Anda di halaman 1dari 130

AGROPOLITAN

MINAPOLITAN

&

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Sambutan

Direktur Jenderal Cipta Karya


Kementerian Pekerjaan Umum
Salam sejahtera,
Guna mewujudkan komitmen Pemerintah untuk melaksanakan
pemerataan pembangunan dan penyeimbangan pembangunan desa-kota,
maka pada tahun 2002 Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian
Pekerjaan Umum bersama Kementerian Pertanian mengembangkan
Kawasan Perdesaan. Program ini dimaksudkan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi dan percepatan pengembangan wilayah yang
berbasis pada potensi lokal dan pemberdayaan masyarakat, yang pada
gilirannya, upaya tersebut akan berujung pada peningkatan kesejahteraan
dan taraf hidup masyarakat.
Dalam pengembangan kawasan perdesaan melalui pengadaan
infrastruktur penunjang ekonomi yang memadai, Ditjen Cipta Karya telah
melibatkan masyarakat setempat dalam mengembangkan dan mengelola
potensi daerahnya. Dengan demikian, kawasan ini mampu menjadikan
kegiatan utama masyarakatnya sebagai sektor penggerak perekonomian
lokal dan regional.
Seiring dengan berkembangnya ragam konsepsi penyelenggaraan
pembangunan perdesaan maka, pada tahun 2011 program pengembangan
kawasan perdesaan ini menjadi kawasan pusat pertumbuhan yang
didalamnya mencakup Kawasan Agropolitan dan Minapolitan.

Budi Yuwono P.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Jakarta, September 2012

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Integrasi yang kuat antar kelembagaan dan masyarakat pada


pengembangan Kawasan Agropolitan dan Minapolitan telah membuahkan
hasil dan membawa perubahan bagi kawasan zona inti (pusat
pertumbuhan) maupun desa-desa hinterland. Program ini diharapkan
dapat menjadi campur tangan positif pemerintah dalam memanfaatkan,
mengelola, sekaligus melestarikan potensi dan kekayaan alam perdesaan
Indonesia demi terwujudnya kesejahteraan dan kemakmuran bangsa.

Program ini
diharapkan
dapat menjadi
campur
tangan positif
pemerintah
dalam
memanfaatkan,
mengelola,
sekaligus
melestarikan
potensi dan
kekayaan alam
perdesaan
Indonesia demi
terwujudnya
kesejahteraan
dan
kemakmuran
bangsa.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Kata Pengantar

Direktur
Pengembangan Permukiman
Direktorat Jenderal Cipta Karya
Salam sejahtera,
Sejak efektif dilaksanakan pada tahun 2002, pengembangan Kawasan
Agropolitan dan Minapolitan telah berhasil memfasilitasi tak kurang
dari 382 kawasan, baik kawasan baru maupun lanjutan. Pengembangan
dilaksanakan melalui penyediaan infrastruktur desa yang memadai dan
mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi dan pengembangan
wilayah. Pengadaan infrastruktur juga ditujukan bagi peningkatan
produktivitas, pengolahan, serta pemasaran hasil pertanian/perikanan.
Pengembangan kawasan Agropolitan/Minapolitan dirasakan begitu
penting, mengingat pengembangannya yang memanfaatkan dan
mengusung konsep sesuai dengan keunikan, keunggulan, dan keandalan
lokal. Dengan demikian, pemerataan pembangunan dapat ditingkatkan
serta menjamin kelangsungan perkembangan kawasan sehingga memiliki
keunggulan yang berdaya saing.

Pengadaan
infrastruktur
ditujukan bagi
peningkatan
produktivitas.
pengolahan.
serta pemasaran
hasil pertanian/
perikanan.

Dengan sinergi harmonis antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah,


masyarakat, dan lembaga-lembaga terkait, diharapkan mampu
mendukung pengembangan Kawasan Agropolitan dan Minapolitan
yang utuh dan terintegrasi. Dengan demikian, hasil pembangunan dapat
menyentuh seluruh lapisan masyarakat dan membawa masyarakat kepada
kesejahteraan serta kehidupan yang lebih baik.

Jakarta, September 2012

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Amwazi Idrus

DAFTAR ISI
Sambutan Direktur Jenderal Cipta Karya
Kata Pengantar Direktur Pengembangan Permukiman
Daftar Isi
1 Pendahuluan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Menata Infrastruktur Agropolitan bagi Masa Depan


- Konsep Kawasan Agropolitan
- Mekanisme Pengembangan Kawasan Agropolitan
- Dukungan Infrastruktur Kawasan Agropolitan
Peningkatan Produktivitas Hasil Pertanian/Perikanan
Pengolahan Hasil Pertanian/Perikanan
- Kinerja Dukungan Infrastruktur Kawasan Agropolitan
- Sudut Pandang
- Kata Mereka

3

-






5
7
8
9

Di Balik Cakrawala Biru Indonesia


Konsep Kawasan Minapolitan
- Mekanisme Pengembangan Kawasan Minapolitan
- Dukungan Infrastruktur Kawasan Minapolitan
Peningkatan Produktivitas Hasil Perikanan
Pengolahan Hasil Perikanan
- Kinerja Dukungan Infrastruktur Kawasan Minapolitan
- Sudut Pandang
- Kata Mereka

4 Penutup

17

47

75

PENDAHULUAN

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Nangroe Aceh

Kalimantan Timur

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan
BANDA ACEH

7 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Sumatera Utara

14 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Kalimantan Tengah

10 Kawasan Agropolitan

Riau

10 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

MEDAN

Kalimantan Barat

13 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Kep. Riau

4 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Jambi
TANJUNGPINANG
PEKANBARU

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

PONTIANAK

Bangka Belitung
Sumatera Barat

SAMARINDA

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

PADANG

13 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Kalimantan Selatan

JAMBI
PANGKALPINANG

6 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

PALANGKARAYA

PALEMBANG

Sumatera Selatan
Bengkulu

8 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

19 Kawasan Agropolitan
3 Kawasan Minapolitan

BANDARLAMPUNG

10 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

JAKARTA
SERANG

10 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

Kawasan
Agropolitan dan Minapolitan
TA 2002-2011

Jawa Tengah

SEMARANG

SURABAYA

YOGYAKARTA

DI Yogyakarta

10 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Konsep Kawasan :
Agropolitan dan Minapolitan

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

8 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

14 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

BANDUNG

Banten

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Bali

Jawa Barat

Lampung

10

BANJARMASIN

12 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

BENGKULU

Tahun Anggaran 2002-2011


Wilayah Cakupan:
32 Provinsi
324 Kawasan Agropolitan
48 Kawasan Minapolitan

MATARAM

Jawa Timur

DENPASAR

22 Kawasan Agropolitan
3 Kawasan Minapolitan

Nusa Tenggara Barat


10 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Terbentang sepanjang
3.977 mil di antara
Samudera Indonesia
dan Samudera Pasifik
dengan ribuan pulau
yang tersebar dari
Sabang sampai Merauke,
menjadikan Indonesia
sebuah negara dengan
potensi dan kekayaan
alam yang berlimpah.

Gorontalo

7 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

Sulawesi Utara

15 Kawasan Agropolitan
4 Kawasan Minapolitan

Maluku Utara

7 Kawasan Agropolitan

Papua Barat

MANADO

4 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan

TERNATE
GORONTALO

Sulawesi Tengah

9 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

PALU

MANOKWARI

MAMUJU

JAYAPURA

Sulawesi Barat

4 Kawasan Agropolitan
1 Kawasan Minapolitan
KENDARI

AMBON

Maluku

8 Kawasan Agropolitan
MAKASSAR

Sulawesi Tenggara

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

Sulawesi Selatan

14 Kawasan Agropolitan
3 Kawasan Minapolitan

Papua
Nusa Tenggara Timur
KUPANG

5 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

7 Kawasan Agropolitan
2 Kawasan Minapolitan

Kekayaan ini pun menjadi hak setiap anak


bangsa untuk dikelola dan dimanfaatkan sebaik
mungkin demi mewujudkan kesejahteraan
bang Tentunya, dengan tidak melupakan
sa.
kewajiban untuk menjaga, memelihara, dan
meestarikan kekayaan alam negeri ini.
l

Ketidakberhasilan dalam pemerataan pem

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Namun, dalam pelaksanaannya, pembangun


an lebih difokuskan pada wilayah perkotaan.
Pembangunan berjalan demikian pesat di se
jumlah kota dan menjadikan kota tersebut se
bagai pusat pertumbuhan ekonomi, sosial, dan
budaya. Kota-kota tersebut seakan tak pernah
henti untuk bersolek sehingga memancarkan
pesonanya. Di sisi lain, wilayah perdesaan tetap
tampil dalam kesederhanaannya, bahkan dalam
keterbatasannya.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Pembangunan di seluruh sektor kehidupan


merupakan salah satu upaya pemanfaatan
potensi dan kekayaan alam Indonesia yang
hasilnya, diharapkan, dapat dinikmati oleh
setiap masyarakat Indonesia secara merata.
Untuk itu, pembangunan semestinya dapat
dilaksanakan secara merata di seluruh penjuru
negeri ini sehingga pembangunan dapat

menyentuh sampai ke daerah perdesaan, ter


pencil, pelosok, hingga kawasan perbatasan.

11

bangunan ini, tentu saja, menimbulkan ke


sen
jangan antara wilayah perkotaan dan
perdesaan. Hal inilah yang memicu terjadinya
percepatan urbanisasi di Indonesia hingga
sampai pada tingkat urbanisasi yang tidak
terkendali. Berdasarkan Data Survei Penduduk
Antarsensus laju urbanisasi di Indonesia me
ningkat dari 37,5% di tahun 1995 menjadi 40,5%
di tahun 1998. Akibat percepatan urbanisasi,
sektor pertanian menjadi terdesak sehingga
menurunkan produktivitas pertanian.
Penurunan produktivitas ini tampak dari
nilai produk-produk pertanian yang diimpor
Indonesia demi memenuhi kebutuhan dalam
negeri. Pada tahun 2000, Indonesia harus
mengimpor kedelai sebanyak 1.277.685 ton
senilai 275 juta dolar AS, sayur-mayur senilai
62 juta dolar AS, dan buah-buahan senilai

65 juta dolar AS1). Sementara, lemahnya


sistem pemasaran, terbatasnya pemahaman
dan kemampuan petani, rendahnya kualitas
lingkungan dan permukiman di perdesaan, kian
menyulitkan produktivitas pertanian.
Tidak jauh berbeda dengan kawasan pertanian,
kawasan pesisir dengan mayoritas penduduk
bergantung pada sektor perikanan belum dapat
mengolah dan memanfaatkan potensi dan ke
kayaan laut Indonesia secara maksimal. Hal ini
diakibatkan pembangunan yang masih terfokus
di wilayah daratan sehingga potensi perairan
Indonesia masih dikesampingkan.
Sementara itu, jumlah penduduk Indonesia
terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun
2035, diperkirakan populasi penduduk tumbuh
hingga 2 kali dari jumlah saat ini. Seiring ber

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Jalan poros desa


Gumukrejo,
Desa Tanjungsari,
Banyudono,
Kabupaten Boyolali

12

1.2)

Yudhohusodo. Siswono. Laporan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia. 2002.

tambahnya jumlah penduduk, tingkat pen


diikan dan kesejahteraan masyarakat juga
d
meningkat sehingga terjadi peningkatan
kon
sumsi per kapita untuk beragam jenis ba
han pangan. Maka, dalam waktu 35 tahun
mendatang, kebutuhan akan kesediaan ba
han pangan Indonesia meningkat lebih dari
2 kali jumlah kebutuhan saat ini2). Hal ini me
munculkan kerisauan akan terjadinya kondisi
rawan pangan di masa yang akan datang.

Pengembangan Kawasan Agropolitan/


Minapolitan
Berangkat dari kondisi-kondisi tersebut, Peme
rintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum
dalam hal ini Direktorat Jenderal (Ditjen)
Cipta Karya ingin mewujudkan pemerataan
pembangunan dengan mengembangkan
kawa perdesaan, termasuk perdesaan
san
yang berada di daerah pesisir. Ditjen Cipta
Karya melalui Direktorat Pengembangan

Permukiman melaksanakan pro ram-program


g
pengembangan perdesaan po
tensial. Salah
satunya adalah program yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi loal sebagai roda
k
pertumbuhan ekonomi di ka asan perdesaan,
w
yaitu pengembangan Ka asan Agropolitan dan
w
Minapolitan.
Kawasan Agropolitan/Minapolitan yang dikem
bang an merupakan bagian dari potensi wila
k
yah kabupaten. Pengembangan kawasan mela
lui penguatan sentra-sentra produksi pertanian/
perikanan yang berbasis potensi lokal. De gan
n
demikian, Kawasan Agropolitan/Mina
politan
mamu memainkan peran sebagai ka asan
p
w
pertumbuhan ekonomi yang berdaya kom e
p
tensi interregional maupun intraregional.
Selain itu, pengembangan juga berorientasi
pada kekuatan pasar yang dilaksanakan melalui
pemberdayaan usaha budidaya dan kegiatan

Skema Tata Ruang


Kawasan Agro/Minapolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Sumber : Strategi Pengembangan Kawasan Agropolitan. Kimpraswil 2000

13

agribisnis/minabisnis hulu sampai dengan hilir.


Pengembangan kawasan ini diharapkan dapat
memberikan kemudahan sistem agribisnis/
minabisnis yang utuh dan terintegrasi dengan
penyediaan infrastruktur (sarana dan praaa
s r
na) seperti peningkatan jalan lingkungan poros
desa, peningkatan jalan usaha tani, Stasiun
Terminal Agribisnis (STA), peningkatan pasar
ikan dan pembangunan lainnya yang memadai
dan mendukung pengemangan agribisnis/
b
minabisnis.

politan/minapolitan dengan sentra-sentra


prouksi pertanian/perikanan. Pola inter
d
aksi
ini, nantinya, akan memberikan nilai tam ah
b
pro
duksi agropolitan/minapolitan sehingga
da memacu pembangunan per esaan; me
pat
d
ningkatkan produktivitas dan kua
litas per
ta
nian/perikanan; meningkatkan pendapatan dan
kesejahteraan masyarakat di daerah hinterland;
mengembangkan pusat pertumbuhan ekonomi
daerah; yang pada akhirnya akan menekan laju
urbanisasi.

Program ini juga mengembangkan sistem


kele bagaan dan sistem keterkaitan desam
kota (urban-rural linkage) untuk mendukung
pe
ngembangan Kawasan Agropolitan/Mina
poan. Sistem keterkaitan tersebut ber
lit
tu
jun untuk mengembangkan interaksi yang
a
saling menguntungkan antara pusat agro

Peran penting dari pengembangan Kawasan


Agropolitan/Minapolitan ini adalah kawasan
dan sektor yang dikembangkan sesuai dengan
keunikan lokal. Sektor berbasis aktivitas
masyarakat pun mampu meningkatkan pe
merataan. Sedangkan, kelangsungan pe
ngem
bangan kawasan dan sektor lebih me

Pencapaian Kawasan Agropolitan dan Minapolitan 2002-2011



2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Tahun
Baru


8 27 18 37 58 47 81 56 11 38

Lanjutan

8 35 52 49 84 77 48 45 32

Selesai

Total

1 41 64 118 228 286 312

8 35 53 90 148 195 276 332 342 382

400

332

350

81

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

250

14

148

150
90

100

56

11
45

38
32

312

48

195

200

50

382

286

276

300

342

35
8

27
8

53
18
35

37
52

47

77
228

58
84
118

49
41

64

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Baru

Lanjutan

Selesai

mi kepastian karena sektor yang dipilih


liki
mempunyai keunggulan kompetitif dan kom
paratif dibandingkan sektor lainnya.
Untuk dapat melangsungkan program pe
ngembangan Kawasan Agropolitan/Mina
po
litan, dilakukan penyusunan atas strategi pe
ngembangan yang mencakup beberapa hal
berikut:
Penyusunan masterplan pengembangan
Kawasan Agropolitan/minapolitan oleh
Pe erintah Daerah dan masyarakat yang
m
akan menjadi acuan bagi setiap wilayah/
provinsi. Masterplan disusun berdasarkan
jangka waktu tertentu dan mencakup
rencana-rencana sarana dan prasarana.
Penetapan lokasi Agropolitan/Minapolitan
yang diusulkan oleh Kabupaten kepada
Pemerintah Provinsi. Usulan harus dida
hului dengan identifikasi potensi dan
masalah untuk mengetahui kondisi dan
potensi lokasi, antara lain sumber daya
alam, sumber daya manusia, kelembagaan,
dan iklim usaha.
Sosialisasi program pengembangan Kawas
an Agropolitan/Minapolitan yang di sa
lak
nakan seluruh stakeholder terkait di tingkat
pusat maupun daerah sehingga lebih ter
padu dan terintegrasi.
Pendampingan pelaksanaan program oleh

pemerintah, yang juga berperan seba ai


g
fasilitator. Sedangkan, masyarakat ditem
patkan sebagai pelaksana utama da
lam
pelaksanaan pengembangan Kawasan Ag
ropolitan/Minapolitan.
Pembiayaan program yang, pada dasarnya,
dilakukan oleh masyarakatdalam hal ini
petani/nelayan, penyedia agro/mina, pe
ngelola hasil, pemasar, dan penye ia jasa.
d
Dana stimultans yang difasilitasi pe e
m
rintah bertujuan untuk membiayai pra
sarana dan sarana yang bersifat publik dan
strategis.
Usulan indikasi program/kegiatan di kawa
san agro/minapolitan harus dimasukkan
dalam Rencana Program Investasi Jangka
Menengah (RPIJM) Kabupaten.
Pengembangan Kawasan Agropolitan/Mina
po
litan oleh Direktorat Pengembangan Permu
kiman ini telah berlangsung sejak tahun 2002.
Sampai dengan tahun 2011, telah terbangun
382 Kawasan Agropolitan/Minapolitan di se
jumlah desa hinterland di Indonesia. Selama 10
tahun pelaksanaan pengembangan Kawasan
Agropolitan/Minapolitan, seringkali men apati
d
berbagai kendala. Kendala yang di dapi
ha
tersebut menjadi hal-hal yang patut dicermati
dan menjadi tantangan tersendiri pada pe
ngembangan kawasan-kawasan berkutnya.
i

Kawasan agropolitan
Desa Wasiat, Ngombol,
Purworejo

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

15

16

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

MENATA INFRASTRUKTUR
AGROPOLITAN
BAGI MASA DEPAN

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

17

Menata Infrastruktur
Agropolitan
Bagi Masa Depan
Konsep Kawasan :
Agropolitan
Kawasan Agropolitan TA 2002-2011 :
32 Provinsi,
324 kawasan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Potensi Unggulan :
Beras organik, kelapa, sayur, mayur,
buah-buahan, hewan ternak.

18

Dukungan Infrastruktur :
Peningkatan jalan poros desa, jalan usaha tani,
irigasi, kios, STA, packing house

Pembangunan di kawasan
perkotaan yang demikian
pesat telah menjadikan
kawasan ini memiliki laju
pertumbuhan ekonomi yang
tinggi. Begitu pula, dengan
setiap aspek kehidupan
sosial di dalamnya yang
juga berkembang dengan
sangat baik.

Jalan poros desa di


kawasan agropolitan
Payakumbuh,
Sumatera Barat

Hal ini memunculkan kesenjangan antara


kawasan perkotaan dan perdesaan yang pada
akhirnya, mengakibatkan peningkatan laju ur
banisasi.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Sementara itu, populasi penduduk yang se a


m
kin meningkat diperkirakan mencapai angka
se itar 400 juta jiwa di tahun 2035, berbanding
k

Namun, penurunan produktivitas pertanian


tidak hanya semata-mata disebabkan terde ak
s
nya sektor pertanian akibat konversi lahan dan
percepatan urbanisasi. Melainkan, juga dipicu
oleh produktivitas dan pemasaran per
tanian
yang masih rendah, budaya petani lokal yang
cenderung subsisten, serta kelembagaan dan
lingkungan permukiman yang tidak kondusif.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Percepatan laju urbanisasi berakibat pula pada


terdesaknya sektor pertanian yang berujung
pada penurunan produktivitas pertanian. Hal
tersebut ditandai dengan semakin tingginya
konversi lahan pertanian menjadi kawasan
perkotaan. Akibatnya, Indonesia harus menda
tangkan produk-produk pertanian dari luar
negeri untuk memenuhi kebutuhan pangan
dalam negeri.

lurus dengan kebutuhan pangan masyarakat


Indonesia. Dalam kurun waktu 35 tahun men
datang, kebutuhan pangan masyarakat di
per
kirakan akan meningkat lebih dari dua
kali lipat kebutuhan pangan saat ini (Siswono
Yudohusodo. 2002). Dengan demikian, penurunan
produktivitas pertanian dikhawatirkan dapat
menimbulkan kondisi rawan pangan di masa
mendatang.

19

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Berkaca pada kondisi tersebut, diperlukan upa


ya-upaya pengembangan kawasan perdesaan
yang mencakup segala aspek kehidupan de
ngan memanfaatkan seluruh potensi sumber
daya yang dimiliki perdesaan. Sebagai sebuah
negara yang memiliki berbagai produk ung
gulan di setiap daerahnya, pengembangan
ekonomi Indonesia hendaknya berorientasi
pada pembangunan agribisnis yang berbasis
pertanian. Maka, pengembangan Kawasan
Agropolitan pun menjadi alternatif solusi
pembangunan kawasan perdesaan. Kawasan
Agropolitan memungkinkan pembangunan
dengan tetap berbasis pada sektor pertanian
sebagai sumber pertumbuhan ekonomi desa
yang dipadukan dengan pembangunan sektor
industri melalui pengembangan prasarana dan
sarana layaknya perkotaan yang disesuaikan
dengan lingkungan perdesaan.

20

Dengan kata lain, pengembangan Kawasan


Agropolitan merupakan penguatan sentrasentra produk pertanian yang berbasiskan
pada kekuatan internal sehingga perdesaan
menjadi kawasan yang memiliki pertumbuhan
ekonomi dan daya kompetensi, baik secara
interregional maupun intraregional. Oleh ka
re a itu, keberhasilan pembangunan Kawasan
n
Agropolitan membutuhkan komitmen dan
tanggung jawab dari segenap aparatur peme
rintah, swasta, maupun masyarakat. Dengan
demikian, pembangunan kawasan ini dapat
berlangsung secara terintegrasi, terarah, efektif,
dan efisien sehingga tercipta keterpaduan
dengan pembangunan sektor lainnya dan
pembangunan yang berwawasan lingkungan.
Pengembangan Kawasan Agropolitan pun
men
jadi salah satu program pengembangan
perukiman perdesaan yang dilaksanakan
m
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui
Direktorat Jenderal Cipta Karya, Direktorat
Pe gembangan Permukiman. Dengan program
n
yang terfokus pada penyediaan dan kemajuan

infrastruktur perdesaan, yaitu berupa prasarana


dan sarana yang memadai dan mendukung
pengembangan sistem dan usaha agribisnis,
di arapkan dapat memberikan manfaat bagi
h
pembangunan Kawasan Agropolitan, khusus
nya masyarakat perdesaan.

