Anda di halaman 1dari 44

Sistem Informasi Manajemen

Category: Uncategorised
Published on Tuesday, 25 March 2014
Written by Ronny Loekito
Sistem informasi manajemen (SIM) (bahasa Inggris: management information system, MIS) adalah sistem
perencanaan bagian dari pengendalian internal suatu bisnis yang meliputi
pemanfaatan manusia, dokumen, teknologi, dan prosedur oleh akuntansi manajemen untuk
memecahkan masalah bisnis seperti biaya produk, layanan, atau suatu strategi bisnis. Sistem informasi
manajemen dibedakan dengan sistem informasi biasa karena SIM digunakan untuk menganalisis sistem
informasi lain yang diterapkan pada aktivitas operasional organisasi. Secara akademis, istilah ini
umumnya digunakan untuk merujuk pada kelompok metode manajemen informasi yang bertalian dengan
otomasi atau dukungan terhadap pengambilan keputusan manusia, misalnya sistem pendukung
keputusan, sistem pakar, dan sistem informasi eksekutif.
Tujuan Umum

Menyediakan informasi yang dipergunakan di dalam perhitungan harga pokok jasa, produk, dan tujuan lain
yang diinginkan manajemen.
Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan, pengendalian, pengevaluasian, dan perbaikan
berkelanjutan.
Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.
Ketiga tujuan tersebut menunjukkan bahwa manajer dan pengguna lainnya perlu memiliki akses ke
informasi akuntansi manajemen dan mengetahui bagaimana cara menggunakannya. Informasi akuntansi
manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi suatu masalah, menyelesaikan masalah, dan
mengevaluasi kinerja (informasi akuntansi dibutuhkan dan dipergunakan dalam semua tahap
manajemen, termasuk perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan).
Proses Manajemen

Proses manajemen didefinisikan sebagai aktivitas-aktivitas:
Perencanaan, formulasi terinci untuk mencapai suatu tujuan akhir tertentu adalah aktivitas manajemen yang
disebut perencanaan. Oleh karenanya, perencanaan mensyaratkan penetapan tujuan dan identifikasi metode
untuk mencapai tujuan tersebut.
Pengendalian, perencanaan hanyalah setengah dari peretempuran. Setelah suatu rencana dibuat, rencana
tersebut harus diimplementasikan, dan manajer serta pekerja harus memonitor pelaksanaannya untuk
memastikan rencana tersebut berjalan sebagaimana mestinya. Aktivitas manajerial untuk memonitor
pelaksanaan rencana dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan, disebut kebutuhan.
Pengambilan Keputusan, proses pemilihan di antara berbagai alternative disebut dengan proses pengambilan
keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan jalinan antara perencanaan dan pengendalian. Manajer harus
memilih di antara beberapa tujuan dan metode untuk melaksanakan tujuan yang dipilih. Hanya satu dari
beberapa rencana yang dapat dipilih. Komentar serupa dapat dibuat berkenaan dengan fungsi pengendalian.
Menurut Francisco Proses Manajemen adalah suatu proses Penukaran terhadap nilai dan jasa
Bagian

SIM merupakan kumpulan dari sistem informasi:
Sistem informasi akuntansi (accounting information systems), menyediakan informasi dan transaksi keuangan.
Sistem informasi akademik (academic information systems), menyediakan informasi tentang proses pendidikan
yang sedang berjalan di suatu akademi/sekolah/perguruan.
Sistem informasi pemasaran (marketing information systems), menyediakan informasi untuk penjualan,
promosi penjualan, kegiatan-kegiatan pemasaran, kegiatan-kegiatan penelitian pasar dan lain sebagainya yang
berhubungan dengan pemasaran.
Sistem informasi manajemen persediaan (inventory management information systems).
Sistem informasi personalia (personal information systems).
Sistem informasi distribusi (distribution information systems).
Sistem informasi pembelian (purchasing information systems).
Sistem informasi kekayaan (treasury information systems).
Sistem informasi analisis kredit (credit analysis information systems).
Sistem informasi penelitian dan pengembangan (research and development information systems).
Sistem informasi analisis software
Sistem informasi teknik (engineering information systems).
Sistem informasi Rumah Sakit (Hospital information systems).











NOTA KESEPAHAMAN
ANTARA
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
DENGAN
RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK

NOMOR 445/1817/2.1/IV/2012
NOMOR 41/NK/X-XIII.2/4/2012

TENTANG

PENGEMBANGAN DAN PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI DALAM RANGKA
PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

Pada hari ini, Senin, tanggal tiga puluh, bulan April, tahun dua ribu dua belas,
bertempat di Bandar Lampung, kami yang bertanda tangan di bawah ini:

I. Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Provinsi
Lampung, yang berkedudukan dan berkantor di Jalan Pangeran Emir M. Noor
Nomor 11B, Bandar Lampung, dalam hal ini diwakili oleh Novy G.A. Pelenkahu
selaku Kepala Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
Perwakilan Provinsi Lampung, dengan demikian bertindak untuk dan atas nama
Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan
Provinsi Lampung, selanjutnya disebut PIHAK PERTAMA.

II. RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, yang berdiri berdasarkan Keputusan Gubernur
Lampung Nomor G/605/B/V/HK/2009 tentang Penetapan RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung sebagai Instansi Pemerintah Daerah Provinsi Lampung
yang menerapkan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah,
berkedudukan di Bandar Lampung dan beralamat di Jalan Dr. Rivai No. 6
Penengahan Bandar Lampung, dalam hal ini diwakili oleh Torry Duet Irianto,
selaku Direktur Utama, dengan demikian bertindak untuk dan atas nama RSUD Dr.
H. Abdul Moeloek, selanjutnya disebut PIHAK KEDUA.

Selanjutnya, PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA secara bersama-sama disebut
PARA PIHAK.


PARA PIHAK terlebih dahulu menerangkan dan menyatakan hal-hal sebagai berikut:
bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal 10 huruf a dan huruf b Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan
Negara dan Pasal 9 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang
Badan Pemeriksa Keuangan, PIHAK PERTAMA memiliki kewenangan untuk meminta
dokumen yang wajib diberikan setiap orang serta mengakses data dalam rangka
pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara;

Selanjutnya, dengan memperhatikan Ketentuan Peraturan Perundang-Undangan di
bawah ini:
1. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1997 tentang Dokumen Perusahaan (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 18, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3674);
2. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4400);
5. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor 85, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4654);
6. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 58, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, PARA PIHAK sepakat untuk membuat Nota
Kesepahaman tentang Pengembangan dan Pengelolaan Sistem Informasi dalam
Rangka Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara, dengan
ketentuan sebagai berikut:








BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Pengertian

Pasal 1

Dalam Nota Kesepahaman ini, yang dimaksud dengan:
1. Pemeriksaan adalah proses identifikasi masalah, analisis, dan evaluasi yang
dilakukan secara independen, objektif, dan profesional berdasarkan standar
pemeriksaan, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan keandalan
informasi mengenai pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
2. Data PIHAK KEDUA adalah data milik RSUD Dr. H. Abdul Moeloek yang
diperlukan oleh PIHAK PERTAMA dalam rangka pemeriksaan atas pengelolaan
dan tangung jawab keuangan negara.
3. Akses Data PIHAK KEDUA adalah suatu cara atau metode untuk melihat,
mengirim, mengambil, dan menggunakan Data PIHAK KEDUA dalam rangka
pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
4. Sistem Informasi untuk Akses Data PIHAK KEDUA adalah suatu sistem yang terdiri
dari sistem aplikasi komputer, infrastruktur jaringan komunikasi, dan prosedur yang
digunakan untuk mengakses Data PIHAK KEDUA.

Bagian Kedua
Tujuan

Pasal 2

Mewujudkan hubungan kerja sama pengembangan dan pengelolaan Sistem Informasi
dalam rangka pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.


BAB II
RUANG LINGKUP DAN PELAKSANAAN
Bagian Kesatu
Ruang Lingkup

Pasal 3

Ruang lingkup Nota Kesepahaman ini meliputi pengembangan dan pengelolaan
Sistem Informasi untuk Akses Data PIHAK KEDUA, yang terdiri dari:
a. sistem aplikasi komputer;
b. infrastruktur jaringan komunikasi; dan
c. prosedur Akses Data.

Pasal 4

Data PIHAK KEDUA yang diperlukan dalam Sistem Informasi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 meliputi:
a. sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) RSUD Dr. H. Abdul Moeloek;
b. data selain huruf a yang diperlukan dalam rangka pemeriksaan atas pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan negara;
c. peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pengelolaan keuangan negara
di lingkungan PIHAK KEDUA; dan
d. hasil pengawasan internal.

Bagian Kedua
Pelaksanaan

Pasal 5

Dalam rangka pengembangan dan pengelolaan Sistem Informasi untuk Akses Data
PIHAK KEDUA, kewajiban PARA PIHAK diatur sebagai berikut:
a. PIHAK KEDUA menyediakan sistem jaringan komunikasi internal sampai dengan
Gateway PIHAK PERTAMA;
b. PIHAK PERTAMA menyediakan sistem jaringan komunikasi antara Gateway
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA;
c. PIHAK KEDUA menyediakan server untuk menampung Data PIHAK KEDUA
agar dapat diakses oleh PIHAK PERTAMA;
d. PIHAK PERTAMA menyediakan server untuk menampung Data PIHAK KEDUA
yang diakses dari PIHAK KEDUA; dan e. PARA PIHAK memasang/menyediakan aplikasi miliknya atau yang
berada di
bawah penguasaannya, yang diperlukan agar bisa terjadi Akses Data antara
PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA.

Pasal 6

(1) PIHAK PERTAMA melaksanakan Akses Data PIHAK KEDUA secara online
dalam rangka pemeriksaan pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.
(2) PIHAK KEDUA mengupayakan keberlangsungan aplikasi dan ketersediaan data
dalam Sistem Informasi untuk Akses Data PIHAK KEDUA.

