Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Angka kejadian distosia bahu tergantung pada kriteria diagnosa yang
digunakan. Salah satu kriteria diagnosa distosia bahu adalah bila dalam persalinan
pervaginam untuk melahirkan bahu harus dilakukan maneuver khusus seperti traksi
cunam bawah dan episiotomi.
Gross dkk (198! "engan menggunakan kriteria diatas menyatakan bahwa
dari #.9$ kejadian distosia bahu yang tercatat direkam medis% hanya #.&$ yang
memenuhi kriteria diagnosa diatas.
Spong dkk (199'! menggunakan sebuah kriteria objekti( untuk menentukan
adanya distosia bahu yaitu interval waktu antara lahirnya kepala dengan seluruh
tubuh. )ilai normal interval waktu antara persalinan kepala dengan persalinan seluruh
tubuh adalah &* detik % pada distosia bahu 9 detik. +ereka mengusulkan bahwa
distosia bahu adalah bila interval waktu tersebut lebih dari 60 detik.
American ,ollege o( -bstetrician and Gynecologist (&##&! . angka kejadian
distosia bahu bervariasi antara #./ 0 1.*$.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 DEFINII DITOIA BAHU
"istosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya tambahan manuver
obstetrik oleh karena dengan tarikan biasa kearah belakang pada kepala
bayi tidak berhasil untuk melahirkan bayi. 1ada persalinan presentasi kepala%
setelah kepala lahir bahu tidak dapat dilahirkan dengan cara
pertolongan biasa dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan tersebut.
insidensi distosia bahu sebesar #%&2#%3 $ dari seluruh persalinan vaginal
persentasi kepala. apabila distosia bahu dide(inisikan sebagai jarak waktu
antara lahirnya kepala dengan lahirnya badan bayi lebih dari /# detik% maka
insidensinya menjadi 11$.
1ada mekanisme persalinan normal% ketika kepala dilahirkan% maka bahu
memasuki panggul dalam posisi obli4ue. 5ahu posterior memasuki panggul lebih
dahulu sebelum bahu anterior. 6etika kepala melakukan putaran paksi luar% bahu
posterior berada dicekungan tulang sakrum atau disekitar spina ischiadika dan
memberikan ruang yang cukup bagi bahu anterior untuk memasukkan panggul
melalui belakang tulang pubis atau berotasi dari (oramen obturator. Apabila bahu
berada dalam posisi antero2posterior% ketika hendak memasuki pintu atas panggul%
maka bahu posterior dapat tertahan promontorium dan bahu anterior tertahan tulang
pubis. "alam keadaan demikian kepala yang sudah dilahirkan akan tidak dapat
melakukan putaran paksi luar dan tertahan akibat adanya tarikan yang terjadi antara
bahu posterior dengan kepala (disebut dengan turtle sign!.
2.2 PATOFIIOLO!I
Setelah kelahiran kepala% akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan
kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan
berada pada sumbu miring (obli4ue! di bawah ramus pubis. "orongan pada saat ibu
meneran akan meyebabkan bahu depan (anterior! berada di bawah pubis% bila bahu
gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan dengan sumbu miring dan tetap
berada pada posisi anteroposterior% pada bayi yang besar akan terjadi benturan bahu
depan terhadap sim(isis sehingga bahu tidak bisa lahir mengikuti kepala.
2." ETIOLO!I
"istosia bahu terutama disebabkan oleh de(ormitas panggul% kegagalan bahu
untuk 7melipat8 ke dalam panggul (misal . pada makrosomia! disebabkan oleh (ase
akti( dan persalinan kala 99 yang pendek pada multipara sehingga penurunan kepala
yang terlalu cepat menyebabkan bahu tidak melipat pada saat melalui jalan lahir atau
kepala telah melalui pintu tengah panggul setelah mengalami pemanjangan kala 99
sebelah bahu berhasil melipat masuk ke dalam panggul.
2.# FA$TOR PEN%EBAB DITOIA
1. Distosia Karena Kelainan His
6elainan his dapat berupa inersia uteri hipotonik atau inersia uteri hipertonik.
A. 9nersia :teri ;ipotonik.
Adalah kelainan his dengan kekuatan yang lemah < tidak adekuat untuk
melakukan pembukaan serviks atau mendorong anak keluar. "i sini kekuatan his
lemah dan (rekuensinya jarang. Sering dijumpai pada penderita dengan keadaan
umum kurang baik seperti anemia% uterus yang terlalu teregang misalnya akibat
hidramnion atau kehamilan kembar atau makrosomia% grande multipara atau
primipara% serta pada penderita dengan keadaan emosi kurang baik.
