Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Penyakit lidah biru (bluetongue) termasuk penyakit infeksi tetapi tidak menular secara
kontak. Penyakit bluetongue merupakan salah satu penyakit arbovirus yang dapat
menimbulkan gejala klinik sehingga berdampak negatif bagi petani ternak. Penyakit ini
dapat menyerang ruminansia besar seperti kerbau dan sapi, dan ruminansia kecil termasuk
domba dan kambing (St George, 1985). Di Indonesia, penyakit bluetongue pernah dilaporkan
terjadi pada domba impor pada tahun 1981 (Sudana clan Malole, 1982). Namun kejadiannya
pada ternak lokal belum pernah dilaporkan. Hasil uji serologik menunjukkan bahwa kerbau
dan sapi mempunyai angka prevalensi yang tinggi (60%-70%) dibanding pada domba dan
kambing (20%-30%) (Sendow dkk. 1986). Kerugian ekonomi yang ditimbulkan oleh
penyakit ini antara lain abortus, kemandulan sementara, penurunan berat badan ataupun
penurunan produksi susu pada ternak perah (Erasmus, 1975; Osburn, 1985). Di Indonesia,
isolasi virus yang berasal dari sapi perah lokal telah diperoleh hasilnya (Sendow dkk, 1991).
Nama lain: Ovine Catarrhal Fever (OCF), Penyakit Lidah Biru, atau di Indonesia
dikenal sebagai BT. Merupakan penyakit menular pada domba ditandai dengan stomatitis
kataral, rhinitis, enteritis, pincang karena peradangan sarung kuku, abortus, kerdil dan
hyperplasia limforetikuler. Bluetongue kadang-kadang juga menyerang kambing dan sapi
dengan gejala tidak kentara, tetapi penyakit ini dapat serius pada beberapa spesies hewan liar
khususnya rusa ekor putih (Odocoileus virginianus) di Amerika Utara. Penyakit ini sangat
penting artinya pada domba, dengan tingkat keganasan yang beragam dari subklinis sampai
serius tergantung kepada galur virus, bangsa domba, dan ekologi setempat. Kerugian timbul
akibat kematian dan buruknya kondisi domba yang bertahan hidup. Penyakit BT bukan
merupakan penyakit zoonosis sehingga tidak menular ke manusia.

Rumusan Masalah
1. Apakah penyakit Lidah Biru itu?
2. Apakah etiologi, gejala klinis, patogenesa, epidemiologi, diagnosa dan hewan peka
dari penyakit tersebut?
3. Bagaimanakah penyebaran penyakit tersebut dan upaya pencegahan, pengobatan dan
pemberantasan dari penyakit Lidah Biru ini?

Tujuan
Mengetahui mengenai penyakit infeksius Lidah Biru yang telah terjadi di Indonesia,
mulai dari pengertian, etiologi, gejala klinis, patogenesa, epidemiologi, diagnosa, hewan
peka, pengobatan , pemberantasan dan pencegahannya.






























