Anda di halaman 1dari 5

Agribisnis vs Agrobisnis

Artikel ini disusun dalam rangka penyusunan kurikulum baru di Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian, Fakultas Pertanian UNPAD di mana kurikuum baru ini diperlukan untuk
menyesuaikan dengan rencana penggabungan Program Studi di Fakultas Pertanian menjadi dua
PS saja, yaitu PS Agribisnis (Agrobisnis?) dan Agroteknologi. Untuk itu dirasa perlu juga
dilakukan kajian baik secara terminologi tentang penggunaan kata Agribisnis dan Agroteknologi,
maupun secara esensi. Di mana saat ini terjadi kerancuan dalam penggunaan kata "agribisnis"
dan "agrobisnis".
Tulisan ini di-posting ulang di internet dengan alasan indexing di Google yang bermasalah,
sehingga pencarian (searching) melalui Google dikirim ke alamat lama yang sudah tidak ada.
Sekedar informasi saja, posting awal dengan judul ini adalah pada bulan Agustus 2007, dan
sekarang telah dihapus.

UNPAD sebagai institusi pendidikan besar di Indonesia harus dapat menjadi barometer dan
memberikan pegangan atas istilah yang digunakan dengan menggunakan kaidah yang baku
berdasarkan kajian atas referensi yang jelas.
Dari diskusi sebelumnya terdapat beberapa pertanyaan utama yang mengemuka :
1. Apakah agribisnis = bisnis pertanian?
2. Apakah perbedaan dan/atau persamaan definisi agribisnis versi Bungaran Saragih dengan
agribusiness pada literatur Amerika (barat)?
3. Apakah terminologi agrobisnis dan agroteknologi dikenal dalam literatur?
4. Apakah ada perbedaan antara agrobisnis dengan agribisnis?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dilakukan studi dari literatur-literatur baik tercetak
maupun elektronik (internet).
Studi Literatur
Berdasarkan studi pada beberapa literatur tercetak dapat dipastikan bahwa tidak ditemukan kata
agrobisnis/business, seluruhnya menggunakan kata agribisnis/business.
Demikian pula kata agroteknologi/technology tidak ditemukan dalam literatur cetak ini.
Sumber cetak yang digunakan dalam studi ini adalah :
1. Introduction to Agribusiness, Thomson Learning - Dr. Cliff Ricketts & Dr. Omri Rawlins
2. Agricultural Economics and Agribusiness, John Wiley & Sons Inc. - Gail L. Cramer, Clarence
W. Jensen & Douglas D. Southgate, Jr.
3. Agricultural and Food Policy, Prentice Hall - Ronald D. Knutson, J. B. Penn & Barry L.
Flinchbaugh.
Selain menggunakan literatur Amerika, pustaka dalam negeri yang digunakan adalah:
1. Agribisnis, Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian (Kumpulan
Pemikiran) - Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, MEc.
Dari literatur-literatur ini kata agribisnis/business memiliki arti yang telah banyak di-interpretasi.
Namun demikian hampir seluruhnya merujuk kembali pada arti aslinya yang dikemukakan oleh
John H. Davis dan Ray A. Goldberg (A Concept of Agribusiness, Boston, Mass.: Research
Division, Harvard Business School, 1957), di mana agribisnis didefinisikan sebagai "the sum
total of all operations involved in the manufacture and distribution of farm supplies; production
operations on the farm; and the storage, processing, and distribution of farm commodities and
items made from them ".
Apakah bertani (farming) termasuk agribisnis?
Menurut Ricketts & Rawlins, agribisnis berada di bawah satu naungan industri, yaitu industri
pertanian (agricultural industry ), di mana industri pertanian ini mencakup :
1. Pertanian produksi (production agriculture)
2. Ilmu pertanian (agriscience)
3. Agribisnis (agribusiness)
Struktur industri pertanian dapat dilihat pada gambar.
Seperti terlihat, agribisnis merupakan sub-industri tersendiri yang memberikan input pada dan
mengolah hasil dari pertanian produksi.
Namun seperti dikemukakan pula oleh Ricketts & Rawlins, bahwa merupakan suatu kesalahan
jika kita berpikir bahwa pertanian produksi bukanlah bisnis. Petani sebagai pelaku utama dari
pertanian produksi tetap harus membuat keputusan, membuat rencana, dan memecahkan
berbagai masalah, di mana semuanya ini memerlukan keterampilan yang terkait dengan bisnis.
Para petani harus memperhitungkan bunga, pajak, perbaikan dan penggantian peralatan,
perhitungan penggunaan pupuk, upah, bahan bakar dan energi, dan banyak hal lainnya. Dari sini
terlihat bahwa petani (production agriculturalists) haruslah menjadi manajer keuangan dan
sekaligus manajer bisnis jika ingin upayanya berhasil.