Konsep Kawasan Agropolitan


Secara harafiah. istilah Agropolitan berasal dari
kata Agro yang berarti pertanian dan Polis/Po
lit n yang berarti kota. Dalam buku Pedoman
a
Umum Pengembangan Kawasan Agroplitan
& Pedoman Program Rintisan Pengembangan
Kawasan Agropolitan yang diterbitkan oleh
Kementerian Pertanian, Agropolitan didefi isi
n
kan sebagai kota pertanian yang tumbuh dan
berkembang karena berjalannya sistem dan
usaha agribisnis sehingga mampu melayani,
mendorong, menarik, serta menghela kegiatan

pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah


sekitarnya. Buku tersebut juga mendefinisikan
Kawasan Agropolitan sebagai sistem fungsional
desa-desa yang ditunjukkan dari adanya hirarki
keruangan desa yang ditandai dengan ke e
b
radaan pusat agropolitan dan desa-desa di
sekitarnya sehingga terbentuklah Kawasan
Agropolitan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Friedman mengungkapkan konsep agropolitan


sebagai distrik-distrik agropolitan yang meru
pakan kawasan pertanian perdesaan dengan
ke adatan penduduk rata-rata 200 jiwa/km2.
p

Kawasan Agropolitan
Ngombol, Purworejo

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Definisi Kawasan Agropolitan pun telah ter ak


m
tub dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang yang menyebutkan
Kawasan Agropolitan sebagai kawasan yang
ter iri atas satu atau lebih pusat kegiatan pada
d
wilayah perdesaan sebagai sistem produksi
peranian dan pengelolaan sumber daya alam
t
tertentu yang ditunjukkan oleh adanya keer
t
kaitan fungsional dan hirarki keruangan satuan
sistem permukiman dan agrobisnis.

Adapun konsep Agropolitan merupakan kon


sep yang dikenalkan Friedman dan Douglas
(1975). Konsep ini ditawarkan atas pengalaman
kegagalan pengembangan sektor industri yang
terjadi dialami negara-negara berkembang di
Asia. Kegagalan tersebut mengakibatkan ter
jadinya hyper ubanization, pembangunan ha
nya terjadi di beberapa kota saja, tingkat peng
angguran dan setengah penggangguran
yang tinggi, kemiskinan akibat pendapatan
yang tidak merata, terjadinya kekurangan bahan
pangan, penurunan kesejahteraan masyarakat
desa, serta ketergantungan kepada dunia luar.

21

Kawasan Agropolitan
Serang, Banten

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Distrik agropolitan terdiri atas kota-kota tani


berpenduduk 10.00025.000 jiwa. Luas wila
yahnya dibatasi dengan radius sejauh 510 km
sehingga menghasilkan jumlah penduduk total
antara 50.000150.000 jiwa yang mayori
tas
be erja di sektor pertanian. Konsep Friedman
k
ti ak membedakan secara spesifik antara per
d
ta ian modern ataupun konvensional dan me
n
nyebutkan setiap distrik sebagai satuan tunggal
yang terintegrasi.

22

Definisi Friedman di atas menggunakan be


sarn penduduk dan luasan wilayah sebagai
a
ukuran. Maka. dapat disimpulkan bahwa suatu
distrik Agropolitan setara dengan 1 Wilayah
Pengembangan Parsial (WPP) permukiman
trans
migrasi jika dilihat dari besaran pendu
duknya. Sedangkan. jika dilihat dari luasan
wilayahnya yang berkisar pada 100250 km2
atau 10.00025.000 ha. ukurannya dapat lebih
kecil dari luasan 1 WPP. Apabila dilihat secara
administratif, besaran penduduk dan luasan
wilayah tersebut setara dengan luasan wilayah
kecamatan yang berpenduduk sampai dengan
25.000 jiwa dan sudah dapat berfungsi sebagai
suatu simpul jasa distribusi.
Sementara, berdasarkan strukturnya, Kawasan
Agropolitan dibedakan atas Orde Pertama
(Kota Tani Utama), Orde Kedua (Pusat Distrik

Agropolitan atau Pusat Pertumbuhan), dan


Orde Ketiga (Pusat Satuan Kawasan Pertanian).
Setiap orde berfungsi sebagai simpul jasa ko
leksi dan distribusi dengan skala yang be
ragam dan berjenjang (hirarki) serta pusat pe
layanan permukiman. Antarsimpul tersebut
disambungkan oleh jaringan transportasi yang
sesuai. Orde Pertama dan Kedua dipisahkan
oleh jarak sekitar 3560 km. sesuai dengan
kondisi gegografis wilayah. Sedangkan, Orde
Kedua dan Ketiga terletak dalam satu distrik
agropolitan yang berjarak sekitar 1535 km satu
sama lainnya.
Menurut definisi yang ada, Agropolitan atau Ko
ta Pertanian dapat merupakan Kota Menengah,
Kota Kecil, Kota Kecamatan, Kota Perdesaan,
atau Kota Nagari yang berfungsi sebagai pu
sat pertumbuhan ekonomi. Sebagai pusat
pertumbuhan, Kota Pertanian ini pun mampu
mendorong pertumbuhan pembangunan per
deaan dan desa-desa di wilayah sekitarnya
s
(hinterland) melalui pengembangan berbagai
sektor, mulai dari pertanian, industri kecil, jasa
pelayanan, hingga pariwisata.
Pengembangan Kawasan Agropolitan bertuju
an untuk meningkatkan pendapatan dan ke
se
jahteraan masyarakat melalui percepatan
pengembangan wilayah dan peningkatan

ke
terikatan desa dan kota. Hal ini dapat ter
wujud melalui pengembangan sistem dan
usa agribisnis yang berdaya saing, berbasis
ha
kerakyatan, berkelanjutan, dan terdesentralisasi
di Kawasan Agropolitan. Sementara itu, pe
ngem angan kawasan ini juga ditujukan un
b
tuk mengembangkan kawasan pertanian yang
berpotensi menjadi Kawasan Agropolitan me
lalui strategi pengembangan sebagai berikut :
Meningkatkan diversifikasi ekonomi perde
saan melalui peningkatan nilai tambah dan
daya saing produk pertanian, baik berupa
hasil produksi maupun olahan.
Meningkatkan akses petani terhadap sum
beraya produktif dan permodalan de
d
ngan memfasilitasi ketersediaan layanan
yang dibutuhkan petani dan masyarakat.
Layanan dapat berupa penyediaan sa
raa produksi, sarana pascapanen, dan
n
permodalan yang tersedia di kawasan
dalam jumlah, jenis, waktu, kualitas, dan
lokasi yang tepat.
Meningkatkan prasarana dan sarana yang

dibutuhkan dalam upaya memajukan


industri pertanian sesuai kebutuhan ma
syarakat. Prasarana dan sarana publik
yang disediakan pemerintah dilaksanakan
dengan pendekatan kawasan, yaitu me
merhatikan hasil identifikasi sum er aya
b d
alam, sumberdaya manusia, sumberaya
d
buatan, serta tingkat perkembangan
Kawasan Agropolitan.
Mewujudkan permukiman perdesaan yang
nyaman dan tertata, serta menjaga ke
les
tarian lingkungan melalui pengaturan
dan pelaksanaan masterplan Kawasan
Agropolitan secara konsisten dan terko r
o
dinasi.
Visi dan misi yang telah ditetapkan, kemudian
diterjemahkan ke dalam Kebijakan dan Strategi
Pembangunan Infrastruktur Agropolitan beru
pa dukungan terhadap pengembangan sis
tem dan usaha Agribisnis. Dengan demikian,
kebijakan dan strategi yang ditetapkan mampu
mendorong ketiga hal, yaitu :
Sarana irigasi di
Kawasan Minapolitan
Mina Asri, Desa
Tanjungsari,
Kabupaten Boyolali
yang sudah terbangun
memudahkan petani
untuk mendapat air

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

23

Petani di kawasan
agropolitan Ngombol
Purworejo mengangkut
hasil taninya melalui
jalan poros desa yang
telah beraspal

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

a. Peningkatan produktivitas hasil pertanian


sehingga dihasilkan produk-produk perta
nian yang berdaya saing tinggi dan diminati
pasar.
b.
Pengolahan hasil pertanian untuk mem
peroleh nilai tambah atas produk hasil per
tanian sebagai produk primer dengan men
jadikannya berbagai produk olahan, baik
intermediate product maupun final product.
c. Pemasaran hasil pertanian untuk menun
jang sistem pemasaran hasil pertanian
dengan memperpendek mata rantai tata
niaga perdagangan hasil pertanian. Mulai
dari sentra produksi sampai ke sentra pe
masaran akhir (outlet).

24

Pengembangan Kawasan Agropolitan yang


sepenuhnya memanfaatkan potensi lokal me
ru akan konsep Agropolitan yang sangat men
p
dukung perlindungan dan pengembangan
budaya sosial lokal. Sesuai dengan Rencana
Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN),
pengembangan Kawasan Agropolitan haruslah
mendukung pe gembangan kawasan andalan.
n

Oleh karena itu, pengembangannya tidak bisa


terlepas dari pengembangan sistem pusatpusat kegiatan di tingkat nasional, provinsi, dan
kabupaten.
Sementara itu, kondisi negeri ini sangat me
mungkinkan untuk dikembangkannya Kawasan
Agropolitan. Kondisi yang dimaksud adalah
adanya ketersediaan lahan pertanian dan te
naga kerja yang murah di Indonesia. Sebagian
besar petani juga telah memiliki kemampuan
(skills) dan pengetahuan (knowledge) yang didu
kung oleh keberadaan jaringan sektor hulu dan
hilir serta kesiapan institusi.
Namun demikian, pengembangan Kawasan
Agropolitan bukan tanpa kendala. Beragam
per asalahan yang dihadapi, antara lain pe
m
ngembangan produk pertanian yang be
lum
mendapat dukungan makro ekonomi see
p
nuhnya, keterbatasan jaringan infrastruktur
fisik dan ekonomi, serta potensi dan peluang
investasi di seluruh sektor yang masih belum
tergali sehingga investor lebih berminat me

nanamkan modalnya di kawasan yang telah


maju. Selain itu, kebijakan fiskal dan moneter
juga belum berpihak pada sektor pertanian
yang ditandai dengan masuknya produkprouk pertanian impor secara bebas serta
d
tingginya suku bunga kredit pertanian.

ter adu. Pada dasarnya, perdesaan yang men


p
jadi sasaran lokasi pengembangan Kawasan
Agropolitan adalah yang memiliki komoditi
unggulan pertanian, seperti tanaman pangan,
hortikultura, perkebunan, peternakan, dan per
ikanan.

Mekanisme Pengembangan Kawasan


Agropolitan

Dalam pengembangan Kawasan Agropolitan,


terurai mekanisme pengajuan usulan pengem
bangan Kawasan Agropolitan. Cakupan meka
nisme berupa prosedur pengajuan lokasi dan
proses pemilihan/penilaian Kawasan Agro o
p
litan. Berkenaan dengan prosedur pengajuan
lokasi, mekanismenya meliputi ke iatan-kegi
g
atan berikut ini.

Secara internal, Kawasan Agropolitan terdiri


dari kota-kota pertanian dan desa-desa sentra
produksi pertanian. Kawasan ini tidak dibatasi
oleh batasan administratif pemerintahan (desa/
kelurahan, kecamatan, dan kabupaten/kota).
Meainkan, disesuaikan dengan memerhatikan
l
skala ekonomi kawasannya sehingga dirasakan
lebih fleksibel. Dengan demikian, bentuk dan
luasan Kawasan Agropolitan dapat meliputi
satu desa/kelurahan, kecamatan, atau beberapa
kecamatan dalam satu wilayah Kabupaten/Kota.
Kawasan ini dapat pula meliputi wilayah yang
menembus wilayah Kabupaten/Kota lain yang
berbatasan.
Dari sisi eksternal, Kawasan Agropolitan ha
rus memiliki aksesibilitas dengan kota-kota
ber
jenjang lebih tinggi di sekitarnya untuk
men
ciptakan sebuah sistem pemasaran yang

a.
Usulan dari Kabupaten oleh Pemerintah
Provinsi. Pemerintah Kabupaten meng ju
a
kan usulan mengenai Kawasan Agropolitan.
Sebelumnya, Pemerintah Kabu aten telah
p
melakukan identifikasi potensi dan masalah
terlebih dahulu. Identifikasi dimaksudkan
un mengetahui kondisi dan potensi
tuk
lokal, yaitu komoditas ungulan. Lokasi
g
Kawasan Agropolitan yang berada di dalam
kawasan kabupaten/kota dietapkan oleh
t
Bupati/Walikota.
b.
Pemerintah Pusat menilai kesiapan lokasi

Monitoring
dan Evaluasi

Pengembangan
Kawasan

rm
Pe

ktu

tru

ras

Keterangan :
SK Menteri Pertanian
155/TU.210/A/VI/2003

Ma
y sy
Pe ang arak
md di at
a S fasi Ta
ete litas ni
mp i
at

Inf

od
ala
n

(Master Plan/
RPIJM/DED)

at/P
Kab rovin
/Ko si/
ta

Agropolitan
Mandiri

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Perencanaan

Pus

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Sosialisasi

(Pokja Agropolitan)

an

Identifikasi
Usulan Lokasi
dari Bupati /
Gubernur
SK lokasi
oleh Menteri
Pertanian

Pemda
Kab/Kota

aga

Pusat/Provinsi/
Kab/Kota

emb

Kel

Program
Agropolitan

Pe
ge
mb
.S
DM

Mekanisme Penyelenggaraan Agropolitan

25

untuk dapat dikembangkan sebagai Ka


was Agropolitan. Penilaian dilakukan
an
berdasarkan kelengkapan persyaratan ad
mi istrasi dan potensi lokasi kawasan yang
n
diusulkan. Persyaratan administrasi berupa
dokumen perencanaan yang terdiri dari
SK lokasi, SK pokja, Masterplan, RPIJM, dan
DED.
c. Pengembangan Kawasan Agropolitan yang
diusulkan dapat dipenuhi jika telah me
menuhi kondisi berikut.
Apabila kelengkapan administrasi dan
potensi kawasan yang diusulkan telah
memenuhi persyaratan dalam butir
huruf b.
Apabila kelengkapan administrasi belum
terpenuhi semua, tetapi kawasan yang
diusulkan memiliki potensi yang baik,
dilihat dari profil kawasan tersebut, maka
kawasan ini akan diberi kesempatan
untuk melengkapinya. Apabila dalam
kurun waktu 1 tahun belum terlengkapi,
dana bantuan pembangunan pada
tahun berikutnya akan dihentikan untuk
sementara.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kawasan agropolitan
Bali

26

Kawasan Agropolitan yang dikembangkan me


ruakan bagian dari sistem kewilayahan ka
p
bupaten. Oleh karena itu, potensi kabupaten
harus dikaji terlebih dahulu berdasarkan per
timbangan aspek strategis dari unsur/kom
ponen makro pembentuk Kawasan Agropolitan,
yakni memiliki komoditas/potensi unggulan
yang dapat diandalkan untuk mengembangkan
kawasan secara keseluruhan. Potensi/komoditas
unggulan dapat berupa ketersediaan sumber
alam potensial, prasarana dan sarana, atau ku
an itas dan kualitas sumber daya manusia yang
t
memadai. Proses penilaian/pemilihan Kawasan
Agropolitan yang diusulkan diuraikan secara le
bih detil berikut ini:
Program-program pengembangan kawas
an dari departemen/badan yang memiliki
keterkaitan lingkup kegiatan (tupoksi) de
ngan pengembangan kawasan berbasis
agribisnis.
Komoditas unggulan sebagai pemicu un
tuk tumbuh kembangnya kehidupan dan
penghidupan dari sektor-sektor komoditi
ikutan lainnya. Komoditas tersebut meli u
p

Jalan poros desa di


kawasan agropolitan
Kobalima. Belu - NTT

Pada kawasan yang telah berhasil dikembang


kan sebagai Kawasan Agropolitan, kawasan ter
sebut memiliki ciri-ciri yang dapat diidentifikasi
dengan jelas. Adapun ciri khas dari Kawasan
Agropolitan yang telah berkembang, dijabarkan
sebagai berikut:
a. Kegiatan agribisnis (pertanian) merupakan
kegiatan perekonomian utamanya, kegiat
an ini mencakup industri pengolahan ha

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Disamping itu, pemilihan Kawasan Agropolitan


pun harus dapat meliputi sejumlah kriteria, se
bagai berikut:
Kawasan Agropolitan merupakan satu ke
satuan kawasan perdesaan yang terdiri dari

desa pusat dan desa-desa hinterlandnya


yang diindikasikan oleh adanya hubungan
fungsional antara kegiatan di desa pusat
(zona inti) dan di desa hinterlandnya;
Mempunyai potensi khusus atau komo
ditas unggulan yang dapat diandalkan
untuk mengembangkan kawasan secara
keseluruhan.
Kawasan Agropolitan yang diusulkan sudah
menetapkan struktur hirarki kawasan.
Memiliki sistem kelembagaan dan sistem
pengelolaan yang mendukung berkem
bangnya Kawasan Agropolitan seperti ada
nya organisasi petani, organisasi produsen
agribisnis, dan lain-lain.
Komitmen yang kuat dari pemerintah da
erah dengan diterbitkannya SK penetap n
a
kawasan dari Bupati atau dana bantuan
dari pemerintah daerah setempat.
Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

ti komoditas subsektor tanaman pa gan,


n
subsektor perkebunan, subsektor perkan
i
an, dan subsektor peternakan.
Potensi kabupaten yang akan dikem ang
b
kan menjadi Kawasan Agropolitan. Potensi
kabupaten merupakan faktor pen ukung
d
berkembangnya Kawasan Agropolitan.
Kawasan Agropolitan tidak ditentukan
oleh batasan administrasi pemerintahan.
Na un, prosedur penetapannya dimulai
m
dari penetapan kabupaten terpilih dan
ba analisa data berdasarkan batas ad
sis
miistrasi. Oleh karena itu, proses pei
n
n
laian Kawasan Agropolitan diawali de
ngan proses penilaian Kabupaten yang
ber otensi untuk mendapatkan kawasan
p
terpilih.
Ketersediaan infrastruktur sebagai unsur
pen
ting dalam pembangunan Kawasan
Agropolitan.
Persyaratan pengembangan Kawasan Ag
roolitan sebagai kriteria untuk meng
p
identifikasi Kawasan Agropolitan.

27

sil pertanian, perdagangan dan kegiatan


eks hasil pertanian, perdagangan ag
por
ri isnis hulu berupa sarana pertanian dan
b
permodalan, agrowisata, serta jasa pela
yanan.
b.
Dengan agribisnis sebagai kegiatan uta
manya, maka pendapatan sebagian besar
masyarakatnya pun diperoleh dari kegiatan
agribisnis.
c.
Tercipta hubungan timbal balik (inter
depenensi) yang harmonis dan saling
d
mem
butuhkan antara kota dan desa-desa
di Kawasan Agropolitan. Dalam Kawasan
Agropolitan dikembangkan usaha budi
daya (on farm) dan industri olahan skala
rumah tangga (off farm). Sementara, kota

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Prasarana jalan di
kawasan Agropolitan
Pacet. Cianjur

28

menyediakan beragam fasilitas yang men


dukung perkembangan usaha budiaya
d
dan agribisnis.
d. Ketersediaan infrastruktur berupa pra aa
s r
na dan sarana yang memadai di Kawasan
Agropolitan telah menciptakan kehidupan
masyarakat layaknya di kawasan perkotaan.
Dalam hal pembiayaan, pada prinsipnya, pem
biayaan Kawasan Agropolitan dilakukan se
cara swadaya masyarakat, baik masyarakat
tani, pelaku penyedia agroinput, pengolah
hasil, pelaku pemasaran, penyedia jasa yang
mendapat dukungan dan fasilitasi APBN dan
APBD dari Pemerintah. Pembiayaan Pem
erintah
lebih diarahkan untuk membiayai prasarana dan

Pembangunan jalan setapak


di salah satu Kawasan
Agropolitan Bali.

sarana publik dan berbagai kegiatan strategis,


seperti penelitian, pelatihan, pendidikan pe
nguatan kelembagaan petani, serta promosi.

Dukungan Infrastruktur Kawasan


Agropolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

a. Sub-sistem agribisnis hulu


Prasarana dan sarana yang disediakan da
pat berupa kios-kios Sarana Produksi Per a
t
nian (Saprotan), gudang, pelataran parkir,
dan tempat bongkar muat barang.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Keberhasilan pengembangan Kawasan Agro


politan tak terlepas dari dukungan sistem infra
struktur dasar yang membentuk struktur ruang.
Untuk itu, melalui Satuan Kerja Peyediaan
n
Pra arana dan Sarana Agropolitan, Ditjen Cipta
s
Karya membangun infrastruktur dasar bagi per
desaan yang menjadi sasaran lokasi Kawasan
Agropolitan. Infrastruktur yang disediakan meli
puti prasarana dan sarana yang mendukung
berbagai kegiatan agribisnis berikut.

b. Sub-sistem usaha tani (on-farm agribisnis)


Prasarana dan sarana yang disediakan be
rupa:
Penyediaan air baku untuk meningkat
kan produksi dengan saluran irigasi ter
buka, irigasi tetes, embung-embung,
sumur bor, dan sprinkler.
Penyediaan air bersih untuk pencucian
hasil dengan sistem perpipaan atau su
mur dalam.
c. Sub-sistem pengolahan hasil
Prasarana dan sarana dapat berupa tempat
penjemuran hasil pertanian; gudang pe
nyim anan yang dilengkapi sarana peng
p
awetan/pendinginan (cold storage) dan
packing house untuk tempat sortasi dan
pengepakan; sarana industri kecil, termasuk
food services; serta Rumah Potong Hewan
(RPH).
d. Sub-sistem pemasaran hasil
Prasarana dan sarana dapat berupa pasar
tradisional yang terdiri dari kios-kios, los-

29

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Aktivitas di STA Sewukan.