Pasal 7

Dalam rangka pengembangan dan pengelolaan sistem informasi untuk Akses Data
PIHAK KEDUA, PARA PIHAK melakukan kegiatan sebagai berikut:
a. menyusun rancangan makro sistem Akses Data PIHAK KEDUA;
b. menyiapkan dan mengadakan infrastruktur pendukung Akses Data PIHAK
KEDUA;
c. menyiapkan jenis dan format Data PIHAK KEDUA;
d. membangun aplikasi Akses Data PIHAK KEDUA;
e. melakukan uji coba Akses Data PIHAK KEDUA secara online;
f. menyusun tata cara dan keamanan sarana Akses Data PIHAK KEDUA;
g. melakukan implementasi Akses Data PIHAK KEDUA;
h. melakukan pengawasan;
i. melakukan evaluasi dan penyelesaian masalah; dan
j. melakukan kegiatan lain dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan Akses
Data PIHAK KEDUA.

Pasal 8
Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan Nota Kesepahaman ini ditetapkan
dengan Petunjuk Teknis berdasarkan persetujuan PARA PIHAK.
Bagian Ketiga
Tanggung Jawab dan Kerahasiaan

Pasal 9

(1) PIHAK KEDUA menjamin bahwa Data PIHAK KEDUA yang disediakan melalui
Sistem Informasi untuk Akses Data PIHAK KEDUA merupakan data yang
lengkap sesuai permintaan PIHAK PERTAMA dan sesuai dengan kondisi
sebenarnya dalam Sistem Informasi PIHAK KEDUA.
(2) PIHAK PERTAMA menjamin bahwa Sistem Informasi untuk Akses Data PIHAK
KEDUA digunakan hanya untuk kepentingan pemeriksaan pengelolaan dan
tanggung jawab keuangan negara.

Pasal 10

(1) Dalam rangka melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7,
PARA PIHAK membentuk Tim Kerja.
(2) Tim Kerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan
masing-masing PIHAK.

BAB III
RAPAT KOORDINASI

Pasal 11

(1) Dalam rangka evaluasi, pengembangan, dan penyelesaian masalah dalam
melaksanakan Nota Kesepahaman ini, PARA PIHAK dapat melakukan rapat
koordinasi.
(2) PARA PIHAK dapat menunjuk pejabat di lingkungannya masing-masing untuk
melakukan rapat koordinasi.

BAB IV
PEMBIAYAAN

Pasal 12

Biaya yang timbul dari pelaksanaan Nota Kesepahaman ini dibebankan pada
Anggaran Belanja masing-masing PIHAK.
BAB V
PENYELESAIAN PERSELISIHAN

Pasal 13

Perselisihan yang mungkin timbul dari Nota Kesepahaman ini akan diselesaikan
dengan cara musyawarah mufakat oleh PARA PIHAK.


BAB VI
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 14

(1) Nota Kesepahaman ini mulai berlaku pada hari dan tanggal penandatanganan
oleh PARA PIHAK.
(2) Hal-hal yang belum diatur atau belum cukup diatur dalam Nota Kesepahaman ini
akan diatur berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK dan dituangkan secara
tertulis dalam suatu perubahan (addendum), yang merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari Nota Kesepahaman ini.

Nota Kesepahaman ini dibuat rangkap 2 (dua) asli dan ditandatangani oleh PARA
PIHAK, rangkap pertama dan rangkap kedua mempunyai kekuatan hukum yang sama
untuk PARA PIHAK.

PIHAK PERTAMA,



PIHAK KEDUA,

NOVY G.A. PELENKAHU TORRY DUET IRIANTO

ODE RS 1801017
TGL REGISTRASI 27/12/2013
RUMAH SAKIT RSU Dr H Abdul Moeloek
JENIS RSU
KLS RS B
DIREKTUR RS dr. Hj. Reihana,M.Kes
PENYELENGGARA Pemprop
ALAMAT LOKASI RS
ALAMAT Jl. Dr. Rivai 6,Penengahan B.Lampung
KAB/KOTA Kota Bandar Lampung
KODE POS 35112
TELEPON 0721 - 703312
FAX 703952
EMAIL -
TELEPON HUMAS -
WEBSITE -
LUAS RUMAH SAKIT
LUAS TANAH 81486 m2
LUAS BANGUNAN 39043 m2
NO SURAT IJIN HK.03.05/1/2603/08
TANGGAL SURAT IJIN 31/07/2008
SURAT IJIN DARI Menkes RI
SIFAT SURAT IJIN Sementara
MASA BERLAKU SURAT IJIN 2015
STATUS PENYELENGGARA Pemda Propinsi
SWASTA
PENTAHAPAN AKREDITASI Pentahapan III (16 Pelayanan)
STATUS AKREDITASI Lulus
TGL AKREDITAS 27/02/2012
TEMPAT TIDUR
VVIP 0 Tempat Tidur
VIP 47 Tempat Tidur
KELAS I 58 Tempat Tidur
KELAS II 115 Tempat Tidur
KELAS III 318 Tempat Tidur
ICU 10 Tempat Tidur
PICU 3 Tempat Tidur
NICU 4 Tempat Tidur
TT Bayi Baru Lahir 29 Tempat Tidur
HCU 0 Tempat Tidur
ICCU 6 Tempat Tidur
TT di Kamar Bersalin 0 Tempat Tidur
TT di Ruang Operasi 10 Tempat Tidur
TT di Ruang Isolasi 3 Tempat Tidur
TENAGA MEDIS

DOKTER UMUM DAN SPESIALIS

Dr Umum 55 Orang Dokter Sp A 5 Orang

Dokter Sp Og 3 Orang Dokter Sp Okupasi 0 Orang

Dokter Sp Pd 6 Orang Dokter Sp Urologi 2 Orang

Dokter Sp B 5 Orang Dokter Sp Orthopedi 0 Orang

Dokter Sp Rad 2 Orang
Dokter Sp Kulit dan
Kelamin
Orang

Dokter Sp RM 0 Orang Dokter Sp Forensik 0 Orang

Dokter Sp An 5 Orang Dokter Sp Psikiatri 0 Orang

Dokter Sp Jp 1 Orang
Dokter Sp
Ofthalmologi
0 Orang

Dokter Sp M 3 Orang
Dokter Sp Patologi
Anatomi
2 Orang

Dokter Sp THT 2 Orang Dokter Sp Kes. Jiwa 0 Orang
Dokter SP PK 3 Orang Dokter Sp Saraf 4 Orang

Dokter SP Paru 3 Orang Dokter Sp Lainnya 2 Orang

Dokter SP Bedah Thoraks 0 Orang
Dokter SP Bedah
Saraf
2 Orang

Dokter SP Bedah Anak 0 Orang
Dokter SP Bedah
Plastik
1 Orang

Dokter SP Bedah Orthopedi 1 Orang Dokter Sub Spesialis 1 Orang

DOKTER Gigi DAN SPESIALIS

Dokter Gigi 5 Orang
Dokter Gigi Sp
Karang Gigi
0 Orang

Dokter Gigi Sp Bedah Mulut 0 Orang Dokter Gigi Sp Anak 0 Orang

Dokter Gigi Sp Konservasi 0 Orang
Dokter Gigi Sp Gigi
Tiruan
0 Orang

Dokter Gigi Sp Penyakit Mulut 0 Orang
Dokter Gigi Sp
Periodonsia
0 Orang

Dokter Gigi Sp Radiologi 0 Orang
Dokter Gigi Sp
Lainnya
0 Orang

PERAWAT DAN SPESIALISNYA

Ners 22 Orang Perawat gigi 11 Orang

Perawat Bedah 10 Orang Perawat Anestesi 0 Orang

Perawat Maternitas Orang Perawat Anak 0 Orang

Perawat Komunitas 0 Orang Perawat Lainnya 0 Orang

Bidan Farmasi

Bidan Pendidik 0 Orang Apoteker 10 Orang

Bidan Klinik 42 Orang Analis Farmasi 0 Orang

Keteknisian Medis Kesehatan Masyarakat

Radiografer 0 Orang Epidemiologi 0 Orang

Radioterapis 12 Orang Promosi Kesehatan 0 Orang

Elektromedis 2 Orang Perilaku 0 Orang

Teknisi Gigi 0 Orang Kesja 0 Orang

Analis Kesehatan 43 Orang
Administrasi
Kesehatan
0 Orang

Refraksionis 1 Orang Biostatistik 0 orang

Rekam Medik 4 Orang Reproduksi 0 orang

Ortotik 0 Orang Informasi Kesehatan 0 orang

Teknisi Transfusi Darah 0 Orang Kesmas Lainnya 0 orang

Teknisi Kardiovaskular 0 Orang

Tenaga Kesehatan Lainnya

Sanitasi 6 Orang Nutrisionis 0 orang

Entomologi 0 Orang Dietisien 11 orang

Mikrobiologi 0 Orang Fisioterapi 8 orang

Kesehatan Lingkungan 3 Orang Terapi Okupasi 3 orang

Terapi Wicara 2 Orang Akupunturis 0 orang

Tenaga Non Kesehatan

Program Kesehatan 0 Orang Pelaporan 0 orang

Administrasi Keuangan 0 Orang Informasi Teknologi 0 orang

Humas 0 orang Hukum 4 orang

Perencanaan 0 Orang Pekarya 0 orang

Jaminan Kesehatan 0 Orang Perpustakaan 0 orang

Dosen 0 Orang Widyaiswara 0 orang

Psikologi Orang Tenaga Non Kes 0 Orang

Data Peralatan di Rumah Sakit Indikator Pelayanan RS Tahun sebelumnya Lain-Lain

Meja Operasi : Ada-Berfungsi Rawat Jalan : 176765 Layanan Unggulan :

