Anda di halaman 1dari 92

Laporan Akhir

Analisis Kawasan Lindung


DAS Cisadane-Angke-Ciliwung


































Asisten Deputi Urusan Data dan Informasi
Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Desember 2007

Laporan Akhir

Analisis Kawasan Lindung
DAS Cisadane-Angke-Ciliwung






Penanggung Jawab
Ir. Isa Karmisa Ardiputra
Dra. Siti Aini Hanum, M.A.
Ir. Hari Wibowo

Penyusun
Harimurti, S.P., M.A.
Solichin, S.Hut., M.Sc.
Adi Fajar Ramly, S.Pi., M.M.
Heru Subroto













Asisten Deputi Bidang Data dan Informasi
Deputi Bidang Pembinaan Sarana Teknis dan Peningkatan Kapasitas
Kementerian Negara Lingkungan Hidup
Desember 2007


Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Ringkasan Eksekutif

Laporan ini merupakan laporan akhir hasil kegiatan analisis kawasan lindung
di daerah aliran sungai Cisadane, Ciliwung dan Angke. Kegiatan analisis ini
meliputi kajian aspek hukum terkait dengan penataan ruang dan penetapan
kawasan lindung. Selanjutnya berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
dilakukan upaya pemetaan secara spasial untuk kawasan-kawasan lindung
tersebut. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah melakukan kajian luasan dan
kondisi kawasan lindung serta menyediakan pedoman bagi pemerintah daerah
agar dapat menerapkan kegiatan ini terkait dengan perencanaan tata ruang
dan pembangunan wilayah yang berkelanjutan.

Pengelolaan kawasan lindung secara khusus diatur oleh Keputusan Presiden
nomor 32 tahun 1990. Kebijakan tersebut disusun sebagai pedoman
pengelolaan kawasan lindung di dalam pengembangan pola tata ruang
wilayah. Undang-undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang juga
menyebutkan keharusan penetapan kawasan lindung selain kawasan
budidaya. Selain itu juga terdapat peraturan-peraturan terkait lainnya yang
digunakan sebagai dasar analisis.

Berdasarkan kajian peraturan, kawasan lindung dibagi menjadi 7 kelompok
yaitu:
1. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya yang
meliputi hutan lindung, daerah resapan air dan lahan gambut.
2. Kawasan perlindungan setempat meliputi sempadan pantai, sempadan
sungai, kawasan sekitar danau/waduk, kawasan sekitar mata air dan
ruang terbuka hijau.
3. Kawasan suaka alam yang meliputi cagar alam dan suaka margasatwa.
4. Kawasan pelestarian alam yang meliputi taman nasional, taman wisata
alam dan taman hutan raya.
5. Kawasan cagar budaya meliputi situs budaya dan geologi.
6. Kawasan rawan bencana alam meliputi bencana gunung berapi, bencana
longsor, bencana banjir, gelombang pasang dan gempa bumi.
Kementrian Negara Lingkungan Hidup i
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
7. Kawasan lindung lainnya meliputi taman buru, cagar biosfer, kawasan
pelestarian plasma nutfah, daerah pengungsian satwa, kawasan berhutan
bakau dan terumbu karang.

Berdasarkan analisis yang dilakukan, luas kawasan lindung di DAS Cisadane
hampir mencapai 59 ribu hektar atau 36,6% dari luas total DAS. Sedangkan
kawasan lindung di DAS Ciliwung dan Angke hanya seluas 23 ribu hektar
atau hanya sekitar 23% dari luas DASnya.

Luas hutan di DAS Ciliwung-Angke sangat jauh dari syarat minimal luas
kawasan hutan dalam suatu DAS, yaitu hanya 4,5 persen. Dalam Pasal 17 ayat
5 Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dijelaskan
bahwa luas minimal kawasan hutan dalam suatu DAS adalah 30%. Walaupun
di dalam UU Kehutanan No 41/1999, luas minimal juga dapat didasari atas
luas total pulau. Luas kawasan hutan di DAS Cisadane juga masih dibawah
proporsi yang ditetapkan dalam undang-undang yaitu sebesar 17,1 persen.

Sebagian besar daerah DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke didominasi oleh
tipe penutupan lahan kebun campur. Lebih dari 45% DAS Cisadane berupa
kebun campur, sementara jenis penutupan hutan kurang dari 23% dan
pemukiman lebih dari 15%. Sebagian besar areal berhutan berada di kawasan
Taman Nasional Gunung Salak Halimun.

Kondisi DAS Ciliwung dan Angke tidak lebih baik dari DAS Cisadane.
Penutupan hutan pada DAS ini hanya dibawah 10% yang sebagian besar
berada di kawasan puncak. Sedangkan luas pemukiman mencapai 44% dari
luas total DAS Cisadane dan Angke, mengingat kedua sungai ini melintasi
provinsi DKI yang merupakan kota metropolitan. Lebih dari 37% kawasan
lindung DAS Ciliwung Angke berada di Kota DKI Jakarta. Kondisi tersebut
menjadi salah satu alasan mengapa masalah banjir di DKI Jakarta sangat sulit
diatasi.

Pemukiman di kawasan lindung DAS Ciliwung Angke menutupi 33% atau
hampir mencapai 8 ribu hektar dari luas DAS. Berbeda dengan kawasan
Kementrian Negara Lingkungan Hidup ii
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
lindung DAS Cisadane yang hanya ditutupi pemukiman sebanyak 9 persen
dari luas total DAS. Selain itu keberadaan mangrove di kedua DAS tersebut
sangatlah terbatas dalam jumlah yang sangat kecil. Lebih dari 65% kawasan
hutan di DAS Cisadane dan DAS Ciliwung-Angke masih ditutupi oleh areal
berhutan. Sebagian besar kawasan ini berada di dua taman nasional yaitu TN
Gede Pangrango dan TN Salak Halimun yang merupakan ekosistem gunung
yang berada di bagian selatan kedua DAS.

Banyak data spasial yang diperlukan untuk penentuan kawasan lindung
berdasarkan peraturan, masih belum tersedia. Antara lain, data penyebaran
sungai bertanggul, penyebaran mata air, data pasang surut di sepanjang hutan
bakau, penyebaran laha gambut dengan kedalaman lebih dari 3 m, kawasan
pelestarian plasma nutfah, kawasan pengungsian satwa, batas cagar biosfer.
Selain itu tidak adanya pedoman teknis pelaksanaan pemetaan beberapa
kawasan lindung, antara lain kawasan rawan bencana alam dan daerah
resapan air, juga menyebabkan kesulitan bagi pihak pemerintah daerah di
dalam upaya pemetaannya. Beberapa peraturan bahkan tumpang tindih di
dalam menetapkan kriteria kawasan lindung. Salah satu contoh adalah,
kriteria luas minimal ruang terbuka hijau menurut Kepmendagri No. 1/2007
adalah sebesar 20 persen, sedangkan berdasarkan UU 26/2007 sebesar 30
persen.

Banyak kasus dimana kawasan lindung masih belum dimasukkan ke dalam
peta tata ruang wilayah. Padahal undang-undang tentang penataan ruang, baik
UU No 24/1992 maupun UU No 47/1997, secara tegas telah menetapkan
bahwa pemanfaatan ruang wilayah dibagi atas dua fungsi utama yaitu
kawasan budidaya dan kawasan lindung. Banyaknya peraturan yang tumpang
tindih yang dikeluarkan oleh berbagai sektor menyebabkan ambiguitas di
dalam penerapan penetapapan kawasan lindung. Untuk itu diperlukan upaya
untuk mendorong instansi terkait untuk duduk bersama membahas peraturan
yang saling tumpang tindih atau peraturan pelaksana yang mengatur lebih
lanjut hal-hal terkait dengan kawasan lindung.. Koordinasi antar sektor,
karenanya sangat lah penting untuk menghindari penyalahgunaan pola
Kementrian Negara Lingkungan Hidup iii
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
pemanfaatan ruang yang dapat merusak lingkungan. Di atas semuanya,
diperlukan komitmen yang tinggi dari semua pihak.
Kementrian Negara Lingkungan Hidup iv
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Kata Pengantar

Pengelolaan kawasan lindung merupakan salah satu prasyarat utama di dalam
pembangunan daerah yang berkelanjutan. Kurangnya komitmen pemerintah di dalam
perlindungan kawasan lindung salah satunya disebabkan karena kurang pahamnya
pengambil keputusan mengenai fungsi dan manfaat kawasan lindung. Yang pada
akhirnya hanya menjadikan pembangunan secara berkelanjutan sebagai jargon. Selain
itu, kurangnya sosialisasi dan pemahaman tentang kawasan lindung juga menjadikan
pemerintah daerah kurang terpicu dalam mengintegrasikan kawasan lindung secara
komprehensif ke dalam peta tata ruang wilayahnya masing-masing.

Laporan ini merupakan laporan kegiatan analisis spasial kawasan lindung. Penetapan
dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan berdasarkan peraturan-peraturan
yang berlaku, khususnya terkait dengan kawasan lindung dan penataan ruang. Sebuah
pedoman teknis menggunakan aplikasi GIS juga disusun sebagai salah satu keluaran
dari kegiatan ini. Pedoman tersebut dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk
memetakan kawasan lindung di wilayahnya masing-masing.




Jakarta, Desember 2007





Kementrian Negara Lingkungan Hidup v
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Daftar Isi

Ringkasan Eksekutif .......................................................................................................... i
Kata Pengantar.................................................................................................................. v
Daftar Isi .......................................................................................................................... vi
Daftar Tabel .................................................................................................................... vii
Daftar Gambar ...............................................................................................................viii
Daftar Lampiran.............................................................................................................. iix
Pendahuluan...................................................................................................................... 1
1.1. Latar Belakang....................................................................................................... 1
1.2. Tujuan.................................................................................................................... 3
1.3. Maksud................................................................................................................... 3
1.4. Ruang Lingkup ...................................................................................................... 3
Penetapan Kawasan Lindung.......................................................................................... 4
2.1. Kajian Hukum........................................................................................................ 4
2.1.1. Pengelompokkan Kawasan Lindung .............................................................. 5
2.1.2. Kriteria Kawasan Lindung.............................................................................. 6
2.2. Penetapan Kawasan Lindung secara Spasial ....................................................... 17
2.2.1. Penerapan Kriteria menjadi Data Spasial ..................................................... 17
2.2.2. Data yang Digunakan.................................................................................... 29
2.2.3. Software yang Digunakan............................................................................. 31
Hasil Analisis.................................................................................................................. 32
3.1. Penentuan Daerah Aliran Sungai ......................................................................... 32
3.1.1. Model Elevasi Dijital .................................................................................... 32
3.1.2. Batas DAS Cisadane-Angke-Ciliwung......................................................... 33
3.2. Pemetaan Kawasan Lindung................................................................................ 34
3.2. Analisis Tutupan Lahan melalui Interpretasi Citra Satelit................................... 35
3.3.1. Analisa Tutupan Lahan di Kawasan Lindung............................................... 36
3.3.2. Analisa Tutupan Lahan di Kawasan Hutan .................................................. 37
Pembahasan .................................................................................................................... 39
4.1. Ketersediaan Data................................................................................................ 39
4.2. Pedoman Teknis................................................................................................... 41
4.3. Peraturan dan Implementasi................................................................................. 42
4.4. Fungsi dan Kondisi Kawasan Lindung................................................................ 44
4.5. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung......................................... 48
Kesimpulan dan Rekomendasi....................................................................................... 51
Literatur .......................................................................................................................... 54
Lampiran......................................................................................................................... 55

Kementrian Negara Lingkungan Hidup vi
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Daftar Tabel

Tabel 1. Nilai Skor Faktor Kelerengan Lapangan ............................................................ 7
Tabel 2. Nilai Skor Faktor Jenis Tanah Menurut Kepekaannya Terhadap Erosi ............. 7
Tabel 3. Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Intensitas Hujan Harian RataRata............... 7
Tabel 4. Matriks penyusunan data spasial kawasan lindung berdasarkan kriteria
yang berlaku...................................................................................................... 19
Tabel 5. Perbedaan luas DAS hasil analisis batas menggunakan data
topografi dan DEM........................................................................................... 33
Tabel 6. Luas kawasan lindung dan non lindung............................................................ 34
Tabel 7. Luas dan persentase kawasan hutan dan non kawasan hutan........................... 34
Tabel 8. Tutuan lahan hasil klasifikasi citra Landsat 5 tahun 2007................................ 35
Tabel 9. Penyebaran kawasan lindung DAS Ciasadane dan Ciliwung
berdasarkan batas administratif......................................................................... 36
Tabel 10. Tutupan lahan di kawasan lindung tahun 2007 .............................................. 36
Tabel 11. Tutupan lahan di kawasan hutan tahun 2007.................................................. 38
Tabel 12. Fungsi dan Kondisi Ideal Kawasan Lindung.................................................. 46

Kementrian Negara Lingkungan Hidup vii
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Daftar Gambar

Gambar 1. Diagram alir pemetaan kawasan lindung menggunakan data
yang telah tersedia......................................................................................... 30
Gambar 2. Diagram alir penentuan batas DAS menggunakan data topografi RBI. ....... 32
Gambar 3. Perbandingan batas DAS hasil dijitasi visual dan analisis dijital DEM. ...... 34
Gambar 4. Cagar Biosfer di Indonesia yang termasuk dalam UNESCOs Biosphere
Reserves (www.unesco.org). ........................................................................ 41
Gambar 5. Kondisi Sungai Ciapus yang merupakan bagian hulu DAS Cisadane.......... 45


Kementrian Negara Lingkungan Hidup viii
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Daftar Lampiran

Lampiran 1. Policy Memo Kajian Pemetaan Kawasan Lindung sesuai Peraturan......... 55
Lampiran 2. Policy Memo Pemantauan Tata Ruang Wilayah........................................ 59
Lampiran 3. Notulen Diskusi 1....................................................................................... 62
Lampiran 4. Notulen Diskusi 2....................................................................................... 63
Lampiran 5. Matriks Analisis Kawasan Lindung (Full) ................................................. 64
Kementrian Negara Lingkungan Hidup ix
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Pendahuluan


1.1. Latar Belakang
Manusia dan lingkungan memiliki hubungan yang tidak dapat terpisahkan.
Manusia sangat bergantung kepada lingkungan yang memberikan
sumberdaya alam untuk tetap bertahan hidup. Mengingat adanya keterbatasan
daya dukung (carrying capacity) lingkungan, manusia harus memperhatikan
kelestarian lingkungan agar fungsi-fungsi lingkungan masih dapat berjalan
sehingga tetap memberikan keuntungan bagi manusia. Eksploitasi
sumberdaya alam ataupun perusakkan lingkungan atas nama pembangunan
yang berlebihan karenanya akan berdampak buruk bagi kualitas lingkungan
dalam menjalankan fungsinya yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas
hidup dan bahkan keberlangsungan hidup manusia.

Pemanfaatan sumberdaya alam serta pelestarian lingkungan perlu diatur
untuk menghindari kerusakkan lingkungan atau bencana lingkungan sehingga
pembangunan dan kelestarian lingkungan dapat secara sinergis berjalan
bersamaan. Banyak produk hukum dibuat oleh pemerintah terkait dengan
pengelolaan sumberdaya alam maupun pelestarian lingkungan, namun
exploitasi sumberdaya alam masih terjadi secara besar-besaran tanpa
memperhatikan kemampuan alam untuk memperbaiki diri.

Salah satu contoh nyata adalah pemanfaatan hasil hutan alam di luar pulau
Jawa. Deforestasi dan degradasi hutan terjadi akibat pembalakan berlebihan
dan pembalakan liar (illegal logging), sebagian besar hutan alam tidak berada
dalam kondisi suksesi klimaks yang berfungsi melindungi kelestarian
lingkungan. Kondisi demikian menyebabkan hutan yang terdegradasi dan
rusak menjadi rentan terhadap kebakaran. Kebakaran hutan dan lahan
menjadi bencana yang mulai sering terjadi dan berdampak sangat buruk
terhadap kesehatan dan kualitas hidup manusia. Dampak yang ditimbulkan
tidak hanya bersifat lokal dan temporer. Asap lintas batas (transboundary
Pendahuluan_
1
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
haze) menjadi masalah yang membatasi keharmonisan dengan negara
tetangga, selain itu pelepasan karbon akibat kebakaran mencapai nilai yang
hampir setara dengan emisi yang dikeluarkan oleh negara industri. Perubahan
iklim akibat pemanasan global memberikan dampak merugikan secara jangka
panjang, khususnya bagi negara kepulauan seperti Indonesia.

Pengaturan pelestarian lingkungan juga perlu diperhatikan di dalam
pengaturan tata ruang. Berbagai kebijakan pemerintah cukup jelas dan tegas
mengatur tata ruang pengembangan wilayah baik dari tingkat nasional,
provinsi dan kabupaten atau kota dengan memperhatikan aspek lingkungan
ke dalam penataan ruang wilayah yang harus dilindungi untuk kepentingan
kelestarian fungsi lingkungan. Kawasan lindung dan kawasan budidaya
ditetapkan untuk menjaga keharmonisan antara pembangunan daerah dengan
kelestarian fungsi lingkungan. Pengelolaan kawasan lindung secara khusus
diatur oleh Keputusan Presiden nomor 32 tahun 1990. Kebijakan tersebut
disusun sebagai pedoman pengelolaan kawasan lindung di dalam
pengembangan pola tata ruang wilayah. Undang-undang No 26 tahun 2007
tentang Penataan Ruang juga menyebutkan keharusan penetapan kawasan
lindung selain kawasan budidaya.

Kelemahan di dalam upaya pengendalian penerapan rencana tata ruang
menjadi kendala utama di dalam menjamin kelestarian fungsi kawasan
lindung yang telah ditetapkan sebelumnya. Tanpa adanya informasi yang
aktual dan valid terkait dengan kondisi kawasan lindung juga akan
menyulitkan upaya pengendalian tata ruang. Karenanya sistem pemantauan
secara reguler perlu dikembangkan untuk mengetahui apakah rencana tata
ruang yang dibuat sesuai dengan kondisi di lapangan, bagaimana kondisinya
serta perubahan apa yang terjadi di dalam kawasan lindung tersebut.
Informasi yang diperoleh selanjutnya dapat digunakan sebagai dasar
pertimbangan perbaikan kebijakan terkait dengan pengelolaan kawasan
lindung sehingga dapat memaksimalkan fungsinya untuk melindungi dan
mencegah terjadinya bencana lingkungan.

Pendahuluan_
2
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
1.2. Tujuan
- Melakukan identifikasi dan analisa spasial di dalam penetapan kawasan
lindung sesuai aturan perundang-undangan.
- Melakukan analisa perbandingan antara kawasan lindung dengan RTRWP
dan penutupan lahan aktual.
- Melakukan analisa kondisi kawasan lindung serta analisis proporsi areal
terbangun.
- Penyusunan pedoman analisa spasial kawasan lindung.

1.3. Maksud
Untuk mengetahui perbedaan pola penetapan dan pengelolaan kawasan
lindung sehingga diperoleh hasil analisa yang dapat digunakan sebagai acuan
perbaikan kebijakan terkait dengan penataan ruang wilayah yang
mengintegrasikan kawasan lindung serta upaya pengelolaannya.

Selain itu, juga diperlukan adanya pedoman teknis yang dapat diterapkan
oleh pemerintah daerah di dalam penentuan dan pemantauan kondisi
kawasan lindung.


1.4. Ruang Lingkup
Ruang lingkup kegiatan ini meliputi kajian hukum terkait dengan
pengelolaan kawasan lindung, analisa spasial penetapan kawasan lindung
sesuai peraturan serta pemantauan kondisi kawasan lindung di DAS
Cisadane, Ciliwung dan Angke.

Pendahuluan_
3
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Penetapan Kawasan
Lindung

2.1. Kajian Hukum
Beberapa produk hukum telah dikeluarkan untuk mengatur upaya penataan ruang
yang memperhatikan aspek lingkungan. Analisis penetapan kawasan lindung
dilakukan dengan mengacu pada peraturan yang berlaku. Peraturan perundang-
undangan yang digunakan sebagai dasar analisis antara lain:
1. Undang-Undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
2. Undang-Undang No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.
3. Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati
dan Ekosistemnya.
4. Peraturan Pemerintah No 47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Nasional (hingga laporan ini ditulis, Peraturan Pemerintah tentang RTRWN yang
baru masih berupa rancangan).
5. Peraturan Pemerintah No 35 Tahun1991 tentang Sungai.
6. Peraturan Pemerintah No 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan
Pelestarian Alam.
7. Peraturan Pemerintah No 63 Tahun 2002 tentang Hutan Kota.
8. Keputusan Presiden No 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
9. Peraturan Menteri Dalam Negeri No 1 Tahun 2007 tentang Ruang Terbuka Hijau
Kawasan Perkotaan.
10. Peraturan Menteri Kehutanan No: P.56/Menhut-II/2006 tentang Zonasi Taman
Nasional.
11. Surat Keputusan Menteri Pertanian No 837/Kpts/Um/11 /1980 tentang Kriteria
Penetapan Hutan Lindung.
12. Surat Keputusan Menteri Pertanian No 681/Kpts/Um/8/1981 tentang Kriteria
Penetapan Kawasan Suaka Alam dan Pelestarian Alam.

