Anda di halaman 1dari 20

Tugas Ilmu Penyakit Dalam Hewan Kecil

GANGGUAN GASTROINTESTINAL YANG


DISEBABKAN OLEH BAKTERI PADA
HEWAN KECIL

Oleh:

Yusni Mulyana
Sari Ramadhani
Tesha Aprilya Putri
Jamilatun Hidayah
Dedy sahputra
Riky Suhendra
Wahyu Sihombing
Williana Darmawan


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2013
GANGGUAN GASTROINTESTINAL YANG DISEBABKAN OLEH
BAKTERI PADA HEWAN KECIL

PENDAHULUAN
Gastrointestinal ialah suatu kelainan atau penyakit pada jalan makanan/pencernaan.
Penyakit Gastrointestinal yang termasuk yaitu kelainan penyakit kerongkongan (eshopagus),
lambung (gaster), usus halus (intestinum), usus besar (colon), hati (liver), saluran empedu
(traktus biliaris) dan pankreas(Sujono Hadi, 2002).
Penyakit gastrointestinal ialah suatu kelainan atau penyakit pada jalan
makanan/pencernaan. Penyakit Gastrointestinal yang termasuk yaitu kelainan penyakit
kerongkongan (eshopagus), lambung (gaster), usus halus (intestinum), usus besar (colon),
hati (liver), saluran empedu (traktus biliaris) dan pankreas (Sujono Hadi, 2002).
Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan, yang meliputi rongga mulut,
faring, kerongkongan, lambung, dan usus, dan sejumlah struktur yang terkait dan kelenjar
seperti gigi, kelenjar ludah, hati, dan pankreas. Organ-organ ini mengkonsumsi makanan,
mencernanya, menyerap nutrisi, dan menghilangkan limbah yang tidak diserap.
Pencernaan makanan ialah suatu proses biokimia yang bertujuan mengolah makanan
yang dimakan menjadi zat-zat yang mudah dapat diserap oleh selaput-selaput lendir usus,
bilamana zat-zat tersebut diperlukan oleh badan(Sujono Hadi, 2002).
Banyak faktor penyebab gangguan pada Sistem Pencernaan, antara lain :
Pola makanan yang salah.
Infeksi bakteri dan mikroba lainnya atau organisme cacing dll.
Karena adanya kelainan pada alat pencernaan makanan baik pada saluran maupun
kelenjarnya, pada salurannya artinya pada organ yang dilalui makanan ada gangguan
misalnya ada tumor / kanker , infeksi , pelebaran pembuluhnya atau ada materi yang
macet di saluran itu , sedang pada organ kelenjar yang tidak dilalui makanan namun
membantu pencernaan, kelenjar itu misalnya terkena infeksi , terkena kanker dll.

PEMBAHASAN
Beberapa penyakit gastrointestinal yang disebabkan oleh bakteri antara lain :
1. Diare (Diarrhea)
Diare adalah gangguan pencernaan yang terjadi akibat pergerakan yang cepat dari
materi tinja di sepanjang usus besar. Penderita diare akan mengalami rangsangan terus-
menerus untuk buang air besar. Namun fesesnya masih mengandung air yang berlebihan.
Penyebab terjadinya diare dapat berupa infeksi virus ataupun racun bakteri jenis Bacillus.
Penderita diare akan cepat sembuh dalam beberapa hari dengan mengkonsumsi makanan dan
air yang cukup, dan dapat ditambahkan pula garam elektrolut pada air yang diminum. Namun
penyakit ini akan menyebabkan dehidrasi yang parah dan dapat mengancam jiwa jika tanpa
perawatan.

Gambar 1. Sistem gastrointerstinal pada anjing.
Berdasarkan mekanismenya, diare dibedakan menjadi dua, yaitu diare akibat
gangguan absorbsi dan diare akibat gangguan sekresi. Menurut lamanya, diare dibedakan
menjadi diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari, diare persisten yang berlangsung
lebih dari 14 hari, dan diare kronik berlangsung lebih dari 14 hari dan
berlangsung intermitten
Diare akut disebabkan 90% oleh infeksi bakteri dan parasit sedangkan yang lain dapat
disebabkan oleh obat-obatan dan bahan-bahan toksik. Diare ditularkan fekal oral. Faktor
penentu terjadinya diare akut sangat dipengaruhi oleh faktor pejamu (host), yaitu faktor yang
berkaitan dengan kemampuan pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme dan faktor
penyebab (agent), yang berkaitan dengan kemampuan mikroorganisme dalam menyerang
sistem pertahanan tubuh host.
Protozoa menimbulkan kerusakan sel-sel epitel usus karena berproliferasi secara
intraseluler dan diantaranya yang sering menyerang terutama pada anak anjing adalah giardia
dan coccidia. Sedangkan penyebab diare oleh bakteri diantaranya E. coli, salmonella dan
campylobacter. Keistimewaan bakteri selain menyebabkan kerusakan sel epitel usus sehingga
terjadi malabsorpsi, juga dapat menyebabkan septikemia (peredaran bakteri patogen dalam
pembuluh darah) serta dapat menghasilkan enterotoksin sebagai hasil buangan
metabolismenya. Pada umumnya penularan bakteri maupun protozoa dapat terjadi melalui
makanan yang tercemar disamping itu juga bersifat zoonosis (dapat menular pada manusia).