Mesin Anestesi : Ada-Berfungsi Rawat Inap : 209131
SIMRS :
Ada-Berfungsi


Ventilator : Ada-Berfungsi I G D : 31742
Ambulan :
Ada-Berfungsi


Inkubator : Ada-Berfungsi B O R : 94.5 Bank Darah :

Ada-Berfungsi
Blue Light : Ada-Berfungsi A L O S : 4.6

U S G : Ada-Berfungsi T O I : 0.25

X-Ray : Ada-Berfungsi N D R : 31

CT Scan : Ada-Berfungsi G D R : 66

M R I :

E E G : Ada-Berfungsi

E K G : Ada-Berfungsi

Defibrilator : Ada-Berfungsi

Autoclav : Ada-Berfungsi





















SISTEM INFORMASI PELAYANAN PADA RUMAH SAKIT
UMUM DAERAH ABDUL MOELOEK
BANDAR LAMPUNG
I. PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pada saat ini dunia medis memerlukan informasi yang tepat, cepat dan relevan. Untuk
mendapatkan informasi yang diinginkan tentunya harus menggunakan sistem informasi. Sistem
informasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan pelayanan sekaligus penghematan bagi
rumah sakit dan kini telah menjadi salah satu standar mutu sebuah rumah sakit. Informasi yang
berkualitas sangatlah penting dalam proses pengelolaan rumah sakit. Kegiatan yang
menggunakan system informasi pada rumah sakit salah satunya SISTEM INFORMASI
RUMAH SAKIT. Yang menyangkut dari pendaftaran pasien,penggunaan bahan habis pakai
(obat),data farmasi,pendaftaran rawat inap,kasir 24 jam.Mengingat pentingnya sistem
komputerisasi yang canggih dan efisien sangat membantu dan mempercepat dalam penyediaan
informasi dan mampu menampilkan informasi secara lengkap,cepat dan akurat yang berguna
bagi pengguna informasi pada rumah sakit.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk mengadakan proposal pengembangan
system dengan judulSISTEM INFORMASI PELAYANAN PADA RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Pelayanan data pasien yang sudah terkomputerisasi tapi masih belum cukup efektip
penggunaannya oleh pegawai pada rumah sakit terutama pendaftaran pasien dengan
jaminan jamkesmas yang tidak tepat pemiliknya (Sistem Belum Ada)
2. Perlunya Pengawasan terhadap penggunaan kartu jaminan kesehatan pada semua
golongan baik askes ataupun jamkesmas yang termonitoring melalui internet dan
rumah sakit bisa mendapatkan data pengguna kartu jaminan kesehatan baik
jamkesmas maupun askes atau astek secara sah sebagai pengguna yang terdaftar di
lampung (Sistem Belum Ada)
1.3 BATASAN MASALAH
1. Penyediaan laporan pelayanan/data pasien yang datang secara komputerisasi baik yang
sudah keluar ataupun masih dirawat .
2. Pendataan untuk kartu jaminan kesehatan seperti jamkesmas,askes pns,astek, secara
terkomputerisasi dan berdasarkan realtime system.
1.4 TUJUAN
1. Di bangunnya system informasi pelayanan rumah sakit untuk mempermudah
memenegement data pelayanan pasien pada rumah sakit.
2. Mengetahui berapa jumlah penggunaan kartu jaminan kesehatan secara
terkomputerisasi yang online
2.1 PROSEDUR PELAYANAN PASIEN UMUM,ASKES,JAMKESMAS PADA IGD
1. Pasien datang ke IGD dan pasien/keluarganya melakukan pendaftaran
2. Bagian medical record (MR) melakukan input data social pasien. Lalu bagian MR
mencetak dan memberikan joblist pasien serta nomer mr (no regristrasi) ke pada pasien /
keluarga pasien.
















BERANDA
PROFIL

Warunge mas yanuuu

HOME
BUSINESS
DOWNLOADS
PARENT CATEGORY
ABOUT ME
FACEBOOK
Yanuar Nugroho

Create Your Badge<\center>
Kinerja Rumah Sakit Pemerintah (Aplikasi Balanced
Scorecard)
21.24 Yanuar Nugroho No comments

1. Pendahuluan

Organisasi nirlaba atau organisasi non profit merupakan suatu organisasi yang memiliki misi
pokok untuk mendukung suatu isu publik yang tidak memiliki tujuan komersil atau mencari laba, dan jika
suatu entitas menghasilkan laba, maka jumlahnya tidak dibagikan kepada pihak pemilik entitas tersebut.
Dalam organisasi nirlaba tidak ada kepemilikan seperti pada organisasi bisnis, karena kepemilikannya
tidak dapat dijual, dialihkan, atau ditebus kembali, sehingga kepemilikan tersebut tidak mencerminkan
proporsi pembagian sumber daya entitas pada saat likuiditas.
Rumah sakit sebagai organisasi nirlaba memiliki peran dalam memberikan jasa pelayanan
kesehatan yang profesional dan bermutu serta terjangkau semua lapisan masyarakat, dan memberikan
pelayanan kesehatan dasar dan pelayanan kesehatan lanjutan sesuai kelas rumah sakit dan standar yang
telah ditetapkan. Sehingga, keberadaan rumah sakit merupakan ujung tombak dalam pembangunan
kesehatan masyarakat. Namun, tidak sedikit keluhan selama ini diarahkan pada kualitas kinerja
pelayanan rumah sakit yang dinilai masih rendah. Hal ini dikarenakan masih terbatasnya sumber daya
baik sumber daya finansial maupun sumber daya non finansial.
Dessler dan Gary (1994) menjelaskan bahwa keberhasilan suatu institusi ditentukan oleh dua
faktor utama, yaitu sumber daya manusia atau tenaga kerja dan sarana dan prasarana pendukung atau
fasilitas kerja. Dari kedua faktor utama tersebut sumber daya manusia lebih penting daripada sarana
dan prasarana pendukung. Secanggih dan selengkap apapun fasilitas pendukung yang dimiliki oleh suatu
organisasi, tanpa adanya sumber daya yang memadai baik kualitas maupun kuantitasnya, maka
organisasi tersebut tidak dapat berhasil mewujudkan visi, misi, dan tujuan organisasinya. Kualitas
sumber daya manusia tersebut diukur dari kinerja karyawan (performance) atau produktifitasnya.
Perkembangan pengelolaan rumah sakit, baik dari aspek manajemen maupun operasional
sangat dipengaruhi oleh berbagai tuntutan dari lingkungan, yaitu lingkungan eksternal dan internal
(Hendrawan, 2011). Tuntutan eksternal antara lain adalah dari para stakeholder bahwa rumah sakit
dituntut untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu, dan biaya pelayanan kesehatan
terkendali sehingga akan berujung pada kepuasan pasien. Tuntutan dari pihak internal antara lain
adalah pengendalian biaya. Pengendalian biaya merupakan masalah yang kompleks karena dipengaruhi
oleh berbagai pihak yaitu mekanisme pasar, perilaku ekonomis, sumber daya professional dan yang
tidak kalah penting adalah perkembangan teknologi.
Rumah sakit pemerintah yang terdapat di tingkat pusat dan daerah tidak lepas dari pengaruh
perkembangan tuntutan tersebut. Dipandang dari segmentasi kelompok masyarakat, secara umum
rumah sakit pemerintah merupakan layanan jasa yang menyediakan untuk kalangan menengah ke
bawah, sedangkan rumah sakit swasta melayani masyarakat kelas menengah ke atas. Biaya kesehatan
cenderung terus meningkat, dan rumah sakit dituntut untuk secara mandiri mengatasi masalah
tersebut. Peningkatan biaya kesehatan menyebabkan fenomena tersendiri bagi rumah sakit
pemerintahan karena rumah sakit pemerintah memiliki segmen layanan kesehatan untuk kalangan
menengah ke bawah. Akibatnya rumah sakit pemerintah diharapkan menjadi rumah sakit yang murah
dan bermutu.
Kinerja rumah sakit merupakan faktor penting yang harus diperhatikan untuk menghadapi
tuntutan lingkungan tersebut. Kinerja dalam suatu periode tertentu dapat dijadikan acuan untuk
mengukur tingkat keberhasilan organisasi. Oleh karena itu, sistem kinerja yang sesuai dan cocok untuk
organisasi sangat diperlukan agar suatu organisasi mampu bersaing dan berkembang.
Kinerja organisasi dapat diketahui melalui pengukuran kinerja organisasi. Pengukuran kinerja
adalah suatu proses penilaian kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan
sebelumnya, termasuk informasi atas: efisiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang
dan jasa, kualitas barang dan jasa (seberapa baik barang dan jasa diserahkan kepada pelanggan dan
sampai seberapa jauh pelanggan terpuaskan), hasil kegiatan dibandingkan dengan maksud yang
diinginkan dan efektifitas tindakan dalam mencapai tujuan (Robertson, 2002). Sedangkan Stout (1993)
dalam Bastian (2001), mendefinisikan pengukuran/penilaian kinerja sebagai proses mencatat dan
mengukur pencapaian pelaksanaan kegiatan dalan arah pencapaian misi (mission accomplishment)
melalui hasil-hasil yang ditampilkan berupa produk, jasa, ataupun suatu proses.
Menurut Mardiasmo (2009), diperlukan adanya pengukuran kinerja sektor publik untuk
memenuhi tiga maksud yaitu (1) pengukuran kinerja sektor publik dimaksudkan untuk membantu
memperbaiki kinerja pemerintah. Ukuran kinerja dimaksudkan untuk dapat membantu pemerintah
berfokus pada tujuan dan sasaran program unit kerja. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan efisiensi
dan efektivitas organisasi sektor publik dalam pemberian pelayanan publik; (2) ukuran kinerja sektor
publik digunakan untuk pengalokasian sumber daya dan pembuatan keputusan; serta (3) ukuran kinerja
sektor publik dimaksudkan untuk mewujudkan pertanggungjawaban publik dan memperbaiki
komunikasi kelembagaan. Oleh pihak legislatif, ukuran kinerja digunakan untuk menentukan kelayakan
biaya pelayanan (cost of service) yang dibebankan kepada masyarakat pengguna jasa publik. Masyarakat
tentu tidak mau terus-menerus ditarik pungutan sementara pelayanan yang mereka terima tidak ada
peningkatan kualitas dan kuantitasnya.
Berbagai usaha telah dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pelayanan aparatur
pemerintah kepada masyarakat, namun hasilnya belum optimal. Menurut Gunawan (2010), faktor yang
mempengaruhi rendahnya kualitas pelayanan pemerintah adalah role ambiguity, ketidak tahuan
pegawai negeri sipil mengenai apa yang menjadi harapan pimpinan akan pelayanan yang disediakan dan
bagaimana cara memenuhi harapan tersebut; poor employee job fit, ketidak sesuaian antara
kemampuan yang dimiliki pegawai dengan pekerjaan yang harus dilakukan; poor technology job fit,
terlalu minim peralatan serta teknologi yang dipergunakan akan berakibat pelayanan yang diberikan
tidak dapat sesuai dengan diharapkan; inappropriate supervisory control system, tidak adanya sistem
evaluasi dan penghargaan dalam instansi pemerintah; lack of perceived control, ketidakmampuan
pegawai dalam menyelesaikan permasalahan yang muncul dalam proses pemberian pelayanan yang
disebabkan wewenang yang tidak mereka miliki sehingga mereka juga tidak terlatih untuk mengatasi
permasalahan
yang muncul dengan lebih baik; lack of team work, tidak adanya kerjasama antara pegawai dan
pimpinan organisasi dalam memberikan pelayanan akan berakibat buruk terhadap kinerja yang
dihasilkan. Permasalahan juga bisa diakibatkan kurang adanya dukungan pegawai. Penyebab belum
optimalnya kinerja organisasi pemerintah yang telah disebutkan diatas umumnya terjadi hampir
diberbagai organisasi pemerintah termasuk rumah sakit (Gunawan, 2010).
Pemerintah daerah sebagai pemilik RSUD dan sekaligus manajemen perusahaan, setiap tahun
harus mengevaluasi kinerja dan melakukan analisis yang cermat agar dapat mengetahui keberhasilan
ataupun kegagalan RSUD sehingga dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk memperbaiki
kekurangankekurangan yang ada sekaligus membuat strategi yang dapat meningkatkan keberhasilan di
masa depan atau sering juga disebut dengan kinerja organisasi. Kinerja adalah gambaran mengenai
tingkat pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan/program/kebijakan dalam mewujudkan sasaran, tujuan,
misi, dan visi organisasi yang tertuang dalam strategic planning suatu organisasi (Mahsun, 2007). Kata
kinerja sering dipakai sebagai indikator keberhasilan. Kinerja dapat dinilai seandainya organisasi
mempunyai kriteria keberhasilan yang telah dirumuskan. Kriteria keberhasilan berupa pernyataan visi
dan misi organisasi yang dijabarkan kedalam tujuan, sasaran, dan program yang diharapkan akan dicapai
secara ekonomis, efisien, dan efektif. Tanpa adanya visi dan misi, kinerja organisasi tidak akan dapat
diketahui karena tidak ada tolok ukurnya.
Penelitian Ferdinand (1997) dalam Prasetyono dan Nurul (2007), ditemukan bahwa terdapat tiga
kriteria keberhasilan RSU yang dapat digunakan sebagai tolok ukur, (1) mampu tetap bertahan (survival),
yaitu kemampuan organisasi untuk mencari alternatif untuk mempelopori bentuk pelayanan kesehatan
yang profesional; (2) pertumbuhan (growth), yaitu kemampuan organisasi untuk mengembangkan
usahanya bertahan dalam persaingan dan peningkatan mutu pelayanan; (3) keuntungan (profitability),
yaitu kemampuan usaha organisasi untuk mendukung peningkatan kesejahteraan para karyawan.
Menurut Atkinson, dkk (1995), sistem penilaian kinerja sebaiknya mengandung indikator
kinerja yaitu (1) memperhatikan setiap aktivitas organisasi dan menekankan pada perspektif
pelanggan, (2) menilai setiap aktivitas dengan menggunakan alat ukur kinerja yang mengesahkan
pelanggan, (3) memperhatikan semua aspek aktivitas kinerja secara komprehensif yang
mempengaruhi pelanggan, dan (4) menyediakan informasi berupa umpan balik untuk membantu
anggota organisasi mengenai permasalahan dan peluang untuk melakukan perbaikan.
Dari deskripsi di atas, penilaian kinerja pada rumah sakit sebagai organisasi nirlaba tidak
hanya berfokus pada pencapaian internal organisasi saja, namun juga mencakup berbagai aspek
penting yang perlu banyak mendapat perhatian bagi setiap stakeholder rumah sakit. Tujuan dari
paper ini adalah untuk mereview beberapa penelitian tentang studi kinerja rumah sakit sebagai
organisasi nirlaba di Indonesia.



