Anda di halaman 1dari 30

Bab 1.

Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Kusta termasuk penyakit tertua, kata kusta berasal dari bahasa India yaitu kustha,
dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi. Penyakit kusta merupakan penyakit yang
sangat ditakuti oleh masyarakat karena sering kali mengakibatkan mutilasi pada anggot
tubuh terutama bagian kaki. Kusta atau lepra merupakan penyakit yang disebabkan oleh
Mycobacterium leprae termasuk bakteri gram negatif yang tahan asam. Mycobacterium
leprae sudah tidak terlalu banyak penderitanya saat ini, namun di beberapa daerah di
Indonesia M leprae masih bisa ditemukan.
1.2. Tujuan
ujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan hasil pembelajaran
mandiri penulis mengenai penyakit lepra, dimana didalamnya memuat mengenati
epidemiologi, etiologi, patogenesis, gejala klinis, pemeriksaan, diagnosis banding,
pengobatan dan penatalaksanaan serta prognosis dari penyakit kusta.
Bab 2. Pembahasan
Leprosi
!eprosi merupakan penyakit yang sudah di kenal sejak dahulu. Kata kusta berasal dari bahasa
India kustha. Penyakit ini sudah dikenal sejak 1400 tahun sebelum masehi.

Kusta merupakan
penyakit infeksi yang kronik dan disebabkan oleh Mycobacterium leprae yang bersifat
intraseluller obligat. "akteri ini akan menyerang saraf perifer, lalu kulit dan mukosa traktus
respiratorius bagian atas, bakteri ini juga dapat ke organ tubuh yang lainnya kecuali susuanan
saraf pusat.
1
"akteri ini pertama kali diobeser#asi oleh $erhard %ansen, yang berasal dari
&or'egia.
(
(. 1. )pidemiologi
Kusta merupakan penyakit infeksi yang saat masih tinggi pre#alensinya terutama di negara
berkembang, merupakan penyakit bersifat endemki diseluruh dunia kecuali *ntartika. +i
*merika hanya Kanada dan ,hili yang tidak pernah ditemukan endemik dari kusta. +i bagian
-elatan )ropa hanya ditemukan sedikit kasus dari kusta. *ngka kejadi tertinggi kasus kusta
terdapat dibagian pulau Pasifik, seperti India. India merupakan negara kedua yang memiliki
angka tertinggi dari kusta.
.
Kasus lepra atau kusta secara mendunia menurun sekitar /00 selama kurun 'aktu (0 tahun
ini karena adanya program kesehatan. +ari data 1%2 menyatakan ada ((0.000 kasus pada
tahun (003. 1%2 memiliki target untuk menghilangkan M. leprae di dekade berikutnya,
meskipun saat ini masih ada banyak penderita penyakit kusta.
4
Kebanyakan pasien terinfeksi saat masih kecil dimana penderita tinggal bersama penderita
kusta. Penderita kusta pada anak4anak baik laki4laki atau perempuan sama besarnya, namun
pada orang de'asa pria lebih sering terkena kusta. Kebersihan yang kurang akan
memperbesar resiko transmisi dari Mycobacterium leprae. Kusta hanya dapat ditularkan oleh
penderita yang fase lepromatus leprosi.
1,(,.,4
Penularan kusta saat ini masih belum diketahui secara pasti hanya berdasarkan anggapan
klasik yaitu melalui kontak langsung antar kulit yang lama dan erat. *nggapan kedua adalah
secara inhalasi, sebab M leprae dapat bertahan hidup didalam droplet beberapa hari. Masa
tunas kusta sangat ber#ariasi antara 40 hari sampai 40 tahun, umumnya .45 tahun.
1
-ampai saat ini kusta hanya pernah ditemukan menginfeksi manusia, dan pernah dilaporkan
ditemukan pada armadilo liar. %al ini juga menjadi pemersulit pembiakkan M leprae. M
leprae belum dapat dibiakkan dengan medium buatan maupun biakan sel, hanya dapat
tumbuh pada mouse footpad dan armadilo.
1
Kusta bukan merupakan penyakit keturunan. Kuman dapat ditemukan di kulit, folikel rambut,
kelenjar keringat dan air susu ibu, jarang didapat dalam urin. -putum dapat banyak
mengandung M leprae yang berasal dari traktus respiratorius atas. empat implantasi tidak
selalu menjadi tempat lesi pertama. -eperti yang dikatakan di atas penyakit kusta dapat
menyerang semua umur baik anak4anak maupun de'asa. +i Indonesia penderita anak4anak di
ba'ah umur 14 tahun, didapatkan 6 11,./0 tetapi anak di ba'ah umur 1 tahun jarang sekali.
-aat ini usaha pencatatan penderita diba'ah usia 1 tahun penting dilakukan untuk di cari
kemungkinan ada tidaknya kusta konginetal. 7rekuensi tertinggi kusta terdapat pada orang
dengan usia (54.5 tahun.
1
Kusta juga sering mengenai masyarakat dengan sosial ekonomi yang rendah, dari data
penelitian semakin rendah sosial ekonominya maka akan semakin berat penyakitnya,
sebaliknya semakin tinggi keadaan sosial ekonomi masyarakat makan akan semakin
membantu penyembuhan. -elain itu dari penelitian ada perbedaan reaksi infeksi M leprae
yang mengakibatkan gambaran klinis di berbagai suku bangsa. %al ini diduga disebabkan
faktor genetik yang berbeda.
1
Kusta merupakan penyakit yang menyeramkan dan ditakuti oleh karena dapat terjadi ulserasi,
mutilasi dan deformitas. Penderita kusta bukan menderita karena penyakitnya saja, tetapi juga
karena dikucilkan dari masyarakat disekitarnya. %al ini akibat kerusakan saraf besar yang
ire#ersibel di 'ajah dan ekstremitas, motorik dan sensorik, serta dengan adanya anestetik
disertai paralisis dan atrofi otot.
1
(.(. )tiologi
Kuman penyebab dari kusta adalah Mycobacterium leprae. M leprae merupakan basil tahan
asam berukuran panjang 4 8 9 :m dan lebar 0,. 8 0,4 :m. $enom M leprae ada ... juta
pasang, dengan kurang lebih 1300 gen.
.
(... Patogenesis
Pada tahun 1/30 -hepard berhasil menginoklusikan M leprae pada kaki mencit dan
berkembang biak di sekitar tempat suntikan. +ari berbagai sepesimen, bentuk lesi maupun
negara asal penderita, ternyata tidak ada perbedaan spesies. *gar dapat tubuh diperlukan
jumlah minimum M leprae di tempat suntikkan namun jumlah maksimal tidak berarti
meningkatkan perkembangbiakan.
Inokulasi pada mencit yang telah diambil timusnya dengan diikuti iradiasi /00 r, sehingga
kehilangan respon imun selularnya akan menghasilkan granuloma penuh kuman terutama di
bagian tubuh yang relatif dingin yaitu hidung, cuping telinga, kaki dan ekor. Kuman tersebut
selanjutnya dapat diinokulasikan lagi, berarti memenuhi salah satu postulat Koch, meskipun
belum seluruhnya dapat dipenuhi.
-ebenarnya M leprae mempunyai patogenisitas dan daya in#asi yang rendah, sebab penderita
yang mengandung kuman lebih banyak belum tentu memberikan gejala yang lebih berat,
bahkan dapat sebaliknya. Ketidak seimbangan antara derajat infeksi dengan derajat penyakit,
tidak lain disebabkan oleh respon imun yang berbeda, yang merangsang timbulnya
granuloma setempat dan menyeluruh yang dapat sembuh atau progresif. 2leh karena itu
penyakit kusta dapat disebut sebagai penyakit imunologik. $ejala klinis lebih sebanding
dengan tingkat reaksi selularnya daripada intesitas infeksinya.
1,.
elah sedikit dipahami mengenai perbedaan reaksi dari M leprae pada indi#idu yang berbeda.
Kromosom 10p1. merupakan lokus yang mengandung kode dari reseptor mannose , yang
mempunyai peranan penting pada rekasi selluler dari M leprae. Pada umumnya, kusta
ditemukan berkaitan dengan %!*4+;(.
(.4. $ejala Klinis
"ila kuman M leprae masuk kedalam tubuh seseorang dapat timbul gejala klinis sesuai
dengan kerentanan orang tersebut. "entuk tipe klinis bergantung pada sistem imunitas seluler
<-I-= penderita. "ila -I- baik akan tampak gambaran klinis ke arah tuberkuloid, dan bila
keadaan -I- nya rendah akan memberikan gambaran lepromatosa.