Gambar 2. Bakteri didalam gastrium.
Diare terjadi akibat pergerakan yang cepat dari materi tinja sepanjang usus besar.
Pada diare, infeksi paling luas terjadi pada usus besar dan pada ileum. Dimanapun infeksi
terjadi, mukosa akan teriritasi secara luas sehingga kecepatan sekresinya sangat tinggi. Diare
ada yang disebabkan oleh bakteri kolera dan terkadang oleh bakteri lain seperti Bacillus,
patogen usus besar. Toksin kolera menstimulus sekresi elektrolit dan cairan yang berlebihan
dari ileum dan usus besar.

Gambar 3. Proses regulasi penyerapan air dalam usus halus.

Patogenesis diare yang disebabkan oleh bakteri adalah :
Bakteri masuk melalui makanan atau minuman ke lambung sebagian ada yang mati
karena asam lambung dan sebagian lolos bakteri yang lolos masuk ke duodenum bakteri
berkembang biak (di duodenum) memproduksi enzim mucinase sehingga berhasil
mencairkan lapisan lendir dengan menutupi permukaan sel epitel usus bakteri masuk ke
dalam membrane bakteri mengeluarkan toksin mengeluarkan CAMP (meningkatkannya),
yang berfungsi untuk merangsang sekresi cairan usus dibagian kripta villi & menghambat
cairan usus dibagian apikal villi terjadi rangsangan cairan yang berlebihan, volume cairan
didalam lumen usus meningkat dinding usus berkontraksi terjadi hiperperistaltik cairan
keluar (diare).
Untuk diare akut, patogenesis diare yang disebabkan oleh bakteri dibedakan menjadi
dua: bakteri non invasif, yaitu bakteri yang memproduksi toksin yang nantinya toksin
tersebut hanya melekat pada mukosa usus halus & tidak merusak mukosa. Bakteri non
invasif, memberikan keluhan diare seperti air cucian beras dan disebabkan oleh bakteri
enteroinvasif, yaitu diare yang menyebabkan kerusakan dinding usus berupa nekrosis dan
ulserasi, secara klinis berupa diare bercampur lendir dan darah.


Berikut ini beberapa jenis tumbuhan obat yang dapat digunakan untuk mengatasi
diare, yaitu:
PATIKAN KEBO (Euphorbia hirta)
Khasiat & Efek : sebagai antiradang. Berkhasiat mengatasi disentri basiler, disentri
amuba, diare, gangguan pencernaan, radang usus, dan lain-lain.
DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava)
Khasiat & Efek : sebagai astringent/pengelat (mengerutkan selaput lendir usus
sehingga dapat mengurangi pengeluaran cairan), anti-diare, disentri, anti-radang, dan
menghentikan pendarahan.
SAMBILOTO (Andrographis paniculata)
Khasiat & Efek : sebagai antiradang, antibakteri, penawar racun. berkhasiat mengatasi
diare, disentri basiler, radang usus, dan lain-lain.
KUNYIT (Curcuma longa)
Khasiat & efek : sebagai anti-radang, anti-bakteri, astringent/pengelat. Berkhasiat
mengatasi disentri, diare, radang usus, gangguan pencernaan, dan lain-lain.
KROKOT (Portulaca oleracea)
Efek & khasiat : antiradang, menurunkan panas, antitoksik. Untuk disentri, diare akut,
radang usus buntu, dan lain-lain.
KULIT DELIMA (Punica granatum)
Khasiat & Efek: sebagai astingent/pengelat, anti-diare dan disentri, antibakteri.
TEH (Thea chinensis)
Khasiat & efek : sebagai pengelat usus/astringent, anti-bakteri. Teh pekat Berkhasiat
mengatasi diare, disentri, radang usus, gangguan pencernaan.
Dosis : 10-15 gram kering atau 60-120 krokot segar, direbus, airnya diminum.
DAUN SENDOK (Plantago major)
Efek & Khasiat : sebagai antiradang, berkhasiat mengatasi diare, disentri panas,
disentri basiler, gangguan pencernaan, dan lain-lain