"apat terjadi pada kala pembukaan serviks% (ase laten atau (ase akti(% maupun pada
kala pengeluaran.
9nersia uteri hipotonik terbagi dua% yaitu .
1! 9nersia uteri primer
=erjadi pada permulaan (ase laten. Sejak awal telah terjadi his yang tidak adekuat
(kelemahan his yang timbul sejak dari permulaan persalinan!% sehingga sering sulit
untuk memastikan apakah penderita telah memasuki keadaan inpartu atau belum.
&! 9nersia uteri sekunder
=erjadi pada (ase akti( kala 9 atau kala 99. 1ermulaan his baik% kemudian pada
keadaan selanjutnya terdapat gangguan < kelainan.
1enanganan .
1. 6eadaan umum penderita harus diperbaiki. Gi>i selama kehamilan harus diperhatikan.
&. 1enderita dipersiapkan menghadapi persalinan% dan dijelaskan tentang
kemungkinan2kemungkinan yang ada.
3. =eliti keadaan serviks% presentasi dan posisi% penurunan kepala < bokong bila sudah
masuk 1A1 pasien disuruh jalan% bila his timbul adekuat dapat dilakukan persalinan
spontan% tetapi bila tidak berhasil maka akan dilakukan sectio cesaria.
5. 9nersia :teri ;ipertonik

Adalah kelainan his dengan kekuatan cukup besar (kadang sampai melebihi normal!
namun tidak ada koordinasi kontraksi dari bagian atas% tengah dan bawah uterus%
sehingga tidak e(isien untuk membuka serviks dan mendorong bayi keluar.
"isebut juga sebagai incoordinate uterine action. misalnya ?tetania uteri? karena obat
uterotonika yang berlebihan. 1asien merasa kesakitan karena his yang kuat dan
berlangsung hampir terus2menerus. 1ada janin dapat terjadi hipoksia janin karena
gangguan sirkulasi uteroplasenter.
@aktor yang dapat menyebabkan kelainan ini antara lain adalah rangsangan pada
uterus% misalnya pemberian oksitosin yang berlebihan% ketuban pecah lama dengan
disertai in(eksi% dan sebagainya.
1enanganan .
"ilakukan pengobatan simtomatis untuk mengurangi tonus otot% nyeri% mengurangi
ketakutan. "enyut jantung janin harus terus dievaluasi. 5ila dengan cara tersebut
tidak berhasil% persalinan harus diakhiri dengan sectio cesarea.
2. Distosia Karena Kelainan Letak
A. Letak Sungsang
Aetak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala di (undus uteri dan
bokong dibawah bagian cavum uteri.
+acam 0+acam Aetak Sungsang .
1! Aetak bokong murni ( (rank breech !
Aetak bokong dengan kedua tungkai terangkat ke atas.
&! Aetak sungsang sempurna (complete breech!
6edua kaki ada disamping bokong dan letak bokong kaki sempurna.
3! Aetak sungsang tidak sempurna ( incomplete breech !
Selain bokong sebagian yang terendah adalah kaki atau lutut.
Btiologi Aetak Sungsang .
1. @iksasi kepala pada 1A1 tidak baik atau tidak ada C pada panggul sempit%
hidroce(alus% anence(alus% placenta previa% tumor.
&. Danin mudah bergerak C pada hidramnion% multipara% janin kecil (prematur!.
3. Gemelli
*. 6elainan uterus C mioma uteri
'. Danin sudah lama mati
/. Sebab yang tidak diketahui.
"iagnosis Aetak Sungsang .
1. 1emeriksaan luar% janin letak memanjang% kepala di daerah (undus uteri
&. 1emeriksaan dalam% teraba bokong saja% atau bokong dengan satu atau dua kaki.
Syarat 1artus 1ervaginam 1ada Aetak Sungsang .
1. janin tidak terlalu besar
&. tidak ada suspek ,1"
3. tidak ada kelainan jalan lahir
Dika berat janin 3'## g atau lebih% terutama pada primigravida atau multipara dengan
riwayat melahirkan kurang dari 3'## g% sectio cesarea lebih dianjurkan.
B. Prolaps Tali Pusat
Eaitu tali pusat berada disamping atau melewati bagian terendah janin setelah
ketuban pecah. 5ila ketuban belum pecah disebut tali pusat terdepan. 1ada keadaan
prolaps tali pusat (tali pusat menumbung! timbul bahaya besar% tali pusat terjepit pada
waktu bagian janin turun dalam panggul sehingga menyebabkan as(iksia pada janin.
