Anda di halaman 1dari 31

Tugas Manajemen FT Muskuloskeletal & Bedah

REVIEW MANAJEMEN FT
DISLOKASI PADA ACROMIOCLAVICULAR

OLEH
KELOMPOK 10
1. Dian Rumaishah (C13112004)
2. Reski Amaliah Usman (C13112103)
3. Leandra Erdina Usmany (C13112257)
4. Nurul Istya Magfirah (C13112268)

PROGRAM STUDI S1 FISIOTERAPI PROFESI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2014

DAFTAR ISI

BAB I

Daftar Isi

Glossarium

ii

Anatomi

A.. Anatomi Tulang


B. Anatomi Sendi
C. Anatomi Ligamen
D. Anatomi Bursa
E. Anatomi Otot
BAB II

Fisiologi

BAB III

Biomekanik
A. Osteokinematika
B. Arthrokinematika

BAB IV

Patologi
A. Definisi
B. Epidemologi
C. Etiologi
D. Patomekanisme
E. Gambaran Klinis
F. Diagnosis Banding

BAB V

Assesment FT

BAB IV

Intervensi FT & Evaluasi

Daftar Pustaka
Lembar Pengesahan

GLOSSARIUM
Coplanar

metode pemasangan pad/kondensator modalitas


fisioterapi dimana bagian/regio yang akan diterapi
berada diantara (diapit) kedua pad

DCO

Distal Clavicula Osteolysis, adalah hilangnya kalsium


tulang (pelarutan tulang) pada bagian ujung tulang
klavikula

Greater

permukaan cembung pada suatu bagian tulang.

Nyeri persisten

nyeri yang terus menerus

osteolysis

pelarutan

tulang,

khususnya

merujuk

pada

pembuangan atau hilangnya kalsium tulang


Radioghraphy

radiogrlafi sendi setelah penyuntikan bahan kontras


opak

BAB I
ANATOMI
A. ANATOMI TULANG
Komponen tulang pada Gambar 1.1. Komponen tulang
pada fungsional
shoulder girdle.

fungsional shoulder girdle yaitu


thorax

vertebra

atas,

tulang

rusuk

pertama

dan

kedua,

manubrium, skapula, klavikula,


dan

humerus. (Gambar 1.1).

Khusus untuk komponen sendi


akromioklavikular,

sendi

ini

terbentuk dari tulang akromion, yang merupakan


bagian

dari

skapula

dan

Sumber : Management of common


musculoskeletal disorders, 1996

klavikula.
Clavicula berbentuk S,

Gambar 1.2. Persendian


Akromioklavikular,
Sternoklavikular, dan
berbentuk konkaf pada sisi
Skapulothoracal dalam
keadaan istirahat
anterior (gambar 1.2). Hal ini

bagian

sepertiga

lateralnya

memungkinkan gerakan tambahan pada


saat elevasi pada tangan (lihat
biomekanik). (Darlene Hertling,
1996)

Sumber : Management of common


musculoskeletal disorders,
1996

B. ANATOMI SENDI
Permukaan
Permukaan

persendian

persendian

konkaf

clavicula
pada

adalah

konveks.

prosseus

akromion

menghadap medial dan terkadang secara anteroposterior. Sendi ini


berorientasi dengan cara ketika terdapat tekanan kuat yang dapat
menyebabkan

clavicula

mengendalikan

akromion

secara

berlebihan. (Darlene Hertling, 1996)


Sendi akromioklavikular (gambar 12-6) terbentang antara
bagian ujung lateral klavikula dan akromion pada skapula dan
pokok persoalan untuk beban yang terlalu tinggi diteruskan oleh
pembentuk otot dada ke ekstremitas atas. Ini juga merupakan sendi
sinovial, tetapi mempunyai susunan planar. Persendian diskus yang
berbentuk baji, yang fungsinya sangat tidak dipahami, ditemukan
didalam persatuan sendi dari aspek superior. Kedua sisi pada
permukaan sendi dilapisi oleh fibrocartilage dan sendi melengkung
secara inferomedial, menyebabkan ujung lateral klavikula agak
menggeser akromion. (Margareta Nordin, 2001)
C. ANATOMI LIGAMEN
Ligamen besar pada Gambar 1.3. Tampak anterior ligamen
sendi

akromioklavikula

(Gambar

1.3)

yaitu

sendi glenohumeral dan


akromioklavikular

ligamen

akromioklavikula superior dan


inferior

dan

ligamen

coracoklavikula.
Ligamen

trapezoid

terbentang agak horisontal pada


bidang frontal. Ligamen conoid
berhubungan

secara

vertikal,

pertengahan ligamen trapezoid,


dan

memutar

dibadannya.

