Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRATIKUM

DASAR SINTESIS SENYAWA OBAT



PERCOBAAN 01 & 02
ASAM BENZOAT DAN PENENTUAN TITIK LELEH

Tanggal Pratikum : Selasa, 25 Februari 2014
Tanggal pengumpulan : Selasa, 4 Maret 2014

Disusun Oleh
Elvira Sari
NIM 10712084
Sains dan Teknologi Farmasi
Kelompok 16

Nama Asisten : Ericka Rizky Keumala Dewi (10710034)

LABORATORIUM SINTESIS OBAT
PROGRAM STUDI SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI
FAKULTAS SEKOLAH FARMASI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

PERCOBAAN 01 DAN 02
ASAM BENZOAT DAN PENENTUAN TITIK LELEH

I. Tujuan Percobaan
1.1 Menentukan bobot senyawa asam benzoat hasil sintesis serta rendemennya
1.2 Menentukan kemurnian asam benzoat hasil sintesis melalui uji warna dan uji
esterifikasi
1.3 Menentukan titik leleh asam benzoat hasil sintesis

II. TEORI DASAR
Benzena merupakan senyawa aromatik yang tidak mudah mengalami reaksi
dengan senyawa lainnya karena adanya resonansi. Resonansi terjadi karena terdapat
delokalisasi elektron dari ikatan rangkap ke ikatan tunggal. Ikatan rangkap dua pada
benzena tidak terdelokalisasi pada karbon tertentu, tetapi dapat berpindah-pindah dan
membentuk cincin yang kokoh sehingga tidak mudah diganggu dan menyebabkan ikatan
benzena menjadi stabil. Namun, gugus alkil dari alkil benzena dapat dengan mudah
mengalami oksidasi. Salah satu contoh alkil benzena adalah toluena. Toluena yang
dioksidasi parsial dengan oksigen akan menghasilkan asam benzoat.

Asam benzoat atau C
7
H
6
O
2
berbentuk jarum atau sisik berwarna putih, sedikit
berbau, biasanya bau benzaldehida atau benzoin Senyawan ini agak mudah meguap pada
suhu hangat dan mudah menguap dalam uap air. Asam benzoat dengan nama dagang
benzenecarboxylic acid atau carboxybenzene merupakan asam karboksilat aromatik yang
paling sederhana. Dalam metode sintesis, asam benzoat dimurnikan dengan cara
rekristalisasi. Cara rekristlisasi yang dilakukan adalah dengan memberikan perbedaan
suhu (dari temperatur tinggi menjadi temperatur rendah) pada hasil sintesis. Selain
dengan toluena, asam benzoat dapat disintesa dari dari bermacam-macam zat organik
seperti benzil alkohol, benzaldehida, dan asam phtalat. Asam benzoat berfungsi sebagai
pengawet, antiseptik, obat kulit, dan plasticizer.

III. PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Sintesis Asam Benzoat

1) Dimasukkan ke dalam labu tiga leher 250 mL, yang
dilengkapi dengan kondensator refluks dan corong tetes
2) Ditambahkan KMnO
4
(10 g dalam 100 mL air) secukupnya
beberapa tetes
3) Direfluks selama 45 menit
4) Ditunggu hingga kembali ke suhu ruangan

1) Disaring dengan corong buchner
2) Padatan hasil filtrasi dicuci dengan 30 mL air

1) Dimasukkan ke dalam labu erlenmeyer
2) Diasamkan dengan HCl 1N dan 2N (hingga pH 4)
3) Dituang ke dalam corong pisah 250 mL
4) Ditambahkan heksana 100 mL
5) Corong pisah dikocok perlahan (jangan sampai terbentuk
globul)
6) Diekstraksi kembali dengan 100 mL heksana

1) Ditambahkan dengan Na
2
SO
4
anhidrat 10 gram
2) Dikocok hingga jernih
3) Disaring dengan kertas saring
4) Dievaporasi dengan rotary evaporator hingga tidak ada air
lagi

1) Ditambahkan air panas 100 mL
2) Dipanaskan secukupnya
3) Disaring dengan kertas saring
4) Didinginkan hingga terbentuk kristal
Hasil evaporasi
Fasa organik
Hasil filtrasi (filtrat)
Campuran hasil refluks
10 mL toluena + 10 mL NaOH 10 %
5) Dikeringkan dalam oven 60C selama 30 menit