1rolaps tali pusat mudah terjadi bila pada waktu ketuban pecah bagian terdepan
janin masih berada di atas 1A1 dan tidak seluruhnya menutup seperti yang terjadi
pada persalinan C hidramnion% tidak ada keseimbangan antara besar kepala dan
panggul% premature% kelainan letak.
"iagnosa prolaps tali pusat ditegakkan bila tampak tali pusat keluar dari liang
senggama atau bila ada pemeriksaan dalam teraba tali pusat dalam liang senggama
atau teraba tali pusat di samping bagian terendah janin.
1encegahan 1rolaps =ali 1usat .
+enghindari pecahnya ketuban secara premature akibat tindakan kita.
1enanganan =ali 1usat =erdepan ( 6etuban belum pecah ! .
a. :sahakan agar ketuban tidak pecah
b. 9bu posisi trendelenberg
c. 1osisi miring% arah berlawanan dengan posisi tali pusat
d. Feposisi tali pusat
1enanganan 1rolaps =ali 1usat .
a. Apabila janin masih hidup % janin abnormal% janin sangat kecil harapan hidup
=unggu partus spontan.
b. 1ada presentasi kepala apabila pembukaan kecil% pembukaan lengkap
Gacum ekstraksi% porce(.
c. 1ada Aetak lintang atau letak sungsang Sectio cesaria.
3. Distosia Karena Kelainan Jalan Lahir
"istosia karena kelainan jalan lahir dapat disebabkan adanya kelainan pada jaringan
keras < tulang panggul% atau kelainan pada jaringan lunak panggul.
A. Distosia karena kelainan panggul/bagian keras dapat berupa :
1. 6elainan bentuk panggul yang tidak normal gynecoid% misalnya panggul jenis
)aegele% Fachitis% Scoliosis% 6yphosis% Fobert dan lain2lain.
&. 6elainan ukuran panggul.
1anggul sempit (pelvic contaction!. 1anggul disebut sempit apabila ukurannya 1 0 &
cm kurang dari ukuran yang normal.
6esempitan panggul bisa pada .
1. 6esempitan pintu atas panggul9nlet dianggap sempit apabila cephalopelvis kurang
dari 1# cm atau diameter transversa kurang dari 1& cm. "iagonalis (,"! maka inlet
dianggap sempit bila ," kurang dari 11%' cm.
&. 6esempitan midpelvis
a! "iameter interspinarum 9 cm
b! 6alau diameter transversa ditambah dengan diameter sagitalis posterior kurang
dari 13%' cm.
6esempitan midpelvis hanya dapat dipastikan dengan F- 0 pelvimetri.
+idpelvis contraction dapat member kesulitan sewaktu persalinan sesudah kepala
melewati pintu atas panggul.
3. 6esempitan outlet
6alau diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 1' cm.
6esempitan outlet% meskipun mungkin tidak menghalangi lahirnya janin% namun
dapat menyebabkan rupture perineal yang hebat. 6arena arkus pubis sempit% kepala
janin terpaksa melalui ruang belakang.
:kuran rata2rata panggul wanita normal
1! 1intu atas panggul (pelvic inlet! .
"iameter transversal ("=! H 13.' cm. ,onjugata vera (,G! H 1&.# cm. Dumlah rata2
rata kedua diameter minimal &&.# cm.
&! 1intu tengah panggul (midpelvis! .
"istansia interspinarum ("9! H 1#.' cm. "iameter anterior posterior (A1! H 11.# cm.
Dumlah rata2rata kedua diameter minimal &#.# cm.
3! 1intu bawah panggul (pelvic outlet! .
"iameter anterior posterior (A1! H .' cm. "istansia intertuberosum H 1#.' cm.
Dumlah rata2rata kedua diameter minimal 1/.# cm. 5ila jumlah rata2rata ukuran pintu2
pintu panggul tersebut kurang% maka panggul tersebut kurang sesuai untuk proses
persalinan pervaginam spontan.
B. Kelainan jalan lahir lunak
Adalah kelainan serviks uteri% vagina% selaput dara dan keadaan lain pada jalan lahir
yang menghalangi lancarnya persalinan.
1! "istosia Servisis
Adalah terhalangnya kemajuan persalinan disebabkan kelainan pada servik uteri.
