Anda di halaman 1dari 23

4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tanaman Selada
Tanaman selada diduga berasal dari Mediterania dan kemudian
berkembang ke Yunani dan Eropa Barat (Ryper, 1986). Dewasa ini tanaman yang
termasuk jenis sayuran daun ini merupakan jenis sayuran daun yang cukup
penting dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi.
Selada merupakan tanaman setahun dan termasuk dalam famili compositae
dan genus Lactuca. Nama ilmiah selada ialah Lactuca sativa L. Terdapat 4 jenis
salada yang terkenal yaitu head lettuce (selada kepala), cos atau romaine letttuce,
cutting atau leaf lettuce, dan asparagus atau stem lettuce.
Tanaman selada memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Akar
serabut menempel pada batang, tumbuhnya menyebar, ke semua arah pada
kedalaman 20-50 cm atau lebih. Sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan
tamanan diserap oleh akar serabut. Sedangkan, akar tunggangnya tumbuh lurus ke
pusat bumi (Rukmana, 1994).
Daun selada memiliki bentuk, ukuran, dan warna yang beragam,
bergantung varietasnya. Daun selada krop berbentuk bulat dengan ukuran daun
yang lebar, berwarna hijau terang, dan hijau agak gelap. Daun selada memiliki
tangkai daun lebar dengan tulang daun menyirip. Tangkai daun bersifat kuat dan
halus. Daun bersifat lunak dan renyah apabila dimakan, serta memiliki rasa agak
manis. Daun selada umumnya memiliki ukuran panjang 20-25 cm dan lebar 15
cm (Wicaksono, 2008).
Selada memiliki penampilan yang menarik. Ada yang berwarna hijau segar
dan ada juga yang berwarna merah. Daun selada yang agak keriting ini sering
dijadikan penghias hidangan. Sayangnya jenis selada yang biasa ditanam di
dataran rendah terbatas. Jenis selada yang banyak diusahakan di dataran rendah
ialah selada daun. Jenis ini begitu toleran terhadap dataran rendah sampai di
4
5

daerah yang sepanas dan serendah Jakarta pun masih subur dan bagus
pertumbuhannya (Nazaruddin, 1999).
Tabel 1 Kandungan Zat Gizi dalam 100 gram Selada.
Zat Gizi Selada
Protein (g) 1,2
Lemak (g) 0,2
Karbohidrat (g) 2,9
Ca (mg) 22,0
P (mg) 25,0
Fe (mg) 0,5
Vitamin A (mg) 162,0
Vitamin C (mg) 8,0
(Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI. 1979)
Tanaman selada ditanam dengan jarak tanam rapat untuk
memaksimumkan penggunaan ruangan yang tersedia dan umumnya rata-rata 20
cm antar tanaman. Tanaman selada mempunyai umur panen rata-rata sekitar 35-
60 hari setelah tanam. Selada ditanam secara hidroponik mempunyai umur panen
yang lebih singkat sekitar 28-50 hari (Haryanto, dkk 1996).
Tabel 2 Waktu Budidaya Berbagai Tanaman.
Tanaman
Lama
Persemaian
Jumlah Daun Masa Tanam
Brokoli 2 minggu 3-4 helai 65 HST
Kailan 10-18 hari 3-5 helai 52-56 HST
Melon 12-14 hari 4 helai 75-90 HST
Pakcoy 3-4 minggu 3-5 helai 2 bulan
Paprika 2-3 minggu 4-5 helai 20 MST
Seledri 2-3 minggu 4 helai 6-8 MST
Sawi 3 minggu 4-5 helai 2 bulan
Selada 10-18 hari 4 helai 45-55 HST
Timun jepang 10-14 hari 2-3 helai 38-40 HST
Tomat 3 minggu 3-4 helai 75-85 HST
HST = hari setelah tanam MST = Minggu Setelah Tanam
(Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan RI. 1979)
2.1.1 Sifat Botani Selada
Klasifikasi tanaman selada menurut Rukmana (1994) adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
6

Subdivisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Asterales
Famili : Asteraceae
Genus : Lactuca
Spesies : Lactuca sativa L.


Gambar 1 Tanaman Selada.
(Sumber: http://www.w3.org/1999/xhtml)

2.1.2 Syarat Tumbuh
Daerah yang cocok untuk penanaman selada pada ketinggian sekitar 500-
2000 m dpl dan suhu rata-rata 15-20 C, curah hujan antara 1000-1500 mm per
tahun dan kelembaban 60-100% (Pracaya, 2002), pH yang di kehendaki tanaman
selada sebaiknya netral (6,5-7), apabila terlalu masam daun selada menjadi kuning
(Suprayitna, 1996).

2.2 Hidroponik
Istilah hidroponik (hydroponics) digunakan untuk menjelaskan tentang
cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah sebagai media tanamnya. Di
kalangan umum, istilah ini dikenal sebagai bercocok tanam tanpa tanah. Di sini
termasuk juga bercocok tanam di dalam pot atau wadah lainnya yang
menggunakan air atau bahan porous lainnya, seperti pecahan genting, pasir kali,
kerikil, maupun gabus putih.
7

Menurut Untung (2000), hidroponik adalah teknik budidaya tanaman yang
menggunakan media tumbuh selain tanah. Dengan katan lain dapat juga dikatakan
budidaya tanpa tanah atau soilles culture.
Menurut Rini dan Yusdar (1999) dalam Suprapto (2000) ada dua hal yang
perlu di perhatikan dalam budidaya sayuran secara hidroponik, yaitu pengelolaan
tanaman dan kesehatan tempat tumbuh tanaman. Pengelolaan tanaman meliputi
kesesuaian komoditas yang diusahakan, kesesuaian media tumbuh yang
digunakan, kesesuaian larutan nutrisi yang akan diberikan dan teknik
pememliharaan. Lingkungan tempat tumbuh meliputi larutan nutrisi dalam media
tumbuh dan lingkungan sekitarnya, perlu dijaga kesehatannya untuk menghindari
adanya hama serta penyakit.

