Anda di halaman 1dari 51

SOSIOLOGI PERKOTAAN

PENDAHULUAN :
1. Dalam sejarah sosiologi kita melihat sudah sejak permulaan
perhatian para sosiolog terhadap gejala gejala sosial : Kota. Tetapi
perhatian ini tidak langsung, tetapi tidak langsung, kita melihat itu
kepada sosiolog antara lain DURKHEIM, WEBBER dan SIMMEL.
DURKHEIM, dalam morfologi sosial, melihat suatu hubungan
antara gejal-gejala sosial dan keadaan- keadaan material fisik
misalnya keadaan penduduk (jumlah dan kepadatannya ) .
Morfologi sosial melihat dua jenis / tipe kehidupan bermasyarakat,
yang satu dimana ada suatu kepadatan penduduk yang kurang dan
sedikit jumlah penduduk adalah terealisir dalam masyarakat desa.
Disini juga kita melihat suatu kesamaan dalam idiologi , kesamaan
dalam agama dan juga kebudayaan.
Masyarakat desa dibentuk oleh kesatuan yang tidak berbeda- beda .
bentuk kehidupan lain kita lihat dalam masyarakat kota. Disini
adalah kepadatan penduduk yang tinggi, dan jumlah penduduk yang
besar . masyarakat kota dibentuk oleh unit yang berbeda-beda. Disini
mereka tidak hidup bersama karena suatu konformisme , akan tetapi
karena mereka dapat cara fungsional ,saling melengkapi . kontak
kontak yang ada adalah bersifat fungsional dan dalam bentuk
organisasi .
WEBBER mempunyai perhatian tentang gejala gejala ekonomis
dan karenanya dikonfrontir dengan gejala kota. Kota adalah tempat /
pusat aktifitas aktifitas ekonomis, mempunyai fungsi sebagai
market / pasar ,karena Max Webber suka bekerja dengan tipe tipe
ideal dia juga hendak dengan memandang sifat esensial membuat
suatu gambaran tentang kehidupan bermasyarakat . Max Webber
menggambarkan beberapa tipe kota (cfr. Urban man and society by
A.Cousins / H. Nagpaul chapter II No.7 the typological tradition
P.69 :Weber : Types of action orientation ).
Simmel memperkembangkan suatu teori umum dengan
mempergunakan pengertian Vergesselschaftung menurut dia ada
berlaku suatu proses dimana menjadi jelas suatu interaksi (relasi
timbal balik ) antara isi dari kontak kontak manusiawi yang hidup
di kota, tidak suka terlalu kontak kontak pribadi . kontak kontak
antar mereka yang hidup di kota jadi menurut pola pola tertentu,
bersifat rasional dan anonym. Tiga orang ini bekerja dengan cara
deduktif, dan mempergunakan situasi di kota untuk memberi contoh
contoh dari teori sosiologis yang lebih umum. Karena itu dapat
dikatakan bahwa mereka mempunyai perhatian tentang kota tetapi
secara tak langsung.

2. Pada permulaan abad ke 20 diterbitkan beberapa karangan yang
memilih kota sebagai tema utama dan bekerja lebih berdasar atas
empiris. Ch Booth (1840 1916) menulis tentang situasi orang
orang miskin di London . Adna Ferrin Weber menulis antara lain
tentang The Grouth of Industrial centers in the mineteenth century
(cfr. A. Cousing ,o.c.p 40 -46). Dia (Adna Weber) mengumpul data-
data tentang perkembangan kota-kota dan jumlah tambahan
jumlahnya . Dia coba merumuskan tentang sebabnya urbanisasi
dalam abad ke-19 itu. Jumlah penduduk naik baik di desa, tetapi juga
di kota bertambah. Dorongan yang paling besar adalah gaya tarik
kehidupan di koya. Dengan perkembangan industry tempat bekerja
di kota mulai bertambah , pasaran di kota menjadi lebih besar dan
ada banyak factor lain yang mengakibatkan bahwa kemungkinan
untuk hidup menjadi kurang di desa-desa dan juga sudah jelas bahwa
akan mendatangkan efek sampingan bagi masyarakat kota itu
sendiri.
Weber tidak melihat factor-faktor demografis dan ekonomis serta
sebab-sebabnya tetapi juga menyebut peranan pemerintah yang
stimulir industriliasasi dan migrasi ke kota-kota
3. Hanbooks about Urban Sociology
Beberapa handbook adalah berasal dari The Chicagoschool dan
dibuat berdasar atas suatu human ecology tetapi ada juga
hanbooks dimana hanya dalam suatu / dua bab diberi perhatian
kepada human ecology dan perhatian juga kepada bahan-bahan lain
atau suatu pendekatan lain. Sejak tahun 1950 diterbitkan bnayk
handbooks tentang Urban sociology , itulah suatu bukti bahwa
dibutuhkan banyak informasi tentang kehidupan sosial kota. Dengan
gejala urbanisasi timbul banyak persoalan sosial karena pengaruh
negatifnya selalu dan bagi masyarakat di perkotaan. Banyak
handbooks memberi suatu keterangan/informasi tentang gejala-
gejala sosial di kota, tetapi keterangan-keterangan teoritis verifikasi
dan empiris kurang diberi. Kita dapat memberi suatu keterangan
tentang itu yang pada umumnya diberi dalam Handbooks ini yaitu :
a. Beberapa keterangan umum tentang kota, dengan juga beberapa
teori diberi beberapa perumusan tentang kota, dengan pada
umumnya juga beberapa perbedaan tentang Kota dan Desa
b. Proses urbanisasi, besarnya kota dan penyebaran kota-kota.
Suatu karangan historis tentang pembentukan dan perkembangan
kota-kota suatu karangan tentang kota preindustrial dan
perkembangan kota di Eropa Barat dalam abad ke-19
c. Beberapa jenis kota, yang mungkin dimasuki dalam suatu
tipologi, fungsi berbagai jenis dalam suatu system kota
d. Pembagian kota menurut maksud pemakaian tanah / wilayah
Kota. Disini diberi perhatian kepada Human ecology. Dan sering
juga dibicarakan the city of the town ,wilayah di kota dan slums.
e. Si penduduk di kota, lebih bersifat social psychologis
f. Struktur sosial , dengan perhatian terhadap stratifikasi sosial
kelompok etnis, institusi-institusi dan organisasi organisasi.
Kesempatan untuk bekerja , keluarga ,pendidikan ,agama , masa
media, rekreasi dan serikat-serikat.
g. Persoalan urban : kemiskinan ,perumahan yang tidak layak
,kelakuan devian dan lain lain
h. Tetapi perencanaan, pembaharuan, perubahan institusional dan
lain-lain.
Jelaslah bahwa lapangan kerja dari sosiologi perkotaan sangatlah
luas, tetapi kurang dilihat suatu sintesa dari obyek-obyek ini

BAB I
PERBEDAAN ANTARA KOTA DAN DESA
Dari keterangan yang diberi dalam pendahuluan dapat ditarik
sebagai kesimpulan, bahwa amat sulitlah untuk memberi suatu traktat
URBAN SOCIOLOGY yang up to date dan lengkap. Kiat dapat membaca
dalam beberapa keterangan tentang sosiologi perkotaan, bahwa suatu
tipologi tentang kota dan desa yang berdasar atas suatu daftar perbedaan-
perbedaan antara dua jenis kehidupan sosial, tidak lagi dilihat dari suatu
yang berguna. Tetapi menurut hemat kami hal ini benar untuk suatu
masyarakat yang sebagai keseluruhan untuk cukup berkembang , dimana
perbedaan antara kota dan desa tidak berbeda. Kita mengerti disini
kebudayaan sebagao suatu keseluruhan nilai-nilai, norma bukan sebagai
kebudayaan material. Kebudayaan ini menjadi dasar segala sesuatu dan
relasi antar manusia. Kalau kita mengerti apakah sebab mereka mau berelasi
dan apakah sebab timbul relasi-relasi tertentu dan juga institusi institusi
tertentu, kita harus tahu apa yang oleh masyarakat itu dianggap sebagai
nilai-nilai / hal yang penting. Kalau kita berbicara tentang sosiologi kota dan
sosiologi desa (urban dan rural sociology) , kita tidak hendak bicara tentang
tindak laku manusia yang hidup dalam wilayah-wilayah yang berbeda
luasnya dan lain-lain. Tetapi diperhatikan suatu perbedaan dalam
kebudayaan. Dalam masyarakat kita di Indonesia kita menyaksikan bahwa
masih ada suatu perbedaan yang cukup besar antara kebudayaan-
kebudayaan di beberapa kota besar yaitu kebudayaan yang menentukan
kelakuan sebagian besar dari mereka yang hidup diluar pengaruh kota. Kami
tidak menolak kenyataan ini, bahwa juga masyarakat kita hidup dalam suatu
masa peralihan. Sosial change juga berlaku dalam masyarakat Indonesia ,
tetapi juga tanpa research dapat dikatakan bahwa cukup banyak orang masih
hidup dalam alam pikiran yang lama. Penyebaran mentalitet kota jadi
dengan kecepatan yang besar, banyak orang dikonfrotir dengan suatu
mentalitas baru. Karena itu juga untuk membantu mereka dapat diuraikan
dalam kursus juga perbedaan antara mentalitas koa dan mentalitas desa, atau
dengan singkat :perbedaan antara kota dan desa. Banyak persoalan timbul
pada zaman ini dalam masyarakat pada umumnya, dalam keluarga-keluarga
, golongan agama dengan pendek : dalam kehidupan sosial, karena banyak
orang yang berasal dari desa (dengan mentalitas desa) harus sekarang hidup
dalam masyarakat kota (dengan mentalitas kota) dan mereka tidak tahu apa
harus dibuat di kota dan juga tidak tahu apa yang diharapkan dari mereka di
kota.
PAR 1. Perbedaan antara Desa dan Kota-kota pertama

Dalam buku Cousins / Nagpaul , o.c.p 10-15 diberi suatu karangan dari
V.Gordon Childe yang berjudul : THE URBAN REVOLUTION. Dari
karangan ini kami akan memberi beberapa pikiran, yang dilengkapi dengan
beberapa yang lain. Selama semua orang mesti bekerja untuk menghadirkan
cukup makanan untuk mereka sedniri, tidak dapat jadi, bahwa ada orang
yang tiak terlibat dalam food-production. Tidak ada surplus makanan, yang
boleh dipergunakan oleh mereka yang tidak langsung aktif dalam proses
produksi makanan. Akan tetapi kurang lebih 5000 tahun yang lalu irigasi
dari beberapa sungai besar,sungai nil,efrates dan tigris, dan juga sungai
indus menyebabkan bahwa ada surflus makanan yang mengisinkan , bahwa
ada orang-orang yang tidak langsung akan mengambil bagian dalam proses
produksi makan, juga pengangkutan mulai diperbaiki (perahu dan gerobak
beroda) sehingga mereka dengan lebih mudah dapat mengangkut bahan-
bahan makanan dari jauh.kurang lebih 2000 tahun yang lalu mulai dibangun
kota-kota di Amerika sentral . tetapi kota-kota yang dibangun di Amerika
sentral cukup berbeda dengan kota-kota di mesir,Dll. Ekonomi ini The old
world berkembang karena mempergunakan irigasi dan juga ada
pendapatan-pendapatan baru , misalnya: baja dari besi, kapal layar, roda,
Dll. Tetapi suku maya di Amerika sentral tidal dikenal dengan hal ini,
mereka tidak memelihara sapi untuk mendapat susu , mentega, keju, Dll.di
bidang pertanian belum ada itu yang disebut teknik teratur,kita dapat sebut
10 hal yang membedakan kota-kota yang pertama itu dari komponen-
komponen yang ada pada waktu itu:
1. Kota-kota ini mempunyai wilayah yang lebih luas dari pada
komponen-komponen yang masih ada pada waktu itu dan juga
jumlah penduduk lebih besar,juga pada kilometer persegi. Toh harus
dikatakan bahwa jumlah penduduk tidak begitu banyak . ditaksir
bahwa kota-kota ini mempunyai jumlah penduduk 7.000 s/d 20.000
orang. Di Mesopotamia (iran dan irak) sudah dibuat banyak
penggalian sehingga dapat dikatakan bahwa ada suatu kepastian
tentang luasnya kota-kota ini dan juga jumlah penduduk. Tidak ada
banyak perbedaan dengan kota-kota ini yang kurang berindustri pada
saman ini di daerah kita, misalnya, Tomohon.

2. Isi susunan dan fungsi dari para penduduk di kota sudah jauh
berbeda dengan mereka yang hidup di desa. Banyak penduduk yang
masih bekergaja sebagai tani, tetapi kita juga melihat kelas lain yang
tidak mengusahakan makanan sendiri. Mereka adalah orang-orang
yang bekerja sebagai tukang,atau aktif dibidang pengangkutan,
perdagangan,mereka juga pegawai.mereka dapat makan dan hidup,
karena ada surplus makanan sebagai hasil dari petani yang tinggal di
kota dan desa. Kelebihan mereka dapat diambil dan dibawa ke kota
karena sudah ada alat pengangkutan , organisasi dan keamanan.

3. Tiap-tiap petani harus menyerahkan sebagian ari surplusnya kepada
dewa-dewa yang diwakili oleh pemimpin agama atau kepada raja
yang berasal dari dewa-dewi ini.raja ini menguasai kelebihan
makanan ini.

4. Di kota-kota kita melihat gudung-gedung umum, hal ini
menerangkan bahwa kelebihan dipusatkan di kota, dan tidak
langsung dipakai untuk memperbaiki situasi di desa-desa. Di kota
didapati rumah ibadat dan dekat pada gedung-gedung ini da nada
tempat kerja untuk para tukang dan juga lumbung untuk kumpul
bahan makanan, misalnya terigu. Hal ini kita lihat dalam semua kota
zaman dulu, baik di mesir dan Mesopotamia maupun di Amerika
sentral.

5. Mereka yang tidak bekerja sebagai tani harus mendapat bagiannya
dari surplus makanan yang tersimpan kepada ruah-rumah ibadat atau
lumbung yang dimiliki oleh raja. Mereka tergantung kepada kerelaan
kepada pemimpin agama atau raja kalau mereka mau hidup dan
tinggal di kota.

6. Karena perkembangan kehidupan bersama orang-orang lain di kota
dalam suatu jumlah yang cukup besar , mereka terpaksa harus
mencari teknik-teknik untuk mendapat laporan-laporan dan juga
diperhatikan ilmu-ilmu nyata yng praktis. Administrasi dari uang
yang masuk kepada pemimpin agama dan kepada raja dibuat oleh
pegawai khusus. Tetapi untuk itu dibutuhkan suatu cara yang
memungkinkan bahwa orang lain dapat tahu dan meneruskan
pekerjaan ini , mereka mulai mencari system-sistem untuk menulis
dan menghitng. Menulis adalah suatu tanda bahwa mereka sudah
bekembang.

7. Karena mereka tahu menulis para pegawai dan juga para alim ulama
, yang mempunyai waktu vriy, dapat mengarah perhatian mereka
pada perkembangan ilmu-ilmu exata dan ilmu yang dapat
dipergunakan untuk meramalkan sesuatu. Kita lihat suatu
perkembangan dari ilmu-ilmu: matematik, geometri, dan astronomi.
Mereka juga sudah mampu untuk menentukan waktu satu tahun dan
juga membagikan tahun itu dalam waktu-waktu tertentu sehingga
mereka tahu juga waktu mana juga dapat dilihat sebagai berguna dan
baik untuk menanam dan lain-lain.

8. Ahli-ahli lain memberi suatu perkembangan kepada seni budaya.para
ahli pelukis, menggambar dan juga membuat patung yang sampai
sekarang dihargai karna nilainya kulturil. Style nyasangat berbeda
antara tempat-tempat tersebut.