Ialaupun harus normal dan baik% kadang 0 kadang permukaan servik menjadi macet
karena ada kelainan yang menyebabkan servik tidak mau membuka.
Ada * jenis kelainan pada servik uteri .
Servik kaku (rigid cerviJ!
Servik gantung (hanging cerviJ!
Servik konglumer (conglumer cerviJ!
Bdema servik
&! 6elainan selaput dara dan vagina
Selaput dara yang kaku% tebal
1enanganannya . dilakukan eksisi selaput dara (hymen!
Septa vagina
Sirkuler Antero0posterior
1enanganan .
"ilakukan eksisi sedapat mungkin sehingga persalinan berjalan Aancar
6alau sulit dan terlalu lebar% dianjurkan untuk melakukan sectio ,esaria
3! 6elainan 0 kelainan lainnya
=umor 0 tumor jalan lahir lunak . kista vagina C polip serviks% mioma uteri% dan
sebagainya.
6andung kemih yang penuh atau batu kandung kemih yang besar.
Fectum yang penuh skibala atau tumor.
6elainan letak serviks yang dijumpai pada multipara dengan perut
gantung.
Ginjal yang turun ke dalam rongga pelvis.
6elainan 0 kelainan bentuk uterus . uterus bikorvus% uterus septus% uterus
arkuatus dan sebagainya.
2.& $O'PLI$AI DITOIA
$()*lika+i 'aternal
1erdarahan pasca persalinan
@istula Fectovaginal
Sim(isiolisis atau diathesis% dengan atau tanpa 7transient (emoral neuropathy8
Fobekan perineum derajat 999 atau 9G
Fupture :teri
$()*lika+i Fetal
5rachial pleJus palsy
@raktura ,lavicle
6ematian janin
;ipoksia janin % dengan atau tanpa kerusakan neurololgis permanen
@raktura humerus
Predik+i dan *en,ega-an Di+t(+ia Ba-.
+eskipun ada sejumlah (aktor resiko yang sudah diketahui% prediksi secara individual
sebelum distosia bahu terjadi adalah suatu hal yang tidak mungkin.
Fakt(r re+ik(/
6elainan bentuk panggul% diabetes gestasional% kehamilan postmature% riwayat
persalinan dengan distosia bahu dan ibu yang pendek.
Fakt(r Re+ik( Di+t(+ia Ba-. .
1. 'aternal
6elainan anatomi panggul
"iabetes Gestational
6ehamilan postmatur
Fiwayat distosia bahu
=ubuh ibu pendek
2. Fetal
"ugaan macrosomia
". 'a+ala- *er+alinan
Assisted vaginal delivery ((orceps atau vacum!
71rotracted active phase8 pada kala 9 persalinan
71rotracted8 pada kala 99 persalinan
"istosia bahu sering terjadi pada persalinan dengan tindakan cunam tengah atau pada
gangguan persalinan kala 9 dan atau kala 99 yang memanjang.
Ginsberg dan +oisidis (&##1! . distosia bahu yang berulang terjadi pada 1$ pasien.
Fekomendasi dari American ,ollege o( -bstetricians and Gynecologist (&##&! untuk
penatalaksanaan pasien dengan ri0a1at di+t(+ia 2a-. pada persalinan yang lalu.
1. 1erlu dilakukan evaluasi cermat terhadap perkiraan berat janin% usia kehamilan%
intoleransi glukosa maternal dan tingkatan cedera janin pada kehamilan sebelumnya.
&. 6euntungan dan kerugian untuk dilakukannya tindakan S, harus dibahas secara
baik dengan pasien dan keluarganya.
American ,ollege -( -bstetricians and Gynecologist (&##&! . 1enelitian yang
dilakukan dengan metode evidence based menyimpulkan bahwa .
1. Sebagian besar kasus distosia bahu tidak dapat diramalkan atau dicegah.
&. =indakan S, yang dilakukan pada semua pasien yang diduga mengandung janin
makrosomia adalah sikap yang berlebihan% kecuali bila sudah diduga adanya
kehamilan yang melebihi '### gram atau dugaan berat badan janin yang dikandung
oleh penderita diabetes lebih dari *'## gram.
2.6 PENATALA$ANAAN
1enatalaksanaan "istosia 5ahu.
1. 6esigapan penolong persalinan dalam mengatasi distosia bahu sangat diperlukan.
&. 1ertama kali yang harus dilakukan bila terjadi distosia bahu adalah melakukan
traksi curam bawah sambil meminta ibu untuk meneran.
