinggi. Azelatine, Cetirazine
9

dan Levocetirazine memiliki risiko sedasi ringan pada dosis yang direkomendasikan. Azelastine
tersedia dalam bentuk intranasal dan intraokular. Antihistamin Generasi kedua dan ketiga bekerja dengan
baik pada sebagian besar gejala rinitis alergi, satu pengecualian adalah hidung tersumbat. Sebagian besar
dari kedua antihistamin generasi ketiga tersedia dalam bentuk gabungan dengan yang pseudoephederine
dekongestan untuk menghilangkan gejala hidung tersumbat. Semua antihistamin akan bekerja baik jika
digunakan sebelum terjadi paparan dengan antigen.
5

Kortikosteroid intranasal juga dianggap sebagai terapi lini pertama untuk anak-anak dengan rinitis
alergi akut. Steroid intranasal meringankan gejala termasuk bersin , hidung berair, gatal dan hidung
tersumbat. Tabel 4 daftar steroid intranasal umum yang saat ini tersedia di Amerika Serikat untuk
pengobatan rinitis alergi. Beberapa penelitian telah membandingkan steroid intranasal yang berbeda dan
mereka telah menemukan kemiripan dalam keberhasilan terhadap gejala rinitis alergi. Karena jalur
molekuler utama untuk steroid yang mempengaruhi adalah melalui kontrol dari intranuklear ekspresi gen,
timbulnya tindakan untuk steroid intranasal lebih lama dari antihistamin . Onset tindakan adalah 8-12 jam
tergantung pada senyawa dan gejala yang diukur. Steroid intranasal optimal 4-7 hari. Ketika
membandingkan steroid intranasal terhadap antihistamin, penelitian telah menunjukkan steroid topikal
harus sama atau lebih unggul daripada antihistamin atau antihistamin dengan dekongestan untuk
pengobatan rhinitis alergi.
4,7
Terapi steroid intranasal telah memiliki tingkat keamanan yang tinggi. Hal
yang paling umum terjadi adalah efeknya hidung terbakar, bersin, bau dan gangguan rasa, dan epistaxsis;
semua biasanya ringan. Suara sengau, perforasi dan peningkatan tekanan intraokular jarang terjadi.
Salah satu yang menjadi perhatian penggunaan steroid intranasal pada anak adalah kemungkinan
keterlambatan pertumbuhan. Studi klinis terkontrol telah menunjukkan penggunaan steroid intranasal
(beclomethsone) dapat mempengaruhi pertumbuhan.
8
Penelitian terbaru agen intranasal belum
menunjukkan efek pada pertumbuhan. Saat ini FDA telah memberi label pada steroid intranasal dengan
memperingatkan dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan. Disarankan penggunaan steroid intranasal
jangka panjang harus mempertimbangkan penggunaan steroid dengan bioavailabilitas yang lebih rendah,
dan pertumbuhan anak harus dipantau secara reguler. Leukotrien adalah agen inflamasi yang tepat ketika
memblokir gejala rinitis alergi.
Leukotrien yang dilepaskan oleh sel inflamasi selama reaksi alergi. Peningkatan kadar leukotrien
telah diisolasi dari sekresi hidung pada pasien dengan rhinitis alergi. Agen anti leukotrien memblok
sintesis enzimatik atau reseptor sehingga menghambat respon inflamasi. Antagonis reseptor leukotrien
montelukast telah terbukti efektif dan aman untuk pengobatan rinitis alergi pada anak-anak.
Seperti antihistamin, antileukotrienes meringankan gejala termasuk gejala okular dan memiliki
10

efek positif tambahan pada hidung tersumbat. Leukotriene, antihistamin dan seroid intranasal,
tidak ada yang lebih efektif dan kurang respective.
9

Dekongestan terbsedia dalam bentuk topikal. Bekerja pada reseptor -adrenergik di
mukosa hidung dan pembuluh darah. Karena dekongestan tidak memiliki efek anti inflamasi,
bekerja terbaik apabila dikombinasi dengan obat lainnya seperti antihistamin. Bentuk topikal
memiliki onset cepat dan membantu dalam pengobatan hidung tersumbat fase akut, namun
penggunaan jangka lama dapat menyebabkan rebound hidung tersumbat. Bentuk oral dapat
menyebabkan stimulasi CNS dengan insomnia dan hiperaktif pada sepertiga pasien anak.
10

Stabilizers sel mast adalah obat lain efektif dalam pengobatan rinitis alergi. Obat ini
menyebabkan stabilisasi dari membran sel mast sehingga menghalangi degranulasi dari sel dan
pelepasan mediator inflamasi. Karena obat ini tidak memiliki sifat anti inflamasi, obat ini lebih
baik diberikan secara profilaksis 1-2 minggu sebelum paparan antigen. Bentuk topikal natrium
kromolin tersedia dalam lebih dari bentuk counter dan memiliki profil yang sangat aman untuk
anak-anak bila dibandingkan dengan antihistamin atau steroid intranasal, natrium kromolin dosis
rendah.
8
Salah satu keterbatasan dari stabilisator sel mast yaitu pendeknya durasi sehingga
diberikan 4-6 kali per hari.
Omalizumab adalah rekombinan monoklonal antibodi anti IgE yang efektif untuk asma dan
rinitis alergi. Mekanisme kerjanya adalah dengan menghambat interaksi IgE dengan sel mast dan
basofil, serta menurunkan serum Kadar IgE. Penelitian awal telah menunjukkan perbaikan gejala
hidung dan penurunan penggunaan anti histamin ketika diberikan Omalizumab.
11
FDA saat ini
membatasi pelabelan obat ini untuk gunakan pada anak dengan asma sedang sampai berat. Penelitian
selanjutnya diperlukan untuk mengevaluasi efektivitas keamanan dan biaya obat ini .
Imunoterapi
Jika anak dengan rinitis alergi tidak merespon atau mentolerir lingkungan dan terapi
farmakologis, imunoterapi harus dipertimbangkan. Penelitian pada hewan dan manusia
menjelaskan mekanisme dimana immunotherapy (injection terapi) bekerja . Eksposur rutin untuk
antigen dengan suntikan menyebabkan antigen pilihan spesifik limfosit-T yang mengatur
produksi IgE memproduksi sel B. Beberapa studi telah menunjukkan penurunan gejala dan
peningkatan kualitas hidup, serta penurunan ketergantungan obat rinitis alergi pada pasien yang
11

