Anda di halaman 1dari 14

1

Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3



BAB I
PENDAHULUAN

Pembangunan yang telah dijalankan dengan pesat seakan-akan sedikit
menutupi keresahan masyarakat akan keberaadan tanah. Kebutuhan akan kepemilikan
dan penguasaan tanah secara sah sangatlah diperlukan pada saat sekarang. Ini
dilakukan supaya tidak adanya penguasaan tanah oleh suatu pihak dengan
menimbulkan kerugian pada pihak yang lainnya. Dan dalam kepemilikan tanah harus
diperhatikan dasar penting dalam rangka mewujudkan kesejahteraan hidup rakyat dan
pemerataan keadilan supaya setiap petani dapat mempunyai tanah dengan hal milik
dalam batas-batas yang telah ditemtukan.
Dorren Warriner yang dikutip oleh Arie Sukanti Hutagalung, mengatakan pada
dasarnya landreform memerlukan program redistribusi tanah untuk keuntungan pihak
yang mengerjakan tanah dan pembatasan dalam hak-hak individu atas sumber-sumber
tanah. Jadi, landreform merupakan sebuah alat perubahan sosial dalam perkembangan
ekonomi, selain merupakan manifestasi dari tujuan politik, kebebasan, dan
kemerdekaan suatu bangsa.
1

Pelaksanaan konsep landreform ini merupakan upaya yang dilakukan oleh
setiap negara untuk melakukan perubahan dalam proses pemilikan atas tanah. Oleh
karena itu, pelaksanaan landreform ini berkaitan erat dengan kemauan politik dari suatu
negara.
Dengan dijalankannya redistribusi tanah, segala keberagaman tidak perlu pula
dihapuskan, tetapi justru diakui secara sosial, politik maupun legal dan diberi ruang
untuk berkembang. Oleh karena itu redistribusi tanah sebagai salah satu program
pembangunan yang harus dilandasi dengan kekuatan hukum dan komitmen yang kuat
dari pemerintah itu sendiri.







1
Supriadi, Hukum Agraria, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009), hal. 202
2
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN LANDREFORM
Secara terminologi istilah Landreform mempunyai arti yang sangat luas.
Landreform juga disamakan dengan istilah Agrarian Reform. Secara harfiah
landreform berasal dari bahasa Inggris, terdiri dari kata land artinya tanah dan kata
reform artinya perombakan. Landreform diartikan secara sederhana adalah
perombakann tanah.. Sedangkan menurut para ahli landreform adalah :
2

1. Lipton, landrefrom adalah pengambil alihan tanah secara paksa yang biasanya
dilakukan oleh negara dari pemilik-pemilik tanah yang luas dengan ganti rugi
sebagian.
2. Gunawan Wiradi, menyatakan bahwa landreform mengacu kepada penataan
kembali susunan penguasaan tanah demi kepentingan petani kecil.
3. A. P. Parlindungan berpendapat bahwa landreform di Indonesia bukan sekedar
membagi-bagikan tanah, ataupun bersifat politis, namun landreform adalah suatu
usaha reformasi hubungan antara manusia dengan tanah yang lebih manusiawi.

Sedangkan landreform menurut UUPA UU No. 5 tahun 1960 dan UU No. 56
Prp 1960 adalah pengertian dalam arti luas yang sesuai dengan pengertian menurut
rumusan FAO yaitu suatu program tindakan yang lain yang berhubungan dan
bertujuan untuk menghilangkan penghalang-penghalang dibidang ekonomi sosial
yang timbul dari kekurangan-kekurangan yang terdapat dalam struktur pertanian.
Landreform juga berarti perubahan sistem pemilikan tanah dan penguasaan
tanah. Sistem pemilikan dan penguasaan tanah yang lampau diubah dengan sistem
tata pertanahan baru yang disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan
masyarakat yang sedang giat melaksanakan pembangunan ekonominya.
3

Jadi, landreform adalah sebuah upaya yang dilakukan secara sengaja yang
bertujuan untuk mengubah atau merombak sistem agraria yang sudah dibentuk
dengan maksud untuk meningkatkan distribusi pendapatan pertanian sehingga

2
http://google.com tanggal 29-03-2013 pukul 20.05 wib
3
Bachsan Mustafa, Hukum Agraria dalam Perspektif, (Bandung : Remadia Karya, 1998), hal. 26
3
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

mendorong pembangunan pedesaan secara adil sehingga terciptanya kesejahteraan
dan kemakmuran bagi rakyat.