(Darlene Hertling, 1996)

di
pada
Sumber : Management of common
musculoskeletal disorders, 1996

D. ANATOMI BURSA
a. Bursa Subakromial atau Subdeltoid
Bursa subakromial Gambar 1.4. (A) Bursa Subakromial
atau
memperpanjang
supraspinatus
otot

(subdeltoid) (B) Ketika


humerus elevasi.
Jaringan bursal
mengkerut dibawah
akromion.

subdeltoid
tendon
dan

distal

perut

dibawah

akromion dan otot deltoid. Saat terulur


terletak

dibawah

prosesus

coracoid (gambar 1.4). Ini terletak diatas


lengkungan

akromion

dan

dibawah

tendon rotator cuff dan greater tuberkulum.


(Darlene Hertling, 1996)

Sumber : Management of common


musculoskeletal disorders, 1996

b. Bursa Subskapular
Bursa subskapular
terbentang pada kapsul
sendi

anterior

dibawah
subskapularis.
berhubungan

Gambar 1.5. Bursa subskapula

dan
otot
Ini
dengan

kapsul sendi dan diisi oleh


warna pada arthrography.
(Gambar 1.5). (Darlene
Hertling, 1996)

5. ANATOMI OTOT

Sumber : Management of common


musculoskeletal disorders, 1996

Kelompok

otot

shoulder Gambar 1.6. Tampak anterior


memperlihatkan otot
bisa dilihat dalam lapisan-lapisan.

superficial (shoulder
kiri) dan otot bagian
dalam dibawah otot
deltoid dan pectoralis

Lapisan paling luar disusun oleh


deltoid

dan

(Gambar

pectoralis

1.6).

Bentuk

mayor
normal

deltoid, mengelili kontur shoulder


berbentuk
bagian

triangular,

anterior,

dan

dengan

middle,

dan

posterior. Setiap bagian deltoid


aktif

secara

berbeda

untuk

aktifitas spesifik. Deltoid berorigo


dari

lateral

ketiga

klavikula,

akromion, dan spina skapula dan


berinsersio

pada

aspek

Sumber : Margareta Nordin, 2001

anterolateral humerus. Bagian anterior berperan sebagai fleksor


kuat dan internal rotator pada humerus, bagian tengah sebagai
abduktor, dan bagian posterior sebagai ekstensor dan eksternal
rotator.
Pectoralis major terletak diatas dinding dada anterior dan
mempunya dua bagian, bagian kepala klavikula berorigo dari sisi
klavikula dan bagian sternokosta berorifo dari sternum, manubrium,
dan kartilago kosta atas. Dua kepala bertemu pada sendi
sternoklavikula.

Pectoralis

major

berinsersio

pada

alur

intertuberkular humerus dinatara tuberositas dan berperan sebagai


adduksi dan internal rotasi humerus. Kedua, bagian klavikula
berperan sebagai fleksor dan elevasi kedepan pada humerus ketika
bagian sternokostal mengekstensikan humerus. Pectoralis minor
terletak didalam pectoralis major, fungsinya sama penting dengan
stabilisasi skapula. Otot subklavius terletak dibagian inferior
klavikula dan membantu gerakan klavikula. Ini mempunyai origo
tendon dari aspek anteromedial pada tulang rusuk pertama dan

berinsersio pada permukaan dalam medial klavikula (Morrey & an,


1990).

BAB II
FISIOLOGI

Fungsi

shoulder Gambar 2.1. Persendian


Akromioklavikular,
secara adekuat, spina harus stabil.
Sendi

kompleks

akromioklavikular

Sternoklavikular, dan
Skapulothorakal dalam
keadaan (A) istirahat,
(B) retraksi dan (C)
protraksi

dan

sternoklavikular memberikan mobilitas


pada mekanisme skapulothorakal. Untuk
mencapai elevasi penuh pada lengan, thorax
vertebra atas harus bisa di ekstensi, rotasi, dan
membengkok di sisi ipsilateral, dan tubuh
pada tulang rusuk pertama dan kedua
harus bisa untuk turun, dan bergerak ke
arah posterior (dengan rotasi vertebra). Sendi
manubriosternal, costomanubrial, dan sternoklavikular
harus

mendukung

manubrium

untuk

membengkok dan berotasi pada sisi


ipsilateral.

Untuk

pernyataan

yang

elevasi

vertikal,

berlebihan

pada

lordosis lumbal akan menjadi penting dan dicapai


ketika ada gerakan pada otot tulang belakang.
Saat

lengan

diabduksi,

skapula

berputar

dengan cara sudut inferior berayun ke arah lateral dan


superior. Gerakan ini meningkatkan jarak
antara klavikula dan processus coracoideus,
menarik

tegang

ligamen

conoid.

