Anda di halaman 1dari 28

MALARIA

I. Pendahuluan
Malaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh plasmodium
yang menyerang eritrosit dan ditandai dengan ditemukannya bentuk aseksual di
dalam darah. Infeksi malaria memberikan gejala berupa demam, menggigil,
anemia, dan splenomegali. Dapat berlangsung akut ataupun kronik. Infeksi
malaria dapat berlangsung tanpa komplikasi ataupun mengalami komplikasi
sistemik yang dikenal sebagai malaria berat.
1
II. Etiologi
Penyebab infeksi malaria ialah plasmodium, yang selain menginfeksi
manusia juga menginfeksi binatang seperti golongan burung, reptil, dan mamalia.
Plasmodium ini pada manusia menginfeksi eritrosit (sel darah merah) dan
mengalami pembiakan aseksual di jaringan hati dan eritrosit. Pembiakan seksual
terjadi pada tubuh nyamuk yaitu anopheles betina. Plasmodium penyebab malaria
yang ada di Indonesia terdapat beberapa jenis yaitu plasmodium falcifarum,
plasmodium vivax, plasmodium malariae, plasmodium ovale dan yang mix atau
ampuran.
1
III. Transmisi dan Patogenesis
Dalam siklus hidupnya plasmodium mempunyai dua hospes yaitu pada
manusia dan nyamuk. !iklus aseksual yang berlangsung pada manusia disebut
ski"ogoni dan siklus seksual yang membentuk sporo"oit didalam nyamuk disebut
sporogoni.
1
1. !iklus #seksual
!poro"oit infeksius dari kelenjar ludah nyamuk anopheles betina dimasukkan
ke dalam darah manusia melalui tusukan nyamuk tersebut. Dalam $aktu tiga
puluh menit sporo"oit tersebut memasuki sel%sel parenkim hati dan dimulai
stadium eksoeritrositik dari pada daur hidupnya. Di dalam sel hati parasit
1
tumbuh menjadi ski"on dan berkembang menjadi mero"oit. !el hati yang
mengandung parasit peah dan mero"oit keluar dengan bebas, sebagian di
fagosit. &leh karena prosesnya terjadi sebelum memasuki eritrosit maka
disebut stadium preeritrositik atau eksoeritrositik. !iklus eritrositik dimulai
saat mero"oit memasuki sel%sel darah merah. Parasit tampak sebagai kromatin
keil, dikelilingi oleh sitoplasma yang membesar, bentuk tidak teratur dan
mulai membentuk tropo"oit, tropo"oit berkembang menjadi ski"on muda,
kemudian berkembang menjadi ski"on matang dan membelah banyak
menjadi mero"oit. Dengan selesainya pembelahan tersebut sel darah merah
peah dan mero"oit, pigmen dan sisa sel keluar dan memasuki plasma darah.
Parasit memasuki sel darah merah lainnya untuk mengulangi siklus
ski"ogoni. 'eberapa mero"oit memasuki eritrosit dan membentuk ski"on dan
lainnya membentuk gametosit yaitu bentuk seksual.
1

(. !iklus !eksual
)erjadi dalam tubuh nyamuk. *ametosit yang bersama darah tidak dierna
oleh sel%sel lain. Pada makrogamet (jantan) kromatin membagi menjadi +%,
inti yang bergerak ke pinggir parasit. Dipinggir ini beberapa filamen dibentuk
seperti ambuk dan bergerak aktif disebut mikrogamet. Pembuahan terjadi
karena masuknya mikrogamet kedalam makrogamet untuk membentuk "igot.
-igot berubah bentuk seperti aing pendek disebut ookinet yang dapat
menembus lapisan epitel dan membran basal dinding lambung. Ditempat ini
ookinet membesar dan disebut ookista. Di dalam ookista dibentuk ribuan
sporo"oit dan beberapa sporo"oit menembus kelenjar nyamuk dan bila
nyamuk menggigit. menusuk manusia maka sporo"oit masuk kedalam darah
dan mulailah siklus pre eritrositik.
1
(
Gambar 1. Skema Siklus Hidup Plasmodium dikutip dari kepustakaan !"
Patogenesis malaria akibat dari interaksi kompleks antara parasit, host dan
lingkungan. Patogenesis lebih ditekankan pada terjadinya peningkatan
permeabilitas pembuluh darah daripada koagulasi intra/askuler. &leh karena
ski"ogoni menyebabkan kerusakan eritrosit maka akan terjadi anemia. 'eratnya
anemia tidak sebanding dengan parasitemia menunjukkan adanya kelainan
eritrosit selain yang mengandung parasit. 0al ini diduga akibat adanya toksin
malaria yang menyebabkan gangguan fungsi eritrosit dan sebagian eritrosit peah
melalui limpa sehingga parasit keluar. 1aktor lain yang menyebabkan terjadinya
anemia mungkin karena terbentuknya antibodi terhadap eritrosit.