BAB II
ISI

Pengertian
Nama lain: Ovine Catarrhal Fever (OCF), Penyakit Lidah Biru, atau di Indonesia
dikenal sebagai BT. Merupakan penyakit menular pada domba ditandai dengan stomatitis
kataral, rhinitis, enteritis, pincang karena peradangan sarung kuku, abortus, kerdil dan
hyperplasia limforetikuler. Penyakit Blue Tongue (BT) merupakan penyakit eksotik
arthropod borne virus pada ternak ruminansia (Culess et al., 1 982). Penyakit ini disebabkan
oleh Orbivirus dari famili Reoviridae dengan materi genetik tersusun atas 10 segmen asam
inti ribo beruntai ganda (dr-RNA) (Huisman, 1969, Verwoerd et al., 1979, Rao dan Roy,
1983) dan bentuknya ikosahedral simetri (Els dan Verwoerd, 1969). Virus ini ditularkan oleh
vektor nyamuk genus Culicoides. (Luedke et al., 1967, Foster et al., 1977) yang biasa
menyerang domba dan sapi, akan tetapi pada sapi tidak disertai dengan gejala klinis.
Sedangkan melalu i percobaan terjadi gejala klinis ringan (Luedke et al., 1967). Pernah
dilaporkan bahwa lima persen dari kelompok sapi yang tertulalar menunjukkan gejala klinis
dari yang ringan Sampai berat (Hourigan dan Klingsporn, 1975).
Virus BT dapat menginfeksi berbagai spesies hewan seperti sapi, kerbau, kambing,
domba, unta, dan ruminansia liar, termasuk rusa, antelop dan rodensia. Namun demikian
penyakit BT lebih sering ditemukan pada ternak domba dengan menimbulkan gejala klinis,
sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang signifikan bagi peternak (Osburn 1994; Mac
Lachlan 1996). Pada domba, sensitivitas sangat bergantung pada jenis (breed) dan tipe virus
BT yang menginfeksi. Domba breed Afrika Selatan seperti ras Afrikander, Persia dan Awassi
lebih peka dibanding domba lokal Afrika pada umumnya, tetapi domba breed Afrika Selatan
kurang sensitif dibanding domba Merino, sedangkan domba Merino kurang peka dibanding
domba ras Dorset Horn (Erasmus 1975). Domba lokal Indonesia juga kurang peka terhadap
infeksi BT (Sendow 2005).

Gambar 1. Penyakit Bluetongue.
Sumber gambar: http://brisray.com/misc/mplague.htm.

Etiologi
Bluetongue disebabkan oleh Orbivirus dari famili Reoviridae. Virus ini memiliki
antigenik atau sifat biokimia yang sama dengan penyakit Epizootic Haemorrhagic pada rusa
dan Ibaraki pada sapi. Di dunia terdapat 24 strain virus BT dan beberapa serotipe terjadi
reaksi silang. Distribusi serotipe di masing-masing Negara berbeda-beda. Penyakit
bluetongue (BT) disebabkan oleh virus BT dari kelompok Orbivirus, famili reoviridae
(Knudson, 1986). Sampai saat ini virus BT mempunyai 24 serotipe di mana masing-masing
serotipe tidak memberikan proteksi silang dan masing-masing tipe mempunyai patogenesis
yang berbeda (Gard dkk, 1988).


Gambar 2. Orbivirus penyebab penyakit BT dan gambaran 3D virus BT
Virus BT mempunyai diameter 40-80 nm (Verwoerd dkk., 1979). Adapun sifat-sifat
kimiawi dari virus ini antara lain, virus tahan pada media ber pH antara 6,5-8,0, diluar batas
tersebut virus BT tidak stabil (Owen, 1965). Virus BT juga diketahui tahan terhadap diethyl
ether, kloroform clan sodium deoxycholat (Rowel, 1963), namun sensitif terhadap tripsin dan
actinomycin D, hydroxylamin, propiolakton dan ethylenimin (Yang, 1985). Pada suhu 4C
atau - 70C virus ini sangat stabil, terutama bila diberi protein seperti serum, tetapi tidak
stabil pada suhu -20C (Rowel dkk., 1967). Di Indonesia, dua tipe virus BT (BT tipe 7 clan 9)
telah berhasil diisolasi dari sapi perah lokal yang terlihat sehat di Jawa Barat (Sendow dkk,
1991).