Magelang sudah dimulai
sejak jam 02.00 dini hari

30

los, pelataran parkir, dan tempat bongkar


muat barang, prasarana dan sarana SubTerminal Agribisnis (STA), pasar hewan,
jalan antar desa-kota, serta jembatan.
e. Sub-sistem jasa penunjang
Prasarana dan sarana yang disediakan
dapat berupa:
Sarana Utilitas Umum, seperti jaringan air
bersih, sanitasi, persampahan, drainase,
listrik, telepon, dan internet.
Sarana Pelayanan Umum, seperti pusat
perbelanjaan, kesehatan, pendidikan,
perantoran, peribadatan, rekreasi dan
k
olahraga, serta ruang terbuka hijau.
Sarana Kelembagaan, seperti Badan Pe
ngeola Agropolitan, Kantor Perbank n,
l
a
Koperasi, Unit-unit Usaha Agropolitan.
Pembangunan Kasiba dan Lisiba ber
ikut fasilitas umum dan sosial yang
dibutuhkan.
Penyusunan kebijakan pengembangan
Kawasan Agropolitan.

Penyusunan rencana tata ruang Kawasan


Agropolitan.
Keberhasilan pengembangan Kawasan Agro
politan juga dapat tercapai dengan mee
n
rapkan konsep agropolitan secara tepat di
la angan. Pelaksanaannya harus berjalan se
p
cara terpadu dan di bawah pemantauan (mo
nitoring) kelompok kerja (Pokja) yang dite
tapkan dan bertanggung jawab kepada Bupati/
Walikota. Apabila wilayah Kawasan Agropoit n
l a
merupakan lintas kabupaten, maka pemantauan
oleh Pokja Provinsi yang bertanggung jawab
kepada Gubernur.
Disamping itu, pengembangan kota pertanian
ini harus melibatkan petani-petani perdesaan
untuk bersama-sama membangun sebuah
sistem pertanian yang terintegrasi. Kemudian,
melibatkan setiap instansi sektoral di perdesaan
untuk mengembangkan pola agribisnis dan

agroindustri yang dilaksanakan secara simultan.


Peran serta dan dukungan dari stakeholder
terkait seperti Pemerintah Pusat, Pemprov,
Pemab, RPJM Nasional dan Daerah, swasta,
k
dan masyarakatjuga sangat dibutuhkan de
mi kelancaran perkembangan Kawasan Agro
politan.
Kunci keberhasilan lainnya adalah dengan
menetapkan setiap distrik agropolitan sebagai
suatu unit tunggal otonom mandiri sehingga
dapat terjaga dari besarnya intervensi sektorsektor pusat yang tidak terkait. Dilihat dari
segi ekonomi, unit tunggal yang mandiri
akan mampu mengatur perencanaan dan pe
laksanaan pertaniannya sendiri, tetapi tetap
terintegrasi secara sinergis dengan keseluruhan
sistem pengembangan wilayah.
Dengan kata lain. keberhasilan pengem
bangan Kawasan Agropolitan membutuhkan
sebuah kesiapan, komitmen, konsistensi,
sera perubahan mendasar dalam sistem pe
t
laksanaan pembangunan daerah. Disamping
itu, Pemerintah Daerah pun harus me liki
mi
kesanggupan untuk meneruskan pe
ngem
bangan Kawasan Agropolitan secara bere
k
lanutan demi tercapai kawasan yang mandiri
j
melalui kemampuan sumber daya yang dimiliki.

dalian, dan pengawasan secara berkala


dan teratur agar seluruh kegiatan dapat
berlangsung secara efisien dan efektif.
Salah satu upaya evaluasi dalam pelaksanaan
program pengembangan Kawasan Agropolitan
adalah dengan menyusun Indikator Keber a
h
silan. Indikator Keberhasilan yang disesuaikan
dengan situasi, kondisi, dan kemampuan da
erah masing-masing ini mencakup dampak dan
output, dijeaskan dalam jenis dan angka-angka
l
persentase.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Dampak pengembangan Kawasan Agropolitan


diharapkan mampu meningkatkan pendapat
an masyarakat, khususnya petani, dan pro
dukivitas lahan di Kawasan Agropolitan mi
t
nimal 5%. Selain itu, investasi masyarakat
(petani, swasta, BUMN) di Kawasan Agropolitan
meningkat minimal 10%. Sementara, dari sisi
output, Indikator Keberhasilan dapat terlihat
dari beberapa hal berikut
a. Sebanyak 80% kelembagaan petani mam
pu menyusun usaha yang berorientasi
pasar dan lingkungan.
b. Jaringan bisnis dari petani/kelompok peta
ni terbentuk dan berangsung aktif.
l
c.
Tiap desa dan keca atan di Kawasan
m
Agropolitan menyuun program tahunan
s
secara partisipatif dan disetujui bersama
untuk dilaksanakan.
d.
Rencana Kegiatan Jangka Panjang dan
Detail Engineering Design untuk pelaksa
naan fisik prasarana dan sarana di Kawasan
Agropolitan disetujui bersama untuk dilak
sanakan dan 70% dapat dilaksanakan di
Kawasan Agropolitan.
e. Sebanyak 80% kontak tani/petani maju ter
pilih yang dilatih mampu menjadi tempat
belajar bagi petani di lingkungannya.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Dari uraian tersebut, maka pelaksanaan prog


ram pengembangan Kawasan Agropolitan ha
rus memerhatikan beberapa hal berikut ini:
Pembangunan, pemeliharaan, serta pe
ngem
bangan prasarana dan sarana ber a
d
sarkan program yang disepakati bersama
dalam rangka menyediakan fasilitas yang
memadai dan mendukung sistem dan usa
ha agribisnis, serta mewujudkan tujuan dan
sasaran pengembangan Kawasan Agro
politan.
Mendorong kemitraan dengan seluruh
stakeholder, terutama kemitraan antara
swasta/BUMN dengan petani/kelembagaan
petani.

Pelaksanaan monitoring, evaluasi, pengen

31

Beras organik hasil


olahan petani Ngombol,
Purworejo

Kinerja Dukungan Infrastruktur


Kawasan Agropolitan
Sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun
2002. program pengembangan Kawasan

Agropolitan yang dilaksanakan oleh Direktorat


Pegembangan Permukiman ini mengalami
n
peingatan setiap tahunnya, baik dari segi
n k
ku nitas maupun kualitas. Di awal pelak ana
a t
s
annya, Direktorat Pengembangan Permukiman
telah berhasil mengembangkan 8 Kawasan
Agropolitan baru. Sampai dengan tahun 2011,
sebanyak 292 kawasan telah selesai difasilitasi
sebagai Kawasan Agropolitan. Kawasan yang
difasilitasi secara berlanjut di tahun 2011 ter
catat sebanyak 12 kawasan. Sedangkan, jum
lah Kawasan Agropolitan baru yang difasi
liai di tahun 2011 mencapai 20 kawasan.
t s
Pe
ngembangan Kawasan Agropolitan oleh
Diekorat Pengembangan Permukiman dapat
r t
dilihat pada tabel berikut:

Pencapaian Kawasan Agropolitan 2002-20011



2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011

Tahun
Baru


8 27 18 36 57 47 78 35 6 20

Lanjutan

8 35 52 48 82 75 46 24 12

Selesai

Total

1 41 64 118 225 282 292

8 35 53 89 146 193 271 306 312 324

350

306

300

271

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

250

32

78

146

150
89

100

324
20
12

46

193

200

50

35

312
6
24

35
8
8

27
8

53
18
35

36
52

47

282

75

292

225

57
82
118

48
41

64

2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
Baru

Lanjutan

Selesai

Dari tabel ini terlihat peningkatan jumlah


Kawasan Agropolitan yang dikembangkan. Pa
da awal pelaksanaan di tahun 2002, sebanyak
8 kabupaten telah difasilitasi senilai Rp 5,26
miliar. Jumlah kawasan meningkat menjadi 39
kabupaten di tahun 2003 dengan anggaran se
besar Rp 80 miliar. Kemudian, sebanyak 57 ka
bupaten di tahun 2004 dengan anggaran Rp
80 miliar, 75 kabupaten di tahun 2005 dengan
anggaran Rp 120 miliar, dan 91 kabupaten di
ta un 2006 dengan anggaran sebesar Rp 129
h
miliar.
Program pengembangan Kawasan Agropolitan
yang telah berlangsung selama satu dekade
ini menghadirkan berbagai pengalaman yang
dapat dicermati dan menjadi tantangan da
lam pengembangan Kawasan Agropolitan ber
ikutnya. Misalnya saja, berkembangnya sistem
calo/ijon yang menguasai produk pertanian
se
hingga produk tersebut dijual ke pasar tan a
p
melalui pusat Kawasan Agropolitan. Jika prak
tik ijon dibiarkan, Kawasan Agropolitan yang
terintegrasi dan dapat memberikan nilai tam
bah akan sulit terwujud.
Tingkat produktivitas petani yang cenderung
subsisten dan sulit sangat memengaruhi pe
ngembangan agroindustri. Oleh karena itu,
pa petani perlu mendapatkan pelatihan dan
ra
pe ahaman lebih lanjut sehingga budaya
m
sub
sisten, lambat laun, dapat ditinggalkan.
Tantangan lainnya adalah infrastruktur/fasilitas
yang tersedia tidak memadai, seperti jalan po
ros desa yang rusak atau pasar yang terbatas.

Pengembangan Kawasan Agropolitan Cipanas


juga dilaksa kan sesuai dengan kondisi
na
sumberdaya alam ya. Oleh karena itu, Cipanas
n
berkembang sebagai Kawasan Agropolitan
sekaligus Daerah Tujuan Wisata (DTW) yang
mengandalkan keanekaragaman hayati bidang
pertanian dan ke
indahan alamnya, seperti air
terjun, pe u ungan alami, perkebunan, peter
g n
nakan sapi/kambing, tanaman pangan, dan ta
na an hi s, Dengan demikian, sebagai DTW,
m
a
Cipanas menawarkan beragam wanawisata.
seperti outbound, hortiwalk, camping ground,
kolam re ang dengan air pegunungan alami,
n
belanja sayur organik, dan kebun petik stroberi.
Hal serupa dirasakan oleh masyarakat petani
di Kecamatan Sewukan, Kabupaten Magelang.
Jawa Tengah. Pengembangan Kawasan Agropo
litan di wilayah ini sepanjang Tahun Anggaran
20042008 mencakup pembangunan 1 unit
Staiun Terminal Agribisnis (STA), pembuatan
s
1 unit sarana Komposting, peningkatan jalan
usaha tani sepanjang 520 m, pembangunan
1 unit STA Ngablak, penyempurnaan STA Se
wuk n, peningkatan jalan usaha tani dengan
a
perkerasan sepanjang 1.000 m, peningkatan
SDM dan pemberian modal pertanian, serta
pembangunan jalan poros desa sepanjang
1.200 m.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Manfaat pengembangan kawasan yang men


daatkan pembiayaan melalui APBN, APBD
p
I, dan APBD II tersebut telah dapat dinikmati
masyarakat. Adapun manfaat yang dinikmati
masyarakat adalah terciptanya sistem pema
saran dan perdagangan produksi hasil perta
nian, berkembangnya kemitraan antara
pemerintah, swasta, dan masyarakat, serta me
ningkatnya pendapatan masyarakat.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kendati demikian, keberhasilan pengembangan


Kawasan Agropolitan juga telah dapat dinikmati
masyarakat di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa
Barat. Cipanas merupakan salah satu kawasan
rintisan Agropolitan di Indonesia yang mulai
di
kembangkan sejak tahun 2002. Kawasan ini
dikembangkan dengan keterpaduan berbagai
program dan kegiatan dari kementerian dan

instansi terkait sehingga Cipanas tumbuh men


jadi Kawasan Agropolitan yang memiliki keleng
kapan infrastruktur.

33

34

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Jalan poros Desa Wasiat.


Kecamatan Ngombol. Purworejo

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

35

STA BAGELEN :

Metamorfosa

Pasar Tradisional

menjadi Agribisnis
berwawasan
Global Kosmopolitan
Status :
Kawasan Agropolitan Bagelen.
Kabupaten Purworejo
Keputusan Bupati Purworejo
No. 188.4/13/2007

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Luas :
1.500m2
Terdiri dari 2 shelter. 6 kios
dan 1 gedung kantor pengelola

36

Fungsi:
Sarana Penunjang bagi pemasaran hasil
pertanian di Kawasan Agropolitan Bagelen
yang mencakup Kecamatan Bagelen.
Kaligesing. Purwodadi dan Ngombol

Embun pagi Kawasan


Agropolitan Bagelen,
Kabupaten Purworejo
belum lagi menetes.
Namun beberapa sepeda
onthel dan sepeda motor
sudah melaju cepat
memasuki areal Sub
Terminal Agribisnis (STA)
Bagelen.

sejurus kemudian, puluhan sepeda motor pun


ikut meramaikan STA ini dengan ratusan ayam
kampung dan hasil pertanian seperti kelapa,
petai, pisang hingga beras organik. Panas terik
matahari tak lagi menjadi penghalang transaksi
jual beli ini. Petani dan pedagang melebur
menjadi satu bersama riuhnya suara ayam
jantan yang terus berkokok pagi itu.

Penetapan Kawasan Agropolitan


Bagelen
Kabupaten Purworejo merupakan salah satu
wilayah agraris yang berada di Provinsi Jawa
Tengah. Perekonomian di Kabupaten Purworejo
didominasi oleh sektor pertanian dengan kon
tribusi lebih dari 33% terhadap produk domes
tik regional bruto.

Suasana pagi di STA


Bagelen, Purworejo

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Upaya pembangunan sektor pertanian da


lam arti luas tidak hanya ditekankan pada
pembangunan sektoral saja tetapi juga men
cakup pembangunan kewilayahan. Konsep
dengan pendekatan Kawasan Agropolitan ini
sudah direncanakan oleh Pemerintah Kabu
paten Purworejo dengan menetapkan rencana
induk dan rencana pengembangan jangka
menengah Kawasan Agropolitan.

Kendati mayoritas penduduknya bermata


pen
caharian sebagai petani, dan tanahnya
co untuk pertanian, predikat Kawasan
cok
Agropolitan pun tak langsung disandangnya.
Seperti Kawasan Agropolitan pada umumnya,
penetapan Kawasan Agropolitan Bagelen di
dahului dengan proses identifikasi potensi
dan masalah untuk mengetahui kondisi dan
potensi lokasi (komoditas unggulan), antara
lain: potensi Sumber Daya Alam, Sumber Daya
Manusia, Kelembagaan, Iklim Usaha, kondisi
Prasarana dan Sarana Dasar, dan sebagainya
yang terkait dengan sistem permukiman
nasional. Kemudian, Provinsi Jawa Tengah
dan Kabupaten Purworejo memproses pe
nyusunan master plan pengembangan Kawa
san Agropolitan serta proses sosialisasi
kepada stakeholder yang terkait dengan pe
ngem
bangan program agropolitan baik di
kabupaten maupun di kecamatan. Penetapan
Kawasan Agropolitan Bagelen berdasarkan
Keputusan Bupati Purworejo No. 188.4/13/2007
yang kemudian akan diperundangkan lebih
lanjut dalam peraturan daerah dalam RDTR
Kawasan Agropolitan.

37

Maksimalkan Peran STA dan Internet


untuk Meraih Pasar
Kondisi prasarana dan sarana di Kawasan
Agropolitan Bagelen saat ini masih perlu di
kembangkan untuk memperlancar segala
kegiatan pada setiap sub sistem dalam sistem
agribisnis, terutama proses pemasaran hasil
produksi pertanian.
Pemasaran hasil pertanian merupakan sub
sistem agribisnis yang sangat vital untuk di
kembangkan. STA merupakan sarana penunjang
bagi pe gem angan sektor perekonomian di
n
b
Kawasan Agropolitan Bagelen.
Saat ini Kawasan Agropolitan Bagelen te
lah
memiliki sarana pe aaran berupa bangun
m s
an STA Bagelen di Desa Krendetan yang telah
diresmikan penggunaannya oleh Bupati Purwo
rejo, Drs. H. Mahsun Zain, M.Ag, pada Oktober
2011. Bangunannya berupa 2 shelter, 6 kios dan
1 gedung kantor di atas areal seluas 1.500 m2.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Aktivitas pedagangpembeli di STA


Bagelen sepanjang
hari pasar

38

Tak ada ketentuan khusus bagi petani atau


pedagang yang ingin berjualan di STA Bagelen.
Mereka cukup membayar biaya kebersihan,
Rp 1.000.-/hari. Saat ini setiap hari pasar ada
sekitar 75 orang petani dan pedagang yang
bertransaksi di STA, jelas Suradi.
Ketua Pengelola STA Bagelen
yang juga Kepala Desa
Krendetan. Lebih lanjut
ia menjelaskan bahwa

sebelum dibangun STA, areal ini adalah pasar


kambing dan pasar tra
disional penduduk
sekitar, Jadi memang sudah ada embrionya. Hal
tersebut menghindari tidak berfungsinya STA
yang dibangun, alias mangkrak.
Keberadaan STA Bagelen membantu petai
n
untuk dapat mempromosikan hasil tani mereka
yang berpotensi di Kawasan Agropolitan.
Se
cara umum penjualan sudah ber
jalan
walau
pun terbentur dengan hari pasar yang
hanya dilakukan pada Rabu dan Sabtu. Ini
masalah kebiasaan. Walau demikian kami
sedang mengupayakan agar petani dapat
me aksimalkan keberadaan STA dan meng
m
arahkan mereka agar dapat menggunakan
tek ologi informasi berupa internet untuk pe
n
masarannya, tambah Setiyadi, S.Sos., Camat
Bagelen.
Menjawab kebutuhan masyarakat tersebut, Pe
merintah Kabupaten Purworejo kemudian men
jalin kerjasama dengan Kementerian Komuni
kasi dan Informatika dengan mendatangkan
mobil komuter, yaitu mobil yang dilengkapi 2
unit komputer dengan jaringan internet dan

petugas yang siap membantu. Sesuai dengan


hari pasarnya, mobil ini dapat digunakan petani
untuk mengakses internet setiap Rabu dan
Sabtu. Saat ini penggunaan mobil komuter
masih dalam tahap sosialisasi. Pengelola STA
yang akan membantu petani memanfaatkan
jaring n internet ini, jelas Unang Nur Hidayat,
a
Ke ala Bidang Ekonomi Bappeda Kabupaten
p
Purworejo.
Hal tersebut sejalan dengan visi Kawasan
Agropolitan Bagelen, yakni menjadi
kan
Kawasan Agropolitan Bagelen sebagai daerah
produsen pertanian dalam arti luas, berorientasi
agribisnis, berwawasan global-kosmopolitan
de gan peningkatan kemandirian serta daya
n
saing menuju kesejahteraan.

Daya Beli Meningkat Kuantitas Komoditi


Terbatas
Untuk memaksimalkan keberadaan STA Ba
ge Pemerintah Kabupaten Purworejo
len,
mem
bentuk 4 wilayah agropolitan, yakni Ke
ca
matan Bagelen, Kecamatan Kaligesing, Ke
ca
matan Purwodadi dan Kecamatan Ngom
bol, Kecamatan Ngombol merupakan lahan
persawahan dengan ekosistem pantai; Keca

matan Purwodadi dan Kecamatan Bagelen


merupakan daerah dengan kombinasi usaha
tani persawahan, perladangan serta tambak;
dan Kecamatan Kaligesing merupakan daerah
dengan eksisting produksi ruminansia kecil
kambing ettawa (PE) ras Kaligesing, yang te
lah banyak membantu daerah lain dalam
pe enuhan kebutuhan bakalan (bibit) PE.
m
Keempat kecamatan tersebut dapat mem
bentuk suatu sistem produksi farming dan
akan memiliki kinerja yang bersinergis karena
adanya aspek ekologis yang berbeda dan saling
melengkapi.
Untuk beras organik, Dinas Pertanian men
dampingi dan memberikan penyuluhan pada
petani dengan menanam padi pola SRI (System
Rice Intensification) di areal seluas 200 ha di Ke
camatan Ngombol. Dengan pola tanam ter
sebut, produksi padi kini bisa mencapai 8,7 ton
dari yang sebelumnya hanya 5 ton, jelas Kepala
Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten
Pur orejo, Ir. Dri Sumarno. Namun sayang,
w
lan Dri, untuk komoditas unggulan seperti
jut
keapa, durian ataupun beras organik hasil pa
l
nennya belum dapat memenuhi permintaan
pasar. Karena komoditasnya yang kurang, para
Mobil komuter.
membantu petani untuk
melek internet

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

39

pembeli pun rela menjemput bola langsung ke


rumah petani.

Pembangunan Infrastruktur pendukung


di kawasan hinterland (daerah
penyangga)
Pembangunan Kawasan Agropolitan Bagelen
memang bukan tana perencanaan. Kami
p
sudah mulai menyusun master plan dan RPJMD
Kawasan Agropolitan Bagelen pada tahun
2006. Kemudian tahun 2007, mulai dengan
penetapan kawasan, pembentukan pokja
tingkat kabupaten, pemangunan Jembatan
b
Sembir tahap I yang meng
hubungkan
wilayah agropolitan Kecaatan Purwodadi
m
dengan Kecamatan Ngombol dan Kecamatan
Bagelen dengan Kaligesing, terutama untuk
mempermudah aksesibilitas menuju STA,
jelas Bambang Jati, Kasubid Pro uksi Bappeda
d
Kabupaten Purworejo.
Tahun 2008, lanjut Jati, dengan menggunakan
dana APBD Kabupaten, Jembatan Sembir Tahap
II dilanjutkan. Lalu tahun 2009 pembahasan
Raperda Kawasan Agropolitan Bagelen ditunda
karena menunggu Perda RTRW. Tahun 2010,
pembentukan pokja kecamatan di 4 wilayah
Kawasan Agropolitan Bagelen. Pada tahun

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kesibukan pedagang
masuk keluar STA Bagelen
sepanjang pagi

40

ini pula, Kawasan Agropolitan Bagelen mem


peroleh dana bantuan berupa Specific Grant
program agropolitan dari Provinsi Jawa Tengah
melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang yang
dimanfaatkan untuk pembinaan kelembagaan
dan peningkatan jalan poros Desa KrendetanTlogokotes dan Semawung-Nadri.
Di tahun 2011, Pemerintah Pusat melalui
Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Provinsi Jawa
Te gah memberikan paket pembangunan in
n
frastruktur perdesaan antara lain pembangunan
STA Bagelen, peningkatan jalan poros Desa
Guyangan-Bongkot, jalan poros Desa Wasit,
a
jalan poros Desa Wonosari-Kedondong, jalan
poros Desa Tlogohulu-Somowono, dan jalan
poros Desa Kalirejo-Sokoagung, jelas Faiq
Anung Nindito, ST., MM., Satker Pengembangan
Permukiman Perdesaan Provinsi Jawa Tengah.
Aksesibilitas jalan poros desa yang semakin
baik serta keberadaan Sub Terminal Agribisnis
yang ramai memiliki andil besar dalam
menggairahkan ekonomi Kawasan Agropolitan.
Dimana potensi daerah tersebut dapat dengan
mudah dipasarkan. Sehingga para petani
mempunyai harapan baru dalam menata masa
depannya.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Saluran irigasi di Desa Wasiat,


Kecamatan Ngombol, Purworejo

41

Melirik Potensi
Gula Kelapa
di Bagelen

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Rambutnya hampir putih


menyeluruh. Giginya pun
tak lagi lengkap. Hanya
sedikit warna merah bata
sisa kunyahan sirih yang
tampak mencolok dilapisan
bibirnya. Namun tangan
keriput Mbah Minah (70
tahun) masih cekatan
mengaduk adonan gula
kelapa yang setiap hari
dibuatnya, aktivitas rutin
yang telah ia geluti sejak
usianya 10 tahun.