1
2impa mengalami pembesaran dan pembendungan serta pigmentasi
sehingga mudah peah. Dalam limpa dijumpai banyak parasit dalam makrofag
dan sering terjadi fagositosis dari eritrosit yang terinfeksi maupun yang tidak
terinfeksi. Pada malaria kronis terjadi hiperplasia dari retikulosit diserta
peningkatan makrofag.
1
Pada malaria berat mekanisme patogenesisnya berkaitan dengan in/asi
mero"oit ke dalam eritrosit sehingga menyebabkan eritrosit yang mengandung
3
parasit mengalami perubahan struktur dan biomolekular sel untuk
mempertahankan kehidupan parasit. Perubahan tersebut meliputi mekanisme, di
antaranya transport membran sel, sitoadherensi, sekuestrasi dan rosetting.
1
I#. Mani$estasi %linis
*ejala klinis malaria meliputi keluhan dan tanda klinis yang merupakan
petunjuk penting dalam diagnosis malaria. *ejala klinis tersebut dipengaruhi oleh
strain plasmodium, imunitas tubuh, dan jumlah parasit yang menginfeksi. *ejala
tersebut juga dipengaruhi oleh endemisitas tempat infeksi (berhubungan dengan
imunitas) dan pengaruh pemberian pengobatan profilaksis atau pengobatan yang
tidak adekuat. *ejala P. falciparum umumnya lebih berat dan lebih akut
dibandingkan dengan jenis lain, sedangkan gejala oleh P. malariae dan P. ovale
ditemukan yang paling ringan.
4
*ejala%gejala klasik umum yaitu terjadinya trias malaria (malaria proxym)
seara berurutan yang disebut trias malaria, yaitu 5
4
1. !tadium dingin (cold stage)
!tadium ini berlangsung 6 17 menit sampai dengan 1 jam. Dimulai dengan
menggigil dan perasaan sangat dingin, gigi gemeretak, nadi epat tetapi
lemah, bibir dan jari%jari puat kebiru%biruan (sianotik), kulit kering dan
terkadang disertai muntah.
(. !tadium demam (hot stage)
!tadium ini berlangsung 6 ( 8 4 jam. Penderita merasa kepanasan. Muka
merah, kulit kering, sakit kepala dan sering kali muntah. 9adi menjadi kuat
kembali, merasa sangat haus dan suhu tubuh dapat meningkat hingga 41
:
;
atau lebih. Pada anak%anak, suhu tubuh yang sangat tinggi dapat
menimbulkan kejang%kejang.
3. !tadium berkeringat (sweating stage)
!tadium ini berlangsung 6 ( 8 4 jam. Penderita berkeringat sangat banyak.
!uhu tubuh kembali turun, kadang%kadang sampai di ba$ah normal. !etelah
itu biasanya penderita beristirahat hingga tertidur. !etelah bangun tidur
4
penderita merasa lemah tetapi tidak ada gejala lain sehingga dapat kembali
melakukan kegiatan sehari%hari.
Tabel 1. %arakteristik %linis dari In$eksi Plasmodium
&
#. 'iagnosis
1(&
1. #namnesis
<eluhan utama 5 demam, menggigil, dapat disertai sakit kepala,
mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal%pegal.
=i$ayat berkunjung dan bermalam 1%4 minggu yang lalu ke daerah
endemik malaria.
=i$ayat tinggal di daerah endemik malaria.
=i$ayat sakit malaria.
=i$ayat minum obat malaria satu bulan terakhir.
*ejala klinis pada anak dapat tidak jelas.
=i$ayat mendapat transfusi darah.
(. Pemeriksaan fisik
a. Malaria =ingan
7
Demam (pengukuran dengan termometer > 3?,7@;)
<onjungti/a atau telapak tangan puat
Pembesaran limpa (splenomegali)
Pembesaran hati (hepatomegali).
b. Malaria 'erat
Definisi5 Infeksi P. faliparum disertai dengan salah satu atau lebih
kelainan berikut5
Malaria serebral
*angguan status mental
<ejang multipel
<oma
0ipoglikemia5 gula darah A 4: mg.d2
Distress pernafasan
)emperatur B 4:
:
;, tidak responsif dengan asetaminofen
0ipotensi
&liguria atau anuria (urine A 4::ml.(4 jam pada orang de$asa atau
1( ml.kg'' pada anak%anak)
#nemia5 0b A 7g.dl atau hematokrit A 17C
<reatinin B 3 mg.d2
Parasitemia B 1:.:::.ul
'entuk 2anjut (tropo"oit lanjut atau shi"ont) P. faliparum pada
apusan darah tepi
0emoglobinuria
Perdarahan spontan
Ikterus 5 bilirubin B 3mg.dl
3. Pemeriksaan laboratorium
+
a. Pemeriksaan dengan mikroskop
Pemeriksaan sediaan darah (!D) tebal dan tipis di
Puskesmas.lapangan.rumah sakit untuk menentukan5
#da tidaknya parasit malaria (positif atau negatif)
!pesies dan stadium plasmodium
<epadatan parasite
a. !emi kuantitatif5
(%) 5 tidak ditemukan parasit dalam 1:: 2P'
(6) 5 ditemukan 1%1: parasit dalam 1:: 2P'
(66) 5 ditemukan 11%1:: parasit dalam 1:: 2P'
(666) 5 ditemukan 1%1: parasit dalam 1 2P'
(6666)5 ditemukan B1: parasit dalam 1 2P'
b. <uantitatif
Dumlah parasit dihitung permikroliter darah pada sediaan
darah tebal atau sediaan darah tipis.