Penetapan Kawasan Lindung_
4
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
2.1.1. Pengelompokkan Kawasan Lindung
Penetapan kawasan lindung sebagai daerah yang perlu di jaga kelestariannya
telah diatur di dalam beberapa peraturan dan undang-undang. Keputusan
Presiden No 32 tahun 1990 secara khusus mengatur tentang pengelolaan
kawasan lindung. Kawasan lindung didefinisikan sebagai kawasan yang
ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup
yang mencakup sumber alam, sumber daya buatan dan nilai sejarah serta
budaya bangsa guna kepentingan pembangunan berkelanjutan.

Kawasan lindung berdasarkan Keputusan Presiden No 32 tahun 1990 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung dikelompokkan ke dalam 4 kelompok, yaitu:
1. Kawasan yang Memberikan Perlindungan Kawasan Bawahannya.
2. Kawasan Perlindungan Setempat.
3. Kawasan Suaka Alam dan Cagar Budaya
4. Kawasan Rawan bencana Alam.

Sedangkan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang
mengelompokkan kawasan lindung ke dalam 5 kelompok, yaitu:
1. Kawasan yang memberikan pelindungan kawasan bawahannya, antara
lain, kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan kawasan resapan air;
2. Kawasan perlindungan setempat, antara lain, sempadan pantai, sempadan
sungai, kawasan sekitar danau/waduk, dan kawasan sekitar mata air;
3. Kawasan suaka alam dan cagar budaya, antara lain, kawasan suaka
alam, kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya, kawasan pantai berhutan
bakau, taman nasional, taman hutan raya, taman wisata alam, cagar alam,
suaka margasatwa, serta kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan;
4. Kawasan rawan bencana alam, antara lain, kawasan rawan letusan
gunung berapi, kawasan rawan gempa bumi, kawasan rawan tanah longsor,
kawasan rawan gelombang pasang, dan kawasan rawan banjir; dan
5. Kawasan lindung lainnya, misalnya taman buru, cagar biosfer, kawasan
perlindungan plasma nutfah dan kawasan pengungsian satwa. Selain itu,
Undang-Undang 26/2007 menambahkan kawasan terumbu karang sebagai
salah satu kawasan lindung.

Penetapan Kawasan Lindung_
5
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah No 47 tahun 1997 tentang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional mengelompokkan kawasan lindung ke
dalam 7 kelompok, yaitu:
1. Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahannya;
2. Kawasan perlindungan setempat;
3. Kawasan suaka alam;
4. Kawasan pelestarian alam;
5. Kawasan cagar budaya;
6. Kawasan rawan bencana alam;
7. Kawasan lindung lainnya.

Pengelompokkan kawasan lindung di dalam PP No 47/1997 cenderung lebih
lengkap dibandingkan peraturan lainnya. Ruang terbuka hijau dan hutan kota
dijelaskan dan dikelompokkan ke dalam Kawasan perlindungan setempat.
Sementara di KepPres 32/1990 kedua kawasan tersebut tidak dijelaskan dan
tidak dikelompokkan ke dalam kelompok kawasan lindung. Sementara UU
No 26/2007 tidak mengelompokkan RTH ke dalam kelompok kawasan
lindung, tetapi RTH dijelaskan di dalam paragraf tata ruang wilayah kota.
Hutan Kota tidak dijelaskan sama sekali di dalam Undang-undang tersebut.

2.1.2. Kriteria Kawasan Lindung
A. Kawasan Perlindungan Kawasan di Bawahnya
Kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahnya memiliki tujuan
untuk melindungi areal yang berada di bawah kawasan lindung yang meliputi:
hutan lindung, kawasan bergambut dan kawasan resapan air.

Hutan lindung adalah kawasan hutan yang memiliki sifat khas yang mampu
memberikan perlindungan kepada kawasan sekitar maupun bawahnya sebagai
pengatur tata air, pencegah banjir dan erosi serta memelihara kesuburan tanah,
baik dalam kawasan hutan yang bersangkutan maupun kawasan yang
dipengaruhi di sekitarnya. Kriteria penetapan hutan lindung dijelaskan secara
lengkap di Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2837/Kpts/Um/11
/1980. Jika di dalam penggabungan atau tumpang susun antar faktor
Penetapan Kawasan Lindung_
6
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
kelerengan, jenis tanah dan curah hujan memiliki nilai lebih dari 175 maka
ditetapkan sebagai hutan lindung (Tabel 1-3).

Tabel 1. Nilai Skor Faktor Kelerengan Lapangan
Kelas Kelerengan (%) Klasifikasi Nilai Skor
I 0 - 8 Datar 20
II 8 - 15 Landai 40
III 15 - 25 Agak Curam 60
IV 25 - 40 Curam 80
V > 40 Sangat Curam 100
Sumber: SK Mentan No 2837/Kpts/Um/11 /1980

Tabel 2. Nilai Skor Faktor Jenis Tanah Menurut Kepekaannya Terhadap Erosi
Kelas Jenis tanah Klasifikasi Nilai
Skor
I Aluvial,Glei, Planosol,Hidromorf kelabu,
Laterit air tanah
Tidak peka 15
II Latosol Kurang peka 30
III Brown forest soil, non calcic brown,
mediteran.
Agak peka 45
IV Andosol, Laterit, Grumusol, Podsol,
Podsolic
Peka 60
V Regosol, Litosol, Organosol, Rensina. Sangat peka 75
Sumber: SK Mentan No 2837/Kpts/Um/11 /1980


Tabel 3. Klasifikasi dan Nilai Skor Faktor Intensitas Hujan Harian RataRata
Kelas

Intensitas Hujan
(mm/hari)
Klasifikasi Nilai Skor

I 0 13,6 Sangat rendah 10
II 13,6 20,7 Rendah 20
III 20,7 27,7 Sedang 30
IV 27,7 34,8 Tinggi 40
V > 34,8 Sangat Tinggi 50
Sumber: SK Mentan No 2837/Kpts/Um/11 /1980

Selain itu, kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40 % atau lebih,
serta kawasan hutan yang berada pada ketinggian 2000 meter atau lebih di
atas permukaan laut juga ditetapkan sebagai hutan lindung. Penilaian tersebut
dilakukan oleh Departemen Kehutanan sebagai dasar penetapan kawasan
hutan lindung yang selanjutnya diintegrasikan ke dalam peta kawasan hutan
atau rencana tata ruang wilayah. Penyusunan peta kawasan hutan yang
meliputi hutan produksi, hutan lindung dan hutan konservesi (suaka alam dan
Penetapan Kawasan Lindung_
7
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
pelestarian alam) merupakan wewenang Pusat Pengukuhan dan Penatagunaan
Kawasan Hutan, Badan Planologi Departemen Kehutanan.

Kawasan bergambut merupakan kawasan yang unsur pembentuk tanahnya
sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu
yang lama dengan kedalaman lebih atau sama dengan 3 meter. Kawasan ini
berfungsi untuk menjaga hidrologi, menyimpan cadangan air, mencegah
banjir serta melindungi ekosistem yang khas di wilayah yang bersangkutan.
Lahan gambut juga berfungsi sebegai penyerap dan penyimpan karbon jika
berada dalam kondisi alami dan tidak terdegradasi. Namun sebaliknya, lahan
gambut yang rusak akan menyebabkan pelepasan karbon ke atmosfir baik
melalui kebakaran maupun proses oksidasi akibat drainase atau pengeringan.

Kawasan resapan air merupakan daerah yang mempunyai kemampuan
tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air
bumi (aquifer) yang berguna sebagai sumber air. Kriteria penetapan kawasan
resapan air adalah curah hujan yang tinggi, struktur tanah yang mudah
meresapkan air dan bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan
secara besar-besaran. Namun kriteria dan batasan yang jelas rinci tidak
dijelaskan lebih lanjut.
B. Kawasan Perlindungan Setempat
Kawasan perlindungan setempat meliputi: sempadan sungai, sempadan pantai,
kawasan sekitar waduk atau danau serta kawasan ruang terbuka hijau
termasuk di dalamnya hutan kota.

Sempadan sungai merupakan kawasan sepanjang kiri kanan sungai, termasuk
sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting
untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Berdasarkan Keppres
32/1990 lebar minimal 100 meter untuk sungai besar dan 50 meter untuk
sungai kecil. Di sekitar pemukiman, lebar kawasan sempadan sekitar 10-15
meter. Sedangkan pada PP 47/1997, kriteria sempadan sungai yang bertanggul
minimal 5 meter dari batas luar tanggul, sedangkan yang tidak bertanggul
ditentukan oleh pejabat berwenang berdasarkan pertimbangan teknis dan
Penetapan Kawasan Lindung_
8
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
sosial. Di dalam sektor kehutanan, melalui Undang-Undang Kehutanan No
41/1999, kriteria sempadan sungai sesuai dengan kriteria berdasarkan KepPres
32/1990.

Perlindungan terhadap sempadan pantai dilakukan untuk melindungi wilayah
pantai dari kegiatan yang menganggu kelestarian fungsi pantai. Kriteria
sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional
dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang
tertinggi ke arah darat. Untuk itu diperlukan data pasang surut untuk
menentukan titik pasang tertinggi.

Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk
melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat menganggu
kelestarian fungsinya. Kawasan perlindungan tersebut merupakan daratan
sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik
danau/waduk antara 50 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat. Di
kawasan hutan, kawasan perlindungan sekitar danau/waduk berada di tepian
selebar 500 meter (UU 41/1999).

Perlindungan terhadap kawasan sekitar mata air dilakukan untuk
melindungi mata air dari kegiatan budidaya yang dapat merusak kualitas air
dan kondisi fisik kawasan sekitarnya. Kawasan tersebut merupakan daerah
dengan lebar sekurang-kurangnya 200 meter di sekitar mata air.

Ruang terbuka hijau dan hutan kota dijelaskan di dalam Undang-Undang
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional No 47/97 dan Undang Undang
Kehutanan No 41/1999. Ruang terbuka hijau (RTH) adalah area
memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat
terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah yang
dikelola oleh Pemda Kota. Kawasan terbuka hijau dapat berupa pohon-
pohonan maupun tanaman hias atau herba. Terdapat ruang terbuka hijau
publik dan privat. Kawasan yang dimaksud berada di kawasan pemukiman,
industri ataupun tepi sungai, pantai dan jalan yang berada di kawasan
perkotaan.
Penetapan Kawasan Lindung_
9
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke

Adapun kriteria RTH meliputi: 1. lokasi sasaran kawasan terbuka hijau kota
termasuk di dalamnya hutan kota antara lain di kawasan permukiman,
industri, tepi sungai/pantai/ jalan yang berada di kawasan perkotaan; 2. jenis
tanaman hias untuk kawasan terbuka hijau kota adalah berupa pohon-pohonan
dan tanaman hias atau herba, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik
maupun asli atau domestik; 3. proporsi ruang terbuka hijau minimal 30% dari
total luas wilayah dengan minimal 20% RTH publik; 4. yang termasuk ruang
terbuka hijau publik, antara lain, adalah taman kota, taman pemakaman
umum, dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai, dan pantai; 5. yang termasuk
ruang terbuka hijau privat, antara lain, adalah kebun atau halaman
rumah/gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan.

Hutan Kota berupa suatu hamparan lahan yang bertumbuhan pohon-pohon
yang kompak dan rapat di dalam wilayah perkotaan baik pada tanah negara
maupun tanah hak, yang ditetapkan sebagai hutan kota oleh pejabat yang
berwenang. Hutan kota berfungsi untuk mengatur iklim mikro, estetika serta
resapan air yang berupa hamparan pohon-pohonan baik jenis domestik
maupun eksotik.

Kriteria hutan kota meliputi: 1. hutan yang terbentuk dari komunitas
tumbuhan yang berbentuk kompak pada satu hamparan, berbentuk jalur atau
merupakan kombinasi dari bentuk kompak dan bentuk jalur; 2. jenis tanaman
untuk hutan kota adalah tanaman tahunan berupa pohon-pohonan, bukan
tanaman hias atau herba, dari berbagai jenis baik jenis asing atau eksotik
maupun jenis asli atau domestik; 3. hutan yang terletak didalam wilayah
perkotaan atau sekitar kota dengan luas hutan minimal 0,25 hektar; 4. Paling
sedikit 10% dari luas wilayah perkotaan.

C. Kawasan Suaka Alam
Kawasan suaka alam selain diatur di Keppres 32 tahun 1990 tentang
Pengelolaan Kawasan Lindung juga dijelaskan di dalam Undang Undang
Kehutanan No 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. Kawasan hutan yang
Penetapan Kawasan Lindung_
10
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
menjadi wewenang Departemen Kehutanan, selain memiliki fungsi pokok
hutan produksi, juga memiliki fungsi hutan konservasi dan hutan lindung.
Hutan konservasi yang dimaksud meliputi kawasan suaka alam, kawasan
pelestarian alam dan taman buru.

Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu baik di darat
maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan
pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya serta
sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan yang terdiri dari cagar alam dan
suaka margasatwa.
Kawasan cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaannya
mempunyai kekhasan tumbuhan, satwa dan ekosistemnya atau ekosistem
tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya secara alami. Kriteria
keberadaan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwaliar merupakan faktor
penting di dalam penentapan suatau wilayah menjadi sebuah cagar alam,
sehingga bermanfaat untuk keperluan konservasi dan ilmu pengetahuan.

Kriteria cagar alam meliputi: 1. memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan dan
satwa serta type ekosistemnya; 2. memiliki formasi biota tertentu dan/atau
unit-unit penyusun; 3. mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya
yang masih asli dan tidak/belum diganggu manusia; 4. mempunyai luas dan
bentuk tertentu agar menunjang pengelola yang efektif dengan daerah-daerah
penyangga yang cukup luas; 5. mempunyai ciri khas dan dapat merupakan
satusatunya contoh di suatu daerah serta keberadaannya memerlukan
konservasi.
Sedangkan kawasan suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang
mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan atau keunikan jenis satwa
yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan diluar
habitatnya. Kriteria penetapan kawasan pelestarian alam dijelaskan di dalam
SK Menteri Pertanian No 681/Kpts/Um/8/1981 tentang Kriteria dan Tata Cara
Penetapan Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata.

Penetapan Kawasan Lindung_
11
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Kriteria penetapan kawasan suaka margasatwa meliputi: 1. tempat hidup dan
berkembangbiaknya suatu jenis satwa yang perlu dikonservasi; 2. memiliki
keanekaragaman dan populasi yang tinggi; 3. merupakan tempat dan
kehidupan bagi jenis satwa migran tertentu; 4. mempunyai luasan yang cukup
sebagai habitat jenis satwa yang bersangkutan.

D. Kawasan Pelestarian Alam
Kawasan pelestarian alam adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu,
yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan,
pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan
secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Kawasan
pelestarian alam terdiri dari taman nasional, taman hutan raya dan taman
wisata alam yang ditujukan untuk pelestarian ekosistem, pendidikan serta
rekreasi.
Kawasan taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk
keperluan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya,
pariwisata dan rekreasi. Zonasi di dalam taman nasional meliputi:
a. Zona inti
b. Zona rimba dan Zona perlindungan bahari untuk wilayah perairan
c. Zona pemanfaatan
d. Zona lain (zona tradisional, zona rehabilitasi, zona religi, budaya dan
sejarah serta zona khusus)

Kriteria penetapan zonasi di dalam taman nasional dijelaskan di dalam
Peraturan Menteri Kehutanan No: P.56/Menhut-II/2006 Tentang Pedoman
Zonasi Taman Nasional.

Kriteria penetapan taman nasional meliputi: 1. wilayah yang ditetapkan
mempunyai luas yang cukup untuk menjamin kelangsungan proses ekologis
secara alami; 2. memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa
jenis tumbuhan maupun jenis satwa dan ekosistemnya serta gejala alam yang
Penetapan Kawasan Lindung_
12
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
masih utuh dan alami; 3. satu atau beberapa ekosistem yang terdapat di
dalamnya secara materi atau secara fisik tidak dapat diubah oleh eksploitasi
maupun pendudukan oleh manusia; 4. memiliki keadaan alam yang asli dan
alami untuk dikembangkan sebagai pariwisata alam; 5. merupakan kawasan
yang dapat dibagi ke dalam zona inti, zona pemanfaatan dan zona lain yang
dapat mendukung upaya pelestarian sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya.

Kawasan taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan
koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau bukan alami, jenis asli dan
atau bukan asli yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu
pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan
rekreasi.

Kriteria penetapan taman hutan raya meliputi: 1. merupakan wilayah dengan
ciri khas baik asli maupun buatan, baik pada kawasan yang ekosistemnya
masih utuh ataupun kawasan yang sudah berubah; 2. memiliki keindahan
alam, tumbuhan, satwa, dan gejala alam; 3. mudah dijangkau dan dekat dengan
pusart-pusat pemukiman penduduk; 4. mempunyai luas wilayah yang
memungkinkan untuk pembangunan.

Kawasan taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam dengan tujuan
utama untuk dimanfaatkan bagi kepentingan pariwisata alam dan rekreasi
alam. Kriteria penetapan hutan wisata diatur dalam Keputusan Menteri
Pertanian No 681/Kpts/Um/8/1981 tentang Kriteria dan Tata Cara Penetapan
Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata.

Kriteria penetapan taman hutan raya meliputi: 1. memiliki keadaan yang
menarik dan indah baik secara alami maupun buatan; 2. memenuhi kebutuhan
manusia dan rekreasi dan olah raga serta terletak dekat pusat-pusat pemukiman
penduduk.

Penetapan Kawasan Lindung_
13
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
E. Kawasan Cagar Budaya
Kawasan cagar budaya adalah Ruang disekitar bangunan bernilai budaya
tinggi, situs purbakala dan kawasan dengan bentukan geologi tertentu
bermanfaat tinggi untuk ilmu pengetahuan. Kawasan ini memiliki fungsi
melindungi nilai-nilai budaya, seperti situs kerajaan, candi, prasasti ataupun
struktur geologi tertentu. Karena itu, kawasan ini dilindungi bukan untuk
tujuan pelestarian alam atau mempertahankan fungsi lingkungan.

F. Kawasan Bencana Alam
Berdasarkan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional, bencana alam yang dimaksud meliputi longsor, gempa
bumi, banjir, gunung meletus dan gelombang air pasang. Kawasan yang
dimaksud merupakan daerah yang sering dan berpotensi tinggi terjadi bencana.
Penetapan kawasan bencana alam dimaksudkan untuk melindungi masyarakat
dari bencana sehingga terhindar dari kerugian yang sangat besar.

G. Kawasan Lindung Lainnya
Berdasarkan Undang-Undang No 26 tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional, kawasan lindung lainnya meliputi taman buru, cagar
biosfer, kawasan pelestarian plasma nutfah, kawasan pengungsian satwa,
kawasan pantai berhutan bakau serta terumbu karang.

Taman Buru adalah kawasan hutan yang ditetapkan sebagai tempat
diselenggarakan perburuan satwa buru secara teratur. Taman buru ditetapkan
oleh Departemen Kehutanan. (cari PP 13/1994!!.). Kriteria penetapannya
meliputi: 1. areal yang ditunjuk mempunyai luas yang cukup dan lapangannya
tidak membahayakan; 2. terdapat satwa buru yang dapat dikembangbiakkan
sehingga memungkinkan perburuan secara teratur dengan mengutamakan segi
rekreasi, olah raga dan kelestarian satwa.

Penetapan sebuah cagar biosfer bertujuan untuk menjaga kelestarian
lingkungan dan penelitian serta secara bersamaan mengembangkan
pengelolaan pemanfaatan untuk tujuan ekonomi, sosial dan budaya. Upaya
Penetapan Kawasan Lindung_
14
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
penetapan cagar biosfer memiliki keterkaitan yang erat dengan UNESCO
melalui program Biosphere Reserve yang secara internasional juga ditetapkan
sebagai daerah perlindungan. Namun cagar biosfer ditetapkan oleh pemerintah
sebuah negara.

Cagar biosfer memiliki kriteria antara lain: 1. keterwakilan ekosistem yang
masih alami/modifikasi/binaan, komunitas alam unik langkah dan indah,
bentang alam cukup luas; 2. kawasan yang mempunyai komunitas alam yang
unik, langka, dan indah; 3. merupakan bentang alam yang cukup luas yang
mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta
kegiatannya secara harmonis; 4. tempat bagi penyelenggaraan pemantauan
perubahan-perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan.

Kawasan pelestarian plasma nutfah dan pengungsian satwa merupakan
kawasan konservasi yang berada di luar kawasan hutan konservasi (kawasan
pelestarian alam dan kawasan suaka alam). Karena berada di kawasan hutan
produksi, penetapannya dilakukan bersama-sama antara pihak pengelola hutan
dan Departemen Kehutanan.

Kawasan pelestarian plasma nutfah merupakan kawasan hutan yang karena
keadaan dan sifat fisiknya perlu dibina dan dipertahankan dengan maksud
untuk menjaga keanekaragaman jenis plasma nutfah. Kawasan hutan yang
karena keadaan dan sifat fisiknya perlu dibina dan dipertahankan dengan
maksud sebagai tempat hidup dan kehidupan satwa tertentu. Kriteria
penetapan kawasan plasma nutfah dan pengungsian satwa diatur di dalam
Keputusan Menteri Pertanian No 681/Kpts/Um/8/1981 tentang Kriteria dan
Tata Cara Penetapan Hutan Suaka Alam dan Hutan Wisata.