144
ipe I <indeterminate= tidak termasuk dalam spektrum. adalah tipe tuberkuloid polar
yakni tuberkuloid 1000 merupakan tipe yang stabil. >adi berarti tidak mungkin berubah tipe.
"egitu juga !! adalah tipe lepromatosa polar yakni lepromatosa 1000, juga merupakan tipe
yang stabil dan tidak mungkin berubah lagi. -edangkan tipe antara i dan !i disebut sebagai
tipe borderline, berarti campuran antara tuberkuloid dan lepromatosa. "" adalah tipe
cammpurang yang terdiri dari 500 tubekuloid dan 500 lepromatosanya. " dan i lebih
banyak tuberkuloidnya sementara "! dan !i lebih banyak lepromatosanya. ipe4tipe
campuran ini adalah tipe yang labil, berarti dapat bebas beralih tipe, baik ke arah maupun
ke arah !!. ?ona spektrum kusta menurut berbagai klasifikasi dapat dilihat di tabel di ba'ah
ini
abel 1. ?ona spektrum kusta menurut macam klasifikasi
Klasifikasi ?ona -pektrum Kusta
;idley dan
>opling
" "" "! !!
Madrid uberkuloid "orderline !epromatosa
1%2 Pausibasiler <P"= Multibasiler <M"=
Puskesmas P" M"
Multibasiler berarti mengadung banyak kuman yaitu tipe !!, "! dan "". -edangkan
pausibasiler berarti mengadung sedikit kuman, yakni tip , " dan I. "eberapa
perbandingan dari berbagai tipe tersebut dapat di lihat di tabel di ba'ah ini
abel (. $ambaran klinis, bakteriologik dan imunologik kusta multibasiler <M"=
-ifat !epromatosa <!!= "ordeline
!epromatosa <"!=
Mid "orderline <""=
!esi@
"entuk
>umlah
+istribusi
Permukaan
Makula
Infiltrat difus
Papul
&odus
idak terhitung,
praktis tidak ada
kulit sehat
-imetris
%alus berkilat
idak jelas
Makula
Plakat
Papul
-ukar dihitung,
masih ada kulit sehat
%ampir simetris
%alus berkilat
*gak jelas
Plakat
+ome4shaped <kubah=
Punched4out
+apat dihitung, kulit
sehat jelas ada
*simetris
*gak kasar, agak
berkilat
*gak jelas
"atas
*nestesia
idak ada sampai
tidak jelas
ak jelas !ebih jelas
"*
!esi kulit
-ekret hidung
"anyak <ada globus=
"annyak <ada
globus=
"anyak
"iasanya negatif
*gak banyak
&egatif
es !epromin &egatif &egatif "iasanya negatif
abel .. $ambaran klinis, bakteriologik dan imunologik kusta pausibasiler <P"=
-ifat uberkuloid <= "ordeline
uberculoid <"=
Indeterminate
<I=
!esi
"entuk
>umlah
+istribusi
Permukaan
"atas
*nestesia
Makula saja, makula
dibatasi infiltrat
-atu, dapat beberapa
*simetris
Kering bersisik
>elas
>elas
Makula dibatasi
infiltrat@ infiltrat saja
"eberapa atau satu
dengan satelit
Masih asimetris
Kering bersisik
>elas
>elas
%anya makula
-atu atau beberapa
Aariasi
%alus, agak berkilat
+apat jelas atau
dapat tidak jelas
ak ada sampai tidak
jelas
"*
!esi kulit
%ampir selalu
negatif
&egatif atau hanya
1B
"iasanya negatif
es lepromin Positif kuat <.B= Positif lemah +apat positif lemah
atau negati#e
Kusta Indeterminate merupakan kusta yang palin ringan dimana hanya sangat kecil atau
terbatas mempengaruhi saraf dan kulit. %anya ada sedikit bakteri yang ditemukan dan dengan
tes lepromin sering kali hanya memberikan positif lemah. +i ba'ah mikroskop, dapat dilihat
peradangan hanya minimal dan tidak tipikal. Kusta Indeteminate sering kali hanya pada satu
bagian tubuh, asimptomatik, berupa makula hipopigmentasi dengan diameter beberapa cm.
Kusta indeterminate sering kali ditemukan di 'ajah, punggung, permukaan ekstensor dari
ekstremitas. "ila multipel lesi yang terjadi penyebarannya tidak simetris. -ensasi kulit
mungkin sedikit berkurang namun fungsi dari kelenjar keringat masih normal. Penebalan
saraf biasanya hanya ditemukan pada satu saraf.
5
Kusta !epromatous merupakan kusta yang ditandai dengan adanya infeksi M. leprae yang
progresif dimana banyak bakteri yang ditemukan pada lesi kulit. !esi kulit umumnya
asimetris, kecil, bersinar dan umunya konfluen. PlaC infiltrat memiliki batas yang tidak tegas
dengan 'arna merah kecoklatan, dimana sering kali berubah tergantung 'arna kulit
penderita. empat yang sering terkena adalah 'ajah dengan infiltrasi di bagian depan kepala,
dagu, hidung, dan telinga yang sering mengakibatkan deformitas pada 'ajah yang disebut
leonine facies <lionDs face=. anda lain yang sering terjadi adalah madarosis. +engan
berkembangnya penyakit anestesia dan kekeringan kulit juga akan semakin parah. +aerah
tubuh yang hangat akan terhindar seperti bagian aEilla, inguinal, perineum, dan scalp.
Mukosa hidung merupakan bagian yang hampir selalu terserang. Kelainan kronik dari hidung
seperi hemorrhagic sering kali ditemukan pada penderita kusta di daerah endemis. -erangan
M. leprae pada hidung akan menganggu proses pernafasan dan merusak septum nasal dan
mengakibatkan hidung kehilangan substansinya <clo#er leaf nose=. Mukosa lain seperti bibir,
mulut dan laring juga dapat terkena infiltrasi dari M leprae. Infiltrasi juga dapat mengenai
mata dibagian konjungti#a, kornea dan badan ciliary.
5
Kerusakan saraf perifer umumnya muncul dalam 'aktu yang lama. Kerusakan saraf tepi
mulanya mengenai saraf sensoris dan umumnya simeteris di bagian ekstensor. Kehilangan
sensoris kemudian secara perlahan akan menyebar ke bagian tengah tubuh. ;asa sakit jarang
terjadi karna infeksi M leprae pada saraf sensoris. -araf otonom juga terkena dengan ditandai
adanya kehilangan fungsi dari kelenjar keringat dan kelainan #asomotor pembuluh darah tepi.
Pada lepromatous leprosi, terkenanya saraf motor yang besar lebih sering terjadi
dibandingkan lepra tipe tubekuloid. Pada keadaan lepra lepromatosa yang lebih berat bisa
mengakibatkan tangan dan kaki mengecil, karena terjadinya osteoporosis dengan fraktur
kompresi. *danya trauma yang tidak disadari penderita dan infeksi sekunder juga bisa
mengakibatkan kecacatan. "eberapa pasien memiliki limfeadenopathy. Infiltrat kadang4
kadang dapat ditemukan pada testis yang bisa mengakibatkan kemandulan dan
gynecomastia.
5
!epra tuberkuloid merupakan lepra yang terjadi dengan jumlah lepra yang tidak terlalu
banyak di tubuh dan keadaan sistem imun seluler tubuh penderita yang masih baik.
Kerusakan saraf juga terjadi tetapi tidak sistemik. !esi yang terjadi umumnya asimetris,
jumlahnya sedikit, dan menyebar dengan sangat pelan. Mulanya be'arna merah atau merah
keunguan, dan berupa makula atau papula. Kemudai secara perlahan membesar, dengan batas
yang tegas, dan memperlihatkan bagian tengah yang bersih dengan atrofi yang halus, bersisik
dan hipopigmentasi. Predileksi lesinya di bagian gluteus, punggung, 'ajah dan ekstensor
ekstremitas. %ilangnya sensasi, anhidrosis dan hilangnya rambut juga terjadi.
Inflamasi granul akan mengakibatkan kerusakan pada saraf tepi yang mengakibatkan
hilangnya fungsi saraf tersebut. $angguan fungsi sensoris merupakan kelainan saraf yang
a'al, selanjutnya dapat mengakibatkan paralisis dan akhirnya mengakibatkan atrofi otot.
