Anda di halaman 1dari 38

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Secara umum saluran udara pernapasan adalah sebagai berikut : dari nares
anterior menuju ke cavitas nasalis, choanae, nasopharynx, larynx, trachea,
bronchus primarius, bronchus secundus, bronchus tertius, bronchiolus,
bronchiolus terminalis, bronchiolus respiratorius, ductus alveolaris, atrium
alveolaris, sacculus alveolaris, kemudian berakhir pada alveolus tempat terjadinya
pertukaran udara. Respirasi terdiri dari dua mekanisme, yaitu inspirasi dan
ekspirasi. Pada saat inspirasi costa tertarik ke kranial dengan sumbu di articulatio
costovertebrale, diafragma kontraksi turun ke caudal, sehingga rongga thorax
membesar, dan udara masuk karena tekanan dalam rongga thorax yang membesar
menjadi lebih rendah dari tekanan udara luar. Sedangkan ekspirasi adalah
kebalikan dari inspirasi. Ada beberapa penyakit yang menyerang daerah
pernafasan, yaitu !" dan sinusitis.
uberculosa Paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil
mycobacterium tuberkulosa tipe humanus #jarang tipe $. bovines%. !asil
mokobacterium tuberkulosa tersebut masuk ke dalam jaringan paru melalui
saluran nafas #droplet infection% sampai alveoli, terjadilah infeksi primer #ghon%.
&an selanjutnya menyebar ke kelenjar getah bening setempat dan terbentuklah
Primer 'ompleks #Rankhe%.
Sinusitis adalah radang mukosa sinus paranasal yang dapat terjadi akibat
faktor alergi, infeksi virus, bakteri maupun jamur. Sinus paranasal adalah suatu
celah, rongga, atau kanal antara tulang di sekitar rongga hidung. Sinus paranasal
terdiri dari empat sinus yaitu sinus maksilaris #terletak di pipi%, sinus etmoidalis
#kedua mata%, sinus frontalis #terletak di dahi%, dan sinus sfenoidalis #terletak di
belakang dahi%. Sinusitis bisa terjadi pada masing(masing sinus tersebut tetapi
1
yang paling sering terkena adalah sinus maksilaris. )al ini disebabkan sinus
maksila adalah sinus yang terbesar dan dasarnya mempunyai hubungan dengan
dasar akar gigi, sehingga dapat berasal dari infeksi gigi penyebab. !erdasarkan
penyebabnya, sinusitis dibedakan menjadi:
*. Rhinogenik #penyebabnya adalah kelainan atau masalah di hidung%, Segala
sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan
sinusitis. !isa disebabkan oleh infeksi virus #misalnya setelah suatu infeksi
virus pada saluran pernapasan seperti flu+pilek%, bakteri, dan jamur.
,. &entogenik+-dontogenik #penyebabnya adalah kelainan gigi%, yang sering
menyebabkan sinusitis adalah infeksi pada gigi geraham atas #pre molar dan
molar%.
1.2 Rumusan Masalah
*. Apakah macam(macam, etiologi, patogenesis, gejala klinis, pemeriksaan,
dan manifestasi dari !" pada rongga mulut.
,. Apakah macam(macam, etiologi, patogenesis, gejala klinis, pemeriksaan,
dan manifestasi dari sinusitis pada rongga mulut.
1.3 Tujuan
*. $engetahui macam(macam, etiologi, patogenesis, gejala klinis,
pemeriksaan, dan manifestasi dari !" pada rongga mulut.
,. $engetahui macam(macam, etiologi, patogenesis, gejala klinis,
pemeriksaan, dan manifestasi dari sinusitis pada rongga mulut.
/. $engetahui penatalaksanaannya dibidang kedokteran gigi
2
BAB II
TINAUAN PU!TA"A
2.1 Tu#er$ul%s&s 'TB()
uberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronis yang sudah sangat lama
dikenal pada manusia, misalnya dia dihubungkan dengan tempat tinggal di daerah
urban, lingkungan padat penduduk, di buktikan dengan penemuan kerusakan
tulang vertebra torak yang khas pada penderita ! dari kerangka yang digali di
)eidelberg dari kuburan 0aman neolitikum, begitu juga penemuan yang berasal
dari mumi dan ukiran dinding pyramid di mesir kuno pada tahun ,111(2111 S$.
)ipokrates telah memperkenalkan terminology phthisis yang diangkat dari bahasa
yunani yang menggambarkan tampilan ! paru ini #3ulkifli amin, ,114%.
Alasan utama munculnya atau meningkatnya beban ! global ini antara lain
disebabkan:
*. 'emiskinan pada berbagai penduduk, tidak hanya pada negara
berkembang tapi juga pada penduduk perkotaan tertentu di 5egara maju.
,. Adanya perubahan demografik dengan meningkatnya penduduk
duniadan perubahan struktur usia manusia yang hidup.
/. Perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada penduduk
golongan miskin.
2. idak memadainya pendidikan mengenai ! diantara para dokter.
6. erlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostic, dan
penga7asan kasus ! dimana terjadi deteksi dan tatalaksana kasus yang
tidak adekuat.
4. Adanya epidemic )89 terutama di Afrika dan Asia. #3ulkifli amin,
,114%.
2.1.1 M%r*%l%g&
Proses terjadinya infeksi infeksi oleh M.tuberculosis biasanya secara
inhalasi, sehingga ! paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering
3
dibanding organ lain. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhlasi
basil yang mengandung droplet nuclei, khususnya yang didapat dari pasien !
paru dengan batuk berdahak atau batuk darah yang mengandung basil tahan
asam #!A%. Pada ! kulit atau jaringan lunak penularan bisa melalui
inokulasi langsung. 8nfeksi yang disebabkan M.bovis dapat berasal dari susu
yang kurang disterilkan dengan baik atau terkontaminasi. Sudah dibuktikan
bah7a lingkungan sosial ekonomi yang baik, pengobatan teratur dan
penga7asan minum obat yang ketat berhasil mengurangi angka mobidilitas dan
mortalitas di Amerika pada tahun *:61(*:41 #3ulkifli amin, ,114%.
Penyebab uberkulosis adalah Mycobacterium tuberculosis, sejenis
kuman berbentuk batang dengan panjang *(2+um dan tebal 1,/(1,4+um. Secara
epidemologi $ycobacterium tuberculosis complex dapat di golongkan
menjadi: *.Mycobacterium tuberculosae, 2. Varian asia, 3. Varian african I, 4.
Varian african II, 5. M. Bovis #3ulkifli amin, ,114%.
Sebagian besar dinding kuman terdiri atas asam lemak#lipid%,
kemudian peptidoglikan dan arabinomanna. ;ipid inilah yang membuat kuman
lebih tahan terhadap asam#asam alkohol% sehingga disebut bakteri tahan asam
dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan fisis dan kimia. 'uman dapat hidup
dalam udara kering maupun dalam keadaan dingin #dapat bertahan berthun(
tahun dalam lemari es%. )al ini terjadi karena kuman berada dalam sifat
dormant. &ari sifat dormant ini kuman dapat bangkit kembali dan menjadi
penyakit tuberkulosis yang aktiv kembali #3ulkifli amin, ,114%.
&alam jaringan kuman hidup sebagai parasit initraselular yakni dalam
sitoplasma dari makrofag. $akrofag yang semula memfagosit malah sesuai
sebagai tempat perkembangan karena sitoplasmanya banyak mengandung lipid
#3ulkifli amin, ,114%.
Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bah7a
kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. &alam
hal ini tekanan oksigen pada bagian paru(paru lebih tinggi dari bagian lain,
4
sehingga bagian apikal ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberkulosis
#3ulkifli amin, ,114%.
2.1.2 Pat%genes&s
1. Pat%genes&s Pr&mer
Penularan tuberkulosis paru terjadi karena kuman yang di keluarkan
oleh penderita ! paru lain membentuk suatu droplet nuclei yang masuk
secara inhalasi. Partikel dapat masuk menuju alveolar bila ukuran partikel <6
mikrometer. 'uman akan dihadapi pertama kali oleh neutrofil, yang kemudian
akan mengaktifkan makrofag. 'ebanyakan partikel ini akan mati atau
dibersihkan oleh makrofag keluar dari percabangan trakeobronkial bersama
gerakan silia dengan sekretnya.
Saat bakteri ini menetap di jaringan paru, maka dia akan berkembang
biak dalam sitoplasma makrofag. 'uman yang bersarang di jaringan paru akan
membentuk sarang tuberkulosis pneumonia kecil yang disebut sarang primer
atau afek primer atau fokus hon. Sarang primer ini dapat terjadi di setiap
bagian jaringan paru. !ila penjalaran terjadi hingga mencapai pleura, maka
akan terjadi efusi pleura. 'uman dapat masuk ke dalam saluran limfe,
gastrointestinal, orofaring, dan kulit. Saat terjadi limfadenopati regional bakteri
ini dapat menyebar dengan memasuki vena dan menjalar ke seluruh organ. !ila
bakteri masuk ke dalam arteri pulmonalis maka penyebaran akan terjadi ke
seluruh bagian paru menjadi ! milier #3ulkifli amin, ,114%.
&ampak utama tuberkulosis primer:
a% Penyakit ini memicu timbulnya hipersensitivitas dan resistensi
b% =okus jaringan parut mungkin mengandung basil hidup selama
bertahun(tahun, bahkan seumur hidup, sehingga menjadi nidus saat
reaktivasi pada masa mendatang ketika pertahanan penjamu melemah.
5
c% $eskipun jarang, penyakit dapat terus berkembang tanpa interupsi
menjadi apa yang disebut sebagai tuberkulosis primer pro!resif
#3ulkifli amin, ,114%.
2. Pat%genes&s Pas$a Pr&mer
'uman yang dormant pada tuberculosis primer akan muncul
bertahun(tahun kemudian sebagai infeksi endogen menjadi tuberculosis
de7asa. uberkulosis sekunder terjadi karena imunitas, menurun seperti,
malnutrisi, alokohol, penyakit maligna, diabetes, A8&S, gagal ginjal.
uberkulosis pasca(primer ini dimulai dengan sarang dini yang berlokasi di
regio atas paru #bagian apikal(posterior lobus superior atau inferior%.
8nvasinya adalah ke daerah parenkim paru(paru dan tidak ke nodus hiler paru.
Sarang dini ini a7alnya juga membentuksarang pneumonia kecil.
&alam ,(*1 minggu sarang ini menjadi turberkel yakni suatu granuloma yang
terdiri dari sel(sel histiosit dan sel datia > langhans yang dikelilingi oleh sel(
sel limfosit dan berbagai jaringn ikat.
! pasca primer juga dapat berasal dari infeksi eksogen dari usia
muda hingga usia tua #elderly tuberculosis%. ergantung dari jumlah kuman,
virulensinya dan imunitas pasien, sarang dini ini menjadi:
&ireabsorbsi kembali dan sembuh tanpa meninggalkan cacat
$embentuk jaringan fibrosis
$embentuk granuloma berkembang menghancurkan jaringan ikat
sekitarnya dan bagian tengahnya mengalami nekrosis, menjadi lembek
membentuk jaringan keju. ?aringan keju yang di batukkan inilah yang
nantinya akan menjadi cavitas. A7alnya kavitas ini berdinding tipis yang
nantinya menebal karena infiltrasi jaringan fibroblas dalam jumlah besar,
sehingga menjadi kavitas sklerotik. Pengkejuan dan sklerotik yang terjadi ini
karena hidrolisis protein lipid dan asam nukleat oleh en0im yang dihasilkan
oleh makrofag, dan proses yang berlebihan sitokin dan 5=(nya. !entuk
pengkijuan lain yang jarang adalah cryptic disseminate ! yang terjadi pada
imunodefisiensi dan usia lanjut #3ulkifli amin, ,114%.
6
2.1.3 "las&*&kas& Tu#erkul%s&s
*. Pembagian secara patologis:
( uberkulosis primer #childhood tuberculosis%
( uberkulosis sekunder #adult tuberculosis%
,. Pembagian secara radiologis:
( uberkulosis minimal. erdapat sebagian kecil
infiltrat nonkavitas pada satu atau kedua paru, tetapi jumlahnya tidk
melebihi satu lobus paru.
( Moderately advanced tuberculosis. Ada kavitas
yang tidak melebihi 2cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak
melebihi dari satu bagian paru. !ila bayangan kasar tidak melebihi
sepertiga bagian satu paru.
( "ar advanced tuberkulosis. erdapat infiltrate dan
kavitas yang melebihi keadaan pada moderately advanced
tuberculosis.
/. Pembagian menurut @)- *::*, berdasarkan terapinya:
'ategori 8, dengan kasus sputum positif dan
! berat
'ategori 88, dengan kasus kambuhan dan
kasus gagal dengan sputum !A positif
'ategori 888, dengan kasus !A negative
dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus ! ekstra paru
selain dari yangdisebut dalam kategori 8
'ategori 89, untuk ! kronis #3ulkifli amin,
,114%.
2.1.+ ,am#aran "l&n&s
a. &emam. $enyerupai demam influen0a yang kambuhan
b. !atuk+ batuk berdarah. !atuk yang terjadi merupakan suatu respon untuk
mengeluarkan bahan(bahan peradangan. !atuk terjadi akibat iritasi pada
bronkus. Sifat batuk dimulai dari batuk non(produktif hingga munculnya
7
peradangan yang menjadi batuk produktif dengan sputum. Saat keadaan
yang lanjut batuk darah dapat terjadi karena terbentuknya kavitas, kavitas
yang terjadi akan merobek pembuluh darah.
c. Sesak napas. Akan ditemukan saat infiltrasi pada setengah dari paru.
d. 5yeri dada. Aejala ini jarang ditemukan tapi dapat terjadi saat infiltrasi
telah mencapai pleura dan terjadi pleuritis. )al ini menyebabkan kedua
pleura terjadi gesekan saat mengembang.
e. Malaise. Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun. Aejala
malaise yang ditemukan dapat berupa anoreksia, badan yang makin
kurus, sakit kepala, nyeri otot, berkeringat saat malam #3ulkifli amin,
,114%.
2.2 !&nus&t&s
2.2.1 Anat%m& !&nus Ma-&llar&s
Sinus maxillaries mulai terbentuk sebagai benih pada dinding lateral
pars ethmoidalis capsula nasal, pada sekitar bulan ketiga masa kehidupan
fetus. Pembesaran sel(sel ini berlanjut sampai lahir, dimana pada saat tersebut
volume sinus adalah 4(B ml. pada usia 2(6 bulan, sinus dapat diperlihatkan
secara radiografi dengan proyeksi anterioposterior sebagai daerah segitiga di
sebelah medial foramen infraorbitale. Pertumbuhan berlangsung dengan cepat
sampai usia tiga tahun dan kemudian melambat. Pada usia tujuh tahun
pertumbuhan sinus akan kembali cepat dan berlanjut sampai 2(6 tahun
mendatang. Pada usia *, tahun, pneumatisasi sudah meluas ke dataran
dinding orbita lateral dank e inferior sehingga dasar sinus terletak setinggi
dasar hidung. 'arena perluasan sinus ke processus alveolaris, dasar sinus
pada orang de7asa akan terletak 2(6 mm di ba7ah dasar hidung. 9olume
sinus de7asa pada usia *B tahun adalah *6 ml #Pederson, *::4%.
Pneumatisasi dari Sinus maxillaries berkaitan dengan erupsi gigi(
geligi tetap dan berlangsung paling cepat antara usia C(*, tahun. Sebagian
besar ruang pada corpus maxillae yang dahulunya ditempai gigi(geligi yang
8
sedang berkembang akan diduduki oleh sinus sesudah gigi(gigi tetap erupsi.
!ila gigi(gigi posterior atas tanggal, sinus akan meluas lebih jauh sehingga
menempati linggir yang tersisa. Resorpsi linggir selanjutnya dan hiperaerasi
antrum akan menyisakan lereng tulang yang sangat tipis antara 'rista linggir
dan dasar antrum #*(, mm% #Pederson, *::4%.
Atap antrum membentuk sebagian besar dasar orbita, dan dinding
medial antrum membentuk sebagian besar dinding nasal lateral. &inding
posterior sinus memisahkannya dari fossa infratemporalis, sedangkan dinding
anterior membentuk pars fossa canina. &inding tulang mempunyai ketebalan
bervariasi dari region satu ke region lainnya dan dari pasien yang satu ke
pasien lain, tetapi umumnya ketebalannya hanya setipis kulit telur #*(/ mm%.
sinus berdrainase melalui ostoium nasi medius #Pederson, *::4%.
9
Sinus yang sehat dikelilingi dengan epithelium respiratori kolumnar,
bersilis, dan pseudo(statifikasi. Dpithelium ini melekat erat terhadap
periosteum. Alandula mucus dan serus tambahan terdapat dalam submukosa
dan memberikan selimut mucus yang melapisi epithelium #Pederson, *::4%.
2.2.2 Pat%genes&s !&nus&t&s
Ra.ang. Radang menimbulkan peningkatan jumlah skresi dan edema
pada mukosa sinonasal. !ila kondisi ini berlanjut, sekresi akan mengisi sinus
karena terganggunya fungsi silia atau penyumbatan ostium sinus, atau
keduanya. 'arena letak ostium sinus maxillaries tidak dipengaruhi gaya
gravitasi, maka drainase yang normal bukan cara pera7atan ideal. !ila
drainase terganggu, akan terjadi penurunan tekanan oksigen sebagian dan
proliferasi bakteri pathogen.
!&nus&t&s Akut. Sinusitis maxillaries akut sering terjadi setelah rhinitis
alergik+ infeksi virus pada saluran pernapasan bagian atas. Alergi hidung yang
10
kronis, adanya benda asing, dan deviasi septum nasi dianggap sebagai
predisposisi yang paling umum. &ari pemeriksaan sering terlihat adanya
sekresi mukopurulen di dalam hidung dan nasofaring.
!&nus&t&s "r%n&s. Perubahan(perubahan patologis pada sinusitis
kronis biasanya bersifat irreversible, yang ditandai dengan perubahan mukosa
dan pembentukan pseudopolip dengan mikroabses, granulasi, dan jaringan
parut. @alaupun sinusitis akut terjadi dalam hitungan harian, sinusitis
maxillaries kronis biasanya dapat bertahan dalam hitungan bulan ataupaun
tahun. Pera7atan sinusitis akut atau sinusitis kambuhan yang tidak memadai
dapat menyebabkan kegagalan regenerasi permukaan epitel bersilia.
M&kr%%rgan&sme. !akteri yang paling sering sering terlibat adalah
#treptococcus pneumoniae, #. pyro!enes, #taphylococcus $ureus,
%aemophilus influen&ae, 'lebsiella. Perluasan infeksi gigi #misal : periapikal
dan periodontal abses% dijumpai pada *6E ( ,1E kasus. 8ndikasinya adalah
keterlibatan antrum unilateral dengan organisme gram negative yang banyak
didapatkan dari infeksi gigi daripada organisme(organisme di atas.
Aangguan sistem imunologi #imunokompromi% akan menyebabkan
rentan sinusitis yang disebabkan oleh jamur aspergillus yang dapat
mengalami perluasan dini ke intracranial dan orbital menyebabkan
encephalitis.
Pat%l%g&. 'ista tak berskret, mucocele, pyocele #mucocele yang
mengalami infeksi% timbul dari lapisan antrum. &ysplasia fibrous, fibroma
osifikasi, dan lesi sel raksasa dapat melibatkan sinus. 'ista odontogenik dan
tumor juga dapat meluas ke sinus maxillaris.
Trauma. "edera kasus ;e fort 8 dan 88, fraktur(fraktur yang mengenai
sinus menyebabkan dinding antrum remuk dan pelapisnya sobek sehingga
sinus terisi darah. Sinus juga dapat cedera dari pencabutan gigi posterior
rahang atas atau penatalaksanaan penanganan patologis gigi yang berdekatan
#Pederson, *::4%.
11
BAB III
PEMBAHA!AN
12
Pilek
Hidung tersumbat
Nafas bau
Pusing
Sakit di daerah nfra !rbital
"#$ Sinusiti
s
%ti&l&gi dan Pat&genesis
'() Penatalaksanaan di
'()
Pemeriksaan
3.1 Tu#erkul%s&s
3.1.1 De*&n&s&
uberkulosis adalah penyakit granulomatosa kronis menular yang
disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberkulosa tipe humanus #jarang tipe
$. !ovinus%. Penyakit ini biasanya mengenai paru, tetapi mungkin
menyerang samua organ atau jaringan di tubuh. !iasanya di bagian tengah
granuloma tuberkular mengalami nekrosis perkijuan.
13
*ha
s
'()
*ha
s
+ental N&n +ental
*&nsul ke d&kter umum
"#$
3.1.2 Et&%l%g&
$ikobakteri adalah organisme berbentuk batang langsing yang tahan
asam #yaitu mengandung banyak lemak kompleks dan mudah mengikat
pe7arna 3iehl(5eelsen dan kemudian sulit didekolorisasi%. Mycobacterium
tuberkulosa tipe humanus dan atau tipe bovinus adalah tipe yang dominan
dalam menimbulkan penyakit pada manusia. !asil tersebut berbentuk batang,
sifat aerob, mudah mati pada air mendidih, mudah mati dengan sinar
matahari, dan tahan hidup berbulan(bulan pada suhu kamar yang yang
lembab. M. (uberculosis hominis merupakan penyebab sebagian besar kasus
tuberculosis, resevior infeksi biasanya ditemukan pada manusia dengan
penyakit paru aktif. Penularanya biasanya langsung melalui inhalasi
organisme di udara dalam aerosol yang dihasilkan oleh ekspetorasi atau oleh
pejanan ke sekresi pasien yang tercemar. Sedangkan M. Bovis biasanya
ditemukan pada susu yang tercemar karena sapi perah yang memang
mengidap tuberkulosis ataupun susu sapi yang tidak dipasteurisasi.
3.1.3 "las&*&kas&
*. Pembagian secara patologis :
( uberkulosis primer #childhood tuberculosis%
( uberkulosis sekunder #adult tuberculosis%
,. Pembagian secara radiologis :
( uberkulosis minimal. erdapat sebagian kecil
infiltrat nonkavitas pada satu atau kedua paru, tetapi jumlahnya tidk
melebihi satu lobus paru.
( Moderately advanced tuberculosis. Ada kavitas
yang tidak melebihi 2cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak
melebihi dari satu bagian paru. !ila bayangan kasar tidak melebihi
sepertiga bagian satu paru.
( "ar advanced tuberkulosis. erdapat infiltrate dan
kavitas yang melebihi keadaan pada moderately advanced
tuberculosis.
/. Pembagian menurut @)- *::*, berdasarkan terapinya :
14
'ategori 8, dengan kasus sputum positif dan
! berat
'ategori 88, dengan kasus kambuhan dan
kasus gagal dengan sputum !A positif
'ategori 888, dengan kasus !A negative
dengan kelainan paru yang tidak luas dan kasus ! ekstra paru
selain dari yangdisebut dalam kategori 8
'ategori 89, untuk ! kronis.
3.1.+ Pat%genes&s
uberkulosis Primer #masa anak%
uberculosis paru primer terjadi ketika seorang anak yang belum
pernah terpajan basil tuberculosis menghirup organism tersebut. -rganisme
ini memasuki alveolus dan menyebabkan pembentukan kompleks primer
#Ahon% yang dibentuk oleh focus Ahon dan pembesaran kelenjar getah bening
regional #hilus%. =okus Ahon adalah radang granulomatosa sel epiteloid pada
tempat infeksi parenkim. !iasanya focus ini kecil dan terletak di subpleura,
tetapi dapat pula besar dan terletak di bagian paru manapun. Sebelum
terbentuk imunitas, basil tuberkel selamat di dalam makrofag yang
memfagositnya dan diangkut melalui limfatik dan peredaran darah ke seluruh
tubuh. =ase penyebaran yang relative tak terhalang ini disebut penyebaran
limfohematogenosa praalergi.
Perkembangan respon imun terhadap basil tuberkel menghasilkan #*%
aktivasi makrofag #oleh daktor pengaktivasi makrofag limfokin%, yang
menyebabkan penghancuran basil tuberkelF #,% hambatan migrasi maakrofag
#oleh factor penghambat migrasi makrofag limfokin%, yang mengurangi
penyebaran basil lebih jauh di dalam tubuh F dan #/% hipersensitivitas lambat
#tipe 89%, yang menyebabkan nekrosis kaseosa granuloma pada focus Ahon
dan tempat lain di dalam tubuh. )ipersensivitas ini bertanggung jaa7aan
terhadap konversi tuberculin, yaitu individu terinfeksi bereaksi positif
15
terhadap infeksi intradermal tuberculin #derivate protein murni basil tuberkel,
atau PP&%.
uberkulosis Sekunder #de7asa%
$ultiplikasi basil tuberkel terjadi dengan adanya respon imun
sekunder yang berkembang cepat, yang dicirikan oleh produksi limfokin
cepat oleh limfosit teraktivasi spesifik yang membatasi penyebaran
makrofag yang terinfeksi dan melokalisir basil tuberkel ke daerah reaktivasi
atau reinfeksi. Peningkatan hipersensitivitas lambat menghasilkan
peningkatan respon local dengan nekrosis kaseosa ekstensif. $ekanisme pasti
mengenai pembentukan nekrosis kaseosa tidak diketahui.
uberculosis paru sekunder dapat terjadi di jaringan manapun
#reaktivasi%. ;okasi yang tersering adalah apeks paru, mungkin akibat adanya
oksigen yang tersedia lebig banyak pada daerah paru yang berventilasi lebih
baik ini mempermudah multiplikasi basil tuberkel aerob ini.
;esi yang paling a7al berupa granuloma(granuloma sel epiteloid kecil
yang dicirikan oleh nekrosis kaseosa dan fibrosis. Penyatuan granuloma(
granuloma ini membentuk massa padat besar radang granulomatosa
fibrokaseosa yang disebut tuberkuloma. !ahan kaseosa ini a7alnya padat,
tetapi dengan multiplikasi basil yang berlangsung terus, bahan ini mengalami
likuefaksi. Aranuloma yang terlikuefaksi ini dapat terbuka ke dalam bronkus,
menyebabka konsek7ensi sebagai berikut '1) !/utum ter&n*eks& dengan
membatukkan sejumlah besar basil tuberkel. Pasien ini menjadi sangat
menular. '2) ka0&tas& tuberkuloma. 'avitas tuberculosis dilapisi oleh jaringan
peradangan granulomatosa kaseosa dan terkait dengan fibrosis nyata
#Gtuberculosis fibrokaseosa kavitasH%. ;esi ini merupakan lesi tipikal
tuberculosis sekunder. '3) /en1e#aran melalui pohon bronkus, limfatik,
ataau aliran darah biasanya terjadi lambat pada penyakit ini. &engan
penyebaran hematogen, granuloma sekunder dapat muncul disetiap lokasi
tubuh. Penyebaran terjadi di a7al perjalanan penyakit hanya pada pasien yang
lemah + tidak mampu imunologis.
16
3.1.2 ,ejala "l&n&s
Primer:
, erjadi pada anak(anak atau de7asa muda
, erdiri atas focus kecil pada parenkim paru, tosil, atau usus
, ?arang menghasilkan gejala pada saat itu
, Pada beberapa pasien disertai batuk kering dan sesak napas karena
terjadi efusi pleura
, Pada beberapa orang mungkin muncul lesi kulit merah dan indurasi
, &apat menyebabkan kerusakan jaringan paru
17
Sekunder:
, erjadi pada penderita yang lebih tua
, $erupakan akibat dari reinfeksi setelah inhalasi+ reaktivasi organisme
pada kelompok primer lama
, !atuk dengan sputum dan sering bercampur darah
, Sesak napas
, Penurunan berat badan dan anoreksia
, &emam dan berkeringan banyak sering pada malam hari
3.1.3 Pemer&ksaan
*. Pemeriksaan =isis
Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin
ditemukan konjungtiva mata dan kulit yang pucat karena anemia,suhu
demam #subfebris%, badan kurus atau berat badan menurun.
Pada pemeriksaan fisis pasien sering tidak menunjukan suatu kelainan
pun terutama pada kasus > kasus dini atau sudah terinfiltrasi secara
asimptotik. &emikian juga bila sarang penyakit terletak di dalam, akan
sulit menemukan kelainan pada pemeriksaan fisis, karena hantaran
getaran+ suara yang lebih dari 2cm ke dalam paru sulit dinilai secara
palpasi, perkusi dan auskultasi.
Pada tuberkulosis paru yang lebih lanjut dengan fibrosis yang luas
ditemukan atrofi dan retraksi otot(otot interkostal.
,. Pemeriksaan R-
Aambaran radiologi paru(paru normal dan paru(paru terserang !"

18
Aambar paru(paru normal
Aambar paru(paru terserang !", terbentuk sarang akibat proses
fibrosis pada paru(paru
A7al penyakit saat lesi berupa sarang(sarang pneumonia, radiologinya
berupa bercak(bercak seperti a7an dan dengan batas(batas yang tidak
tegas. !ila lesi sudah diliputi jaringan ikat maka bayangan terlihat
berupa bulatan dengan batas yang tegas disebut I!DR'I;-$A.
Pada kavitas bayangannya berupa cincin yang mula(mula berdinding
tipis. ;ama(lama dinding terlihat sklerotik dan terlihat menebal.
!ila terjadi fibrosis terlihat bayangan yang bergaris(garis
Pada kalsifikasi bayangannyan tampak bercak(bercak padat
Pada atelektasis #fibrosis yang luas% terjadi penciutan pada sbagian
atau satu lobus maupun pada satu bagian paru.
!iasanya foto yang digunakan memakai foto lateral, obliJ, top
lordotik, tomografi, foto dengan proyeksi densitas keras.
19
Aambaran radiologis lain yang menyertai !" paru adalah penebalan
pleura #pleuritis%, massa cairan di bagian ba7ah paru #efusi
pleura+empiema%, bayangan hitam radiolusen di pinggir paru+ pleura
#pneumotoraks%
/. Pemeriksaan ;aboratorium
Darah
Pemeriksaan ini kurang mendapat perhatian, karena hasilnya kadang >
kadang meragukan, hasilnya tidak sensitif dan juga tidak spesifik. Pada saat
tuberkulosis baru mulai #aktif% akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit
mininggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. ?umlah limfosit masih di
ba7ah normal. ;aju endap darah meningkat. !ila penyakit mulai sembuh,
jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. ;aju
endap darah mulai turun ke arah normal lagi.
)asil pemeriksaan darah lain didapatkan juga :
Anemia ringan dengan gambaran normokrom dan normositer
Aama globulin meningkat
'adar natrium darah menurun
Pemeriksaan tersebut di atas nilainya juga tidak spesifik.
!PUTUM
Pemeriksaan sputum adalah penting karena dengan ditemukannya kuman
!A, diagnosis tuberkulosis sudah dapat dipastikan. &i samping itu
pemeriksaan sputum juga dapat memberikan evaluasi terhadap pengobatan
yang diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat
dilaksanakan di lapangan #puskesmas%. etapi kadang > kadang tidak mudah
untuk mendapatkan sputum, terutama pasien yang tidak batuk atau batuk
yang non produktif.
'riteria sputum !A positif adalah bila sekurang(kurangnya ditemukan /
batang kuman !A pada satu sediaan. &engan kata lain diperlukan 6.111
kuman dalam * m; sputum.
20
Intuk pe7arnaan sediaan dianjurkan memakai cara an hiam )ok yang
merupakan modifikasi gabungan cara pulasan 'inoyun dan Aabbet.
"ara pemeriksaan sediaan sputum yang dilakukan adalah :
> Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop biasa
> Pemeriksaan sediaan langsung dengan mikroskop fluoresens
#pe7arnaan khusus%
> Pemeriksaan dengan biakan #kultur%
> Pemeriksaan terhadap resistensi obat
Tes Tu#erkul&n
Pemeriksaan ini masih banyak dipakai untuk membantu menegakkan
diagnosis tuberkulosis terutama pada anak(anak #balita%. !iasanya dipakai
tes $antoux yakni dengan menyuntikkan 1,* cc tuberkulin P.P.& #Purified
Protein &erivative% intra kutan berkekuatan 6 .I. #intermediate strength%.
es tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu sedang atau
pernah mengalami infeksi $. uberculosae, $. !ovis, vaksinasi !"A dan
$ycobacteria patogen lainnya. &asar tes tuberkulin ini adalah reaksi alergi
tipe lambat.
Setelah 2B > C, jam tuberkulin disuntikkan akan timbul reaksi berupa
indurasi kemerahan yang terdiri dari infiltrat limfosit yakni reaksi
persenya7aan antara antibodi seluler dan antigen tuberkulin. !anyak
sedikitnya reaksi persenya7aan antibodi selular dan antigen tuberkulin amat
dipengaruhi antibodi humoral, makin besar pengaruh antibodi humoral,
makin kecil indurasi yang ditimbulkan.
!erdasarkan hal(hal tersebut di atas, hasil tes mantoux ini dibagi dalam :
*. 8ndurasi 1(6 mm #diameternya% : $antoux negatif K golongan no
sensitivy. &isini peran antibodi humoral paling menonjol.
,. 8ndurasi 4(: mm : hasil meragukan K golongan lo7 grade sensivity.
&isini peran antibodi humoral masih menonjol.
21
/. 8ndurasi *1(*6 mm : $antoux positif K golongan normal sensivity.
&isini peran kedua antibodi seimbang.
2. 8ndurasi lebih dari *6 mm : $antoux positif kuat K golongan
hypersensitivity. &isini peran antibodi selular paling menonjol.
3.1.4 Man&*estas& r%ngga mulut
$anifestasi rongga mulut
a. ;idah:
, ;esi sekunder
, Ilcer !" berupa fisur yang dalam
, !entuk: abses granuloma, plak, dan fissure
, ;esi biasanya sakit, kuning keabu(abuan, keras, dan berbatas tegas
b. $ukosa mulut:
, ;esi ulseratif, dimulai dengan vesikel transparan+ nodul yang
disebabkan nekrosis dengan perkejuan yang pecah jadi ulser
, anda spesifik ulser !": tidak teratur, kasar, indurasi sering dasar
granular kekuningan
, Ilser di sekeliling mukosa mengalami inflamasi dan edema
c. Aingiva
, !erasal dari infeksi primer kemudian menjadi lesi granulasi yang
banyak
, !" gingivitis biasanya tampak difus, hiperemi, nodular+proliferasi
dari papila mukosa gingival
d. Palatum
22
3.2 !&nus&t&s
3.2.1 De*&n&s&
Sinus atau sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga
udara yang terdapat pada bagian padat dari tulang tenggkorak di sekitar
7ajah, yang berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak. Sinusitis
adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus. Rongga ini berjumlah
empat pasang kiri dan kanan. #inus frontalis terletak di bagian dahi,
sedangkan sinus maksilaris terletak di belakang pipi. Sementara itu, sinus
sphenoid dan sinus ethmoid terletak agak lebih dalam di belakang rongga
mata dan di belakang sinus maksilaris. &inding sinus terutama dibentuk oleh
sel sel penghasil cairan mukus. Adams #*:CB% menyebutkan batas 7aktu
sinusitis kronis beberapa bulan sampai beberapa tahun.
$enurut "au7enberge #*:B/% disebut sinusitis kronis,apabila lebih
dari tiga bulan. Aambaran patologik sinusitis maksila kronis cukup kompleks
dan ireversibel. $ukosa umumya menebal, membentuk lipatan(lipatan atau
pseudopolip. Dpitel permukaan mengalami deskuamasi, regenerasi,
metaplasia , atau epitel normal dalam jumlah yang bervariasi pada suatu
irisan histologi yang sama. Pembentukan mikroabses dalam jaringan
granulasi dapat terjadi bersama>sama dengan pembentukan jaringan parut.
Secara menyeluruh terdapat infiltrat sel bundar dan polimorfonuklear dalam
lapisan submukosa.
3.2.2 Et&%l%g&
, Rinogen
-bstruksi dari ostium Sinus #maksilaris+paranasalis% yang disebabkan
oleh :
Rinitis Akut #influen0a%
Polip, septum deviasi
, &entogen
23
Penjalaran infeksidari gigi geraham atas
'uman penyebab :
( Streptococcus pneumoniae
( )amophilus influen0a
( Steptococcus viridans
( Staphylococcus aureus
( !ranchamella catarhatis
Alergi dapat juga merupakan salah satu faktor predisposisi infeksi
disebabkan edema mukosa dan hipersekresi. $ukosa sinus yang udem yang
dapat menyumbat muara sinus dan mengganggu drenase sehingga
menyebabkan timbulnya infeksi, selanjutnya menghancurkan epitel
permukaan dan siklus seterusnya berulang yang mengarah pada sinusitis
kronis. Pada keadaan kronis terdapat polip nasi dan polip antrokoanal yang
timbul pada rinitis alergi, memenuhi rongga hidung dan menyumbat ostium
sinus. Selain faktor alergi, faktor predisposisi lain dapat juga berupa
lingkungan . =aktor cuaca seperti udara dingin menyebabkan aktivitas silia
mukosa hidung dan sinus berkurang, sedangkan udara yang kering dapat
menyebabkan terjadinya perubahan mukosa, sehingga timbul sinusitis. =aktor
lainnya adalah obstruksi
hidung yang dapat disebabkan kelainan anatomis, misalnya deviasi
septum, hipertropi konka, bula etmoid dan infeksi serta tumor. !iasanya
tumor ganas hidung dan nasofaring sering disert ai dengan penyumbatan
muara sinus.
