Anda di halaman 1dari 25

2.

1 Pengertian TB Paru
TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium
tuberculosis). Sebagian besar kuman menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh
lain (Dep es, !""#). uman TB berbentuk batang mempunyai si$at khusus yaitu tahan terhadap
asam pe%arnaan yang disebut pula Basil Tahan &sam (BT&).
2.2 Etiologi
Penyakit TB Paru disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). uman ini
berbentuk batang, mempunyai si$at khusus yaitu tahan terhadap asam pada pe%arnaan, 'leh
karena itu disebut pula sebagai Basil Tahan &sam (BT&), kuman TB cepat mati dengan sinar
matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam ditempat yang gelap dan lembab.
Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat Dormant, tertidur lama selama beberapa tahun.
Sumber penularan adalah penderita TB BT& positi$. Pada %aktu batuk atau bersin, penderita
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Droplet yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. 'rang dapat
terin$eksi kalau droplet tersebut terhirup kedalam saluran pernapasan. Selama kuman TB masuk
kedalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman TB tersebut dapat menyebar dari paru
kebagian tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran lim$e, saluran napas, atau
penyebaran langsung kebagian(bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seorang penderita
ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positi$
hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak
negati$ (tidak terlihat kuman), maka penderita tersebut dianggap tidak menular.
)aktor($aktor yang menyebabkan seseorang terin$eksi oleh Mycobacterium tuberculosis *
+. ,erediter* resistensi seseorang terhadap in$eksi kemungkinan diturunkan
secara genetik.
!. -enis kelamin* pada akhir masa kanak(kanak dan remaja, angka kematian
dan kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
#. .sia * pada masa bayi kemungkinan terin$eksi sangat tinggi.
/. Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan yang cepat,
kemungkinan in$eksi cukup tingggi karena diit yang tidak adekuat.
0. eadaan stress* situasi yang penuh stress (injury atau penyakit, kurang
nutrisi, stress emosional, kelelahan yang kronik)
1. Meningkatnya sekresi steroid adrenal yang menekan reaksi in$lamasi dan
memudahkan untuk penyebarluasan in$eksi.

2. &nak yang mendapat terapi kortikosteroid kemungkinan terin$eksi lebih
mudah.
3. 4utrisi 5 status nutrisi kurang
6. 7n$eksi berulang * ,78, Measles, pertusis.
+".Tidak mematuhi aturan pengobatan.

2.3 Patofisiologi
etika seorang klien TB paru batuk, bersin, atau berbicara, maka secara tak sengaja keluarlah
droplet nuklei dan jatuh ke tanah, lantai, atau tempat lainnya. &kibat terkena sinar matahari atau
suhu udara yang panas, droplet nuklei tadi menguap. Menguapnya droplet bakteri ke udara
dibantu dengan pergerakan angin akan membuat bakteri tuberkolosis yang terkandung dalam
droplet nuklei terbang ke udara. &pabila bakteri ini terhirup oleh orang sehat, maka orang itu
berpotensi terkena in$eksi bakteri tuberkolosis. Penularan bakteri le%at udara disebut dengan
air-borne infection. Bakteri yang terisap akan mele%ati pertahanan mukosilier saluran
pernapasan dan masuk hingga al9eoli. Pada titik lokasi di mana terjadi implantasi bakteri, bakteri
akan menggandakan diri (multiplying). Bakteri tuberkolosis dan $okus ini disebut $okus primer
atau lesi primer ($okus :hon). ;eaksi juga terjadi pada jaringan lim$e regional, yang bersama
dengan $okus primer disebut sebagai kompleks primer. Dalam %aktu #(1 minggu, inang yang
baru terkena in$eksi akan menjadi sensiti$ terhadap tes tuberkulin atau tes Mantou<.
Berpangkal dari kompleks primer, in$eksi dapat menyebar ke seluruh tubuh melalui berbagai
jalan, yaitu*
+) Percabangan bronkhus
Dapat mengenai area paru atau melalui sputum menyebar ke laring (menyebabkan ulserasi
laring), maupun ke saluran pencernaan.
!) Sistem saluran lim$e
Menyebabkan adanya regional lim$adenopati atau akhirnya secara tak langsung mengakibatkan
penyebaran le%at darah melalui duktus lim$atikus dan menimbulkan tuberkulosis milier.