Epidemiologi
Distribusi Geografis Bluetongue tersebar luas di dunia. Afrika dilaporkan telah
ditemukan lebih dari 100 tahun lalu, kemudian terjadi pula di Siprus, Yunani, Israel, Portugal,
Spanyol, Turki, Lebanon, Oman, yaman, Syria, Saudi Arabia, Mesir, Pakistan, India,
Bangladesh, Jepang, Amerika Serikat, Amerika Latin, Kanada, Australia, New Zealand,
Papua New Guinea, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Di Indonesia ditemukan pada
beberapa propinsi, diantaranya Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, Papua, Bali, NTB,
NTT, dan Timor Leste terdeteksi antibodinya. Bluetongue menyerang domba, kambing, sapi,
kerbau, dan ruminansia lain seperti rusa. Domba merupakan hewan paling peka terutama
yang berumur 1 tahun, sedangkan anak domba yang masih menyusui relative tahan karena
telah memperoleh kekebalan pasif dari induk (antibodi maternal) dan antibodi ini biasanya
bertahan sampai 2 bulan.Ras domba Inggris dan Merino lebih peka dibandingkan dengan
domba Afrika.
Di Indonesia, gejala klinik penyakit BT yang klasik belum pernah dilaporkan baik
pada ternak sapi, kerbau, kambing maupun domba lokal. Namun Adjid dkk. (1988)
melaporkan adanya kasus reproduksi tanpa diketahui penyebabnya pada ternak domba di
Jawa Barat seperti keguguran (berdasarkan informasi lapangan), kematian sebelum lahir
ataupun kematian setelah lahir. Apakah infeksi orbivirus ikut berperan dalam kejadian
tersebut, hal ini masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Informasi di lapangan juga
menunjukkan bahwa keguguran pada sapi yang disertai dengan ataupun tanpa kelainan,
pernah terjadi di Jawa Barat dan Kalimantan Selatan. Beberapa sapi yang keguguran tersebut
memang mengandung antibodi terhadap virus BT, namun isolasi tidak dilakukan. Akibatnya
sulit untuk mengkonfirmasi apakah abortus tersebut disebabkan oleh infeksi BT. Penelitian
pendahuluan juga menunjukkan bahwa kambing, domba, kerbau den sapi yang berasal dari
beberapa daerah di Indonesia mengandung antibodi terhadap virus BT, baik secara uji AGID
maupun uji SN.

Patogenesa
Virus BT mengadakan perbanyakan dalam sel hemopoietik dan sel endotel pembuluh
darah, yang kemudian menyebabkan lesi epithelial BT yang tersifat. Viremia biasanya terjadi
pada stadium awal penyakit. Domba dewasa kadang-kadang menderita viremia paling lama
14-28 hari, dan pada sapi virus dapat bertahan selama 10 minggu. Sejumlah isolat virus telah
diperoleh namun keganasannya masih belum banyak diketahui. Uji patogenitas terhadap
isolat BT serotipe 1, 9, dan 21 telah dilakukan pada domba lokal dan domba impor (Sendow
2005). Hasilnya menunjukkan bahwa gejala klinis yang dihasilkan pada domba lokal lebih
ringan dibanding pada domba impor. Dari ketiga serotipe yang diuji, BT serotipe 9
menghasilkan gejala klinis yang paling ringan baik pada domba lokal maupun domba impor.


Gambar 3. Patogenesa penyakit Bluetongue.
Gejala klinis yang dihasilkan berupa demam, lesi dan perdarahan pada mulut, bibir,
kaki dan mata, lakrimasi, ingusan dan koronitis dengan derajat ringan. Kematian domba tidak
terjadi. Hasil penelitian patogenitas ini menyimpulkan bahwa isolat lokal tersebut tergolong
tidak patogen. Meskipun BT serotipe 1 dan 21 paling sering diisolasi di Indonesia, serotipe
tersebut tidak menyebabkan gejala klinis. Demikian pula dengan isolat serotipe 9. Data
tersebut mengindikasikan bahwa virulensi virus BT lokal lebih handal dibanding yang
ditemukan di Afrika, Timur Tengah, dan India. Di Eropa, wabah BT yang terjadi tahun 1998
disebabkan BT serotipe 9 dan merupakan serotipe baru (Anderson et al. 2000). Daniels et al.
(1997) yang menarik garis transektoral dari India ke Australia, menunjukkan bahwa makin ke
selatan patogenitas BT makin rendah. Hal ini terlihat dari ditemukannya kasus klinis di India
sedangkan di bagian selatan India kasus klinis makin berkurang bahkan tidak terjadi pada
domba lokal. Meskipun antibodi dan isolat virus dapat terdeteksi, faktor yang menyebabkan
penurunan patogenitas BT tersebut masih belum diketahui.