2.2.1 Sejarah Hidroponik
Bertanam secara hidroponik telah dimulai ribuan tahun yang lalu. Ada
taman gantung di Babilon dan taman terapung di Cina yang bisa disebut sebagai
contoh hidroponik. Lebih lanjut lagi, di Mesir, India, dan Cina, manusia purba
sudah menggunakan larutan pupuk organik untuk memupuk semangka,
mentimun, dan tanaman lainnya dalam bedengan pasir di tepi sungai. Cara
bertanam seperti ini kemudian disebut river bed cultivation.
Ketika ahli patologis tanaman menggunakan nutrien khusus untuk media
tanam, muncul istilah nutri culture. Setelah itu bermunculan istilah water culture,
solution culture, dan gravel bed culture untuk menyebut hasil percobaan mereka
yang menanam tanaman tanpa menggunakan tanah sebagai medianya. Terakhir,
tahun 1963 istilah hidroponik lahir. Istilah ini diberikan untuk hasil dari Dr. WF.
Gericke, seorang agronomis dari Universitas California, berupa tanaman tomat
setinggi 3 meter yang penh buah dan ditanam dalam bak berisi mineral hasil uji
cobanya. Sejak itu, hidroponik yang berasal dari kata hydro yang adalah air dan
ponus adalah daya, digunakan untuk menyebut segala aktivitas bercocok tanam
yang memberdayakan air tanpa menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya.
Penemuan Gericke menjadi sensasi pada saat itu. Foto dan riwayat
kerjanya menjadi headline surat kabar, bahkan ia sempat dinobatkan menjadi
8

orang berjasa abad ke-20. Sejak itu hidroponik tidak lagi sebatas skala
laboratorium, tetapi dengan teknik yang sederhana dapat diterapkan oleh siapa
saja.
Secara ringkas, kronologis perjalanan perkembangan hidroponik adalah
sebagai berikut.
Tahun SM : Larutan dari pupuk organik digunakan untuk menanam semangka
dan sayuran di Mesir, Cina, dan India.
Tahun 1666 : Tanaman mulai ditaman pada gelas vials (Robert Boyle, Irlandia).
Tahun 1804 : Studi nutrisi tanaman semusim (Nicholas de Saussure, Perancis).
Tahun 1850 : Budidaya menggunakan pasir dan arang sekam (Jean
Baussingault, Perancis).
Tahun 1860 : Bercocok tanam di air (Sachs dan Knop, Jerman).
Tahun 1920 : Formulasi larutan nutrisi (Hoagland, USA).
Tahun 1940 : Static hydroponics dengan media agregat (Gericke, USA).
Tahun 1945 : Studi mengenai nutrisi untuk budidaya (Withers, USA).
Tahun 1960 : Dimulainya era nutrient film technique atau NFT (Alan Cooper,
Inggris) dan pertanian secara hidroponik dibangun di Abudabi,
Arizona, California, dan Belgia, kemudian menyusul di Jerman,
Belanda, Iran, Italia, dan beberapa negara lain.
Tahun 1965 : Dimulainya era teknik irigasi tetes (Universitas Cornel, USA).
Tahun 1966 : Ditemukannya hidroponik sistem aeroponik (Massantini, Italia).
Tahun 1970 : Dimulainya budidaya menggunakan rockwool sebagai media
tanam (Hanger, Denmark).
Tahun 1975 : Hidroponik terapung (Farnworth, USA).
Tahun 1980 : Peralatan hidroponik dengan komputerisasi, automatisasi, dan
perangkat lainnya mulai populer ke seluruh dunia.
Tahun 1990 : Paket peralatan hidroponik untuk rumah tangga mulai
dipopulerkan di Australia, Singapura, dan Taiwan.

9

2.2.2 Keuntungan Hidroponik
Ada beberapa alasan yang menarik untuk melakukan hidroponik. Alasan
utama adalah kebersihan tanaman begitu terjamin sehingga bisa dilakukan di
kamar tidur sekalipun. Hidroponik hampir dapat dilakukan pada semua tanaman,
hasilnya sudah teruji dan lebih melimpah dibanding bercocok tanam di lahan atau
di sawah.
Tetapi keuntungan yang lebih penting lagi adalah bahwa dengan cara
hidroponik maka kita dapat memelihara tanaman lebih banyak dalam ruang yang
lebih sempit dari pada bercocok tanam tradisional, karena pot-pot atau kantong
plastik yang digunakan dapat diatur dengan lebih mudah.
Dapat dilihat keuntungan dari bercocok tanam tanpa tanah adalah sebagai
berikut:
a) Produksi tanaman lebih tinggi dibandingkan dengan menggunakan media
tanam tanah biasa.
b) Lebih terjamin kebebasan tanaman dari hama dan penyakit.
c) Tanaman tumbuh lebih cepat dan pemakaian air dan pupuk lebih hemat.
d) Bila ada tanaman yang mati, bisa diganti dengan tanaman baru dengan
mudah.
e) Tanaman akan memberikan hasil yang kontinu.
f) Metode kerja yang sudah distandarisasi, lebih memudahkan pekerjaan dan
tidak membutuhkan tenaga kasar.
g) Kualitas daun, buah atau bunga yang lebih sempurna dan tidak kotor.
h) Beberapa jenis tanaman malah bisa ditanam di luar musimnya dan hal ini
menyebabkan harganya lebih mahal di pasaran.
i) Tanaman dapat tumbuh di tempat yang semestinya tidak cocok bagi tanaman
yang bersangkutan.
j) Tidak ada resiko kebanjiran, erosi, kekeringan ataupun ketergantungan
lainnya terhadap kondisi alam setempat.
k) Efisiensi kerja kebun hidroponik menyebabkan perawatannya tidak banyak
memakan biaya dan tak banyak memerlukan peralatan.
10