Kerusakan pada saraf 'ajah juga dapat terjadi dan mengakibatkan kelainan ekpresi 'ajah
dimana 'ajahnya menjadi tidak berekspresi atau *ntonine facies. Paralisis pada otot4otot
#ocal juga dapa terjadi.
5
Masalah yang terberat daripada kusta tuberkuloid adalah bila kerusakan saraf mencapai di
bagian saraf yang menggerakan ekstremitar. -araf yang terkenan umumny adalah saraf yang
lebih superficialis dan mudah terkena trauma. Kerusakan saraf bisa mengenai &. ulnaris dan
& medialis yang mengakibatkan terjadinya perubahan tangan yang berbentuk cla'ing lateral
maupun medial. Pada kaki, bila yang terkena adalah sara peroneal akan mengakibatkan
terjadinya foot drop dan bila mengenai saraf tibialis posterior akan mengakibarkan terjadinya
anestesia pada telapak kaki. -ebagai hasil kerusakan saraf dapat mengakibatkan kulit yang
kering, proses penyembuhan yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, paralisis otot,
respon terhadap trauma yang kecil. +alam keadaan ini bila ada trauma kecil seperti
menginjak batu, atau bahkan karna trauma panas pada kulit, penderita tidak akan merasakan
apa4apa sehingga bisa mengakibatkan terjadi kerusakan yang besar.
Menurut 1%2 pada tahun 1/F1, kusta dibagi menjadi multibasiler dan pausibasiler. Gang
termasuk tipe multibasiler adalah tipe !!, "! dan "" pada klasifikasi ;idley4>opling dengan
indeks bakteri <I"= lebih dari (B sedangkan pausibasiler adalah tipe I, dan " dengan I"
kurang dari (B.
1
Hntuk kepentingan pengobatan pada tahun 1/F9 telah terjadi perubahan. Gang dimaksud
dengan kusta P" adalah kusta dengan "* negatif pada pemeriksaan kerokan jaringan kulit,
yaitu tipe4tipe I, , dan " menurut klasifikasi ;idley4>opling. "ila pada tipe4tipe tersebut
disertai dengan "* positif, maka akan dimasukkan kedalam kusta M". -edangkan kusta
M" adalah semua penderita kusta tipe "", "! dan !! atau apapun klasifikasi klinisnya
dengan "* positif harus diobati dengan rejimen M+4M".
1
Karena pemeriksaan kerokan jaringan kulit tidak selalu tersedia di lapangan, pada tahun
1//5. 1%2 lebih menyederhanakan klasifikasi klinis kusta berdasarkan hitung lesi kulit dan
saraf yang terkena. %al ini dapat di lihat di tabel di ba'ah ini
abel 4. "agan klinis menurut 1%2 <1//5=
-ifat P" M"
1. !esi kulit
<makula datar, papul yang
meninggi, nodus=
1 8 5 lesi
%ipopigmentasiIerit
ema
+istribusi tidak
simetris
%ilangnya sensasi
yang jelas
!ebih dari 5 lesi
+istribusi lebih
simetris
%ilangnya sensasi
kurang jelas
(. Kerusakan saraf
<menyebabkan hilangnya
sensasiIkelemahan otot
yang dipersarafi oleh saraf
yang terkena=
%anya satu cabang "anyak cabang
saraf
*ntara diagnosa secara klinis dan secara histopatologik, ada kemungkinan terdapat
persamaan maupun perbedaan tipe. Perlu diingat bah'a diagnosis klinis seseorang harus
didasarkan kepada hasil pemeriksaan kelainan klinis seluruh tubuh orang tersebut. -ebaiknya
jangan hanya didasarkan pemeriksaan sebagian tubuh saja, sebab ada kemungkinan diagnosis
klinis di 'ajah berbeda dengan tubuh, lengan, tungkai dan sebagainya. "ahkan pada satu lesi
<kelainan kulit= pun dapat berbeda tipenya. "egitu juga dengan dasar diagnosis
histopatologik, tergantung pada beberapa tempat dan dari tempat mana biopsinya di ambil.
-ebagaimana laJimnya dalam bentuk diagnosis klini, dimulai dengan inspkesi, palpasi, lalu
dilakukan pemeriksaan dengan alat yang sederhana misalnya jarum, kapas, tabung rekasi
masing4masing air panas dan air dingin, pensil tinta dan sebagainya.
1

Kelainan kulit pada penyakti kusta tanpa komplikasi dapat hanya berbentuk makula saja,
infiltrat saja atau keduaya. Kalau secara inspeksi mirip penyakit lain ada tidaknya anestesia
sangat banyak membantu penentuan diagnosis, mesikpun tidak selalu jelas. %al ini dengan
mudah dilakukan dengan menggunakan jarum terhadap rasa nyeri, kapas terhadap rasa raba
dan kalau masih belum jelas dengan kedua cara tersebut baruah pengujian terhadap rasa suhu
yaitu panas dan dingin dengan menggunakan ( tabung reaksi.
Hntuk mengetahui adanya kerusakan fungsi saraf otonom di daerah lesi yang dapat jelas dan
dapat pula tidak, yang dipertegas dengan menggunakan pensil tinta <tanda $una'an=. ,ara
menggoresnya mulai dari tengah lesi ke arah kulit normal. "ila ada gangguan, goresan pada
kulit normal akan lebih tebal bila dibandingkan dengan bagian tengah lesi. +apat pula
diperhatikan adanya alopesia di daerah lesi, yang kadang4kadang dapat membantu, tetapi bagi
penderita yang memiliki kulit berambut sedikit sangat sukar menentukannya. $angguan
fungsi motoris diperiksan dengan menggunakan Voluntary Muscle Test <AM=.
1
Kusta yang mengenai saraf perifer yang perlu diperhatikan ialah pembesaran, konsitensi, ada
atau tidaknya nyeri spontan dan nyeri tekan. %anya beberaoa saraf superfisial yang dapat dan
perlu diperiksa yaitu &. fasialis, &. aurikularis magnus, &. radialis, &. ulnaris, &. medianus,
&. poplitea lateralis dan &. tibialis posterior. "agi tipe ke arah lepromatosa kelainan saraf
biasanya bilateral atau menyeluruh, sedang bagi tipe tuberkuloid, kelainan sarafnya lebih
terlokalisasi mengikuti tempat lesinya.
1
+eformitas atau cacat yang disebabkan oleh kusta dapat dibedakang menjadi ( yaitu
deformitas primer dan deformitas sekunder. ,acat primer sebagai akibat langsung oleh
granuloma yang terbentuk sebagi reaksi terhadap M. leprae, yang mendesak dan merusak
jaringan di sekitarnya, yaitu kulit, mukosa traktus respiratorius atas, tulang4tulang jari, dan
'ajah. ,acat sekunder terjadi sebagai akibat adanya deformitas primer, terutama kerusakan
pada saraf baik saraf sensorik, motorik dan saraf autonom. ,acat sekunder dapat berupa
kontraktur sendi, mutilasi tangan dan kaki.
1
$ejala4gejala kerusakan saraf karena kusta diantaranya@
a. &. Hlnaris@
*nestesia pada ujung jari anterior kelingking dan jari manis
,la'ing kelingking dan jari manis
*trofi hipotenar dan otot interseus serta kedua otot lumbrikalis medial
b. &. medianus
*nestesia pada ujung jari bagian anterior ibu jari, telunjuk dan jari tengah
idak mampu aduksi ibu jari
,la'ing ibu jari, telunjuk dan jari tengah
Ibu jari kontraktur
*trofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
c. &. ;adialis
*nestesia dorsum manus, serta ujung proksimal jari telunjuk
angan gantung <'rist drop=
ak mampu ekstensi jari4jari atau pergelangan tangan
d. &. popliteal lateralis
*nestesia tungkai ba'ah, bagian lateral dan dorsum pedis
Kaku gantung <foot drop=
Kelemahan otot peroneus
e. &. tibialis posterior
*nestesia telapak kaki
,la' toes
Paralisis otot intrinsik kaki dan kolaps arkus pedis
f. &. fasialis
,abang temporal dan Jigomatik menyebabkan lagoftalmus
,abang bukal, mandibular dan ser#ikal menyebabkan kehilangan ekspresi
'ajah dan kegagalan mengatupkan bibir
g. &. trigeminus
*nestesia kulit 'ajah, kornea dan konjungti#a mata
*trofi otot tenar dan kedua otot lumbrikalis lateral
Kerusakan mata pada kusta juga dapat primer dan sekunder. Primer mengakibatkan alopesia
pada alis mata dan bulu mata, juga dapat mendesak jaringan mata lainnya. -ekunder
disebabkan oleh rusaknya &. fasialis yang dapat membuat paralisis &. orbikularis palpebarum
sebagian atau seluruhnya, mengakibatkan lagoftalmus yang selanjutnya, menyebabkan
kerusakan bagian4bagian mata lainnya. -ecara sendiri4sendiri atau bergabung akhirnya dapat
menyebabkan kebutaan.
