Anda di halaman 1dari 43

Contoh Tugas Sistem Penyaliran Rangkuman TA

RANCANGAN TEKNIS SISTEM DRAINASE TAMBANG


PADA FRONT PENAMBANGAN NIKEL BLOK GC PULAU GEE-BULI
KONSORSIUM KENCANARAYA MEGAPERKASA RICOBANA
KABUPATEN HALMAHERA TIMUR
PROPINSI MALUKU UTARA




Sari
Konsorsium Kencanaraya Megaperkasa Ricobana adalah satu perusahaan yang bergerak
dalam bidang penambangan nikel, dengan lokasi penambangan terletak pada pulau Gee
Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Propinsi Maluku Utara. Kegiatan penambangan
bijih nikel dilakukan dengan sistem Tambang Terbuka dengan metode Open Cut yaitu dengan
jalan memotong punggung bukit dan sifat penambangan Selective Mining yaitu memilih
daerah-daerah yang mengandung kadar nikel tertentu.
Ciri utama yang membedakan antara tambang terbuka dengan tambang bawah tanah
adalah pengaruh iklim pada kegiatan penambangan, iklim (musim hujan) merupakan salah satu
faktor penghambat dalam suatu aktivitas penambangan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
untuk memberikan masukan pada perusahaan mengenai bentuk teknis rancangan sistem drainase
yang layak khususnya pada lokasi penambangan blok GC dan untuk mendapatkan rancangan
sistem drainase tambang yang layak dan aman guna kelancaran produksi.
Rancangan sistem drainase tambang konvensional dengan metode open sump ini terdiri
dari beberapa bagian yaitu : Saluran dan kolam pengendapan (Settling Pond). Dari hasil
penelitian di lapangan dan perhitungan maka rancangan sistem drainase tambang pada front
penambangan blok GC adalah sebagai berikut :

1. Untuk panjang saluran adalah : 1066,7173 m dengan total waktu pengerjaannya adalah : 18,0726
jam, dengan debit pengaliran (Q) = 4,2451 m
3
/ detik.
2. Kolam pengendapan (settling pond) dengan kapasitas penampungan (V) = 227,8659 m
3
,dengan
total waktu pengerjaannya adalah : 5,4648 jam, dengan debit air saluran yang masuk kedalam
kolam (Q) = 4,2451 m
3
/ detik dan luas penampang kolam = 75,9553 m
2
.



Dengan adanya rancangan teknis sistem drainase tambang, diharapkan dapat memperkecil atau
menekan sekecil mungkin adanya degradasi tanah, mencegah proses sedimentasi pada daerah
pantai serta memperbaiki kondisi lingkungan di tempat pengoperasian atau blok GC berada
untuk memenuhi standar lingkungan yang lebih baik.
1.1 Latar Belakang
Pulau Gee merupakan salah satu dari beberapa daerah di bagian timur pulau Halmahera
yang menjadi perluasan daerah penambangan nikel dari PT. Aneka Tambang
(persero). Kegiatan penambangan bijih Nikel di Pulau Gee ini dikerjakan oleh Konsorsium
Kencanaraya Megaperkasa Ricobana sebagai sub kontraktor dari PT. Minerina Bhakti, dengan
kontrak kerja selama 6 tahun.
Sistem penambangan yang diterapkan oleh Konsorsium Kencanaraya Megaperkasa
Ricobana adalah Tambang Terbuka (Surface Mining) yaitu dengan jalan memotong punggung
bukit (Open Cut Mining) dengan membuat Bench (Jenjang) sehingga terbentuk lokasi
penambangan yang sesuai dengan kebutuhan penambangan. Kegiatan penambangan
yang dilakukan di Perusahaan ini terdiri dari :
Pembabatan (Clearing), Pengupasan Overburden (Top Soil dan Limonit), Penggalian dan
Pengangkutan (Saprolit).
Salah satu faktor yang menjadi penghambat kelancaran produktivitas tambang adalah
air limpasan yang menggenangi permukaan kerja dimana alat-alat mekanis mengalami kesulitan
dalam melakukan aktivitas penambangan, akibatnya mempengaruhi kegiatan penambangan,
sehingga kegiatan penambangan terpaksa harus dihentikan untuk sementara waktu.
Dengan membuat rancangan teknis sistem drainase tambang tersebut, maka diharapkan
dapat mengatasi permasalahan air tambang sehingga dapat memperlancar operasi penambangan,
mengurangi waktu persiapan lokasi setelah waktu hujan, memperkecil kelongsoran dan
mengurangi pencemaran lingkungan air laut serta lingkungan di sekitar daerah penambangan
yang diakibatkan oleh lumpur tambang yang dibawa oleh air dari daerah penambangan dan
target produksi yang diinginkan perusahaan dapat tercapai.



















