Anda di halaman 1dari 5

1

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Masa nifas merupakan masa sesudah persalinan, masa perubahan,
pemulihan, penyembuhan, dan pengembalian alat-alat kandungan/reproduksi,
seperti sebelum hamil yang lamanya 6 minggu atau 40 hari pasca persalinan
(Sulistyawati, 2009). Periode paska persalinan meliputi masa transisi kritis
bagi ibu, bayi, dan keluarganya secara fisiologis, emosional dan sosial. Negara
maju maupun negara berkembang, perhatian utama bagi ibu dan bayi terlalu
banyak tertuju pada masa kehamilan dan persalinan, sementara keadaan yang
sebenarnya justru merupakan kebalikannya, oleh karena risiko kesakitan dan
kematian ibu serta bayi lebih sering terjadi pada masa paskapersalinan
(Prawirohardjo, 2010).
Kelahiran seorang anak menyebabkan timbulnya suatu tantangan
mendasar terhadap struktur interaksi keluarga yang sudah terbentuk. Menjadi
keluarga menimbulkan periode ketidakstabilan yang menuntut perilaku yang
meningkatkan transisi untuk menjadi orang tua. Steele dan Pollack (1968)
menyatakan bahwa menjadi orangtua merupakan satu proses yang terdiri dari
dua komponen. Komponen pertama bersifat praktis dan mekanis, melibatkan
keterampilan kognitif dan motorik. Komponen kedua bersifat emosional,
melibatkan keterampilan afektif dan kognitif (Bobak, 2004).
Banyak orangtua harus belajar untuk melakukan tugas ini dan proses
belajar ini mungkin sukar bagi mereka (Bobak, 2004). Belajar adalah suatu
proses dari praktek-praktek dalam lingkungan kehidupan. Perilaku dibentuk
melalui proses dan berlangsung dalam interaksi manusia dan lingkungannya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya perilaku adalah faktor intern
(pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi) yang berfungsi untuk
mengolah rangsangan dari luar, dan faktor ekstern (iklim, manusia, sosial-
ekonomi, kebudayaan) (Notoatmodjo, 2003).
2

Periode neonatal adalah periode bayi dari lahir sampai umur 28 hari.
Data dari WHO (2010), di daerah Asia Tenggara pada tahun 2008 sebesar
54% kematian anak berumur di bawah 5 tahun adalah kematian bayi baru
lahir. Dari jumlah tersebut 28% disebabkan infeksi neonatus, 26% disebabkan
oleh berat bayi lahir rendah dan prematur, 20% disebabkan asfiksia dan
trauma lahir, 4% disebabkan anomali kongenital, 3% disebabkan diare, 1%
disebabkan tetanus dan sisanya oleh penyebab lain (WHO, 2010).
Penurunan kematian neonatal berlangsung lambat yaitu dari 32 per
1.000 kelahiran hidup pada tahun 1990-an menjadi 19 per 1.000 kelahiran
hidup (SDKI, 2007), dimana 55,8% dari kematian bayi terjadi pada periode
neonatal, sekitar 78,5%-nya terjadi pada umur 0-6 hari (Riskesdas, 2007).
Tetanus dan infeksi merupakan penyebab utama kematian bayi.
Tetanus neonatorum dan infeksi tali pusat telah menjadi penyebab kesakitan
dan kematian secara terus menerus diberbagai negara. Setiap tahunnya
500.000 bayi meninggal karena tetanus neonatorum dan 460.000 meninggal
akibat infeksi bakteri (Sodikin, 2009). Negara Afrika angka kematian bayi
yang disebabkan infeksi tali pusat 126.000 (21%), Negara Asia Tenggara
diperkirakan ada 220.000 kematian bayi, di Negara Afrika maupun di Asia
Tenggara kematian disebabkan karena perawatan tali pusat yang kurang bersih
(Ratri Wijaya, 2006).
Jumlah kematian bayi di Jawa Barat yaitu 4.082, dan sebanyak 3.232
kasus terjadi pada masa neonatal (Dinkes Jabar, 2012). Jumlah kematian bayi
di Kabupaten Garut pada tahun 2011 sebanyak 397 kasus, yang terdiri dari
kematian neonatal (0-28 hari) sebanyak 358 kasus dan kematian bayi (28 hari-
11 bulan) sebanyak 39 kasus. Pada tahun 2011 ini terjadi peningkatan 61
kasus dibandingkan dengan tahun 2010 (Dinkes Garut, 2011). Pada tahun
2012 jumlah kematian bayi di Kabupaten Garut sebanyak 262 kasus yang
terdiri dari kematian neonatal sebanyak 246 kasus dan kematian bayi 16 kasus.
Penyebab dari kematian bayi tersebut disebabkan oleh BBLR (39,5%),
asfiksia (24,79%), infeksi (6,3%), laktasi (3,8%), dan penyebab lainnya
3