9. Karena sosial surplus cukup besar mereka dapat mempergunakan
sebagian juga untuk membayar alat-alat dan bahan-bahan yang
dibutuhkan dan tidak ada dalam daerah mereka sendiri, khususnya
bahan yang dibutukan untuk industry dan agama. Dari mesir ada
suatu hubungan perdagangan dengan daerah industry. Obyek
perdagangan ini adalah: bahan lux dan juga bahan kasar yang
dibutuhkan untuk industry, khususnya logam.

10. Dalam masyarakat kota ini para tukang bias dapat bahan kasar yang
dibutuhkan untuk pekerjaan meraka, dan mereka juga akan
mendapat suatu kedudukan tertentu dalam msyarakat itu. Kedudukan
(status) mereka diakui, karena mereka menjadi penduduk kota ini
dan hak dan kewajiban tertentu.masyarakat desa status para
penduduk berdasar atas relasi keluarga. Mereka tidak usah lagi pergi
keliling dari suatu kota kepada yang lain.

Kota adalah suatu masyarakat, dan para tukang menjadi anggota masyarakat
tersebut baik politik maupun ekonomis. Dengan menerima suatu kepastian
hokum mereka juga menjadi orang yang dalam banyak hal tergantung
kepada rumah ibadat atau keluarga raja. Masyarakat kota itu membentuk
suatu jenis kesetiakawanan , yang tidak ada dalam masyarakat desa pada
waktu itu, mereka yang hidup di kota, para petani,para tukang, dan alim
ulama, mereka membentuk suatu komunitas yang tidak hanya berdasar atas
kesamaan dalam bahasa dan agama.kalau dia berbicara dalam dua jenis
kesetiakawanan, mekanis dan organis, dalam massyarakat kota yang
pertama ini yang berusaha harus tetap berkuasa, mereka bekerja sebagai
diktato, dank arena itu dalam masyarakat itu tidak ada tempat untuk
skeptisime dan kelompok yang mempunyai pandangan yang berbeda.

PAR 2.kota perindustriil
Jelaslah bahwa bukan semua kota mempunyai sifat yang sama. Toh dapat
dicoba untuk membuat suatu klarifikasi dalam bentuk kota yang ada. Suatu
distinsi yang cukup penting ialah: pebedaan antara kota pre-industriil dan
kota industrial.dalam paragraph ini kita memberi suatu penjelasan tentang
kota pre-industriil. Dala paragraph ini kita akan memberi suatu penjelasan
tentang kota pre-industriilyang kami rasa cukup penting, juga supaya kita
dapat mengerti situasi dan Negara sedang berkembang dimana proses
pembentukan kota masih berlaku dan juga masih ada kota yang bersifat pre-
industriil.
1. Organisasi ekologis
Kota pre-industriil dapat hidup dan berkembang ,kalau ada kepastian
bahwa makanan dan bahan lain yang dibutuhkan akan dibawa ke
kota. Sebb itu kota-kota menjadi pusat perdagangan. Mereks juga
menjadi pusat dimana para tukang akan bekerja dengan tenaga
manusia dan bukan dengan alat mesin. Kota-kota ini mempunyai
fungsi besar dibidang politik , agama dan pendidikan. Jumlah
penduduk kota kalau dibandingkan dengan di desa masih kecil,
sering hanya 10%. Kota-kota ini mempunyai perkembangan yang
kecil.situasi ekologis dalam kota pre-industriil ini mempunyai suatu
kekhususan sangat erat hubungannya dengan struktur sosial dan
ekonomis. Pada umumnya jalan-jalan dan lorong-lorong hanya
cukup lebar untuk dapat dipergunakan oleh manusia dan binatang.
Rumah-rumah pada umumnya satu tingkat saja dekat satu dengan
yang lainnya, hal ini mengakibatkan cukup banyak soal dibidang
kesehatan. Di Eropa barat kita melihat bahwa misalnya orang-orang
yahudi boleh tinggal di kota-kota disana, tetapi harus tinggal dalam
bagian khusus, yang disebut Getho, di kota pre-industriil juga
berlaku suatu pembagian menurut jenis pekerjaan yang dilaksanakan
oleh mereka, misalnya para tukang wol tinggal bersama dijalan atau
lorong tertentu , juga tukang besi, tukang kayu dan lain-lain.

2. Organisasi Ekonomis
Suatu yang penting dalam situasi ekonomis kota-kota pre-industriil
ini,ialah bahwa tenaga yang dipakai untuk energy ialah tenaga
manusia dan binatang,tenaga ini dikuatkan melalui pemakaian alat-
alat dan roda-roda. Juga cara untuk memproduksi berbeda dengan
cara yang dipakai dalam masyarakat industrial.dalam proses
produksi kurang adanya spesifikasi dan pragmentasi. Mereka yang
bekerja mengusahakan seluruh produk ini, bukan saja sebagian
sebagai dalam pabrik. Hamper semua aktivitas ekonomis langsung
ditanggung oleh individu tanpa suatu organisasi formil. Tiap-tiap
tukang harus sendiri mencari suatu pasar untuk barangnya.para
tukang sering terorganisir dalam itu yang disebut GUILDS. Ada
guilds untuk para pedagang, untuk tukang tertentu,dll. Ada juga
untuk mereka yang bekerja dibidang rekreasi,pelayan-pelayan, tetapi
juga pada pengemis dan pencuri terkumpul dalam guilds mereka.
Guilds ini hanya bekerja dalam suatu community. Dalam guilds ini
juga diberi pendidikan kepada tenaga-tenaga baru, dan untuk
sebagian mereka juga mengatur pekerjaan para anggota khususnya
untuk menjaga kualitas produk mereka dan dapat juga menentukan
harga yang dapat dimintakan. Guilds ini terorganisir dari elemen-
elemen lain dari struktur sosial kota tersebut, mereka juga sering
berfungsi pada hari raya agama dan sering juga mempunyai seorang
kudus sebagai pelindung. Guilds ini juga membantu anggota yang
mengalami kesulitan rkonomi. Tidak ada suatu standarisasi dalam
proses produksi. Tiap-tiap produk adalah unik , dan pada umumnya
tidak ada harga yang pasti, sipembeli dan sipenjual harus tawar
menawar tentang harga yang harus dibayar.

3. Organisasi Sosial
Karena sistim ekonomis yang berlaku dalam kota pre-industriil dan
dasarnya adalah Ranimate Powers/ dilihat bahwa kota serupa ini
mempunyai sistimnya sendiri dibidang agama,pendidikan,dan
pemerintahan.
Juga stratifikasi sosial mempunyai ciri khas.
a. Struktur sosial
Yang sangat menarik perhatian sebagai suatu komponen dalam
struktur ini adalah dalam suatu kelompok elite, kelompok yang
teratas, yang dari suatu pihak mengontrol tetapi dari pihak lain
yang dalam banyak hal tergantung kepada kelompok massa di
kota itu. Kelompok elite ini dibentuk oleh individu yang
mempunyai fungsi dalam institusi pemerintahan agama atau
pendidikan. Sangat besar perbedaan antara mereka dan semua
orang lain dalam masyarakat itu, yang dibentuk oleh para tukang,
misalnya, yang berproduksi bahan dan juga bertugas untuk
melayani kelompok atas ini. Anggota kelompok atas ini
menikmati kekuasaan, mempunyai milik pribadi, dan lain hal
yang sangat berguna untuk mereka. Kedudukan mereka sering
dilindungi oleh itu yang ditulis dalam kitab suci. Situasi kaum
elite tidak dibahayakan oleh orang-orang lain yang tinggal di
kota, tetapi hanya dapat dibahayakan oleh mereka yang dating
dari luar. Dalam kota ini tidak ada suatu middle class, Karena
produksi bahan dalam kota ini hanya cukup untuk suatu
kelompok elite yang kecil yang sangat terbatas jumlah
anggotanya, juga kelompok elite ini mempunyai segala hal yang
mengisinkan produksi ini bahan dan alatnya. Si tukang dalam
segalanya tergantung kepada kelas elite ini.middle class tidak
berfungsi dalam masyarakat tersebut. Dalam kota pre-industril
ada sering out east group,yang sebenarnya tidak mengambil
bagian dalam struktur sosial kota itu. Mereka mempunyai tugas
tertentu di kota itu, misalnya, mengubur orang mati, mereka juga
menjadi budak, dll. Meraka yang bekerja dibidang rekreasi
(penyanyi, penari) , dan juga para pedagang kecil, yang pergi
dari suatu kota kepada yang lain sering masuk dalam out cast
group ini.karena berkontak dengan para penduduk kota lain.
Dapat jadi bahwa mereka akan membaca cita-cita baru ke kota
ini, dan kelompok elite ini suka menjauh diri dan juga orang lain
dari itu yang aru ini.

b. Ikatan kekeluargaan
Dari keterangan yang diberi lebih dahulu dapat ditarik
kesimpulan , bahwa dalam pre-industriil city berlaku ascribed
status, dank arena itu juga dapat dimengerti bahwa hubungan
kekeluargaan bermain peranan yang cukup besar dalam kota itu.
Diberi hormat kepada seorang berdasar atas kedudukan
keluarganya dan juga atas kemampuannya untuk melahirkan
anak. Sangat dihormati anak laki-laki dan poligami,konkubinat
dan adopsi memberi kemungkinan untuk mendirikan keluarga
besar.mereka kawin pada usia muda dan perkawinan ini diatur
oleh keluarga mereka dan tidak oleh mereka yang akan kawin.
Dalam kota pre-industriil kita melihat suatu ketentuan yang
sangat kuat yang mengatur itu yang dapat dibuat oleh seseorang
da nada prbedaan yang cukup besar sekedar seseorang
mempunyai umur tertentu dan juga kelaminnya mengambil
peranan dalam hal ini, misalnya: seorang wanita dari upper class
tidak mempunyai tugas diluar rumahnya , dia harus taat pada
suaminya dan bapaknya. Hanya wanita dari lower class atau out
cast boleh aktif diluar rumah mereka. Anak laki-laki yang tua
mendapat hak khusus. Mereka yang sudah tua tetap berkuasa dan
harus dihormati , dan justru karena itu perubahan sosial dari
masyarakat itu sangat terlambat.

c. Sistim pendidikan dan agama
Pembagian tugas dibidang agama hanya jadi antara mereka yang
menjadi anggota kelompok elite. Peranan agama dalam kota pre-
industriil sangat besar, dank karena itu mereka yang berkuasa
dibidang agama dapat mengatur segala peraturan yang berlaku
untuk para penduduk kota ini. Juga jelas ,karena pendidikan
diberi saja pada anggota dari high class hanya mereka juga
mampu memenuhi segala kewajiban yang terikat kepada agama.
Dalam kota pre-industriil ini pada umumnya berlaku satu agama
saja, juga kalau kepada minoritas yang ada serig disinkan untuk
mempraktekkan agama mereka sendiri, tetapi pemimpin agama
mereka tidak mengambil bagian dalam kehidupan sosial kota ini.
Dalam kota ini tidak ada suatu perpisahan perbedaan antara
kehidupan sosial dan kehidupan beragama, dalam arti ini bahwa
aktivitas agama tidak terpisah dari aktivitas lain, misalnya
kedudukan berkeluarga, kehidupan ekonomis, dan aktivitas
pemerintah. Suatu contoh yang masih berlaku sampai saat ini
ialah perayaan ramadhon dalam kota dengan penduduk yang
pada umumnya menjadi pengikut agama islam. Tetapi juga
kelompok minoritas bias tahan solidaritasnya/kekompakannya.
Mereka melalui suatu ketaatan yang kuat kepada agama mereka
masing-masing. Pendidikan formal hanya diberikan pada laki-
laki, karena mereka harus dipersiapkan untuk mendapat tugas-
tugas tertentu dalam kehidupan sosial,misalnya :
pemerintahan,pendidikan dan agama. Para pekerja dibidang
home industritidak perlu banyak pendidikan dan juga benar
bahwa sistim produksi (tenaga manusia) tidak memberi banyak
waktu vriy untuk mengikuti pendidikan formal. Dalam usaha
dibidang pendidkan diberi banyak perhatian kepada pendidikan
agama.yang menjadi bahan bacaannya pada umumnya; sacred
writings, dan pendidikan ini tujuannya bukan untu mengarti
banyak teapi untuk menghafal. Evaluasi dan usaha sendiri tidak
menjadi tujuan.

d. Komunikasi
Karena tidak ada media, kelompok sosial yang hidup dikota
hidup dengan cara terpisah satu dengan yang lain . kontak para
anggota dari kelompok sosial yang rendah hanya dapat dibuat
cara verbal karena mereka tidak tahu menulis dan tidak tahu
membaca. Tugas pemerintah dalam kota pre-industriil adalah
kumpul dana/pajak dari kelompok massa supaya kelompok elite
dapat melaksanakan aktivitas mereka, dan juga untuk menjaga
keamanan dalam kota yang sering dilaksanakan oleh polisi,
tentara, dan pengadilan.polisi terutama bertugas untuk menjaga
aktivitas paraoutsiders dan pengadilan sering mempergunakan
sebagai pedoman itu yang ditulis dalam kitab suci. Suatu
keseluruhan peraturan yang dibuat oleh badan legislative sering
tidak ada. Social control dilakukan dengan cara yang informal:
dilakukan oleh guilds keluarga,sistim agama. Sangat penting
disini status sosial seseorang. Perbedaan dalam status sering
ditemukan dengan perbedaan dengan cara berbicara,pakaian, dll.
Karena juga cara berpakaian menerangkan perbedaan anatara
kelompok atas dan kelompok rendah, jelaslah juga siapa boleh
bergaul dengan siapa.

KESIMPULAN
Berdasar atas keterangan yang diberi sampai sekarang , dapat
disebut beberapa hal yang penting dan menerangkan perbedaan
antara kota pre-industriil dan kota industrial: berbeda dengan
kota pre-industriil, kota idustriil mempumyai sebagai sifat:

1. Dalam kota ini dipergunakan sebagai tenaga kerja bukan saja
manusia(animate power) tetapi yang lebih banyak listrik,
uap, air,dll (inamimate powers).
2. Kota itu betul kota industrial, itu berarti bahwa sifat-sifat
utama kota ini mempunyai suatu hubungan mutlak dalam
industry. Dan industriilisasi ini menuntut:
a. Organisasi ekonomis yang retionil: dipikirkan bagaimana
mereka dapat menghasilkan produk yang sebaiknya, dan
juga dengan ongkos-ongkos produksi yang dapat di
pertanggung jawabkan.
b. Organisasi ekonomis dengan system sentralisasi ;perlu
suatu kerja sama yang erat antara beberapa bagian dalam
proses produksi,supaya standarisasi mungkin.
c. Produksi tidak saja terarah kepada kebutuhan-kebutuhan
kota ini sendiri tetapi terutama untuk menjual ke kota
atau Negara lain.
d. Tenaga tenaga yang bekerja dalam proses produksi tidak
dipilih berdasar atas ikatan kekeluargaan, tetapi terutama
dipakai prinsip: The right man on the right placa.
e. Stratifikasi sesial dengan social class tidak lagi berdasar
atas ascribed status, tetapi atas achieved status.
f. Dalam kota ini berperan : nuclear family, dan bukan lagi
extended family.
g. Kemungkinan untuk mengikuti pendidikan sekarang
lebih terbuka berarti dapat diikuti oleh semua yang
mampu cara intelektual dan norma yang diuraikan dalam
pendidikan ini bukan lagi norma keagamaan, tetapi
norma umum.
h. Sangat peranan dari media yang dipergunakan untuk
pelbagai maksud pendidikan, informasi, sosial control dll.

kita boleh katakana bahwa pandangan hidup dalam kota pre-industriil
adalah bersifat teosentris, dan dalam kota industrial: antroposentis.
Masyarakat kota industrial dilihat sebagai suatu sosial sisti, dan didalamnya
adalah pelbagai sosial institutions, yang semua menguasai suatu bagian
tertentu. Juga agama menjadi suatu sosial institutions. Disampingnya adalah
yang lain misalnya: industry, pemerintahan, rereasi, keluarga, pendidikan,
dll.