Entuk penderita tersangka malaria berat perlu
memperhatikan hal%hal sebagai berikut5
1) 'ila pemeriksaan sediaan darah pertama negatif, perlu
diperiksa ulang setiap + jam sampai 3 hari berturut%turut.
() 'ila hasil pemeriksaan sediaan darah tebal selama 3 hari
berturut%turut tidak ditemukan parasit maka diagnosis
malaria disingkirkan.
?
Gambar ). Apusan darah tebal dikutip dari kepustakaan &"
Gambar !. Stadium darah parasit( apus darah tipis
Gbr. 1* sel darah merah normal+ Gbr. ),1-* Tropo.oit Gbr. ),1/ merupakan
tropo.oit stadium 0in0in"+ Gbr. 11,)2* Ski.on Gbr. )2 ski.on ruptur"+ Gbr. )3()-*
makrogametosid matur 4"+ Gbr. )1( !/* mikrogametosid matur 5" dikutip dari
kepustakaan &"
b. Pemeriksaan dengan tes diagnostik epat (Rapid Diagnostic Test)
Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria,
dengan menggunakan metoda imunokromatografi, dalam bentuk
dipstik )es ini sangat bermanfaat pada unit ga$at darurat, pada saat
terjadi kejadian luar biasa dan di daerah terpenil yang tidak tersedia
fasilitas lab serta untuk sur/ey tertentu. 0al yang penting lainnya
adalah penyimpanan =D) ini sebaiknya dalam lemari es tetapi tidak
dalam free"er pendingin.
. )es !erologi
,
Memakai teknik indiret fluoresent antibody test. )es ini berguna
mendeteksi adanya antibody spesifik terhadap malaria atau pada
keadaan dimana parasit sangat minimal. <urang bermanfaat untuk
sarana diagnostik sebab antibody baru terjadi setelah beberapa hari
parasitemia. )iter B 15(:: dianggap sebagai infeksi baru, dan tes B
15(: dinyatakan positif. Metode%metode tes serologi antara lain 5
indirect haemagglutination test, immunoprecipitation techniques,
F2I!# test, radio-immunoassay.
d. Pemeriksaan P;= (Polymerase Chain Reaction)
Dianggap sangat peka dengan teknologi amplifikasi D9#, $aktu
dipakai ukup epat dan sensiti/itas maupun spesifitasnya tinggi.
<eunggulan tes ini $alaupun jumlah parasit sangat sedikit dapat
memberikan hasil positif. )es ini baru dipakai sebagai sarana
penelitian dan belum sebagai pemeriksaan rutin.
e. Pemeriksaan penunjang untuk malaria berat5
1) Darah rutin
() <imia darah lain (gula darah, serum bilirubin, !*&) G !*P),
alkali fosfatase, albumin.globulin, ureum, kreatinin, natrium
dan kalium, anaIisis gas darah.
3) F<*
4) 1oto toraks
7) #nalisis airan serebrospinalis
+) 'iakan darah dan uji serologi
?) Erinalisis.
#I. %6MPLI%ASI
1
- Malaria erebral
)anda%tanda malaria erebral 5
a. !akit kepala
H
b. *angguan mental
. )anda 9eurologis
d. Perdarahan retina
e. *angguan kesadaran
- *agal ginjal akut
- <elainan hati (Malaria biliosa)
- 0ipoglikemia
- 'lak$ater fe/er (Malaria 0aemoglobinuria)
- Malaria algid
- <eenderungan perdarahan
- Fdema Paru
- Manifestasi gastrointestinal
- 0iponatremia
- *angguan metaboli lainnya
#II. PE7G68ATA7
Pengobatan yang diberikan adalah pengobatan radikal malaria dengan
membunuh semua stadium parasit yang ada di dalam tubuh manusia. #dapun
tujuan pengobatan radikal untuk mendapat kesembuhan kilinis dan parasitologik
serta memutuskan rantai penularan. !emua obat anti malaria tidak boleh diberikan
dalam keadaan perut kosong karena bersifat iritasi lambung, oleh sebab itu
penderita harus makan terlebih dahulu setiap akan minum obat anti malaria.