l) Keterbatasan ruang dan tempat bukan halangan untuk berhidroponik.
Sehingga untuk pekarangan terbatas juga bisa diterapkan hidroponik. Bila
perlu di dapur dan ruang tamu juga bisa digunakan untuk berhidroponik.
m) Harga jual produk hidroponik lebih tinggi dari produk non-hidroponik.
Dapat disimpulkan bahwa metode bercocok tanam tanpa tanah memberi
keuntungan yang besar sekali terutama bagi penduduk kota yang tidak
mempunyai lahan untuk bercocok tanam, daerah gersang dan sulit air, atau
gedung-gedung pencakar langit sebagai tempat menanam tanaman hias berbagai
jenis. Cara ini memberi kemungkinan tambahan untuk menghijaukan lingkungan
pada tempat yang tak mungkin lagi untuk menanam tanaman pada tanah.

Gambar 2 Hidroponik Budidaya Sawi Hijau.
(Sumber: http://oketips.com/778/tips-hidroponik-kelebihan-sistem-rumah-kaca-untuk-
hidroponik/)

2.3 Metode Hidroponik
Prinsip dasar hidroponik dapat dibagi menjadi tiga, yaitu hidroponik
substrat, hidroponik sistem NFT, dan hidroponik sistem aeroponik. Dari ketiga
bentuk hidroponik tersebut, dapat dibuat teknik-teknik baru sesuai dengan kondisi
ruang yang tersedia. Jadi, tidak terpaku pada satu cara atau meniru cara yang telah
ada.
Sejak dipopulerkan 40 tahun lalu, hidroponik mengalami banyak
perubahan. Media tanam yang digunakan banyak yang sengaja dibuat khusus.
Demikian juga dengan wadah yang digunakan. Misalnya ada pot yang sengaja
didesain khusus yang dilengkapi dengan alat petunjuk kebutuhan air. Media yang
11

digunakan pun sengaja dibuat khusus, seperti kerikil sintetis yang sifatnya
menyerupai kerikil asli. Untuk melengkapi kebutuhan sinar, tingkat kelembaban,
serta kontrol pertumbuhan, tanaman hidroponik diletakkan di dalam rumah plastik
(greenhouse).

2.3.1 Hidroponik Substrat
Hidroponik substrat tidak menggunakan air sebagai media, tetapi
menggunakan media padat (bukan tanah) yang dapat menyerap atau menyediakan
nutrisi, air, dan oksigen, serta mendukung akar tanaman seperti halnya fungsi
tanah.


Gambar 3 Hidroponik Substrat dengan Rockwool Sebagai Media Tanam.
(Sumber: http://www.bumisegarfish.com/)

Media yang dapat digunakan dalam hidroponik substrat ini antara lain
rockwool, batu apung, pasir, serbuk gergaji, atau gambut. Media-media tersebut
dapat menyerap nutrisi, air, dan oksigen, serta mendukung akar tanaman sehingga
dapat berfungsi seperti tanah (Lingga, 2005).

2.3.2 Hidroponik Sistem Nutrient Film Technique (NFT)
NFT termasuk cara baru bercocok tanam di Indonesia, meskipun sudah
ada yang mencoba 10 tahun yang lalu. Teknik ini cocok sekali di terapkan di
12

daerah berlahan sangat tidak subur. NFT bisa juga diterapkan di dataran tinggi
maupun dataran rendah dengan tujuan akhir hasil panen berkualitas tinggi
(Untung, 2003).
Teknik budidaya ini bisa digunakan oleh semua kalangan. Para pengusaha
dapat menerapkannya di kebun berskala luas. Beragam tanaman bisa ditanam
dengan system NFT , kecuali tanaman berumbi. Dengan perawatan yang intesif,
hasil akhir tentu akan bermutu tinggi karena seluruh kebutuhan pupuk tanaman
benar-benar diberikan sesuai porsinya. Bahkan tidak ditemui lagi bekas-bekas
tanah yang melekat diakar maupun daun tanaman. NFT memang merupakan
sebuah teknik mutakhir yang sangat cocok untuk menggapai produk bermutu
tinggi (Untung, 2003).
Hidroponik NFT di kategorikan sistem tertutup, pada sistem tertutup air
bersikulasi selama 24 jam terus-menerus atau bisa juga di atur pada waktu-waktu
tertentu dengan pengatur waktu. Di Taiwan, perkebunan selada dengan sistem
NFT mengatur sirkulasi air dengan selang 15 menit. Lama sirkulasi air sekitar
setengah jam. Cara lain untuk mengatur sirkulasi air adalah dengan merendam
akar selama beberapa waktu kemudian air dikeringkan kembali. Pada sistem NFT
begitu terjadi infeksi pada salah satu tanaman maka seluruh tanaman akan tertular
dalam waktu singkat (Untung, 2003).
Dengan teknik NFT, reaksi tanaman terhadap perubahan formula pupuk
dapat segera terlihat. Kontrol pengairan juga demikian, Namun teknik NFT
memerlukan suplai listrik selama 24 jam/hari. Dengan demikian, jika listrik mati
selama beberapa jam maka seluruh tanaman dalam sistem NFT terancam mati
total. Salah satu kelebihan sistem NFT ialah memungkinkan tanaman berproduksi
sepanjang tahun. Kendala yang terjadi pada pertanian tanah maupun hidroponik
system substrat tidak akan terjadi pada hidroponik sistem NFT. Pada hidroponik
sistem NFT, Begitu tanaman dipanen pagi hari, talang dapat langsung disikat,
dicuci, dan disterilkan dengan sterilisan. Proses ini hanya membutuhkan waktu 20
menit per bedengan. Usai pembersihan, NFT siap diisi denga bibit baru (Untung,
2003).
13