Karena manusia mengambil bagian dalam beberapa lembaga sosial , dapat
dimengerti bahwa perobahan dalam sosial institutions akan juga berefek
dalam lembaga sosial lain. Kita tidak hendak katakana , bahwa semua kota
industrial mempunyai suatu struktur yang sama. Perbedaannya karena
banyak kota masih ada dalam suatu masa peralihan dari kota pre-industriil
ke kota industrial sehingga kita sering menyaksikan suatu campuran dari
sifat kota preindustrial dalam kota yang mulai menjadi kota industrial. Hal
ini juga mulai berlaku untuk banyak kota di Indonesia. Manado ada suatu
kota dengan banyak sifat dari kota pre-industriil, tetapi untuk beberapa
golongan sudah menjadi serupa suatu kota industrial.

3. The typological tradition
Manusia adalah suatu mahluk yang hidup dalam kelompok-
kelompok, itu berate bahwa dia hidup bersama dengan orang
lain,dan dalam kontak ini dengan orang lain. Dia mengalami
bahwa ia hanya dipengaruhi oleh kontak lain. Dalam
sosiologi justru dibicarakan tentang manusia sekedar dia
berelasi dengan orang lain, dan karena itu mengalami suatu
pengaruh atau sebagai dikatakan oleh DURKHEIM : suatu
contrainte social. Kita mengalami bahwa bukan semua
kelompok dengan cara yang sama mempengaruhi kita. Kita
adalah anggota banyak kelompok , tetapi kita mengalami
kehidupan bersama dengan orang lain dengan cara yang
berbeda, dan justru karena itudapat dimengerti bahwa para
sosiolog sejak permulaan dari sosiologi sudah mencoba
untuk membentuk suatu klasifikasi menurut jenis
kelompok.kita haru sejak permulaan sadar bahwa suatu
pembagian tidak mengikuti realita kehidupan sosial. Kalau
misalnya F.TONNIS bicara tentang gemaeinchaft dan
gesellschaft, kita harus mengakui bahwa tidak ada suatu
kelompok yang kongkrit yang ada , dapat dikatakan bahwa
kelompok tersebut mempunyai sifat-sifat gedellchaft. Hal ini
berlaku untuk semua pembagian yang akan dibuat. Kalu kita
dalam paragraph ini bicara akan beberapa typology yang mau
membagikan kelompok-kelompok dalam beberapa jenis ,
khususnya dipergunakan untuk menerangkan sesuatu tentang
kota dan desa, kita harus tetap ingat akan itu yang dikatakan
lebih dahulu.


*TONNIS : GEMEINSCHAFT AND GESELLSCHAFT

Tentang pembagian ini sudah dibicarakan dalam bagian-bagian lain dari
sosiologi, karena itu dapat disini diberi suatu keterangan yang sangat
ringkas. Suatu kelompok yang boleh disebut Gemeinschaft dapat dibedakan
dari kelompok lain karena mempunyai sifat suatu kesatuan yang mempunyai
suatu pembagian pekerjaan , berdasar atas suatu kerelaan untuk saling
membantu: keputusan akan diambil dalam bentuk musyawarah atau mereka
akan menyesuaikan diri dengan kehendak umum kekuasaan berdasar atas
umur, kebijaksanaan dan keyakinan bahwa itu baik untuk semua. Mereka
bekerja sama untuk mencapai tujuan kelompok mereka. Mereka merasa
bersatu karena ikatan keluarga persahabatan, dll. Mereka mempunyai pada
umumnya agama yang sama, pakai bahasa yang sama dan juga kebiasaan
yang sama ada pada anggota kelompok tersebut.

Suatu Gesellchaft mempunyai sifat lain : dalam kelompok ini berlaku suatu
individualism, mereka bekerja demi kepentingan mereka sendiri. Bukan
kebiasaan menentukan tingkah laku mereka, tetapi peraturan yang dibuat
oleh mereka sendiri, kontak para anggota sangat terbatas hubungan kerja
yang mengatur kehidupan sosial , para pedagang, kapitalis, Dll.

Kewajiban para anggota ini terbatas sesuai dengan tujuan anggota ini.

*DURKHEIM : KESETIAKAWANAN MEKANIS DAN
KESETIAKAWANAN MEKANIS
Menurut Durkheim adalah suatu perkembangan dalam jenis masyarakat. Dia
membedakan dua jenis masyarakat : satu dengan suatu solida rite
mechanique, dan yang lain satu solidarite organique. Dalam bentuk yang
pertama ada suatu kesamaan kepada para anggota dalam kepercayaan dan
tingkah laku. Pandangan hidup dari para anggota dengan pandangan hidup
kelaktivem tersebut.
Masyarakat itu suatu kolaktivum, dan para individu sebagai individu tidak
bermaun peranan.tiap kesalahan dipandang sebagai kesalahan terhadap
masyarakat seluruhnya, dan hokum yang berlaku dalam masyarakat itu
adalah hokum pidana, yang berfungsi untuk membela kepentingan umum.
Dalam bentuk yang kedua adalah juga suatu kesetiakawanan, tetapi berdasar
atas perbedaan antar para anggota,yang mempunyai fungsi yang berbeda
dalam pekerjaan .
Dalam pandangan hidup ada suatu perbedaan yang cukup besar, dan tidak
diperhatikan pertama-tama kepentingan umum, tetapi kepentingan tiap-tiap
orang sebagai individu, sehingga hokum yang berlaku dalam masyarakat itu
berfungsi untuk membele kepentingan pribadi para anggota. Relasi-relasi
spontan diganti dengan relassi-relasi kontraktuil.

*COOLEY : THE PRIMARY GROUP AND SECONDARY GROUP
Titik tolak dari Cooley adalah fakta, bahwa anatara para anggota suatu
kelompok berlaku suatu proses of interaction, juga antara kelompok dan
individu. Kelompok yang paling penting peranannya dalam proses
membentuk kaeda dan tujuan yang mengarahkan kehidupan seseorang.
Kelompok serupa ini adalah : keluarga, kelompok persahabatan, juga
beberapa keluarga yang tinggal dekat seorang dan sering berkontak.
Kelompok ini disebut primary group, karena terutama kelompok ini
mengambil bagian dalam pembentukan manusia ini. Dari kelompok ini dia
mendapat cita-citanya, kaedah-kaedahnya.

Sifat utama dari kelompok serupa ini :
- Face to face relasi
- Kelompok ini tidak mempunyai suatu tujuan yang jelas
- Kelompok ini tahan lama
- Jumlah anggota terbatas
- Antara anggota ada suatu intimitet yang cukup besar

*REDFIELF : THE FOLK-URBSN CONTINUUM
Tipologi ini sangat kenal dan juga sangat kontroversiil dalam antropologi
budaya tiga puluh tahun terakhir ini. Banyak kritik, tetapi juga sering
dipergunakan dalam research.Redfilld merumuskan suatu type ideal tentang
a fold-society dengan menggabunkan beberapa sifat. Sifat-sifat ini adalah.
- Suatu kolektivum yang kecil dengan jumlah anggota yang terbatas
yang cukup untuk saling kenal
- Suatu kelompok yang hidup terisolir, tidak tahu menulis, homogeny,
dan dengan suatu kesetiakawanan yang kuat
- Tekniknya tidak begitu berkembang. Perbedaan pekerjaan hanya
melalui dank arena perbedaan dalam kelamin. Kelompok ini tidak
tergantung cara ekonomis dari kelompok lain.
- Kalau ada persoalan mereka akan diatur melalui musyawarah sesuai
dengan metode yang sudah berkembang dalam kelompok ini sendiri.
Kelompok ini mempunyai suatu kebudayaan sendiri dengan nilai-
nilai dan kaedah-kaedah yang diterima oleh semua anggota
kelompok ini.
- Tingkah laku mereka bersifat spontan, tradisionil dan personal hal
ini dapat dimengerti ,karena para anggota sudah mempunyai kaedah
klompoknya, bahwa reaksi mereka adalah sesuai dengan itu yang
sudah lama biasa dalam kelompok ini. Tidak dirasa suatu kebutuhan
akan refleksi, kritik atau eksperiment.
- Hubungan keluarga adalah sangat penting, keluarga adalah unit of
action
- Nilai tradisi baik dalam bentuk perbuatan maupun obyek tidak
dipersoalkan , mereka adalah bersifat kudus
- Semua aktifitas juga dibidang ekonomi, mempunyai suatu tujuan
dalam diri sendiri. Berarti bahwa semua aktivitas langsung
dihubungkan dengan ikebutuhan yang ada. Mereka tidak
memprodusir untuk menjual, tetapi untuk emngisi kebutuhan yang
ada kepada mereka sendiri.

Suatu ujung yang lain dari kontinum ini adalah the urban society. Itu adalah
suatu kelompok yang dibuat oleh manusia. Sifatnya justru kontrair kepada
folk society,dank karena redfield melihal folk society sebagai suatu tipe
ideal urban society dipandang sebagai tidak baik.

BECKER : SACRED AND SECULAR SOCIETIES
The sacred society, disebut sacred karena hal-hal rohani(agama) mengambil
peranan besar segala aktivitet dan sifat-sifat kelompok ini,
Sifat-sifatnya adalah:

- Mereka hidup terisolar/sendiri, tidak berkontak dengan kelompok
lain baik sosial maupun mental.karena isolai ini mereka juga sangat
tradisionil, takut hal baru, dan kontak dalam kelompok ini adalah in
group relations, dan dengan orang lain; out group relations.
- Peranan agama sangat besar, sampai pada aktivitet ekonomis,
ekonomi dan aktivitetnya dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
mereka sediri dan tidak diisinkan , bahwa seorang bekerja untuk
menjadi kaya. Pada umumnya mereka mempunyai pekerjaan yang
sama.
- Hubungan keluarga sangt kuat , dan jelas juga grat family relasi.
- Karena peranan agama sangat besar juga segala aktivitet diatur oleh
sangsi menurut agama, berarti bahwa tiap perhubungan yang tak
baik melanggar juga ketentuan agama. Tidak ada sangsi-sangsi
kriminil menurut hokum
- Kelakuan mereka terutama bersifat non retionil: banyak hal dilihat
sebagai kehendak Allah.


Sistim nilai adalah kedap. Tidak bias mengalami perobahan. The secular
society adalah ujung lain dari kentinum yang dilihat oleh becker, sifatnya
justru jauh berbeda dengan itu dari sacred society,
Sifat dari sacred society adalah:
- Terbuka terhadap pengaruh dari kelompok lain
- Stratifikasi sosial terbuka, karena status seseorang dihargai sebagai a
achieved status
- Mereka bekerja dengan maksud untu menghasilkan hal-hal yang
dapat membantu untuk melebihi kebahagiaan mereka.
- Pekerjaan mereka diatur melalui norma-norma yang dipandang
sebagai efektif
- Mereka juga hidup bersifat rationil, ilmuberkembang
- Keluarga adalah nucler family
- Banyak pembaharuan dan perobahan dalam kehidupan masyarakat
tersebut
- Sosial control adalah bersifat formil dan menurut undang-undang
dan peraturan
- Masyarakat itu bersifat individualistis.


4. FORMAL DAN INFORMAL SOCIAL CONTROL
Kalau kita bicara sosial control , kita akan pertama-tama memikirkan
tentang sosial control sebagai sebagian dari proses sosialisasi. Tiap tiap
individu harus dipengaruhi supaya dia akan menyesuaikan dengan norma-
norma dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat ini, atau dalam suatu
kelompok , dimana dia berada sebagai anggota. Hal ini perlu supaya
dipelihara suatu keseimbangan yang memungkinkan bahwa tujuan
kelompok tersebut dapat dicapai.
Kesatuan suatu kelompok atau masyarakat terjamin. Kalau para anggota
mau patuh pada norma-norma yang mengatur kehidupan bersama, juga
dalam masyarakat kota perlu suatu kesatuan : perlu bahwa norma-norma
tertentu akan ditaati oleh semua orang, norma-norma yang mengatur
kehidupan sosial dan membela hak hak para anggota masyarakat tersebut.
Antara jenis dan cara bagaimana control sosial dipratekkan ada suatu
perbedaan besar antara masyarakat desa dan masyarakat kota. Perbedaan ini
disebabkan oleh perbedaan jenis kehidupan sosial yang berlaku di kota dan
desa. Kehidupan sosial di desa dapat dilihat sesuai dengan keterangan yang
diberi dalam bagian 3 sebagai sesuatu dengan banyak personal relations
sebagai suatu in group dengan face to face relations. Kota adalah suatu
masyarakat dimana para anggotanya-anggotanya pada umumnya hanya
berlaku fungsional relation, mereka hiudp sendiri tanpa banyak kontak
antara jenis sosial control yang berlaku dalam dua jenis masyakarat ini.
Dalam masyarakat desa ada berlaku suatu sosial control yang informal,
berarti bahwa control ini dipraktekkan oleh para anggota sendiri. Karena ada
banyak personal relations semua orang tahun segala-galanya tentang semua
orang, tidak ada semua hal-hal yang dapat dirahasiakan, juga kesalahan-
kesalahan akan dengan dapat diketahui oleh umum, dan sebagai reaksi
banyak orang tidak suka bergaul dengan mereka yang berbuat salah .
Dalam masyarakat desa seorang hanya dapat hidup kalau ia akan diterima
oleh orang lain, karena ia perlu banyak bantuan mereka diberbagai bidang
,kalau orang yang salah ini tidak akan diterima lagi, itu berarti bahwa hal ini
menjadi suatu sanksi yang berat. Sosial control dalam masyarakat desa juga
tentang banyak hal, sering tidak jelas apa yang harus dipandang sebagai
kewajiban seseorang penduduk di desa kewajiban-kewajibannya tidak
tertulis, misalnya cara berpakaian , cara bergaul dan lain-lain dapat menjadi
bahan dari sosial control.
Ada suatu perbedaan besar dengan sosial control di kota, hubungan antara
para penduduk kota, lebih bersifat fungsional , itu berarti bahwa mereka
tidak saling kenal, dan hubungan tidak begitu kuat. Karena itu tidak
mungkin bahwa sosial control hanya bersifat informal dan dilakukan oleh
masyarakat sendiri, juga masyarakat kota harus dapat mencapai tujuannya
dan karena itu juga dibutuhkan control sosial.
Sosial control di kota bersifat formal, dan dilakukan oleh suatu instansi
khusus , ialah polisi dan pengadilan . instansi-intansi tersebut bertugas untuk
memeriksa entah para penduduk, kota menyesuaikan diri dengan peraturan
peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di kota . disini jelas apa
yang harus dibuat oleh para warga masyarakat kota atau anggota-
anggotanya . hanya itu yang dituntut peraturan-peraturan dan penduduk di
kota hanya merupakan secondary contracts atau dengan kata lain fungsional.
Kalau seseorang tidak lagi diterima di kota sebagai anggota suatu kelompok,
dia dapat pindah ke tempat lain dan coba masuk dalam kelompok disana ,
dan tidak terikat kepada tempatnya. Mereka yang hidup dikota dapat tahan
privasi mereka , tetapi juga benar mereka hidup anonym berarti tidak
dikenali oleh orang lain.
Di kota kurang perlu kontak dengan orang-orang lain, sebab dia dapat
membeli semua bantuan yang dibutuhkan . tetapi juga benar bahwa
masyarakat kota tidak dapat mengijinkan bahwa seseorang tidak dapat hidup
tanpa memperhatikan norma-norma masyarakat . tiap-tiap masyarakat hanya
dapat menjadi masyarakat yang teratur, kalau ada peraturan-peraturan yang
mengatur kehidupan dan kalau para anggota dapat dipaksakan untuk
mentaati peraturan-peraturan ini.
Di kota control sosial hanya berlaku di bidang yang ditentukan dalam
peraturan-peraturan dan undang yang dengan sah dibuat dalam masyarakat
itu. Karena itu ada masih banyak bidang dimana tidak ada peraturan-
peraturan , sehingga juga toleransi di kota jauh lebih besar daripada di desa.
Di kota para penduduk diberi banyak kesempatan untuk life his on life , hal
ini dapat dimengerti karena di kota banyak kontras perbedaan dalam
kelakuan , dan hal ini menyebabkan bahwa mereka lebih rela untuk
menerima eksistensi berapa jenis kaidah-kaidah , di kota adalah banyak
jenis perbedaaan kebudayaan , perbedaan dalam pekerja , dan hidup .
Kontak denga orang lain dalam banyak hal menyebabkan bahwa mereka
lebih rela menerima cara hidup yang lain. Toleransi di kota lebih besar
sebab mereka melihat banyak jalan untuk mencapai tujuan yang sama dalam
bahasa jerman adalah suatu pepatah :
STATLUFT MACHT FREI ( udara di kota memberi kemerdekaan ).
Sosial control di kota juga mempunyai suatu fungsi yang lain lagi ialah :
menjaga suatu keseimbangan antara perkembangan yang dialami oleh para
lembaga sosial di kota .
Kehidupan sosial di kota dapat dilihat sebagai suatu system . system ini
dibentuk oleh beberapa sosial institusi , misalnya pendidikan , rekreasi,
keluarga , pemerintah ,industry dan lain-lain. Tiap tiap lembaga
mempunyai tujuannya dan juga sarana-sarana yang dipakai untuk mencapa
tujuan tersebut dan karena kita dapat mengerti bahwa sering akan dicari
sarana-sarana yang lebih cocok, lebih efisien karena itu dapat disaksikan
bahwa tiap-tiap lembaga mengalami suatu perkembangan tetapi yang tidak
semua dengan kecepatan yang sama.
Dalam sosiologi ini juga disebut suatu eksterm role konflik: dia harus
bermain role-role berbeda-beda yang menuntut dalam pelaksanaan suatu
role yang dilarang dalam role lain.
Karena itu perlu usaha dari pihak pemerintah bahwa antara para lembaga
masyarakat tersebut. Tidak ada perbedaan yang terlalu besar dalam sarana-
sarana dan nilai-nilai yang dimiliki oleh tiap-tiap lembaga inilah juga suatu
fungsi sebagai sosial control demi kebaikan umum juga dari para anggota
masyarakat tersebut.