(

1. Pengobatan Malaria )anpa <omplikasi
2ini pertama pengobatan malaria faliparum adalah seperti yang tertera di
ba$ah ini5
Lini pertama 9 Artesunat : Amodiakuin : Primakuin
!etiap kemasan #rtesunat 6 #modiakuin terdiri dari ( blister, yaitu blister
amodiakuin terdiri dari 1( tablet I (:: mg J 173 mg amodiakuin basa, dan
1:
blister artesunat terdiri dari 1( tablet I 7: mg. &bat kombinasi diberikan per%oral
selama tiga hari dengan dosis tunggal harian sebagai berikut5
#modiakuin basa J 1: mg.kgbb dan #rtesunat J 4 mg.kgbb.
Primakuin tidak boleh diberikan kepada5
K lbu hamil
K 'ayi A 1 tahun
K Penderita defisiensi *+%PD
Tabel ). Pengobatan Lini Pertama Malaria Menurut %elompok ;mur
)
Pengobatan lini kedua malaria faliparum diberikan, jika pengobatan lini
pertama tidak efektif dimana ditemukan5 gejala klinis tidak memburuk tetapi
parasit aseksual tidak berkurang (persisten) atau timbul kembali (rekrudesensi).
(

Lini kedua 9 %ina : 'oksisiklin atau Tetrasiklin : Primakuin
<ina tablet
<ina diberikan per%oral, 3 kali sehari dengan dosis 1: mg.kgbb.kali selama
?(tujuh) hari.
(

Doksisiklin
11
Doksisiklin diberikan ( kali per%hari selama ? (tujuh) hari, dengan dosis
orang de$asa adalah 4 mg.<gbb.hari, sedangkan untuk anak usia ,%14 tahun
adalah ( mg.kgbb.hari. Doksisiklin tidak diberikan pada ibu hamil dan anak usia
A, tahun. 'ila tidak ada doksisiklin, dapat digunakan tetrasiklin.
(

)etrasiklin
)etrasiklin diberikan 4 kali perhari selama ? (tujuh) hari, dengan dosis 4% 7
mg.kgbb.kali !eperti halnya doksisiklin, tetrasiklin tidak boleh diberikan pada
anak dengan umur di ba$ah. , tahun dan ibu hamil.
(
Primakuin
Pengobatan dengan primakuin diberikan seperti pada lini pertama.
Tabel !. Pengobatan Lini Pertama Malaria Menurut %elompok ;mur
)
(. Pengobatan Malaria dengan <omplikasi
Malaria berat merupakan komplikasi dari infeksi malaria yang sering
menimbulkan kematian. 1aktor yang menyebabkan perlangsungan menjadi
berat ataupun kematian ialah keterlambatan diagnosis, mis%diagnosis (salah
diagnosis ) dan penanganan yang salah. tidak tepat. terlambat. Perubahan
yang besar dalam penanganan malaria berat ialah pemakaian artesunate
intra/ena untuk menurunkan mortalitas 34C dibandingkan dengan
penggunaan kina.
Pengobatan malaria berat seara garis besar terdiri atas 3 komponen penting
yaitu 5
1. Pengobatan spesifik dengan kemoterapi anti malaria.
1(
(. Pengobatan supportif (termasuk pera$atan umum dan pengobatan
simptomatik)
3. Pengobatan terhadap komplikasi
Pemberian obat anti malaria (&#M) pada malaria berat berbeda dengan
malaria biasa karena pada malaria berat diperlukan daya membunuh parasit seara
epat dan ber%tahan ukup lama di darah untuk segera menurunkan dera%jat
parasitemianya. &leh karenanya dipilih pemakaian obat per parenteral ( intra/ena,
per infus. intra muskuler) yang berefek epat dan kurang menyebabkan terjadinya
resistensi.
a) Pemberian &#M (&bat #nti Malaria) seara parenteral 5
#=)F!E9#)F I9DF<!I ( 1 flaon J +: mg), Dosis i./ (,4 mg.kg ''. kali
pemberian.
Pemberian intra/enous 5 dilarutkan pada pelarutnya 1ml 7C
biarbonate dan dienerkan dengan 7%1: 7C dekstrose disuntikan bolus
intra/ena. Pemberian pada jam :, 1( jam , (4 jam dan seterusnya tiap (4 jam
sampai penderita sadar. Dosis tiap kali pemberian (,4 mg.kg''. 'ila sadar
diganti dengan tablet artesunate oral ( mg.kg'' sampai hari ke%? mulai
pemberian parenteral. Entuk menegah rekrudensi dikombinasikan dengan
doksisiklin ( x 1:: mg.hari selama ? hari atau pada $anita hamil. anak
diberikan lindamisin ( x 1: mg.kg ''. Pada pemakaian artesunate tidak
memerlukan penyesuaian dosis bila gagal organ berlanjut. &bat lanjutan
setelah parenteral dapat menggunakan obat #;) .