Dtiologi infeksi sinus paranasal pada umumnya sama seperti etiologi
rinitis, yaitu virus dan bakteri. 9irus penyebab sinusitis antara lain rinovirus,
para influen0a tipe * dan , serta respiratory syncitial virus. 'ebanyakan
infeksi sinus disebabkan oleh virus, tetapi kemudian akan diikuti oleh infeksi
bakteri sekunder. 'arena pada infeksi virus dapat terjadi edema dan
hilangnya fungsi silia yang normal, maka akan terjadi suatu lingkungan ideal
untuk perkembangan infeksi bakteri. 8nfeksi ini sering kali melibatkan lebih
24
dari satu bakteri. -rganisme penyebab sinusitis akut mungkin sama dengan
penyebab otitis media. Lang sering ditemukan dalam frekuensi yang makin
menurun ialah Streptococcus pneumoniae, )aemophilus 8nfluen0ae, bakteri
anaerob, !ranhamella kataralis, Streptococcus alfa, Staphylococcus aureus
dan Streptococcus pyogenes. Selama suatu fase akut, sinusitis kronis
disebabkan oleh bakteri yang sama yang menyebabkan sinusitis akut. 5amun,
karena sinusitis kronis biasanya berkaitan dengan drenase yang tidak adekuat
maupun fungsi mukosiliar yang terganggu, maka agen infeksi yang terlibat
cenderung oportunistik, dimana proporsi terbesar bakteri anaerob. Akibatnya,
biakan rutin tidak memadai dan diperlukan pengambilan sampel secara hati(
hati untuk bakteri anaerob.
!akteri aerob yang sering ditemukan dalam frekuensi yang makin
menurun, antara lain Staphylococcus aureus, Streptococcus viridans,
)aebomophilis influen0a, 5eisseria flavus, Staphylococcus epidermis,
Streptcoccus pneumoniae dan Dscherichia coli, !akteri anaerob termasuk
Peptostreptococcus, "orynebacterium, !akteriodaes dan 9ellonella. 8nfeksi
campuran antara organisme aerob dan anaerob sering kali terjadi. Sumber
infeksi yang mungkin dapat menyebabkan peradangan pada sinus paranasal,
antara lain infeksi hidung yang umumnya menyebar kearah sinus melalui
muaranya. 8nfeksi hidung bisa disebabkan oleh mikroorganisme patogen atau
dapat pula oleh benda asing seperti yang sering terjadi pada anak(anak.
8nfeksi gigi, paling sering sebagai penyebab infeksi sinus maksila terutama
infeksi dari rahang atas gigi molar *,,,/ serta premolar * dan ,.
Penyebaran infeksi dari gigi ke antrum melalui dua cara, yaitu melalui
infeksi gigi kronis, yang mengakibatkan terbentuknya daerah granulasi pada
mukosa sinus yang menutupi daerah alveolaris, sehingga fungsi mukosa
didaerah tersebut berubah dan aktifitas silia terganggu. &apat juga
perkontinuitatum, bakteri langsung menyebar dari granuloma kapital atau
kantong periodontal ke sinus maksila. rauma muka dapat menimbulkan
peradangan dengan beberapa cara yaitu melaui fraktur terbuka, menyebabkan
hubungan sinus dengan dunia luar maupun rongga hidung kerusakan mukosa
yang terjadi serta adanya bekuan darah memudahkan timbulnya infeksi.
25
&apat pula melalui kontusio sinus, dimana akibat pukulan yang keras pada
pipi akan mengakibatkan kontusio mukosa sinus yang kadang(kadang disertai
ekstravasasi darah ke dalam antum. 'eadaan ini memudahkan terjadi infeksi
yang berasal dari hidung. Suatu benda asing di dalam sinus maupun hidung
dapat meyebabkan sinusitis, misalnya pecahan tulang, gigi peluru dan tampon
hidung.
!arotrauma dapat juga sebagai penyebab dan sering terjadi pada
penderita sumbatan hidung misalnya, deviasi septum, rinitis alergi selama
dalam penerbangan. 8nfeksi dari air se7aktu berenang dan menyelam dapat
merupakan faktor penyebab terjadinya sinusitis, sedangkan penyakit umum
seperti influen0a, morbili dan pertusis dapat menyebabkan sinusitis pula.
Peneumonia yang disebabkan oleh Pneumococcus sering disertai oleh
sinusitis dengan penyebab oleh kuman yang sama.
3.2.3 Pat%genes&s
PAT5,ENE!I! !INU!ITU! 5LEH RHIN5,EN
Sinusitis oleh karena rhinogen bias terjadi pada kedua sinus #kananM
kiri%. Penyebab paling umum dari sinusitis akut adalah infeksi saluran
pernapasan ba!ian atas yang disebabkan virus. 8nfeksi virus dapat
menyebabkan radang pada sinus yang biasanya sembuh tanpa pera7atan
dalam 7aktu kurang dari *2 hari. ?ika gejala memburuk setelah / sampai 6
hari atau bertahan selama lebih dari *1 hari dan lebih parah daripada biasanya
dengan infeksi virus, maka pasien didiagnosis dengan infeksi bakteri
sekunder. Peradangan mungkin merupakan faktor predisposisi perkembangan
sinusitis akut dengan menyebabkan penyumbatan ostium sinus. $eskipun
peradangan pada sinus apapun dapat mengakibatkan blokade ostium sinus,
yang paling sering terlibat dalam sinusitis akut dan sinusitis kronis adalah
sinus maksilaris dan ethmoidalis anterior. Sinus ethmoidalis anterior,
frontalis, dan sinus maksilaris mengalir ke tengah meatus, menciptakan
daerah anatomi yang dikenal sebagai Nostiomeatal kompleksN.
$ukosa hidung merespon infeksi virus dengan menghasilkan lendir
dan merekrut mediator peradangan, seperti sel(sel darah putih, pada lapisan
hidung, yang menyebabkan obstruksi dan inflamasi pada saluran pernapasan.
26
Akhirnya mengakibatkan hipoksia sinus dan retensi lendir menyebabkan silia
berfungsi kurang efisien, dan menciptakan suatu lingkungan yang baik untuk
pertumbuhan bakteri. Proses peradangan memproduksi jaringan nekrosis
yang bercampur dengan mucus, campuran ini disebut mukopurulen.
Penumpukan mukopurulen dalam sinus yang dapat ter(drainase menyebabkan
bau busuk nafas penderita.
?ika sinusitis akut tidak dapat disembuhkan, sinusitis kronis dapat
berkembang dari retensi lendir, hipoksia, dan blokade dari ostium. )al ini
meningkatkan hiperplasia mukosa, melanjutkan perekrutan infiltrat
peradangan, dan pengembangan potensi polip hidung.
PAT5,ENE!I! !INU!ITU! 5D5NT5,EN
Pada sinusitis odontogen, etiologi utama penyebab infeksi berasal dari
gigi. "ontoh infeksi pada gigi yang menyebabkan sinusitis adala: karies,
karies perforasi, sisa akar, gingivitis, periodontitis, infeksi apical seperti abses
dan kista yang dapat menjalar secara perkontinuatum. Aigi(gigi yang menjadi
penyebab pada umumnya adalah gigi $*, $,, $/, P*, M P, karena gigi(gigi
ini letaknya berdekatan dengan sinus.
