Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak prasekolah adalah anak yang berusia tiga sampai lima tahun. masa ini,
terjadi pertumbuhan dan perkembangan biologis, psikososial, kognitif dan spiritual yang
begitu signifikan. Pertumbuhan dan perkembangan anak usia prasekolah dipengaruhi oleh
nutrisi, masalah tidur, kesehatan gigi, pencegahan cedera serta cara orang tua dalam
merawat anak yang sakit (Whaley dan Wong, 1995).
Nutrisi pada anak usia prasekolah harus mempunyai nilai gizi yang seimbang dan
kalori yang mencukupi. Nutrisi tidak terpenuhi maka akan terjadi masalah pada
pertumbuhan dan perkembangan. Kebutuhan gizi yang tidak terpenuhi secara adekuat
dapat menyebabkan gizi buruk pada anak usia prasekolah (Supriyadi, 2008).
Suganda (2002) mengemukakan Nutrisi adalah termasuk pembangun tubuh yang
mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan, terutama pada tahun-
tahun pertama kehidupan dimana anak sedang mengalami pertumbuhan yang sangat pesat
terutama pertumbuhan otak.
WHO (2007) mengemukakan definisi anak mulai usia dari 0-18 tahun mulai
neonatus, bayi, batita, balita, prasekolah, usia sekolah dan remaja. Pengertian dari tumbuh
adalah dilihat dari berat badan, tinggi badan dan lingkar kepala, bertambahnya jumlah dan
ukuran sel pada semua system organ tubuh dan kepandaian mereka dalam tahapan
perkembangan usianya.
Masalah gizi terutama pada anak merupakan masalah klasik Indonesia karena
setiap tahunnya, jumlah anak yang terkena gizi kurang mengalami peningkatan. Tahun
2005 ditemukan 1,8 juta anak dengan status gizi buruk, 2,3 juta pada tahun 2006 anak
menderita gizi buruk. Sementara itu, hingga Maret 2008, 27% anak di Indonesia
diperkirakan mengalami gizi buruk, Namun demikian untuk mencapai target sebesar 20%
pada tahun 2009, data dari Dinas Kesehatan Jakarta Selatan mencatat sekitar 18 ribu
balita menderita kekurangan gizi, sebanyak 17.150 balita di Jakarta Selatan. salah satu
pencetus masalah gizi kurang di Jakarta Selatan adalah perilaku sulit makan pada anak
dan faktor ekonomi juga perlu upaya yang lebih intensif dengan meningkatkan
ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga, memperbaiki pola asuh, dan meningkatkan
pelayanan kesehatan dasar. (Siswono, 2008).
Kesulitan makan didefinisikan sebagai perilaku anak yang mengalami gangguan
makan berupa penolakan makan, tidak mau makan, lama waktu makan hingga lebih dari
30 menit dan hanya mau makan makanan tertentu saja (Kusumadewi, 1998),
Judarwanto (2005) mengemukakan kesulitan makan adalah jika anak tidak mau
atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan menkonsumsi makanan atau
minuman dengan jenis dan jumlah usia anak.
Penelitian yang dilakukan Judarwanto di Jakarta menyebutkan pada anak usia 4
6 tahun, mendapatkan prevalensi kesulitan makan terbesar 33,6%. Sebagian besar
(79,2%) telah berlangsung lebih dari 3 bulan.
Depkes (2005) mengemukakan Sulit makan akan menyebabkan terhambatnya
pertumbuhan dan perkembangan. Akibat buruk pada pertumbuhan fisik prasekolah
terlihat dari energi berat badan dan tinggi badan yang kurang normal, contohnya bayi
pada usia 19 bulan berat badannya hanya mencapai 7,5 kg, seharusnya berat badan
normal 10 kg pada usia tersebut. Sedangkan akibat buruk pada perkembangan yaitu
perkembangan motorik dan sensorik anak prasekolah menjadi terganggu.
Kesulitan makan yang berat dan berlangsung lama berdampak negatif pada
keadaan kesehatan anak, keadaan tumbuh kembang dan aktivitas sehari-harinya. Dampak
kesulitan makan pada umumnya merupakan akibat gangguan zat gizi yang terjadi.
Beberapa macam zat gizi, berapa berat kekurangannya, jangka waktu singkat atau lama.
Contoh pada anak yang tidak mau atau tidak dapat makan untuk beberapa hari saja
mungkin terjadi keadaan depresi energi yang akut (hipoglikemia), tanpa gejala yang nyata
atau dengan gejala berkeringat dingin, bahkan pingsan dan kejang-kejang. Jika anak
hanya tidak menyukai jenis makanan tertentu, misalnya tidak suka sayuran atau buah-
buahan, mungkin terjadi kekurangan vitamin A. jika hanya mengkonsumsi cukup banyak
susu murni saja, mungkin terjadi anemia defisiensi besi yang selanjutnya mungkin
berdampak negatif terhadap kekebalan dan kecerdasan otak.
(http://Akhmadi.multiply.com).