&liran darah
&liran 9ena pulmonalis yang mele%ati lesi paru dapat memba%a atau mengangkut material yang
mengandung bakteri tuberkulosis dan bakteri ini dapat mencapai berbagai organ melalui aliran
darah, yaitu tulang, ginjal, kelenjar adrenal, otak, dan meningen.
;ekti$asi in$eksi primer (in$eksi pasca(primer)
-ika pertahanan tubuh (inang) kuat, maka in$eksi primer tidak berkembang lebih jauh dan bakteri
tuberkulosis tak dapat berkembang biak lebih lanjut dan menjadi dorman atau tidur. etika suatu
saat kondisi inang melemah akibat sakit lama=keras atau memakai obat yang melemahkan daya
tahan tubuh terlalu lama, maka bakteri tuberkulosis yang dorman dapat akti$ kembali. 7nilah
yang disebut reakti$asi in$eksi primer atau in$eksi pasca(primer. 7n$eksi ini dapat terjadi
bertahun(tahun setelah in$eksi primer terjadi. Selain itu, in$eksi pasca(primer juga dapat
diakibatkan oleh bakteri tuberkulosis yang baru masuk ke tubuh (in$eksi baru), bukan bakteri
dorman yang akti$ kembali. Biasanya organ paru tempat timbulnya in$eksi pasca(primer terutama
berada di daerah apeks paru.
7n$eksi Primer
Tuberkulosis primer adalah in$eksi bakteri TB dari penderita yang belum mempunyai reaksi
spesi$ik terhadap bakteri TB. 7n$eksi primer terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan
kuman TB. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat mele%ati sistem
pertahanan mukosillier bronkus, dan terus berjalan sehinga sampai di al9eolus dan menetap
disana. 7n$eksi dimulai saat kuman TB berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di
paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru, saluran lim$e akan memba%a kuman TB
ke kelenjar lim$e disekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks primer. >aktu antara
terjadinya in$eksi sampai pembentukan kompleks primer adalah /(1 minggu. &danya in$eksi
dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negati$ menjadi positi$.
elanjutan setelah in$eksi primer tergantung kuman yang masuk dan besarnya respon daya tahan
tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya reaksi daya tahan tubuh tersebut dapat menghentikan
perkembangan kuman TB. Meskipun demikian, ada beberapa kuman akan menetap sebagai
kuman persister atau dormant (tidur). adang(kadang daya tahan tubuh tidak mampu
mengehentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang bersangkutan akan
menjadi penderita Tuberkulosis. Masa inkubasi, yaitu %aktu yang diperlukan mulai terin$eksi
sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 1 bulan.
Tuberkulosis Pasca Primer (Post Primary TB)
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah in$eksi
primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terin$eksi ,78 atau status gi?i yang
buruk. @iri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan
terjadinya ka9itas atau e$usi pleura.
Perjalanan &lamiah TB yang Tidak Diobati
Tanpa pengobatan, setelah lima tahun, 0" A dari penderita TB akan meninggal, !0 A akan
sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan !0 A sebagai kasus kronik yang tetap
menular (>,' +661).
Pengaruh 7n$eksi ,78
7n$eksi ,78 mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (@ellular 7mmunity),
sehingga jika terjadi in$eksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan
menjadi sakit parah bahkan mengakibatkan kematian. Bila jumlah horang terin$eksi ,78
meningkat, maka jumlah penderita TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di
masyarakat akan meningkat pula.


2.4 Klasifikasi TB Paru
Menurut Dep.es (!""#), klasi$ikasi TB Paru dibedakan atas *
1. 1. Berdasarkan organ yang terinvasi
+. a. TB Paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura (selaput paru). Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB Paru
dibagi menjadi !, yaitu *
+. TB Paru BT& Positi$
Disebut TB Paru BT& (B) apabila sekurang(kurangnya ! dari # spesimen dahak SPS (Se%aktu
Pagi Se%aktu) hasilnya positi$, atau + spesimen dahak SPS positi$ disertai pemeriksaan radiologi
paru menunjukan gambaran TB akti$.

!. TB Paru BT& 4egati$
&pabila dalam # pemeriksaan spesimen dahak SPS BT& negati$ dan pemeriksaan radiologi dada
menunjukan gambaran TB akti$. TB Paru dengan BT& (() dan gambaran radiologi positi$ dibagi
berdasarkan tingkat keparahan, bila menunjukan keparahan yakni kerusakan luas dianggap berat.
+. b. TB ekstra paru yaitu tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru,
misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lim$e, tulang
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing dan alat kelamin. TB ekstra paru dibagi
berdasarkan tingkat keparahan penyakitnya yaitu *
a) TB ekstra paru ringan yang menyerang kelenjar lim$e, pleura, tulang (kecuali tulang
belakang), sendi dan kelenjar adrenal
b) TB ekstra paru berat seperti meningitis, pericarditis, peritonitis, TB tulang belakang, TB
saluran kencing dan alat kelamin.

