Anda di halaman 1dari 6

Etika interaksi Guru dan murid di kelas dalam lingkungan

pendidikan islam

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pasti mengadakan hubungan atau interaksi
dengan orang lain. Interaksi tersebut dapat berupa interaksi yang berlangsung dalam bidang
sosial, ekonomi, politik, pendidikan, dan sebagainya. Salah satu dari interaksi tersebut dapat
berupa interaksi edukatif yang berarti interaksi yang berlangsung dalam ikatan proses
pendidikan.
Interaksi edukatif dapat berlangsung baik di lingkungan keluarga, sekolah maupun
masyarakat. Interaksi edukatif yang berlangsung secara khusus dengan ketentuan-ketentuan
tertentu di lingkungan sekolah lazim disebut interaksi belajar mengajar. Interaksi belajar
mengajar mengandung arti adanya kegiatan interaksi dari guru yang melaksanakan tugas
mengajar di satu pihak, dengan warga belajar (siswa, anak didik/subyek belajar) yang sedang
melaksanakan kegiatan belajar di pihak lain.
Menurut Abu Ahmadi, bahwa interaksi belajar mengajar di arahkan agar aktivitas
berada pada pihak anak didik. Hal ini menjadi keharusan, karena memang anak didik
merupakan orientasi dari setiap proses atau langkah kegiatan belajar mengajar. Peranan guru
disini sebagai pembimbing yang dapat mengarahkan siswa dan memberikan motivasi untuk
mencapai hasil yang optimal.[1]
Ketika sebagai anak mulai masuk sekolah, anak sudah dianggap akan terlibat dalam
proses belajar. Dalam hal ini banyak hal yang harus diketahui oleh seorang guru tentang
proses belajar itu. Seperti yang di kemukakan oleh Amir Achsin, bahwa banyak hal yang
harus diketahui oleh seorang guru, mulai dari bagaimana cara mempersiapkan sesuatu yang
akan diajarkan, bagaimana mengajarkannya sampai kepada bagaimana cara mengevaluasi
hasil belajar anak.[2]
Menurut Muhammad Ali, bahwa bila ditelusuri secara mendalam proses belajar
mengajar merupakan inti dari aktivitas pendidikan. Di dalam terjadi interaksi antara berbagai
komponen pengajaran yang dikelompokkan kedalam tiga kategori terutama yaitu guru, isi,
atau materi pelajaran dan siswa. [3]
Untuk menyukseskan belajar mengajar sebenarnya interaksi antara guru dan siswa
sangat penting, tanpa interaksi keduanya proses belajar mengajar tidak berjalan dengan
maksimal.
Dalam sejarahnya pendidikan mempunyai peran yang sangat signiflkan dalam
penyiaran Islam. Pendidikan Islam merupakan mediator agar ajaran dan nilai-nilai Islam
dapat difahami, dihayati dan diamalkan oleh umat disetiap aspek kehidupan. Dapat dikatakan
bahwa pendidikan Islam merupakan pilar utama dalam upaya mengajak umat untuk
menjalankan perintah Allah SWT. dan menjauhi larangan-Nya.
Tapi hal itu hanya akan menjadi mimpi semata jika tanpa seorang pendidik yang
mampu mentransferkan nilai-nilai islam kepada peserta didik. Maka dari itu maksud dari
makalah kami adalah ingin mendiskripsikan pola interaksi di kelas dalam linkungan
pendidikan islam. Semoga bermanfaat.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah Etika interaksi Guru dan murid di kelas dalam lingkungan pendidikan islam?
2. Bagaimana posisi intelektual dalam pendidikan islam?

C. Tujuan Masalah
1. Mahasiswa mampu memahami etika interaksi guru dan murid di kelas dalam lingkungan
pendidikan islam.
2. Mahasiswa mampu memahami Bagaimana posisi intelektual dalam pendidikan islam.