42

ber elang, ia mengangkat singkong rebus dari


s
salah satu panci hitam dan menyuguhkannya
didalam piring, lengkap dengan gula kelapa
yang telah dibuatnya. Dengan bahasa
Jawanya yang kental, ia mempersilakan
kami mencicipi penganan tradisional
yang istimewa ini. Gula kelapa
yang kami buat murni tanpa
bahan
cam
puran
apapun.
Untuk pewarnanya, kami meng
gunakan kulit manggis, makanya
warna yang dihasilkan tidak
segelap gula kelapa yang pakai
pewarna buatan, tutur Juminah
(34 tahun), putri pertama Mbok Minah
yang ikut mem antu produksi gula kelapa.
b
MENJADI pengrajin gula kelapa bukanlah pro
fesi pilihan. Tempat tinggalnya berada di le
reng bukit dengan pohon kelapa dan pohon
jati sebagai tanaman utamanya. Keterbatasan
inratruktur membuat Mbah Minah dan pen
f s
duduk desa lainnya berusaha mencari cara un
tuk mempertahankan hidup. Menjadi peng ajin
r
gula kelapa adalah salah satunya.

Sejak tahun 2011, jalan ruas desa yang meng


hubungkan antara Desa Kalirejo dan Desa
So agung memang sudah berlapis aspal.
ko

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Hmmm ... aroma gurihnya adonan gula kelapa


Mbah Minah menyergap masuk ke setiap hi
dung orang-orang di sekelilingnya. Tak lama

Jalan aspal yang mendongkrak harga


tanah

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Mbah Minah, hanyalah salah satu warga Dea


s
Sokoagung, Kecamatan Bagelen, yang mem
buat gula kelapa sebagai olahan hasil per anian
t
kelapa yang menjadi salah satu ko oditas
m
unggulan Kawasan Agropolitan Ba elen, Kabu
g
paten Purworejo. Alat yang digu akannya ter
n
bilang sangat sederhana, ruas bambu sebagai
cetakan, wajan hitam dengan 2 tungku kayu
yang terus menyala dan kulit manggis sebagai
pe arna alami ya. Hampir tak ada peralatan
w
n
moderen yang ditemukan. Sesekali cahaya
matahari me erobos masuk ke dalam dapur
n
melalui ceah atap rumahnya yang bolong di
l
sana-sini.

Rumah yang terbuat dari kayu dan beralaskan


tanah itu memiliki jarak yang cukup jauh dari
pusat kegiatan jual beli. Dimasa mudanya, ia
habiskan waktu berjalan kaki dengan kondisi
jalan tanah yang licin untuk menjual gula kela
pa produksinya ke pasar tradisional. Tapi seka
rang sudah enak, jalan ke pasar sudah bagus,
tuturnya dalam bahasa jawa sambil tersenyum.
Kendati kini yang berangkat ke pasar adalah
anak-anaknya, Mbah Minah turut senang de
ngan adanya pembangunan jalan ini. Setelah
akses jalan ruas Desa Kalirejo terbuka, para
pembeli pun banyak yang datang langsung ke
rumahnya. Maklum, harga jual gula kelapa ini
memang akan lebih rendah bila kita langsung
membelinya di rumah penjual. Saat ini Mbah
Minah menjual gula kelapa dengan harga Rp
11.000.-/kg. Penghasilan yang didapat ya ndak
tentu. kalau sedang banyak nira yang di dapat
ya kita bisa buat gula kelapanya lebih ba yak,
n
jelas Mbah Minah tersipu.

43

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Jalan poros
Desa Sokoagung,
Bagelen,
Purworejo

44

Jalan sepanjang 2.100 m dengan lebar 3 m ini


membawa dampak positif bagi perekonomian
penduduk setempat yang maoritas adalah
y
petani dan pembuat gula ke
lapa. Menurut
Elizabeth Reni Suzana, Kepala Desa Sokoagung.
proses pembangunan jalan ini memang sangat
diharapkan oleh penuuk desa. Sehingga
d d
dalam pelaksanaan pembangunannya, tidak
ada kendala terhadap pembebasan lahan.
Bahkan mereka dengan senang hati membantu.
Penduduk hanya ingin akses jalan ke daerah

mereka lebih baik dan dapat dilalui dengan


kendaraan bermotor, jelas Reni.
Hal senada juga diungkapkan Hartoso, Ang
gota DPRD Kabupaten Purworejo yang juga
penduduk Desa Sokoagung. Sejak jalan ruas
desa terbangun, angkutan umum bisa masuk
ke desa kami. Karena akses jalan yang baik, oto
matis harga jual tanah terus melambung. Un uk
t
luas tanah 80m2 saja. sekarang tak lagi dapat
dibeli dengan harga Rp 10 juta. Hingga kini

masih banyak jalan poros desa di Kecamatan


Bagelen yang perlu dibangun dan ditingkatkan
kua
litasnya. Karena kondisi jalan yang tidak
me
madai, dari Desa Sokoagung menuju Desa
Semono harus melalui jalan memutar, padahal
letak kedua desa ini berdampingan.

Kehadiran jalan aspal nan mulus memang ma


sih menjadi barang mewah bagi sebagian pen
duduk Kecamatan Bagelen dan sekitarnya.
Ter asuk Heru (55 tahun), pengrajin gula se
m
mut (brown sugar) yang hingga kini masih
melewati jalan tanah yang licin sepanjang 4 km
sebelum bisa menggulirkan roda motornya di
jalan beraspal. Warga Desa Semono ini sangat
menginginkan jalan pintas dari desanya menuju
Desa Sokoagung dan Desa Kalirejo segera di
ba
ngun. Saya mengalami kesulitan untuk
mem
bawa hasil gula semut ini ke STA. Padahal
per intaan pasar semakin banyak, kata Heru
m
penuh harap. Padahal gula semut yang dijual
dengan harga Rp 14.000.- per kilogram sudah
mulai diekspor melalui sebuah perusahaan per
dagangan hingga ke Jepang. Tiap minggu, ia
dan keluarganya bisa menghasilkan 4 kuintal
gula semut.

Jalan poros Desa


SemonoSokoagung
yang belum tersentuh
aspal

Menurut Hartoso, sebagai daerah penyangga


Kawasan Agropolitan Bagelen, akses jalan ruas
desa harus segera dibenahi agar para petani
dapat dengan mudah menjual hasil produksi
taninya.

Heru dan Istri. pengrajin


gula semut

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

45

Dengan adanya STA Bagelen ini,


sangat membantu petani kami untuk
mempromosikan hasil tani mereka yang
berpotensi di kawasan Agropolitan. Saat ini
kami juga sedang mengarahkan petani agar
dapat menggunakan teknologi informasi
(internet) untuk pemasarannya.

Setiyadi. S.Sos
Camat Bagelen
Purworejo

Judi Indradjaja
PPK P2S Agropolitan
Ditjen Cipta Karya
Kem. Pekerjaan
Umum

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonisan

Kawasan Agropolitan Bagelen


sangat potensial untuk dikem ang
b
kan sebagai kawasan agribisnis. Kami
dari Dinas Pertanian dan Kehutanan
melakukan penyuluhan kepada petani
agar kualitas tanam mereka semikin
baik, dan sesuai dengan mutu
yang kita harapkan.

46

Marsini
Petani/Pedagang/
Pengepul Kelapa

Pemerintah melalui Kementerian


Pekerjaan
Umum
berupaya
mengembangkan potensi lokal dengan
cara memfasilitasi Kawasan Agropolitan
dan Minapolitan berupa penyediaan
infrastruktur perdesaan dasar bidang
permukiman. Dukungan ini diharapkan,
dapat mendorong perkembangan dan
kelangsungan sektor pertanian.

Ir. Dri Sumarno


Kepala Dinas Pertanian
dan Kehutanan
Kab. Purworejo

Saya mulai berdagang dari kelas 6 SD.


Sekarang saya punya 100 pohon kelapa
lebih. Harga jual kelapanya Rp 1.000/butir.
Saya jual di STA dan di rumah. Dulu susah
sekali mau jualnya, jalannya jelek. Sekarang
jalan disekitar tempat tinggal saya sudah lebih
baik apalagi sekarang ada STA, selain jual
kelapa, saya juga bisa jual beras.

DI BALIK CAKRAWALA
BIRU INDONESIA

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonisan

47

Di Balik
Cakrawala Biru
Indonesia
Konsep kawasan :
Minapolitan
Kawasan Minapolitan
TA 2005-2011 :
29 provinsi
48 kawasan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Jenis Pengembangan :
Budidaya ikan air tawar
Ikan hasil tangkap

48

Dukungan Infrastruktur :
Peningkatan jalan poros desa, jalan usaha tani,
pembangunan talud, packing house, cold
storage, peningkatan tambatan perahu

Hamparan laut nan biru


mewarnai lukisan alam
Indonesia yang terlihat
begitu serasi dengan
birunya langit dan hijaunya
daratan negeri ini. Dengan
luas perairan tiga kali dari
luas keseluruhan, pantaslah
jika Indonesia dinobatkan
sebagai Negara Kepulauan/
Maritim Terbesar di dunia
dengan gugusan pulau
besar dan kecil yang
jumlahnya mencapai
17.508 pulau.

Sebutan negara kepulauan, sebenarnya, me


ru akan arti dari nama Indonesia itu sendiri,
p
yang sudah digunakan jauh sebelum Indonesia
menjadi negara berdaulat, Indonesia berasal
dari kata indus (bahasa Latin) yang berarti
Hindia dan nesos (bahasa Yunani) yang berarti
pulau. Dengan demikian, Indonesia berarti
kepulauan yang berada di Hindia.

2003).

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

(Sumber: United Nations Environment ProgramUNEP.

Sementara, badan pangan dan pertanian


sedunia (Food and Agriculture Organization
FAO) menyebutkan Indonesia sebagai produsen
ikan terbesar di dunia. Hal ini berdasarkan
data di tahun 2006 yang menunjukkan bobot
produksi ikan Indonesia mencapai 87,1 juta ton.
Hasil tangkapan laut Indonesia mencapai 52%

Kawasan Minapolitan
Mina Asri, Desa
Tanjungsari,
Kabupaten Boyolali

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Wilayah Indonesia yang terbentang di antara


Samudera Indonesia dan Samudera Pasifik
memiliki luas keseluruhan sebesar 7,9 juta km2.
Dengan luas daratan hanya sebesar 22% saja
atau 1,8 juta km2. Sedangkan. luas perairannya
mencapai 77% dari luas keseluruhan atau 6,1
juta km2. Luas perairan tersebut terbagi atas laut
teritorial seluas 3,2 juta km2 (terluas di dunia)
dan perairan Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE)
sebesar 2,9 juta km2 (terluas ke-12 di dunia).

Dengan kondisi geografis seperti disebutkan


di atas, Indonesia memiliki potensi ekonomi
kelautan yang sangat besar. Berdasarkan
prakiraan para pakar dan lembaga terkait di
tahun 2009 terhadap nilai ekonomi potensi dan
kekayaan laut Indonesia, hasilnya mencapai
149,94 miliar dolar AS atau sekitar Rp 14,994
triliun. Nilai tersebut meliputi perikanan senilai
31,94 miliar dolar AS, wilayah pesisir lestari
65 miliar dolar AS, bioteknologi laut 40 miliar
dolar AS, wisata bahari 2 miliar dolar AS, minyak
bumi 6,64 miliar dolar AS, dan transportasi laut
sebesar 20 miliar dolar AS.

49

dari hasil keseluruhan tangkapan laut dunia.


Selain potensi kekayaan laut, perairan Indonesia
juga memiliki andil besar dalam perdagangan
dunia. Lebih dari 80% perdagangan dunia de
ngan nilai lebih dari 500 miliar dolar AS (tahun
2006) berlangsung melalui laut. Oleh karena
itu, keberadaan negara-negara maritim, seperti
Indonesia, memiliki pengaruh besar dalam per
dagangan dunia.
Potensi besar dari perairan Indonesia dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan per
eko
nomian dari sektor kelautan. Namun, pe
ngembangan sektor kelautan ini masih belum
menjadi prioritas dan mendapatkan perhatian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kawasan Minapolitan
Kojadoi. Kabupaten
Sikka. NTT

50

sepenuhnya dari para pemegang kebijakan.


Akibatnya, potensi kelautan Indonesia belum
diolah secara maksimal sehingga sektor kelaut
an belum mampu meningkatkan perekonomian
secara signifikan. Hal ini berujung pada belum
tercapainya kesejahteraan masyarakat di wila
yah pesisir, khususnya para nelayan.
Hal tersebut tampak dari sejumlah data yang
dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Per
ikanan dalam Pedoman Umum Minapolitan
2011. Dimana, luas lautan Indonesia yang jum
lahnya mencapai 2/3 dari luas keseluruhan
hanya memberikan Product Domestic Bruto
(PDB) perikanan sebesar 3,2%. Potensi budidaya

laut yang dimiliki negeri ini seluas 8.363.501


ha, tetapi yang terealisasi baru seluas 74.543
ha. Begitu pula dengan potensi tambak seluas
1.224.076 ha, baru dapat terwujud seluas
612.530 ha.
Disamping itu, potensi sumberdaya perikanan
tangkap negeri ini sebesar 6,4 juta ton per
tahun, tetapi masih banyak nelayan yang
hidup dalam kemiskinan. Lebih dari separuh
(50%) dari jumlah nelayan di negeri ini, yaitu
2.755.794 orang (nelayan laut dan perairan
umum), masih berstatus sambilan utama dan
sambilan tambahan. Sementara itu, jumlah
nelayan terus mengalami peningkatan, seperti

di tahun 2006-2007 terjadi peningkatan jumlah


nelayan sebesar 2,06%. Namun, peningkatan
berbanding terbalik dengan jumlah ikan di per
airan negeri ini yang kian langka.
Kondisi ini melatarbelakangi upaya-upaya un
tuk mengembangkan wilayah perairan/pe
si dengan sektor kelautan dan perikanan
sir
sebagai kegiatan utama demi meningkatnya
kesejahteraan dan taraf hidup masyarakat,
ter tama para nelayan. Untuk itu, diperlukan
u
perubahan cara berpikir dan orientasi pem
bangunan dari daratan ke maritim dengan
konsep pembangunan berkelanjutan dan ge
rakan yang mendasar dan cepat. Perubahan
ini disebut dengan Revolusi Biru. Revolusi
Biru pun diimplementasikan melalui sistem
pembangunan sektor kelautan dan perikanan
berbasis wilayah yang menggunakan konsep
Minapolitan.

Menurut UU Penataan Ruang No. 26/2007,


Kawasan Minapolitan merupakan turunan dari
Kawasan Agropolitan, yaitu kawasan yang terdiri

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Minapolitan

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Pengembangan Kawasan Minapolitan merupa


kan alternatif solusi pembangunan wilayah per
desaan, dalam hal ini adalah kawasan perairan/
pesisir (tangkap) dan kawasan budidaya
(kolam). Kegiatannya difokuskan pada sistem
dan usaha perikanan (minabisnis) sehingga
mam u mendorong kegiatan perikanan di wi
p
layah sekitarnya. Pengembangan Kawasan
Minapolitan turut diwujudkan oleh Direktorat
Pengembangan Permukiman, Ditjen Cipta
Karya, Kementerian Pekerjaan Umum di
sejumlah wilayah di Indonesia. Dengan
pengembangan
Kawasan
Minapolitan
diharapkan dapat mewujudkan pembangunan
berkelanjutan melalui peningkatan produksi
perikanan tangkap maupun budidaya sehingga
mampu mening
katkan pendapatan dan
kesejahteraan masya akatnya.
r

51

Petani sedang memberi


makan di kolam
budidaya ikan lele

atas satu atau lebih pusat kegiatan pada wilayah


perdesaan sebagai sistem produksi perikanan
dan pengelolaan sumberdaya alam tertentu
yang ditunjukkan oleh adanya keterkaitan
fung
sional dan hirarki keruangan satuan sis
tem permukiman dan sistem minabisnis. Sama
halnya dengan Agropolitan, konsep Mina o
p
litan juga dicetuskan Friedman dan Douglas
(1985) sebagai aktivitas pembangunan yang
teronsentrasi di wilayah perdesaan beren
k
p
duduk antara 50.000150.000 jiwa.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Berdasarkan asal katanya, Minapolitan adalah


gabungan dua kata, yaitu mina yang berarti
ikan dan polis/politan yang berarti kota.
Dengan demikian, Minapolitan diartikan seba
gai kota perikanan. Konsep minapolitan pun
diuraikan sebagai kota perikanan berbasis
pada pembangunan ekonomi kelautan dan
perikanan wilayah melalui pendekatan dan
sistem manajemen kawasan yang terintegrasi,
efisien, berkualitas, dan berakselerasi tinggi.

52

Sedangkan, Kawasan Minapolitan adalah suatu


bagian wilayah yang mempunyai fungsi utama
ekonomi yang terdiri dari sentra produksi,
pengolahan, pemasaran komoditas perikanan,
pelayanan jasa, dan/atau kegiatan pendukung
lainnya.
Secara konseptual, Minapolitan memiliki 2
unsur utama, yakni Minapolitan sebagai kon
sep pembangunan sektor kelautan dan per
ikanan berbasis wilayah serta Minapolitan

sebagai kawasan ekonomi unggulan dengan


produk kelautan dan perikanan sebagai ko
moitas utamanya. Konsep Minapolitan da
d
lam pembangunan sektor kelautan dan per
ikanan ini berlandaskan pada 3 asas, yakni
demokratisasi ekonomi kelautan dan perikanan
prorakyat; keberpihakan pemerintah pada rak
yat kecil melalui pemberdayaan rakyat kecil;
serta penguatan peranan ekonomi daerah de
ngan prinsip: daerah kuat, maka bangsa dan
negara pun kuat.
Kawasan Minapolitan begitu khas dengan ma
yoritas masyarakatnya yang mendapatkan
peng silan dari kegiatan minabisnis. Kegiatan
ha
minabisnis merupakan kegiatan penangangan
komoditas secara komprehensif, mulai dari hu
lu sampai hilir, seperti pengadaan, produksi,
pengolahan, hingga pemasaran.
Kegiatan minabisnis dicirikan dengan keber
adaan sentra-sentra produksi dan pemasaran
berbasis perikanan yang sangat memengaruhi
perekonomian di sekitar kawasan. Disamping
itu, karakteristik minapolitan tampak dari ke
anekaragaman kegiatanekonomi, produksi,
per
dagangan, jasa, pelayanan, kesehatan, dan
sosialyang saling terkait. Sebagai pendukung
kegiatan, Kawasan Minapolitan juga telah me
miliki sarana dan prasarana yang memadai.
layaknya sebuah kota.
Kawasan Minapolitan sangat penting untuk
dikembangkan di Indonesia. Hal ini disebabkan
oleh tersedianya lahan perikanan dan tenaga
kerja yang murah, masyarakat pembudidaya
perikanan telah memiliki kemampuan dan
pengetahuan, telah terbentuk jaringan antara
sektor hulu dan hilir, serta kesiapan institusi.
Adapun tujuan dari pengembangan Kawasan
Minapolitan sebagai konsep dari Revolusi Biru
adalah:
Meningkatkan produksi, produktivitas, serta
kualitas dari komoditas kelautan, perikanan

budidaya dan produk olahannya.


Mengembangkan sistem minabisnis.
Mengembangkan pusat pertumbuhan eko
nomi di Kawasan Minapolitan.
Meningkatkan pendapatan dan kesejahtera
an masyarakat secara adil dan merata, khu
susnya para nelayan, pembudidaya ikan, dan
pengolah ikan.
Untuk dapat mewujudkan tujuan tersebut, di
susunlah strategi utama pembangunan sektor
kelautan dan perikanan melalui Minapolitan.
Strategi tersebut mencakup penguatan lem
baga dan sumber daya manusia secara terin
tegrasi, pengelolaan sumber daya kelautan dan
perikanan secara berkelanjutan, peningkatan
produktivitas dan daya saing berbasis
pengetahuan, serta perluasan akses pasar
domestik dan internasional. Sebagai upaya
percepatan, strategi utama direalisasikan
melalui langkah-langkah strategis berikut:
a. Kampanye Nasional melalui media massa, ko
munikasi antarlembaga, ataupun pameran.
b.
Menggerakkan produksi, pengolahan, dan/
atau pemasaran di sentra produksi unggulan
pro-usaha kecil, di bidang perikanan tangkap,
perikanan budidaya, serta pengolahan dan

pemasaran.
c. Mengintegrasikan sentra produksi peng lah
o
an, dan/atau pemasaran menjadi kawasan
ekonomi unggulan daerah menjadi Kawasan
Minapolitan.
d.
Pendampingan usaha dan bantuan teknis
di sentra produksi, pengolahan, dan/atau
pemasaran unggulan berupa penyuluhan,
pelatihan, dan bantuan teknis.
e.
Pengembangan sistem ekonomi kelautan
dan perikanan berbasis wilayah.
Pengembangan Kawasan Minapolitan yang
se
penuhnya memanfaatkan potensi lokal
ini sa
ngat mendukung perlindungan dan
pengem
bangan
terhadap
budaya-sosial
lokal. Dengan demikian, pengembangannya
telah sesuai de
ngan Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional (RTRWN) yang mendukung
pengembangan kawasan an alan. Oleh karena
d
itu, pengembangan Kawasan Minapolitan
tidak bisa terlepas dari pengembangan sistem
pusat kegiatan di tingkat nasional, provinsi, dan
kabupaten. Kawasan ini pun memiliki batasan
yang hanya ditentukan oleh skala ekonomi
(economic of scale).
Pembatasan aktivitas
tertentu di kawasan
minapolitan Mina Asri,
Desa Tanjungsari,
Kabupaten Boyolali

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

53

Mekanisme Pengembangan Kawasan


Minapolitan
Untuk dapat dikembangkan menjadi Kawasan
Minapolitan, suatu wilayahdalam hal ini sistem
kewilayahan kabupaten, harus memenuhi be
be
rapa persyaratan yang akan menjadi per
timbangan berdasarkan aspek strategis dari
unsur makro pembentuk Kawasan Minapolitan.
Salah satunya memiliki komoditas unggulan di
bidang kelautan dan perikanan dengan nilai
ekonomi tinggi yang akan dikembangkan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Komoditas unggulan merupakan komoditas


andalan yang paling menguntungkan untuk
dikembangkan karena memiliki prospek pe
ngemangan tinggi di masa depan, keber
b
adaannya melimpah, dan dapat meningkatkan
penghasilan/kesejahteraan masyarakatnya. Po
la pengembangan yang terpadu akan mening
katkan efisiensi dan optimalisasi pemanfaatan
sumber daya sehingga mampu meningkatkan
produksi sekaligus pendapatan masyarakat.

