Anda di halaman 1dari 13

HEMODIALISIS

KELOMPOK 3 KELAS B
YESSY KHOIRIYANI G1F010008
JANESCA K. GINTING G1F010010
ALVIAN SAPUTRA G1F010016
MAYANI G1F010024
WIMALA PERMATASARI G1F010032
DEDY ISKANDAR G1F010034
OKTY FITRIA I. Z. G1F010054
NUR ALFIAH G1F010060
DEANTARI KARLIANA G1F010064
YOGA RIZKI PRATAMA G1F010066

HEMODIALISA
Hemodialisa adalah pergerakan larutan dan air dari
darah pasien melewati membran semipermeabel
(dializer) ke dalam dialisat.
biasanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki
gangguan ginjal, dimana menurut konsensus
Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) (2003)
secara ideal semua pasien dengan Laju Filtrasi Goal
(LFG) kurang dari 15 mL/menit, LFG kurang dari 10
mL/menit dengan gejala uremia/malnutrisi dan LFG
kurang dari 5 mL/menit walaupun tanpa gejala dapat
menjalani dialisis.
Thiser dan Wilcox (1997) menyebutkan bahwa
hemodialisa biasanya dimulai ketika bersihan kreatinin
menurun dibawah 10 mL/menit, ini sebanding dengan
kadar kreatinin serum 810 mg/dL.
SKEMA HEMODIALISIS
Efek samping saat
hemodialisis
- Kram otot
- Hipotensi
- Aritmia
- Hipoksemia
- Perdarahan
- Gangguan
pencernaan
- Pembekuan darah
TRANFUSI DARAH
Digunakan pada saat
- Perdarahan akut dengan gejala gangguan
hemodianamik, tidak memungkinkan
menggunakan EPO dan Hb < 7 g/dL
- Hb < 8 g/dL dengan gangguan hemodianamik
- Pasien dengan defisiensi besi yang akan
deprogram terapi EPO ataupun yang telah
mendapat EPO tetapi respon belum adekuat,
sementara preparat besi IV / IM belum
tersedia, dapat diberikan tranfusi darah dengan
hati hati.

EPO
EPO(Eritropoeitin) adalah hormon yang
diproduksi oleh ginjal, yang berfungsi
merangsang pembentukan sel darah merah
di dalam sumsum tulang.
Indikasi terapi EPO menurut rekomendasi
dari PERNEFRI adalah bila Hb < 10 g/dL, Ht
< 30% pada beberapa kali pemeriksaan dan
penyebab lain anemia sudah disingkirkan.

TERAPI EPO (ERYTROPOETIN)
1. Terapi Erytropoetin Fase Koreksi
Tujuan terapi : Untuk mengoreksi anemia
renal sampai target Hb / Ht tercapai.
2. Terapi Erytropoetin Fase Pemeliharaan
3. Terapi Besi Fase Pemeliharan
Tujuan terapi : Menjaga kecukupan
persediaan besi untuk eritropoisis selama
terapi EPO.



Efek Samping
- Hipertensi
- Kejang
Kondisi khusus Hemodialisa
- Hipotensi
- Hipertensi
- Hiperglikemia dengan gagal ginjal termal
- Hipoglikemia
- penatalaksanaan nutrisi

PERBAIKAN FUNGSI GINJAL PASIEN DIABETES YANG
MENJALANKAN HEMODIALISIS DAN PERITONEAL
DIALYSIS (HORINEK, 2004)
MONITORING PASIEN HD
1. Monitoring Subjektif
Monitoring proteinuria dengan pemeriksaan urin 24
jam,
Menurunkan tekanan darah,
Monitoring kadar BUN dan serum kreatinin,
Monitoring GDP,
Monitoring hematokrit dan Hb,
Monitoring status anemia,
Keseimbangan elektrolit atau kadar eleektrolit
serum,
Monitoring efek samping obat-obat yg digunakan.
2. Monitoring Objektif
Apakah semua data lab.nya sudah normal,
Monitoring data pemeriksaan fisik, tanda-tanda
vital, data laboratorium dan pemeriksaan
penunjang lain apakah dalam keadaan normal atau
tidak.
3. Monitoring Tereapi EPO
- Terapi EPO Fase Koreksi
Pantau Hb, Ht tiap 4 minggu.
Pemantauan status besi : Selama terapi EPO
pantau status besi, berikan suplemen sesuai
dengan pantauan terapi besi.
- Terapi EPO Fase Pemeliharaan
Pantau Hb dan Ht setiap bulan.
Periksa status besi setiap 3 bulan.

KESIMPULAN
Hemodialisa adalah adalah suatu proses dimana
solute dan air mengalami difusi secara pasif melalui
suatu membran berpori dari kompartemen cair
menuju kompartemen lainnya. Hemodialisa dan
dialisa peritoneal merupakan dua tehnik utama yang
digunakan dalam dialisa. Prinsip dasar kedua teknik
tersebut sama yaitu difusi solute dan air dari plasma
ke larutan dialisa sebagai respon terhadap
perbedaan konsentrasi atau tekanan tertentu.
Hemodialisa butuh penatalaksanaan khusus untuk
pasien-pasien hipertensi, hipotensi, hiperglikemia
maupun hipoglikemia.

TERIMA KASIH