5. SOSIAL MOBILITY
Sosial mobility adalah suatu kemungkinan untuk naik atau turun dalam
stratifikasi sosial , kalau dalam suatu masyarakat status sosial seseorang
ditentukan oleh suatu ascribed status, itu berarti bahwa status orang ini
ditentukan oleh factor-faktor yang tidak ditentukan oleh orang ini sendiri
dan juga tidak dapat dirubah olehnya.
Konsekuensinya juga bahwa stratifikasi ini bersifat statis dan soisal mobility
tidak ada atau hampir tidak ada.
Dalam masyarakat kota status sosial masyarakat seseorang ditentukan oleh
suatu achieved status adalah suatu status yang diusahakan oleh orang ini
sendiri dan status sosial ini ditentukan oleh berbagai factor dimana pada
umumnya dilihat sebagai factor yang sangat penting.
Kegunaan pekerjaan untuk masyarakat itu karena dalam prinsip-prinsip tiap
orang dapat mencari pekerjaan yang lebih berguna untuk masyarakatnya,
juga tiap-tiap orang dapat naik dalam stratifikasi sosial, tetapi dengan alasan
yang sama ada kemungkinan untuk turun dalam stratifikasi sosial.
Prinsip yang berlaku adalah the right man on the right place . dicari orang
yang dapat bekerja efisien dengan prestasi yang tinggi . dia tahu bahwa dia
harus bekerja sebaik mungkin karena dia mau tahan statusnya. Dalam
masyarakat kota berlaku the struggle for life. Hendaklah memperhatikan
bahwa keterangan ini, tidak berlaku dengan cara yang sama untuk semua
kota dan semua jenis pekerjaan
Kehidupan sosial di kota adalah bersifat dinamis : tiap tiap orang tahu
bahwa dia harus bekerja dengan sungguh-sungguh kalau dia mau tahan
kedudukannya atau mau maju. Pikiran pikiran baru dating dari kota , juga
invensien baru. Biersted mengatakan bahwa : the city man is the creative
man, the creator of acivilization. Seseorang yang pandai melihat banyak
kemungkinan di kota untuk melebihi dan meluaskan pengetahuannya.
GOETHE berkata bahwa : character is build in solitude , talent in thestreen
of the world. Dalam keterangan ini, tidak mau dikatakan bahwa kehidupan
sosial di desa tidak mempunyai aspek-aspek yang sangat berguna untuk
manusia , sangat baik rasa persaudaraan yang dimiliki oleh para penduduk
desa dan hal-hal serupa ini harus dibawa ke masyarakat kota sekedar
mungkin.


BAB II
URBAN YOUTH GANGS IN PRIMARI GROUPS

Dalam kehidupan sosial di kota menyaksikan banyak gejala khusus yang
tidak ada masyarakat desa antara gejala-gejala ini ada yang baik, ada yang
dirasa secara tidak baik. Dalam kasus ini , kita tidak akan bicara semua
gejala tersebut. Tetapi ada suatu yang dirasa sebagai tidak baik, dan dalam
banyak hal mempengaruhi kehidupan sosial di kota ialah kenakalan orang
muda.
Zaman ini adalah penuh dengan perubahan-perubahan banyak rintangan
juga timbul di kalangan orang muda. Karena tekanan-tekanan mental para
remaja tidak merasa diri dan sering juga perasaan kegagalan menghantui diri
mereka.
Adapun alasan-alasan keadaan ini adalah :
- Perubahan perubahan nilai-nilai sosial yang begitu besar
- Cepatnya perubahan dalam kehidupan sosial khususnya dalam
keluarga
- Ibu bekerja diluar rumah tangganya
- Bapak lama tidak ada dirumah , barangkali hanya satu kali seminggu
pulang ke rumah
- Anak anak mendapat pendidikan dan pengetahuan yang tinggi
sehingga mereka lebih tahu daripada orang tua dan karena itu
mereka merasa tidak at home dengan orang tua. Yang hanya
mendapat pendidikan formal yang sangat terbatas.
- Dan lain lain
Akibatnya ialah anak anak sering tidak merasa puas , tambah lagi kalau
anak-anak muda mengalami di rumah keadaan yang sangat tradisional dan
konservatif. Maka terdoronglah hati mereka untuk mengubah keadaan yang
tradisional dan konservatif maka terdoronglah hati mereka untuk mengubah
keadaan yang tradisional dan konservatif itu. Keadaan ini mengakibatkan
timbulnya konflik frustasi dan rasa tidak aman dalam diri anak muda itu
dank arena itu timbullah dalam dunia orang muda, banyak yang tidak sesuai
dengan itu yang biasa :
- Mereka melawan otoritas para orangtua, guru- guru pendidikannya
melawan tiap-tiap orang yang mau berkuasa
- Kenakalan-kenakalan orang-orang muda yang menjadi gejala di
kota-kota
- Free-sex
- Ngebut-ngebutan di jalan raya
- Dan lain sebagainya
Kelompok orang-orang muda ini, sering dalam bentuk gangs yang sering
berkelakuan dianggap sebagai bersifat negative , anggota-anggota ini
umumnya para laki-laki tetapi kadang-kadang juga dicampur dengan
wanita-wanita, gang ini didalami oleh anggota-anggota sebagai suatu group
dan dipandang sebagai kelompok persahabatan itu juga dipandang sebagai
primary group. Dengan segala sifat yang diuraikan dalam bagian lain kasus
ini, dengan memberi keterangan tentang juvenile group ini ,kita harus
sebenarnya memberi jawaban atas kedua pertanyaan :
a. Apakah sebab mereka mau membentuk grup ini ?
b. Apakah sebab kelakuan mereka sering bersifat negative ?
1) Dalam keterangan tentang primary group dikatakan bahwa tiap tiap
orang membutuhkan primary group relations dalam kehidupannya.
Kebenaran pendapat ini dapat dibuktikan dalam etik tetapi juga
psikologi dapat mengemukakan banyak argument untuk
membuktikan kebenaran tesis ini. Hanya dalam satu primary group
seorang mengalami bahwa dia diakui sebagai manusia berkontak
dengan orang-orang lain dalam personal relations dan bukan saja
dalam fungsional relations itu tidak berarti bahwa kalau begitu
seorang tidak lagi mempunyai privasi : tetapi dia harus menerima
kesempatan untuk berpersonal relations dengan mereka yang dia
suka dan dengan mereka ada juga face-to-face relations.
2) Dalam masyarakat kota ada banyak broken family. Lebih dahulu
sudah dikatakan bahwa ada suatu perbedaan antara warga di kota
dan di desa. Di desa ada keluarga dalam bentuk extended family
berarti bahwa memperhatikan si anak bukan saja ibu dan bapaknya
tetapi juga oma dan opa . kalau disini ada suatu keluarga yang
tinggal lengkap karena ibu atau bapaknya tidak ada lagi fungsi
mereka diambil alih oleh orang lain yang sudah dikenal dengan si
anak. Di kota berlaku nuclhear family berarti suatu keluarga yang
dibentuk oleh ibu dan bapak serta anak-anak mereka yang belum
kawin. Kita bicara tentang broken family ,kalau keluarga ini tidak
lagi lengkap dan karena misalnya orang tua sudah cerai atau salah
satu sudah meninggal kita hendak juga memandang sebagai broken
family suatu keluarga. Dalam situasi serupa ini anak-anak tidak
berpersonal relations dengan orang tua sebab dia tidak betul kenal
dengan mereka atau karena dia mengalami bahwa mereka tidak ada
waktu untuk dia.
3) Kalau ada suatu perceraian antara ibu dan bapak, anak-anak ini juga
mengalami bahwa situasi sosial ekonomis juga sering tak teratur.
Sosial tak teratur lagi karena hubungan- hubungan yang perlu sering
hanya dalam bentuk kurang baik, sering ada tamu di rumah, dan ibu
sering di luar untuk mencari pekerjaan.ekonomis tak teratur sebab
tidak ada kepastian , ekonomis banyak kekurangan di bidang ini dan
hal ini menyebabkan bahwa pendidikan dibidang sekolah sangat
sulit, sebab tidak ada uang untuk membayar SPP atau buku-buku
yang perlu.hal serupa ini dapat menyebabkan bahwa pendidikan
melalui sekolah dan anak-anak akan memandang orang tuanya
sebagai orang yang tak tau mencapai tujuannnya dan sebab itu
penghargaan terhadap orang tua sudah menjadi kurang, dan dengan
sendirinya hormat. Kalau ada suatu perceraian sering kali di alami
bahwa ibu dan bapa tidak mempersiapkan untuk melaksanakan
tugasnya sebagai satu-satunya orang tua, untuk memimpin
keluarganya. Kalau hanya ibu yang tiggal dengan anaknya sering
dilihat, khususnya dalam masyarakat Indonesia, bahwa ibu ini
kurang berotoritas, ibu ini tidak dipersiapakan untuk berkuasa.
4) Orang-orang muda lebih berkecenderungan untuk mendapat
penghargaan dari tema-temanya dari pada orang tuanya. Itu berarti
juga bahwa otoritas natural dari pihak orang tua sudah menjadi
kurang. Hal ini bukan lagi kelompok orang tua, melainkan teman-
temannya. Mereka kurang dirumah karena kurang berpersonal
relation, mereka hidup di gang ini, dan dari gang tersebut diambil
alih kaedah-kaedah dalam hal ini harus diperhatikan bahwa justru
karena ikatan dalam primary group relation dengan orang tua tidak
ada, atau kurang ada, mereka mencari itu kepada teman-temannya.
Disini bukan soal tentang kurangnya bersekolah atau
berpendidikan,tetapi terutama tentang berelasi intim denga orang
tuanya.



1. Sebagai orang muda mereka belum berfungsi dalam masyarakat
kota. Dalam hal ini, ada suatu perbedaan dengsn anak-anak muda di
desa, yang sudah dapat mengambil bagian dalam proses berproduksi.
Dan karena itu mempunyai suatu status dengan penghargaan dalam
masyarakat mereka. Hal ini tidak berlaku untuk anak-anak muda di
kota belum berstatus, dank arena itu juga tidak menerima suatu
penghargaan dari orang lain dalam masyarakatnya. Mereka adalah
marginal man, berarti berdiri di tangah, bukan lagi anak-anak, tapi
juga belum orang dewas. Mereka hendak mencari penghargaan ,
juga kalau itu hanya bersifat negative, artinya mereka tidak dipuji,
tetapi ditakuti. Tetapi juga benar bahwa mereka tahu bahwa mereka
akan dihargai oleh teman-temannya atas dasar keberanian mereka,
sebab mereka berani membuat hal-hal yang dilarang oleh masyarakat
orang dewas ini. Juvenile delingquency kurang di desa-desa, karena
semua kurang aktif dalam proses produksi. Margaret Mead
menerangkan dalam bukunya bahwa face adoles censi kurang
berlakudalam masyarakat dimana orang muda ini terus menerima
suatu fungsi yang disertaidengan suatu penghargaan.

2. Banyak orang muda tidak tahu bagaimana dengan norma-norma
yang dikemukakan sebagai hal-hal yang penting oleh para pendidik.
Norma-norma ini dianggap orang mudah sebagai non relastic, berate
tidak sesuai dengan pengalaman mereka dalam hidup sehari-hari.
Kalau dituntut cinta kasih, mereka tidak melihat bahwa itu
dipraktekkan oleh orang-orang dewasa. Karena itu banyak orang
muda kuang percaya dalam masyarakat sekarang dengan
pemimpinnya. Dia juga melihat bahwa itu yang di bela oleh orang-
orang tertentu sebagai penting, sehinnga dia sebagai orang muda
menjadi lebih indifferent, kurang bercita-cita. Sering juga dialami
bahwa orang tua dan orang dewasa yang lebih mengharapkan terlalu
banyak dari orang-orang yang masih muda.kalau dikatakan, bahwa
mereka harus berusaha untuk memperbaiki dunia, orang muda akan
berkata bahwa mereka juga tidak dapat membuat lebih dari pada itu
yang sesuai dengan kemampuan mereka.

3. Melalui film, radio,tv,comic, dan majalah-majalah pelbagai jenis
kekerasan dan kejahatan digambarkan kepada orang-orang muda
sebagai suatu yang menjadi cara hidup biasa dalam sama kita. Dalam
film-film diterangkan secara details bagaimanakah kejahatan-
kejahatan ini dapat dibuat dan sering orang-orang membuat
kejahatan ini digambarkan sebagai seorang pahlawan. Benarkah
bahwa dalam film-film yang dipertunjukkan hal-hal yang baik, tetapi
hal-hal serupa ini tidak menari perhatian dan sering itu dia
berpendapat bahwa hal-hal itu tidak rill.

4. Banyak orang-orang muda hidup dengan psychological tension,
berarti suatu tekanan psychis, disebabkan oleh situasi konflik
segagai dahulu sudah diterangkan. Tension ini dapat dikurangi kalau
ada cukup kemungkinan untuk berkreasi yang teratur dan aktif.
Umpamanya melalui jouth centre, klup olahraga melalui usaha ini
kebanyakan kehidupannya akan hilang.