B. TUJUAN LANDREFORM
4

1. Untuk mengadakan pembagian yang adil atau pemerataan atas tanah, ada dua
dimensi yaitu adanya usaha untuk menciptakan pemerataan hak atas tanah di
antara para pemilik tanah dan juga untuk mengurangi perbedaan pendapat
antara petani kecil dengan petani besar.
2. Untuk melaksanakan prinsip tanah untuk tani, agar tidak terjadi lagi tanah
sebagai objek spekulasi dan sebagai alat pemerasan.
3. Untuk memperkuat dan memperluas hak milik atas tanah bagi setiap warga
negara Indonesia.
4. Untuk mengakhiri sistem pemilikan dan penguasaan atas tanah secara besar
dan dengan secara tidak terbatas, dengan mengadakan batas maksimum dan
minimum untuk setiap keluarga.
5. Untuk mempertinggi produksi nasional dan mendorong terselenggaranya
pertanian yang intensif secara gotong-royong (kekeluargaan).
6. Untuk meningkatkan dan memperbaiki daya guna penggunaan tanah.

C. DASAR HUKUM LANDREFORM
Dasar-dasar hukum landreform adalah :
5

1. Pancasila
Sesuai dengan sila ke-5, dalam pengertian keadilan, pada umumnya diberi arti
sebagai keadilan membagi atau distributive justice yang secara sederhana
menyatakan bahwa kepada setiap orang diberikan hak atau bagian masing-masing
yang sesuai dengan kemampuan atau jasanya.
2. UUD 1945
Terdapat dalam Pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi :
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas
kekeluargaan.
Cabang-cabang produksi yang oenting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak dikuasai oleh negara.

4
Ibid, hal. 27
5
http://google.com tanggal 29-03-2013 pukul 20.15 wib
4
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh
negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
3. UUPA
UU No. 5 tahun 1960, yang berbunyi :
Mengatur dan menyelenggarakan pembentukan, penggunaan, persediaan dan
pemeliharaan bumi, air dan luar angkasa.
Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang
dengan bumi, air dan ruang angkasa.
Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang
dan perbuatan-perbuatan hukum mengenai bumi, air dan ruang angkasa.
4. Beberapa Ketentuan Pelaksanaan Landreform
UU No. 56 tahun 1960 tentang penetapan luas tanah pertanian.
PP No. 41 tahun 1964 tentang pelaksanaan pembagian tanah dan pemberian
ganti kerugian.
Peraturan Mentri Dalam Negeri No. 15 tahun 1974 tentang pedoman tindak
lanjut pelaksanaan landreform.
PP No. 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah.

D. PRINSIP LANDREFORM
Prinsip-prinsip landreform terdapat dalam Pasal 7, 10 dan 17 yakni :
6

Pasal 7 :
untuk tidak merugikan kepentingan umum maka pemilikan dan penguasaan tanah
yang melampaui batas tidak diperkenankan.
Pasal 10 :
(1) Setiap orang dan badan hukum yang mempunyai sesuatu hak atas tanah pertanian
pada azasnya diwajibkan mengerjakan atau mengusahakannya sendiri secara aktif,
dengan mencegah cara-cara pemerasan.
Pasal 17 :
(1) Dengan mengingat ketentuuan pasal 1 maka untuk mencapai tujuan yang
dimaksud dalam pasal 2 (3) diatur luas maksimum dan atau minimum tanah yang
boleh dipunyai dengan sesuatu hak tersebut dalam pasal 16 oleh satu keluarga atau
badan hukum.

6
http://google.com tanggal 29-03-2013 pukul 20.25 wib
5
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

E. PROGRAM LANDREFORM
Program landreform sangat ditentukan oleh kondisi dari suaut negara, sebab
landreform merupakan target atau sasaran yang hharus diwujudkan oleh pemerintahan
suatu negara. Oleh karena itu, suatu negara yang beralih dari negara agraris menuju
negara industri, berarti pemerintahannya mampu mewujudkan tujuan-tujuan dari
landreform.di Indonesia, program landreform adalah :
7

1. Pembatasan luas maksimun penguasaan tanah,
2. Larangan pemilikan tanah secara absentee atau guntai,
3. Redistribusi tanah-tanah yang selebihnya dari batas maksimum, tanah-tanah
yang terkena larangan absentee, tanah-tanah bekas swapraja dan tanah-tanah
negara,
4. Pengaturan soal pengembalian dan penebusan tanah-tanah pertanian yang
digadaikan,
5. Mengaturan kembali perjanjian bagi hasil tanah pertanian,
6. Menetapkan luas minimum pemilikan tanah pertanian disertai larangan untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang mengakibatkan pemecahan pemilikan
tanah-tanah pertanian menjadi bagian-bagian yang terlampau kecil.

