Anda di halaman 1dari 4

1.

Pembahasan
Kromatografi kolom merupakan suatu metode pemisahan preparatif. Metode ini
memungkinkan untuk melakukan pemisahan suatu sampel atau senyawa termasuk flavonoid
dari ekstraks yang masih mengandung senyawa kompleks. Ekstrak yang digunakan kali ini
adalah ekstraks daun jambu biji yang diketahui mengandung senyawa aktif seperti tannin,
triterpenoid (Sumarno, 2!". #ada prinsipnya kromatografi kolom adalah suatu teknik
pemisahan yang didasarkan pada peristiwa adsorpsi. Sampel yang biasanya berupa larutan
pekat diletakkan pada ujung atas kolom. Eluen atau pelarut dialirkan se$ara kontinyu ke
dalam kolom. %engan adanya gravitasi atau karena bantuan tekanan, maka eluen&pelarut
akan melewati kolom dan proses pemisahan akan terjadi. #elarut (fase gerak" yang paling
$o$ok untuk pemisahan harus ditentukan melalui $ara kromatografi lapis tipis terlebih dahulu,
pada per$obaan kali ini menggunakan eluen atau pelarut yang digunakan berupa n heksana dan etil
asetat dengan perbandingan '() untuk *dentifikasi terpenoid&steroid dari ekstrak daun jambu biji .
#enampak noda yang digunakan adalah +nisaldehid asam sulfat dimana jika timbul warna ungu,
merah atau ungu setelah penyemprotan pereaksi anisaldehid asam sulfat menunjukkan adanya
terpenoid&steroid dalam ekstrak (-agner, )!!." . Ke$epatan pergerakan suatu komponen
tergantung pada kemampuannya untuk tertahan atau terhambat oleh penyerap di dalam kolom.
/adi suatu senyawa yang diserap lemah akan bergerak lebih $epat daripada yang diserap kuat
(Sastrohamidjojo, )!!)".
Ke$epatan elusi pada per$obaan ini dibuat konstan yaitu dengan satu tetes per detik.
/ika ke$epatan elusi terlalu ke$il maka senyawa,senyawa akan terdifusi ke dalam eluen dan
akan menyebabkan pita makin melebar yang akibatnya pemisahan tidak dapat berlangsung
dengan baik. #ada kromatografi kolom, tahap pengisian kolom dengan adsorben biasanya
merupakan tahapan yang paling sulit. #engisian ini harus sehomogen mungkin dan harus
benar,benar bebas dari gelembung udara. #ermukaan adsorben harus benar,benar hori0ontal,
hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya $a$at yang dapat terjadi selama proses elusi
berjalan (Sastrohamidjojo, )!!)". #ada per$obaan ini utuk mengatasi adanya gelembung
dilakukan dengan melakukan pengo$okan silika kristal dan eluen selama ) menit di dalam
erlenmeyer sebelum dituang ke dalam kolom.
#elarut pengelusi dibiarkan mengalir melalui kolom hingga terbentuk jalur,jalur serapan
atau pita dari senyawa,senyawa yang merupakan komponen suatu $ampuran. Setiap pita yang
terlihat dikumpulkan dalam wadah yang terpisah,pisahyang pada per$obaan kali ini mengunakan
vial sejumlah 1 buah. /ika pita tidak kelihatan maka semua fraksinya harus ditampung pada
selang waktu yang teratur. Setiap fraksi dianalisis se$ara kromatografi kertas atau kromatografi
lapis tipis untuk menentukan fraksi mana yang dapat digabung (Sastrohamidjojo, )!!)".
%ari per$obaan kali ini seperti yang telah disebutkan sebelumnya diperoleh 1 vial, vial,
vial yang diperoleh diangin,ainginkan selama seminggu agar pekat dan mudah terdeteksi pada
waktu K23. Selanjutnya dari 1 vial yang diperoleh dilakukan uji K23 dengan menggunakan
eleuen n,heksana dan etil asetat dengan perbandingan '(), pertama,tama uji K23 dilakukan pada
vial dengan kelipatan ), yaitu vial ), ), 2, 4, ' dan 1. %ari . sampel via tersebut didapatkan
pada vial ) tidak mun$ul adanya noda yang mengindikasikan belum adanya terpenoid yang
terekstrak pada vial penampungan pertama ini, pada vial nomor ) mun$ul adanya noda dengan
jarak perpindahan sebesar ',5 $m yang menghasilkan nilai 6f sebesar ..)21, untuk vial nomor 2
diperoleh nilai 6f sebesar ,421, dan untuk vial nomor 4, ', dan 1 se$ara berurutan nilai 6f nya
adalah sebesar ,271, ,)1, dan ,)1. 8ial nomor ' dan 1 ini digabung dan merupakan fraksi *,
untuk vial,vial yang lain karena tidak menghasilkan noda yang sama maka dilakukan uji K23 pada
vial diantaranya, yaitu vial 1, )1, 21,dan 41 yang se$ara berurutan menunjukkan nilai 6f sebesar
(tidak mun$ul", ,2.5, 2)21, dan ,2)21. 8ia2 21 dan 41 ini digabung dan merupakan fraksi **.