Flatus
Flatus adalah gas-gas berupa udara yang tertelan, gas yang dihasilkan bakteri, atau gas
dari difusi darah yang masuk ke dalam saluran pencernaan. Gas-gas ini dapat dikeluarkan
melalui rektum lalu anus atau juga dengan bersendawa. Nitrogen adalah gas dengan
komposisi terbesar, diikuti dengan karbon dioksida. Gas-gas lainnya adalah berupa oksigen,
hydrogen sulfide, ammonia, dan metana. Namun terjadinya flatus lebih sering diakibatkan
oleh produksi dari bakteri di saluran cerna atau usus besar berupa hidrogen dan atau methan
pada keadaan banyak mengkonsumsi kandungan gula dan polisakarida. Contoh gula adalah
seperti laktosa (gula susu) , sorbitol sebagai pemanis rendah kalori, dan fruktosa pemanis
yang biasanya digunakan pada permen dan minuman.
Masuknya gas gas dalam saluran pencernaan. Gas gas tersebut berupa udara yang
tertelan, gas yang dihasilkan bakteri atau gas dari difusi darah yang masuk ke saluran
pencernaan. Gas nitrogen dan oksigen lebih banyak berada dalam lambung dan dapat
dikeluarkan dengan bersendawa, sedngkan gas-gas lain, yaitu CO2, metana dan hydrogen
lebih banyak berada dalam usus besar yang dihasilkan oleh bakteri.
Secara normal, orang akan mengeluarkan gas satu liter setiap harinya. Penyebab
utama terbentuknya flatus adalah karena udara yang tertelan, hasil samping dari makanan dan
minuman yang kita konsumsi tiap harinya, konstipasi, obat-obatan dan suplemen, kondisi
kesehatan, dan perubahan hormon.
Diagnosis Flatus
Untuk mengatasi sendawa, kembung dan flatus beberapa hal yang harus diteliti adalah:
Riwayat penyakit
Jika kembung berkesinambungan pembesaran organ dalam abdomen, cairan
abdomen, tumor, atau kegemukan mungkin menjadi penyebabnya. Jika kembung
terjadi bersamaan dengan meningkatnya flatus hal ini biasanya disebabkan oleh
aktifitas bakteri. Riwayat diet seperti susu atau olahan susu, sorbitol, laktosa,
kemungkinan tidak tercernanya gula dengan baik dapat juga menyebabkan kembung.
Pemeriksaan dengan sinar X
Pemeriksaan pengosongan lambung
USG, CT scan, dan MRI
Test Gangguan penceraan dan gangguan penyerapan
Test nafas dengan hidrogen dan methan


Mengatasi Flatus
Untuk mengatasi peningkatan gas dalam saluran cerna tergantung dari penyebabnya.
Jika peningkatan gas disebabkan oleh sakit maag maka penyakitnya sendiri harus diatasi
dulu. Selain itu pemberian simeticone juga mampu mengatasi gas.Jika akibat konsumsi gula
yang berlebihan seperti laktosa, sorbitol, dan fruktosa dapat diatasi dengan menghindari
bahan tersebut dari diet sehari-hari. Jika akibat intoleransi laktosa dapat ditambahkan enzim
sehingga laktosa dapat dimetabolisme dengan baik.
Minum yoghurt dengan kandungan laktosa yang sebagian dapat dicerna oleh bakteri
juga mengasilkan gas yang lebih sedikit dibanding susu. Pertumbuhan bakteri yang
berlebihan biasanya diterapi dengan pemberian antibiotik. Namun terapi ini kurang efektif
dan bersifat sementara, dapat juga dengan pemberian probiotik.
2. Apendisitis (Appendicitis)
Apendisitis atau yang lebih dikenal dengan penyakit usus buntu adalah peradangan
yang terjadi pada apendiks (umbai cacing). Gangguan ini disebabkan oleh bakteri. Usus
buntu memang bukan merupakan alat pencernaan dan fungsinya juga belum diketahui secara
pasti, namun jika terjadi peradangan pada organ tersebut akan menimbulkan gejala-gejala
seperti mual, muntah, dan nyeri yang hebat di perut kanan bagian bawah. Umumnya
apendisitis ditangan dengan pembedahan, untuk mencegah terjadinya bengkak atau
peradangan pada selaput rongga perut (peritonitis).