F. LARANGAN MENGUASAI TANAH MELAMPAUI BATAS
8

UUPA merupakan induk dari pelaksanaan landreform, sehingga ada beberapa
pasal yang terdapat dalam UUPA tentang rincian pelaksanaan landreform, yaitu
tentang larangan menguasai tanah melampaui batas terdapat dalam pasal 7 UUPA,
yang berbunyi :
untuk tidak merugikan kepentingan umum, maka pemilikan dan penguasaan
tanah yang melampaui batas tidak diperkenankan.
Pemilikan dan penguasaan tanah yang melampaui batas dapat merugikan
kepentingan umum karena terbatasnya persediaan tanah pertanian, khususnya di
daerah-daerah yang padat penduduknya.
9
Yang dilarang dalam Pasal 7 tersebut bukan
hanya dalam pemilikan tanah yang melampaui batas, tetapi dalam penguasaan tanah
juga. Penguasaan tersebut selain dengan hak milik, dapat dikatakan juga dengan hak-
hak lain (hak gadai, hak sewa, usaha bagi hasil dan lain-lain).

7
Op. Cit, hal 203
8
Ibid, hal 204
9
Perangin Effendi, Hukum Agraria Di Indonesia, (Jakarta : Rajawali Pers, 1991), hal. 123
6
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

Selain penguasaan tanah yang melampaui batas akibat dari pemberian
pembukaan lahan yang terjadi untuk keperluan perkebunan, pertambangan dan
lapangan golf juga terjadi di kawan industri. Ini menyebabkan timbulnya ketimpangan
pemilikan dan penguasaan tanah antara petani dengan para konglomerat yang
bergerak di bidak pertambangan, kehutanan dan industri tersebut , sehingga
menimbulkan konflik.
Menurt Dianto, ada beberapa pola atau corak sengketa tanah, yaitu :
Sengketa agraria yang disebabkan tanah yang mengandung sumber daya alam
berupa hasil bumi, beragam tanaman, menjadi sumber yang dieksploitasi
secara pasif.
Sengketa karena swasembada beras. Penguasaan tanah yang hanya
berkonsentrasi pada satu tangan, akibatnya jumlah petani yang tidak
mempunyai tanah makin bertambah.
Sengketa agraria di areal perkebunan. Biasanya ini terjadi karena adanya
pengalihan dan penerbitan hak guna usaha maupun pembangunan perkebunan-
perkebunan inti rakyat.
Sengketa akibat penggusuran-penggusuran di atas lahan yang hendak
dimanfaatkan untuk industri pariwisata, real estate, kawasan industri,
pergudangan dan lain-lain.
Sengketa agraria akibat penggusuran dan pengambilan lahan rakyat untuk
pembangunan sarana kepentingan umum.
Sengketa akibat pencabutan hak rakyat atas tanah karena pembangunan taman
nasionala atau hutan lindung.
Sengketa akibat penutupan akses masyarakat untuk memanfaatkan sumber
agraria non-tanah, seperti perairan atau laut lepas.

G. PENETAPAN LUAS TANAH PERTANIAN
10

Penetapan luas tanah pertanian dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan
tanah pertanian pada seseorang. Sebab apabila terjadi penumpukan tanah pertanian
pada seseorang, maka akan merugikan para petani yang menjadikan sawah sebagai
alat produksi sekaligus mata pencaharian. Penetapan luas tanah pertanian diatur dalam
Pasal 17 UUPA, sejalan dengan itu Boedi Harsono mengatakan, dengan demikian

10
Op.Cit, hal 208
7
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

maka pemilikan tanah yang merupakan faktor utama dalam produksi pertanian
diharapkan akan lebih merata, dengan demikian pembagian hasilnya akan lebih
merata pula. Tindakan tersebut diharapkan sebagai pendorong ke arah kenaikan
produksi pertanian, karena akan menambah kegairahan bekerja bagi petani penggarap
tanah yang bersangkutan, yang telah menjadi pemiliknya.
Pemerintah juga mengeluarkan peraturan tentang penetapan luas tanah
pertanian yaitu UU no. 56 Prp tahun 1960 yang merupakan induk dari pelaksanaan
landreform di Indonesia. Dengan demikian, penetapan luas tanah pertanian tersebut
ditentukan bahwa pada daerah tidak padat kepadatanyya sampai 50 orang per
kilometer, untuk daerah yang kurang padat kepadatannya sekitar 51-250 orang per
kilometer, sementara di daerah yang cukup padat 251-400 orang per kilometer,
sedangkan di daerah yang sangat padat kepadatannya 401 ke atas per kilometer.