Selanjutnya dilakukan lagi uji K23 pada vial diantaranya karena masih ada fraksi yang tidak sama
yaitu dilakukan uji pada vial no 5, )4, )5, 24, 25, 44, dan 45 yang menghasilkan nilai 6f se$ara
berurutan sebesar ,., ,'47, ,2471, ,)471, ,2471, ,221 dan ,)1. 8ial nomor 45 ini digabung
dengan vial nomor ' dan 1 karena mempunyai nilai 6f yang sama, sedangkan untuk vial nomor
)5 digabung dengan vial nomor 25, sehingga pada per$obaan kali ini diperoleh tiga fraksi berbeda.
9ji K23 merupakan uji kromatografi yang fase stasionernya berupa lapisan tipis suatu
adsorben yang dilapiskan pada pelat dan fase mobilnya adalah suatu $ampuran pelarut.
Ketika pelarut naik akibat aksi kapiler pada adsorben, komponen sampel terbawa dengan
ke$epatan yang berbeda dan dapat dilihat sebagai deretan titik,titik setelah pelatnya
dikeringkan dan diwarnai atau dilihat dibawah $ahaya ultraviolet (Sumawinata, 2'".
#ada praktikum kali ini pelat yang digunakan adalah plat dengan andsorban gel silika,
menurut -atson (2)" laju migrasi senyawa pada pelat gel silika tergantung pada
polaritasnya, pada lama waktu tertentu, senyawa,senyawa yang paling polar bergerak naik
dengan jarak paling pendek pada pelat tersebut, sedangkan senyawa yang polaritasnya paling
ke$il bergerak paling jauh.
Seperti yang telah disebutkan :ampuran pelarut (eluen" yang digunakan adalah
$ampuran antara n,heksana dan etil asetat dengan perbandingan '() ;erdasarkan hasil
perhitungan konstanta dielektrik diperoleh hasil ,!.. Konstanta dielektrik ini dapat
digunakan sebagai a$uan untuk penilaian kepolaran, semakin besar nilainya maka semakin
polar $ampuran pelarut atau eluen yang digunakan. Semakin polar suatu senyawa, semakin
besar mengadsorpsi (partisi ke dalam" fase diam gel silika, semakin sedikit waktu yang
dibutuhkan fase gerak untuk bergerak menaiki pelat sehingga semakin pendek jarak tempuh
senyawa tersebut menaiki pelat pada waktu tertentu. Kekuatan fase gerak tergantung pada
$ampuran pelarut khusus yang digunakan, semakin polar suatu pelarut atau $ampuran pelarut,
semakin jauh pelarut tersebut akan mengerakkan senyawa polar naik pada pelat gel silika
(-atson, 2)".
#engamatan pada per$obaan kali ini meliputi pengamatan pelat se$ara visual, pengamatan
dibawah $ahaya ultraviolet panjang gelombang 4.. nm, dan pengamatan setelah diwarnai
dengan reagen anisaldehid sulfat ketika pelatnya telah dikeringkan diatas hot plate selma .
menit. #ada pengamatan se$ara visual sebelum dilakukan pewarnaan pelat kering nampak
tidak bewarna, pengamatan dibawah $ahaya 98 pada panjang gelombang 4.. nm untuk plat
yang mun$ul noda tampak warna merah sedangkan untuk yang tidak mun$ul adanya noda
tidak memperlihatkan warna apapun. #ada pengamatan setelah disemprot dengan anisaldehit
sulfat dan dikeringkan diatas hot plkate selama . menit menghasilkan noda tunggal bewarna
ungu, yang mengindikasikan positif adanya terpenoid.
2. Kesimpulan
#ada per$obaan kali ini dilakukan fraksinasi ekstrak daun jambu biji dengan mengunakan
kromatografi yang menghasilkan tiga fraksi dengan nilai 6f yang berbeda, pada fraksi *
diperoleh nilai 6f ,)1 yaitu pada vial 45, ', dan 1, fraksi ** nilai 6f yang diperoleh
sebesar ,2)21 yaitu pada vial nomor 21 dan 41, dan untuk fraksi yang ketiga nilai yang
diperoleh adalah ,2471 yaitu pada vial )5 dan 25.
3. Lampiran perhitungan Konstranta Dielektrik
Kd < (,) = )." > (',' = '"
(). > '"
< ),. > )7,.
2
< ,!.
4. Reference
-agner, ?. and S. ;land. )!!.. Plant Drug Analysis; A Thin Layer Chromatography
Atlas. 2
nd
Edition. ;erlin ?eidelberg ( Springer.
Sumarno, ;. Soemantri, dan /. -. Ekoputro. 2!. +ntibakteri Ekstrak %aun /ambu
;iji (#sidium guajava 2." terhadap Staphylo$o$$us aureus se$ara in 8itro.
@akultas Kedokteran 9niversitas ;rawijya
Sastrohamidjojo, ?. )!!). Spektrosfotokopi, edisi kedua. Aogjakarta ( #enerbit
2iberty
Sumawinata, Barlan. 2'. Senarai *stilah Kedokteran Cigi, /akarta ( #enerbit ;uku
Kedokteran EC:
-atson, %avid C.2). +nalisis @armasi ( ;+ untuk Mahasiswa @armasi dan #raktisi
Kimia @armasi. /akarta ( #enerbit ;uku Kedokteran EC: