Anda di halaman 1dari 3

Bahan alami mnejadi hal yang diperhatikan dalam hal pembutan obat.

Tanaman banyak
dipergunakan sebagai bahan herbal. ............ Penanganan pasaca panen ini akan berpengaruh
terhadap mutu simplisia yang akan dibuat bahan baku obat. Untuk mengetahui pengaruh
pasca panen tanaman obat terhadap mutu dan kandungan simplisia, dapat dilakukan uji
kontrol kualitas simplisia. Uji-uji yang dilakukan dalam praktikum ini meliputi uji kadar
minyak atsiri, susut pengeringan, kadar zat aktif dan uji kadr air. Uji ini dapat ditindaklanjuti
sebagai standarisasi simplisia untuk bahan obat.
Penanganan pasca panen tumbuhan obat pada intinya adalah membuat simplisia yang baik,
benar dan memenuhi syarat. Untuk itu perlu penanganan yang teliti pada setiap tahap
teknologi pasca panen. Tahap-tahap tersebut meliputi sortasi basah, pencucian, pengubahan
bentuk, pengeringan, sortasi kering, pengepakan, dan penyimpanan

da sortasi basah, Rimpang temulawak harus dipisahkan dari Pencemar-pencemar lain seperti
gulma, rumput, tanah, kerikil, bagian rimpang yang rusak dan bahn tanaman lain atau jenis
rimpang lain. Tanah mengandung bermacam-macam mikroba dalam jumlah yang tinggi, oleh
karena itu pembersihan simplisia dari tanah yang terikut dapat mengurangi jumlah mikroba
awal. Pada sortasi basah ini juga dipisahkan rimpang dari akar dan batang dari tanaman
temulawak. Setelah didapatkan rimpang yang utuh dan bebas dari pencemar, rimpang
tersebut ditimbang untuk mengetahui berat basahnya.. Berat awal didapatkan sebesar 2,1 kg.
Tahap selanjutnya adalah pencucian. Pencucian dilakukan di air yang mengalir yaitu dari
sumur dan ledeng. Pencucian menggunakan air sumur perlu memperhatikan pencemar yang
mungkin timbul akibat mikroba. Beberapa bakteri pencemar air yang perlu diketahui adalah
Pseudomonas, Proteus, Micrococus, Streptococcus, Bacillus, Enterobacter, dan Escheria coli.
Dari hasil penelitian yang diklakukan oleh Frazier (1978) dilaporkan bahwa untuk pencucian
sayuran yang dilakukan sebanyak satu kali akan menurunkan jumlah mikroba sebanak 25%.
Namun pencucian yang dilakukan sebanyak tiga kali akan menurunkan mikroba sebanyak
58%. Pada rimpang dalam keadaan basah mungkin masih terbapat pencemar mikroba.
Namun setelah pengeringan nanti pencermar tersebut akan berkurang secara drastis, akibat
sedikitnya kandungan air. Pencucian menggunakan fasilitas air air PAM (ledeng) sering
tercemar dengan kapur khlor. Jika airnya mengandung kapur klor, akan menyebabkan
suasana basa, sehingga kemungkinkan, kandungan kurkumin dalam rimpang
dapat terdegradasi menjadi asam ferulat dan feruloil metan.
Tahap pengubahan bentuk dilakukan dengan merajang rimpang secara melintang dengan
tebal kira-kira 3mm-4mm. Tujuan perajangan ini adalah untuk memeperluas permukaan
bahan baku, sehingga waktu pengeringan cepat kering. Irisan yang terlalu tipis dapat
menyebabkan berkurangnya atau hilangnya zat berkhasiat yang mudah menguap, sehingga
mempengaruhi komposisi, bau dan rasa yang diinginkan. Oleh karena itu bahan simplisia
seperti temulawak dihindari perajangan yang terlalu tipis untuk mencegah berkurangnya
kadar minyak atsiri. Dengan perajangan, akan terbentuk simplisia temulawak yang
mempunyai bentuk yang teratur, mudah dikemas dan mudah disimpan
Pada proses pengeringan, rimpang temulawak yang telah dicuci, dijemur di bawah sinar
matahari secara tidak langsung atau ditutup dengan kain hitam. Secara umum , pengeringan
bertujuan untuk mencegah kerusakan kandungan zat aktif yang ada dalm tanaman sehingga
dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama. Kerusakan tersebut akibat peruraian zat aktif
secar enzimatis seperti hidroliss, oksidasi dan polimerisasi, sehingga randemenya akan turun.
Pengeringan simplisia harus dilakukan secepatnya sebab aktivitas enzim akan naik naik
dengan adanya air dalam simplisia, apalagi air tersebut dari sisa pencucian. Dengan
pengeringan, kadar air yang terdapat dalam simplisia akan berkurang sampai pada titik
tertentu yang menyebabkan enzim-enzim menjadi tidak aktif. Selain itu, dalam keadaan
kering, dapt mencegah tumbuhnya jamur dan bakteri. Kapang sudah dapat berkembang
dengan baik pada simplisia dengan kadar air sekitar 18%. Kadar air 10% sudah cukup untuk
meperpanjang waktu simpan simplisia(Hutapea, 1992). Selain itu pengeringan memudahkan
pada tahap selanjutnya ( ringkas, mudah dikemas, dan mudah disimpan) Penutupan dengan
kain hitam bertuuan untukmenghindari penguapan yang terlalu cepat yang dapt berakibat
menurunkan mutu minyak atsiri di dalam rimpang temulawak.
Penjemuran secara tidak langsung ini bertujuan untuk menghindari kontak langsung dengan
pancaran sinar ultra violet. Simplisia ini ditempatkan pada rak besi yang tebuka bagian sisi
kanan, kiri, dan bawah, agar aliran atau sirkulasi udara bagus. Selama penjemuran, simplisia
terkadang dibalik-balik , agar pengeringanya rata dan tidak terjadi face hardening, mengingat
ketebalan irisan temulawak sebesar 3mm-4mm. Pembolak-balikan simplisia selama
pengeringa juga untuk menghindari tumbuhnya jamur. Mengingat simplisia dijemur dengan
naungan kain hitam maka, kecepatan penguapan air dari simplisia terlalu lambat, jadi harus
sering dibalik agar simplisia tidak ditumbuhi jamur. Tumbuhnya jamur pada proses
pengeringan dapat mempengaruhi komposisi dari zat aktif maupun minyak atsiri.
Menurut teori, pengeringan simplisia sampai kadar airnya kurang dari 10%, namun dalam
praktikum ini tidak dapat ditentukan secara pasti apakah kadar air simplisia kurang dari 10%.
Proses pengeringan dihentikan bila simplisia sudah kaku dan bila dipatahkan akan muncul
suara. Hal ini dikarenakan titik kekeringan yang tepat biasanya dapat ditentukan dari
kerapuhan dan mudah patahnya bagian tanaman yang dikeringkan (Claus, 1970)
Pengeringan irisan temulawak ini berlangsung selama 4 hari, dengan pemanasan sinar
matahari pada siang hari dan tanpa tejadinya hujan. Pengeringan sinar matahari dengan
naungan kain hitam, relatif berlangsung lebih lama karena sirkulasi udar kurang bagus,
sehingga transfer uap air keluar dari rimpang menjadi lebih lambat, jadi kecepatan
pengeringan lebih lambat. Pengeringan dengan matahari mempunyai kelebihan yaitu murah,
tetapi mempunyai banyak kekurangan yaitu suhu dan kelembapan yang tidak dapat dikontrol,
perlu area penjemuran yang luas, mudah terkontaminasi, simplisia mudah hilang, misalnya
diterbangkan angin, dimakan hewan atau mungkin mudah dicuri.
Setelah pengeringan, dilakukan sortasi kering. Sortasi kering ini dengan memilah-milah
simplisia yang mempunyai penampilan yang bagus, bentuk dan ukuran simplisia
yang memenuhi syarat. Mengingat simplisia dijemur di lingkungan luar, maka perlu
diperhatikan adnaya pencemar. Pencemar tersebut diantaranya adalah simplisia lain yang
diterbangkan angin dan masuk dalam wadah simplisia temulawak.Serangga yang suka
hinggap di simplisia, kotoran hewan dan jenis sampah-sampah lain. Setelah itu ditimbang
berat bersih dari simplisia yaitu 0,45 kg. Rimpang dengan bobot basah mempunyai berat
basah sebesar 2,1 kg, tetapi setelah diolah menjadi simplisia kering yang memenuhi
persyaratan bentuk dan penampilan, didapatkan hasil sebesar 0,45kg. Jadi randemen sebesar
21,48%
Tahap selanjutnya adalah pengepakan dan penyimpanan. Simplisia yang telah kering, harus
segera dikemas dan disimpan. Simplisia perlu ditempatkan dalam suatu wadah agar tidak
saling bercampur antar simplisia satu dengan yang lain. Simplisia temulawak ditempatkan
dalam wadah nampan dan disimpan dalam keadaan terbuka. Simplisia disimpan dalam suhu
kamar yaitu pada suhu antara 15
o
-30
o
C. Kelembapan tidak diatur. Penyimpanan simplisia
temualwak ditempatkan dalam almari tertutup. Hal ini mempunyai keuntungan yaiu
mencegah angin masuk, Serangga sukar masuk dan simplisia tidak terkena sinar
matahariyang berlebihan, namun sirkulasi udaranya kurang lancar. Penyimpanan simplisia
secara terbuka, kurang begitu melindungi simplisia, karena simplisia kontak langsung dengan
udara luar, sehingga kurang terjaganya kelembapan, keutuhan zat aktif dan bentuknya. Dalam
penyimpanannya simplisia tersebut harus diberi etiket. Etiket tersebut minimal harus memuat
nama simplisia, berat kering, berat basah, tanggal pembuatan, lama pengeringan , jenis
pengeringan, dan nama pembuat simplisia.
Setelah pembuatan simplisia selesai, maka simplisia tersebut di uji kualitasnya, apakah
memenuhi syarat apa tidak. Uji-uji yang dilakukan pada praktikum ini diantaranya adalah
susut pengeringan, penetapan kadar minyak atsiri, penetapan kadar air, dan penetapan kadar
zat aktif. Uji kualitas simplisia setelah penyimpanan terbuka selam 45 hari.

Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai bahan obat, kecuali dipergunakan
sebagai bahan obat, kecuali dinyatakan lain berupa bahan yang telah dinyatakan lain berupa bahan
yang telah dikeringkan. Simplisia terdiri dari simplsiia dikeringkan.Salah satu cara dalam
standarisasi simplisia adalah dengan penetapan susut pengeringan. Standarisasi perlu
dilakukan karena simplisia akan digunakan untuk obat atau sebagai bahan baku sehingga
harus memenuhi standar mutu. Sebagai parameter standar yang digunakan adalah persyaratan
yang tercantum dalma monografi resmi terbitan Departemen Kesehatan RI seperti Materia
Medika Indonesia.
Susut pengeringanngan adalah persentase senyawa yang menghilang selama proses pemanasan.
Penentuan susut pengeringan ini tidak hanya menggambarkan air yang hilang, tetapi juga senyawa
menguap lainnya, seperti minyak sesensial (minyak atsiri). Pengukuran sisa zat dilakukan dengan
pengeringan pada temperatur 105C selama 30 menit atau sampai berat konstan dan dinyatakan
dalam persen. Pada suhu 105
o
C ini, air akan menguap, dan senyawa-senyawa yang mempunyai titik
didih yang lebih rendah dari air akan ikut menguap juga. Susut pengeringan dinyatakan sebagai nilai
prosen terhadap bobot awal.. Metode nya disebut gravimetri yakni Gravimetri dalam ilmu kimia
merupakan salah satu metode analisis kuantitatif suatu zat atau komponen yang telah diketahui
dengan cara pengukuran berat komponen dalam keadaan murni setelah melalui proses pemisahan.
Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu.
Metode gravimetri memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada konstiven dapat diuju
dan bila perlu faktor-faktor koreksi dapat digunakan.
susut pengeringan = (bobot awal - bobot akhir)/bobot awal x 100%
Untuk simplisia yang tidak mengandung minyak atsiri dan sisa pelarut organik menguap, susut
pengeringan diidentikkan dengan kadar air, yaitu kandungan air karena simplisia berada di atmosfer
dan lingkungan terbuka sehingga dipengaruhi oleh kelembaban lingkungan penyimpanan.