Gambar 4. Appendicitis pada manusia.
Appendiks adalah ujung seperti jari yang kecil panjangnya kira-kira 10 cm 94 inci),
melekat pada sekum tepat di bawah katup ileosekal. Appendiks berisi makanan dan
mengosongkan diri secara teratur ke dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif dan
lumennya kecil, appendiks cenderung menjadi tersumbat dan rentan terhadap infeksi.
(Mansjoer Arif, 2000)
Apendisitis merupakan inflamasi apendiks yaitu suatu bagian seperti kantung yang
non fungsional dan terletak di bagian inferior seikum. Apendisitis akut adalah penyebab
paling umum inflamasi akut pada kuadran bawah kanan rongga abdomen, penyebab paling
umum untuk bedah abdomen darurat.Adapun pengertian Apendisitis yang lainnya adalah
peradangan akibat infeksi pada usus buntu atau umbai cacing (apendiks (Smeltzer, 2002)
Appendiksitis perforasi adalah merupakan komplikasi utama dari appendiks, dimana
appendiks telah pecah sehingga isis appendiks keluar menuju rongga peinium yang dapat
menyebabkan peritonitis atau abses.
Appendiktomi adalah pengangkatan terhadap appendiks terimplamasi dengan
prosedur atau pendekatan endoskopi.
Etiologi
Penyebab belum pasti
Faktor yang berpengaruh:
o Obstruksi: hiperplasi kelenjar getah bening (60%), fecalit (massa keras dari feses)
35%,
o Corpus alienum (4%), striktur lumen (1%).
o Infeksi: E. Coli dan steptococcus.
o Tumor
Penyebab utama appendiks adalah obstruksi atau penyumbatan yang dapat disebabkan
oleh :
Fecalith ( massa fecal yang keras )
Benda asing
Tumor
Stenosis
Perlekatan
Spasme otot spinchter antara perbatasan appendiks dan seikum
Hiperflasia jaringan limfoid yang biasa terjadi pada anak-anak
Bendungan appendiks oleh adhesi
Penyebab lain appendicitis adalah infeksi yang disebabkan oleh kuman kuman seperti
Escherichia coli (80%), Streptokokus tapi kuman yang lain jarang terjadi.

3. Enteritis
Peradangan pada usus halus atau usus atau usus besar karena infeksi oleh bakteri.
Etiologi
Enteritis adalah suatu proses radang usus yang berjalan akut atau kronis, akan
menyebabkan peningkatan peristaltik usus, kenaikan jumlah sekresi kelenjar pencernaan serta
penurunan proses penyerapan cairan maupun penyerapan sari-sari makanan didalamnya.
Gejala
o Anoreksia
o Dehidrasi
o Diare
Bakteri yang menyebabkan enteritis antara lain Eschericia coli, Salmonella spp,
Campylobacter, Clostridium perfringen. E. coli merupakan mikroflora normal dalam usus
sebagian besar mamalia. E. coli dapat menyebabakan infeksi akut anak pada anjing umur satu
minggu, sedangkan pada anak anjing yang lebih besar maupun anjing dewasa E. coli
menyebabkan penyakit sporadik yang disertai oleh agen infeksius lain.
Gejala klinis tersebut diikuti pula oleh perubahan patologi anatomi, dimana pada
colibacillosis bentuk diare ditemukan usus yang mengalami peradangan (enteritis).Perasaan
sakit karena adanya radang usus bersifat bervariasi, tergantung pada jenis hewan yang
menderita serta derajat radang yang dideritanya.

Pemeriksaan Patologi Anatomis
- Pemeriksaan Feses.
- Pemeriksaan Darah.


Diagnosa
Pemeriksaan laboratorium sangat diperlukan untuk menentukan penyebab radang
usus.

Pengobatan
Untuk mengatasi penyebab primer penyakit enteritis, perlu dipertimbangkan
pemberian protektiva, adstrigensia.Pemberian analgesika, atau tranquilizer.

4. Tukak Lambung / Maag

Gambar 4. Penyakit tukak lambung.
Tukak lambung adalah pengrusakan selaput lendir. Tukak lambung dapat disebabkan
oleh faktor-faktor kuman, toksin ataupun psikosomatis. Kecemasan, ketakutan, stres dan
kelelahan merupakan faktor psikosomatis yang akhirnya dapat merangsang pengeluaran HCI
di lambung. Jika HCI berlebihan, selaput lendiri lambung akan rusak.
Dinding lambung diselubungi mukus yang di dalamnya juga terkandung enzim. Jika
pertahanan mukus rusak,enzim pencernaan akan memakan bagian-bagian kecil dari lapisan
permukaan lambung. Hasil dari kegiatan iniadalah terjadinya tukak lambung. Tukak lambung
menyebabkan berlubangnya dinding lambung sehingga isilambung jatuh di rongga perut.
Sebagian besar tukak lambung ini disebabkan oleh infeksi bakteri jenis tertentu.
5. Peritonitis
Peritonitis merupakanperadangan pada selaput perut (peritonium). Gangguan lain
adalah salah cerna akibat makan makanan yangmerangsang lambung, seperti alkohol dan
cabe yang mengakibatkan rasa nyeri yang disebut kolik. Sedangkan produksi HCl yang
berlebihan dapat menyebabkan terjadinya gesekan pada dinding lambung dan usus
halus,sehingga timbul rasa nyeri yang disebut tukak lambung. Gesekan akan lebih parah
kalau lambung dalamkeadaan kosong akibat makan tidak teratur yang pada akhirnya akan
mengakibatkan pendarahan padalambung. Gangguan lain pada lambung adalah gastritis atau
peradangan pada lambung. Dapat pula apendiksterinfeksi sehingga terjadi peradangan yang
disebut apendisitis.