1. Berdasarkan tipe penderita
Tipe penderita ditentukan berdasarkan ri%ayat pengobatan sebelumnya. &da beberapa tipe
penderita *
+. Kasus baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan '&T atau sudah pernah
menelan 'bat &nti Tuberkulosis ('&T) kurang dari satu bulan.
!. Kambuh (relaps) adalah penderita TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
dan telah dinyatakan sembuh, kemudian kembali berobat dengan hasil pemeriksaan BT&
positi$.
#. Pindahan (transfer in) yaitu penderita yang sedang mendapat pengobatan di suatu
kabupaten lain kemudian pindah berobat ke kabupaten ini. Penderita pindahan tersebut
harus memba%a surat rujukan=pindah.
/. Kasus berobat setelah lalai (de$ault=drop out) adalah penderita yang sudah berobat
paling kurang + bulan atau lebih dan berhenti ! bulan atau lebih, kemudian datang
kembali berobat.


PEBE!""# TB "#"K !"# !E$"%"
+. TB anak lokasinya pada setiap bagian paru, sedangkan pada de%asa di daerah apeks dan
in$ra kla9ikuler
!. Terjadi pembesaran kelenjar lim$e regional sedangkan pada de%asa tanpa pembesaran
kelenjar lim$e regional
#. Penyembuhan dengan perkapuran sedangkan pada de%asa dengan $ibrosis
/. Cebih banyak terjadi penyebaran hematogen, pada de%asa jarang


2.& 'anifestasi Klinis
Diagnosa TB berdasarkan gejala=mani$estasi klinis dibagi menjadi #, diantaranya*
+. :ejala respiratorik, meliputi*
a. Batuk
:ejala batuk timbul paling dini dan merupakan gangguan yang paling sering dikeluhkan. Mula(
mula bersi$at non produkti$ kemudian berdahak bahkan bercampur darah bila sudah ada
kerusakan jaringan.
b.Batuk darah
Darah yang dikeluarkan dalam dahak ber9ariasi, mungkin tampak berupa garis atau bercak(
bercak darak, gumpalan darah atau darah segar dalam jumlah sangat banyak. Batuk darak terjadi
karena pecahnya pembuluh darah. Berat ringannya batuk darah tergantung dari besar kecilnya
pembuluh darah yang pecah.
c.Sesak nafas
:ejala ini ditemukan bila kerusakan parenkim paru sudah luas atau karena ada hal(hal yang
menyertai seperti e$usi pleura, pneumothora<, anemia dan lain(lain.
d. Nyeri dada
4yeri dada pada TB paru termasuk nyeri pleuritik yang ringan. :ejala ini timbul apabila sistem
persara$an di pleura terkena.

2. Gejala sistemik meliputi
a. Demam
Merupakan gejala yang sering dijumpai biasanya timbul pada sore dan malam hari mirip demam
in$luen?a, hilang timbul dan makin lama makin panjang serangannya sedang masa bebas
serangan makin pendek.
b. :ejala sistemik lain *
:ejala sistemik lain ialah keringat malam, anoreksia, penurunan berat badan serta malaise.
Timbulnya gejala biasanya gradual dalam beberapa minggu(bulan, akan tetapi penampilan akut
dengan batuk, panas, sesak napas %alaupun jarang dapat juga timbul menyerupai gejala
pneumonia.

1. !. Gejala "uberkulosis ekstra #aru
Tergantung pada organ yang terkena, misalnya * lim$edanitis tuberkulosa. Meningitsis
tuberkulosa, dan pleuritis tuberkulosa.