2. Pembahasan
Pengukuran kinerja merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi sebuah
perusahaan. Pengukuran tersebut, dapat digunakan untuk menilai keberhasilan
perusahaan. Selama ini pengukuran kinerja secara tradisional hanya menitikberatkan pada
sisi keuangan. Manajer yang berhasil mencapai tingkat keuntungan yang tinggi akan dinilai
berhasil dan memperoleh imbalan yang baik dari perusahaan.
Untuk mengukur kinerja organisasi, maka diperlukan suatu sistem berbasis kinerja. Sistem
pengukuran kinerja yang baik diperlukan sebagai instrumen dalam mengukur kinerja yang handal
dan berkualitas. Pengukuran kinerja yang menitikberatkan pada sektor keuangan saja
kurang mampu mengukur kinerja harta-harta tidak berwujud (intangible assets) dan harta-
harta intelektual (sumber daya manusia) perusahaan. Selain itu pengukuran kinerja dengan cara
ini juga kurang mampu bercerita banyak mengenai masa lalu perusahaan, kurang memperhatikan
sektor eksternal, serta tidak mampu sepenuhnya menuntun perusahaan ke arah yang lebih baik
(Gunawan, 2010).
Hal ini mendorong Kaplan dan Norton (2000) untuk merancang suatu sistem pengukuran
kinerja yang lebih komprehensif yang disebut denganBalanced Scorecard. Konsep Balanced
Scorecard merupakan salah satu metode pengukuran kinerja yang berusaha untuk
menyeimbangkan pengukuran aspek keuangan dengan aspek non keuangan dengan memasukkan
empat aspek/perspektif di dalamnya yaitu perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif
proses bisnis internal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan.
Saat ini banyak rumah sakit telah mengadopsi sistem kinerja yang multidimensional untuk
mendukung dalam pencapaian tujuan dan misinya (Zelman dkk., 2003). Beberapa peneliti dari
Michigan University telah mampu menentukan validitas, reliabilitas, dan sensitivitas dari metode
Balanced Scorecard yang berorientasi pada pembandingan indikator yang digunakan rumah sakit
untuk mengukur kinerjanya dibandingkan dengan kinerja para kompetitornya (Griffith dkk., 2002).
Konseptual Balanced Scorecard tidak hanya mencakup indikator kinerja rumah sakit tetapi
juga untuk membantu dalam membandingkan kinerja rumah sakit. Sehingga metode BSC akan
bermanfaat untuk mengidentifikasi kesempatan dalam peningkatan kinerja akibat dari adanya hasil
pengukuran kinerja yang nilainya masih rendah (Chen dkk., 2006).
Menurut Pramadhany (2011), pada awalnya Balanced Scorecarddirancang untuk
digunakan pada organisasi yang bersifat mencari laba, namun kemudian berkembang dan
diterapkan pada organisasi nirlaba. Terdapat perbedaan yang signifikan terhadap
penggunaan pada organisasi laba dengan organisasi nirlaba, diantaranya: pada organisasi
laba perspektif finansial adalah tujuan utama dari perspektif yang ada, sedangkan pada
organisasi nirlaba perspektif konsumen merupakan tujuan utama dari perspektif yang ada.
Perspektif finansial dalam organisasi laba adalah berupa finansial atau keuntungan,
sedangkan dalam organisasi nirlaba perspektif finansial adalah pertanggungjawaban
keuangan mengenai penggunaan sumber daya yang efektif dan efisien dalam rangka
memenuhi kebutuhan masyarakat.
Berdasarkan penjelasan tentang pentingnya peran metode Balanced Scorecard dalam
mengukur kinerja organisasi, maka beberapa peneliti menggunakan metode tersebut untuk menilai
kinerja rumah sakit sebagai organisasi nirlaba. Maskur (2004) mengukur kinerja Rumah Sakit Dr.
Kariadi Semarang dengan pendekatan Balanced Scorecard dengan hasil masing-masing pada
perspektif keuangan menunjukkan kinerja belum mencapai maksimal, perspektif konsumen
menunjukkan kinerja belum mencapai maksimal, perspektif proses bisnis internal menunjukkan
kinerja jauh dari skor maksimal, dan perspektif pembelajaran dan pertumbuhan menunjukkan kinerja
belum mencapai maksimal. Namun, secara keseluruhan Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang
termasuk dalam kategori bagus walaupun kinerja masing-masing perspektif belum maskimal yaitu
mencapai skor 71,3 dari skala hingga 100.
Berdasarkan hasil analisis deskriptif dari penelitian Maskur (2004), indikator kepuasan
konsumen atau pasien atas pelayanan untuk mendapatkan pemeriksaan di Rumah Sakit Dr. Kariadi
merasa tidak puas atas suasana ketenangan rumah sakit dan waktu tunggu. Sedangkan pada
indikator kepuasan karyawan selama bekerja di Rumah Sakit Dr. Kariadi karyawan merasa tidak
puas atas indikator motivasi. Sehingga diperlukan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh
manajemen Rumah Sakit Dr. Kariadi untuk memperbaiki indikator ketenangan rumah sakit serta
waktu tunggu untuk mendapatkan pemeriksaan dari perpektif konsumen dan perlunya perbaikan
terhadap motivasi karyawan oleh manajemen rumah sakit. Hal ini dikarenakan dengan peningkatan
motivasi kerja karyawan maka akan meningkatkan kinerja atau produktivitas karyawan dalam
melaksanakan tugasnya di Rumah Sakit Dr. Kariadi.
Nany dkk. (2008) juga menerapkan metode Balanced Scorecardsebagai pengukur kinerja
manajemen pada rumah sakit umum daerah (RSUD) Indramayu. Hasil pengukuran kinerja
manajemen RSUD Indramayu menunjukkan bahwa pada perspektif keuangan menunjukkan bahwa
ROI yang digunakan sebagai tolok ukur variabel perspektif keuangan cenderung meningkat, namun
pertumbuhan pendapatan cenderung menurun. Penurunan pendapatan yang tidak dengan segera
ditangani pada akhirnya akan menurunkan jumlah laba bersih dan ROI. Hasil pengukuran perspektif
pelanggan menunjukkan bahwa retensi pasien cenderung menurun dan akuisisi pasien cenderung
meningkat, namun para pasien merasa belum puas terhadap pelayanan yang diberikan oleh RSUD
Indramayu. Apabila ketidakpuasan para pasien ini tidak dengan segera ditangani, pada akhirnya
jumlah pasien yang berobat, jumlah pendapatan, jumlah laba bersih dan ROI akan menurun. Hasil
pengukuran perspektif proses bisnis intern menunjukkan bahwa produktivas dan profit
margin cenderung meningkat. Peningkatan produktivitas dan profit margin pada akhirnya akan
meningkatkan kinerja keuangan rumah sakit. Hasil pengukuran perspektif pertumbuhan dan
pembelajaran menunjukkan bahwa produktivitas karyawan cenderung meningkat, namun retensi
karyawan cenderung meningkat pula serta para karyawan merasa belum puas selama bekerja di
RSUD Indramayu. Apabila ketidakpuasan para karyawan ini tidak dengan segera ditangani, pada
akhirnya jumlah karyawan yang keluar akan meningkat, produktivitas karyawan, kinerja rumah sakit,
jumlah pasien, jumlah laba bersih dan ROI akan menurun.
Nany dkk (2008) menyimpulkan dari hasil pengukuran kinerja RSUD Indramayu
dengan Balanced Scorecard menunjukkan bahwa kinerja manajemen cenderung meningkat, yang
terlihat dari peningkatan ROI, penurunan retensi pasien, peningkatan akuisisi pasien, peningkatan
produktivitas, peningkatan profit margin serta peningkatan produktivitas karyawan. Hasil pengukuran
kinerja manajemen dengan Balanced Scorecardjuga menunjukkan bahwa terdapat beberapa
indikator yang apabila tidak segera ditangani secara serius dapat menjadi ancaman yang serius bagi
kinerja manajemen. Indikator-indikator tersebut antara lain adalah penurunan pertumbuhan
pendapatan, para pasien belum puas terhadap pelayanan yang diberikan rumah sakit, peningkatan
retensi karyawan serta para karyawan belum puas selama bekerja di rumah sakit. Kinerja keuangan
yang buruk seringkali merupakan akibat dari kinerja non keuangan yang buruk. Kinerja non
keuangan yang buruk seringkali merupakan tanda-tanda awal memburuknya kinerja keuangan.
Pramadhany (2011) menerapkan metode Balanced Scorecard sebagai tolok ukur penilaian
kinerja Rumah Sakit Bhayangkara Semarang sebagai organisasi nirlaba karena merupakan rumah
sakit milik Polda Jawa Tengah. Untuk penerapan variabel perspektif keuangan, Pramadhany (2011)
menggunakan instrumen value for money yang terdiri dari rasio ekonomis, rasio efektivitas, dan
rasio efisiensi. Pada variabel perspektif pelanggan, digunakan pengukuran akuisisi pelanggan,
retensi pelanggan, dan tingkat kepuasan pelanggan. Perspektif proses bisnis internal, meliputi
proses inovasi dan kualitas pelayanan. Untuk tingkat pelayanan diukur dengan menggunakan
standar kinerja pelayanan rumah sakit yaitu Bed Occupancy Rate (BOR), Bed Turn
Over (BTO), Turn Over Interval (TOI), Average Leangth of Stay (ALOS),Gross Death Rate (GDR),
dan net Death Rate (NDR). Pada variabel perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, digunakan
tolok ukur retensi karyawan, dan pelatihan karyawan.
Penelitian pada Rumah Sakit Bhayangkan Semarang dilakukan dengan membandingkan
antara kinerja internal rumah sakit dengan kinerja menurutBalanced Scorecard dari tahun 2008-
2010. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan nilai rata-rata untuk masing-masing perspektif yaitu
keuangan, pelanggan, bisnis internal serta pembelajaran dan pertumbuhan adalah cukup baik.
Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kinerja Rumah Sakit Bhayangkara Semarang termasuk
dalam kriteria cukup baik.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Woro Wijayanti (2010), dalam penelitiannya
Pengukuran Kinerja Dengan Menggunakan Balanced ScorecardSebagai Alternatif (Studi Pada
RSJD Dr Amino Gondohutomo Semarang) Menyebutkan bahwa dalam perspektif keuangan, tingkat
rasio ekonomi dalam 3 tahun terakhir cukup baik karena terdapat selisih antara anggaran belanja
yang ditetapkan PEMDA terhadap realisasi anggarannya. Dalam perspektif konsumen, terdapat
penurunan pada tingkat kepuasan konsumen yaitu ALOS(Average Length of Stay) tahun 2006
sebesar 23,08 hari menurun menjadi 21 hari di tahun 2007. Penurunan juga terjadi pada tingkat
profitabilitas konsumen di tahun 2007. Dalam perspektif proses bisnis internal, kunjungan rawat
jalan di tahun 2007 meningkat. Tingkat kunjungan rawat inap yang diukur dari tingkat BOR (Bed
Occupancy Rate) , TOI (Turn Over Internal), BTO (Bed Turn Over Rate), GDR (Gross Death rate),
dan NDR (Net Death Rate) dinilai baik. Dalam perspektif pembelajaran dan pertumbuhan yang
diukur melalui tingkat produktifitas mengalami peningkatan, retensi karyawan yang turun, dan tingkat
kepuasan karyawan yang belum cukup.
Prasetyono dan Nurul (2007) menganalisa kinerja rumah sakit daerah di Jawa Timur dengan
pendekatan Balanced Scorecard berdasarkan komitmen organisasi, pengendalian intern dan
penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance (GCG). Hasil penelitian ini mengindikasikan
bahwa kinerja rumah sakit daerah di Jawa Timur berdasarkan balanced scorecarddapat optimal
apabila didukung oleh komitmen organisasi baik dari individu, karyawan, maupun manajer dalam
rumah sakit daerah dan pengendalian internal yang baik. Dengan adanya pengendalian internal
yang baik maka akan dapat direalisasikan good corporate governance. Disamping itu, secara teoritis
dikatakan bahwa komitmen mempengaruhi perilaku seseorang dalam mendorong efektivitas
organisasi.
Bharata (2011) menerapkan Balanced Scorecard dalam mengukur kinerja Rumah Sakit
Umum Daerah Wonosari tahun 2008-2010. Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari tahun
2008-2010 diukur dari perspektif pelanggan sudah baik. Perspektif pelanggan
dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan lima indikator yaitu: kepuasan
pelanggan, customer retention, customer acquistion, rata-rata pasien rawat jalan dan darurat, dan
rata-rata pasien rawat inap. Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari tahun 2008-2010 diukur
dari perspektif finansial sudah baik. Perspektif finansial dalam penelitian ini diukur dengan
menggunakan sepuluh indikator rasio keuangan yaitu: return on asset, return on equity, rasio
lancar, rasio efisiensi, rasio perputaran aset, rasio perputaran aset tetap, rata-rata umur piutang,
rasio belanja terhadap pendapatan, rasio ekuitas terhadap aset, dan rasio kewajiban terhadap aset.
Hal ini dapat dilihat dari ROA dan ROE yang mempunyai nilai negatif dan berfluktuatif karena
RSUD Wonosari pada tahun 2010 sedang membangun poliklinik terpadu dan ruang
perawatan. KinerjaRumah Sakit Umum Daerah Wonosari tahun 2008-2010 diukur dari perspektif
proses bisnis internal sudah baik. Perspektif proses bisnis internal
dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan lima indikator yaitu: kualitas pelayanan, BTO,
BOR, TOI, AvLos. Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah Wonosari tahun 2008-2010 diukur dari
perspektif pertumbuhan dan pembelajaran sudah baik. Perspektif pertumbuhan dan perkembangan
dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan lima indikator yaitu: kepuasan pegawai, pelatihan
dan pengembangan pegawai, komitmen pegawai, motivasi kerja pegawai, disiplin pegawai.
Penelitian yang dilakukan Putu Wirasata (2010) menguji metodeBalanced Scorecard pada
RSUD Tg. Uban. Pada variabel keuangan, digunakan tolok ukur neraca, laporan realisasi anggaran,
laporan arus kas, dan analisis rasio keuangan untuk mengukur indikator kinerja keuangan rumah
sakit berdasarkan pengukuran value for money. Dari hasil pengukuran tolok ukur tersebut
menunjukkan hasil kinerja perspektif keuangan yang cukup baik dengan nilai rata-rata sebesar 3,80
dari kesimpulan kinerja keuangan yang sangat efektif (nilai 5), cukup ekonomis (nilai 3), sangat tidak
efisien (nilai 1), sangat likuid (nilai 5), dan sangat solven (nilai 5). Untuk perspektif kepuasan
pelanggan digunakan tolok ukur aspek wujud fisik, keandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati.
Berdasarkan pengukuran tiap aspek tolok ukur tersebut tingkat kepuasan pelanggan secara
keseluruhan dikategorikan cukup baik untuk RSUD Tg. Uban. Perspektif bisnis internal, digunakan
tolok ukur aspek sarana dan prasarana rumah sakit, proses, dan kepuasan bekerja. Berdasarkan
penilaian terhadap masing-masing aspek tersebut, sebagian besar responden menyatakan cukup
puas atas upaya pegawai rumah sakit dalam mendukung tujuan manajemen. Pada variabel
perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, peneliti menggunakan aspek motivasi (reward and
punishment), kesempatan mengembangkan diri, inovasi, dan suasana dalam bekerja. Hasilnya
menunjukkan bahwa secara umum pegawai rumah sakit menyatakan setuju atas kebijakan
manajemen dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia yang berguna untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan yang optimal pada masyarakat. Sehingga pengukuran
variabel pertumbuhan dan pembelajaran pada RSUD Tg. Uban dikategorikan baik. Dari keseluruhan
aspek Balanced Scorecard menunjukkan nilai kinerja tertinggi terletak pada perspektif pertumbuhan
dan pembelajaran, dan nilai kinerja terendah pada perspektif kepuasan pelanggan. Sedangkan
secara keseluruhan nilai capai akhir kinerja RSUD Tg. Uban termasuk dalam kategori cukup baik.
Sudarti (2011) mengukur kinerja RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung dengan
metode Balanced Scorecard. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek belum mampu menghasilkan surplus yang stabil karena rumah sakit ini merupakan badan
layanan umum yang tidak berorientasi pada profit. Pelanggan puas atas pelayanan yang diberikan
oleh rumah sakit. Kinerja proses bisnis internal secara umum dapat dikatakan baik. Retensi pegawai
rendah, namun kurang didukung oleh kondisi kerja yang memuaskan dan rendahnya produktivitas.
Penelitian Rasmini dkk. (2009) menilai kinerja Badan Rumah Sakit Umum Tabanan
berdasarkan Balanced Scorecard. Badan Rumah Sakit Umum Tabanan merupakan lembaga
teknis daerah dengan sistem Badan Layanan Umum (BLUD). Sebagai rumah sakit
pemerintah yang dikelola secara sosioekonomis, maka misi sosial menjadi prioritas utama.
Namun, dalam pengelolaannya tidak meninggalkan prinsip-prinsip bisnis dalam
mengembangkan produk layanan. Penilaian kinerja perspektif keuangan dalam penelitian
ini menggunakan pengukuran Value For Money, yaitu mengukur tingkat ekonomi, tingkat
efisiensi, dan tingkat efektivitas BRSU Tabanan. Data yang digunakan dalam
pengukuran Value For Money adalah anggaran pendapatan, realisasi pendapatan,
anggaran belanja, realisasi belanja pada BRSU Tabanan tahun 2004 sampai dengan 2008.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keuangan BRSU Tabanan dari tahun 2004
sampai dengan 2007 sudah ekonomis, sedangkan tahun 2008 tidak ekonomis. Kondisi
tersebut terjadi karena realisasi belanja lebih besar dibandingkan dengan anggaran
belanja, khususnya pada belanja pegawai pada belanja tidak langsung dan belanja barang
dan jasa pada belanja langsung. Ekonomis berkaitan dengan meminimalkan biaya untuk
memperoleh sumber daya pada tingkat kualitas tertentu (spending less). Untuk tingkat
efisiensi, keuangan BRSU Tabanan belum efisien. Hal itu disebabkan oleh realisasi belanja
lebih besar dari pada realisasi pendapatan. Kegiatan operasional dikatakan belum efisien
karena hasil (output) tertentu belum dapat dicapai dengan penggunaan sumber daya dan
dana yang serendah-rendahnya (spending well). Sebaliknya, tingkat efektivitas keuangan
BRSU Tabanan tahun 2004 sampai dengan 2008 sudah efektif. Efektivitas merupakan
hubungan antara keluaran dengan tujuan atau sasaran yang harus dicapai. Kegiatan
operasional efektif apabila proses kegiatan mencapai tujuan dan sasaran akhir kebijakan
(spending wisely).
Dalam mengukur variabel kepuasan pelanggan, didapatkan nilai nyata rata-rata
kepuasan pelanggan untuk dimensi bukti langsung dengan predikat puas, keandalan
dengan predikat puas, daya tanggap dengan predikat sangat puas, jaminan dengan
predikat puas, dan empati dengan predikat puas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
pelayanan BRSU Tabanan dapat memenuhi harapan pasien dan memuaskan mereka
karena terpenuhinya kepentingan (importance) dengan kenyataan yang dirasakan
(performance). Kualitas pelayanan harus mengacu pada pandangan pelanggan, bukan
pada pihak penyedia jasa. Pelanggan layak menentukan pelayanan itu berkualitas atau
tidak. Kinerja BRSU Tabanan dari perspektif pelanggan adalah baik.
Pada penilaian kinerja dari perspektif proses bisnis internal pada BRSU Tabanan
menunjukkan terjadinya penambahan infrastruktur untuk mendukung operasional BRSU
Tabanan sehingga terjadi peningkatan mutu proses atau mutu layanan. Dengan demikian
kinerja BRSU Tabanan dari perspektif proses bisnis internal adalah baik. Selain itu, hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa angka kematian umum (GDR) pada BRSU Tabanan
tahun 2004 sampai dengan 2008 adalah di bawah 45 persen per tahun. Data tersebut
menunjukkan bahwa kualitas pelayanan BRSU Tabanan dari perspektif proses bisnis
internal adalah baik. Sesuai dengan standar Departemen Kesehatan RI bahwa
angka Gross Death Rate (GDR) maksimal 45 persen per 1.000 pasien per tahun kualitas
pelayanan dinilai baik.
Penilaian kinerja dari perspektif pembelajaran dan pertumbuhan, pada tahun 2005
mengalami penurunan produktivitas karyawan BRSU Tabanan sebesar 24,36% dari tahun
2004. Pada tahun 2006 kembali mengalami penurunan dari tahun 2005 terjadi penurunan
produktivitas 15,78% dan pada tahun 2007 produktivitas karyawan menurun 10,68%.
Sebaliknya, pada tahun 2008 terjadi peningkatan produktivitas yang sangat tinggi, untuk
aspek kepuasan karyawan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan menunjukkan
nilai nyata rata-rata untuk kelima unsur dimensi, yaitu kerja secara mental, ganjaran,
kondisi kerja, rekan kerja, dan kesesuaian dengan kepribadian menunjukkan predikat puas.
Ini berarti bahwa para karyawan puas terhadap pekerjaan yang mereka lakukan di BRSU
Tabanan.
Sedangkan dalam menanggapi fenomena otonomi daerah tentang pentingnya
rumah sakit pemerintah menjadi badan layanan umum (BLU), Mustafa dkk (2009)
melakukan penelitian model pengukuran kinerja rumah sakit swasta dan pemerintah dalam
era otonomi daerah. Studi ini dilakukan pada rumah sakit tipe C/kelas III di kabupaten
Banyumas yaitu dengan objek penelitian RS Islam Purwokerto sebagai rumah sakit swasta
dan RSUD Ajibarang sebagai rumah sakit pemerintah yang telah menjadi BLUD. Penelitian
ini bertujuan untuk menguji perbedaan pengukuran Balanced Scorecard pada kedua rumah
sakit tersebut sebagai pembanding apakah rumah sakit pemerintah yang menjadi BLUD
sudah mampu bersaing dengan rumah sakit swasta dengan tipe rumah sakit yang sama.
Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan perspektif keuangan pada rumah
sakit pemerintah (RSUD Ajibarang) dan rumah sakit swasta (RS Islam Purwokerto). Kedua
kelompok menunjukkan hasil kinerja keuangan rumah sakit swasta lebih baik daripada
rumah sakit pemerintah (RSS > RSP) dengan perbedaan rata-rata sebesar 2,957. Pada
perspektif pembelajaran dan pertumbuhan kinerja rumah sakit swasta masih lebih baik dari
rumah sakit pemerintah (RSS > RSP) dengan perbedaan rata-rata 3,649. Terdapat
perbedaan kinerja pada perspektif pelanggan (pasien) pada rumah sakit swasta lebih baik
daripada rumah sakit pemerintah (RSS > RSP) dengan perbedaan rata-rata 1,791. Pada
perspektif kinerja pelayanan dan administrasi rumah sakit swasta juga lebih baik daripada
rumah sakit pemerintah (RSS > RSP) dengan perbedaan rata-rata 2,287.
Dari hasil tersebut dapat diasumsikan bahwa untuk perspektif kinerja proses
pelayanan terhadap pelanggan rumah sakit pemerintah (RSUD Ajibarang) sudah mampu
bersaing dengan RSS (RS Islam Purwokerto) karena tingkat nilai rata-rata perbedaan yang
tidak terlalu jauh dibandingkan dengan nilai pada perspektif yang lain. Akan tetapi, kinerja
RSP perlu ditingkatkan agar lebih bersaing dengan RSS dengan mengoptimalkan
kemampuan sumber daya manusia yang ada.
Mustafa dan Anton (2009), menggunakan Balanced Scorecard untuk menilai kinerja
dan perbandingannya dari delapan rumah sakit yang dijadikan objek penelitian. Delapan
rumah sakit tersebut dikelompokan berdasarkan tipe/kelasnya yaitu RS Cilacap, RS
Banyumas, dan RS Purworejo sebagai rumah sakit tipe B; dan RS Purbalingga, RS
Ajibarang, RS Kebumen, RS Majenang, dan RS Banjarnegara sebagai rumah sakit tipe C.
Pada rumah sakit tipe B, dari hasil penelitian tersebut menunjukkan RSUD
Banyumas kinerja pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran lebih baik dibandingkan
dengan RSUD Purworejo dan RSUD Cilacap (Banyumas > Purworejo > Cilacap). Terdapat
perbedaan dalam perspektif keuangan pada RS Cilacap, Banyumas, dan Purworejo. Untuk
perspektif kinerja keuangan RSUD Purworejo lebih baik dibandingkan RSUD Banyumas
dan RSUD Cilacap (Purworejo > Banyumas > Cilacap). Terdapat perbedaan perspektif
pelanggan pada RS Cilacap, Banyumas, dan Purworejo. Menunjukkan kinerja RSUD
Cilacap dari perspektif pelanggan lebih baik dibandingkan dengan RSUD Purworejo dan
RSUD Banyumas (Cilacap > Purworejo > Banyumas). Pada perspektif pelayanan dan
administrasi pada RS Cilacap, Banyumas, dan Purworejo menunjukkan RSUD Cilacap
memiliki kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan RSUD Banyumas dan RSUD
Purworejo (Cilacap > Banyumas > Purworejo).
Pada rumah sakit tipe C, dari hasil penelitian tersebut menunjukkan RSUD
Purbalingga kinerja pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran lebih baik
dibandingkan dengan RSUD Majenang, RSUD Ajibarang, RSUD Kebumen, dan RSUD
Banjarnegara (Purbalingga > Majenang > Ajibarang > Kebumen > Banjarnegara). Untuk
perspektif kinerja keuangan RSUD Majenang lebih baik dibandingkan RSUD Purbalingga,
RSUD Ajibarang, RSUD Kebumen dan RSUD Banjarnegara (Majenang > Purbalingga >
Ajibarang > Kebumen > Banjarnegara). Pada pengukuran kinerja perspektif pelanggan
menunjukkan kinerja RSUD Ajibarang dari perspektif pelanggan lebih baik dibandingkan
dengan RSUD Kebumen, RSUD Purbalingga, RSUD Majenang, dan RSUD Banjarnegara
(Ajibarang > Kebumen > Purbalinggan > Majenang > Banjarnegara). Pada perspektif
pelayanan dan administrasi menunjukkan RSUD Ajibarang memiliki kinerja yang lebih baik
dibandingkan dengan RSUD Purbalingga, RSUD Kebumen, RSUD Majenang dan RSUD
Banjarnegara (Ajibarang > Purbalingga > Kebumen > Majenang > Banjarnegara).