3.2 Uji Warna

1) Dimasukkan ke dalam tabung reaksi
2) Ditambah 2 mL air panas
3) Ditambah CH
3
COOH 2 tetes
4) Ditambah FeCl
3
2 tetes
5) Ditambah H
2
O
2
5% 2 tetes
6) Dipanaskan dan ditambah HCl 1 tetes

3.3 Uji Esterifikasi

1) Dimasukkan dalam tabung reaksi
2) Ditambahkan etanol absolut 5 tetes
3) Ditambahkan H2SO4 pekat 5 tetes
4) Dipanaskan

3.4 Penentuan titik leleh

1) Disebar di kaca arloji dan ujung terbuka dari kapiler
2) Tabung dibalik-balik dan diketuk (agar merata)
3) Terbentuk kolum padat dengan tinggi 3 mm pada tabung
reaksi

1) Termometer pembantu ditempelkan dengan termometer
utama
2) Mercury bulb berada pada tengah kolom merkuri saat
termometer utama berada pada titik leleh sampel
Disiapkan alat
Asam Benzoat yang telah disediakan
Bau seperti ethyl benzoic indikasi asam benzoat
Asam benzoat hasil sintesis
Warna ungu indikasi asam benzoat
Asam benzoat hasil sintesis
Asam benzoat hasil sintesis


1) Dimasukkan ke dalam lubang thiele apparatus
2) Tabung kapiler dicelupkan ke cairan panas
3) Nilai N dihitung saat cairan panas tidak di dalam tabung
kapiler
4) Tabung kapiler dimasukkan ke lubang kecil (dengan
melting block apparatus)
5) Termometer utama dimasukkan ke lubang besar (dengan
melting block apparatus)

1) Dipanaskan dengan kecepatan 10C per menit hingga
berada dibawah 10C titik leleh sampel
2) Kecepatan diturunkan menjadi 1C per menit

1) Dicatat suhu pada termometer utama

1) Dicatat pada termometer utama dan pembantu
2) Dihitung nilai titik leleh


IV. HASIL PERCOBAAN
- Volume Toluena : 10 mL
- Volume KMnO
4
: 0,333 mL
- Massa asam benzoat : 0
- Trayek titik leleh asam benzoat referensi : 121,3-121,8 C
- Uji warna asam benzoat referensi menghasilkan warna coklat
- Uji esterifikasi asam benzoat referensi meghasilkan bau khas ester seperti mint

V. PENGOLAHAN DATA
-

MP = T + K
Asam benzoat meleleh semua
Asam benzoat mulai meleleh
Bak cairan panas
2 termometer + Tabung
-


-


-

=


- Pada reaksi, yang bertindak sebagai pereaksi pembatas adalah KMnO
4

Reaksi sintesis asam benzoat yang berlangsung dalam suasana basa, yaitu :

2 KMnO
4
+ C
6
H
5
CH
3




2 MnO
2
+ C
6
H
5
COOH + 2 KOH
m 2,107 x 10
-4
mol

0,094 mol

-

-

-
b 2,107 x 10
-4
mol 1,053 x 10
-4
mol
2,107 x 10
-4

mol

1,053 x 10
-4

mol

2,107 x 10
-4

mol
s -

0,0939 mol

2,107 x 10
-4

mol
1,053 x 10
-4

mol
2,107 x 10
-4

mol


- Massa asam benzoat yang terbentuk :


- Dari hasil percobaan tidak didapatkan asam benzoat sehingga massa asam benzoat
pada percobaan adalah 0
Persen rendemen :








VI. PEMBAHASAN
Sintesis asam benzoat
Asam benzoat merupakan senyawa kimia organik produk industri kimia.
Asam benzoat dapat digunakan sebagai bahan baku untuk industri kimia, industri
makanan, farmasi, dan lain-lain. Kegunaan asam benzoat antara lain sebagai bahan
pengawet makanan, antiseptik, bahan pembuatan fenol, kaprolaktam, glikol benzoat,
sodium dan potasium benzoat.
Asam benzoat terdapat di alam dalam bentuk turunan seperti garam, ester dan
amida. Sejumlah kecil terdapat pada kelenjar bau dari berang-berang, kulit kayu cherry,
berry, prem, cengkeh matang dan minyak biji adas. Balsam dari Peru dan Tolu
mengandung benzil benzoat dan juga asam benzoat. Urin herbivora mengandung
sejumlah kecil glisin yang merupakan turunan asam benzoat dan asam hippurat.
Sehingga dapat dikatakan bahwa asam benzoat dalam bentuk murni tidak terdapat di
alam.
Senyawa ini merupakan salah satu jenis asam organik yang memiliki rumus
molekul C
6
H
5
COOH dengan berat molekul 122,12 g/mol. Asam benzoat sangat larut
dalam air dan memiliki kelarutan 3,4 g/L, dan titik leleh 122.4 C (395 K).
Struktur asam benzoat :




