Anda di halaman 1dari 4

Essay

(UAS Pengantar Studi Pertahanan dan Keamanan - Take Home)



REFORMASI SEKTOR KEAMANAN
Dosen: Prasojo, M.Si
Arifasjah Riza Wibawa / 0801512029

1. Urgensi dan Tujuan dari Dilakukannya Reformasi Sektor Keamanan di
Indonesia
Pada masa orde baru, masa dimana Presiden Soeharto berkuasa yang
dimulai sejak tahun 1966, struktur politik Indonesia didominasi oleh kalangan
militer. Dengan latar belakang militer Soeharto yang kental, keterlibatan militer
dalam sektor politik cenderung makin pesat. Soeharto memberikan angka
penjatahan yang tinggi di parlemen (DPR/MPR) kepada militer, sehingga militer
dapat mengontrol lembaga perwakilan, dan dapat tetap berkuasa tanpa mengalami
gangguan.
Intervensi militer dalam struktur politik sudah terjadi sejak rezim Soekarno,
hanya saja tingkat intervensi tersebut tidak setinggi saat rezim Soeharto. Pada masa
demokrasi terpimpin, militer mulai memainkan peran sosial politik dan ekonomi.
Saat itu, militer membentuk mitra politik sipil agar tidak terlihat kalau militer ingin
menguasai pemerintahan dan sektor politik sepenuhnya, yaitu dengan membentuk
Sekretariat Bersama Golongan Karya yang kemudian menjadi Golongan Karya
(Golkar). Militer menyusun kekuatan melalui partai politik.
Seiring berjalannya waktu, militer yang sudah terlibat dalam politik dan
turun ke ranah sipil merasa nyaman akan posisinya. Namun posisi militer tersebut
merugikan bagi sipil. Presentase untuk sipil dalam pemerintahan sangat kecil.
Peran ganda ABRI sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan, dan juga sebagai
kekuatan sosial-politik, biasa disebut Dwifungsi ABRI.
Lebih dari itu, sipil yang mempunyai kritik atau bertentangan dengan
Soeharto, akan diadili secara sepihak oleh TNI atas mandat Soeharto. Seperti pada
kasus PKI tahun 1965, pengikut PKI langsung dibantai tanpa melalui proses
peradilan. Contoh lainnya adalah pada kasus Malari tahun 1974, ketika Soeharto
melakukan investasi dengan Jepang, hal ini tidak dapat diterima oleh mahasiswa-
mahasiswa, sehingga terjadi demo. Lalu TNI diturunkan oleh Soeharto untuk
mengurus mahasiswa-mahasiswa tersebut, yang hasilnya memakan banyak korban
sipil. Tindakan tersebut tidak hanya tidak manusiawi, tetapi juga melanggar hak
asasi manusia (HAM).
Beberapa hal di atas menunjukan bahwa militer otoriter dan tidak
profesional dalam menjalankan tugasnya, hal ini menimbulkan hubungan yang
tidak harmonis dan demokratis antara sipil-militer.
Oleh karena itu, muncul tuntutan untuk mereformasi sektor keamanan
(RSK) yaitu dengan penghapusan peran militer dalam politik (dwifungsi ABRI
dihapuskan) dan perombakan struktur politik. RSK sendiri adalah sebuah konsep
untuk mereformasi atau membangun kembali sektor keamanan negara, sejalan
dengan prinsip demokrasi, profesionalisme, dan penegakan HAM, serta
memberikan perlindungan terhadap keamanan manusia (human security).
1