54

Selain memiliki komoditas unggulan di bidang


kelautan dan perikanan, Kawasan Minapolitan
hendaknya telah memiliki sistem mata rantai
produksi (huluhilir), kelayakan daerah, du
kung infrastruktur yang memadaiseperti
an
transportasi, jaringan listrik, dan air bersih, serta
dukungan berbagai fasilitas minabisnisseperti
pasar, balai benih ikan, lembaga keuangan, dan
kelompok budidaya. Sumber daya manusia yang
cukup dan mampu menggerakkan kegiatan di
dalam kawasan juga sangat dibutuhkan bagi
perkembangan Kawasan Minapolitan. Dengan
didukung komitmen kuat dari pemerintah
da
erah, Kawasan Minapolitan yang serasi, se
imang, dan terintegrasi pun akan segera
b
terwujud.
Sebagai sebuah kawasan ekonomi potensial
unggulan, Kawasan Minapolitan memiliki karak
teristik tersendiri, yaitu:
a. Memiliki sentra produksi, pengolahan, dan/

atau pemasaran dan kegiatan usaha lainnya,


seperti jasa pelayanan dan perdagangan.
b. Memiliki sarana dan prasarana sebagai pen
dukung aktivitas ekonomi.
c.
Menampung dan mempekerjakan sumber
daya manusia di dalam Kawasan Minapolitan
dan daerah sekitarnya.
d. Mempunyai dampak positif terhadap pereko
nomian di daerah sekitarnya.
Seperti halnya kawasan Agropolitan, pengem
bangan Kawasan Minapolitan harus melalui
mekanisme pengajuan usulan terlebih dahulu.
Dalam mekanisme tersebut, diuraikan prosedur
tentang pengajuan lokasi Kawasan Minapolitan
yang meliputi kegiatan-kegiatan berikut ini:
1.
Usulan dari Kabupaten oleh Pemerintah
Provinsi. Pemerintah Kabupaten mengajukan
usulan mengenai Kawasan Minapolitan. Se
belumnya, Pemerintah Kabupaten telah me
lakukan identifikasi potensi dan masalah
terlebih dahulu. Identifikasi dimaksudkan
untuk mengetahui kondisi dan potensi lokal,
yaitu komoditas unggulan. Lokasi Kawasan
Minapolitan yang berada di dalam kawasan
kabupaten ditetapkan oleh Bupati/Walikota.
2. Pemerintah Pusat menilai kesiapan lokasi un
tuk dapat dikembangkan sebagai Kawasan
Minapolitan. Penilaian dilakukan berdasarkan
kelengkapan persyaratan administrasi, be
rupa dokumen perencanaan yang terdiri
dari SK lokasi, SK pokja, Masterplan, RPIJM,
dab DED, serta potensi lokasi kawasan yang
diusulkan.
3.
Pengembangan Kawasan Minapolitan yang
di kan dapat dipenuhi jika telah meme
usul
nuhi kondisi berikut:
Apabila kelengkapan administrasi dan
po
tensi kawasan yang diusulkan telah
memenuhi persyaratan dalam butir
nomor 2.
Apabila kelengkapan administrasi belum
terpenuhi semua, tetapi kawasan yang
diusulkan memiliki potensi yang baik.

dilihat dari profil kawasan tersebut.


Kawasan ini akan diberi kesempatan untuk
melengkapi kekurangan persyaratan
administrasi dalam waktu 1 tahun. Apabila
dalam kurun waktu 1 tahun belum
terlengkapi, dana bantuan pembangunan
pada tahun berikutnya akan dihentikan
untuk sementara.
Setelah adanya pengajuan tentang usulan lokasi
Kawasan Minapolitan yang akan dikembangkan,
dilaksanakan penilaian/pemilihan kawasan
dengan mempertimbangkan beberapa hal di
bawah ini:
Program-program pengembangan kawas
an dari departemen/badan yang memili i
k
keterkaitan lingkup kegiatan (tupoksi) de
ngan pengembangan kawasan berbasis
minabisnis.
Komoditas unggulan sebagai pemicu un
tuk tumbuh kembangnya kehidupan dan
penghidupan dari sektor-sektor komoditi
ikutan lainnya.

Potensi kabupaten yang akan dikembang


kan menjadi Kawasan Minapolitan. Potensi
kabupaten merupakan faktor pendukung
berkembangnya Kawasan Minapolitan.
Kawasan Minapolitan tidak ditentukan
oleh batasan administrasi pemerintahan.
Namun, prosedur penetapannya dimulai
dari penetapan kabupaten terpilih dan
basis analisa data berdasarkan batas ad
ministrasi. Oleh karena itu, proses pe i
n
laian Kawasan Minapolitan diawali de
ngan proses penilaian Kabupaten yang
berpotensi untuk mendapatkan kawasan
terpilih.
Kawasan Minapolitan merupakan satu
kesatuan kawasan perdesaan yang ter
diri dari desa pusat dan desa-desa hinter
land-nya yang diindikasikan oleh adanya
hubungan fungsional antara kegiatan di
desa pusat dan di desa hinterlandnya.
Kawasan Minapolitan yang diusulkan su
dah menetapkan struktur hirarki kawasan.
Memiliki sistim kelembagaan dan sistem

Mekanisme Penyelenggaraan Minapolitan

(Master Plan/
RPIJM/DED)

DM
.S
mb

Pus

Pe

ge

at/P
Kab rovin
/Ko si/
ta

Monitoring
dan Evaluasi

Pengembangan
Kawasan

MoU antara Menteri PU dan Menteri KP Nomor


06/MEN-KP/KB/VI/2010
PKS Dirjen Cipta Karya Nomor
PR.0103-DC/PKS/16/2010

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

SK Menteri Kelautan dan Perikanan


Nomor 41/MEN/2009
Nomor 32/MEN/2010
Nomor 39/MEN/2011

Minapolitan
Mandiri

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

ktu

tru

ras

Keterangan :

Ma
y sy
Pe ang arak
md di at
a S fasi Ta
ete litas ni
mp i
at

Inf

od
ala
n

Perencanaan

Pe
rm

Sosialisasi

(Pokja Agropolitan)

an

Identifikasi
Usulan Lokasi
dari Bupati /
Gubernur
SK lokasi
oleh Menteri
Kelautan dan
Perikanan
MoU

Pemda
Kab/Kota

aga

Pusat/Provinsi/
Kab/Kota

emb

Kel

Program
Minapolitan

55

Abon Ikan Patin yang


mengandung OMEGA 3&6
serta kaya protein

pengelolaan yang mendukung berkem


bangnya Kawasan Minapolitan.
Komitmen yang kuat dari pemerintah
daerah dengan diterbitkannya SK pene
tapan kawasan dari Bupati atau dana
sharing dari pemerintah daerah setempat
Persyaratan pengembangan Kawasan
Minapolitan sebagai kriteria untuk meng
identifikasi Kawasan Minapolitan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Dukungan Infrastruktur Kawasan


Minapolitan

56

Sistem infrastruktur yang tersedia menjadi


salah satu kunci keberhasilan pengembangan
Kawasan Minapolitan. Infrastruktur tersebut
membentuk struktur ruang, seperti jaringan
jaan, sumber air, jaringan listrik, dan jaringan
l
telekomunikasi yang bermanfaat bagi pe ing
n
katan produktivitas hasil perikanan, pengolahan
hasil perikanan, dan pemasaran hasil perikanan.
Peningkatan Produktivitas Hasil Perikanan

Infrastruktur yang sangat memadai
seperti peningkatan jalan poros desa,
jalan usaha tani dan pembangunan talud
yang dibangun Kementerian Pekerjaan
umum sangat menuung upaya-upaya
d k
peningkatan pro ukivitas hasil perikanan
d t
sehingga hasilnya ber
daya saing dan

diminati pasar.
Pengolahan Hasil Perikanan
Adanya upaya untuk mendapatkan nilai
tam ah dari hasil perikanan. Jika semula
b
hasil pertanian hanya diperoleh dalam
bentuk produk primer, kini, mampu meng
hasilkan produk olahan. Dalam upaya ini,
packing house dan tempat penjemuran
me upakan infrastruktur yang mendukung
r
proses pengolahan.
Pemasaran Hasil Perikanan
Infrastruktur yang tersedia sangat menun
jang upaya pemasaran hasil perikanan,
yang dapat memperpendek mata rantai
tata niaga perdagangan, mulai dari sentra
produksi sampai ke sentra pemasaran
akhir. Misalnya saja, tambatan perahu dan
Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
Disamping dukungan infrastruktur, keberha
silan pelaksanaan pengembangan Kawasan
Minapolitan juga didukung oleh kelem agaan
b
yang kuat di Kabupaten/Kota. Kelembagaan
Minapolitan ini dibentuk oleh Bupati/Walikota
yang ber
tujuan mengintegrasikan kegiatankegiatan sek
toral di daerah. Ruang lingkup
kegiatan dari kelembagaan Minapolitan men
cakup perencanaan, pelaksanaan, monitoring,
dan pelaporan.
Kelembagaan Minapolitan juga dibentuk di
ting at Provinsi yang memiliki fungsi koordina i
k
s
sebagai fasilitasi hubungan antara Kabupaten/
Kota dan antara daerah dengan Pusat. Keem
l
bagaan yang dibentuk oleh Gubernur ini beru
pa Kelompok Kerja (Pokja). Sementara, untuk
mengintegrasikan seluruh kegiatan antarunit
kerja teknis dengan instansi sektoral terkait,
dibentuklah Tim Koordinasi Minapolitan yang
tugas pokok dan fungsinya bersifat koordinatif.

Kinerja Dukungan Infrastruktur


Kawasan Minapolitan
Pengembangan Kawasan Minapolitan oleh Di

rektorat Pengembangan Permukiman telah


ber
langsung sejak tahun 2005 dengan hanya
mem asilitasi 1 kawasan. Di tahun 2006, dikem
f
bangkan kembali sebuah kawasan lain seiring
dengan pembangunan lanjutan dari tahun
se elumnya. Sampai dengan tahun 2011, ter
b
da at 48 Kawasan Minapolitan dengan 10 ka
p
wasan yang telah selesai difasilitasi. Di tahun
2011, sebanyak 18 kawasan baru juga telah
dikembangkan menjadi Kawasan Minapolitan.
Kinerja pengembangan Kawasan Minapolitan
sejak tahun 20052011 terurai dalam tabel dan
grafik berikut ini:

Kerupuk olahan
ikan Patin

Pencapaian Kawasan Minapolitan 2005-20011


Tahun


2005 2006 2007
2008 2009
2010 2011

Baru


1 1 3
20
5
18

Lanjutan


1 2 2 2
21
20

Selesai


3
4
10

Total

1 2 2 5
25
30
48

48

50
45
40

18

35

30

30

25

25

15

20

10
1

2
1
1

2
2

21

2
3

5
3
2

10

2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011


Baru

Lanjutan

Selesai

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

20

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

20

57

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

58

Kawasan Minapolitan Mina Asri,


Desa Tanjungsari,
Kabupaten Boyolali

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

59

Kawasan Minapolitan MUARO JAMBI:

Sumber penghasilan
sekaligus investasi yang
menggiurkan
Status :
Kawasan Minapolitan Muaro Jambi
Luas :
2.500m2
Terdiri dari 12 kolam ikan budidaya

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Potensi Unggulan :
Budidaya ikan patin

60

Hasil Olahan :
Kerupuk kulit dan abon ikan patin

Bila Jakarta, kota


kosmopolitan yang
serba gemerlap mampu
menyihir jutaan rakyat
Indonesia untuk mengadu
peruntungan nasibnya
disana, tidak demikian
halnya dengan Timan
(54 tahun). Dengan
segenap harapan, Timan
mengarahkan nasib
hidupnya di Kabupaten
Muaro Jambi, Provinsi
Jambi.

KABUPATEN Muaro Jambi merupakan kabu


paten hasil pemekaran dari Kabupaten Batang
Hari yang dibentuk berdasarkan Undang-un
dang Nomor 54 tahun 1999 dengan pusat pe
merintahan di Sengeti, Kecamatan Sekernan
yang berjarak sekitar 38 Km dari Kota Jambi.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Puluhan tahun silam, Timan mulai mengadu


nasib di ranah Jambi. Bukan sebagai trans
migran yang pada waktu itu sedang digalakkan

Tahun 2004, Timan dan warga sekitar menyulap


ladang pangan seluas 2.500 m2, menjadi 12
ko
lam budidaya ikan patin. Kenapa ikan pa
tin? Karena hanya ikan patin yang mampu
hidup di air yang tidak mengalir, daerah kami
adalah rawa dimana airnya tidak mengalir se
perti sungai, jelas Timan. Melalui tangan di gin
n
Timan, Budidaya ikan patin memperoleh hasil
panen perdana yang menggembirakan. Ke
mu ian lahirlah Kelompok Pembudidaya Ikan
d

Jalan di kawasan
Minapolitan Desa
Pudak. Kumpeh Ulu.
Muaro Jambi

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Secara geografis, Kabupaten Muaro Jambi


ber
ada pada posisi strategis karena selain
merupakan hinterland Kota Jambi, kabupaten
ini juga merupakan center point pertemuan
lintas timur dan penghubung lintas barat
Sumatera. Posisi ini secara ekonomis sangat
menguntungkan, karena dapat memacu laju
pertumbuhan perekonomian daerah.

programnya oleh Pemerintah, tapi sebagai pe


tani ladang, profesi yang telah dilakoni lelu
hurnya di Jawa Tengah sejak dahulu. Saya
datang kesini tahun 1994. Dulu saya petani
ladang yang menanam jagung, kacang-ka
cangan dan lain-lain. Tetapi karena lahannya
kurang subur untuk ditanami, saya mencoba
budidaya ikan, kenang Timan.

61

(Pokdakan) Tunas Baru dimana Timan menjadi


Ketua Kelompoknya. Kolam-kolam patin kian
banyak dijumpai di Desa Pudak. Dari 12 unit
kolam bertambah menjadi 30 kolam dan terus
meningkat setiap tahunnya.
Kendati demikian, bu an tanpa ken ala Timan
k
d
dan kelompoknya menaani usaha ini. Ia dan
j l
puluhan petani budidaya ikan kolam maupun
keram a pun mengalami masa jatuh bangun
b
ketika ikan-ikan mereka terserang penyakit yang
menyebabkan gagal panen. Hingga suatu
hari ada informasi dari Dinas Kelautan dan
Per
ikanan bahwa Desa Pudak, Kecamatan
Kumpeh Ulu akan
dijadikan
K aw a s a n
Minapolitan.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Timan memang tak pernah


menyangka bila tempat ting
gal yang dulunya adalah daerah
rawa ini menjadi zona inti Kawasan
Minapolitan di Kabupaten Muaro Jambi.
sesuai Keputusan Men Kelautan d a n
teri
Per
ikanan Nomor : 32/
MEN/2010 tanggal 14 Mei
2010 dan SK Bupati Nomor:
355/2010. Saya dan temanteman semakin semangat
mengembangkannya.
Kami
diberi
pe
nyuluhan
tentang
budidaya ikan kolam seperti memilih
bibit ikan serta pakan yang baik, jelas Timan.

62

Menurut Paruhuman Lubis,


Kepala
Dinas
Kelautan
dan Perikanan Kabupaten Muaro Jam
bi,
sebelum adanya program Kawasan Mina
politan, masyarakat Desa Pudak memang su
dah melakukan budidaya ikan patin. Kami
hanya bersifat mendampingi dan memberikan
penyuluhan.

Perlahan
tapi pasti,
pengembangan budidaya
ikan patin ini
terus meningkat.
Sehingga banyak
dari petani
budidaya ikan kerambah
beralih ke kolam seperti yang dilakukan Syaiful
(45 tahun). Sebetulnya untuk pengembangan
budidaya ikan kolam atau keramba sama
saja. Hanya saya menilai untuk ikan kolam
lebih rendah risikonya, ujar pria asli warga
Kumpeh Ulu ini sambil tersenyum. Hal tersebut

dibuktikannya dengan hasil panen 10 kolam


miliknya yang mampu menghasilkan 8.000 ekor
ikan patin.

Sejak tahun 2011, kami sangat terbantu de


ngan adanya peningkatan jalan produksi di

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Demam budidaya patin pun mulai menyebar


ke desa tetangga lainnya. Pokdakan Tunas Baru
tak lagi bisa menampung anggotanya hingga
kemudian dikembangkan menjadi 6 Pok akan.
d
yakni Mina Teladan, Mina Barokah, Usaha
Mina Makmur, Usaha Mina Mandiri serta Mina
Handayani dengan Tunas Baru tetap sebagai
induknya.

Panen ikan patin di


Pokdakan Tunas Baru

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Peran Infrastruktur di Kawasan


Minapolitan

Keenam pokdakan tersebut kini mengolah


630 unit kolam di lahan seluas 63 hektar yang
terbagi di empat lokasi. Alhamdulilah...setiap
hari per kelompok kami bisa panen 5-6 ton
dengan harga jual per kilogramnya Rp 10.000.-.
ujar Timan yang siang itu ditemani oleh masingmasing ketua Pokdakan, Supriyanto, Syaiful,
Sutrisno, Suwardi dan Trinarto. Hasil panen ini
kemudian dipasarkan dengan pembagian 3 ton
ke luar kota seperti Palembang dan Medan, 3
ton lagi untuk memenuhi pasar lokal.

63

areal kolam, karena hasil panen sudah dapat di


bawa dengan Torsa (sepeda motor beroda
tiga) tak lagi dipikul. Hemat waktu,
hemat tenaga dan hemat biaya,
kata Timan.
Pembangunan
jalan
produksi
ini
sesuai dengan salah satu arah kebijakan
pembangunan infratruktur Cipta Karya, yaitu
s
meningkatkan per
tumbuhan ekonomi desa
yang didalamnya ter apat kebijakan mengenai
d
akses infrastruktur bagi pertumbuhan ekonomi
lokal, jelas H. Ivan Wirata, ST., MM., MT., Kepala
Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jambi.
Selain itu, Dudi Mulyana, ST., MT., Kasubid
Produksi Bappeda Kabupaten Muaro Jambi
menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur juga diharapkan mampu mempercepat
pengem angn kawasan, meningkatkan nilai
b
a
tambah komoditas unggulan perikanan, me
ningatkan akses pergerakan orang dari dan
k
menuju ka asan termasuk pergerakan barang
w
dan jasa serta meningkatkan daya tarik investasi
di ka asan minapolitan.
w

Menurut Timan, saat ini memiliki kolam ikan ti


dak hanya sebagai sumber penghasilan, tetapi
juga memiliki nilai investasi yang cukup tinggi.
Sejak akses jalan produksi terbuka, harga ta
nah yang tadinya hanya Rp 500.000,-/m2, kini
menjadi Rp 1.500.000,-.

Serap Tenaga Lokal dan Membuka


peluang usaha
Dampak positif lain dari pembentukan kawasan
minapolitan adalah mampu menyerap tenaga
kerja lokal terutama usia produktif. Bagi yang
pria, bisa bekerja di kolam dan yang wanita bisa
menambah penghasilan dapurnya di tempat
pengolahan ikan. Kami juga mendukung pro
ses pengolahan ikan patin yang dilakukan oleh
kelompok tani wanita menjadi penganan ri
ngan seperti abon patin dan kerupuknya. Di
halaman rumah, para petani juga menanam
tanaman hortikultura sehingga kampung ini
menjadi Kampung Pangan Terpadu Minapolitan
Pudak, jelas Paruhuman Lubis.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Hal ini didukung dengan adanya Nota


Kese ahaman (MoU) No. 06/MEN-KP/
p
KB/VI/2010 antara Kementerian
Pekerjaan Umum dan Kementerian
Kelautan dan Perikanan tentang
pengembangan kawasan ekonomi
berbasis ke
lautan dan perikanan dengan
konsep minapolitan.

64

Adalah
Rusmiyati
(50
tahun)
yang
kini
dipercaya
mengkoordinir
ibu-ibu
rumah tangga di Desa
Pudak
dalam Kelompok
Wanita Tani (KWT) Tunas Baru.
Saat ini pesanan produk yang
paling banyak adalah kerupuk
kulit ikan patin. Menurut para
pembeli, kerupuk ini rasanya

Dukungan Kementerian Pekerjaan Umum


pada Kawasan Minapolitan Kumpeh Ulu. Kabupaten Muaro Jambi
No

Kegiatan

Volume

Biaya (Rp)

Tahun

Peningkatan jalan produksi Tangkit


Baru. Kecamatan Sei Gelam

2.548 m

1.225.500.000

2011

Peningkatan jalan produksi Pudak.