(e)ala klinis *emoptoe +
ita harus memastikan bah%a perdarahan dari naso$aring dengan cara
membedakan ciri(ciri sebagai berikut *
+. Batuk darah
a. Darah dibatukkan dengan rasa panas di tenggorokan
b. Darah berbuih bercampur udara
c. Darah segar ber%arna merah muda
d. Darah bersi$at alkalis
e. &nemia kadang(kadang terjadi
$. Ben?idin test negati$
!. Muntah darah
a. Darah dimuntahkan dengan rasa mual
b. Darah bercampur sisa makanan
c. Darah ber%arna hitam karena bercampur asam lambung
d. Darah bersi$at asam
e. &nemia seriang terjadi
$. Ben?idin test positi$
#. Dpistaksis
a. Darah menetes dari hidung
b. Batuk pelan kadang keluar
c. Darah ber%arna merah segar
d. Darah bersi$at alkalis
e. &nemia jarang terjadi
:ejala(gejala tersebut diatas dijumpai pula pada penyakit paru selain TB@. 'leh sebab itu orang
yang datang dengan gejala diatas harus dianggap sebagai seorang Esuspek tuberkulosisF atau
tersangka penderita TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung.
Selain itu, semua kontak penderita TB Paru BT& positi$ dengan gejala sama, harus diperiksa
dahaknya.


2., Pemeriksaan !iagnostik
2.,.1 Pemeriksaan sputum (%-P-%)
Pemeriksaan sputum penting untuk dilakukan karena dengan pemeriksaan tersebut akan
ditemukan kuman BT&. Di samping itu pemeriksaan sputum juga dapat memberikan e9aluasi
terhadap pengobatan yang sudah diberikan. Pemeriksaan ini mudah dan murah sehingga dapat
dikerjakan di lapangan (puskesmas). Tetapi kadang(kadang tidak mudah untuk mendapat
sputum, terutama pasien yang tidak batuk atau batuk yang non produkti$ Dalam hal ini
dianjurkan satu hari sebelum pemeriksaan sputum, pasien dianjurkan minum air sebanyak B !
liter dan diajarkan melakukan re$leks batuk. Dapat juga dengan memberikan tambahan obat(obat
mukolitik eks(pektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik selama !"(#" menit. Bila
masih sulit, sputum dapat diperoieh dengan cara bronkos kopi diambil dengan brushing atau
bronchial %ashing atau B&C (bronchn al9eolar la9age). BT& dari sputum bisa juga didapat
dengan cara bilasan lambung. ,al ini sering dikerjakan pada anak(anak karena mereka sulit
mengeluarkan dahaknya. Sputum yang akan diperiksa hendaknya sesegar mungkin. Bila sputum
sudah didapat. kuman BT& pun kadang(kadang sulit ditemukan. uman bant dapat dkcmukan
bila bronkus yang terlibat proses penyakit ini terbuka ke luar, sehingga sputum yang
mengandung kuman BT& mudah ke luar.
Kriteria sputum BT" positif adalah bila sekurang(kurangnya ditemukan # batang kuman BT&
pada satu sediaan. Dengan kata lain diperlukan 0.""" kuman dalam + mil sputum ,asil
pemeriksaan BT& (basil tahan asam) (B) di ba%ah mikroskop memerlukan kurang lebih 0"""
kuman=ml sputum, sedangkan untuk mendapatkan kuman (B) pada biakan yang merupakan
diagnosis pasti, dibutuhkan sekitar 0" ( +"" kuman=ml sputum. ,asil kultur memerlukan %aktu
tidak kurang dan 1 ( 3 minggu dengan angka sensiti9iti +3(#"A.
ekomendasi $*. skala /0"T1! +
+. Tidak ditemuukan BT& dalam +"" lapang pandangan *negati9e
!. Ditemukan +(6 BT& * tulis jumlah kuman
#. Ditemukan +"(66 BT& * +B
/. Ditemukan +(+" BT& dalam + lapang pandangan * !B
0. Ditemukan G +" BT& dalam + lapang pandangan * #B

2.,.2 Pemeriksaan tuber2ulin
Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan paling berman$aat untuk menunjukkan
sedang=pernah terin$eksi $ikobakterium tuberkulosa dan sering digunakan dalam HScreening
TB@H. D$ekti$itas dalam menemukan in$eksi TB@ dengan uji tuberkulin adalah lebih dari 6"A.
Penderita anak umur kurang dari + tahun yang menderita TB@ akti$ uji tuberkulin positi$ +""A,
umur +I! tahun 6!A, !I/ tahun 23A, /I1 tahun 20A, dan umur 1I+! tahun 0+A. Dari
persentase tersebut dapat dilihat bah%a semakin besar usia anak maka hasil uji tuberkulin
semakin kurang spesi$ik. &da beberapa cara melakukan uji tuberkulin, namun sampai sekarang
cara mantou% lebih sering digunakan. Cokasi penyuntikan uji mantou% umumnya pada J bagian
atas lengan ba%ah kiri bagian depan, disuntikkan intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji
tuberkulin dilakukan /3I2! jam setelah penyuntikan dan diukur diameter dari pembengkakan
(indurasi) yang terjadi.