#=)FMF)F= i.m ( 1 ampul ,: mg )
Diberikan atas indikasi 5
)idak boleh pemberian intra/ena. infus
)idak ada manifestasi perdarahan ( purpura dsb)
Pada malaria berat di =! perifer. Puskesmas
13
Dosis artemeter 5 0ari I 5 1,+ mg.kg '' tiap 1( jam, 0ari ke%( 8 7 5 1,+ mg.kg
''.
<emoprofilaksis bertujuan untuk mengurangi resiko terinfeksi malaria
sehingga bila terinfeksi maka gejala klinisnya tidak berat <emoprofilaksis ini
ditujukan kepada orang yang bepergian ke daerah endemis malaria dalam $aktu
yang tidak terlalu lama, seperti turis, peneliti, pega$ai kehutanan dan lain%lain
Entuk kelompok atau indi/idu yang akan bepergian.tugas dalam jangka $aktu
yang lama, sebaiknya menggunakan personal protection seperti pemakaian
kelambu, repellent, ka$at kassa dan lain%lain.
(
!ehubungan dengan laporan tingginya tingkat resistensi Plasmodium
faliparum terhadap klorokuin, maka doksisiklin menjadi pilihan untuk
kemoprofilaksis Doksisiklin diberikan setiap hari dengan dosis ( mg.kgbb selama
tidak Iebih dari 4%+ minggu. Doksisiklin tidak boleh diberikan kepada anak umur
A , tahun dan ibu hamil.
(
<emoprofilaksis untuk Plasmodium /i/ax dapat diberikan klorokuin
dengan dosis 7 mg.kgbb setiap minggu. &bat tersebut diminum satu minggu
sebelum masuk ke daerah endemis sampai 4 minggu setelah kembali. Dianjurkan
tidak menggunakan klorokuin lebih dan 3%+ bulan.
(
#III. PR6G76SIS
1
1) Prognosis malaria berat tergantung keepatan diagnosa dan ketepatan G
keepatan pengobatan.
() Pada malaria berat yang tidak ditanggulangi, maka mortalitas yang
dilaporkan pada anak%anak 17 C, de$asa (: C, dan pada kehamilan
meningkat sampai 7: C.
3) Prognosis malaria berat dengan kegagalan satu fungsi organ lebih baik
daripada kegagalan ( fungsi organ 5
K Mortalitas dengan kegagalan 3 fungsi organ, adalah B 7:C
K Mortalitas dengan kegagalan 4 atau lebih fungsi organ, adalah B ?7C
14
K #danya korelasi antara kepadatan parasit dengan klinis malaria berat
yaitu5
- <epadatan parasit A 1::.:::, maka mortalitas A 1 C
- <epadatan parasit B 1::.:::, maka mortalitas B 1 C
- <epadatan parasit B 7::.:::, maka mortalitas B 7: C
LAP6RA7 %AS;S
I. I'E7TITAS PASIE7
17
9ama 5 )n. M
Emur 5 (, tahun
Denis <elamin 5 2aki%laki
Pekerjaan 5 Liras$asta
#lamat 5 Dl. <ejayaan Etara ')P
#gama 5 <atolik
9o. =M 5 :?1(H3
)anggal masuk 5 1(.:H.(:13
A7AM7ESIS
#utoanamnesis
<F2E0#9 E)#M# 5 Demam
#9#M9F!I! )F=PIMPI9 5
Pasien datang dengan keluhan utama demam dialami sejak M ( minggu
yang lalu sebelum masuk =!, demam tidak terus%menerus, demam dirasakan
kadang siang dan kadang malam hari (demam tidak menentu). #$alnya
pasien demam, kemudian menggigil dan berkeringat. Demam munul pada
hari pertama dan selanjutnya pada hari ketiga. !akit kepala tidak ada, pusing
tidak ada, batuk tidak ada, nyeri menelan tidak ada, sesak tidak ada, mual
tidak ada, muntah tidak ada, nyeri ulu hati tidak ada.
'#' 5 'iasa, $arna kuning
'#< 5 2anar, $arna kuning.
=i$ayat penyakit sebelumnya5
=i$ayat malaria (%)
=i$ayat pergi ke daerah endemik ()imika) 3 bulan yang lalu.
=i$ayat opname 7 hari yang lalu dengan keluhan yang sama di =!I. 1aisal
dengan diagnosis D01 grade I, obat yang diberikan paraetamol.
=i$ayat penyakit terdahulu 5 )' Paru (6) M 17 tahun yang lalu berobat tuntas.
=i$ayat penyakit darah (%), ri$ayat 0epatitis (%), ri$ayat transfusi darah (%).