Identifikasi Masalah
Sehubungan dengan peningkatan produksi penambangan dan hasil penelitian yang
dilakukan pada Konsorsium Kencanaraya Megaperkasa Ricobana, maka dapat diidentifikasi
beberapa masalah sebagai berikut :
1. Penerapan sistem drainase yang merupakan salah satu faktor pemacu hasil produksi, masih
memiliki resiko yang besar karena kurang diperhatikannya aspek keseimbangan alam dan
pengaruh lingkungan di sekitarnya.
2. Sistem penambangan yang dilakukan dengan cara berpindah-pindah, sehingga sering ditemukan
air limpasan permukaan yang tergenang pada musim hujan sebagai faktor penghambat produksi
dan resiko terjadinya kelongsoran.
3. Adanya air limpasan permukaan yang menggenangi permukaan kerja, sehingga alat-alat mekanis
mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas penambangan dan kegiatan penambangan
terpaksa dihentikan untuk sementara waktu.
Masalah Penelitian
Adapun masalah yang menjadi perhatian penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Berapa jumlah segmen yang dibutuhkan pada Blok GC.
2. Dimana letak saluran dan settling pond.
3. Berapa ukuran dimensi saluran dan dimensi settling pond yang dibutuhkan.
4. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk membuat saluran dan settling pond tersebut.
Batasan Masalah
Dengan membuat rancangan teknis sistem drainase tambang pada front penambangan
nikel pada blok GC, banyak dijumpai permasalahan yang mempengaruhi produktifitas pekerjaan,
maka penulis membatasi masalah agar penulisan skripsi ini tidak keluar dari pokok permasalahan
dan penulisannya serta hasil peneitian tetap pada fungsinya. Batasan masalahnya adalah sebagai
berikut :
- Masalah yang diteliti hanyalah berkisar pada pengaruh air limpasan permukaan terhadap
penambangan pada blok GC.
- Rancangan teknis sistem drainase pada lokasi penambangan blok GC.


Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
- Untuk mengetahui jumlah segmen yang dibutuhkan pada Blok GC.
- Untuk mengetahui letak dari saluran dan settling pond.
- Untuk mengetahui dimensi dari tiap-tap saluran dan settling pond tersebut.
- Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan saluran maupun settling pond.


Hasil pengamatan data curah hujan dianalisis dengan metode statistik yaitu Metode
Distribusi Normal, Metode Gumbel dan Metode Log Pearson Type III dengan periode ulang
(Time Periode) sesuai dengan umur eksplorasi tambang.
1. Metode Distribusi Normal
X
T
= + K . Sx
Dimana :
X
T
= Perkiraan harga untuk periode ulang T
= Rata rata variasi (mm)
K = Faktor frekuensi untuk periode ulang
Sx = Standar deviasi dari X
=
n = Jumlah data pengamatan
P = Probabilitas = .
2. Metode Gumbel
X = + k . Sx
K =
Y = - [0,834 - 2,303 Log Log ]


Dimana :
X = Curah hujan rencana dengan periode ulang tertentu (mm)
= Curah hujan rata rata (mm)
K = Faktor frekuensi
Sx = Standar deviasi
Y = Nilai rata rata reduce steam
Yn = Nilai rata rata reduce extreem
Sn = Deviasi standard reduce extreem
3. Metode Log Pearson Type III
Log X = Log + K.Sd
G =
Dimana :
Log X = Curah hujan rencana dengan periode ulang tertentu (mm)
Log = = Rata rata dari log x
n = Jumlah data
K = Faktor frekuensi
Sd = Standard deviasi
= log x =
G = Koefisien Skewness
Intensitas curah hujan dapat dihitung dengan rumus yaitu :
Rumus Mononabe : I =
Dimana :
I = Intensitas curah hujan (mm/ jam)
R
24
= Curah hujan 24 jam (mm)
t = Waktu konsentrasi (jam) =
L = Panjang pengaliran (km)
V = Kecepatan perambatan aliran (km/jam) = 72
H = Beda tinggi saluran (m)
Penentuan besar debit air limpasan maksimum ditentukan dengan metode Rasional.
Metode ini hanya berlaku untuk menghitung limpasan curah hujan yang dinyatakan dalam
rumus :
Q = 0,278 . C . I . A
Dimana :
Q = Debit aliran limpasan (m/detik)
C = Koefisien limpasan (Tabel 3.2)
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
A = Luas daerah tangkapan Hujan (Km)
Tabel

Harga Koefisien Limpasan

Kemiringan Kegunaan Lahan Koefisien limpasan

< 3%
- Sawa, Rawa
- Hutan, Perkebunan
- Perumahan dengan Kebun
0,2
0,3
0,4

3% - 5%
- Hutan, perkebunan
- Perumahan
- Tumbuhan yang jarang
- Tanpa tumbuhan,
daerah penumbunan
0,4
0,5
0,6
0,7

>15%
- Hutan
- Perumahan, kebun
- Tumbuhan yang jarang
- Tanpa tumbuhan, daerah tambang
0,6
0,7
0,8
0,9

Untuk mengetahui kapasitas pengaliran suatu saluran air dapat dihitung dengan
menggunakan rumus Manning, yaitu sebagai berikut :
Q = . . S . A
Dimana :
Q = Debit air saluran (m
3
/dtk)
R = Jari-jari hidrolis ( m ) =
A = Luas penampang basah saluran ( m
2
)
P = Keliling basah saluran ( m
)








































S = Kemiringan memanjang saluran ( % )
n = Koefisien kekasaran Manning (Tabel 3.3)

Tabel
Koefisien Kekasaran Manning
No Tipe Dinding Saluran Harga n
1
2
3
4
5
6
Semen
Beton
Batu
Besi
Tanah
Gravel
0,010 0,014
0,011 0,016
0,012 0,020
0,013 0,017
0,020 0,030
0,022 0,035
7 Tanah yang ditanam 0,025 0,045














Bentuk Penampang Trapesium


Bentuk Penampang Trapesium
Dimana :
B = Lebar atas saluran (m)
b = Lebar dasar saluran (m)
R = Jari-jari hidrolis (m) =
A = Luas penampang basah saluran (m
2
)
P = Keliling basah saluran (m)
d = Kedalaman saluran (m)
h = Kedalaman air (m)
= Sudut kemiringan saluran ()
a = Panjang sisi saluran (m)
Z = Kemiringan dinding saluran
W = Daerah jagaan (m)
Untuk menentukan dimensi saluran yang berbentuk trapesium dengan luas penampang
hidrolis optimum, digunakan persamaan Efisiensi Hidrolis yang dinyatakan dalam persamaan-
persamaan sebagai berikut :
Diketahui :
A = (b + zh) h (1)
P = b + 2h . (2)
Atau
b = P 2h .. (3)
Nilai b pada persamaan (3) disubstitusikan ke dalam persamaan (1), maka diperoleh persamaan
berikut :
A = h + zh
2

Atau
A = Ph 2h
2
+ zh
2
(4)
Untuk memperoleh kondisi P minimum maka persamaan (4) dapat dideferensialkan terhadap h
dan dibuat sama dengan nol.
= P 4h + 2zh = 0 .(5)
Atau
P = 4 - 2zh (6)
Dengan menganggap h konstan, mendeferensialkan persamaan (6) dan membuat sama dengan
nol, maka diperoleh persamaan berikut :
= - 2h = 0 (7)
Atau
= 1
4z
2
= 1 + z
2
; z = = .(8)
Jadi penampang trapesium yang paling efisien adalah jika kemiringan dindingnya, z = ,
atau = 60
o

R = A/P . (9)
Dimana :
b = Lebar dasar saluran (m)
A = Luas penampang basah (m
2
)
P = Keliling basah (m)
R = Jari-jari hidrolis (m)
= Sudut kemiringan saluran ()
W = Daerah jagaan (m)

Kolam Pengendapan (Settling Pond)
Kapasitas settling pond yang direncanakan dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :
- Volume kolam (V) = Q x t
- Luas kolam (A) =
- Panjang kolam (P) =
- Lebar tiap zone =
Dimana :
V = Volume kolam (m
3
)
Q = Debit air yang masuk ke Settling Pond (m
3
/det)
A = Luas penampang kolam (m
2
)
P = Panjang sisi kolam (m)
L = Lebar sisi kolam (m)
d = Kedalaman kolam (m)
t = Lama hujan rata-rata per hari (det)


Bentuk Kolam Pengendapan Zig-Zag





















Kemiringan Saluran (S) dan Panjang Saluran Sebenarnya (Ps)

Hubungan tentang perencanaan kemiringan saluran dengan panjang saluran sebenarnya
dapat diketahui dengan rumus sebagai berikut:

H = t
2
t
1

PP = Jd x Skala peta
Tg =
= Arctg
Sin =
PS =
S = x 100%
Dimana :
t
1
= Ketinggian hilir saluran dari permukaan laut
t
2
= Ketinggian hulu saluran dari permukaan laut (m)
h = Beda tinggi antara t
1
dan t
2

PS = Jm : Panjang saluran sebenarnya atau jarak miring (m)
PP = Jd : Panjang saluran diatas peta atau jarak miring (m)
= Sudut kemiringan saluran ( )
S = Kemiringan saluran (%)

Kebutuhan Waktu Pembuatan Sistem Drainase
Untuk waktu pembuatan sistem drainase tambang yang direncanakan dengan
menggunakan alat gali/muat Excavator, terlebih dahulu diperhatikan kondisi tempat kerja dan
perpindahan alat serta dalam melakukan kegiatan penggalian saluran harus
Sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
Dengan demikian untuk perkiraan waktu penggalian alat gali dihitung dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :

P = E x

Dimana :
P = Produksi alat ( m/ jam)
E = Efisiensi kerja alat ( % )
I = Swell factor ( % )
H = Volume bucket ( m )
C = Waktu siklus ( jam )

Sedangkan perkiraan volume produksi alat gali dapat pula ditentukan dengan rumus :
V = PS x A
Dan untuk waktu pembuatan saluran digunakan rumus :
T =
Dimana :
PS = Panjang saluran (m)
A = Luas penampang saluran (m
2
)
V = Volume saluran (m
3
)
P = Produksi alat gali (m
3
/jam)
T = Waktu pembuatan saluran (jam)










Penentuan Frekuensi Maksimum Curah Hujan Harian Periode 1994-2003
Penetuan frekuensi maksimum curah hujan harian didasarkan pada data-data curah
hujan harian tertinggi yang terjadi pada daerah pengamatan selama periode 10 (sepuluh) tahun
yang dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel
Data Curah Hujan Bulanan Maksimum
Periode 1994 2003
No Tahun Curah Hujan (mm/24 Jam)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10


1994
1995
1996
1997
1998
1999
2000
2001
2002
2003


276
402
623
233
504
512
355
305
376
324

Sumber : Konsorsium kencanaraya Megaperkasa RicobanaTahun 2004






Perhitungan curah hujan rencana dengan probabilitas 80%, dimana dilakukan
pendekatan dengan tiga metode statistik yaitu :

1. Metode Distribusi Normal
Analisa probabilitas dengan Metode Distribusi Normal dinyatakan dalam
persamaan sebagai berikut :
X
T
= + K . Sx
Maka :
Dari tabel diperoleh :
- Jumlah curah hujan teramati (X) = 3910 mm
- Curah hujan rata rata ( ) = 391 mm
- Standar Deviasi (Sd) = 121,54

Selanjutnya perhitungan curah hujan rencana dengan Metode Distribusi Normal dapat
dilihat pada (Tabel 4.4), dan untuk periode ulang tertentu besarnya curah hujan rencana dapat
dilihat pada tabel.