Sindroma gastroenteritis Haemorragika pada anjing
Enteritis haemorragika perakut pada anjing dicirikan dengan onset yang cepat dan
tiba-tiba. Diare disertai perdarahan, muntah, dan hipovolemia dengan penurunan cairan
elektrolit yang sangat drastis (Smith dan Tilley 2000).
Patofisiologi
Menurut Smith dan Tilley (2000), banyak kondisi yang dapat menyebabkan diare
haemorragis, tetapi sindroma gastroenteritis haemorragika pada anjing muncul dengan gejala
klinis unik dan khas yang membedakannya dengan beberapa faktor penyebab lain. Sindroma
gastroenteritis haemorragika dikarakteristikkan oleh hilangnya integritas mukosa intestinal
secara perakut yang disertai perpindahan darah, cairan, dan elektrolit secara cepat menuju
lumen usus. Hal ini menyebabkan kejadian dehidrasi dan shock terjadi secara cepat.
Perpindahan ini juga menyebabkan perpindahan bakteri dan toksin melalui mukosa intestinal
yang rusak sehingga menyebabkan shock septik atau endotoxic.
Predisposisi breed anjing
Semua jenis anjing dapat terserang sindroma ini, tetapi kejadian terbesar dialami oleh
anjing jenis kecil, yaitu miniatur Schnauzer, Dachshund, Yorkshire terrier, dan miniatur
Poodle. Sindroma ini umumnya menyerang anjing dewasa sekitar umur 5 tahun (Smith dan
Tilley 2000).
Gejala klinis
Gejala klinis dari sindroma ini umumnya terjadi secara perakut yang disertai dengan
shock hipovolemik. Gejala umumnya diawali dengan adanya muntah akut, anorexia. Dan
depresi yang kemudian diikuti dengan diare berdarah. Gejala berjalan cepat, biasanya 8-12
jam kemudian hewan mengalami shock hipovolemik dan hemokonsentrasi. Pada saat
phisycal examination pasien biasanya mengalami depresi, lemah, turgor kulit buruk,
mengalami perpanjangan waktu pengisian kapiler (capillary refile time), serta tekanan
pulsusnya lemah. Pada saat melakukan palpasi abdominal hewan akan merasa sakit dan
genangan abdominal akan terdeteksi. Daerah sekitar anus kotor dan terlihat adanya feses
bercampur darah yang tersisa. Pada kejadian ini terkadang hewan mengalami demam, tetapi
biasanya temperatur normal atau bahkan subnormal.