2.,.3 Pemeriksaan ontgen Thoraks

Pada hasil pemeriksaan rontgen thoraks, sering didapatkan adanya suatu lesi sebelum ditemukan
adanya gejala subjekti$ a%al dan sebelum pemeriksaan $isik menemukan kelainan pada paru.
Bila pemeriksaan rontgen menemukan suatu kelainan, tidak ada gambaran khusus mengenai TB
paru a%al kecuali di lobus ba%ah dan biasanya berada di sekitar hilus. arakteristik kelainan ini
terlihat sebagai daerah bergaris(garis opaKue yang ukurannya ber9ariasi dengan batas lesi yang
tidak jelas. riteria yang kabur dan gambar yang kurang jelas ini sering diduga sebagai
pneumonia atau suatu proses edukati$, yang akan tampak lebih jelas dengan pemberian kontras.
Pemeriksaan rontgen thoraks sangat berguna untuk menge9aluasi hasil pengobatan dan ini
bergantung pada tipe keterlibatan dan kerentanan bakteri tuberkel terhadap obat antituberkulosis,
apakah sama baiknya dengan respons dari klien. Penyembuhan yang lengkap serinng kali terjadi
di beberapa area dan ini adalah obser9asi yang dapat terjadi pada penyembuhan yang lengkap.
,al ini tampak paling menyolok pada klien dengan penyakit akut yang relati$ di mana prosesnya
dianggap berasal dari tingkat eksudati$ yang besar.

2.,.4 Pemeriksaan 3T %2an
Pemeriksaan @T Scan dilakukan untuk menemukan hubungan kasus TB inakti$=stabil yang
ditunjukkan dengan adanya gambaran garis(garis $ibrotik ireguler, pita parenkimal, kalsi$ikasi
nodul dan adenopati, perubahan kelengkungan beras bronkho9askuler, bronkhiektasis, dan
emi$esema perisikatriksial. Sebagaimana pemeriksaan ;ontgen thoraks, penentuan bah%a
kelainan inakti$ tidak dapat hanya berdasarkan pada temuan @T scan pada pemeriksaan tunggal,
namun selalu dihubungkan dengan kultur sputum yang negati$ dan pemeriksaan secara serial
setiap saat. Pemeriksaan @T scan sangat berman$aat untuk mendeteksi adanya pembentukan
ka9asitas dan lebih dapat diandalkan daripada pemeriksaan ;ontgen thoraks biasa.

2.,.& adiologis TB Paru 'ilier
TB paru milier terbagi menjadi dua tipe, yaitu TB paru milier akut dan TB paru milier subakut
(kronis). Penyebaran milier terjadi setelah in$eksi primer. TB milier akut diikuti oleh in9asi
pembuluh darah secara masi$=menyeluruh serta mengakibatkan penyakit akut yang berat dan
sering disertai akibat yang $atal sebelum penggunaan '&T. ,asil pemeriksaan rontgen thoraks
bergantung pada ukuran dan jumlah tuberkel milier. 4odul(nodul dapat terlihat pada rontgen
akibat tumpang tindih dengan lesi parenkim sehingga cukup terlihat sebagai nodul(nodul kecil.
Pada beberapa klien, didapat bentuk berupa granul(granul halus atau nodul(nodul yang sangat
kecil yang menyebar secara di$us di kedua lapangan paru. Pada saat lesi mulai bersih, terlihat
gambaran nodul(nodul halus yang tak terhitung banyaknya dan masing(masing berupa garis(
garis tajam.

2.,., Pemeriksaan 1aboratorium
Diagnosis terbaik dari penyakit diperoleh dengan pemeriksaan mikrobiologi melalui isolasi
bakteri. .ntuk membedakan spesies Mycobacterium antara yang satu dengan yang lainnya harus
dilihat si$at koloni, %aktu pertumbuhan, si$at biokimia pada berbagai media, perbedaan kepekaan
terhadap '&T dan kemoterapeutik, perbedaan kepekaan tehadap binatang percobaan, dan
percobaan kepekaan kulit terhadap berbagai jenis antigen Mycobacterium. Pemeriksaan darah
yang dapat menunjang diagnosis TB paru %alaupun kurang sensiti$ adalah pemeriksaan laju
endap darah (CDD). &danya peningkatan CDD biasanya disebabkan peningkatan imunoglobulin
terutama 7g: dan 7g&.