3. Aakukan episiotomi.
Setelah membersihkan mulut dan hidung anak% lakukan usaha untuk membebaskan
bahu anterior dari sim(sis pubis dengan berbagai maneuver .
1. =ekanan ringan pada suprapubic
&. +aneuver +c Fobert
3. +aneuver Ioods
*. 1ersalinan bahu belakang
'. +aneuver Fubin
/. 1ematahan klavikula
. +aneuver Kavanelli
8. 6leidotomi
9. Sim(siotomi
1. Tekanan ringan *ada +.*ra*.2i,
"ilakukan tekanan ringan pada daerah suprapubik dan secara bersamaan dilakukan
traksi curam bawah pada kepala janin.
Tekanan ringan dilakukan oleh asisten pada daerah suprapubic saat traksi curam
baah pada kepala janin.
&. 'ane.3er ', R(2ert
=ehnik ini ditemukan pertama kali oleh Gonik dkk tahun 1983 dan selanjutnya
Iilliam A +c Fobert mempopulerkannya di :niversity o( =eJas di ;ouston.
+aneuver ini terdiri dari melepaskan kaki dari penyangga dan melakukan (leksi
sehingga paha menempel pada abdomen ibu
=indakan ini dapat menyebabkan sacrum mendatar% rotasi sim(isis pubis kearah
kepala maternal dan mengurangi sudut inklinasi. +eskipun ukuran panggul tak
berubah% rotasi cephalad panggul cenderung untuk membebaskan bahu depan yang
terhimpit.
!aneu"er !c #obert
$leksi sendi lutut dan paha serta mendekatkan paha ibu pada abdomen sebaaimana
terlihat pada %panah horisontal&. Asisten melakukan tekanan suprapubic secara
bersamaan %panah "ertikal&
Analisa tindakan !aneu"er !c #obert dengan menggunakan '(ra)
*kuran panggul tak berubah+ namun terjadi rotasi cephalad pel"ic sehingga bahu
anterior terbebas dari sim,isis pubis
3. 'ane.3er 4((d+ ( 7-ood crock scre maneu"er. !
"engan melakukan rotasi bahu posterior 18#
#
secara /crock scre. maka bahu
anterior yang terjepit pada sim(isis pubis akan terbebas.
!aneu"er -ood. Tangan kanan penolong dibelakang bahu posterior janin. Bahu
kemudian diputar 012 derajat sehingga bahu anterior terbebas dari tepi baah
sim,isis pubis
*. 'ela-irkan 2a-. 2elakang
A. 3perator memasukkan tangan kedalam "agina men)usuri humerus posterior janin
dan kemudian melakukan ,leksi lengan posterior atas didepan dada dengan
mempertahankan posisi ,leksi siku
B. Tangan janin dicekap dan lengan diluruskan melalui ajah janin
4. Lengan posterior dilahirkan
'. 'ane.3er R.2in
=erdiri dari & langkah .
(1!. +engguncang bahu anak dari satu sisi ke sisi lain dengan melakukan tekanan
pada abdomen ibu% bila tidak berhasil maka dilakukan langkah berikutnya yaitu .
(&!. =angan mencari bahu anak yang paling mudah untuk dijangkau dan kemudian
ditekan kedepan kearah dada anak. =indakan ini untuk melakukan abduksi kedua
bahu anak sehingga diameter bahu mengecil dan melepaskan bahu depan dari sim(isis
pubis
!aneu"er #ubin 55
A. Diameter bahu terlihat antara kedua tanda panah
B. Bahu anak )ang paling mudah dijangkau didorong kearah dada anak sehingga
diameter bahu mengecil dan membebaskan bahu anterior )ang terjepit
/. Pe)ata-an kla3ik.la dilakukan dengan menekan klavikula anterior kearah S1.
. 'ane.3er 5a3anelli . mengembalikan kepala kedalam jalan lahir dan anak
dilahirkan melalui S,.
+emutar kepala anak menjadi occiput anterior atau posterior sesuai dengan 11A yang
sudah terjadi membuat kepala anak menjadi (leksi dan secara perlahan mendorong
kepala kedalam vagina.
8. $leid(t()i . dilakukan pada janin mati yaitu dengan cara menggunting klavikula.
9. i)6i+i(t()i.
;ernande> dan Iendell (199#! menyarankan untuk melakukan serangkaian tindakan
emergensi berikut ini pada kasus distosia bahu
1. +inta bantuan 0 asisten % ahli anaesthesi dan ahli anaesthesi.
&. 6osongkan vesica urinaria bila penuh.