3. Kesimpulan
Rumah sakit pemerintah sebagai organisasi nirlaba telah mengalami dinamisasi perubahan
seiring banyaknya tuntutan dari lingkungan eskternal dan internal. Rumah sakit pemerintah yang
terdapat di tingkat pusat maupun daerah tidak lepas dari pengaruh perkembangan tuntutan tersebut
yang menilai rumah sakit untuk mencapai kinerja yang lebih baik.
Rumah sakit pemerintah perlu diukur kinerjanya karena pengukuran kinerja dapat digunakan
untuk menilai keberhasilan suatu organisasi serta untuk melakukan penyusunan strategi-strategi yang
sesuai. Beberapa peneliti mencoba menilai kelayakan kinerja rumah sakit di Indonesia dengan
menggunakan metodeBalanced Scorecard. Tujuannya adalah agar dapat diketahui dengan pasti apakah
pencapaian kinerja yang tidak sesuai disebabkan oleh faktor input yang kurang mendukung atau
kegagalan pihak manajamen. Penggunaan metode ini dianggap cukup handal karena selain mampu
mengukur aspek internal organisasi juga dapat mengukur aspek hubungan dengan pihak eksternal, serta
dapat menilai kinerja yang ekonomis, efisiensi, dan efektif dari sumber data laporan keuangan rumah
sakit.
Dari hasil penelitian mengindikasikan hasil penilaian kinerja rumah sakit yang bervariasi pada
tiap rumah sakit di Indonesia yaitu masih adanya hasil kinerja yang belum maksimal, sehingga rumah
sakit sebagai organisasi milik pemerintah dinilai kinerjanya kurang baik dari hasil pengukuran masing-
masing perspektif tersebut. Secara umum, pada perspektif keuangan kinerja rumah sakit dapat diukur
dari neraca, laporan realisasi anggaran, laporan arus kas, dan analisis rasio keuangan sebagai tolok ukur
sesuai indikator value for money dalam menguji hasil kinerja keuangan yang ekonomis, efisien, dan
efektif. Untuk perspektif kinerja kepuasan pelanggan digunakan tolok ukur aspek wujud fisik, keandalan,
daya tanggap, jaminan, dan empati terhadap pelanggan (pasien rumah sakit). Untuk kinerja perspektif
bisnis internal, digunakan aspek sarana dan prasarana rumah sakit, proses, dan kepuasan bekerja. Pada
variabel perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, peneliti menggunakan aspek motivasi (reward and
punishment), kesempatan mengembangkan diri, inovasi, dan suasana dalam bekerja.
Berdasarkan hasil dari pengukuran kinerja rumah sakit yang masih memerlukan perhatian dan
aspek perbaikan, rumah sakit pemerintah tampaknya harus didukung oleh birokrasi yang responsif
untuk segera melakukan kebijakan perbaikan dalam mengantisipasi perubahan di lapangan untuk
meningkatkan kinerja internal rumah sakit. Sehingga rumah sakit sebagai organisasi publik dapat
memberikan kepuasan kepada pasiennya; lebih efisien, ekonomis, dan efektif dalam mengelola
keuangan rumah sakit; memiliki proses bisnis internal yang baik untuk mencapai kepuasan dalam
bekerja; serta pegawai rumah sakit berkesempatan dan berani dalam mengembangkan diri, berinovasi,
dan menciptakan budaya organisasi yang baik.