Penguatan

ini

menyebabkan perputaran posterior atau eksternal


(dibelakang aksial) pada klavikula, membawa
sendi akromioklavikular kembali pada
posisinya

(karena

bentuk

pada

Sumber : Management of common


musculoskeletal disorders, 1996

klavikula). Ini penting untuk elevasi penuh pada lengan. Keadaan ini sama
ketika protraksi (gambar 2.1). (Darlene Hertling, 1996)

Ligamen

coracoacromial, Gambar 2.2. Tampak anterior ligamen


sendi glenohumeral dan
akromioklavikular

akromion, dan prossesus coracoideus


membentuk

perlindungan

penting

lengkungan didekat sendi glenohumeral.


Lengkungan

membentuk

rongga

yang

humerus,

mencegah

kepala

humerus

Lengkungan

ini

kedua

pengendalian
untuk

kepala

dislokasi

dibagian
bisa

pada

superior.

menjadi

lokasi

tertubruknya greater tuberculum, tendon


supraspinatus, atau bursa subdeltoid
dalam kasus mekanika sendi abnormal.

Sumber : Management of common


musculoskeletal disorders, 1996

Ligamen superior dan inferior memberi perlindungan pada sendi


dan membantu mencegah

perpindahan

clavicula

pada

acromion.

Walaupun terletak jauh dari sendi, ligamen coracoclavicular adalah yang


paling penting dalam memberikan stabilitas sendi acromioclavicular.
Ligamen trapezoid diposisikan agak horisontal pada bidang frontal
sehingga ini bisa mengurangi perpindahan, atau lateral, gerakan klavikula
pada akromion. Ini juga membantu mencegah arah berlebihan pada sudut
diantara acromion dan clavicula (tampak dari atas), dengan protraksi.
Secara primer ligamen conoid mencegah gerakan superior pada
clavicula di acromion; ini juga mecegah pelebaran berlebihan pada sudut
scapuloclavicular. Ligamen ini menggantung skapula dari klavikula dan
meneruskan tekanan pada serat superior pada trapezius skapula. Secara
anterior, ruang antar ligamen dilapisi oleh lemak dan sering kali bursa.
Diatas 30% pokok persoalan

komponen tulang mungkin agak

bertentangan dan mungkin membentuk sendi coracoclavicular. (Darlene


Hertling, 1996)
Fibrosus kapsul yang lemah mengurung sendi dan dikuatkan
secara

superior

oleh

ligamen

akromioklavikular.

Ligamen

akromioklavikular berperan secara primer untuk mengendalikan rotasi

aksial dan translasi posterior pada klavikula. Mayoritas pada stabilitas


sendi vertikal didukung oleh ligamen coracoklavikular yang menggantung
skapula dari klavikula (Fukuda et al., 1986). Ligamen coracoklavikular
terdiri dari ligamen coroid yang mengarah posteromedial dan trapezoid
yang mengarah anterolateral, yang dimana struktur berbeda yang
menyediakan fungsi biomekanik yang berbeda. Ligamen coroid yang lebih
kecil berperan untuk melimitasi perpindahan superior-inferior pada
klavikula. Bentuk quadrilateral trapezoid lebih besar dan lebih kuat
diantara kedua ligamen dan ditemukan pada lateral coroid; ini menahan
kompresi aksial atau gerakan axis horisontal. Ligamen coracoakromial
terbentang pada sisi lateral sendi akromioklavikular dan berjalan dari
kebanyakan aspek lateral pada coracoid ke aspek medial akromion.
(Margareta Nordin, 2001)
Diskus mencegah perpindahan medial pada klavikula, yang
mungkin akan timbul ketika membawa benda di satu sisi saja, sebaik-baik
perpindahan inferior melalui hubungan persendian. Meskipun struktur ini
berperan sebagai stabilisasi, struktur ini tetap mengikuti gerakan signifikan
termasuk diatas 50o aksial rotasi dan 35o untuk elevasi superior-inferior
dan translasi anterior-posterior.

BAB III
BIOMEKANIK

A. Osteokinematika
Acromioclavicular joint memberikan kontribusi pada gerakan
elevasi, depresi, protraksi, retraksi, dan rotasi.
Pada gerakan elevasi dimana scapula bergerak ke atas sejajar
vertebra, dapat dialkukan degan mengangkat bahu ke atas. Pada
gerakan depresi yaitu kembalinya bahu dari posisi elevasi, yaitu
gerakan vertikal disertai tilting atau pergeseran. Gerakan protraksi
yaitu gerakan ke lateral skapula menjauhi vertebra, gerakan ini dapat
terjadi ketika bahu melakukan gerakan mendorong ke depan. Retraksi
adalah gerakan skapula ke arah medial yang dapat dilakukan dengan
menarik bahu ke belakang.

B. Arthrokinematika
Saat scapula begerak, maka permukaan acromion akan
menggelincir dalam arah yang sama dengan arah gerak scapula,
sementara permukaan clavicula akan menggelincir ke arah
berlawanan dengan gerakan scapula. dimana permukaan sendi
bagian acromion konkaf dan permukaan sendi bagian distal clavicula
konveks.