Kecamatan Kumpeh Ulu (SKPA)

1.249 m

570.645.000

2011

Peningkatan jalan produksi


Kecamatan Kumpeh Ulu

1.650 m

895.860.000

2011

renyah dan gurih. Untuk penjualan abon


patin belum terlalu banyak penjualannya,
jelas Rusmiyati. Untuk aktivitas pengolahan
ikan patin ini, Kementerian Kelautan dan
Perikanan memfasilitasi 1 buah bangunan Unit
Pengelolaan Ikan serta kelengkapan mesin
penunjang seperti alat potong, dan packing.
Peralatan ini kami gunakan secara bergantian
dengan KWT lainnya di Kawasan Minapolitan
daerah kami. Produk-produk olahan ini adalah
hasil pengetahuan yang kami dapat dari
pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh KKP,
tambah Rusmiyati.
Kendati masih dalam kapasitas home industry,
pengolahan ikan patin ini juga teap mem
t
perhatikan kandungan gizinya, kare abon
na
dibuat dengan menggunakan 100% daing
g
ikan patin segar yang banyak meganung
n
d
OMEGA 3 & 6 dan kaya akan protein. Packaging
juga dikemas apik agar dapat bersaing dengan
produk la nya di pasaran. Un kemasan
in
tuk
100gr, bianya dibandrol de
sa
ngan harga
Rp 15.000,- hingga Rp 20.000,-. Sedangan
k
harga kerupuk kulit ikan patin Rp 12.500,- per
250 gram. Insya Allah kami siap bersaing di
pasaran untuk kualitas dan rasanya. Saat ini
kami dibantu Dinas Perikanan dan Kelautan
sedang berupaya menembus pasar nasional

dengan memasok hasil olahan ini ke beberapa


supermarket. Kami mohon bantuan dari semua
pihak untuk pemasarannya, jelas Rusmiyati
sambil tersenyum.
Hasil panen budidaya ikan patin yang melimpah
serta hasil pengolahan ikan yang baik tentu
saja memberikan berkah bagi penduduk
Desa Pudak. Termasuk salah satunya menarik
perhatian Presiden Republik Indonesia, Susilo
Bambang Yudhoyono untuk bersama para
menteri terkait dan masyarakat Kabupaten
Muaro Jambi melakukan Panen Raya di awal
Februari 2012 lalu. Dalam kunjungannya itu,
Presiden berharap Kampung Pangan Terpadu
Minapolitan Pudak mampu menginspirasi
daerah lainnya untuk mencukupi kecukupan
pangan negara kita ditengah gejolak pangan
dunia seperti saat ini.
Senyuman Rusmiyati, Timan dan petani
budidaya ikan patin/hortikultura di Desa Pudak
adalah senyum kegigihan mereka mengubah
Desa Pudak menjadi Kampung Pangan Terpadu
Minapolitan yang membanggakan. Semoga
kami bisa menjaganya dengan baik, ujar Timan.
Sebuah harapan sederhana, dari sebuah desa
kecil yang kini sangat menjanjikan!
Unit Pengolahan Ikan
Desa Pudak

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

65

Koordinasi serta kerja sama


yang baik antara Dinas
Perikanan dan Kelautan, Dinas
Pekerjaan Umum, dan masyarakat
menjadikan Ka asan Minapolitan
w
Muaro Jambi menjadi salah satu
percontohan yang sukses.

H. Ivan Wirata. ST.. MM.. MT.


Kepala Dinas PU
Provinsi Jambi

Paruhuman Lubis

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kepala Dinas Kelautan


dan Perikanan
Kab. Muaro Jambi

66

Alhamdulillah..... dengan ada


nya Kawasan Minapolitan di
Desa Pudak. kehidupan kami bisa
lebih meningkat. Dulu dengan
tanaman pangan, sebulan kami dapat
penghasilan Rp 1 juta sekarang kami
bisa dapat Rp 2-3 juta. Apalagi dengan
adanya peningkatan jalan produksi
kami jadi lebih hemat waktu, tenaga
dan biaya tentunya.

Timan
Petani
budidaya ikan

Kunci keberhasilan Kawasan


Minapolitan Desa Pudak adalah
keuletan dan kegigihan para petani
budidaya. Kita dari Pemerintah
daerah harus bisa membimbing
mereka melalui penyuluhan, dan yang
terpenting adalah jangan sekali-kali
membohongi para petani.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

67

Kawasan Minapolitan TERNATE:

Kota Bahari
Nan Kaya

Status :
Kawasan Minapolitan
Kemen e ian Kelautan dan Perikanan
t r
melalui SK No. KEP.32/MEN/2010
Luas Wilayah Laut Maluku Utara:
106.977,32 Km2

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Potensi Sumber Daya Ikan:


143.165,36 ton per tahun

68

Potensi Unggulan:
Pelagis Besar (ikan tuna dan cakalang)
Pelagis Kecil (ikan layang dan tembang)
Demersal (ikan kakap merah, ekor
kuning,kerapu)

Pagi itu, Pelabuhan


Perikanan Nusantara
Bastiong (Ternate) tampak
lebih ramai. Selain tertutup
kapal-kapal penangkap
ikan, suara nelayan penjual
ikan pun bersahutan seraya
menyebut angka rupiah
yang terbilang murah untuk
ratusan kilogram ikan laut
segar. Kondisi ini menjadi
aktivitas rutin awak
pelabuhan, dari dini hari
hingga siang menjelang.

Pulau Ternate merupakan wilayah kepulau


an yang terletak di pesisir barat pulau Halmahera
dan merupakan bagian dari Provinsi Maluku
Utara. Pulau kecil yang berada di kaki Gunung
Gamalama ini memiliki luas 5.681,30 km2, yang
didominasi oleh perairan laut dengan luas seki
tar 5.457,55 km2, dan luas daratan 133,74 km2.
Secara geografis Kota Ternate terletak pada
126o20 128o05 BB dan 0o50 2o10 LU.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Dari sisi geografis wilayah, pulau pulau kecil di


Ternate ini sangat strategis, karena merupakan
daerah migrasi/ruaya berbagai jenis ikan pelagis
besar (tuna dan cakalang) yang merupakan ko
mo itas andalan perikanan. Karena itu, po en i
d
t s
di bidang perikanan dan kelautan di wila ah ini
y
cukup besar. Berdasarkan data sekun er yang
d
diperoleh dari Dinas Perikanan dan Kelautan
tahun 2004, potensi lestari ikan di perairan
Ternate sebesar 23.919,25 ton per tahun dari
standing stock yang dimiliki sebesar 47.838,25
ton yang terdiri dari ikan pelagis besar seperti
tuna, cakalang, tongkol, cucut, tenggiri, dan
ikan pelagis kecil seperti ikan layang dan
tembang. Ikan demersal seperti kakap merah,

Jalan di kawasan
Minapolitan PPN Ternate
yang tak lagi digenangi
air

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kota Ternate sendiri terbagi atas 7 kecamatan


yaitu Kecamatan Pulau Ternate, Ternate Selatan,
Tera Utara, Moti, Ternate Tengah, Batang
n te
Dua dan Pulau Hiri. Sekitar 70% kelurahan/desa
me
miliki pantai sedangkan 18 desa sisanya ti
dak mempunyai wilayah pantai. Tak hanya itu,
kekayaan alam Kota Ternate juga tersebar dalam
7 buah pulau kecil, yakni Pulau Hiri, Pulau Moti,

Pulau Mayau, Pulau Tifure, Pulau Maka, Pulau


Mano dan Pulau Gurida.

69

skuda, ka ap sejati, ekor kuning serta berbagai


k
jenis ikan kerapu. Tingkat pemanfaatan potensi
perikan n baru mencapai 29,80 % dari potensi
a
les a
t rinya. Potensi lain yang dimiliki oleh Pulau
Ternate yaitu sebagian pulau-pulaunya dapat
dijadikan sebagai tempat untuk kegiatan mari
kultur, diantaranya hatchery, budidaya rum
put laut, keramba (pembenihan dan pembe
saran). Selama ini masyarakat cenderung lebih
banyak pada kegiatan penangkapan, baik
ikan pelagis, ikan demersal, sehinga cukup su
lit mengubahnya menjadi perilaku pembu
didayaan. Di pesisir pantai Kota Ternate, banyak
terdapat bibit bandeng nener dan benur yang
dapat digunakan sebagai bibit alami budidaya

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Selain memiliki
panorama alam yang
indah, Kota Ternate juga
memiliki kekayaan laut
yang luar biasa

70

tambak. Luas perairan potensial untuk budidaya


laut mencapai 30 Ha.
Pulau Ternate dilihat dari aspek pemasaran
sangat strategis karena merupakan pusat pasar
dan ekspor dari propinsi Maluku Utara yang te
lah memiliki sarana dan prasarana pendukung
antara lain: pelabuhan Ahmad Yani, Pelabuhan
Perikanan Nusantara (PPN) Ternate, dan pusat
pendaratan ikan Dufa-Dufa. Dibukanya Ban
da Baabulah juga menunjang aksesibilitas
ra
ko oditas perikanan maupun produk lain dari
m
sentra produksi ke pasaran interinsuler maupun
ekspor.

Melihat potensi yang ada di kota yang lokasinya


persis di kaki Gunung Gamalama ini, Kemen
teian Kelautan dan Perikanan melalui SK No.
r
KEP.32/MEN/2010 menetapkan PPN Ternate
menadi salah satu kawasan minapolitan per
j
conohan berbasis perikanan tangkap dari 9
t
(Sembilan) PPN lainnya, yakni PPN Pelabuhan
Ratu, Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
Cilacap, PPN Tamperan, PPN Muncar, PPN Sungai
Liat, PPS BItung, PPS Belawan, dan PPN Ambon.

Peningkatan jalan dan revitalisasi


Kawasan Minapolitan PPN Ternate
Saat ini Pelabuhan Perikanan Nusantara Terna
te merupakan salah satu pelabuhan lingar
k

luar (Outter Ring Fishing Port) dengan poen


t
si perikanan 1.035.230 ton/tahun. Namun sa
yang, banyaknya ikan hasil tangkap ini tidak
diimbangi dengan prasarana dan sarana yang
memadai untuk mendukung produksi per
ikanan nelayan, terutama infrastruktur jalan
di lingkungan pelabuhan. Rustardi, A.Pi, M.Si,
Kepala PPN Ternate mengatakan kondisi
jalan di lingkungan pelabuhan hingga tahun
2011 sangat memprihatinkan. Genangan air
ada dimana-mana, semua jalan terendam.
Drainase juga tidak berfungsi dengan baik
hingga mengganggu operasional beberapa
perusahaan yang ada di pelabuhan. Banyak
mobil rusak karena terendam air. Sebelum ada
program kawasan minapolitan, di lingkungan
pelabuhan sudah ada 10 perusahaan yang
beroperasi dengan jenis usaha antara lain
pembelian ikan, pabrik es balok, kios dan
penampungan lobster, pengasapan ikan serta
lembaga keuangan, tambah Rustardi. Dampak
ini meluas pada keinginan pembeli ikan yang
segan melihat kondisi Tempat Pelelangan Ikan
yang becek dan terkesan kumuh.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Perubahan peningkatan jalan di lingkungan


pelabuhan juga dirasakan oleh Ayi (54 tahun)
yang telah 10 tahun mempertaruhkan nasibnya

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Untuk menghindari dampak negatif yang ber


kelanjutan, di awal tahun 2012 Kementerian
Pekerjaan Umum menurunkan anggaran sebe
sar Rp 1.666.627.000,00 untuk meningkatkan
jalan dan revitalisasi drainase kawasan mina
politan di PPN Ternate. Pembangunan prasa
na dan sarana di lingkungan PPN Ternate
ini bertujuan untuk memfasilitasi kegiatan
pelabuhan yang terus meningkat. Kurang
memadainya infrastruktur jalan dan drainase
menjadi perhatian kami dalam membangun
Kawasan Minapolitan PPN Ternate, ujar H. Fasri
Bachmid, ST., Kepala Satuan Kerja Kawasan
Permukiman dan Perbatasan Dinas Pekerjaan
Umum Maluku Utara.

71

Jalan di kawasan
Minapolitan PPN
Ternate sudah
tidak tergenang
dan becek lagi
seperti sebelumnya
(foto kanan)
setelah dilakukan
peningkatan
jalan dan revitalisasi
drainase

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

sebagai kuli angkut di PPN Ternate.


Dalam sehari ia bisa mengangkut ikan
dari kapal menuju Tempat Pelelangan
Ikan (TPI) sebanyak 10 kali. Kalau
nasib sedang bagus, saya bisa bawa
pulang uang Rp 100.000,00 untuk
satu hari, karena laju gerobak saya
bisa lebih cepat. Kalau dulu jalannya becek, kaki
saya saja suka gatal, jelas Ayi.

72

Dukungan lintas sektoral seperti yang dilaku


kan oleh Kementerian Pekerjaan Umum ini
memang sangat kami perlukan. Peningkatan
jalan serta revitalisasi drainase menambah se
magat kami, para pengusaha dan nelayan
n
untuk lebih giat lagi mengingkatkan ekonomi
lokal. Bisa dibayangkan, bila potensi ikan yang
melimpah ruah di perairan Maluku Utara ter
beng alai hanya karena prasarana dan sarana
k
yang dimiliki tidak memadai. Kualitas ikan
yang kami miliki pun pasti menurun, padahal
penjualan ikan tuna dan cakalang sudah mulai
diekspor hingga ke Jepang , kata H. Ruslan Bian
S.Pi., M.Si., Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan

Kota Ternate. Kini, tambah Ruslan, mulai banyak


usaha-usaha home industry bermunculan se
peri pengolahan ikan asin, ikan asap, hingga
t
abon ikan. Kami dari Dinas Perikanan dan Kela
utan Kota Ternate membantu membina dan
mengarahkan dengan membentuk kelompok
masyarakat pengawas serta kelompok usaha
bersama.

Berharap ada investor


Pengembangan kawasan minapolitan memang
sedianya diarahkan kepada pengembangan
ekoomi lokal yang berbasis pada pengem
n
bang n sistem produksi, budidaya, pengolahan
a
perikanan, pemasaran, dan sistem permukiman
di kawasan tersebut.

Alhamdulilah...Setelah adanya peningkatan


jaan, kegiatan di pelabuhan lebih meningkat.
l
Cold storage yang tadinya enggan digunakan
kare a jalannya terendam air, kini sudah digu
n
nakan secara maksimal. Badan usaha di ling
kungan pelabuhan juga terus bertambah, dari
10 perusahaan kini menjadi 14 perusahaan.
De gan demikian terjadi penyerapan tenaga
n
lokal, ujar Rustardi penuh syukur.

Namun demikian, Kawasan Minapolitan PPN


Ternate masih perlu banyak berbenah. Salah
satunya adalah memaksimalkan lahan pela
buhan yang belum termanfaatkan seluas
6,06 Ha dengan membangun gudang kios
serta merehab beberapa fasilitas yang sudah
ada seperti TPI dan transit sheet sesuai kebu
tuhannya saat ini, karena kunjungan kapal di
PPN Ternate yang rata-rata 4.903 kali per tahun
serta produksi ikan yang mencapai
5.219 ton per tahun terus meningkat.
Untuk itu diperlukan dukungan lintas
sektoral seperti yang telah dilaukan
k
Kementerian Pekerjaan Umum.
Rustardi, Ruslan Bian, Fasri Bachmid, Ayi
dan nelayan di Maluku Utara optimis bila
kawasan minapolitan terbangun dengan
baik, perekono ian mereka akan terus
m
berkembang. Tak ha ya berharap mem
n
peroleh hasil tangkapan yang terus
bertambah, tetapi juga berharap ada
investor yang siap merangkul mereka
untuk terus mengeksplorasi kekayaan
bahari Maluku Utara.
Pembeli yang semakin
banyak datang ke TPI
kawasan Minapolitan
PPN Ternate (foto
bawah) dan kegiatan
di cold storage sebelum
ikan dikirim ke berbagai
daerah (foto atas)

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

73

Kawasan Minapolitan PPN


Ternate masih memerlukan
sentuhan pembangunan yang lebih
serius, mengingat potensi bahari
yang dimiliki sangat besar. Konsep
kawasan ini memberikan harapan
baru bagi nelayan Ternate dan
sekitarnya

H. Fasri Bachmid, ST.


Kepala Satker
Pengembangan Kawasan
Permukiman dan
Perbatasan Maluku Utara

H. Ruslan Bian
Kepala Dinas
Perikanan dan Kelautan
Kota Ternate

Kawasan Minapolitan sangat


efektif bila diterapkan di
Provinsi Maluku Utara yang kaya
akan potensi sumber daya ikan. Keka
yaan bahari yang melimpah ini harus
diimbangi dengan infrastruktur yang
memadai. Dukungan dari Peme
rintah Daerah dan Pusat juga para
stakeholder sangat diharapkan.

Rustardi
Kepala Pelabuhan
Perikanan Nusantara
Ternate

Ayi
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Kuli Angkut Ikan

74

Dukungan
infrastruktur
yang baik dari Kementerian
Pekerjaan Umum sangat membantu nelayan untuk bergerak lebih
cepat memasarkan ikan hasil
tangkapnya. Kami berharap pembangunan infrastruktur di wilayah
kami dapat diteruskan.

Terimakasih kepada Pemein


r
tah karena jalan di pelabuhan
sudah bagus. Sudah tidak perlu
be
cek-becekan lagi. Harapan saya
pemba
ngunan di pelabuhan terus
diting kan biar tambah ramai
kat
pembeli ikannya.

PENUTUP

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

75

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Aktivitas STA Bagelen, Kabupaten


Purworejo di pagi hari

76

Pengembangan Kawasan
Agropolitan dan
Minapolitan merupakan
upaya pemerataan
pembangunan sampai
wilayah perdesaan.
Pembangunan perdesaan
ini sangatlah penting
karena besarnya potensi
perdesaan yang belum
dikembangkan secara
maksimal.

Pengolahan potensi dan kekayaan alam


perdesaan memunculkan permasalahan pa
ngan yang berujung pada keresahan akan
ter
jadinya kondisi rawan pangan di masa
mendatang.
Kawasan Agropolitan dan Minapolitan yang
menjadi bagian dari potensi kewilayahan ka
bupaten dikembangkan melalui penguatan
sentra-sentra produksi, keunikan/keunggulan
lokal. serta kegiatan utama masyarakatnya.
Dengan harapan, kawasan ini dapat menjadi
kawasan pertumbuhan ekonomi yang berdaya
saing dan memiliki kompetensi.

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Disamping itu, keberadaan sarana dan pra


sarana berupa infrastruktur yang memadai
juga sangat berperan dalam kelangsungan per
tumbuhan ekonomi di Kawasan Agropolitan

Maka, sejak dimulai tahun 2002 hingga tahun


2012, program pengembangan perdesaan,
khu usnya di wilayah-wilayah hinterland, telah
s
berhasil memfasilitasi sebanyak 415 Kawasan
Agropolitan dan Minapolitan. Berbagai ken
dala tak luput dari pelaksanaan sehingga
menghadirkan tantangan tersendiri dalam me
wu
judkan kawasan agribisnis dan minabisnis
yang utuh dan terpadu. Namun demikian,
upaya pembangunan yang telah berlangsung
selama sepuluh tahun tersebut mampu mem
berikan pencerahan dan membawa perubahan
signifikan bagi kawasan perdesaan. Pada akhir
nya, kawasan perdesaan ini mampu mendorong
pembangunan nasional.

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Demi mencapai keberhasilan pengembangan


kedua kawasan ini, dibutuhkan dukungan dan
peran aktif masyarakat setempat serta lembagalembaga/instansi-instansi terkait.

dan Minapolitan. Oleh karena itu, Ditjen Cipta


Karya Kementerian Pekerjaan Umum melalui
DIrektorat Pegembangan Permukiman bern
upaya membe an dukungan infrastruktur
ri
k
yang dapat di anfaatkan untuk peningkatan
m
produktivitas, pengolahan, serta pemasaran
hasil pertanian/perikanan.