Asam benzoat merupakan suatu bentukan kristal padat yang tak berwarna dan
merupakan asam karboksilat aromatik. Asam lemah ini dan garamnya banyak
digunakan sebagai pengawet makanan. Asam benzoat adalah prekusor penting dalam
pembuatan banyak substansi organik lainnya.
Untuk mendapatkan sintesis asam benzoat dalam pratikum digunakan bahan
utama toluena yang dicampurkan dengan NaOH 10%. Toluena merupakan hidrokarbon
aromatik yang sering dijadikan stok umpan industri, sedangkan NaOH adalah katalis
basa yang menyebabkan reaksi berjalan lebih cepat. Setelah itu dilakukan penambahan
larutan KMnO
4
yang berfungsi sebagai oksidator yang akan mengoksidasi toluena.
KMnO
4
sendiri akan mengalami reduksi (yang mengoksidasi adalah ion MnO
4
-
).
Toluena memiliki struktur cincin benzena yang memiliki gugus alkil berupa CH
3
.
Struktur ini akan membuat toluena mudah teroksidasi oleh KMnO
4
yang merupakan
oksidator kuat. Dalam proses pembuatan larutan KMnO
4
harus dilakukan secara hati-
hati karena sifanya yang sesnsitif terhadap cahaya dan juga sangat mudah bereaksi
dengan senyawa lain. Pengambilan serbuk KMnO
4
harus dilakukan di tempat gelap
tanpa cahaya. Berikut adalah reaksi yang terjadi pada proses oksidasi :


Larutan toluena yang telah ditambahkan dengan NaOH dimasukkan dalam
labu 3 leher. Labu 3 leher tersebut dipasangkan dengan alat refluks yang telah
disiapkan sebelumnya. Larutan KMnO
4
ditetes perlahan hingga warna larutan berubah
coklat. Lubang kainnya pada tabung 3 leher ditutup dengan alumunium foil untuk
mengurangi penguapan. Refluks adalah salah satu metode dalam ilmu kimia untuk
mensintesis suatu senyawa, baik organik maupun anorganik. Umumnya digunakan
untuk mensintesis senyawa-senyawa yang mudah menguap atau volatil. Jika dalam
mensintesis senyawa volatil ini dilakukan pemanasan biasa, maka pelarut akan
menguap sebelum reaksi berjalan sampai selesai. Keuntungan dari teknik refluks ini
yaitu dapat dibiarkan untuk jangka waktu yang panjang tanpa perlu menambahkan
pelarut lagi dan tidak mengurangi volume larutan sehingga volume akan tetap dan
tidak ada yang terbuang.
Larutan direfluks selama 45 menit dan akan didapatkan hasil berupa endapan
berwarna coklat. Endapan berwarna coklat merupakan MnO
2
yang dihasilkan bersama
dengan kalium benzoat. Hasil tersebut disaring dengan corong buchner. Corong
buchner memiliki prinsip penyaringan vakum, sehingga hasil filtrat yang diperoleh
sangat baik. Setelah itu padatan hasil filtrasi dicuci dengan aquades untuk
menghilangkan pengotor yang masih mungkin menyangkut setelah dilakukan filtrasi.
Hasil filtrasi tersebut dimasukkan dalam erlenmeyer dan ditambah dengan
HCL 1 N dan 2 N. Pembuatan HCL 1 N dan 2 N dilakukan dengan pengenceran dari 12
N. HCl berfungsi sebagai penyumbang gugus H
+
. Gugus H
+
ini akan menggantikan K
+