Gerakan
Elevasi
Depresi
Protraksi
Retraksi
Rotasi

Arah
gelinciran
scapula/acomion
Superior
Inferior
Posterior
Anterior
spin

Arah
gelinciran
clavicula
Inferior
Superior
Anterior
Posterior
spin

BAB IV
PATOLOGI

A. Definisi
Dislokasi adalah cidera pada persendian yang mana kepala
tulang lepas atau bergeser dari mangkoknya. Faktor yang
meningkatkan
resiko
dislokasi
adalah
ligamen-ligamennya
yang kendor akibat pernah mengalami cedera, kekuatan otot yang
menurun ataupun karena factor eksternal yang berupa tekanan energi
dari luar yang melebihi ketahanan alamiah jaringan dalam tubuh
(Stevenson et al, 2000).
Dislokasi Acromioclavicular Joint adalah dislokasi yang
terjadi pada sendi antara ujung distal clavicula dengan acromion.
Dislokasi AC Joint dapat terjadi karena adanya ruptur ligamen
acromioclavicular dan ligamen coracoclavicular (Apley, 1993).

B. Epidemiologi
Dislokasi acromioclavucular joint kebanyakan terjadi pada
usia 15 40 tahun karena aktivitas olah raga dan kecelakaan lalu
lintas (Apley, 1993).
Cedera ini umumnya lebih sering terjadi pada laki-laki muda
dibanding perempuan dengan perbandingan 5:1 hingga 10:1 (O Levy,
2013).
Dislokasi acromioclavicular mewakili sekitar 40% dari cedera
bahu pada atlit. Cedera ini sering terjadi pada aktivitas olahraga
seperti hoki, rugby, sepak bola, gulat, dan lacrosse. Umumnya, lakilaki berpotensi 5 kali lebih sering mengalami cedera ini dibandingkan
perempuan dan tipe I serta tipe II 2 kali lebih sering terjadi dibanding
tipe lainnya (Kevin Yip, 2010).

C. Etiologi
Dislokasi acromioclavicular terjadi karena adanya strain
pada ligamen acromioclavicular yang disebabkan baik karena trauma

langsung, trauma tidak langsung, trauma yang berulang, serta karena


faktor patologi.
Penyebab paling umum terjadinya dislokasi acromioclaviular
ketika bahu membentur tanah, gaya dari scapula mendorong jatuh ke
bawah sementara clavicula yang melekat pada tulang rusuk tidak bisa
bergerak cukup untuk mengikuti gerakan scapula sehingga ligamen di
sekitar acromiocalvicular joint sobek dan terjadi dislokasi (Kevin Yip,
2010).
Sebagian besar kasus dislokasi acromioclavicular terjadi
karena trauma langsung, yakni terjatuh tepat pada bahu dimana
lengan dalam posisi ekstensi. Acromioclavicular joint beresiko
mengalami cedera karena posisinya dibawah subkutan dan tidak
banyak otot yang melindungi atau melekat padanya. Besarnya gaya
ketik terjatuh menetukan tingkat keparahan cedera dan struktur yang
terlibat. Biasanya gaya awal diserap oleh ligamen acromiovlavicularis.
Jika gaya cukup besar, ligamen coracoclavicular dan fascia
deltotrapezial ikut terpengaruh. Selain itu, trauma tidak langsung
seperti jatuh pada posisi siku tertekuk (elbow flexion) atau lengan
terentang (shoulder abduction), juga dapat mengakibatkan dislokasi
acromioclavicular (Kevin Yip, 2010).
Ketika seseorang jatuh dengan bahu bagian anterior, maka
akan ada gaya yang mendorong bahu tersebut ke arah posterior
sementara clavicula tetap berada di posisi anatominya, sehingga
menyebabkan ligamen acromioclavicular tertarik dan terjadi rupture.
Selain itu, penanganan yang kurang atau bahkan tidak tepat
dapat menyebabkan dislokasi berulang pada acromioclavicular joint
bahkan meningkatnya tingkat keparahan dari dislokasi sebelumnya.
Faktor patologis juga dapat meyebabkan terjadinya dislokasi
acromioclavicular joint seperti adanya tumor, arthritis, atau kondisi
DCO (Distal Clavicula Osteolysis) yang biasanya pada orang muda
yang mengangkat beban berat.