77

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

Peningkatan jalan
poros desa Kawasan
Agropolitan Kobalima,
Kab. Belu, NTT

78

Pencapaian Dukungan
Infrastruktur
Pengembangan Kawasan
Agropolitan dan Minapolitan
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

79

Pencapaian Dukungan Infrastruktur


Pengembangan Kawasan Agropolitan
Tahun Anggaran 2003 2012
1. PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Aceh Besar, Kab. Pidie, Kab. Aceh Tamiang, Kab. Aceh Selatan, Kab. Aceh Timur,
Kab. Biruen
KAWASAN
: 6 Kawasan
Kws. Indrapuri, Kws. Lembah Seulawah, Kws. Mutiara, Kws. Peudada, Kws. Kluet,
Kws. Idi
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan Terminal Agribisnis
Pembuatan Tempat Parkir Bongkar Muat
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Jalan Menuju Pasar Agribisnis
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan
Peningkatan Jalan Usaha Tani dan Pembangunan Plat Beton di Desa Rantau Binuang,

Desa Sp. Empa, Desa Kr. Batee, dan Desa Ps. Asahan.
Peningkatan Jalan Usaha Nelayan
Pembangunan Jalan dan Saluran

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 24.962.779.000

80

2. PROVINSI SUMATERA UTARA


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 11 Kabupaten, 1 Kota
Kab. Karo, Kab. Asahan, Kab. Toba Samosir, Kab. Simalungun, Kab. Tapanuli Utara,
Kab. Dairi, Kab. Humbang Hasundutan, Kab. Samosir, Kab. Serdang Berdagai,
Kab. Mandailing Natal, Kab. Batubara, Kota Medan
KAWASAN
: 14 Kawasan
Kws. Merek, Kws. Tanjung Sigoni, Kws. Lumban Julu, Kws. Pematang Cengkering,
Kws. Silimakuta, Kws. Parbuluan, Kws. Medang Deras, Kws. Tanjung Tiram,
Kec. Siborong-borong, Kws. Dolok Sanggul, Kec. Harian, Kws. Tanjung Beringin,
Kws. Sikara-kara, Kws. Medan Utara
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Talud Jalan Poros Desa
Pembangunan Ruang Serbaguna
Pembuatan Talud, Talud Tipe I, dan Talud Tipe II
Pembangunan Bangunan Pengelola Tahap 1
Peningkatan Jalan Poros Desa (Onderlaag)
Pembuatan Sumur Bor
Pembuatan Bak Resapan Air
Optimalisasi Pembangunan Kawasan Sub-Terminal Agribisinis
Pembangunan Pasar
Pembuatan Pasar Hewan
Pembuatan Rumah Potong Hewan
Pembuatan Lantai Jemur Kopi
Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Tempat Penjemuran Ikan
Pembangunan Gudang Penyimpanan Hasil Sortasi dan Packaging Ikan
Pembuatan Jembatan Desa
Pembuatan Saluran Drainase
Pembuatan Jalan Poros Kawasan Nelayan Indah
TOTAL ANGGARAN : Rp 37.675.491.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

81

3. PROVINSI SUMATERA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 9 Kabupaten, 1 kota
Kab. Agam, Kab. Solok, Kab. Tanah Datar, Kab. Pesisir Selatan,
Kab. Padang Pariaman, Kab. Lima Puluh Koto, Kab. Dharmasyara, Kab. Pasaman,
Kab. Sijunjung, Kota Payakumbuh
KAWASAN : 13 Kawasan
Kws. Kecamatan IV Angkat Candung, Kws. Koto Gadang, Kws. Lembah Gumanti,
Kws. X Koto, Kws. Sutera, Kws. VII Koto, Kws. Mungka, Kws. Sitiung, Kws. Mandeh,
Kws. Rao, Kws. Palangki, Kws. Bukit P. Sembilan, Kws. Kamang Magek
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Antar Desa
Perbaikan/Rehabilitasi Pasar
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Pasar Desa
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Rehabilitasi Los Sayur
Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Saran Sub-Terminal Agribisnis
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Lapen)
Pembangunan Pasar Ternak dan sarana pendukung
Pembuatan Puskeswan
Pembangunan Bak Penampung Air
Pembangunan Jalan dan Saluran
Pengembangan Prasarana dan Sarana Agropolitan
Pembuatan Jalan Poros Kawasan Nelayan Indah

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 30.548.625.000

82

4. PROVINSI RIAU
TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten
Kab. Indragiri Hilir, Kab. Rokan Hulu, Kab. Kampar, Kab. Indragiri Hulu,
Kab. Kuantan Senggigi, Kab. Pelalawan, Kab. Dumai
KAWASAN : 13 Kawasan
Kws. Tempuling, Kws. Rambah Samo, Kws. Tapung Hilir, Kws. XII Koto Kampar,
Kws. Rengat Barat, Kws. Benai, Kws. Kebun Durian Gunung Sahilan, Kws. Sei Bagan,
Kws. Sungai Sembilan, Kws. Sei Upih Teluk Beringin
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Jembatan Poros Desa
Los Pasar Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Prasarana Pasar Desa
Pembangunan Pasar Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Pelataran Bongkar Muat Sawit
Pembangunan Jembatan Desa
Pembangunan Talud
Pembangunan Halte Pelataran Sawit dan Box Culvert
Pembuatan Talud Penimbunan Holding Ground
Pembangunan Holding Ground
Pembangunan infrastruktur Perdesaan Kawasan Sentra Produksi
Pembuatan Gorong-gorong
Pembangunan Infrastruktur Permukiman
TOTAL ANGGARAN : Rp 32.020.100.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

83

5. PROVINSI KEPULAUAN RIAU


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 3 Kabupaten
Kab. Karimun, Kab. Bintan, Kab. Natuna
KAWASAN : 4 Kawasan
Kws. Agropolitan Kundur, Kws. Tuapaya, Kws. Mantang, Kws. Serasan
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Gudang Penyimpanan Hasil Produksi
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembuatan Jembatan
Pembuatan Gorong-gorong Beton
Pembuatan Saluran Tanah
Pembangunan Tempat Penjemuran Rumput Laut
Pembuatan Pelantar
Peningkatan Jalan Poros Desa

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 19.637.774.000

84

6. PROVINSI JAMBI
TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Tanjung Jabung Timur, Kab. Muaro Jambi, Kab. Kerinci, Kab. Sorolangun,
Kab. Merangin, Kab. Batanghari
KAWASAN : 6 Kawasan
Kws. Rantau Rasau, Kws. Kumpeh Hulu, Kws. Kayu Aro, Kws. Singkut,
Kws. Batang Mesumai, Kws. Pemayung
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Akses Sub-Terminal Agribisnis (Lapen)
Peningkatan Pasar Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembuatan Gudang
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Holding Ground
Pembangunan Pelataran Ternak
Peningkatan Jalan Produksi
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Lapen)
Peningkatan Los Pasar
Peningkatan Jalan Usaha Tani Kelas C
Peningkatan Jalan Desa Tambang Limbung dan Desa Pasar Sei
TOTAL ANGGARAN : Rp. 19.532.694.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

85

7. PROVINSI SUMATERA SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2003 2010
KABUPATEN/KOTA : 8 Kabupaten, 2 Kota
Kab. Ogan Komering Ulu Timur, Kab. Ogan Komering Ulu Induk,
Kab. Banyu Asin, Kab. Ogan Komering Ulu Selatan, Kab. Musi Rawas,
Kab. Ogan Ilir, Kab. Ogan Komering Ulu, Kabupaten Ogan Komering Ilir,
Kota Pagar Alam, Kota Palembang
KAWASAN : 12 Kawasan
Dempo Utara, Kws. Lengkiti, Kws. Pulau Beringin,
Kws. Martapura, Kws.
Kws. Banyu Urip, Kws. Tugu Mulyo, Kec. Tanjung Lago, Kws. Muara Beliti,
Kec. Gandus, Kws. Bakung, Kws. Baturaja Timur, Kws. Lempuing
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Saluran Jalan
Pembangunan Jembatan Beton
Pembangunan Jembatan Tahap II
Pembangunan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan Holding Ground

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 25.740.246.000

86

8. PROVINSI BANGKA BELITUNG


TAHUN ANGGARAN : 2004 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Belitung, Kab. Bangka Tengah, Kab. Bangka, Kab. Bangka Selatan
KAWASAN : 8 Kawasan
Kws. Mambalong, Kws. Tanjung Binga Kecamatan Sijuk, Kws. Pangkalan Baru,
Kws. Sungai Selatan, Kws. Sungailiat, Kws. Tanjung Gunung, Kws. Mendo Barat,
Kws. Salepliat
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Tambatan Perahu
Pembuatan Talud Penahan Tanah
Pembuatan Holding Ground
Pembuatan Tempat Jemuran Ikan
Pembuatan Saluran Drainase, Sumur Bor, Workshop, dan Tower
Peningkatan Dermaga
Pembuatan Jalan Usaha Nelayan
Pembangunan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan Kantor Pengelola dan Saung Meeting
Pembuatan Gudang Penyimpanan
Pembangunan Tambatan Dermaga Nelayan
Peningkatan Prasarana dan Sarana Agropolitan
Pembangunan Plat Dueker
Peningkatan Jalan Produksi
Pembangunan & Peningkatan Prasarana dan Sarana Minapolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 21.709.952.422

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

87

9. PROVINSI BENGKULU
TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten
Kab. Rejang Lebong, Kab. Bengkulu Utara, Kab. Kepahiang, Kab. Bengkulu Selatan,
Kab. Lebong, Kabupaten Seluma, Kab. Kaur
KAWASAN : 8 Kawasan
Kws. Selupu Rejang, Kws. Padang Jaya, Kws. Ujan Mas, Kws. Seginim,
Kws. Lebong Tengah, Kws. Seluma Selatan, Kws. Maje dan Kaur Selatan,
Kws. Maje dan Nasal
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Pasar Desa
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembuatan Prasarana Pasar Sayur
Pembangunan Saluran Drainase Pasar
Pembuatan Gudang
Pembuatan Talud
Pembangunan Gudang Penyimpanan Jagung
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Lapen)
Pembuatan Talud Jalan Usaha Tani
Pembuatan Talud Jalan Poros Desa
Pembangunan Jembatan Desa
Pembangunan Prasarana Holding Ground
Pembangunan TPI
Peningkatan Jalan Poros Desa (SKPA)
Peningkatan Jalan Usaha Tani (SKPA)

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 29.923.825.000

88

10. PROVINSI LAMPUNG


TAHUN ANGGARAN : 2004 2012
KABUPATEN/KOTA : 8 Kabupaten
Kab. Lampung Tengah, Kab. Tanggamus, Kab. Lampung Timur,
Kab. Lampung Selatan, Kab. Tulang Bawang, Kab. Lampung Barat, Kab. Pesawaran,
Kab. Pringsewu
KAWASAN : 10 kawasan
Kws. Terbagi Besar, Kws. Gisting, Kws. Sribawono, Kws. Jati Ayu, Kws. Ketapang,
Kws. Sidomulyo, Kws. Mesuji Atas, Kec. Batu Brak, Kws. Srikaton,
Kws. Padang Cermin-Punduh Pidada
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Jembatan
Pembangunan Holding Ground
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Onderlaag)
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
TOTAL ANGGARAN : Rp 26.507.265.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

89

11. PROVINSI BANTEN


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Pandeglang, Kab. Serang, Kab. Tangerang, Kab. Lebak
KAWASAN : 10 kawasan
Kws. Menes, Kws. Mandalawangi, Kws. Pontang, Kws. Waringin Kurung,
Kws. Pabuaran, Kws. Baros, Kws. Gunung Sari, Kws. Sepatan, Kws. Kronjo,
Kws. Wanasalam
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Pasar Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Lingkungan
Pembangunan dan Peningkatan Jembatan
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembuatan Talud
Pembuatan Jembatan (10 m x 5 m)
Pembangunan Gudang Penyimpanan Hasil Panen
Peningkatan Jalan Setapak

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 23.544.204.000

90

12. PROVINSI JAWA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 13 Kabupaten
Kab. Cianjur, Kab. Indramayu, Kab. Kuningan, Kab. Bogor, Kab. Purwakarta,
Kab. Bandung, Kab. Garut, Kab. Ciamis, Kab. Sukabumi, Kabupaten Subang,
Kab. Majalengka, Kab. Cirebon, Kab. Karawang
KAWASAN : 18 Kawasan
Kws. Pacet, Kws. Jatinyuat Karangsong, Kws. Eretan, Kws. Cigugur,
Kws. Leuwiliang, Kws. Ciseeng, Kws. Bojong, Kws. Pangalengan, Kws. Cisurupan,
Kws. Panumbangan, Kws. Kadudampit, Kws. Sukamaju, Kws. Ciemas,
Kws. Sagala Herang, Kws. Serang Panjang, Kws. Lemah Sugih, Kws. Losari,
Kws. Cilamaya
KEGIATAN FISIK
: Perbaikan Pasar
Pembuatan Kran Umum
Pembuatan Sarana Drainase
Pembuatan Kios Agropolitan
Pembangunan Lapangan Parkir
Pembuatan Saluran Drainase
Pembangunan Holding Ground
Peningkatan Jalan Produksi
Pembangunan Saung Meeting
Pembangunan Jalan Usaha Tani
Rehabilitasi Prasarana dan Sarana
Pembuatan Bangunan Green House
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Jalan Inspeksi Tani
Pembangunan Balai Pertemuan Petani
Pembangunan Pengelolaan Limbah Sapi
Pembangunan Sarana Produksi Nelayan Peningkatan Jalan Masuk selebar 4,5 m
Peningkatan Jalan Permukiman Nelayan Pembangunan dan Penyediaan Air Baku
Pembangunan Jembatan Konstruksi Beton
Pengadaan Pipa Air Bersih
diameter 150 mm
Pembangunan Packing House
dan Kios Sayuran
Pembangunan dan Peningkatan Jalan
Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Saluran
Pembawa Air Baku
Pengadaan Pipa Air Beku dan
Pembangunan Bak HU
Pengadaan Pipa Distribusi Air Bersih
diameter 75mm
Penyediaan Kawasan Perdesaan
Potensial Agropolitan
Pembangunan Gudang Penyimpanan
Hasil Panen
Pengembangan Prasarana dan Sarana
Desa Agropolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 44.143.921.000
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

91

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

13. PROVINSI JAWA TENGAH

92

TAHUN ANGGARAN : 2003 2012


KABUPATEN/KOTA : 14 Kabupaten
Kab. Semarang, Kab. Pemalang, Kab. Wonosobo, Kab. Batang, Kab. Magelang,
Kab. Purbalingga, Kab. Karanganyar, Kab. Brebes, Kab. Boyolali, Kab. Banjarnegara,

Kab. Banyumas, Kab. Cilacap, Kab. Purworejo, Kab. Pekalongan
KAWASAN : 14 Kawasan
Kws. Sumowono, Kws. Belik, Kws. Rojonoto, Kws. Surbanwali, Kws. Merapi Merbabu,
Kws. Larangan, Kws. Bunga Kondang, Kws. Sutomadansih, Kws. Goasebo, Kws. Beji,
Kws. Jayabaya, Kws. Bagelen, Kws. Majenang, Kws. Talang Kerido
KEGIATAN FISIK
: Pembuatan Penampungan Pupuk
Pembangunan Terminal Desa
Pembuatan Sarana Komposting
Penyempurnaan Pasar Desa
Peningkatan Jalan Produksi
Pendaratan Ikan (PPI)
Pembangunan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Tempat Penampungan Teh
Rehabilitasi Saluran Irigasi
Pembuatan Bangunan Penjemur Kopi
Perkerasan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Jembatan Antar Desa
Pembuatan Saluran Jalan
Pembangunan Jembatan Beton
Pembangunan Jembatan Tahap II
Pembuatan Bangunan Pengumpul Wortel
Peningkatan Pasar Ikan
Pembuatan Bangunan Pengering Jahe
Pembangunan Saluran
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pelebaran Jalan Poros Desa
Perluasan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Penyulingan Minyak
Pembuatan Bangunan Produksi Perkebunan Peningkatan Talud
Pembangunan Gudang Penampungan Hasil
Pembangunan Pasar Desa
Pembangunan Gerbang Kawasan Agropolitan Rehabilitasi Dermaga Pusat
Pembuatan Bangunan Penampung Hasil Kopi
Pembangunan Bangunan Pendukung Agrowisata
Peningkatan Jalan Masuk Sub-Terminal Agribisnis
Penyediaan Fasum/Fasos Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembuatan Bangunan Pemasaran
Hasil Produksi
Perluasan Bangunan Agrowisata Berbasis
Hortikultura
Pembangunan dan Peningkatan
Sub-Terminal Agribisnis
Perbaikan Balai Pertemuan dan Pelatihan
Hasil Produksi
Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa
Agropolitan
Pembangunan Infrastruktur Perdesaan
Sub-Terminal Agribisnis
Pembuatan dan Penyempurnaan Bangunan
Produksi Peternakan
Pembangunan Prasarana dan Sarana Desa
Agropolitan Sub-Terminal Agropolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 44.761.428.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

93

14. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Kulon Progo, Kab. Sleman, Kab. Gunung Kidul, Kab. Bantul
KAWASAN : 9 Kawasan
Kws. Kali Bawang, Kws. Temon, Kws. Turi, Kws. Karangmojo, Kws. Playen,
Kws. Bejiharjo, Kec. Girisobo Desa Baron, Kws. Imogiri, Kws. Gadingsari
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Jalan Usaha Tani
Perbaikan Pasar Desa
Pembangunan Los dan Kios Pasar
Pengembangan Prasarana dan Sarana Agropolitan
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Los Pasar Ikan
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Lapen)
Pembuatan Kandang Ternak
Pembuatan Gapura Agropolitan
Pembangunan Farmroa/Jalan Setapak selebar 1,5 m
Penyediaan Air Baku
Pembangunan Balai Pertemuan Petani

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 23.364.942.000

94

15. PROVINSI JAWA TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 18 Kabupaten
Kab. Ngawi, Kab. Banyuwangi, Kab. Mojokerto, Kab. Lumajang, Kab. Tulungagung,
Kab. Bangkalan, Kab. Blitar, Kab. Pasuruan, Kab. Pacitan, Kab. Madiun,
Kab. Pamekasan, Kab. Ponorogo, Kab. Trenggalek, Kab. Nganjuk, Kab. Malang,
Kab. Lamongan, Kab. Tuban, Kab. Gresik
KAWASAN : 21 Kawasan
Kws. Paron, Kws. Bangorejo, Kws. Muncar, Kws. Pacet, Kws. Senduro,
Kws. Sendang, Kws. Soburbang, Kws. Kanigoro, Kws. Nglegok, Kws. Tutur,
Kws. Nawangan Bandar Tamperan, Kws. Gedangsari, Kws. Pakong dan Waru,
Kws. Ngebel, Kws. Bendungan, Kws. Sukomoro, Kws. Wajak, Kws. Poncokusumo,
Kws. Ngimbang, Kws. Paseban, Kws. Sidayu
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Rehabilitasi Jembatan
Pembangunan Pasar dan Kios Desa
Penyediaan Prasarana dan Sarana Minapolitan
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Lapen)
Peningkatan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Packing House
Pembangunan Los Pasar
Pembangunan Jalan Produksi
TOTAL ANGGARAN : Rp 50.856.508.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

95

16. PROVINSI BALI


TAHUN ANGGARAN : 2002 2011
KABUPATEN/KOTA : 8 Kabupaten
Kab. Bangli, Kab. Gianyar, Kab. Tabanan, Kab. Jembrana, Kab. Buleleng,
Kab. Badung, Kab. Karang Asem, Kab. Klungkung
KAWASAN : 8 Kawasan
Kws. Payangan, Kws. Baturiti, Kws. Melaya, Kws. Depeha,
Kws. Catur-Kintamani,
Kws. Sibeta (Bebandem), Kws. Plaga, Kws. Nusa Penida
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Antar Desa
Pembuatan Pasar Desa
Pembuatan Pelataran Parkir
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Balai Usaha
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Lantai Jemur
Penyediaan Infrastruktur Kawasan Agropolitan
Pembangunan Pasar Hewan
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Tempat Bongkar Hasil Produksi
Pembangunan Cubang Air Baku
Pembangunan Packing House
Pembuatan Bangunan Pengolahan Hasil
Penyediaan Sarana Air Baku
Pembangunan Gudang
Pembangunan Gudang Rumput Laut

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 26.033.993.000

96

17. PROVINSI KALIMANTAN BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten, 1 Kota
Kab. Sambas, Kab. Pontianak, Kab. Bengkayang, Kab. Sintang, Kab. Ketapang,
Kab. Singkawang, Kab. Kubu Raya, Kota Pontianak
KAWASAN : 13 Kawasan

Kws. Sepinggan-Semparuk, Kws. Pontianak Utara, Kws. Sungai Kakap,
Kws. Sanggau Ledo, Kws. Rasau Jaya, Kws. Sei Tebelian, Kws. Matan Hilir Selatan,
Kws. Pangmilang, Kws. Rasau Jaya, Kws. Sungai Rengas, Kws. Jawai Selatan,
Kws. Semparuk, Kws. Matan Hilir Sel. Pasaguan
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan dan Penggantian Jembatan
Pembuatan Tambatan Perahu
Penggantian Dermaga Kayu
Pembangunan Dermaga
Pembuatan Gazebo
Pembangunan Lumbung Jagung
Pembuatan Gudang
TOTAL ANGGARAN : Rp 36.054.280.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

97

18. PROVINSI KALIMANTAN TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 8 Kabupaten
Kab. Kapuas, Kab. Barito Timur, Kab. Sukamara, Kab. Kotawaringin Barat,
Kab. Seruyan, Kab. Kotawaringin Timur, Kab. Pulau Pisau, Kab. Katingan
KAWASAN : 10 kawasan
Kws. Basarang, Kws. Dusun Tengah, Kws. Pangkalan Lada, Kws. Jelai,
Kws. Seruyan Hilir, Kec. Teluk Sampit, Desa Sei Bakau, Desa Sebuai,
Kec. Teluk Sampit, Kec. Katingan Kuala
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Los Pasar
Pembuatan Jembatan Kayu Ulin
Pembuatan Gorong-gorong Beton
Pembangunan Pasar Hewan
Pembuatan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Jalan Poros Desa (Buntu)
Pembangunan Jalan Usaha Tani (Sirtu)
Pembuatan Lantai Jemur
Pembangunan Holding Ground
Pembuatan Kolam Perendaman
Pembuatan Gudang Produksi
Peningkatan Saung Meeting
Pembuatan Saluran Tersier
Peningkatan Jalan Akses Menuju Sentra Produksi
Pembangunan Jalan Produksi
Pembangunan Jalan Akses

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 32.328.302.000

98

19. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Bulungan, Kab. Pasir, Kab. Paser Utara, Kab. Malinau,
Kab. Kutai Timur, Kab.
Kab. Berau
KAWASAN : 7 Kawasan
Kws. Sangatta, Kws. Pasopati, Kws. Padang Pangrapat,
Kws. Penajam, Kws. Rantau Pulung, Kws. Kaliamok, Kws. Sabitta
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembuatan Talud
Pembangunan Jalan Poros Desa (Telford)
Pembangunan Pasar Desa
Pembangunan Jalan Usaha Tani (Telford)
Pembangunan Infrastruktur Permukiman
TOTAL ANGGARAN : Rp 30.979.285.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

99

20. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Hulu Sungai Tengah, Kab. Barito Kuala, Kab. Tanah Laut,
Kab. Hulu Sungai Utara, Kab. Banjar, Kab. Tabalong
KAWASAN : 6 Kawasan
Kws. Labuhan Amas Utara, Kws. Terantang, Kws. Pelaihari, Kws. Amuntal,
Kws. Cindai Alus, Kws. Tanjung
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan Jembatan Ulin
Pembangunan Pasar Desa
Rehabilitasi Jembatan
Siring Jalan
Pembuatan Box Culvert
Pembangunan Dermaga
Pembangunan Pelataran Parkir Pasar Desa
Pembangunan Los Pasar Desa
Penyediaan PSD Agropolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 28.264.359.000

100

21. PROVINSI GORONTALO


TAHUN ANGGARAN : 2002 2011
KABUPATEN/KOTA : 5 Kabupaten
Kab. Pohuwato, Kab. Boalemo, Kab. Gorontalo, Kab. Bone Bolango,
Kab. Gorontalo Utara
KAWASAN : 7 Kawasan
Kws. Randangan, Kws. Bongo Nol, Kws. Pulubala, Kws. Kabila, Kws. Tumbilato,
Kws. Kwandang, Kws. Anggrek
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan dan
Perbaikan Pasar Desa
Pembuatan Kios Pasar
Peningkatan Jembatan Usaha Tani
Pembuatan Talud Jalan Desa
Pembuatan Gudang Jagung
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Perkerasan)
Pembangunan Los Pasar Terbuka
Pembuatan Saluran Air Baku
Pembuatan Talud Penahan tanah
TOTAL ANGGARAN : Rp 22.216.288.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

101

22. PROVINSI SULAWESI TENGGARA


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Kendari, Kab. Bombana, Kab. Muna, Kab. Buton, Kab. Konawe Selatan,
Kab. Kolaka
KAWASAN : 7 Kawasan
Kws. Bondoala, Kws. Lantari, Kws. Kabangka, Kws. Lasalimu Selatan,
Kws. Tinanggea, Kws. Lalembuu, Kws. Wolo
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Jembatan Semi Permanen
Pembangunan Pasar
Pembuatan Talud
Pembuatan Plat Duiker
Pembangunan Jembatan
Penyediaan Infrastruktur Kawasan Agropolitan
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Aggregat C)
Pembuatan Box Culvert
Pembangunan Dermaga Kayu
Pembangunan Los Pasar Ikan
Pembuatan Talud dan Box Culvert (SKPA)
Peningkatan Jalan Usaha Tani (SKPA)