Tidak boleh dilupa bahwa para anggota orang ini mengalami kelompok
mereka sebagai suatu primary group. Pemimpin dan pengikut-pengiku,t ada
juga norma-norma yang berlaku dalam gang ini dianggap sebagai sangat
penting : relasi sosial antara para anggota sangat kuat dan juga dalam bentuk
formil, artinya dituntut ketaatan terhadap pemimpin gang ini. Banyak anak
muda tidak mengalami keluarga mereka sebagai primary group, dank arena
mereka toh merasa suatu kebutuhan akan primary group relation mereka itu
mencari diluar. Harus juga diperhatikan situasi dan pandangan hidup orang-
orang muda zaman ini sebagai latarbelakang kenakalan mereka. Dalam
pandangan sebagai kelakuan orang-orang muda, banyak orang dewasa
bekerja dengan pasangan-pasangan dan banyak hal digeneralisir. Fakta
bahwa banyak orang muda tidak hendak hidup lagi menurut kebiasaan
masyarakatnya harus dipandang sebagai effek juga dari kekurangan yang
dialami kepada orang tua dan kepada pendidik lainnya, justru sebagai
pelaksanaan tugas mereka sebagai pendidik.

Orang-orang muda mengalami bahwa yang dipropagandir oleh para
pendidik tidak mencapai yujuan yang dikehendaki. Banyak orang dewasa
berpendapat bahwa kelakuan orang muda tidak baik dan tidak normal, tetapi
timbullah pertanyaan entahlah keadaan-keadaan yang dipakai oleh orang
dewasa untuk memberi suatu penilaian terhadap kelakuan orang muda.
Mungkin disini dapat juga dibicarakan tentang suatu sub culture dimana
orang-orang dewasa dengan orang-orang muda mempunyai culture yang
sama, tetapi tiap-tiap kelompok mempunyai hisown culture . hal ini
mengakibatkan juga bahwa kita harus mengakui perbedaan antara norma-
norma yang berlaku diantara kelompok ini. Kalatertentu norma-norma dari
suatu sub culture tertentu mau diwajibkan juga untuk suatu sub culture yang
lain, kita bicara tentang group centrum.

Orang-orang muda lebih dari pada orang-orang lain yang megalami bahwa
kita hidup dalam zaman transisi. Menurut beberapa sosiologi, tidak baik
kalau generasi muda mau di cap sebagai generasi revolusioner dan
reformistis. Mereka hendak mencari jalan-jalan baru untuk merealisir nilai-
nilai yang justru oleh mereka dianngap sebagai penting: cinta kasih keadilan
dan kesejahteraan umum. Orang muda mau turun aktif dalam segala usaha
pembangunan masyarakat baru, tetapi mereka tidak percaya lagi dalam
norma-norma yang diberi oleh generasi tua kepada mereka sebagai jalan
yang baik untuk merealisir nilai-nilai tersebut. Orang muda dinamai
generasi skeptic, itu berarti bahwa mereka adalah orang-orang yang kurang
percaya dalam segala hal yang dikatakan oleh mereka yang lebih tua. Kami
berpendapat bahwa,skeptisisme ini dapat dibenarkan dengan melihat kepada
sirtuasi dimana mereka harus hidup, kalau kita bicara tentang orang-orang
muda, dimaksudkan mereka yang berumur 15 s/d 25 tahun. Dengan 15
tahun, banyak orang mulai mencari pekerjaan secara teratur, berarti
pekerjaan yang harus memberi jaminan kepada mereka, sekarang dan juga
utuk masa yang akan dating dimana mereka hendak mulai dengan rumah
tangga sendiri. Dengan usaha-usaha ini meraka masuk dalam suatu
hubungan yang baru dan istimewa dengan orang-orang dewas yang
mengatur dan menetukan suasana dalam masyarakat. Untuk dunia timur
atau umumnya dunia yang ke tiga 25 tahun sudah terlalu tinggi , karena
banyak orang akan kawin legih dahulu, dan sebab itu orang lain sudah
dipandang sebagai orang dewasa. Pada zaman ini timbul banyak kesulitan
untuk mereka yang masih muda sebab sering tidak ada kepercayaan yang
sesuai dengan pendidikan dan persiapan yang diikuti sampai sekarang

SCHELSKY, seorang sosiolog jerman hendak membagikan kehidupan
seseorang dalam masa anak, masa remaja,masa dewasa, dan dia berkata
bahwa dalam tiap-tiap masa adalah suatu social role tertentu. Social role
disini dimengerti sebagai suatu attitude, pendapat pendapat dan pandangan
yang menjadi dasar kelakuan anggota kelompok tersebut. The social role
anak-anak dan orang dewasa sering cukup jelas. Sebab anak-anak
dipandang sebagai orang-orang yang belum berfungsi dalam masyarakat,
dan orang dewasa dilihat sebagai anggota suatu masyarakat dimana segala
aktvitas harus mempunyai suatu tujuan dan dimana kehidupan diatur
melalui aturan yang berlaku untuk kehidupan sosial mereka. Tetapi tentang
para remaja harus dikatakan bahwa peranan mereka kurang jelas. Social role
seorang remaja adalah ditengah social role seorang dewasaial role anak,
tetapi mempunyai warna dan bentuk sendiri.
















Bab III

PERADABAN KOTA

K.J . VEERGER.MA.Msc dalam traktatnya sosiologi pengetahuan
mengungkapkan bahwa peradaban itu adalah suatu istilah terjemahan
CIVILIZATION yang bertalian erat dengan kata-kata CIVIS dan CIVITAS
dan dalam berbagai buku bacaan sesuai dengan bahan materi yang
menyangkutt jurusan sosiologi yang disajikan oleh beberapa dosen sekolah
tinggi sosial politik kodam XIII/merdeka, peradaban itu sendiri akan
dikonfrontasikan dengan kebudayaan atau budaya. Byak para sosiolog
berpendapat bahwa peradaban mewujudkan puncak-puncak dari
kebudayaan. Manusia meskipun masih dalam taraf primitive dan tinggal di
hutan atau hidup dengan agraris pada prinsipnya sudah berbudaya, tetapi
peradaban baru muncul setelah manusia mendirikan kotanya.
Kita maklum bersama bahwa dari sekian puluh yang cukup memusingkan
dari definisi-definisi yang dilontarkan, ada yang praktis untuk pembicaraan
mengenai masalah kota. Penulis berpendapat bahwa kebudayaan itu adalah
mencakup segala adat kebiasaan pada suatu masyarakat , jika suatu
masyarakat mewujudkan suatu kelompok induvidu yang terorganisasikan
dengan gaya hidup tertentu, maka gaya hidup itulah namanya budaya.
Seorang antropolog yang tidak asing lagi MALINOWSKI, masih
membedakan lagi budaya materil dan spiritual . yang pertama menyangkut
adat kebiasaan dan lembaga kemasyarakatan ,sedangkan yang kedua adalah
menyangkut berbagai harapan, nilai dan gagasan yang berlaku umum.
Kita maklum bersama bahwa budaya itu sebenarnya menekankan
perkembangan individu dibidang mental dan moral, sedang peradaban
menekankan pada kesejahteraan fisik dan materil. Gaya hidup itu terlihat
pada gaya hidup Yunani kuno sebagai budaya dan gaya hidup Romawi kuno
sebagai peradaban.

1. KOTA SEBAGAI MIKROKOSMOS KULTURIL
Kami yakin dan percaya bahwa sosiologi kota bersama dengan
sosiologi desa keduanya ini disebut sosiologi. Juga dapat dikatakan
bahwa masyarakat local atau territorial. Dengan demukian maka
masyarakat ini diartikan Community atau juga dapat dikatakan
sebagai masyarakat global.
Masyarakat global ini mempunyai beberapa ciri tertentu, yang
menurut Prof.Drs. W. Van Betuw.MsC adalah sebagai berikut:

a. Dimana adanya suatu kesatuan dalam hal tempat.

b. Dalam kesatuan tersebut terdapat interaksi sosial.

c. Adanya suatu ikatan bersama.

Corak struktur kota adalah murni, karena kota terbagi atas daerah-daerah
bagiannya yang masing-masing memiliki struktur ekonomis dan sosialnya
pula.
Dalam traktat sejarah sosiologi yang di asuh oleh K.J VEERGER.MA,
menjelaskan para pioneer sosiologi kota pada awal abad ke-20(BURGER,
MOKENZY DAN PARK) dimana mereka sengaja mengambil suatu kota
Chicago menjadi objek studi berstrukturnya kot itu. Pada mulanya Chicago
sejak abad 19 memaparkan kekacauan, karena sedang mengalami proses
transformasi. Kemungkinan karena terjadi hal tersebut itu tak lain adalah
sebagai akibat dari masuknya bermacam-macam aneka ragam gelombang
migranyang dating dari berbagai penjuru dunia. Kekacauan tersebut
khususnya dibidang peradaban nanti berakhir pada abad ke-20 dan sampai
saat ini juga masih timbul, akan tetapi dapat diatasi dengan berbagai
ketentuan yang telah disusun sebagai ikatan formil yang ada di tiap-tiap
bagian daerah kota wilayahnya.
Dalam hal ini dapat dijelaskan lebih jauh bahwa persebaran kelompok
hetorogen ddalam kota tidak liar seperti apa yang telah diduga sebelumnya.


2. KOTA DAN DAERAH PERKOTAAN
Aspek sosial dari kehidupan kota sejak semula memang menarik
perhatian namun ada kesulitan untuk menentukan apa sebenarnya
dinamakan sosiologi kota itu. Pada zama sekarang dimana peradaban
kota dan desa menjadi begitu kabur, sementara itu beberapa kota
sudah saling mendekati dan mewujudkan daerah perkotaan setelah
mencaplok daerah pedesaan yang ada diantaranya.
Berdasarkan sejarahnya , bentuk-bentuk kota itu bermacam-macam
dan masing-masing itu memiliki corak dan dinamika sosialnya
sendiri-sendiri.
Max Weber membagi sejarah kota itu dalam 5 tipologi kota yaitu
sebagai berikut:
a. Kota-kota timur tengah , dulunya itu adalah kota pusat kerajaan
dengan para pegawainya. Warga kota dalam arti seperti sekarang
belum ada, karena penduduknya masih terbagi-bagi menurut
suku atau daerah aslinya. Pembagian yang ada adalah antara
pekerja bebas dan pekerja budak.
b. Kota-kota kuno di Asia. Keadaannya sama dengan kota yang ada
di timur tengah.
c. Kota-kota Eropa di abad pertengahan. Kota ini muncul dan
berkembang setelah penduduknya mendapat hak kekotaan dari
pada penguasa bangsawan. Dalam abad ini kota adalah sebagai
pulau dalam lautan feodalisme, penduduknya adalah kaum bebas
yang kerjanya adalah tukang dan pedagang.
d. Kota di Eropa dalam masa sejarah modern yang bercirikan
keterbukaan ekonomis. Pada dasarnya pada zaman /masa ini
hanya berfungsi untuk melayani daerah yang ada disekitarnya,
namun akhirnya dengan kemajuan-kemajuan yang begitu pesat ,
serta penduduk berkembang denga pesat pula termasuk
didalamnya mobilitas sosialnya baru mereka melayani secara
nasional.
e. Kota Modern di Dunia Barat, kepadatan lalulintasnya meningkat.
Perbedaan ekonomi tercermin pada variasi tempat-tempat tinggal
kota.
Kota-kota dapat diklrifikasikan bedasarkan besarnya atau banyak
penghuni (kota kecil, kota sedang, kota besar, dunia). Kita
ketahui pula bahwa kota itu juga dapat dilihat menurut fungsinya
masing-masing.fungsi dari kota itu antara lain berupa kota
perdagangan, kota industry, kota kebudayaan, kota pariwisata,
kota universitas, Dll. Kemudian metode sosiologi/pendekatan
sosiologi dapat menekankan pada bentuk kehidupan kota
(struktur sosialnya) atau dengan kata lainpola ikatannya denga
alamsekitarnya.
Sehubungan dengan itu menurut BOUMEN seorang sosiolog
belanda ada 5 pendekatan tentang bentuk kehidupan di kota
yang beliau perincikan adalah sebagai berikut:

1. Menafsir struktur_struktur kota serta perubahannya dari segi
sejarah budaya. Keduanya itu mewujudkan pola budaya yang
terus saja berubah
Kota sebagaimana dijumpai dalam sejarah adalah titik
maksimum dari pengumpulan kekuasaan dan budaya dari
suatu masyarakat. Masyarakat kota serta bangunan-
bangunannya adalah endapan-endapan belaka dari pola
budayanya.

2. Mencari kriteria sosiologis bagi kehidupan kota sebagai
penjumlahan dari banyak relasi antar manusiawi. Kekuasaan
kota menurut Wirth terletak pada gaya hidupnya yang
disebutnya urbanisme.didalamnya terkandung sifat-sifat
serba bergerak, pengkotaan yang dangkal dan anonimitas.

3. Pertalian dengan 1 dengan 2 dalam teori tentang community .
kota merupakan suatu keatuan yang memaksa terjadinya
persaingan, penyesuaian diri, pengusiran,Dll.

4. Pertalian khusus kepada kepadatan sosial dari penduduk
kota, artinya kepadatan dari jaringan relasi sosialnya. Disitu
pengertian-pengertian seperti interaksi dangkal, anonomitas,
segmentasi, interaksi yang tak langsung dan distandarkan,
dioperasionilkan dengan nyata.

5. Mengembangkan sikap skeptic terhadap kemungkinan
adanya sosiologi kota yang khusus. Kota tak lain adalah
wadah problematic kemasyarakatan yang sedang diteliti.
Menurut itu, sosiologi sedang mengalami pemeretelan,
karena dirongrongi dari dalam oleh sosiologi keluarga,
sosiologi perindustrian, sosiologi politik, dan spesialisasi lain
dari sosilogi. Adapun yang dapat tinggal hanyalah : studi
tentang akibat-akibat dari aneka peristiwa kepadatan
penduduk dipandang sebagai variable tambahan saja.

3. URBANISASI DAN INDUSTRIALISASI
Membicarakan urbanisasi, sosiolog Konsley Davis
membedakan urbansation dari growth of citirs. Yang pertama
menyatakan proporsi dari penduduk yang tinggal di kota.
Dapat saja terjadi pertumbuhan kota (karena pertambahan
alami dari penduduknya yang sama dengan di desa) tanpa
terjadi urbanisasi. Beda lainnya: proses urbanisasi terbatas,
yaiti sampai tercapai seratus persen, sedang pertumbuhan
kota berjalan tanpa ada batasnya.

Ada beberapa kekuatan yang mendorong pertumbuhan kota.
Ini bertalian dengan hakekat bahwa kota itu mempunyai
kombinasi fungsi , seperti administrasi, keagamaan, budaya
perpabrikan,dst. Menurut sejarahnya di inngris pada abad
yang lalu, urbanisasi berjalan berdampingan dengan
industrialisasi. Disini munculah tiga fenomene secara
bersamaan yaitu ekspansi, penduduk pertumbuhan kota, dan
perubahan industri.

Dinegara-negara yang maju, urbanisasi maju menciptakan
dua jenis kelas masyarakat, yaitu peroletariat kota (mereka
yang gagal social climbing) dan kelas baru yang atas kalum
lapisan menengah ( mereka tergolong kaum pertukangan dan
pedagang).

Industrialisasi di barat dalam abad 19 dan yang terjadi di
Asia tenggara dalam abad ini mempunyai trend yang
bertalian . di sana pendorongnya adalah revolusi teknologi
industry. Sedang disini keparahan krisis ekonomi di pedesaan
yang agraris. Itulah sebabnya maka kota menjadi tumpukan
kaum miskin yang tak dapat tertampung oleh kegiatan
ekonomi kota. Padahal yang pindah masuk kota umumnya
mereka yang muda , lebih terpelajar, lebih berada
dibandingkan yang tak mampu pindah. Memang akhir-akhir
ini yang meninggalkan desa adalah mereka yang terpelanting
keluar akibat meluasnya kemiskinan dan menipisnya suasan
gotong royong.