Menurut Prof. Bungaran Saragih, titik berat pembangunan ekonomi harus bergeser dari pertanian
ke sektor industri. Adapun industri yang seharusnya dikembangkan sebagai kelanjutan dari
pembangunan pertanian adalah industri-industri yang mengolah hasil-hasil pertanian primer
menjadi produk olahan, yaitu agroindustri. Namun agroindustri tidak mungkin berkembang dan
bermanfaat bagi rakyat Indonesia bila tidak didukung oleh pertanian primer sebagai penghasil
bahan baku. Kemudian pertanian primer tidak akan mampu berkembang bila tidak didukung oleh
pengembangan industri-industri yang menghasilkan sarana produksi (industri hulu pertanian),
dan agroindustri pertanian primer dan hulu pertanian tidak dapat berkembang dengan baik bila
tidak didukung oleh sektor atau lembaga yang menyediakan jasa yang dibutuhkan.
Oleh karena itu, pembangunan agroindustri, pertanian primer, industri hulu pertanian, dan
sektor/lembaga pendukung harus dilakukan secara simultan dan harmonis.
Inilah yang disebut beliau sebagai Pembangunan Sektor Agribisnis. Dengan kata lain, bentuk
pembangunan industri yang didukung oleh pertanian yang tangguh adalah pembangunan sektor
agribisnis.
Lebih lanjut, pembangunan yang dimaksudkan adalah membangun subsektor-subsektor
agribisnis secara simultan dan harmonis. Subsektor-subsektor ini antara lain :
1. Subsektor agribisnis hulu (upstream agribusiness), yakni kegiatan ekonomi yang
menghasilkan sarana produksi pertanian seperti industri pembibitan/perbenihan, industri
agrokimia, dan industri agro-otomotif,
2. Subsektor pertanian primer (on-farm agribusiness) yaitu kegiatan ekonomi yang
menggunakan sarana produksi pertanian untuk menghasilkan komoditas pertanian primer,
3 Subsektor agribisnis hilir (downstream agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang mengolah
komoditas pertanian primer menjadi produk-produk olahan baik berupa produk antara
(intermediate product) maupun produk akhir (final product) beserta kegiatan perdagangannya,
4. Subsektor jasa penunjang (supporting institution) yaitu kegiatan yang menghasilkan dan
menyediakan jasa yang dibutuhkan seperti perbankan, transportasi, penelitian dan
pengembangan, kebijakan pemerintah, penyuluhan dan konsultan, dan lain-lain.
Sumber lainnya
Dari riset popularitas (popularity research) sederhana dari kata kunci "agribisnis/agribusiness"
dan "agrobisnis/agrobusiness" menggunakan Google didapat statistik sebagai berikut (Juli 2007)
:
1. Agribisnis, 689.000 halaman, berbahasa Indonesia
2. Agrobisnis, 372.000 halaman, berbahasa Indonesia
3. Agribusiness, 9.170.000 halaman, berbahasa Inggris
4. Agrobusiness, 288.000 halaman, sebagian besar situs non-English
Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari sembilan juta (97%) halaman website berbahasa
Inggris menggunakan kata "agribusiness", dan hanya sekitar dua ratus ribu (3%) halaman website
yang menggunakan kata "agrobusiness" di mana sebagian besar website ini ternyata berbahasa
non-Inggris tapi bukan bahasa Indonesia (Jerman, Perancis, Spanyol, Polandia, dll).
Untuk situs berbahasa Indonesia, sebanyak sekitar enam ratus ribu (65%) menggunakan kata
"agribisnis" dan sekitar tiga ratus ribu (35%) menggunakan kata "agrobusiness".
Adapun dengan melakukan pencarian (searching) di Wikipedia Bahasa Indonesia dan Wikipedia
Bahasa Inggris didapat bahwa pencarian dengan kata kunci "agribisnis" menghasilkan satu
definisi, dan pencarian dengan kata kunci "agrobisnis" diarahkan ulang (redirect) ke halaman
"agribisnis".
Begitu pula dengan kata kunci "agribusiness" menghasilkan satu definisi, dan kata kunci
"agrobusiness" diarahkan ulang (redirect) ke halaman "agribusiness".
Ini dapat diinterpretasikan bahwa kata "agrobisnis/agrobusiness" dianggap rancu sehingga
diarahkan ulang ke halaman definisi "agribisnis/agribusiness".
Definisi dari agribisnis menurut Wikipedia adalah :
"Agribisnis (secara salah-kaprah disebut agrobisnis di Indonesia) adalah kegiatan manusia yang
memanfaatkan sumber daya alam untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya. Agribisnis, dengan
perkataan lain, adalah cara pandang ekonomi bagi kegiatan dalam bidang pertanian. Agribisnis
mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, pascapanen,
proses pengolahan, hingga tahap pemasaran. Secara luas, agribisnis berarti "bisnis berbasis
sumber daya alam "".
Penjelasan lanjutannya :
"Objek agribisnis dapat berupa tumbuhan, hewan, ataupun organisme lainnya. Kegiatan
budidaya termasuk dalam bagian hulu agribisnis. Apabila produk budidaya (hasil panen)
dimanfaatkan oleh pengelola sendiri, kegiatan ini disebut pertanian subsisten, dan merupakan
kegiatan agribisnis paling primitif. Pemanfaatan sendiri dapat berarti juga menjual atau menukar
untuk memenuhi keperluan sehari-hari.