Kesimpulan dari data diatas kesulitan makan didefinisikan sebagai perilaku anak
yang mengalami gangguan makan. Kesulitan makan yang berat dan berlangsung lama
akan berdampak negatif pada keadaan kesehatan anak, keadaan tumbuh kembang dan
aktivitas sehari-harinya. Dampak kesulitan makan pada umumnya merupakan akibat
gangguan zat gizi yang terjadi. Beberapa macam zat gizi, berapa berat kekurangannya,
jangka waktu singkat atau lama. Contoh pada anak yang tidak mau atau tidak dapat
makan untuk beberapa hari saja mungkin terjadi keadaan depresi energi yang akut. Oleh
karena itu, bila perilaku sulit makan dibiarkan begitu saja maka diprediksikan generasi
penerus bangsa akan hilang karena keadaan gizi masyarakat merupakan salah satu unsur
utama dalam penentuan keberhasilan pembangunan Negara atau yang lebih dikenal
sebagai Human Development Indeks (HDI) (Judarwanto, 2005 ; Depkes, 2005).
B. Perumusan Masalah
Pada usia prasekolah anak biasanya sulit makan, seperti perilaku anak yang
mengalami gangguan makan berupa penolakan makan, tidak mau makan, lama waktu
makan hingga lebih dari 30 menit dan hanya mau makan makanan tertentu saja.
Sulit makan akan menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan.
Akibat buruk pada pertumbuhan fisik prasekolah terlihat dari
antropometrik yang lain berat badan dan tinggi badan yang kurang normal. Penelitian
ingin mengetahui bagaimana hubungan sulit makan dengan tingkat pertumbuhan pada
anak usia prasekolah di T.K Pertiwi VI Pondok Labu DDN II Jakarta Selatan.
Berdasarkan hal tersebut diatas adapun hal yang menjadi pertanyaan penelitian
yaitu :
1. Bagaimana gambaran karakteristik pada anak usia prasekolah di TK Pertiwi
VI Pondok Labu DDN II Jakarta selatan?
2. Bagaimana gambaran sulit makan pada anak usia prasekolah diTK Pertiwi VI Pondok
Labu DDN II Jakarta selatan?
3. Bagaimana gambaran tingkat pertumbuhan pada anak usia prasekolah di TK Pertiwi
VI Pondok Labu DDN II Jakarta selatan?
4. Bagaimana hubungan karakteristik anak dengan tingkat pertumbuhan pada anak usia
prasekolah di TK Pertiwi VI Pondok Labu DDN II Jakarta Selatan?
5. Bagaimana hubungan sulit makan dengan tingkat pertumbuhan pada anak usia
prasekolah di TK Pertiwi VI Pondok Labu DDN II Jakarta selatan?
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum :
Mengetahui hubungan sulit makan dengan tingkat pertumbuhan pada anak
usia prasekolah di TK Pertiwi VI Pondok Labu DDN II Jakarta Selatan.
2. Tujuan Khusus :
a. Mengindentifikasi gambaran karakteristik (umur, jenis kelamin) pada anak usia
prasekolah di TK Pertiwi VI Pondok Labu DDN II Jakarta selatan.
b. Mengindentifikasi sulit makan pada anak usia prasekolah di TK Pertiwi VI
Pondok Labu DDN II Jakarta selatan.
c. Mengindentifikasi tingkat pertumbuhan pada anak usia prasekolah di TK Pertiwi
VI Pondok Labu DDN II Jakarta selatan.
d. Mengindentifikasi hubungan karakteristik anak dengan tingkat pertumbuhan pada
anak usia prasekolah di TK Pertiwi VI Pondok Labu DDN II Jakarta selatan.
e. Bagaimana hubungan sulit makan dengan tingkat pertumbuhan pada anak usia
prasekolah diTK Pertiwi VI Pondok Labu DDN II Jakarta Selatan.
D. Manfaat Penelitian
Manfaat yang diperoleh dari penelitian tentang hubungan sulit makan dengan
tingkat pertumbuhan pada anak usia prasekolah di TK pertiwi VI pondok labu DDN II
Jakarta selatan adalah sebagai berikut :
1. Bagi profesi keperawatan
a. Sebagai masukan untuk menyusun intervensi yang tepat dalam mengatasi masalah
sulit makan pada anak usia prasekolah.
b. Sebagai masukan untuk menyusun materi pendidikan kesehatan tentang sulit
makan pada anak.
2. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai masukan terhadap pengembangan kurikulum yang mendukung terciptanya
pelayanan asuhan keperawatan yang professional.
3. Bagi Masyarakat
Diharapkan dapat memberikan masukan bagi orang tua agar bisa lebih tepat memilih
jenis makanan yang cocok untuk usia anak terkait dengan tingkat pertumbuhan pada
anak usia prasekolah.
4. Bagi Penelitian
Memperkuat hasil penelitian yang telah ada dan menjadi acuan untuk penelitian
terkait yang lebih spesifik.
E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini dilakukan pada anak yang memiliki perilaku sulit
makan yang akan dilakukan di TK Pertiwi VI Pondok Labu DDN II Jakarta Selatan
mengenai hubungan perilaku sulit makan dengan tingkat pertumbuhan pada anak usia
prasekolah (3-5 tahun).