Selain kotamenciptakan kelas sosial baru, juga memberikan
dorongan bagi berkembangnya intelegensi. Menurut
sosiologi Oouis Wirth, makin besar tempat tinggal, makin
padat penduduknya, makin hetorogin manusianya, makin
menonjolah karakteristik masyarakatnya. Masyarakat kota
lebih tahu lektur dan perkembangan ilmu pengetahuan, lebih
rumit selukbeluknya, dan lebih mengikuti gagasan mondial
serta lebih rasionil dalam membuat segala macam kalkulasi.
John Stuart Mill menunjukkan bahwa perkembangan ilmu
pengetahuan di kota berlatar belakang pertarungan manusia
dalam kompetisi sehari-hari, suburnya diskusi antar pribadi
atau kelompok atau kebiasaan suka membaca. Middle class
sebagai kelas masyarakat baru yang diciptakan oleh kota
melengkapi kelas sosial yang telah lama yaitu kaum jembel
dan kaum lapisa atas. Kelas menengah yang berorientasi
perdagangan itu, mampu membuat perubahan , dan
cenderung mengusahakan redistribusi struktur kekuasaan.

4.GAYA HIDUP KOTA
Selain menimbulkan kelas baru, urbanisasi juga menciptakan
gaya hidup (way of life) yang baru. di kota di samping
pentingnya fungsi ekonomi, juga cukup berarti fungsi sosial
budaya yang bertalian dengan sekularisasi.
Bagaimanakah bentuk kebudayaan kota? Intinya adalah
penghalusan tingkah laku manusia atau kesopan santunan.
Sama halnya bahwa diferensiasi individu merupakan ekpresi
sosial di dalam arena perekonomian, demikian juga
penghalusan tingkah laku merupakan syarat mutlak bagi
penduduk yang padat didalam ruang serta terbatas tanpa
melahirkan disiplin kesangsian.
Kesopanan tadi mencakup segala etiket manusia dengan
aneka tindakan toleransi terhadap sesama, menahan segala
nafsu pribadi. Semuanya itu demi terselenggaranya
keeksistensi penuh perdamaian di dalam berharap dapat
berhasil lestari. Kata Civilization, civility ada city, sehingga
peradaba selalu dihubungkan dengan hidup ke-kotaan.
Sebaliknya ada kenyataan bahwa orang kota ditantang oleh
cara-cara berpikir dan yang tidak dibungkus oleh kesopanan,
mereka mengembangkan suatu toleransi dan selaras terhadap
apa-apa yang baru. Ini berlatar belakang pada rasa taka man
dalam bersaiang, suatu hal yang tak dapat diterangkan oleh
deferensiasi dan spesialisai. Maka terciptanya suatu
ketidaktetapan dan selera serba coba-coba. Dua arus
pengaruh ini menimbulkan gejala yang disebut MODE
(fashion of style) yang Nampak jelas pada pakaian , mebeler,
seni, pendidikan, hiburan, juga pada aspek keagamaan dan
pemerintahan.
Dalam mode ada rangsangan untuk meniru, mencipta, dan
menemukan yang baru. Itu merupakan kemampuan dari
individu untuk mengekspresikan dirinya secara bebas tanpa
dirintangi oleh tradisi, kecurigaan dan perlawanan dari
sekitarnya. Memang kota memberikan kebebasan kepada
individu untuk change of expression. Sehubungan ini
individualism berjalan sejajar dengan trend dari urbanisasi.
Perlu dijelaskan bahwa urban culture itu sekaligus juga
money culture dimana segalanya dapat dibeli dengan uang
(pekerjaan, istri,hiburan). Masyarakatnya adalah masyarakat
uang dan semua barang dan jasa dinilai dengan uang pula.
Hidup di kota memiliki nilai ke-uangan.

5.INDIVIDU DI DALAM KOTA
Di kota-kota yang penuh dengan manusia itu terdapatlah
pada gejala pemencilan (isolatin) dan kesepian(solitude),
yang lebih dari pada pedesaan. Karena itu kota merupakan
tempat yang baik dan menguntungkan bagi berkembangnya
gagasan bebas serta tanggug jawab pribadi. Menurut sejarah
di Barat , penduduk kota menjadi bebas dari tuan-tuan peodal
yang berkuasa di pedesaan. Makin besar suatu kota makin
bebaslah individu dari pengawasan umum, tetapi untuk ini ia
harus membayar denda berupa penderitaan atomisasi. Satu-
satunya untuk mempertahankan diri adalah mengundurkan
diri atau sengaja membuat kontak dengan sesame yang serba
terbatas.
Menurut DURKHEIM, manusia kota kehilangan spontenitas
pribadi dan ini disebutnya anomi.ini suatu tanda
disorganisasi sosial sebagai akibat absennya integrasi sosial.
Hubungan orang-orang kota diwujudkan dalam berbagai
lembaga dengan tujuan yang khas. Ia ikut itu biar merasa
kuat.misalnya dalam persatuan buruh,dagang,kumpulan
orang tua murid , keagamaan,dll.
Dengan merasa anomi, orang kota lalu tidak mempedulikan
orang lain. Yang penting ia selamat sendiri. Ini bias menjurus
kepada deindividualisme. Lepasnya manusia kota dari
pengawasan tradisionil lalu memunculkan anominitas:
sehinnga ia tidak dikenal orang.
Kotapun menjadi locus dan focus dari perubahan sosal yang
mengisinkan hadirnya kegiatan-kegiatan personalitas yang
menyimpang. Ini antara lain meliputi para pembaharu,
migran, massa yang berselisih dan klas baru. Itu semuanya
dapat mendorong suatu ledaka massa juga.


















BAB IV
RENUNGAN MENGENAI KOTA


1. Tahap-tahap perkembangan kota
LEWIS MUMFORD dalam bukunya yang terkenal berjudul THE
CULTURE OF CITIES (1938) menyimpulkan adanya ada enam
tahap dalam perkembangan kota. Mulai dari munculnya sampai
runtuhnya. Meskipun ini berdasarkan pengalaman-pengalaman dari
masa lampau tetapi tiap-tiap tahap mengandung sifat-sifat masa
lampau, dan juga tiap-tiap tahap mengandung arti dan sifat-sifat
yang khas yang masih dapat ditemukan pada zama sekarang.
Urutan-urutan dari tahap-tahap itu adalah sebagai berikut:
a. Neopolis

b. Polis

c. Metropolis

d. Megalopolis

e. Tyranopolis

f. Necropolis

Tahap pertama , neopolis namnya , kota ini menempata suatu pusat dari
daerah pertanian dengan adat istiadat yang bercorak kedesaan dan serba
sederhana. Lalu menuyusul yang kedua yaiti polis , sebutan ini berasal dari
zama yunani dan romawi. Kota merupakan pusat hidup keagamaan
danpemerintahan. Bentuknya saja seperti benteng yang kuat, didalamnya
terdapat tempat-tempat khusus untuk peribadatan, pasar yang ramai yang
bertalian erat dengan kegiatan macam-macam industry kecil. Peduduknya
terdiri atas aneka tukang dengan macam-macam keahliannya. Ada pula
disitu berbagai lembaga pendidikan , tempat-tempat hiburan dan stadion
besar untuk olahraga. Tahap ketiga namanya metropolis. Dalam kota besar
ini bertemulah orang dari berbagai bangsa untuk berdagang dan tkar
menukar harta budaya rohani. Juga terdapat percampuran perkawinan antara
bangsa dan ras dengan akibat munculnya filsafat dan kepercayaan baru.
Selain keagungan kota secara fisik, kota menyajikan kontras yang menonjol
antara golongan kaum kaya dan kaum miskin. Contoh kota metropolis
adalah seperti Horence di zaman Dante dan London di zaman Shekespeare
serta bostos di zaman Emerson.
Tahap keempat disebut Megalopolis. Sebenarnya ini suatu peningkatan
belaka dari tahap sebelumnya . Gelasa sosiopatologis merajalela, disuatu
pihak ada kekayaan dan kekuasaan dengan birokrasi yang amat menonjol,
sedang pada pihak lain meluas kemiskinan dan berotaklah kaum proletar.
Contoh-contoh megapolis adalah Alexandria(abad ke-3),Roma (abad ke-2),
Konstantinopel(abad ke-10), kemudian Nee York dalam abad sekarang.
Dalam tahap kelima Tyranopolis, kota besar dilanda oleh kepincangan yang
berupa degenerasi dan korupsi. Moral pada penduduknya merosot, ada relasi
erat antara politik, ekonomi dan kriminalitas, dan disamping itu kaum
proletar menjadi kekuatan yang tidak diremehkan.
Adapun tahap terakhir disebut Nexropolis, artinya peradaban kota runtuh,
kota menjadi bagkai (nekros), misalnya Babylon, Neneve dan Roma kuno,
yang runtuh dan lenyap dipermukaan bumi.

Dalam bukunya yang berjudul Thchnics and Civilzation Lewis Mumford
menunjukkan adanya 3 fase perkembangan kota sebagai proses teknik,
antara lain:
a. Fasa neotehnik yang bersandarkan ekploitasi manusia atas sumber
daya air dan angina. Sebelum ada mesin, segalanya digerakkan oleh
dua sumber tenaga tersebut. Misalnya kincir angina untuk menyedot
air dan membuangnya ketempat yang lebih tinngi. Juga ada kincir
angina untuk menumbuk gandum menjadi tepung.
b. Fase paleotehnik, disini sumber tenaga adalah uap air. Mesin-
mesinnya mulai dikontruksikan dari besi dan baja, juga jembatan,
banguna air, kendaraan dan kapal laut.orang mulai berbicara tentang
pabrik dan cerobong-cerobongnya yang mengepulkan asap.
c. Fasa neotehnik, sumbertenaganya adalah listrik atau bensin.
Sebentar lagi akan diperluas pemakaian tenaga atom untuk berbagai
keperluan.


Proses tersebut kemudian menjalar pula kenegara-negara yang sedang
berkembang. Industrialisasi makin menutupi kota-kotanya. Dengan
meningkatkan berbagai akibat yang negative bagi kesehatan penduduk,
lokasinya digeserkan kepinggiran kota atau pedalaman. Bersama itu
masyarakat kita menjadi berubah pula sikap dan fahamnya, demikian pula
relasi antar manusia.perdagangan baruini menuntut penyesuaian adat,
aspirasi dan cita-cita manusia di Negara-negara yang sedang berkembang.
Dalam membicarakan kehidupan kota yang mengalami industrialisasi kita
memasuki permasalahan yaitu gaya hidup masyarakat industry.disitu
Nampak ada dua kecenderungan , yang pertama adalah masyarakat masih
tergantung dari ilmu dan tehnik, segala bidang memerlukan orang-orang ahli
dengan spesialisasi dan untuk itu dibuka sekolah-sekolah kejuruan sebagai
persiapannya.
Kedua adalah ilmu semakin disosialisasikan , artinya dilibatkan dalam
pemecahan aneka masalah sosiaal.

2. Sikap manusia terhadap kota
Dalam menilai kota dan merencanakan perkembangannya demi
kelestarian dan kebahagiaan penduduknya, terdapat selalu polarisasi
antar dua faham , ada golonga kolot yakni locals yang lebih
berpangkal pada emosi, pengamatan pribadi dan nostalgia. Mereka
berpendapat bahwa yang taka da tak usah dirobah, demi untuk nilai-
nilai sejarah.

Golongan yang kedua adalah para cosmopolitans menghendaki
peorobahan drastic yakni supaya wajah kota dirubah supaya lebih
Nampak corak yang modern dan internasional, anjuran mereka ini
demi segarnya pemandangan , kesehatan dan kelancaran lalu lintas.
Jalan-jalan raya perlu dilebarkan, rumah-rumah dipagar dan lain
sebagainya.

Bagi kedua pihak, kota harus diawetkan atau menjalani conservation. Tetapi
hal ini ditafsir dua macam pula, bagi locals ini berarti perlindungan terhadap
yang ada, dan bagi cosmopolitans itu berarti pemugaran yang disertai
pertimbangan penggunaan ruang secara efektif dan kreatif.
Kenyataannya pengawetan dengan memakai jalan manapun belum juga
menghapus penyakit jasmani dan rohani kota krisis kota berjalan terus,
didorong oleh factor-faktor demografis, administrates dan teknis.arus
penduduk dari pedesaan terus saja masuk. Tata tertib dilarang semena-mena,
banyak proyek pembangunan kurang beres penanganannya ,dll. Sebagian
yang ada sekarang apa terlebih melihat pada masyarakat kita sendiri (kota
Manado)
Maka itulah untuk menyembuhkan penyakit kota, kita perlukan tiga factor
yang sangat penting yaitu :
a. Secara relative arus penduduk yang masuk harus dihentikan

b. Kesadaran penduduk akan masalah-masalah kota ditingkatkan
melalui berbagai sarana komunikasi

c. Bekerja sama dalam ilmu/bidang ilmu pengetahuan terutama sekali
bidang teknologi dan risert, komputerisasi, system informasi, teori
simulasi dan pengelolaan komunukasi.

Dalam filsafat mengenai kota dibicarakan juga mengenai faham mereka
yang disebut pembenci kota dan pecinta kota
Para pembenci kota terdiri atas mereka yang putus asa dalam menghadapi
berbagai kebobrokan kehidupan dalam kota. Kota mereka pandang sebagai
sumber gejala kekerasan, kemabukan. Penyakit jiwa, kejahatan, frustasi,
perceraian dll.


3. Arti Kota dalam kehidupan manusia
Jika masyarakat manusia sudah mulai mencapai tingkat kebudayaan
yang cukup tinggi, maka masyarakat tersebut akan membangun kota.
Memang hidup primitive belum membutuhkan kota. Dalam
lingkungan yang amat sederhana itu produksi belum menyebabkan
ekonomi, kecuali dalam bentuk yang amat sederhana.
Kota diciptakan oleh manusia yang sudah mengalami alam kodrat
dengan aneka kemungkinan yang terkandung didalamnya.maka
manusia meraba tanah,batu,kayu, besi dll untuk menciptakan
bangunan dan alat-alat hidup.manusia berdasarkan kodratnya
bermasyarkat , ia tak hanya mengaku tetapi juga mengKota.
Dalam pengakuan akan kita sendiri juga di akui kesatuan kita
dengan dunia jasmani yaitu dunia barang-barang. Kita selalu
memberi cap dan ciri kepada apa yang terdapat di sekitar kita. Dunia
jasmani itu kita lihat sebagai persambungan kita. Antar manusia
dengan dunia sekitarnya terdapat pengaruh timbal balik. Dari
kesempurnaan manusia akan timbul pula kesempurnaan barang-
barang jasmani. Jika barang-barang tersebut telah menerima
kesempurnaan dari pertolongan manusia, maka barang-barang
tersebut juga akan dapat menolong manusia dalam mencapai ,
mempertahankan dan meneruskan kesempurnaannya. Misalnya ,
manusia dengan rasa kebaktiannya mendirikan tempat pemujaan
bagi Tuhannya.
Dengan pembangunan kota, manusia sebenarnya menjelmakan dan
mengorganisasikan kesatuannya yang baik dengan sesamanya
manusia maupun dengan dunia jasmani. Ia membangun kota untuk
menyelenggarakan , mempertahankan, dan menyempurnakan
kehidupan organisasi sosial . kehidupan sosial dan ekonomi menjadi
makin bermutu. Kota dibangun oleh manusia, akan tetapi sebaliknya
kota juga dapat membangun manusia. Kota membangun masyarakat
: perjalanan sejarah kota dapat berpengaruh pula atas seluruh
masyarakat dan Negara, untuk kota-kota kecil pengaruhnya cukup
untuk meliputi wilayah sekitarnya.
Kota ikut serta menentukan eksistensi manusia pada konkritnya.
Berkota berarti bersatu dengan kota. Ini termasuk struktur kehidupan
manusia sesudah mencapai tingkatan tertentu dalam
perkembangannya. Itu semua untuk kemerdekaan manusia dalam arti
yang sebenarnya.
Merdeka berarti berdaulat. Jadi barang siapa masih diombang-
ambingkan oleh kenafsuan, ia tidak merdeka, akan tetapi budak
belaka. Mereka berarti membumbung tinggi kea rah cita-cita rohani
kita, ke arah dorongan kita yang tertinggi. Bagaimanakah kota
menjalankan perananannya dalam pergulatan manusia untuk
mencapai kemerdekaan yang sejati ?
Dengsn menghasilkan kondisi-kondisi agar supaya manusia lebih
mampu memanusiakan drinya sendiri . Ini meliputi keadaan yang
damai, ketenangan hidup sosial, kemakmuran yang merata,
kebudayaan yang cukup tinggi . dengan begitu kota menjadikan
manusia mampu menyelengarakan eksistensinya dan
memperjuangkan kesempurnaannya.