Kriteria penetapan kawasan pelestarian plasma nutfah antara lain: 1. memiliki
plasma nutfah tertentu yang belum terdapat di dalam kawasan konservasi yang
telah ditetapkan; 2. memiliki jenis plasma nutfah tertentu yang belum terdapat
di kawasan konservasi yang telah ditetapkan.

Penetapan Kawasan Lindung_
15
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Kawasan pengungsian satwa merupakan kawasan hutan yang karena
keadaan dan sifat fisiknya perlu dibina dan dipertahankan dengan maksud
sebagai tempat hidup dan kehidupan satwa tertentu. Kriteria penetapannya
meliputi: 1. merupakan wilayah kehidupan satwa yang sejak semula menghuni
areal tersebut; 2. mempunyai luas tertentu yang memungkinkan
berlangsungnya proses hidup dan kehidupan baru bagi satwa tersebut; 3.
merupakan areal tempat pemindahan satwa yang merupakan tempat kehidupan
baru bagi satwa tersebut.

Kawasan pesisir berhutan bakau merupakan kawasan pesisir laut yang
merupakan habitat alami hutan bakau bakau (mangrove) yang berfungsi
memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Kawasan
dimaksud memiliki lebar 130 x nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi
dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah kearah darat.
Eksploitasi hutan bakau di pesisir Lampung untuk kegiatan pertambakkan
menyebabkan penyusutan hutan bakau hingga mencapai 90%. Hal ini
menyebabkan terjadinya abrasi pantai sekitar 30 50 meter per tahunnya
(SLHI 2006). Kejadian tsunami yang terjadi pada tahun 2004 di Aceh
membuktikan bahwa kawasan hutan bakau selain menjaga pantai dari proses
abrasi dan intrusi air laut, juga menghambat arus gelombang tsunami sehingga
mengurangi dampak kerusakan dan korban jiwa yang ditimbulkan.
Terumbu karang merupakan areal di pantai dangkal yang menjadi tempat
hidup, berkembang biak, pertumbuhan, berlindung dari serangan pemangsa
serta mencari makan berbagai ikan dan makhluk laut lainnya. Terumbu karang
baru mulai dikategorikan sebagai kawasan lindung sejak dikeluarkannya UU
26/2007 tentang Penataan Ruang.

Penetapan Kawasan Lindung_
16
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
2.2. Penetapan Kawasan Lindung secara Spasial
2.2.1. Penerapan Kriteria menjadi Data Spasial
Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan di dalam beberapa peraturan,
penetapan kawasan lindung dapat dilakukan menggunakan pendekatan
analisa spasial. Penetapan kawasan lindung secara spasial dilakukan terlepas
dari apakah kriteria tersebut sesuai atau tidak dengan fungsinya.

Beberapa kawasan lindung perlu disusun dengan menggunakan data
tambahan, sehingga memerlukan proses sederhana sebelumnya. Misalnya
untuk menentukan daerah sempadan sungai, danau atau garis pantai, maka
diperlukan data sungai, danau dan garis pantai untuk mendapatkan daerah
buffer sesuai dengan kriteria.

Selain itu, kawasan lindung yang merupakan kawasan hutan seperti: hutan
lindung, kawasan suaka alam dan pelestarian alam harus diperoleh dari
Departemen Kehutanan atau Dinas Kehutanan setempat. Peta penunjukkan
kawasan hutan yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan cenderung
memiliki resolusi yang rendah yaitu skala 1: 250.000, sehingga hanya
relevan untuk diterapkan pada skala provinsi.

Sebagian kawasan lindung bahkan belum atau sulit diterapkan, mengingat
ketidaktersediaan data dan metodologi serta kritreriayang kurang jelas.
Contohnya kawasan rawan bencana alam yang meliputi rawan banjir,
longsor, gempa bumi, gelombang air pasang dan gunung berapi. Banyak
konsep yang telah dikembangkan oleh berbagai pihak di dalam pemetaan
daerah rawan, namun belum ada pihak berwenang yang mengkoordinasikan
kelayakan metode yang telah disusun tersebut. Hal ini menyebabkan
terjadinya perbedaan persepsi di dalam penentuan kawasan lindung.

Demikian halnya dengan daerah resapan air, yang memperhatikan kondisi
geomorfologi serta jenis tanah yang mampu menyerap air secara besar-
besaran. Selain kriteria yang kurang aplikatif, konsep penetapan daerah
resapan juga kurang dapat diterima oleh beberapa ahli. Konsep lain di dalam
Penetapan Kawasan Lindung_
17
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
penetapan daerah resapan, cenderung tidak memperhatikan kondisi
geomorfologi, namun lebih memperhatikan aliran air tanah. Namun
mengingat keterbatasan data dan sulitnya metode penetapan, maka kawasan
ini tidak diterapkan dalam analisis ini.

Adanya perbedaan kritera yang dijelaskan dalam beberapa peraturan juga
agak menyulitkan di dalam melakukan interpretasi penetapan kawasan.
Misalnya di dalam penetapan sempadan sungai, beberapa peraturan
menjelaskan beberapa kriteria yang berbeda-beda. (untuk lebih rinci
silahkan melihat matriks dan diagram alir penentuan kawasan lindung
secara spasial pada Tabel 4).







Penetapan Kawasan Lindung_
18
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Tabel 4. Matriks penyusunan data spasial kawasan lindung berdasarkan kriteria yang berlaku
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
a. Kawasan Hutan
Lindung
Skor 175 (Kelas Lereng, Jenis Tanah
& Intensitas hujan), Lereng lapangan
40 %, ketinggian 2000 m dpl.
SK
penunjukkan
kawasan
hutan oleh
Menhut
- Kontur, Sungai, Titik
Tinggi (untuk penyusunan
elevasi dan kelerengan)
- Peta Tanah (land
system)
- Curah hujan
Penetapan hutan lindung
dilakukan oleh
Departemen Kehutanan
melalui penunjukkan
kawasan hutan, yang
termasuk di dalamnya
Hutan Lindung, Hutan
Produksi dan Hutan
Konservasi.
Kriteria yang diatur tidak
perlu digunakan, cukup
menggunakan Peta TGHK
Paduserasi yang telah
ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan
atau Dinas Kehutanan
setempat.
- Peta tanah atau
Landsystem, Skala 1:
250.000
- Data tidak tersedia
dalam kualitas/skala yang
memadai, klasifikasi
kedalaman gambut tidak
sesuai dengan kriteria
dimaksud.

Pengeboran di lahan
gambut perlu dilakukan di
beberapa lokasi dgn
kedalaman lebih dari 2,5
meter.
b. Kawasan
bergambut
Ketebalan tanah gambut 3 m di
hulu sungai dan rawa
-
- Peta lahan gambut
Wetland International dan
Puslitanak
- Tersedia untuk Pulau
Kalimantan dan Sumatra
Untuk wilayah luar pulau
Jawa dapat menggunakan
data penyebaran lahan
gambut dari Wetlands
International
- Data curah hujan c. Kawasan
Resapan Air
Curah Hujan tinggi, struktur tanah
meresapkan air dan bentuk
geomorfologi mampu meresepkan
air hujan secara besar-besaran
-
- Geomorfologi
Kriteria tidak spesifik,
sehingga menyulitkan di
dalam penentuan secara
spasial. Diperlukan
pedoman teknis
penyusunan peta resapan
air yang dapat
mengadopsi kriteria lokal.
Perlu didiskusikan lebih
lanjut dengan para ahli
iklim dan tanah yang
memahami karakteristik
lokasi terkait. Dalam
pedoman ini, penentuan
kawasan resapan air tidak
diterapkan.
a. Sempadan
Pantai
Daratan sepanjang tepian yang
lebarnya proporsional dengan bentuk
- - Garis pantai (RBI), Penentuan titik pasang
tertinggi sulit diaplikasikan
Sebaiknya cukup
menggunakan data garis
Penetapan Kawasan Lindung_
19
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
dan kondisi fisik. Lebar minimal 100
meter dari titik pasang tertinggi ke
arah darat
- Data pasang surut secara spasial. pantai dari peta dasar RBI
- Minimal 100 meter kiri kanan
sungai besar, 50 meter sungai kecil
di luar pemukiman.

- 10-15 meter kiri kanan sungai di
dalam pemukiman
- Sungai (RBI) masih perlu
dirapihkan, banyak
danau-danau kecil perlu
dipisahkan, data
pemukiman (LULC)

Dengan adanya PP
47/1997 seharusnya
parameter sungai lebar
dan kecil tidak berlaku lagi

Untuk tingkat provinsi dan
kabupaten, kriteria ini
cenderung lebih relevan.
Kriteria ini digunakan
dalam aplikasi dalam
pedoman ini.


Bertanggul: minimal 5 m di sebelah
luar sepanjang kaki tanggul,
- Secara spasial sulit
mendijitasi sungai-sungai
bertanggul, tidak ada data
pendukung.
Perlu dilakukan survey
lapangan atau kompilasi
datapembangunan tanggul
oleh Dinas PU.
Tidak bertanggul ditetapkan
berdasarkan pertimbangan teknis
dan sosial oleh pejabat berwenang.
- Data sungai bertanggul
dan tidak bertanggul tidak
tersedia
-Penetapan sempadan
Sungai tidak bertanggul
hanya dilakukan oleh
pihak berwenang, tanpa
ada kriteria dan arahan
yang tegas (tidak
dijelaskan siapa).

Sungai di kawasan hutan
produksi: kiri kanan lebar 100 m

Kriteria ini sama dengan
kriteria dalam KepPres
32/1990
cukup jelas
b. Sempadan
Sungai
Anak Sungai di kawasan hutan
produksi: kiri kanan lebar 50 m



c. Kawasan
Sekitar Danau/
Waduk
Lebar 50-100 meter dari titik pasang
tertinggi kearah darat

Di kawasan hutan produksi selebar
500 m
-

- Danau RBI
- Dapat ditambahkan dari
data landcover


Data dasar yang tersedia
tidak merinci apakah
deliniasi danau dilakukan
pada saat pasang tertinggi
atau tidak.


Dalam aplikasi ini
menggunakan data dari
peta RBI.




Penetapan Kawasan Lindung_
20
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
d. Kawasan
Sekitar Mata Air
Jari-jari 200 meter di sekitar mata air - Data tidak tersedia

Data lokasi mata air tidak
tersedia secara spasial.

Perlu dilakukan survey
lokasi mata air. Dalam
aplikasi ini tidak diterapkan
mengingat
ketidaktersediaan datadan
keterbatasan waktu.

1. lokasi sasaran kawasan terbuka
hijau kota termasuk di dalamnya
hutan kota antara lain di kawasan
permukiman, industri, tepi
sungai/pantai/ jalan yang berada di
kawasan perkotaan;
- RTRW Kota, Interpretasi
- Citra High Resolution,
Ground check
Ditetapkan oleh
Pemerintah Kota dan
dimasukkan ke dalam
RTRW
Menggunakan data hasil
penetapan pemkot
2. jenis tanaman hias untuk kawasan
terbuka hijau kota adalah berupa
pohon-pohonan dan tanaman hias
atau herba, dari berbagai jenis baik
jenis asing atau eksotik maupun asli
atau domestik.


3. Proporsi ruang terbuka hijau
minimal 30% dari total luas wilayah
dengan minimal 20% RTH publik.


4. Yang termasuk ruang terbuka
hijau publik, antara lain, adalah
taman kota, taman pemakaman
umum, dan jalur hijau sepanjang
jalan, sungai, dan pantai.


e. Kawasan RTH
Kota
5. Yang termasuk ruang terbuka
hijau privat, antara lain, adalah
kebun atau halaman rumah/gedung
milik masyarakat/swasta yang
ditanami tumbuhan.
Perda
RTRW Kota






Penetapan Kawasan Lindung_
21
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
1. hutan yang terbentuk dari
komunitas tumbuhan yang berbentuk
kompak pada satu hamparan,
berbentuk jalur atau merupakan
kombinasi dari bentuk kompak dan
bentuk jalur;
Ditetapkan oleh Dephut
dan Pemkot, dimasukkan
ke dalam RTRW
Menggunakan data hasil
penetapan pemkot
2. jenis tanaman untuk hutan kota
adalah tanaman tahunan berupa
pohon-pohonan, bukan tanaman
hias atau herba, dari berbagai jenis
baik jenis asing atau eksotik maupun
jenis asli atau domestik;


3. hutan yang terletak didalam
wilayah perkotaan atau sekitar kota
dengan luas hutan minimal 0,25
hektar;

f. Hutan Kota
4. Paling sedikit 10% dari luas
wilayah perkotaan
Penunjukkan
kawasan
hutan kota
oleh Dephut
dan Pemkot


1. Memiliki keanekaragaman jenis
tumbuhan dan satwa serta type
ekosistemnya
Peta Kawasan Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh Dephut
dalam peta penunjukkan
kawasan hutan
2. Memiliki formasi biota tertentu
dan/atau unit-unit penyusun
3. Mempunyai kondisi alam, baik
biota maupun fisiknya yang masih
asli dan tidak/belum diganggu
manusia
a. Cagar Alam
4. Mempunyai luas dan bentuk
tertentu agar menunjang pengelola
yang efektif dengan daerah-daerah
penyangga yang cukup luas
SK
penunjukkan
kawasan
hutan oleh
Menhut




Kriteria yang diatur tidak
perlu digunakan, cukup
menggunakan Peta TGHK
Paduserasi yang telah
ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan
atau Dinas Kehutanan
setempat.
Penetapan Kawasan Lindung_
22
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
5. Mempunyai ciri khas dan dapat
merupakan satusatunya contoh di
suatu daerah serta keberadaannya
memerlukan konservasi


1. Tempat hidup dan
berkembangbiaknya suatu jenis
satwa yang perlu dikonservasi
Peta Kawasan Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh Dephut
dalam peta penunjukkan
kawasan hutan
2. Memiliki keanekaragaman dan
populasi yang tinggi
3. Merupakan tempat dan kehidupan
bagi jenis satwa migran tertentu
b. Suaka
Margasatwa
4. Mempunyai luasan yang cukup
sebagai habitat jenis satwa yang
bersangkutan
SK
penunjukkan
kawasan
hutan oleh
Menhut

Kriteria yang diatur tidak
perlu digunakan, cukup
menggunakan Peta TGHK
Paduserasi yang telah
ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan
atau Dinas Kehutanan
setempat.
Peta Kawasan Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh Dephut
dalam peta penunjukkan
kawasan hutan
1. Wilayah yang ditetapkan
mempunyai luas yang cukup untuk
menjamin kelangsungan proses
ekologis secara alami;

2. Memiliki sumber daya alam yang
khas dan unik baik berupa jenis
tumbuhan maupun jenis satwa dan
ekosistemnya serta gejala alam yang
masih utuh dan alami;
3. Satu atau beberapa ekosistem
yang terdapat di dalamnya secara
materi atau secara fisik tidak dapat
diubah oleh eksploitasi maupun
pendudukan oleh manusia;
4. Memiliki keadaan alam yang asli
dan alami untuk dikembnagkan
sebagai pariwisata alam;

a. Taman Nasional
5. Merupakan kawasan yang dapat
SK
penunjukkan
kawasan
hutan oleh
Menhut

Kriteria yang diatur tidak
perlu digunakan, cukup
menggunakan Peta TGHK
Paduserasi yang telah
ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan
atau Dinas Kehutanan
setempat.

Penetapan Kawasan Lindung_
23
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
dibagi ke dalam zona inti, zona
pemanfaatan dan zona lain yang
dapat mendukung upaya pelestarian
sumber daya alam hayati dan
ekosistemnya.

1. Merupakan wilayah dengan ciri
khas baik asli maupun buatan, baik
pada kawasan yang ekosistemnya
masih utuh ataupun kawasan yang
sudah berubah;
Peta Kawasan Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh Dephut
dalam peta penunjukkan
kawasan hutan
2. Memiliki keindahan alam,
tumbuhan, satwa, dan gejala alam;

3. Mudah dijangkau dan dekat
dengan pusart-pusat pemukiman
penduduk;
4. Mempunyai luas wilayah yang
memungkinkan untuk pembangunan

b. Taman Hutan
Raya

SK
penunjukkan
kawasan
hutan oleh
Menhut

Kriteria yang diatur tidak
perlu digunakan, cukup
menggunakan Peta TGHK
Paduserasi yang telah
ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan
atau Dinas Kehutanan
setempat.
1. Memiliki keadaan yang menarik
dan indah baik secara alami maupun
buatan
Peta Kawasan Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh Dephut
dalam peta penunjukkan
kawasan hutan
c. Taman Wisata
Alam
2. Memenuhi kebutuhan manusia
dan rekreasi dan olah raga serta
terletak dekat pusat-pusat
pemukiman penduduk

SK
penunjukkan
kawasan
hutan oleh
Menhut




Kriteria yang diatur tidak
perlu digunakan, cukup
menggunakan Peta TGHK
Paduserasi yang telah
ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan
atau Dinas Kehutanan
setempat.
a. Kawasan Cagar
Budaya
Ruang disekitar bangunan bernilai
budaya tinggi, situs purbakala dan
kawasan dengan bentukan geologi
tertentu bermanfaat tinggi untuk ilmu
pengetahuan
Ditetapkan
dalam
RTRW
RTRWK


Ditetapkan oleh Pemda
melalui RTRW


Tidak diterapkan dalam
aplikasi ini



Penetapan Kawasan Lindung_
24
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Penetapan Kawasan Lindung_
25
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
- Peta rawan banjir
- Peta rawan longsor
- Peta rawan gunung
berapi
- Peta rawan gelombang
pasang
- Peta gempa bumi
- Dalam peraturan tata
ruang dan kawasan
lindung tidak dijelaskan
siapa pihak berwenang
yang menetapkan daerah
rawan bencana. Beberapa
instansi sektoral memiliki
Tupoksi terkait, misalnya
PU Pengairan terkait
dengan banjir, Direktorat
Vulkanologi terkait dengan
gunung berapi. di
Beberapa daerah, instansi
lingkungan juga berperan
aktif di dalam
menyediakan peta rawan
bencana. Undang-undnag
no 24/2007 tentang
Bencana Alam
mengamanatkan bahwa
penyusunan peta rawan
bencana merupakan tugas
badan
penanggulanganbencana
daerah.
Tidak diterapkan dalam
aplikasi ini
a.

Kawasan
Rawan Bencana
Alam
Sering/berpotensi tinggi mengalami
bencana alam seperti letusan
gunung berapi, gempa bumi dan
tanah longsor, gelombang pasang
dan banjir
-
- Selain itu belum ada
pedoman teknis
metodologi penyusunan
peta rawan serta kriteria
dan tingkat rawan apa
yang perlu menjadi
kawasan lindung.

a. Taman Buru 1. Areal yang ditunjuk mempunyai
luas yang cukup dan lapangannya
tidak membahayakan
SK
penunjukkan
kawasan
h t l h
Peta Kawasan Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh Dephut
dalam peta penunjukkan
kawasan hutan
Kriteria yang diatur tidak
perlu digunakan, cukup
menggunakan data
k h t t l h
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
2. Mengandung satwa buru yang
dapat dikembangbiakkan sehingga
memungkinkan perburuan secara
teratur dengan mengutamakan segi
rekreasi, olah raga dan kelestarian
satwa.
hutan oleh
Menhut
kawasan hutan yang telah
ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan
atau Dinas Kehutanan
setempat.
Ditetapkan oleh
Pemerintah (Dephut)
dalam peta penunjukkan
kawasan cagar biosfer.
Indonesia hanya memiliki
6 cagar biosfer yang
sebagian besar
merupakan Taman
Nasional, yaitu (Komodo,
Lore Lindu, Siberut,
Cibodas, Leuser dan
Tanjung Putting)
Tidak diterapkan dalam
aplikasi ini, mengingat
zona inti dalam cagar
biosfer merupakan
kawasan taman nasional.
Sedangkan zona
penyangga dan zona
transisi diperuntukkan
untuk tujuan pemanfaatan
dan pembangunan.
1. kawasan yang mempunyai
keperwakilan ekosistem yang masih
alami dan kawasan yang sudah
mengalami degradasi, modifikasi,
dan/atau binaan;

2. kawasan yang mempunyai
komunitas alam yang unik, langka,
dan indah;

3. merupakan bentang alam yang
cukup luas yang mencerminkan
interaksi antara komunitas alami
dengan manusia beserta
kegiatannya secara harmonis;
b. Cagar Biosfir
4. tempat bagi penyelenggaraan
pemantauan perubahan-perubahan
ekologi melalui kegiatan penelitian
dan pendidikan.
SK
penunjukkan
kawasan
hutan oleh
Menhut
Peta Kawasan Hutan


c. Kawasan
Perlindungan
Plasma Nutfah
1. Memiliki plasma nutfah tertentu
yang belum terdapat di dalam
kawasan konservasi yang telah
ditetapkan
2. Memiliki jenis plasma nutfah
tertentu yang belum terdapat di
kawasan konservasi yang telah
ditetapkan
Diusulkan
oleh konsesi
hutan dan
ditetapkan
oleh Dephut
- Peta Rencana Kerja
HPH/HTI



Data tersebut umumnya
dapat diakses melalui
Rencana Kerja konsesi
kehutanan (HPH/HTI) atau
melalui Departemen
Kehutanan


Tidak diterapkan dalam
aplikasi ini




Penetapan Kawasan Lindung_
26
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
3. Merupakan areal tempat
pemindahan satwa yang merupakan
tempat kehidupan baru bagi satwa
tersebut


1. Merupakan wilayah kehidupan
satwa yang sejak semula menghuni
areal tersebut
Data tersebut umumnya
dapat diakses melalui
Rencana Kerja konsesi
kehutanan (HPH/HTI) atau
melalui Departemen
Kehutanan
d. Kawasan
Pengungsian
Satwa
2. Mempunyai luas tertentu yang
memungkinkan berlangsungnya
proses hidup dan kehidupan baru
bagi satwa tersebut.