BAB II
PEMBAHASAN

A. Etika interaksi guru dan murid di kelas dalam lingkungan pendidikan Islam.
Guru adalah pendidik profesional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya
menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para
orang tua. Mereka ini, tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah sekaligus berarti pelimpahan
sebagian tanggung jawab pendidikan kepada anaknya kepada guru. Hal itu menunjukkan pula
bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya pada sembarang guru atau sekolah
karena tidak sembarang orang dapat menjadi guru.[4]
Menurut Zakiah Darajat syarat-syarat ( kode etik ) dilihat dari ilmu pendidikan Islam,
maka secara umum untuk menjadi guru dan diperkirakan dapat memenuhi tanggung jawab
yang dibebankan kepadanya hendaknya bertakwa kepada Allah, berilmu, sehat jasmaniah,
baik akhlaknya, bertanggung jawab dan berjiwa nasional.
1. Takwa kapada Allah sebagai syarat menjadi guru.
Guru, sesuai dengan tujuan pendidikan Islam, tidak mungkin mendidik anak kepada
Allah jika ia sendiri tidak bertaqwa kepadanya. Sebab ia adalah teladan bagi muridnya.
2. Berilmu sebagai syarat untuk menjadi guru.
Ijazah bukan semata-mata secarik kertas, tetapi suatu bukti, bahwa pemiliknya telah
mempunyai ilmu pengetahuan dan kesanggupan tertentu yang diperlukannya untuk suatu
jabatan. Gurupun harus mempunyai ijazah supaya dibolehkan mengajar. Kecuali dalam
keadaan darurat, misalnya jumlah murid sangat meningkat, sedangkan jumlah guru jauh
daripada mencukupi, maka terpaksa menyimpang untuk sementara, yakni menerima guru
yang belum berijazah. Tetapi dalam keadaan normal ada patokan bahwa makin tinggi
pendidikan guru makin baik mutu pendidikan dan ada gilirannya makin tinggi pula derajat
masyarakat.
3. Sehat jasmani sebagai syarat menjadi guru.
Kesahatan jasmani kerapkali dijadikan salah satu syarat bagi mereka yang melamar
ingin menjadi guru. Guru yang mengidap penyakit menular umpamanya sangat
membahayakan kesehatan anak-anak.
4. Berkelakuan baik syarat menjadi guru.
Budi pekerti guru maha penting dalam pendidikan watak murid. Guru harus menjadi
suri tauladan karena anak bersifat suka meniru. Diantara akhlak tersebut adalah :
a. Mencintai jabatan menjadi guru.
b. Bersikap adil terhadap semua muridnya.
c. Berlaku sabar dan tenang.
d. Guru harus berwibawa.
e. Guru haru gembira.
f. Guru harus bersifat manusiawi.
g. Bekerja sama dengan guru lain.
h. Bekerja sama dengan masyarakat.[5]
Sedangkan dalam interaksi guru dan murid dalam kelas, untuk menciptakan iklim
pembelajaran sebagaimana yang dikutip dari Sardiman AM.,interaksi edukatif adalah
Interaksi yang dikatakan sebagai interaksi edukatif apabila secara sadar mempunyai tujuan
untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaannya.[6] Ada beberapa
bentuk interaksi diantaranya:
a) Guru sebagai Orang Tua Anak Didik
Guru adalah orang tua, anak didik adalah anak. Orang tua dan anak adalah dua sosok
insani yang diikat oleh tali jiwa, belaian kasih sayang adalah naluri jiwa orang tua yang
sangat diharapkan oleh anak, sama halnya dengan belaian kasih dan sayang seorang guru dan
anak didiknya. Ketika guru hadir bersama-sama anak didik di sekolah, di dalam jiwanya
seharusnya sudah tertanam niat untuk mendidik anak didik agar menjadi orang yang berilmu
pengetahuan, mempunyai sikap dan watak yang baik, cakap dan terampil, berasusila dan
berakhlak mulia.
Syaiful Bahri Jamarah mengatakan semua norma yang diyakini mengandung kebaikan
perlu ditanamkan kedalam jiwa anak didik melalui peranan guru dalam pengajaran. Guru dan
anak berada dalam suatu relasi kejiwaan. Interaksi antara guru dan anak didik terjadi karena
saling membutuhkan.
b) Guru sebagai Pendidik
Guru dan anak didik adalah yang menggerakkan proses interaksi edukatif, dimana
interaksi edukatif tesebut mempunyai suatu tujuan. Ketika interaksi edukatif tersebut
berproses, guru harus dengan ikhlas dalam bersikap dan berbuat serta mau memahami anak
didik dengan konsekwensinya. Semua kendala yang menghambat jalannya proses interaksi
edukatif harus dihilangkan dan membiarkan, karena keberhasilan interaksi edukatif lebih
banyak ditentukan oleh guru dalam mengelola kelas.[7]
Masalahnya yang penting adalah mengapa guru dikatakan pendidik Guru memang
seorang pendidik sebab dalam pekerjaannya ia tidak hanya mengajar seseorang agar tahu
beberapa hal, tetapi guru juga melatihkan beberapa keterampilan dan terutama sikap mental
anak didik. mendidik sikap mental seseorang tidak cukup hanya mengajarkan sesuatu
pengetahuan, tetapi bagaimana pengetahuan itu harus dididikkan, dengan guru sebagai
idolanya.[8]
Sementara itu dari segi hubungan antara pendidik dan anak didik, menurut Sutari Imam
Barnadib dibagi sebagai berikut :
a) Pelindung
Pendidik selalu melindungi anak dalam jasmaniyah dan rohaniahnya.
b) Menjadi teladan
Pendidik selalu menjadi teladan pada anak didik.
c) Pusat mengarahkan fikiran dan perbuatan.
Pendidik selalu mengikut sertakan anak didik dengan apa yang dipikirkan baik yang
menggembirakan ataupun dengan apa yang sedang dipikirkan.
d) Penciptaan perasaan bersatu
Untuk memiliki perasaan bersatu anak harus dibiasakan hidup didalam lingkungan yang
teratur.[9]