8nfeksi pada apical gigi akan menyebar secara perikontinuatum,
apabila meluas sampai dasar sinus maka akan menyebabkan sinusitis
maksilaris. !akteri odontogen yang dapat menyebabkan sinusitis antara lain:
Prevotella, Phorpyromonas, Dubacteria, dll. !akteri akan melekat pada dasar
sinus yang memiliki permukaan epitel berlapis silindris bersilia. ;apisan
epitel ini berfungsi memproduksi mucus. 8nvasi bakteri menyebabkan mucus
terproduksi berlebihan dan membentuk jaringan nekrotik, mucusO jaringan
nekrotik bercampur membentuk mukopurulen yang menumpuk dalam rongga
sinus. )al ini menyebabkan 7ajah bengkak.
Sinusitis yang disebabkan oleh karena odontogen biasanya menyerang
hanya pada satu sisi sinus saja berdasarkan letak sisi infeksi gigi tersebut.
27
3.2.+ ,ejala "l&n&s
Sinusitis akut : demam, lemas, sakit kepala samar(samar, rasa bengkak
pada 7ajah, sakit pada gigi(gigi posterior rahang atas. Perubahan posisi
misal, membungkukkan kepala memperhebat rasa sakit, sedangkan
mendongakkan kepala mengurangi rasa sakit dan melancarkan drainase
unilateral. 5yeri palapasi dan tekan pada sinus serta gigi(gigi yang
berkaitan dengan sinus.
Sinusitis kronis : penyumbatan oleh berbagai sebab seperti polip hidung,
deviasi septum nasal, atau tumor. Simtom agak kurang jelas, seringkali
28
meliputi sakit kepala, rasa penuh #bengkak% pada muka, hipersekresi
mukopurulen.
3.2.2 Pemer&ksaan
Pemeriksaan sinusitis
*. Dvaluasi klinis
'asus sinusitis maxilaris kronis maupun akut biasanya dapat langsung
didiagnosis melalui pemriksaan klinis dan ri7ayat penyakitnya. Pemeriksaan
klinis dapat dilakukan dengan cara palpasi. Pada penderita sinusitis akan
terasa nyeri pada daerah sinus.
,. Radiografi
Dvaluasi radiografis dari sinus paling bagus diperoleh dengan proyeksi
@aters dengan muka menghadap ke ba7ah dan proyeksi @aters dengan
dengan modifikasi tegak. Aambaran yang sering didapat pada sinusitis akut
adalah opasifikasi dan batas udara atau cairan. Sinusitis kronis seringkali
digambarkan dengan adanya penebalan membrane pelapis.
/. omografi+"
!ila gigi atau akar gigi bergeser kea
rah antrum, maka keberadaannya dapat
dipastikan dan ditentukan lokasinya dengan
film atau foto periapikal, yang didukung
dengan foto oklusal. omografi sinus akan
sangat membantu dalam mendiagnosis
fraktur dinding dasar dalam orbita dan dalam
penggambaran luas lesi jinak+ ganas.
29
2. !iopsy
;esi sinus maxilaris dilakukan dengan cara melakukan pembukaan
pada region fossa canina. ?ika ada erosi+ penembusan dinding antrum, maka
daerah tersebut merupakan alternative untuk melakukan biopsy.
6. Rinoskopi
Rinoskopi merupakan instrument yang digunakan untuk pemeriksaan
rongga hidung yang dapat dilakukan dari dua arah, dari nares anterior
maupun nasofaring
#Pedersen, Aordon @.*::4.Buku $)ar *raktis Bedah Mulut.?akarta:DA"%
3.2.3 Man&*estas& r%ngga mulut
$anifestasi oral ditandai dengan rasa nyeri pada gigi(gigi posterior
rahang atas yang dekat dengan sinus, disertai rasa bengkak pada 7ajah.
ersubatnya aliran udara pada hidung akibat timbunan secret mukopurulen
menyebabkan pasien seringkali bernafas melalui hidung yang menyebabkan
+erostomia. %alitosis juga terjadi sebagai akibat dari bau secret yang
dihasilkan.
30
3.3 Penatalaksanaan
3.3.1 Tu#erkul%s&s Pa.a "e.%kteran ,&g&
*. Pemberian antibiotik kepada pasien yang terserang !", setidaknya
mampu mengurangi bahkan mengobati penyakit !".
,. Dvaluasi medikasi untuk mengetahui obat(obat yang dikonsumsi terhadap
tindakan yang akan diambil oleh seorang dokter gigi
/. Dvaluasi kesehatan rongga mulut
2. 8munisasi tuberculin
6. &okter gigi harus memastikan bah7a tes mantoux telah dilakukan dan jika
perlu !"A diberikan kepada dokter gigi dan asistennya khususnya jika
terdapat kontak selama pembedaha.
4. 8a harus selalu 7aspada terhadap kemungkinan penyakit aktif terutama
pria perokok yang mengeluh penurunan berat badan dan mengira
sebelumnya bah7a hal tersebut disebabkan kesehatan gigi yang buruk,
karena tuberculosis paru juga dapat menjadi penyebab pada keadaan
tersebut.
C. Pada kasus manifestasi !" pada rongga mulut, terapi sistemik dapat
dilengkapi tindakan paliatif lokal.
B. 'umur(kumur harus diberikan dalam jumlah banyak untuk mencegah
infeksi sekunder pada ulkus spesifik yang sudah ada.
3.3.2 !&nus&t&s Pa.a "e.%kteran ,&g&
*. -bat(obatan
Intuk pera7atan sinus maksilaris akut obat(obatan yg sesuai adalah
antibiotic spectrum luas seperti ampisilin atau sefaleksin. !ahan yg dipilih
harus efektif terhadap organisme gram positif maupun negative, khususnya
bila didapat hasil kultur yang sahih. ?ika diketahui terdapat aspergilus
sinusitis, maka harus diberikan terapi antimikotik yang tepat, biasanya
31
dengan ampotericin !. &ekongestan antihistamin sistemik misalnya
pseudoepinephrine dan tetes hidung seperti phenyleprine. ?ika terdapat
keadaan alergi, maka pemberian antialergi kadang sangat membantu.
Intuk menghilangkan gejala yang timbul dapat diberikan kompres panas
pada muka dan analgesic. !ila penyembuhan lambat, lebih dari *1 hari
kemungkinan dibutuhkan irigasi antrum melalui fossa canina.
Selain terapi yang tepat untuk kondisi akut, sinusitis kronis kemungkinan
membutuhkan pembedahan untuk mendapatkan ostium #lubang% sinus
yang baru. )al ini diperoleh melalui prosedur nasoantrostomi yang
bertujuan untuk membuat jendela nasoantral pada meatus nasalis inferior.
,. 8nfeksi gigi
!ila penyebab dari sinus adalah infeksi gigi maka penatalaksanaannya
meliputi pera7atan pada sumber absesnya. Pera7atan ini terdiri dari terapi
antibiotic yang disertai dengan insisi dan drainase bila diindikasikan dan
terapi endodontic atau pencabutan gigi penyebab.
/. Prosedur "ald7ell(luc #sinusotomi%
Prosedur ini digunakan untuk membuat jalan masuk peroral ke sinus
maxilaris melalui fossa canina. ;esi jinak pada antrum yang berasal dari
gigi atau penyebab lainnya dieksisi atau dienukleasi melalui jalur ini.
Intuk pengambilan benda asing ataupun untuk pemeriksaan dan
pera7atan dinding orbita dan fraktur tertentu pada 0ygomaticomaxilaris
juga digunakan jalur yang sama. -perasi pada sinus ini dengan anestesi
umum ataupun anestesi local. yang ideal adalah dengan memblok maksila
pada nevus 9, divisi kedua.
