Anda di halaman 1dari 4

1 | f i l s a f a t h u k u m e k o n o m i i s l a m

BAB I PENDHULUAN

A. Latar Belakang Maslah
Dengan beralihnya dunia perbankan dari konvensional ke syari'at, memberi
motivasi terhadap penulis untuk mengkaji salah satu transaksi yang dilakukan oleh
perbankan syariah yaitu akad ijarah, dengan beralihnya ke sistem syariat islam pastilah
banyak hal-hal yang perlu dikaji lagi terutama dalam akad ijarah ini. Dan memang masih
banyak kalangan masyarakat yang belum mengerti cara kerja transaksi ijarah ini. Dari
persoalan yang sedang terjadi menjadi daya tarik si penulis untuk mengkaji tentang akad
ijarah

B. Tujuan Penulis
Penulis sangat berharap dengan tersusunnya makalah tentang ijarah ini bisa
memudahkan pembaca untuk lebih memahami tentang akad ijarah, namun yang terdapat
dalam makalah ini hanyalah sebagian dari yang terdapat dari sumber maka dari itu para
pembaca jangan hanya puas dengan apa yang sudah ada dalam makalah in.

C. Metode Penulisan
Metode penulisan ini dirancang dengan merangkum dari beberapa sumber dan
menyatukannya dalam sebuah makalah, dan hanya memasukkan poin-poin pentingnya
saja dari berbagai bab























2 | f i l s a f a t h u k u m e k o n o m i i s l a m

Daftar Isi

Kata Pengantar ........................................................................................................ I
Daftar Isi ................................................................................................................... II
BAB I: Pendahuluan ................................................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah .......................................................................................... 1
B. Tujuan Penulis ......................................................................................................... 1
C. Metode Penulisan ..................................................................................................... 1
BAB II: Pembahasan ............................................................................................... 2
A. Implementasi Akad Ijarah Dalam Dunia Perbankkan Syariah ............................... 11
BAB III: Penutup ..................................................................................................... 12
A. Kesimpulan .............................................................................................................. 12
B. Saran ........................................................................................................................ 12
Daftar Pustaka .......................................................................................................... 13














a. Implementasi Akad Ijarah dalam Produk Pembiayaan Perbankan Syariah
Ijarah sebagai peroduk pembiayaan perbankan syariah termuat dalam UU No. 21
Tahun 2008 dan peraturan lainnya. ia disebut tujuh kali oleh UU dan terdapat dipasal 1
ayat (25) huruf b dan e, pasal 19 ayat (1) huruf f dan i, pasal 19 ayat (2) huruf f dan i, dan
pasal 21 huruf b, aangka 4. Makna ijarah dalam peraturan perbankkan syariah mengacu
kepada, dan bersumber dari, fatwa DSN MUI dan hukum Islam. Penjelasan UU No.21
mengartikan ijarah dengan, Akad penyediaan dana dalam ranga memindahkan hak guna
3 | f i l s a f a t h u k u m e k o n o m i i s l a m

atau manfaat dari suatu barang atau jasa berdasarkan transaksi sewa, tanpa diikuti
kepemilikan barang itu sendiri.
1

Pada tahun 2005 redaksi bahasa yang dipergunakan untuk mendefinisikan ijarah
mengalami perubahan. Hal ini seperti dalam ketetapan PBI No.7/46/PBI/2005 yang
mendefinisikan ijarah dengan, transaksi sewa menyewa atas suatu barang dan atau upah
mengupah atas suatu jasa dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa atau imbalan
jasa.
2