NFT merupakan salah satu tipe spesial dalam hidroponik yang
dikembangkan pertama kali oleh Dr. A.J Cooper di Glasshouse Crops Research
Institute, Littlehampton, Inggris pada akhir tahun 1960-an dan berkembang pada
awal 1970-an secara komersial (Graves, 1983).
NFT merupakan model budidaya dengan meletakkan akar tanaman pada
lapisan air yang dangkal. Air tersebut tersikulasi dan mengandung nutrisi sesuai
kebutuhan tanaman. Perakaran bisa berkembang di dalam larutan nutrisi. Karena
di sekeliling perakaran terdapat selapis larutan nutrisi, maka sistem ini dikenal
dengan nama nutrient film technique (Lingga, 2005).
Mengingat bahwa kelebihan air akan mengurangi jumlah oksigen, maka
lapisan nutrisi dalam sistem NFT dibuat sedemikian rupa, maksimal tinggi larutan
3 mm sehingga kabutuhan air, nutrisi, dan oksigen dapat terpenuhi (Lingga,
2005).

Gambar 4 Hidroponik Sistem Nutrient Film Technique(NFT).
(Sumber: http://www.thefishfarm.com.au/aquaponics.asp)

Prinsip dasar dalam sistem NFT merupakan satu keuntungan dalam
pertanian konvensional. Artinya, pada kondisi air berlebihan (lahan yang
digenangi), jumlah oksigen di perakaran menjadi tidak memadai (berkurang).
Namun, pada sistem NFT yang nutrisinya hanya selapis menyebabkan
ketersediaan nutrisi dan oksigen pada akar selalu berlimpah (Lingga, 2005).
Untuk membuat selapis nutrisi, dibutuhkan syarat-syarat sebagai berikut.
14

a) Kemiringan talang tempat mengalirnya larutan nutrisi ke bawah harus benar-
benar seragam.
b) Kecepatan aliran yang masuk tidak boleh terlalu cepat, disesuaikan dengan
kemiringan talang.
Pada sistem NFT, air dan nutrien dialirkan dalam wadah penanaman
(biasanya talang). Wadah penanaman dibuat miring agar nutrien dapat mengalir.
Nutrien yang telah melewati wadah penanaman, ditampung dalam bak atau tangki
dan kemudian dipompa untuk dialirkan kembali (Lingga, 2005).
Tinggi nutrien hanya 3 mm, tidak boleh lebih dari itu karena air yang
terlalu tinggi akan mengakibatkan oksigen terlarut sedikit. Kecepatan aliran
tergantung dari kemiringan wadah, minimal 1%. Kemiringan yang digunakan
antara 1-5% (Lingga, 2005).

Gambar 5 Hidroponik Sistem Nutrient Film Technique(NFT).
(Sumber: http://hydroponicshabitat.com/hydroponics-systems)

Pada hidroponik NFT, digunakan talang bentuk segiempat (talang rumah)
dengan ukuran lebar 13-17 cm dan panjang 4 m. Panjang total talang sebaiknya
tidak lebih dari 12 m. Efek yang akan terjadi bila talang terlalu panjang yaitu
terdapat perbedaan yang meyolok dalam penyerapan nutrisi dan oksigen.
Tanaman yang terletak di dekat inlet akan menyerap nutrisi dan oksigen lebih
banyak dibandingkan tanaman yang jauh dengan inlet (Lingga, 2005).
Sebelum digunakan, talang perlu dibersihkan. Untuk pemakaian pertama
kali, pembersihan talang cukup dengan menyikat dan membasuhnya dengan air
bersih. Bila telah digunakan beberapa kali, pembersihan talang menggunakan
15

sodium hipoklorit dan kalsium hipoklorit dalam bentuk HOCl. Pemakaian klorin
harus hati-hati, tidak boleh lebih dari 1 ppm agar pertumbuhan tanaman tidak
terhambat dan tanaman tidak menjadi kerdil (Lingga, 2005).
Di dasar talang diberi kerikil, batu bata, sabut kelapa, atau lembaran koran,
tujuannya agar penyebaran nutrien dapat merata. Talang ini nantinya ditutup
dengan styrofoam yang telah diberi lubang. Lubang tersebut digunakan sebagai
lubang tanam (Lingga, 2005).
Apabila segala sarana telah siap dan penanaman akan dimulai, nutrisi
dapat dialirkan lebih dahulu. Ketinggian nutrisi diatur sekitar 3 mm, jangan lebih,
agar kandungan oksigen terlarut sesuai dengan yang dibutuhkan tanaman. Setelah
nutrisi mengalir dengan baik, dilakukan penanaman (Lingga, 2005).
Untuk tanaman yang pendek, seperti selada dan sawi, tidak diperlukan ajir.
Jadi, bibit tanaman tersebut langsung dimasukkan dalam lubang styrofoam.
Adapun untuk tanaman yang tinggi, seperti melon, paprika, dan mentimun
diperlukan ajir berupa tali dengan salah satu ujungnya diikatkan pada bagian
bawah tanaman dan ujung yang lain diikat pada rangka rumah plastik. Ajir ini
sangat diperlukan agar tanaman dapat berdiri dengan tegak (Lingga, 2005).