Timbul pertanyaan, selalu berhasilkah kota menjalankan fungsinya?.
Kota akan juga menibulkan berbagai bahaya bagi kehidupan
manusia?
Tingkat di kota banyak resikonya yang bersifat rohani, nilai dan arti
saling berdampingan, begitu juga thesis dan thesia.
Di kota, pusat perekonomian dapat pula menyebabkan kemelaratan
juga. Pusat peraturan dapat juga menjadi pusat kekacauan.
Kesusilaan di kota-kota besar cenderung terus merosot. Memang
kota sebagai pusat kebudayaan.
Kemudian untuk menghilangkan segala resiko kota tidaklah
mungkin.makin besar kota makin besar resikonya, makin besar
bahayanya. Dimana ada kemewahan disitu ada kenistaan, dimana
ada/dipakai penerangan, disitu juga banyak dipakai kegelapan.
Nilai dan arti nilai, itulah wujud kota,terutama kota besar. Kita wajib
memerangi arti nilai itu dan memperkembangkan nilai. Baik bagi
masyarakat maupun bagi masing-masing kita sendiri. Marilah kita
ber kota-kota, janganlah sampai tenggelam dalam kota.



4. Kota sebagai jendela terbuka
Dibeberapa Negara sedang berkembang, kota merupakan jendela
terbuka, disitu orang luar dapat melihat kedalam,dan arti dalam
peghuni rumah dapat meninjau keluar.kepada orang-orang asing
yang dating mengunjungi suatu Negara tersebut untuk pertama
kalinya, kota-kota apalagi ibu kota terasa memamerkan percikan
kebudayaan, kemampuan, serta pencapaian Negara tersebut.
Sebaiknya penduduk di Negara yang bersangkutan menhenal dunia
luar dengan berbagai kemajuan yang terus saja bertambah , melalui
kota-kota sendiri. Sehubungan dengan ini kota dapat diaangap
sebagai etalasi took yang isinya selalu baru dan menarik.
Mungkin karena fungsi jendela tadi, di kota-kota tersebut orang-
orang secara sadar atau tidak juga pamer ke dunia luar bahwa
mereka dapat juga mendirikan gedung-gedung pencakar langit dan
berbagai banguna dengan design arsitektur yang mutahir. Diamping
itu urbanisasi didorong oleh tarikan kota terhadap penduduk dari
pedalaman , lepas dari masalah krisis ekonomi yang melanda
pedesaan.
Perlu dicatat bahwa urbanisasi yang semakin kuat arusnya itu besar
pengaruhnya atas relasi timbal balik antara ekonomi, sosial dan
budaya ngara yang bersangkutan. Bagaimanapun masa depan politik
suatu Negara banyak ditentukan oleh kota-kotanya. Dengan
demikian maka kota mewujudkan panggung sandiwara yang
memainkan sejarah suatu bangsadan juga tamu-tamu dari luar
Negara yang berkunjung ke Negara tersebut.

















BAB V
SLUMS AS A SOCIAL AGGEGATE

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa dalam Aggegate itu ada banyak
hal yang dapat membahayakan perkembangan manusia yang harus hidup
dalam aggregate itu. Bahaya ini akan menjadi kurang, kalau orang-orang ini
diberi kesempatan untuk membatasi pengaruh hal-hal ini dalam
kehidupannya.
Adalah orang-orang yang mampu untuk membentuk personal group relation
dengan orang-orang lain, sehingga mereka juga dpat berkontak sosial.
Tetapi ditiap-tiap kota ada juga orang yang tidak dapat mengatasi aspek-
aspek negative ini dan situasi mereka akan dinamai slums.
Cukup lama tentang slums kurang diperhatikan oleh para pemimpin-
pemimpin masyarakat , antara lain sebab usaha swasta dianggap cukup dan
mungkin lebih penting dari usaha pemerintah, dan sebab bicara tentang
slums dilihat sebagai soal rumah-rumah( hal-hal materi) dan dilupa bahwa
soal-soal ada sebab manusia hidup dalam slums ini. Kurang perhatain
tentangslums ini juga disebabkan , sebab pada umumnya mereka hidup
disana adalah orang-orang yang tidak berguna untuk proses produksi. Untuk
masyarakat ongkos mereka jauh lebih tinggi dari pada keuntungan yang
dapat diterima dari mereka.
Dafakto kita melihat slums-slums ini di kota yang besar, dan pemerintah
setempat juga malu dengan keadaan-keadaan slums itu. Kita hendak
memberi beberapa sifat sosiologis dari situasi itu. Bicara tentang slums
berarti kita bicara tentang situasi sosial dalam mana hidup bersama-sama
dalam banyak orang, dengan banyak kekurangan materil terutama
kekurangan-kekurangan dibidang perumahan, jalan-jalan, dan perlengkapan
sosial,(sekolah,poliklinik,rekreasi,dll).
Juga diketahui bahwa Hygiene slums ini tidak cukup, dan hal ini
menyebabkan bahwa jumlah orang yang sakit amat tinggi dan jumlah anak
yang meninggal dunia lebih tinggi dari pada tempat-tempat lain dikota.
Sebagai Fichter telah berkata seorang sosiologi ditarik untuk menyelidiki
situasi tersebut, sebab jumlah orang yang hidup dalam situasi-situasi ini
amat banyak(overcrowding). Kita setuju dengan pendapat demi pandangan
dari Ficchter, bahwa slums dapat dipandang sebagai social aggregate sebab :

a. Jumlah orang (individu) yang hidup dalam slums ini luar biasa
jumlah itu. Kalau kita melihat dalam bagian-bagian lain dari kota
yang banyak keluarga yang lengkap, di slums tinggal pada umumnya
keluarga yang tak lengkap, broken family, tanpa bapa/ibu juga
banyak individu-individu yang banyak/tidak berelasi dengan orang-
orang lain sebagai suami isteri,ibu/bapa. Juga besar jumlah orang
yang harus dipandang sebagai homeless man, hidup saja diman
tempat ada. Sering juga lari dari slums ini : penjahat, orang
pelacuran,dll.orang yang hidup diluar undang-undang (outlaws).
b. Mereka yang tinggal dalam slums ini sering pindah tempat tinggal.
Benarlah bahwa mereka tinggal lama dalam slums ini, tetapi tidak
pada tempat yang sama, mereka tidak dapat pindah ketempat diluar
slums ini, sebab keadaan ekonomis merintangi pembayaran rumah-
rumah yang lebih baik. Banyak orang yang dating dari pedusunan
harus masuk slums ini, sebab keuangan mereka lekas habis, dan
dipaksa oleh keadaan-keadaan ekonomis mereka menjadi penghuni
slums.
c. Kalau dahulu dikatakan bahwa social nobility cukup besar di kota,
keterangan ini tidak benar untuk mereka yang hidup di slums.
Mereka lekas dalam social class yang terendah dari masyarakatnya
dan tidak ada kemungkinan untuk cari pekerjaan lain yang juga
memungkinkan mobilita vertical.
d. Untuk mereka yang tinggal dalam bagian-bagian lain dalam kota,
para penghuni slums ini dipandang sebagai anggota social class yang
terendah dalam masyarakat kota itu. Sebab itu mereka yang hidup
dalam slums ini tidak dapat berobah situasinya. Mereka tidak disukai
sebagai pekerja-pekerja, sebab mereka diaangap sebagai orang-orang
yang tidak dapat dipercayakan, mereka menjadi orang yang tidak
disukai(undesinderables)
e. Mereka yang tinggal dalam slum itu, mengalami situasinya sebagai
suatu yang terpaksa, terutama bahwa mereka harus hidup dekat
kepada orang-orang lain, tanpa privacy. Sebenarnya mereka tidak
mau, tetapi mereka dipaksakan untuk bertemu dengan banyak orang.
Tidak ada banyak relasi sosial atas dasar kemauan mereka sendiri.
f. Sulit sekali untuk membentuk group dalam slums ini, sekolah-
sekolah ada barangkali tetapi tidak ada hubungan antara orang tua
dan guru. Juga gereja dapat didirikan dalam slims ini , tetapi
anggota-anggota umat ini tidak membentuk suatu group political
activities masih kurang.
g. Kemungkinan-kemungkinan untuk mempersatukan mereka supaya
situasi mereka dapat diperbaiki, melalui usaha-usaha bersama sering
tidak ada, sebab mereka sendiri kurang rela dalam hal ini. Mereka
yang sudah lama tinggal dalam slums ini tidak mempunyai lagi
semangat untuk memperbaiki situasi mereka.
h. Dalam banyak slums dibentuk juga juvenile gangs(kelompok-
kelompok orang muda) sikap mereka, melawa itu yang biasa, sebab
itu mereka tidak mau mengikuti aturan-aturan yang biasa berlaku
dalam masyarakat, dan mereka yang mau ikut their own way of life.
Kita tidak mau berkata, bahwa gang ini hanya akan dibentuk dalam
slums.tetapi keadaan dalam slums ini lebih cocok untuk membentuk
gangs.


Kami hendak memndang slums ini sebagai suatu realita sosial yang menurut
pendapat kami dirumuskan sebagai a sosial aggregate.
Kepada banyak orang ada sekurang suatu keinginan untuk memperbaiki
situasi dari orang-orang yang hidup dalam slums ini, mereka yang hendak
berusaha dalam hal ini harus memperhatikan terlebih dahulu beberapa hal,
yaiitu:

1. Tiap-tiap masyarakat mempunyai nilai-nilai , norma-norma sendiri
itu juga benar untuk mereka yang hidup dalam slums ini dan untuk
mereka yang hidup diluar sering dilihat bahwa social workres
berpendapat bahwa nilai-nilai dan norma-norma yang dimiliki
mereka sendiri jauh lebih baik dari norma-norma dan nilai-nilai
mereka yang harus di tolong.tetapi perlu sekali bahwa tiap-tiap
social workers (atau anggota-anggota dari suatu instansi yang
hendak membantu) . kalau kita hendak membawa norma-norma dan
nilai-nilai kita kepada mereka yang akan ditolong, harus ada lebih
dahulu kepastian bahwa norma-norma dan nilai-nilai kita membantu
manusia sebagai manusia.
2. Juga tidak mungkin , bahwa begitu saja akan ditolak norma-norma
dan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat slums itu,sebagai a
social system, dimana ada hubungan yang erat antara segala sub
system, sehingga timbul suatu disintegrasi kalau nilai-nilai dan
norma-norma mereka semua ditolak.seorang social worker harus
tahu apakah dapat ditahan dan pakah harus ditolak.ia tidak dapat
mengatur sesuatu kalau ia sama sekali harus mau menolaak atau
merobah norma-norma yang berlaku dalam masyarakat mereka.
3. Sring juga dialami bahwa segala usaha untuk memperbaiki situasi
kota mereka mereka harus mulai memperbaiki situasi ekonomis.
Banyak orang yang tinggal dalam slums, sebab mereka dating ke
kota dengan pengharapan tertentu tentang pekerjaan dan
kemungkinan-kemungkinan untuk hidup dikota. Mereka bukan a
social pada waktu mereka dating kekota. Mereka menjadi a social
pada waktu mereka tidak lagi dapat hidup dengan dan dalam
pergaulan biasa dengan orang-orang yang biasa dan harus pindah ke
slums. A social disini berarti bahwa norma-norma dan nilai-nilai
mereka berbeda dengan norma-norma dan nilai-nilai orang lain
dalam masyarakat.(orang-orang lain dipandang sebagai sosial)
4. Banyak orang yang dapat pindah dari pedusunan ke kota mempunyai
pengharapan yang salah tentang kehidupan di kota dan norma-norma
dan nilai-nilai yang berlaku disana.ump.tentang cara bekerja , cara
hidup,pergaulan,dll.sering ada kurang informasi dipedusunan
tentang kemungkinan-kemungkinandan keharusan-keharusan dikota.
Sebab itu mereka mengalami banyak kesulitan kalau mereka harus
menyesuaikan diri dengan kehidupan du kota. Tentang mereka yang
hidup di slums dapat dikatakan bahwa mereka mesti atur banyak hal
atau inisiatif sendiri.kurang usaha dari instansi yang resmi untuk
mencari pekerjaan kepada orang-orang ini dan sering tidak ada
kesempatan untuk mengikuti suatu upgrading, supaya mereka dapat
bekerja sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat di kota.
Transmigrasi dapat mungkin berguna untuk mereka yang hidup
dalam slums, sebab mereka datang ke kota adalah orang-orang yang
rela bekerja dan kalau diberi kesempatan mereka mau bekerja
dimana mereka dapat memperbaiki situasi ekonomis mereka.
5. Kesulitan-kesulitan lain dapat diatasi dengan memberi pendidikan
sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat dalam mana anak-
anak ini kemudian hari harus bekerja.(sekolah bagunan) itu berarti
bahwa banyak sekolah harus lebih memperhatikan pendidikan
tehnis, supaya mereka yang lulus dari sekolah-sekolah ini mendapat
pekerjaan yang memberi jaminan yang cukup kepada mereka. Adult
education adalah syarat mutlak segala usaha untuk memperbaiki
situasi orang-orang yang hidup dalam slums ini. Bukan kepada
individu tapi kepada kelompok supaya orang ini juga rela dan
sekarang di latih untuk bekerja sama. Banyak ahli disini meminta
perhatian tentang credit union(usaha bersama). Justru mereka kurang
berpendidikan maka mereka harus ditolong. Memperbaiki situasi
materil orang-orang ini adalah penting.ump, memperbaiki jalan-
jalan, rumah-rumah, air minum, poliklinik, dll. Usaha-usaha ini
dialami langsung sebagai pembuktian bahwa mereka bukan a
forgotten class, tetapi anggota-anggota suatu masyarakat.