D. Patomekanisme
1. Klasifikasi

Cedera acromioclacicular joint paling sering diklasifikasikan


menggunakan sistem 6 tipe yang dijelaskan oleh Rockwood
(1998), tiga yang merupakan modifikasi sebelumnya sistem
klasifikasi 3 tipe yang dijelaskan oleh Allman (1967) dan dua dari
Tossy
(1963)
yang
memperhitungkan
tidak
hanya
acromioclavicular joint itu sendiri, tetapi juga ligamen
coracoclavicular, m.Deltoid dan m.Trapezius serta arah dislokasi
dari clavicula sehubungan dengan acromion. Pada dasarnya tipe
IV, V, dan VI adalah varian dari tipe III.
Adapun penjelasan dari keenam tipe tersebut sebagai
berikut:
a) Tipe I
Pada

ligamen

acromioclavicular

terjadi

stretch

yang

menyebabkan ligamen tersebut mengalami ketegangan dan


dapat juga menyebabkan ruptur parsial.
b) Tipe II
Pada ligamen acromioclavicular terjadi ruptur total dan
ligamen coracoclavicular terjadi rupture parsial.
c) Tipe III
Pada ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular terjadi
ruptur total, dan tulang clavicula terangkat ke atas.
d) Tipe IV
Pada ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular terjadi
ruptur total, dan tulang clavicula terdorong kea rah posterior.
e) Tipe V
Pada ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular terjadi
ruptur total, dan tulang clavicula mengalami ketidakstabilan.
f)

Tipe VI

Pada ligamen acromioclavicular dan coracoclavicular terjadi


ruptur total, dan tulang clavicula masuk diantara kepala
humerus dan tendon otot biceps dan coracobrachialis
Selanjutnya

Jeremy

Jones

dan

Frank

Gaillard

mendeskripsikan 6 tipe secara lebih detail sebagai berikut:

Tabel IV.1 Tipe dislokasi acromioclavicular joint

Type

AC

CC

Joint

ligamen

ligamen

capsule

t
Mild

t
intact

intact

m.Deltoid

m.Trapezius

Ket.

intact

intact

Tidak

sprain

ada

pergeseran
clavicula

II

ruptured

sprain

ruptured

Minimally

Minimally

acromion
Ada
pergeseran

detached

detached

dimana

clavicla

tidak
III

ruptured

ruptured

ruptured

dengan

detached

detached

melebuhi

puncak acromion
Ada
pergeseran
clavicula

lebih

tinggi dari puncak


acromin tapi jarak
CC

joint

kurang

dari dua kali yang


IV

ruptured

ruptured

ruptured

detached

detached

normal.
Clavicula ke posisi
posterior
mencederai

ruptured

ruptured

ruptured

detached

detached

m.Trapezius
Pergeseran
clavicula ke atas
lebih

tinggi

puncak

dari

acromin

tapi jarak CC joint


lebih dari dua kali
VI

ruptured

ruptured

ruptured

detached

detached

yang normal.
Clavicula ke posisi
inferior

diantara

m.Coracobrachialis
dan
m.Biceps

tendon

Sumber : data primer, 2014

Gambar IV.1 Tipe dislokasi acromioclavicular joint

2. Patofisiologi
Ruptur pada ligamen acromioclavicular yang disebabkan
oleh
trauma
yang
dapat
menyebabkan
dislokasi
acromioclavicular. Ketika seseorang jatuh dengan bahu bagian
anterior, maka akan ada gaya yang mendorong bahu tersebut ke
arah posterior sementara clavicula tetap berada di posisi
anatominya, sehingga menyebabkan ligament acromioclavicular
tertarik dan terjadi rupture.
Biasanya pada cedera acromioclavicular joint, gaya
awalnya pada ligamen acromioclavicular (keseleo ringan),
kemudian menekan ligamen coracoclavicular (keseleo moderat)
dan akhirnya jika gaya semakin menekan ke bawah cedera
berlangsung untuk merobek ligamen coracohumeral dan
kemudian fascia deltoidtrapezial. Pada titik ini ekstremitas atas

telah kehilangan dukungan suspensorium dan turun ke bawah (O


Levy, 2013).
Mekanisme yang paling umum untuk dislokasi
acromioclavicular adalah benturan langsung pada bagian
acromion dengan lengan adduksi.