2.3.2.1 Prinsip Dasar Sistem NFT
Salah satu prinsip dasar NFT adalah ketebalan air di dalam hanya beberapa
millimeter saja (biasanya 3 mm). Dengan demikian, banyak akar bertumpuk di
atas aliran air dan rapat sehingga bila tanaman tumbah subur, akarnya tebal mirip
bantal putih. Ketebalan lapisan air tergantung kecepatan air yang masuk dan
kemiringan talang.
Sistem NFT menggunakan konsep aliran lapisan larutan hara setebal hanya
3-4 mm. Bentuknya berupa lapisan tipis (seperti roll film: tipis) dan secara
konstan mengairi akar. Sistem NFT berdasarkan kontinuitas sirkulasi aliran dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) continous yaitu dijalankan terus-menerus hingga selama 24 jam per hari.
b) intermittent yaitu dijalankan secara terputus-putus dan berseling antara on dan
off-nya cukup singkat. Masa off atau kering maksimum tergantung jenis
16

tanaman, fase pertumbuhan dan iklim mikro. Secara umum masa off memakai
durasi 10-15 menit sehingga tanaman tidak sempat layu karena sudah
tersiram air lagi. Penggunaan metode intermittent ditujukan untuk
menghemat penggunaan listrik.
Hidroponik NFT tergolong tipe closed system atau resirkulasi. Talang
tersebut dipasang dengan kemiringan 1-5% atau turun 5 cm/m. Dengan demikian,
untuk talang sepanjang 3 m akan terjadi penurunan sebesar 15 cm. Pada NFT
berlaku semakin curam talang NFT memungkinkan semakin tinggi produksi
tanaman. Hal tersebut dikarenakan DO pada larutan nutrisi semakin banyak.
Tentu saja hal ini diimbangi dengan kecepatan aliran nutrisi yang memadai.
Sementara itu, besarnya curah (flowrate) larutan dipengaruhi oleh fase
pertumbuhan dan ukuran tanaman.
Tanaman yang paling dekat dengan inlet akan banyak menyerap nutrisi
dan oksigen sedikit. Ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan produktivitas
tanaman. Untuk itu talang didesain tidak terlalu panjang.

2.3.2.2 Rancangan Sistem NFT
Pada sistem NFT tanaman ditegakan di talang berbentuk segi empat yang
biasanya digunakan untuk talang rumah. Bisa juga di fibreglass yang dirancang
khusus. Agar bisa tegak batang tanaman dijepit dengan styrofoam yang
disambung-sambung sepanjang permukaan atas talang sehingga aliran air di
talang ini terlindung dan bagian dasar talang menjadi gelap sehingga lumut tidak
dapat tumbuh.
Talang-talang disusun miring (kemiringan 1-5 %) sehingga air dan pupuk
(selanjutnya disebut larutan nutrisi ) mengalir dari bagian atas ke bawah
mengikuti gaya gravitasi. Adapun peralatan-peralatan untuk membuat desain NFT
adalah sebagai berikut.

17

a) Talang Air
Di Indonesia, belum ada produsen yang membuat talang khusus NFT secara
komersil dan berskala luas. Para pengguna NFT di Indonesia memanfaatkan
talang rumah tangga yang lebarnya 13-17 cm dengan panjang 4 m. Untuk
selada dan sayuran daun lainnya, talang bisa dijajarkan sebanyak 5 baris.

Gambar 6 Talang Air.
(Sumber: http://photos-h.ak.fbcdn.net)

b) Tangki Penampung
Tangki penampung larutan nutrisi terbuat dari plastik atau galvanis. Ukuran
tergantung pada populasi tanaman. sebagai gambaran tangki penampung
berkapasitas 1.000 liter dapat habis digunakan dalam satu hari untuk kebun
seluas 2.000 m
2
. Tangki dipendam dalam tanah atau diletakkan di pojok
kebun. Di dalam tangki terdapat pompa submersible berdaya 125 watt.
c) Pompa
Pompa adalah mesin atau peralatan mekanis yang digunakan untuk
menaikkan cairan dari dataran rendah ke dataran tinggi atau untuk
mengalirkan cairan dari daerah bertekanan rendah ke daerah yang bertekanan
tinggi dan juga sebagai penguat laju aliran pada suatu sistem jaringan
perpipaan. Hal ini dicapai dengan membuat suatu tekanan yang rendah pada
sisi masuk atau suction dan tekanan yang tinggi pada sisi keluar
atau discharge dari pompa.
18


Gambar 7 Pompa Air.
(Sumber: http://w27.indonetwork.co.id/pdimage/08/2124208_pompa-ps128bit-shimizu.jpg)

d) Styrofoam
Pada talang model segi empat supaya tanaman dapat berdiri tegak, didalam
talang harus dipasangi styrofoam dengan lebar dasar talang 10 cm dan
panjang 1 m. Ketebalan styrofoam bisa 1-5 cm. Berikut dasar pertimbangan
pemilihan ketebalan styrofoam yaitu:
Styrofoam tebal (5 cm). Keuntungan: styrofoam lebih awet karena tidak
mudah patah ketika diangkat. Kelemahan: harga mahal, perakaran bibit
yang ditransplanting harus panjang dan mencapai dasar talang.
Styrofoam tipis (1-3 cm). Keuntungan: perakaran bibit bisa menjangkau
dasar talang dan harganya terjangkau. Kelemahan: jika tidak hati-hati
styrofoam berpotensi patah ketika diangkat.
Styrofoam dilubangi dengan diameter 0,5-1,5 cm untuk lubang tanam.
Jarak antar lubang 15-20 cm untuk sayuran daun dan 30-40 cm untuk sayuran
buah. Penggunaan styrofoam berperan agar aliran nutrisi terlindungi dan bagian
dasar talang menjadi gelap sehingga lumut tidak akan tumbuh. Lubang tanam diisi
dengan anak semai beserta media tanam (misal: spons, rockwool) yang didapat
dari persemaian dan telah berumur sekitar 2 minggu.