termasuk tetanus neonatorum (25,6%). Infeksi ini kebanyakan karena infeksi
tali pusat (Dinkes Garut, 2012).
Penyakit tetanus neonatorum adalah penyakit tetanus yang terjadi pada
neonatus (bayi berusia kurang 1 bulan) yang disebabkan oleh Clostridium
tetani, yaitu kuman yang mengeluarkan toksin (racun) dan menyerang sistem
saraf pusat. Spora kuman tersebut masuk kedalam tubuh bayi melalui pintu
masuk satu-satunya, yaitu tali pusat, yang dapat terjadi pada saat pemotongan
tali pusat ketika bayi lahir maupun pada saat perawatannya sebelum puput
(terlepasnya tali pusat). Faktor resiko untuk terjadinya tetanus neonatorum
salah satunya karena perawatan tali pusat tidak memenuhi persyaratan
kesehatan (Prawirohardjo, 2010).
Perawatan tali pusat adalah melakukan pengobatan dan perawatan
untuk mengurangi insiden infeksi pada tali pusat dan kemudian tali pusat
dijaga dalam keadaan steril, bersih dan terhindar dari infeksi tali pusat.
Perawatan tali pusat yang baik dan benar akan menimbulkan dampak yang
positif yaitu tali pusat akan putus pada hati ke-5 dan hari ke-7 tanpa ada
komplikasi, sedangkan dampak negatif dari perawatan tali pusat yang tidak
benar adalah bayi akan terkena infeksi tetanus neonatorum dan dapat
mengakibatkan kematian (Depkes RI, 2007).
Tujuan perawatan tali pusat adalah untuk mencegah terjadinya
penyakit tetanus pada bayi baru lahir, penyakit ini disebabkan karena
masuknya spora kuman tetanus kedalam tubuh bayi melalui tali pusat, baik
dari alat yang tidak steril, pemakaian obatobatan, bubuk atau daundaunan
yang ditaburkan ke tali pusat sehingga dapat mengakibatkan infeksi (Depkes
RI, 2005).
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, jumlah kematian
bayi di Kecamatan Cisurupan tahun 2012 sebanyak 11 kasus, 3 kasus
diantaranya disebabkan oleh infeksi dan terdapat 1 kematian diakibatkan
karena kasus tetanus neonatorum di wilayah kerja Puskesmas Pakuwon
(Dinkes Garut, 2012). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan
peneliti di Kampung Pangauban, di peroleh hasil dari 10 ibu nifas, 5 orang
4

tidak dapat menyebutkan cara merawat tali pusat dengan benar, 6 orang tidak
dapat menyebutkan tanda-tanda infeksi pada tali pusat, dan 5 orang masih
mempercayai perawatan tali pusatnya pada dukun bayi yang masih
menggunakan alkohol maupun betadine karena merasa takut menyakiti
bayinya. Mengenai cara perawatan tali pusat, dari 10 ibu nifas tersebut, 3
orang dengan cara kasa kering, 2 orang dengan menggunakan betadine, dan 5
orang dengan menggunakan kasa alkohol. Karena adanya perbedaan cara
perawatan tali pusat, maka waktu pelepasan tali pusatnya pun berbeda, yaitu 4
orang yang tali pusat bayinya puput < 7 hari dan 6 lainnya puput > 7 hari.
Berdasarkan permasalahan di atas, perlu dilakukan penelitian
Hubungan antara budaya dengan perawatan tali pusat bayi baru lahir oleh ibu
di Wilayah Kerja Puskesmas Pakuwon Kabupaten Garut.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan gambaran latar belakang diatas, maka rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah Adakah hubungan antara budaya dengan
perawatan tali pusat bayi baru lahir oleh ibu di Wilayah Kerja Puskesmas
Pakuwon Kabupaten Garut?

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan antara budaya dengan perawatan tali pusat bayi
baru lahir oleh ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Pakuwon Kabupaten
Garut.
2. Tujuan Khusus
a. Mendapatkan gambaran budaya ibu dalam merawat tali pusat di
Wilayah Kerja Puskesmas Pakuwon Kabupaten Garut.
b. Mendapatkan gambaran perawatan tali pusat bayi baru lahir oleh ibu di
Wilayah Kerja Puskesmas Pakuwon Kabupaten Garut.
c. Menganalisa hubungan antara budaya dengan perawatan tali pusat bayi
baru lahir oleh ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Pakuwon Kabupaten
Garut.
5

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Merupakan pengalaman berarti bagi calon peneliti dalam
menambah ilmu pengetahuan dan wawasan tentang budaya perawatan
tali pusat bayi baru lahir yang dilakukan oleh ibunya.
2. Mnafaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan menjadi pedoman bagi seorang ibu yang
merawat tali pusat bayi baru lahir.