2. =istula oroantral
!ila terdapat fistula oroantral #lubang antara prosesus alveolaris san sinus
maksilaris yang tidak mengalami penutupan dan mengalami epitelisasi,
terbantuk akibat patologis, traumatic atau akibat prosedur pembedahan
yang menuju kea rah sinus maksilaris% dapat dilakukan penutupan fistula
32
oroantral. !iasanya dengan eksisi traktus dan pemindahan atau pergeseran
flap bukal atau palatal bersamaan dengan prosedur "ald7ell(luc. Selain itu
juga dilakukan drainase hidung dan pemantauan lanjutan secara klinis
maupun radiografis untuk memeriksa hasil pera7atan yang telah
dilakukan.
6. Pungsi dan irigasi sinus maksila
&ilakukan untuk mengeluarkan secret yang terkumpul di dalam rongga
sinus maksila. "aranya ialah dengan menggunakan trokar yang
dittusukkan di meatus inferior, diarahkan ke sudut luar mata atau tepi atas
daun telinga. Selanjunta dilakukan irigasi sinus dengan larutan garam
fisiologi. Secret akan keluar melalui meatus medius dan dihembuskan ke
luar melalui hidung atau mulut.
4. Anstromi
&ibuat lubang pada meatus inferior yang menghubungkan rongga hidung
dengan antrum. ;ubang tersebut digunakan untuk penghisapan secret dan
ventilasi.

33
BAB I6
"E!IMPULAN
*. uberkulosis adalah suatu penyakit infeksi kronis yang sudah sangat lama
dikenal pada manusia, misalnya dia dihubungkan dengan tempat tinggal di
daerah urban dan lingkungan padat penduduk.
,. Dtiologi ! yaitu mikobakteri, merupakan organisme berbentuk batang
langsing yang tahan asam #yaitu mengandung banyak lemak kompleks dan
mudah mengikat pe7arna 3iehl(5eelsen dan kemudian sulit didekolorisasi%.
/. 'lasifikasi ! al. :
a. Pembagian secara patologis:
i. uberkulosis primer #childhood tuberculosis%
ii. uberkulosis sekunder #adult tuberculosis%
b. Pembagian secara radiologis:
i. uberkulosis minimal. erdapat sebagian kecil infiltrat
nonkavitas pada satu atau kedua paru, tetapi jumlahnya tidk
melebihi satu lobus paru.
34
ii. Moderately advanced tuberculosis. Ada kavitas yang tidak
melebihi 2cm, jumlah infiltrat bayangan halus tidak melebihi
dari satu bagian paru. !ila bayangan kasar tidak melebihi
sepertiga bagian satu paru.
iii. "ar advanced tuberkulosis. erdapat infiltrate dan kavitas yang
melebihi keadaan pada moderately advanced tuberculosis.
c. Pembagian menurut @)- *::*, berdasarkan terapinya:
*. 'ategori 8, dengan kasus sputum positif dan ! berat
,. 'ategori 88, dengan kasus kambuhan dan kasus gagal dengan
sputum !A positif
/. 'ategori 888, dengan kasus !A negative dengan kelainan paru
yang tidak luas dan kasus ! ekstra paru selain dari yangdisebut
dalam kategori 8
2. 'ategori 89, untuk ! kronis.
2. Aambaran klinis dari ! berupa batuk, sesak nafas, demam, nyeri dada dan
malaise.
6. Pemeriksaan dari ! melalui pemeriksaan fisis, radiologis, dan laboratorium.
Pemeriksaan laboratorium beupa tes darah, sputum dan tes tuberkulin.
4. $anifestasi rongga mulut dari !
e. ;idah:
, ;esi sekunder
, Ilcer !" berupa fisur yang dalam
, !entuk: abses granuloma, plak, dan fissure
, ;esi biasanya sakit, kuning keabu(abuan, keras, dan berbatas tegas
f. $ukosa mulut:
, ;esi ulseratif, dimulai dengan vesikel transparan+ nodul yang
disebabkan nekrosis dengan perkejuan yang pecah jadi ulser
35
, anda spesifik ulser !": tidak teratur, kasar, indurasi sering dasar
granular kekuningan
, Ilser di sekeliling mukosa mengalami inflamasi dan edema
g. Aingiva
, !erasal dari infeksi primer kemudian menjadi lesi granulasi yang
banyak
C. Sinus atau sering pula disebut dengan sinus paranasalis adalah rongga
udara yang terdapat pada bagian padat dari tulang tenggkorak di sekitar
7ajah, yang berfungsi untuk memperingan tulang tenggkorak. Sinusitis
adalah peradangan yang terjadi pada rongga sinus.
B. Dtiologi sinusitis dapat berasal dari odontogen maupun rhinogen.
:. Pemeriksaan yang dilakukan pada sinusitis selain pemeriksaan klinis yaitu
pemeriksaan tomografi, radiografi, rhinoskopi, dan biopsi.
*1. $anifestasi oral sinusitis ditandai dengan rasa nyeri pada gigi(gigi posterior
rahang atas yang dekat dengan sinus, disertai rasa bengkak pada 7ajah.
ersubatnya aliran udara pada hidung akibat timbunan secret mukopurulen
menyebabkan pasien seringkali bernafas melalui hidung yang menyebabkan
+erostomia. %alitosis juga terjadi sebagai akibat dari bau secret yang
dihasilkan.
**. Penatalaksanaan ! antara lain yaitu dengan evaluasi rongga mulut, serta
pemberian obat(obat antibiotik, untuk selanjutnya diarahkan pada dokter umum.
*,. Penatalaksanaan dari sinusitis yaitu dengan obat(obatan, sinusotomi, fistula
oroantral, anstromi, pungsi dan irigasi sinus, serta jika berasal dari infeksi
odontogen dapat diobati infeksi gigi penyebab.
36
DA7TAR PU!TA"A
Sar7ono, dkk. ,11*. Buku $)ar Ilmu *enyakit ,alam -ilid II .disi 'eti!a. ?akarta
: !alai Penerbit ='I8.
Aordon. *::4. Buku $)ar *raktis Bedah Mulut. ?akarta : DA"
Arsyad, Dfiati dkk. *::B. Buku $)ar Ilmu *enyakit (elin!a %idun! (en!!orokan.
?akarta: !alai Penerbit I8
"ora, 3alfina. ,11*. 'orelasi (es 'ulit /ukit den!an 'e)adian #inusitis $aksila.
$edan: ='I ISI.
37
'arasutisna, is dkk. ,11*. Buku $)ar Ilmu Bedah Mulut Infeksi 0donto!enik1
Bandun!. ='A I5PA&.
!ayley, ?(;einster, S?. *::6. 8lmu Penyakit &alam Intuk Profesi 'edokteran
Aigi. ?akarta : DA".
Persatuan dokter ) se(8ndonesia. ,11*. Buku $)ar Ilmu (%( 'epala 2eher
edisi kelima: ?akarta : ='I8
Ringkasan Patologi anatomi + penulis, Parakrama chandrasoma,"live R. aylorF
alih bahasa, Roem SoedokoPQet.al.R F editor edisi bahasa 8ndonesia , &e7i
Asih $ahananiPQet.alR edisi ,.?akarta : DA", ,116
Pederson, Aordon @. *::4. Buku $)ar *raktis Bedah Mulut, $lih Bahasa 1 dr!.
*ur3anto 4 dr!. Basoeseno, M#. ?akarta : DA".
Robbins. ,11C. Buku $)ar *atolo!i ed. 5 vol. 2. ?akarta : DA"
38