Daftar Pustaka

Atkinson, Anthony A, dkk. 1995. Management Accounting. Second Edition. Prentice Hill. Richard D Irwin, Inc.
Pillipines.

Bastian, Indra. 2001. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Edisi Pertama. Yogyakarta: BPFE.

Bharata, Risma W. 2011. Penerapan Balance Scorecard dalam Mengukur Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah
Wonosari Tahun 2008-2010,Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Chen, Xiao Yun., dkk. (2006), Using the Balanced Scorecard to Measure Chinese and Japanase Hospital
Performance, International Journal of Health Care Quality Assurance, Vol. 19 No. 4. Pp. 339-350.

Dessler, Gary. 1994. Human Resources Management. 6
th
Edition. Pearson. Upper Saddle River. New Jersey

Griffith, J.R., Alexander, J.A. dan Jelinek, R.C. (2002), Measuring comparative hospital performance, Journal of
Healthcare Management, Vol. 47 No. 1, pp. 41-57.

Gunawan, Indri. 2010. Pengaruh Komitmen Organisasi, Budaya Organisasi dan Pengendalian Intern terhadap
Penerepan Good Corporate Governance(GCG) serta Dampaknya pada Kinerja Rumah Sakit, Skripsi,
Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman.

Hendrawan, Ronny. 2011. Analisis Penerapan PSAK No. 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba
pada Rumah Sakit Berstatus Badan Layanan Umum, Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Mahsun, Mohamad. 2007. Akuntansi Sektor Publik. Edisi Kedua. Yogyakarta: BPFE.

Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: C.V Andi Offset.

Pramadhany, W.E.Y. 2011. Penerapan Metode Balanced Scorecard sebagai Tolok Ukur Penilaian Kinerja pada
Organisasi Nirlaba, Skripsi, Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.

Prasetyono, Nurul Kompyurini. 2007. Analisis Kinerja Rumah Sakit Daerah dengan Pendekatan Balanced
Scorecard berdasarkan Komitmen Organisasi, Pengendalian Intern, dan Penerapan Prinsip-prinsip Good
Corporate Governance. Simposium Nasional Akuntansi X Makasar.

Rasmini, Ni Luh Supadmi, Ni Luh Putu H.C. 2009. Penilaian Kinerja Badan Rumah Sakit Umum
Tabanan, Ejournal, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana.

Robertson, Gordon. (2002). Review Kinerja, Lokakarya Review Kinerja: BPKP dan Excecutive Education.

Maskur. 2004. Pengukuran Kinerja dengan Pendekatan Balanced Scorecard,Tesis, Program Studi Magister
Manajemen Universitas Diponegoro.

Mustafa, Anton B.D. 2009. Model Pengukuran Kinerja Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dalam Era Otonomi
Daerah (Studi pada 6 Kabupaten Eks-Karesidenan Banyumas dan Sekitarnya, Hibah Kompetitif
Penelitian Sesuai Prioritas Nasional, Universitas Jenderal Soedirman.

Mustafa, Icuk R.B. dan Yanuar Nugroho, 2009. Model Pengukuran Kinerja Rumah Sakit Swasta dan Pemerintah
dalam Era Otonomi Daerah,Penelitian DIPA, Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman.

Nany, Lyna R., Kartika W.H. 2008. Penerapan Balanced Scorecard sebagai Pengukur Kinerja Manajemen pada
Rumah Sakit Umum Daerah Indramayu, Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, Vol. 4 No 1, Hal. 48-58.

Wirasata, Putu. 2010. Analisis Pengukuran Kinerja RSUD Tg. Uban Provinsi Kepulauan Riau dengan Metode
Balanced Scorecard, Tesis, Program Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Universitas Indonesia.

Zelman, W.N., Pink, G.H. dan Mathias, C.B. (2003), Use of the balance scorecard in health care, Journal of
Health Care Finance, Vol. 29 No. 4, pp. 1-16.
Posted in:













II. Metodologi

SMS Gateway adalah suatu platform yang menyediakan mekanisme untuk

menghantar dan menerima SMS dari peralatan mobile (HP, PDA phone, dan lain-lain) yang

menggunakan keyword tertentu. SMS Gateway adalah komunikasi SMS dua arah. SMS

Gateway merupakan salah satu perkembangan fungsi yang dimiliki SMS.