Gejala Klinis
Gejala klinis akibat infeksi BT antara lain berupa demam, hiperemia pada selaput
lendir mulut, mata dan hidung, ulkus pada rongga mulut, oedem pada bibir, muka dan mata
sehingga hewan malas untuk makan, yang menyebabkan hewan menjadi lemas (Aruni et al.
2001; Sendow 2005). Pada domba bunting, infeksi BT dapat menyebabkan keguguran dan
kemandulan temporer. Selain keguguran, kelainan seperti stillbirth dan deformities pada bayi
domba yang dilahirkan sering terjadi (Housawi et al. 2004). Keguguran dalam jumlah banyak
sangat merugikan peternak seperti yang terjadi saat wabah BT tahun 1981. Kerugian terjadi
antara lain akibat abortus, kemandulan sementara, serta penurunan bobot badan dan produksi
susu (Housawi et al. 2004).
Pada infeksi percobaan, masa inkubasi penyakit 2-4 hari, ditandai dengan demam
tinggi (40,5-41C) yang berlangsung 5-6 hari. Pada domba, penyakit ini dicirikan oleh
demam yang dapat berlangsung beberapa hari sebelum hiperemia, pengeluaran air liur
berlebihan (hipersalivasi), dan buih pada mulut menjadi kentara; cairan hidung pada awalnya
encer kemudian menjadi kental dan bercampur darah. Bibir , lidah, gusi dan bantalan gigi
bengkak dan oedema. Jika selaput lender mulut terkikis lama-kelamaan akan berubah
menjadi bentuk luka dan air liur terangsang keluar dan mulut berbau busuk.
Luka-luka tersebut juga dapat ditemukan di bagian samping lidah.



Gambar 4. Gejala klinis utama pada penyakit BT, lidah yang membiru hiperemia pada
selaput mata dan mulut.
Sumber gambar: http://www.penyakithewan.com/2012/11/penyakit-lidah-biru-pada-domba-
dan.html.

Hewan sulit menelan ludah dan gerak pernafasannya meningkat, sering pula diikuti
dengan diare dan disentri. Luka juga dapat ditemukan pada teracak mengakibatkan kaki
pincang dan, sering rebah-rebah, malas berjalan dan menyebabkan rasa sakit yang hebat.
Kepala sering dibengkokkan ke samping mirip penyakit milk fever. Bulu-bulu wool rontok
dan kotor. Penyakit yang menyerang rusa serupa, sebaliknya pada sapi tidak kentara dan
jarang bersifat akut. Pada pedet dan anak domba yang terinfeksi in utero, viremia dapat
terjadi pada saat lahir dan berlangsung sampai beberapa hari. Pada kambing, gejala yang
terlihat berupa demam, konjungtivitis, lekopenia dan kemerahan pada selaput lender mulut.