3. Merupakan areal tempat
pemindahan satwa yang merupakan
tempat kehidupan baru bagi satwa
tersebut
Diusulkan
oleh konsesi
hutan dan
ditetapkan
oleh Dephut
- Peta Rencana Kerja
HPH/HTI



Tidak diterapkan dalam
aplikasi ini
e. Kawasan Pantai
Berhutan Bakau
Lebar 130 x nilai rata-rata perbedaan
air pasang tertinggi dan terendah
tahunan diukur dari garis air surut
terendah kearah darat.
- - Penutupan lahan
- Pasang surut
Stasiun pemantau pasang
surut tidak tersebar di
seluruh wilayah pantai
Indonesia. Pemerintah
daerah perlu melakukan
pemantauan beda pasang
tertinggi dan terendah jika
memiliki hutan bakau.

Selain itu untuk penetapan
wilayah mana saja yang
berhutan bakau, juga
relatif tidak jelas. Apakah
menggunakan data
Dalam aplikasi ini hanya
menggunakan data
penyebaran hutan bakau
terbaru.

Penetapan Kawasan Lindung_
27
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan
Lindung
Kriteria Penetapan
Ketetapan
Tambahan
Sumber Data
Permasalahan dan
Keterangan
Solusi atau Pendekatan
Spasial
historis atau data aktual.
Mengingat penutupan
hutan bakau cenderung
berkurang.
f. Terumbu
Karang
- - - Penyebaran terumbu
karang
Data tersedia di DKP
skala nasional
Data BRNP tersedia di
KLH
Belum terapkan dalam
aplikasi ini.

Penetapan Kawasan Lindung_
28
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
2.2.2. Data yang Digunakan
A. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI)
Peta dasar yang dikeluarkan oleh Bakosurtanal ini memiliki skala 1:25.000
untuk wilayah pulau Jawa. Data spasial yang digunakan meliputi:
1. Sungai besar: harus memiliki format POLYGON.
2. Sungai kecil: harus memiliki format LINE.
3. Danau: harus memiliki format POLYGON.
4. Garis pantai: harus memiliki format LINE.
5. Garis kontur: harus memiliki format LINE dan memiliki atribut data
ketinggian.
6. Titik tinggi: harus memiliki format POINT dan memiliki atribut data
ketinggian.

Dua data terakhir disebut digunakan untuk membuat DEM dan batas DAS.
Ke enam data tersebut harus dipisahkan dalam data layer yang berbeda,
mengingat kriteria yang diterapkan dari masing-masing data berbeda satu
sama lain.

B. Peta Kawasan Hutan
Peta Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) dikeluarkan oleh Departemen
Kehutanan yang dikoordinasikan dengan berbagai instansi sektor lainnya.
Sedangkan peta TGHK Paduserasi telah disesuaikan dengan kepentingan
daerah atau disesuaikan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah. Dari peta
kawasan hutan kita dapat mengekstrak beberapa kawasan lindung yang
mencakup:
1. Hutan Lindung,
2. Taman Nasional,
3. Taman Wisata Alam,
4. Taman Hutan Rakyat,
5. Cagar Alam dan
6. Suaka Margasatwa.

Penetapan Kawasan Lindung_
29
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Keenam data tersebut harus memiliki format dataPOLYGON.

C. Penutupan lahan
Penutupan lahan diperoleh dari hasil interpretasi citra satelit. Dari citra
penutupan lahan diperoleh batas hutan bakau yang merupakan kawasan
lindung. Selain itu, data penutupan lahan digunakan untuk proses evaluasi
kondisi kawasan lindung. Data yang digunakan dalam analisis ini adalah
hasil interpretasi citra Landsat 5 tahun 2007.

D. Peta Tanah
Peta jenis tanah diperoleh dari peta sistem satuan lahan yang dikeluarkan
oleh Puslitanak Bogor. Selain itu, Wetlands International juga melakukan
kajian penyebaran lahan gambut di wilayah Sumatra, Kalimantan, Papua
dan sebagian Sulawesi. Lahan gambut yang merupakan kawasan lindung
adalah yang memiliki kedalaman gambut > 300 cm.

E. Peta RTRW
Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bogor diperoleh dari Bappeda Kota
Bogor.

Gambar 1. Diagram alir pemetaan kawasan lindung menggunakan data yang
telah tersedia.
Penetapan Kawasan Lindung_
30
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
2.2.3. Software yang Digunakan
Aplikasi ini menggunakan dua pendekatan yang merupakan pilihan yang perlu
disesuaikan dengan kapasitas pengguna. Yaitu menggunakan pendekatan
berbasis raster dan vektor.

Analisis overlay berbasis raster cenderung lebih cepat dibandingkan berbasis
raster. Penentuan penggunaan pendekatan berbasis raster sebenarnya lebih
mempertimbangkan ketersediaan perangkat lunak opensource yang
pengembangannya relatif maju. Dalam hal ini digunakan aplikasi ILWIS 3.4.
yang dikembangkan oleh the International Institute for Geo-Information Science
and Earth Observation (ITC) Belanda (http://www.ilwis.org).

Pendekatan berbasis vektor merupakan pendekatan spasial yang umum
digunakan di dalam aplikasi SIG. Vektor memiliki beberapa kelebihan, antara
lain penyimpanan data yang relatif lebih kecil. Aplikasi berbasis vektor yang
digunakan dalam pedoman ini adalah perangkat lunak yang dikeluarkan oleh
Environmental System Research Institute (ESRI) yaitu ArcGIS/ArcInfo 9.2 dan
ArcGIS Spatial Analyst (http://www.esri.com). Untuk mengetahui persyaratan
minimum komputer yang diperlukan silahkan merujuk ke spesifikasi masing-
masing software:
(http://www.esri.com/software/arcgis/arcinfo/about/systemrequirements.html).





Penetapan Kawasan Lindung_
31
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Hasil Analisis



3.1. Penentuan Daerah Aliran Sungai
Batas daerah aliran sungai (DAS) ditentukan berdasarkan topografi wilayah. DAS
digunakan sebagai batas analisis penentuan kawasan lindung, mengingat areal
dalam wilayah DAS yang sama memiliki kesamaan aliran air permukaan.
Pengendalian lingkungan karenanya perlu mengacu kepada batas alami. DAS
Ciliwung, Angke dan Ciliwung sebagian besar masuk ke dalam wilayah
administrasi Jabodetabek yang ditetapkan sebagai Kawasan Khusus (PP 47/1997).

3.1.1. Model Elevasi Dijital
Model elevasi dijital atau digital elevation model (DEM) dibuat sebagai data
dasar penentuan batas DAS. Diperlukan data kontur serta titik tinggi untuk
menyusun DEM. Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) menyediakan data
topografi hingga skala 1:25.000 untuk wilayah pulau Jawa, yang dapat
digunakan untuk menyusun DEM wilayah Cisadane-Angke-Ciliwung.


Gambar 2. Diagram alir penentuan batas DAS menggunakan data topografi
RBI.

Untuk melakukan analisis batas DAS dengan cakupan yang luas seperti
pulau Jawa atau pulau Sumatra, data DEM SRTM (Shuttle Radar
Topography Mission) dengan resolusi 92 meter juga dapat digunakan.

Hasil Analisis_
32
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
3.1.2. Batas DAS Cisadane-Angke-Ciliwung
Dengan menggunakan data DEM yang diperoleh dari peta Rupa Bumi
Indonesia, batas DAS disusun untuk daerah Cisadane, Angke dan Ciliwung.
DAS Cisadane memiliki luas 16 ribu hektar, Angke seluas 58 ribu hektar dan
Ciliwung 41 ribu hektar.

Tabel 5. Perbedaan luas DAS hasil analisis batas menggunakan data
topografi dan DEM
Luas DAS (Ha)
DAS
KLH
DEM RBI DEM SRTM
Angke
64840
58751 66451
Ciliwung
50159
41462 43695
Cisadane
151243
161245 158447

Dibandingkan dengan batas DAS yang digunakan oleh KLH (Dijitasi secara
manual), batas DAS yang diperoleh dari analisa DEM relatif lebih akurat.
Hal ini dikarenakan penentuannya dilakukan secara otomatis berdasarkan
topografi serta arah aliran air.
Cisadane
Angke
Ciliwung
cisadane
angke
ciliwung
Cisadane
Angke
Ciliwung

A
B
Keterangan:

A: Batas DAS yang
digunakan oleh KLH yang
didijitasi secara visual.

B: Batas DAS yang diperoleh
dari analisis DEM Topografi
peta RBI

C: Batas DAS yang diperoleh
dari analisis DEM SRTM
C
Hasil Analisis_
33
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Gambar 3. Perbandingan batas DAS hasil dijitasi visual dan analisis dijital
DEM.

Penurunan kualitas batas DAS terjadi di wilayah yang memiliki topografi
sangat datar seperti di bagian utara Jakarta. Khususnya data DAS yang
berasal dari kontur peta RBI (Gambar 2 bagian B). Untuk itu diperlukan
tambahan dijitasi secara manual dengan melihat aliran sungai di sekitar
wilayah tersebut. Namun hal tersebut sulit dilakukan, mengingat sudah
banyaknya aliran sungai yang sudah tidak alami atau dibuatnya saluran
irigasi di wilayah utara Jakarta.

3.2. Pemetaan Kawasan Lindung
Pemetaan kawasan lindung dilakukan berdasarkan analisis peraturan terkait dengan
penataan ruang dan pengelolaan kawasan lindung. Tidak semua jenis kawasan
lindung dapat dipetakan mengingat keterbatasan data penunjang. Sebagian besar
kawasan lindung merupakan kawasan hutan suaka alam, kawasan pelestarian alam,
hutan lindung, hutan bakau serta sempadan sungai, danau dan garis pantai.

Tabel 6. Luas kawasan lindung dan non lindung
Cisadane Ciliwung-Angke
Kawasan
Luas (ha) Persen Luas(ha) Persen
Lindung 58905 36.6 23667 23.5
NonLindung 102242 63.4 76834 76.5
Total 161147 100502

Berdasarkan analisis yang dilakukan, luas kawasan lindung di DAS Cisadane
hampir mencapai 59 ribu hektar atau 36,6% dari luas total DAS. Sedangkan
kawasan lindung di DAS Ciliwung dan Angke hanya seluas 23 ribu hektar atau
hanya sekitar 23% dari luas DASnya. Hal ini disebabkan luas kawasan hutan yang
masuk ke dalam kawasan lindung di DAS Ciliwung Angke, masih sangat kecil
atau hanya seluas 4 ribu hektar atau kurang dari 5% dari luas total DASnya (lihat
Tabel 7).

Tabel 7. Luas dan persentase kawasan hutan dan non kawasan hutan
Cisadane Ciliwung-Angke
Kawasan Hutan
Luas (ha) Persen Luas (ha) Persen
Areal Penggunaan Lain 133066 82.9 95418 95.5
Hasil Analisis_
34
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Cisadane Ciliwung-Angke
Kawasan Hutan
Luas (ha) Persen Luas (ha) Persen
Hutan Produksi 4373 2.7 2060 2.1
Hutan Lindung dan
Konservasi 23097 14.4 2397 2.4
Total 160536 99876

Luas hutan di DAS Ciliwung-Angke sangat jauh dari syarat minimal luas kawasan
hutan dalam suatu DAS, yaitu hanya 4,5 persen. Dalam Pasal 17 ayat 5 Undang-
Undang No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dijelaskan bahwa luas
minimal kawasan hutan dalam suatu DAS adalah 30%. Walaupun di dalam UU
Kehutanan No 41/1999, luas minimal juga dapat didasari atas luas total pulau.
Luas kawasan hutan di DAS Cisadane juga masih dibawah proporsi yang
ditetapkan dalam undang-undang yaitu sebesar 17,1 persen.


3.2. Analisis Tutupan Lahan melalui Interpretasi Citra Satelit
Interpretasi citra satelit dilakukan untuk mendapatkan data penutupan lahan aktual.
Dua scene citra satelit Landsat 5 tahun 2007 diinterpretasi dengan menggunakan
metode object-oriented classification, atau klasifikasi yang tidak berbasis pixel.

Tabel 8. Tutuan lahan hasil klasifikasi citra Landsat 5 tahun 2007
Cisadane
Ciliwung
Angke
Tutupan Lahan
DAS
Luas (Ha) % Luas (Ha) %
Air 6889 4.3 2804 2.8
Awan 275 0.2 70 0.1
Bayangan 199 0.1 100 0.1
Hutan jarang 21170 13.1 4796 4.8
Hutan rapat 13447 8.3 3354 3.3
Mangrove 13 0.0 24 0.0
Rawa 793 0.5 686 0.7
Kebun Campur 73184 45.4 37248 37.1
Kebun Karet 809 0.5 68 0.1
Kebun teh 1284 0.8 230 0.2
Pertanian Campur 5326 3.3 4424 4.4
Sawah 8229 5.1 1392 1.4
Rumput 3811 2.4 511 0.5
Tanah terbuka 365 0.2 481 0.5
Pemukiman 25354 15.7 44313 44.1
TOTAL 161147 100502

Hasil Analisis_
35
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Sebagian besar daerah DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke didominasi oleh tipe
penutupan lahan kebun campur. Lebih dari 45% DAS Cisadane berupa kebun
campur, sementara jenis penutupan hutan kurang dari 23% dan pemukiman lebih
dari 15%. Sebagian besar areal berhutan berada di kawasan Taman Nasional
Gunung Salak Halimun.

Tabel 9. Penyebaran kawasan lindung DAS Ciasadane dan Ciliwung berdasarkan
batas administratif.
Cisadane Ciliwung Angke
Kota/Kabupaten
Ha % Ha %
BOGOR 48263 81.5 8437 35.6
CIANJUR 0 0.0 163 0.7
KOTA BOGOR 2215 3.7 1108 4.7
KOTA DEPOK 165 0.3 2949 12.5
KOTA DKI JAKARTA 182 0.3 8781 37.1
KOTA TANGERANG 1675 2.8 1081 4.6
SUKABUMI 0 0.0 31 0.1
TANGERANG 6688 11.3 1049 4.4

Kondisi DAS Ciliwung dan Angke tidak lebih baik dari DAS Cisadane. Penutupan
hutan pada DAS ini hanya dibawah 10% yang sebagian besar berada di kawasan
puncak. Sedangkan luas pemukiman mencapai 44% dari luas total DAS Cisadane
dan Angke, mengingat kedua sungai ini melintasi provinsi DKI yang merupakan
kota metropolitan. Lebih dari 37% kawasan lindung DAS Ciliwung Angke berada
di Kota DKI Jakarta. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa masalah
banjir di DKI Jakarta sangat sulit diatasi.

3.3.1. Analisa Tutupan Lahan di Kawasan Lindung
Pemantauan kondisi kawasan lindung perlu dilakukan untuk mengetahui
keadaan kawasan lindung secara aktual. Kawasan lindung yang diperoleh
dari hasil analisis spasial dioverlaykan dengan data tutupan lahan hasil
klasifikasi citra satelit.

Tabel 10. Tutupan lahan di kawasan lindung tahun 2007
Cisadane Ciliwung Angke Tutupan Lahan
Kawasan Lindung
Luas (ha) % Luas (ha) %
Air 3311 5.6 1250 5.3
Awan 242 0.4 30 0.1
Bayangan 196 0.3 58 0.2
Hasil Analisis_
36
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Hutan jarang 11045 18.8 2014 8.5
Hutan rapat 10290 17.5 1729 7.3
Mangrove 11 0.0 22 0.1
Rawa 323 0.5 363 1.5
Kebun campur 22015 37.4 8841 37.4
Kebun karet 171 0.3 28 0.1
Kebun teh 870 1.5 57 0.2
Sawah 3459 5.9 612 2.6
Pertanian 735 1.2 519 2.2
Rumput 877 1.5 138 0.6
Tanah terbuka 77 0.1 90 0.4
Pemukiman 5283 9.0 7915 33.4
TOTAL 58905 23667

Kondisi kawasan lindung DAS Cisadane relatif lebih baik dibandingkan
kawasan lindung DAS Ciliwung Angke. Dari total DAS Cisadane seluas 59
ribu hektar, lebih dari 36% merupakan areal berhutan. Sementara kawasan
lindung DAS Ciliwung Angke hanya ditutupi sekitar 16% areal berhutan
atau sekitar 3 ribu hektar dari 23 ribu hektar. Kebun campur mendominasi
kawasan lindung di kedua wilayah tersebut atau sekitar 37% dari luas
masing-masing DAS.

Pemukiman di kawasan lindung DAS Ciliwung Angke menutupi 33% atau
hampir mencapai 8 ribu hektar dari luas DAS. Berbeda dengan kawasan
lindung DAS Cisadane yang hanya ditutupi pemukiman sebanyak 9 persen
dari luas total DAS. Selain itu keberadaan mangrove di kedua DAS tersebut
sangatlah terbatas dalam jumlah yang sangat kecil.

3.3.2. Analisa Tutupan Lahan di Kawasan Hutan
Selain itu, pemantauan kondisi kawasan hutan juga dapat dilakukan dengan
metode yang sama, yaitu dengan mengoverlay data kawasan hutan dengan
tutupan lahan aktual. Kawasan hutan adalah kawasan yang ditetapkan oleh
Departemen Kehutanan sebagai kawasan hutan. Selain fungsi konservasi
dan lindung, kawasan hutan juga memiliki fungsi produksi untuk
menghasilkan kayu. Karena itu kawasan hutan tidak selalu ditutupi oleh
areal berhutan, baik akibat pemanfaatan hutan produksi, illegal logging
ataupun perambahan hutan.

Hasil Analisis_
37
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Tabel 11. Tutupan lahan di kawasan hutan tahun 2007
Cisadane Ciliwung-Angke
Penutupan Lahan
Kawasan Hutan Luas (ha) Persen
Luas
(ha) Persen
Air 1099 4.00 242 5.43
Awan 237 0.86 30 0.66
Bayangan 191 0.70 56 1.25
Hutan jarang 9748 35.50 1424 31.95
Hutan rapat 8340 30.37 1554 34.85
Kebun Campur 5792 21.10 629 14.12
Kebun Karet 11 0.04 0 0.00
kebun teh 774 2.82 58 1.30
Mangrove 0 0.00 2 0.04
Pertanian 146 0.53 94 2.11
Rawa/Tambak 15 0.05 68 1.53
Rumput 363 1.32 8 0.17
Sawah 289 1.05 13 0.30
Tanah terbuka 51 0.18 21 0.47
Urban 361 1.32 243 5.46
(blank) 41 0.15 16 0.35
Total 27457 4458

Lebih dari 65% kawasan hutan di DAS Cisadane dan DAS Ciliwung-Angke
masih ditutupi oleh areal berhutan. Sebagian besar kawasan ini berada di
dua taman nasional yaitu TN Gede Pangrango dan TN Salak Halimun yang
merupakan ekosistem gunung yang berada di bagian selatan kedua DAS.

Dibandingkan dengan kawasan lindung, kondisi kawasan hutan cenderung
masih relatif baik khususnya jika dilihat dari persentase pemukiman yang
berada di dalam kedua kawasan tersbut. Pemukiman di kawasan hutan
masih di bawah 1%, sedangkan di kawasan lindung bahkan mencapai 33%
pada DAS Ciliwung Angke. Kegiatan pemantauan dan pengendalian
kawasan hutan umumnya dilakukan secara khusus oleh Balai Taman
Nasional Departemen Kehutanan. Sementara penetapan dan pengawasan
kawasan lindung yang merupakan wewenang pemerintah daerah masih
belum diimplementasikan sesuai dengan peraturan yang berlaku.





Hasil Analisis_
38
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Pembahasan

4.1. Ketersediaan Data
Ketersediaan data spasial merupakan permasalahan klasik yang kita sering jumpai
di dalam pengolahan dan analisis spasial di Indonesia. Kalaupun ada kualitas
datanya perlu dipertanyakan. Beruntung untuk peta dasar, Bakosurtanal sudah
menyediakan Peta Rupa Bumi Indonesia untuk seluruh wilayah Indonesia,
walaupun dengan skala yang berbeda-beda. Selain itu, dijumpai adanya perubahan
baik sungai, garis pantai maupun pemukiman yang belum disesuaikan ke dalam
peta RBI.