BAB VI
DECLASSED PEOPLE


Declassed people juga adalah suatu gejala yang kita hanya dapat lihat di
kota. Dalam keterangan-keterangan yang diberi tentang stratifikasi sosial di
desa sudah beberapa kali diterangkan, bahwa stratifikasi disana pada
umumnya bersifat statis, itu juga berarti bahwa tiap-tiap anggota tahu bahan
keanggotaan social classnya. Itu juga mungkin sebab desa ini sebagai
kesatuan pekerjaan tetap dapat memberi pekerjaan kepada penduduknya.
Siapa mau bekerja di desa-desa , juga dapat pekerjaan dan sebab itu dapat
hidup juga sebagai seorang anggota masyarakat kurang/lebih dihargai. Juga
mereka yang duduk dalam kelas social yang terendah dalam stratifikasi
sosial di desa adalah orang yang berperanan dalam masyarakatnya.di desa
pertanian hamper semua orang mempunyai kebun sendiri atau mereka
berusaha sungguh-sungguh untuk memiliki suatu kebun dinamai oleh
Warner lunt : lower-lower class di Yanket city 22-25%, semi skille and
unskilled workers. Selama mereka dapat pekerjaan dan dapat bekerja
mereka masuk dalam class ini , tetapi kehilangan pekerjaan dapat
mengakibatkan bahwa mereka hilang dari stratifikasi sosial ini. Dalam tiap-
tiap masyarakat adalah suatu pepatah yang berbunyi : satu kali pencuri tetap
pencuri. Hal ini tidak disebabkan oleh fakta bahwa mereka tidak mau
memperbaiki kehidupan mereka, tetapi seb
B masyarakat kita tidak lagi mau memberi kepercayaan kepada orang ini
dan sebab itu mereka tidak lagi menerima kesempatan untuk bekerja.
Dalam masyarakat jelas bahwa sikap ini tidak berlaku kepada semua orang
yang berbuat salah. Kalau tuan besar berbuat salah, kesalahan mereka
dengan gampang diampuni dan dilupa. Mereka mempunyai banyak relasi
yang hendak menjadi pelindung, itulah orang-orang yang rela memberikan
kesempatan lagi kepada criminals ini untuk coba mulai dengan suatu
kehidupan baru ditempat lain. Ia harus coba cari pekerjaan sendiri, dan tiap-
tiap informasi yang diberi mulai dengan keterangan-keterangan tentang
kehidupannya sampai sekarang dengan kesalahan-kesalahannya yang pernah
dibuatnya. Perhatikanlah dalam hal ini , itu yang dinamai dalam sosiologi
the self fulfilling prophecy. Sebab orang ini tidak dapat pekerjaan dll.
Itulah suatu circulus vitiosus(lingkaran tak berujung pangkal). Sebab itu
mereka tidak dapat lagi keluar dalam kelompoknya . mereka tidak dapat
naik dalam stratifikasi sosial. Mereka tetap dalam kelas yang terendah.
Kalau kepada mereka tidak ada kekurangan
Mental yang mereka dapat , barangkali ditolong untuk dapat memperbaiki
struktur ekonomis sosial kehidupan mereka, ump, melalui suatu upgrading
supaya mereka menjadi transmigrant yang baik.
BAB VII
PEROBAHAN_PEROBAHAN DALAM STATUS WANITA

Perobahan-perobahan status wanita di kota lebih berlaku dari pada status
wanita-wanita yang tingg
L di desa. Kalau kita bicara tentang perobahan ini , kita mau membedakan
dalam dua kelompok yaitu mereka yang sudah kawin dan mereka yang
belum kawin.

a. Wanita yang sudah kawn
Banyak diantara mereka tidak mengalami perobahan terlalu banyak ,
kalau mereka pindah dari desa ke kota sebab mereka tinngal saja
dirumah, dengan tugas-tugas saja sebagai dahulu.itu tidak berarti
bahwa mereka idak dipengaruhi oleh suasana di kota, mereka juga
mengalami atau dengar tentang kehidupan di kota dengan
kemungkinan-kemungkinan yang ada. Mereka juga mengalami
bahwa peesonal relation di kota dengan orang lain lebih sulit,
mereka juga mengalami bahwa mereka juga alone. Mungkin mereka
juga akan mencari konpensasi dalam menonton film, membeli bahan
baru, pesiar,dll. Tiap-tiap aktivitas menuntut uang, dan uang ini
mungkin tidak diberi oleh suami, sebab itu wanita ini suka lebih
kebebasan dan itu juga dalam usahanya untuk mencari uang. ia
membuka warung, menjual kue, dll. Mereka juga mengalami bahwa
pekerjaan rumah tidak minta terlalu banyak waktu, sebab itu juga
ada yang akan mencari pekerjaan di luar ruman,supaya mereka
sendiri juga menerima uang, dan tidak terlalu takluk kepada
suaminya.juga mungkin bahwa gaji suami yang tidak cukup untuk
menyesuaikan diri untuk cara hidup di kota, dan gaji istrinya
mengisinkan sekarang suami dan istri untuk mengikuti cara hidup di
kota. De facto kita melihat bahwa wanita-wanita di kota tidak lagi
menerima bahwa status mereka kurang dari pada laki-laki, mereka
minta hak yang sama dalam hal pendidikan, dalam bugjed rumah
tangga, dalam cara rekreasi,dll. Juga mereka yang tidak mempunyai
pekerjaan diluar rumah tidak mau lagi dipandang sebagai manusia
second rank, pandangan ini berdasar atas fakta , bahwa tugas mereka
dalam hal pendidikan menjadi lebih penting , sebab suami tidak di
rumah. Hal ini juga menyebabkan bahwa perkawinan lebih bersifat
partnership.

b. Wanita yang belum kawin
Mereka yang datang ke kota dengan tugas tertentu,ump,
study,mengalami juga bahwa kehidupan di kota memberi kebebasan
jauh lebih besar dari pada itu yang di beri di desa. Mereka dapat
bergaul dengan laki-laki, dan mengalami juga dalam pergaulan ini ,
bahwa tidak ada diskriminasi atas dasar kelamin. Oleh teman-teman
mereka dihargai kurang lebih atas prestasi mereka. Hal ini dapat
memberi kesulitan-kesulitan kalau mereka setelah selesai studi,
harus pulang ke desa. Mereka mengalami banyak kesulitan adat
istiadat yang berlaku di kampong-kampung. Sebab itu mereka
tinggal di kota-kota, dan hendak disana mencari pekerjaan sesuai
dengan pendidikan yang diterima.


Mereka yang datang ke kota untuk mencari pekerjaan akan juga mengalami
bahwa pengaruh dari kehidupan di kota terhadap kehidupan mereka sendiri
agak lain dari pada pengaruh kehidupan di desa atas kehidupan mereka. Kita
sudah menerangkan bahwa kehidupan sosial di kota lebih bebas, lenih
toleransaiterhadap praktek-praktek lain dari pada itu yang biasa sudah
diuraikan, bahwa sosial control di kota kurang, dan tidak meliputi banyak
bidang sebagai biasa di desa, dimana oleh social control yang informal juga
dianggap sebagai bail atau jahat hal-hal yang tersangkut paut dengan
pandangan pribadi seseorang. Itu berarti bahwa kebebasan di kota lebih
besar dan hanya dibatasi oleh undang-undang peraturan-peraturan dll yang
cara resmi diumumkan oleh pemerintah. Hal ini dapat memberi kesulitan-
kesulitan , kala wanita ini tidak dipersiapkan untuk mempergunakan dengan
baik kebebasan yang diberi kepadanya. Pendorong-pendorong seksuil di
kota amat besar , kehidupan lebih erotis, itu menjadi jelas dalam cara
berkreasi, cara bergaul, dll. Banyak orang-orang mudi tidak dipersiapkan
untuk bertemu dengan erotic ini,banyak orang muda mengikuti kebiasaan di
kota untuk memandang wanita-wanita sebagai play things, dan banyak mudi
tidak keberatan asal mereka sendiri juga mengalami suatu kesenangan. Hal
ini lebih berlaku untuk mudi-mudi yang kurang berpendidikan , yang justru
sebab itu hanya dapat pekerjaan yang menghasilkan gaji yang rendah, tetapi
toh hendak partisipir dalam social life di kota.mereka yag menerima
kesempatan untuk mengikuti pendidikan lebih, belum suka kawin pada
umur muda, mereka suka lebih dahulu hidup bebas dan kalau mereka akan
kawinmereka suka memilih partnernya sendiri. love affair untuk Sentara
waktu juga tidak ditolak , banyak laki belum suka kawin , juga kalau
hubungan dengan wanita ada, sebab keadaan ekonomis mereka belum
mengizinkan membayar ongkos-ongkos perkawinan, dan tidak ada family
yang rela untuk membayar ongkos-ongkos ini atau membantu dalam hal ini.

Justru sebab family tidak ada,keluarga-keluarga di kota mengalami juga
kesulitan-kesulitan lain. Kehidupan keluarga di desa jadi dalam bentuk
extended family. Juga kalau seorang muda kawin ia toh terikat kepada
familunya. Anggota-anggota extended family ini hidup dan kerja sama-
sama, kesulitan-kesulitan dipikul bersama-sama. Sekarang mereka ada di
kota , bantuan dari extended family kurang atau sama sekali tidak ada.
Kewajiban untuk mengatur keluarga sendiri dan sendiri mendidik anak-
anaknya dialami sebagai beban yang berat. Itulah juga suatu akibat dari
anonymity di kota. Tidak ada orang-orang lain yang merasa, bahwa mereka
juga bertanggung jawab tentang pendidikan anak-anak lain. Anak-anak yang
bermain diluar rumah, adalah bebas dari tiap-tiap otoritet, hanya mau ikut
kemauan mereka sendiri. Untuk orang tua yang berpendidikan perobahan ini
daro extended family ke nuclear family lebih gampang , sebab disini adalah
kerja sama yang erat antara suami istri yang rela untuk memandang
partnernya dalam perkawinan sebagai bertul partner, mereka akan saling
menghargai. Pendidkan orang tua ini juga memberi persiapan lebih baik
untuk mendidik anak-anaknya.



























BAB VIII
PENGARUH URBANISASI TERHADAP KOTA DAN DESA


Pemindahan produk dari desa ke kota mempunyai pengaruh positif dan
negatif terhadap kota yang dikunjungi. Sebaliknya mempunyai pengaruh
yang positif dan negatif terhadap desa yang ditinngalkan.

A. Pengaruh urbanisasi terhadap kota
1. Pengaruh yang positif
- Dengan mengalirnya penduduk desa ke kota, maka kota akan
berkembang , hal ini memaksa pemerintah , perencana kota
merencanakan pembangunan kota, memperluas kota serta
menyediakan fasilitas-fasilitas yang sesuai dengan kebutuhan kota.

- Pendatang akan turut membangun kota, sebab yang datang ke kota
adalah juga termasuk pengusaha-pengusaha, tenaga kerja yang
trampil , kaum intelektual yang merasa desa itu bukan tempat bagi
mereka lagi.

- Urbanisasi merupakan penambahan tenaga kerja. Dengan demikian
kekurangan tenaga kerja disektor industri akan terisi.

- Urbanisasi merupakan salah satu faktor yang memperlancar jalannya
industrialisi.

2. Pengaruh yang negatif
- Terjadinya pengangguran di kota
Di banyak Negara sedang berkembang, kemampuan kota untuk
menciptakan pekerjaan baru adalah jauh lebih terbatas jika
dibandingkan dengan pertambahan tenaga kerja yang diakibatkan
oleh pertambahan penduduk baik secara alamiah maupun dengan
urbanisasi.
Dan sebagian penduduk yang datang ke kota hanya memiliki
ketrampilan di sector pertanian , mengakibatkan mereka sukar
mendapatkan pekerjaan di kota.

- Timbulnya pelacuran, disebabkan ketrampilan yang dimiliki tidak
sesuai dengan lapangan pekerjaan yang tersedia.

- Munculnya rumah-rumah liar, gelandangan-gelandangan ,
penyerebotan tanah dan sebagainya.

- Fasilitas-fasilitas kesehatan , pendidikan, transportasi dan
perumahan tidak lagi memadai. Akibatnya penyakit merajalele di
perkampungan-perkampungan di kota, anak-anak terlantar
pendidikannya karena sekolah-sekolah tidak mampu lagi untuk
menampung mereka.

D.G.Wike menulis sebagai berikut
Kota modern boleh dibilang tidak mungkin memenuhi kebutuhan rakyat
seluruhnya,ia tidak dapat menyediakan tempat-tempat yang dapat dihuni
oleh manusia, ia tak mungkin menawarkan segala pekerjaan, perumahan,
alat pengangkutan serta berbagai fasilitas, jasa dan confort lainnya. Kota
modern bahkan telah merosot dan memberi fungsi-fungsi jasa untuk
kepentingan ekonomi sektor modern saja, dan akibatnya adalah
pembangunan yang kacau, yang tidak wajar bagi kemanusiaan . demikian
halnya dengan kota-kota di barat, demikian pula halnya dengan kota-kota di
dunia ketiga.

B. Pengaruh urbanisasi terhadap desa
1. Pengaruh yang positif
- Berkurangnya pengangguran disektor pertanian
Seperti telah digambarkan sebelumnya bahwa desa juga mengalami
kepadatan penduduk,sehinnga terjadi pengangguran disektor
pertanian. Disamping itu dengan perkembangan teknologi , tenaga
yang diperlukan disektor pertanian berkurang. Dengan berpindahnya
sebagian penduduk maka pengannguran akan berkurang.

- Penduduk yang harus tinngal di desa, disektor pertanian dapat
disesuaikan menurut keperluannya.
Hal ini melancarkan tercapainya usaha mengembangkan sektor
pertanian dengan menaikkan tingkat produktivitas.

- Sebagian penduduk yang berpindah ke kota untuk mengembangkan
pendidikan sering kembali ke desa. Mereka dapat menyumbangkan
tenaganya untuk membangun desa.

- Dengan derasnya arus urbanisasi maka pemerintah dengan
sendirinya akan memperhatikan pengembangan daerah pedesaan.

2. Pengaruh yang negatif
- Desa kehilangan tenaga yang produktif
Yang meninggalkan desanya adalah tenaga-tenaga yang masih muda
dengan penuh semangat untuk mendapatkan pekerjaan di kota.
Mereka ini berani menghadapi tantangan dalam hidupnya. Dengan
perginya mereka ke kota, maka desa kehilangan tenaga-tenaga yang
masih muda dan ulet.

- Desa kehilangan tenaga-tenaga yang terdidik
Tenaga-tenaga yang berpendidikan berpindah ke kota untuk lebih
mengembangkan pendidikannya. Dan mereka ini akhirnya tidak
kembali lagi ke desa, disamping tenaga mereka diperlukan di kota,
mereka juga berpendapat bahwa desa itu bukan tempatnya lagi.
Tambahan pula biasanya pendapatan mereka lebih besar di kota.

Kita lihat pendapat Bogue yang berhubungan dengan hal tersebut:
migration stimulated by economic growth,technological
improvement, attracts the better educated. Conver sely areas lose
their better educated and skilled person firet.


Penanggulangan arus urbanisasi

Kenyataan bahwa urbanisasi tidak dapat dielakkan atau sekaligus
diberhentikan lebih berkembangnya kota, lebih menarik orang untuk
datang ke sana. Yang paling menarik adalah ibukota seperti Jakarta,
misalnya pemerintah ibukota mempunyai tugas yang berat dalam
merencanakan kota dan menyediakan fasilitas bagi warganya. Arus
urbanisasi akan tetap berjalan dari masa ke masa namun demikian di
sini dikemukakan beberapa cara bagaimana menghadapi arus
urbanisasi itu dan bagaimana membendungnya.

1. Memperluas kesempatan keja di kota-kota selain ibu kota.
Menstumulir tumbuhnya kota-kota lain, sehingga orang-orang
tidak semua menuju ibukota.

2. Mendorong perkembangan jaringan pusat-pusat pertumbuhan
baru, terutama dalam usaha meningkatkan peranan kota-kota
menengah dan kecil, untuk menampung, memanfaatkan dan
mengarahkan arus urbanisasi. Untuk itu perlu disertai
kebijaksanaan yang mendorong perkembangan industry, serta
lapangan kerja lainnya di daerah-daerah.


3. Modernisasi pertanian
Dengan modernisasi pertanian,menyebabkan pemerintah harus
menciptakan jaringan pengangkutan prasarana pertanian seperti
isgasi dan fasilitas pergudangan. Dalam pelaksanaannya
memerlukan tenaga kerja . dan yang paling penting Modernisasi
pertanian akan menyebabkan waktu penanaman kembali lebih
capat dan kegiatan seperti memberi pupuk dan membasmi hama
perlu dilaksanakan. Akibatnya petani harus memperbesar masa
kerjanya dan mempergunakan pekerja tambahan.

4. Pembentukan Agripolitan
Yang dimaksud dengan pembentukan agripolitan yaitu merubah
daerah pedesaan dengan cara memperkenalkan unsur-unsur gaya
hidup kota yang telah disesuaikan pada lingkungan desa tertentu.
Ini berarti tidak lagi mendorong perpidahan penduduk desa ke
kota,dengan menambahkan modal di kota tetapi mendorong
untuk tetap tinggal ditempat mereka semula, dengan menanam
modal di daerah pedesaan , dan dengan demikian merobah
tempat pemukiman sekarang ini untuk dijadikan suatu bentuk
campuran yang dinamakan agropolis atau kota diladang.