1. Pada domba
Di luar negeri BT merupakan penyakit yang mempunyai kerugian ekonomi besar
untuk petani ternak domba, sehingga perhatian banyak ditujukan pada ternak domba. Derajat
kesakitan pada ternak domba bervariasi mulai dari subklinik, akut sampai infeksi yang serius
yang menunjukkan gejala klinik yang klasik. Erasmus (1975) membahas kembali gejala,
klinik pada domba. Gejala pertama yang muncul adalah panas badan mencapai 42C yang
dapat bertahan paling lama sampai 11 hari. Pada kasus yang akut ditandai dengan
meningkatnya frekwensi pernafasan clan kemerahan pada muka clan mukosa hidung .
Muntah, salivasi clan bau pada mulut sering terlihat, kemudian lidah menjadi sulit digerakkan
Ingus yang ditimbulkan dapat berupa cair sampai mukopurulent atau disertai darah, kadang-
kadang mengering sehingga hidung menjadi kering dan mengerak.
Cairan eksudat mata dan kemerahan pada kelopak mata sering terlihat.
Pembendungan cairan pada bibir dan lidah sering terjadi yang kemudian dapat menyebar ke
dagu, leher dan telinga yang diikuti dengan kemerahan pada kulit muka, bibir, pangkal
tanduk atau pada seluruh tubuh. Pada kasus yang berat, kemerahan pada lidah dapat menjadi
bengkak dan oedema yang kemudian berubah menjadi kebiruan (sianosis) . Apabila gejala
klinik tersebut sudah tampak, biasanya ternak tersebut tidak mau makan dan menjadi depresi.
Kadang-kadang sering disertai diare yang dapat bercampur dengan darah. Lukaluka pada
kuku kaki termasuk koronitis (peradangan korona) mulai tampak. Kadang-kadang kuku kaki
(hoove) terasa panas den sangat sakit kalau disentuh hal ini mengakibatkan ternak malas
bergerak. Kalaupun dapat berjalan sering menggunakan lutut.
Di Indonesia, gejala klinik seperti tersebut di atas tampak pada domba-domba impor
yang terinfeksi, dimana mortalitasnya mencapai 30% dan morbiditasnya mencapai 90%
(Sudana dan Malole, 1982). Gard (1987) menemukan bahwa panas, lemas, diare den
kekakuan otot tidak pernah terjadi pada domba yang sakit dengan infeksi percobaan di
Australia . Namun, pembendungan cairan, peradangan pada hidung dan mulut serta depresi
selalu tampak. Penelitian Grainer dkk. (1964) menunjukkan bahwa infeksi alam pada domba
bunting triwulan pertama dapat menyebabkan abortus, kematian janin dalam kandungan,
kelainan waktu lahir dari anak domba yang dilahirkan, domba yang baru lahir menunjukkan
pergerakan kaku, bodoh, tidak mau menyusui, ataxia, buta, tuli dan tak acuh terhadap
lingkungan. Umumnya anak domba tersebut kemudian mati .
2. Pada sapi
Gejala klinik sapi yang terinfeksi secara alamiah umumnya tidak spesifik dan tidak
tampak. Namun gejala klinik hasil infeksi percobaan dapat berupa hipersalivasi, ingusan,
oedema pada bibir, suhu tubuh meningkat sampai 41C, lakrimasi, peradangan diatas kuku
(koroner) dan erosi pada rongga mulut (Stot dkk., 1985; Osburn, dkk. 1985). Pada sapi
bunting dapat menimbulkan abortus, dan anak sapi yang dilahirkan dilaporkan cacat seperti
penimbunan cairan dalam otak (hydranencephali), sendi kaki menjadi kaku sehingga sulit
untuk digerakkan dan hewan menjadi malas untuk bergerak maupun menyusui. Tidak semua
gejala klinik seperti yang disebutkan diatas dapat ditemukan pada ternak yang terinfeksi virus
BT dengan infeksi percobaan.
3. Pada kambing
Walaupun secara serologi, kambing dapat terinfeksi oleh virus BT, namun gejala
klinik yang ditimbulkan baik secara percobaan maupun alam belum pernah dilaporkan
(Erasmus, 1975; Luedke dan Anakwenze, 1972).
Diagnosa
Bluetongue dapat didiagnosa berdasarkan epidemiologis, gejala klinis, patologis,
isolasi dan identifikasi virus. Kambing yang memperlihatkan lekopenia, limfopenia dan
anemia adalah konsisten seperti pada domba. Antigen virus BT dalam C. variipennis dapat
dideteksi dengan FAT, sedangkan antibodi grup spesifik dapat dideteksi pada minggu
pertama atau kedua pascainfeksi dengan beberapa uji serologis seperti agar gel precipitation
(AGP), enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) immunoprecipitating dan
immunoblotting. Antibodi virus spesifik dapat dideteksi dalam waktu 9 hari pascainfeksi
dengan competitive ELISA (C-ELISA). Semua protein virus struktur dan non struktur dapat
dideteksi dengan immunoblotting atau dot blot immunobinding assay (DIA) dan
immunoprecipitation serta fragmen DNA dapat dideteksi dengan polymerase chain reaction
(PCR). Virus BT sering sulit diisolasi di laboratorium. Peluang untuk mengisolasi virus
meningkat bila darah diambil dari hewan yang menunjukkan tanda-tanda klinis awal atau
demam yang hebat, dan isolasi virus kemungkinan besar berhasil bila lapis sel darah putih
diinokulasikan secara intravena ke dalam embrio ayam umur 10 atau 11 hari.
1. Pemeriksaan serologik
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya antibodi terhadap virus BT.
Uji yang dilakukan dapat dengan uji serum netralisasi (SN), uji agar gel imunodifusi (AGID),
uji ikat komplemen (CF), uji antibodi fluoresen (FAT), ataupun uji enzyme linked
immunoassay (ELISA). Masingmasing uji mempunyai spesifisitas dan sensitifitas yang
berbeda.
2. Pemeriksaan virologik
Pemeriksaan ini berdasarkan virus yang diperoleh, untuk itu isolasi virus BT baik dari
darah, semen maupun jaringan diperlukan untuk men dapatkan isolat. Jaringan tubuh yang
dapat digunakan untuk isolasi virus BT adalah jaringan sistem vaskuler yaitu jantung, aorta,
tulang sumsum, limpa, hati, paru-paru, ginjal, otot trapezius, lidah, plasenta dan
limpoglandula (Liendo dan Castro, 1986; Pini, 1976). Namun, jantung dan aorta adalah organ
yang paling sering digunakan untuk isolasi virus. Organ tersebut dibuat suspensi 20-30%
dalam cairan buffer, kemudian diinokulasikan intra venus pada telur ayam berembryo umur
11 hari, bayi tikus putih umur kurang dari 3 hari secara intra serebral, ataupun biakan
jaringan VERO, BHK-21 .
3. Diagnosa Banding
Penyakit ini memiliki gejala klinis yang sangat mirip dengan penyakit Epizootic
Haemorrhagic pada rusa, tetapi dapat dibedakan secara serologis dan sifat pertumbuhan virus
pada telur ayam berembrio disamping itu tingkat kematian pada epizootic haemorrhagic
tinggi dan menyerang segala umur. BT juga mirip dengan beberapa penyakit, Orf atau
Contagious Ecthyma, Ulcerative Dermatosis dan Sheep Pox. Sheep pox umumnya ditandai
dengan tingkat kematian yang tinggi dengan lesi pox yang tersifat.