Banyak data spasial yang diperlukan untuk penentuan kawasan lindung belum
tersedia. Untuk menentukan sempadan sungai berdasarkan PP 47/1999 diperlukan
data sungai bertanggul yang baik karena belum adanya survey yang dilakukan
secara menyeluruh. Kemungkinan besar Departemen Pekerjaan Umum (PU)
melalui dinas-dinas PU di daerah memiliki data lokasi tanggul-tanggul sungai yang
telah dibuat, namun bagaimanapun tetap perlu dilakukan kompilasi dan
penyesuaian format sehingga dapat diaplikasikan ke dalam sistem GIS. Sehingga
untuk lebih memudahkan, banyak pihak yang menggunakan kriteria dari peraturan
sebelumnya yaitu KepPres 32/1990 karena relatif lebih mudah diterapkan.

Untuk menentukan batas pasang tertinggi di pantai dan rata-rata nilai pasang
tertinggi di pantai berhutan bakau, maka diperlukan stasiun-stasiun pemantauan
pasang surut di sepanjang garis pantai. Hal ini perlu dilakukan oleh pihak
pemerintah daerah yang memiliki garis pantai khususnya yang berhutan bakau.

Data spasial penyebaran mata air juga belum tersedia hingga skala 1:100.000. Hal
ini menyulitkan di dalam penetapan daerah sempadan mata air selebar 200 meter.
Dalam hal ini, PU Pengairan dan pemerintah daerah masing-masing perlu
melakukan survey dan identifikasi sumber-sumber mata air yang perlu dilindungi.

Pembahasan_
39
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Selain yang Hutan Lindung, KSA dan KPA, Departemen Kehutanan juga memiliki
wewenang di dalam penetapan kawasan plasma nutfah serta daerah pengungsian
satwa. Kawasan ini merupakan kawasan yang memiliki fungsi konservasi, namun
berada di luar kawasan hutan konservasi. Biasanya berada di kawasan hutan
produksi yang dikelola oleh konsesi-konsesi HPH atau HTI. Di setiap rencana
kerja tahunan yang disusun, diwajibkan untuk menetapkan kawasan-kawasan
tersebut. Rencana kerja tahunan tersebut (bersama lampiran peta kerja) selanjutnya
di ajukan ke dinas kehutanan kabupaten dan provinsi (atau sebelum desentralisasi
diajukan ke kanwil kehutanan tiap provinsi). Sayangnya peta-peta ini belum
sepenuhnya didijitasi, mengingat keterbatasan kapasitas dinas-dinas kehutanan.
Sehingga database lokasi kawasan lindung tersebut cenderung belum dikompilasi
dan sulit dilacak. Ditambah lagi banyaknya perubahan pihak pengelola, atau
berhentinya operasi pengelolaan hutan di banyak kawasan hutan produksi,
menyebabkan status kawasan plasma nutfah dan pengungsian satwa semakin tidak
jelas.

Kawasan lindung lain yang juga merupakan domain Departemen Kehutanan adalah
Cagar Biosfer. Cagar Biosfer dijelaskan di dalam UU No 5 Tahun 1990 tentang
Konvensi Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. Cagar Biosfer ditetapkan
dalam rangka kerja sama internasional di bidang konservasi. Di Indonesia terdapat
6 Cagar Biosfer yang ditetapkan yaitu: Siberut, Leuser, Cibodas, Lore Lindu,
Komodo dan Tanjung Putting, yang zona intinya merupakan kawasan Taman
Nasional. Namun peta batas cagar biosfer tidak dijumpai di dalam peta kawasan
hutan yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan.

Pembahasan_
40
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Gambar 4. Cagar Biosfer di Indonesia yang termasuk dalam UNESCOs Biosphere
Reserves (www.unesco.org).

Berbeda dengan kawasan lindung lahan gambut, peraturan menetapkan bahwa
kriteria lahan gambut yang dilindungi adalah yang memiliki kedalaman lebih dari
300 cm. Sedangkan data penyebaran lahan gambut yang dikeluarkan oleh
Departemen Pertanian (Puslitanak) hanya memiliki data kedalaman 40 cm, 60 cm,
90 cm dan 250 cm. Untungnya, Wetlands International sebuah lembaga swadaya
masyarakat internasional mengeluarkan data penyebaran lahan gambut yang
merupakan perbaikan dari data sebelumnya. Sayangnya, data penyebaran lahan
gambut yang dikeluarkan Wetlands International hanya terbatas pada pulau
Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Sehingga bagaimanapun, peran
penyediaan data spasial dasar tetap merupakan domain pemerintah dengan
memanfaatkan data yang telah ada.

Selain ketersediaan data, kemudahan akses untuk mendapatkan data juga menjadi
persoalan tersendiri. Infrastruktur Data Spasial Nasional/Daerah (IDSN/D)
seharusnya dapat menjawab tantangan tersebut. Ditambah lagi perlunya sektor
lingkungan atau tematik kawasan lindung untuk dimasukkan ke dalam salah satu
simpul jaringan dalam IDSN/D. Mengingat sektor ini belum masuk di dalam
simpul IDSN seperti yang ditetapkan dalam PP No 85/2007 tentang Jaringan Data
Spasial Nasional.

Faktor ketidaktersediaan data menyebabkan pemerintah daerah memiliki
kecenderungan untuk mengesampingkan penetapan kawasan lindung yang tidak
ada datanya. Untuk itu, pemerintah perlu mengatur lebih spesifik penyediaan data-
data awal untuk penetapan kawasan lindung.

4.2. Pedoman Teknis
Beberapa kawasan lindung perlu disusun sebelumnya dengan menggunakan data-
data penunjang lainnya, seperti daerah rawan bencana alam atau kawasan resapan
air. Namun sayangnya pedoman yang menjelaskan secara rinci metode pembuatan
daerah rawan bencana belum tersedia. Walaupun cukup banyak metodologi
pemetaan daerah rawan yang telah dikembangkan oleh berbagai instansi dan
Pembahasan_
41
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
organisasi yang bergerak di dalam pengendalian bencana alam (disaster
management).

Salah satu dokumen kompilasi metodologi pemetaan daerah rawan bencana alam
disusun oleh BRR bekerja sama dengan GTZ Jerman (Darmawan dan Theml,
2005). Dokumen ini dapat digunakan sebagai rujukan di dalam penyusunan
pedoman oleh instansi sektor terkait, sehingga memudahkan pemerintah daerah di
dalam menerapkan pemetaan daerah rawan tersebut. Namun demikian, prosedur
yanga ada bukanlah prosedur baku sehingga perlu disesuaikan dengan karakteristik
wilayah.

Terdapat beberapa konsep atau metodologi pemetaan daerah resapan air. Konsep
yang paling umum dibuat adalah konsep yang memperhatikan kondisi
geomorfologi, seperti yang dijelaskan dalam peraturan yang ada. Namun demikian
pedoman teknis untuk metode ini juga belum dibakukan ke dalam peraturan
pendukung. BPLHD Jawa Barat telah menyusun peta daerah resapan air
berdasarkan metode tersebut. Metode pemetaan daerah resapan lain yang tidak
menggunakan konsep geomorfologi melainkan menggunakan konsep aliran tanah
juga banyak didiskusikan ( Lubis, 2006; Azan, et al, 2006).

4.3. Peraturan dan Implementasi
Peraturan yang ada terkait dengan pengelolaan kawasan lindung dan penataan
ruang sudah cukup banyak dan cukup untuk dapat diterapkan agar
keberlangsungan fungsi lindung dan kelestarian sumber daya alam dapat dinikmati
dan bermanfaat bagi masyarakat terkait dengan pembangungan daerah secara
berkelanjutan.

Namun beberapa peraturan cenderung tumpang tindih di dalam menetapkan
kriteria kawasan lindung. Salah satu contoh adalah, kriteria luas minimal ruang
terbuka hijau menurut Kepmendagri No. 1/2007 adalah sebesar 20%, sedangkan
berdasarkan UU 26/2007 sebesar 30%. Hal ini membingungkan sehingga
menyebabkan ketidakjelasan dan kesulitan di dalam upaya penetapan dan
pemantauannya.
Pembahasan_
42
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke

Peraturan yang baik belum menjamin implementasi yang baik. Karena itu, peran
pemerintah baik di pusat dan daerah sangat menentukan sehingga masyarakat
cenderung menaati peraturan yang telah ditetapkan. Pemanfaatan kawasan lindung
yang tidak sesuai dengan fungsi kawasan lindung khususnya di daerah yang sering
dilanda bencana alam seharusnya sudah tidak dapat ditolerir lagi. Hal ini sangat
penting untuk menghindari terjadinya kerusakan lingkungan yang menyebabkan
terjadinya bencana yang lebih parah.

Koordinasi antar instansi dalam sebuah batas administrasi seringkali menjadi
permasalahan klasik. Antara pembuat rencana dan pemberi izin lokasi seringkali
tidak saling berhubungan dan bahkan cenderung eksklusif. Akibatnya banyak lahan
yang seharusnya dijadikan kawasan lindung menjadi kawasan budidaya atau
industri. Badan Koordinasi Tata Ruang (BKTR) di daerah seharusnya dapat
menjadi wadah untuk mengkoordinasikan permasalahan-permasalahan. Namun
masalah tata ruang kawasan lindung tidak hanya berhenti di koordinasi,
implementasi sangat membutuhkan kesepahaman dan komitmen yang jelas dari
semua pihak.

Kejadian bencana alam yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia baru-baru ini
menjelaskan langsung dampak yang diterima jika kita mengabaikan upaya
pelestarian dan perlindungan terhadap alam. Hal ini seharusnya menjadi
momentum bagi pemerintah daerah untuk memulai upaya perbaikan kawasan
lindung di DAS yang rusak serta mengatur dan mengendalikan upaya pemanfaatan
kawasan lindung pada DAS yang relatif masih bagus.

Banyak kasus dimana kawasan lindung masih belum dimasukkan ke dalam peta
tata ruang wilayah. Padahal undang-undang tentang penataan ruang, baik UU No
24/1992 maupun UU No 47/1997, secara tegas telah menetapkan bahwa
pemanfaatan ruang wilayah dibagi atas dua fungsi utama yaitu kawasan budidaya
dan kawasan lindung. Namun banyak RTRW provinsi, kabupaten atau kota yang
belum menetapkan kawasan lindung di dalamnya. Padahal kawasan lindung tidak
hanya kawasan hutan lindung dan hutan konservasi saja.

Pembahasan_
43
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
4.4. Fungsi dan Kondisi Kawasan Lindung
Kawasan lindung sudah mulai diperhatikan sejak dikeluarkannya KepPres 32 tahun
1990. Namun dalam implementasinya tidak berjalan secara baik. Hal ini terkait erat
dengan keterbatasan pemahaman tentang fungsi kawasan lindung. Kawasan
lindung memiliki banyak fungsi antara lain:
1. Fungsi hidro-orologis yang dapat mencegah erosi, banjir dan longsor.
2. Perlindungan terhadap mata air dan air tanah.
3. Perlindungan pantai dari abrasi dan intrusi air laut.
4. Melindungi ekosistem dan habitat tertentu (seperti ekosistem lahan gambut
yang rapuh, ekosistem yang memiliki keanekaragaman tinggi, atau
ekosistem yang merupakan habitat jenis satwa dan tumbuhan tertentu).
5. Perlindungan keanekaragaman hayati flora dan fauna.
6. Penyerap karbon.
7. Pengatur iklim baik makro dan mikro.
8. Fungsi penelitian dan rekreasi.
9. Fungsi estetika.
10. Perlindungan kerugian dari bahaya bencana alam.
11. Perlindungan budaya dan struktur geologi tertentu geologi.

Fungsi-fungsi tersebut bersifat intangible atau cenderung tidak kongkrit dengan
sedikit manfaat ekonomi dari kacamata masyarakat pada umumnya. Karena itu
banyak kondisi kawasan lindung yang tidak berada dalam keadaan yang baik.
Adanya konflik kepentingan antara pengembangan ekonomi secara cepat dengan
kelestarian sumber daya alam dan lingkungan menyebabkan fungsi-fungsi kawasan
lindung tersebut menjadi dipandang sebelah mata atau bahkan dianggap
menghambat pertumbuhan wilayah.

Pemerintah yang baik cenderung masih dinilai dari kinerja peningkatan
perekonomian. Walaupun dalam banyak kasus, pemerintah daerah sering
mengorbankan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Banyaknya kejadian
bencana longsor dan banjir di beberapa kabupaten di Indonesia akhir-akhir ini,
sebenarnya dapat dijadikan momentum untuk mengajak pemerintah daerah dan
masyarakat umum untuk memahami fungsi kawasan lindung tersebut. Dengan
Pembahasan_
44
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
dimasukkannya kerugian akibat bencana serta biaya penanggulangan dan
rehabilitasi yang tinggi ke dalam analisis ekonomi fungsi kawasan lindung, maka
diharapkan perubahan persepsi akan pentingnya kawasan ini dapat terjadi.


Gambar 5. Kondisi Sungai Ciapus yang merupakan bagian hulu DAS Cisadane.

Dibandingkan DAS Ciliwung, DAS Cisadane relatif lebih baik. Daerah terbangun
pada kawasan lindung DAS Cisadane hanya sebesar 9%. Sedangkan daerah
terbangun di kawasan lindung DAS Ciliwung-Angke mencapai 33% (Tabel 10).
Hal ini disebabkan karena lebih dari 37% kaeasan lindung DAS Ciliwung-Angke
berada di Kota DKI Jakarta. Sedangkan Kawasan lindung DAS Cisadane sebagian
besar (sebanyak 80%) berada di Kabupaten Bogor yang relatif jarang
penduduknya.

Di bagian hulu DAS Cisadane sebagian besar merupakan kawasan hutan (TN Salak
Halimun) yang kondisinya masih relatif baik. Namun berdasarkan survey lapangan,
di sempadan sungai Ciapus sudah mulai dilakukan penambangan batu oleh
masyarakat. Kegiatan ini cenderung memicu terjadinya erosi, karena penambangan
yang dilakukan tidak memperhatikan kondisi lereng dan merusak tanah (Gambar
5).

Selain itu pemasangan stasiun pemancar telekomunikasi juga mulai banyak dan
berada di lokasi yang tingkat kelerengannya cukup curam. Pemberian izin lokasi
untuk kawasan lindung seharusnya perlu mempertimbangkan fungsi kawasan
lindung serta pola pemanfaatan yang ideal. Tanpa memahami fungsi kawasan
lindung, pengambilan keputusan di dalam pola pemanfaatan ruang kawasan
Pembahasan_
45
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
lindung dapat menjadi salah kaprah dan dapat mengingkatkan resiko terjadinya
kerusakan lingkungan dan bencana alam.

Tabel 12. Fungsi dan Kondisi Ideal Kawasan Lindung
Jenis Kawasan Lindung Fungsi dan Kondisi Ideal
1. Kawasan Hutan Lindung Fungsi: mengatur hidro-orologi, penyerap karbon,
perlindungan ekosistem.
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer.
Pemanfaatan: pemanfaatan terbatas melalui pemanfaatan
kawasan, jasa lingkungan atau pemanfaatan hasil non
kayu. Namun pada blok perlindungan, upaya pemanfaatan
tersebut dilarang (PP 6/2007 tentang Penataan Hutan)
Fungsi: mengatur hidro-orologi, penyerap karbon,
perlindungan ekosistem
2. Kawasan bergambut
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer, misalnya hutan rawa gambut. Seharusnya tidak
dibuat saluran drainase, lahan gambut yang kering dan
terdegradasi justru melepaskan karbon.
Fungsi: mengatur hidro-orologi, perlindungan air tanah 3. Kawasan Resapan Air
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer, paling tidak merupakan ruang terbuka hijau bukan
area terbangun. Jika terlanjur, perlu dibuat sumur resapan
dan lubang biopori, sehingga air limpasan berkurang.
Fungsi: mencegah abrasi dan intrusi air laut 4. Sempadan Pantai
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer, seperti hutan pantai
Fungsi: mengatur hidro-orologi, perlindungan mata air dan
air tanah
5. Sempadan Sungai
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer, paling tidak merupakan ruang terbuka hijau bukan
area terbangun
Fungsi: mengatur hidro-orologi, perlindungan mata air dan
air tanah
6. Kawasan Sekitar Danau/
Waduk
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer, paling tidak merupakan ruang terbuka hijau bukan
area terbangun
Fungsi: mengatur hidro-orologi, perlindungan mata air dan
air tanah
7. Kawasan Sekitar Mata Air
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer, paling tidak merupakan ruang terbuka hijau bukan
built-up area
Fungsi: mengatur hidro-orologi, pengatur iklim mikro dan
estetika
8. Kawasan RTH Kota
Kondisi Ideal: vegetasi berupa pohon atau tanaman herba
berupa taman, tanah terbuka bervegetasi, pekarangan,
kebun, pemakaman, atau lahan tidur
Fungsi: mengatur hidro-orologi, perlindungan habitat
satwa, iklim mikro dan estetika
9. Hutan Kota
Kondisi Ideal: vegetasi berupa pohon yang rapat dan
heterogen
Pembahasan_
46
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan Lindung Fungsi dan Kondisi Ideal
Fungsi: perlindungan ekosistem, perlindungan flora dan
fauna, penyerap karbon
10. Cagar Alam
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer.
Pemanfaatan: dilarang melakukan upaya pemanfaatan (PP
6/2007)
Fungsi: perlindungan satwa liar dan habitatnya, penyerap
karbon
11. Suaka Margasatwa
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer.
Pemanfaatan: pemanfaatan kawasan (rekreasi dan
lingkungan), jasa lingkungan dan hasil non kayu
Fungsi: konservasi keanekaragaman hayati, penelitian dan
rekreasi
12. Taman Nasional (TN)
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi primer
untuk di zona inti, sedangkan di zona lainnya bisa
disesuaikan dengan rencana pengelolaan.
Pemanfaatan: Pemanfaatan: pemanfaatan kawasan
(rekreasi dan penelitian), jasa lingkungan dan hasil non
kayu, namun di zona rimba dan zona inti dilarang
melakukan upaya pemanfaatan.
Fungsi: pelestarian dan koleksi tumbuhan baik eksotik
maupun asli, penelitian, pendidikan, rekreasi dan budaya
13. Taman Hutan Raya
(Tahura)
Kondisi Ideal: vegetasi hutan
Pemanfaatan: pemanfaatan kawasan (rekreasi dan
lingkungan), jasa lingkungan dan hasil non kayu
Fungsi: perlindungan ekosistem, wisata dan rekreasi 14. Taman Wisata Alam
(TWA)
Kondisi Ideal: vegetasi hutan atau ekosistem asli
Pemanfaatan: pemanfaatan kawasan (rekreasi dan
lingkungan), jasa lingkungan dan hasil non kayu
Fungsi: pelestarian budaya dan geologi 15. Kawasan Cagar Budaya
Kondisi Ideal: lansekap asli

Fungsi: perlindungan kerugian bencana 16. Kawasan Rawan
Bencana Alam
Kondisi Ideal: vegetasi yang mampu mengurangi dampak
bencana, Seharusnya tidak ada pemukiman
Fungsi: pelestarian satwa, wisata dan rekreasi 17. Taman Buru
Kondisi Ideal: vegetasi alami yang sesuai dengan habitat
satwa buru
Fungsi: konservasi hayati, pembangunan berkelanjutan,
rekreasi dan penelitian
18. Cagar Biosfir
Kondisi Ideal: zona inti merupakan ekosistem asli, zona
penyangga dan transisi bisa berupa areal budidaya dan
pemukiman
Pemanfaatan: mungkin dilakukan pengembangan ekonomi
di zona transisi dan zona penyangga, namun tidak di zona
inti.
Fungsi: konservasi keanekaragaman hayati 19. Kawasan Perlindungan
Plasma Nutfah
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi primer
Pemanfaatan: pemanfaatan kawasan (rekreasi dan
lingkungan), jasa lingkungan dan hasil non kayu
Fungsi: konservasi satwaliar 20. Kawasan Pengungsian
Satwa
Kondisi Ideal: vegetasi alami atau artifisial
Pembahasan_
47
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jenis Kawasan Lindung Fungsi dan Kondisi Ideal
Pemanfaatan: pemanfaatan kawasan (rekreasi dan
lingkungan), jasa lingkungan dan hasil non kayu
Fungsi: mencegah abrasi, intrusi air laut serta gelombang
laut, pelestarian hutan, perlindungan habitat biota laut
21. Kawasan Pantai Berhutan
Bakau
Kondisi Ideal: vegetasi alami dengan tingkat suksesi
primer, jenis bakau atau nipah. Semakin rapat tegakan
bakau, semakin kuat menahan gelombang pasang atau
tsunami.
22. Terumbu Karang Fungsi: Perlindungan ekosistem dan keanekaragaman
hayati. Terumbu karang juga berfungsi sebagai pemecah
gelombang.
Kondisi Ideal: Terumbu karang dengan tingkat
keanekaragaman dan kelimpahan yang tinggi.

Keterangan: Luas total kawasan hutan (HP, HL, KPA, KSA) setidak-tidaknya 30% dari
luas total wilayah DAS (UU 26/2007) dan atau luas total Pulau (UU
41/1999).