Dalam arti luas agribisnis tidak hanya mencakup kepada industri makanan saja. Seiring
perkembangan teknologi, pemanfaatan produk pertanian berkaitan erat dengan farmasi, teknologi
bahan, dan penyediaan energi."
Bila melihat definisi di atas bahwa agribisnis merupakan cara pandang ekonomi bagi kegiatan
dalam bidang pertanian, maka kurang lengkap bila tidak melihat agribisnis dari akar budaya
aktivitasnya, yaitu budaya tani/agrikultur.
Masih menurut Wikipedia, agrikultur (agriculture) berasal dari Bahasa Latin "ager" yang berarti
sebidang lahan (a field) dan "cultura" - kultivasi dengan pengertian yang terbatas pada
penggarapan tanah (tillage of soil), sehingga secara harfiah, arti dasar agrikultur adalah
penggarapan tanah pada sebidang lahan.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa :
"In modern usage, the word agriculture covers all activities essential to food/feed/fiber
production, including all techniques for raising and "processing" livestock. Agriculture is also
short for the study of the practice of agriculture - more formally known as agricultural science."
Adapun popularity research atas kata kunci "agroteknologi/agrotechnology" menggunakan
Google dan Wikipedia didapat statistik sebagai berikut (Juli 2007) :
1. Agroteknologi, 15.400 halaman, berbahasa Indonesia dan Malaysia
2. Agrotechnology, 222.000 halaman, sebagian besar situs non-English
3. Tidak ada entry/definisi tentang agroteknologi/technology
Hal ini dapat diartikan bahwa penggunaan kata "agrotechnology" sangat kurang dikenal oleh
masyarakat barat, karena yang menggunakan kata inipun sebagian besar bukanlah situs
berbahasa Inggris (Jerman, Perancis, Spanyol). Pada situs berbahasa Indonesia & Malaysia kata
"agroteknologi" kebanyakan digunakan oleh awam dan surat kabar.
Kesimpulan
Dari kajian yang telah dilakukan, maka atas pertanyaan-pertanyaan di atas dapat disimpulkan :
1. Apakah agribisnis = bisnis pertanian?
Agribisnis ternyata tidak dapat dikatakan sebagai bisnis pertanian, karena yang dimaksud
pertanian sendiri secara terminologi dari persepsi budaya ternyata sangat sempit yaitu
penggarapan tanah pada sebidang lahan.
Dalam dunia modern seperti sekarang, dunia pertanian telah meliputi lingkup yang jauh lebih
luas daripada sekedar menggarap lahan. Namun meliputi aspek-aspek lainnya seperti pemasaran,
pengolahan hasil, kimia, keuangan, penyampaian (delivery), dan lain-lain, bahkan ternak dan
perikanan dapat diklasifikasikan sebagai bagian dari dunia pertanian. Pertanian yang disebut di
atas terbatas pada apa yang disebut pertanian produksi.
Secara luas, agribisnis berarti bisnis/kegiatan ekonomi berbasis sumber daya alam. Mungkin
akan lebih tepat dan mudah diterima bila agribisnis disebut sebagai bisnis berbasis kegiatan
pertanian.
2. Apakah perbedaan dan/atau persamaan definisi agribisnis versi Bungaran Saragih
dengan agribusiness pada literatur Amerika?
Baik Bungaran maupun literatur barat menggunakan definisi dari Davis & Goldberg, di mana
agribisnis didefinisikan sebagai the sum total of all operations involved in the manufacture and
distribution of farm supplies; production operations on the farm; and the storage, processing, and
distribution of farm commodities and items made from them.
Terdapat sedikit perbedaan antara versi Bungaran dan Ricketts & Rawlins, di mana yang terakhir
memisahkan pertanian produksi (pertanian primer menurut Bungaran) dari klasifikasi agribisnis,
karena berdasarkan acuan pohon industri, pertanian primer terpisah dari agribisnis namun tetap
merupakan bagian dari industri pertanian. Ricketts & Rawlins sendiri menyebutkan bahwa salah
jika pertanian produksi tidak dianggap sebagai suatu bisnis.
3. Apakah terminologi agrobisnis dan agroteknologi dikenal dalam literatur?
Istilah agrobisnis tidak dikenal dalam literatur cetak yang dijadikan referensi, kecuali di internet
(lihat di atas). Demikian pula istilah agroteknologi.
4. Apakah ada perbedaan antara agrobisnis dengan agribisnis?
Secara harfiah tidak ada, namun agrobisnis adalah penggunaan yang salah kaprah dari kata
agribisnis.
Demikian hasil kajian ini semoga dapat menjadi bahan referensi tambahan bagi pihak-pihak yang
berkepentingan. Diskusi dan perdebatan (konstruktif) lebih lanjut tetap diperlukan dan tidak
dapat dihindarkan agar dapat menghasilkan kesimpulan yang lebih akurat.