Gambar 8 Styrofoam Lembaran.
(Sumber: http://wb6.itrademarket.com/pdimage/66/s_1360766_styrofoamlembaran.jpg)
19

2.3.3 Hidroponik Sistem Aeroponik

Gambar 9 Hidroponik Sistem Aeroponik.
(Sumber: http://hydroponicshabitat.com/hydroponics-systems)

Ada satu sistem hidroponik yang mirip dengan sistem NFT, hanya dalam
sistem ini nutrien yang diberikan dengan cara disemprotkan. Sistem ini dikenal
dengan nama sistem aeroponik. Aeroponik dapat diartikan bercocok tanam di
udara. Dalam sistem ini, akar tanaman yang tumbuh tegak pada styrofoam
dibiarkan menggantung. Nutrisi diberikan dengan cara disemprotkan. Untuk
penyemprotan nutrisi, diperlukan pompa bertekanan tinggi agar butiran air yang
dihasilkan sangat halus.

2.4 Formula Larutan Nutrien
Larutan nutrien adalah makanan berupa campuran garam-garam pupuk
yang dilarutkan dan diberikan secara teratur. Ini berbeda dengan bercocok tanam
di tanah. Pemberian pupuk untuk tanaman di tanah hanya sekedar tambahan
karena tanah sendiri secara alami telah mengandung garam-garam pupuk.
Pada bercocok tanam hidroponik, media tanam tidak berfungsi sebagai
tanah. Media tanam hanya berguna sebagai penopang akar tanaman serta
meneruskan air larutan mineral yang berlebihan sehingga harus porus dan steril.
Pemberian nutrisi pada tanaman dapat diberikan melalui akar dan daun
tanaman. Aplikasi melalui akar dapat dilakukan dengan merendam atau
mengalirkan larutan pada akar tanaman. Larutan nutrisi dibuat dengan cara
melarutkan garam-mineral ke dalam air. Ketika dilarutkan dalam air, garam-
20

mineral ini akan memisahkan diri menjadi ion. Penyerapan ion-ion oleh tanaman
berlangsung secara kontinue dikarenakan akar-akar tanaman selalu bersentuhan
dengan larutan (Yanti, 2004 dalam Suwandi, A. 2006).
Garam pupuk yang diberikan harus mengandung semua unsur yang
dibutuhkan tanaman. Garam pupuk dilarutkan dalam kepekatan tertentu, lalu
disemprotkan dengan frekuensi tertentu pula. Mencampur garam pupuk menjadi
larutan nutrisi tidak serumit yang diduga kebanyakan orang. Kunci utama yang
harus dipegang ialah memahami setiap unsur mineral yang diramu serta fungsinya
bagi tanaman.
Tabel 3 Garam Pupuk yang Dibutuhkan
Dalam Pembuatan Larutan Nutrisi untuk Tanaman Hidroponik.
Nama Garam Pupuk Unsur Utama
Natrium (sodium) nitrat (NaNO
3
)
Amonium sulfat (NH
4
)
2
SO
4

Kalium (potasium) nitrat (KNO
3
)
Kalsium nitrat (Ca(NO
3
)
2
)
Superfosfat (CaH
4
(PO
4
)
2
.H
2
O)
Amonium fosfat (NH
4
)
2
.HPO
4

Kalium sulfat (K
2
SO
4
)
Muriate/Kalium klorida
Magnesium sulfat (MgSO
4
.7H
2
O)
Garam Epsom
Kudada rock fosfat (CaHPO
4
)
Bone meal
Nicifos
Manurin
Planttabs
Kalsium sulfat (CaSO
4
)
Besi sulfat (FeSO
4
)
Magnesium klorida (MgCl
2
)
Seng sulfat (CuSO
4
)
Tepung asam borat (H
3
BO
3
)
Asam molibdat (H
2
Mo
4
)
Kalium dihidrogen fosfat (KH
2
PO
4
)
Triple superfosfat (CaH
4
(PO
4
)
2
.H
2
O)
Mangan klorida (MnCl
2
)
Nitrogen (N)
Nitrogen (N)
Nitrogen (N), kalium (K)
Nitrogen (N), kalsium (Ca)
Fosfat (P), kalsium (Ca)
Nitrogen (N), fosfat (P)
Kalium (K), sulfur (S)
Kalium (K)
Magnesium (Mg), sulfur (S)
Magnesium (Mg)
Fosfat (P), kalsium (Ca)
Nitrogen (N), fosfat (P)
Nitrogen (N), fosfat (P)
Nitrogen (N), fosfat (P), kalium (K)
Nitrogen (N), fosfat (P), kalium (K)
Kalsium (Ca), sulfur (S)
Besi (Fe)
Magnesium (Mg)
Cuprum (Cu)
Borium (B)

(Sumber: Lingga, 2005)
Semua jenis bahan kimia yang digunakan merupakan bahan kimia industri
yang relatif murah dan mudah diperoleh di toko bahan kimia. Hal penting yang
21

perlu diperhatikan dalam pemberian pupuk adalah pembagian golongan
berdasarkan kebutuhan tanaman, seperti pupuk makro dan mikro. Pupuk makro
dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak, seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium
(K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S). Apabila tanaman kekurangan
unsur hara makro akan berpengaruh langsung terhadap pertumbuhan dan produksi
tanaman (Harjowigeno,2003). Adapun pupuk mikro mutlak dibutuhkan tanaman
dalam jumlah kecil, seperti mangan (Mn), cuprum (Cu), molibdin (Mo), zincum
(Zn), dan besi (Fe). Jika kekurangan unsur hara mikro ini maka tanaman tidak
akan tumbuh dengan optimal (Lingga, 2005).