3. Prognosis
Tingkat
kesembuhan
pada
kasus
acromioclavicular ini baik jika ditangani dengan benar.

dislokasi

Pada kasus cedera acromioclavicular joint tipe I dan II


mayoritas pasien akan pulih dan sebagian besar gejala akut akan
mereda setelah 7-10 hari, tetapi tinjauan literatur mengungkapkan
tingginya tingkat komplikasi (perlu operasi lebih lanjut, nyeri,
perubahan radiografi) setelah penanganan konservatif. Hal ini
bertentngan dengan persepsi umum yang menunjukkan bahwa
cedera tipe I dan II memiliki prognosis yang baik dan tidak
berhubungan dengan ketidakstabilan sendi. Cedera tipe I dan II
dapat menyebabkan nyeri persisten dan perubahan radiografi.
Gejala utama seperti nyeri hebat dan ketidakstabilan yang
membuat pasien mengurangi kinerja atau berhenti olahraga, naik
9% untuk tipe I, dan mencapai 42% untuk tipe II. Perubahan
radiografi yang dicatat ditemukan 70% pada pasien cedera tipe I
dan 75% pada tipe II. Selain itu, sebanyak 6% dari kasus cedera
acromioclavicular joint tipe I hingga tipe III ditemukan osteolysis
distal claviucula. Adanya kelemahan ditemukan pada 33%.
Beberapa pasien juga memiliki kelemahan yang signifikan pada
gerakan abduksi horizontal. Cedera yang terjadi dapat
menyebabkan rupturnya ligamen, kerusakan pada kapsul, lesi
meniscus dan cartilage. Oleh karena itu, perubahan degeneratif
akibat trauma berualang dapat terjadi.
Komplikasi yang sama dapat terjadi pada cedera
acromioclavicular joint tipe III-VI. Selain itu, adanya ketidakstabilan
sendi ditambah penurunan kerja bahu dan biomekanik yang
abnormal, pasien juga mungkin mengeluh deformitas parah pada
acromioclavicular joint dan nyeri leher ketika traksi dan saraf pada
pleksus brachialis. Ada penurunan signifikan kekuatan abduksi
horizontal pada kecepatan cepat (24%). Namun, secara

keseluruhan 87% cedera tipe III menunjukkan hasil yang


memuaskan dengan penanganan konservatif.
Meremehkan tingkat keparahan cedera acromioclavicular
joint dapat menyebabkan kececatan lebih kronis, terutama pada
atlet dan pekerja berat yang mengandalkan bahu mereka seharihari. Untuk beberapa kasus, reseksi arthriplasty acromioclavicular
mungkin dibutuhkan. Namun, 50% dari pasien dapat sembuh baik
setelah 6 tahun (O Levy, 2013)

E. Gambaran klinis
Secara umum, gambaran klinis dislokasi acromioclavicular
joint yakni nyeri pada bahu bagian atas serta terlihat adanya tonjolan
di bagian atas bahu serta tanda imflamasi.
Pasien mengalami nyeri di atas sendi acromioclavicular.
Terjadi pembengkakan, memar, dan clavicula menonjol secara jelas.
Ada onset akut lokal pembengkakan dan nyeri di sendi acromioklavikularis dengan atau tanpa deformasi segera (kevin yip, 2010).

F. Diagnisis banding
Keluhan pasien serta gambaran klinis berupa nyeri pada
bahu bagian atas, adanya tonjolan di bagian atas bahu, serta gejala
imflamasi terkadang menyulitkan untuk mendiagnosis pasien
mengalami dislokasi acromioclavicular joint karena keluhan yang
sama secara umum ditemukan pada kasus fraktur distal clavicula,
fraktur pada processus coracoideus. Untuk itu, diperlukan
pemeriksaan radiologi untuk men diagnosis secara akurat.

BAB V
ASSESMENT FISIOTERAPI

A. Pengumpulan Data Umum Pasien


Nama
: Muh. Alwi
Temat tanggal lahir

: Pare-pare, 9 Juni 1980

Umur

: 34 tahun

Pekerjaan

: pedagang hiasan dinding keliling

Alamat

: jl. Bung

Status

: menikah

Hobby

: memancing

Pendidikan terakhir

: SMA

Vital sign
Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Denyut nadi

: 80x/menit

Pernapasan

: 20xmenit

Tinggi badan

: 168 cm

Berat badan

: 58 kg

B. Pemeriksaan Model CHARTS


1. Chief of Complaint
Nyeri pada bahu kanan atas
2. History Taking
a) Sejak kapan?
1 minggu yang lalu
b) Kenapa bisa terjadi?
Terjatuh dari sepeda
c) Bisakah anda menceritakan proses terjadinya?
Pada saat itu saya mengendarai sepeda, saya tidak melihat
ada batu dan saya terjatuh ke kanan. Bahu kanan saya
membentur tepi trotoar.
d) Gerakan seperti apa yang menyebabkan nyeri bertambah?
Ketika mengangkat bahu, terlebih ketika mengangkat tangan

e) Sudah pernah ke dokter?


sudah
f)

Mengomsumsi obat atau tidak?


Iyya, tetapi nyeri masih ada

g) Pernah difoto? Jenis foto?


Ya, katanya X-ray
h) Bagaimana hasil hasil fotonya? Bisa saya lihat?
Kata dokter, ada pergeseran kecil pada tulang bagian bahu
i)

Bagaimana perasaan anda setelah terkena penyakit ini?


Cemas karena saya tidak bisa bekerja karena ini

j)

Bagaimana perhatian keluarga anda terhapap sakit anda saat


ini?
Keluarga saya baik, istri saya mengurus saya dengan baik

k) Apakah anda berani menggerakkan bahu anda yang sakit


saat ini?
Saya tidak berani, kata dokter bahu saya tidak boleh
digerakkan selama 5-6 minggu.