2.4 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tuberkulosis antara lain *
2.4.1 Pen2egahan Tuberkulosis Paru
Pemeriksaan kontak, yaitu pemeriksaan terhadap indi9idu yang bergaul erat dengan
penderita tuberkulosis paru BT& positi$. Pemeriksaan meliputi tes tuberkulin, klinis, dan
radiologis. Bila tes tuberkulin positi$, maka pemeriksaan radiologis $oto thora< diulang
pada 1 dan +! bulan mendatang. Bila masih negati$, diberikan B@: 9aksinasi. Bila
positi$, berarti terjadi kon9ersi hasil tes tuberkulin dan diberikan kemopro$ilaksis.
$ass chest &-ray, yaitu pemeriksaan massal terhadap kelompok(kelompok populasi
tertentu misalnya* karya%an rumah sakit=Puskesmas=balai pengobatan, penghuni rumah
tahanan, dan sis%a(sis%i pesantren.
o 8aksinasi B@:
o emopro$ilaksis dengan menggunakan 74, 0 mg=kgBB selama 1(+! bulan
dengan tujuan menghancurkan atau mengurangi populasi bakteri yang masih
sedikit. 7ndikasi kemopro$ilaksis primer atau utama ialah bayi yang menyusu pada
ibu dengan BT& positi$, sedangkan kemopro$ilaksis sekunder diperlukan bagi
kelompok berikut* bayi di ba%ah lima tahun dengan hasil tes tuberkulin positi$
karena resiko timbulnya TB milier dan meningitis TB, anak dan remaja di ba%ah
!" tahun dengan hasil tes tuberkulin positi$ yang bergaul erat dengan penderita
TB yang menular, indi9idu yang menunjukkan kon9ersi hasil tes tuberkulin dari
negati$ menjadi positi$, penderita yang menerima pengobatan steroid atau obat
imunosupresi$ jangka panjang, penderita diabetes mellitus.
o omunikasi, in$ormasi, dan edukasi (7D) tentang penyakit tuberkulosis kepada
masyarakat di tingkat Puskesmas maupun di tingkat rumah sakit oleh petugas
pemerintah maupun petugas CSM (misalnya Perkumpulan Pemberantasan
Tuberkulosis Paru 7ndonsia I PPT7).

2.4.2 sPengobatan Tuberkulosis Paru
Mekanisme kerja obat anti(tuberkulosis ('&T) *
+. &kti9itas bakterisidal, untuk bakteri yang membelah cepat
!. &kti9itas sterilisasi, terhadap the pesisters (bakteri semidormant)
#. &kti9itas bakteriostatis, obat(obatan yang mempunyai akti9itas bakteriostatis terhadap
bakteri tahan asam.
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi dua $ase yaitu
1. 1. 5ase intensif (2-3 bulan) +
Tujuan tahapan a%al adalah membunuh kuman yang akti$ membelah sebanyak(banyaknya dan
secepat(cepatnya dengan obat yang bersi$at bakterisidal. Selama $ase intensi$ yang biasanya
terdiri dari / obat, terjadi pengurangan jumlah kuman disertai perbaikan klinis. Pasien yang
in$eksi menjadi nonin$eksi dalam %aktu ! minggu. Sebagian besar pasien dengan sputum BT&
positi$ akan menjadi negati$ dalam %aktu ! bulan. Menurut "he 'oint "uberculosis (ommittee of
the British "horacic Society) $ase a%al diberikan selama ! bulan yaitu 74, 0 mg=kgBB,
;i$ampisin +" mg=kgBB, Pira?inamid #0 mg=kgBB dan Dtambutol +0 mg=kgBB.
+. 2. 5ase lan)utan (4-4 bulan).
Selama $ase lanjutan diperlukan lebih sedikit obat, tapi dalam %aktu yang lebih panjang.
Penggunaan / obat selama $ase a%al dan ! obat selama $ase lanjutan akan mengurangi resiko
terjadinya resistensi selekti$. Menurut "he 'oint "uberculosis (ommittee of the British "horacic
Society $ase lanjutan selama / bulan dengan 74, dan ;i$ampisin untuk tuberkulosis paru dan
ekstra paru. Dtambutol dapat diberikan pada pasien dengan resistensi terhadap 74,.
Pada pasien yang pernah diobati ada resiko terjadinya resistensi. Paduan pengobatan ulang terdiri
dari 0 obat untuk $ase a%al dan # obat untuk $ase lanjutan. Selama $ase a%al sekurang(kurangnya
! di antara obat yang diberikan haruslah yang masih e$ekti$.