diobati dengan imunoterapi.
12
Imunoterapi juga dapat mendukung pencegahan asma jangka
panjang, asma pada anak-anak dengan rinitis alergi.
13
Manfaat potensi imunoterapi harus
dipertimbagkan terhadap risiko anafilaksis, rasa sakit dan ketidak nyamanan injeksi mingguan.
Jika imunoterapi dipilih dan berhasil, terapi biasanya diberikan selama 3-5 tahun.
Sublingual terapi pada rhinitis alergi memiliki manfaat gabungan, sehingga menjadi
kurang invasif dengan penurunan risiko anafilaksis. Sublingual terapi di AS terbatas, namun
metaanalisis Eropa baru-baru ini dari 577 pasien menyimpulkan bahwa sublingual terapi efektif
pada anak-anak dengan rinitis alergi.
14
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi
peran terapi sublingual serta konsentrasi dosis dan jadwal untuk pengobatan rinitis alergi.
Kesimpulan
Rinitis alergi umum terjadi pada anak-anak ; mempengaruhi sebanyak 40 % dari populasi anak.
Ada kenaikan yang jelas di Negara industry, peningkatan ini tidak sepenuhnya dipahami. Diagnosis
rinitis alergi bergantung pada anamnesis dan pemeriksaan fisik; pengujian antigen menegaskan diagnosis
dan mengarahkan pengobatan. Pengobatan rinitis alergi dapat multifaset dan dapat melibatkan
pengendalian lingkungan, farmakoterapi, dan terapi injeksi. Ada beberapa obat yang tersedia untuk
pengobatan rhinitis alergi yaitu: Antihistamin generasi baru dan steroid intranasal topikal merupakan
pilihan lini pertama bagi anak-anak. Metode pengobatan dari rinitis alergi saat ini yang sedangn
dikembangkan adalah obat anti IgE dan terapi antigen sublingual.

Penyikapan
Tidak dilaporankan







12

Contoh seorang anak dengan rinitis alergi
Pada anamnesis didapatkan riwayat alergi susu sapi sejak umur 3 hari, bersin-bersin pada cuaca dingin,
dan ayah pasien memiliki riwayat asma.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan: pemeriksaan hidung hipertrofi konka, konka berwarna pucat, terdapat
secret hidung, dan pada pemeriksaan kulit ditemukan adanya dermatitis pada bagian perut atas.

















13

Daftar pustaka

1. Bousquet J. et al. Allergic Rhinitis and its impact on Asthma (ARIA). In Collaboration
with the World Health Organization. Allergy. 2006;61: 814-855.

2. Beiger RS. Allergic and nonallergic rhinitis: classification and pathogenesis. Part II. Non-
allergic rhinitis. Am J Rhinology 1989; 3: 113139.

3. Wright AL, et al. Epidemiology of Physicaindiagnosed allergic rhinitis in childhood.
Pediatric 1994; 94: 895-901.

4. Meltzer EO. Allergic Rhinits: managing the pediatric spectrum. Allery Asthma Proc.
2006; 27: 2-8.
5. Leger D, et al. Allergic rhinitis and its consequences on quality of sleep. A unexplored
area. Arch Intern Med. 2006;166: 1744-1748.

6. Guarner F. et al. Mechanisms of disease: the hygiene hypothesis revisited. Nat Clin Proct
Gastroenterol Hepatol 2006; 3: 275-284

7. Dykewicz MS. et al. Diagnosis and Management of rhinitis: complete guidelines of the
Joint Task Force of Practice Parameters in Allergy, Allergy and Immunology. Ann
Allergy Asthma Immmunol. 1998;81: 478-518.

8. Skoner DP. et al. Detection of growth suppression in children during treatment with
inranasal beclomethasone diproionate. Pediatrics. 2000; 105 (2): E23.

9. Nathan RA. Pharmacotherapy to allergic rhinitis: a critical review of luekotriene receptor
antagonists compared with other treatments. Ann Allergy Asthma Immunol 2003;90:
182-190.

10. Lai L. et al. Pediatric Allergic Rhinits. Immunol Allergy Cin N Am. 2005;25: 283-299

11. Casale TB. Et al. Omalizumab Seasonal Allergic Rhinitis Trial Group. Effect of
Omalizumab on Symtoms of Seasonal Allergic Rhinitis: a randomized controlled trial.
JAMA. 2001;286: 2956-2967.

12. Marple BF. et al. Keys to successful management of patients with allergic rhinitis: Focus
on patient confidence, compliance, and satisfaction. Otolarygology-Head and Neck
Surgery 2007;136:s107-s124

13. Niggemann B. et al. Five year follow-up on the PAT study: specific immunotherapy and
long-term prevention of asthma in chidren. Allergy 2006;61; 855-859.

14. Penagos M. et al. Clinical efficacy of sublingual immunotherapy in the treatment of
allergic rhinitis in pediatric patients 3 to 18 years of age: a meta-analysis of randomized,
placebo controlled, double-blind trials. Ann Allergy Asthma Immunol. 2006;97: 141-148.