3. Aakukan episiotomi mediolateral luas.
*. Aakukan tekanan suprapubic bersamaan dengan traksi curam bawah untuk
melahirkan kepala.
'. Aakukan maneuver +c Fobert dengan bantuan & asisten.
Sebagian besar kasus distosia bahu dapat diatasi dengan serangkaian tindakan diatas.
5ila tidak% maka rangkaian tindakan lanjutan berikut ini harus dikerjakan .
1. Iood corkscrew maneuver
&. 1ersalinan bahu posterior
3. =ehnik2tehnik lain yang sudah dikemukakan diatas.
=ak ada maneuver terbaik diantara maneuver2maneuver yang sudah disebutkan diatas%
namun tindakan dengan )ane.3er ', R(2ert sebagai pilihan utama adalah sangat
beralasan.

BAB III
PENUTUP
".1 $e+i)*.lan
+enurut buku acuan )asional 1elayanan +aternal dan )eonatal% &##'%
setelah kelahiran kepala% akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala
berada pada sumbu normal dengan tulang belakang bahu pada umumnya akan berada
pada sumbu miring (obli4ue! di bawah ramus pubis.
"orongan pada saat ibu mengedan akan meyebabkan bahu depan (anterior!
berada di bawah pubis% bila bahu gagal untuk mengadakan putaran menyesuaikan
dengan sumbu miring dan tetap berada pada posisi anteroposterior% pada bayi yang
besar akan terjadi benturan bahu depan terhadap sim(isis.
".2 aran
5agi ibu hamil hendaknya memeriksakan kehamilannya secara dini%
memeriksakan kehamilannya minimal * kali selama kehamilannya% agar bisa
terdeteksi secara dini komplikasi yang mungkin terjadi pada kehamilannya dan bisa
meminimalisir terjadinya komplikasi tersebut.
REFERAT
DITOIA BAHU
Di+.+.n (le- /
And1 a).el
07180110#"
Pe)2i)2ing /
dr. Od1 4i9a1a: *.O!
'F OBTETRI DAN !INE$OLO!I
RUD DR. H. ABDUL 'OELOE$
BANDAR LA'PUN!
'ARET 201#
$ATA PEN!ANTAR
1uji syukur kehadirat =uhan Eang +aha Bsa% atas berkat rahmat dan hidayat2)ya
sehingga penulis dapat menyelesaikan case report tentang kehamilan ektopik
terganggu dengan baik. 1enulis juga mengucapkan terima kasih kepada dr. -dy
Iijaya% Sp.-G selaku preceptor yang telah membimbing sehingga case report ini
dapat diselesaikan.
1enulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak memiliki kekurangan dan
kesalahan% untuk itu kami menerima kritik dan saran yang bersi(at membangun
sehingga ke depannya makalah ini dapat lebih baik lagi.
Akhir kata 1enulis berharap semoga case report ini dapat berman(aat bagi penulis dan
setiap pembacanya.
5andar Aampung% 1* +aret &#1*
1enulis
DAFTAR PUTA$A
1. 5uku 1anduan 1raktis 1elayanan 6esehatan +aternal dan )eonatal.
6ehamilan Bktopik. Eayasan 5ina 1ustaka Sarwono 1rawiroharjo. Dakarta. &##9.
&. +ochtar% F.% 1998. Sinopsis -bstetri. Dilid 1% Bdisi &% 1enerbit 5uku
6edokteran. BG,% Dakarta.
3. 1rawirohardjo% S% &##. 9lmu 6ebidanan. Bdisi 6etiga ,etakan ketujuh%
1=. 5ina 1ustaka Sarwono 1rawirohardjo% Dakarta.
*. 1rawirohardjo% S% &#1#. 9lmu 5edah 6ebidanan. Bdisi 1ertama ,etakan
kedelapan% 1=. 5ina 1ustaka Sarwono 1rawirohardjo% Dakarta
'. 1ritchard% "onald% Gant.% 1991. -bstetri Iilliams. Bdisi ketujuhbelas%
Airlangga. :niversity 1ress% Surabaya.
/. Satrawinata% S.% 198*. -bstetri 1atologi. 5agian -bstetri L Ginekologi
@6 :niversitas 1adjajaran% 5andung.
. Iiknjosastro% ;ani(a. "istosia 5ahu. 9lmu 6andungan edisi kedua.
Eayasan 5ina 1ustaka Sarwono 1rawiroharjo. Dakarta. &##.

Anda mungkin juga menyukai