Faktor penyebab
Etiologi sindroma ini tidak diketahui, tetapi sindoma ini bisa disebabkan oleh
endotoksik, shock anafilaksis, mekanisme mediator imunitas, agen infeksius seperti
Clostridium perfringens dan Eschirichia coli.
Differensial diagnosa
Differensial diagnosa dari sindroma ini adalah parvovirus, salmonellosis, obstruksi
atau intussuception intestinal, hypoadrenocorticm, pankreatitis, coagulopathy.
Diagnosa penunjang
Sindroma ini umumnya hemokensentrasi dengan Pack cell volume (PCV) lebih dari
60%, terkadang sampai 75%. Sindroma ini juga mengalami stress leukogram. Pada saat cek
feses dengan ELISA untuk parvovirus hasilnya negatif, fecal cytologi akan menunjukkan
banyak sel darah merah dan mungkin spora dari Clostridium perfringens. Pada hasil
Roentgen akan memperlihatkan cairan dan gas mengisi usus halus dan usus besar.
Prognosa
Prognosa dari sindroma ini baik dan banyak pasien yang sembuh tanpa mengalami
komplikasi. Kematian secara tiba-tiba tidak umum terjadi namun pernah dilaporkan.
Terapi
Terapi dapat dilakukan dengan pemberian Zypiran 5 mg/kg bb po, Metronidazole
20 mg/kg bb po, dan Difoltine 2 ml/kg bb iv. Pemberian Zypiran dimaksudkan untuk
mengatasi infeksi cacing, karena salah satu faktor penyebab gastroenteritis hemoragika pada
anjing adalah infeksi cacing. Meskipun pada pemeriksaan feses hasil laboratorium anjing
tersebut adalah negatif, terapi tetap dilakukan karena tidak semua tahapan cacing dapat
terlihat pada feses. Pemberian Metronidazole berfungsi untuk mencegah infeksi sekunder
yang terjadi akibat perlukaan pada pencernaan. Metronidazole baik untuk mengatasi infeksi
bakteri terutama bakteri anaerob (Bishop 1996). Difoltine mengandung Ribavirine 30 mg
dan Ciprofloxacin Hcl 40 mg.
Penanganan kasus gastroenteritis haemoragika menurut Smith dan Tilley (2000) yaitu
dengan pemberian terapi cairan elektrolit sampai 40-60 ml/kg/jam intravena (iv) sampai nilai
PCV kurang dari 50%. Selain itu diberikan terapi antibiotik dengan menggunakan Ampicillin
secara parenteral. Penggunaan Ampicillin yang dikombinasikan dengan Gentamisin atau
Fluroroquinolone baik untuk pasien yang menderita sepsis. Alternatif lain dari Ampicillin
adalah Trimethoprim-sulfa atau Cephalosprorin. Pada anjing yang menderita shock diberikan
Dexamethasone sodium phosphat 0.5-1 mg/kg iv.
6. Disentri (diare berdarah pada anjing)
Disentri berasal dari bahasa Yunani, yaitu dys (=gangguan) dan enteron (=usus), yang
berarti radang usus yang menimbulkan gejala meluas, tinja lendir bercampur darah. Gejala-
gejala disentri antara lain adalah:
Buang air besar dengan tinja berdarah
Diare encer dengan volume sedikit
Buang air besar dengan tinja bercampur lender(mucus)
Nyeri saat buang air besar (tenesmus)
Anjing disebut diare jika anjing sudah lima kali mengalami defikasi/BAB selama 24
jam. Biasanya feses yang dikeluarkan lebih banyak mengandung cairan daripada feses yang
normal. Jika sudah terdapat darah dalam feses maka anjing anda harus segera dibawa ke
dokter hewan. Diare berdarah adalah tanda gangguan kesehatan yang dapat menyebabkan
kematian pada anjing.
Identifikasi
Terdapat 2 warna yang kelihatan pada diare berdarah. Yang pertama warna darah
sangat jelas dalam hal ini warna merah terang sama seperti warna darah biasanya. Tetapi
warna hitam pada feses juga menunjukan adanya darah pada feses. Berwarna hitam
disebabkan karena darah telah melewati saluran pencernaan yang panjang.
Penyebab
Menurut Dog Owner Veterinary Handbook terdapat berbagai penyebab diare
berdarah. Salah satu penyebabnya adalah anjing menelan benda asing yang merusak organ
dalam. Penyebab lain adalah anjing memakan sampah busuk atau bagian tubuh dari hewan
yang telah mati. Ada juga penyakit seperti parvo virus, cocidia dan ancylstomiasis yang dapat
menyebabkan diare berdarah. Racun tikus dapat menyebabkan muntah dan diare berdarah.
Kanker juga dapat menyebabkan diare berdarah.
Gejala klinis yang lain
Untuk membantu mempercepat penentuan penyebab penyakit maka dokter hewan
perlu mengetahui jika anjing memiliki gejala lain seperti hilangnya koordinasi, muntah,
terenga-engah tak terkendali, atau kejang-kejang.
Pengobatan
Pengobatan tergantung pada penyebabnya. Jika terdapat benda asing atau kerusakan
usus maka perlu dilakukan pembedahan. Jika penyebabnya karena penyakit seperti parvo
virus, cocidia dan ancylostomiasis maka dokter hewan akan memberikan pengobatan sesuai
penyakit. Pada keracunan racun tikus anjing perlu injeksi vitamin K atau transfusi darah. Jika
anjing mengalami dehidrasi akibat diare maka dokter hewan akan memberikan terapi
cairan/infus selama anjing tidak mau makan.
Etimologi
1. Bakteri (Disentri basiler)
o Shigella, penyebab disentri yang terpenting dan tersering ( 60% kasus
disentri yang dirujuk serta hampir semua kasus disentri yang berat dan
mengancam jiwa disebabkan oleh Shigella.
o Escherichia coli enteroinvasif (EIEC)
o Salmonella
o Campylobacter jejuni, terutama pada bayi
2. Amoeba (Disentri amoeba), disebabkan Entamoeba hystolitica, lebih sering pada anak
usia > 5 tahun
Patofisiologi
Shigella dan EIEC
MO --> kolonisasi di ileum terminalis/kolon, terutama kolon distal invasi ke sel epitel
mukosa usus --> multiplikasi --> penyebaran intrasel dan intersel --> produksi enterotoksin --
> cAMP --> hipersekresi usus (diare cair, diare sekresi).--> produksi eksotoksin (Shiga
toxin) --> sitotoksik --> infiltrasi sel radang --> nekrosis sel epitel mukosa --> ulkus-ulkus
kecil --> eritrosit dan plasma keluar ke lumen usus --> tinja bercampur darah.--> invasi ke
lamina propia ? --> bakteremia (terutama pada infeksi S.dysenteriae serotype 1)
Salmonella
MO --> kolonisasi di jejunum/ileum/kolon --> invasi ke sel epitel mukosa usus --> invasi ke
lamina propia --> infiltrasi sel-sel radang --> sintesis Prostaglandin --> produksi heat-labile
cholera-like enterotoksin --> invasi ke Plak Peyeri --> penyebaran ke KGB mesenterium --
>hipertrofi --> penurunan aliran darah ke mukosa --> nekrosis mukosa --> ulkus menggaung
--> eritrosit dan plasma keluar ke lumen --> tinja bercampur darah.
Campylobacter jejuni
MO --> kolonisasi di jejunum/ileum/kolon --> invasi ke sel epitel mukosa usus --> invasi ke
lamina propia --> infiltrasi sel-sel radang --> Prostaglandin --> produksi heat-stabile cholera-
like enterotoksin --> produksi sitotoksin ?? --> nekrosis mukosa --> ulkus --> eritrosit dan
plasma keluar ke lumen --> tinja bercampur darah.--> masuk ke sirkulasi (bakteremia).
Kolera
Kolera adalah suatu infeksi usus kecil karena bakteri Vibrio cholerae. Bakteri kolera
menghasilkan racun yang menyebabkan usus halus melepaskan sejumlah besar cairan yang
banyak mengandung garam dan mineral. Karena bakteri sensitif terhadap asam lambung,
maka penderita kekurangan asam lambung cenderung menderita penyakit ini.
Kolera menyebar melalui air yang diminum, makanan laut atau makanan lainnya yang
tercemar oleh kotoran orang yang terinfeksi. Kolera ditemukan di Asia, Timur Tengah,
Afrika dan Amerika Latin. Di daerah-daerah tersebut, wabah biasanya terjadi selama musim
panas dan banyak menyerang anak-anak. Di daerah lain, wabah bisa terjadi pada musim
apapun dan semua usia bisa terkena.
Penyebab
Bakteri Vibrio cholerae.
Gejala
Gejala dimulai dalam 1-3 hari setelah terinfeksi bakteri, bervariasi mulai dari diare
ringan-tanpa komplikasi sampai diare berat-yang bisa berakibat fatal. Beberapa orang yang
terinfeksi, tidak menunjukkan gejala. Penyakit biasanya dimulai dengan diare encer seperti
air yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa rasa sakit dan muntah-muntah. Pada kasus yang berat,
diare menyebabkan kehilangan cairan sampai 1 liter dalam 1 jam. Kehilangan cairan dan
garam yang berlebihan menyebabkan dehidrasi disertai rasa haus yang hebat, kram otot,
lemah dan penurunan produksi air kemih.
Banyaknya cairan yang hilang dari jaringan menyebabkan mata menjadi cekung dan
kulit jari-jari tangan menjadi keriput. Jika tidak diobati, ketidakseimbangan volume darah dan
peningkatan konsentrasi garam bisa menyebabkan gagal ginjal, syok dan koma. Gejala
biasanya menghilang dalam 3-6 hari. Kebanyakan penderita akan terbebas dari organisme ini
dalam waktu 2 minggu, tetapi beberapa diantara penderita menjadi pembawa dari bakteri ini.

Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Untuk memperkuat diagnosis,
dilakukan pemeriksaan terhadap apusan rektum atau contoh tinja segar.
Pengobatan
Yang sangat penting adalah segera mengganti kehilangan cairan, garam dan mineral
dari tubuh. Untuk penderita yang mengalami dehidrasi berat, cairan diberikan melalui infus.
Di daerah wabah, kadang-kadang cairan diberikan melalui selang yang dimasukkan lewat
hidung menuju ke lambung. Bila dehidrasi sudah diatasi, tujuan pengobatan selanjutnya
adalah menggantikan jumlah cairan yang hilang karena diare dan muntah. Makanan padat
bisa diberikan setelah muntah-muntah berhenti dan nafsu makan sudah kembali.
Pengobatan awal dengan tetrasiklin atau antibiotik lainnya bisa membunuh bakteri
dan biasanya akan menghentikan diare dalam 48 jam. Lebih dari 50% penderita kolera berat
yang tidak diobati meninggal dunia. Kurang dari 1% penderita yang mendapat penggantian
cairan yang adekuat, meninggal dunia.
Pencegahan
Penjernihan cadangan air dan pembuangan tinja yang memenuhi standar sangat
penting dalam mencegah terjadinya kolera. Usaha lainnya adalah meminum air yang sudah
terlebih dahulu dimasak dan menghindari sayuran mentah atau ikan dan kerang yang dimasak
tidak sampai matang. Vaksin kolera hanya memberikan perlindungan parsial dan secara
umum tidak dianjurkan.
Pemberian antibiotik tetrasiklin bisa membantu mencegah penyakit pada orang-orang
yang sama-sama menggunakan perabotan rumah dengan orang yang terinfeksi kolera.
7. Inflammatory Bowel Disease (IBD)
IBD adalah suatu kondisi pada usus yang terinfiltrasi secara kronis oleh sel
radang.Adanya sel radang mengindikasikan adanya peradangan pada usus akibat respon
tubuh.Penyebab dari IBD antara lain nutrisi yang buruk, infeksi bakteri, genetik dan
gangguan sistim imun.
Gejala
o Penurunan berat badan secara drastis,
o Muntah
o Diare