Infiltrat granuloma ke dalam adneksa kulit yang terdiri atas kelenjar keringat, kelenjar palit
dan folikel rambut dapat mengakibatkan kulit kering dan alopesia. Pada tipe lepromatosa
dapat timbul ginekomastia akibat gangguan hormonal dan oleh karena infiltrasi granuloa
pada tubulus seminiferus testis.
1
Hntuk dapat membuat diagnosis klinis dan tipenya, perlu diketahui terlebih dahulu cara
membuat diagnosis kedua bentuk polat dan !! yang telah diuraikan secara sistematis
pada tabel 1 diatas.
Kusta dapat dibedakan menjadi kusta histoid dan kusta tipe neural@
a. Kusta %istoid
Kusta histoid merupakan #ariasi lesi pada tipe lepormatosa yang pertama
dikemukakan oleh 1*+) pada tahun 1/3.. -ecara klinis berbentuk nodus yag
berbatas tegas, dapat juga berbentuk plak. "akterioskopik positif tinggi.
Hmumnya timbul sebagai kasus relaps sensitif atau relaps resisiten.
b. Kusta tipe neural
Kusta tipe neural murni mempunayi tanda sebagai berikut@
idak ada dan tidak pernah ada lesi kulit
*da satu atau lebih pembesara saraf
*da anestesia dan atau paralisis, serta atrofi otot pada daerah yang
disarafinya
"akterioskopik negatif
es Mitsuda umumnya positif
Hntuk menentukan tipe, biasanya tipe tuberkuloid, borderline atau tipe
nonspesifik, harus dilakukan pemeriksaan histopatologik saraf.
;eaksi Kusta
;eaksi kusta adalah interupsi dengan episode akut pada perjalanan penyakit yang sebenarnya
sangat kronik. *dapun patofisiologinya belum diketahui dengan pasti sampai saat ini.
Mengenai patofisiologi yang belum jelas tersebut akan diterangkan secara imunologik.
+imana reaksi imun tubuh kita dapat menguntungkan dan merugikan yang disebut reaksi
imun patologik dan reaksi kusta tergolong di dalamnya. ;eaksi kusta dapat dibedakan
menjadi eritema nodosum leprosum <)&!= dan reaksi re#ersal atau reaksi upgrading.
1
)&! terutama timbul pada tipe lepromatosa polar dan dapat pula pada "!, berarti makin
tinggi tingkat multibasilarny makin besar kemungkinanan timbulnya )&!. -ecara
imunopatologis, )&! termasuk respon imun humoral, berupa fenomena kompelks imun
akibat reaksi antara antigen M leprae B antibodi <IgM K Ig$= B komplemen yang kemudian
akan menghasilkan komplek imun. +engan terbentuknya kompleks imun ini maka )&!
termasuk di dalam golongan penyakit komplek imun. Kadar antibodi imunoglobulin
penderita kusta lepromatosa lebih tinggi daripada tipe tuberkuloid. %al ini terjadi oleh karena
pada tipe lepromatosa jumlah kuman jauh lebig banyak daripada tipe tuberkuloid. )&! lebih
banyak terjadi pada saat pengobata. %al ini terjadi karena banyak kuman kusta yang mati dan
hancur yang kemudian kuman 8 kuman lepra ini akan menjadi antigen, dengan demikian
akan meningkatkan terbentuknya komplek imun. Kompleks imun ini terus beredar dalam
sirkulasi darah yang akhirnya dapat mengendap dan melibatkan berbagai organ.
1
Pada kulit akan timbul gejala klinis yang berupa nodus eritema, dan nyeri dengan tempat
predileksi di lengan dan tungkai. "ila mengenai organ lain dapat mengakibatkan gejala
seperti iridosiklitis, neuritis akut, limfadenitis, arthritis, orkitis, dan nefritis akut dengan
adanya proteinuria. )&! dapat disertai gejala konstitusi dari ringan sampai berat yang dapat
diterangkan secara imunologik.
Pada reaksi )&! tidak terjadi perubahan tipe kusta, lain halnya dengan reaksi re#ersal yang
terjadi pada kusta tipe borderline <!i, "!, "", ", i= sehingga dapat disebut reaksi
borderline. Gang memegang pernanan utama dalam reaksi kusta ini adalah sistem imunitas
seluler, yaitu bila terjadi peningkatan -I- yang mendadak. Meskipun faktor pencetusnya
belum diketahui pasti, diperkirakan ada hubungannya dengan reaksi hipersensiti#itas tipe
lambat. ;eaksi peradangan terjadi pada tempat4tempat kuman M leprae berada, yaitu pada
saraf dan kulit, umumnya terjadi pada pengobatan 3 bulan pertama. &euritis akut dapat
menyebabkan kerusakan saraf secara mendadak, oleh karena itu memerlukan pengobatan
segera yang memadai. -eperti yang sudah dijelaskan di atas yang memiliki peranan untuk
menentukan tipe kusta adalah -I-. ipe kusta yang termasuk borderline ini dapat berubah
menjadi tipe dan !! dengan mengikuti naik turunnya -I-, sebab setiap perubahan tipe
selalu terjadi perubahan -I- juga. "egitu pula reaksi re#ersal terjadi perpindahan tipe ke arah
dengan disertai peningkatan -I- hanya bedanya dengan cara mendadak dan cepat.
1
Penggunaan istilah do'ngrading untuk reaksi kusta saat ini sudah hampir tidak pernah
digunakan lagi, do'ngrading merupakan kata yang menggambarkan proses perubahan ke
arah lepromatosa.
$ejala klinis reaksi re#ersal ialah umumnya sebagian atau seluruh lesi yang telah ada
bertambah aktif dan atau timbul lesi baru dalam 'aktu yang relatif singkat. *rtinya lesi
hipopigmentasi menjadi eritema menjadi eritematosa, lesi makula menjadi infiltrat, lesi
infiltrat semakin infiltrat lagi, dan lesi lama menjadi bertambah luas. *danya gejala neuritis
akut perlu diperhatikan karena sangat menentukan prognosis dari pengobatan, bila ada
neuritis maka penggunaan kortikosteroid diperlukan untuk mengurangi reaksi peradangan.
Pada beberapa kasus kusta dapat ditemukan fenomena !ucio. 7enomena lucio merupakan
reaksi kusta yang sangat berat yang terjadi pada kusta tipe lepromatosa non nodular difus.
Kusta tipe ini terutama ditemukan di Meksiko dan *merika engah, di negara lain
pre#alensinya rendah. $ambaran klinis dapat berupa plak atau infiltrat difus, ber'arna merah
muda, bentuk rak teratur dan terasa nyeri. !esi terutama pada ekstremitas, kemudian meluas
ke seluruh tubuh. !esi yang berat akan semakin eritematosa, disertai purpura dan bula
kemudian dengan cepat terjadi nekrosis serta ulserasi yang nyeri. !esi lambat menyembuh
dan akhirnya terbentuk jaringan parut.
$ambaran histopatologik dari fenomena lucio menunjukkan nekrosis epidermal iskemik
dengan nekrosis pembuluh darah superfisial, edema, dan proliferasi enodetelial pembuh darah
lebih dalam. +idapatkan banyak basil M. leprae di endotel kapiler. 1alaupun tidak
ditemukan infiltrat polimorfonuklear seperti pada )&!, namun dengan imunofloureseni
tampak deposti imunoglobulin dan komplemen di dalam dinding pembuluh darah. iter
kompleks imun yang beredar dan krioglobulin sangat tinggi pada semua penderita.
(.9. Pengobatan
(.5. Pemeriksaan
Pada penyakit kusta pemeriksaan yang bisa dilakukan umumny adalah inspeksi, selain
itu pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan anestesi dengan
menggunakan jarum atau kapas seperti yang sudah dijelaskan di atas. Pemeriksaan juga
bisa dilakukan dengan pemeriksaan dengan menggunakan tinta. -elain pemeriksaan
terserbut ada beberapa pemeriksaan yang bisa dilakukan untuk menunjang diagnosa
kusta.