3. Assymetric
a) Inspeksi statis
Pasien duduk dengan perban elastis (collar and cuff) pada
tangan kanan dengan raut wajah yang tampak cemas.
Bahu kanan lebih tinggi dibanding bahu kiri.
Acromion, clavicula, scapula kanan lebih tinggi di banding
bagian kiri.
b) Inspeksi dinamis
Pasien merasa kesakitan ketika menggerakkan bahu.
c) PFGD

Regio

shoulder

gerakan
fleksi

Dextra
abnorma

Aktif
sinistra
normal

PFGD
Pasif
Dextra
abnorma

Sinistra
normal

TIMT
dextra
-

sinistra
normal

ekstensi

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

abduksi

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

adduksi

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

eksorotasi

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

endorotas

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

i
elevasi

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

depresi

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

protraksi

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

retraksi

l
abnorma

normal

l
abnorma

normal

normal

d) Palpasi
Adanya nyeri, oedem, warna kemerahan, suhu agak hangat

4. Restrictives
a) Limitasi ROM
b) Limitasi ADL (eating, dressing)
c) Limitasi pekerjaan (tidak bisa bekerja, berjualan hiasan
dinding keliling yang dipikul pada bahu)
d) Limitasi rekreasi (tidak bisa memancing)

5. Tissue Impairment and Psychogenic Predictio


Berdasarkan interpretasi C, H, A, R, yang mengalami gangguan
adalah osteoarthrogen yaitu dislokasi acromioclvicular joint dan
psikogenik yaitu adanya rasa cemas.

6. Specific Test
a) VAS
Diam: hasil

:0

Interpretasi

: tidak nyeri

Gerak : hasil

: 7,5

Interpretasi

: nyeri berat

b) Hamilton depression scale

no
1

kemampuan
Keadaan
perasaan sedih
(sedih, putus
asa, tak
berdaya, tak
berguna)
Perasaan
bersalah

pemilaian
1 = perasaan ini adahanya bila
ditanya

0=tidak ada

3
4
5
6
7
8

9
10

11
12
13
14

15

Bunuh diri
Gangguan pola
tidur (initial
insomnia)
Gangguan pola
tidur (middle
insomnia)
Gangguan pola
tidur (late
insomnia)
Kerja dan
kegiatankegiatannya
Kelambanan
(lambat dalam
berfikir,
berbicara gagal,
berkonsentrasi
dan aktivitas
motorik
menurun)
kegelisahan
Kecemasan
(ansietas
somatik)

Kecemasan
(ansietas psikis)
Gejala somatik
(pencernaan)
Gejala somatik
(umum)
Kotamil (genitl
dial)

Hipokondriasis
(keluhan
somatik fisik
yang berpindahpindah)

0=tidak ada
0=tidak ada
0=tidak ada
0=tidak ada
4=tidak
sakitnya

bekerja

karena

0=normal

1=kegelisahan ringan
Sakit nyeri otot-otot,kaku,dan
keduten
otot,gigi
gemerutuk,suara
tidak
stabil,tinitus(telinga
berdenging),penglihatan
kabur,muka
merah
atau
pucat,lemas,perasaan di tusuk
tusuk
1=ringan
3=sikap kekhawatiran hal hal
kecil
0=tidk ada
0=tidak ada
Sering buat air kecil terutama
malam air di kala tidur,tidak
haid,darah
haid
sedikit
sekali,tidak gairah seksual
dingin,ereksi hilang,impotensi
0=tidak ada
0=tidak ada

16
17
18

19

20
21

Kehilangan
berat badan
Insight
(pemahaman
diri)
Variasi harian

Depersonalisasi
(perasaan diri
berubah) dan
derelisiasi
(perasaan tidak
nyata dan tidak
realistis)
Gejala Paranoid
Gejala Obsesi
dan Kompulsi

0=tidak ada
0=mengetahui
dan cemas

dirinya

sakit

Adakah
perubahan
atau
keadaan
yang
memburuk
pada waktu malam dan pagiak
ada
0=tidak ada
1=ringan

0=tidak ada
0=tidak ada

Hasil

: 11

Interpretasi

: depresi ringan

c) Indeks katz

ADL
bathing

Dapat
mengerjan
sendiri

Dressing

Seluruhnya
tanpa
bantuan

Going to
toilet

Dapat pergi
ke WC dan
dapat
mengerjaka
n sendiri
Tanpa
bantuan

Transfer

penilaian
Sebagian/pad
a bagian
tertentu
dibantu
Sebagian/pad
a bagian
tertentu
dibantu
Dapat pergi ke
WC tetapi
memerlukan
bantuan ke
WC
Dapat
melakukan
dengan
bantuan

Sebagian
besar/seluruhny
a dibantu
Sebagian
besar/seluruhnya
dibantu
Tidak dapat pergi
ke WC