Dalam Pasal 42 PP No 47/1997 tentang RTRWN, pengendalian pemanfaatan
kawasan lindung dilakukan oleh pemerintah daerah atau instansi yang berwenang.
Walaupun sering kenyataannya pemberian izin pemanfaatan lokasi sering tidak
memperhatikan status kawasan lindung atau bukan. Hal ini terkait dengan
perbedaan prioritas antara kelestarian dengan keuntungan ekonomi sesaat.

Selain itu, pengelolaan beberapa kawasan lindung juga merupakan kewenangan
pihak pemerintah pusat, antara lain kawasan pelestarian alam dan kawasan suaka
alam (kecuali taman hutan rakyat, yang wewenangnya diserahkan kepihak
pemerintah daerah). Adanya tumpang tindih kewenangan ini dapat menyebabkan
semrawutnya pengeluaran izin pemanfaatan, ditambah lagi


4.5. Pengendalian Pemanfaatan Ruang Kawasan Lindung

Untuk membahas permasalahan di dalam pengelolaan kawasan lindung perlu
merujuk pada pengaturan kewenangan terhadap masing-masing kawasan lindung.
Di dalam penetapannya pemerintah pusat memiliki wewenang khususnya terkait
dengan kawasan hutan lindung dan konservasi, dalam hal ini sektor kehutanan.
Kecuali Taman Hutan Rakyat, pengelolaan semua kawasan konservasi merupakan
wewenang Departemen Kehutanan. Karenanya upaya penetapan, perencanaan serta
pengendalian merupakan tugas dan wewenang Departemen Kehutanan melalui
Balai Konservasi Sumberdaya Alam dan Balai Taman Nasional.
Pembahasan_
48
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke

Struktur kelembagaan pengelolaan kawasan konservasi tersebut relatif lebih maju
dibandingkan kelembagaan kawasan lindung lainnya. Walaupun di dalam
implementsinya, upaya perlindungan hutan konservasi sering mengalami kegagalan
akibat banyaknya konflik dengan masyarakat setempat atau dengan rencana
pengembangan wilayah provinsi dan kabupaten. Hal tersebut kemungkinan
disebabkan kurangnya pelibatan unsur setempat di dalam perencanaan dan
pengelolaannya.

Kawasan lindung selain kawasan hutan sebagian besar merupakan wewenang
pihak pemerintah daerah baik dalam hal penetapan, perencanaan pemanfaatan
ruang serta pengendaliannya. Pemerintah daerah memiliki peran strategis di dalam
pengelolaan kawasan lindung, sehingga komitmen yang konsisten sangat
mempengaruhi. Komitmen yang dimaksud dimulai dari upaya penetapan kawasan
lindung sesuai dengan peraturan, memasukkannya ke dalam perencanaan tata ruang
wilayah, memberlakukan pemberian izin lokasi pemanfaatan ruang sesuai dengan
peruntukkannya serta secara konsisten menerapkan upaya pengendalian
pemanfaatan ruang dan rehabilitasinya.

Rendahnya pemahaman masyarakat juga perlu diperbaiki melalui program
sosialisasi dan penegakkan hukum secara terus menerus. Penegakkan hukum harus
dimulai sejak awal, bukan hanya dilakukan jika sudah terjadi penyimpangan.
Penertiban pemukiman di sempadan sungai juga dapat menimbulkan permasalahan
sosial. Karena itu, sosialisasi, penegakkan hukum dan pemantaun harus dilakukan
secara sistematik, terus menerus dan menyeluruh.

Di daerah pedesaan, pemanfaatan ruang kawasan lindung juga tidak boleh
sembarangan. Khususnya di daerah yang berbukit dan bergunung, jenis tanaman
semusim biasanya tidak cukup kuat untuk menahan tanah dari bahaya longsor.
Vegetasi alami dengan suksesi primer biasanya memiliki sistem perakaran yang
sesuai dengan kondisi setempat. Karenanya pola pemanfaatan ruang perlu
memperhatikan kondisi tapak, agar menyerupai kondisi alami sebelumnya.

Pembahasan_
49
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Jika ketidakpahaman biasanya selalu di pihak masyarakat, maka ketidakpedulian
biasanya terjadi di pemerintah pemerintah. Banyak areal yang seharusnya
merupakan kawasan lindung menjadi kawasan yang secara ekonomis
menguntungkan seperti perindustrian, perumahan ataupun pusat bisnis. Kondisi
seperti ini sangat dilematis bagi pemerintah daerah khususnya di wilayah
perkotaan, mengingat secara administrasi dan hukum mereka mendapat izin dari
pemerintah sehingga hampir tidak mungkin untuk dibatalkan dengan pertimbangan
kepastian jaminan bagi investor-investor yang lain.

Kondisi dilematis ini perlu dipecahkan juga dengan pendekatan-pendekatan yang
kompromis. Misalnya untuk daerah yang sudah terlanjur diperuntukkan untuk
dibangun, maka diwajibkan untuk membuat sumur resapan ataupun biopori dengan
kapasitas yang disesuaikan dengan luas lahan yang dibangun. Metode-metode eco-
engineer lainnya perlu dikembangkan, didokumentasikan serta disosialisasikan ke
masyarakat luas, sehingga dapat diterapkan secara luas.

Namun bukan berarti, pemanfaatan kawasan lindung dapat dilakukan selalu dengan
pendekatan kompromis. Ketegasan diperlukan untuk mengarahkan pola
pemanfaatan sesuai dengan yang telah direncanakan. Beberapa kawasan lindung
bahkan secara tegas tidak dapat dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan
terkait pembangunan, seperti cagar alam serta zona inti dan rimba dari taman
nasional.




Pembahasan_
50
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Kesimpulan dan
Rekomendasi

Batas DAS yang diperoleh dari hasil analisis DEM cenderung lebih akurat
dibandingkan berdasarkan dijitasi secara manual. Walaupun di daerah yang sangat
datar, seperti di utara Jakarta, memiliki kualitas yang kurang baik. Untuk skala yang
lebih kecil data DEM SRTM justru dapat memberikan batas DAS yang lebih baik.

Dengan menerapkan kriteria dari peraturan yang ada, luas kawasan lindung dalam suatu
DAS sangat dipengaruhi oleh luas kawasan hutan dan banyak tidaknya jaringan sungai.
Semakin banyak kawasan hutan maka luas kawasan lindung semakin besar, demikian
pula dengan jaringan sungai.

Kondisi kawasan lindung DAS Cisadane relatif lebih baik dibandingkan kawasan
lindung DAS Ciliwung Angke. Walaupun penutupan areal berhutannya hanya 36%,
penutupan lahan oleh vegetasi relatif cukup luas. Namun proporsi luas kawasan hutan
kedua DAS tersebut masih dibawah proporsi minimum yang ditetapkan dalam UU No
26/2007. Bahkan DAS Ciliwung-Angke hanya memiliki 4,5 persen dari luas total DAS.
Terlebih lagi hanya 65% kawasan hutan yang ditutupi oleh vegetasi berhutan.

Pemanfaatan ruang dalam kawasan lindung yang tidak sesuai dengan fungsinya dapat
menyebabkan menyebabkan terganggunya kinerja lingkungan di dalam menjalankan
peran lindungnya. Sehingga daya dukung dan daya tampung lingkungan semakin
berkurang. Bencana banjir dan longsor ataupun sungai yang tercemar dapat menjadi
hasil akhir dari pola tata ruang yang tidak memperhatikan kesinambungan alam.

Pemetaan kawasan lindung berdasarkan peraturan yang ada masih mengalami beberapa
kesulitan, antara lain tidak tersedianya data spasial yang diperlukan atau pedoman yang
sesuai untuk menyusun beberapa kawasan lindung masih belum tersedia. Keterbatasan
Kesimpulan dan Rekomendasi_
51
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
tersebut dapat menyebabkan pemerintah daerah tidak dapat menetapkan kawasan
lindung sesuai peraturan yang ditetapkan. Tentu saja komitmen juga merupakan faktor
penting di dalam penerapannya oleh pemerintah daerah.

Berdasarkan kondisi dan permasalahan yang ada, beberapa rekomendasi yang mungkin
untuk dikembangkan terkait dengan kawasan lindung meliputi:
1. Perbaikan batas DAS di Indonesia dapat dilakukan dengan menggunakan
analisis data topografi atau DEM. Untuk skala yang lebih kecil, analisis batas
DAS menggunakan data DEM yang berasal dari data SRTM, dirasa cukup
memadai.
2. Pengumpulan dan perbaikan data base spasial yang dapat digunakan oleh
pemerintah daerah. Selain data dasar spasial, data RTRW Provinsi, Kabupaten
dan Kota juga perlu untuk dikumpulkan melalui dinas dan instansi lingkungan
di daerah. Data tersebut bermanfaat untuk mengevaluasi komitmen pemerintah
daerah di dalam pengelolaan kawasan lindung. Sehingga dapat dijadikan
sebagai salah satu parameter di dalam Status Lingkungan Hidup Daerah.
3. Melengkapi model spasial pemetaan kawasan lindung dengan menambahkan
data spasial daerah resapan air dan rawan bencana alam. Untuk itu diperlukan
pengkompilasian pedoman pemetaan daerah resapan air dan daerah rawan
bencana alam yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah. KLH perlu juga
mendorong sektor terkait di dalam penyediaan data spasial dan penyusunan
metodologi pemetaan kawasan-kawasan lindung.
4. Menyusun katalog peta dan metadata data spasial yang dimiliki KLH, sehingga
memudahkan upaya pertukaran dan perbaikan data terkait dengan penataan
kawasan lindung dan penataan ruang.
5. Melakukan pemantauan kawasan lindung dengan mengintegrasikan program-
program kerja internal KLH terkait dengan pemantauan kerusakan serta
penataan ruang.
6. Mensosialisasikan peran instansi lingkungan daerah, menyusun program
pengembangan kapasitas melalui sosialisasi dan pelatihan teknis pemetaan
kawasan lindung sesuai peraturan ke pemerintah daerah..
Kesimpulan dan Rekomendasi_
52
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
7. .Mendorong instansi terkait untuk duduk bersama membahas peraturan yang
saling tumpang tindih atau peraturan pelaksana yang mengatur lebih lanjut hal-
hal terkait dengan kawasan lindung, sehingga memudahkan pemerintah daerah
untuk menerapkan penetapan kawasan lindung sesuai dengan peraturan yang
ditetapkan.
Kesimpulan dan Rekomendasi_
53
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Literatur

Azan, S, L.M. Hutasoit dan A.M. Ramdhan. 2006. Penentuan Daerah Resapan Mataair
Daerah Sibolangit Sumatera Utara. Jurnal Geoaplika Vol 1 No 1. Tahun 2006.
Darmawan, M. dan S. Theml. 2006. Katalog Metodologi untuk Pembuatan Peta Geo-
Hazard. Proceeding Workshop Kompilasi Metodologi Pemetaan Geo-Hazard
Banda Aceh, 14-15 Desember 2006. BRR-GTZ-BGR-Bakosurtanal-DED.
Fahutan IPB dan KLH. 2002. Penyusunan Kriteria Penilaian Peringkat Kinerja
Pemerintah Daerah Berdasarkan Pengelolaan Kawasan Lindung.
KLH. 2006. Pedoman Umum Program Menuju Indonesia Hijau.Kementreian Negara
Lingkungan Hidup.
KLH. 2006. Status Lingkungan Hidup Indonesia. Kementrian Lingkungan Hidup.
Lubis, R.F. 2006. Bagaimana Menentukan Daerah Resapan Air Tanah? Jurnal Inovasi
Vol 6/XVIII/Maret 2006.
Primiantoro, ET. dan F. Sofianti. Fact Sheet: Kawasan Lindung Aset Pembangunan
Berkelanjutan Daerah. Bidang Pengendalian Kerusakan Lingkungan dan Tata
Lingkungan Pusat Pengelolaan Lingkungan Hidup Regional Sulawesi Maluku
dan Papua, KLH.

Literatur_
54
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Lampiran
Lampiran 1. Policy Memo Kajian Pemetaan Kawasan Lindung sesuai
Peraturan

Rekomendasi
Pemetaan kawasan lindung berdasarkan peraturan yang ada dapat menimbulkan
perbedaan ketelitian dan keakurasian akibat (1) perbedaan persepsi dalam interpretasi
kriteria penentuan kawasan lindung, (2) ketidaktersediaan data spasial sebagaimana
yang dituntut dalam peraturan, serta (3), belum lengkapnya pedoman umum atau
peraturan pendukung untuk merinci kriteria yang masih ngambang.

Untuk itu direkomendasikan agar KLH:
Mendorong instansi terkait untuk mendukung penyediaan data spasial dan
peningkatan keakurasian pemetaan kawasan lindung.
Menginisiasi dan mendorong instansi terkait lainnya untuk bersama-sama
menyusun petunjuk pemetaan yang menjabarkan kriteria-kriteria penetapan
kawasan lindung dengan pendekatan yang saintifik, sekaligus tetap
memperhatikan kesesuaian dengan karakteristik lokal bersama-sama instansi
terkait.
Mendorong instansi terkait harus lebih konsisten di dalam penyediaan data
spasial atau metodologi untuk menghasilkan data awal yang diperlukan melalui
prosedur Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN).
Mendukung IDSN untuk mengintegrasikan konsep lingkungan dan kawasan
lindung ke dalam struktur data spasial, mengingat sektor lingkungan dan data
dasar kawasan lindung belum dimasukkan ke dalam PP No 85/2007 tentang
IDSN.

Namun demikian, dengan keterbatasan data yang ada, telah disusun pedoman analisis
sebagian kawasan lindung dengan pendekatan yang realistis dan memungkinkan untuk
diadopsi oleh pemerintah daerah. Pedoman tersebut perlu disosialisasikan ke
pemerintah daerah agar upaya pemantauan kawasan lindung lebih mudah dilaksanakan.


Lampiran_
55
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Latar Belakang
Permasalahan lingkungan seringkali terjadi akibat ketidaktepatan pengelolaan wilayah
yang lebih berorientasi hanya kepada batas administrasi. Karena itu, upaya pelestarian
lingkungan perlu dilakukan di dalam batasan ekologis. Daerah Aliran Sungai (DAS)
merupakan salah satu unit batas yang merepresentasikan kondisi ekologis sebuah
wilayah. Kelestarian fungsi DAS sangat ditentukan oleh kondisi kawasan lindung yang
berada di dalamnya. Pengembangan wilayah yang tidak bijaksana menjadi salah satu
tekanan terhadap keberadaan dan kondisi kawasan lindung.

Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki peran kunci dalam menjaga kelestarian
fungsi DAS melalui pemantauan dan pengendalian kawasan lindung. Pemerintah pusat
perlu lebih aktif mendorong dan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam
usaha pengendalian dan pemantauan kawasan lindung di wilayahnya.

Peraturan-peraturan terkait dengan penetapan kawasan lindung yang telah dikeluarkan
dan dapat digunakan oleh pemerintah daerah sebagai dasar pengelolaan kawasan
lindung antara lain, Keppres 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, PP
47 tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional serta Undang-Undang
No 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Selain itu juga terdapat beberapa peraturan
menteri yang mengatur kriteria penetapan kawasan lindung secara lebih detil. Namun
implementasi dari peraturan-peraturan tersebut masih belum terlihat secara signifikan.

Analisa dan Argumen
Perbedaan persepsi dalam interpretasi kriteria penentuan kawasan lindung
Kriteria kelerengan (slope), elevasi, jenis tanah dan curah hujan digunakan untuk
menetapkan hutan lindung. Berdasarkan SK Mentan No 837/Kpts/Um/11 /1980, kriteria
penetapan hutan lindung sudah sangat jelas. Namun, kawasan hutan termasuk hutan
lindung ditetapkan oleh Departemen Kehutanan, sehingga kriteria kelerengan dan
elevasi tidak perlu digunakan lagi untuk penetapan kawasan lindung oleh pemerintah
daerah atau program Menuju Indonesia Hijau.

Contoh lainnya adalah berdasarkan PP 47/1997, penetapan sempadan sungai yang tidak
bertanggul ditetapkan oleh pejabat berwenang. Yang menjadi pertanyaan, siapa pejabat
Lampiran_
56
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
yang berwenang dan atas dasar apa penetapan lebar sempadan dilakukan? Perbedaan
persepsi di dalam penetapan kriteria akan sangat mungkin terjadi.

Ketidaktersediaan data spasial sebagaimana yang dituntut dalam peraturan
Berdasarkan kajian peraturan perundangan terkait dengan kawasan lindung, beberapa
kawasan lindung masih sulit untuk dipetakan. Karena memerlukan upaya tambahan di
dalam pengumpulan data yang sulit untuk dilakukan atau memakan biaya besar.
Misalnya untuk memetakan sempadan sungai (berdasarkan PP 47/1997 pasal 34 ayat 2)
diperlukan data sungai bertanggul dan tidak bertanggul yang hingga saat ini belum
tersedia. Untuk mendapatkannya diperlukan survey langsung ke lapangan atau dengan
citra resolusi sangat tinggi. Kedua metode tersebut akan memerlukan waktu yang lama
dan biaya yang besar.

Hal yang sama ditemui dalam penentuan beda rata-rata antara pasang terendah dan
tertinggi di hutan mangrove (berdasarkan PP 47/1999 pasal 39 ayat 5), serta batas
pasang tertinggi untuk sempadan pantai (PP 47/1997 pasal 34 ayat 1) secara teknis sulit
dilakukan mengingat ketersediaan data penyusun.

Di sektor kehutanan, peta penunjukkan kawasan hutan TGHK (skala 1: 250.000) telah
dikeluarkan dan sering digunakan sebagai data awal untuk menentukan kawasan
pelestarian alam, kawasan suaka alam serta hutan lindung. Namun skala ini tidak cukup
detail untuk digunakan di tingkat daerah atau kabupaten.

Belum lengkapnya pedoman umum
Kriteria yang tidak ada pedoman teknisnya untuk menjelaskan secara rinci juga
bermuara kepada ambiguitas yang akhirnya mengurangi validitas dari data yang
digunakan. Kriteria penetapan daerah resapan air adalah daerah yang memiliki curah
hujan tinggi dan struktur geomorfologi yang mampu menyerap air secara besar-besaran
(berdasarkan PP 47/1997 Pasal 33 ayat 3). Hal tersebut tentu akan menyulitkan
pemerintah daerah yang memiliki keterbatasan pengalaman dan kemampuan di dalam
analisa spasial penetapan daerah resapan.

Beberapa kawasan lindung bahkan memerlukan data awal yang seharusnya disediakan
oleh instansi sektor terkait, seperti daerah rawan bencana alam. Sedangkan motodologi
Lampiran_
57
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
dan pedoman teknis penyusunan peta daerah rawan bencana alam belum disepakati dan
disusun. Melalui IDSN dan IDSD, isu penyediaan data yang dimaksud oleh sektor
terkait perlu diangkat dan dibahas lebih lanjut, sehingga perencanaan wilayah nasional
juga memperhatikan aspek perlindungan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan.

Perbedaan karakteristik antar daerah juga perlu dipertimbangkan, sehingga pedoman
umum penyusunan kriteria penetapan tidak terlalu mengikat agar perbedaan
karakteristik tersebut dapat diakomodir dan kearifan lokal juga dapat dipertimbangkan.
Pedoman yang dimaksud harus memberikan penjelasan tentang definisi-definisi teknis
serta metode pendekatan yang mungkin digunakan untuk menyusun peta yang
dimaksud. Sebagai contoh, di dalam penetapan daerah resapan terdapat 2 konsep yang
berbeda dan masing-masing memiliki argumentasi yang kuat. Berdasarkan peraturan,
aliran air sangat dipengaruhi faktor morfologi atau topografi wilayah yang juga
mempertimbangkan faktor gravitasi. Sementara konsep lainnya meyakini bahwa aliran
air tidak selamanya mengikuti faktor morfologi lahan.

Jika anggaran dan waktu tidak mencukupi, maka biasanya dilakukan kompromi dengan
menggunakan data yang ada atau melakukan pendekatan dengan menggunakan berbagai
asumsi. Kompromi dan penggunaan asumsi ini perlu dilakukan berdasarkan kaidah-
kaidah ilmiah dan dijabarkan secara terbuka.

Jika penerapan pemantauan dan pengendalian kawasan lindung terlaksana dengan baik,
maka kerusakan lingkungan dan bencana alam dapat diminimalkan. Namun demikian,
diperlukan usaha yang besar dalam menyamakan persepsi baik internal KLH maupun
eksternal (instansi terkait) untuk mengakomodasi usulan kebijakan yang dimaksud.

Lampiran_
58
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Lampiran 2. Policy Memo Pemantauan Tata Ruang Wilayah

Rekomendasi
Pengelolaan kawasan lindung belum menjadi prioritas di dalam penataan ruang wilayah
daerah. Karena itu KLH perlu lebih aktif di dalam upaya pemantauan dan pengendalian
tata ruang terkait dengan kawasan lindung melalui:
Pembentukan Pokja Tata Ruang di dalam KLH.
Penyusunan pedoman teknis untuk pengkajian dan pemantauan tata ruang.
Pengumpulan dokumentasi alternatif eco-engineering dalam pengendalian tata
ruang, misalnya konsep biopori atau sumur resapan.
Mendorong Pemda untuk menerapkan prinsip-prinsip lingkungan dalam
perencanaan RTRW (KLS), melakukan pemantauan kondisi kawasan lindung
dan pengendalian tata ruang.
Penyediaan sarana teknologi informasi dan peningkatan kapasitas untuk
menfasilitasi pemda.