(.5.1. Pemeriksaan bakterioskopik <kerokan jaringan kulit=
Pemeriksaan bakterioskopin digunakan untuk membantu menegakkan diagnosis
dan pengamatan pengobatan. -ediaan dibuat kerokan jaringan kulit atau usapan
dan kerokan mukosa hidung yang di'arnai degan pe'arnaan terhadap basil tahan
asam <"*=, yaitu ?iehl4&eelsen. "akterioskopik negatif pada seorang penderita,
bukan berarti orang tersebut tidak mengandung kuman M. leprae.
1
Pertama4tama harus ditentukan lesi di kulit yang diharapkan paling padat oleh
kuman, setelah terlebih dahulu menentukan jumlah tempat yang akan diambil.
Mengenai jumlah lesi juga ditentukan oleh tujuannya yaitu untuk riset atau rutin.
Hntuk riset dapat diperiksa 10 tempat dan untuk rutin minimmal (44 lesi lain yang
paling aktif, berarti yang paling eritamtosa dan paling infiltratif. Pemilihan kedua
cuping telinga tersebut tanpa menghiraukan ada tidaknya lesi di tempat tersebut
oleh karena atas dasar pengalaman tempat tersebut diharapkan mengandung
kuman paling banyak. Perlu diingat bah'a setiap tempat pengambilan harus
dicatat, guna pengambilan ditempat yang sama pada pegamatan pengobatan untuk
dibandingkan hasilnya.
1
,ara pengambilan bahan dengan menggunakan skapel steril. -etelah lesi tersebut
didesinfeksi kemudian dijepit antara ibu jari dan jari telunjuk agar menjadi
iskemik, sehingga kerokan jaringan mengadung sedikit mungkin darah yang akan
menganggu gambaran sediaan. Irisan yang dibuat harus sampai di dermis
melampaui subepidermal clear Jone agar mencapai jaringan yang diharapkan
banyak mengadung sel Aircho' <sel lepra= yang didalamnya mengandung kuman
M. leprae. Kerokan jaringan itu dioleskan di gelas alas, difiksasi di atas api,
kemudian di'arnai dengan pe'arnaan yang klasik, yaitu ?iehl4&eelsen dan cara4
cara lain.
-ediaan mukosa hidung diperoleh dengan cara nose blo's, terbaik dilakukan pagi
hari yang ditampung dengan sehelai plastik. Perhatikan sifat cairang hidung
tersebut apakah cair, serosa, bening, mukoid, mukopurulen, purulen, ada darah
atau tidak. ,ara lain mengambil bahan kerokan mukosa hidung dengan alat
semacam skalpel kecil tumpul atau bahan olesan dengan kapas lidi. -ebaiknya
diambil di daerah septum nasi, selanjutnya dikerjakan seperti biasa.
-ediaan mukosa hidung sudah jarang dilakukan karena kemungkinan adanya M.
atipik, M. leprae tidak pernah positif kalau pada kulit negatif, bila diobati, hasil
pemeriksaan mukosa hidung negatif terlebih dahulu, rasa nyeri saat pengambilan.
1
M. leprae tergolong "*, akan tampak merah pada sediaan, dibedakan bentuk
utuh <solid=, batang terputus <fragmented= dan butiran <granuler=. "entuk solid
adalah kuman hidup, sedangkan fragmented dan granuler merupakan bentuk mati.
-ecara teori penting untuk membedakan bentuk solid dan nonsolid, berarti
membdekan antara M. leprae yang hidup dan yang mati. +alam praktik susah
untuk membedakan bentuk yang solid dan yang tidak solid karena dipengaruhi
banyak faktor.
Kepadatan M. leprae tanpa membedakan solid atau nonsolid pada sebuah sediaan
dinyatakan dengan Indek "akteri <I"= dengan nilai dari 0 sampai 3B menurut
;idley.
0 bila tidak ada "* dalam 100 lapangan pandang
1B bila 1410 "* dalam 100 !P
(B bila 1410 "* dalam 10 !P
.B bila 1410 "* rata4rata dalam 100!P
4B bila 114100 "* rata4rata dalam 1 !P
5B bila 10141000 "* dalam 1 !P
3B bila L 1000 "* rata4rata dalam 1 !P
Pemeriksaan dengan menggunakan mikroskop cahaya dengan minyak emersi pada
pembesaran lensa obyektif 100E. I" seseorang adalag I" rata4rata semua lesi yang
dibuat sediaan.
Indeks Morfologi <IM= adalah persentase bentuk solid dibandingkan denan jumlah
solid dan nonsolid.
;umus @
-yarat perhitungan@
>umlah minimal kuman tiap lesi 100 "*
I" 1B tidak perlu dibuat IM4nya karena untuk mendapatkan 100 "*
harus mencapai dalam 1000 sampai 10.000 lapangan pandang
Mulai dari I" .B harus dihitung IM4nya, sebab dengan I" .B maksimum
harus dicari dalam 100 lapangan.
*da pendapat bah'a jika jumlah "* kurang dari 100, dapat pula dihitung IM4
nya tetapi tidak dinyatakan dalam 0 tetap dalam pecahan yang tidak boleh
diperkecil atau diperbesat.
(.5.(. Pemeriksaan %istopatologik
-alah satu tugas makrofag adalah melakukan fagositosis, kalau ada kuman M
leprae masuk, tergantung pada sistem kekebalan seluler orang tersebut bila sistem
imunitas selulernya baik maka makrofag akan mampu memfagosit M. leprae.
+atangnya histiosit ketempat kuman disebabkan karena proses imunologik dengan
adanya faktor kemotaktik. Kalau datangnya berlebihan dan tidak ada lagi yang
harus difagosit, makrofag akan berubah menjadi sel epiteloid yang tidak dapat
bergerak dan kemudian akan dapat berubah menjadi sel datia !anghans. *danya
massa epiteloid yang berlebihan dikelilingi oleh limfosit yang disebut tuberkel
akan menjadi penyebab utama kerusakan jaringan dan cacat. Pada penderita
dengan -I- rendah atau lumpuh, histiosit tidak dapat menghancurkan M. leprae
yang sudah ada didalamnya, bahkan dijadikan tempat berkembang biak dan
disebut sel Aircho' atau sel lepra atau sel busa dan sebagai alat pengangkut
penyebarluasaan.
$ranuloma adalah akumulasi makrofag dan atau deri#at4deri#atnya. $ambaran
histopatologik tipe tuberkel dan kerusakan saraf yang lebih nyata, tidak ada
kuman atau hanya sedikit dan non4solid. Pada tipe lepromatosa terdapat kelim
sunyi subepidermal <subepidermal clear Jone=, yaitu suatu daerah langsung di
ba'ah epidermis yang jaringannnya tidak patologik. +idapati sel Aircho' dengan
banyak kuman. Pada tipe borderline, terdapat campuran unsur4unsur tersebut.
(.5... Pemeriksaan serologik
Pemeriksaan serologik kusta didasarkan atas terbentuknya antibodi pada tubuh
seseorang yang terinfeksi M leprae. *ntibodi yang terbentuk dapat bersifat
spesifik terhadap M. leprae yaitu antibodi anti phenolic glycolipid <P$!41= dan
antibodi antiprotein 13 k+ serta .5 k+.
-edangkan antibodi yang tidak spesifik antara lain antibodi anti4lipoarabinomanan
<!*M= yang juga dihasilkan oleh kuman M. tuberculosis.
Kegunaan pemeriksaan serologik ini ialah dapat membantu diagnosis kusta yang
meragukan karena tanda klinis dan bakteriologik tidak jelas. +isamping itu dapat
membantu menentukan kusta subklinis, karena tidak didapati lesi kulit misalnya
pada narakontak serumah. Macam4macam pemeriksaan serologik kusta lainnya
adalah@
Hji M!P* <mycobacterium leprae particle aglutination=
Hji )!I-* <)nJyme !inked Immuno4sorbent assay=
M! dipstick test <Mycobacterium leprae dipstick=
M! flo' test <Mycobacterium leprae flo' test=
(.3. +iagnosis "anding
+ermatofitosis
+ermatofitosis merupakan penyakit pada jaringan yang mengandung Jat tanduk,
misalnya stratum korneum pada epidermis, rambut dan kuku yang disebabkan
jamur golongan dermatofita. Hmumnya dermatofitosis pada manusia
disebabkan oleh jamur genus Microsporum, richophyton, dan )pidemophyton.