dari kalium benzoat sehingga didapatkan asam benzoat. Maka dari itu penambahan HCl
ditujukan untuk mengasamkan kalium benzoat dan larutan dipastikan berada pada pH
sekitar 4 yang merupakan pH normal menunjukkan sifat asam suatu larutan.
Setelah diasamkan larutan dimasukkan dalam corong pemisah dan
ditambahkan dengan 100 mL Hekasana. Heksana berfungsi sebagai pelarut organik
untuk ekstraksi. Heksana memiliki berat jenis yang lebih kecil dari air dan lebih atraktif
terhadap asam benzoat yang terlarut dalam air sehingga saat ekstraksi asam benzoat
terlarut akan tertarik ke dalam fasa heksana. Selain itu sifat kepolaran dari heksana
yang sifatnya non polar sama dengan asam benzoat membuat asam benzoat berada di
pelarut organik dibanding air. Penggunaan corong pemisah menggunakan prinsip
ekstraksi cair-cair. Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak
meninggalkan pelarut yang pertarma (media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut
kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut tidak
saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi perpindahan masa
yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar
terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut. Ekstraksi
cair-cair dilakukan dua kali agar tidak ada asam benzoat yabg tertinggal. Penggunaan
corong pemisah juga tidak boleh terlalu lama karena dapat menyebabkan larutan
menjadi jenuh dan sulit menarik asam benzoat.
Fasa organik yang didapat dari proses ekstraksi ditambahkan Na
2
SO
4
anhidrat.
Na
2
SO
4
yang ada di laboratorium belum sepenuhnya anhidrat sehingga dibutuhkan
proses pengovenan di suhu 60C selama 15 menit. Na
2
SO
4
anhidrat berfungsi untuk
menarik molekul air sisa dari ekstraksi. Lalu, larutan disaring kembali dengan kertas
saring untuk menyingkirkan pengotor yang masih mungkin terdapat dalam ekstraksi.
Hasil ekstraksi dimasukkan dalam alat rotary evaporator. Rotary
evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi mengubah sebagian atau keseluruhan
sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap. Rotary evaporator
mempunyai dua prinsip dasar, untuk menukar panas dan untuk memisahkan uap yang
terbentuk dari cairan. Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat
berupa padatan atau larutan berkonsentrasi.

Setelah dievaporasi larutan ditambahkan air
panas dan diaduk rata, lalu dipanaskan kembali.
Setelah dipanaskan, larutan disaring dengan kertas saring untuk menghindari
adanya pengotor dari beberapa proses sebelumnya. Larutan lalu didinginkan dengan
meletakkannya di dalam baskom berisi es untuk melihat hasil dari kristalisasi. Proses
ini dinamakan rekristalisasi. Asam benzoat yang telah diproses secara sengaja diberi
keadaan kaget dengan merubahnya dari suhu yang tinggi ke suhu rendah, sehingga
memancing molekul asam benzoat membentuk kristal. Namun, pada percobaan tidak
didapatkan kristal hasil sintesis asam benzoat, sehingga rendemen yang didapatkan
adalah 0 %.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan tidak terbentuknya kristal asam
benzoat. Dimulai dari langkah awal, larutan KMnO
4
yang sedikit terpapar dengan
cahaya sehingga membuat larutan KMnO
4
menjadi rusak dan mempengaruhi proses
oksidasi dari toluena. Pemberian KMnO
4
yang berlebihan karena kerusakan pipet
tetesnya sehingga menyebabkan larutan mengalami oksidasi berlebihan. Pada saat
proses pembersihan pengotor di tiap tahap yang kurang maksimal dapat menyebabkan
kegagalan rekristalisasi. Proses rekristalisasi membutuhkan syarat yang cukup banyak
sehingga faktor kecil dapat menyebabkan proses tidak berlangsung. Penambahan HCl
yang terlalu berlebihan juga dapat menyebabkan larutan menjadi terlalu asam dan
merusak bagian struktur senyawanya. Dan penggunan Na
2
SO
4
anhidrat bersamaan
dengan alat rotary evaporator yang kurang maksimal dalam menghilangkan pelarutnya
dapat menyebabkan proses rekristalisasi terhambat.
Reaksi secara keseluruhannya :
C
6
H
5
CH
3
+ 2KMnO
4
C
6
H
5
COOH + K
2
O + 2MnO
2
+ H
2
O
Uji warna
Asam benzoat yang disediakan dilarutkan dengan penambahan
air panas, CH
3
COOH, FeCl
3
, dan H
2
O
2
5%, kemudian
dipanaskan sampai mendidih. Setelah dipanaskan, dilakukan
penambahan HCl dan diperoleh warna asam benzoat referensi
adalah coklat. Seharusnya, penambahan H
2
O
2
dalam suasana
asam menyebabkan terbentuknya derivat asam benzoat yang
mempunyai gugus fenol. Gugus fenol pada derivat asam
benzoat bereaksi dengan FeCl
3
membentuk kompleks berwarna ungu. Perbedaan warna
ini dapat disebabkan karena masih adanya pegotor dalam asam benzoat dan juga dapat
dikarena kerusakan bahan pereaksi yang memang rata-rata telah disimpan dalam waktu
cukup lama.
Reaksi uji FeCl
3
:
C
6
H
5
OH + H
2
O
2
C
6
H
5
CO
2
OH + H
2
O (asam)
3 C
6
H
5
CO
2
OH + FeCl
3
(C
6
H
5
CO
2
O)
3
Fe + 3 HCl