Latar Belakang
Di dalam tata ruang wilayah, diperlukan keseimbangan antara kawasan lindung dan
budidaya. Dalam Undang-Undang No 26 tahun 2007 disebutkan bahwa berdasarkan
fungsi utama kawasan, penataan ruang terdiri dari Kawasan Lindung dan Kawasan
Budidaya. Secara khusus kawasan lindung sudah diatur sejak lama berdasarkan KepPres
32/1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung. Namun sejak ditetapkannya tahun
1990 hingga saat ini, pengelolaan kawasan lindung yang fungsi utamanya untuk
melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber alam serta buatan,
masih belum menjadi prioritas pemerintah daerah.

Berdasarkan hasil analisis spasial di DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke, luas kawasan
lindung mencapai lebih dari 80 ribu hektar dari luas total 260 ribu hektar atau sekitar
30% dari luas total DAS. Namun berdasarkan data penutupan lahan tahun 2007,
sebanyak 33% dari kawasan lindung dari DAS Ciliwung dan Angke telah ditutupi oleh
pemukiman atau areal terbangun lainnya. Selain itu luas kawasan hutan pada DAS
Cisadane hanya sebesar 17,1%, sedangkan proporsi kawasan hutan DAS Ciliwung
Angke hanya sebesar 4,5%. Hal ini sangat jauh dari proporsi luas minimal kawasan
Lampiran_
59
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
hutan dalam suatu DAS berdasarkan Undang-Undang No 16 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang.

Perbedaan pemahaman dan ketersediaan data menjadi penyebab adanya perbedaan
pemetaan kawasan lindung. Salah satu contoh adalah, peta kawasan lindung yang
ditetapkan dalam kawasan Jabodetabekpunjur oleh Bakosurtanal berdasarkan PP
Bopunjur memiliki perbedaan dengan peta kawasan lindung berdasarkan analisa KLH
(lihat lampiran 1). Selain itu peta tata ruang wilayah kota Bogor juga memeliki sedikit
perbedaan akibat adanya perbedaan data spasial yang digunakan.

Analisa dan Argumen
Pembentukan Pokja Tata Ruang di dalam KLH
Permasalahan di dalam upaya penetapan kawasan lindung sesuai dengan peraturan,
cukup banyak dijumpai, seperti misalnya ketersediaan data spasial atau kriteria yang
tidak jelas atau saling tumpang tindih dengan kriteria dalam peraturan lain. Hal ini
memerlukan pembahasan yang komprehensif oleh pihak-pihak yang memahami
permasalahan terkait dengan penataan ruang, peraturan perundangan, pengelolaan
kawasan lindung ataupun pengelolaan data spasial. Pembentukan pokja internal KLH
dapat memfasilitasi upaya pembahasan dan penyelesaian permasalahan terkait dengan
pengelolaan kawasan lindung.

Penyusunan pedoman teknis untuk pengkajian dan pemantauan tata ruang
Beberapa kendala dijumpai saat melakukan analisis spasial penentuan kawasan lindung
berdasarkan peraturan. Salah satunya terkait dengan pemetaan daerah rawan bencana
alam atau daerah resapan air. Belum adanya pedoman teknis terkait dengan pemetaan
kawasan lindung yang dimaksud, menyebabkan sebagian pemeritah daerah cenderung
tidak mengintegrasikan kawasan ini ke dalam rencana tata ruang wilayahnya.

Pengumpulan dokumentasi alternatif eco-engineering dalam pengendalian tata ruang
Penyimpangan pola pemanfaatan ruang sudah sangat banyak terjadi, terutama di
kawasan perkotaan. Sebanyak 33 % kawasan lindung di DAS Ciliwung-Angke
merupakan areal terbangun. Hal ini menyebabkan fungsi kawasan lindung menjadi
terganggu. Selain itu banyak juga kawasan lindung yang penutupan lahannya adalah
kebun campuran yang digunakan oleh masyarakat baik untuk pemukiman maupun
Lampiran_
60
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
untuk upaya budidaya tanaman tahunan. Sosialisasi kepada masyarakat dan pemerintah
daerah diperlukan agar kawasan lindung yang ada tidak semakin parah, dan kawasan
lindung yang sudah terlanjur dimanfaatkan dapat disesuaikan sehingga fungsi
lindungnya masih dapat dipertahankan. Alternatif eco-engineering seperti bio-pori,
sumur resapan atau metode lainnya karenanya dapat bermanfaat untuk meningkatkan
fungsi lindung kawasan yang sudah terlanjut dimanfaatkan untuk kepentingan lain.
Dokumentasi dan sosialisasi lebih luas lagi diperlukan untuk menjamin
keberlangsungan fungsi kawasan lindung.

Mendorong Pemda untuk menerapkan prinsip-prinsip lingkungan dalam perencanaan
RTRW (KLS)
Undang-Undang No 26/2007 tentang Penataan Ruang secara jelas mengamanatkan
bahwa berdasarkan fungsi utama, penataan ruang terdiri dari kawasan budidaya dan
kawasan lindung. Namun karena fungsi lingkungan cenderung sulit dipahami secara
langsung dibandingkan pertumbuhan ekonomi, banyak prinsip-prinsip penetapan
kawasan lindung tidak diprioritaskan. Banyaknya kerusakan lingkungan dan bencana
alam yang terjadi akhir-akhir ini, seharusnya dapat dijadikan momentum untuk
menjelaskan dampak dan kerugian yang mungkin dihadapi jika prinsip-prinsip
lingkungan tidak diperhatikan di dalam perencanaan wilayah. Sebagai ujung tombak
pelaksanaan pembangunan di daerah, pemerintah daerah perlu didorong untuk
berkomitmen dalam menerapkan prinsip lingkungan ke dalam perencanan, penerapan
dan pengendalian pemanfaaan tata ruang.

Penyediaan sarana teknologi informasi dan peningkatan kapasitas untuk memfasilitasi
pemda
Tidak diprioritaskannya penetapan kawasan lindung dalam perencanaan wilayah, juga
terkait dengan rendahnya peran instansi lingkungan di daerah di dalam upaya
pemantauan penetapan kawasan lindung dalam tata ruang. Instansi lingkungan daerah
seharusnya dapat memegang peran kontrol terhadap diintegrasikannya kawasan lindung
dalam perencanaan tata ruang wilayah. Kurangnya pemahaman dan kemampuan
menyebabkan instansi lingkungan menjadi kurang dilibatkan atau mengambil peran
terhadap isu tersebut. Untuk itu diperlukan upaya peningkatan kapasitas serta
penyediaan sarana teknologi informasi bagi instansi lingkungan daerah.
Lampiran_
61
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Lampiran 3. Notulen Diskusi 1

Peserta: Laksmi Wijayanti, Harimurti, Adi Fajar, Solichin.
26 November 2007

Usulan:
1. Konsep penentuan kawasan lindung perlu mempertimbangkan kondisi tapak
(site spesific), khususnya terkait dengan penetapan kawasan lindung yang
menjaga kawasan bawahnya. Perlu lebih spesifik, apakah fungsinya sebagai
kawasan yang perlu dilindungi atau kawasan yang melindungi. Misalnya untuk
perlindungan tata air, berarti termasuk di dalam kawasan yang melindungi.
Untuk itu konsep penetapan kawasan lindung di dalam tata ruang , harus
memperhatikan daerah-daerah yang menurut pihak di daerah sebagai daerah
resapan air atau kondisi sosial, ekonomi, budaya, demografi dll dibawahnya.
2. Penentuan kawasan lindung perlu perencanaan bottom-up juga, sehingga
kepentingan daerah setempat lebih diperhatikan. Namun terdapat kekhawatiran
terkait dengan kemampuan serta kepentingan daerah yang cenderung lebih
mementingkan perkembangan ekonomi, sehingga konsep monitoring,
penegakkan hukum serta penerapan sangsi perlu lebih diperkuat.
3. Kriteria normatif di dalam penentuan kawasan lindung perlu disikapi dengan
hati-hati. Karena cenderung tidak selalu sesuai dengan kondisi di lapangan.
Namun demikian, acuan tetap diperlukan untuk memudahkan pemerintah daerah
untuk menetapkan kawasan lindung didalam tata ruang wilayahnya. Penetapan
angka 30% kawasan ruang terbuka di dalam RTRWN akan menyulitkan pihak
kabupaten di dalam pengembangan wilayahnya serta dapat membelokkan
konsep perlindungan yang sebenarnya.
4. Diusulkan, selain kriteria normatif yang cenderung digeneralisasi atau
simplifikasi dari kondisi ekosistem yang berbeda-beda, perlu juga penerapan
kriteria penetapan kawasan lindung berdasarkan kriteria daya dukung
lingkungannya, kondisi spesifik wilayah, isu-isu penting di daerah serta
memperhatikan tujuan atau fungsi kawasan lindungnya sendiri.
Lampiran_
62
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Lampiran 4. Notulen Diskusi 2
Peserta: Ari Djeekardi, MA, Hendaryanto, ST., Harimurti, Solichin.
2 Desember 2007

Usulan :
5. Program kegiatan Analisis Spasial Kawasan Lindung bisa saling mengisi atau
bersifat komplimentari dengan program Pengawasan Pemanfaatan Ruang dari
Aspek Lingkungan. Diharapkan ada pelibatan lebih intensif, sehingga dapat
meningkatkan kerjasama dan integrasi antar bidang. Bidang lainnya juga perlu
dilibatkan, misal bidang Hutan dan Lahan.
6. Diperlukan rencana tindak lanjut dari pengembangan program yang telah
dilakukan, misalnya bagaimana agar pihak daerah mampu
mengimplementasikan program pengawasan tehadap rencana tata ruang yang
mereka susun. Apakah pedoman yang telah disusun benar-benar dapat
diterapkan atau perlu penyesuaian. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah
menginventarisir pemda mana saja yang telah (mencoba) menerapkan program
ini atau mengevaluasi sejauh mana pemda yang sudah dilatih dapat
menerapkannya.
7. Program atau upaya pengendalian tata ruang sesuai dengan RTRW masih belum
banyak diminati oleh pemda, namun beberapa kasus di DKI sudah mulai
menunjukkan adanya ketegasan pihak pemda untuk menertibkan pemukiman di
sempadan sungai yang tidak memiliki IMB. Pengendalian tata ruang masih
terbatas pada kepentingan pemda sendiri. Secara paralel perlu sosialisasi UU
26/2007 terkait dengan sanksi akibat ketidaksesuaian RTRW.
8. Selama ini jika ada perbedaan antara de facto dengan de jure kawasan lindung
masih belum ditindaklanjuti secara tuntas, namun masih perlu melihat
bagaimana rencana atau program pemda terkait dengan pengendalian tata ruang.
9. Daya dukung lingkungan perlu dikaitkan di dalam penetapan kawasan lindung,
sehingga penetapan kawasan lindung bisa disesuaikan dengan kondisi
lingkungan setempat.
10. Adanya perbedaan peraturan terkait dengan penetapan kawasan lindung perlu di
cek silang di masing-masing sektoral terkait, misalnya PU terkait dengan
sempadan sungai, atau DepHut terkait hutan lindung.
Lampiran_
63
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
Lampiran 5. Matriks Analisis Kawasan Lindung (Full)

No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
Penetapan hutan
lindung dilakukan
oleh Departemen
Kehutanan
melalui
penunjukkan
kawasan hutan,
yang termasuk di
dalamnya Hutan
Lindung, Hutan
Produksi dan
Hutan
Konservasi.
Peta TGHK dan
Paduserasi dengan
skala lebih baik
disediakan oleh
Departemen Kehutanan

Kawasan yang
memberikan
perlindungan
kawasan
bawahannya
a. Kawasan
Hutan
Lindung
Kawasan hutan yang
memiliki sifat khas yang
mampu memberikan
perlindungan kepada
kawasan sekitar
maupun bawahnya
sebagai pengatur tata
air, pencegah banjir dan
erosi serta memelihara
kesuburan tanah, baik
dalam kawasan hutan
yang bersangkutan
maupun kawasan yang
dipengaruhi di
sekitarnya.
Skor 175 (Kelas
Lereng, Jenis
Tanah & Intensitas
hujan), Lereng
lapangan 40 %,
ketinggian 2000
m dpl.


Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
penyerap karbon,
perlindungan
ekosistem.

Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer.
Pemanfaatan hasil
kayu dilarang,
SK
penunjukkan
kawasan hutan
oleh Menhut
- Keppres
32/1990;
- PP
47/1997;
- SK Mentan
No
837/Kpts/Um
/11 /1980
- Kontur, Sungai,
Titik Tinggi
(untuk
penyusunan
elevasi dan
kelerengan)
'- Peta Tanah
(land system)
- Curah hujan
Apakah kawasan
hutan produksi
yang memiliki
kriteria tersebut
bisa dianggap
kawasan
lindung?
Kriteria yang
diatur tidak
perlu
digunakan,
cukup
menggunakan
data kawasan
hutan yang
telah
ditetapkan oleh
Departemen
Kehutanan
atau Dinas
Kehutanan
setempat.

1.
b. Kawasan
bergambut
Kawasan yang unsur
pembentuk tanahnya
sebagian besar berupa
sisa-sisa bahan organik
yang tertimbun dalam
waktu yang lama
Ketebalan tanah
gambut 3 m di
hulu sungai dan
rawa
Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
penyerap karbon,
perlindungan
ekosistem
- -Keppres
32/1990
- Peta tanah atau
Landsystem,
Skala 250.000
- Data tidak
tersedia dalam
kualitas/skala
yang memadai,
klasifikasi
kedalaman
gambut tidak
sesuai dengan
kriteria
dimaksud.

Pengeboran di
lahan gambut
perlu dilakukan
di beberapa
lokasi dgn
kedalaman
lebih dari 2,5
meter.
Pemerintah daerah dan
Puslitanak perlu
melakukan pemetaan
lahan gambut secara
lebih detail
Lampiran_
64
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi
primer,misalnya
hutan rawan
gambut
-PP 47/1997 - Peta lahan
gambut Wetland
International dan
Puslitanak
- Tersedia untuk
Pulau
Kalimantan dan
Sumatra
Untuk wilayah
luar pulau
Jawa dapat
menggunakan
data
penyebaran
lahan gambut
dari Wetlands
International

Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
perlindungan air
tanah
Keppres
32/1990
- Data
curah hujan
PU dan KLH menyusun
pedoman penetapan
kawasan resapan air
c. Kawasan
Resapan
Air
Daerah yang
mempunyai
kemampuan tinggi
untuk meresapkan air
hujan sehingga
merupakan tempat
pengisian air bumi
(aquifer) yang berguna
sebagai sumber air
Curah Hujan tinggi,
struktur tanah
meresapkan air
dan bentuk
geomorfologi
mampu
meresepkan air
hujan secara
besar-besaran
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer,
paling tidak
merupakan ruang
terbuka hijau bukan
built-up area
-
PP 47/1997 -
Geomorfologi
Kriteria tidak
spesifik,
sehingga
menyulitkan di
dalam penentuan
secara spasial.
Diperlukan
pedoman teknis
penyusunan peta
resapan air yang
dapat
mengadopsi
kriteria lokal.
Perlu
didiskusikan
lebih lanjut
dengan para
ahli iklim dan
tanah yang
memahami
karakteristik
lokasi terkait.
Dalam
pedoman ini,
penentuan
kawasan
resapan air
tidak
diterapkan.

Fungsi: mencegah
abrasi dan intrusi
air laut
Keppres
32/1990
- Garis
pantai (RBI),
Bakosurtanal
melakukan updating
garis pantai
2. Kawasan
Perlindungan
Setempat
d. Sempadan
Pantai
Kawasan tertentu
sepanjang pantai yang
mempunyai manfaat
pentiing untuk
kelestarian fungsi pantai
Daratan sepanjang
tepian yang
lebarnya
proporsional
dengan bentuk dan
kondisi fisik. Lebar
minimal 100 meter
dari titik pasang
tertinggi ke arah
darat
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer,
paling tidak bukan
built-up area
-
PP 47/1997 - Data
pasang surut
Penentuan titik
pasang tertinggi
sulit diaplikasikan
secara spasial.
Sebaiknya
cukup
menggunakan
data garis
pantai dari
peta dasar RBI


Lampiran_
65
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
- Minimal 100
meter kiri kanan
ungai besar, 50
meter sungai kecil
ar
pemukiman.
s
di lu
Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
perlindungan mata
air dan air tanah
Sungai (RBI)
masih perlu
dirapihkan,
banyak danau-
danau kecil perlu
dipisahkan, data
pemukiman
(LULC)
Dengan adanya
PP 47/1997
seharusnya
parameter sungai
lebar dan kecil
tidak berlaku lagi

Untuk tingkat
provinsi dan
kabupaten,
kriteria ini
cenderung
lebih relevan.
Kriteria ini
digunakan
dalam aplikasi
dalam
pedoman ini.
Perlu kesepahaman
antara PU, KLH dan
Dephut tentang definisi
sungai besar dan kecil.
Bakosurtanal perlu
mengupdate peta
sungai.
- 10-15 meter kiri
kanan sungai di
dalam pemukiman
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer,
paling tidak
merupakan ruang
terbuka hijau bukan
built-up area
- Keppres
32/1990



Bertanggul:
minimal 5 m di
sebelah luar
sepanjang kaki
tanggul,
Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
perlindungan mata
air dan air tanah
- Secara spasial
sulit mendijitasi
sungai-sungai
bertanggul, tidak
ada data
pendukung.
Perlu
dilakukan
survey
lapangan.

e. Sempadan
Sungai
Kawasan sepanjang kiri
kanan sungai, termasuk
sungai buatan/kanal/
saluran irigasi primer,
yang mempunyai
manfaat penting untuk
mempertahankan
kelestarian fungsi
sungai
Tidak bertanggul
ditetapkan
berdasarkan
pertimbangan
teknis dan sosial
oleh pejabat
berwenang.
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer,
paling tidak
merupakan ruang
terbuka hijau bukan
built-up area
- PP 47/1997;
PP 35/1991
Data sungai
bertanggul dan
tidak bertanggul
tidak tersedia
-Penetapan
sempadan
Sungai tidak
bertanggul hanya
dilakukan oleh
pihak
berwenang,
tanpa ada kriteria
dan arahan yang
tegas (tidak
dijelaskan siapa).


Lampiran_
66
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
Sungai di
kawasan hutan
produksi: kiri
kanan lebar 100 m
Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
perlindungan mata
air dan air tanah
Kriteria ini sama
dengan kriteria
dalam KepPres
32/1990
cukup jelas
Anak Sungai di
kawasan hutan
produksi: kiri
kanan lebar 50 m
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer
UU 41/1999


Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
perlindungan mata
air dan air tanah
Keppres
32/1990
- Danau RBI Dalam aplikasi

menggunakan
ata dari peta
RBI
ini
d
* Lebar 50-100 meter
dari titik pasang
tertinggi kea rah
darat
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer,
paling tidak
merupakan ruang
terbuka hijau bukan
built-up area
-
PP 47/1997 - Dapat
ditambahkan dari
data landcover
Data dasar yang
tersedia tidak
merinci apakah
deliniasi danau
dilakukan pada
saat pasang
tertinggi atau
tidak.


Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
perlindungan mata
air dan air tanah

f. Kawasan
Sekitar
Danau/
Waduk
Kawasan tertentu di
sekeliling danau/waduk
yang mepunyai manfaat
penting untuk
mempertahankan
kelestarian fungsi
danau/waduk
Di kawasan hutan
produksi selebar
500 m
UU 41/1999

Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer



Lampiran_
67
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
perlindungan mata
air dan air tanah
Keppres
32/1990
Data tidak
tersedia
Data lokasi mata
air tidak tersedia
secara spasial.
Perlu
dilakukan
survey lokasi
mata air.
Dalam aplikasi
ini tidak
diterapkan
mengingat
ketidaktersedia
an data.
PU dan Pemda perlu
melakukan pemetaan
sumber mata air yang
dilindungi
g. Kawasan
Sekitar
Mata Air
Kawasan di sekeliling
mata air yang
mempunyai manfaat
penting untuk
mempertahankan
kelestarian fungsi mata
air
Jari-jari 200 meter
di sekitar mata air
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer,
paling tidak
merupakan ruang
terbuka hijau bukan
built-up area
-
PP 47/1997


h. Kawasan
RTH Kota
area memanjang/jalur
dan/atau mengelompok,
yang penggunaannya
lebih bersifat terbuka,
tempat tumbuh
tanaman, baik yang
tumbuh secara alamiah
yang dikelola oleh
Pemda Kota. Terdapat
ruang terbuka hijau
publik dan privat
1. lokasi sasaran
kawasan terbuka
hijau kota termasuk
di dalamnya hutan
kota antara lain di
kawasan
permukiman,
industri, tepi
sungai/pantai/ jalan
yang berada di
kawasan
perkotaan;
Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
pengatur iklim
mikro dan estetika
Perda RTRW
Kota
PP 47/1997; - RTRW Kota,
Interpretasi -
Citra High
Resolution,
Ground check
Ditetapkan oleh
Pemerintah Kota
dan dimasukkan
ke dalam RTRW
cukup jelas *

Lampiran_
68
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
2. jenis tanaman
hias untuk kawasan
terbuka hijau kota
adalah berupa
pohon-pohonan
dan tanaman hias
atau herba, dari
berbagai jenis baik
jenis asing atau
eksotik maupun asli
atau domestik.
Kondisi Ideal:
vegetasi berupa
pohon atau
tanaman herba
berupa taman,
tanah terbuka
bervegetasi,
pekarangan,
kebun,
pemakaman, atau
lahan tidur
UU 26/2007


3. Proporsi ruang
terbuka hijau
minimal 30% dari
total luas wilayah
dengan minimal
20% RTH publik.
RTH minimal 20%
(Permendagri
1/2007)
Permendagri
1/2007

Adanya
perbedaan
proporsi minimal

4. Yang termasuk
ruang terbuka hijau
publik, antara lain,
adalah taman kota,
taman pemakaman
umum, dan jalur
hijau sepanjang
jalan, sungai, dan
pantai.