Urgensi dilakukannya RSK adalah adanya kebutuhan akan peningkatan
transparansi dan akuntabilitas pada dalam hal kebijakan, praktik di lapangan, dan
penganggaran, serta agar aktor-aktor hankam (pertahanan dan keamanan),
terutama militer, kembali pada garis haluannya, sehingga tidak akan terjadi lagi
penyimpangan-penyimpangan seperti yang dilakukan militer pada masa Orde
Baru dan masa-masa berikutnya. Hal ini pula akan menjadikan mereka profesional
dalam menjalankan tugas dan fungsinya. RSK akan mengubah negara yang
memiliki karakteristik otoritarian menuju arah negara demokratis.
Sementara tujuan utama RSK adalah untuk mempererat dan menata
hubungan sipil militer yang objektif dan demokratis, menciptakan aktor-aktor
keamanan yang profesional (TNI, Polri, serta dengan menambahkan Badan Intelijen
Negara BIN) dan siap untuk memberikan rasa aman kepada semua warga negara
tanpa terkecuali, serta proses transformasi militer yang efektif dan efisien sesuai
dengan tingkat ancaman eksternal yang semakin meningkat, sehingga tercipta tata
pemerintahan yang transparan, accountable, dan demokratis.
RSK sudah mulai ditempuh pada masa reformasi tahun 1998. Mulai dari
penghapusan perwakilan politik di parlemen, pemisahan Polri dari ABRI, likuidasi
kewenangan kekaryaan, pemangkasan struktur sosial politik TNI sehingga TNI
tidak dapat menduduki jabatan birokrasi sipil. Penataan bisnis militer juga
digulirkan sebagai amanat reformasi. Militer menjadi entitas yang diharapkan
mampu menunaikan fungsi dan tugas pertahanan yang memihak bagi kepentingan
rakyat.
2

Agenda RSK di Indonesia diantaranya:
3
(1) perumusan regulasi-regulasi
politik untuk mengatur aktor-aktor keamanan yang diharapkan membangun
karakter dan budaya startegi baru, (2) Restrukturisasi organisasi keamanan
terutama yang berkaitan dengan pemisahan organisasi keamanan TNI-Polri serta
program pengembangan postur pertahanan Indonesia, (3) pengaturan tataran
kewenangan antar instansi-instansi yang bergerak di sektor keamanan, (4)
Perumusan dan penetapan kebijakan pertahanan negara serta kebijakan keamanan
nasional, (5) Alokasi sumber-sumber daya pertahanan untuk mengembangkan
kekuatan pertahanan, (6) Rekonstruksi budaya strategik yang mencerminkan

1
Satrio Arismunandar, Media dan Reformasi Sektor Keamanan jurnalis kompas
2
Elly Burhaini Faizal, INVESTIGASI DALAM REFORMASI SEKTOR KEAMANAN RSK: Panduan untuk Jurnalis,
Institute for Defense Security and Peace Studies (IDSPS), Penuluis Lepas dan Mantan Jurnalis di Harian Suara
Pembaruan, Friedrich Ebert Stiftung (FES), Jakarta, 2008.
3
Yolis, Kekerasan Militer dalam Bingkai Reformasi Sektor Keamanan Studi Kasus Atambua, peneliti pacivis,
http://hankam.kompasiana.com/2011/07/17/kekerasan-militer-dalam-bingkai-reformasi-sektor-keamanan-studi-
kasus-atambua-381469.html diakses pada 1 Februari pk 17.00 WIB
adanya adaptasi nilai-nilai demokrasi serta prinsip-prinsip humanitarian oleh
institusi-institusi keamanan, khususnya aktor-aktor keamanan utama.
Agenda RSK akan dapat terlaksana dengan baik, jika aktor-aktor hankam
tidak egois, fokus, dan melaksanakan tugasnya sesuai dengan fungsinya.