Tabel
Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana Dengan Metode Distribusi Normal

No.
Rangking
Tahun
Terjadi
CH.
Teramati
(mm)
X
2

Periode
Ulang
Probabilitas
(%)
(K)
CH.
Teoritis
(mm)
Chi
Square

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

1996
1999
1998
1995
2002
2000
2003
2001
1994
1997

623
512
504
402
376
355
324
305
276
233

388129
262144
254016
161604
141376
126025
104976
93025
76176
54289

11
5,5
3,7
2,7
2,2
1,8
1,5
1,4
1,2
1,1

9,09
18,18
27,27
36,36
45,45
54,54
63,63
72,72
81,81
90,90

1,3480
0,9073
0,5930
0,3041
0,0153
-
0,1622
-
0,2284
-
0,3252
-
0,5198
-
0,8334

554,8359
501,2732
463,0732
427,9603
392,8595
371,2862
363,2403
351,4752
327,8235
289,7086

8,3743
0,2295
3,6171
1,5748
0,7235
0,7144
4,2391
6,1454
8,1924
11,1003
Jumlah

3910 1661760

44,9108
Sumber : Data Olahan Tahun 2004

Tabel
Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana Dengan Metode
Distribusi Normal Untuk Periode Ulang Tertentu
Periode Ulang Probabilitas (%) CH. Rencana (mm)
1,25 80 335,0673
2
5
10
20
25
50
100
50
20
10
5
4
2
1
375,2970
491,1489
546,8143
590,9333
603,8165
640,6432
673,7020
Sumber : Data Olahan Tahun 2004
2. Metode Gumbel
Analisa probabilitas Gumbel diuraikan dalam persamaan (3.2), persamaan (3.3) dan
persamaan (3.4) sebagai berikut :
X = + K . Sd
K =
Y = - [0,834 - 2,303 Log Log ]
Maka :
Dari ( Table 4.6 ) diperoleh :
- Jumlah curah hujan teramati (X) = 3910 mm
- Curah hujan rata-rata ( ) = 391 mm
- Standar Deviasi (Sd) = 121,54
Untuk jumlah data n = 10, dari ( Tabel L1-1 ), didapat :
Sn = 0,9497 Yn = 0,4952
Persamaan curah hujan dengan Metode Gumbel dapat dijabarkan Sebagai berikut :

Selanjutnya perhitungan curah hujan rencana dengan Metode Gumbel dapat dilihat pada
(Tabel 4.6) dan untuk periode ulang tertentu besarnya curah hujan rencana dapat dilihat pada
(Tabel 4.7).
Tabel 4.6
Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana Dengan Metode
Gumbel
No.
Rangking
Tahun
Terjadi
CH.
Teramati
(mm)
X
2

Periode
Ulang
Probabilitas
(%)
(K)
CH.
Teoritis
(mm)
Chi
Square

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

1996
1999
1998
1995
2002
2000
2003
2001
1994
1997

623
512
504
402
376
355
324
305
276
233

388129
262144
254016
161604
141376
126025
104976
93025
76176
54289

11
5,5
3,7
2,7
2,2
1,8
1,5
1,4
1,2
1,1

9,09
18,18
27,27
36,36
45,45
54,54
63,63
72,72
81,81
90,90

1,9543
1,1702
0,6950
0,3150
6,027.10
-
3

- 0,2712
- 0,620
- 0,7585
- 1,1354
- 1,4423

628,5256
533,2261
475,4703
429,2851
391,7325
358,0383
315,6452
298,8119
253,0035
215,7028

0,0485
0,8449
1,7118
1,7342
0,6318
0,0258
0,2211
0,1281
2,0902
1,3871
Jumlah

3910 1661760

8,8235
Sumber : Data Olahan Tahun 2004








Tabel 4.7
Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana Dengan
Metode Gumbel Untuk Periode Ulang Tertentu
Periode Ulang Probabilitas (%) CH. Rencana (mm)
1,25
2
5
10
20
25
50
100
80
50
20
10
5
4
2
1
266,7356
374,5628
519,6418
615,6967
707,8349
737,0624
827,0984
916,4696
Sumber : Data Olahan Tahun 2004
3. Metode Log Pearson Type I I I
Metode Log Pearson Type III diuraikan dalam persamaan (3.5) dan persamaan (3.6),
Sebagai berikut :
Log X = Log + K . Sd
Maka :
Dari (Tabel 4.6) didapat :
- Jumlah curah hujan (X) = 3910 mm
- Rata-rata curah hujan (Log ) = 2,57389 mm
- Standar Deviasi (Sd) = 0,132
- Jumlah data n = 10, dari (Tabel L1-1), didapat :
Sn = 0,9497 Yn = 0,4952
- Jumlah (Log X - Log )
3
= 2,4898.10
-3

- G =
= 0,1503523334
= 0,2 (dibulatkan)
Dari (Tabel 4.8) harga kooefisien K dapat diketahui dengan menentukan terlebih dahulu
probabilitas yang dikehendaki.
Persamaan curah hujan rencana dengan Metode Log Pearson Type III dapat dijabarkan
sebagai berikut :
Log X = 2,57389 + K . 0,132
Selanjutnya perhitungan curah hujan rencana dengan Metode Log Pearson Type III
dapat dilihat pada (Tabel 4.8) dan untuk periode ulang tertentu besarnya curah hujan rencana
dapat dilihat pada (Tabel 4.9).












Tabel 4.8
Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana Dengan Metode Log Pearson Type III
No.
Rangking
Tahun
Terjadi

CH.
Teramati
(mm)
Log X (Logx-Log )
2
(Logx-og )
3

Probabilitas
(%)
K
CH.
Teoritis
Chi
Square

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

1996
1999
1998
1995
2002
2000
2003
2001
1994
1997

623
512
504
402
376
355
324
305
276
233

2,7945
2,7093
2,7024
2,6042
2,5752
2,5502
2,5105
2,4843
2,4409
2,3674

0,0486
0,0183
0,0165
9,186.10
-4

1,716.10
-6

5,612.10
-4

4,018.10
-3

8,026.10
-3

0,0176
0,0426

0,01
2,483.10
-3

2,122.10
-3

2,7845.10
-
5

2,248.10
-9

-1,329.10
-
5

-2,547.10
-
4

-7,19.10
-4

-2,352.10
-
3

-8,804.10
-
3


9,09
18,18
27,27
36,36
45,45
54,54
63,63
72,72
81,81
90,90

1,3794
0,9157
0,6208
0,3594
0,0978
-
0,1566
-
0,4042
-
0,6517
-
0,9238
-1,317

570,1259
495,1792
452,7262
418,1487
386,1887
357,4528
331,5397
307,5145
283,1055
252,2152