B. Posisi intelektual dalam pendidikan Islam.
Kata intelektual berasal dari bahas inggris intellectual, yang menurut idiom and
syntactic English dictionary berarti Having or showing good mental power and
understanding yang secara umum dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pemikir-
pemikir yang memiliki kemampuan dalam menganalisa masalah tertentu.[10]
Dalam al-Quran dengan jelas Allah SWT menjelaskan bahwa tidaklah sama antara
orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu. Salah satu ayat yang menyataka hal tersebut
adalah terdapat dalam S. Az-Zummar ayat 9:
`Br& uqd MZs% u!$tR#u @ 9$# #Y`$y $VJ!$s%ur
x ts not zFy$# (#q_ t urspuHqu mn/u 3 @% @yd
qtGo t%!$# tbqHs>t t%!$#ur w tbqJn=t 3$yJR)
.x tGt (#q9'r& =t79F{$#
Artinya: (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang
beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab)
akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang
yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang
berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Dari ayat itu, wajar jika kemudian kita temukan banyak Hadist yang berisi perintah untuk
manuntut ilmu. Lebih dari itu bagi Islam menuntut Ilmu adalah satu kewajian pokok yang
harus dilakukan oleh umat, baik bagi laki-laki maupun perempuan.
Posisi orang yang berilmu dalam pandangan Islam dengan jelas digambarkan Allah SWT
dalam al-Quran Surat al-Mujadalah :11 yang berbunyi :
$pk r't t%!$# (#qZtB#u #s) @ % N3s9 (#qsxs?
=yfyJ9$# (#qs|$$sx|t !$# N3s9 ( #s)ur @ %
(#r S$# (#r S$$s s t !$# t%!$# (#qZtB#uN3ZB
t%!$#ur (#q?r& zO=9$# ;My_u y 4 !$#ur $yJ/ tbq=yJs?
7yz
Artinya: Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-
lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan
untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu
pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Peran dan tanggung jawab intelektual menurut Quraish Shihab dituntut untuk, Pertama
untuk terus-menerus mempelajari kitab suci dalam rangka mengamalkan dan menjabarkan
nilai-nilainya yang bersifat umum agar dapat ditarik darinya petunjuk-petunjuk yang dapat
disumbangkan atau diajarkan kepada masyarakat, bangsa dan negara, yang selalu
berkembang, berubah meningkatkan kebutuhannya. Atau dengan kata lain mereka harus
mampu menerjemahkannya nilai-nilai tersebut dalam membangun dunia untuk memecahkan
masalah-masalahnya karena itulah tujuan kitab suci ( al Baqarah 213 ). Kedua mereka juga
dituntut untuk terus mengamati ayat-ayat Tuhan di alam ini baik pada diri manusia
perorangan maupun kelompok, serta mengamati fenomena alam. kaum intelektual juga
dituntut tidak hanya pada perumusan dan pengarahan tujuan-tujuan tetapi juga harus mampu
memberi contoh pelaksanaan dan sosialisasinya .
Sebagai golongan yang memiliki keistimewaan kaum intelektual harus mampu
menginterpretasikan kemampuannya untuk mensejahterakan umat manusia khususnya dalam
pendidikan islam, bagaimana mereka harus mampu menjadi inspirator bagi masyarakat
muslim untuk menciptakan pendidikan yang konprehensif tidak hanya menyangkut sektor
keagamaan tapi juga mencangkup segala sektor kehidupan. Seperti pendapat Hasan
Langgulung pendidikan Islam sebagai suatu proses menyiapkan generasi muda untuk mengisi
peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi
manusia untuk beramal di dunia dan memetik hasilnya di akhirat.[11]




BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari kajian yang telah dipaparkan dapat ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya:
1. Guru dalam tanggung jawabnya membibing dan mendewasakan anak didik dituntut ( kode
etik ) memiliki syarat yang berhubungan dengan dengan dirinya sendiri, berhubungan dengan
pelajaran dan berhubungan dengan murid.
2. Dalam interaksinya guru mempunyai multiperan, sebagai pendidik yang mengajarkan nilai-
nilai pendidikan dan sebagai orang tua atas pelimpahan wewenang orang tua dalam mendidik
anak di lingkungan pendidikan.
3. Guru dalam interaksinya dituntut membentuk interaksi yang sifatnya mempunyai tujuan
edukatif yang bermanfaat bagi murid.
4. Posisi intelektual mempunyai kedudukan yang sangat istemewa dalam kacamata islam.
5. Peran dan tanggung jawab intelektual dalam pendidikan islam mempunyai tanggung jawab
yang sangat vital sekali, diantaranya intelektual harus terus mengkaji ilmu-ilmu keislaman
untuk meningkatkan harkat hidup umat manusia, intelektual harus mampu mentransferkan
nilai-nilai keislaman melalui mediator pendidikan.

B. Saran
Guru mempunyai tanggung jawab yang sangat besar sekali, maka dari itu tidak hanya asal
insan bisa menjadi guru, tapi harus benar-benar Insan Kamil yang benar mampu menjadi
utusan Allah untuk memberi kabar gembira dan peringatan kepada masyarakat belajar,
dengan begitu pemerintah/lembaga pendidikan harus mampu melakukan seleksi yang sangat
ketat tidak hanya menuntut penguasaan keilmuan tapi juga aqidah, akhlak yang sesuai dengan
norma-norma agama Islam.
Posisi intelektual memang sangat penting sekali dalam abad jahiliyah modern ini,
intelektual harus mampu mengemas dawah pendidikan yang yang lebih implemantif dan
tidak hanya menjadi pemikir-pimikir keilmuan yang tidak mengena pada permasalahan
Agama, Sosial, budaya dan negara. Wallahu alam Bisshawab



[1] Abu Ahmadi dan Joko Triprasetya, Strategi Belajar Mengajar ( Bandung: Pustaka
Setia, 1997), hal 118-119.
[2] Amir Achsin, Pengelolaan kelas Dan Interaksi Belajar Mengajar (Ujung Pandang: IKIP
Ujung Pandang Press 1990),hal 98.
[3] Muhammad Ali, Guru dalam Proses Belajar Mengajar (Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 1992), hal 4.
[4] Zakiah Darajat, Ilmu Pendidikan Islam ( Jakarta: Bumi Aksara, 2008 ), hal. 39.
[5] Ibid. hal. 40.
[6] Sardiman A.M. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar ( Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada, 2005), hal. 8.
[7] Syaiful Bahri Djamarah, Guru Dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif (Jakarta: Rineka
Cipta 2001), hal 3-4.
[8] Sardiman AM, Op.Cit, hal 137
[9] Sutari Imam Barnadib, Pengantar Ilmu Pendidikan Sistematis (Yogyakarta: Andi
Offser), hal 112.
[10] M. Quraish Shihab, Membumikan Al quran, Fungsi dan Peran Wahyu (Bandung:
Mizan, 1994), hal. 389.
[11] Hasan Langgulung, Beberapa Pemikiran tentang Pendidikan Islam (Bandung: Al-
Ma'arif, 1980), hal. 94.
Diposkan 16th January 2013 oleh CHOKY

Beri Nilai