Cara Penularan
Penularan penyakit BT tidak melalui kontak langsung, makanan ataupun udara.
Metoda utama dari penularan penyakit BT adalah melalui vektor, dimana nyamuk jenis
Culicoides sp. sangat berperan. Penularan secara biologis terjadi apabila virus bereplikasi
pada tubuh vektor sebelum ditularkan ke ternak lainnya. Tiap daerah mempunyai vektor yang
berbeda dengan daerah lain, dan jenis Culicoides yang terdapat di satu daerah dapat berbeda
dengan daerah lainnya. Sampai saat ini beberapa species Culicoides telah dibuktikan
bertindak sebagai vektor BT, diantaranya C. brevitarsis, C. fulvus, C. imicola, C. insignis, C.
variipennis (Standfast dkk., 1985; Gibbs dan Greiner., 1985; Stot dkk., 1985). Di Indonesia
virus BT berhasil diisolasi dari campuran nyamuk C. fulvus dan C. orientalis (Sendow dkk.,
1992). Penularan penyakit melalui plasenta dapat terjadi, tetapi virus ini tidak ditularkan
melalui kontak atau melalui produk hewan terinfeksi. Melalui inseminasi buatan dengan
semen yang telah terkontaminasi virus BT.


Gambar 5. Vektor penyakit BT, nyamuk Culicoides sp..