5. Yang termasuk
ruang terbuka hijau
privat, antara lain,
adalah kebun atau
halaman
rumah/gedung milik
masyarakat/swasta
yang ditanami




Lampiran_
69
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
yang ditanami
tumbuhan.




suatu hamparan lahan
yang bertumbuhan
pohon-pohon yang
kompak dan rapat di
dalam wilayah
perkotaan baik pada
tanah negara maupun
tanah hak, yang
ditetapkan sebagai
hutan kota oleh pejabat
yang berwenang.
1. hutan yang
terbentuk dari
komunitas
tumbuhan yang
berbentuk kompak
pada satu
hamparan,
berbentuk jalur
atau merupakan
kombinasi dari
bentuk kompak dan
bentuk jalur;
Fungsi: mengatur
hidro-orologi,
perlindungan
habitat satwa, iklim
mikro dan estetika
PP 47/1997; Ditetapkan oleh
Dephut da
Pemkot,
dimasukkan ke
dalam RTRW
n
Cukup jelas *
2. jenis tanaman
untuk hutan kota
adalah tanaman
tahunan berupa
pohon-pohonan,
bukan tanaman
hias atau herba,
dari berbagai jenis
baik jenis asing
atau eksotik
maupun jenis asli
atau domestik;
Kondisi Ideal:
vegetasi berupa
pohon yang rapat
dan heterogen
UU 41/1999;
PP 63/2002


3. hutan yang
terletak didalam
wilayah perkotaan
atau sekitar kota
dengan luas hutan
minimal 0,25
hektar;



i. Hutan Kota
4. Paling sedikit
10% dari luas
wilayah perkotaan

Penunjukkan
kawasan hutan
kota oleh
Dephut






Lampiran_
70
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
1. Memiliki
keanekaragaman
jenis tumbuhan dan
satwa serta type
ekosistemnya
Fungsi:
perlindungan
ekosistem,
perlindungan flora
dan fauna,
penyerap karbon
Keppres
32/1990
Peta Kawasan
Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh
Dephut dalam
peta
penunjukkan
kawasan hutan
*
2. Memiliki formasi
biota tertentu
dan/atau unit-unit
penyusun
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer.
PP 47/1997
3. Mempunyai
kondisi alam, baik
biota maupun
fisiknya yang masih
asli dan
tidak/belum
diganggu manusia
PP 68/1998
Kriteria yang
diatur tidak
perlu
digunakan,
cukup
menggunakan
data kawasan
hutan yang
telah
ditetapkan oleh
Departemen
Kehutanan
atau Dinas
Kehutanan
setempat.

4. Mempunyai luas
dan bentuk tertentu
agar menunjang
pengelola yang
efektif dengan
daerah-daerah
penyangga yang
cukup luas
* Luas total
kawasan hutan
(HP, HL, KPA,
KSA) setidak-
tidaknya 30% dari
luas total wilayah
DAS (UU 26/2007)
UU 41/1999;
UU No
5/1990

5. Mempunyai ciri
khas dan dapat
merupakan
satusatunya contoh
di suatu daerah
serta
keberadaannya
memerlukan
konservasi
SK Mentan
No
681/Kpts/Um
/8/1981

3. Kawasan Suaka
Alam (KSA)
j. Cagar Alam Kawasan Cagar Alam
adalah kawasan suaka
alam yang karena
keadaannya
mempunyai kekhasan
tumbuhan, satwa dan
ekosistemnya atau
ekosistem tertentu yang
perlu dilindungi dan
perkembangannya
secara alami.

SK
penunjukkan
kawasan hutan
oleh Menhut


Lampiran_
71
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
1. Tem
dan
yang perlu
dikonservas
pat hidup
berkembangbiakny
a suatu jenis satwa

i
Fungsi:
perlindungan satwa
liar dan habitatnya,
penyerap karbon
Keppres
32/1990
Peta Kawasan
Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh
Dephut dalam
peta
penunjukkan
kawasan hutan
*
2
k
tinggi
. Memiliki
eanekaragaman
dan populasi yang
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer.
PP 47/1997;
SK Mentan
No
681/Kpts/Um
/8/1981;

3. Merupakan
tempat dan
kehidupan bagi
jenis satwa migran
tertentu
PP 68/1998
UU No
5/1990


k. Suaka
Margasatw
a
Kawasan Suaka
Margasatwa adalah
kawasan suaka alam
yang mempunyai ciri
khas berupa
keanekaragaman dan
atau keunikan jenis
satwa yang untuk
kelangsungan hidupnya
dapat dilakukan
pembinaan terhadap
habitatnya.
4. Mempunyai
luasan yang cukup
sebagai habitat
jenis satwa yang
bersangkutan

SK
penunjukkan
kawasan hutan
oleh Menhut


Kriteria yang
diatur tidak
perlu
digunakan,
cukup
menggunakan
data kawasan
hutan yang
telah
ditetapkan oleh
Departemen
Kehutanan
atau Dinas
Kehutanan
setempat.

Fungsi: konservasi
keanekaragaman
hayati, penelitian
dan rekreasi
Keppres
32/1990
Peta Kawasan
Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh
Dephut dalam
peta
penunjukkan
kawasan hutan
* 4. Kawasan
Pelestarian Alam
(KPA)
l. Taman
Nasional
(TN)
Kawasan Taman
Nasional adalah
kawasan pelestarian
alam yang mempunyai
ekosistem asli, dikelola
dengan sistem zonasi
yang dimanfaatkan
untuk keperluan
penelitian, ilmu
pengetahuan,
pendidikan, menunjang
budidaya, pariwisata
dan rekreasi.
1. Wilayah yang
ditetapkan
mempunyai luas
yang cukup untuk
menjamin
kelangsungan
proses ekologis
secara alami;
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer
untuk di zona inti,
sedangkan di zona
lainnya bisa
disesuaikan
dengan rencana
pengelolaan.
SK
penunjukkan
kawasan hutan
oleh Menhut
PP 47/1997;
UU 41/1999;
UU No
5/1990

Kriteria yang
diatur tidak
perlu
digunakan,
cukup
menggunakan
data kawasan
hutan yang
telah
ditetapkan oleh
Departemen
Kehutanan
atau Dinas
Kehutanan
setempat.


Lampiran_
72
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait

2. Memiliki sumber
daya alam yang
khas dan unik baik
berupa jenis
tumbuhan maupun
jenis satwa dan
ekosistemnya serta
gejala alam yang
masih utuh dan
alami;
PP 68/1998;
SK Mentan
No
681/Kpts/Um
/8/1981;
PerMen
Kehutanan
No:
P.56/Menhut
-II/2006



3. Satu atau
beberapa
ekosistem yang
terdapat di
dalamnya secara
materi atau secara
fisik tidak dapat
diubah oleh
eksploitasi maupun
pendudukan oleh
manusia;



4. Memiliki
keadaan alam yang
asli dan alami
untuk
dikembnagkan
sebagai pariwisata
alam;





5. Merupakan
kawasan yang
dapat dibagi ke
dalam zona inti,
zona pemanfaatan
dan zona lain yang
dapat mendukung
upaya pelestarian
sumber daya alam
hayati dan






Lampiran_
73
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
ekosistemnya.
1. Merupakan
wilayah dengan ciri
khas baik asli
maupun buatan,
baik pada kawasan
yang ekosistemnya
masih utuh ataupun
wasan yang
ah berubah;
ka
sud
Fungsi: pelestarian
dan koleksi
tumbuhan baik
eksotik maupun
asli, penelitian,
pendidikan,
rekreasi dan
budaya
Keppres
32/1990
Peta Kawasan
Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh
Dephut dalam
peta
penunjukkan
kawasan hutan
*
2. Memiliki
dahan alam,
an, satwa,
gejala alam;
kein
tumbuh
dan
Kondisi Ideal:
vegetasi hutan
PP 47/1997;
UU No
5/1990


3. Mudah dijangkau
dan dekat dengan
pusart-pusat
pemukiman
penduduk;
PP 68/1998

Kriteria yang
diatur tidak
perlu
digunakan,
cukup
menggunakan
data kawasan
hutan yang
telah
ditetapkan oleh
Departemen
Kehutanan
atau Dinas
Kehutanan
setempat.

4. Mempunyai luas
wilayah yang
memungkinkan
untuk
pembangunan



m. Taman
Hutan Raya
(Tahura)
Kawasan Taman Hutan
Raya adalah kawasan
pelestarian alam untuk
tujuan koleksi tumbuhan
dan atau satwa yang
alami atau bukan alami,
jenis asli dan atau
bukan asli yang
dimanfaatkan bagi
kepentingan penelitian,
ilmu pengetahuan,
pendidikan, menunjang
budidaya, budaya,
pariwisata dan rekreasi

SK
penunjukkan
kawasan hutan
oleh Menhut



n. Taman
Wisata
Alam
(TWA)
Kawasan Taman
Wisata Alam adalah
kawasan pelestarian
alam dengan tujuan
utama untuk
1. Memiliki
keadaan yang
menarik dan indah
baik secara alami
maupun buatan
Fungsi:
perlindungan
ekosistem, wisata
dan rekreasi
SK
penunjukkan
kawasan hutan
oleh Menhut
Keppres
32/1990
Peta Kawasan
Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh
Dephut dalam
peta
penunjukkan
kawasan hutan
Kriteria yang
diatur tidak
perlu
digunakan,
cukup
*

Lampiran_
74
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
2. Memenuhi
kebutuhan manusia
dan rekreasi dan
olah raga serta
terletak dekat
pusat-pusat
pemukiman
penduduk
Kondisi Ideal:
vegetasi hutan atau
ekosistem asli
PP 47/1997;
SK Mentan
No
681/Kpts/Um
/8/1981;
UU No
5/1990

dimanfaatkan bagi
kepentingan pariwisata
alam dan rekreasi alam
PP 68/1998

menggunakan
data kawasan
hutan yang
telah
ditetapkan oleh
Departemen
Kehutanan
atau Dinas
Kehutanan
setempat.

Fungsi: pelestarian
budaya dan geologi
Keppres
32/1990
RTRWK Ditetapkan oleh
Pemda melalui
RTRW
Tidak
diterapkan
dalam aplikasi
ini
*
Kondisi Ideal:
vegetasi hutan atau
ekosistem asli
PP 47/1997


5. Kawasan Cagar
Budaya
o. Kawasan
Cagar
Budaya
Ruang di sekitar
bangunan bernilai
budaya tinggi, situs
purbakala dan kawasan
dengan bentukan
geologi tertentu yang
mempunyai manfaat
tinggi untuk
pengembangan ilmu
pengetahuan.
Ruang disekitar
bangunan bernilai
budaya tinggi, situs
purbakala dan
kawasan dengan
bentukan geologi
tertentu bermanfaat
tinggi untuk ilmu
pengetahuan

Ditetapkan
dalam RTRW
PP 68/1998



Lampiran_
75
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
6. Kawasan Rawan
Bencana Alam
p. Kawasan
Rawan
Bencana
Alam
Kawasan yang sering
atau berpotensi tinggi
mengalami bencana
alam
Sering/berpotensi
tinggi mengalami
bencana alam
seperti letusan
gunung berapi,
gempa bumi dan
tanah longsor,
gelombang pasang
dan banjir
Fungsi:
perlindungan
kerugian bencana
Kondisi Ideal:
vegetasi yang
mampu
mengurangi
dampak, tidak ada
pemukiman
- Keppres
32/1990
PP 47/1997
UU 24/2007
- Peta
rawan banjir
- Peta rawan
longsor
- Peta rawan
gunung berapi
- Peta rawan
gelombang
pasang
- Dalam
peraturan tata
ruang dan
kawasan lindung,
tidak dijelaskan
siapa pihak
berwenang yang
menetapkan
daerah rawan
bencana.
Beberapa
instansi sektoral
memiliki Tupoksi
terkait, misalnya
PU Pengairan
terkait dengan
banjir, Direktorat
Vulkanologi
terkait dengan
gunung berapi. di
Beberapa
daerah, sektor
lingkungan juga
berpran aktif di
dalam
menyediakan
peta rawan
bencana. Namun
berdasarkan
Undang-Undang
Bencana Alam
no 24/2007
dijelaskan bahwa
kewenangan

Tidak
diterapkan
dalam aplikasi
ini
Perlunya sosialisasi
pedoman pemetaan
daerah rawan bencana
alam oleh sektor terkait
Lampiran_
76
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
- Selain itu belum
ada pedoman
teknis metodologi
penyusunan peta
rawan serta
kriteria dan
tingkat rawan
apa yang perlu
menjadi kawasan
lindung.

1. Areal yang
ditunjuk
mempunyai luas
yang cukup dan
lapangannya tidak
membahayakan
Fungsi: pelestarian
satwa, wisata dan
rekreasi
Keppres
32/1990
*

7. Kawasan
Lindung Lainnya
q. Taman
Buru
Taman Buru adalah
kawasan hutan yang
ditetapkan sebagai
tempat diselenggarakan
perburuan satwa buru
secara teratur.
2. Mengandung
satwa buru yang
dapat
dikembangbiakkan
sehingga
memungkinkan
perburuan secara
teratur dengan
mengutamakan
segi rekreasi, olah
raga dan
kelestarian satwa.
Kondisi Ideal:
vegetasi alami,
lapangan buru
SK
penunjukkan
kawasan hutan
oleh Menhut
PP 47/1997;
UU 41/1999
Peta Kawasan
Hutan
(RTRWP/K)
Ditetapkan oleh
Dephut dalam
peta
penunjukkan
kawasan hutan
Kriteria yang
diatur tidak
perlu
digunakan,
cukup
menggunakan
data kawasan
hutan yang
telah
ditetapkan oleh
Departemen
Kehutanan
atau Dinas
Kehutanan
setempat.


Lampiran_
77
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
1. kawasan yang
mempunyai
keperwakilan
ekosistem yang
masih alami dan
kawasan yang
sudah mengalami
degradasi,
modifikasi,
dan/atau binaan;
Fungsi: konservasi
hayati,
pembangunan dan
penelitian
Ditetapkan oleh
Pemerintah
(Dephut) dalam
peta
penunjukkan
kawasan cagar
biosfer.
Indonesia hanya
memiliki 6 cagar
biosfer yang
sebagian besar
merupakan
Taman Nasional,
yaitu (Komodo,
Lore Lindu,
Siberut, Cibodas,
Leuser dan
Tanjung Putting)
Tidak
diterapkan
dalam aplikasi
ini, mengingat
zona inti dalam
cagar biosfer
merupakan
kawasan
taman
nasional.
Sedangkan
zona
penyangga
dan zona
transisi
diperuntukkan
untuk tujuan
pemanfaatan
dan
pembangunan.

2. kawasan yang
mempunyai
komunitas alam
yang unik, langka,
dan indah;
Kondisi Ideal: zona
inti merupakan
ekosistem asli,
zona penyangga
dan transisi bisa
berupa areal
budidaya dan
pemukiman

r. Cagar
Biosfir
Keterwakilan ekosistem
yang masih
alami/modifikasi/binaan,
komunitas alam unik
langkah dan indah,
bentang alam cukup
luas, tempat
pemantauan perubahan
ekologis
3. merupakan
bentang alam yang
cukup luas yang
mencerminkan
interaksi antara
komunitas alami
dengan manusia
beserta
kegiatannya secara
harmonis;

SK
penunjukkan
kawasan hutan
oleh Menhut
PP 47/1997 Peta Kawasan
Hutan




Lampiran_
78
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
4. tempat bagi
penyelenggaraan
pemantauan
perubahan-
perubahan ekologi
melalui kegiatan
penelitian dan
pendidikan.

1. Memiliki plasma
nutfah tertentu
ang belum
alam
konservasi yang
telah ditetapkan
y
terdapat di d
kawasan
Fungsi: konservasi
keanekaragaman
hayati
Keppres
32/1990
- Peta Rencana
Kerja HPH/HTI
Data tersebut
umumnya dapat
diakses melalui
Rencana Kerja
konsesi
kehutanan
(HPH/HTI) atau
melalui
Departemen
Kehutanan
Tidak
diterapkan
dalam aplikasi
ini

2. Memiliki jenis
plasma nutfah
tertentu yang
belum terdapat di
kawasan
konservasi yang
telah ditetapkan
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer
PP 47/1997;
SK Mentan
No
681/Kpts/Um
/8/1981


3. Merupakan areal
tempat
pemindahan satwa
yang merupakan
tempat kehidupan
baru bagi satwa
tersebut



s. Kawasan
Perlindunga
n Plasma
Nutfah
Kawasan hutan yang
karena keadaan dan
sifat fisiknya perlu
dibina dan
dipertahankan dengan
maksud untuk menjaga
keanekaragaman jenis
plasma nutfah

Diusulkan oleh
konsesi hutan
dan ditetapkan
oleh Dephut




Lampiran_
79
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
1. Merupakan
wilayah kehidupan
atwa yang sejak
ghuni
ut
s
semula men
areal terseb
Fungsi: konservasi
satwaliar
Keppres
32/1990
- Peta Rencana
Kerja HPH/HTI
Data tersebut
umumnya dapat
diakses melalui
Rencana Kerja
konsesi
kehutanan
(HPH/HTI) atau
melalui
Departemen
Kehutanan



t. Kawasan
Pengungsia
n Satwa
Kawasan hutan yang
karena keadaan dan
sifat fisiknya perlu
dibina dan
dipertahankan dengan
maksud sebagai tempat
hidup dan kehidupan
satwa tertentu.
2. Mempunyai luas
tertentu yang
memungkinkan
berlangsungnya
proses hidup dan
kehidupan baru
bagi satwa
tersebut.

3. Merupakan areal
tempat
pemindahan satwa
yang merupakan
tempat kehidupan
baru bagi satwa
tersebut
Kondisi Ideal:
vegetasi alami atau
artifisial
Diusulkan oleh
konsesi hutan
dan ditetapkan
oleh Dephut
PP 47/1997;
SK Mentan
No
681/Kpts/Um
/8/1981


Tidak
diterapkan
dalam aplikasi
ini

u. Kawasan
Pantai
Berhutan
Bakau
Kawasan pesisir laut
yang merupakan habitat
alami hutan bakau
bakau (mangrove) yang
berfungsi memberi
perlindungan kepada
perikehidupan pantai
d l t
Lebar 130 x nilai
rata-rata
perbedaan air
pasang tertinggi
dan terendah
tahunan diukur dari
garis air surut
t d h k h
Fungsi: mencegah
abrasi, intrusi air
laut serta
gelombang laut,
pelestarian hutan,
perlindungan
habitat biota laut
- Keppres
32/1990
- Landcover Stasiun
pemantau
pasang surut
tidak tersebar di
seluruh wilayah
pantai Indonesia.
Dalam aplikasi
ini hanya
menggunakan
data
penyebaran
hutan bakau
Pemerintah daerah
perlu melakukan
pemantauan beda
pasang tertinggi dan
terendah di areal hutan
bakau.

Lampiran_
80
Analisis Kawasan Lindung DAS Cisadane, Ciliwung dan Angke
No
Kelompok
Kawasan
Lindung
Jenis Kawasan
Lindung
Definisi
Kriteria
Penetapan
Fungsi dan
Kondisi Ideal
Ketetapan
Tambahan
Sumber
Hukum
Kriteria
Sumber Data
Permasalahan
dan Keterangan
Solusi atau
Pendekatan
Spasial
Usulan bagi Instansi
Terkait
dan lautan terendah kearah
darat
Kondisi Ideal:
vegetasi alami
dengan tingkat
suksesi primer,
jenis bakau atau
nipah
PP 47/1997 - pasang
surut
Pemda perlu
menetapkan kawasan
hutan bakau, sehingga
luas kawasan bakau
yang dilindungi relatif
tetap
- Penyebaran
terumbu karang
Belum
terapkan
dalam aplikasi
ini.
v. Terumbu
Karang
Areal di pantai dangkal
yang menjadi tempat
hidup, berkembang biak,
pertumbuhan, berlindung
dari serangan pemangsa
serta mencari makan
berbagai ikan dan
makhluk laut lainnya
- Fungsi:
Perlindungan
ekosistem dan
keanekaragaman
hayati
- UU 26/2007

Data tersedia di
DKP skala
nasional
Data BRNP
tersedia di KLH







Lampiran_
81