H. REDISTRIBUSI TANAH
Redistribusi adalah pengambil alihan tanah-tanah pertanian yang melebihi
batas maksimum oleh pemerintah, kemudian dibagikan kepada para petani yang tidak
memiliki tanah. Landasan tersebut diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 224 tahun
1961 tentang Pelaksanaan Pembagian Tanah dan Pemberian Ganti Kerugian (LN
1961 No. 28, Penjelasan di dalam TLN No. 2322), PP No. 41 tahun 1964 (LN 1964
No. 112, Penjelasan dimuat di dalam TLN No. 2702). Kedua PP ini merupakan induk
dari redistribusi tanah tersebut.

I. PELAKSANAAN LANDREFORM
1. Pelaksanaan Landreform di Indonesia
Di Indonesia, pelaksanaan landreform mengalami perubahan seiring dengan
terjadinya perubahan peta politik di Indonesia. Pada tahun 1962-1965 yang
diwarnai oleh kekerasan politik menjadi mimpi buruk dan puncak pergolakan
politik yang bermuara dengan tumbangnya rezim Orde Lama dengan korban
manusia yang luar biasa. Kejadian ini menimbulkan trauma dimana memang
diakui bahwa kebanyakan perjuangan landreform telah dibarengi dengan
kekerasan dan ketidakstabilan politik.
Noer Fauzi mengatakan bahwa puncak dari ketidakmampuan kebijakan
mengakomodasikan berbagai kepentingan dengan perumusan ideologi yang
beragam adalah terputusnya pelaksanaan landreform. Sehingga menyebabkan
8
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

kegagalan pada pelaksanaan landreform yang disebabkan oleh faktor-faktor
kelambanan praktik-praktik pemerintah dalam melakasanakan hak menguasai
negara, tuntutan (organisasi) massa petani yang ingin mendistribusikan tanah
secara segera sehingga menimbulkan aksi sepihak, unsur-unsur anti landreform
melakukan berbagai mobilisasi kekuatan tanding dan siasat mengelak bahkan
meninggalkan landreform, dan terlibatnya kekerasan antar unsur pro-landreform
dengan unsur anti-landreform yang merupakan pelebaran dari konflik kekerasan
pada tingkat elite politik yang bekerja di tubuh rezim.
Pada masa Orde Baru, arah politik agraria sedang berada dalam ruang tarik
menarik antara dua kekuatan, yakni kekuatan rezim Kapitalis Global yang
menghendaki kebijakan pertanahan disiapkan untuk arena pasar sejagat yang
meminimalkan peran negara dalam pengadaan tanah bagi investasi di satu pihak,
dan kekuatan birokrasi yang masih berusaha untuk mempertahankan mekanisme
pengadaan tanah untuk investasi melalui intervensi negara. Kedua kekuatan ini
berada di satu arena sistem ekonomi yang sama, yaitu sistem ekonomi kapitalis
yang sistem ini menunjukkan bahwa kebijakan pertanahan yang berusaha
mengubah struktur penguasaan tanah warisan kolonial ternyata mengalami
kegagalan total.
Pelaksanaan landreform di Indonesia bersamaan dengan dikeluarkannya
UUPA tahun 1960. Hal ini sesuai dengan dikeluarkannya Perpu Nomor 56/1960
tentang Penetapan Luas Tanah Pertanian. Inti dari adanya UU nomor 56/Prp
tahun 1960 bertujuan untuk mendistribusikan tanah pada masyarakat petani yang
tidak memiliki tanah dengan memberikan tanah pertanian minimal dua hektar,
sehingga ini berkaitan pula dengan Pasal 7 UUPA yang pada intinya melarang
penguasaan atas tanah yang melampaui batas.