Pada awalnya, SMS Gateway dibutuhkan untuk menjembatani antar SMSC. Hal ini

dikarenakan SMSC yang dibangun oleh perusahaan yang berbeda memiliki protokol

komunikasi sendiri, dan protokol tersebut bersifat pribadi. SMS Gateway ini kemudian

ditampatkan di antara kedua SMSC yang berbeda protokol tersebut, yang akan

menerjemahkan data dari protokol SMSC satu ke protokol SMSC lainnya yang dituju.

Gambar 1 menunjukkan ilustrasi SMS Gateway:

Gambar 1 Ilustrasi SMS Gateway



Namun seiring perkembangan teknologi komputer dan perkembangan teknologi

komunikasi, SMS Gateway tidak lagi dimaksudkan sebagaimana yang tampak pada gambar

1.Dewasa ini, masyarakat lebih mengartikan SMS Gateway sebagai suatu jembatan

komunikasi yang menghubungkan perangkat komunikasi (dalam hal ini ponsel) dengan

perangkat komputer. Gambar 2 menunjukkan ilustrasi aplikasi SMS Gateway.

Gambar 2 Ilustrasi SMS Gateway



SMS Gateway kemudian lebih mengarah kepada sebuah program yang

mengkomunikasikan sistem operasi komputer dengan perangkat komunikasi yang terpasang

untuk mengirim atau menerima SMS.

Model yang digunakan dalam membangun aplikasi ini adalah Model Waterfall.

Model proses ini sering disebut sebagai Waterfall atau Classic Life Cycle Model. Model

Waterfall ini merupakan model klasik yang bersifat sistematis, berurutan dalam membangun

perangkat lunak. Pada model ini menyarankan pendekatan yang sistematis dan sekuensial

dalam pengembangan perangkat lunak yang dimulai pada level sistem dan bergerak maju

mulai tahap analisis, desain, coding, testing, operation, dan maintenance. Model Waterfall

yang digunakan dalam membuat aplikasi adalah jenis Model Waterfall menurut referensi

Sommerville (Proboyekti, 2008).





Gambar 3 : Model Waterfall Referensi Sommerville

(Sumber : Software Process Model I, Umi Proboyekti)



Rancangan sistem dari Aplikasi Pelayanan Rumah Sakit Berbasis SMS Gateway ini

dapat digambarkan dengan menggunakan Data Flow Diagram (DFD). Hubungan antara

sistem dengan entitas luar pada aplikasi Pelayanan Rumah Sakit Berbasis SMS Gateway ini

dapat digambarkan dengan diagram konteks sebagai berikut.

Gambar 4 : Diagram Konteks Aplikasi Pelayanan Rumah Sakit Berbasis SMS Gateway

Perancangan struktur data perangkat lunak terdiri dari sebelas tabel, yaitu tabel user,



tabel pasien, tabel dokter, tabel absensi dokter, tabel program pemerintah, tabel

pengumuman, tabel registrasi pasien, tabel poliklinik, tabel bangsal, tabel kritik, dan tabel

periksa kembali pasien. Berikut adalah salah satu contoh tabel rancangan struktur data

perangkat lunak yaitu tabel dokter.



Tabel 1: Rancangan Tabel Dokter





Rancangan antarmuka merupakan rancangan awal dari pembuatan form-form yang

ada pada Aplikasi Pelayanan Rumah Sakit Berbasis SMS Gateway. Salah satunya adalah

form utama. Form ini berisi menu-menu utama yang akan digunakan untuk mengolah data

pelayanan rumah sakit. Berikut adalah contoh rancangan antarmuka form utama dari Aplikasi

Pelayanan Rumah Sakit Berbasis SMS Gateway.







Gambar 5: Rancangan Antarmuka Form Utama

http://www.carialamat.com/rumah-sakit-umum-dr-h-abdul-moeloek-bandarlampung-73860.html
http://doktersehat.com/rumah-sakit-umum-abdul-moeloek/
http://fiastri-k.blogspot.com/2009/01/sistem-informasi-manajemen-rumah-sakit.html
http://www.ipmg-online.com/index.php?modul=berita&cat=BMedia&textid=281064846414







Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIM-RS)
Latar Belakang
Sistem Informasi Manajemen (SIM) bagi suatu rumah sakit merupakan hal yang sangat penting untuk
segera diterapkan. Hal ini mengingat semakin kompleksnya permasalahan yang ada dalam data medik
pasien maupun data-data administrasi yang ada di rumah sakit. Namun menyediakan SIM bukanlah hal
yang mudah, terutama jika dikaitkan dengan biaya pengadaan SIM yang relatif sangat besar.

Penerapan sistem informasi pada suatu rumah sakit memerlukan suatu perencanaan yang matang. Bila
dilakukan secara tergesa-gesa tanpa melakukan perencanaan terlebih dahulu dikhawatirkan akan
memakan biaya yang mahal, kemungkinan ada biaya baru baik untuk riset kelayakan dan lain-lain akan
menambah biaya selanjutnya. Dalam penerapan sistem informasi maka masalah finansial merupakan
faktor yang sangat penting.

Analisa
Sistem Informasi Manajemen terdiri dari tiga kata yaitu sistem, informasi dan manajemen. Sistem adalah
suatu himpunan dari unsur, komponen atau variabel-variabel yang terorganisasi, saling berinteraksi,
saling tergantung satu sama lain dan terpadu. Informasi adalah data yang telah disusun sedemikian rupa,
sehingga bermakna dan bermanfaat karena dapat dikomunikasikan kepada seseorang yang akan
menggunkannya untuk membuat keputusan. Manajemen adalah tindakan memikirkan dan mencapai
hasil-hasil yang diinginkan melalui usaha kelompok yang terdiri dari tindakan mendayagunakan bakat-
bakat manusia dan sumber-sumber daya. Sehingga Sistem Informasi Manajemen berarti suatu sistem
yang menyediakan kepada pengelola organisasi maupun informasi yang berkaitan dengan pelaksanaan
tugas-tugas organisasi. Jika lebih spesifik lagi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS)
adalah suatu prosedur pemrosesan data-data baik data-data umum Rumah Sakit maupun data-data
medik pasien sehingga dapat mendukung proses pengambilan keputusan manajemen.
Sistem Informasi Manajemen yang dimaksudkan adalah suatu sistem yang telah berbasiskan komputer
untuk mengolah data-data medik pasien maupun data-data administrasi yang dimiliki rumah sakit.
Selama ini jika kita bicara tentang rumah sakit, yang paling mudah diingat adalah pelayanannya yang
tidak memuaskan ketika melakukan administrasi atau waktu yang terlalu yang dibutuhkan oleh perawat
untuk mencari data-data medik pasien.
Beberapa hambatan-hambatan yang sering dialami oleh pihak Rumah Sakit yang disebabkan oleh
system informasi yang belum dikelola dengan baik adalah pencatatan yang berulang yang menyebabkan
penduplikasian data, data yang belum terintegrasi atau masih tersebar, pencatatan data masih dilakukan
secara manual sehingga banyak terdapat kesalahan dan informasi terlambat disebarkan. Oleh karena
system informasi manajemen untuk Rumah Sakit sangat perlu dilakukan agar dapat memberikan
pelayanan prima kepada masyarakat, dapat menyajikan laporan akurat sehingga dapat memberikan
kemudahan dalam pengambilan keputusan oleh pihak manajemen.
Sebelum menerapkan suatu system informasi manajemen untuk Rumah Sakit, kita harus mengetahui
kelas dan status dari Rumah Sakit tersebut. Dimana masing-masing Rumah Sakit memiliki kebutuhan
system informasi berbeda-beda. Status dan kelas Rumah Sakit dapat dibagi menjadi empat (4), yaitu :
Rumah Sakit Vertikal
Rumah Sakit Umum Daerah
Rumah Sakit Umum Swasta
Rumah Sakit specialist
Sedangkan untuk melakukan penerapan sistem informasi rumah sakit dibutuhkan biaya yang tidak sedikit
jumlahnya. Banyak yang harus benar-benar dipersiapkan agar hasil yang akan diperoleh seperti apa
yang diharapkan. Komponen utama untuk menunjang terlaksananya penerapan sistem informasi yang
benar dan sesuai kebutuhan :
Software (Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit)
Hardware (seperangkat komputer)
Networking (Jaringan LAN, wireless)
SOP (Standar Operasional Prosedur)
SDM (Sumber Daya Manusia)
Ketika system informasi telah disiap diimplementasikan ternyata ada beberapa kendala yang terjadi di
lapangan, antara lain ketidaksiapan pihak Rumah Sakit dalam menerapkan system informasi yang
terintegrasi dan berbasis komputer, sulitnya merubah pola kerja yang telah terbiasa dengan system
manual menjadi komputerisasi, dan penyajian data yang belum semuanya dalam bentuk elektronik yang
akan memudahkan proses migrasi data.

Kesimpulan
1. Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) sangat dibutuhkan agar Rumah Sakit dapat
meningkatkan pelayanannya baik ke pihak masyarakat umum maupun pihak manajemen.
2. Dengan adanya SIMRS, proses bisnis dalam Rumah Sakit dapat tepat waktu dan efektif terutama
dalam proses pengambilan keputusan.
3. Kelas dan status Rumah Sakit akan mempengaruhi kebutuhan dalam pemilihan system informasi yang
akan digunakan.

Daftar Pustaka
AA Hafizh, Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) atau (SIM-RS),
http://72.14.235.132/search?q=cache:H3s2EMzm0MIJ:siliwangi.blog.friendster.com
Echie, Sekapur Sirih Tentang Sistem Informasi Manajemen, http://72.14.235.132/search?q=cach