Tidak dapat
melakukan

Continenc
e (bladder
and bowel

Dapat
mengontrol

feeding

Dapat
melakukan
tanpa
bantuan

Kadangkadang
ngompol/BAB
di tempat tidur
Makan dapat
sendiri kecusli
hal-hal
tertentu

Dibantu
seluruhnya
(dengan
kateter/manual)
Seluruhnya
dibantu

Interpretasi : D=mandiri, kecuali mandi, berpakaian


dan 1 fungsi lainnya

d) ROM exercise
Dilakuakn untuk mendeteksi adanya gangguan
gerakan fungsi gerak pada persendian pasien. ROM yang
terbatas memberikan informasi adanya gangguan pada
persendian pasien.
Pada kasus pasien ini, pengukuran ROM tidak
dilakukan karena pada fase immobilisasi.

e) MMT
Menilai kualitas grup otot penggerak shoulder tetapi lebih
khusus pada elevasi, depresi, protraksi, retraksi.

skor
5

Kategori
Normal

Baik

3+

Cukup+

Cukup

3-

Cukup-

interpretasi
Full ROM
menahan tahanan
maksimum
Full ROM
menahan tahanan
sedang
Full ROM
menahan gravitasi
dan mampu
meawan tahanan
minimum
Full ROM
menahan gravitasi
Gerakan full ROM
tanpa pengaruh
gravitasi, lebih dari

f)

2+

Lemah+

Lemah

2-

Lemah-

Sangat lemah

Tidak ada
kekuatan sama
sekali

separuh ROM
melawan gravitasi
Gerakan full ROM
tanpa pengaruh
gravitasi, kurang
dari separuh ROM
melawan gravitasi
Gerakan full ROM
tanpa pengaruh
gravitasi
Gerakan parsial
ROM tanpa
pengaruh grafitasi
Sedikit kontraksi
(inspeksi atau
palpasi) tapi
tidak ada
gerakan sendi
Tdak ada
kontraksi sama
sekali (baik
inspeksi maupun
palpasi)

Adduction

g) pemeriksaan radiologi
C. Diagnosis Fisioterapi
Gangguan fungisional bahu karena dislokasi acromioclavicular joint 1
minggu yang lalu
D. Problem Fisioterapi
tes spesifik lain seperti active compression test, AC shear test,
horizontal
1. Primer
: nyeri
2. Sekunder : cemas, limitasi ROM, kelemahan otot, stifness
3. Kompleks : gangguan ADL, pekerjaan, rekreasi.

BAB VI

INTERVENSI DAN EVALUASI

A. INTERVENSI
No
1

problem
cemas

modalitas
Komunikasi
terapeutik

Nyeri

interferensi

Limitasi
ROM

exercise

Kelemahan
otot

exercise

Gangguan
ADL

exercise

dosis
F=3x sehari
I=fokus
T=wawancara dan
motivasi
T=5-10menit
F= 3x/minggu
I=30mA
T=Contraplanar
T=15 menit
F=1x/hari
I=3x repetisi
T=aromex,promex
T=2-3 menit
F=1x/hari
I=3xrepetisi
T=strengthening
T=2-3 menit
F= 1xsehari
I= 8x repetisi
T=PNF
T=5 menit

B. EVALUASI
problem
Cemas
Nyeri
Limitasi
ROM
Kelemahan
otot
Gangguan
ADL

parameter
Hamilton
scale
VAS
Goniometer
MMT
Indeks Katz

pre
11

post
8

interpretasi
menurun

7,5

5,5

menurun

DAFTAR PUSTAKA

Helmi, Zairin Noor. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta:


Salemba Medika.
Ansar dan Sudaryanto. 2000. Diktat Biomekanik. Makassar: Akademi
Fisioterapi Depkes.
Aras, Djohan. 2013. Buku Ajar Mata Kuliah Proses dan Pengukuran
Fisioterapi. Makassar: Program Studi S1 Fisioterapi Fakultas
Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Aras, Djohan, dkk.2013. Tes Spesifik Muskuloskeletal. Makassar:
Fisiocare Publishing.
Kisner, C. dan A.C. Lyn. 2007. Therapeutic Exercise. Philadeplhia: Davis
Company.
Dorland, W. A. Newman. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 28.
Jakarta: EGC.
Levy, O. 2013. AC Joint Dislocation Classification and Natural History,
http://www.shoulderdoc.co.uk, (diakses pada 01 Maret 2014 pukul
23.10 WITA)
Jones, J. dan Gaillard, F. 2013. Acromioclavicular Joint Injury
(Classification) Rockwood,
http://radiopaedia.org/articles/acromioclavicular-joint-injuryclassification-rockwood, (diakses pada 01 Maret 2014 pukul 22.54
WITA)
Yip, Kevin. 2010. Acromioclavicular Dislocation,
http://indonesian.orthopaedicclinic.com.sg, (diakses pada 28 Febriari
2014 pukul 20.25 WITA)