>amur ini dapat menyebabkan kelainan pada kulit, kuku dan rambut. &amun
untuk diagnosis pembanding dari lesi kulit karena lepra lebih mengarah ke tinea
korporis. Kelainan kulit yang dapat dilihat dari klinik merupakan lesi bulat atau
lonjong, berbatas tegas terdiri dari eritema, skuama, kadang4kadang dengan
#esikel dan papul di tepi lesi. +aerah tengahnya cendrung lebih tenang.
$ambaran kelainan pada dermatofitosis ini mirip dengan lesi kulit yang terjadi
pada leprae terutama dalam bentuk . Hntuk membedakannya kerokan dapat
dilakukan baik dengan K2% atau pe'arnaa ?iel4&eelsen. ,ara yang paling
mudah yaitu dengan menguji keadaan saraf sensoris pada kulit. Pemeriksaan
dengan 1oods light juga dapat digunaka untuk membedakan tinea korporis
yang disebabkan oleh M. canis yang memberikan 'arna be'arna hijau4kuning.
inea #ersikolor
inea #erikolor merupakan kelainan kulit yang disebabkan oleh MalasseJia
furfur. Merupakan penyakit jamur superfisial yang kronik, biasanya tidak
memberikan keluhan subyektif berupa bercak skuama halus yang ber'arna
putih sampai coklat hitam, terutama meliputi badan dan kadang4kadang dapat
menyerang ketiak, lipat paha, lengan, tungkai atas, leher, muka dan kulit kepala
yang berambut.
Kelainan pada pitiriasis #ersikolor juga dapat berupa lesi yang be'arna4'arni,
bentuk tidak teratur sampai teratur, batas jelas sampai difus. !esi pada leprae
kadang bisa sangat mirip dengan kelainan pitiriasis #ersikolor. api pada
pitiriasis #ersikolor akan memberikan flouresensi bila diberikan cahaya dengan
'oodDs light yaitu akan be'arna hijau4kebiruan. es sensibilitas saraf sensoris
juga dapat dilakukan untuk mebedakannya, kerokan juga bisa.
Pitriasis rosea
Pitiriasis rosea ialah penyakit kulit yang belum diketahui penyebabnya, dimulai
dengan sebuah lesi inisial berbentuk eritema dan skuama halus. Kemudian
disusul oleh lesi4lesi yang lebih kecil di badang, lengan dan paha atas yang
tersusun sesuai dengan lipatan kulit dan biasanya menyembuh dalam 'aktu .4F
minggu. $ejala konstitusi umumnya tidak terdapat, sebagian penderita
mengeluh gatal ringan. Penyakit dimulai dengan adanya lesi pertama <herald
patch=, umumnya di badan, solitar, berbentuk o#al dan anular diameternya kira4
kira . cm. ;uam terdiri dari eritema dan skuama halus dipinggir. !amanya
beberapa hari hingga beberapa minggu. !esi berikutnya timbul 4 8 10 hari
setelah lesi pertama hanya lebih kecil, susunannya sejajar dengan kosta, hingga
menyerupai pohon cemara terbalik. !esinya mirip dengan lesi pada kusta.
Pitriasis alba
Pitiriasi alba merupaja bentuk dermatitis yang tidak spesifik dan belum
diketahui penyebabnya. +itandai dengan adanya bercak kemerahan dan skauma
halus yang akan menghilang serta meninggalkan area yang depigmentasi.
erjadinya diduga karena infeksi dari -treptococcus, tetapi belum dapat
dibuktikan. Pitiriasis alba memiliki lesi yang berbentuk bulat, o#al atau plakat
yang tak teratur. 1arna merah muda atau sesuai 'arna kulit dengan skuama
halus. -etelah eritema hilang lesi dijumpai hanya depigmentasi dengan skuama
halus.
+ermatitis seboroika
+ermatitis seboroika dipakai untuk segolongan kelainan kulit yang didasari oleh
faktor konstitusi dan bertempat predileksi di tempat4tempat seboroik. Kelainan
kulit terdiri atas eritema dan skuama yang berminyak dan agak kekuningan,
batasnya agak kurang tegas. +.-. yang ringan hanya mengenai kulit kepala
berupa skuama4skuama yang halus, mulai sebagai bercak kecil yang kemudian
mengenai seluruh kulit kepala dengan skuama yang halus dan kasar. Kelainan
tersebut disebut pitiriasis sika <ketombe dandruff=. "entuk yang berminyak
disebut pitiriasis steatoides yang dapat disertai eritema dan krusta4krusta yang
tebal. ;ambut pada tempat tersebut mempunyai kecenderungan rontok, mulai di
bagian #erteks dan frontal.
Psoriasis
Psoriasis ialah penyakit yang penyebabnya autoimun, bersifat kronik dan
residif, ditandai dengan adanya bercak4bercak eritema berbatas tegas dengan
skuama yang kasar, berlapis4lapis dan transparanM disertai fenomena tetesan
lilin, *uspitJ dan Kobner. Kelainan kulit terdiri atas bercak4bercak eritema yang
meninggi <plak= dengan skuama di atasnya. )ritema sirkumskrip dan merata,
tetapi pada stadium penyembuhan sering eritema ditengah menghilang dan
hanya terdapat di pinggir. -kuama berlapis4lapis dan kasar dan be'arna putih
mika, serta transparan. "esar kelainan ber#ariasi.
&eurofibromatosis
$ranula anulare
Nantomatosis
-kleroderma
!eukimia kutis
uberkulosis kutis #erukosa
(.9. Pengobatan
2bat antikusta yang paling banyak dipakai pada saat ini adalah ++- <diamniodifeni sulfon=
kemudian kloafiJimin, dan rifampisin. Pada tahun 1//F 1%2 menambahkan . obat
antibiotik lain untuk pengobatan alternatif yaitu ofloksasin, minosiklin dan klaritromisin.
Hntuk mencegah resistensi pengobatan tuberkulosis telah menggunakan multi drug treatment
<M+= sejak 1/51, sedangkan untuk kusta baru dimulai pada tahun 1/91. Pada saat ini ada
berbagai macam dan cara M+ dan yang dilaksanakan di Indonesia sesuai rekomendasi
1%2, dengan obat alternatif sejalan dengan kebutuhan dan kemampuan. Gang paling
dirisaukan ialah resistensi terhadap ++- karena ++- adalah obat antikusta yang paling
banyak dipakai dan paling murah. 2bat ini sesuai dengan para penderita yang ada di negara
berkembang dengan sosial ekonomi rendah.
*danya M+ ini adalah sebagai usaha untuk@
Mencegah dan mengobat resistensi
Memperpendek masa pengobatan
Mempercepat pemutusan mata rantai penularan
Hntuk menyusun kombinasi obat perlu diperhatikan antara lain@
)fek terapeutik obat
)fek samping obat
Ketersediaan obat
%arga obat
Kemungkinan penerapannya
++-
++- merupakan obat pertama yang berhasil untuk mengobati M leprae yang dalam keadaan
dorman atau sleeping. +engan ++- kuman aktif kembali dan akhirnya bisa mati karena efek
++-. Memang ada beberapa kasus kusta yang resisten terhadap ++-, kusta yang resisten
terhadap ++- adalah tipe multibasiler tidak pernah dilaporkan ada kusta tipe pausibasiler
yang resisten terhadap ++-, karena pad kusta pausibasiler kadar -I- dalam darah penderita
tinggi dan tidak perlu 'aktu lama untuk membunuh kuman yang tersisa.
;esistensi terhadap ++- dapat primer maupun sekunder. ;esistensi primer terjadi pada
penderita yang ditulari oleh M leprae yang telah resisten dan manifestasinya dapat dalam
berbagai tipe <, ", "", "!, !!=, bergantung pada kadar -I- penderita. +erajat
resistensinya yang rendah dapat diobati degan dosis ++- yang lebih tinggi, sedangkan pada
derajat resistensi yang tinggi ++- tidak dapat dipakai lagi. ;esistensi dari ++- dapat terjadi
karena monoterapi ++-, dosis yang terlalu rendah, minum obat tidak teratur, minum obat
tidak adekuat baik dosis maupun lama pemberiannya, pengobatan terlalu lama, setelah 44(4
tahun.