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 37.952.671.000

102

23. PROVINSI SULAWESI TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten
Kab. Donggala, Kab. Parigi Moutong, Kab. Banggai, Kab. Toli-Toli,
Kab. Tojo Una-Una, Kab. Poso, Kab. Morowali
KAWASAN : 10 Kawasan
Kws. Biromaru, Kws. Labean, Kws. Bolano Lambunu, Kws. Kasimbar,
Desa Kasimbar, Kws. Tolli, Kws. Galang, Kws. Wakai, Kws. Napu, Kws. Witaponda
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembuatan Pasar Desa
Pembangunan Tempat Pemotongan Hewan
Pembuatan Lantai Jemur
Pembangunan Gudang
Penyediaan Infrastruktur Kawasan Minapolitan
Pembangunan Pasar Buah
Oprit Jembaran Gelager
Pembuatan Plat Lantai Jembatan
Pembuatan Plat Duiker Jembatan
Pembangunan Balai Penyuluhan
Pembuatan Talud
Pembuatan Box Culvert
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Kelas C)
Pembangunan Gudang Padi/Cokelat
Pembuatan Tambatan Perahu
Penyediaan Prasarana dan Sarana Agropolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 26.758.966.708

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

103

24. PROVINSI SULAWESI BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2006 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Polewali Mandar, Kab. Mamuju Utara, Kab. Majene, Kab. Mamuju
KAWASAN : 4 Kawasan
Kws. Matakali, Kws. Pasang Kayu, Kws. Sendana, Kws. PPI Bonda
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan Saung Meeting dan Bangunan Penunjang
Pembuatan Lantai Jemur
Pembangunan Saluran Air Baku
Pembangunan Jembatan Agropolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 13.880.635.000

104

25. PROVINSI SULAWESI SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 14 Kabupaten
Kab. Barru, Kab. Enrekang, Kab. Soppeng, Kab. Tana Toraja, Kab. Bulukumba,
Kab. Selayar, Kab. Bone, Kab. Sidrap, Kab. Gowa, Kab. Luwu Timur, Kab. Jeneponto,
Kab. Pangkep, Kab. Sinjai, Kab. Luwu
KAWASAN : 14 Kawasan
Kws. Barru, Kws. Maiwa, Kws. Lajoa, Kws. Rindingallo, Kws. Gantarang,
Kws. Bontomanai, Kws. Pasaka, Kws. Alakuang, Kws. Bontonompo,
Kws. Malili, Kws. Kelara Rumbia, Kws. Labakkang, Kws. Sinjai Timur, Kws. Belopa
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Perbaikan Pasar
Pembangunan Jalan Penghubung Desa (Lapen)
Peningkatan Jalan Poros Desa (Perkerasan)
Pembangunan Jalan Poros Desa (Telford)
Pembangunan Jalan Akses
Pembangunan Jembatan
TOTAL ANGGARAN : Rp 32.209.238.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

105

26. PROVINSI SULAWESI UTARA


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 9 Kabupaten
Kab. Minahasa Selatan, Kab. Minahasa, Kab. Sangihe, Kab. Minahasa Utara,
Kab. Bolaang Mongondow, Kab. Tomohon, Kab. Bolaang Mongondow Utara,
Kab. Bitung, Kab. Bolaang Mongondow Timur
KAWASAN : 15 Kawasan
Kws. Modoinding, Kws. Tengasinonsayang, Kws. Ngasaan, Kws. Tatapaan,
Kws. Pakakaan, Kws. Dagho, Kws. Tabukan Selatan, Kws. Klabat, Kws. Managabata,
Kws. Dumoga, Kec. Lolayan, Kws. Tomohon, Kws. Bolaang Mongondow Utara,
Kws. Mondayag, Kws. PPN Bitung
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan Pasar Desa
Pembangunan Packing House
Pembangunan Talud
Pembangunan Jembatan
Pembangunan Saluran
Pembangunan Pasar Agro
Peningkatan Pasar Ikan
Pembuatan Tambatan Perahu
Pembangunan Pasar Ternak
Pembangunan Green House
Pembangunan Jalan Produksi
Peningkatan Tempat Potong Hewan
Penyediaan Infrastruktur Minapolitan
Peningkatan Tempat Pengolahan Padi
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Lapen) Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Saluran Bangunan Kelapa
Pembangunan Pengolahan Kelapa
Terpadu
Pembangunan dan Peningkatan
Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan
Jalan Usaha Tani
Pembangunan Fasilitas Penunjang
Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Talud Jalan Produksi
Nelayan
Pembangunan Sarana Pengolahan Pakan
Ternak
Peningkatan Jalan Usaha Tani
(Perkerasan Telford)
Pembangunan Pasar Bibit dan Ikan Air Tawar
Pembangunan Packing House Ikan Air Tawar

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 40.568.188.000

106

27. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 7 Kabupaten
Kab. Dompu, Kab. Lombok Timur, Kab. Sumbawa, Kab. Lombok Tengah,
Kab. Lombok Barat, Kab. Sumbawa Barat, Kab. Bima
KAWASAN : 10 Kawasan
Kws. Agropolitan Manggelewa, Kws. Agropolitan Sikur, Kws. Agropolitan Alas Utan,
Kws. Agropolitan Aik Meneng, Kws. Pekat, Kws. Lembah Sempage Akar-akar Kuripan,
Kws. Sembalun, Kws. Keruwak Jerowaru, Kws. Kemuter Telu, Kws. Woha
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Pasar Desa dan Prasarana
Rehabilitasi Balai Penyuluhan
Pembuatan Plat Duiker
Pembuatan Talud
Pembuatan Packing House
Pembuatan Gudang Jambu Mete
Pembuatan Kios Desa
Pembuatan Talud Jalan
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Telford)
Pembuatan Talud Jalan Poros Desa
Pembangunan Jembatan
Pembangunan Saluran
TOTAL ANGGARAN : Rp 30.267.798.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

107

28. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Kupang, Kab. Manggarai, Kab. Bellu, Kab. Sumba Timur, Kab. Sikka,
Kab. Sumba Barat
KAWASAN : 7 Kawasan
Kws. Oesao, Kws. Iteng, Kws. Betun, Kws. Koba Lima, Kws. Kambaniru,
Kws. Pesisir Sikka, Kws. Lamboya
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Lantai Jemur
Pembangunan Jembatan
Pembuatan Gorong-gorong
Pembuatan Talud
Pembangunan Dinding Penahan Tanah
Pembangunan Plat Duiker
Pembuatan Tambatan Perahu
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Jalan Usaha Tani (SKPA)

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 28.500.087.000

108

29. PROVINSI MALUKU


TAHUN ANGGARAN : 2004 2012
KABUPATEN/KOTA : 6 Kabupaten
Kab. Seram Bagian Barat, Kab. Maluku Tenggara Barat, Kab. Buru,
Kab. Buru Selatan, Kab. Seram Bagian Timur, Kab. Ambon
KAWASAN : 5 Kawasan
Kws. Waihatu, Waimital & Piru, Kws. Kairatu, Kws. Wrinama & Bula,
Kws. Kairatu & Buano, Kws. PPN Ambon
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Tempat Jemur Padi
Pembuatan Los Pasar
Pembangunan Pasar Desa dan Prasarana Lingkungan
Pembuatan Los Pasar
Pembangunan Terminal Agropolitan
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembuatan Bangunan Penyulingan Minyak Kayu Putih
Pembuatan Holding Ground
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan Saluran
Penyediaan Infrastruktur Kawasan Minapolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 27.183.007.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

109

30. PROVINSI MALUKU UTARA


TAHUN ANGGARAN : 2003 2012
KABUPATEN/KOTA : 5 Kabupaten, 1 kota
Kab. Halmahera Barat, Kab. Halmahera Tengah, Kab. Halmahera Utara,
Kab. Halmahera Timur, Kab. Halmahera Selatan, Kota Ternate
KAWASAN : 7 Kawasan
Kws. Sahu, Kws. Wairoro, Kws. Toliwang, Kws. Wasile, Kws. Mekar Sari,
Kws. Manggayoang, Kws. PPN Ternate
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Terminal Desa dan Prasarana Lingkungan
Penyediaan Prasarana Air Bersih
Pembangunan Pasar Desa
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembuatan Tempat Penjemuran Cengkih dan Kopra
Pembangunan Gudang
Pembangunan Tempat Penjemuran Padi
Rehabilitasi Jembatan Kayu
Pembuatan Tempat Pencucian Sayuran/Buah
Pembuatan Sumur
Pembuatan Plat Duiker
Pembangunan Gerbang Kawasan Agropolitan
Pembangunan Jembatan
Pembangunan Gudang Penyimpanan Padi
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Lapen)
Peningakatan Jalan Usaha Tani (Sirtu)
Pembangunan Jembatan P = 10 m
Pembangunan Talud
Pembangunan Jalan Setapak
Pembangunan Drainase
Penyediaan Infrastruktur Kawasan Minapolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 24.643.845.000

110

31. PROVINSI PAPUA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2005 2011
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten
Kab. Manokwari, Kab. Sorong, Kab. Raja Ampat, Kab. Fak-Fak
KAWASAN : 4 Kawasan
Kws. Prafi, Kws. Aimas, Kws. Selat Segawin, Kws. Bomberai
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Pasar Desa
Pembangunan Jalan Poros Desa 1.500 m
Pembangunan Jalan Usaha Tani 1.000 m
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembuatan Lantai Jemur
Peningkatan Halaman Pasar dan Sarana
Pembangunan Talud
TOTAL ANGGARAN : Rp 17.979.965.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

111

32. PROVINSI PAPUA


TAHUN ANGGARAN : 2002 2012
KABUPATEN/KOTA : 4 Kabupaten, 1 Kota
Kab. Jayapura, Kab. Nabire, Kab. Yapen, Kab. Waropen, Kota Jayapura
KAWASAN : 5 Kawasan
Kws. Grime Sekori, Kws. Wanggar, Kws. Distrik Kosiwo, Kws. Distrik Waropen,
Kws. Koya Distrik Muara Tami
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Pasar Desa
Pembangunan Terminal
Pembangunan Gudang
Pembuatan Lantai Jemur Rumput Laut

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 25.186.334.000

112

Peningkatan jalan
poros desa Kawasan
Agropolitan Kobalima,
Kab. Belu, NTT

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

113

Pencapaian Dukungan Infrastruktur


Pengembangan Kawasan Minapolitan
Tahun Anggaran 2005 2011
1. PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM
TAHUN ANGGARAN : 2008 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Aceh Selatan
KAWASAN : 2 Kawasan
Kawasan Kluet, Kawasan Idie
KEGIATAN FISIK
: Pembuatan Plat Beton
Peningkatan Jalan Usaha Nelayan
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pengembangan Prasarana dan Sarana Desa Agropolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 6.605.933.000

2. PROVINSI SUMATERA UTARA

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TAHUN ANGGARAN : 2008 2010


KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kabupaten Serdang Berdagai
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Tanjung Beringin
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembuatan Jembatan Desa
Pembangunan Tempat Penjemuran Ikan
Pembangunan Gudang Penyimpanan

Hasil, Sorotasi, dan Packaging Ikan

114

TOTAL ANGGARAN : Rp 4.903.613.000

Peningkatan Jalan Poros Desa


Pembuatan Talud

3. PROVINSI SUMATERA BARAT


TAHUN ANGGARAN :
KABUPATEN/KOTA :

KAWASAN :

KEGIATAN FISIK
:

2009 2010
1 Kabupaten
Kab. Pesisir Selatan
1 Kawasan
Kawasan Mandeh
Pembangunan Jalan dan Saluran
Pengembangan Prasarana dan Sarana Agropolitan

TOTAL ANGGARAN : Rp 1.080.000.000

4. PROVINSI RIAU
TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Kampar, Kab. Kuantan Senggigi
KAWASAN : 2 Kawasan
Kawasan XIII Koto Kampar, Kawasan Teso Benai
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Jalan Poros Desa
Pembangunan Jalan Lingkungan
Pengembangan Prasarana dan Sarana Minapolitan
AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 4.477.788.000

115

5. PROVINSI KEPULAUAN RIAU


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Bintan
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Mantang
KEGIATAN FISIK
: Pembuatan Pelantar
Pembangunan Jalan Lingkar
TOTAL ANGGARAN : Rp 3.032.222.000

6. PROVINSI JAMBI
TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Batang Hari, Kab. Muaro Jambi
KAWASAN : 2 Kawasan
Kawasan Pemayung, Kawasan Kumpeh Ulu
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Poros Desa
Peningkatan Jalan Nelayan
Pembangunan Jalan Setapak Box Culvert
Peningkatan Jalan Usaha Tani (Jalan Setapak Beton)

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 6.849.475.000

116

7. PROVINSI BENGKULU
TAHUN ANGGARAN :
KABUPATEN/KOTA :

KAWASAN :

KEGIATAN FISIK
:

2010 2011
1 Kabupaten
Kab. Kaur
1 Kawasan
Kawasan Nasal
Peningkatan Jalan Usaha Tani (SKPA)
Peningkatan Jalan Poros Desa (SKPA)
Pembangunan Jalan Poros Desa

TOTAL ANGGARAN : Rp 1.922.300.000

8. PROVINSI SUMATERA SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2008 2010
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Ogan Ilir, Kab. Palembang
KAWASAN : 2 Kawasan
Kawasan Bakung, Kawasan Gandus
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
TOTAL ANGGARAN : Rp 5.130.255.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

117

9. PROVINSI BANGKA BELITUNG


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Bangka, Kab. Bangka Selatan
KAWASAN : 2 Kawasan
Kawasan Sungai Liat, Kawasan Salepliat
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan dan Peningkatan Prasarana dan Sarana Minapolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 3.662.688.000

10. PROVINSI LAMPUNG


TAHUN ANGGARAN : 2009
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Lampung Selatan
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Ketapang
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan Siring

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 515.000.000

118

11. PROVINSI BANTEN


TAHUN ANGGARAN :
KABUPATEN/KOTA :

KAWASAN :

KEGIATAN FISIK
:

2019 2011
1 Kabupaten
Kab. Serang
2 Kawasan
Kawasan Pontang, Kawasan Pabuaran
Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Jalan Lingkungan
Pembangunan Talud

TOTAL ANGGARAN : Rp 4.459.495.000

12. PROVINSI JAWA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2005 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Bogor, Kab. Sukabumi
KAWASAN : 3 Kawasan
Kawasan Leuwiliang, Kawasan Ciseeng, Kawasan Pelabuhan
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Usaha Tani
Penyediaan Air Beku
Peningkatan Jalan Poros Desa (Lapen)
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Gedung Tempat Penyimpanan Hasil Panen
TOTAL ANGGARAN : Rp 8.272.361.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

119

13. PROVINSI JAWA TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Banyumas, Kab. Cilacap
KAWASAN : 2 Kawasan
Kawasan Beji, Kawasan Majenang
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Pasar Ikan
Pelebaran Jalan Poros Desa
Peningkatan Jalan Poros Desa dan Talud
Peningkatan Jalan Usaha Tani
TOTAL ANGGARAN : Rp 4.695.000.000

14. PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


TAHUN ANGGARAN : 2009
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Gunung Kidul
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Playen
KEGIATAN FISIK
: Pengembangan Pasar Desa Agropolitan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 601.000.000

120

15. PROVINSI JAWA TIMUR


TAHUN ANGGARAN :
KABUPATEN/KOTA :

KAWASAN :

KEGIATAN FISIK
:

2010 2011
3 Kabupaten
Kab. Malang, Kab. Blitar, Kab. Pacitan
3 Kawasan
Kawasan Wajak, Kawasan Nglegok, Kawasan PPI Tamperang
Peningkatan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Poros Desa

TOTAL ANGGARAN : Rp 4.607.270.000

16. PROVINSI KALIMANTAN BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Sambas
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Jawal
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Poros Desa
TOTAL ANGGARAN : Rp 2.865.190.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

121

17. PROVINSI KALIMANTAN SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Pulang Pisau, Kab. Banjar
KAWASAN : 2 Kawasan
Kawasan Teluk Gohong, Kawasan Cindai Alus
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Poros Desa
TOTAL ANGGARAN : Rp 7.486.632.000

18. PROVINSI KALIMANTAN TIMUR


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Malinau
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Kaliamok
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Talud
Peningkatan Jalan Lingkungan

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 8.210.305.000

122

19. PROVINSI SULAWESI UTARA


TAHUN ANGGARAN :
KABUPATEN/KOTA :

KAWASAN :

KEGIATAN FISIK
:





2006 2011
3 Kabupaten
Kab. MInahasa Utara, Kab. Minahasa Selatan, Kab. Sangihe
3 Kawasan
Kws. Klabat, Kws. Managabata, Kws. Tatapaan, Kws. Tabukan Selatan
Pembangunan Talud
Pengamanan Permukiman
Pembangunan Pasar Agro
Pembangunan PSD Minapolitan
Pembangunan Pasar Bibit dan Ikan Air Tawar
Pembangunan Packing House Ikan Air Tawar
Pembangunan Talud Jalan Produksi Nelayan
Peningkatan Jalan Produksi Perikanan Nelayan
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Usaha Tani (Perkerasan Telford)

TOTAL ANGGARAN : Rp 13.549.749.000

20. PROVINSI GORONTALO


TAHUN ANGGARAN : 2010 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Gorontalo Utara
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Anggrek
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Usaha Tani (SKPA)
Peningkatan Jalan Usaha Tani
TOTAL ANGGARAN : Rp 1.602.718.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

123

21. PROVINSI SULAWESI TENGAH


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Tojo Una-Una, Kab. Donggala
KAWASAN : 2 Kawasan
Kawasan Wakai, Kawasan Labean
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Tambatan Perahu
Penyediaan Prasarana dan Sarana Agropolitan
TOTAL ANGGARAN : Rp 2.000.036.000

22. PROVINSI SULAWESI BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Mamuju
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Bonda
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan Saluran Air Baku

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 1.000.000.000

124

23. PROVINSI SULAWESI TENGGARA


TAHUN ANGGARAN :
KABUPATEN/KOTA :

KAWASAN :

KEGIATAN FISIK
:





2009 2011
2 Kabupaten
Kab. Kolaka, Kab. Konawe Selatan
3 Kawasan
Kawasan Wolo, Kawasan Tinanggea
Peningkatan Jalan Usaha Tani
Pembangunan Talud
Pembangunan Talud dan Box Culvert (SKPA)
Peningkatan Jalan Usaha Tani (SKPA)
Pembangunan Dermaga Kayu
Pembangunan Los Pasar Ikan
Penyediaan Prasarana dan Sarana Agropolitan

TOTAL ANGGARAN : Rp 7.417.402.000

24. PROVINSI SULAWESI SELATAN


TAHUN ANGGARAN : 2010 2011
KABUPATEN/KOTA : 3 Kabupaten
Kab. Luwu Timur, Kab. Gowa, Kab. Pangkep
KAWASAN : 1 Kawasan
Kws. Malili (Minapolitan), Kws. Bontonompo, Kws. Pangkajene
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Desa
Peningkatan Jalan Usaha Tani
Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Jembatan
TOTAL ANGGARAN : Rp 6.945.070.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

125

25. PROVINSI BALI


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Klungkung
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Nusa Penida
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Usaha Tani
TOTAL ANGGARAN : Rp 3.500.000.000

26. PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Bima, Kab. Lombok Timur
KAWASAN : 2 Kawasan
Kws. Woha, Kws. Keruak Jerowaru
KEGIATAN FISIK
: Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Jembatan
Pembangunan Talud Jalan Poros Desa

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 5.766.375.000

126

27. PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR


TAHUN ANGGARAN :
KABUPATEN/KOTA :

KAWASAN :

KEGIATAN FISIK
:


2009 2011
2 Kabupaten
Kab. Sikka, Kab. Belu
2 Kawasan
Kawasan Pesisir Sikka, Kawasan Koba Lima
Pembangunan Tambatan Perahu
Pembangunan Sub-Terminal Agribisnis
Pembangunan Jalan Usaha Tani (SKPA)
Pembangunan Jalan Poros Desa

TOTAL ANGGARAN : Rp 4.309.402.000

28. PROVINSI PAPUA


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 2 Kabupaten
Kab. Waropen, Kab. Jayapura
KAWASAN : 2 Kawasan
Kws. Distrik Waropen Bawah, Kws. Distrik Muara Tami
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan Jalan Poros Desa
Pembangunan Saluran
TOTAL ANGGARAN : Rp 5.959.655.000

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

127

29. PROVINSI PAPUA BARAT


TAHUN ANGGARAN : 2009 2011
KABUPATEN/KOTA : 1 Kabupaten
Kab. Raja Ampat
KAWASAN : 1 Kawasan
Kawasan Selat Segawin
KEGIATAN FISIK
: Pembangunan Pasar
Pembangunan dan Peningkatan Jalan Poros Desa
Pembangunan Talud

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

TOTAL ANGGARAN : Rp 4.643.654.000

128

Peningkatan jalan
poros desa Kawasan
Minapolitan Cilacap,
Jawa Tengah

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

129

Daftar Pustaka:



Yudhohusodo, Siswono, Laporan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, 2002.


Selayang Pandang Kawasan Agropolitan Bagelan Kabupaten Purworejo
Kawasan Agropolitan, Kementerian Pertanian, 2002.
Kawasan Minapolitan, Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2006.

Daftar Istilah :

AGROPOLITAN DAN MINAPOLITAN

Konsep Kawasan Menuju Keharmonian

130

APBD
APBN
DPRD
DTW
FAO
KKP
KWT
MoU
Perda
Pokja
PPN
RDTR
RPH
RPIJM
RPJMD
RTRW
RTRWN
SDM
STA
SUPAS
SRI
TPH
TPI
Tupoksi
UNEP
WPP
ZEE

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah


Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
Daerah Tujuan Wisata
Food and Agriculture Organization
Kementerian Kelautan dan Perikanan
Kelompok Wanita Tani
Memorandum of Understanding
Peraturan Daerah
Kelompok Kerja
Pelabuhan Perikanan Nusantara
Rencana Detil tata Ruang
Rumah Pemotongan Hewan
Rencana Program Investasi Jangka Menengah
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah
Rencana Tata Ruang Wilayah
Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Sumber Daya Manusia
Sub Terminal Agribisnis
Survei Penduduk Antarsensus
System Rice Intensification
Tempat Pengumpulan Hasil
Tempat Pelelangan Ikan
Tugas pokok dan fungsi
United Nations Environment Program
Wilayah Pengembangan Parsial
Zona Ekonomi Ekslusif