4,9036
0,5714
5,8070
0,6236
0,2688
0,0168
0,1715
0,0205
0,1783
1,4639

25,7389


0,157125516

2,4898.10
-
3


14,0254
Sumber: Data Olahan Tahun 2004









Tabel 4.9
Hasil Perhitungan Curah Hujan Rencana Dengan Metode
Log Pearson Type III Untuk Periode Ulang Tertentu

Periode Ulang Probabilitas (%) K CH Rencana (mm)
1,25
2
5
10
20
25
50
100
80
50
20
10
5
4
2
1
-0,85
-0,033
0,83
1,301
1,7318
1,818
2,159
2,472
485,3891
371,1367
482,4474
556,7009
634,5817
651,4273
722,5668
794,6831
Sumber: Data Olahan Tahun 2004
Untuk maksud ini, penulis menggunakan Chi Square test yang dihitung dengan
persamaan:
Chisquare (X)
2
=
Dimana :
xp = Nilai pengamatan
xt = Nilai teoritis (rencana)
Hasil pengetesan Chi Square dari ketiga metode diatas dapat dilihat pada (Tabel 4.10).


Tabel 4.10
Hasil Pengetesan Chisquare
Metode Distribusi Normal Gumbel Log Pearso Type III

Chi Square


44,9108

8,8235

14,0254
Sumber: Data Olahan Tahun 2004
Berdasarkan hasil yang didapat dari pengetesan Chisquare dimana hasil yang terkecil
didapat dari Metode Gumbel yang digunakan untuk menghitung intensitas curah hujan, maka
digunakan curah hujan rencana dengan periode ulang 10 tahun dari hasil perhitungan dengan
Metode Gumbel yaitu sebesar 615,6967 mm/bulan.












Penentuan Luas Daerah Tangkapan Hujan
Hasil Pengukuran Daerah Tangkapan Hujan
Lokasi Tambang Blok GC
Nomor
Urut
Kode Daerah
Pengaruh
Pengukuran (m
2
)
Total (m
2
)
Rata-Rata
(m
2
)
1 2 3

1
2
3
4
5

I
II
III
IV
V

69639,75
50400
53055
33394,50
10068,75

2840,625
259,875
569,25
1089
5505,75

1828,125
1069,875
607,5
2342,25
8538,78

74308,50
51942,38
54231,75
36825,75
24113,28

24769,50
17314,12
18077,25
12275,25
8037,76
Jumlah 80473,89
Sumber: Data Olahan Tahun 2004

Data Perhitungan Kemiringan Saluran dan Panjang Saluran Sebenarnya

Hasil Perhitungan Kemiringan Saluran dan Panjang Saluran
Sebenarnya pada Lokasi Tambang Blok GC
Nomor
Urut
Saluran t
2
(m) t
1
(m)
h
(m)
PP
(m)




L
(m)
S
(%)

1
2
3
4
5

A
B
C
D
E

65
40
25
25
50

40
25
18
18
25

25
15
7
7
25

273
184,5
199,5
139,5
267

0,0916
0,0813
0,0350
0,0501
0,0936

51356
43852
2034
25221
52050

274,1423
185,1087
199,623
139,6755
268,1678

9,16
8,13
3,50
5,01
9,36
Sumber : Data Olahan Tahun 2004



4.2.4 Perhitungan Intensitas Curah Hujan
Intensitas curah hujan merupakan perbandingan kenaikan limpasan air hujan terhadap
lamanya waktu kejadian pada suatu daerah dan berpengaruh besar terhadap rancangan sistem
penirisan pada lokasi tambang. Dimana curah hujan rencana untuk periode 10 tahun (R
24
) adalah
sebesar 615,6967 mm/bulan dengan waktu hujan 14 hari, maka curah hujan rencana =
615,6967/14 = 43,9783 mm/hari. Selanjutnya Intensitas curah hujan dihitung berdasarkan rumus
Mononobe persamaan (3.7) sebagai berikut :


1. Daerah Pengaruh I
Diketahui :
- Beda tinggi hulu = 65 m
- Beda tinggi hilir = 40 m
- Beda tinggi hulu dan hilir saluran (H) = 65-40
= 25 m = 0,025 km
- Panjang saluran (L) = 274,1423 m = 0,2741423 km
- Curah hujan 24 jam (R
24
) = 43,9783 mm/hari
Maka :
Kecepatan pengaliran (V) = 72
= 72
= 17,1124 km/jam
Waktu konsentrasi (t) =
=
= 0,0160 jam
Sehingga :
Intensitas (I) =
=
= 240,1161 mm/jam
Hasil perhitungan Intensitas curah hujan pada kelima daerah pengaruh tersebut dapat
dilihat pada (Tabel 4.13), sebagai berikut :












PERHITUNGAN INTENSITAS CURAH HUJAN

Tabel
Hasil Perhitungan Intensitas Curah Hujan Pada Blok GC
Nomor
Urut
Kode
Daerah
Pengaruh
t
2
(m) t
1
(m)
H
(km)
L
(km)
R
24
(mm)

V
(km/jam)

t
(jam)
I
(mm/jam)