2. Pelaksanaan Landreform di Beberapa Negara Asia
11

Konsep pelaksanan landreform ini merupakan konsep yang diyakini oleh
negara-negara di dunia, khususnya negara-negara yang berada dalam negara
berkembang akan menunjang pembangunan yang telah direncanakan tersebut.
Konsep ini sudah bergulir di seluruh penjuru dunia sejak tahun 1960, begitupun
PBB telah memberikan perhatian yang sangat serius terhadap pelaksanaan

11
Op.Cit, hal 232-241
9
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

landreform itu sendiri, yaitu Bank Dunia, sehingga memberikan panduan bagi
suatu negara dalam pelaksanaan landreformnya.
Cohen menyatakan bahwa adanya dua kelompok besar di dalam masyarakat
agraria, yaitu sekelompok kecil tuan tanah dan petani besar, dan sekelompok
besar petani penyakap, petani kecil buruh tani tak bertanah. Cohon juga
menyatakan secara tradisonal bahwa struktur agraria dalam hal kepemilikan tanah
dibedakan menjadi empat, yaitu : (1) tipe komunal Afrika, (2) penguasaan tanah
Asia, (3) penguasaan tanah Amerika dan (4) perkebunan. Diantara negara-negara
di Asia yang melakukan pelaksanaan landreform adalah :

a) Jepang
Negara Jepang yang memiliki ekonomi raksasa di dunia berhasil bangkit
dari keterpurukan akibat Perang Dunia II dikarnakan berhasil dalam
melaksanakan program landreform. Terutama dalam memberikan landasan
ekonomi di sebuah tipe pemerintahan yang demokratis. Dampaknya hampir
semua petani di Jepang dapat menikmati status sebagai pemilik tanah tanpa utang
apapun. Para penyakap yang sebelumnya tanpa tanah sekarang bisa mendapatkan
pendapatan yang lebih baik sebagai penyakap maupun pemilik tanah.

b) Korea Selatan
Korea Selatan merupakan negara di Asia yang memiliki perkembangan
ekonomi yang sangat pesat setelah Jepang. Ini dikarenakan Korea Selatan telah
berhasil melaksanakan pembaharuan agraria atau landreform. Dibuktikan sejak
tahun 1953, Korea Selatan berhasil dallam hal kinerja pertanian serta memuaskan
mengenai pelaksanaan produksi, distribusi, tabungan dan akumulasi.

c) Taiwan
Mengenai pelaksanaan landreform di Taiwan sangatlah unik, karena
pengambilan keputusan landreform sesungguhnya adalah para pemimpin
Kuomintang, yang baru saja datang dari Cina daratan, dan karenanya tidak
mempunyai kepentingan pertanahan.
Ciri utama pelaksanaan landreform di Taiwan adalah model rekonstruksi
pedesaan yang terintegrasi dimana pembaharuan penguasaan tanah adalah perlu
tetapi bukan satu-satunya unsur untuk mengangkat secara total kesejahteraan
10
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

petani kecil, dan perangkat aturan landreform menyebabkan petani penyakap
mampu untuk meningkatkan pendapatannya sehingga memudahkan mereka
dalam melunasi pembayaran.

d) Republik Rakyat Cina (RRC)
Di RRC kebijakan landreform yang dijalankan beragam, karena adanya
perbedaan wilayah. Akan tetapi, kebijakan tersebut mengandung sedikit jumlah
tanah yang diambil alih, dan redistribusi tanah juga berdasarkan jumlah yang
setara yaitu per orang.
Tahapan-tahapan yang dilakukan untuk mensukseskan pelaksanaan
landreform ini adalah :
1) Melakukan redistribusi kekayaan dan pendapatan kaum-kaum kaya dan miskin
serta menghapuskan kelas penguasa sebelumnya.
2) Meningkatkan output di pedesaan dengan mendorong pemanfaatan suplai
tenaga kerja secara lebih baik.
3) Mendorong lebih lanjut output pertanian dengan peningkatan barang-barang
modal, serta input lainnya yang berada disektor pedesaan.
4) Meningkatkan harga yang dibayar oleh pemerintah atas produk-produk
pertanian serta merendahkan harga-barang-barang yang dibeli petani.

Dengan demikian, landreform di Cina dengan sendirinya juga
menghapuskan konsumsi kemewahan dari kaum kaya dan meningkatkan
konsumsi dasar dari kaum miskin. Jadi, landreform bukan hanya sekedar
memberikan tanah kepada petani miskin, akan tetapi mendorong mereka supaya
mengorganisasikan dirinya untuk mengambil dan mengalahkan penindasan dari
penguasa sebelumnya.