Patogenesa
Bakteri masuk ke dalam tubuh hospes, dapat melalui dua cara, yaitu secara langsung
dan tidak langsung. Ketika bakteri sudah masuk ke dalam tubuh, menyebabkan iritasi dan
mengakibatkan pergerakan usus lebih cepat.Jika terjadi terus menerus menyebabkan usus
menjadi radang dan menebal.Sel radang yang terlibat yaitu eosinofil yang umum terdapat
pada radang, neutrofil yang berperan pada infeksi bakteri, dan limfosit berperan dalam respon
imun.
Pada anjing, perkembangan IBD diduga sebagai akibat dari deregulasi kekebalan
mukosa yang cenderung pada hewan. Gangguan mukosa, terlepas dari penyebab primer
(bakteri, kimia, dll), juga dapat menyebabkan paparan antigen lebih lanjut, yang
memungkinkan proses menjadi kronis , dan ditandai oleh penurunan apoptosis limfosit.

Diagnosa
Pemeriksaan yag dilakukan adalah pemeriksaan klinis lengkap, tes laboratorium, dan
pengambilan sampel biopsi untuk penilaian histologis.
Terapi
Pengobatan imunosupresan (azathioprine = Imuran) : obat-obatan dapat digunakan
untuk mengurangi peradangan seperti obat-obatan yang tergolong kortikosteroid. Antibiotik
diberikan untuk mengurangi jumlah bakteri yang menyebabkan penyakit.






















DAFTAR PUSTAKA

Anonimus. 2010. Cara Mencegah Kolera. http://www.spesialis.info/?bagaimana-cara-
mencegah-kolera-,272 diakses 10 April 2013
Anonimus. 2010. Sindroma Gastroenteritis Haemorragika Pada Anjing.
http://klinikhewan09.wordpress.com/2010/10/28/sindroma-gastroenteritis-
haemorragika-pada-anjing/ diakses 10 April 2013
Anonimus. 2010.Penyakit Hewan. http://www.pojok-vet.com/penyakit-hewan/gastroenteritis-
pada-anjing.html diakses 10 April 2013
Anonimus. 2010. Diare. http://johanmanery.wordpress.com/2010/12/02/diare-berdarah-pada-
anjing/ diakses 10 April 2013
Anonimus. 2010. Disentri. http://id.wikipedia.org/wiki/Disentri diakses 10 April 2013
Anonimus.2011.GangguanSistemPencernaan.http://mtcediatehnologicomputer.blogspot.com/
2011/10/gangguan-pada-sistem-pencernaan.html diakses 09 April 2013
Agastya, Kevin. 2009. Diare Akut Akibat Infeksi. http://kevinduarsa.blogspot.com/p/diare-
akut-akibat-infeksi.html di akses 10 April 2013.
Aryulina, Diah, Choirul Muslim, Syalfinaf Manaf. 2010. Biology 2B for Senior High School
Grade XI Semester 2. Jakarta: Erlangga.
Aryulina, Diah, Choirul Muslim, Syalfinaf Manaf, Endang Widi Winarni. 2007. Biologi
SMA dan MA untuk Kelas XI. Jakarta: Erlangga
Endahsulistyowati.2011.KelainanDigesti.http://endahsulistyowati.wordpress.com/tag/kelaina
ndigesti/ diakses 09 April 2013
Priadi, Arif. 2009. Biology Senior High School Year XI. Jakarta: Yudhistira.
Setyaningsih, Eko. 2011. Biology Bringing Science to Your Life SMA/MA Grade XI.
Jakarta: Bumi Aksara.
Setiadi,Nandi. 2012. http://nandisetiadi.blogspot.com/2012/04/penyebab-sendawa-kembung-
dan-kentut.html diakses 10 April 2013