Paduan obat yang digunakan terdiri atas obat utama dan obat tambahan. -enis obat utama yang
digunakan sesuai dengan rekomendasi >,' adalah ;i$ampisin, 7sonia?id, Pira?inamid,
Streptomisin, dan Dtambutol (Depkes ;7, !""/).
.ntuk program nasional pemberantasan TB paru, >,' menganjurkan panduan obat sesuai
dengan kategori penyakit. ategori didasarkan pada urutan kebutuhan pengobatan dalam
program. .ntuk itu, penderita dibagi dalam empat kategori sebagai berikut*
1. 1. Kategori / (2*6E74*33)
ategori 7 adalah kasus baru dengan sputum positi$ dan penderita dengan keadaan yang berat
seperti meningitis, TB milier, perikarditis, peritonitis, pleuritis massi$ atau bilateral, spondiolitis
dengan gangguan neurologis, dan penderita dengan sputum negati$ tetapi kelainan parunya luas,
TB usus, TB saluran perkemihan, dan sebagainya. Selama ! bulan minum obat 74,, ri$ampisin,
pira?inamid, dan etambutol setiap hari (tahap intensi$), dan / bulan selanjutnya minum obat 74,
dan ri$ampisin tiga kali dalam seminggu ( tahap lanjutan ).
+. 2. Kategori // ( *6E7&*33E3 )
ategori 77 adalah kasus kambuh atau gagal dengan sputum tetap positi$.
diberikan kepada *
+. Penderita kambuh
!. Penderita gagal terapi
#. Penderita dengan pengobatan setelah lalai minun obat
4. 3. Kategori /// ( 2*674*33 )
ategori 777 adalah kasus sputum negati$ tetapi kelainan parunya tidak luas dan kasus TB di luar
paru selain yang disebut dalam kategori 7.
4. Kategori /8
ategori 78 adalah tuberkulosis kronis. Prioritas pengobatan rendah karena kemungkinan
keberhasilan rendah sekali.