)fek samping ++- antara lain nyeri kepala, erupsi obat, anemina hemolitik, leukopenia,
insomnia, neuropati perifer, sindrom ++-, nekrolisis epidermal toksis, hepatitis,
hipoalbuminemia dan methemoglibinemia.
;ifampisin
;ifampisin adalah salah satu obat yang menjadi sala satu komponen kombinasi ++- dengan
dosis 10 mg I kg berat badanM diberikan setiap hari atau setiap bulan. ;ifampisin tidak boleh
diberikan sebagai monoterapi, oleh karena memperbesar kemungkinan terjadinya resistensi,
tetapi pada pengobatan kombinasi selalu diikutkan tidak boleh diberikan setiap minggu
karena efek sampingnya. )fek samping yang dapat terjadi adalah hepatotoksik, nefrotoksik,
gejala gastrointestinal, flu4like syndrome, dan erupsi obat.
KlofaJimin <lamprene=
+osis sebagai antikusta adalah 50 mg setiap hari atau 100 mg selang sehari, atau . E 100 mg
setiap minggu. >uga bersifat antiinflamasti sehingga dpat digunakan pada )&! dengan dosis
yang lebih besar yaitu (004.00 mgIhari namun a'itan kerja baru timbul setelah (4. minggu.
;esistensi pertama pada satu kasus telah dibuktikan pada tahun 1/F(.
)fek sampingnya adalah perubahan 'arna kulit menjadi merah kecoklatan pada kulit dan
'arna kekuningan pada sklera, sehingga mirip ikterus, apalagi pada dosis yang lebih besar.
%al ini bisa terjadi karena KlofaJimin merupakan Jat 'arna yang dideposit terutama pada sel
sel sistem retikuloendotelial, mukosa dan kulit. Pigmentasi bersifat re#ersibel, meskipun
menghilangnya lambat sejak penggunaan obat dihentikan. )fek samping lain yang terjadi
karena penggunaan dosis besar adalah nyeri abdomen, nausea, diare, anoreksia, dan #omitus.
-elain itu dapat terjadi penurunan berat badan.
Protionamid
+osis diberikan 5410 mgIkg berat badan setiap hari, dan untuk Indonesia obat ini jarang
digunakan. +istribusi protionamid di dalam tubuh tidak merata sehingga kadar hambat
minimalnya sukat ditentukan.
2floksasin
2floksasin merupakan turunan fluorokuinolon yang panting aktif terhadap. Mycobacterium
leprae in #itro. +osis optimal harian adalah 400 mg. +osis tunggal yang diberikan dalam ((
dosis akan membunuh kuman Mycobacterium leprae hidup sebesar //,//0. )fek
sampingnya adalah mual, diare, dan gangguan saluran cerna lainnya, berbagai gangguan
susuanan saraf pusat termasuk insomnia, nyeri kepala, diJJiness, ner#ousness dan halusinasi.
1alaupun demikian hal ini jarang membutuhkan penghentian pemakainan obat.
Penggunaan pada anak, remaja, 'anita hamil dan menyusui haru hati4hati, karena dalam
percobaan pada he'an muda kuinolon mengakibtakan atropati.
Minosiklin
ermasuk kedalam golongan tertasiklin, mempunyai efek bakterisid yang lebih tinggi dari
pada klofaJimin tetapi lebih rendah dibandingkan rifampisin. +osis harian yang bisa
diberikan adalah 100 mg. )fek samping dari penggunaan minoksidil adalah sama seperti
tertrasiklin dapat mengakibatkan berubahnya 'arna gigi pada anak, kadang4kadang dapat
menyebabkan hiperpigmentasi kulit dan membran mukosa, berbagai saluran cerna dan
susunan saraf pusat, termasuk diJJined, dan unsteadiness. 2leh sebab itu minosiklin tidak
boleh diberikan pada anak4anak dan ibu yang hamil.
Klaritromisin
Merupakan kelompok antibiotik makrolif dan mempunyai akti#itas baktersid terhadap M
leprae. Pada penderita kusta lepromatosa dosis harian 500 mg dapat membunuh //0 kuman
hidup dalam (F hari dan lebih dari //,/0 dalam 53 hari. )fek diare yang terbukti sering
ditemukan bila obat ini diberikan dengan dosis (00 mg.
-ediaan obat4obat di atas merupakan obat dapat di sesuaikan dengan tipe dari kusta,
beberapa terapi kombinasi yang dapat dilakukan adalah@
M+ untuk multibasiler <"", "!, !! atau semua tipe dengan "* positif=
Hntuk kusta tipe multibasiler dapat digunaka@
;ifampisin 300 mg setiap bulan, dalam pengunaannya harus dia'asi
++- 100 mg setiap hari
KlofaJimin@ .00 mg setiap bulan, dalam penga'asan, diteruskan 50 mg sehari atau
100 mg selama sehari atau . kali 100 mg setiap minggu.
Mula4mula kombinasi obat ini diberikan (4 dosis dalam (4 sampai .3 bulan dengan
syarat bakterioskopis harus negatif. *pabila bakterioskopis harus negatif. *pabila
bakterioskopis masih positif, pengobatan harus dilanjutkan sampai bakterioskopis negatif.
-elama pengobatan dilakukan pemeriksaan secara kinis setiap bulan dan secara
bakterioskopis minimal setiap . bulan. >adi besar kemungkinan pengobatan kusta
multibasiler ini hanya selama ( sampai . tahun. %al ini adalah 'aktu yang relatif sangat
singkat dan dengan batasan 'aktu yang tegas, jika dibandingkan dengan cara sebelumnya
yang memerlukan 'aktu minimal 10 tahun sampai seumur hidup. Penghentian pemberian
obat laJim disebut ;elease 7rom reatment <;7=. -etelah ;7 dilakukan tindak lanjut
<tanpa pengobatan= secara klinis dan bakterioskopis tetap negatif dan klinis tidak ada
keaktifan baru, maka dinyatakan bebas dari pengamatan atau disebut ;eleas 7rom ,ontrol
<;7,=.
-aat ini, apabila secara klinis sudah terjadi penyembuhan, pemberian oral dapat
dihentikan, tanpa memperhatikan bakterioskopis.
M+ untuk pausibasilar <I, , " dengan "* negatif= adalah@
;ifampisin 300 mg setiap bulan, dengan penga'asan
++- 100 mg setiap hari
Keduanya diberikan dalam 3 dosis selama 3 bulan sampai / bulan, berarti ;7 setelah
34/ bulan sampai / bulan, berarti ;7 setelah 34/ bulan. -elama pengobatan pemeriksaan
secara klinis setiap bulan dan bakterioskopis. Kalau tidak ada keakti#an baru secara klinis,
dan bakterioskopis tetap negatif, maka dinyatakan ;7,.
-ejak tahun 1//5 1%2 tidak lagi menganjurkan pelaksaan ;7,. *pabila ;7 telah
tercapai tanpa memperhatikan hasil bakterioskopis, penderita tidak lagi dia'asi sampai ;7,,
'alaupun akhir4akhir ini banyak yang menganjurkan diberlakukan kembali antara lain untuk
menga'asi adanya reaksi dan relaps.
"erdasarkan klasifikasi 1%2 <1//9= untuk kepentingan pengobatan, penderita kusta
dibagi menjadi . grup, yaitu pausibasiler dengan lesi tunggal, pausibasiler dengan lesi (45
buah, dan penderita multibasiler dengan lesi lebih dari 5 buah.
-ebagai standar pengobatan. 1%2 )Epert ,ommittee pada tahun 1//F telah
memperpendek masa pengobatan menjadi 1( dosis dalam 1(41F bulan, sedangkan
pengobatan untuk kasus P" dengan lesi kulot (45 bulan tetap 3 dosis dalam 34/ bulan. "agi
kasus P" dengan lesi tunggal pengobatan adalah ;ifampisin 300 mg ditambah dengan
2floksasin 400 mg dan Minosiklin 100 mg <;2M= dosis tunggal.
Kalau susunan M+ tersebut tidak dapat dilaksanakan karena berbagai alasan, 1%2
)Epert ,ommittee pada tahun 1//F mempunyai rejimen untuk situasi khusus.
Penderita M" yang resisten dengan rifampisin biasanya akan resisten pula dengan ++-
sehingga hanya bisa mendapat klofa4Jimin. +alam hal ini rejimen pengobatan menjadi
klofaJimin 50 mg, ofloksasin 400mg dan minoksiklin 100 mg setiap hari selama 3 bulan,
diteruskan klofaJimin 50 mg ditambah ofloksasin 400mg atau minoksiklin 100 mg setiap hari
selama 1F bulan.