2.4.1 Fungsi Garam-Garam Pupuk
Garam-garam pupuk dibutuhkan tanaman untuk pertumbuhannya. Adapun
fungsi dari masing-masing garam dijelaskan sebagai berikut.
a) Nitrogen (N)
Nitrogen diserap oleh akar tanaman dalam bentuk NO
3
-
dan NH
4
+
. Pemberian
nitrogen akan memacu pertumbuhan daun dan batang. Hal ini
menguntungkan pada tanaman yang menghasilkan batang dan daun, seperti
tebu dan sayur-sayuran. Pemberian nitrogen juga memengaruhi
perkembangan susunan akar, tetapi pengaruhnya tidak sama dengan pengaruh
akibat pemberian fosfor.
b) Fosfor (P)
Fosfor diambil oleh akar dalam bentuk H
2
PO
4
-
dan HPO
4
. Di dalam tanaman,
sebagian besar fosfor berupa zat pembangun dan terikat dalam senyawa-
senyawa organik, jadi sifatnya statis. Hanya sebagian kecil fosfor yang
terdapat dalam bentuk anorganik sebagai ion-ion fosfat. Fosfor digunakan
dalam pembentukan bunga dan buah. Fosfor juga memacu pertumbuhan akar.
Pemberian yang berlebihan dapat menyebabkan akar tumbuh lebih panjang
dan lebih jauh merayap ke dalam tanah sehingga kesuburannya tidak sepadan
dengan kesuburan di bagian atas. Tanaman serupa ini akan mudah
22

kekeringan. Fungsi lain dari fosfor adalah untuk pernapasan. Beberapa ahli
pertanian menganggap unsur ini turut serta dalam fotosintesis.
c) Kalium (K)
Kalium yang merupakan salah satu unsur fisiologis penting diserap dalam
bentuk K. Bahan yang banyak mengandung kalium yaitu abu dari bagian
tanaman yang masih muda. Zat ini terdapat dalam semua sel-sel. Fungsi
kalium sangat penting karena berperan dalam asimilasi zat arang. Tanpa
kalium, asimilasi akan terhenti. Karena proses asimilasi tergantung adanya
kalium, maka tanaman yang banyak menghasilkan daun akan banyak
memerlukan kalium (K
2
O). Fungsi lain dari ion-ion kalium adalah pembentuk
jaringan penguat. Perkembangan dari jaringan-jaringan pada tangkai daun dan
buah yang kurang baik seringkali menyebabkan lekas jatuhnya buah atau
daun.
d) Kalsium (Ca)
Kalsium diserap dalam bentuk Ca. Fungsi ion kalsium yang penting adalah
mengatur permeabilitas (daya serap) dinding sel. Garam-garam kalsium juga
dapat mencegah kenaikan derajat keasaman air sel yang bekerja sebagai
penyangga. Peranan lain yang penting dari kalsium atau kapur ini adalah ikut
dalam pertumbuhan ujung akar dan pembentukan bulu-bulu akar. Bila kapur
ditiadakan, pertumbuhan ujung-ujung akar dan pembentukan bulu-bulu akar
terhenti serta bagian-bagian yang telah terbentuk akan mati dan berwarna
cokelat kemerah-merahan.
e) Magnesium (Mg)
Magnesium diserap dalam bentuk Mg. Magnesium ini merupakan bagian dari
hijau daun yang tak dapat digantukan oleh unsur lain. Kecuali di dalam hijau
daun, Mg terdapat pula sebagai ion di dalam air sel. Zat ini juga berfungsi
untuk menyebarkan fosfor ke seluruh tanaman.
f) Sulfur (S)
Sulfur atau belerang ini diserap dalam bentuk SO
4
. Unsur ini sebagai bagian
dari zat-zat putih telur yang tidak dapat digantikan. Belerang ini juga bekerja
23

sama dengan fosfor untuk mempertinggi daya kerja unsur-unsur lain dan
memproduksi energi.
g) Besi (Fe)
Besi diserap dalam bentuk Fe. Besi sangat berperan dalam pembentukan hijau
daun. Fungsi ini tidak dapat diganti dengan unsur lainnya. Besi juga
merupakan unsur yang diperlukan pada pembentukan enzim-enzim
pernapasan yang mengoksidasi hidrat arang menjadi gas asam arang.
h) Mangan (Mn)
Mangan diserap tanaman dalam bentuk Mn. Tanpa unsur ini, tanaman tidak
dapat hidup karena mangan berperan dalam pembentukan hijau daun. Bila
kekurangan mangan, tanaman akan menjadi klorosis. Fungsi lain mangan
adalah mengatur proses desimilasi atau pernapasan. Mangan juga membantu
tanaman menyerap nitrogen. Pemberian mangan yang terlalu banyak dapat
mengakibatkan tanaman mengalami klorosis dan susunan akar mati serta
berwarna merah cokelat.
i) Borium (B)
Borium diserap tanaman dalam bentuk BO
3
. Bila kekurangan borium, kuncup
dan pucuk tanaman yang tumbuh menjadi mati. Hal ini disebabkan
pertumbuhan meristem terganggu sehingga terjadi kelainan dalam
pembentukan berkas pembuluh. Oleh karena itu, penyaluran makanan dari
akar akan terganggu pula.
j) Zincum (Zn)
Zincum diserap tanaman dalam bentuk Zn. Zincum dalam jumlah terbatas
akan memberikan dorongan terhadap perkembangan tanaman. Namun, jika
sedikit berlebihan, Zn akan berubah menjadi racun bagi tanaman. Diduga
persenyawaan Zn mempunyai fungsi dalam pembentukan hormon tumbuh
(auxin) dan penting untuk keseimbangan fisiologis. Zincum juga termasuk
komponen penting untuk mentransfer energi ke seluruh tanaman.

24

k) Molibdin (Mo)
Molibdin diserap tanaman dalam bentuk ion molibdat (MoO
4
). Peranan Mo
penting dalam mengikat nitrogen, terutama pada tanaman leguminosae. Mo
juga penting bagi tanaman buah dan sayur-mayur.