11
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

BAB III
KESIMPULAN

Landreform adalah suatu perubahan sistem pemilikan dan penguasaan atas tanah
yang dilakukan masa lampau ke arah sitem pemilikan dan penguasaan tanah yang baru
yang disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan masyarakat yang sedang
melaksanakan dan membangun perekonomian sesuai dengan yang diharapkan.

Tujuan diadakan atau dilaksanakan landreform ini adalah :
Untuk mengadakan pembagian yang adil atau pemerataan atas tanah,
Untuk memperkuat dan memperluas hak milik atas tanah bagi setiap warga negara
Indonesia,
Untuk mengakhiri sistem pemilikan dan penguasaan atas tanah secara besar dan
dengan secara tidak terbatas, dengan mengadakan batas maksimum dan minimum
untuk setiap keluarga,
Untuk mempertinggi produksi nasional dan mendorong terselenggaranya pertanian
yang intensif secara gotong-royong (kekeluargaan),
Untuk meningkatkan dan memperbaiki daya guna penggunaan tanah.

Sedangkan landasan hukum dari pelaksanaan landreform ini adalah :
Pancasila
UUD 1945
UUPA
Dan beberapa UU dan PP tentang ketentuan pelaksanaan landreform









12
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

PERTANYAAN
1) Apa yang melatar belakangi perlunya diadakan landreform di Indonesia?
Keadaan yang melatar belakangi perlunya diadakan landreform di
Indonesia adalah keadaan dimana masih banyak sekali terjadi kepincangan danketidak
adilan dalam pemilikan dan penguasaan atas tanah dimana masih ada dan mungkin
cukup banyak orang-orang kaya yang memiliki tanah begitu luas dan mereka masih
terus-menerus membeli tanah-tanah baru, baik di daerah yang sama maupun daerah
yang berlainan. Jadi mereka seakan-akan ingin menimbun tanah saja.padahal banyak
rakyat kecil yang terlantar dan terlunta-lunta yang tidak mempunyai tanah dan
mengingat juga mayoritas mata pencaharian mereka adalah bertani. Akibatnya para
petani kecil mau tidak mau harus menggantungkan nasib kepada tuan-tuan tanah yang
seakan-akan menjadi penguasa daerah setempat, yang bisa melakukan apa saja,
termasuk memperbudak para petani dengan sewenang-wenang.

2) Korelasi apa saja yang akan terbentuk dari hubungan antara bidang hukum
agraria dengan bidang kehidupan lainnya?
Bidang kefalsafan hidup, yaitu untuk meningkatkan taraf hidup, derajat, harkat
dan martabat seluruh rakyat terutama rakyat kecil.
Bidang perekonomian, mengakibatkan petani kecil yag semulanya tidak
memiliki tanah akhirnya bisa memperoleh hak atas tanah dengan jelas.
Bidang industri, dengan telah meningkatkan taraf kehidupan rakyat kecil maka
hal ini pun sedikit banyaknya membawa suatu hal yang baik bagi
perindustrian dimana mereka mampu untuk membeli barang-baranag hasil
industri.
Bidang pertahanan dan keamanan, akan terwujudnya distribusi jumlah
penduduk yang merata di setiap wilayah, penghasilan mereka juga merata,
tingkat kepandaian dan kecerdasan mereka juga meningkat dibandingkan
dengan sebelumnya.
Bidang politik, dengan telah terwujudnya semua bidang di atas maka nantinya
akan terwujud suatu kesatuan politik, wilayah, wadah, ruang hidup dan
kesatuan seluruh bangsa.


13
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

3) Faktor apa sajakah yang mempengaruhi batas luas maksimum tanah?
Menurut pasal 2 Perpu no 56 tahun 1960, penetapan luas maksimum tanah
didasarkan atas beberapa faktor, yaitu :
Jumlah penduduk
Luas daerah setempat
Faktor kepadatan penduduk























14
Hukum Agraria Dan Perwakafan Landreform- Kel.3

DAFTAR PUSTAKA

- Supriadi, Hukum Agraria, (Jakarta : Sinar Grafika, 2009)

- Bachsan Mustafa, Hukum Agraria dalam Perspektif, (Bandung : Remadia Karya,
1998)

- Perangin Effendi, Hukum Agraria Di Indonesia, (Jakarta : Rajawali Pers, 1991), hal.
123

- http://google.com