Berdasarkan pengertian diatas, maka dalam konteks perbankkan syariah, ijarah
adalahh suatu lase contract dimana bank atau lembaga keuangan menyewakan peralatan
seperti guadang atau alat transportasi kepada nasabah berdasarkan pembebanan biaya
yang telah ditentukan secara pasti ssebelumnya. Dengan demikian, ijarah tidak lain
adalah, kegiatan leasing yang dikenal dalam sistem keuangan tradisional. Persamaan dan
perbedaannya terletak dalam objek, cara pembayaran, dan pemindahan kepemilikan.
Objek leasing hanya terbatas pada pemanfaatan barang, sedangkan objek ijarah adalah
pemanfaatan barang dan tenaga kerja atau jasa. Dari cara pembayaran leasing hanya
memiliki satu metode pembayaran, yakni bersifat not coontingent to perpormance.
Artinya pembayaran sewa pada leasing tidak tergantung pada kinerja objek yang disewa.
Dalam ijarah, metode pembayaran dibagi menjdi dua bagian. Pertama, ijarah
yang pembayarannya tergantung pada kinerja objeknya sewa. Jenis pembayaran ini
disebut Ujrah. Kedua, ijarah yang pembayarannya tidak tergantung pada kinerja kepada
objek yang disewa yang dalam presfektif fiqih disebut jualah.
Perpindahan kepemilikan dalam leasing ada dua cara: operating lease dan
financial lease. Pada operating lease tidak terjadi pemindahan kepemilikan aset,
sementara dalam financial lease terdapat opsi untuk membeli atau tidak membeli barang
sewa yang ditawarkan kepada nasabah di akhir periode.
Dalam leasing purchase terdapat dua akad yang dilakukan sekaligus, yaitu akad
sewa dan akad jual beli, dan perpindahan kepemilikan terjadi selama periode sewa secara
bertahap. Bila kontrak sewa beli dibatalkan, maka barang menjadi pemilik dan yang
menyewakan. Dalam persepsi fiqih ini disebut shafqatain fi al-shafqat yang diindikasikan
mengandung unsur gharar karena terpenuhinya tiga unsur secara penuh, yaitu objeknya
sama, pelakunya sama, dan jangka waktunya sama. Oleh karnanya ijarah tidak mengenal
akad mode ini karena transaksi yang mengandung unsur gharar diharamkan secara syari.
Baik ijarah maupun leasing sama-sama menganut sistem sale and sale back, yaitu
pembeli barang menyewakan kembali barang tersebut kepada penjual karena penjual
karena penjual sangat membutuhkannya kontrak financial lease, sehingga penjual
memiliki opsi untuk membeli kembali barang diakhir periode. Posisi bank adalah sebagai
penyediaan pembiayaan objek sewa berupa barang milim bank atau barang yang telah
disewa oleh bank dari pihak ketiga. Jika bank tidak memiliki barang sewa, ia dapat
mewakilkan kepada nasabah untuk mencarikan barang yang disewa oleh nasabah.
Disamping itu, bank berkewajiban memenuhi kualitas dan kuantitas barang serta

1
Penjelasan UU No.21 Tahun 2008 Pasal 19 Ayat (1) huruf f
2
PBI No. 7/46/PBI/2005 Pasal 1 ayat (10)
4 | f i l s a f a t h u k u m e k o n o m i i s l a m

ketepatan penyediaan barang, dan bersama menyepakati nilai sewa termasuk jangka
waktu sewa.
Aturan teknis operasional ijarah dalam PBI ini dijabarkan lebih detail SE BI.
Aturan yang terkait dengan bank dipersentasikan sebagai berikut:
1. Bank diposisikan sebagai pemilik atau pihak yang memiliki penguasaan atas
objek sewa, baik berupa barang maupun jasa dan menyewakan kepada
nasabah.
2. Bank wajib menjelaskan kepada nasabah karakteristik pembiayaan ijarah dan
hak kewajiban nasabah.
3. Bank melakukan analisis atas rencana pembiayaan ijarah yang diajukan
nasabah meliputi personal berupa katakter, dan asepek usaha berupa kapsitas
usaha, keuangan, serta prospek usaha.
4. Sebagai pihak yang menyediakan obyek sewa, bank wajib memenuhi kualitas
dan kuantitas objek sewa, serta ketepatan waktu penyediaan objek sewa.
Disamping itu, bank wajib menyediakan dana guana merealisasikan
penyediaan objek dana.
5. Bank dapat meminta nasabah untuk menjaga kebutuhan objek sewa dan
mengganggu pemeliharaannya sesuai kesepakatan.
6. Bank tidak dapat membebankan kepada nasabah untuk menanggung biaya
kerusakan objek sewa jika kerusakan bukan disebabkan pelanggaran akad
atau kelalaian nasabah.

Aturan teknis yang terkait dengan nasabah adalah nasabah wajib membayar uang
sewa. Pembayaran tidak dapat dilakukan dalam bentuk piutang atau pembebasan utang.
Disamping untuk pembiayaan transaksi sewa-menyewa dan sewa beli, akad
ijarah juga dipergunakan untuk pembiayaan transaksi sewa menyewa multijasa.
3

Pemberlakuan ijarah dalam jasa, karna jasa merupakan salah satu objek ijarah, disamping
manfaat barang.
Perbedaan teknis transaksi ijarah yang objeknya manfaat dengan ijarah yang
objeknya jasa adalah, dalam jasa nasabah tidak dikenakan kewajiban untuk menjaga
kebutuhan objek sewa, dan tidak pula dibebani tanggung jawab atas kerusakan objek
sewa. Dalam kontek perbankan syariah, aturan ijarah untuk multi jasa adalah bahwa
bank selaku pihak yang menyediakan pembiayaan untuk nasabah yang menggunakan
akad ijarah untuk multi jasa dapat memperoleh imbalan jasa.

3
UU No. 21 Tahun 2008 Pasal 1 Ayat (25) huruf c