Morbiditas dan Mortalitas
Tingkat morbiditas dan mortalitas bervariasi tergantung dari populasi vector dan
status hewan. Jika penyakit terjadi pertama kali di suatu daerah maka tingkat morbiditas bias
mencapai 50-75% dan mortalitas 20-50%, selanjutnya setelah terjadi kekebalan kelompok
dan populasi vektor rendah maka tingkat morbiditas dan mortalitas menjadi rendah pula.
Pemberantasan dan Pencegahan
Virus BT sekarang diketahui dapat menginfeksi ruminansia di tiap benua yang ada
ternaknya. Geografi dan iklim mendorong terjadinya epidemik lidah biru di daerah tertentu
tergantung kepada masuknya vektor serangga ke daerah yang ternaknya rentan. Hewan yang
sakit dipisah dan tidak memasukkan hewan tertular ke daerah yang bebas. Melakukan
penyemprotan dengan insektisida pada kandang atau lokasi disekitarnya untuk mengurangi
populasi nyamuk dan vektor mekanis lainnya. Pengendalian melalui vaksinasi sangat perlu di
daerah endemik virus BT yang virulen. Vaksin BT telah dikembangkan yaitu vaksin hidup
dan vaksin mati. Vaksin hidup yang dilemahkan seringkali menimbulkan kasus pasca
vaksinasi, sedangkan vaksin mati lebih aman, akan tetapi daya rangsangan pembentukan
antibodi sangat lemah dan pemberian dosis yang besar. Penelitian selanjutnya dikembangkan
vaksin rekayasa genetik yaitu digunakan vaksin yang berasal dari protein P2 virus BT dan
disuntikkan 3X100mcg P2 yang dapat memproteksi 100% dan titer antibodi yang tinggi
setelah 40-42 hari.
Vaksin yang digunakan dapat berbentuk vaksin aktif maupun inaktif jenis vaksin yang
digunakan dapat terdiri dari :
a. Vaksin monovalen, yang terdiri dari 1 tipevirus BT.
b. Vaksin bivalen, yang terdiri dari 2 tipe virus BT.
c. Vaksin polivalen, yang terdiri lebih dari 2 tipe virus BT.
Di Indonesia, pencegahan dengan vaksinasi terhadap ternak lokal tidak dilakukan,
mengingat gejala klinik yang ditimbulkan belum dilaporkan ada dan tipe virus BT yang
berada di Indonesia saat ini masih dalam proses penelitian. Namun perlu dipertimbangkan
vaksinasi terhadap domba yang akan diimpor ke Indonesia, terutama domba yang berasal dari
daerah bebas BT, agar tidak terinfeksi oleh virus BT yang ada di Indonesia. Sampai saat ini
belum diketahui apakah pemberian vaksin dari tipe tertentu akan memberikan proteksi silang
terhadap infeksi tipe lainnya. Alternatif lain adalah dengan pemberantasan vektor penyakit.
Namun hal ini sangat sulit untuk dilakukan, baik dari segi ekonomik maupun efisiensi.
Beberapa jenis Culicoides sp. yang dapat bertindak sebagai vektor BT, mempunyai media
perkembangbiakan pada campuran kotoran sapi dan lumpur.
Dalam upaya pengendalian penyakit BT, hewan yang menunjukkan tanda-tanda klinis
akut harus dimusnahkan. Hewan yang tampak sehat, meskipun secara serologis menunjukkan
adanya antibodi terhadap BT, dapat dikonsumsi. Penyakit BT bukan merupakan penyakit
zoonosis sehingga tidak menular ke manusia. Tindakan yang dapat dilakukan untuk
mencegah atau mengendalikan penyakit BT adalah sebagai berikut:
a. Bila dijumpai kasus BT segera laporkan kepada Direktur Jenderal Peternakan
termasuk tindakan sementara yang telah diambil dengan tembusan kepada Kepala
Dinas Peternakan setempat.
b. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan melarang impor hewan dari negara
yang endemis BT. Penerapan karantina yang ketat terutama di daerah port of entry
perlu ditekankan agar masuknya serotipe virus BT yang baru dan patogen dapat
diantisipasi. Penerapan karantina terhadap lalu lintas ternak dari daerah tertular juga
harus dilaksanakan. Impor semen beku perlu disertai sertifikat bebas terhadap virus
BT.
c. Impor ternak domba dari daerah bebas BT perlu diikuti dengan vaksinasi terhadap BT
karena sebagian besar daerah di Indonesia positif terdapat virus BT. Vaksinasi
dilakukan sesuai dengan serotipe virus yang berada di daerah penerima ternak,
sehingga kemungkinan terjadinya wabah BT dapat dihindarkan.
d. Penyakit BT merupakan salah satu penyakit arbovirus di mana vektor serangga
memainkan peranan yang sangat penting dalam penularan penyakit dari hewan ke
hewan. Pengendalian vektor dapat dilakukan dengan sanitasi kandang serta
penyemprotan dengan insektisida.

















BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
Penyakit lidah biru (bluetongue) termasuk penyakit infeksi pada domba, sapi,
kambing dan hewan berkuku lainnya tetapi tidak menular secara kontak yang disebabkan
oleh virus arbovirus. Penyakit ini tidak bersifat zoonosis sehingga tidak ditularkan dari
manusia ke hewan. Gejala klinis utama dari penyakit BT adalah berupa demam, hiperemia
pada selaput lendir, dan mukosa lain serta membirunya lidah. Penyakit BT menular melalui
vektor nyamuk Culicoides sp. yang mengandung arbovirus. Penyakit BT dapat dicegah
dengan menggunakan vaksin BT yang sudah ada.

Saran
Dilakukan penulusuran lebih lanjut tentang penyakit Bluetongue, dengan referensi
lebih yang lengkap lagi.



















DAFTAR KEPUSTAKAAN

Erasmus, B.J (1975). Bluetongue in sheep and goats . Aust . Vet J. 51 : 165-170.
Gard, G.P . (1987) . Studies of bluetongue virulence and pathogenesis in sheep. Tech. Bull.
103: 1-53.
Gard, G.D., Weir, R.P. and Walsch, S.J . (1988). Arboviruses recovered from sentinel cattle
using several virus isolation methods. Vet. Mic. 18: 119.
Jochim) . R. Alan Liss Inc., New York. Sendow, I ., Daniels, P.W ., Soleha, E., Hunt, N. and
Ronohardjo, P. (1991) . Isolation of bluetongue viral serotypes 7 and 9 from healthy
sentinel cattle in West Java, Indonesia. Aust. Vet. J. 68:405.
Liendo, G., and Castro, A.E. (1981). Bluetongue in cattle : diagnosis and virus isolation.
Bovine Pract. 16: 87,95 ].
Osburn, B.I . (1985). Role of the immune system in the bluetongue hosts-viral interactions . In
bluetongue and related orbiviruses . Progress in clinical and biological research, vol
178, pp. 27-36 . (Eds : T.L . Barber and M.M . Jochim).
Sendow, I., Daniels, P.W., Soleha, E., Hunt, N. and Ronohardjo, P. (1991). Isolation of
bluetongue viral serotypes 7 and 9 from healthy sentinel cattle in West Java, Indonesia.
Aust. Vet. J. 68:405.
Sendow, I., Young, P., and Ronohardjo, P. (1986) Preliminary survey for antibodies to
bluetongue group virus in Indonesian ruminants. Vet. Rec., 119: 603.
St George, T.D . (1985). Epidemiology of bluetongue in Australia: the vertebrate hosts . In
bluetongue and related orbiviruses. Progress in clinical and biological research, vol
178, pp . 519-525 . (Eds: T.L . Barber and M.M.
Standfast H.A., Dyce A.L ., Cybinski D.H . and Muller M.J . (1985) . Vectors of bluetongue
virus in Australia. In Bluetongue and Related Orbiviruses. Barber T.L . and Jochim
M.M. (Eds) . Alan R Liss, Inc., New York . pp. 177- 186.
Stot, J.L., Osburn, B.I., Bushnell, R., Loomis, E.C. and Squire, K.R.E. (1985).
Epizootiological study of bluetongue virus infection in California livestock: An
overview . In bluetongue and related orbiviruses. Vol . 198. pp . 571-582. (Eds: T.L.
Barber and M.M. Jochim). R. Alan Liss Inc., New York.
Sudana, LS., and Malole, M. (1982) . Penyidikan penyakit hewan bluetongue di desa
Caringin, Kabupaten Bogor . Ann. Rep. An . Dis . Inv . Ind. during the period of 1975-
1981 . Jakarta, Dir. Kes. Wan.
Yudi. 2009. Penyakit Viral Hewan kecil. http://drhyudi.blogspot.com/2009/02/penyakit-viral-
hewan-kecil.html diunggah 27/4/2013.















Tugas Penyakit Infeksius

LIDAH BIRU
(BLUETONGUE)


Oleh:
KElOMPOK 2A

Sari Ramadhani
Tesha Aprilya Putri
Wahyu Sihombing
Jamilatun Hidayah
Muhammad Toras






FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2013