II. STAT;S PRESE7T
!akit !edang . *i"i 2ebih . !adar
1+
'' J ?4 kg,
)' J 1?: m,
IM) J (7,+: kg.m
(
*i"i 2ebih (&bes 1)
Tanda <ital *
)ekanan Darah 5 11:.?: mm0g
9adi 5 ,4 x.menit reguler, kuat angkat
Pernapasan 5 (( x.menit, )ipe 5 )horaoabdominal
!uhu 5 3,,(
o
; (axilla)
III. PEMERI%SAA7 =ISIS
%epala
Fkspresi 5 'iasa
!imetris muka 5 simetris kiri J kanan
Deformitas 5 (%)
=ambut 5 0itam lurus, alopesia (%)
Mata
Fksoptalmus.Fnoptalmus 5 (%)
*erakan 5 ke segala arah
)ekanan bola mata 5 dalam batas normal
<elopak Mata 5 edema palpebra (%)
<onjungti/a 5 anemis (%)
!klera 5 ikterus (%)
<ornea 5 jernih
Pupil 5 bulat, isokor (,7mm.(,7mm
=eflex ahaya 6.6
Telinga
Pendengaran 5 dalam batas normal
)ophi 5 (%)
9yeri tekan di prosesus mastoideus 5 (%)
Hidung
1?
Perdarahan 5 (%)
!ekret 5 (%)
Mulut
'ibir 5 puat (%), kering (%)
2idah 5 kotor (%),tremor (%), hiperemis (%)
)onsil 5 )
1
8 )
1
, hiperemis (%)
1aring 5 hiperemis (%),
*igi geligi 5 aries (%)
*usi 5perdarahan gusi (%), hipertrofi
ginggi/a (%)
Leher
<elenjar getah bening 5 tidak ada pembesaran
<elenjar gondok 5 tidak ada pembesaran
DN! 5 =%( m 0
(
&
Pembuluh darah 5 tidak ada kelainan
<aku kuduk 5 (%)
)umor 5 (%)
'ada
Inspeksi 5
'entuk 5 normohest, simetris kiri J kanan
Pembuluh darah 5 tidak ada kelainan
'uah dada 5 simetris kiri J kanan,gineomasti(%)
!ela iga 5 dalam batas normal
2ain 8 lain 5 (%)
Paru
Palpasi 5
1remitus raba 5 /oal fremitus kiriJkanan,
9yeri tekan 5 (%)
1,
Perkusi 5
Paru kiri 5 sonor
Paru kanan 5 sonor
'atas paru%hepar 5 I;! NI dextra anterior,
'atas paru belakang kanan 5 ;N )h. IO dextra
'atas paru belakang kiri 5 ;N )h. O sinistra
#uskultasi 5
'unyi pernapasan 5 Nesikuler
'unyi tambahan 5 =h 5 %.% Lh 5 %.%
>antung
Inspeksi 5 itus ordis tidak tampak
Palpasi 5 itus ordis tidak teraba
Perkusi 5 pekak,
batas atas jantung 5 I;! II sinistra
batas kanan jantung 5 I;! III%IN linea parasternalis dextra
batas kiri jantung 5 I;! N linea midla/iularis sinistra
#uskultasi 5 bunyi jantung I.II murni regular, bunyi tambahan (%)
Perut
Inspeksi 5 embung, ikut gerak napas
#uskultasi 5 Peristaltik (6), kesan normal
Palpasi 5 9) (%) M) (%)
0epar 5 tidak teraba
2ien 5 teraba !huffner (
*injal 5 tidak teraba
Perkusi 5 )impani (6)
Punggung
Palpasi 5 9) (%), M) (%)
9yeri ketok 5 (%)
#uskultasi 5 'P 5 Nesikuler
'unyi tambahan 5 =h %.% Lh %.%
1H
*erakan 5 dalam batas normal
2ain 8 lain 5 (%)
Ekstremitas
Fdema %.%, Peteki (%)
Laboratorium
Pemeriksaan Penun?ang Lainn@a *
;SG Abdomen 1)A/1A)/1!"
- 0epar dalam batas normal
- !plenomegaly
I#. ASSESME7T *
!usp. Malaria
#. PLA77I7G
Pengobatan *
!istenol (Paraetamol 6 9 8 #etyl !istein) 3x1
Ren0ana pemeriksaan *
o DD=, #D)
(:
>enis Pemerikaan Hasil 1)A/1A)/1!" 7ilai Ru?ukan
'ARAH
R;TI7
L'; !.31 B1/
!
AuL 4 % 1: x 1:
3
.u2
='; 4.++ x1:
+
.u2 48+ x 1:
+
.u2
0*' 11.+ g.d2 1( % 1+ g.d2
0;) 3+.( C 3? 8 4,C
P2) 3& B 1/
!