1
2
3
4
5

I
II
III
IV
V

65
40
25
25
50

40
25
18
18
25

0,025
0,015
0,007
0,007
0.025

0,2741423
0,1851087
0,199623
0,1396755
0,2681678

43,9783
43,9783
43,9783
43,9783
43,9783

17,1124
15,9415
9,644
11,9486
17,3401

0,0160
0,0116
0,0207
0,01169
0,01547

240,1161
297,529
202,2341
295,99
245,5695
Sumber : Data Olahan Tahun 2004


4.2.5 Perhitungan Debit Limpasan
Tabel
Hasil Perhitungan Debit Air Limpasan Maksimum Daerah
Limpasan Hujan Lokasi Tambang Blok GC
KodeDaera
h Pengaruh
Tetapan
Rasional
Koefisien
Pengaliran
Intensitas CH
(mm/jam)
Luas
Daerah
Pengaruh
(m
2
)
Debit
Limpasan
(m
3
/detik)

I
II
III
IV
V

0,278
0,278
0,278
0,278
0,278

0,9
0,9
0,9
0,9
0,9

240,1161
297,529
202,2341
295,99
245,5695

74308,50
51942,38
54231,75
36825,75
24113,28

1,2401
1,074
0,762
0,757
0,,412
Jumlah 4,2451
Sumber : Data Olahan Tahun 2004


5.2 Curah Hujan
Hujan sebagai salah satu komponen cuaca yang sangat mempengaruhi kegiatan
penambangan dan sistem drainase. Hasil pengamatan curah hujan pada daerah penelitian kurang
lebih selama sepuluh tahun (1994-2003). Curah hujan terendah pada tahun 1997 sebesar 1274
mm/tahun dengan jumlah hari hujan 80 hari/tahun dan curah hujan maksimum sebesar 233
mm/bulan, sedangkan curah hujan tertinggi terjadi pada tahun 1996 sebesar 3954 mm/tahun
dengan jumlah hari hujan 174 hari/tahun dan curah hujan maksimum sebesar 623 mm/bulan.

5.2.1 Intensitas Curah Hujan
Dalam menentukan intensitas curah hujan digunakan curah hujan maksimum dan hari
hujan maksimum mulai dari tahun 1994-2003, dimana data ini diperoleh dari Konsorsium
Kencanaraya Megaperkasa Ricobana dan sumber-sumbar lainnya.
Setelah melakukan perhitungan intensitas curah hujan dengan menggunakan Metode
Distribusi Normal, Metode Gumbel dan Metode Log Pearson Type III, maka didapat curah hujan
rencana dengan Metode Log Pearson Type III, sesuai dengan penentuan curah hujan rencana
untuk periode ulang 10 tahun berdasarkan umur eksploitasi tambang. Besar curah hujan
maksimum ini dipakai sebagai dasar untuk penentuan dari perhitungan intensitas curah hujan.


Dari hasil perhitungan didapat intensitas curah hujan sebagai berikut :
1. Daerah Pengaruh I = 240,1161 mm/jam .
2. Daerah Pengaruh II = 297,529 mm/jam .
3. Daerah Pengaruh III = 202,2341 mm/jam .
4. Daerah Pengaruh IV = 295,99 mm/jam .
5. Daerah Pengaruh V = 245,5695 mm/jam .
5.2.2 Daerah Tangkapan Hujan (Cathment Area)
Pada penentuan besarnya luas daerah tangkapan hujan di lokasi penambangan blok
GC, dilakukan dengan menganalisa peta topografi. Dari peta tersebut dapat ditentukan luas
daerah tangkapan hujan dengan batasan-batasan daerah tertinggi dan lereng-lereng bukit dimana
air hujan akan mengaliri menuju titik konsentrat (saluran dan settling pond). Alat yang
digunakan untuk mengukur luas daerah tangkapan hujan adalah Planimeter. Daerah yang diukur
cukup luas, maka untuk kemudahan dalam pengukuran daerah tersebut dibagi atas bagian-
bagian.
Masing-masing daerah pembagian diukur sebanyak tiga kali dan diambil rata-ratanya
(Tabel 4.11). Dari hasil pengukuran tersebut diperoleh data-data sebagai berikut :
1. Daerah pengaruh I = 24769,50 m
2

2. Daerah pengaruh II = 17314,12 m
2

3. Daerah pengaruh III = 18077,25 m
2

4. Daerah pengaruh IV = 12275,12 m
2

5. Daerah pengaruh V = 8037,76 m
2

5.2.3 Debit Air Limpasan Permukaan
Debit air limpasan adalah besarnya air yang mengalir pada permukaan tanah per satuan
waktu. Untuk menghitung atau menentukan besarnya debit air limpasan permukaan dapat
dihitung dengan menggunakan data curah hujan, intensitas curah hujan, luas daerah pengaruh
dan koefisien limpasan.
Setelah dilakukan perhitungan (Lampiran 2), maka dapat diketahui debit air limpasan
permukaan yang terdapat pada masing-masing daerah pengaruh pada blok GC sebagai berikut :
1. Daerah pengaruh I = 1,2401 m
3
/detik
2. Daerah pengaruh II = 1,074 m
3
/detik
3. Daerah pengaruh III = 0,762 m
3
/detik
4. Daerah pengaruh IV = 0,757 m
3
/detik
5. Daerah pengaruh V = 0,412 m
3
/detik