2. Profesionalisme, Pokok, dan Fungsi dari Aktor-aktor Hankam
Seperti yang telah dibahas di atas, tujuan dari pelaksanaan RSK adalah
untuk mempererat hubungan sipil-militer dan menjadikan pelaksana fungsi
hankam menjadi aktor yang profesional. Maksud dari aktor yang profesional itu
sendiri adalah pelaksana fungsi hankam (TNI dan Polri) melaksanakan tugasnya
sesuai dengan fungsinya, yaitu dalam bidang pertahanan dan kemanan tanpa
mengintervensi politik dan ekonomi suatu negara.
Tujuan menjadikan aktor-aktor hankam menjadi profesional adalah agar
militer atau polri itu sendiri tidak bertindak semena-mena dan menyalahgunakan
wewenangnya, dan tugas-tugas hankam dapat dijalankan dengan baik dan fokus,
sehingga keamanan dan kesejahteraan masyarakat terjamin, serta tidak lagi terjadi
diskriminasi atau pelanggaran HAM terhadap sipil.
Proses demokratisasi yang terjadi di Indonesia merupakan proses
mewujudkan supremasi sipil, sehingga penempatan posisi militer di bawah
pemerintahan sipil. Melalui penerapan konsep ini, sistem demokrasi yang dibangun
diharapkan dapat mewujudkan dua kondisi utama, yakni kontrol demokratis atas
militer dan profesionalisme militer. Namun meskipun supremasi sipil ditegakkan,
kalangan sipil juga harus profesional dalam proses politik, yaitu menghindari
penggunaan militer untuk kepentingan politik.
Melihat kondisi negara yang terjadi saat ini, dalam dunia politik terjadi
kegiatan politik yang disebut dengan istilah money talks, orang-orang (sipil,
pejabat, para elite dsb.) yang kaya dan memiliki kekuasaan dapat menduduki
jabatan politk dan mengatur hukum. Lebih dari itu, mereka yang mempunyai
kekuasaan, dapat menyewa TNI untuk melindunginya. Hal ini menunjukkan
bahwa RSK tidak benar-benar berhasil dalam mewujudkan profesionalisme aktor-
aktor hankam.
Dapat diakui bahwa saat ini, tingkat agresivitas militer tidak setinggi pada
masa Orde Baru, dan militer tidak begitu kental mendominasi politik seperti masa
orde baru, namun masih banyak militer yang mencoba memperkaya dirinya
dengan memanfaatkan kekuasaannya. Contohnya: banyak kasus yang terjadi di
jalanan, ketika di suatu jalan ada pelanggar lalu lintas yang mencoba menerobos
rambu lalu lintas, polisi lalu lintas yang melihatnya menahannya, namun
membebaskannya lagi dengan menerima uang dari pelanggar tersebut sebagai
gantinya. Inilah contoh pelaksana fungsi hankam yang tidak profesional, tidak
menjalankan tugasnya sesuai dengan fungsinya.


FUNGSI TNI (UU 34/2004 Bagian 2, Pasal 6)
(1) TNI, sebagai alat pertahanan negara, berfungsi sebagai:
a. penangkal terhadap setiap bentuk ancaman militer dan ancaman bersenjata dari
luar dan dalam negeri terhadap kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan
bangsa;
b. penindak terhadap setiap bentuk ancaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
huruf a;
c. pemulih terhadap kondisi keamanan negara yang terganggu akibat kekacauan
keamanan.
(2) Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), TNI merupakan
komponen utama sistem pertahanan negara.
TUGAS POKOK TNI (UU 34/2004 Bagian 3, pasal 7)
(1) Tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan
keutuhan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, serta melindungi
segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan
terhadap keutuhan bangsa dan negara.

FUNGSI POLRI (UU 2/2002 Pasal 13)
Salah satu fungsi pemerintahan negara di bidang pemeliharaan keamanan dan
ketertiban masyarakat, penegakan hukum, perlindungan, pengayoman, dan pelayanan
kepada masyarakat.
TUGAS POKOK POLRI (UU 2/2002 Pasal 13)
1. Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat
2. Menegakan hukum,
3. Memberikan perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat.

FUNGSI BIN
Peringatan dini, untuk mencegah terjadinya pendadakan strategis yg mengancam
keamanan negara
TUGAS POKOK BIN
Menyediakan informasi & peringatan dini bagi negara.