Pengobatan )&!
2bat yang paling sering dipakai ialah tablet kortikosterois, antara lain prednisolon. +osisnya
bergantung pada berat ringannya reaksi, biasanya prednisolon 154.0 mg sehari, kadang4
kadang lebih. Makin berat reaksinya makin tinggi dosisnya, tetapi perlu diberikan 154.0 mg
sehari, kadang4kadang lebih. Makin berat reaksinya makin tinggi dosisnya, tetapi sebaliknya
bia reaksinya terlalu ringan tidak perlu diberikan. -esuai dengan perbaikan reaksi, dosisnya
diturunkan secara bertahap sampai diberhentikan sama sekali. Perhatikan kontraindikasi
pemakaian kortikesteroid. +apat ditambahkan obat analgetik4antipiretik dan sedati#e atau
bila berat, penderita dapat menjalani ra'at4inap. *da kemungkinan kortikosteroid dapat
mengakibatkan ketergantungan, )&! akan timbul kalau obat tersebut dihentikan atau
diturunkan pada dosis tertentu, sehingga penderita ini harus mendapatkan kortikostreoid terus
menerus.
2bat yang dianggap sebagai obat pilihan pertama adalah talidomid, tetapi harus berhati4hati
karena mempunyai efek teratogenik. >adi tidak boleh diberikan kepada orang hamil atau masa
subur. +i Indonesia obat ini tidak didapat.
KlofaJimin kecuali kecuali sebagai obat antikusta dapat juga dipakai sebagai anti4reaksi
)&!, tetapi dengan dosis yang lebih tinggi. >uga bergantung pada berat ringannya reaksi,
makin berat makin tinggi dosisnya, biasanya antara (004.00 mg sehari. Khasiatnya lebih
lambat daripada kortikosteroid. >uga dosisnya diturunkan secara bertahap disesuaikan dengan
perbaikan )&!. Keuntungan lain klofaJimin dapat dipakai sebagai usaha untuk lepas dari
ketergantungan kortikosteroid. -alah satu efek samping yang tidak dikehendaki oleh banyak
penderita ialah bah'a kulit menjadi be'arna merah kecoklatan, apalagi pada dosis tinggi.
api masih bersifat re#ersible, meskipun menghilangnya lambat sejak obatnya dihentikan.
Masih ada obat4obat lain, tetapi tidak begitu laJim dipakai. -elama penaggulangan )&!
ini,obat4obat antikusta yang sedang diberikan diteruskan tanpa dikurangi dosisnya.
Pengobatan reaksi re#ersal
Perlu diperhatikan apakah reaksi ini disertai neuritis atau tidak. -ebab kalau tanpa neuritis
akut tidak perlu diberi pengobatan tambahan. Kalau ada neuritis akut, obat pilihan pertama
adalah kortikosteroid yang dosisnya disesuaikan dengan berat ringannya neuritis, makin berat
makin tinggi dosisnya. "iasanya diberikan prednisolon 40 mg sehari, kemudian diturunkan
perlahan4lahan. Pengobatan harus secepat4cepatnya dan dengan dosis yang adekuat untuk
mengurangi terjadinya kerusakan saraf secara mendadak. >arang terjadi ketergantungan
terhadap kortikosteroid. *nggota gerak yang terkena neuritis akut harus diistirahatkan.
*nalgetik dan sedati# kalau diperlukan dapat diberikan. KlofaJimin untuk reaksi re#ersal
kurang efektif, oleh karena itu tidak pernah dipakai, begitu juga talidomid tidak efektif untuk
reaksi re#ersal.
Pengobatan reaksi kusta yang dianjurkan -ub +irektorat Kusta 8 +irektorat >endral
Pengedalian Penyakit dan Penyehatan !ingkungan <PP K P!= +epartemen Kesehatan
Indonesia dapat dilihat skema di ba'ah ini.
abel 5. Pemberian Prednisolon
Minggu pemberian +osis harian yang dianjurkan
Minggu 1 8 ( 40 mg
Minggu . 8 4 .0 mg
Minggu 5 8 3 (0 mg
Minggu 9 8 F 15 mg
Minggu / 8 10 10 mg
Minggu 11 8 1( 5 mg
Pemberian lampren
)&! yang berat dan bekepanjangan dan terdapat ketergantungan pada steroid <pemberian
prednisolon tidak dapat diturunkan sampai 0=, perlu ditambahakn klofaJimin untuk de'asa
.00 mgI hari selama (4. bulan. "ila ada perbaikan diturunkan menjadi (00 mgIhari selama (4
. bulan. >ika ada perbaikan diturunkan menjadi 100mgIhari selama (4. bulan dan selanjutnya
kembali ke dosis klofaJimin semula, 50 mgIhari, kalau penderita masih dalam pengobatan
M+, atau dihentikan bila penderita sudah dinyatakan ;7. Pada saat yang sama, dosis
prednisolon diturunkan secara bertahap.
Pencegahan ,acat
,ara terbaik untuk melakukan pencegahan cacat atau pre#ention of disabilities <P2+=
adalah dengan melaksanakan diagnosis dini kusta, pemberian pengobatan M+ yang
cepat dan tepat. -elanjutnya dengan mengenali gejala dan tanda reaksi kusta yang disertai
gangguan saraf serta memulai pengobatan dengan kortikosteroid sesegera mungkin. "ila
terdapat gangguan sensibilitas, penderita diberi petunjuk sederhana misalnya memakai
sepatu untuk melindungi kaki yang telah terkena, memakai sarung tangan billa bekerja
dengan benda yang tajam atau panas, dan memakai kacamata untuk melindungi matanya.
-elain itu diajarkan pula cara pera'atan kulit sehari4hari. %al ini dimulai dengan
memeriksa sehari4hari. %al ini dimulai dengan memeriksa ada tidaknya memar, luka ,
atau ulkus. -etelah itu tangan dan kaki direndam, disikat dan diminyakyi agar tidak
kering dan pecah.
1%2 )Epert ,ommittee on !eprosy membuat klasifikasi cacat pada tangan, kaki dan
mata bagi penderita kusta. Pada pertemuan yang ketujuh <1/99= dibuat amandemen
khusus untuk mata, hal ini dapat di lihat pada tabel di ba'ah ini.
1
,acat pada tangan dan kaki
ingkat 0 idak ada gangguan sensibilitas, tidak ada
kerusakan atau deformitas yang terlihat
ingkat 1 *da gangguan sensibilitas, tanpa kerusakan
atau deformitas yang terlihat
ingkat ( erdapat kerusakan atau deformitas
,acat pada mata
ingkat 0 idak ada kelainanIkerusakan pada mata
<termasuk #isus=
ingkat 1 *da kelainanIkerusakan pada mata, tetapi
tidak terlihat, #isus sedikit berkurang
ingkat ( *da kelainan mata yang terlihat <misalnya
lagoftalmus, iritis, kekeruhan kornea= dan
atau #isus sangat terganggu.
;ehabilitasi
Hsaha rehabilitasi medis yang dapat dilakukan untuk cacat tubuh ialah antara lain dengan
jalan operasi dan fisioterapi. Meskipun hasilnya tidak sempurna kembali ke asal, tetapi
fungsinya dan secara kosmetik dapat diperbaiki. ,ara lain ialah dengan cara kekaryaan
yaitu dengan memberi lapangan pekerjaan yang sesuai untuk cacat tubuhnya, sehingga
dapat berprestasi dan dapat meningkatkan rasa percaya diri selain itu dapat dilakukan
terapi psikologik.
(.F Prognosis
Pada kasus kusta yang tidak diterapi, pasien yang bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan
adalah pasien yang mengidap kusta tipe dan " yang berkembang menjadi .
-ementara yang lainnya akan terjadi perkembangan secara progresif. $ejala yang timbul
sering kali karena cedera saraf dan fase reaksi.
", "", "!, !!s bisa berkembang menjadi lebih buruk upgrade, sementara ", "" dan
"! yang do'ngrading akan dapat sembuh sendiri. "!, !!s, dan !!p bisa berkembang
mejadi )&!. &eutritis perifer sering kali mengakibatkan kerusakan saraf sensoris permanen
dan susah untuk ditangan, hanya dapat dikurangi peradangannya dengan kortikosteroid.
.
Bab 3. Penutup
3.1. Kesimpulan
Kusta