5.3 Kapasitas Saluran Yang Di Rencanakan Pada Blok GC
Saluran yang akan akan dirancang didasarkan atas debit air limpasan maksimum yang
akan mengalir. Hal ini dilakukan agar dapat mengalirkan air limpasan pada daerah tertentu
apabila terjadi hujan sehingga dapat mengurangi air masuk ke dalam lokasi penambangan.
Dari hasil perencanaan alur drainase pada blok GC ada 2 alur saluran yang
direncanakan yaitu saluran A.
Dari hasil perhitungan maka didapat debit air yang harus dialirkan pada saluran A
adalah sebesar 1,2401 m
3
/detik (Lampiran 3). Untuk mengatasi debit air tersebut, maka pada
saluran ini dibuat bentuk saluran trapesium dengan ukuran yang disesuaikan dengan debit air
limpasan yang masuk pada daerah tersebut. Adapun dimensi saluran yang direncanakan sesuai
dengan hasil perhitungan lihat (Lampiran 2) didapat ukuran dimensi untuk saluran A sebagai
berikut :
- Lebar dasar saluran (b) = 0,4746 m
- Tinggi saluran (h) = 0,412 m
- Sudut kemiringan () = 60
- Cotg (z) = 0,58 h
- Kemiringan saluran (S) = 9,16 %
= 0,0916
- Tinggi jagaan (w) = 0,3236 m
Untuk ukuran saluran berikutnya dapat dilihat pada (Lampiran 9) dalam pembuatan
saluran tidaklah efisien jika saluran yang direncanakan tidak disesuaikan dengan peralatan yang
tersedia. Oleh karena itu, untuk pebuatan saluran haruslah didasarkan pada kemampuan alat yang
ada.
Dalam pembuatan saluran dilakukan oleh satu unit alat gali Excavator 330B
Caterpillar. Berdasarkan hasil perhitungan pada (Lampiran 9), waktu yang dibutuhkan untuk
pembuatan saluran air tersebut adalah sebagai berikut :
1. Untuk saluran A dengan panjang 274,1423 m dikerjakan selama = 5,6048jam
2. Untuk saluran B dengan panjang 185,1087 m dikerjakan selama = 3,5489 jam
3. Untuk saluran C dengan panjang 199,623 m dikerjakan selama = 4,0618 jam
4. Untuk saluran D dengan panjang 139,6755 m dikerjakan selama = 2,472 jam
5. Untuk saluran E dengan panjang 268,1678 m dikerjakan selama = 2,3851 jam
Dari hasil perhitungan dimensi saluran air maka kemampuan saluran yang
direncanakan untuk mengalirkan air limpasan dari tiap-tiap daerah pengaruh sudah dapat
mengalirkan air limpasan yang ada tersebut.
5.4 Kapasitas Settling Pond (Kolam Pengendapan) Yang Di Rencanakan Pada Blok GC
Kapasitas settling pond yang direncanakan pada blok GC adalah dimana dilihat terlebih
dahulu besarnya debit air limpasan yang masuk pada saluran yang akan menuju ke dalam
settling pond (kolam pengendapan).
Settling pond (kolam pengendapan) yang direncanakan pada daerah penambangan blok
GC sebagai daerah penelitian adalah satu buah dimana telah dilihat atau dari hasil perhitungan
debit air limpasan, persen padatan dalam air berlumpur dan lamanya pengaliran tiap hari
hujannya pada masing-masing daerah pengaruh yang telah ada.
Settling pond yang direncanakan pada daerah penambangan blok GC (Lampiran 10)
adalah berbentuk zig-zag dengan hasil perhitungan kapasitas settling pond adalah sebagai berikut
:

- Volume kolam (V) = 227,8659 m
3

- Debit air (Q) = 4,2451 m
3
/dtk
- Luas penampang kolam (A) = 75,9553 m
2

- Panjang sisi kolam (P) = 18,9888 m
- Lebar sisi kolam (L) = 4 m
- Kedalaman kolam (d) = 3 m
- Lebar tiap zona (LZ) = 6,3296 m
Dengan menggunakan bentuk zig-zag maka dapatlah diketahui kecepatan aliran air
berlumpur tidak terlalu cepat sehingga lebih banyak partikel-partikel padatan (lumpur) dapatlah
diendapkan pada kolam pengendapan sebelum air limpasan tersebut dialirkan keluar tambang
dan dibuang menuju ke laut, karena daerah penambangan pada Konsorsium Kencanaraya
Megaperkasa Ricobana adalah berbentuk pulau.












HASIL PENELITIAN

Dari hasil penelitian saya maka sistem drainase yang cocok digunakan pada front
penambangan blok GC Pulau Gee yaitu sistem drainase tambang konvensional dengan metode
open sump yang terdiri dari beberapa bagian yaitu : Saluran dan kolam pengendapan (Settling
Pond). Dari hasil penelitian di lapangan dan perhitungan maka rancangan sistem drainase
tambang pada front penambangan blok GC adalah sebagai berikut :
1.Untuk panjang saluran adalah : 1066,7173 m dengan total waktu pengerjaannya adalah : 18,0726
jam, dengan debit pengaliran (Q) = 4,2451 m
3
/ detik.
2.Kolam pengendapan (settling pond) dengan kapasitas penampungan (V) = 227,8659 m
3
, dengan
total waktu pengerjaannya adalah : 5,4648 jam, dengan debit air saluran yang masuk kedalam
kolam (Q) = 4,2451 m
3
/ detik dan luas penampang kolam = 75,9553 m
2
.