Uji esterifikasi
Cara pengujian kemurnian kristal yang lain adalah uji esterifikasi. Kristal asam
benzoat yang disediakan dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian dilakukan
penambahan etanol dan asam sulfat lalu dipanaskan. Jika hasilnya positif, akan
dihasilkan etil benzoat yang berbau seperti jeruk. Dalam percobaan, uji esterifikasi
yang dirasakan baunya adalah seperti bau daun mint. Perbedaan bau dapat mungkin
terjadi karena tergantung pada penciuman masing-masing orang yang memungkinkan
banyak opsi aroma.
Reaksi uji esterifikasi:
C
6
H
5
COOH + C
2
H
5
OH C
6
H
5
COOC
2
H
5
+ H
2
O
Reaksi ini dilakukan .dalam suasana asam (menggunakan katalis asam, misal H
2
SO
4

pekat).
Uji Titik Leleh
Jenis-jenis uji titik leleh berupa :
a. labu kjeldahl
labu yang berisi cairan tangas bersuhu didih tinggi yang kemudian dipanaskan
diatas pembakar bunsen sambil di aduk-aduk. Prinsip utama dari labu kjeldahl ini
adalah dengan menggunakan aliran konveksi diharapkan terjadi proses distribusi
panas dari sumber (api bunsen) ke padatan yang telah dimasukkan ke dalam pipa
kapiler sebelumnya.
b. alat thiele
memilki prinsip yang sama dengan labu kjeldahl, namun pemanasan dilakukan di
atas penangas listrik, sehingga tidak diperlukan pengadukan.
c. melting block
prinsip utama dari alat ini adalah menggunakan proses konduksi dari logam untuk
penghantaran panas. Pada alat ini terdapat dua lubang di bagian atas yang digunaka
untuk menaruh pipa kapiler dan termometer, sementar dua lubang disamping
digunakan untuk mengamati keadaan padatan yang akan berubah menjadi cairan.
d. elektrothermal
merupakan alat yang lebih modern karena pengamatan sangat mudah dilakukan.
ketika mulai dan berakhirnya semua padatan mencair maka akan terdengar bunyi
alarm, sehingga suhunya dapat di atur dan pengamatan dilakukan dengan
menggunakan kaca pembesar untuk lebih meyakinkan bahwa semua padatan telah
menjadi cair.
Dari hasil percobaan diperoleh rentang titik leleh kristal asam benzoat adalah
121,3-121,8 C. Titik leleh padatan adalah suhu saat fase padat dan fase cair berada
pada keadaan setimbang, dengan tekanan sama dengan satu atmosfer. Penghitungan
temperatur dicatat ketika mulai leleh hingga meleleh seluruhnya. Suhu referensi asam
benzoat adalah 122 C. Berdasarkan perbedaan selisih yang cukup sedikit diperkirakan
asam benzoat yang disediakan dalam keadaan murni. Perbedaan tipis tersebut dapat
terjadi karena adanya perbedaan tekanan di setiap tempat dan ruangan yang akan
mempengaruhi dari suhunya.




VII. KESIMPULAN
1. Tidak diperoleh sintesis asam benzoat dalam percobaan sehingga bobot dan
rendemennya bernilai 0.
2. Dilakukan dengan menggunakan asam benzoat yang telah disediakan, uji warna
menghasilkan warna coklat dan esterifikasi menghasilkan bau daun mint.
3. Tidak adanya asam benzoat hasil sintesis menyebabkan dilakukan penghitungan
titik leleh dengan asam benzoat yang telah sediakan. Titik leleh yang didapatkan
adalah 121,3-121,8 C.

VIII. DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV.
Jakarta : Departemen Kesehatan. (hlm. 47-48).

Fessenden, R.J., Fessenden, J.S.1996. Fundamentals of Organic Chemistry. London :
Harper Collins Publishers. (hlm. 405-408).

Martin, Alfred. 1993. Farmasi Fisik : dasar-dasar farmasi fisik dalam ilmu farmasetik
Jilid I. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia (UI Press). (hlm. 793-803).

http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologi-proses/ekstraksi-
cair/, diakses tanggal 1 Maret 2014 pukul 1.00 WIB.