AuL 17:%4::x1:
3
.u2
%IMIA
'ARAH
!*&) 3! ;AL A3, E.2
!*P) )/1 ;AL A41 E.2
=;7GSI
GI7>AL
Ereum (1 mg.d2 1:%7: mg.d2
;reatinin :.H mg.d2 2(A1.3), P(A1.1)
*D! 1(( mg.d2 14: mg.d2
IgM
!almonella
7egati$
o 1oto )horax P#
#I. PR6G76SIS
Puad ad funtionam 5 'onam
Puad ad sanationam 5 'onam
Puad ad /itam 5 'onam
=6LL6C ;P PASIE7
TA7GGAL PER>ALA7A7 PE7DA%IT I7STR;%SI '6%TER
(1
13.:H.(:13
) 5 1(:.,: mm0g
9 5 ,: x.i
P 5 (( x.i
! 5 3+.?;
! 5
Demam (%), !akit kepala (%),
'atuk (%), !esak (%), 9yeri ulu hati
(%), Mual (%), muntah (%)
'#' 5 biasa, '#< 5 lanar
& 5
!! . *2 . ;M
#nemis %.%, ikterus %.%,
M) (%), 9) (%), DN! =%(m
0
(
&
'P 5 /esikuler,
') 5 =h %.% , Lh %.%
'D 5 I.II murni regular
Peristaltik (6) kesan 9,
0epar 5 tidak teraba
2ien 5 !huffner (
Fxt 5 Fdema %.%, peteki %.%
Hasil A'T *
8isitopenia kausa in$eksi
Plasmodium falciparum
0asil 1oto )horax 5
)' Paru duplex lama aktif
;ardiomegaly dengan
dilatatio aortae
# 5 Malaria
P 5
- !istenol (P;) 6 9%
#etyl !istein) 3x1
(<P)
- #rtesunat 7:mg 1x4 tab
6 #modiakuin 17:mg
1x4 tab (hari I)
- Primakuin 1x3 tab
( hari I)
14.:H.(:13
) 5 11:.?: mm0g
! 5
Demam (6), !akit kepala (%),
P 5
- !istenol (P;) 6 9%
((
9 5 H( x.i
P 5 (4 x.i
! 5 3,.4;
'atuk (%), !esak (%), 9yeri ulu hati
(%), Mual (%), muntah (%)
'#' 5 biasa, '#< 5 lanar
& 5
!! . *2 . ;M
#nemis %.%, ikterus %.%,
M) (%), 9) (%), DN! =%(m
0
(
&
'P 5 /esikuler,
') 5 =h %.%, Lh %.%
'D 5 I.II murni regular
Peristaltik (6) kesan 9,
0epar 5 tidak teraba
2ien 5 !huffner (
Fxt 5 Fdema %.%, peteki %.%
0asil 2ab 5
''R Positi$
# 5 Malaria
#etyl !istein) 3x1
- #rtesunat 7:mg 1x4 tab
6 #modiakuin 17:mg
1x4 tab (hari II)
17.:H.(:13
) 5 1(:.,: mm0g
9 5 ,+ x.i
P 5 (3 x.i
! 5 3+.H;
! 5
Demam (%), !akit kepala (%),
'atuk (%), !esak (%), 9yeri ulu hati
(%), Mual (%), muntah (%)
'#' 5 biasa, '#< 5 lanar
& 5
!! . *2 . ;M
#nemis %.%, ikterus %.%,
M) (%), 9) (%), DN! =%(m
P 5
- !istenol (P;) 6 9%
#etyl !istein) 3x1
(<P)
- #rtesunat 7:mg 1x4 tab
6 #modiakuin 17:mg
1x4 tab (hari III)
(3
0
(
&
'P 5 /esikuler,
') 5 =h %.% , Lh %.%
'D 5 I.II murni regular
Peristaltik (6) kesan 9,
0epar 5 tidak teraba
2ien 5 !huffner (
Fxt 5 Fdema %.%, peteki %.%
# 5 Malaria
(4
RES;ME
!eorang laki%laki, umur (, tahun masuk =umah !akit dengan keluhan
febris dialami sejak M ( minggu yang lalu sebelum masuk =!, febris tidak terus%
menerus, febris dirasakan kadang siang dan kadang malam hari (tidak menentu),
febris diikuti dengan menggigil dan berkeringat. '#' 5 'iasa, $arna kuning.
'#< 5 2anar, $arna kuning. =i$ayat malaria (%), ri$ayat pergi ke daerah
endemik ()imika) 3 bulan yang lalu. =i$ayat opname dengan keluhan yang sama
7 hari yang lalu di =!I 1aisal dengan diagnosis D01 grade I, obat yang diberikan
paraetamol. =i$ayat penyakit terdahulu 5 )' Paru (6) M 17 tahun yang lalu
berobat tuntas.
Pada pemeriksaan fisik, tanda /ital 5 )ekanan Darah 5 11:.?: mm0g,
9adi 5 ,4 x.menit reguler, kuat angkat, Pernapasan 5 (( x.menit, )ipe 5
)horaoabdominal, !uhu 5 3,,(
o
; (axilla). Pada palpasi abdomen ditemukan
kelainan berupa !plenomegali, !huffner (.