DIMENSI TIAP-TIAP SALURAN
Jadi dimensi saluran A adalah :
b = 0,4746 meter
h = 0,412 meter
= 60
o

S = 0,0916
w = 0,3236 meter

Jadi dimensi saluran B adalah :
b = 0,4596 meter
h = 0,399 meter
= 60
o

S = 0,0813
w = 0,3197 meter

Jadi dimensi saluran C adalah :
b = 0,4735 meter
h = 0,411 meter
= 60
o

S = 0,0350
w = 0,3233 meter


Jadi dimensi saluran D adalah :
b = 0,4416 meter
h = 0,3833 meter
= 60
o

S = 0,0502
w = 0,3149 meter

Jadi dimensi saluran E adalah :
b = 0,3131 meter
h = 0,2718 meter
= 60
o

S = 0,0936
w = 0,2815 meter

Tabel L 3.1
Hasil Perhitungan Rencana Dimensi Penampang Saluran
Pada Lokasi Tambang Blok GC
No Saluran
Q
(m
3
/dtk)
S
(%)
n
b
(m)
h
(m)
Z w (m)

1
2
3

A
B
C

1,2401
1,074
0,762

0,0916
0,0813
0,0350

0,025
0,025
0,025

60
60
60

0,4746
0,4596
0,4735

0,412
0,399
0,411

0,58
0,58
0,58

0,3236
0,3197
0,3233
4
5
D
E
0,757
0,412
0,0501
0,0936
0,025
0,025
60
60
0,4416
0,3131
0,3833
0,2718
0,58
0,58
0,3149
0,2815
Sumber : Data Olahan Tahun 2004

WAKTU PEMBUATAN SALURAN
waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan saluran air tersebut adalah sebagai berikut :
1. Untuk saluran A dengan panjang 274,1423 m dikerjakan selama = 5,6048jam
2. Untuk saluran B dengan panjang 185,1087 m dikerjakan selama = 3,5489 jam
3. Untuk saluran C dengan panjang 199,623 m dikerjakan selama = 4,0618 jam
4. Untuk saluran D dengan panjang 139,6755 m dikerjakan selama = 2,472 jam
5. Untuk saluran E dengan panjang 268,1678 m dikerjakan selama = 2,3851 jam

KAPASITAS SETTLING POND
Settling pond yang direncanakan pada daerah penambangan blok GC adalah berbentuk
zig-zag dengan hasil perhitungan kapasitas settling pond adalah sebagai berikut :
- Volume kolam (V) = 227,8659 m
3

- Debit air (Q) = 4,2451 m
3
/dtk
- Luas penampang kolam (A) = 75,9553 m
2

- Panjang sisi kolam (P) = 18,9888 m
- Lebar sisi kolam (L) = 4 m
- Kedalaman kolam (d) = 3 m
- Lebar tiap zona (LZ) = 6,3296 m


Dengan menggunakan bentuk zig-zag maka dapatlah diketahui kecepatan aliran air
berlumpur tidak terlalu cepat sehingga lebih banyak partikel-partikel padatan (lumpur) dapatlah
diendapkan pada kolam pengendapan sebelum air limpasan tersebut dialirkan keluar tambang
dan dibuang menuju ke laut, karena daerah penambangan pada Konsorsium Kencanaraya
Megaperkasa Ricobana adalah berbentuk pulau.

Perkiraan Produksi Pengalian Excavator 330 B Caterpillar

Sesuai dengan pengamatan di lapangan waktu siklus alat gali Excvator 330B Caterpillar terdiri
dari : waktu menggali, waktu putar isi, waktu menumpah, waktu putar kosong serta waktu
pindah.
Dari hasil studi penelitian maka didapat waktu siklus alat tersebut dalam kondisi yang baik untuk
bekerja. Berbeda dengan pekerjaan membuat saluran, banyak faktor yang dapat mempengaruhi
waktu siklus, misalnya tempat yang tidak rata alat selalu berpindah pindah serta penggalian
saluran harus sesuai dengan yang diinginkan. Oleh karena itu dari data yang diperoleh, bahwa
waktu siklus 3 x 31,354 detik = 94,062 detik = 0,0261 jam sedangkan untuk pembuatan kolam
pengendapan (settling pond) diambil 2 x 15,961 detik = 31,922 detik = 0,009 jam.
Dengan demikian perkiraan produksi per jam oleh alat gali tersebut dapat dihitung, dimana
efesiensi kerja alat diambil 70% dan swell factor 71,48%. Maka untuk menghitung perkiraan
produksi penggalian alat Excavator 330 B Caterpillar dapat dihitung dengan menggunakan
rumus sebagai berikut :
P =
Dimana :
P = Produksi alat (m
3
/jam)
E = Efesiensi kerja alat = 70%
H = Volume Bucket = 0,75 m
3

C = Waktu siklus
- Untuk saluran = 0,0261 jam
- Untuk kolam = 0,009 jam
Maka produksi alat gali pada penggalian saluran sebesar :
P =
= 14,38 m
3
/ jam
Maka produksi alat gali untuk penggalian kolam penggendapan sebesar :
P =
= 41,6967 m
3
/ jam











Hasil Perhitungan Waktu Pembuatan Saluran Pada Lokasi Tambang Blok GC

No. Urut Saluran
PS
(m)
A
(m
2
)
V
(m
3
)
P
(m
3
/jam)
T
(jam)

1
2
3
4
5

A
B
C
D
E

274,1423
185,1087
199,623
139,6755
268,1678

0,294
0,2757
0,2926
0,2545
0,1279

80,5978
51,0345
58,4096
35,5474
34,2986

14,38
14,38
14,38
14,38
14,38

5,6048
3,5489
4,0618
2,472
2,3851

Total waktu pembuatan saluran

18,0726
Sumber : Data Olahan Tahun 2004

Keterangan :
PS = Panjang saluran (m)
A = Luas penampang saluran (m)
V = Volume saluran (m
3
)
P = Produksi alat gali (m
3
/jam)
T = Waktu pembuatan saluran (jam)

Hasil Perhitungan Waktu Pembuatan Kolam Pengendapan (Settling Pond)
Pada Lokasi Tambang Blok GC

No. Urut Kolam
V
(m
3
)
P
(m
3
/jam)
T
(jam)

1

A

227,8659

41,6967

5,4648
Total waktu pembuatan kolam pengendapan
5,4648
Sumber : Data Olahan Tahun 2004