2.5 Rumah Kaca (Greenhouse)
Menurut Nelson (1981), greenhouse didefinisikan sebagai suatu bangunan
yang memiliki struktur atap dan dinding yang bersifat tembus cahaya yang
memungkinkan bagi cahaya yang dibutuhkan tanaman bisa masuk dan tanaman
terhindar dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan. Kondisi lingkungan
yang tidak menguntungkan antara lain curah hujan yang deras, tiupan angin yang
kencang, atau keadaan suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi, sehingga dapat
menghambat pertumbuhan tanaman.
Di negara yang banyak memakai greenhouse seperti Belanda, Amerika
Serikat, Inggris, atau Jerman, pengertian greenhouse pada umunya mengacu pada
suatu bentuk naungan dengan atap kaca. Greenhouse tersebut biasanya dibuat
permanen dari bahan-bahan yang kuat dan awet, serta dilengkapi dengan peralatan
canggih seperti heater (alat pemanas), blower (pengatur kelembaban), kipas
angin, alat penyiram, dan alat otomatis lainnya. Di negara yang mengalami empat
musim tersebut, pertanian sangat tergantung pada musim. Hal ini akibat
perbedaan iklim yang sangat fluktuatif.
Lain halnya dengan Indonesia sebagai negara tropis yang hanya
mengalami musim kemarau dan musim penghujan, sinar matahari merupakan
faktor iklim yang paling destruktif terhadap tanaman. Fungsi greenhouse lebih
ditekankan sebagai sarana pelindung tanaman terhadap iklim, terutama
mengurangi intensitas sinar matahari dan terpaan curah hujan.

2.6 Efisiensi Irigasi
Efisiensi dalam sebuah sistem irigasi merupakan faktor yang sangat
penting untuk mengetahui perbandingan antara jumlah total air yang diirigasikan
25

dengan jumlah air yang masuk ke dalam daerah perakaran (Keller dan Bleisner,
1990).
Konsep awal dari efisiensi irigasi adalah untuk mengevaluasi kehilangan
air pada saat penyaluran air. Kehilangan air akibat penyaluran tersebut disebabkan
karena terjadinya kebocoran pada jaringan irigasi. Efisiensi irigasi NFT terbagi
dua, yaitu efisiensi irigasi yang memanfaatkan kembali air drainase untuk irigasi
dan efisiensi irigasi yang tidak memanfaatkan kembali air drainase untuk irigasi.
Menurut Keller dan Bleisner (1990), besarnya efisiensi penyaluran air irigasi
berkisar antara 90-100%. Efisiensi penyaluran dapat dihitung dengan rumus
(Schwab, et al., 1980).
c

r
.................. (1)
Keterangan:
Ec = Efisiensi penyaluran irigasi (%).
W
f
= Jumlah air yang disalurkan ke lahan pertanian (liter).
W
r
=

Total air yang diberikan (liter).
Sedangkan, efisiensi pemakaian air irigasi dapat dihitung dengan
menggunakan rumus (Schwab, et al., 1980).
a

f
..................
Keterangan:
Ea = Efisiensi pemakaian air irigasi (%).
W
s
=

Air yang ditampung di dalam tanah daerah perakaran selama pemberian
air irigasi (liter).
W
f
= Jumlah air yang disalurkan ke lahan pertanian (liter).

2.7 Konduktivitas Listrik (Electric Conductivity)
Dalam sistem hidroponik, untuk mengukur kepekatan pupuk digunakan
istilah EC (Electric Conductivity) dengan satuan mmhos/cm atau mS/cm (satuan
daya penghantar listrik). Selain EC, kadang-kadang juga digunakan istilah cF
(conductivity factor). Namun, istilah cF jarang digunakan (Karsono dkk., 2002).
26


Gambar 10 EC-meter Lutron CD-4303.
(Sumber: Okky Yuda, 2012)
Angka EC sangat penting di dalam hidroponik sistem NFT karena
berdasarkan angka inilah produktivitas tanaman bisa dipacu. Untuk tanaman
kecil/belum dewasa, angka EC berkisar antara 1-1,5 mS/cm. Setelah dewasa atau
menjelang berbunga/berbuah, EC bisa ditingkatkan sampai 2,5-4,0 mS/cm kecuali
untuk tomat yang EC-nya bisa sampai 5,0 mS/cm. Pada umumnya, angka EC
lebih dari 4 akan menimbulkan toksisitas pada tanaman (Untung, 2000).
Kualitas larutan pupuk sangat menentukan keberhasilan hidroponik NFT,
sedangkan kualitas pupuk tergantung pada konsentrasinya. Kalau konsentrasi
tidak cocok dengan jenis atau umur tanaman maka produksinya kelak pasti
meengecewakan. Konsentrasi pupuk NFT perlu diketahui karena seluruh
kebutuhan makanan untuk tanaman disuplai dari larutan ini (Untung, 2000).
Tabel 4 Nilai pH, cF, dan EC Beberapa Jenis Tanaman Sayuran.
Tanaman pH cF (ppm) EC (mS/cm)
Brokoli 6,0-6,8 30-35 3,0-3,5
Kubis 6,5-7,0 25-30 2,5-3,0
Cabai 6,0-6,5 18-22 1,8-2,2
Kubis bunga 6,5-7,0 15-20 1,5-2,0
Seledri 6,0-6,5 25-30 2,5-3,0
Mentimun 5,5-6,0 10-25 1,0-2,5
Terung jepang 5,8-6,2 25-35 2,5-3,5
Bawang daun 6,5-7,0 20-30 2,0-3,0
Selada 6,0-6,5 20-30 2,0-3,0
Bawang merah 6,0-7,0 20-30 2,0-3,0
Pakcoy 6,5-7,0 15-20 1,5-2,0
Bayam 6,0-7,0 14-18 1,4-1,8
Jagung manis 6,0-6,5 16-25 1,6-2,5
Tomat 5,5-6,5 20-50 2,0-5,0
Zucchini 6,0-6,5 12-15 1,2-1,5
Kacang-kacangan 5,5-6,2 20-40 2,0-4,0
(Sumber: Practical Hydroponik & Greenhouse, issue 37, 1997 dalam Untung, 2000)