.bat-obatan anti tuberkulostatik
+. 1. /sonia9id (/#*) + merupakan obat yang cukup e$ekti$ dan berharga murah. Seperti
ri$ampisin, 74, harus diikutsertakan dalam setiap regimen pengobatan, kecuali bila ada
kontra(indikasi. D$ek samping yang sering terjadi adalah neropati peri$er yang biasanya
terjadi bila ada $aktor($aktor yang mempermudah seperti diabetes, alkoholisme, gagal
ginjal kronik dan malnutrisi dan ,78. Dalam keadaan ini perlu diberikan peridoksin +"
mg=hari sebagai pro$ilaksis sejak a%al pengobatan. D$ek samping lain seperti hepatitis
dan psikosis sangat jarang terjadi.
!. 2. ifampisin + merupakan komponen kunci dalam setiap regimen pengobatan.
Sebagaimana halnya 74,, ri$ampisin juga harus selalu diikutkan kecuali bila ada kontra
indikasi. Pada dua bulan pertama pengobatan dengan ri$ampisin, sering terjadi gangguan
sementara pada $ungsi hati (peningkatan transaminase serum), tetapi biasanya tidak
memerlukan penghentian pengobatan. adang(kadang terjadi gangguan $ungsi hati yang
serius yang mengharuskan penggantian obat terutama pada pasien dengan ri%ayat
penyakit hati. ;i$ampisin menginduksi en?im(en?im hati sehingga mempercepat
metabolisme obat lain seperti estrogen, kortikosteroid, $enitoin, sul$onilurea, dan anti(
koagulan. Penting * e$ekti9itas kontrasepsi oral akan berkurang sehingga perlu dipilih
cara B yang lain.
#. 3. P:ra9inamid + bersi$at bakterisid dan hanya akti$ terhadap kuman intrasel yang
akti$ memlah dan mycrobacterium tuberculosis. D$ek terapinya nyata pada dua atau tiga
bulan pertama saja. 'bat ini sangat berman$aat untuk meningitis TB karena penetrasinya
ke dalam cairan otak. Tidak akti$ terhadap $ycrobacterium bovis. Toksi$itas hati yang
serius kadang(kadang terjadi.
/. 4. Etambutol + digunakan dalam regimen pengobatan bila diduga ada resistensi. -ika
resiko resistensi rendah, obat ini dapat ditinggalkan. .ntuk pengobatan yang tidak
dia%asi, etambutol diberikan dengan dosis !0 mg=kg=hari pada $ase a%al dan +0
mg=kg=hari pada $ase lanjutan (atau +0 mg=kg=hari selama pengobatan). Pada pengobatan
intermiten di ba%ah penga%asan, etambutol diberikan dalam dosis #" mg=kg # kali
seminggu atau /0 mg=kg ! kali seminggu. D$ek samping etambutol yang sering terjadi
adalah gangguan penglihatan dengan penurunan 9isual, buta %arna dan penyempitan
lapangan pandang. D$ek toksik ini lebih sering bila dosis berlebihan atau bila ada
gangguan $ungsi ginjal. :angguan a%al penglihatan bersi$at subjekti$5 bila hal ini terjadi
maka etambutol harus segera dihentikan. Bila segera dihentikan, biasanya $ungsi
penglihatan akan pulih. Pasien yang tidak bisa mengerti perubahan ini sebaiknya tidak
diberi etambutol tetapi obat alternati9e lainnya. Pemberian pada anak(anak harus
dihindari sampai usia 1 tahun atau lebih, yaitu disaat mereka bisa melaporkan gangguan
penglihatan. Pemeriksaan $ungsi mata harus dilakukan sebelum pengobatan.
&. %treptomisin + saat ini semakin jarang digunakan, kecuali untuk kasus
resistensi. 'bat ini diberikan +0 mg=kg, maksimal + gram perhari. .ntuk berat
badan kurang dari 0" kg atau usia lebih dari /" tahun, diberikan 0""(2"" mg=hari. .ntuk
pengobatan intermiten yang dia%asi, streptomisin diberikan + g tiga kali seminggu dan
diturunkan menjadi 20" ng tiga kali seminggu bila berat badan kurang dari 0" kg. .ntuk anak
diberikan dosis +0(!" mg=kg=hari atau +0(!" mg=kg tiga kali seminggu untuk pengobatan yang
dia%asi. adar obat dalam plasma harus diukur terutama untuk pasien dengan gangguan $ungsi
ginjal. D$ek samping akan meningkat setelah dosis kumulati$ +"" g, yang hanya boleh dilampaui
dalam keadaan yang sangat khusus. 'bat(obat sekunder diberikan untuk TB@ yang disebabkan
oleh kuman yang resisten atau bila obat primer menimbulkan e$ek samping yang tidak bisa
ditoleransi. Termasuk obat sekunder adalah kapreomisin) sikloserin) makrolid generasi baru
*a+itromisin dan klaritromisin,) --kuinolon *siprofloksasin dan ofloksasin, dan protionamid.

Tabel Panduan Pemberian .bat "nti-Tuberkulosis
.bat anti-TB
esensial
"ksi Potensi
ekomendasi !osis
(mg7kgBB)
Per hari
Per minggu
3; 2;
7sonia?id (74,)
;i$ampisin (;)
Pira?inamid (L)
Bakterisidal
Bakterisidal
Bakterisidal
Tinggi
Tinggi
;endah
0
+"
!0
+"
+"
#0
+0
+"
0"
Streptomisin (S)
Dtambutol (D)
Bakterisidal
Bakteriostatik
;endah
;endah
+0
+0

+0
#"
+0
/0


Kombinasi dosis 2ombination ( fi;ed dose 2ombination )
+. Dosis tiap hari *
o ;,LD * ; (+0" mg) B , (20 mg) B L (/"" mg) B D (20 mg)
o ;,L * ; (+0" mg) B , (20 mg) B L (/0" mg)
o ;, * ; (#"" mg) B , (+0" mg)
; (+0" mg) B , (20 mg)
D, * , (+0" mg) B D (/"" mg)
;,L * ; (+0" mg) B , (+0" mg) B L (0"" mg)
;, * ; (+0" mg) B , (+0" mg)
+. Dosis #M= minggu *

2.4 Komplikasi
Penyakit TB Paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi, diantaranya *
+. omplikasi dini * pleuritis, e$usi pleura, empiema, $aringitis.
!. omplikasi lanjut *
'bstruksi jalan na$as, seperti S'PT ( Sindrom 'bstruksi Pasca Tubercolosis)
erusakan parenkim berat, seperti S'PT atau $ibrosis paru, @or pulmonal, amiloidosis,
karsinoma paru, &;DS.