Pada pemeriksaan penunjang diperoleh hasil 2aboratorium L'; 5
3.?1x1:
3
.u2, 0b 5 11.+ g.d2, P2) 5 ?7x1:
3
.El, !*&) 5 ?3 E.2, !*P) 5 (:1 E.2,
IgM !almonella 5 negatif. 0asil #D) 5 'isitopenia kausa infeksi Plasmodium
falciparum. Pada pemeriksaan E!* #bdomen, kesan 5 0epar dalam batas normal
dan !plenomegaly.
'erdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang yang
telah dilakukan, maka pasien didiagnosis Malaria.
(7
'IS%;SI
Pasien masuk dengan keluhan demam, maka kita dapat memikirkan
berbagai kemungkinan. #da banyak penyakit yang dapat menimbulkan keluhan
demam, misalnya D01, demam tifoid, malaria, I!P#, dan penyakit%penyakit lain.
Dari hasil anamnesis pada pasien, demam dialami sejak M ( minggu yang lalu
sebelum masuk =!. Demam tidak terus%menerus disertai dengan menggigil dan
berkeringat, sesuai dengan trias malaria, yaitu terdapat stadium dingin (cold
stage), stadium demam (hot stage), dan stadium berkeringat (sweating stage).
Pada pemeriksaan fisis, ditemukan adanya pembesaran limpa
(splenomegali) shuffner (, hal tersebut disebabkan oleh in/asi plasmodium ke
eritrosit terjadi pemeahan eritrosit (hemolisis) yang berlebihan. #kibat
pemeahan eritrosit ini maka limpa sebagai organ retikulosit dan destruksi akan
meningkat kerjanya sehingga menjadi hipertrofi.
!elain itu dari hasil pemeriksaan laboratorium ditemukan bah$a pasien
juga mengalami anemia (0b 5 11,+ g.d2) dan pada #pusan Darah )epi, kesan
'isitopenia kausa infeksi Plasmodium falciparum. 0al tersebut sesuai dengan
kriteria diagnosis untuk Malaria.
Menurut teori, malaria mempunyai gambaran karakteristik demam
periodik, anemia, dan splenomegali. Masa inkubasi ber/ariasi pada masing%
masing plasmodium. #nemia merupakan gejala yang sering dijumpai pada infeksi
malaria. 'eberapa mekanisme terjadinya anemia ialah pengrusakan eritrosit oleh
parasit, hambatan eritropoiesis sementara, hemolisis oleh karena proses
complement mediated immune complex, eritrofagositosis, penghambatan
pengeluaran retikulosit, dan pengaruh sitokin. Pembesaran limpa (splenomegali)
sering pula dijumpai pada penderita malaria, limpa akan teraba setelah 3 hari dari
serangan infeksi akut, limpa menjadi bengkak, nyeri, dan hiperemis.
)erapi pada pasien ini a$alnya diberikan pengobatan simptomatik, yaitu
dengan pemberian sistenol 3x1, kemudian setelah diagnosis pasti ditegakkan
dengan ditemukannya Plasmodium falciparum pada #D), maka pasien diterapi
dengan pengobatan lini pertama untuk malaria faliparum tanpa komplikasi yaitu
(+
kombinasi #rtesunat 6 #modiakuin 6 Primakuin dimana dosisnya disesuaikan
dengan kelompok umur. Pada kasus di atas, diberikan #rtesunat 7:mg 1x4 tab 6
#modiakuin 17:mg 1x4 tab 6 Primakuin 1x3 tab untuk hari pertama, hari kedua
dan ketiga diberikan #rtesunat 7:mg 1x4 tab 6 #modiakuin 17:mg 1x4 tab.
)erapi kombinasi yang diberikan adalah pengobatan radikal malaria dengan
membunuh semua stadium parasit yang ada di dalam tubuh manusia. Pasien
dibolehkan ra$at jalan karena gejala klinis sudah berkurang dan sebaiknya perlu
dilakukan kontrol DD= dan #D) terhadap pasien untuk melihat respon terapi.
(?
'A=TAR P;STA%A
1. 0arijanto P9. Malaria. 'uku #jar Ilmu Penyakit Dalam. Dilid III, edisi IN.
1akultas <edokteran Eni/ersitas Indonesia. Dakarta, (::+Q 0al5 1?74%+:.
(. <artono M. 9yamuk #nopheles5 Nektor Penyakit Malaria. MFDI<#.
9o.OO, tahun OOIO. Dakarta, (::3Q 0al5 +17.
3. )aylor )F, !trikland *). Malaria. In 5 !trikland *) (Fd). 0unterRs.
)ropial Mediine and Fmerging Infetious Diseases, ,th ed. L.'
4. =ani ##, !oegondo !, Lijaya IP. Panduan Pelayanan Medik P#PDI.
FditorRs. 1akultas <edokteran Eni/ersitas Indonesia5Dakarta Q (::+ 5 14,%71
7. *una$an !. Fpidemiologi Malaria. Dalam5 0arijanto P9 (editor). Malaria,
Fpidemiologi, Patogenesis, Manifestasi <linis dan Penanganan. Dakarta5
F*;, (:::Q 0al5 1%17.
(,